Anda di halaman 1dari 23

KONSEP TEORI DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

HIPOTIROID DAN HIPERTIROID

Untuk memenuhi
Tugas matakuliah Keperawatan Medikal Bedah 2
Oleh:
Jhon Frentin AOA0160806
Doni Nurdiansyah AOA0170847
Dewi Riski Amaliyah AOA0170845

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN KENDEDES MALANG


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
TAHUN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang “Konsep
Teori Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipotiroid dan Hipertiroid”.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang “Konsep Teori Dan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipotiroid dan Hipertiroid” ini dapat memberikan manfaat
maupun inpsirasi terhadap pembaca.

Malang, 19 Juni 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dinamakan hormon tiroid. Ketika tiroid sehat
maka tubuh akan merasa nyaman, tetapi jika kelenjar tiroid tidak lagi berfungsi dengan baik
timbullah kekurangan atau kelebihan hormon tiroid. Tubuh bisa mengalami kenaikan atau
penurunan berat badan dalam sekejap, merasa kedinginan atau kepanasan, letih lesu atau terus
tegang dan berdebar-debar, banyak mengantuk atau mata terbelalak terus serta sukar tidur (Hans,
2011).
Hormon tiroid mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Untuk membuat hormon
tiroid diperlukan mineral yodium. Yodium bersumber dari makanan dan air yang kita konsumsi
tiap hari, jika makanan yang dikonsumsi kekurangan atau kelebihan yodium maka akan membuat
tiroid bermasalah. Tiroid harus membuat hormon, sedangkan bahan baku yodiumnya terbatas
maka ukuran tiroid dipacu menjadi semakin besar sehingga timbullah penyakit goiter yang
kemudian akan disertai dengan tanda-tanda hipotiroid (Hans, 2011).
Kelenjar tiroid adalah pabrik hormon tiroid. Jika pabrik hormon ini tidak lagi bisa berfungsi
dengan baik, maka timbullah kekurangan atau kelebihan hormon tiroid. Hormon tiroid yang
berlebihan dinamakan hipertiroid, sedangkan kekurangan hormon tiroid dinamakan hipotiroid.
Hipertiroid atau hipotiroid bisa mengganggu organ tubuh yang semula masih sehat. Tiroid yang
tidak sehat berdampak buruk bagi semua orang, turutama wanita hamil dan orang yang sudah tua
(Hans, 2011).
Di Amerika Serikat, penyakit Graves adalah bentuk paling umum dari hipertiroid. Sekitar
60-80% kasus tirotoksikosis akibat penyakit Graves. Kejadian tahunan penyakit Graves ditemukan
menjadi 0,5 kasus per 1000 orang selama periode 20-tahun, dengan terjadinya puncak pada orang
berusia 20-40 tahun. Gondok multinodular (15-20% dari tirotoksikosis) lebih banyak terjadi di
daerah defisiensi yodium. Kebanyakan orang di Amerika Serikat menerima yodium cukup, dan
kejadian gondok multinodular kurang dari kejadian di wilayah dunia dengan defisiensi yodium.
Adenoma toksik merupakan penyebab 3-5% kasus tirotoksikosis (Lee, et.al., 2011).
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan
hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain
(Alvyanto, 2010). Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan
memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan
homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan
dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang
mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari
kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Mampu menerapkan dan mengembangkan pola fikir secara ilmiah kedalam
proses asuhan keperawatan nyata serta mendapatkan pengalaman dalam
memecahkan masalah pada gangguan Hipertiroid dan Hipotiroid.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi Hipertiroid dan Hipotiroid.
b. Mengetahui etiologi/penyebab penyakit Hipertiroid dan Hipotiroid..
c. Mengetahi klasifikasi penyakit Hopertiroid dan Hipotiroid.
d. Mengetahui patofisiologi penyakit Hipertiroid dan Hipotiroid.
