Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL STUDY KELAYAKAN

“Pengadaan/Pembelian Bahan Makanan”


Dosen Pembimbing : Magdalena.A.,M.Kes

Disusun Oleh :

Agustina Ariani P07131216090


Anggita Puspita Ratu Dayyan P07131216094
Irma Indriani P07131216109
Misma Ulya P07131216114
Sandra Septian Eka Criswahyudi P07131216130

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Diploma IV Jurusan Gizi

2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan gizi rumah sakit merupakan salah satu komponen dari sistem
pelayanan kesehatan di rumah sakit yang mempunyai peran penting dalam
mempercepat tercapainya tingkat kesehatan yang bersifat promotif dan
preventif, kuratif dan rehabilitatif.Sasaran penyelenggaraan makanan di
Rumah Sakit adalah pasien maupun karyawan (pegawai). Sesuai dengan
kondisi Rumah Sakit dapat juga dilakukan penyelenggaraan bagi pengunjung
(pasien rawat jalan atau keluarga pasien). Pemberian makanan yang
memenuhi gizi seimbang serta habis termakan merupakan salah satu cara
untuk mempercepat penyembuhan dan memperpendek hari rawat inap
(Depkes, 2006 dalam Ratna, 2009).
Instalasi gizi adalah wadah yang mengelola kegiatan pelayanan gizi
secara berdaya guna dan berhasil guna serta terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan lain di rumah sakit, meliputi kegiatan pelayanan makanan,
pelayanan gizi ruang rawat inap, penyuluhan/konsultasi gizi dan rujukan gizi
serta penelitian dan pengembangan gizi terapan dengan mengoptimalkan
sumber daya yang ada.
Dalam penyelenggaraan makanan Rumah Sakit, standar masukan (input)
meliputi biaya, tenaga, sarana dan prasarana, metode, peralatan sedangkan
standar proses meliputi penyusunan anggaran belanja bahan makanan,
perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, pembelian bahan
makanan, penerimaan dan penyimpanan bahan makanan, persiapan bahan
makanan, serta pengolahan bahan makanan dan pendistribusian bahan
makanan. Sedangkan standar keluaran (output) adalah mutu makanan dan
kepuasan konsumen (Depkes, 2006).

1
1.1.1 Gambaran Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin
Pada tahun 1995 sampai tahun 2002 berdasarkan Perda 06 Th
1995, status RSUD Ulin sebagai Unit Swadana. Untuk meningkatkan
kemampuan jangkauan dan mutu pelayanan maka berdasarkan SK
Menkes No. 004/Menkes/SK/I/2013 tanggal 7 Januari 2013 tentang
Peningkatan Kelas RSUD Ulin Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan
menjadi Rumah Sakit Umum dengan klasifikasi Kelas A, serta
Kepmendagri No. 445.420-1279 tahun 1999 tentang penetapan RSUD
Ulin Banjarmasin sebagai Rumah Sakit Pendidikan Calon Dokter dan
Calon Dokter Spesialis. Dengan demikian tugas dan fungsi RSUD Ulin
selain mengemban fungsi pelayanan juga melaksanakan fungsi
pendidikan dan penelitian. Sejalan dengan upaya desentralisasi maka
berdasarkan Perda No. 9 tahun 2002 status RSUD Ulin berubah menjadi
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Saat ini RSUD Ulin
Banjarmasin sudah menjalani Survei Akreditasi RS: Akreditasi Penuh
Tingkat Lengkap 16 Bidang (SK Menkes 2007 YM.01.10/III/1142/07)
dan Akreditasi ulang dengan predikat lulus Penuh 16 Bidang Pelayanan
pada tahun 2010. RSUD Ulin Banjarmasin merupakan rumah sakit pusat
rujukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan
Timur. Saat ini sebagai Lembaga Teknis Daerah Provinsi Kalimantan
Selatan dengan klasifikasi Kelas A telah ditetapkan sebagai PPK Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD) bertahap melalui Keputusan Gubernur
Kalimantan Selatan No.188.44/0456/Kum/2007 tanggal 27 Desember
Tahun 2007. PPK-BLUD Penuh melalui Keputusan Gubernur
Kalimantan Selatan No.188.44/0464/Kum/2009. Sebagai RS-BLUD,
RSUD Ulin Banjarmasin mempunyai tugas utama melaksanakan
”Pelayanan Medik, Pendidikan Kesehatan, Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat”. Adapun tujuannya adalah terselenggaranya pelayanan
Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) secara efektif dan efisien melalui
pelayanan kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu
dengan pelayanan preventif dan promotif serta pelayanan rujukan,
pendidikan, pelatihan dan penelitian-pengembangan.

