Anda di halaman 1dari 141

SKRIPSI

Penerapan Model Pembelajaran Discovery Dengan Metode


Eksperimen Dan Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi
Belajar Fisika Siswa

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar


Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Fisika

OLEH:

ISMAWAN KOKO
1301052034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2019
MOTTO

“Berpikir tanpa belajar itu sia-sia,


tetapi belajar tanpa berpikir itu

berbahaya”

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

1. Bapak dan mamaku tercinta :

Hamid Koko, Siti Kabuka – Koko dan

Kamaria Syukur - Koko

2. Kakak tercinta :

Abdul Majid Koko

3. Almamater tercinta

iii
ABSTRAK
Penerapan Model Pembelajaran Discovery Dengan Metode Eksperimen Dan
Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Fisika Siswa

(Ismawan Koko, Yusniati H. M. Yusuf, Hartoyo Yudhawardana)

Pemahaman siswa terhadap suatu konsep dasar atau konsep utama dalam
suatu rumusan fisika, dapat diupayakan menggunakan berbagai model
pembelajaran dan metode belajar yang tepat. Salah satu model dalam belajar
adalah model discovery yaitu suatu model untuk mengembangkan kretivitas siswa
dalam pembelajaran untuk menemukan sendiri informasi tentang konsep yang
sedang dipelajari. Dalam penelitian ini model discovery diterapkan dengan
metode eksperimen dan demonstrasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mana yang lebih baik bagi
siswa yang diajar dengan model discovery dengan metode eksperimen dan siswa
yang diajarkan dengan model discovery dengan metode demonstrasi pada pokok
bahasan impuls dan momentum siswa kelas XMIPA semester 2 SMA Negeri 08
Kupang tahun ajaran 2018/2019.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XMIPA 2 dan XMIPA 3 yang
berjumlah 58 orang. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretest-
posttest control grup desain. Instrumen yang digunakan yakni instrumen silabus,
rencana pembelajaran, lembaran kegiatan siswa, alat peraga demonstrasi dan
instrumen evaluasi berupa tes prestasi belajar.
Dari hasil analisa data menggunakan uji t ( = 0,05) diperoleh bahwa (1)
ada perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang diajarkan dengan
menggunakan model discovery dengan motede eksperiemn dan siswa
yangdiajarkan dengan model discovery dengan metode demonstrasi pada pokok
bahasan impuls dan momentum siswa kelas XMIPA semester 2 SMA Negeri 08
Kupang Tahun Ajaran 2018/2019. (2). Prestasi belajar konsep fisika siswa yang
diajarkan dengan menggunakan model discovery dengan metode eksperimen lebih
tinggi daripada prestasi belajar kosep fisika siswa yang diajarkan dengan
menggunakan model discovery dengan metode demonstrasi pada pokok bahasan
impuls dan momentum siswa kelas XMIPA semester 2 SMA Negeri 08 Kupang
Tahun Ajaran 2018/2019.

kata kunci : model discovery, metode eksperimen, metode demonstrasi, prestasi


belajar

iv
ABSTRACT
The Application Of Discovery Learning Model With The Method Of
Experiment And Demonstration To Raise The Achievement Of Students
Learning Physics

(Ismawan Koko, Yusniati H. M. Yusuf, Hartoyo Yudhawardana)

The student's understanding of a concept or basic concepts in physics, a


formula can be attempted using various models of teaching and learning methods.
One of the models in the study is a model of discovery is a model for developing
kretivitas students in learning to find its own information about the concepts being
studied. In this study the model of discovery is applied in methods of experiments
and demonstrations.
The purpose of this research is to find out which is better for students who
were taught with the model by the method of experimentation and discovery
students taught with the model of the discovery by the method of demonstration
on the subject of impulse and momentum grade XMIPA semester 2 SMA Negeri 08
Kupang 2018/2019 school year.
The subject in this study are grade XMIPA 2 and XMIPA 3 of 58 people. The
design used in this study was a pretest-posttest control group design. The
instruments used i.e. instruments syllabus, plan learning, student activity sheets,
props demonstration and evaluation instruments in the form of learning
achievement tests.
From the results of data analysis using t-test (α = 0.05) obtained that (1)
there is a difference of achievement between students who studied physics taught
by using a model of discovery with method experiment and models of discovery
method demonstration on the subject of impulse and momentum grade XMIPA
semester 2 SMA Negeri 08 Kupang 2018/2019 school year. (2) the concept of
learning physics Achievements. students who are taught by using experimental
methods with discovery model is higher than the physical concepts of learning
achievement of students who are taught by using model a demonstration with the
method of discovery on the subject of impulse and momentum grade XMIPA
semester 2 SMA Negeri 08 Kupang 2018/2019 school year.

key words: models of discovery, methods experiments, methods demonstrations,


learning achievement

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur disampaikan kepada Yang Maha Kuasa, karena dengan
limpahan rahmat dan karunian-Nya sehingga penulis dengan segala keterbatasan
pikiran telah dimampukan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak
baik berupa bantuan material maupun moril, untuk itu dengan hati yang tulus
ikhlas penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada :
1. Bapak Hartoyo Yudhawardana, S.Si, M.Si selaku ketua program studi
pendidikan fisika yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menyusun penelitian ini.
2. Ibu Yusniati H. M. Yusuf, S.Si, M.Pd selaku dosen pembimbing I dan
Bapak Hartoyo Yudhawardana, S.Si, M.Si, selaku dosen pembimbing II
yang telah memberikan banyak masukan kepada penulis.
3. Dosen-dosen Program Studi Pendidikan Fisika yang telah memberikan
sumbangan saran kepada penulis.
4. Kepala SMA Negeri 8 Kupang beserta staf guru dan pegawai yang telah
mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di sekolah.
5. Kepala sekolah SMA N 5 Kupang beserta staf guru dan pegawai yang
telah membantu penulis selama kegiatan PPL dan Kepala Desa
Usapimnasi Kecamatan Polen Kab. Timor Tengah Selatan beserta seluruh
masyaratkat Desa Usapimnasi yang telah banyak membantu penulis
selama kegiatan KKN.
6. Keluarga tercinta, Bapak Hamid Koko, Ibu Siti Kabuka (almarhuma) dan
Ibu Kamarya Syukur serta abang Abdul Majid Koko yang selalu
memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan
studi.
7. Bapak Ahmad Kadir dan Ibu Jainab Mudiloang sebagai orang tua wali
serta adik Muhalis, Ikbal, Ainur dan Nisa yang juga selalu memberikan
dukungan dan motivasi kepada penulis.
vi
8. Teman-teman Kontrakan Peluncur, kakak Haidir Daing, Jubaidin, Nanang,
Eka, Irma, Yanti dan Indri yang telah memberikan motivasi kepada penulis
dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
9. Teman-teman PPL dan KKN yang telah banyak membantu penulis selama
kegiatan PPL dan KKN.
10. Teman-teman mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika UNDANA
angakatan 2013.
11. Seluruh mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Fisika UNDANA yang
tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh
karenanya dengan lapang dada Penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak yang telah membaca skripsi ini, demi penyempurnaan tulisan selanjutnya.

Kupang, Mei 2019

Penulis

vii
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul
Lembar Persetujua................................................................................... i
Lembar Pengesahan ................................................................................ ii
Motto Dan Persembahan ......................................................................... iii
Abstrak ................................................................................................... iv
Abstract ................................................................................................... v
Kata Pengantar ........................................................................................ vi
Daftar Isi.................................................................................................. viii
Daftar Tabel ............................................................................................ xi
Daftar Gambar......................................................................................... xii
Daftar Lampiran ...................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................................................... 1


1.2 Perumusan Masalah ................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................... 6
1.5 Asumsi Dan Ruang Lingkup..................................................... 6
1.6 Devinisi Oprasional ................................................................. 7

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Belajar Dan Mengajar ................................................. 8


2.2 Model Discovery...................................................................... 11
2.2.1 Pengertian Model Discovery.......................................... 11
2.2.2 Langkah-Langkah Pembelajaran ................................... 12
2.2.3 Kelebihan Model Discovery .......................................... 12
2.2.4 Kekurangan Model Discovery ....................................... 13
2.3 Metode Eksperimen ................................................................. 14
2.3.1 Pengertian Metode Eksperimen ..................................... 14
2.3.2 Kelebihan Metode Eksperimen ...................................... 14

viii
2.3.3 Kekurangan Metode Eksperimen................................... 15
2.4 Metode Demonstrasi ................................................................ 15
2.4.1 Pengertan Metode Demonstrasi ..................................... 15
2.4.2 Kelebihan Metode Demonstrasi ..................................... 16
2.4.3 Kekurangan Metode Demonstrasi.................................. 16
2.5 Prestasi Belajar......................................................................... 17
2.5.1 Pengertian Prestasi Belajar............................................. 17
2.5.2 Penilaian Prestasi Belajar............................................... 18
2.6 Model Discovery Melalui Metode Eksperimen ....................... 19
2.7 Model Discovery Melalui Metode Demonstrasi ...................... 20
2.8 Penelitian Sebelumnya Yang Relevan ..................................... 10
2.9 Hipotesis................................................................................... 13

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian ................................................. 24


3.2 Populasi Dan Sampel ............................................................... 24
3.2.1 Populasi .......................................................................... 24
3.2.2 Sampel............................................................................ 24
3.3 Varibel Penelitian..................................................................... 24
3.3.1 Variabel Bebas (X)......................................................... 24
3.3.2 Variabel Terikat (Y)....................................................... 24
3.3.3 Variabel Kontrol............................................................. 25
3.4 Desain Penelitian...................................................................... 25
3.5 Instrumen Penelitian................................................................. 26
3.6 Perosedur Penelitian................................................................. 26
3.6.1 Tahap Persiapan .............................................................. 26
36.2 Tahap Pelaksanaan Perlakuan .......................................... 28
2.6.3 Pengumpulan Data .......................................................... 28
3.6.4 Teknik Analisa Data........................................................ 28
3.6.5 Kriteria Pengambilan Keputusan .................................... 29

ix
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data ......................................................................... 31
4.1.1 Deskripsi Data Kelas Eksperimen ................................. 31
4.1.2 Deskripsi Data Kelas Kontrol........................................ 32
4.2 Uji Prasyarat Analisis Untuk Uji Kemampuan Awal .............. 41
4.2.1 Uji Homogenitas............................................................ 41
4.2.2 Uji Normalitas ............................................................... 42
4.3 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ........................................... 43
4.4 Uji Prasyarat Analisis Untuk Uji Hipotesis Penelitian ............ 45
4.4.1 Uji Homogenitas............................................................ 45
4.4.2 Uji Normalitas ............................................................... 45
4.5 Uji Hipotesis Penelitian ........................................................... 46
4.5.1 Uji Hipotesis Pertama.................................................... 46
4.5.2 Uji Hipotesis Kedua....................................................... 47
4.6 Pembahasan ............................................................................. 48
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan....................................................................... 53
5.2 Saran ................................................................................. 54
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... .. 55
Lampiran - Lampiran

x
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Desain Penelitian..................................................................... 25


Tabel 3.2 Instrumen Penelitian................................................................ 26
Tabel 4.1 Deskripsi Data Pre-Test Dan Post-Test Kelas Eksperimen .... 31
Tabel 4.2 Frekuensi Data Pre-Test Kelas Eksperimen............................ 32
Tabel 4.3 Frekuensi Data Post-Test Kelas Eksperimen .......................... 32
Tabel 4.4 Daftar Nilai Pre-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas
Eksperimen............................................................................. 33
Tabel 4.5 Daftar Nilai Post-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas
Eksperimen............................................................................. 34
Tabel 4.6 Daftar Nilai Untuk Setiap Indokator Pada Kelas Eksperimen.. 35
Tabel 4.7 Deskripsi Data Kelas Kontrol ................................................. 36
Tebel 4.8 Frekuensi Data Pre-Test Kelas Kontrol .................................. 37
Tabel 4.9 Frekuensi Data Post-Test Kelas Kontrol................................. 37
Tabel 4.10 Daftar Nilai Pre-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas
Kontrol ................................................................................... 38
Tabel 4.11 Daftar Nilai Post-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas
Kontrol ................................................................................... 39
Tabel 4.12 Daftar Nilai Untuk Setiap Indokator Pada Kelas Eksperimen.. 40
Tabel 4.13 Hasil Uji Homogenitas Kemempuan Awal........................... 41
Tabel 4.14 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Awal .............................. 42
Tabel 4.15 Hasil Uji Kemampuan Awal Sampel .................................... 43
Tabel 4.16 Hasil Uji Homogenitas Untuk Uji Hipotesis Penelitian ....... 45
Tabel 4.17 Hasil Uji Normalitas Untuk Uji Hipotesis Penelitian ........... 45
Tabel 4.18 Hasil Uji Hipotesis Pertama.................................................. 46
Tabel 4.19 Hasil Uji Hipotesis Kedua .................................................... 46

xi
DAFTAR GAMBAR

Digram 4.1 Persentase Peningkatan Prestasi Setiap Indikator Pada


Kelas Eksperimen................................................................ 36

Digram 4.2 Persentase Peningkatan Prestasi Setiap Indikator Pada


Kelas Kontrol ...................................................................... 41

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Silabus ............................................................................... 57


Lampiran 2 RPP Kelas Eksperimen...................................................... 59
Lampiran 3 RPP Kelas Demonstrasi..................................................... 69
Lampiran 4 LKS.................................................................................... 79
Lampiran 5 Bahan Ajar......................................................................... 82
Lampiran 6 Soal Prestasi Uji Coba ....................................................... 93
Lampiran 7 Tabulasi Nilai Soal Uji Coba............................................. 99
Lampiran 8 Sola Prestasi....................................................................... 109
Lampiran 9 Kunci Jawaban Soal Prastasi ............................................. 115
Lampiran 10 Daftar Nilai ....................................................................... 116
Lampiran 11 Distribusi Frekuensi Nilai Tes Awal Kelas Penelitian ..... 118
Lampiran 12 Uji Prasyarat Analisis Data Tes Kemampuan Awal......... 119
Lampiran 13 Uji Kesamaan Kemampuan Awal .................................... 120
Lampiran 14 Distribusi Nilai Post-Test Kelas Penelitian ...................... 121
Lampiran 15 Uji Prasyarat Untuk Uji Hipotesis .................................... 122
Lampiran 16 Uji Hipotesis Penelitian .................................................... 123
Lampiran 17 Peningkatan Prestasi Perindikator ..................................... 125
Lampiran 18 Dokumentasi Penelitian.................................................... 130

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fisika sebgai bagian dari IPA memiliki andil yang besar untuk

menyumbangkan ilmunya demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada

hakikatnya IPA meliputi tiga hal yaitu sebagai produk, proses dan sikap ilmiah.

Pembelajaran Fisika yang diajarkan guru kepada siswa juga harus membuat siswa

mampu memahami konsep yang disampaikan, sehingga siswa mampu

menganalisis terhadap gejala-gejala Fisika yang terjadi di alam.

Dalam rangka mencapai keberprestasian pendidikan, maka perlu

diciptakan suatu sistem lingkungan (kondisi belajar) yang kondusif. Hal tersebut

akan sangat berkaitan erat dengan mengajar, dimana mengajar diartikan sebagai

suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjdinya proses

belajar. Sistem lingkungan belajar itu sendiri terdiri atau dipengaruhi oleh

berbagai komponen yang masing-masing saling mempengaruhi. Komponen-

komponen tersebut antara lain tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi

yang ingin diajarkan, guru dan siswa memainkan peranan jenis kegiatan yang

dilakukan, termasuk Model dan metode mengajar yang digunakan. Komponen-

komponen tersebut memiliki peran yang penting dalam meningkatkan prestasi

belajar siswa, dimana prestasi belajar adalah salah satu indikator pencapaian

keberprestasian suatu proses pendidikan.

Menurut Sudjana (2004) “prestasi belajar adalah kemampuan-kemampuan

yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya”. Prestasi belajar


1
2

adalah tujuan akhir yang ingin dicapai setelah melakukan suatu proses

pembelajaran. prestasi belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam

proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan

pembentukan tingkah laku seseorang. Prestasi belajar sebagai pengukuran dari

penilaian kegiatan belajar atau proses belajar dinyatakan dalam symbol, huruf

maupun kalimat yang menceritakan prestasi yang sudah dicapai oleh setiap anak

pada periode tertentu.

prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang sedang

belajar, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri

individu yang sedang belajar. Faktor eksternal antara lain faktor guru, lingkungan,

keluarga dan sekolah. Guru adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh

terhadap prestasi belajar seorang siswa. Oleh karena itu guru dituntut untuk terus

melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain

meningkatkan pengetahuan, guru juga harus mampu merancang pembelajaran

yang mampu menarik perhatian siswa dalam proses belajar.

Sayangnya, dalam kenyataan pembelajaran Fisika yang disampaikan oleh

guru, hanya sekedar penyampaian rumus-rumus tanpa dilandaskan pada

pemahaman konsep Fisika yang disampaikan, sehingga mengakibatka sulitnya

siswa dalam menganalisis terhadap gejala-gejala Fisika yang terjadi di alam dan

berdampak pula pada prestasi belajar fisika siswa yang rendah.


3

Untuk mengsikapi permasalahan tersebut, guru dituntut untuk mampu

menggunakan Model dan metode pengajaran yang tepat yang menekankan

terhadap pemahaman konsep sekaligus mengoptimalkan keterlibatan siswa dalam

proses pembelajaran.

Berkaitan dengan penggunaan Model untuk mengoptimalkan proses

belajar mengajar, dalam penelitian ini digunakan Model Discovery. Afandi

muhamad, dkk. dalam buku Model Dan Metode Pembelajaran Disekolah (2013 ),

menyatakan bahwa “Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan

sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajakan bahan ajar yang tidak

berbentuk final, tetapi anank didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan

sendiri dengan menggunakan teknik Model pemecahan masalah”.

Dalam Model Discovery ini siswa dituntut untuk lebih aktif terhadap

berbagai macam informasi dan masukan-masukan untuk menambah

pemahamannya. Dasar pemikiran Discovery Learning adalah belajar berinteraksi

dengan lingkungan secara aktif dan dapat menciptakan sendiri suatu kerangka

kognitif bagi diri sendiri. Sumber munculnya Discovery learning adalah teori

belajar Bruner, yaitu anak harus berperan secara aktif di dalam kelas (Raysuryo,

2008), Model Discovery memerlukan proses mental, yaitu mengamati, mencerna,

mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan

membuat kesimpulan.

Model Discovery sangat cocok bila diterapkan untuk mengajarkan konsep

Impuls, Momentum dan Tumbukan. Karena, mempelajari konsep Impuls,

Momentum dan Tumbukan tidak cukup hanya dengan mendengar dan menghafal
4

saja melainkan dibutuhkan kemampuan untuk memahami konsep Impuls,

Momentum dan Tumbukan dengan tepat.

Selain penggunaan Model pembelajaran yang tepat, model pembelajaran

yang sesuai dengan metode yang digunakan menjadi suatu hal yang harus

dipikirkan pengajar atau guru. Banyak metode pembelajaran yang dapat

diterapkan guru dalam proses belajar mengajar diantaranya adalah metode

ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, dan eksperimen.

Metode pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode

eksperimen dan metde demonstrasi. Metode eksperimen dan demonstrasi dipilih

dalam penelitian ini karena kedua metode ini dirasa tepat digunakan dalam

pembelajaran menggunakan Model Discovery. Melalui kedua metode ini,

pembelajaran diarahkan agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa,

melibatkan siswa secara aktif dalam proses dan sikap ilmiah.

Dalam metode eksperimen, siswa dilibatkan secara langsung dalam

kegiatan eksperimen, baik dalam melakukan prosedur percoban, pengambilan

data, perumusan hipotesis, hingga penarikan kesimpulan. Dalam pembelajaran

dengan metode eksperime siswa melakaukan eksperimen secara langsung

sehingga akan memberikan gambaran yang lebih kuat tentang materi dan konsep

yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran dengan metode

demonstrasi siswa hanya terlibat dalam beberapa hal seperti, mengamati,

menyusun hipotesis, dan pengambilan kesimpulan. Dalam Pembelajaran dengan

metode demonstrasi, siswa tidak melakukan eksperimen sendiri melainkan

mengamati eksperimen atau percobaan yang dilakukan oleh guru di depan kelas.
5

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mencoba membuat

penelitian dengan judul : “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

DISCOVERI DENGAN METODE EKSPERIMEN DAN DEMONSTRASI

UNTUK MENIGKATKAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA.”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan indentifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka dapat

disusun perumusan masalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang signifikan

antara siswa yang diajarkan menggunakan model Discovery dengan

metode eksperimen dan siswa yang diajarkan dengan model Discovery

dengan metode demonstrasi?

2. Apakah prestasi belajar fisika siswa yang diajarkan dengan model

Discovery dengan metode eksperimen lebih tinggi dari pada siswa yang

diajar dengan model Discovery dengan metode demonstrasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar fisika siswa

yang signifikan antara siswa diajarkan dengan menggunakan model

Discovery dengan metode eksperimen dan yang diajarkan dengan model

Discovery dengan metode demonstrasi.

2. Untuk menggetahui apakah prestasi belajar fisika siswa yang diajar dengan

model Discovery metode eksperimen lebih tinggi dari pada siswa yang

diajarkan dengan model Discovery metode demonstrasi.


6

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam penelitian penulis berharap semoga prestasi penelitian ini berguna

untuk :

1. Bagi siswa

Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan dari prestasi belajar

bersama serta dapat memicu siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam

belajar.

2. Bagi guru

Sebagai bahan masukan untuk guru dalam memilih alternatif pembelajaran

yang dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi siswa dalam belajar.

3. Bagi sekolah

Sebagai informasi sumbangan pemikiran dibidang pendidikan khususnya

bidang Fisika.

1.5 Asumsi Dan Ruang Lingkup

Penelitian ini berjalan dengan asumsi bahwa :

1. Pada umumnya proses belajar mengajar di SMAN 8 Kupang berjalan

sesuai dengan kuriulum yang berlaku.

2. Kelas yang digunakan sebagai subjek penelitian memiliki kemampuan

awal yang sama antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

3. Pelaksanan tes berjalan sebagaimana mestinya yaitu siswa mengerjakan

soal dengan sungguh-sungguh tanpa bekerja sama sehingga prestasi

penelitian yang diperoleh benar-benar dapat mencerminkan kemampuan

masing-masing siswa.
7

Keterbatasan

Penelitian ini dibatasi pada pelaksanaan kurikulum, penerapan Model dan

Metode pembelajaran serta terbatas pada siswa kelas X SMA Negeri 8 Kupag

Tahun Ajaran 2018/2019. Aspek yang diteliti adalah prestasi belajar (ranah

kognitif) terhadap pelaksanaan penerapan model dan metode pembelajaran.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini dapat dipercaya sejauh asumsi

tersebut diatas berlaku.

1.6 Defenisi Oprasional

Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap tulisan ini,

perlu dijelaskan beberapa istilah yang digunakan antara lain :

1. Model Discoveri adalah suatu cara belajar dimana siswa dibimbing untuk

menemukan sendiri informasi dari suatu konsep yang dipelajari.

2. Metode pembelajaran eksperimen adalah strategi belajar dimana siswa

dibimbing untuk melakukan percobaan-percobaan dalam kelompok kecil

untuk membuktikan suatu konsep atau materi pembelajaran.

3. Metode pembelajaran demonstrasi adalah strategi belajar yang

menggaungkan antara penjelasan lisan, peragaan, animasi dan lain

sebagainya untuk meningkatkan pemahaman siswa.

4. Prestasi belajar adalah prestasi yang dicapai setelah melakukan atau

mengikuti suatu proses pembelajaran, biasanya dinyatakan dengan nilai

atau angka.
8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep Belajar Dan Mengajar

Menurut Slameto (1995) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan

individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan

sebagai prestasi pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.

Sardiman A.M (2001) menyatakan bahwa “dalam arti luas, belajar dapat diartikan

sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya.

Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan

materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya

kepribadian seutuhnya”. Definisi atau konsep dalam arti sempit ini dalam praktek

banyak dianut oleh sekolah-sekolah. Para guru berusaha memberikan ilmu

penegetahuan sebanyak-banyaknya dan siswa giat untuk mengumpul atau

menerimanya. Sebagai konsekuensi dari pengertian yang terbatas ini, maka

kemudian muncul banyak pendapat yang menyatakan bahwa belajar itu

menghafal. Hal ini terbukti, jika siswa hendak ujian maka mereka akan menghafal

terlebih dahulu.

Kalau melihat definisi sempit tersebut, tentu secara esensial belum

memadai, karena sesuai dengan pengertian belajar yang disebutkan di atas, sudah

jelas bahwa diharapkan dari proses belajar itu akan terjadi perubahan tingkah laku

baik yang bersifat potensial maupun aktual. Sehingga siswa yang mengalami

proses belajar, pada akhirnya diharapkan akan memiliki kamampuan-kemampuan

kognitif yang baru dalam bentuk mengingat, memahami, menerapkan,


9

mensintesis, menganalisis dan mengevaluasi. Tentu sebenarnya bukan hanya

kemampuan kognitif saja yang menjadi tolak ukur perubahan tingkah laku dari

prestasi belajar, akan tetapi juga termasuk perubahan dalam kemampuan afektif

dan psikomorik.

Dari definisi-definisi tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa

belajar merupakan suatu kegiatan yang dapat apat mengprestasikan perubahan

tangkah laku atau penampilan baik potensial maupun aktual, dengan serangkaian

kegiatan diantaranya membaca, mendengar, meniru, dan sebagainya. Perubahan-

perubahan itu berbentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam

waktu yang relatif lama (konstan), serta perubahan tersebut terjadi karena usaha

secara sadar yang dilakukan oleh individu yang sedang belajar.

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan suatu

kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk

berlangsungnya proses belajar. Dengan demikian mengajar adalah kegiatan

terorganisasi yang bertujuan untuk membantu dan menggairahkan siswa belajar.

Menurut Sudirman A. M (2001) ada beberapa definisi mengenai mengajar

yang dirumuskan secara rinci dan tampak bertingkat.Yang pertama menyatakan

bahwa “mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik”. Menurut

pengertian ini berarti tujuan dari siswa belajar itu hanya sekedar ingin mendapat

atau menguasai pengetahuan, sehingga pengajaranya bersifat teacher centered.

Definisi kedua menyatakan bahwa “mengajar adalah menanamkan pengetahuan

itu kepada anak didik dengan suatu harapan terjadi pemahaman”. Kemudian

pengertian yang luas, mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi


10

atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak,

sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan, mengajar sebagai upaya

menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi

para siswa.

Mursel dalam Slameto (1991), menggambarkan mengajar sebagai

mengoranisasi belajar, sihingga dengan mengorganisasikan itu, belajar jadi

bermakna bagi siswa. Lain halnya dengan Kilpatrik, inti pengajaran adalah

menempatkan siswa untuk menghadipi masalah dan berusaha memecahkannya.

Mengajar adalah mencari situasi yang mengandung masalah kemudian siswa

harus menghadipinya untuk dapat memecahkannya.

Sedangkan menurut william H Buton menyatakan bahwa “Mengajar

adalah upaya dalam memberikan perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan,

dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar”. (Tabrani Rusyan 1998).

2.2 Model Discovery

2.2.1 Pengertian Model Discovery

Model Discovery merupakan suatu Model belajar dimana siswa dituntut

mampu menemukan suatu konsep dalam belajar. Siswa dintuntut aktif dalam

proses belajar mengajar. Dengan Model Discovery ini, guru harus memperhatikan

siswa yang cerdas dan kurang cerdas.

Discovery diterjemahkan sebagai teknik penemuan. Afandi Muhamad, at

all. dalam buku Model Dan Metode Pembelajaran Disekolah (2013), menyatakan

bahwa “Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri.

Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajakan bahan ajar yang tidak
11

berbentuk final, tetapi anank didik diberi peluang untuk mencari da menemukan

sendiri dengan menggunakan teknik Model pemecahan masalah”.

Pembelajaran Discovery Learning merupakan suatu model pembelajaran

yang dikembangkan oleh J. Bruner berdasarkan pada pandangan kognitif tentang

pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis (Depdiknas 2005).

