Anda di halaman 1dari 37

BAGIAN

PENDEKATAN, METODOLOGI
DAN PROGRAM KERJA

E
Pada bagian ini menguraikan tentang pendekatan teknis dan metodologi yang akan
akan digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran. Selain itu juga menguraikan
tentang program kerja terkait dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan yang
disusun secara sistematis dan terarah guna mencapai tujuan dan sasaran. Serta
juga akan menguraikan tentang organisasi serta personil yang akan terlibat dalam
pelaksanaan pekerjaan baik tenaga inti maupun tenaga pendukung.

E.1 PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI


1) U M U M
Pembangunan nasional untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana

dimuat di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada hakekatnya adalah

pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh

masyarakat Indonesia yang menekankan pada keseimbangan pembangunan,

kemakmuran lahiriah dan kepuasan batiniah, dalam suatu masyarakat Indonesia

yang maju dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila.

Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai

peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan

produktivitas, dan jati diri manusia. Oleh karena itu, penyelenggaraan bangunan

gedung perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan

serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan bangunan gedung

yang fungsional, andal, berjati diri, serta seimbang, serasi, dan selaras dengan

lingkungannya.

Bangunan gedung merupakan salah satu wujud fisik pemanfaatan ruang. Oleh

karena itu dalam pengaturan bangunan gedung tetap mengacu pada pengaturan

penataan ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-1


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan

bangunan gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan

administratif dan teknis bangunan gedung, serta harus diselenggarakan secara

tertib.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mengatur

fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan

bangunan gedung, termasuk hak dan kewajiban pemilik dan pengguna bangunan

gedung pada setiap tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan

tentang peran masyarakat dan pembinaan oleh pemerintah, sanksi, ketentuan

peralihan, dan ketentuan penutup.

Keseluruhan maksud dan tujuan pengaturan tersebut dilandasi oleh asas

kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung

dengan lingkungannya, bagi kepentingan masyarakat yang berperikemanusiaan

dan berkeadilan.

Masyarakat diupayakan untuk terlibat dan berperan secara aktif bukan hanya

dalam rangka pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung untuk

kepentingan mereka sendiri, tetapi juga dalam meningkatkan pemenuhan

persyaratan bangunan gedung dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung

pada umumnya.

Perwujudan bangunan gedung juga tidak terlepas dari peran penyedia jasa

konstruksi berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang jasa

konstruksi baik sebagai perencana, pelaksana, pengawas atau manajemen

konstruksi maupun jasa-jasa pengembangannya, termasuk penyedia jasa

pengkaji teknis bangunan gedung. Oleh karena itu, pengaturan bangunan gedung

ini juga harus berjalan seiring dengan pengaturan jasa konstruksi sesuai

dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan diberlakukannya undang-undang ini, maka semua penyelenggaraan

bangunan gedung baik pembangunan maupun pemanfaatan, yang dilakukan di

wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah, swasta,

PT. KENCANA ADHI KARMA E-2


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

masyarakat, serta oleh pihak asing, wajib mematuhi seluruh ketentuan yang

tercantum dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan

Gedung.

Dalam menghadapi dan menyikapi kemajuan teknologi, baik informasi maupun

arsitektur dan rekayasa, perlu adanya penerapan yang seimbang dengan tetap

mempertimbangkan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat dan

karakteristik arsitektur dan lingkungan yang telah ada, khususnya nilai-nilai

kontekstual, tradisional, spesifik, dan bersejarah.

Pengaturan dalam undang-undang ini juga memberikan ketentuan pertimbangan

kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia yang sangat

beragam. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah terus mendorong,

memberdayakan dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat

memenuhi ketentuan dalam undang-undang ini secara bertahap sehingga

jaminan keamanan, keselamatan, dan kesehatan masyarakat dalam

menyelenggarakan bangunan gedung dan lingkungannya dapat dinikmati oleh

semua pihak secara adil dan dijiwai semangat kemanusiaan, kebersamaan, dan

saling membantu, serta dijiwai dengan pelaksanaan tata pemerintahan yang

baik.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 ini mengatur hal-hal yang bersifat

pokok dan normatif, sedangkan ketentuan pelaksanaannya akan diatur lebih

lanjut dengan Peraturan Pemerintah dan/atau peraturan perundang-undangan

lainnya, termasuk Peraturan Daerah, dengan tetap mempertimbangkan

ketentuan dalam undang-undang lain yang terkait dalam pelaksanaan undang-

undang ini.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-3


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

2) PENDEKATAN
A. PERSYARATAN UMUM KEANDALAN BANGUNAN

Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di

dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur

(Bangunan non teknis / non engineering structures). Sedangkan yang

dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses

pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis

/engineering structures).

a) Persyaratan Perencanaan Struktur

1. Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga

memenuhi persyaratan keamanan (safety), kelayanan

(serviceability), keawetan (durability) dan ketahanan terhadap

kebakaran (fire resistance).

2. Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan

sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum

yang direncanakan benar-benar tercapai, keruntuhan yang terjadi

menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan

penghuni, harta benda dan masih dapat diperbaiki. Untuk itu

struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus

direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai

untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan.

3. Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua

beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun

waktu umur layan struktur, termasuk kombinasi pembebanan yang

kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai

dengan zona gempanya), dan beban-beban lainnya yang secara logis

dapat terjadi pada struktur

PT. KENCANA ADHI KARMA E-4


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

b) Persyaratan Bahan

1. Bahan struktur yang digunakan, diusahakan semaksimal mungkin

menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan

kandungan lokal.

2. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua

persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap lingkungan

dan pengguna bangunan, serta sesuai standar teknis (SNI) yang

terkait.

3. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI,

maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan

teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan.

4. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan

melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga

pengetesan yang berwenang.

5. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus diproses

sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang

dimaksud.

6. Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem

hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-

bahan yang dihubungkan, serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya

yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-

gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur.

B. PERSYARATAN DETAIL STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG DAN

RUMAH TAHAN GEMPA

a). Persyaratan Lay-Out Bangunan

1. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama

terjadinya suatu gempa, lay-out bangunan diusahakan sejauh

memungkinkan agar sederhana dan simetris. Ketidakteraturan

PT. KENCANA ADHI KARMA E-5


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya

loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang

berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari.

2. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali

untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi

secara baik sesudah terjadinya suatu gempa, misalnya rumah sakit,

pusat penyelamatan keadaan darurat, pusat pembangkit tenaga,

pusat pemadam kebakaran, bangunan air minum, fasilitas radio dan

televisi dan bangunan sejenis lainnya.

3. Untuk bangunan yang tidak beraturan, pengaruh gempa terhadapnya

harus dianalisa secara dinamik. Kemungkinan terjadinya efek puntir

pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya

geser tambahan pada unsur unsur vertikal akibat gempa harus

diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut.

4. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang

tsunami setelah suatu gempa terjadi, lay-out bangunan harus dibuat

sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan

sangat minimal. Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang

diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan

gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang

tsunami.

b). Persyaratan Pendetailan Struktur

1. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan

apabila suatu gempa terjadi, maka struktur BG dan RT dan semua

elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian

rupa, sehingga berperilaku daktail.

2. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan

pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian

PT. KENCANA ADHI KARMA E-6


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

rupa, sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail.

Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang

memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang

telah direncanakan benar-benar terjadi.

3. Semua bagian dari struktur harus diikat bersama, baik dalam bidang

vertikal maupun horisontal, sehingga gaya-gaya dari semua elemen

struktur, termasuk elemen struktur dan non-struktur, yang

diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur

pondasi.

4. Setiap unsur sekunder, arsitektur dan instalasi mesin dan listrik

harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat

penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang

memadai.

C. PERSYARATAN PEMBEBANAN

a). Analisa Struktur

Analisa Struktur harus dilakukan, yang bertujuan untuk memeriksa

tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama

umur layan struktur, termasuk beban tetap, beban sementara (angin,

gempa) dan beban khusus.

b). Standar Teknis

Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekejanya beban harus

sesuai dengan standar teknis yang berlaku, seperti

1. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung,

SNI 1726;

2. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung, SNI

1727.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-7


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

D. KONSTRUKSI STRUKTUR BANGUNAN ATAS

a). Konstruksi Beton

Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis

yang berlaku, seperti :

1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung,

SNI 2847;

2. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton

Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung, SNI-

3430.

3. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung, SNI-1728.

4. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang

untuk Rumah dan Gedung, SNI-1734.

5. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal, SNI-

2834.

6. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton, SNI-3976.

7. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan

Agregat Ringan, SNI-3449.

b). Konstruksi Baja

Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang

berlaku seperti :

1. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung, SNI-1729

2. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan

konstruksi baja

3. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja

4. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan

Konstruksi.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-8


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

c). Konstruksi Kayu

Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis

yang berlaku, seperti :

1. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung.

2. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan

konstruksi kayu.

3. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu.

4. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung, SNI-2407.4.

d). Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus

1. Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus

dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan

teknologi khusus tersebut.

2. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar

teknis padanan untuk spesifikasi teknis, tata cara, dan metoda uji

bahan dan teknologi khusus tersebut.

e). Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi

Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi,

standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan

yang harus dipenuhi, antara lain :

1. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan

Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung, SNI-1735.

2. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan

Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung, SNI-1736.

3. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya

Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung, SNI-1745.

4. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan

Rumah dan Gedung, SNI-1963.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-9


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

5. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di

Rumah Sakit, SNI-2395

6. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin, SNI-

239'7

7. Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan

Gedung, SNI-2404.

8. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung

dengan Termitisida, SNI-2405.

E. STRUKTUR BANGUNAN BAWAH

a). Perencanan Umum

 Definisi

(1) Jenis Pondasi :

a) Pondasi dangkal , jika D/B < 4 .

Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10

b) Pondasi semi dalam , jika 4 < D/B < 10

c) Pondasi dalam., jika D/B > 10

(2) Jenis Tanah :

a) Lempung (clay) : ∅ < 0.002 mm

b) Lanau (silt) : 0.002 mm < ∅ < 0.075mm

c) Pasir (sand) : 0.075 mm < ∅ < 2 mm

d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76.2 mm

Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil,

sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk

cohesionless soil.

Sumber : American Association of state Hihgway and

Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of

Technology (MIT)

PT. KENCANA ADHI KARMA E-10


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

(3) Zonifikasi Gempa :

- Zona Gempa 3, dengan perecepatan maksimum di batuan 0.15g

- Zona Gempa 4, dengan perecepatan maksimum di batuan 0.20g

- Zona Gempa 5, dengan perecepatan maksimum di batuan 0.25g

- Zona Gempa 6, dengan perecepatan maksimum di batuan 0.30g

Dimensi dan material pondasi tergantung pada :

(1) Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk

Gedung –PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan Ketahanan

Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002 )

(2) Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing

capacity. Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat

nasional dan/atau internasional

(3) Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar

dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal

dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) :

a) Pada tanah kohesif : D = 1.50 m dan B = 1 m, untuk medium ke

atas.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6),

kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan

terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah

dilakukan soil improvement.

b) Pada tanah non kohesif : D = 0.70 m dan B = 0.70 m

Persyaratan Pondasi

(1) Persyaratan penting pada pondasi dangkal :

a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton

sloof.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-11


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan

pemberian sejumlah anchor.

c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang

bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir

dibawah pondasi minimum 30 cm.

d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing

capacity dan kekuatan material pondasi.