e. Mengetahui manifestasi klinis penyakit Hipertiroid dan Hipotiroid.
f. Mengetahui pemeriksaan penunjang/diagnostik penyakit Hipertiroid dan
Hipotiroid.
g. Mengetahui komplikasi penyakit Hipertiroid dan Hipotiroid.
h. Mengetahui penatalaksanaan penyakit Hipertiroid dan Hipotiroid.
i. Mampu membuat asuhan keperawatan penyakit Hipertiroid dan Hipotiroid.
1.3 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan yaitu studi pustaka yang mengambil beberapa referensi
buku yang berkaitan dengan makalah ini. Serta tim penulis memperoleh data dari internet.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
2.1.1. Hipertiroid
Hipertiroidisme merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas
fungsi kelenjar tiroid dimana sekresi hormone yang berlebihan dimanifestasikan melalui
peningkatan kecepatan metabolisme. Banyak ciri khas lain yang terjadi pada pasien
hipertiroid akibat peningkatan stressor terhadap katekolamin (epinefrin dan
norepinefrin) dalam darah. Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan
di mana didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu
kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan
hormon tiroid berlebihan.
Hipertiroid adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang merupakan akibat dari
produksi hormon tiroid yang berlebihan. (Dongoes E, Marilynn , 2000 hal 708
Hipertiroid (tiroid terlalu aktif) adalah suatu kondisi di mana kelenjar tiroid
menghasilkan terlalu banyak hormon tiroksin. Hipertiroidisme dapat secara signifikan
mempercepat metabolisme tubuh, menyebabkan penurunan berat badan tiba-tiba, detak
jantung yang cepat atau tidak teratur, berkeringat dan gelisah atau mudah tersinggung
(Anonim, 2010).
2.1.2. Hipotiroid
Hipotiroid merupakan keadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid
yang berjalan lambat dan diikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi
akibat kadar hormone tiroid berada dibawah nilai optimal. Hipertiroidisme adalah suatu
sindrome klinis akibat dari defisiensi hormon tiroid yang mengakibatkan fungsi
metabolik. (Greenspan, 2000). Hipotiroidisme (hiposekresi hormone tiroid) adalah
status metabolic yang di akibatkan oleh kekurangan hormone tiroid. Hipotiroidisme
kognital dapat mengakibatkan kretinisme.
Hipotiroid adalah penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid sebagai akibat
kegagalan mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam memenuhi kebutuhan jaringan
tubuh akan hormon-hormon tiroid . (Hotma Rumahorbo S.kep,1999)
2.2 Etiologi
2.2.1 Hipertiroid
Penyebab hipotiroidime yang paling sering ditemukan pada orang dewasa adalah
tiroiditis otoimun (tiroiditis hashimoto), dimana sistem imun menyerang kelenjer tiroid.
Gejala hipertiroidime dan kemudian dapat diikuti oleh gejala hipotiroidime dan
miksedema.
Hipotiroidime juga sering terjadi pada pasien dengan riwayat hipertiroidime yang
mengalami terapi radioiodium, pembedahan, atau preparat antitiroid. Kejadian ini paling
sering ditemukan pada wanita lanjut usia. Terapi radiasi untuk penanganan kanker kepala
dan leher kini semakin sering menjadi penyebab hipotiroidime pada lansia laki-laki.
Karena itu, pemeriksaan fungsi tiroid diajurkan bagi semua pasien yang menjalani terapi
tersebut.(Brunner&Suddarth:1300)
Serta beberapa penyakit yang lain menyebabkan Hipertiroid yaitu :
a) Penyakit Graves
Penyakit ini disebabkan oleh kelenjar tiroid yang oberaktif dan merupakan
penyebab hipertiroid yang paling sering dijumpai. Penyakit ini biasanya turunan. Wanita 5
kali lebih sering daripada pria. Di duga penyebabnya adalah penyakit autonoium, dimana
antibodi yang ditemukan dalam peredaran darah yaitu tyroid stimulating.
Immunogirobulin (TSI antibodies), Thyroid peroksidase antibodies (TPO) dan
TSH receptor antibodies (TRAB). Pencetus kelainan ini adalah stres, merokok, radiasi,