Dasar dari pembelajaran Discovery Learning adalah teori belajar yang

disampaikan oleh Bruner. Menurut Bruner (1960) yang dikutip oleh A. H. Ahmad

dalam bukunya pembelajaran fisika di sekolah (2011) menyatakan, “bahwa

belajar adalah bagaimana seseorang memilih, mempertahankan, dan

mentransformasikan informasi secara aktif. Selama proses belajar berlangsung

murid dibiarkan mencari dan menemukan sesuatu yang dipelajari”.

Dari pendapat diatas dapat dikatan bahwa Discovery Learning adalah

suatu cara belajar yang menunut siswa untuk mencari dan menemukan sendiri

informasi tentag konsep yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran ini guru

bertindak sebagai faslitator.

2.2.2 Langkah-Langkah Pembelajaran

Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran dengan Model Discovery

Learning menurut Afandi Muhanad, at al (2013) adalah seagai berikut :

1) Stimulan

Guru bertanya dengan mengajukan persoalan atau menyuuh peserta

didik untuk membaca atau mendengarkan uraian yang membuat

masalah.
12

2) Problem statemen

Peserta didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai

permasalahan.

3) Data collection

Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya

hipotesis itu, peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan

berbagai informasi yang relevan.

4) Data prosesing

Semua informasi( prestasi bacaan, wawancara, observasi dan

sebagainya) itu diolah, diacak, diklarivikasi, ditabulasi, bahkan kalau

perlu dihitumg dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat

kepercayaan tertentu.

5) Verivication atau pembuktian

Berdasarkan prestasi pengolahan data tafsiran atau informasi yang ada,

pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu dicek

apakah terjawab, atau dengan kata lain terbukti atau tidak.

6) Generalizacation

Tahap selanjutnya, berdasarkan prestasi verivikasi tadi siswa belajar

menarik generalisasi atau kesimpulan tertentu.

2.2.3 Kelebihan Dari Model Discovery

Kelebihan Model Discovery Learning menurut Afandi Muhanad, at al

(2013) adalah seagai berikut :


13

1) Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

2) Siswa benar-benar memahami bahan ajar.

3) Siswa memperoleh pengetahuan atau konsep akan lebih mamapu

mentranfer pengetahuannya ke berbagai konsep lain.

4) Siswa mampu mengembangkan, memperbanyak kesiapa, serta

penguasaan keterampilan dalam proses kognitif.

5) Siswa bergairah dalam belajar.

6) Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa lebih

memperkuat dan menambah kepercayaan diri sendiri.

2.2.4 Kekurangan Model Discovery

Kekurangan Model Discovery Learning menurut Afandi Muhanad, at al

(2013) adalah seagai berikut :

1) Siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental. Siswa harus berani

dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.

2) Guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan

pengajaran tradisional mungkin akan sangat keewa nila diganti dengan

teknik penemuan.

3) Ada yang berpendapat bahwa proses mental terlalu mementingkan

pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan dan

pembentukan sikap dan keterampilan siswa.

4) Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikir

secara kreatif.
14

2.3 Metode Eksperimen

2.2.1 Pengertian Metode Eksperimen

Menurut Rismawati, at al. dalam jurnalnya mengemukakan bahwa

“metode eksperimen adalah sebagai cara belajar mengajar yang melibatkan

peserta didik dengan mengalami, menguji, dan membuktikan sendiri proses dan

prestasi percobaan. Sedangkan menurut Djamarah (1995) mengemukakan bahwa

“metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan

percobaan dengan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari”. Dari dua

pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen adalah cara

belajar mengajar yang melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran

melalui kegiatan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu konsep yang sedang

dipelajari. Ini menunjukan bahwa metode eksperimen cocok diterapkan dalam

pembelajaran Fisika karena konsep-konsep yang ada dalam Fisika sendiri berasal

dari percobaan-percobaan yang dilakukan oleh para alhi Fisika, sehingga untuk

mempermudah pemahaman konsep Fisika perlu adanya kegiatan percobaan

(eksperimen).

2.3.2 Kelebihan Dari Metode Eksperimen

Kelebihan metode eksperimen antara lain :

1) Siswa terlatih mengunakan metode ilmiah dalalm mengghadapi segala

masalah.

2) Mereka (siswa) lebih aktif berpikir dan berbuat, hal tersebut sangat di

kendakai oleh kegiatan mengajar dimana siswa lebih banyak aktif

belajar sendiri dengan bimbingan guru.


15

3) Disamping memperoleh ilmu pengetahuan, siswa juga menemukan

pegalaman praktis serta keterampilan dalam menggunakan alat-alat

percobaan.

4) Dengan eksperimen siswa membuktikan sendiri kebenaran suatu teori.

2.3.3 Kekurangan Metode Eksperimen

Metode eksperimen juga memiliki kelemahan, diantaranya :

1) Memerluka alat percobaan yang lengkap

2) Dapat menghambat laju pembelajaran (percobaan memerlukan waktu

yang lama).

3) Menimbulkan kesulitan bagi guru dan siswa apabila kurang

berpengalaman dalam penelitian.

4) Kegagalan dalam bereksperimen akan berakibat pada kesalan dalam

menyimpulkan suatu teori.

2.4 Metode Demonstrasi

2.4.1 Pengertian Metode Demonstrasi

Metode demontrasi digunakan untuk memeperagan atau menunjukan suatu

posedur yang harus dilakukan peserta didik yang yang tidak dapat dijelaskan

hanya dengan kata-kata. Penyampaian pelajaran dengan metode ini yaitu dengan

memperagan atau menunjukan kepada peserta didik suatu proses, situasi, atau

benda tertentu yang sedang dipelajari sehingga penerimaan siswa terhadap

pelajaran akan lebih baik. Hal ini sesuai dengan pendapat roestiyah N. K dalam

buku strategi belajar mengajar (2001) yang menyatakan bahwa dengan

demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan


16

secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.

Siswa juga dapat mengamati dan memperhatikan pada apa yang diperlihatkan

guru selama pelajaran berlangsung. Sedangkan menurut Rini Budiharti (1998)

“metode demonstrasi adalah suatu teknik mengajar, dimana dikombinasikan

anatara penjelasan lisan dengan suatu perbuatan, sering menggunakan suatu alat”.

Jadi, metode demonstrasi adalah suatu teknik mengajar yang

menggabungkan antara penjelasan lisan dan peragaan, animasi dan lain

sebagainya dengan tujuan menambah pemahaman siswa terhadap apa yang sedang

dipelajari.

2.4.2 Kelebihan Metode Demostrasi.

Metode demonstrasi memiliki beberapa kelebihan antara lain :

1) Perhatian siswa lebih terpusat pada pelajaran yang sedang diberikan.

2) Dapat emotifasi siswa untuk belajar.

3) Dapat membuat pelajaran lebih jelas dan konkrit.

4) Siswa lebih mudah memahami apa yang sedang dipelajari.

5) Memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami sesuatu dengan

cermat.

2.4.3 Kekurangan metode Demonstrasi

Ada pun kekurangan dari metode demonstrasi adalah :

1) Memerlukan keterampilan guru secara khusus.

2) Tidak semua siswa terlibat dalam metode demonstrasi

3) Keterbatasan fasilitas seperti tempat, peralatan dan biaya dalam

melakukan demonstrasi.
17

4) Waktu yang dibutuhkan relatif lebih panjang.

5) Perlu penempatan alat yang strategis, karena jika alat terlalu kecil

maka kegiatan demonstrasi tidak dapt dilihat oleh seluruh siswa.

2.5 Prestasi Belajar

2.5.1 Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah produk atau prestasi dari proses belajar. Prestasi

belajar seorang siswa dapat diperoleh dengan mengikuti kegiatan pembelajaran

dengan sungguh-sungguh. Prestasi belajar dapat ditunjukan dengan kemampuan

dan keterampilan dalam menyelesaikan persoalan atau masalah yang berkaitan

dengan materi atau konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Prestasi belajar

dapat dinyatakan dengan nilai atau skor.

Menurut hamalik (2004) prestasi belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-

nilai, pengetahuan-pengetahuan, sikap-sikap, apresiasi, apibilitas, dan

keterampilan. Artinya bahwa prestasi belajar mengprestasikan pola-pola

perbuatan, nilai-nilai, pengetahuan an sikap serta keterampilan yang baru akibat

suatu proses pembelajaran.

Menurut dimyanti dan mujiono (2013) ”prestasi belajar merupakan kasil

dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi siswa, prestasi

belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar”. Menurut

hamalik (2004) “ mendefinisikan prestasi belajar sebagai tingkat penguasaan yang

dicapai oleh pelajar dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan

tujuan pendidikan yang ditetapkan”.


18

Dari uraian diatas dapat disipulkan bahwa prestasi belajar adalah prestasi

yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu proses pembelajaran dalam kurun

waktu tertentu berupa penguasaan kemampuan yang dapat diukur , berupa ilmu

pengetauan, sikap dan keterampilan yang dinyatakan dengan skor atau nilai.

2.5.2 Penilaian Prestasi Belajar

1. Ranah Penilaian

Ranah penilaian prestasi belajar ada 3 yaitu :

a. Penilaian kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental

(otak). Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir,

termasuk didalamnya kemampuan memahami, menghafal,

mengaplikasi, menganalisa, mensintesis, dan kemampuan

menganalisa.

b. Penilaian afektif

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.

Ranah afektif mencakupn watak prilaku seperti perasaan, minat,

sikap, emosi dan nilai.

c. Penilaian psikomotorik

Ranah psikomotorik aalah ranah yang berkaitan dengan aktivitas

fisik seperti kemampuan untuk melakukan suatu percobaan an lain

sebagainya

Dalam penelitian ini ranah yang akan dinilai adalah ranah kognitif.
19

2. Teknik Penilaian Prestasi Belajar

Ditinjau dari tekniknya, penilaian dibagi menjadi dua jenis yaitu

penilaian tes dan non tes.

a. Teknik tes

Teknik tes dilakukan dengan cara memberikan tes berupa

pertanyaan yang harus dijawab, ditanggapi, atau tugas yang harus

dilaksanakanoleh orang yang dites. Teknik ini dapat dilakukan

dengan bebarapa cara antara lain, teknik tes tertulis, teknik tes lisan

dan teknik tes praktik.

b. Teknik non tes

Tekik non tes adalah teknik penilaian prestasi digunakan untuk

memperoleh gambaran tentang kerakteristik, sikap atau

kepribadian. Teknik nontes dapat dilakuakn dengan cara observasi,

penugasan, produk dan portofolio.

Dalam penelitian ini digunakan teknik tes tertulis untuk mengukur prestasi

belajar siswa dalam ranah kognitif.

2.6 Model Discovery Dengan Metode Mengajar Eksperimen

Berdasarkan tinjauan pustaka, penggunaan Model discovery dengan

metode mengajar eksperimen diharapkan dapat memberikan prestasi yang baik

dari pada metode demonstrasi, karena melalui eksperimen siswa dapat terlibat

langsung dalam kegiatan eksperimen. Hal ini akan memberikn pengalaman belajar

dan gambaran yang lebih jelas mengenai materi yang dipelajari. Konsep yang

diperoleh melalui pengalaman belajar akan lebih kuat tersimpan dalam memori.
20

Sedangkakn, metode demonstrasi masih bersifat abstrak yang kaut melalui

pengamatan terhadap benda-benda yang dimunculkan, walaupun untuk

memperjelas konsep yang diajarkan, tetapi siswa tidak mencoba sendiri dan hanya

mengamati. Dalam hal ini siswa juga aktif dalam pembelajaran melalui

pengamatan, tetapi akan lebih baik prestasinya jika siswa terlibat langsung dalam

kegiatan eksperimen sebagaimana diterapkan dalam metode eksperimen.

2.7 Model Discovery Dengan Metode Mengajar Demonstrasi

Melalui kegiatan demonstrasi diharapkan siswa dapat terlibat dalam

kegiatan mengamati sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pemebelajaran discovery adalah pembelajaran menemukan, oleh karena itu

demonstrasi yang digunakan adalah demonstrasi eksperimen. guru akan

melakukan demonstrasi eksperimen yang berkaitan dengan materi pembelajaran

dan melibatkan siswa dalam kegiatan pengamatan, pengambilan data dan

perumusan kesimpulan. Dengan melibatkan siswa dalam kegitan eksperimen,

diharapkan dapat meningkan pemahaman siswa terhadap konsep yang sedang

dipelajari.

2.8 Penelitian Sebelumnya Yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Yuli Ekawati, Widha Sunarno dan Cari

(2017) dalam jurnal inkuiri yang berjudul “Pembelajaran Fisika Melalui

Discovery Learning Dengan Metode Eksoerimen Dan Demonstrasi Ditinjau Dari

Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreativitas Siswa Smk Kelas X Pada Materi

Sifat Mekanika Bahan”, menyatakan bahwa :


21

1. Tidak terdapat perbedaan pengaruh pembelajaran Discovery Learning

menggunakan metode eksperimen dna demonstrasi terhadap prestasi

belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik;

2. Terdapat pengaruh antara kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi

belajar kognitif dan tidak terdapat pengaruh antara kemampuan

berpikir kritis terhadap prestasi belajar afektif dan psikomotorik;

3. Terdapat pengaruh antara kreativitas siswa terhadap prestasi belajar

kognitif dan tidak terdapat pengaruh antara kreativitas terhadap

prestasi belajar afektif dan psikomotorik;

4. Tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan

kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar kognitif dan

terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan

berpikir kritis terhadap prestasi belajar afektif dan psikomotorik;

5) Tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan

kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif , afektif,

psikomotorik;

6) Tidak terdapat interaksi antara kemampuan berpikir kritis dengan

kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif,

psikomotorik;

7) tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran, kemampuan

berpikir kritis dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif,

afektif, dan psikomotorik.


22

Penelitia lain juga dilakukan oleh Parmono, Widha Sunarno, dan Suparmi

(2013) dengan judul pembelajaan fisika dengan Model ctl melalui metode

eksperimen dan demonstrasi ditinjau dari kreativitas dan gaya belajar siswa,

menyatakan bahwa :

1. Siswa yang diberikan pembelajaran dengan metode eksperimen

memperoleh prestasi belajar rata-rata kognitif, afektif dan

keterampilan proses lebih tinggi dari metode demonstrasi.

2. Siswa dengan kategori kreativitas tinggi memperoleh prestasi belajar

rata-rata kognitif, afektif dan keterampilan proses lebih tinggi dari

pada kreativitas rendah.

3. Siswa dengan gaya belajar visual memperoleh prestasi belajar rata-

rata kognitif, afektif dan keterampilan proses lebih tinggi dari pada

gaya belajar kinestetik.

4. Siswa dengan gaya belajar visual diberi pembelajaran metode

eksperimen memperoleh prestasi rata-rata konitif dan afektif lebih

tinggi dari pada gaya belajar visual diberi pembelajaran metode

demonstrasi.

Siswa gaya belajar visual dengan kreativitas tinggi memperoleh prestasi

belajar rata-rata kognitif, afektif dan keterampilan proses paling tinggi.

Sedangkan gaya belajar kinestetik dengan kreativitas rendah meperoleh prestasi

belajar rata-rata paling rendah.


23

2.9 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah pada penelitian ini, dapat diajukan hipotesis

sebagai berikut :

1. Terdapat perbedaan prestasi belajar Fisika siswa yang signifikan

antara siswa yang diajarkan menggunakan Model Discovery dengan

metode Eksperimen dan siswa yang diajarkan mengggunakan Model

Discovery dengan metode Demonstrasi.

2. Prestasi belajar siswa yang diajarkan memnggunakan Model

Discovery dengan metode Eksperimen lebih tinggi dari siswa yang

diajarkan menggunakan Model Discovery dengan metode

Demonstrasi
24

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 8 Kupang Tahun Ajaran

2018/2019 pada tanggal 18 maret - 30 maret 2019.

3.2 Populasi Dan Sampel

3.2.1 Populasi

populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XMIPA SMA N 8 Kupang

tahun ajaran 2018/2019 yang terdiri dari kelas XMIPA 1, XMIPA 2, XMIPA 3.

3.2.2 Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari populasi dengan

teknik random sampling, kelas XMIPA 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XMIPA 3

sebagai kelas kontrol.

3.3 Variabel Penelitian

3.3.1. Variabel Bebas (X)

variabel bebas (X) dalam penelitian ini yaitu Model Discovery dengan

metode Eksperimen-Demonstrasi

3.3.2. Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu prestasi belajar Fisika siswa

diperoleh dari prestasi tes prestasi pada Impuls, Momentum dan Tunbukan.
25

3.3.3. Variabel Kontrol

Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah :

1) Kemampuan awal dari kelas eksperimen dan kelas kontrol harus sama

dikontrol dengan uji kesamaan dua rata-rata (uji dua pihak) untuk

menguji kesamaan kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan

demonstrasi.

2) Waktu yang diperlukan dalam proses pembelajaran dikontrol dengan

menyamakan jumlah jam pelajaran.

3) Bahan yang diberikan adalah sama yaitu dengan menganbil materi

Impuls, Momentum dan Tumbukan

4) Guru dikontrol dengan menetapkan peneliti sendiri sebagai pengajar.

3.4 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretest-


posttest control grup desain (Sugiono 2013). Desain ini dapat dilukiskan sebagai
berikut:
TABEL 3.1 DESAIN PENELITIAN
Sampel Pre Test Perlakuan Post Test
I T1 X1 T2
II T1 X2 T2
Keterangan:
T1 : Test awal (kemampuan awal siswa)
T2 : Test akhir (prestasi belajar siswa)
X1 : Perlakuan dengan penerapan Model Discovery dengan metode
Eksperimen
X2 : Perlakuan dengan penerapan Model Discovery dengan metode
Demonstrasi.
26

3.5 Instrumen Penelitian

Dalalm penelitian ini digunakan tes objektif untuk mengukur

kemampuan kognitif siswa. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian

ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Standar Bent
Materi
Kompetensi/ Indikator No Soal uk
Pokok
Kompetensi Dasar Test

Menjelaskan pengertian
23, 25
Momentum dan Impuls

Impuls dan Menjelaskan hubungan 21


Momentum Momentum dan Impuls
Menyelesaikan 1, 2, 3, 4, 5,
permasalahan yang
3.1 Menerapkan berkaitan dengan moentum 6, 7, 8, 9 T
konsep Impuls dan Impuls E
dan S
Menuliskan secara
Momentum, 16
serta Hukum matematis persamaan dari
O
Kekekalan jenis-jenis Tumbukan
B
Momentum 10, 11, 12, J
dalam Menyelesaikan E
kehidupan permasalahan yang 13, 14, 15, K
sehari-hari Tumbukan berkaitan dengan T
Tumbukan 22, 24 I
F
Menyelesaikan
17, 18, 19,
permasalahan yang
berkaitan dengan Hukum
20
Kekekalan dan energi
kinetik
Tabel 3.1 Intrumen Penelitian
3.6 Prosedur Penelitian

Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam penelitian ini yakni:

3.6.1 Tahap Persiapan

Hal-hal yang dilakukan pada tahap persiapan adalah:


27

1) Menyiapkan perangkat pembelajaran berupa silabus, rencana pelaksanaan

pembelajaran, lembar kerja siswa, bahan ajar dan tes prestasi belajar.

2) Menyusun instrumen evaluasi penelitian berupa test prestasi belajar fisika.

Instrumen evaluasi penelitian berupa soal-soal test prestasi belajar fisika

yang terlebih dahulu diujicobakan. Uji coba soal dilakukan pada penelitian

tetapi bukan sampel.

Adapun analisis yang dilakukan terhadap soal uji coba dilakukan dengan

menggunakan SPSS versi 25. Adapun analisis yang dimaksud adalah :

1. Uji Reliabilitas Soal

Untuk pengambilan kesimpulan uji reabilitas soal dengan spss adalah nilai

Cronbach's Alpha pada hasil pengolahan data dengan SPSS dan dibandingkan

dengan nilai yang digunakan yakni 0,05, jika Cronbach's Alpha > 0,05 maka

soal dinyatakan reliabel.

2. Uji Vadilitas Soal

Untuk uji validasi dengan SPSS maka kriteria pengambilan kesimpulannya

adalah dengan melihat nilai sig. ada kolom total, jika nilai sig. > 0,05 maka

soal dinyatakan valid.

3. Analisis Item Soal

a. Tingkat Kesukaran Butir Soal

Untuk uji tingkat kesukaran butir soal digunakan kriteria pengujian

sebagai beriku :

0 - 0,20 = Sukar sekali

0,21 - 0,40 = Sukar


28

0,41 - 0,70 = Sedang

0,71 - 1 = Mudah

b. Daya Pembeda

Adapun kriteria penerimaan untuk setiap soal adalah 0,25 TK

0,75 (Nuirkanca dan Sunartana), DP > 0 (Purwanto, 1994:124) dan

rbis> 0 (Purwanto, 1994).

3.6.2 Tahap Pelaksanaan Perlakuan

Dalam tahap pelaksanaan perlakuan peneliti memberikan pre-test pada

kelas eksperimen dengan menerapakan Model Dicovery dengan metode

Eksperimen, sedangkan kelas pembandingnya dengan menerapkan Model

Discovery dengan metode Demonstrasi. Materi pelajaran yang disajikan selama

perlakuan berlangsung adalah Impuls, Momentum dan Tumbukan. Setelah selesai

seluruh bahan kajian, siswa diberikan test prestasi belajar Fisika secara bersamaan

untuk kedua sampel.

3.6.3 Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan peneliti adalah data yang diperoleh dari nilai test

awal yang digunakan untuk menguji kekmampuan awal sampel dan data yang

diperoleh dari nilai test prestasi belajar fisika setelah perlakuan yang digunakan

untuk menguji hipotesis.

3.6.4 Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

analisa statistik menggunakan aplikasi SPSS versi 25. Adapun pengujian yang

dilakukan adalah :
29

1. Uji normalitas dan homogenitas data kemampuan awal sampel

(pre-test)

2. Uji kesamaan kemampuan awal sampel

3. Uji normalitas dan homogenitas data penelitian (post_test)

4. Uji hipotesis penelitian

Sedangkan pengambilan kesimpulan dalam setiap uji statistik yang

dilakukan mengikuti aturan pengambilan kesimpulan dalam pengujian

menggunakan SPSS versi 25.

3.6.5. Kriteria Pengambilan Kesimpulan

1. Uji Normalitas Dan Uji Homogenitas

Untuk pengambilan kesimpulan dalam pengujian normalitas dengan

menggunakan SPSS adalah nilai sig dari hasil uji data dengan SPSS dibandingkan

dengan nilai yang digunakan ( = 0,05), dengan ketentuan jika nilai sig. >

maka data dinyatan normal. Sedangkan Untuk pengambilan keputusan mengenai

uji homogenitas dengan SPSS maka yang perlu diperhatikan dari hasil pengolahan

data adalah nilai dari sig. Based on Mean kemudian nilai Based on Mean

dibandingkan dengan nilai yang digunakan ( = 0,05), dengan ketentuan jika

nilai Based on Mean > 0,05 maka data dinyatakan homogen.

2. Uji Kesamaan Kemampuan Awal Dan Uji Hipotesis

Untuk uji kesamaan kemampuan awal dan uji hipotesis penelitian

memiliki kriteria pengambilaln kesimpulan yang sama karena menggunakan uji

yang sama yaitu uji independen sampel t-test. Kriteria pengambilan

kesimpulannya yaitu jika hasil analisis data dengan SPSS menghasilkan nilai
30

Equal variances assumed > ( = 0,05) maka data dinyatakan mempunyai

kesamaan rata-rata sedangkan jika nilai Equal variances assumed < ( = 0,05)

maka data dinyatakan tidak mempunyai kesamaan rata-rata atau terdapat

perbedaan rata-rata pada data yang diuji dengan SPSS.


31

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Data

Dalam penelitian yang telah dilakukan selama 3 kali pertemuan, proses

pembelajaran dilakukan denga perlakuan yang berbeda di kedua kelas yakni kelas

kontrol dan kelas eksperimen, yang menjadi kelas penelitian yaitu kelas XMIPA2

dan kelas XMIPA3 di SMAN 08 Kupang. Kelas XMIPA2 sebagai kelas eksperimen

dan kelas XMIPA3 sebagai kelas kontrol.

Sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung siswa diberikan

pre-test untuk mengukur dan memperoleh data kemampuan awal siswa dan

setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung siswa diberikan post-test

untuk mengukur kemampuan kognitif siswa, baik kelas ekperimen maupun kelas

kontrol.

4.1.1 Deskripsi Data Kelas Eksperimen

Tabel 4.1 Deskripsi Data Pre-Test Dan Post-Test Kelas Eksperimen

Statistics
Post_test
Pre_Tes Kelas
Kelas
Eksperimen
Eksperimen
Valid 26 26
N
Missing 0 0
Mean 46,77 74,08
Median 48,00 74,00
Std. Deviation 9,651 5,291
Variance 93,145 27,994
Range 40 20
Minimum 24 64
Maximum 64 84
32

Tabel 4.2 Distrubusi Frekuensi Data Pre-Test Kelas Eksperimen


Pre_Tes Kelas Eksperimen
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
24 1 3,8 3,8 3,8
36 3 11,5 11,5 15,4
40 5 19,2 19,2 34,6
44 3 11,5 11,5 46,2
Valid 48 6 23,1 23,1 69,2
52 2 7,7 7,7 76,9
56 3 11,5 11,5 88,5
64 3 11,5 11,5 100,0
Total 26 100,0 100,0

Tabel diatas merupakan hasil dari pengolahan data menggunakan SPSS

untuk mengetahui deskripsi data pada kelas eksperimen. Dari pengujian data

yang sama kita juga dapat melihat distribusi frekuensi data pada kelas eksperimen.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Data Post-Test Kelas Eksperimen


Post_Test Kelas Eksperimen
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
64 1 3,8 3,8 3,8
68 5 19,2 19,2 23,1
70 2 7,7 7,7 30,8
72 4 15,4 15,4 46,2
74 2 7,7 7,7 53,8
Valid 76 5 19,2 19,2 73,1
78 1 3,8 3,8 76,9
80 3 11,5 11,5 88,5
82 2 7,7 7,7 96,2
84 1 3,8 3,8 100,0
Total 26 100,0 100,0

Data diatas merupakan distribusi frekuensi dari nilai pre-test dan post-test

pada kelas eksperimen. Untuk lebih memahami nilai pada kelas eksperimen, dapat

dibuat daftar nilai untuk masing-masing indikator soal yang digunakan sebagai

berikut:
33

Tabel 4.4 Daftar Nilai Pre-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas
Eksperimen

No Urut Nilai/Indikator Jumlah


Siswa 1 2 3 4 5 6 Nilai
1 8 4 20 0 12 4 48
2 4 0 20 0 8 8 40
3 4 4 16 4 12 4 44
4 8 0 20 0 24 4 56
5 4 0 20 4 8 8 44
6 8 4 16 0 4 4 36
7 8 0 16 0 12 12 48
8 8 4 12 4 8 4 40
9 8 4 12 0 8 8 40
10 8 0 16 0 8 8 40
11 4 0 8 0 8 4 24
12 0 4 20 4 16 8 52
13 8 4 12 4 0 8 36
14 4 4 12 4 16 8 48
15 8 4 12 0 20 12 56
16 8 0 16 4 8 4 40
17 0 4 24 0 16 8 52
18 8 0 20 4 20 12 64
19 0 4 20 4 16 4 48
20 8 4 12 0 28 12 64
21 4 4 12 4 8 4 36
22 4 0 24 4 12 4 48
23 8 0 28 0 16 4 56
24 4 0 12 4 20 8 48
25 0 4 16 0 16 12 48
26 8 0 16 4 20 16 64
Jumlah 144 56 432 52 344 192 1220
Rata-
5,54 2,15 16,62 2 13,23 7,38 46,92
Rata

Pada tabel di atas kita dapat melihat bagaimana rata-rata nilai masing-

masing indikator untuk soal post-test. Sedangkan untuk rata-rata nilai untuk soal

post-test dapat dilihat pada tabel berikut.