2
Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Berdasarkan
Permenkes No. 340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah
Sakit, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin termasuk
Rumah sakit tipe A, klasifikasi ini didasarkan atas pelayanan, Sumber
daya Manusia (SDM), peralatan, Sarana dan Prasarana, serta administrasi
dan manejemen. Ketentuan untuk Rumah Sakit Tipe A, yaitu:
1. Rumah Sakit Umum Kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayananmedik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis
Dasar, 5 (lima) PelayananSpesialis Penunjang Medik, 12 (dua belas)
Pelayanan Medik Spesialis Lain dan 13(tiga belas) Pelayanan Medik Sub
Spesialis.
2. Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas A meliputi
Pelayanan Medik Umum, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Medik
Spesialis Dasar, Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, Pelayanan Medik
Spesialis Lain, Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut, Pelayanan Medik
Subspesialis, Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan, Pelayanan
Penunjang Klinik, dan Pelayanan Penunjang Non Klinik.
3. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat
pelayanan.
4. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan
oleh Menteri. Peralatan yang dimiliki Rumah Sakit harus memenuhi
standar yang ditetapkan oleh Menteri. Peralatan radiologi dan kedokteran
nuklir harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Jumlah tempat tidur minimal 400 (empat ratus)
buah.
5. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata
laksana. Struktur organisasi paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit
atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan,
unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta
administrasi umum dan keuangan. Tata laksana sebagaimana dimaksud

3
pada ayat (1) meliputi tatalaksana organisasi, standar pelayanan, standar
operasional prosedur (SPO), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.

1.1.1.1 Visi RSUD Ulin Banjarmasin


Visi RSUD Ulin Bnajarmasin adalah “Terwujudnya
pelayanan rumah sakit yang professional dan mampu bersaing di
masyarakat ekonomi ASEAN”

1.1.1.2 Misi RSUD Ulin Banjarmasin


1. Menyelenggarakan pelayanan terakreditasi paripurna yang
berorientasi pada kebutuhan dan keselamatan pasien,
bermutu serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
2. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penelitian
dan pengembangan sub spesialis sesuai kebutuhan
pelayanankesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan
penapisan teknologi kedokteran
3. Menyelenggarakan manajemen rumah sakit dengan kaidan
bisnis yangsehat, terbuka,efisien efektif, akuntabel sesuai
dengan perundang-undangan yang berlaku
4. Menyiapkan sumber daya manusia , sarana dan prasarana
dan peralatannya untuk mampu bersaing dalam era pasar
bebas ASEAN
5. Mengelola dan mengembangkan Sumber Daya Manusia
sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan kemampuan
Rumah Sakit

4
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui penerapan perencanaan kebutuhan bahan
makanan, pengadaan dan pembelian bahan makanan di RSUD Ulin
Banjarmasin
1.2.2 Tujuan khusus
1) Untuk mengetahui syarat pembelian bahan makanan di RSUD
Ulin Banjarmasin
2) Untuk mengetahui sistem pembelian bahan makanan di RSUD
Ulin Banjarmasin
3) Untuk mengetahui apakah pembelian bahan makanan RSUD Ulin
Banjarmasin menggunakan rekanan
4) Untuk mengetahui cara mendapatkan rekanan di RSUD Ulin
Banjarmasin
5) Untuk mengetahui spesifikasi pemesananan di RSUD Ulin
Banjarmasin
6) Untuk mengetahui daftar pemesanan makanan di RSUD Ulin
Banjarmasin
7) Untuk mengetahui perubahan anggaran per tahun