kelainan mata dan kulit, penglihatan kabur, sensitif terhadap sinar, terasa seperti ada pasir
di mata, mata dapat menonjol keluar hingga double vision. Penyakit mata ini sering
berjalan sendiri dan tidak tergantung pada tinggi rendahnya hormon teorid. Gangguan kulit
menyebabkan kulit jadi merah, kehilangan rasa sakit, serta berkeringat banyak.
b) Toxic Nodular Goiter
Benjolan leher akibat pembesaran tiroid yang berbentuk biji padat, bisa satu atau
banyak. Kata toxic berarti hipertiroid, sedangkan nodule atau biji itu tidak terkontrol oleh
TSH sehingga memproduksi hormon tiroid yang berlebihan.
c) Minum obat Hormon Tiroid berlebihan
Keadaan demikian tidak jarang terjadi, karena periksa laboratorium dan kontrol ke
dokter yang tidak teratur. Sehingga pasien terus minum obat tiroid, ada pula orang yang
minum hormon tiroid dengan tujuan menurunkan badan hingga timbul efek samping.
d) Produksi TSH yang Abnormal
Produksi TSH (thyroid stimulating hormone) kelenjar hipofisis dapat memproduksi
TSH (thyroid stimulating hormone) berlebihan, sehingga merangsang tiroid mengeluarkan
T3 dan T4 yang banyak.
e) Tiroiditis (Radang kelenjar Tiroid)
Tiroiditis sering terjadi pada ibu setelah melahirkan, disebut tiroiditis pasca
persalinan, dimana pada fase awal timbul keluhan hipertiorid, 2-3 bulan kemudian keluar
gejala hpotiroid.
f) Konsumsi Yoidum Berlebihan
Bila konsumsi berlebihan bisa menimbulkan hipertiroid, kelainan ini biasanya
timbul apabila sebelumnya si pasien memang sudah ada kelainan kelenjar tiroid.
2.2.2. Hipotiroid
Namun, pada Buku Ilmu Kesehatan, hipotiroid terbagi atas 2 berdasarkan penyebabnya,
yaitu:
a. Bawaan
1. Agenesis atau disgenesis kelenjar tiroidea.
2. Kelainan hormogonesis
3. Kelainan bawaan enzim (inborn error)
4. Defisiensi yodium (kretinisme endemik)
5. Pemakaian obat-obat anti tiroid oleh ibu hamil (maternal)
b. Didapat
Biasanya disebut hipotiroidisme juvenilis. Pada keadaan ini terjadi atrofi kelenjar yang
sebelumnya normal. Panyebabnya adalah
1. Idiopatik (autoimunisasi)
2. Tiroidektomi
3. Tiroiditis (Hashimoto, dan lain-lain)
4. Pemakaian obat anti-tiroid
5. Kelainan hipofisis.
6. Defisiensi spesifik TSH
2.3 Klasifikasi
2.3.1. Hipertiroid
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) di bagi dalam 2 kategori:
a. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme
b. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme
Klasifikasi lain:
a. Goiter Toksik Difusa (Graves’ Disease)
Kondisi yang disebabkan, oleh adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh
dimana zat antibodi menyerang kelenjar tiroid, sehingga menstimulasi kelenjar tiroid
untuk memproduksi hormon tiroid terus menerus.
Graves’ disease lebih banyak ditemukan pada wanita daripada pria, gejalanya
dapat timbul pada berbagai usia, terutama pada usia 20 – 40 tahun. Faktor keturunan
juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pada sistem kekebalan tubuh, yaitu
dimana zat antibodi menyerang sel dalam tubuh itu sendiri.
b. Nodular Thyroid Disease
Pada kondisi ini biasanya ditandai dengan kelenjar tiroid membesar dan tidak
disertai dengan rasa nyeri. Penyebabnya pasti belum diketahui. Tetapi umumnya timbul
seiring dengan bertambahnya usia.
c.. Subacute Thyroiditis
Ditandai dengan rasa nyeri, pembesaran kelenjar tiroid dan inflamasi, dan
mengakibatkan produksi hormon tiroid dalam jumlah besar ke dalam darah. Umumnya
gejala menghilang setelah beberapa bulan, tetapi bisa timbul lagi pada beberapa orang.
d. Postpartum Thyroiditis
Timbul pada 5 – 10% wanita pada 3 – 6 bulan pertama setelah melahirkan dan
terjadi selama 1 -2 bulan. Umumnya kelenjar akan kembali normal secara perlahan-
lahan
2.3.2. Hipotiroid
Hipotiroid dibagi menjadi 3 tipe:
a. Hipotiroid primer : kerusakan pada kelenjar tiroid
b. Hipotiroid sekunder: akibat defisiensi sekresi TSH oleh hipofisis
c. Tersier : Akibat defiensi sekresi TRH oleh hipotalamus