34

Tabel 4.5 Daftar Nilai Post-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas
Eksperimen
No Nilai
Urut Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Jumlah
Siswa 1 2 3 4 5 6
1 4 4 16 4 20 4 52
2 8 4 28 4 20 8 72
3 8 4 24 0 20 4 60
4 8 0 36 4 24 12 84
5 8 4 32 0 20 12 76
6 8 4 24 4 24 12 76
7 8 4 24 0 24 8 68
8 8 4 24 4 24 8 72
9 8 0 16 4 28 8 64
10 8 4 24 0 20 12 68
11 8 0 32 4 24 8 76
12 8 4 24 4 16 8 64
13 8 0 28 0 20 12 68
14 8 4 20 4 16 16 68
15 8 4 20 0 28 12 72
16 8 0 28 4 16 12 68
17 8 4 20 0 20 16 68
18 8 4 28 4 24 12 80
19 8 4 20 4 20 16 72
20 8 4 24 4 28 12 80
21 4 4 24 4 12 16 64
22 8 4 16 4 24 12 68
23 8 4 32 4 24 8 80
24 8 0 24 4 24 16 76
25 8 4 28 4 16 8 68
26 8 4 28 4 24 12 80
Jumlah 200 80 644 76 560 284 1844
Rata-
7,69 3,07 24,76 2,37 21,53 10,92 74,08
Rata

Dari tabel di atas dapat kita lihat rata-rata nilai untuk tiap indikator soal

yang digunakan. Dari tabel nilai rata-rata untuk tiap indikator soal diatas kita
35

dapat nilai rata-rata tiap indikator untuk kelas eksperimen pada pre-test dan post-

tes sebagai berikut :

Tabel 4.6 Daftar Nilai Untuk Setiap Indikator Pada Kelas Eksperimen

Nilai
No Indikator Pre- Post-
Test % Test % Y-X %Y-%X
(X) (Y)
Indikator
1 5,54 69,23 7,69 96,20 2,15 26,92
1
Indikator
2 2,15 53,84 3,08 76,90 0,92 23,07
2
Indikator
3 16,60 46,15 24,8 68,80 8,15 22,64
3
Indikator
4 2,00 50,00 2,92 73,10 0,92 23,07
4
Indikator
5 13,20 41,34 21,50 67,30 8,30 25,96
5
Indikator
6 7,38 46,15 10,90 68,30 3,53 22,11
6
Jumlah 46,90 70,90

Dari tabel di atas kita dapat melihat bagaimana peningkatan nilai untuk tiap

indikator dan persentase peningkatannya, indikator yang mengalami peningkatan

tertinggi adalah indikator 1 dengan peningkatan sebesar 2,15 poin atau 26,92%.

Sedangkan indikator yang mengalami peningkatan terendah adalah indikator 6

dengan peningkatan sebesar 3,53 poin atau sekitar 22,11 %. Selisih nilai pada

indikator 1 adalah 2,15 sedangkan selisih nilai pada indikator 6 adalah 3,53

namun indikator yang mengalami peningkatan terbesar adalah indikator 1, hal ini

disebabkan karena masing-masing indikator mempunyai jumlah soal yang

berbeda sehingga untuk menentukan indikator dengan peningkatan tertinggi kita

mengacu pada persentase penigkatannya.


36

Untuk lebih memahami peningkatan prestasi setiap indikator soal dapat

dibuat grafik sebagai berikut :

Digram 4.1 Persentase Peningkatan Prestasi Setiap Indikator Pada


Kelas Eksperimen

120 Presentasi Peningkatan Prestasi Setiap Indikator Soal Pada


96,15 Kelas Eksperimen
100

80 69,23 73,07 73,07 70,19


68,37 67,3
60 53,84 50
46,65 46,15
41,34
40

20

0
Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Indikator 6

post-test pre-test

4.1.2 Deskripsi Data Kelas Kontrol

Sama seperti kelas eksperimen, nilai kelas kontrol diuji menggunakan uji

deskripsi data dengan SPSS menghasilkan output data sebagai berikut

Tabel 4.7 Data Kelas Kontrol


Statistics
Pre_Tes Kelas Post_Tes
Kontrol Kelas Kontro
Valid 32 32
N
Missing 0 0
Median 46,00 66,00
Std. Deviation 9,919 6,423
Variance 98,383 41,254
Range 44 26
Minimum 20 50
Maximum 64 76
37

Dari tabel diatas kita juga dapat membuat tabel distribusi frekuensi sebagai

brikut:

Tabel 4.8 Frekuensi Pre-Test Kelas Kontrol


Pre_Tes Kelas Kontrol
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
20 1 3,1 3,1 3,1
32 1 3,1 3,1 6,3
36 2 6,3 6,3 12,5
40 6 18,8 18,8 31,3
42 1 3,1 3,1 34,4
44 5 15,6 15,6 50,0
Valid
48 1 3,1 3,1 53,1
52 5 15,6 15,6 68,8
56 5 15,6 15,6 84,4
60 4 12,5 12,5 96,9
64 1 3,1 3,1 100,0
Total 32 100,0 100,0

Tebel 4.9 Frekuensi Post-Tes Kelas Kontrol


Post_Tes Kelas Kontrol
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
50 1 3,1 3,1 3,1
54 1 3,1 3,1 6,3
56 1 3,1 3,1 9,4
58 1 3,1 3,1 12,5
60 7 21,9 21,9 34,4
62 1 3,1 3,1 37,5
64 2 6,3 6,3 43,8
Valid
66 4 12,5 12,5 56,3
68 5 15,6 15,6 71,9
70 2 6,3 6,3 78,1
72 4 12,5 12,5 90,6
74 1 3,1 3,1 93,8
76 2 6,3 6,3 100,0
Total 32 100,0 100,0

Untuk mengetahui nilai setiap indikator soal, perhatikan tabel di bawah ini:
38

Tabel 4.10 Daftar Nilai Pre-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas Kontrol

No Nilai
Jumlah
Urut Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Nilai
Siswa 1 2 3 4 5 6
1 8 4 20 0 12 8 52
2 8 0 12 4 16 4 44
3 0 4 24 4 16 8 56
4 8 0 16 0 16 16 56
5 0 4 16 4 12 4 40
6 4 4 16 4 4 8 40
7 8 4 12 0 12 8 44
8 8 0 12 0 24 8 52
9 4 4 24 4 8 8 52
10 4 0 16 0 12 4 36
11 4 4 24 0 12 8 52
12 0 4 8 4 12 12 40
13 8 0 24 0 16 8 56
14 4 0 20 0 12 8 44
15 4 4 8 4 12 8 40
16 8 4 12 0 8 8 40
17 0 4 16 4 20 4 48
18 0 0 20 4 20 8 52
19 4 0 12 0 16 12 44
20 8 0 8 0 8 8 32
21 4 0 24 0 20 8 56
22 8 0 20 4 12 12 56
23 8 4 4 0 4 0 20
24 8 0 20 4 16 8 56
25 4 4 24 0 20 8 60
26 4 0 8 0 20 8 40
27 4 4 20 4 16 12 60
28 4 4 16 0 12 8 44
29 8 0 4 4 12 12 40
30 0 0 20 4 16 12 52
31 8 4 12 0 8 4 36
32 8 0 16 4 12 4 44
Jumlah 160 64 508 60 436 256 1484
Rata-
5,00 2,00 15,87 1,87 13,62 8,00 46,37
Rata
39

Tabel 4.11 Daftar Nilai Post-Test Untuk Setiap Indikator Pada Kelas Kontrol
No Nilai / Indikator
Jumlah
Urut
1 2 3 4 5 6 Nilai
Siswa
1 8 0 20 4 24 12 68
2 8 4 24 4 8 4 52
3 8 4 16 0 16 12 56
4 8 0 20 4 24 4 60
5 8 4 20 4 20 12 68
6 8 4 32 0 16 12 72
7 8 4 24 4 12 8 60
8 8 0 20 0 20 8 56
9 4 4 16 0 20 16 60
10 8 0 16 0 12 12 48
11 8 4 24 4 28 4 72
12 8 4 24 0 32 8 76
13 8 4 28 0 16 12 68
14 8 4 16 4 20 12 64
15 0 4 24 0 20 8 56
16 8 4 24 4 20 12 72
17 8 0 28 4 24 12 76
18 8 0 24 4 16 12 64
19 8 4 24 0 20 12 68
20 8 4 24 4 28 8 76
21 4 4 28 4 24 12 76
22 8 4 24 4 24 12 76
23 4 0 28 4 24 12 72
24 8 0 20 4 28 12 72
25 8 4 20 4 24 8 68
26 8 4 28 4 16 12 72
27 4 4 24 4 28 12 76
28 4 4 24 4 20 12 68
29 8 0 24 4 20 12 68
30 4 4 28 4 24 8 72
31 8 4 24 0 20 12 68
32 8 4 24 4 24 12 76
Jumlah 224 92 744 88 672 336 2156
Rata-
7,00 2,87 23,25 2,75 21,00 10,50 65,19
Rata
40

Tabel 4.12 Peningkatan Prestasi Untuk Setiap Indikator Pada Kelas Kontrol

Nilai
No Indikator Pre- Post-
Test % Test % Y-X %Y-%X
(X) (Y)
1 Indikator 1 5,00 62,50 7,00 87,50 2,00 25,00
2 Indikator 2 2,00 50,00 2,87 71,87 0,875 21,87
3 Indikator 3 15,87 44,09 23,25 64,58 7,375 20,48
4 Indikator 4 1,87 46,87 2,75 68,75 0,87 21,87
5 Indikator 5 13,62 42,57 21,00 65,62 7,37 23,04
6 Indikator 6 8,00 50,00 10,50 65,62 2,50 15,62
Jumlah 46,37 67,38

Dari tabel di atas kita dapat melihat bagaimana peningkatan nilai untuk tiap

indikator dan persentase peningkatannya, indikator yang mengalami peningkatan

tertinggi adalah indikator 1 dengan peningkatan sebesar 2 poin atau 25 %.

Sedangkan indikator yang mengalami peningkatan terendah adalah indikator 6

dengan peningkatan sebesar 2,5 poin atau sekitar 15,625 %. Selisih nilai pada

indikator 1 adalah 2 sedangkan selisih nilai pada indikator 6 adalah 2,5 poin

namun indikator yang mengalami peningkatan terbesar adalah indikator 1, hal ini

disebabkan karena masing-masing indikator mempunyai jumlah soal yang

berbeda sehingga untuk menentukan indikator dengan peningkatan tertinggi kita

mengacu pada persentase penigkatannya.

Untuk lebih memahami peningkatan prestasi setiap indikator soal dapat

dibuat grafik sebagai berikut :


41

Digram 4.2 Persentase Peningkatan Prestasi Setiap Indikator Pada Kelas


Kontrol

100 Presentasi Peningkatan Prestasi Setiap Indikator Soal Pada


87,5
90 Kelas Eksperimen
80 71,87 68,75 65,62 65,62
70 62,5 64,58
60 50 50
44,09 46,87
50 42,5
40
30
20
10
0
Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Indikator 6

post-test pre-test

4.2. Uji Prasyarat Analisis Untuk Uji Kemampuan Awal

Berdasarkan persyaratan analisis sebelum dilakukan pengujian perlu

dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap data hasil penelitian. Uji

prasyarat analisis yang harus dipenuhi adalah uji normalitas dan uji homogenitas.

4.2.1 Uji Homogenitas

Setelah melakukan analisis menggunakan SPSS diperoleh hasil seperti iabel

di bawah ini

Tabel 4.13 Hasil Uji Homogenitas Kemampuan Awal


Test of Homogeneity of Variances
Levene
df1 df2 Sig.
Statistic
Based on Mean 0,326 1 56 0,571
Prestasi
Based on Median 0,373 1 56 0,544
Belajar
Siswa Based on Median and with adjusted df 0,373 1 55,036 0,544
Based on trimmed mean 0,333 1 56 0,566
42

Dari tabel hasil analisis data di atas dapat dilihat nilai derajat kebebasan

untuk data yang diuji (df 1) dan derajat kebebasan untuk jumlah data keseluruhan

yang diuji (df 2) dan nilai signifikan (sig.) dari data yang diuji.

Untuk pengambilan keputusan mengenai uji homogenitas dengan SPSS

maka yang perlu diperhatikan adalah nilai dari sig. Based on Mean kemudian nilai

Based on Mean dibandingkan dengan nilai yang digunakan ( = 0,05),

dengan ketentuan jika nilai Based on Mean lebih besar dari 0,05 maka data

dinyatakan homogen. Berdasarkan tabel diatas maka nilai dari sig. Based on Mean

adalah 0,571 lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data nilai uji

kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.

4.2.2 Uji Normalitas

Setelah melakukan uji normalitas menggunakan SPSS diperoleh hasil

seperti pada tabel di dawah ini :

Tabel 4.14 Hasil Uji Normalitas kemampuan awal


Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Kelas
Statistic df Sig. Statistic Df Sig.
Pre_Tes Kelas
0,142 26 0,193 0,955 26 0,297
Eksperimen
Pre_Tes Kelas
0,146 32 0,081 0,946 32 0,108
Kontrol

Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji kolmogorof-

smimov dan uji shapiro-willk. Nilai statistik menunjukan nilai absolut atau nilai

perbandingan negatif dan positif, nilai sig. menunjukan nilai signifan atau nilai

dari perbandingan distribusi kedua kelas yang digunakan, sedangkan nilai df

menunjukan banyaknya data yang di uji.


43

Dari data hasil analisis diatas dapat dilihat bahwa data diuji dengan

menggunakan dua uji statistik yaitu Kolmogorov-Smirnov dan uji Kolmogorov-

Smirnov. Untuk pengambilan kesimpulan dalam pengujian normalitas dengan

menggunakan SPSS adalah nilai sig dari kedua uji diatas dibandingkan dengan

nilai yang digunakan ( = 0,05), dengan ketentuan jika nilai sig. lebih besar

dari nlai maka data dinyatan normal. Dari kedua uji diatas dapat dilihat bahwa

untuk kelas demonstrasi nilai sig.-nya adalah 0,081 atau lebih besar dari nilai

(0,05) dan 0,108 lebih besar dari nilai (0,05), sedangkan untuk kelas eksperimen

nilai sig.-nya adalah 0,193 lebih besar dari nilai (0,05) dan 0,297 lebih besar

dari nilai (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua data tersebut

berdistribusi normal.

4.3 Uji Kesamaan Kemampuan Awal

Untuk melakukan uji kesamaan kemampuan awal maka data yang kita

gunakan adalah data pre-test pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Tabel 4.15 Hasil Uji Kemampuan Awal Sampel


Prestasi Belajar
Siswa
Independent Samples Test Equal
Equal
variances
variances
not
assumed
assumed
Levene's Test for Equality of F 0,378
Variances Sig. 0,541
T 0,234 0,234
Df 56 54,236
t-test for
Sig. (2-tailed) 0,816 0,816
Equality
of Mean Difference -0,606 -0,606
Means Std. Error Difference 2,594 2,585
95% Confidence Interval Lower -5,802 -5,788
of the Difference Upper 4,590 4,577
44

Hasil analisis data dengan spsss diatas menunjukan beberapa perhitungan

antara lain, nilai untuk uji homogenitas yang ditunjukan oleh nilai f dan signifikan

pada levene’s test for equality of variances dan nilai untuk uji t pada tabel t-test

for equality of means. Hasil yang ditunjukan pada uji t adalah nilai t hitungnya

adalah 0,234, derajat kebebasan adalah 56, nilai selisis mean -0,606, sedangkan

selisih deviasi antara kedua data 2,594 dan sig.(2-tailed) menunjukan signifikan

untuk uji dua pihak. Pada kolom prestasi belajar siswa terdapat dua bagian yaitu

Equal variances assumed dan Equal variances not assumed atau variansi data

homogen dan variansi data tidak homogen. Artinya jika data homogen digunakan

Equal variances assumed dan jika data tidak homogen digunakan Equal variances

not assumed dalam pengambilan keputusan.

Berdasakan tabel hasil analisis data dengan menggunakan SPSS diatas

dapat dilihat bahwa nilai sig.(2-tailed) untuk Equal variances assumed = 0,816

atau lebih besar dari nilai α (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak

terdapat perbedaan rata-rata dari data yang di analisis. Hal ini menunjukan bahwa

tidak terdapat perbedaan kemampuan awal siswa yang diajarkan dengan model

Discovery Learning dengan metode Eksperimen dan Demonstrasi


45

4.4 Uji Prasyarat Analisis Untuk Uji Hipotesis Penelitian


4.4.1 Uji Homogenitas
Tabel 4.16 Hasil Uji Homogenotas Untuk Uji Hipotesis Penelitian
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Based on Mean 1,114 1 56 0,296
Prestasi Based on Median 0,810 1 56 0,372
Belajar Based on Median and
0,810 1 52,248 0,372
Siswa with adjusted df
Based on trimmed mean 1,054 1 56 0,309
Dari tabel hasil analisis data di atas dapat dilihat nilai derajat kebebasan

untuk data yang diuji (df 1) dan derajat kebebasan untuk jumlah data keseluruhan

yang diuji (df 2) dan nilai signifikan (sig.) dari data yang diuji.

Sama seperti uji homogenitas pada uji kemampuan awal sampel yang

perludilihat dari tabel diatas adalah nilai dari sig.-nya. Dari tabel di atas dapat

dilihat bahwa nilai sig.-nya adalah 0,296 lebih besar dari nilai α (0,05) sehingga

dapat dikatan bahwa data pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah

homogen.

4.4.2 Uji Normalitas

Dalam pengujian normalitas data sebagai prasyarat untuk uji hipotesis

penelitian maka data yang digunakan adalah data post-test dari kelas eksperimen

dan kelas demonstrasi.

Tabel 4.17 Hasil Uji Normalitas Untuk Uji Hipotesis


Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Kelas Statisti
df Sig. Statistic Df Sig.
c
Prestas Post_Tes Kelas
0,114 26 0,2 0,960 26 0,393
i Eksperimen
Belajar Post_Tes Kelas
0,134 32 0,152 0,966 32 0,404
Siswa Kontrol
46

Sama seperti pengujian normalitas data untuk pengujian kesamaan awal

sampel setelah dilakukan pengujian dapat dilihat bahwa nilai sig. dari kedua uji

diatas adalah lebih besar dari nilai α yang digunakan yaitu 0,05, baik pada kelas

eksperimen maupun kelas demonstrasi. Nili sig. untuk kelas eksperimen yaitu 0,2

lebih besar dari 0,05 dan 0,393 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatan bahwa

data berdistribusi normal, sedangkan untuk kelas demonstrasi nilai sig._nya

adalah 0,152 lebih besar dari 0,05 dan 0, 404 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat

dikatakan bahwa data pada kelas demonstrasi berdistribusi normal.

4.5 Uji Hipotesis Penelitian

4.5.1 Uji Hipotesis Pertama


Tabel 4.18 Hasil Uji Hipotesis Pertama
Prestasi Belajar Siswa
Independent Samples Test Equal variances Equal variances
assumed not assumed
Levene's Test for Equality of F 0,413
Variances Sig. 0,523
T 1,92 1,942
Df 56 55,401
t-test for Sig. (2-tailed) 0,00 0,00
Equality
of Mean Difference 3,827 3,827
Means Std. Error Difference 1,993 1,971
95% Confidence Interval Lower -7,82 -7,776
of the Difference Upper 0,166 0,122

Hasil analisis data dengan SPSS di atas menunjukan beberapa perhitungan

antara lain, nilai untuk uji homogenitas yang ditunjukan oleh nilai F dan

signifikan pada levene’s test for equality of variances dan nilai untuk uji t pada

tabel t-test for equality of means. Hasil yang ditunjukan pada uji t adalah nilai t
47

hitungnya adalah 1,92, derajat kebebasan adalah 56, nilai selisis mean 3,827,

sedangkan selisih deviasi antara kedua data1,993 dan sig.(2-tailed) menunjukan

signifikan untuk uji dua pihak. Pada kolom prestasi belajar siswa terdapat dua

bagian yaitu Equal variances assumed dan Equal variances not assumed atau

variansi data homogen dan variansi data tidak homogen. Artinya jika data

homogen digunakan Equal variances assumed dan jika data tidak homogen

digunakan Equal variances not assumed dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan tabel hasil anlisis data dengan SPSS diatas dapat dilihat bahwa

nilai sig.(2-tailed) pada Equal Variances Assumed = 0,00 lebih kecil jika

dibandingkan dengan nilai α (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan rata-rata nilai prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang

diajarkan dengan model Discovery dengan metode eksperimen dan siswa yang

diajarkan dengan menggunakan model Discovery dengan metode demonstrasi.

4.5.2 Uji Hipotesis Kedua

Bersarkan hisil uji hipotesis yang pertama kita mengetahui bahwa terdapat

perbedaan rata-rata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Untuk mengetahui nilai rata-rata yang lebih besar maka kita dapat mengunakan

tabel grup statistik pada uji idenpenden simpel t-test.

Tabel 4.19 Hasil Uji Hipotesis Kedua

Group Statistics
Std. Std. Error
Kelas N Mean
Deviation Mean
Prestasi Post_Tes Kelas 26 74,08 5,291 1,038
Belajar Eksperimen
Siswa Post_Tes Kelas Kontrol 32 65,19 6,423 1,135
48

Hasil analisis data di atas menunjukan hasil sebagai brikut, nilai N atau

jumlah data untuk kelas eksperimen 26 dan kelas kontrol 32, mean atau rata-rata

nilai untuk kelas eksperimen 74,08 dan 65,19 untuk kelas kontrol, dan standar

deviasi yang digunakan untuk kelas eksperimen 5,291 dan 6,423 untuk kelas

kontrol dan std. Error mean atau selisih nilai rata-rata untuk kelas eksperimen

1,038 dan 1,135 untuk kelas kontrol.

Dari tabel hasil uji diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata untuk kelas

eksperimen adalah 74,08 dan lebih besar dari 65,19 (nilai rata-rata kelas kontrol)

sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas yang diajarkan dengan model Discovery

dengan model Eksperimen adalah lebih baik dari pada kelas yang diajarkan

dengan model Discovery dengan metode Demonstrasi.

4.6 Pembahasan

Dari hasil analisis data penelitian di atas dengan taraf nyata  = 0,05

diperoleh nilai sig. 2-tailednya adalah 0,00 sehingga dapat dikatakan bahwa

terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara siswa yang diajarkan dengan

menggunakan model Discovery dengan metode eksperimen dan siswa yang

diajarkan dengan menggunakan model Discovery dengan metode demonstrasi.

Selain memberikan informasi tentang perbedaan rata-rata kelas eksperimen dan

kelas kontrol hasil analisis data juga memberikan informasi bahwa peningkatan

prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen yang diajarkan dengan model

Discovery dengan metode eksperimen lebih baik bila dibandingkan dengan

peningkatan prestasi belajar siswa pada kelas kontrol yang diajarkan


49

menggunakan model Discovery dengan metode demonstrasi. Perbedaan

peningkatan prestasi ini dapat dilihat pada hasil uji hipotesis kedua yang mana

menunjukan bahwa nilai mean dari nilai kelas eksperimen adalah 74,08

sedangkan kelas kontrol dengan nilai mean 65,19.

Peningkatan prestasi belajar siswa juga dapat dilihat pada peningkatan

prestasi untuk setiap indikator soal. Peningkatan prestasi belajar siswa untuk

setiap indikator soal dipengaruhi oleh tingkatan soal yang digunakan untuk setiap

indikator. Pada indikator soal yang pertama tingkatan soal yang digunakan hanya

berada pada tingkat menjelaskan konsep yang dipelajari sehingga dapat kita lihat

bahwa peningkatan prestasi pada indikator ini memiliki angka presentasi tertinggi

yakni 25 %, sedangkan pada indikator soal yang ke-6 tingkatan yang digunakan

adalah pada tingkat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan konsep yang

dipelajari sehingga membutuhkan pehaman konsep yang baik dan daya pikir yang

tinggi untuk menyelesaikannya sehingga presentase peningkatan prestasinya

hanya mencapai 15 %.

Peningkatan prestasi belajar juga dapat dilihat dari perbanding peningkatan

prestasi untuk setiap indikator soal baik pada kelas eksperimen maupun kelas

kontrol. Pada analisi data dapat kita lihat bahwa peningkatan prestasi pada setiap

indikator soal untuk kelas eksperimen lebih baik bila dibandingkan dengan

peningkatan prestasi perindikator soal pada kelas kontrol. Hal ini juga

menunjukan bahwa penggunaan model Discovery dengan metode eksperimen

adalah lebih baik dari penggunaan model Discovery dengn metode demonstrasi.

Penyebabnya adalah dalam proses belajar mengajar menggunakan model


50

pembelajaran Discovery dengan metode Eksperimen siswa melakukan percobaan

sendiri untuk menemukan kebenaran dari suatu konsep fisika yang sedang

dipelajari. Dengan melakukan melakukan kegiatan mencoba dan menemukan

sendiri akan memberikan suatu pengalaman belajar yang membekas dalam

memori dan mudah dipahami oleh siswa.

Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan model pembelajaran

Discovery dengan metode Eksperimen pada penelitian ini adalah siswa lebih aktif

dalam kegiatan pembelajaran terlebih pada upaya penemuan konsep Fisika

melalui kegiatan percobaan. Selain itu penggunaan model pembelajaran Discovery

dengan metode ekperimen dalam penelitian ini juga melatih siswa untuk berpikir

secara ilmiah untuk menghadapi berbagai masalah. Dalam melakukan kegiatan

eksperimen atau percobaan siswa dibimbing oleh guru untuk mengarahkan siswa

dan memberikan penjelasan yang berhubungan dengan percobaan yang sedang

dilakukan serta memberikan kesimpulaln yang benar terkait dengan materi yang

dipelajari sehingga kesalahan konsep yang disebabkan oleh kesalahan dalam

percobaan dapat teratasi. Dengan demikian siswa akan memiliki pemahaman yang

lebih baik terhadap materi pembelajaran. Model pembelajaran Discovery dengan

metode Eksperimen dapat diterapkan dalam berbagai materi pembelajaran Fisika,

hal ini dikarenakan materi-materi dalam pembelajaran fisika adalah hasil dari

suatu percobaan yang dilakukan oleh para ahli.

Keunggulan dari model pembelajaran Discovery dengan metode

eksperimen antara lain siswa lebih aktif dalam kegiatan percobaan dengan

memperhatikan arahan atau bimbingan dari guru. SedangkanKelemahan dari


51

model pembelajaran Discovery dengan metode eksperimen antara lain

pembelajaran memerlukan waktu yang lebih lama karena guru harus membimbing

siswa dalam melakukan percobaan untuk menemukan konsep yang tepat karena

kasalahan dalam percobaan akan mengakibatkan kesalahan dalam menyimpulkan

suatu teori.

keunggulan dari model pembelajaran Discovery dengan metode

demonstrasi adalah tidak terlalu banyak menggunakan waktu dalam percobaan

karena percobaan didemostrasikan oleh guru, siswa hanya mengamati demonstrasi

yang dilakukan oleh guru. Meskipun percobaan didemonstrasikan oleh guru

namun, kegiatan menemukan yang merupakan inti dari model Discovery tetap

dilakukan oleh siswa. Hal ini dikarenakan kegiatan pengolahan data hasil

percobaan yang didemonstrasikan oleh guru tetap dilakukan oleh siswa.

sedangkan Kelemahan dari model pembelajaran Discovery dengan metode

demonstrasi antara lain siswa tidak terlibat langsung dalam proses percobaan.

Di sini dapat dilihat bahwa kedua model pembelajaran yang digunakan

dalam penelitian ini memiliki keunggulan masing-masing, namun sesuai hasil

penelitian prestasi belajar dengan menggunakan model pembelajaran Discovery

dengan metode Eksperimen lebih baik dibandingkan pembelajaran menggunakan

model Discovery dengan metode demonstrasi karena dalam proses pembelajaran

dikelas siswa lebih aktif dan terlibat langsung dalam percobaan dalam

mempelajari materi yang diberikan. Keunggulan dari model Discovery dengan

metode eksperimen juga dapat dilihat pada hasil analisis data dimana nilai mean

untuk kelas eksperimen yang diajarkan dengan model Discovery dengan metode
52

eksperimen lebih besar dari nilai mean pada kelas kontrol yang diajarkan dengan

model Discovery dengan metode demonstrasi.