(2) Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam :

a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and

compression pile.

b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal.

c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan

ketentuan yang berlaku. Khusus untuk pemancangan tiang

pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer

dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara.

Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation

settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur

bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada

disekitarnya. Differential settlement antar pondasi tidak boleh

terjadi. Bila tetap terjadi differential settlement maka besar

amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar

0,002 – 0,003 setengah bentang bangunan (s).

b). Penentuan Jenis Pondasi :

Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Gempa dan

Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi.

1) Tanah Berkohesi

a. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal

PT. KENCANA ADHI KARMA E-12


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

a) Zona Gempa 3 dan 4,

Jenis Pondasi : A.1.a. (Pondasi menerus batu kali)

A.2.a.( Pondasi setempat batu kali)

b) Zona Gempa 6

Jenis Pondasi : A.1.b ( Pondasi menerus beton )

A.2.b. (Pondasi setempat beton

b. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai

a) Zona Gempa 3 dan 4

Jenis Pondasi : B.1. Mikropile/minipile

B.2. (Tiang Bor Beton)

B.3. (Sumuran/ Caisson)

C.1.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel)

b) Zona Gempa 6

Jenis Pondasi : C.1.b (Tiang Pancang Beton)

C.2.a. (Tiang Bor Beton)

2) Tanah Tak Berkohesi

(1) Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal

a) Zona Gempa 3 dan 4

Jenis Pondasi : A.1.a. (Pondasi menerus batu kali)

A.2.a.( Pondasi setempat batu kali)

b) Zona Gempa 6

Jenis Pondasi : A.1 .b( Pondasi menerus beton )

A.2.b. (Pondasi setempat beton)

(2) Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai

a) Zona Gempa 3 dan 4

Jenis Pondasi: B.1. (Mikropile/minipile) atau

B.2.a. (Tiang Bor Beton)

b) Zona Gempa 5 dan 6

PT. KENCANA ADHI KARMA E-13


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Jenis Pondasi C.1.e. ( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton)

3) Batuan

(1) Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal

a) Zona Gempa 3 dan 4

Jenis Pondasi : A.1.a. (Pondasi menerus batu kali)

A.2.a.( Pondasi setempat batu kali)

b) Zona Gempa 6 , dengan percepatan maksimum di batuan

0,30g

Jenis Pondasi : A.1.b ( Pondasi menerus beton)

A.2.b. (Pondasi setempat beton)

(2) Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai

a) Zona Gempa 3 dan 4

Jenis Pondasi : C.1.a (Tiang Pancang Baja)

b) Zona Gempa 5 dan 6

Jenis Pondasi : C.1.d. (Tiang Pancang Pipa Baja)

C.2.b.(Tiang Baja/ Beton dipancang

pada lapisan batu yang sudah dibor

kemudian digrouting)

c). Metode Perbaikan Tanah

Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah. Metode perbaikan tanah

dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :

- Jenis Tanah

- Kualifikasi Kontraktor

- Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait

- Dampak Terhadap Lingkungan

- Biaya Relatif

PT. KENCANA ADHI KARMA E-14


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak

memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya.

1) Tanah Cohesive

Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah

cohesive (silt, clay) :

(1). Preloading dan surcharge.

(2). Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain.

(3). Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose.

(4). Stone Column, Cement column, Lime Column.

(5). Pembekuan air tanah (freezing).

(6). Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal.

(7). Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang

lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus

mengacu pada zona aktif. Untuk tanah swelling yang diganti

setebal zona kembang susut, untuk peat lapisan tanah yang

diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0.

(8). Metode lainnya yang sesuai, dengan tidak menutup kemungkinan

adanya metode yang lebih baru.

2) Tanah Non Cohesive

Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah

non cohesive (sand, gravel) :

(1) Preloading dan surcharge.

(2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose.

(3) Electro consolidation

(4) Stone Column

(5) Freezing.

(6) Dynamic Compaction.

(7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive).

PT. KENCANA ADHI KARMA E-15


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

(8) Metode pemadatan getar (vibroflotation)

(9) Displacement by explosives

(10)Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material

kedalam tanah (impregnation)

(11) Metode lainnya yang sesuai, dengan tidak menutup kemungkinan

adanya metode yang lebih baru.

3) Batuan

Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah

batuan :

(1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan

perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive. Ketebalan

shotcrete normalnya 2-3 in.

(2) Lean concrete atau slush grouting

a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi

permukaan batuan. Bahan untuk grouting adalah campuran

cemen dan pasir. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak

batuan.

b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean

concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan

kemiringan kurang dari 450.

(3) Plastic Sheeting.

Lembaran plastik seperti polyethylene, diletakkan di atas

permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke

dalam batuan. Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada

lereng dengan sudut kemiringan yang redah, dan tidak

diterapkan lereng yang curam.

(4) Bituminous Coating

PT. KENCANA ADHI KARMA E-16


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari

campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi. Bituminous

coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya

tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari.

(5) Resin Coating

Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan

pelindung untuk batuan, beton atau bangunn dari batu.

Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas

rendah jika disemprotkan pada permukaan. Membrane yang

terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan.

(6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock)

Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di

atas batuan.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts,

rock anchor rock tendon). Perkuatan batuan dapat mengurangi

pergerakan struktur atau translasi.

(7) Consolidation grouting

Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam

masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau

kekuatan geser. Consolidation grouting diterapkan pada masa

batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan

jumlah open joint yang dominan.

(8) Slope Geometry.

Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat

mengurangi gaya-gaya yang bekerja.

(9) Dewatering

a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat

mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng.

b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal

direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan

PT. KENCANA ADHI KARMA E-17


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa

batuan.

(10) Rock Anchor

(11) Perlindungan Terhadap Erosi

Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang

disebabkan proses pelapukan, caranya dengan shotcrete.

(12) Toe Berms

Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan

stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh.

(13) Metode lainnya yang sesuai, dengan tidak tutup kemungkinan

ada metode baru.

F. KEANDALAN STRUKTUR

Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun harus

mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur

dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur.

a). Keselamatan Struktur

1. Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur

tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri,

beban perilaku manusia, maupun beban yang diakibatkan perilaku

alam

2. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus

dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai

dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara

Pemeriksaan Keandalan Bangunan.

3. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan

sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung,

sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan

keselamatan struktur

PT. KENCANA ADHI KARMA E-18


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

4. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara

berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus dilakukan atau

didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Adanya

pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi)

dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam

analisa keandalan.

b). Keruntuhan Struktur

1. Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu

sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri, beban

yang didukungnya akibat perilaku manusia, dan atau beban yang

diakibatkan perilaku alam.

2. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang

didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara

teknis telah melebihi umur yang direncanakan, atau karena

dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai

akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya,

atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan, seperti

lingkungan yang korosif.

3. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat

diakibatkan oleh adanya kebakaran, gempa, maupun bencana lainnya.

4. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan,

pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala

sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku.

G. PEMERIKSAAN DAN PERKUATAN BANGUNAN SETELAH ADANYA

GEMPA

1. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih

berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi

PT. KENCANA ADHI KARMA E-19


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

materialnya, kondisinya, sambungan-sambungannya dan besarnya

pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul

bebannya. Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai,

maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive

testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih

akurat.

2. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton

bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman

teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat

gempa, Pd T-11-2004-C.

3. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur

BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada. Apabila hasil

evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT

yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri, beban

akibat perilaku manusia, dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam

(termasuk gempa), maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi

persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur.

4. Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan

bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada, tidak mencukupi untuk

memikul beban akibat berat sendiri, beban akibat perilaku manusia, dan

atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa), maka

perlu diadakan perkuatan struktur.

5. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan

elemenelemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-

elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan

meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang

disyaratkan

PT. KENCANA ADHI KARMA E-20


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

H. DEMOLISI STRUKTUR

a). Kriteria Demolisi

Demolisi struktur dilakukan apabila :

1) Struktur banguan sudah tidak andal, dan kerusakan struktur sudah

tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan

atau ekonomis, serta dapat membahayakan pengguna bangunan,

masyarakat dan lingkungan.

2) Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan, dan secara

teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

b). Prosedur dan Metoda Demolisi

1) Prosedur, metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi

persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk

mencegah kerusakan serta dampak lingkungan.

2) Penyusunan prosedur, metoda dan rencana demolisi struktur harus

dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang

sesuai.

I. ACUAN YANG DIPAKAI

1) Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa

No : Pd T-11-2004-C, Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini

digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan

beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami

kerusakan akibat gempa.

2) Perancangan komponen arsitektural, mekanikal dan elektrikal terhadap

beban gempa. No : Pd T-12-2004-C, Kategori : Pedoman Teknik

Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen

PT. KENCANA ADHI KARMA E-21


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

arsitektural, mekanikal, dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut

i. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat

mati total lantai yang dibebani;

ii. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat

mati total strukturnya. Untuk komponen sekunder yang beratnya

melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri, dan

tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini.

3) Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan

pasca kebakaran. No : Pd T-13-2004-C, Kategori : Pedoman Teknik.

Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan

sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami kerusakan ringan

hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami

kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa.

4) Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis

pasangan. No : Pd T-14-2004-C, Kategori : Pedoman Teknik. Petunjuk

teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak

bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau

pasangan.

5) Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : Pt-T-02-

2000-C, Kategori : Petunjuk Teknik. Tata cara ini merupakan salah

satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko

kerusakan.

6) Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat

Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C, Kategori : Petunjuk Teknik Tata

cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar

semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali.

7) Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung.

No : SNI 03-1726-2002, Kategori : SNI. Tata cara ini digunakan

PT. KENCANA ADHI KARMA E-22


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara

umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-

struktur bangunan rumah dan gedung

8) Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI

03-1727-1989, Kategori : SNI. Tata cara ini digunakan untuk memberikan

beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung, termasuk beban-beban

hidup untuk atap miring, gedung parkir bertingkat dan landasan

helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat

helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang

biasa dioperasikan. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk

perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa, yang

pemakaiannya optional, bukan keharusan, terlebih bila reduksi tersebut

membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau.

9) Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang

Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989, Kategori : SNI. Tata

cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai

bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan

tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku.

10) Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No :

SNI 03-2847-1992, Kategori : SNI.

11) Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton

Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-

3430-1994, Kategori : SNI.

12) Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-

1729-2002, Kategori : SNI.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-23


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

3) METODE PENANGANAN PEKERJAAN


Metode penanganan pekerjaan ini disusun guna mencapai hasil guna dan daya

guna yang optimal, menjabarkan metode keseluruhan aspek yang dibutuhkan

dalam menangani pekerjaan ini. Dalam penanganan pekerjaan, konsultan akan

mengacu pada tahap – tahap pekerjaan sebagai berikut :

a. Tahap Persiapan

 Menyusun program kerja, alokasi tenaga dan konsepsi pekerjaan

pengawasan

 Mengecek dan selanjutnya diteruskan kepada Pemilik Kegiatan untuk

disetujui, mengenai jadwal waktu pelaksanaan yang diajukan oleh

kontraktor pelaksana (Time Schedule, Bar Chart, dan S Curve serta

Network Planning).

b. Pekerjaan Teknis

 Melaksanakan pengawasan umum, pengawasan lapangan, koordinasi dan

inspeksi kegiatan-kegiatan rehabilitasi bangunan agar pelaksanaan

teknis maupun administratif teknis yang dilakukan dapat secara terus

menerus sampai dengan pekerjaan diserahkan untuk kedua kalinya.