2.4 Patofisiologi
2.4.1. Hipertiroid
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika. Pada
kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari
ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke
dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan dengan
pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat
dengan kecepatan 5-15 kali lebih besar daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu yang
“menyerupai” TSH (Thyroid stimulating hormone), Biasanya bahan – bahan ini adalah
antibodi immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang
berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat TSHv. Bahan–
bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah
hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi TSH (Thyroid stimulating
hormone) menurun, sedangkan konsentrasi TSI Thyroid Stimulating Immunoglobulin)
meningkat. Bahan ini mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni
selama 12 jam, berbeda dengan efek TSH (Thyroid stimulating hormone) yang hanya
berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon tiroid yang disebabkan oleh TSI Thyroid
Stimulating Immunoglobulin) selanjutnya juga menekan pembentukan TSH (Thyroid
stimulating hormone) oleh kelenjar hipofisis anterior.
Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon hingga diluar
batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid membesar.
Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin termasuk akibat dari sifat
hormon tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas
normal. Bahkan akibat proses metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita
hipertiroidisme mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang
mengandung tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor
otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita mengalami gemetar
tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal juga merupakan salah satu efek
hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler. Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi
inflamasi autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler,
akibatnya bola mata terdesak keluar.
2.4.2. Hipotiroid
Kelenjar tiroid membutuhkan iodine untuk sintesis dan mensekresi hormone tiroid.
Jika diet seseorang kurang mengandung iodine atau jika produksi dari hormone tiroid tertekan
untuk alasan yang lain, tiroid akan membesar sebagai usaha untuk kompendasi dari
kekurangan hormone. Pada keadaan seperti ini, goiter merupakan adaptasi penting pada suatu
defisiensi hormone tiroid. Pembesaran dari kelenjar terjadi sebagai respon untuk
meningkatkan respon sekresi pituitary dari TSH. TSH menstimulasi tiroid untuk mensekresi
T4 lebih banyak, ketika level T4 darah rendah. Biasanya, kelenjar akan membesar dan itu akan
menekan struktur di leher dan dada menyebabkan gejala respirasi disfagia.
Penurunan tingkatan dari hormone tiroid mempengaruhi BMR secara lambat dan
menyeluruh. Perlambatan ini terjadi pada seluruh proses tubuh mengarah pada kondisi
achlorhydria (pennurunan produksi asam lambung), penurunan traktus gastrointestinal,
bradikardi, fungsi pernafasan menurun, dan suatu penurunan produksi panas tubuh.
Perubahan yang paling penting menyebabkan penurunan tingkatan hormone tiroid
yang mempengaruhi metabolisme lemak. Ada suatu peningkatan hasil kolesterol dalam serum
dan level trigliserida dan sehingga klien berpotensi mengalami arteriosclerosis dan penyakit
jantung koroner. Akumulasi proteoglikan hidrophilik di rongga interstitial seperti rongga
pleural, cardiac, dan abdominal sebagai tanda dari mixedema.
Hormon tiroid biasanya berperan dalam produksi sel darah merah, jadi klien dengan
hipotiroidisme biasanya menunjukkan tanda anemia karena pembentukan eritrosit yang tidak
optimal dengan kemungkinan kekurangan vitamin B12 dan asam folat.
2.5 Manifestasi Klinik
2.5.1. Hipertiroid
Gambaran kilinis Hipertiroidisme Pada stadium yang ringan sering tanpa keluhan.
Demikian pula pada orang usia lanjut, lebih dari 70 tahun, gejala yang khas juga sering tidak
tampak. Tergantung pada beratnya hipertiroid, maka keluhan bisa ringan sampai berat.
Keluhan yang sering timbul antara lain adalah :
a. Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus
b. Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik
c. Intoleransi panas dan banyak keringat
d. Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin
pada sel-sel miokardium
e. Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal)
f. Osteoporosis disertai nyeri tulang
2.5.2. Hipotiroid
Manifestasi klinis hipotiroidisme bentuk dewasa dan bentuk juvenilis antara lain;
a. Suara parau, tidak tahan dingin dan keringat berkurang
b. Kulit dingin dan kering.
c. Wajah membengkak dan gerakan lamban.
d. Aktivitas motorik dan intelektual lambat.
e. Relaksasi lambat dari reflek tendon dalam, perempuan yang menderita hipotiroidisme
sering mengeluh hiperminore.