53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan

sebagai berikut:

1. Setelah melakukan analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian diketahui

bahwa nilai sig. 2-tailed pada uji hipotesis pertama adalah 0,00 dan mengacu

pada kriteria pengujian menggunakan program SPSS, dapat disimpulkan

bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang signifikan antara

siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Discovery dengan

metode eksperimen dan siswa yang diajar menggunakan pembelajaran

Discovery dengan metode demonstrasi.

2. Dari hasil analisis data untuk hipotesis kedua dimana nilai mean pada kelas

eksperimen adalah 74,08 sedangkan niali man pada kelas kontrol adalah 65,19

sehingga dapat disimpulkan bahwa Prestasi belajar Fisika siswa pada kelas

eksperimen yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran

Discovery dengan metode eksperimen lebih baik dari pada prestasi belajar

fisika siswa pada kelas kontrol yang diajarkan denngan menggunakan model

pembelajaran Discovery dengan metode demonstrasi.


54

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan hal-hal sebagai

berikut:

1. Dapat menggunakan model pembelajaran Discovery dengan metode

eksperimen menjadi acuan dalam proses belajar mengajar disekolah

khususnya mata pelajaran fisika.

2. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut yang disesuaikan dengan penerapan

model pembelajaran Discovery dengan metode Eksperimen pada materi Fisika

yang lain.

3. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut yang disesuaikan dengan penerapan

model pembelajaran Discovery dengan metode Eksperimen pada jenjang

pendidikan yang lain.


55

DAFTAR PUSTAKA.

Afandi Muhamad. 2013. Model Dan Metode Pembelajaran Di Sekolah.


Semarang. UNISSULA Pres.

A.H. Ahmad. (2011). Pembelajaran fisika di sekolah. Yogyakarta: UNY Press

Depertemen Pendidikan Nasional. 2013. Kurikulum k-13 SMA. Jakarta : erlangga


Dimyanti & Mujiyono. 2013.

Hamalik, Oemar 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Handayani Sri. 2009. BSE Pendidikan Fisika Untuk SMA Kelas X. Jakarta :
DEPDIKNAS.

Parmono. 2013. Jurnal Inquiri. Surakarta. UNS Press

Purwanto, M.N. 1994. Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran


Pendidikan. Bandung:Rosda Karya .

Rini Budiharti. 1998. Strategi Belajar Mengajar Bidang Studi. Surakarta : UNS
Press.

Roestiyah, NK. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipra

Sardiman A. M. 2001. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Raja


Grafindo Persada.

Slameto. 1995. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta :


Rineka Cipta.

Sugiyono. 2013. Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D.


Bandung: ALFABETA
56

Suharsimi arikunto. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi


Aksara.

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung. Tarsito.

. 2004.Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar


Barualgensido Offset

Tabrani Rusyan. 1998. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandug :


Remadja Karya.

Y. Ekawati. 2017. Jurnal Inkuiri. Surakarta: UNS Press


LAMPIRAN I SILABUS

SILABUS MATA PELAJARAN FISIKA


SATUAN PENDIDIKAN : SMA
KELAS/SEMESTER : X/2

Kompetensi Inti
KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2: Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3: Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerap-kan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkrit dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

57
Kompetensi Materi Kegiatan Pembelajaran Bentuk Alokasi Sumber
Dasar Pembelajaran Instrumen Waktu
Penelitian
3.10 Menerapkan Momentum dan  Mengamati tentang Tes objektif 9 x 45 Bahan
konsep Impuls: momentum, impuls, menit ajar atau
momentum  Momentum, hubungan antara buku
dan impuls,  Impuls, impuls dan momentum pembelaj
serta hukum  Tumbukan serta tumbukan dari aran yang
kekekalan lenting berbagai sumber belajar. relefan
momentum sempurna,  Mendiskusikan konsep
dalam lenting momentum, impuls,
kehidupan sebagian, dan hubungan antara
sehari-hari tidak lenting impuls dan momentum
4.10 Menyajikan serta hukum kekekalan
hasil momentum dalam
pengujian berbagai penyelesaian
penerapan masalah
hukum  Merancang dan
kekekalan membuat roket
momentum, sederhana dengan
misalnya menerapkan hukum
bola jatuh kekekalan momentum
bebas ke secara berkelompok
lantai dan  Mempresentasikan
roket peristiwa bola jatuh ke
sederhana lantai dan pembuatan
roket sederhana

58
59

Lampiran 2. Rpp Kelas Eksperimen

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Pertemuan Pertama
Satuan Pendidikan : SMA
Matapelajaran : Fisika
Kelas/Semester : XI /2
Materi Pokok : Momentum Linear
Alokasi Waktu : 1 pertemuan (3×45 menit)

A. Tujuan Pembelajaran
Melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar dan
mengkomunikasikan diharapkan peserta didik mampu:
1. Mendeskripsikan pengertian impuls dan momentum
2. Memnuliskan rumus impuls dan momentum
3. Memahami hubungan antara impuls dan momentum
4. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan momentum, impuls, serta
hubungan antara impuls dan momentum
B. Materi Pembelajaran
Momentum dan Impuls
C. Metode Pembelajaran
Model Pembelajaran : Model discovery
Pendekatan : Saintifik
Metode : metode eksperimen
D. Media, Alat dan Sumber Pembelajaran
a. Media:
1. Cetak
2. Grafis
3. Internet
b. Alat:
alat-alat percobaan
c. Sumber Belajar:
1. FISIKA SMA Jilid2, Pusat Perbukuan
2. LKPD 1
3. sumber lain

E. Kegiatan Pembelajaran

Rincian Kegiatan Alokasi


Waktu
Pendahuluan
1. Guru mengucapkan salam.
2. Siswa dan guru menciptakan suasana religius di dalam kelas dengan 15 menit
bersama-sama berdoa.
3. Guru memeriksa kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua
60

kelas.
4. Siswa diberikan motivasi dan apersepsi dimana guru bertanya tentang
materi yang telah dijelaskan minggu lalu kemudian guru mengaitkan materi
yang akan diajar melalui animasi tentang tumbukan Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti 60 menit
1. Stimulation (pemberian rangsangan)
Mengamati
a. Guru menampilkan video kejadian-kejadian atau fenomena
terkait impuls dan momentum yang memungkinkan siswa menemukan
masalah
b. Siswa melakukan pengamatan fenomena impuls dan momentum yang
disajikan oleh guru
2. Problem statement ( identifikasi masalah)
Menanya
a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah
mengamati fenomena terkait impuls dan momentum
b. Siswa diharapkan bertanya mengenai permasalahan yang timbul setelah
mengamati fenomena yang ditampilkan
c. Guru membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan
sebelumnya menjadi sebuah rumusan masalah penelitian berdasarkan
kejadian dan fenomena yang disajikannya.
d. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah
yang telah dirumuskan.
e. Siswa menyampaikan hipotesis terhadap masalah yang telah
dirumuskan

3. Data collection (Pengumpulan Data)


Mencoba
a. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk
melakukan diskusidengan prosedur pada LDS yang diberikan
b. Guru membimbing dan memfasilitasi siswa
selama diskusi berlangsung.
c. Guru menilai keterampilan siswa dalam percobaan secara kelompok
tentang bagaimana kerjasama siswa dalam kelompok, menghargai ide,
saran, dan pendapat orang lain, kemampuan menjawab pertanyaan, dan
kemampuan menarik kesimpulan.

4. Data Processing (Pengolahan Data)


Mengasosiasi
a. Siswa mengolah dan menganalisis data/informasi yang didapatkan
dari percobaan.
b. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan suatu
konsep.
5. Verification (Pembuktian)
Mengasosiasi
61

a. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan memperhatikan


pertanyaan-pertanyaan pada lembar kegiatan dan membandingkan
pengolahan dengan data-data pada buku sumber
b. Siswa menyimpulkan konsep tumbukan dalam bentuk laporan diskusi.
c. Guru menilai kemampuan siswa mengolah data dan merumuskan
kesimpulan.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Mengkomunikasikan
a. Siswa sebagai perwakilan masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil percobaan.
b. Guru mengarahkan siswa-siswa dari kelompok lainnya untuk memberi
tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
c. Guru memberikan masukan dan penguatan materi terhadap hasil yang
telah didapatkan
d. Menyimpulkan mengenai konsep impuls dan momentum.
Kegiatan Penutup
1. Guru membimbing siswa menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran.
2. Guru melakukan evaluasi dalam bentuk penugasan soal evaluasi. 15 menit
3. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam

H. PENILAIAN
Jenis/teknis penilaian
Penilaian dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian
proses dilakukan melalui observasi kerja kelompok, sedangkan penilaian hasil
dilakukan melalui tes tertulis.
Lampiran : Instrumen penilaian (lembar kerja siswa) dan soal (tes tertulis)
62

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Pertemuan Ke-II
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas / Semester : X / II
Materi Pokok : Impuls dan Momentum
Sub Materi Pokok : Jenis-Jenis Tumbukan
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mendeskripsikan pengertian tumbukan
2. Siswa dapat mengetahui dan membedakan jenis-jenis tumbukan
3. Siswa dapat menganalisis peristiwa didalam kehidupan sehari-hari yang
berhubungan dengan tumbukan
4. Siswa dapat menuliskan secara matematis persamaan dari jenis-jenis
tumbukan
5. Siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tumbukan

B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
KD 3.10 3.10.1 mendeskripsikan pengertian
Menerapkan konsep impuls tumbukan
dan momentum, serta hukum 3.10.2 membedakan jenis-jenis
kekekalan momentum dalam tumbukan
kehidupan sehari-hari 3.10.3 menganalisis peristiwa didalam
kehidupan sehari-hari yang berhubungan
dengan tumbukan
3.10.4 menuliskan secara matematis
persamaan dari jenis-jenis tumbukan
KD 4.10 4.10.1 Menyelesaikan masalah yang
Menyajikan hasil pengujian berkaitan dengan tumbukan
penerapan hukum kekekalan
momentum, misalnya bola
jatuh bebas ke lantai dan roket
sederhana

C. Materi Pembelajaran
1. Faktual: Setiap partikel yang ada di jagad raya ini senantiasa
bergerak, benda bergerak dikarenakan adanya kecepatan akibat gaya luar
yang mempengaruhinya, partikel yang bergerak berpeluang untuk
bertumbukan satu sama lain
2. Konseptual : Jenis-jenis tumbukan
3. Prosedural : Percobaan dengan menggunakan konsep impuls dan
momentum
63

D. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model : Discovery Learning

E. Media Pembelajaran
1. Media : LCD, Lembar Kerja Siswa, Animasi
Pembelajaran,Lembar Observasi serta penilaian
2. Alat dan Bahan : Laptop

F. Sumber Belajar
Sumber belajar : Buku fisika SMA kelas x yang relevan dan LKS
G. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
1. Guru mengucapkan salam.
2. Siswa dan guru menciptakan suasana religius di dalam kelas dengan
bersama-sama berdoa.
3. Guru memeriksa kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua
kelas.
4. Siswa diberikan motivasi dan apersepsi dimana guru bertanya tentang
materi yang telah dijelaskan minggu lalu kemudian guru mengaitkan
materi yang akan diajar melalui animasi tentang tumbukan Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Kegiatan Inti (90 menit)


1. Stimulation (pemberian rangsangan)
Mengamati
a. Guru menampilkan video kejadian-kejadian atau fenomena
terkait tumbukanyang memungkinkan siswa menemukan masalah
b. Siswa melakukan pengamatan fenomena tumbukan yang disajikan
oleh guru
2. Problem statement ( identifikasi masalah)
Menanya
a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah
mengamati fenomena terkait tumbukan
b. Siswa diharapkan bertanya mengenai permasalahan yang timbul
setelah mengamati fenomena terkait tumbukan
c. Guru membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan
sebelumnya menjadi sebuah rumusan masalah penelitian
berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
d. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap
masalah yang telah dirumuskan.
e. Siswa menyampaikan hipotesis terhadap masalah yang telah
dirumuskan.
64

3. Data collection (Pengumpulan Data)


Mencoba
a. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk
melakukan diskusidengan prosedur pada LDS yang diberikan
b. Guru membimbing dan memfasilitasi siswa
selama diskusi berlangsung.
c. Guru menilai keterampilan siswa dalam percobaan secara
kelompok tentang bagaimana kerjasama siswa dalam kelompok,
menghargai ide, saran, dan pendapat orang lain, kemampuan
menjawab pertanyaan, dan kemampuan menarik kesimpulan.

4. Data Processing (Pengolahan Data)


Mengasosiasi
a. Siswa mengolah dan menganalisis data/informasi yang didapatkan
dari percobaan.
b. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan suatu
konsep.
5. Verification (Pembuktian)
Mengasosiasi
a. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kegiatan dan membandingkan
pengolahan dengan data-data pada buku sumber
b. Siswa menyimpulkan konsep tumbukan dalam bentuk laporan
diskusi.
c. Guru menilai kemampuan siswa mengolah data dan merumuskan
kesimpulan.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Mengkomunikasikan
a. Siswa sebagai perwakilan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil percobaan.
b. Guru mengarahkan siswa-siswa dari kelompok lainnya untuk
memberi tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
c. Guru memberikan masukan dan penguatan materi terhadap hasil
yang telah didapatkan
d. Menyimpulkan mengenai konsep tumbukan.

3. Penutup (30 menit)


1. Guru membimbing siswa menyimpulkan hasil kegiatan
pembelajaran.
2. Guru melakukan evaluasi dalam bentuk penugasan soal evaluasi.
3. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam
65

H. PENILAIAN
Jenis/teknis penilaian
Penilaian dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian
proses dilakukan melalui observasi kerja kelompok, sedangkan penilaian hasil
dilakukan melalui tes tertulis.
Lampiran : Instrumen penilaian (lembar kerja siswa) dan soal (tes tertulis)
66

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Pertemuan Ke-III
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas / Semester : X / II
Materi Pokok : Impuls dan Momentum
Sub Materi Pokok : Hukum Kekekalan Momentum
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mendeskripsikan bunyi hukum kekekalan momentum
2. Siswa dapat menentukan hukum kekekalan momentum untuk sistem
tanpa gaya luar
3. Siswa dapat mengaplikasikann hukum kekekalan momentum linier
4. Siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan hukum
kekekalan momentum dengan menerapkan persamaan matematis dari
hukum kekekalan momentum

B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
KD 3.10 3.10.1 Mendeskripsikan pengertian bunyi hukum
Menerapkan konsep impuls kekekalan momentum
dan momentum, serta hukum 3.10.2 Merumuskan hukum kekekalan momentum
kekekalan momentum dalam untuk sistem tanpa gaya luar
kehidupan sehari-hari 3.10.3 Mengaplikasikan hukum kekekalan
momentum linier
KD 4.10 4.10.1 Menyelesaikan permasalahan yang berkaitan
Menyajikan hasil pengujian dengan hukum kekekalan momentum dengan
penerapan hukum kekekalan menerapkan persamaan matematis dari
momentum, misalnya bola hukum kekekalan momentum
jatuh bebas ke lantai dan
roket sederhana

C. Materi Pembelajaran
1. Faktual : Setiap partikel yang ada di jagad raya ini senantiasa bergerak,
benda bergerak dikarenakan adanya kecepatan akibat gaya luar yang
mempengaruhinya, partikel yang bergerak berpeluang untuk bertumbukan
satu sama lain
2. Konseptual : Kekekalan momentum
3. Prosedural : Percobaan Hukum Kekekalan Momentum
67

D. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model : Discovery Learning

E. Media Pembelajaran
1. Media : LCD, Lembar Diskusi Siswa, Animasi Pembelajaran,
Lembar Observasi serta penilaian
2. Alat dan Bahan : Lembar kerja siswa (LKS)

F. Sumber Belajar
Sumber belajar : Buku fisika SMA kelas x yang relevan

G. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
a. Guru mengucapkan salam.
b. Siswa dan guru menciptakan suasana religius di dalam kelas dengan
bersama-sama berdoa.
c. Guru memeriksa kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua
kelas.
d. Guru memberikan pertanyaan apersepsi kepada siswa, pernahkah kalian
melihat orang bermain biliar ? apakah antara bola biliar terjadi interaksi ?
e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Kegiatan Inti (90 menit)


1. Stimulation (pemberian rangsangan)
Mengamati
a. Guru menampilkan video peluncuran roket
b. Siswa melakukan pengamatan fenomena peluncuran yang
disajikan oleh guru
2. Problem statement ( identifikasi masalah)
Menanya
a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
setelah mengamati fenomena terkait impuls dan momentum.
b. Siswa diharapkan bertanya mengenai permasalahan yang timbul
setelah mengamati fenomena terkait impuls dan momentum.
c. Guru membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan
sebelumnya menjadi sebuah rumusan masalah penelitian
berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
d. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap
masalah yang telah dirumuskan.
e. Siswa menyampaikan hipotesis terhadap masalah yang telah
dirumuskan
3. Data collection (Pengumpulan Data)
Mencoba
a. siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan
percobaan dengan prosedur pada lks
68

b. Guru membimbing dan memfasilitasi siswa


selama diskusi berlangsung.
c. Guru menilai keterampilan siswa dalam diskusi secara kelompok
tentang bagaimana kerjasama siswa dalam kelompok, menghargai
ide, saran, dan pendapat orang lain, kemampuan menjawab
pertanyaan, dan kemampuan menarik kesimpulan.
4. Data Processing (Pengolahan Data)
Mengasosiasi
a. Siswa mengolah dan menganalisis data/informasi yang didapatkan
dari diskusi.
b. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan
suatu konsep.
5. Verification (Pembuktian)
Mengasosiasi
a. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kegiatan dan membandingkan
pengolahan dengan data-data pada buku sumber
b. Siswa menyimpulkan konsep hukum kekekalan momentum dalam
bentuk laporan diskusi.
c. Guru menilai kemampuan siswa mengolah data dan merumuskan
kesimpulan.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Mengkomunikasikan
a. Siswa sebagai perwakilan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasilpercobaan.
b. Guru mengarahkan siswa-siswa dari kelompok lainnya untuk
memberi tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
c. Guru memberikan masukan dan penguatan materi terhadap hasil
yang telah didapatkan
d. Menyimpulkan mengenai hukum kekekalan momentum.

3. Penutup (30 menit)


a. Guru membimbing siswa menyimpulkan hasil kegiatan
pembelajaran.
b. Guru melakukan evaluasi dalam bentuk penugasan soal evaluasi.
c. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam
H. PENILAIAN
Jenis/teknis penilaian
Penilaian dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses
dilakukan melalui observasi kerja kelompok, sedangkan penilaian hasil dilakukan
melalui tes tertulis.
Lampiran : Instrumen penilaian (lembar diskusi siswa) dan soal (tes tertulis),
69

Lampiran 3. Rpp Kelas Kontrol

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Pertemuan Pertama
Satuan Pendidikan : SMA
Matapelajaran : Fisika
Kelas/Semester : XI /2
Materi Pokok : Momentum Linear
Alokasi Waktu : 1 pertemuan (3×45 menit)

A. Tujuan Pembelajaran
Melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar dan
mengkomunikasikan diharapkan peserta didik mampu:
1. Mendeskripsikan pengertian impuls dan momentum
2. Memnuliskan rumus impuls dan momentum
3. Memahami hubungan antara impuls dan momentum
4. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan momentum, impuls, serta
hubungan antara impuls dan momentum
B. Materi Pembelajaran
Momentum dan Impuls
C. Metode Pembelajaran
Model Pembelajaran : Model discovery
Pendekatan : Saintifik
Metode : metode eksperimen
D. Media, Alat dan Sumber Pembelajaran
a. Media:
1. Cetak
2. Grafis
3. Internet
b. Alat:
alat-alat percobaan
c. Sumber Belajar:
1. FISIKA SMA Jilid2, Pusat Perbukuan
2. LKPD 1
3. sumber lain
70

E. Kegiatan Pembelajaran

Rincian Kegiatan Alokasi


Waktu
Pendahuluan
1. Guru mengucapkan salam.
2. Siswa dan guru menciptakan suasana religius di dalam kelas dengan
bersama-sama berdoa.
3. Guru memeriksa kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua
kelas. 15 menit
4. Siswa diberikan motivasi dan apersepsi dimana guru bertanya tentang
materi yang telah dijelaskan minggu lalu kemudian guru mengaitkan materi
yang akan diajar melalui animasi tentang tumbukan Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti 60 menit
1. Stimulation (pemberian rangsangan)
Mengamati
a. Guru menampilkan video kejadian-kejadian atau fenomena
terkait impuls dan momentum yang memungkinkan siswa menemukan
masalah
b. Siswa melakukan pengamatan fenomena impuls dan momentum yang
disajikan oleh guru
2. Problem statement ( identifikasi masalah)
Menanya
a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah
mengamati fenomena terkait impuls dan momentum
b. Siswa diharapkan bertanya mengenai permasalahan yang timbul setelah
mengamati fenomena yang ditampilkan
c. Guru membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan
sebelumnya menjadi sebuah rumusan masalah penelitian berdasarkan
kejadian dan fenomena yang disajikannya.
d. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah
yang telah dirumuskan.
e. Siswa menyampaikan hipotesis terhadap masalah yang telah
dirumuskan

3. Data collection (Pengumpulan Data)


Mencoba
a. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk
melakukan diskusidengan prosedur pada LDS yang diberikan dan
memperhatikan demonstrasi yang dilakukan oleh guru.
b. Guru membimbing dan memfasilitasi siswa
selama diskusi berlangsung.
c. Guru menilai keterampilan siswa dalam percobaan secara kelompok
71

tentang bagaimana kerjasama siswa dalam kelompok, menghargai ide,


saran, dan pendapat orang lain, kemampuan menjawab pertanyaan, dan
kemampuan menarik kesimpulan.

4. Data Processing (Pengolahan Data)


Mengasosiasi
a. Siswa mengolah dan menganalisis data/informasi yang didapatkan
dari percobaan.
b. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan suatu
konsep.
5. Verification (Pembuktian)
Mengasosiasi
a. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kegiatan dan membandingkan
pengolahan dengan data-data pada buku sumber
b. Siswa menyimpulkan konsep tumbukan dalam bentuk laporan diskusi.
c. Guru menilai kemampuan siswa mengolah data dan merumuskan
kesimpulan.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Mengkomunikasikan
a. Siswa sebagai perwakilan masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil percobaan.
b. Guru mengarahkan siswa-siswa dari kelompok lainnya untuk memberi
tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
c. Guru memberikan masukan dan penguatan materi terhadap hasil yang
telah didapatkan
d. Menyimpulkan mengenai konsep impuls dan momentum.
Kegiatan Penutup
1. Guru membimbing siswa menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran.
2. Guru melakukan evaluasi dalam bentuk penugasan soal evaluasi. 15 menit
3. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam

H. PENILAIAN
Jenis/teknis penilaian
Penilaian dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian
proses dilakukan melalui observasi kerja kelompok, sedangkan penilaian hasil
dilakukan melalui tes tertulis.
Lampiran : Instrumen penilaian (lembar kerja siswa) dan soal (tes tertulis)
72

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Pertemuan Ke-II
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas / Semester : X / II
Materi Pokok : Impuls dan Momentum
Sub Materi Pokok : Jenis-Jenis Tumbukan
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mendeskripsikan pengertian tumbukan
2. Siswa dapat mengetahui dan membedakan jenis-jenis tumbukan
3. Siswa dapat menganalisis peristiwa didalam kehidupan sehari-hari yang
berhubungan dengan tumbukan
4. Siswa dapat menuliskan secara matematis persamaan dari jenis-jenis
tumbukan
5. Siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tumbukan

B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
KD 3.10 3.10.1 mendeskripsikan pengertian
Menerapkan konsep impuls tumbukan
dan momentum, serta hukum 3.10.2 membedakan jenis-jenis
kekekalan momentum dalam tumbukan
kehidupan sehari-hari 3.10.3 menganalisis peristiwa didalam
kehidupan sehari-hari yang berhubungan
dengan tumbukan
3.10.4 menuliskan secara matematis
persamaan dari jenis-jenis tumbukan
KD 4.10 4.10.1 Menyelesaikan masalah yang
Menyajikan hasil pengujian berkaitan dengan tumbukan
penerapan hukum kekekalan
momentum, misalnya bola
jatuh bebas ke lantai dan roket
sederhana

C. Materi Pembelajaran
1. Faktual: Setiap partikel yang ada di jagad raya ini senantiasa
bergerak, benda bergerak dikarenakan adanya kecepatan akibat gaya luar
yang mempengaruhinya, partikel yang bergerak berpeluang untuk
bertumbukan satu sama lain
2. Konseptual : Jenis-jenis tumbukan
73

3. Prosedural : Percobaan dengan menggunakan konsep impuls dan


momentum
D. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model : Discovery Learning
3. Metode : Demonstrasi
E. Media Pembelajaran
1. Media : LCD, Lembar Kerja Siswa, Animasi
Pembelajaran,Lembar Observasi serta penilaian
2. Alat dan Bahan : Laptop

F. Sumber Belajar
Sumber belajar : Buku fisika SMA kelas x yang relevan dan LKS

G. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
1. Guru mengucapkan salam.
2. Siswa dan guru menciptakan suasana religius di dalam kelas dengan
bersama-sama berdoa.
3. Guru memeriksa kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua
kelas.
4. Siswa diberikan motivasi dan apersepsi dimana guru bertanya tentang
materi yang telah dijelaskan minggu lalu kemudian guru mengaitkan
materi yang akan diajar melalui animasi tentang tumbukan Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Kegiatan Inti (90 menit)


1. Stimulation (pemberian rangsangan)
Mengamati
a. Guru menampilkan video kejadian-kejadian atau fenomena
terkait tumbukanyang memungkinkan siswa menemukan masalah
b. Siswa melakukan pengamatan fenomena tumbukan yang disajikan
oleh guru
2. Problem statement ( identifikasi masalah)
Menanya
a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah
mengamati fenomena terkait tumbukan
b. Siswa diharapkan bertanya mengenai permasalahan yang timbul
setelah mengamati fenomena terkait tumbukan
c. Guru membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan
sebelumnya menjadi sebuah rumusan masalah penelitian
berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
d. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap
masalah yang telah dirumuskan.
e. Siswa menyampaikan hipotesis terhadap masalah yang telah
74

dirumuskan

3. Data collection (Pengumpulan Data)


Mencoba
a. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk
melakukan diskusidengan prosedur pada LDS yang diberikan
sambil memperhatikan demonstrasi yang dilakukan oleh guru.
b. Guru membimbing dan memfasilitasi siswa
selama diskusi berlangsung.
c. Guru menilai keterampilan siswa dalam percobaan secara
kelompok tentang bagaimana kerjasama siswa dalam kelompok,
menghargai ide, saran, dan pendapat orang lain, kemampuan
menjawab pertanyaan, dan kemampuan menarik kesimpulan.

4. Data Processing (Pengolahan Data)


Mengasosiasi
a. Siswa mengolah dan menganalisis data/informasi yang didapatkan
dari percobaan.
b. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan suatu
konsep.
5. Verification (Pembuktian)
Mengasosiasi
a. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kegiatan dan membandingkan
pengolahan dengan data-data pada buku sumber
b. Siswa menyimpulkan konsep tumbukan dalam bentuk laporan
diskusi.
c. Guru menilai kemampuan siswa mengolah data dan merumuskan
kesimpulan.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Mengkomunikasikan
a. Siswa sebagai perwakilan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil percobaan.
b. Guru mengarahkan siswa-siswa dari kelompok lainnya untuk
memberi tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
c. Guru memberikan masukan dan penguatan materi terhadap hasil
yang telah didapatkan
d. Menyimpulkan mengenai konsep tumbukan.