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.2.Pengadaan Bahan Makanan


Kegiatan pengadaan bahan makanan meliputi penetapan spesifikasi
bahan makanan, perhitungan harga makanan, pemesanan, dan pembelian
bahan makanan dan melakukan survey pasar.
a. Spesifikasi Bahan Makanan
Spesifikasi bahan makanan adalah standar bahan makanan yang
ditetapkan oleh unit/ Instalasi Gizi sesuai ukuran, bentuk,
penampilan, dan kualitas bahan makanan.
Tipe Spesifikasi :
1. Spesifikasi Tehnik
Biasanya digunakan untuk bahan yang dapat diukur secara
objektif dan diukur dengan menggunakan instrument
tertentu.Secara khusus digunakan pada bahan makanan dengan
tingkat kualitas tertentu yang secara nasional sudah ada.
2. Spesifikasi Penampilan
Dalam menetapkan spesifikasi bahan makanan haruslah
sederhana, lengkap dan jelas. Secara garis besar berisi :
a) Nama bahan makanan/ produk
b) Ukuran / tipe unit / container /kemasan
c) Tingkat kualitas
d) Umur bahan makanan
e) Warna bahan makanan
f) Identifikasi Pabrik
g) Masa pakai bahan makanan / masa kadaluarsa
h) Data isi produk bila dalam satu kemasan
i) Satuan bahan makanan yang dimaksud
j) Keterangan khusus lain bila diperlukan

6
3. Spesfikasi Pabrik
Diaplikasikan pada kualitas barang yang telah dikeluarkan oleh
suatu pabrik dan telah diketahui oleh pembeli. Misalnya
spesifikasi untuk makanan kaleng
b. Survey Pasar
Kegiatan untuk mencari informasi mengenai harga bahan makanan
yang ada dipasaran, sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan
sebagai dasar perencanaan anggaran bahan makanan. Dari survey
tersebut akan diperoleh perkiraan harga bahan makanan yang
meliputi harga terendah, harga tertinggi, harga tertimbang dan harga
perkiraan maksimal.

1.2 Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan


1.2.1 Pemesanan Bahan Makanan
a) Pengertian
Pemesanan bahan makanan adalah kegiatan penyusunan
permintaan (order) bahan makanan berdasarkan menu atau
pedoman menu dan rata-rata jumlah konsumen atau pasien yang
ada. Tujuan dari kegiatan ini adalah tersedianya daftar pesanan
bahan makanan sesuai dengan standar atau spesifikasi yang
ditetapkan (Depkes, 2007). Pemesanan dapat dilakukan sesuai
dengan kurun waktu tertentu(harian, mingguan, atau bulanan).
b) Tujuan
Tersedianya daftar pesanan bahan makanansesuai menu , waktu
pemesana, standar porsi bahan makanan dan spesifikasi yang
ditetapkan
c) Prasyarat
1) Adanya kebijakan instansi (rumah sakit) tentang prosedur
pengadaan bahan makanan
2) Tersedianya dana untuk bahan makanan
3) Adanya spesifikasi bahan makanan

7
4) Adanya menu dan jumlah bahan makananyang dibutuhkan
selama periode tertentu (1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun)
5) Adanya pesanan bahan makanan untuk periode menu
c) Langkah langkah pemesanan bahan makanan
1) Menentukan frekuensi pemesanan bahan makanan segar dan
kering
2) Rekapitulasi kebutuhan bahan makanan dengan cara
mengalikan standar porsi dengan jumlah konsumen/pasien kali
kurun waktu pemesanan.
a) Ketentuan cara pemesanan bahan makanan
Dalam melaksanakan pemesanan bahan makanan mempunyai
ketentuan sebagai berikut :
1) Pemesanan harus sesuai dengan jumlah, macam,
spesifikasi bahan makanan yang tertera dalam SPJB (Surat
Perjanjian Jual Beli).
2) Pemesan bahan makanan dengan frekwensi yang
ditetapkan
3) Mempertimbangkan harga dan kualitas.
4) Penerimaan disetujui setelah diadakan pemeriksaan.
5) Dibuat berdasarkan menu dan jumlah klien saat ini.
6) Pesanan dalam jumlah berat / butir / buah.
7) Mengetahui sumber, kondisi dan sanitasi bahan makanan.
8) Pada akhir pesanan akan tercapai jumlah dana yang
disepakati.
9) Melakukan pencatatan secara rinci.
10) Meneliti order sebelum dikirim
b) Jenis pemesanan bahan makanan institusi
Sistem penyelenggaraanmakanan di institusi dilakukan secara
swakelola. Secara garis besar, pemesanan makanan / bahan
makanan di Institusi dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
1) Pemesanan bahan makanan basah