2.6 Pemeriksaan Diagnostik


2.6.1. Hipertiroid
Diagnosa bergantung kepada beberapa hormon berikut ini:
a. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan
diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.
b. TSH (Tiroid Stimulating Hormone)
c. Bebas T4 (tiroksin)
d. Bebas T3 (triiodotironin)
e. Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultrasound untuk memastikan pembesaran
kelenjar tiroid
f. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum
g. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia.
2.6.2. Hipotiroid
Pemeriksaan laboratorium yang didapatkan pada pasien hipotiroidisme didapatkan
hasil sebagai berikut:
a. T3 dan T4 serum rendah
b. TSH meningkat pada hipotiroid primer
c. TSH rendah pada hipotiroid sekunder
d. Kegagalan hipofisis : respon TSH terhadap TRH mendatar
e. Penyakit hipotalamus : TSH dan TRH meningkat
f. Titer autoantibody tiroid tinggi pada > 80% kasus
g. Peningkatan kolesterol
h. Pembesaran jantung pada sinar X dada
i. EKG menunjukkan sinus bradikardi, rendahnya voltase kompleks QRS& gelombang T
datar atau inverse

2.7 Komplikasi
2.7.1. Hipertiroid
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik
(thyroid storm). Hal ini dapat berkembang secara spontan pada pasien hipertiroid yang
menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid
yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT dalam jumlah yang sangat besar
yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia (sampai 1060F), dan apabila
tidak diobati dapat menyebabkan kematian.
Komplikasi lainnya adalah penyakit jantung hipertiroid, oftalmopati Graves,
dermopati Graves, infeksi karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid.
Hipertiroid yang terjadi pada anak-anak juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
2.7.2. Hipotiroid
a. Meningkatkan Kolesterol.
b .Iskemia/ Infark Miokard.

2.8. Penatalaksanaan
2.8.1. Hipertiroid
a. Terapi Obat Anti Tiroid
b. Sugery àPengangkatan sebagian kelenjar tiroid melalui pembedahan
c. RadioaktifàYodium Radioaktif

2.8.2. Hipotiroid
Tujuan primer penatalalaksanaan hipotiroid ialah memulihkan metabolisme pasien
kembali kepada keadaan metabolic normal, dengan cara mengganti hormone yang
hilang.Livotiroksin sintetik (Synthroid atau levothroid) merupakan preparat terpilih untuk
pengobatan hipotiroid dan supresi penyakit goiter nontoksik.Dosis terapi penggantian
hormonal berdasarkan pada konsentrasi TSH dalam serum pasien.Preparat tiroid yang
dikeringkan jarang digunakan karena sering menyebabkan kenaikan sementara konsentrasi T3
dan kadang-kadang disertai dengan gejala hipertiroidisme.
Hal-hal yang bisa dilakukan pada pasien dengan hipotiroid antara lain:
a. Pemeliharaan fungsi vital.
b. Gas darah arteri.
c. Pemberian cairan dilakukan dengan hati-hati karena bahaya intoksikasi air.
d. Infus larutan glukosa pekat.
e. Terapi kortikosteroid