3. Penutup (30 menit)


1. Guru membimbing siswa menyimpulkan hasil kegiatan
pembelajaran.
2. Guru melakukan evaluasi dalam bentuk penugasan soal evaluasi.
3. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam
75

H. PENILAIAN
Jenis/teknis penilaian
Penilaian dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian
proses dilakukan melalui observasi kerja kelompok, sedangkan penilaian hasil
dilakukan melalui tes tertulis.
Lampiran : Instrumen penilaian (lembar kerja siswa) dan soal (tes tertulis)
76

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Pertemuan Ke-III
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas / Semester : X / II
Materi Pokok : Impuls dan Momentum
Sub Materi Pokok : Hukum Kekekalan Momentum
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mendeskripsikan bunyi hukum kekekalan momentum
2. Siswa dapat menentukan hukum kekekalan momentum untuk sistem
tanpa gaya luar
3. Siswa dapat mengaplikasikann hukum kekekalan momentum linier
4. Siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan hukum
kekekalan momentum dengan menerapkan persamaan matematis dari
hukum kekekalan momentum

B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
KD 3.10 3.10.1 Mendeskripsikan pengertian bunyi hukum
Menerapkan konsep impuls kekekalan momentum
dan momentum, serta hukum 3.10.2 Merumuskan hukum kekekalan momentum
kekekalan momentum dalam untuk sistem tanpa gaya luar
kehidupan sehari-hari 3.10.3 Mengaplikasikan hukum kekekalan
momentum linier
KD 4.10 4.10.1 Menyelesaikan permasalahan yang berkaitan
Menyajikan hasil pengujian dengan hukum kekekalan momentum dengan
penerapan hukum kekekalan menerapkan persamaan matematis dari
momentum, misalnya bola hukum kekekalan momentum
jatuh bebas ke lantai dan
roket sederhana

C. Materi Pembelajaran
1. Faktual : Setiap partikel yang ada di jagad raya ini senantiasa bergerak,
benda bergerak dikarenakan adanya kecepatan akibat gaya luar yang
mempengaruhinya, partikel yang bergerak berpeluang untuk bertumbukan
satu sama lain
2. Konseptual : Kekekalan momentum
3. Prosedural : Percobaan Hukum Kekekalan Momentum
77

D. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model : Discovery Learning
3. Metode : Demonstrasi
E. Media Pembelajaran
1. Media : LCD, Lembar Diskusi Siswa, Animasi Pembelajaran,
Lembar Observasi serta penilaian
2. Alat dan Bahan : Lembar kerja siswa (LKS)
F. Sumber Belajar
Sumber belajar : Buku fisika SMA kelas x yang releva
G. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
a. Guru mengucapkan salam.
b. Siswa dan guru menciptakan suasana religius di dalam kelas dengan
bersama-sama berdoa.
c. Guru memeriksa kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua
kelas.
d. Guru memberikan pertanyaan apersepsi kepada siswa, pernahkah kalian
melihat orang bermain biliar ? apakah antara bola biliar terjadi interaksi ?
e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Kegiatan Inti (90 menit)


1. Stimulation (pemberian rangsangan)
Mengamati
a. Guru menampilkan video peluncuran roket
b. Siswa melakukan pengamatan fenomena peluncuran yang
disajikan oleh guru
2. Problem statement ( identifikasi masalah)
Menanya
a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
setelah mengamati fenomena terkait impuls dan momentum.
b. Siswa diharapkan bertanya mengenai permasalahan yang timbul
setelah mengamati fenomena terkait impuls dan momentum.
c. Guru membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan
sebelumnya menjadi sebuah rumusan masalah penelitian
berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
d. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap
masalah yang telah dirumuskan.
e. Siswa menyampaikan hipotesis terhadap masalah yang telah
dirumuskan
3. Data collection (Pengumpulan Data)
Mencoba
a. siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan
percobaan dengan prosedur pada lks sambil memperhatikan
demonstrasi percobaan yang dilakukan oleh guru.
78

b. Guru membimbing dan memfasilitasi siswa


selama diskusi berlangsung.
c. Guru menilai keterampilan siswa dalam diskusi secara kelompok
tentang bagaimana kerjasama siswa dalam kelompok, menghargai
ide, saran, dan pendapat orang lain, kemampuan menjawab
pertanyaan, dan kemampuan menarik kesimpulan.
4. Data Processing (Pengolahan Data)
Mengasosiasi
a. Siswa mengolah dan menganalisis data/informasi yang didapatkan
dari diskusi.
b. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan
suatu konsep.
5. Verification (Pembuktian)
Mengasosiasi
a. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kegiatan dan membandingkan
pengolahan dengan data-data pada buku sumber
b. Siswa menyimpulkan konsep hukum kekekalan momentum dalam
bentuk laporan diskusi.
c. Guru menilai kemampuan siswa mengolah data dan merumuskan
kesimpulan.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Mengkomunikasikan
a. Siswa sebagai perwakilan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasilpercobaan.
b. Guru mengarahkan siswa-siswa dari kelompok lainnya untuk
memberi tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
c. Guru memberikan masukan dan penguatan materi terhadap hasil
yang telah didapatkan
d. Menyimpulkan mengenai hukum kekekalan momentum.

3. Penutup (30 menit)


a. Guru membimbing siswa menyimpulkan hasil kegiatan
pembelajaran.
b. Guru melakukan evaluasi dalam bentuk penugasan soal evaluasi.
c. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam
H. PENILAIAN
Jenis/teknis penilaian
Penilaian dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses
dilakukan melalui observasi kerja kelompok, sedangkan penilaian hasil dilakukan
melalui tes tertulis.
Lampiran : Instrumen penilaian (lembar diskusi siswa) dan soal (tes tertulis),
79

Lmpiran 4. Lks Nomentum Dan Impuls

LKS MOMENTUM DAN IMPULS


Pertemuan 1
Tujuan
1. menjelaskan pengertian impuls dan momentum
2. menuliskan persamaan impuls dan momentum
3. memahami hubungan antara impuls dan momentum
Kegiatan
1. Perhatikan tabel di bawah ini
NO MASSA (m) KECEPATAN MOMENTUM (p) (kg
(kg) (v) (m/s) m/s)
1 2. 3. 6
2 2 4. 8
3 3 4 12
4 4 4 16

berdasarkan tabel diatas,Tuliskan persamaan yang menyatakan hubungan antara


momentum, massa dan kecepatan ! ........................................................................

2. Perhatikan tabel di bawah ini


NO Gaya (F) (N) Waktu (t) (s) IMPULS (i ) (N.s)
1 3. 4. 12
2 3 5. 15
3 4 4 16
4 5 4 20

berdasarkan tabel diatas,


Tuliskan persamaan yang menyatakan hubungan antara Impuls, Gaya dan waktu !
........................................................................
80

3. LENGKAPILAH tabel di bawah ini


N IMPU MAS KECEPATA KECEPA Perubah PERUBAH
O LS (i) SA N (Vo) TAN an AN
(N.s) (m) ( AWAL(m/s) (Vt) akhir kecepat MOMEMN
kg) (m/s) an ( TUM
1 12 3 0 4
2 15 3 1 6
3 16 4 2 6
4 20 4 3 8

berdasarkan tabel diatas,


Tuliskan persamaan yang menyatakan hubungan antara Impuls dan perubahan
momentum! !........................................................................

4. Buktikan Secara Matematika Bahwa Impuls sama dengan Perubahan momentum


81

Lks Impuls Dan Momentum


Pertemuan 2
Tujuan :
1. Menentukan jenis-jenis tumbukan
2. Memformulasikan persamaan tumbukan, persamaan energi kinetik pada
tumbukan dan hukum kekekalan momentum pada tumbukan.
Alat dan bahan
1. Bola tenis lante
2. Kalereng
Prosedur kerja
A. Tumbukan lenting sempurna
1. Ambil dua buah kelereng dan atur seperti pada gambar dibawah!

2. Gerakan kedua kelereng berlawanan arah (yang satu ke kiri dan satu
ke kanan)!
3. Bagaimana arah gerak kedua kelereng setelah bertumbukan?
4. Bagaimana kecepatan kedua keleng, Apakah sama dengan kecepatan
awal atau tidak?
5. Bagaimana persamaan energi kinetik dan persamaan hukum
kekekalan momentum pada tumbukan lenting sempurna?
B. Tumbukan lenting sebagian
1. Ambil bola tenis lantai dan lepaskan dari ketinggian tertentu!

2. Bagaimana pantulan bola setelah bertumbukan dengan lantai, apakah


tinggi lentingan sama dengan posisi awal bola dilepaskan?
3. Bagaimana kecepatan bola tenis, Apakah sama dengan kecepatan
awal atau tidak?
4. Bagaimana persamaan energi kinetik dan persamaan hukum
kekekalan momentum pada tumbukan lenting sebagian?
C. Tumbukan tidak lenting sama sekalli
1. Ambil sebuah buku dan bola tenis!
2. Gerakan bola tenis ke arah buku yang diam seperti pada gambar!

3. Bagaimana arah gerak dan kecepaan bola tenis setelah bertumbukan!


4. Bagaimana persamaan energi kinetik dan persamaan hukum kekekalan
momentum pada tumbukan tidak lenting sama sekali?
82

Lampiran 5. Bahan ajar


Momentum, Impuls
I. Momentum
Dalam fisika, momentum suatu benda didefinisikan sebagai hasil kali massa
benda dengan kecepatan gerak benda tersebut. Secara matematis ditulis :

⃗ = ⃗ ............. Pers 1
⃗ (pusher) adalah lambang momentum, m adalah massa benda dan ⃗ adalah
kecepatan benda. Momentum merupakan besaran vektor, jadi selain mempunyai
besar atau nilai,momentum juga mempunyai arah. Besar momentum
⃗ = ⃗. Terus arah momentum bagaimana‐kah ? arah momentum sama dengan
arah kecepatan. Misalnya sebuah mobil bergerak ke timur, maka arah momentum
adalah timur, tapi kalau mobilnya bergerak ke selatan maka arah momentum
adalah selatan. Bagaimana dengan satuan momentum ? karena ⃗ = ⃗ , di mana
satuan m = kg dan satuan ⃗ = m/s, maka satuan momentum adalah kg m/s.
Dari persamaan di atas, tampak bahwa momentum ( ⃗) berbanding lurus
dengan massa (m) dan kecepatan ( ⃗). Semakin besar kecepatan benda, maka
semakin besar juga momentum sebuah benda. Demikian juga, semakin besar
massa sebuah benda, maka momentum benda tersebut juga bertambah besar.
Perlu anda ingat bahwa momentum adalah hasil kali antara massa dan
kecepatan. Jadi walaupun seorang berbadan gendut, momentum orang tersebut =
0 apabila dia diam alias tidak bergerak. Jadi momentum suatu benda selalu
dihubungkan dengan massa dan kecepatan benda tersebut. kita tidak bisa
meninjau momentum suatu benda hanya berdasarkan massa atau kecepatannya
saja
1.1 Hubungan momentum dengan tumbukan
Pada pembahasan di atas, sudah dijelaskan mengenai pengertian
momentum dalam ilmu fisika. kali ini kita akan melihat hubungan antara
momentum dengan tumbukan. Pernahkah dirimu menyaksikan tabrakan antara
dua kendaraan beroda di jalan ? apa yang dirimu amati ? yang pasti
penumpangnya babak belur dan digiring ke rumah sakit dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya... tapi maksudnya di sini, bagaimana kondisi kendaraan
tersebut ? kendaraan tersebut mungkin hancur lebur dan mungkin langsung
digiring ke bengkel khan ?
Sekarang coba dirimu bandingkan, bagaimana akibat yang ditimbulkan
dari tabrakan antara dua sepeda motor dan tabrakan antara sepeda motor dengan
mobil ? anggap saja kendaraan tersebut bergerak dengan laju sama. Tentu saja
tabrakan antara sepeda motor dan mobil lebih fatal akibatnya dibandingkan
dengan tabrakan antara dua sepeda motor. Massa mobil jauh lebih besar dari
massa sepeda motor, sehingga ketika mobil bergerak, momentum mobil tersebut
lebih besar dibandingkan dengan momentum sepeda motor. Ketika mobil dan
sepeda motor bertabrakan alias bertumbukan, maka pasti sepeda motor yang
terpental. Bisa anda bayangkan, apa yang terjadi jika mobil bergerak sangat
kencang (v sangat besar) ?
83

Kita bisa mengatakan bahwa makin besar momentum yang dimiliki oleh sebuah
benda, semakin besar efek yang timbulkan ketika benda tersebut bertumbukkan.
Sebelum kita melihat hubungan antara momentum dan impuls, terlebih
dahulu kita pahami hukum II Newton dalam bentuk momentum.
1. Hukum II Newton
Pada pokok bahasan Hukum II Newton, kita telah belajar bahwa jika ada
gaya total yang bekerja pada benda maka benda tersebut akan mengalami
percepatan, di mana arah percepatan benda sama dengan arah gaya total.
Misalnya ketika sebuah mobil bergerak di jalan dengan kecepatan tertentu, mobil
tersebut memiliki momentum. Nah, untuk mengurangi kecepatan mobil pasti
dibutuhkan gaya (dalam hal ini gaya gesekan antara kampas dan ban ketika
mobil direm). Ketika kecepatan mobil berkurang ( ⃗ makin kecil), momentum
mobil juga berkurang. Demikian juga sebaliknya, sebuah mobil yang sedang diam
akan bergerak jika ada gaya total yang bekerja pada mobil tersebut (dalam hal ini
gaya dorong yang dihasilkan oleh mesin). Ketika mobil masih diam, momentum
mobil = 0. pada saat mobil mulai bergerak dengan kecepatan tertentu, mobil
tersebut memiliki momentum. Jadi kita bisa mengatakan bahwa perubahan
momentum mobil disebabkan oleh gaya total. Dengan kata lain, laju perubahan
momentum suatu benda sama dengan gaya total yang bekerja pada benda
tersebut. Ini adalah hukum II Newton dalam bentuk momentum. Newton pada
mulanya menyatakan hukum II newton dalam bentuk momentum. Hanya
menyebut hasil kali m ⃗ sebagai ”kuantitas gerak”, bukan momentum.
Secara matematis, versi momentum dari Hukum II Newton dapat dinyatakan
dengan persamaan :
∆⃗
Σ⃗ =

dengan : Σ ⃗ = gaya total yang bekerja pada benda;
∆ ⃗ = perubahan momentum;
∆ = selang waktu perubahan momentum.
Dari persamaan ini, kita bisa menurunkan persamaan Hukum II Newton ”yang
sebenarnya” untuk kasus massa benda konstan alias tetap.
Sekarang kita tulis kembali persamaan di atas :
∆⃗ ............. Pers 2
Σ⃗ =

Jika vo = kecepatan awal, vt = kecepatan akhir, maka persamaan di atas akan
menjadi :
⃗ − ⃗
Σ⃗ =

( ⃗ − ⃗)
⃗=

∆⃗
⃗=

⃗= ⃗ ............. Pers 3
Terus apa bedanya penggunaan hukum II Newton ”yang sebenarnya” dengan
hukum II Newton versi momentum ? Hukum II Newton versi momentum di atas
84

lebih bersifat umum, sedangkan Hukum II Newton ”yang sebenarnya” hanya bisa
digunakan untuk kasus massa benda tetap. Jadi ketika menganalisis hubungan
antara gaya dan gerak benda, di mana massa benda konstan, kita bisa
menggunakan Hukum II Newton ”yang sebenarnya”, tapi tidak menutup
kemungkinan untuk menggunakan Hukum II Newton versi momentum. Ketika kita
meninjau benda yang massa‐nya tidak tetap alias berubah, kita tidak bisa
menggunakan Hukum II Newton ”yang sebenarnya” ( ⃗ = ⃗). Kita hanya bisa
menggunakan Hukum II Newton versi momentum. Contohnya roket yang
meluncur ke ruang angkasa. Massa roket akan berkurang ketika bahan bakarnya
berkurang atau habis.
1.2 Hubungan antara Momentum dan Impuls
Pernahkah dirimu dipukul teman anda ? coba lakukan percobaan impuls
dan momentum berikut... pukul tangan seorang temanmu menggunakan jari anda.
Gunakan ujung jari anda. Coba tanyakan kepada temanmu, mana yang lebih
terasa sakit; ketika dipukul dengan cepat (waktu kontak antara jari pemukul dan
tangan yang dipukul sangat singkat) atau ketika dipukul lebih lambat (waktu
kontak antara jari pemukul dan tangan yang dipukul lebih lambat). Kalau
dilakukan dengan benar (besar gaya sama), biasanya yang lebih sakit adalah
ketika tanganmu dipukul dengan cepat. Ketika dirimu memukul tangan temanmu,
tangan dirimu dan tangan temanmu saling bersentuhan, dalam hal ini saling
bertumbukan.
Ketika terjadi tumbukan, gaya meningkat dari nol pada saat terjadi kontak dan
menjadi nilai yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat. Setelah turun
secara drastis menjadi nol kembali. Ini yang membuat tangan terasa lebih sakit
ketika dipukul sangat cepat (waktu kontak antara jari pemukul dan tangan yang
dipukul sangat singkat).
Hukum II Newton versi momentum yang telah kita turunkan di atas menyatakan
bahwa laju perubahan momentum suatu benda sama dengan gaya total yang
bekerja pada benda tersebut. Besar gaya yang bekerja pada benda yang
bertumbukan dinyatakan dengan persamaan :
∆⃗
Σ⃗ = ∆
Persamaan ini berlaku untuk masing-masing benda yang bertumbukan. Jika kedua
ruas kita kalikan dengan , maka persamaan 1 berubah menjadi :
∆⃗
⃗∆ = ∆

⃗∆ = ∆ ⃗
⃗∆ = ⃗− ⃗
Besaran di ruas kiri, hasil kali gaya dan selang waktu gaya bekerja,
disebut impuls. Dengan kata lain, impuls merupakan perubahan total momentum
(ruas kanan). Secara matematis ditulis :
= ⃗∆ = ⃗− ⃗ .............Pers 4
Ingat bahwa impuls diartikan sebagai gaya yang bekerja pada benda dalam waktu
yang sangat singkat. Konsep impuls membantu kita ketika meninjau gaya‐gaya
yang bekerja pada benda dalam selang waktu yang sangat singkat. Misalnya
85

ketika ronaldinho menendang bola sepak, atau ketika tanganmu dipukul dengan
cepat.
1. Penerapan Konsep Impuls dalam kehidupan sehari‐hari
Pada penjelasan di atas sudah dijelaskan bahwa impuls merupakan gaya
yang bekerja pada benda dalam waktu yang sangat singkat. Konsep ini sebenarnya
sering kita alami dalam kehidupan sehari‐hari. Ketika pada tubuh kita dikerjakan
gaya impuls dalam waktu yang sangat singkat maka akan timbul rasa sakit.
Semakin cepat gaya impuls bekerja, bagian tubuh kita yang dikenai gaya impuls
dalam waktu sangat singkat tersebut akan terasa lebih sakit. Karenanya, penerapan
konsep impuls ditujukan untuk memperlama selang waktu bekerjanya impuls,
sehingga gaya impuls yang bekerja menjadi lebih kecil. Apabila selang waktu
bekerjanya gaya impuls makin lama, maka rasa sakit menjadi berkurang, bahkan
tidak dirasakan.
Beberapa contoh penerapan konsep impuls dalam kehidupan sehari‐hari
adalah sebagai berikut :

1) Sarung Tinju
Pernah nonton pertandingan Tinju di TV ? nah, sarung tinju yang dipakai
oleh para petinju itu berfungsi untuk memperlama bekerjanya gaya impuls. ketika
petinju memukul lawannya, pukulannya tersebut memiliki waktu kontak yang
lebih lama. Karena waktu kontak lebih lama, maka gaya impuls yang bekerja juga
makin kecil. Makin kecil gaya impuls yang bekerja maka rasa sakit menjadi
berkurang... ya, lumayan... untuk memperpanjang hidup para petinju :)
2) Palu alias pemukul
Mengapa palu tidak dibuat dari kayu saja, kok malah dipakai besi atau
baja ? tujuannya supaya selang waktu kontak menjadi lebih singkat, sehingga
gaya impuls yang dihasilkan lebih besar. Kalau gaya impulsnya besar maka paku,
misalnya, akan tertanam lebih dalam.
3) Matras
Matras sering dipakai ketika dirimu olahraga atau biasa dipakai para
pejudo. Matras dimanfaatkan untuk memperlama selang waktu bekerjanya gaya
impuls, sehingga tubuh kita tidak terasa sakit ketika dibanting. Bayangkanlah
ketika dirimu dibanting atau berbenturan dengan lantai... sakit khan ? hal itu
disebabkan karena waktu kontak antara tubuhmu dan lantai sangat singkat. Tapi
ketika dirimu dibanting di atas matras maka waktu kontaknya lebih lama, dengan
demikian gaya impuls yang bekerja juga menjadi lebih kecil.
4) Helm
Kalau anda perhatikan bagian dalam helm, pasti anda akan melihat lapisan
lunak. Kaya gabus atau spons... lapisan lunak tersebut bertujuan untuk
memperlama waktu kontak seandainya kepala anda terbentur ke aspal ketika
terjadi tabrakan. Jika tidak ada lapisan lunak tersebut, gaya impuls akan bekerja
lebih cepat sehingga walaupun memakai helm, anda akan pusing‐pusing ketika
terbentur aspal
2. Hukum Kekekalan Momentum
86

Berapapun massa dan kecepatan benda yang saling bertumbukan, ternyata


momentum total sebelum tumbukan = momentum total setelah tumbukan. Hal ini
berlaku apabila tidak ada gaya luar alias gaya eksternal total yang bekerja pada
benda yang bertumbukan. Jadi analisis kita hanya terbatas pada dua benda yang
bertumbukan, tanpa ada pengaruh dari gaya luar. Sekarang perhatikan gambar di
bawah ini.

Jika dua benda yang bertumbukan diilustrasikan dengan gambar di atas,


maka secara matematis, hukum kekekalan momentum dinyatakan dengan
persamaan :
Momentum sebelum tumbukan = momentum setelah tumbukan
⃗ + ⃗ = ⃗′ + ′⃗
............. Pers 5
Keterangan :
m1 = massa benda 1, m2 = massa benda 2, ⃗ 1 = kecepatan benda 1
sebelum tumbukan,
⃗ 2 = kecepatan benda 2 sebelum tumbukan, ⃗’1 = kecepatan benda 1
setelah tumbukan,
⃗’2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan
Jika dinyatakan dalam momentum, maka :
m1 ⃗ 1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan,
m2 ⃗ 2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan,
m1 ⃗’1 = momentum benda 1 setelah tumbukan,
m2 ⃗’2 = momentum benda 2 setelah tumbukan.
Perlu anda ketahui bahwa Hukum Kekekalan Momentum ditemukan melalui
percobaan pada pertengahan abad ke‐17, sebelum eyang Newton merumuskan
hukumnya tentang gerak (mengenai Hukum II Newton versi momentum telah saya
jelaskan pada pokok bahasan Momentum, Tumbukan dan Impuls). Walaupun
demikian, kita dapat menurunkan persamaan Hukum Kekekalan Momentum dari
persamaan hukum II Newton. Yang kita tinjau ini khusus untuk kasus tumbukan
satu dimensi, seperti yang dilustrasikan pada gambar di atas.
Kita tulis kembali persamaan hukum II Newton :
∆⃗
Σ⃗ =

Sekarang kita kalikan kedua ruas dengan ∆ sehingga persamaan di atas menjadi :
Σ⃗ ∆ = ∆⃗
Ketika bola 1 dan bola 2 bertumbukan, bola 1 memberikan gaya pada bola 2
sebesar F21, di mana arah gaya tersebut ke kanan (perhatikan gambar di bawah)
87

Momentum bola 2 dinyatakan dengan persamaan :


∆⃗ = ⃗ ∆

∆ ′⃗ − ∆ ⃗ = ⃗ ∆
′⃗ ............. Pers 6
− ⃗ = ⃗∆
Berdasarkan Hukum III Newton (Hukum aksi‐reaksi), bola 2 memberikan
gaya reaksi pada bola 1, ⃗ 12 = ‐ ⃗ 21. (Ingat , besar gaya reaksi = gaya aksi. Tanda
negatif menunjukan bahwa arah gaya reaksi berlawanan dengan arah gaya aksi)
Momentum bola 1 dinyatakan dengan persamaan :
∆ ⃗ = ⃗∆ = − ⃗∆
∆ ′⃗ − ∆ ⃗ = ⃗∆ = − ⃗ ∆
⃗′ − ⃗ = ⃗ ∆ = −⃗ ∆ ............. Pers 7
Karena ⃗ 12 = ‐ ⃗ 21. , maka kita dapat menggabungkan persamaan 1 dan
persamaan 2 :
⃗′ − ⃗= − ′⃗
− ⃗
⃗′ − ⃗= − ′⃗
+ ⃗
⃗′ + ′⃗
= ⃗+ ⃗ ............. Pers 8

Persamaan ini juga bisa ditulis dalam bentuk :


⃗+ ⃗ = ⃗′ + ′⃗

Ini adalah persamaan Hukum Kekekalan Momentum. Hukum Kekekalan


Momentum berlaku jika gaya total pada benda‐benda yang bertumbukan = 0. Pada
penjelasan di atas, gaya total pada dua benda yang bertumbukan adalah ⃗ 12 +
(‐ ⃗ 21) = 0. Jika nilai gaya total dimasukan dalam persamaan momentum

∆⃗ = Σ⃗ ∆
∆⃗ = (⃗ − ⃗ ) ∆
∆⃗ = 0
Hal ini menunjukkan bahwa apabila gaya total pada sistem = 0, maka momentum
total tidak berubah. Yang dimaksudkan dengan sistem adalah benda‐benda yang
bertumbukan. Apabila pada sistem tersebut bekerja gaya luar (gaya‐gaya yang
diberikan oleh benda di luar sistem), sehingga gaya total tidak sama dengan nol,
maka hukum kekekalan momentum tidak berlaku.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa :
88

Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda‐benda yang bertumbukan,
maka jumlah momentum benda‐benda sebelum tumbukan sama dengan jumlah
momentum benda‐benda setelah tumbukan.
Ini adalah pernyataan hukum kekekalan momentum.

II. Tumbukan
1. Jenis‐jenis tumbukan
Perlu anda ketahui bahwa biasanya dua benda yang bertumbukan bergerak
mendekat satu dengan yang lain dan setelah bertumbukan keduanya bergerak
saling menjauhi. Ketika benda bergerak, maka tentu saja benda memiliki
kecepatan. Karena benda tersebut mempunyai kecepatan (dan massa), maka benda
itu pasti memiliki momentum ( ⃗ = ⃗) dan juga Energi Kinetik
2
(EK = ½ m ⃗ ).
1) Tumbukan lenting sempurna
Dua benda dikatakan melakukan Tumbukan lenting sempurna jika
Momentum dan Energi Kinetik kedua benda sebelum tumbukan = momentum dan
energi kinetik setelah tumbukan. Dengan kata lain, pada tumbukan lenting
sempurna berlaku Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi
Kinetik.
Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik
berlaku pada peristiwa tumbukan lenting sempurna karena total massa dan
kecepatan kedua benda sama, baik sebelum maupun setelah tumbukan. Hukum
Kekekalan Energi Kinetik berlaku pada Tumbukan lenting sempurna karena
selama tumbukan tidak ada energi yang hilang. Untuk memahami konsep ini,
coba jawab pertanyaan gurumuda berikut ini. Ketika dua bola billiard atau dua
kelereng bertumbukan, apakah anda mendengar bunyi yang diakibatkan oleh
tumbukan itu ? atau ketika mobil atau sepeda motor bertabrakan, apakah ada
bunyi yang dihasilkan ? pasti ada bunyi dan juga panas yang muncul akibat
benturan antara dua benda. Bunyi dan panas ini termasuk energi. Jadi ketika dua
benda bertumbukan dan menghasilkan bunyi dan panas, maka ada energi yang
hilang selama proses tumbukan tersebut. Sebagian Energi Kinetik berubah
menjadi energi panas dan energi bunyi. Dengan kata lain, total energi kinetik
sebelum tumbukan tidak sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan.
Benda‐benda yang mengalami Tumbukan Lenting Sempurna tidak
menghasilkan bunyi, panas atau bentuk energi lain ketika terjadi tumbukan. Tidak
ada Energi Kinetik yang hilang selama proses tumbukan. Dengan demikian, kita
bisa mengatakan bahwa pada peritiwa Tumbukan Lenting Sempurna berlaku
Hukum Kekekalan Energi Kinetik.
Tumbukan lenting sempurna merupakan sesuatu yang sulit kita temukan
dalam kehidupan sehari‐hari. Paling tidak ada ada sedikit energi panas dan bunyi
yang dihasilkan ketika terjadi tumbukan. Salah satu contoh tumbukan yang
mendekati lenting sempurna adalah tumbukan antara dua bola elastis, seperti bola
billiard. Untuk kasus tumbukan bola billiard, memang energi kinetik tidak kekal
89

tapi energi total selalu kekal. Lalu apa contoh Tumbukan lenting sempurna ?
contoh jenis tumbukan ini tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang karena
terjadi pada tingkat atom, yakni tumbukan antara atom‐atom dan
molekul‐molekul.
Sekarang mari kita tinjau persamaan Hukum Kekekalan Momentum dan
Hukum Kekekalan Energi Kinetik pada perisitiwa Tumbukan Lenting Sempurna.
Untuk memudahkan pemahaman dirimu, perhatikan gambar di bawah.