 Mengawasi kebenaran ukuran, kualitas dan kuantitas dari bahan atau

komponen bangunan peralatan dan perlengkapan selama pekerjaan

pelaksanaan di lapangan atau ditempat kerja lain (work shop).

 Mengawasi kemajuan pelaksanaan dan mengambil tindakan yang tepat

dan cepat, agar batas waktu pelaksanaan sesuai dengan jadwal.

 Memberikan petunjuk, perintah, penambahan atau pengurangan

pekerjaan dan harus menyampaikan kepada Pemilik Kegiatan

 Memberikan petunjuk, perintah sejauh tidak mengenai pengurangan

dan penambahan biaya dan waktu serta tidak menyimpang dari kontrak

PT. KENCANA ADHI KARMA E-24


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

serta dalap langsung disampaikan kepada kontraktor pelaksana dengan

pemberitahuna kepada Pemilik Kegiatan.

 Memberikan bantuan dan petunjuk kepada kontraktor pelaksana dalam

mengusahakan perijinan sehubungan dengan pelaksanaan rehabilitasi

bangunan.

c. Konsultasi

 Melakukan konsultasi dengan Pemilik Kegiatan untuk membicarakan

masalah dan persoalan yang timbul selama masa rehabilitasi bangunan

berlangsung.

 Mengadakan rapat berkala sedikitnya dua kali dalam sebulan dengan

Pemilik Kegiatan, Perencana dan Kontraktor Pelaksana dengan tujuan

untuk membicarakan masalah dan persoalan yang timbul dalam

pelaksanaan. Untuk kemudian membuat risalah rapat dan mengirimkan

kepada semua pihak yang bersangkutan, serta sudah diterima paling

lambat 1 minggu kemudian.

d. Laporan

 Memberikan laporan dan nasehat kepada Pemilik Kegiatan, mengenai

volume prosentasi dan nilai bobot bagian atau seluruh pekerajan yang

telah dilaksanakan dan membandingkan dengan apa yang tercantum

dalam dokumen kontrak.

 Melaporkan kemajuan pekerjaan yang nyata dilaksanakan dan

dibandingkan dengan jadwal yang telah disetujui Pemilik Kegiatan.

 Melaporkan bahan-bahan bangunan yang dipakai, jumlah tenaga kerja

dan peralatan yang digunakan.

e. Dokumen

PT. KENCANA ADHI KARMA E-25


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

 Memeriksa gambar – gambar kerja tambahan yang dibuat oleh

kontraktor pelaksana, terutama yang mengakibatkan tambah atau

kurangnya pekerjaan dan juga perhitungan serta gambar konstruksi

yang dibuat oleh kontraktor pelaksana (shop drawings).

 Menerima dan menyiapkan Berita Acara sehubungan dengan

penyelesaian pekerjaan di lapangan serta untuk keperluan pembayaran

angsuran.

 Memeriksa dan menyiapkan daftar volume dan nilai pekerjaan, serta

penambahan atau pengurangan pekerjaan guna keperluan pembayaran.

 Mempersiapkan formulir laporan harian, mingguan dan bulanan, Berita

Acara Kemajuan Pekerjaan, penyerahan pertama dan kedua serta

formulir – formulir lainnya yang diperlukan untuk menyiapkan dokumen

rehabilitasi bangunan.

4) TUJUAN UTAMA PENGAWASAN


Tujuan utama layanan konsultansi pengawasan pekerjaan dilapangan adalah

untuk menjamin bahwa :

a. Seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan standar dan ketentuan yang

tercantum dalam dokumen kontrak.

b. Pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan didalam

program kerja dengan keterlambatan yang sekecil mungkin.

c. Biaya Konstruksi dapat dibuat minimum atau tidak melebihi dari perkiraan

biaya yang tercantum dalam kontrak.

Adalah tidak mudah untuk melaksanakan proyek sesuai dengan rencana dan

karena itu sangat diharapkan kemampuan konsultan baik secara teknis,

administrasi, serta kemampuan memangani segala kondisi dan permasalahan

yang ada dilapangan untuk solusi penanganannya.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-26


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

5) KEGIATAN UTAMA PENGAWASAN


Kegiatan – kegiatan layanan konsultasi akan segera dimulai setelah

diterbitkannya Surat Perintah Kerja atau Notice To Procced. Secara garis

besar kegiatan utama layanan konsultan supervisi terdiri dari :

 Tahapan pra-pelaksanaan, dimana konsultan akan melakukan pengkajian yang

dilakukan oleh kontraktor.

 Manajemen proyek, dimana konsultan melakukan pembahasan terhadap

rencana kerja kontraktor, mengadakan rapat pra- pelaksanaan dan

melakukan koordinasi anggota tim di lapangan.

 Pengawasan teknis, dimana konsultan melakukan pemeriksaan terhadap

gambar kerja yang dilakukan oleh kontraktor.

 Mengawasi pelaksanaan survey yang dilakukan oleh kontraktor, melakukan

pengawasan pekerjaan-pekerjaan kontraktor dan memberikan arahan-arahan

mengenai penggunaan dan pemeliharaan peralatan.

 Memberikan arahan dan melakukan pengawasan terhadap keselamatan kerja.