BAB III
PROSES ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian
3.1.1. Data dasar pengkajian pasien Hipertiroid
Data yang diperoleh sangat tergantung berat/lamanya ketidakseimbangan hormone
karena keterlibatan dari organ lain.
a. Aktifitas/Istirahat
Gejala: imsomnia,sensitivitas meningkat,otot lemah, gangguan koordinasi,kelelahan berat
Tanda: Atrofi otot.
b. Sirkulasi
Gejala: palpitasi, nyeri dada (angina) Tanda: Disritmia, irama Gallop,Mumur,Peningkatan
tekanan darah dengan tekanan nada yang berat, takikardia saat istirahat, sirkulasi kollaps,
syok
c. Eliminasi
Gejala: urine dalam jumlah banyak, Perubahan feses;diare.
d. Integritas Ego
Gejala: Mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik.
Tanda: Emosi Labil, Depresi.
e. Makanan/Cairan
Gejala: kehilangan berat badan yang mendadak,nafsu makan meningkat, makan banyak,
makannya sering, kehausan, mual muntah.
Tanda: pembesaran tiroid,goiter, edema non piting terutama daerah pretibial.
f. Neusensori
Tanda:Bicaranya cepat dan parau,Gangguan status mental dan perilaku, seperti:
bingung,disorientasi,gelisah, peka rangsang, delirium,psikosis,stipor, koma, tremor halus
pada tangan,tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak- sentak, Hiperaktif reflex tendon
dalam. (RTD)
g. Nyeri/Keamanan
Gejala: Nyeri orbital,fotofobia.
h. Pernafasan
Tanda: Frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis
tirotoksikosis)
i. Keamanan
Gejala: Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium,
Tanda: Diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahanm rambut tipis, mengkilat dan lurus.
Eksoftalamus: retraksi, iritasi pada konjungtiva, dan berair. Pruritus, lesi eritema yang
menjadi sangat parah
j. Seksualitas
Tanda: Penurunan libido, hipomenorea, amenorea, dan impoten.
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Adanya riwayat keluarga yang mengalami masalah tiroid.Riwayat hipotiroidisme,
terapi hormone tiroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadap pengobatan
antitiroid, dilakukan pembedahan tirodektomi sebagian.
Pertimbangan Rencana pemulangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat: 4,3 hari
Mungkin membutuhkan bantuan pada teknik pengobatan sebagian/ seluruhnya, aktifitas
sehari-hari, mempertahankan tugas- tugas dirumah.
3.1.2 Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes ambilan RAI: Meningkat pada penyakit Graves dan toksik goiter noduler,
menurun pada tiroiditis
b. T4 dan T3 serum : Meningkat.
c. T4 dan T3 bebas serum: Meningkat.
d. TSH: Tertekan dan berespons pada TRH (tiroid relasing hormone)
e. Tiroglobulin: Meningkat.
f. Ikatan protein iodium: Meningkat.
g. Gula darah: Meningkat (sehubungan dengan kerusakan pada adrenal).
h. Kortisol plasma: Turun (menurunnya pengeluaran oleh adrenal).
i. Fosfat alkali dan kalsium serum: Meningkat.
j. Pemeriksaan fungsi hepar: Abnormal.
k. Elektrolit: Hiponatremia mungkin sebagai akibat dari respons adrenal/efek dilus
dalam terapi cairan pengganti Hipokalemia terjadi dengan sendirinya pada
kehilangan melaui gastrointestinal dan dieresis.
l. Katekolamin serum: Menurun.
m. Kreatinin urine: Meningkat.
n. EKG: Fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kerdiomegali
3.2. Diagnosa Keperawatan
3.2.1. Hipertiroid
a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak
terkontrol,
b. b. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan
energy. c. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan
dengan penurunan berat badan
c. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan
mekanisme
d. perlindungan dari mata ; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.
e. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik.
f. .Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan


3.3.1 Hipertiroid
NO
DX
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
1
I
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan
klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh,
dengan kriteria :
1. Nadi perifer dapat teraba normal
2. Vital sign dalam batas normal.
3. Pengisian kapiler normal
4. Status mental baik
5. Tidak ada disritmia.
1. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan
perhatikan besarnya tekanan nadi.
2. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.
3. Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels).
4. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi
lemah, penurunan produksi urine dan hipotensi
5. Catat masukan dan haluaran.
Berikan cairan melalui IV sesuai indikasi.
1. Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer
yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi.besarnya tekanan nadi merupakan
refleksi kompensasi dr peningkatan isi sekuncup dan penurunan tahanan sistem
pembuluh darah.
2. Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh
otot jantung atau iskemia
3. S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah
jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik.
4. Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan
volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung
5. Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan dehidrasi berat.
Pemberian cairan melaui IV dengan cepat perlu untuk memperbaiki volume sirkulasi
tetapi harus diimbangi dengan pergantian terhadap tanda gagal jantung/ kebutuhan
terhadap pemberian zat inotropik.