Dua benda, benda 1 dan benda 2 bergerak saling mendekat. Benda 1 bergerak
dengan kecepatan v1 dan benda 2 bergerak dengan kecepatan v2. Kedua benda itu
bertumbukan dan terpantul dalam arah yang berlawanan. Perhatikan bahwa
kecepatan merupakan besaran vektor sehingga dipengaruhi juga oleh arah. Sesuai
dengan kesepakatan, arah ke kanan bertanda positif dan arah ke kiri bertanda
negatif. Karena memiliki massa dan kecepatan, maka kedua benda memiliki
momentum ( ⃗ = ⃗) dan energi kinetik (EK = ½ m ⃗ 2). Total Momentum dan
Energi Kinetik kedua benda sama, baik sebelum tumbukan maupun setelah
tumbukan.
Secara matematis, Hukum Kekekalan Momentum dirumuskan sebagai
berikut
⃗ + ⃗ = ⃗′ + ′⃗ ............. Pers 9
Keterangan :
m1 = massa benda 1;
m2 = massa benda 2;
⃗ 1 = kecepatan benda sebelum tumbukan;
⃗ 2 = kecepatan benda 2 Sebelum tumbukan;
⃗’1 = kecepatan benda Setelah tumbuka;
⃗’2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan.
Jika dinyatakan dalam momentum,
m1 ⃗ 1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan;
m1 ⃗’1\ = momentum benda 1 setelah tumbukan;
m2 ⃗ 2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan;
m2 ⃗’2 = momentum benda 2 setelah tumbukan;
Pada Tumbukan Lenting Sempurna berlaku juga Hukum Kekekalan Energi
Kinetik. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
⃗ + ⃗ = ⃗′ + ⃗′ ............. Pers 10
Keterangan :
⃗ = EK benda 1 sebelum tumbukan
90

⃗ = EK benda 2 sebelum tumbukan


⃗′ = E benda 1 setelah tumbukan
K

′⃗
= EK benda 2 setelah tumbukan
Kita telah menurunkan 2 persamaan untuk Tumbukan Lenting Sempurna, yakni
persamaan Hukum Kekekalan Momentum dan Persamaan Hukum Kekekalan
Energi Kinetik. Ada suatu hal yang menarik, bahwa apabila hanya diketahui
massa dan kecepatan awal, maka kecepatan setelah tumbukan bisa kita tentukan
menggunakan suatu persamaan lain. Persamaan ini diturunkan dari dua persamaan
di atas.
⃗ + ⃗ = ⃗′ + ⃗′
′ ′
⃗ − ⃗ = ⃗ − ⃗
′ ′
(⃗ − ⃗ ) = (⃗ − ⃗ )
2 2
Karena (a + b)(a ‐ b) = a – b , maka kita tulis kembali persamaan ini menjadi :
( ⃗ + ⃗ ′ )( ⃗ − ⃗ ′ ) = ( ⃗ ′ + ⃗ )( ⃗ ′ − ⃗ )
Nah, sekarang kita bagi persamaan a dengan persamaan b (Dengan anggapan
bahwa ⃗ 1≠ ⃗’1 dan ⃗ 2≠ ⃗’2) :
( ⃗ − ⃗′ ) = ( ⃗′ − ⃗ )
′ ′
( ⃗ + ⃗ )( ⃗ − ⃗ ) = ( ⃗ + ⃗ )( ⃗ ′ − ⃗ )

:
′ ′
⃗ +⃗ = ⃗ + ⃗
Kita tulis kembali persamaan ini menjadi :
⃗ − ⃗ = ⃗′ − ⃗′
⃗ − ⃗ = −( ⃗ ′ − ⃗ ′ ) ............. Pers 11
Ini merupakan salah satu persamaan penting dalam Tumbukan Lenting sempurna,
selain persamaan Kekekalan Momentum dan persamaan Kekekalan Energi
Kinetik. Persamaan 3 menyatakan bahwa pada Tumbukan Lenting Sempurna,
laju kedua benda sebelum dan setelah tumbukan sama besar tetapi berlawanan
arah, berapapun massa benda tersebut.
Koofisien elastisitas Tumbukan Lenting Sempurna
Kita tulis lagi persamaan 11 diatas :
( ′ − ′ )
− = 1
( − )
Perbandingan negatif antara selisih kecepatan benda setelah tumbukan dengan
selisih kecepatan benda sebelum tumbukan disebut sebagai koofisien elatisitas
alias faktor kepegasan (dalam buku Karangan Bapak Marthen Kanginan disebut
koofisien restitusi). Untuk Tumbukan Lenting Sempurna, besar koofisien
elastisitas = 1. ini menunjukkan bahwa total kecepatan benda setelah tumbukan =
total kecepatan benda sebelum tumbukan. Lambang koofisien elastisitas adalah e.
Secara umum, nilai koofisien elastisitas dinyatakan dengan persamaan :
( ⃗′ ⃗′ )
⃗ = − (⃗ ⃗ )
............. Pers 12
⃗ = koofisien elastisitas = koofisien restitusi, faktor kepegasan, angka
kekenyalan, faktor keelastisitasan
91

2. Tumbukan lenting sebagian


Pada tumbukan lenting sebagian, Hukum Kekekalan Energi Kinetik tidak
berlaku karena ada perubahan energi kinetik terjadi ketika pada saat tumbukan.
Perubahan energi kinetik bisa berarti terjadi pengurangan Energi Kinetik atau
penambahan energi kinetik. Pengurangan energi kinetik terjadi ketika sebagian
energi kinetik awal diubah menjadi energi lain, seperti energi panas, energi bunyi
dan energi potensial. Hal ini yang membuat total energi kinetik akhir lebih kecil
dari total energi kinetik awal. Kebanyakan tumbukan yang kita temui dalam
kehidupan sehari‐hari termasuk dalam jenis ini, di mana total energi kinetik akhir
lebih kecil dari total energi kinetik awal. Tumbukan antara kelereng, tabrakan
antara dua kendaraan, bola yang dipantulkan ke lantai dan lenting ke udara, dll.
Sebaliknya, energi kinetik akhir total juga bisa bertambah setelah terjadi
tumbukan. Hal ini terjadi ketika energi potensial (misalnya energi kimia atau
nuklir) dilepaskan. Contoh untuk kasus ini adalah peristiwa ledakan.
Suatu tumbukan lenting sebagian biasanya memiliki koofisien elastisitas ( ⃗)
berkisar antara 0 sampai 1. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
0≤ ⃗≤1
Di mana nilai koofisien elastisitas ( ⃗) dinyatakan dengan persamaan :
( ⃗′ ⃗′ )
⃗=− ............. Pers 13
(⃗ ⃗ )
Bagaimana dengan Hukum Kekekalan Momentum ? Hukum Kekekalan
Momentum tetap berlaku pada peristiwa tumbukan lenting sebagian, dengan
anggapan bahwa tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda‐benda yang
bertumbukan
3. . Tumbukan tidak lenting sama sekali
Suatu tumbukan dikatakan Tumbukan Tidak Lenting sama sekali apabila
dua benda yang bertumbukan bersatu alias saling menempel setelah tumbukan.
Salah satu contoh populer dari tumbukan tidak lenting sama sekali adalah
pendulum balistik. Pendulum balistik merupakan sebuah alat yang sering
digunakan untuk mengukur laju proyektil, seperti peluru. Sebuah balok besar yang
terbuat dari kayu atau bahan lainnya digantung seperti pendulum. Setelah itu,
sebutir peluru ditembakkan pada balok tersebut dan biasanya peluru tertanam
dalam balok. Sebagai akibat dari tumbukan tersebut, peluru dan balok
bersama‐sama terayun ke atas sampai ketinggian tertentu (ketinggian maksimum).
Lihat gambar di bawah…
92

Perhatikan gambar di atas. Hukum kekekalan momentum hanya berlaku pada


waktu yang sangat singkat ketika peluru dan balok bertumbukan, karena pada saat
itu belum ada gaya luar yang bekerja. Secara matematis dirumuskan sebagai
berikut :
⃗ + ⃗ = ⃗′ + ⃗′
⃗ + (0) = ( + ) ⃗′
⃗ = ( + ) ⃗ ′ ............. Pers 14
Apakah setelah balok mulai bergerak masih berlaku hukum Kekekalan
Momentum ? Tidak…. Mengapa tidak ? ketika balok (dan peluru yang tertanam
di dalamnya) mulai bergerak, akan ada gaya luar yang bekerja pada balok dan
peluru, yakni gaya gravitasi. Gaya gravitasi cenderung menarik balok kembali ke
posisi setimbang. Karena ada gaya luar total yang bekerja, maka hukum
Kekekalan Momentum tidak berlaku setelah balok bergerak.
Lalu bagaimana kita menganalisis gerakan balok dan peluru setelah tumbukan ?
Nah, masih ingatkah dirimu pada Hukum Kekekalan Energi Mekanik ? kita dapat
menganalisis gerakan balok dan peluru setelah tumbukan menggunakan hukum
Kekekalan Energi Mekanik. Ketika balok mulai bergerak setelah tumbukan,
sedikit demi sedikit energi kinetik berubah menjadi energi potensial gravitasi.
Ketika balok dan peluru mencapai ketinggian maksimum (h), seluruh Energi
Kinetik berubah menjadi Energi Potensial gravitasi. Dengan kata lain, pada
ketinggian maksimum (h), Energi Potensial gravitasi bernilai maksimum,
sedangkan EK = 0.
Catatan :
Ketika balok dan peluru tepat mulai bergerak dengan kecepatan ⃗’, h1 = 0. Pada
saat balok dan peluru berada pada ketinggian maksimum, h2 = h dan ⃗ 2 = 0.
Persamaan Hukum Kekekalan Energi Mekanik untuk kasus tumbukan tidak
lenting sama sekali.
EM1 = EM2
EP1 + EK1 = EP2 + EK2
0 + EK1 = EP2 + 0
½ (m1 + m2) ⃗’2 = (m1 + m2) ⃗ h ............. Pers 15
93

Lampiran 6. Soal Prestasi Belajar Coba

Soal Prestasi Belajar


Impuls, Momentum dan Tunbukan

Petunjuk pengerjaan : berilah tanda silang pada obsen yang dianggap paling benar
Dahulukan mengerjakan soal yang dianggap paling mudah.
1. Gaya yang bekerja pada bola kasti ketika bola tersebut dipukul terlihat
pada grafik berikut ini:

Jika luas daerah yang diarsir adalah 0,07 Ns, berapakah gaya rata-rata
yang bekerja pada bola tersebut?
A. 6 N D. 9 N
B. 7 N E. 10 N
C. 8 N
2. Miroslav Klose menendang bola sepak den- gan gaya rata-rata sebesar 40 N.
Lama bola bersentuhan dengan kakinya adalah 0,05 detik. Berapakah
impulsnya?
A. 1 Ns D. 4 Ns
B. 2 Ns E . 5 Ns
C. 3 Ns
3. Gerak dua benda bermassa m1 dan m2 terlihat pada gambar

Jika m1 = 3 kg, m2 = 4 kg, v1 = 10 m/s, v2 = -20 m/s maka hitung: (untuk


besaran vektor, anggap positif jika ke kanan) Momentum benda 1!
A 10 kg m/s D 40 kg m/s
B 20 kg m/s E 50 kg m/s
C 30 kg m/s
4. Gerak dua benda bermassa m1 dan m 2 terlihat pada gambar

Jika m1 = 3 kg, m2 = 4 kg, v1 = 10 m/s, v2 = -20 m/s maka hitung: (untuk


besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Momentum benda 2!
A -20 kg m/s D -80 kg m/s
B -40 kg m/s E -160 kg m/s
C -60 kg m/s
94

5. Gerak dua benda bermassa m1 dan m2 terli- hat pada gambar

Jika m1 = 3 kg, m2 = 4 kg, v1 = 10 m/s, v2 = -20 m/s maka hitung: (untuk


besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Momentum sistim (1dan 2)!
A -50 kg m/s D 30 kg m/s
B -30 kg m/s E 50 kg m/s
C 0
6. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.
(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Berapa momentum bola sebelum dipukul?
A -0,6 kg m/s D -0,9 kg m/s
B -0,7 kg m/s E -1,0 kg m/s
C -0,8 kg m/s
7. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.
(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Berapa impuls bola sesudah dipukul?
A 1,0 kg m/s D 1,3 kg m/s
B 1,1 kg m/s E 1,4 kg m/s
C 1.2 kg m/s
8. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.
(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Berapa impuls yang dialami oleh bola?
A 0,6 kg m/s D 0,9 kg m/s
B 0,7 kg m/s E 1,0 kg m/s
C 0,8 kg m/s
9. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan). Jika
proses pemukulan memakan waktu 0,02 detik, berapa gaya rata-rata
yang diterima bola?
A 35 N D 50 N
B 40 N E 55 N
C 45 N
95

10. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar berikut:

m1 = 3kg, m2 = 2kg, V1 = 18m/s, V2 = 8 m/s. Maka hitunglah Momentum


sistem sebelum bertumbukan!
A 50 kg m/s D 80 kg m/s
B 60 kg m/s E 90 kg m/s
C 70 kg m/s
11. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar berikut:

m1 = 3kg, m2 = 2kg, V1 = 18m/s, V1 = 8 m/s. Jika setelah tumbukan


V1 = 8 m/s,
berapa V2?
A 21 m/s D 24 m/s
B 22 m/s E 25 m/s
C 23 m/s
12. Sebuah proyektil ditembakkan dari sebuah senjata yang berkedudukan
di A. pada titik tertinggi lintasannya, proyektil meledak menjadi dua
bagian dengan massa identik. Bagian pertama jatuh vertikal dan
mendarat pada jarak 1.000 m dari A (lihat gambar). Bagian yang lainnya
akan mendarat sejauh ….
A. 1.000 m dari A D. 2.500 m dari A
B. 1.500 m dari A E. 3.000 m dari A
C. 2.000 m dari A

13. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar berikut:

m1 = 3kg, m2 = 2kg, V1 = 18m/s, V1 = 18 m/s. V2 = 8 m/s. Jika


setelah tumbukan V2 = 8 m/s, Maka berapa V1?
A 6 m/s D 9 m/s
B 7 m/s E 10 m/s
C 8 m/s
14. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar
berikut:

m1 = 6 kg, m2 = 4 kg, V1 = 6 m/s, V2 = -2 m/s. Maka


hitunglah: Kecepatan benda satu setelah bertumbukan jika
tumbukan tersebut tidak lenting sama sekali!
A 1,4 m/s ke kiri D 2,8 m/s ke kanan
B 2,8 m/s ke kiri E 0
C 1,4 m/s ke kanan
96

15. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar
berikut:

m1 = 6 kg, m2 = 4 kg, V1 = 6 m/s, V2 = -2 m/s. Maka


hitunglah: Kecepatan benda 2 setelah bertumbukan jika
tumbukan tersebut tidak lenting sempurna!
A 8,4 m/s ke kiri D 3,2 m/s ke kiri
B 3,2 m/s ke kanan E 7,6 m/s ke kanan
C 8,4 m/s ke kanan
16. Dua benda bermassa 4 kg dan 1 kg diam diatas suatu permukaan mendatar
licin. Jika tiap benda diberi gaya tolakan 2 N selama 1 sekon, maka nilai
perbandingan perubahan momentum antara benda bermassa lebih
besar dengan benda bermassa lebih kecil adalah …
A. 4 : 1 D. 1 : 2
B. 2 : 1 E. 1 : 4
C. 1 : 1
17. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar
berikut:

m1 = 6 kg, m2 = 4 kg, V1 = 6 m/s, V2 = -2 m/s. Maka


hitunglah: Kecepatan benda 1 setelah bertumbukan jika
tumbukan tersebut tidak lenting sebagian dengan e = 1/4!
A 1 m/s ke kanan D 2 m/s ke kiri
B 2 m/s ke kanan E 0
C 1 m/s ke kiri
18. Manakah yang salah dari pernyataan berikut ini?
A Energi kinetik pada tumbukan lenting sempurna adalah kekal
B Energi kinetik pada tumbukan tidak lenting sempurna adalah kekal
C Momentum pada tumbukan lenting sempurna adalah kekal
D Momentum pada tumbukan tidak lenting sempurna adalah kekal
E Nilai koefisien restitusi paling rendah nol dan paling tinggi satu
19. Gerak dua benda sebelum bertumbukan terli- hat pada gambar

m1 = 2 kg, m2 = 4 kg, V1 = 5 m/s, V2 = -3 m/s. Berapa energi


kinetik benda 1 sebelum ber- tumbukan?
A 4 joule (D) 25 joule
B 9 joule (E) 36 joule
C 16 joule
97

20. Gerak dua benda sebelum bertumbukan terli- hat pada gambar

m1 = 2 kg, m2 = 4 kg, V1 = 5 m/s, V2 = -3 m/s. Berapa energi


kinetik benda-benda sebelum bertumbukan?
A 8 joule D 50 joule
B 18 joule E 72 joule
C 32 joule
21. Sebuah bola dijatuhkan dari ketinggian 4 m pada permukaan
lantai mendatar, akibat bola terpental setinggi 1 m, maka tinggi pantulan
berikutnya adalah ….
A. 1 m D. 1/8 m
B. ½ m E. 1/16 m
C. ¼

22. Gerak dua benda sebelum bertumbukan terli- hat pada gambar

m1 = 2 kg, m2 = 4 kg, V1 = 5 m/s, V2 = -3 m/s. Jika tumbukan


lenting sempurna berapa energi kinetik benda-benda setelah
bertumbukan?
A 7,5 joule D 38 joule
B 12,5 joule E 43 joule
C (27,5 joule
23. Dua buah benda A dan B mempunyai masa yang sama bergerak saling
mendekati, masing-masing dengan kecepatan 2 m/s dan 1 m/s, A ke kanan
dan B ke kiri. Keduanya bertumbukan lenting sempurna. Kecepatan A
sesaat setelah tumbukan adalah...
A 1 m/s ke arah kanan D 2 m/s ke arah kiri
B 1 m/s kearah kiri E 3 m/s ke arah kanan
C 2 m/s ke arah kanan
24. Persamaan yang menyatakan hubungan antara impuls dan momentum
adalah...
A F.∆t = m.v2-m.v1 D F = ∆t (v2-.v1)/m
B F.∆t = (v2-.v1)/m E F. (v2-.v1) = m. .∆t
C F = m. .∆t (v2-.v1)
25. Sebuah rudal yang massanya 5.102 kg digerakkan oleh gaya 104 newton
selama 10 sekon. Kecepatan roket setelah 10 sekon adalah...
A. 10 m /s D. 200 m /s
B. 100 m /s E. 250 m /s
C. 150 m /s
98

26. Sebuah balok bermasa 4 kg bergerak ke kanan dengan kecepatan 3 m/s di


atas lantai licin menabrak balok lain bermasa 12 kg yang sedang bergerak
ke kiri dengan kecepatan yang sama. Jika kedua balok bersatu setelah
tumbukan, maka besarnya kecepatan ke dua balok setelah tumbukan
adalah...
A 0,5 m/s ke kiri D 1,5 m/s ke kanan
B 0,5 m/s ke kanan E 2,0 m/s ke kiri
C 1,5 m/s ke kiri
27. Pernyataan yang berikut yang merupakan pengertian momentum yang
benar adalah...
A Hasil perkalian massa dan percepatan yang dimiliki suatu benda
B Hasil peralian antara gaya dan interval waktu selama gaya tersebut
bekerja
C Energi yang dimiiki suatu benda yang bergerak
D Hasil perkalian kecepatan dan gaya yang bekerja pada suatu benda
E Hasil perkalian massa dan kecepatan yang dimiliki oleh suatu benda
28. Dua benda A dan B bermasa 5 kg dan 1 kg bergerak saling mendekati
dengan kecepatan masing-masing 4 m/s dan 12 m/s. Apabila kedua benda
bertabrakan dan setelah bertabrakan kedua benda menyatu maka kecepatan
ke dua benda setelah tabrakan adalah...
A 2/3 m-1 searah dengan gerak A
B 3/4 m-1 searah dengan gerak B
C 3/4 m-1 searah dengan gerak A
D 4/3 m-1 searah dengan gerak B
E 4/3 m-1 searah dengan gerak A
29. Pernyataan yang berikut yang merupakan pengertian impuls yang benar
adalah...
A hasil perkalian massa dan percepatan yang dimiliki suatu benda
B hasil peralian antara gaya dan interval waktu selama gaya tersebut
bekerja
C energi yang dimiiki suatu benda yang bergerak
D hasil perkalian kecepatan dan gaya yang bekerja pada suatu benda
E hasil perkalian massa dan kecepatan yang dimiliki oleh suatu benda
30. Sebuah benda bermassa 1 kg diletakkan diatas permukaan meja
yang licin (gaya gesek meja diabaikan). Jika gaya 2 N dikerjakan pada
benda selama 2 sekon, maka kelajuan sesudah 2 sekon adalah…..
A. 2 ms-1 D. 8 ms-1
B. 3 ms-1 E. 10 ms-1
C. 6 ms-1
Lampiran 7. Analisis Soal Percobaan

Tabel 1. Tabulasi Soal Percobaan Tes Prestasi Belajar

No. Nomor Soal


x
Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 23

2 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 13

3 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 13

4 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 20

5 1 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 15

6 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 20

7 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 19

8 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 17

9 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 20

10 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 16

11 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 21

12 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 21

13 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 0 15

14 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 20

15 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 11

16 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 19

17 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 11

18 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 13

19 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 18

20 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 25

21 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 14

22 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 15

23 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 20

24 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 20

25 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13

26 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 19

99
27 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 13

28 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 19

29 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 19

30 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 17

31 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 11

32 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 14

33 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 19

34 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 12

35 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 14

36 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 18

37 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 19

38 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 11

39 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 11

40 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 11
41 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 12
 21 35 33 37 20 20 30 23 15 29 9 29 33 10 11 29 34 35 17 15 35 14 6 7 9 35 33 6 33 8 671

100
101

1. Validasi
I II III IV V

Pearson Pearson Pearson Pearson Pearson


Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2-
Correlati N Correlati N Correlati N Correlati N Correlati N
tailed) tailed) tailed) tailed) tailed)
on on on on on
1
1 36 0,151 0,379 36 -0,189 0,270 36 -0,126 0,465 36 ,433** 0,008 36
2
0,151 0,379 36 1 36 -0,029 0,869 36 -0,068 0,694 36 -0,212 0,215 36
3
-0,189 0,270 36 -0,029 0,869 36 1 36 ,421* 0,011 36 0,135 0,433 36
4
-0,126 0,465 36 -0,068 0,694 36 ,421* 0,011 36 1 36 -0,009 0,958 36
5 **
,433 0,008 36 -0,212 0,215 36 0,135 0,433 36 -0,009 0,958 36 1 36
6
-,395* 0,017 36 -0,060 0,729 36 ,478** 0,003 36 0,114 0,509 36 -0,081 0,640 36
7
0,151 0,379 36 -0,029 0,869 36 -0,029 0,869 36 -0,068 0,694 36 0,135 0,433 36
8
0,209 0,221 36 0,316 0,060 36 -0,090 0,600 36 -0,021 0,901 36 0,015 0,930 36
9
0,126 0,466 36 0,083 0,630 36 0,083 0,630 36 0,197 0,249 36 0,328 0,051 36
10 **
0,112 0,516 36 -0,169 0,324 36 0,169 0,324 36 0,080 0,641 36 ,570 0,000 36
11
-,351* 0,036 36 0,112 0,515 36 -0,255 0,134 36 -0,082 0,633 36 -,405* 0,014 36
12
-,398* 0,016 36 0,160 0,352 36 -0,179 0,297 36 -0,103 0,551 36 -,640** 0,000 36
13
-0,076 0,661 36 -0,200 0,242 36 -0,200 0,242 36 -0,149 0,385 36 -0,212 0,215 36
14
0,089 0,605 36 0,135 0,433 36 -0,212 0,215 36 -,339* 0,043 36 -0,169 0,325 36
15 **
-0,135 0,433 36 -0,051 0,768 36 -0,051 0,768 36 ,460 0,005 36 0,034 0,842 36
16
-0,067 0,696 36 0,051 0,768 36 0,051 0,768 36 0,121 0,482 36 -0,034 0,842 36
17
0,200 0,242 36 0,076 0,661 36 0,076 0,661 36 -0,251 0,139 36 0,255 0,134 36
18
,472** 0,004 36 -0,112 0,515 36 0,255 0,134 36 -0,092 0,593 36 ,529** 0,001 36
19
0,274 0,106 36 -0,179 0,297 36 0,160 0,352 36 0,058 0,736 36 ,729** 0,000 36
20 ** *
-,549 0,001 36 -0,083 0,630 36 ,344 0,040 36 0,006 0,974 36 -0,328 0,051 36
21
0,271 0,110 36 0,041 0,812 36 0,041 0,812 36 0,097 0,572 36 0,304 0,071 36
22
0,316 0,060 36 -0,060 0,729 36 -0,060 0,729 36 0,114 0,509 36 0,282 0,096 36
23
-0,135 0,433 36 -0,051 0,768 36 -0,051 0,768 36 -0,121 0,482 36 0,241 0,158 36
24
0,255 0,134 36 0,212 0,215 36 -0,135 0,433 36 -0,156 0,365 36 0,286 0,091 36
25 *
-0,319 0,058 36 -0,105 0,543 36 -0,105 0,543 36 -0,070 0,686 36 -,396 0,017 36
26
0,274 0,106 36 -0,179 0,297 36 0,160 0,352 36 0,058 0,736 36 ,501** 0,002 36
27
-0,040 0,819 36 -0,060 0,729 36 -0,060 0,729 36 ,369* 0,027 36 0,101 0,559 36
28
-0,189 0,270 36 -0,029 0,869 36 -0,029 0,869 36 -0,068 0,694 36 -0,212 0,215 36
29
-0,189 0,270 36 -0,029 0,869 36 -0,029 0,869 36 -0,068 0,694 36 -0,212 0,215 36
30
-0,089 0,605 36 -0,135 0,433 36 0,212 0,215 36 0,009 0,958 36 -0,182 0,289 36

Tot 0,224 0,190 36 -0,011 0,950 36 0,157 0,361 36 0,080 0,641 36 ,428** 0,009 36
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


102

VI VII VIII IX X

Pearson Sig. Pearson Pearson Pearson Pearson


Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2-
Correlat (2- N Correlati N Correlati N Correlati N Correlat N
tailed) tailed) tailed) tailed)
ion tailed) on on on ion