 Melakukan pengawasan pembiayaan pekerjaan termasuk tagihan yang

diajukan oleh kontraktor harus dikoreksi apakah sudah cocok dan sesuai

dengan apa yang dikerjakan dilapangan.

 Apabila pekerjaan telah mencapai 100%, konsultan bersama pihak proyek

akan melakukan pemeriksaan akhir pekerjaan kemudian membuat dokumen

akhir berupa berita acara pemeriksaan, memeriksa dan menyetujui As-Build

Drawing dan berita dan berita acara serah terima pekerjaan.

6) KATEGORI PENGAWASAN PEKERJAAN


Layanan jasa konsultansi pengawasan dalam Data Teknis ini dapat dibagi

kedalam dua katagori dasar, yaitu :

a. Administrasi Kontrak.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-27


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

b. Pengawas Teknis.

Metodologi di dalam Bab ini diajukan untuk tugas-tugas utama yang harus

dilaksanakan oleh konsultan. Tugas-tugas tersebut tidak boleh diartikan secara

sendiri-sendiri akan tetapi harus dilihat secara menyeluruh. Selatjutnya tugas-

tugas lain selama pelaksanaan pekerjaan akan dilaksanakan sesuai dengan

ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan yang ada.

a) Administrasi Kontrak.

Administrasi kontrak yang merupakan bagian penting dan integral dari

keseluruhan layanan konsultasi pengawasan, tidak secara langsung

berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan fisik akan tetapi langsung

berkaitan dengan masalah-masalah proses pekerjaan. Seperti misalnya

dalam hal tidakan yang harus diambil bekaitan dengan kontrak antara

pemilk kerja dengan kontraktor, dan perjanjian antara pemilik dengan

konsultan.

Beberapa hal yang akan menjadi perhatian konsultan dalam memberi

layanan jasa konsultan dalam hal ini administrasi kontrak adalah :

1. Surat Perintah Kerja.

Setelah kontrak ditandatangani, Engineer memberikan perintah kepada

kontraktor secara tertulis untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan

tanggal efektif mulai kerja yang telah ditetapkan sebelumnya oleh

pemberi tugas, tanggal ini adalah penting karena menyangkut masalah

saat dimulainya periode kontrak, periode mobilisasi dan program kerja.

2. Penyerahan Lapangan.

Penyerahan pekerjaan secara keseluruhan kepada kontraktor

sebagaimana setelah penandatanganan kontrak dan setelah penerbitan

Surat Perintah Kerja.

3. Hubungan Antara Pemilik Kerja/Kontraktor/Konsultan.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-28


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Kontrak pelaksanaan konstruksi adalah antara Pemimpin Proyek sebagai

Pemberi Tugas dan Kontraktor.

Konsultan Pengawas bukan merupakan bagian dari kontrak tersebut,

meskipun demikian konsultan mempunyai tugas tertentu dan spesifik

yang berhungan dengan pengawasan. Konsultan bertanggung jawab atas

semua aktifitas koresponden harian yang berkenaan dengan kontrak.

Sebagai tambahan atas prosedure formal di atas diusulkan adanya

pertemuan yang diselenggarakan secara reguler antara pemilik kerja,

konsultan dan kontraktor.

4. Program Kerja.

Keterlambatan yang muncul karena terlambatnyaerlambatan penyerahan

lapangan ndar yang tercantum dalam dokumen kontrak supaya

tidSebagaimana di atur dalam persyaratan kontrak (Conditions of

Contract).

Kontraktor harus menyerahkan terinci dan cara atau methode

pelaksanaannya. Ini didukung juga oleh jadwal sumber daya yang

menjelaskan tentang jenis dan jumlah peralatan yang dipergunakan,

jumlah personil yang meliputi pekerjaan manajemen enginering tenaga

terampil dan semi terampil, buruh dan lain sebagainya yang akan

dipekerjakan. Begitu pula jadwal untuk mengantisipasi pengiriman jangka

panjang dan akibat pengaruh cuaca.

5. Jaminan Pekerjaan.

Sebelum pekerjaan lapangan dimulai,konsultan akan mengkaji ulang

jaminan pekerjaan yang diusulkan kepada kontraktor.

Hal ini penting untuk melindungi pemilik kerja dari kerugian atau

Kerusakan dan untuk menghadapi claim dari ketiga unsur pelaksanaan

proyek terhadap kerusakan-kerusakan atau kecelakaan.

6. Pengkajian Ulang Terhadap Usulan-usulan Kontraktor.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-29


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Usulan yang diajukan oleh kontraktor baik berupa kerja maupun

gambar-gambar menganai pekerjaan sementara atau pekerjaan

permanen akan dievaluasi secara hati-hati oleh konsultan.Secara umum

kontraktor diberi keleluasaan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai

dengan sumber dan metode pelaksanaan kerja yang dipunyai. Akan

tetapi konsultan akan mengkaji usulan-usulan agar mengikuti standar-

standar yang tercantum dalam dokumen kontrak supaya tidak

menimbulkan kesulitan-kesulitan pada pemeliharaan janga panjang.

7. Perpanjangn Waktu.

Perpanjangan waktu diberikan setelah melalui pertimbangan teliti.

Alasan yang biasanya dicantumkan dalam dokumen kontrak adalah :

 Keterlambatan yang muncul disebabkan oleh keterlambatan

penyerahan lapangan kepada kontraktor.

 Keterlambatan yang muncul karena terlambatnya persetujuan

program kerja yang dibuat kontrktor akibat lamanya klarifikasi

terhadap gambar-gambar kerja atau data konstrusi.

 Kondisi fisik atau hambatan-hambatan artifisial yang tidak dapat

diperkirakan sebelumnya.