8
Kegiatan pemesanan bahan makanan khususnya bahan
makanan segar dilakukan setiap hari (harian) dimana
bahan makanan yang dipesan hari ini merupakan bahan
makanan yang akan digunakan untuk pengolahan menu
siang dan sore hari berikutnya serta menu makan pagi dua
hari berikutnya. Misalnya pemesanan yang dibuat pada
tanggal 14 Januari 2015 digunakan untuk menu siang dan
sore tanggal 15 Januari 2015 serta untuk makan pagi
tanggal 16 Januari 2015, kecuali sayur. Berdasarkan
contoh tersebut, data yang digunakan sebagai acuan
pemesanan adalah data diet pasien pada tanggal 14 Januari
2015.
2) Pemesanan bahan makanan kering
Bahan makanan kering adalah bahan makanan yang dapat
disimpan dalam waktu yang lebih lama sehingga
memungkinkan adanya cadangan dalam gudang. Contoh
bahan makanan yang masuk dalam kelompok ini adalah
teh, susu, bumbu-bumbu kering, beras, dan garam. Bahan
makanan kering datang setiap 2-3 hari sekali atau rata-rata
seminggu sekali. Ada sedikit perbedaan dalam proses
pemesanan bahan makanan kering dan bahan makanan
basah, yaitu pemesanan bahan makanan kering dilakukan
dua kali dalam seminggu. Dalam melakukan pemesanan
bahan makanan kering, terlebih dahulu dilihat stok gudang
sebagai pertimbangan dalam pemesanan bahan makanan
tersebut.Penyimpanan bahan makanan kering tidak
dilakukan dalam jumlah yang besar sehingga
pemesanannya dilakukan dua kali dalam satu minggu. Hal
ini dikarenakan gudang tempat penyimpanan bahan
makanan kecil ruangannya kecil.

9
1.2.2 Pembelian Bahan Makanan
a) Pengertian
Pembelian bahan makanan merupakan serangkaian
kegiatan penyediaan macam, jumlah, spesifikasi, bahan makanan
untuk memenuhi kebutuhan konsumen/pasien sesuai
ketentuan/kebijakan yang berlaku.Pembelian bahan makanan
merupakan prosedur penting untuk memproleh bahan makanan,
biasanya terkait dengan produk yang benar, jumlah yang tepat,
waktu yang tepat dan harga yang benar.
Menurut Sofjan Assauri (2008,p.223) Pembelian
merupakan salah satu fungsi yang penting dalam berhasilnya
operasi suatu perusahaan. Fungsi ini dibebani tanggung jawab
untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas bahan-bahan yang
tersedia pada waktu dibutuhkan dengan harga yang sesuai dengan
harga yang berlaku. Pengawasan perlu dilakukan terhadap
pelaksanaan fungsi ini, karena pembelian menyangkut investasi
dana dalam persediaan dan kelancaran arus bahan ke dalam
pabrik.
Pada proses pembelian bahan makanan termaksud semua
kegiatan transaksi bahan makanan mentah sampai ke konsumen
harus melalui semua ketetapan yang berlaku. Pembelian bahan
makanan merupakan prosedur ppenting untuk memperoleh bahan
makanan, biasanya terkait dengan produk yang benar, jumlah
yang tepat, waktu yang tepat, dan harga yang benar. Untuk rumah
sakit kelas pemerintah, berlaku ketentuan pemerintah yang
mengatur dan menetapkan bahwa ppembelian bahan makanan
dilakukan secara kontrak berdasarkan pelelangan.
b) Prosedur pembelian
Dalam suatu institusi diperlukan yang namanya prosedur
pembelian yaitu sebagai berikut:
1. Tanda terima dan analisis Daftar Permintaan Pembelian
(Purchase Requisition –PR)