-,395* 0,017 36 0,151 0,379 36 0,209 0,221 36 0,126 0,466 36 0,112 0,516 36
-0,060 0,729 36 -0,029 0,869 36 0,316 0,060 36 0,083 0,630 36 -0,169 0,324 36
**
,478 0,003 36 -0,029 0,869 36 -0,090 0,600 36 0,083 0,630 36 0,169 0,324 36
0,114 0,509 36 -0,068 0,694 36 -0,021 0,901 36 0,197 0,249 36 0,080 0,641 36
**
-0,081 0,640 36 0,135 0,433 36 0,015 0,930 36 0,328 0,051 36 ,570 0,000 36
1 36 -0,060 0,729 36 -0,189 0,270 36 0,174 0,311 36 -0,177 0,302 36
-0,060 0,729 36 1 36 -0,090 0,600 36 0,083 0,630 36 0,169 0,324 36
-0,189 0,270 36 -0,090 0,600 36 1 36 0,263 0,122 36 0,000 1,000 36
*
0,174 0,311 36 0,083 0,630 36 0,263 0,122 36 1 36 ,351 0,036 36
*
-0,177 0,302 36 0,169 0,324 36 0,000 1,000 36 ,351 0,036 36 1 36
0,043 0,805 36 0,112 0,515 36 -0,081 0,640 36 0,131 0,446 36 0,060 0,727 36
**
0,157 0,359 36 -0,179 0,297 36 0,238 0,162 36 -0,043 0,804 36 -,501 0,002 36
0,120 0,487 36 0,143 0,406 36 0,045 0,794 36 0,012 0,945 36 -0,282 0,096 36
0,101 0,559 36 0,135 0,433 36 0,152 0,375 36 0,184 0,283 36 -0,228 0,181 36
0,213 0,212 36 -0,051 0,768 36 0,081 0,640 36 0,148 0,389 36 -0,101 0,560 36
0,107 0,536 36 0,051 0,768 36 -0,322 0,055 36 0,106 0,539 36 0,302 0,074 36
0,158 0,357 36 0,076 0,661 36 -0,120 0,487 36 0,157 0,361 36 0,149 0,386 36
-0,043 0,805 36 -0,112 0,515 36 0,226 0,186 36 0,174 0,311 36 0,181 0,291 36
* **
-0,197 0,250 36 0,160 0,352 36 0,104 0,546 36 ,379 0,023 36 ,835 0,000 36
**
,720 0,000 36 -0,083 0,630 36 -0,094 0,586 36 0,064 0,711 36 -0,070 0,684 36
0,086 0,619 36 0,041 0,812 36 -0,162 0,345 36 0,187 0,274 36 0,000 1,000 36
*
-0,125 0,468 36 -0,060 0,729 36 0,024 0,891 36 0,174 0,311 36 ,354 0,034 36
**
-0,107 0,536 36 ,561 0,000 36 -0,161 0,348 36 0,148 0,389 36 0,302 0,074 36
-0,282 0,096 36 0,212 0,215 36 0,122 0,479 36 -0,040 0,817 36 ,342* 0,041 36
0,175 0,306 36 -0,105 0,543 36 -0,182 0,287 36 -0,322 0,055 36 -0,248 0,145 36
**
0,157 0,359 36 0,160 0,352 36 0,104 0,546 36 0,238 0,162 36 ,501 0,002 36
0,156 0,363 36 -0,060 0,729 36 -0,189 0,270 36 0,174 0,311 36 0,177 0,302 36
**
,478 0,003 36 -0,029 0,869 36 -0,090 0,600 36 0,083 0,630 36 -0,169 0,324 36
-0,060 0,729 36 -0,029 0,869 36 -0,090 0,600 36 0,083 0,630 36 0,169 0,324 36
-0,101 0,559 36 -0,135 0,433 36 -0,015 0,930 36 0,104 0,546 36 0,114 0,508 36
** **
0,211 0,217 36 0,213 0,213 36 0,209 0,222 36 ,611 0,000 36 ,560 0,000 36
103

XI XII XIII XIV XV

Pearson Pearson Pearson Pearson Pearson


Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2-
Correlati N Correlati N Correlati N Correlati N Correlati N
tailed) tailed) tailed) tailed) tailed)
on on on on on

-,351* 0,036 36 -,398* 0,016 36 -0,076 0,661 36 0,089 0,605 36 -0,135 0,433 36
0,112 0,515 36 0,160 0,352 36 -0,200 0,242 36 0,135 0,433 36 -0,051 0,768 36
-0,255 0,134 36 -0,179 0,297 36 -0,200 0,242 36 -0,212 0,215 36 -0,051 0,768 36
* **
-0,082 0,633 36 -0,103 0,551 36 -0,149 0,385 36 -,339 0,043 36 ,460 0,005 36
* **
-,405 0,014 36 -,640 0,000 36 -0,212 0,215 36 -0,169 0,325 36 0,034 0,842 36
0,043 0,805 36 0,157 0,359 36 0,120 0,487 36 0,101 0,559 36 0,213 0,212 36
0,112 0,515 36 -0,179 0,297 36 0,143 0,406 36 0,135 0,433 36 -0,051 0,768 36
-0,081 0,640 36 0,238 0,162 36 0,045 0,794 36 0,152 0,375 36 0,081 0,640 36
0,131 0,446 36 -0,043 0,804 36 0,012 0,945 36 0,184 0,283 36 0,148 0,389 36
**
0,060 0,727 36 -,501 0,002 36 -0,282 0,096 36 -0,228 0,181 36 -0,101 0,560 36
1 36 ,460** 0,005 36 ,418* 0,011 36 ,460** 0,005 36 -0,018 0,916 36
** *
,460 0,005 36 1 36 ,329 0,050 36 0,273 0,108 36 0,084 0,627 36
* * **
,418 0,011 36 ,329 0,050 36 1 36 ,713 0,000 36 0,051 0,768 36
** **
,460 0,005 36 0,273 0,108 36 ,713 0,000 36 1 36 -0,172 0,316 36
-0,018 0,916 36 0,084 0,627 36 0,051 0,768 36 -0,172 0,316 36 1 36
0,236 0,165 36 -0,285 0,092 36 -0,051 0,768 36 -0,034 0,842 36 0,091 0,598 36
* *
0,189 0,270 36 0,025 0,885 36 0,227 0,183 36 ,408 0,014 36 -,405 0,014 36
-,607** 0,000 36 -,339* 0,043 36 -0,173 0,312 36 -0,089 0,604 36 -0,200 0,242 36
-0,144 0,401 36 -,449** 0,006 36 -0,235 0,167 36 -0,184 0,283 36 -0,117 0,495 36
0,174 0,311 36 0,324 0,054 36 -0,012 0,945 36 -0,040 0,817 36 0,106 0,539 36
-0,161 0,349 36 -0,229 0,178 36 0,041 0,812 36 0,055 0,749 36 0,073 0,672 36
*
0,235 0,169 36 -,374 0,025 36 -0,060 0,729 36 0,101 0,559 36 -0,107 0,536 36
0,200 0,242 36 -0,319 0,058 36 0,255 0,134 36 0,241 0,158 36 -0,091 0,598 36
0,158 0,357 36 -0,273 0,108 36 0,212 0,215 36 0,286 0,091 36 -0,241 0,158 36
*
0,142 0,408 36 ,338 0,044 36 0,021 0,903 36 0,113 0,511 36 0,262 0,123 36
**
-0,144 0,401 36 -,449 0,006 36 -0,009 0,957 36 0,044 0,797 36 -0,117 0,495 36
0,043 0,805 36 -0,020 0,909 36 -0,239 0,160 36 -0,262 0,123 36 ,533** 0,001 36
0,112 0,515 36 0,160 0,352 36 0,143 0,406 36 0,135 0,433 36 -0,051 0,768 36
0,112 0,515 36 0,160 0,352 36 -0,200 0,242 36 -0,212 0,215 36 -0,051 0,768 36
0,158 0,357 36 0,070 0,686 36 -0,019 0,911 36 -0,182 0,289 36 -0,034 0,842 36
*
0,302 0,074 36 -0,123 0,474 36 0,278 0,101 36 ,390 0,019 36 0,080 0,642 36
104

XVI XVII XVIII XIX XX

Pearson Pearson Pearson Pearson Pearson


Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2- Sig. (2-
Correlati N Correlati N Correlati N Correlati N Correlati N
tailed) tailed) tailed) tailed) tailed)
on on on on on

-0,067 0,696 36 0,200 0,242 36 ,472** 0,004 36 0,274 0,106 36 -,549** 0,001 36
0,051 0,768 36 0,076 0,661 36 -0,112 0,515 36 -0,179 0,297 36 -0,083 0,630 36
0,051 0,768 36 0,076 0,661 36 0,255 0,134 36 0,160 0,352 36 ,344* 0,040 36
0,121 0,482 36 -0,251 0,139 36 -0,092 0,593 36 0,058 0,736 36 0,006 0,974 36
** **
-0,034 0,842 36 0,255 0,134 36 ,529 0,001 36 ,729 0,000 36 -0,328 0,051 36
**
0,107 0,536 36 0,158 0,357 36 -0,043 0,805 36 -0,197 0,250 36 ,720 0,000 36
0,051 0,768 36 0,076 0,661 36 -0,112 0,515 36 0,160 0,352 36 -0,083 0,630 36
-0,322 0,055 36 -0,120 0,487 36 0,226 0,186 36 0,104 0,546 36 -0,094 0,586 36
*
0,106 0,539 36 0,157 0,361 36 0,174 0,311 36 ,379 0,023 36 0,064 0,711 36
**
0,302 0,074 36 0,149 0,386 36 0,181 0,291 36 ,835 0,000 36 -0,070 0,684 36
0,236 0,165 36 0,189 0,270 36 -,607** 0,000 36 -0,144 0,401 36 0,174 0,311 36
* **
-0,285 0,092 36 0,025 0,885 36 -,339 0,043 36 -,449 0,006 36 0,324 0,054 36
-0,051 0,768 36 0,227 0,183 36 -0,173 0,312 36 -0,235 0,167 36 -0,012 0,945 36
*
-0,034 0,842 36 ,408 0,014 36 -0,089 0,604 36 -0,184 0,283 36 -0,040 0,817 36
*
0,091 0,598 36 -,405 0,014 36 -0,200 0,242 36 -0,117 0,495 36 0,106 0,539 36
1 36 0,135 0,433 36 -0,236 0,165 36 -0,084 0,627 36 -0,106 0,539 36
0,135 0,433 36 1 36 0,135 0,433 36 0,323 0,054 36 -0,157 0,361 36
-0,236 0,165 36 0,135 0,433 36 1 36 ,386* 0,020 36 -0,174 0,311 36
-0,084 0,627 36 0,323 0,054 36 ,386* 0,020 36 1 36 -0,238 0,162 36
-0,106 0,539 36 -0,157 0,361 36 -0,174 0,311 36 -0,238 0,162 36 1 36
* ** **
,366 0,028 36 ,542 0,001 36 0,161 0,349 36 0,256 0,131 36 -,494 0,002 36
*
0,107 0,536 36 0,158 0,357 36 0,149 0,385 36 ,334 0,046 36 -0,174 0,311 36
0,091 0,598 36 0,135 0,433 36 -0,200 0,242 36 0,285 0,092 36 -0,148 0,389 36
* * *
0,034 0,842 36 ,357 0,033 36 0,213 0,212 36 ,412 0,012 36 -,392 0,018 36
* **
-0,037 0,829 36 -0,222 0,193 36 -0,277 0,102 36 -,407 0,014 36 ,479 0,003 36
* **
-0,285 0,092 36 0,174 0,310 36 ,386 0,020 36 ,666 0,000 36 0,043 0,804 36
0,107 0,536 36 -0,079 0,647 36 -0,235 0,169 36 0,157 0,359 36 0,273 0,107 36
*
0,051 0,768 36 0,076 0,661 36 -0,112 0,515 36 -0,179 0,297 36 ,344 0,040 36
*
0,051 0,768 36 0,076 0,661 36 -0,112 0,515 36 0,160 0,352 36 ,344 0,040 36
0,034 0,842 36 -0,255 0,134 36 0,089 0,604 36 -0,044 0,797 36 0,184 0,283 36
** **
0,086 0,619 36 ,472 0,004 36 0,256 0,131 36 ,612 0,000 36 0,084 0,625 36
105

XXI XXII XXIII XXIV XXV

Pearson Sig. Pearson Pearson Pearson Pearson


Correlatio (2- Correlati Sig. (2- Correlati Sig. (2- Correlati Sig. (2- Correlati Sig. (2-
n tailed) N on tailed) N on tailed) N on tailed) N on tailed) N
0,271 0,110 36 0,316 0,060 36 -0,135 0,433 36 0,255 0,134 36 -0,319 0,058 36
0,041 0,812 36 -0,060 0,729 36 -0,051 0,768 36 0,212 0,215 36 -0,105 0,543 36
0,041 0,812 36 -0,060 0,729 36 -0,051 0,768 36 -0,135 0,433 36 -0,105 0,543 36
0,097 0,572 36 0,114 0,509 36 -0,121 0,482 36 -0,156 0,365 36 -0,070 0,686 36
*
0,304 0,071 36 0,282 0,096 36 0,241 0,158 36 0,286 0,091 36 -,396 0,017 36
0,086 0,619 36 -0,125 0,468 36 -0,107 0,536 36 -0,282 0,096 36 0,175 0,306 36
**
0,041 0,812 36 -0,060 0,729 36 ,561 0,000 36 0,212 0,215 36 -0,105 0,543 36
-0,162 0,345 36 0,024 0,891 36 -0,161 0,348 36 0,122 0,479 36 -0,182 0,287 36
0,187 0,274 36 0,174 0,311 36 0,148 0,389 36 -0,040 0,817 36 -0,322 0,055 36
0,000 1,000 36 ,354* 0,034 36 0,302 0,074 36 ,342* 0,041 36 -0,248 0,145 36
-0,161 0,349 36 0,235 0,169 36 0,200 0,242 36 0,158 0,357 36 0,142 0,408 36
* *
-0,229 0,178 36 -,374 0,025 36 -0,319 0,058 36 -0,273 0,108 36 ,338 0,044 36
0,041 0,812 36 -0,060 0,729 36 0,255 0,134 36 0,212 0,215 36 0,021 0,903 36
0,055 0,749 36 0,101 0,559 36 0,241 0,158 36 0,286 0,091 36 0,113 0,511 36
0,073 0,672 36 -0,107 0,536 36 -0,091 0,598 36 -0,241 0,158 36 0,262 0,123 36
*
,366 0,028 36 0,107 0,536 36 0,091 0,598 36 0,034 0,842 36 -0,037 0,829 36
** *
,542 0,001 36 0,158 0,357 36 0,135 0,433 36 ,357 0,033 36 -0,222 0,193 36
0,161 0,349 36 0,149 0,385 36 -0,200 0,242 36 0,213 0,212 36 -0,277 0,102 36
* * *
0,256 0,131 36 ,334 0,046 36 0,285 0,092 36 ,412 0,012 36 -,407 0,014 36
** * **
-,494 0,002 36 -0,174 0,311 36 -0,148 0,389 36 -,392 0,018 36 ,479 0,003 36
*
1 36 0,086 0,619 36 0,073 0,672 36 0,193 0,258 36 -,391 0,018 36
0,086 0,619 36 1 36 -0,107 0,536 36 0,262 0,123 36 -0,219 0,199 36
*
0,073 0,672 36 -0,107 0,536 36 1 36 ,378 0,023 36 -0,187 0,275 36
*
0,193 0,258 36 0,262 0,123 36 ,378 0,023 36 1 36 -0,240 0,158 36
*
-,391 0,018 36 -0,219 0,199 36 -0,187 0,275 36 -0,240 0,158 36 1 36
0,013 0,938 36 ,334* 0,046 36 0,285 0,092 36 ,412* 0,012 36 -0,283 0,094 36
*
0,086 0,619 36 0,156 0,363 36 -0,107 0,536 36 -0,101 0,559 36 ,373 0,025 36
0,041 0,812 36 -0,060 0,729 36 -0,051 0,768 36 -0,135 0,433 36 0,273 0,108 36
0,041 0,812 36 -0,060 0,729 36 -0,051 0,768 36 -0,135 0,433 36 0,273 0,108 36
-0,304 0,071 36 0,081 0,640 36 -0,034 0,842 36 -0,169 0,325 36 0,014 0,935 36
* **
0,216 0,206 36 ,415 0,012 36 0,280 0,099 36 ,476 0,003 36 -0,122 0,479 36
106

XXVI XXVII XXVIII XXIX XXX Total


Pearso Pearso Pearso Pearso Pearso Pearso
n Sig. (2- n Sig. (2- n Sig. (2- n Sig. (2- n Sig. (2- n Sig. (2-
N N N N N N
Correla tailed) Correla tailed) Correla tailed) Correla tailed) Correla tailed) Correla tailed)
tion tion tion tion tion tion
0,274 0,106 36 -0,040 0,819 36 -0,189 0,270 36 -0,189 0,270 36 -0,089 0,605 36 0,224 0,190 36
-0,179 0,297 36 -0,060 0,729 36 -0,029 0,869 36 -0,029 0,869 36 -0,135 0,433 36 -0,011 0,950 36
0,160 0,352 36 -0,060 0,729 36 -0,029 0,869 36 -0,029 0,869 36 0,212 0,215 36 0,157 0,361 36
*
0,058 0,736 36 ,369 0,027 36 -0,068 0,694 36 -0,068 0,694 36 0,009 0,958 36 0,080 0,641 36
** **
,501 0,002 36 0,101 0,559 36 -0,212 0,215 36 -0,212 0,215 36 -0,182 0,289 36 ,428 0,009 36
**
0,157 0,359 36 0,156 0,363 36 ,478 0,003 36 -0,060 0,729 36 -0,101 0,559 36 0,211 0,217 36
0,160 0,352 36 -0,060 0,729 36 -0,029 0,869 36 -0,029 0,869 36 -0,135 0,433 36 0,213 0,213 36
0,104 0,546 36 -0,189 0,270 36 -0,090 0,600 36 -0,090 0,600 36 -0,015 0,930 36 0,209 0,222 36
**
0,238 0,162 36 0,174 0,311 36 0,083 0,630 36 0,083 0,630 36 0,104 0,546 36 ,611 0,000 36
** **
,501 0,002 36 0,177 0,302 36 -0,169 0,324 36 0,169 0,324 36 0,114 0,508 36 ,560 0,000 36
-0,144 0,401 36 0,043 0,805 36 0,112 0,515 36 0,112 0,515 36 0,158 0,357 36 0,302 0,074 36
**
-,449 0,006 36 -0,020 0,909 36 0,160 0,352 36 0,160 0,352 36 0,070 0,686 36 -0,123 0,474 36
-0,009 0,957 36 -0,239 0,160 36 0,143 0,406 36 -0,200 0,242 36 -0,019 0,911 36 0,278 0,101 36
*
0,044 0,797 36 -0,262 0,123 36 0,135 0,433 36 -0,212 0,215 36 -0,182 0,289 36 ,390 0,019 36
-0,117 0,495 36 ,533** 0,001 36 -0,051 0,768 36 -0,051 0,768 36 -0,034 0,842 36 0,080 0,642 36
-0,285 0,092 36 0,107 0,536 36 0,051 0,768 36 0,051 0,768 36 0,034 0,842 36 0,086 0,619 36
**
0,174 0,310 36 -0,079 0,647 36 0,076 0,661 36 0,076 0,661 36 -0,255 0,134 36 ,472 0,004 36
*
,386 0,020 36 -0,235 0,169 36 -0,112 0,515 36 -0,112 0,515 36 0,089 0,604 36 0,256 0,131 36
** **
,666 0,000 36 0,157 0,359 36 -0,179 0,297 36 0,160 0,352 36 -0,044 0,797 36 ,612 0,000 36
* *
0,043 0,804 36 0,273 0,107 36 ,344 0,040 36 ,344 0,040 36 0,184 0,283 36 0,084 0,625 36
0,013 0,938 36 0,086 0,619 36 0,041 0,812 36 0,041 0,812 36 -0,304 0,071 36 0,216 0,206 36
* *
,334 0,046 36 0,156 0,363 36 -0,060 0,729 36 -0,060 0,729 36 0,081 0,640 36 ,415 0,012 36
0,285 0,092 36 -0,107 0,536 36 -0,051 0,768 36 -0,051 0,768 36 -0,034 0,842 36 0,280 0,099 36
* **
,412 0,012 36 -0,101 0,559 36 -0,135 0,433 36 -0,135 0,433 36 -0,169 0,325 36 ,476 0,003 36
*
-0,283 0,094 36 ,373 0,025 36 0,273 0,108 36 0,273 0,108 36 0,014 0,935 36 -0,122 0,479 36
**
1 36 -0,020 0,909 36 0,160 0,352 36 -0,179 0,297 36 -0,159 0,356 36 ,576 0,000 36
**
-0,020 0,909 36 1 36 -0,060 0,729 36 ,478 0,003 36 -0,101 0,559 36 0,240 0,158 36
0,160 0,352 36 -0,060 0,729 36 1 36 -0,029 0,869 36 -0,135 0,433 36 0,101 0,558 36
**
-0,179 0,297 36 ,478 0,003 36 -0,029 0,869 36 1 36 0,212 0,215 36 0,101 0,558 36
-0,159 0,356 36 -0,101 0,559 36 -0,135 0,433 36 0,212 0,215 36 1 36 0,062 0,721 36
,576** 0,000 36 0,240 0,158 36 0,101 0,558 36 0,101 0,558 36 0,062 0,721 36 1 36

Setelah melakukan uji SPSS pada data tabulasi nilai diperoleh hasil seperti tabel diatas. Untuk
menentukan validasi pada soal percobaan maka yang perlu duperhatikan adalah nilai sig. ada kolom
total, jika nilai sig. pada kolom total lebih besar dari 0,05 maka soal dinyatakan valid. Berdasarkan hasil
yang diperoleh maka soal percobaan secara umum dapat dinyatakan valid dengan catatan beberapa soal
harus diganti atau dihilangkan.
107

2. Reliabel
Untuk mengetahui nilai reliabel pada soal percobaan maka data tabulasi
nilai pada soal percobaan kembali kita uji menggunakan SPSS dan menghasilkan
data sebagai berikut :
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
0,524 30

Yang perlu diperhatikan dalam pengambilan kesimpulan untuk menentukan


reliabel tidaknya sebuah instrumen penilaian adalah dengan melihat nilai
Cronbach's Alpha pada hasil pengolahan data dengan SPSS dan dibandingkan
dengan nilai yang digunakan yakni 0,05, jika Cronbach's Alpha > 0,05 maka
soal dinyatakan reliabel. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai Cronbach's
Alpha-nya adalah 0,524 atau lebih besar dari 0,05. Dengan demikian maka dapat
dikatan bahwa soal tersebut reliabel.
3. Tingkat Kesukaran Soal
Statistics Statistics
N N
Mean Mean
Valid Missing Valid Missing
1 36 0 ,4444 16 36 0 ,0833
2 36 0 ,9722 17 36 0 ,1667
3 36 0 ,9722 18 36 0 ,6944
4 36 0 ,8611 19 36 0 ,4722
5 36 0 ,3889 20 36 0 ,8056
6 36 0 ,8889 21 36 0 ,0556
7 36 0 ,9722 22 36 0 ,8889
8 36 0 ,7778 23 36 0 ,9167
9 36 0 ,1944 24 36 0 ,6111
10 36 0 ,5000 25 36 0 ,7222
11 36 0 ,3056 26 36 0 ,4722
12 36 0 ,4722 27 36 0 ,8889
13 36 0 ,4167 28 36 0 ,9722
14 36 0 ,3889 29 36 0 ,9722
15 36 0 ,9167 30 36 0 ,6111

Untuk pengambilan keputusan dalam uji tingkat kesukaran soal dengan


SPSS yang perlu diperhatikan adalah mean dalam tabel diatas kemudian
dibanding dengan kriteria tingkat kesukaran soal sebagai berikut :
0 - 0,20 = Sukar sekali
0,21 - 0,40 = Sukar
0,41 - 0,70 = Sedang
0,71 - 1 = Mudah

Berdasrkan tabel hasil analisis data diatas maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
108

No No No
Mean Kesimpulan Mean Kesimpulan Mean Kesimpulan
Soal Soal Soal
1 0,444 Sedang 11 0,305 Sukar 21 0,055 Sukar sekali
2 0,972 Mudah 12 0,472 Sedang 22 0,888 Mudah
3 0,972 Mudah 13 0,416 Sedang 23 0,916 Mudah
4 0,861 Mudah 14 0,388 Sukar 24 0,611 Sedang
5 0,388 Sukar 15 0,916 Mudah 25 0,722 Mudah
6 0,888 Mudah 16 0,083 Sukar sekali 26 0,472 Sedang
7 0,972 Mudah 17 0,166 Sukar sekali 27 0,888 Mudah
8 0,777 Mudah 18 0,694 Sedang 28 0,972 Mudah
9 0,194 Sekar sekali 19 0,472 Sedang 29 0,972 Mudah
10 0,500 Sedang 20 0,805 mudah 30 0,611 Sedang

4. Daya Pembeda
Untuk menentukan daya pembeda dari soal percobaan maka kita perlu
melihat kembali pada hasil analisis data untuk menentukan tingkat validasi soal
khususnya pada bagian Personal Correlation untuk dibandingkan dengan hasil
pada tingkat kesukaran soal. Untuk nilai Personal Correlation dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Pearson Pearson Pearson Pearson Pearson Pearson
No No No No No No
Correlation Correlation Correlation Correlation Correlation Correlation
1 0,224 6 0,211 11 0,302 16 0,086 21 0,216 26 0,576
2 -0,011 7 0,213 12 -0,123 17 ,472 22 0,415 27 0,240
3 0,157 8 0,209 13 0,278 18 0,256 23 0,280 28 0,101
4 0,080 9 0,611 14 0,390 19 0,612 24 0,476 29 0,101
5 ,428 10 0,560 15 0,080 20 0,084 25 -0,122 30 0,062
Sedangkan untuk tabel perbanding tingkat kesukaran dan Pearson
Correlation dan kesimpulan untuk masing-masing butir soal dapat dilihat dalam
tabel dibawah imi:
Mean Mean (pada
No (pada tabel Pearson No tabel Pearson
Keterangan Keterangan
Soal tingkat Correlation Soal tingkat Correlation
kesukaran) kesukaran)
1 0.44 0.22 Baik 16 0.08 -0.06 Dihilangkan
2 0.97 0.06 Baik 17 0.17 0.22 Baik
3 0.97 0.17 Baik 18 0.69 0.28 Baik
4 0.86 0.17 Baik 19 0.47 0.72 Baik
5 0.39 0.56 Baik 20 0.81 0.17 Baik
6 0.89 0.22 Baik 21 0.06 0.11 Dihilangkan
7 0.97 0.17 Baik 22 0.89 0.33 Baik
8 0.78 0.22 Baik 23 0.92 0.28 Baik
9 0.19 0.39 Baik 24 0.61 0.44 Baik
10 0.50 0.56 Baik 25 0.72 0.00 Dihilangkan
11 0.31 0.06 Baik 26 0.47 0.72 Baik
12 0.47 -0.28 Dihilangkan 27 0.89 0.33 Baik
13 0.42 0.17 Baik 28 0.97 0.17 Baik
14 0.39 0.22 Baik 29 0.97 0.17 Baik
15 0.92 0.17 Baik 30 0.61 0.00 Dihilangkan
109
109

Lampiran 08. Soal Prestasi Belajar

Soal Prestasi Belajar


Impuls, Momentum dan Tunbukan

Petunjuk pengerjaan : berilah tanda silang pada obsen yang dianggap paling benar
Dahulukan mengerjakan soal yang dianggap paling mudah.
1. Gaya yang bekerja pada bola kasti ketika bola tersebut dipukul terlihat
pada grafik berikut ini:

Jika luas daerah yang diarsir adalah 0,07 Ns, berapakah gaya rata-rata
yang bekerja pada bola tersebut?
A. 6 N D. 9 N
B. 7 N E. 10 N
C. 8 N
2. Miroslav Klose menendang bola sepak den- gan gaya rata-rata sebesar 40 N.
Lama bola bersentuhan dengan kakinya adalah 0,05 detik. Berapakah
impulsnya?
A. 1 Ns D. 4 Ns
B. 2 Ns E . 5 Ns
C. 3 Ns
3. Gerak dua benda bermassa m1 dan m2 terlihat pada gambar

Jika m1 = 3 kg, m2 = 4 kg, v1 = 10 m/s, v2 = -20 m/s maka hitung: (untuk


besaran vektor, anggap positif jika ke kanan) Momentum benda 1!
A 10 kg m/s D 40 kg m/s
B 20 kg m/s E 50 kg m/s
C 30 kg m/s
4. Gerak dua benda bermassa m1 dan m 2 terlihat pada gambar

Jika m1 = 3 kg, m2 = 4 kg, v1 = 10 m/s, v2 = -20 m/s maka hitung: (untuk


besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Momentum benda 2!
A -20 kg m/s D -80 kg m/s
B -40 kg m/s E -160 kg m/s
C -60 kg m/s
110