 Aktifitas kontraktor tertunda sementara, atau kuantitas pengganti

untuk pekerjaan tambah tidak dapat segera diperoleh.

 Pekerjaan-pekerjaan yang rusak atau kemajuan terlambat karena

faktor ekstern di luar kendali/kemampuan kontraktor.

8. Evaluasi Terhadap Claim Kontraktor.

Untuk keperluan evaluasi diperlukan catatan data kegiatan harian sejak

awal proyek. Catatan ini meliputi peralatan (plant) kontraktor, kegitan

pekerja, catatan pengiriman dan penerimaan material waktu datangnya

masing-masing peralatan ( plant ) dan sebagainya.

9. Penyerahan Awal / Sertifikat Penyelesaian Pekerjaan.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-30


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Berdasarkan kondisi kontrak, Kontraktor dapat meminta penyerahan

pekerjaan baik sebagian maupun keseluruhan pekerjaan yang telah

diselesaikan pada pemilik kerja. Untuk itu Konsultan akan menignspeksi

dan menyiapkan daftar pekerjaan yang belum diselesaikan.

Tambahan waktu untuk penyelesaian pekerjaan (setelah penyerahan

awal) yang direkomendasikan konsultan biasanya dipakai sebagai tanggal

penyelesaian kontrak, dan dimulai dari sini dihitung masa pemeliharaan.

b) Pengawasan Teknik

1. Tujuan Utama Layanan Pekerjaan.

 Menjamin agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi

standar dalam dokumen kontrak.

 Pekerjaan dapat diselesaikan dalam periode kontrak.

 Pelaksanaan pekerjaan tidak melampaui nilai kontrak.

Yang pertama dari tiga tujuan tersebut adalah di bawah pengendalian

langsung konsultan dan karena itu harus selalu diupayakan .

Dua yang terakhir akan sering tergantung pada hal-hal diluar

pengendalian, seperti misalnya kondisi fisik setempat yang tidak

diperkirakan sebelumnya yang dapat menyebabkan terlambatnya

kemajuan kerja dan atau tambahan biaya pelaksanaan.

Konsultan tersebut mempunyai tanggung jawab untuk mengurangi

kendala tersebut diatas dan bila mungkin meniadakannya.

2. Tujuan Tambahan Layanan Pekerjaan.

Meskipun bukan tujuan utama akan tetapi tambahan layanan pekerjaan

mempunyai tingkat kepentingan yang sama terhadap aspek layanan

pekerjaan pengawasan, yaitu untuk menjamin standar – standar

keselamatan di lapangan setiap saat, dan mengurangi sekecil mungkin

kecelakaan yang akan terjadi dalam pelaksanaan proyek.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-31


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

3. Aktifitas Lapangan

Aktifitas – aktifitas lapangan yang utama untuk dilaksanakan meliputi

sebagai berikut :

 Pengecekan Data Survey.

Data-data yang lain dibuat pada waktu perencanaan teknik harus di

cek bersama dengan Kontraktor, agar supaya ketepatan dan

kebenaran data – dapat secara resmi di konfirmasikan bersama

antara Konsultan dan Kontraktor.

 Pengecekan Data Topografi.

Semua evelasi tanah asli yang dipergunakan untuk perhitungan

kuantitas antara lain volumenya akan dicek oleh Konsultan dengan

Kontraktor.

 Instalasi Kontraktor.

Instalasi dan fasilitas kontraktor seperti peralatan lapangan ( plant

yard ), lapangan / gudang penyimpanan , area tempat bahan – bahan,

Kamp Pekerjaamn dan kontraktor harus diperiksan lebih dahulu agar

sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

 Prosedur

Prosedur untuk melaksanaan kerja, pangajuan serta persetujuan

terhadap pengajuan bagian pekerjaan harus diikuti sejak awal

mengikuti jalur hubungan kerja sebagaimana disebutkan di Sub Bab

sebelumnya.

 Gambar Kerja.

Konsultan akan memeriksa kontrak dan gambar kerja kontraktor

untuk meyakinkan bahwa perencanaan dapat dilaksanakan, efektif di

dalam pembiayaan ( Cost Effective ), dan akan mengeluarkan untuk

meyakinkan bahwa pekerjaan dapat dilaksanakan tanpa penundaan.

 Inspeksi Pekerjaan.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-32


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Konsultan akan berada di lapangan setiap saat pada saat kontrak

bekerja dan seluruh pelaksanaan aktifitas lapangan, terutama yang

harus memperoleh pengawasan khusus akan dilaksanakan di bawah

observasi langsung dari staf Konsultan.

 Kemajuan Pekerjaan.

Pertemuan yang akan diadakan secara mingguan akan dihadiri oleh

Kontraktor, Konsultan, dan bila mungkin oleh Pemilik Kerja, untuk

mengkaji ulang dan memecahkan kesulitan – kesulitan yang mungkin,

terutama berkaitan dengan pencapaian kemajuan aktual dilapangan

agar sesuai dengan jadwal program kerja yang telah disetujui.

 Laporan Kemajuan Pekerjaan.

Konsultan akan mempersiapkan untuk Pemberi Tugas Laporan Bulanan

meliputi :

1. Penjelasan rinci seluruh pekerjaan yang akan dilaksanakan selama

periode tersebut. Laporan ini biasanya di bagi kedalam bagian-

bagian sesuai dengan yang ada dalam Bill Of Quantitas.

2. Garis besar masalah-masalah yang ditemukan oleh Kontraktor atau

engineer, bersama – sama dengan cara penanganan yang timbul,

dan indikasi serta implikasi-implikasi ysng dapat terjadi terhadap

kemajuan kerja atau biaya pelaksanaan.