10
2. Pemilihan sumber persediaan yang potensial
3. Pengajuan Permintaan Penawaran Harga
4. Pemilihan Sumber yang Tepat
5. Penetapan Harga yang Tepat
6. Pengeluaran Pesanan Pembelian ( Purchase Order – PO )
7. Analisis LaporanPenerimaan dan Persetujuan Faktur Penjaja
/ Vendor bagi pembayaran
c) Prinsip dalam pembelian bahan makanan
Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2009) prinsip adalah
hal pokok yang dijadikan pedoman dalam melakukan sesuatu,
oleh karena itu, yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pembelian
adalah hal-hal pokok dalam pelaksanaan fungsi pembelian yang
perlu dijadikan pedoman atau acuan. Fungsi pembelian diadakan
untuk melayani atau menunjang organisasi lain tersebut. Oleh
karena itu, prinsip-prinsip kerjanya harus sedemikian rupa
sehingga juga berorientasi pada aktivitas penunjang seperti yang
ditugaskan tersebut dan prinsip kerja dari fungsi pembelian harus
diatur supaya mampu memberikan kontribusi yang besar bagi
keberhasilan perusahaan.
Prinsip dari purchasing yaitu:
1. The Right Price
The right price merupakan nilai suatu barang yang
dinyatakan dalam mata uang yang layak atau yang umum
berlaku pada saat dan kondisi pembelian dilakukan.
2. The Right Quantity
Jumlah yang tepat dapat dikatakan sebagai suatu jumlah
yang benar-benar diperlukan oleh suatu perusahaan atau
perhotelan pada saat tertentu.
3. The Right Time
The right time menyangkut pengertian bahwa barang
tersedia setiap kali diperlukan.Dalam hal ini persediaan

11
barang haruslah diperhitungkan karena jika ada persediaan
barang tentunya ada biaya perawatan barang tersebut.
4. The Right Place
The right place mengandung pengertian bahwa barang
yang dibeli dikirimkan atau diserahkan pada tempat yang
dikehendaki oleh pembeli.
5. The Right Quality
The right quality adalah mutu barang yang diperlukan oleh
suatu institusi sesuai dengan ketentuan yang sudah
dirancang yang paling menguntungkan institusi.
d) Cara atau System pembelian bahan makanan
1. Pembelian langsung ke pasar (the open market of buying)
Pembelian ini digolongkan sebagai pembelian
setengah resmi, karena banyak hal-hal yang merupakan
kesepakatan antara pembeli dan penjual, yang tidak dapat
dikendalikan secara pasti. Pembelian bahan makanan
secara langsung ke pasar biasanya dilakukan di institusi
makanan yang melayani konsumen sedikit sekitar 50
orang, sehingga penyediaan bahan makanan masih dapat
dibatasi dengan cara pembelian langsung. Metode macam
ini melalui prosedur yang sederhana.Pesanan dapat
dilkukan melalui telepon, datang langsung ke pasar atau
berdasarkan perjanjian antara pembeli dan penjual.Metode
pembelian ini diharapkan mengikuti prosedur administrasi
keuangan yang berlaku, harus ada bon pesanan,
penerimaan dan pencatatan.
2. Pembelian dengan musyawarah (the negotlated of buying)
Cara pembelian ini termasuk pembelian setengah
resmi pembelian ini hanya dilakukan untuk bahan
makanan yang hanya tersedia pada waktu-waktu
tertentu, jumlahnya terbatas dan merupakan bahan
makanan yang dibutuhkan klien.

12
3. Pembelian yang akan datang (future contract)
Pembelian ini dirancang untuk bahan makanan yang
telah terjamin pasti, terpecaya mutu, keadaan dan
harganya karena produk bahan makanan yang dibatasi,
maka pembeli berjanji membeli bahan makanan tersebut
dengan kesepakatan harga saat ini tetapi bahan makanan
dipesan sesuai dengan waktu dan kebutuhan pembeli dan
institusi.
4. Pembelian tanpa tanda tangan (unsigned contract/auction)
a. Firm at the opening of price (FAOP)
Dimana pembeli memesan bahan makanan pada saat
dibutuhkan , harga disesuaikan pada saat transaksi
berlangsung.
b. Subject approval of price (SAOP)
Dimana pembeli memesan bahan makanan pada saat
dibutuhkan, harga sesuai dengan yang ditetapkan
terdahulu.
5. Pembelian melalui pelelangan ( the formal competitive)
Pembelian bahan makanan dengan pelelangan
adalah Cara pembelian semi resmi semacam ini yaitu
mengikuti prosedur pembelian yang telah disebarkan
dalam keppres No. 29-30 Tahun 1984 dan No.8 Tahun
1986 serta peraturan yang ditetapkan pemerintah daerah
ataupun penanggung jawab tertentu.