5. Gerak dua benda bermassa m1 dan m2 terli- hat pada gambar

Jika m1 = 3 kg, m2 = 4 kg, v1 = 10 m/s, v2 = -20 m/s maka hitung: (untuk


besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Momentum sistim (1dan 2)!
A -50 kg m/s D 30 kg m/s
B -30 kg m/s E 50 kg m/s
C 0
6. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.
(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Berapa momentum bola sebelum dipukul?
A -0,6 kg m/s D -0,9 kg m/s
B -0,7 kg m/s E -1,0 kg m/s
C -0,8 kg m/s
7. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.
(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Berapa impuls bola sesudah dipukul?
A 1,0 kg m/s D 1,3 kg m/s
B 1,1 kg m/s E 1,4 kg m/s
C 1.2 kg m/s
8. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.
(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan)
Berapa impuls yang dialami oleh bola?
A 0,6 kg m/s D 0,9 kg m/s
B 0,7 kg m/s E 1,0 kg m/s
C 0,8 kg m/s
9. Sebuah bola baseball bermassa 140 gr ber- gerak dengan kecepatan V =
5 m/s ke kiri. Setelah dipukul, kecepatan bola berubah menjadi V = 10
m/s ke kanan.(untuk besaran vektor, anggap positif jika ke kanan). Jika
proses pemukulan memakan waktu 0,02 detik, berapa gaya rata-rata
yang diterima bola?
A 35 N D 50 N
B 40 N E 55 N
C 45 N
111

10. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar berikut:

m1 = 3kg, m2 = 2kg, V1 = 18m/s, V2 = 8 m/s. Maka hitunglah Momentum


sistem sebelum bertumbukan!
A 50 kg m/s D 80 kg m/s
B 60 kg m/s E 90 kg m/s
C 70 kg m/s
11. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar berikut:

m1 = 3kg, m2 = 2kg, V1 = 18m/s, V1 = 8 m/s. Jika setelah tumbukan


V1 = 8 m/s,
berapa V2?
A 21 m/s D 24 m/s
B 22 m/s E 25 m/s
C 23 m/s
12. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar berikut:

m1 = 3kg, m2 = 2kg, V1 = 18m/s, V1 = 18 m/s. V2 = 8 m/s. Jika


setelah tumbukan V2 = 8 m/s, Maka berapa V1?
A 6 m/s D 9 m/s
B 7 m/s E 10 m/s
C 8 m/s
13. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar
berikut:

m1 = 6 kg, m2 = 4 kg, V1 = 6 m/s, V2 = -2 m/s. Maka


hitunglah: Kecepatan benda satu setelah bertumbukan jika
tumbukan tersebut tidak lenting sama sekali!
A 1,4 m/s ke kiri D 2,8 m/s ke kanan
B 2,8 m/s ke kiri E 0
C 1,4 m/s ke kanan
112

14. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar
berikut:

m1 = 6 kg, m2 = 4 kg, V1 = 6 m/s, V2 = -2 m/s. Maka


hitunglah: Kecepatan benda 2 setelah bertumbukan jika
tumbukan tersebut tidak lenting sempurna!
A 8,4 m/s ke kiri D 3,2 m/s ke kiri
B 3,2 m/s ke kanan E 7,6 m/s ke kanan
C 8,4 m/s ke kanan
15. Gerak dua benda sebelum bertumbukan ter- lihat pada gambar
berikut:

m1 = 6 kg, m2 = 4 kg, V1 = 6 m/s, V2 = -2 m/s. Maka


hitunglah: Kecepatan benda 1 setelah bertumbukan jika
tumbukan tersebut tidak lenting sebagian dengan e = 1/4!
A 1 m/s ke kanan D 2 m/s ke kiri
B 2 m/s ke kanan E 0
C 1 m/s ke kiri
16. Manakah yang salah dari pernyataan berikut ini?
A Energi kinetik pada tumbukan lenting sempurna adalah kekal
B Energi kinetik pada tumbukan tidak lenting sempurna adalah kekal
C Momentum pada tumbukan lenting sempurna adalah kekal
D Momentum pada tumbukan tidak lenting sempurna adalah kekal
E Nilai koefisien restitusi paling rendah nol dan paling tinggi satu
17. Gerak dua benda sebelum bertumbukan terli- hat pada gambar

m1 = 2 kg, m2 = 4 kg, V1 = 5 m/s, V2 = -3 m/s. Berapa energi


kinetik benda 1 sebelum ber- tumbukan?
A 4 joule (D) 25 joule
B 9 joule (E) 36 joule
C 16 joule
113

18. Gerak dua benda sebelum bertumbukan terli- hat pada gambar

m1 = 2 kg, m2 = 4 kg, V1 = 5 m/s, V2 = -3 m/s. Berapa energi


kinetik benda-benda sebelum bertumbukan?
A 8 joule D 50 joule
B 18 joule E 72 joule
C 32 joule
19. Gerak dua benda sebelum bertumbukan terli- hat pada gambar

m1 = 2 kg, m2 = 4 kg, V1 = 5 m/s, V2 = -3 m/s. Jika tumbukan


lenting sempurna berapa energi kinetik benda-benda setelah
bertumbukan?
A 7,5 joule D 38 joule
B 12,5 joule E 43 joule
C (27,5 joule
20. Dua buah benda A dan B mempunyai masa yang sama bergerak saling
mendekati, masing-masing dengan kecepatan 2 m/s dan 1 m/s, A ke kanan
dan B ke kiri. Keduanya bertumbukan lenting sempurna. Kecepatan A sesaat
setelah tumbukan adalah...
A 1 m/s ke arah kanan D 2 m/s ke arah kiri
B 1 m/s kearah kiri E 3 m/s ke arah kanan
C 2 m/s ke arah kanan
21. Persamaan yang menyatakan hubungan antara impuls dan momentum adalah...
A F.∆t = m.v2-m.v1 D F = ∆t (v2-.v1)/m
B F.∆t = (v2-.v1)/m E F. (v2-.v1) = m. .∆t
C F = m. .∆t (v2-.v1)
22. Sebuah balok bermasa 4 kg bergerak ke kanan dengan kecepatan 3 m/s di
atas lantai licin menabrak balok lain bermasa 12 kg yang sedang bergerak ke
kiri dengan kecepatan yang sama. Jika kedua balok bersatu setelah tumbukan,
maka besarnya kecepatan ke dua balok setelah tumbukan adalah...
A 0,5 m/s ke kiri D 1,5 m/s ke kanan
B 0,5 m/s ke kanan E 2,0 m/s ke kiri
C 1,5 m/s ke kiri
114

23. Pernyataan yang berikut yang merupakan pengertian momentum yang benar
adalah...
A Hasil perkalian massa dan percepatan yang dimiliki suatu benda
B Hasil peralian antara gaya dan interval waktu selama gaya tersebut bekerja
C Energi yang dimiiki suatu benda yang bergerak
D Hasil perkalian kecepatan dan gaya yang bekerja pada suatu benda
E Hasil perkalian massa dan kecepatan yang dimiliki oleh suatu benda
24. Dua benda A dan B bermasa 5 kg dan 1 kg bergerak saling mendekati dengan
kecepatan masing-masing 4 m/s dan 12 m/s. Apabila kedua benda
bertabrakan dan setelah bertabrakan kedua benda menyatu maka kecepatan
ke dua benda setelah tabrakan adalah...
A 2/3 m-1 searah dengan gerak A
B 3/4 m-1 searah dengan gerak B
C 3/4 m-1 searah dengan gerak A
D 4/3 m-1 searah dengan gerak B
E 4/3 m-1 searah dengan gerak A
25. Pernyataan yang berikut yang merupakan pengertian impuls yang benar
adalah...
A hasil perkalian massa dan percepatan yang dimiliki suatu benda
B hasil peralian antara gaya dan interval waktu selama gaya tersebut bekerja
C energi yang dimiiki suatu benda yang bergerak
D hasil perkalian kecepatan dan gaya yang bekerja pada suatu benda
E hasil perkalian massa dan kecepatan yang dimiliki oleh suatu benda
115

Lampiran 9. Kunci Jawaban Soal Kemampuan Kognitif

KUNCI JAWABAN SOAL


1. B 6. B 11. C 16. B 21. A
2. B 7. E 12. E 17. D 22. C
3. C 8. B 13. E 18. B 23. E
4. D 9. A 14. E 19. E 24. E
5. A 10. C 15. B 20. A 25. B
116

Lampiran 10. Daftar Nilai Kelas Penelitian


Daftar Nilai Kelas Eksperimen

NILAI
NO NAMA PRE
POST TEST
TEST
1 Adna F. Mardiansyah 48 56
2 Antonia S. Lamag 40 72
3 Bernadeta A. P. Mbabho 44 60
4 Diana E. Putri 56 84
5 Irfan Atan 44 76
6 Kristina Banase 36 74
7 Magdelena Y. Seku 48 68
8 Margereta Dile 40 68
9 Maria E. Sutai 40 64
10 Maria H. Banase 40 68
11 Maria P. Wona 24 76
12 Melly Subang 52 64
13 Monica De Araujo 36 68
14 Muhamad Ismail 48 68
15 Muhamad Nurdin Alif 56 72
16 Ngaisa T. Songge 40 68
17 Nova Y. Loit 52 68
18 Rahayu Pally 64 82
19 Rindha Syahrian 44 72
20 Sandy w. Kusuma 64 82
21 Shalomita Puling 36 68
22 Sisilia Jesika Laja 48 68
23 Stevanus W. Kelen 56 80
24 Susan Djara 48 76
25 Wilibrodus Kono 48 68
26 Yunanda D. Bere 64 80
117

Daftar Nilai Kelas Kontrol


NILAI
NO NAMA
PRE TEST POST TEST
1 Agnes Pandu 52 68
2 Alda Dinda Saiketu 44 52
3 Cristo R Djingi 56 56
4 Dedi Ndolu 56 60
5 Dewi Pamedo 40 68
6 Erna Djami 40 72
7 Eunike Tempomona 44 60
8 Fito Takael 52 56
9 Fransulo Tlonaen 52 60
10 Gerald Laispotimo 36 48
11 Giovananda Nimaf 52 72
12 Inggrid Balla 40 76
13 Irawati Biaf 56 60
14 Jeri Betti 44 64
15 Johnatan Boymau 40 54
16 Jondrit Koy 40 72
17 Joriks Manaf 48 76
18 Julian Tedju 52 64
19 Karin Radja Gah 44 68
20 Kyeren H. G. Henuk 32 76
21 Laura Saudale 56 76
22 Marsel Yahuda 56 76
23 Onya Baun 20 72
24 Piter Ndolu 60 72
25 Queenie Djolodo 60 68
26 Rohiliyo Yulius 40 72
27 Roymon Rihi 60 76
28 Tirvan M. Panie 44 68
29 Wahyu A. Djogo Tuga 40 68
30 Yandri Tapatap 52 72
31 Yordan Hina 36 72
32 Yulianse Djara Kanni 44 76
118

Lampiran 11. Frekuensi Nilai Tes Awal Kelas Penelitian


1. Frekuensi nilai pre-test kelas penelitian
Pre_Tes Kelas Eksperimen
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
24 1 3,8 3,8 3,8
36 3 11,5 11,5 15,4
40 5 19,2 19,2 34,6
44 3 11,5 11,5 46,2
Valid 48 6 23,1 23,1 69,2
52 2 7,7 7,7 76,9
56 3 11,5 11,5 88,5
64 3 11,5 11,5 100,0
Total 26 100,0 100,0

Pre_Tes Kelas Kontrol


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
20 1 3,1 3,1 3,1
32 1 3,1 3,1 6,3
36 2 6,3 6,3 12,5
40 6 18,8 18,8 31,3
42 1 3,1 3,1 34,4
44 5 15,6 15,6 50,0
Valid 48 1 3,1 3,1 53,1
52 5 15,6 15,6 68,8
56 5 15,6 15,6 84,4
60 4 12,5 12,5 96,9
64 1 3,1 3,1 100,0
Total 32 100,0 100,0
119

Lampiran 12. Uji Prasyarat Analisis Data Tes Kemampuan Awal


A. Uji homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Levene
df1 df2 Sig.
Statistic
Based
0,326 1 56 0,571
on Mean
Based
on 0,373 1 56 0,544
Median
Based
Prestasi on
Belajar Median
0,373 1 55,036 0,544
Siswa and with
adjusted
df
Based
on
0,333 1 56 0,566
trimmed
mean

Untuk pengambilan keputusan mengenai uji homogenitas dengan SPSS


maka yang perlu diperhatikan adalah nilai dari sig. Based on Mean kemudian nilai
Based on Mean dibandingkan dengan nilai yang digunakan ( = 0,05),
dengan ketentuan jika nilai Based on Mean > 0,05 maka data dinyatakan
homogen. Berdasarkan tabel diatas maka nilai dari sig. Based on Mean adalah
0,571 > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data nilai uji kemampuan awal siswa
kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.

B. Uji normalitas
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk
Kelas
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Pre_Tes Kelas Eksperimen 0,142 26 0,193 0,955 26 0,297
Pre_Tes Kelas Kontrol 0,146 32 0,081 0,946 32 0,108

Dari data diatas dapat dilihat bahwa data diuji dengan menggunakan dua uji
statistik yaitu Kolmogorov-Smirnov dan uji Kolmogorov-Smirnov. Untuk
pengambilan kesimpulan dalam pengujian normalitas dengan menggunakan SPSS
adalah nilai sig dari kedua uji diatas dibandingkan dengan nilai yang digunakan
( = 0,05), dengan ketentuan jika nilai sig. > maka data dinyatan normal. Dari
kedua uji diatas dapat dilihat bahwa nilai sig. > baik untuk kelas eksperimen
maupun kelas demonstrasi. Untuk kelas demonstrasi nilai sig.-nya adalah 0,081 >
0,05 dan 0,108 > 0,05, sedangkan untuk kelas eksperimen nilai sig.-nya adalah
0,193 > 0,05 dan 0,297 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua data
tersebut berdistribusi normal.
120

Lampiran 13. Uji Kesamaan Kemampuan Awal


Uji kemampuan awal dilakukan dengan hipotesisi
H 0 : 1   2

H1 : 1   2
Setelah dilakukan pengujian dengan SPSS didapat hasil sebagai berikut :
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of t-test for Equality of Means
Variances
95%
Std. Confidence
Sig. Mean Interval of the
Error
F Sig. T df (2- Differen Difference
Differen
tailed) ce
ce
Lower Upper

Equal
varian
-
ces 0,378 0,541 56 0,816 -0,606 2,594 -5,802 4,590
Pres 0,234
assu
tasi
med
Belaj
ar Equal
Sisw varian
a ces -
54,23 0,816 -0,606 2,585 -5,788 4,577
not 0,234
assu
med

Pada tabel hasil uji indenpenden sampel test di atas yang perlu dilihat adalah
nilai sig.(2-tailed), karena data homogen maka yang perlu dilihat adalah nilai
sig.(2-tailed) dari Equal variances assumed dan dibandingkan dengan yang
digunakan ( = 0,05). Untuk nilai Equal variances not assumed digunakan
apabila data tidak homogen.
Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa nilai Equal variances
assumed-nya adalah 0,816 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat perbedaan antara kemampuan awal siswa kelas eksperiman dan siswa
kelas demonstrasi atau H0 diterima dan H1 ditolak.
121

Lampiran 14. Distribusi Nilai Post-Test Kelas Penelitian


1. Distribusi nilai post-test kelas eksperimen
Deskripsi data post-test kelas eksperimen dapat dilihat dalam tabel di
bawah ini :
Descriptive Statistics
Ran Minimu Maximu Std.
N Mean Variance
ge m m Deviation
Statis Stat Std.
Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic
tic istic Error
Post_Tes
Kelas 26 20 64 84 74,08 1,038 5,291 27,994
Eksperimen
Post_Tes
32 26 50 76 65,19 1,135 6,423 41,254
Kelas kontrol

Sedangkan untuk frekuansi data dapat dilihat pada tabel di


bawah ini :
Post-Tes Kelas Eksperimen
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Percent
64 1 3,8 3,8 3,8
68 5 19,2 19,2 23,1
70 2 7,7 7,7 30,8
72 4 15,4 15,4 46,2
74 2 7,7 7,7 53,8
Valid 76 5 19,2 19,2 73,1
78 1 3,8 3,8 76,9
80 3 11,5 11,5 88,5
82 2 7,7 7,7 96,2
84 1 3,8 3,8 100,0
Total 26 100,0 100,0

Dari data di atas dapat dilihat frekuansi dan presentase frekuensi dari nilai-
nilai yang ada pada kelas eksperimen, sedangkan untuk kelas kontrol dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :
Post_Tes Kelas Kontrol
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
50 1 3,1 3,1 3,1
54 1 3,1 3,1 6,3
56 1 3,1 3,1 9,4
58 1 3,1 3,1 12,5
60 7 21,9 21,9 34,4
62 1 3,1 3,1 37,5
64 2 6,3 6,3 43,8
Valid 66 4 12,5 12,5 56,3
68 5 15,6 15,6 71,9
70 2 6,3 6,3 78,1
72 4 12,5 12,5 90,6
74 1 3,1 3,1 93,8
76 2 6,3 6,3 100,0
Total 32 100,0 100,0
122

Lampiran 15. Uji Prasyarat Untuk Uji Hipotesis


Sama seperti uji prasyarat untuk uji kemampuan awal, pada uji prasyarat
untuk uji hipotesispun menggunakan uji homogemitas dan uji normalitas.
1. Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variance
Levene
df1 df2 Sig.
Statistic
Based on Mean 1,114 1 56 0,296
Based on Median 0,810 1 56 0,372
Prestasi
Based on Median and
Belajar 0,810 1 52,248 0,372
with adjusted df
Siswa
Based on trimmed
1,054 1 56 0,309
mean

Sama seperti uji homogenitas pada uji kemampuan awal sampel yang
perludilihat dari tabel diatas adalah nilai dari sig.-nya. Dari tabel di atas dapat
dilihat bahwa nilai sig.-nya adalah 0,296 > 0,05 sehingga dapat dikatan bahwa
data pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.
2. Uji Normalitas
Dalam pengujian normalitas data sebagai prasyarat untuk uji hipotesis
penelitian maka data yang digunakan adalah data post-test dari kelas eksperimen
dan kelas demonstrasi.
Tests of Normality
Kolmogorov-
a Shapiro-Wilk
Kelas Smirnov
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Pre_Tes
0,19
Kelas 0,142 26 0,955 26 0,297
3
Eksperimen
Post_Tes
Kelas 0,114 26 0,2 0,960 26 0,393
Prestasi
Eksperimen
Belajar
Pre_Tes
Siswa 0,08
Kelas 0,146 32 0,946 32 0,108
1
Kontrol
Post_Tes
0,15
Kelas 0,134 32 0,966 32 0,404
2
Kontrol

Setelah dilakukan pengujian dapat dilihat bahwa nilai sig. dari kedua uji
diatas adalah > 0,05, baik pada kelas eksperimen maupun kelas demonstrasi.
Nili sig. untuk kelas eksperimen yaitu 0,2 > 0,05 dan 0,393 > 0,05 sehingga
dapat dikatan bahwa data berdistribusi normal, sedangkan untuk kelas
demonstrasi nilai sig._nya adalah 0,152 > 0,05 dan 0, 404 > 0,05 sehingga dapat
dikatakan bahwa data pada kelas demonstrasi berdistribusi normal.
123

Lampiran 16. Uji Hipotesis Penelitian


1. Uji hipotesis pertama
Hipotesis yang digunakan dalam pengujian adalah :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
setelah melakukan pengujian normalitas dan homogenitas pada nilai post-tes
kelas demonstrasi dan eksperimen dan dinyatan berdistribusi normal dan
homogen maka data post-test tersebut dapat digunakan untuk pengujian hipotesis
penelitian. Tabel hasil pengujian menggunakan SPSS untuk pengujian hipotesisi
dapat dilihat dibawah ini :
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of t-test for Equality of Means
Variances
Std. 95% Confidence
Sig. Mean Interval of the
Error
F Sig. T df (2- Differ Difference
Differ
tailed) ence
ence Lower Upper
Equal
varian
ces 1,114 0,296 5,664 56 0,000 8,889 1,569 5,745 12,033
assu
Presta
med
si
Equal
Belajar
varian
Siswa
ces
5,779 55,983 0,000 8,889 1,538 5,808 11,971
not
assu
med

Dari tabel diatas dapat dilihat nilai sig.(2-tailed)-nya adalah 0,000< 0,05
sehingga dapat disimpulakan bahwa ada perbedaan rata-rata nilai yang signifikan
antara siswa pada kelas eksperimen dan siswa pada kelas kontrol, atau hipotesis
H0 ditolak dan H1 diterima.
2. Uji hipotesis kedua
Pengujian hiipotesis kedua bertujuan untuk mengatahui kelas yang
mengalami peningkatan nilai rata-rata terbesar pada kelas penelitian. Hipotesis
yang digunakan dalam pengujian adalah :
Ho : µ1 = µ2
Ho : µ1 > µ2
Pada pengujian hipotesis yang kedua kita juga menggunakan uji independen
sampel tes dengan SPSS untuk mengetahui nilai perubahan mean dari kedua
kelas.
124

Group Statistics
Std. Std. Error
Kelas N Mean
Deviation Mean

Post_Tes
Kelas 26 74,08 5,291 1,038
Prestasi Eksperimen
Belajar
Siswa Post_Tes
Kelas 32 65,19 6,423 1,135
kontrol

Dari data di atas dapat dilihat bahwa nilai mean dari kelas kontrol adalah
68,19 sedangkan pada kelas eksperimen adalah sebesar 74,08. Dari nilai mean
yang dihasilkan dalam uji di atas dapat kita lihat bahwa nilai mean kelas
eksperimen adalah lebih besar dari mean dari kelas kontrol, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada kelas eksperimen memberikan peningkatan prestasi
belajarnya lebih tinggi dari kelas kontrol atau H0 ditolak dan HI diterima.
125

Lampiran 17 Peningkatan Prestasi Belajar Ditinjau Dari Peningkatan


Prestasi Untuk Setiap Indikator Soal.
1. Peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar untuk
setiap indikator soal pada kelas kontrol
Untuk peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar
untuk tiap indikator soal yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada
grafik di bawah ini:

Persentase Peningkatan Prestasi siswa Untuk Setiap


Indikator Soal Pada Kelas Demonstrasi
90 85,7
80 71,87 68,75 65,62
70 62,5 64,58
57,42
60
50 46,87 50
50 44,09
37,1
40
30
20
10
0
Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Indikator 6

post-test pre-test

Grafik di atas menjelaskan bagaimana presentasi peningkatan prestasi belajar


ditinjau dari peningkatan prestasi belajar untuk tiap indikator soal pada pre-test
maupun post-test yang dilakukan pada kelas kontrol. Dari grafik di atas dapat kita
lihat bagaimana peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi
belajar untuk tiap indikator sebelum diberikan perlakuan dan setelah diberikan
perlakuan. Untuk indikator yang mengalami peningkatan tertinggi adalah
indikator soal pertama dengan peningkatan jumlah siswa yang menjawab benar
sebesar 25 %, sedangkan indikator yang mengalami peningkatan terendah adalah
indikator ke-enam yaitu sebesar 15,62 %.
Indikator soal pertama mengalami peningkatan jumlah siswa yag menjawab
benar hingga 25% atau pada post-test mencapai 85,7% siswa yang menjawab
benar dikeranakan pada indikator soal yang pertama berada pada tingkat
menjelaskan pengertian dari suatu konsep yang di pelajari, sedangkan pada
indikator soal yang ke-6 peningkatan jumlah siswa yang menjawab benar sekitar
15% saja dikarenakan pada inndikator soal yang ke-enam berada pada tingkatan
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan suatu konsep sehingga
membutuhkan pemhaman konsep yang mendalam untuk menyelasikannya.
126

2. peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar pada


kelas eksperimen
Untuk peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar
pada tiap indikator soal digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada grafik di
bawah ini :

120 Persentase Peningkatan Prestasi Siswa Untuk Setiap Indikator


Pada Kelas Eksperimen
100 96,15

80 73,07 73,07
69,23 68,37 70,19
67,3

60 53,84
50
46,65 46,15
41,34
40

20

0
Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Indikator 6

post-test pre-test

Dari grafik di atas dapat dilihat bagaimana peningkatan prestasi belajar


ditinjau dari peningkatan prestasi belajar perindikator soa untuk tiap indikator
soal. Dari grafik di atas kita dapat melihat bahwa indkator soal pertama
mengalami peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar
sebesar 26,92 % atau pada post-test presentasi jumlah siswa ang menjawab benar
mencapai 96,15% sedangkan untuk indikator yang memiliki presentasi jumlah
siswa yang menjawab benar terendah adalah pada indikator soal yang ke-enam
yakni sebesar 22,11%.
Peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar untuk
tiap indikator dipengaruhi oleh tingkatan soal yang digunakan untuk tiap
indikator. Pada indikator soal yang pertama tingkatan soal yang digunakan hanya
berada pada tingkat menjelaskan konsep yang dipelajari sehingga dapat kita lihat
bahwa peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi belajar pada
indikator ini memiliki angka presentasi tertinggi, sedangkan pada indikator soal
yang ke-enam tingkatan yang digunakan adalah pada tingkat menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan konsep yang dipelajari sehingga membutuhkan
pehaman konsep yang baik dan daya pikir yang tinggi untuk menyelesaikannya.
127

3. Rata-rata peningkatan prestasi belajar ditinjau dari peningkatan prestasi


belajar untuk kelas penelitian
Setelah mengetahui bagaimana peningkatan prestasi belajar ditinjau dari
peningkatan prestasi belajar perindikator soal untuk tiap kelas maka kita juga
dapat membuat grafik yang menjelaskan bagaimana peningkatan prestasi belajar
ditinjau dari peningkatan prestasi belajar tiap indikator soal yang digunakan pada
kelas pnelitian (kelas esperimen dan kelas kontrol).

Perbandingan Persentase Peningkatan Prestasi Siswa Untuk


30 Setiap Indikator
26,92
25,96
25
25 23,08 23,07
21,87 22,15 21,88 22,11
20,49 20,32
20
15,62
15

10

0
Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Indikator 6
Kelas eksperimen Kelas kontrol

Dari grafik di atas dapat kita lihat bahwa peningkatan prestasi belajar
ditinjau dari peningkatan prestasi belajar pada tiap indikator soal untuk kelas
eksperimen lebih baik dibandingka dengan kelas kontrol, sehingga dapat dikatan
bahwa peningkatan prestasi siswa pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan
dengan kelas kontrol. Penyebab perbedaan peningkatan prestasi antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol disebabkan perbedaan penggunaan model dan
metode dalam proses pembelajaran untuk tiap kelas. Pada kelas eksperimen
digunakan model pembelajaran Discovery dengan metode eksperimen sedangkan
pada kelas kontrol digunakan metode Discovery dengan metode demonstrasi.
Dari penjelasan tentang grafik diatas maka dapat dikatakan bahwa
penggunaan model pembelajaran Discovery dengan metode eksperimen adalah
lebih baik dari metode Discovery dengan metode demonstrasi. Hal ini sesuai
dengan tinjauan pustaka yang menyatakan bahwa penggunaan metode eksperimen
lebih baik dari metode demonstrasi karena memiliki beberap keunggulan
dibandingkan metode demonstrasi. Kelebihan metode eksprimen adalah siswa
dilibatkan secara langsung dalam kegiatan percobaan yang dilakuakn untuk
menemukan atau membuktikan suatu teori yang berkaitan dengan materi yang
dipelajari. Sedangkan pada metode demonstrasi siswa tidak dilibatkan secara
langsung untuk melakukan percobaan akan tetapi percobaan dilakukan oleh guru
dan siswa hanya memperhatikan atau mengamati. Pada kelas eksperimen siswa
128

dibimbing untuk berpikir ilmiah dan terstruktur selain itu siswa diasah untuk
meningkat kemampuan mengamati dan memiliki pengalaman sendiri dalam
penemuan. Pengalaman ini melekat dalam benak siswa sehingga diharapkan siswa
memiliki pemahaan konsep yang lebih baik. Sedangakn pada kelas demonstrasi
siswa hanya dilatih kemampuan mengamati tanpa memiliki pengalaman
penemuan tersendiri.