2
II
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan,klien
akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat Energy dengan criteria
hasil:
1. menunjukan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktifitas.
2. Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas
3. Ciptakan lingkungan yang tenang
4. Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas.
5. Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage
Nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat , takikardia mungkin ditemukan.
Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif,
dan imsomnia membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme.
6. Meningkatkan relaksasasi
3
III
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan,klien akan
menunjukkan berat badan stabil
dengan kriteria :
1. Nafsu makan baik.
2. Berat badan normal
3. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
4. Catat adanya anoreksia, mual dan muntah
5. Pantau masukan makanan setiap hari, timbang berat badan setiap hari
6. kolaborasi untuk pemberian diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin
a) Peningkatan aktivitas adrenergic dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi
resisten yang mengakibatkan hiperglikemia

b) Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup
merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid
c) Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat-zat makanan yang
adekuat dan mengidentifikasi makanan pengganti yang sesuai
4
IV
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan Selama
2 x 24 jam diharapkan,klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas
dari ulkus dengan criteria hasil:
1. Mampu mengidentifikasi tindakan untuk memberikan perlindungan pada mata dan
pencegahan komplikasi.
a) Observasi adanya edema periorbital
b) Evaluasi ketajaman mata.
c) Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap.
d) Bagian kepala tempat tidur ditinggikan
2. Stimulasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan.
a) Oftalmopati infiltratif adalah akibat dari peningkatan jaringan retroorbita.
b) Melindungi kerusakan kornea
c) Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi

5
V
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan
klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
dengan kriteria :
1. Pasien tampak rileks
Observasi tingkah laku yang menunjukkan tingkat ansietas
2. Bicara singkat dengan kata yang sederhana
3. Jelaskan prosedur tindakan
4. Kurangi stimulasi dari luar
a. Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan
Imsomnia.
b. Rentang perhatian mungkin menjadi pendek , konsentrasi berkurang, yang membatasi
kemampuan untuk mengasimilasi informasi

5. Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan kesalahan interpretasi

6. Menciptakan lingkungan yang terapeutik

6
VI
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan klien akan
melaporkan pemahaman tentang penyakitnya dengan kriteria
1. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya
2. Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa depan
3. Berikan informasi yang tepat
4. Identifikasi sumber stress
5. Tekankan pentingnya perencanaan waktu istirahat
6. Berikan informasi tanda dan gejala dari hipotiroid
a) Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menentukan pilihan berdasarkana
informasi
b) Berat ringannya keadaan, penyebab, usia dan komplikasi yang muncul akan
menentukan tindakan pengobatan
c) Faktor psikogenik seringkali sangat penting dalam memunculkan/eksaserbasi dari
penyakit ini
d) Mencegah munculnya kelelahan
e) Pasien yang mendapat pengobatan hipertiroid besar kemungkinan mengalami
hipotiroid yang dapat terjadi segera setelah pengobatan selama 5 tahun kedepan
3.4. Evaluasi
3.4.1 Hipertiroid
1. Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
2. Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energy
3. Klien akan menunjukkan berat badan stabil
4. Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
5. Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
6. Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Hipertiroidisme merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas fungsi
kelenjar tiroid dimana sekresi hormone yang berlebihan dimanifestasikan melalui peningkatan
kecepatan metabolisme. Banyak ciri khas lain yang terjadi pada pasien hipertiroid akibat
peningkatan stressor terhadap katekolamin (epinefrin dan norepinefrin) dalam darah.
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormon
tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan
bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan.dan Hipotiroid adalah penurunan sekresi
hormon kelenjar tiroid sebagai akibat kegagalan mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam
memenuhi kebutuhan jaringan tubuh akan hormon-hormon tiroid . (Hotma Rumahorbo
S.kep,1999).
Sedangkan Hipotiroid merupakan keadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi
tiroid yang berjalan lambat dan diikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi
akibat kadar hormone tiroid berada dibawah nilai optimal.
Hipertiroidisme adalah suatu sindrome klinis akibat dari defisiensi hormon tiroid yang
mengakibatkan fungsi metabolik. (Greenspan, 2000).

4.2. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan nantinya akan memberikan manfaat bagi para
pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan penyakit hipertiroid dan hipotiroid.

DAFTAR PUSTAKA
Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3 jilid : 1.
Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi 8), EGC,
Jakarta

Carpenito, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, (Edisi 2), EGC, Jakarta

Corwin,. J. Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta

Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan.(Edisi


III).EGC.Jakarta.

Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.

http://debyrahmad.blogspot.com/