Anda di halaman 1dari 7

PANDUAN IMPLAN

DI RUMAH SAKIT MUTIARA BUNDA

PELAYANAN ANESTESI DAN BEDAH


RUMAH SAKIT MUTIARA BUNDA
TULANG BAWANG
TAHUN 2019
BAB 1
DEFINISI

A. Pengertian
Implan adalah suatu alat kesehatan yang secara sebagian atau seluruhnya
dimasukkan ke tubuh atau orifisium dan ditinggalkan selama minimal 30 hari, atau
digunakan untuk menggantikan permukaan epitel atau permukaan lapisan mata dan
ditinggalkan selama minimal 30 hari, dan memerlukan prosedur pembedahan atau
prosedur medik untuk memasukkan dan mengeluarkannya.

B. Tujuan
Tujuan penggunaan implan adalah sebagai alat pengganti fungsi dari organ tubuh
manusia.
BAB II
RUANG LINGKUP

Unit pengguna implan adalah unit yang menjadi tempat proses pemasangan
implan seperti Instalasi Bedah Sentral, Ruang Endoskopi, Ruang Cathlab. Unit yang
berhubungan dengan penggunaan implan adalah unit yang melakukan pengadaan,
penyimpanan, sterilisasi dan evaluasi komplikasi pemasangan implan seperti Instalasi
Farmasi, Instalasi Sterilisasi Sentral dan Komite PPI. Kebijakan penggunaan implan
diterapkan pada tindakan pemasangan implan, baik di kamar operasi maupun di luar
kamar operasi. Kebijakan ini dilaksanakan oleh setiap instalasi/ unit pelayanan yang
menggunakan implan atau yang berhubungan dengan penggunaan implan. Pelaksana
kebijakan ini adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dokter gigi spesialis, perawat
ruang tindakan, IPCN, petugas farmasi, dan petugas Instalasi
BAB III

TATA LAKSANA

Pelaksanaan penggunaan implan meliputi :