3. Hasil – hasil yang berhubungan dengan penempatan staf diproyek.

4. Bar Chart dibuat memperlihatkan jadwal kemajuan l periode yang

memperlihtkan jadwal kemajuan kerja, yang dibuat sejak tanggal

dimulainya Periode Laporan untuk seluruh komponen utama

Pekerjaan.

5. Ringkasan Hasil tes Laboraturium yang dilaksanakan selama

periode laporan.

6. Foto-foto kemajuan pekerjaan.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-33


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

7. Ringkasan claim dan antisipasi berkaitan dengan implikasi terhadap

keuangan.

8. Ringkasan variation orders dan pengaruhnya terhadap perkiraan

biaya akhir.

9. Pengukuran Lapangan.

Pengukuran lapangan adalah penting untuk dilakukan sejalan

dengan kemajuan kerja sehingga nilai pekerjaan untuk masing-

masing pembayaran dapat disertifikasi dengan lebih akurat oleh

Kontraktor dan Konsultan.

Seluruh Sertifikat sementara akan dicek secara rinci oleh

Konsultan segera setelah diserahkan oleh Kontraktor, Pengawas

Lapangan dan Direksi, kemudian disaerahkan kepada Pemimpin

Proyek untuk dibayar.

10. Laporan Akhir Pelaksanaan.

Laporan akhir pelaksanaan dari Konsultan, yang akan diserahkan

segera setalah sertifikat lengkap, akan mencakup secara lengkap

ringkasan seluruh aspek utama pekerjaan yang meliputi

pengawasan.

11. As-Built Drawing.

Konsultan akan memeriksa seluruh as built drawing yang dibuat

oleh Kontraktor berdasarkan data-data perubahan selama

pelaksanaan pekerjaan.

E.2 PROGRAM KERJA


1) Sistem Pelaksanaan Pekerjaan

Pelaksanaan kegiatan oleh konsultan harus dilakukan secara sistematik

mulai dari pengumpulan data yang relevan, analisis pemecahan masalah,

penyiapan konsep dan pengembangan. Selain itu juga konsultan diwajibkan

PT. KENCANA ADHI KARMA E-34


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

memberikan metode-metode pendekatan yang dipandang perlu dalam

pekerjaan “Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati Di Badan

Diklat Provinsi Bali”.

2) Rencana Kerja

Konsultan didalam Pengawasan suatu pekerjaan memiliki Rencana Kerja

yang akan diuraikan sebagai berikut :

a. Tahapan Persiapan

b. Tahapan Pelaksanaan

c. Tahapan Pelaporan

1. Tahapan Persiapan

Adapun tahapan persiapan dapat diuraikan sebagai berikut :

 Setelah dikeluarkan Surat Perintah Mulai Kerja ( SPMK ) dimana

Tim Konsultan akan melakukan koordinasi/konsultasi dengan pihak

Tim Teknis, Kepala Satuan Kerja dan Kontraktor Pelaksana, dengan

tujuan untuk menyamakan persepsi.

 Selanjutnya Konsultan yang didampingi oleh pihak Pemimpin

Kegiatan akan melakukan kunjungan ke lokasi kegiatan, hak ini

dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran umum

mengenai lokasi kegiatan, sehingga dapat disusun/dirumuskan

secara riil langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan.

2. Tahapan Pelaksanaan Pengawasan

Di dalam pelaksanaan tim konsultan akan bekerja secara optimal untuk

menghasilkan suatu hasil pekerjaan yang tepat waktu, mutu dan tepat

sasaran.

PT. KENCANA ADHI KARMA E-35


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

Untuk mecapai hal tersebut dalam pelaksanaan Perencanaan dan

pengawasan/Supervisi akan dikoordinir oleh ketua tim, dan juga

melibatkan Tim Teknis dari Pemimpin Kegiatan yang terkait dengan

Pekerjaan.

3. Tahapan Pelaporan

Pada saat kegiatan pengawasan maka Pengawas/Supervisi didalam

pengawasan akan membuat pelaporan yang akan dilaksanakan secara riil

sesuai dengan progres fisik pelaksanaan dilapangan dalam hal ini dibuat

Laporan Bulanan dan Laporan Akhir Pengawasan.

E.3 ORGANISASI DAN PERSONIL


Setelah tersusun metoda penanganan pekerjaan, maka perlu juga dibuatkan suatu

system dan susunan organisasi konsultan secara rinci. Hal ini dilakukan untuk

menjamin adanya kemudahan bagi pemberi tugas untuk melakukan monitoring dan

evaluasi terhadap hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh konsultan berdasarkan KAK

yang telah disepakati.

Organisasi pelaksanaan pekerjaan ini disusun untuk dapat mengendalikan dan

mengatur pelaksanaan pekerjaan agar diperoleh hasil yang optimal yaitu selesai tepat

waktu, hasil pekerjaan yang bermutu, efisien, tepat sasaran serta sesuai dengan

maksud dan tujuan pekerjaan.

Pada dasarnya fungsi organisasi pelaksanaan pekerjaan tidak hanya sekedar untuk

mengatur hubungan internal tenaga ahli konsultan, tetapi juga untuk mengatur

hubungan keluar antara konsultan dengan pihak pemilik pekerjaan dan instansi terkait

lainnya yang dibutuhkan dalam penyelesaian pekerjaan. Organisasi pekerjaan ini dibuat

dalam bentuk Struktur Organisasi Pekerjaan yang mengacu kepada kebutuhan,

ketersediaan personil, kualifikasi dan penugasan personil sesuai arahan Kerangka

Acuan Kerja yang dapat dilihat pada gambar berikut ini :

PT. KENCANA ADHI KARMA E-36


Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Gedung Mess Melati U s u l a n T e k n i s
Di Badan Diklat Provinsi Bali

PT. KENCANA ADHI KARMA E-37