13
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini dinarasikan secara deskriptif karena penelitian hanya
ingin mengetahui dan mempelajari tentang penyelanggaraan makanan yang
ditinjau dari pengadaan atau pembelian bahan makanan di Rumah Sakit
Umum Daerah Ulin Banjarmasin.

B. Tempat dan Waktu


Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin, pada
hari Rabu, 10 April 2019.

C. Subjek Penelitian
Kegiatan penyelenggaraan makanan yang ditinjau dari proses
pengadaan atau pembelian bahan makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit
Umum Daerah Ulin.

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data


1. Jenis Data
Dalam proses pengadaan atau pembelian bahan makanan terdapat data
sebagai berikut :
a). Data Primer
Kegiatan penyediaan macam, jumlah, spesifikasi, bahan makanan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen/pasien sesuai ketentuan/kebijakan yang
berlaku. Termasuk produk yang benar, jumlah yang tepat, waktu yang
tepat dan harga yang benar.

14
b). Data Sekunder
Data yang diperoleh dari laporan tahunan Rumah Sakit
Umum Daerah Ulin dan laporan tahunan instalasi gizi meliputi :
1) Gambar organisasi instalasi
2) Gambaran umum Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Ulin
3) Struktur organisasi instalasi gizi, keterangan yang meliputi jumlah
dan tingkat pendidikannya.
4) Informasi cv atau perusahaan rekanan yang menyediakan bahan
makanan.

2. Cara Pengumpulan Data


a) Data Primer
Data mengenai kegiatan penyelanggaraan makanan ditinjau
dari segi pengadaan atau pembelian bahan makanan dengan cara
observasi dan wawancara yang menggunakan formulir check list.
b) Data Sekunder
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan
melihat laporan tahunan Rumah Sakit Umum Daerah Ulin dan
laporan tahunan di instalasi gizi rumah sakit.

3. Pengelolaan Data
a) Data Primer
Dilakukan dengan cara pengamatan langsung menggunakan
check list kemudian dibandingkan dengan pedoman PGRS (2013)
dan dianalisis secara deskriptif.
b) Data Sekunder
Data tentang gambaran secara umum rumah sakit dan gambaran
umum Rumah Sakit Umum Daerah Ulin yang didapat penelitian
dengan melihat hasil laporan tahunan rumah sakit dan instalasi gizi
Rumah Sakit Umum Daerah Ulin yang dinarasikan secara
deskriptif.

15
DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi Keracunan Makanan. Jakarta : EGC

Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber


Daya Manusia Kesehehatan di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota serta
Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Workload Indicators of Staffing
Need (WISN) Toolkit. [Internet] diakses dari
http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/sekretariat/wisn-toolkit pada 4
Juni 2014
Depkes, RI. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit. Jakarta:
Depkes RI
Depkes RI. 2013. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI
Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar Depkes RI. 2007. Pedoman
Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit.

Hariandja, Marihot T.E., & Hardiwati, Yovita. 2007. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakarta : Grasindo

Irawan, Hadi, 2006. Prinsip Kepuasan Pelanggan. Elex Media Komputindo:


Jakarta.
Istijanto. 2010. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta : Gramedia

Moehyi, S. 1992. Penyelenggaraan Makanan Institusi. New York: Mac.


MillanPublishing

Mudjajanto, E.S.1999. Keamanan Pangan. Pelatihan dan Pengembangan


Teknologi dan Keamanan Makanan Kudapan. Bogor : Jurusan GMSK
Fakultas Pertanian IPB dan Ditjen Dikdasmen Depdiknas

16
Muwarni. 2001. Penentuan Sisa Makanan Pada Pasien Rawat Inap dengan
Metode Taksiran Visual Comstock pada Pasien Rawat Inap Dewasa di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Thesis. Universitas Gadjah Mada
Oktrizanita, D. 2005. Evaluasi Penyelenggaraan Makanan di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Sumatera Utara Tahun 2005. Skripsi. Medan: Fakultas Kesehatan
Masyarakat – USU.

Profil Umum RSUD Ulin Banjarmasin

http://rsulin.kalselprov.go.id/profil.html (diakses pada 05 Maret 2019)

17