a. Rumah sakit harus memastikan bahwa pemilihan implan sesuai dengan
perkembangan ilmu dan riset yang ada. Implan yang digunakan harus sudah
memiliki ijin edar.
b. Rumah sakit harus memiliki daftar alat implan yang dipakai. Dokter pemakai
implan harus mengetahui kategori implan tersebut.
Kategori I : alat kesehatan yang kegagalan atau salah penggunaannya tidak
menyebabkan akibat yang berarti.
Kategori Ila : alat kesehatan yang kegagalannya atau salah penggunaannya
dapat memberikan akibat yang berarti kepada pasien tetapi tidak menyebabkan
kecelakaan yang serius.
Kategori IIb : alat kesehatan yang kegagalannya atau salah penggunaannya
dapat memberikan akibat yang sangat berarti kepada pasien tetapi tidak
menyebabkan kecelakaan yang serius.
Kategori III : alat kesehatan yang kegagalannya atau salah penggunaannya
dapat memberikan akibat yang serius kepada pasien atau perawat/ operator.
c. Dokter pengguna implan harus memastikan bahwa alat implan sudah tersedia di
kamar operasi melalui prosedur check list, sign in, time out dan sign out.
d. Tenaga dari luar yang terlibat dalam prosedur pemasangan alat implan harus
memiliki kualifikasi khusus dan menguasai teknik penggunaan implan. Pihak
perusahaan produsen implan harus terlebih dahulu mengirimkan kualifikasi tenaga
yang akan dikirimkan sesuai dengan kriteria yang ditentukan pihak rumah sakit.
Dimana kriteria tenaga dari luar tersebut adalah seorang perawat yang memilki
pengetahuan tentang implan yang akan digunakan.
e. Instalasi atau unit tempat pemasangan implan harus memiliki dokumentasi tentang
implan yang digunakan. Implan yang dipasang harus tercatat pada laporan tindakan
dan pada buku register ruang tindakan disertai dengan penempelan stiker implan
tersebut.
f. Rumah sakit memiliki sistem pelaporan bila terjadi malfungsi atau komplikasi
pada penggunaan implan. Bila terjadi kejadian tak diharapkan (KTD) menyangkut
implan, maka mengikuti prosedur pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
yang dilaporkan ke komite keselamatan pasien rumah sakit. Jika terjadi kejadian
infeksi menyangkut implan, maka perawat bangsal atau poliklinik dan dokter akan
mencatat pada RM, kemudian perawat akan melaporkan ke komite PPI melalui
IPCN. IPCN akan datang untuk memverifikasi data. Kemudian PPI, unit kerja
tempat pemasangan implan tersebut dan DPJP akan melakukan evaluasi dan
analisa. Instalasi / uni terkait tersebut akan melakukan pengecekan pada buku
register kamar operasi untuk mengetahui kapan operasi itu dilakukan dan implan
apa yang dipakai beserta no seri dan perusahaannya.
g. Rumah sakit memiliki sistem penelusuran, evaluasi dan kontrol infeksi pasien
pengguna implan. DPJP dan perawat harus mengisi form RM. Komite PPI memiliki
petugas IPCN link di setiap ruang rawat, poliklinik dan instalasi atau unit tempat
dilakukan tindakan.
h. Kategori alkes implan yang perlu dilakukan penelusuran adalah implan dimana
kegagalan dari alat tersebut dapat berpengaruh pada masalah medis yang serius
sesuai kategori kelas III, atau implan tersebut sengaja ditinggalkan di dalam tubuh
selama lebih dari satu tahun, atau implan tersebut adalah penopang kehidupan yang
digunakan di luar lingkungan rumah sakit sesuai kategori kelas III.
j. Kategori implan yang perlu dilakukan penelusuran data yang harus dicatat adalah :
1) Nomor lot, batch, model atau serial alat tersebut atau identifikasi lain yang
dianggap perlu
2) Nama, alamat, nomor telepon dan nomor identitas pasien yang menerima
alkes implan
3) Tanggal pemasangan alkes implan pada pasien
4) Nama dan nomor telepon dokter yang meresepkan alat tersebut
5) Nama dan nomor telepon dokter yang memantau jika berbeda dengan
dokter yang meresepkan atau memasang implan
6) Tanggal alat implant dilepas, dan nama dan nomor telepon dokter yang
melepas
7) Bila terjadi morbiditas atau kematian, dicatat tanggal kejadian morbiditas
atau kematian itu.
k. Dokter pengguna implan harus memberikan instruksi khusus ketika pasien
dipulangkan. Instruksi tersebut tertulis pada RM, tentang resume medis.
l. Dokumentasi penggunaan implan dilakukan, yakni :
a) Dokter pengguna implant harus menuliskan jenis, ukuran, merk dan kode
implan pada formulir laporan pembedahan
b) Petugas medis harus menuliskan jenis, ukuran, merk dan kode implant pada
buku register ruang tindakan
c) Stiker dari implan harus ditempelkan pada formulir laporan pembedahan dan
buku register ruang tindakan.
m. Apabila terjadi penarikan / recall implan medis, rumah sakit menginformasikan
dan memantau pasien yang menerima implan tersebut. Rumah Sakit
mengembangkan dan melaksanakan proses untuk mengontak pasien dan memantau
pasien, termasuk pasienpasien yang ada di luar negeri. Rumah sakit mengontak
pasien setelah pemberitahuan penarikan / recall dari implan yangmenyelamatkan
nyawa (life saving) dalam waktu 24 jam. Sedangkan untuk implan yang tidak
bersifat menyelamatkan nyawa, rumah sakit mengontak pasien dalam waktu 7 x 24
jam setelah pemberitahuan penarikan / recall.
n. Pasien yang terpasang implan bila berganti alamat rumah atau nomor telepon harus
memberitahu pihak rumah sakit.
BAB IV

DOKUMENTASI

Dokumentasi penggunaan implan dilakukan dengan cara Dokter pengguna implant


harus menuliskan jenis, ukuran, merk dan kode implant pada formulir laporan
pembedahan. Stiker dari implant harus ditempelkan pada formulir laporan pembedahan
dan buku register ruang tindakan.

Anda mungkin juga menyukai