Anda di halaman 1dari 4

Contoh Duplik (Pidana)

“UNTUK KEADILAN”

DUPLIK

TANGGAPAN PENASIHAT HUKUM ATAS REPLIK JAKSA PENUNTUT UMUM

Majelis Hakim yang terhormat,

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Sebelumnya kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa Deni Sapto mengucapkan terima kasih kepada
semua yang hadir di persidangan ini, terutama pada Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini, karena
kami masih diberi kesempatan untuk mengajukan tanggapan atas Replik Jaksa Penuntut Umum.

Dengan tanggapan atas tanggapan ini, kami sama sekali tidak bermaksud memperlambat atau
mempersulit jalannya persidangan, namun kesempatan yang disediakan oleh prosedur Hukum Acara
Pidana ini kami tujukan semata-mata untuk mencari kebenaran sejati untuk menegakkan hukum dan
keadilan dalam perkara ini.

Bahwa setelah mempelajari point-point replik dari Jaksa Penuntut Umum, maka berikut ini kami akan
memberikan tanggapan point demi point sebagai berikut:

a. Bahwa Tim Penasihat Hukum tidak sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum berkaitan dengan
pembuktian fakta-fakta di persidangan atas dasar pertimbangan sebagai berikut:

- Bahwa meskipun saksi FERDI melihat terdakwa menyeret paksa korban ke TKP namun hal
tersebut tidak saja dapat dikatakan bahwa terdakwa benar-benar telah melakukan
pembunuhan dengan atas kemauannya sendiri. Terdakwa menusuk korban Simalama
sehingga menyebabkan korban meninggal adalah karena terdakwa membela diri atas
serangan yang terlebih dahulu mengancam terdakwa maka terdakwa melakukan pembelaan
diri.

- Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi dan visum et repertum, tidak dijelaskan bagian tubuh
mana yang terkena tusukan. Tidak dijelaskan secara jelas dan rinci apakah penusukan terjadi
di sekitar dada atau di perut.
b. Kami memang mengakui bahwa terdakwa pernahberteriak“Keluar kau Bonet, ayahmu sudah
kubunuh” di depan rumah korban Simalama. Namun hal tersebutdilakukan terdakwa karena
masih terbawa emosi yang meluap-luap atas kejadian sebelumnya dimana diri terdakwa dalam
keadaan terancam saatmenghadapi korban Simalama yang pada saat itu menyerang secara
membabi buta dengan menggunakan goloknya. Akibat kejadian tersebut maka terdakwa
mengalami keguncangan emosi yang meluap-luap sehingga berteriak-teriak di luar kendalinya.

c. Berdasarkan pada kedua tanggapan yang telah diuraikan di atas, maka persoalan apakah
terdakwa telah melakukan tindak pidana dengan sengaja membunuh, menganiaya, atau khilaf
adalah menjadi tidak relevan.

Majelis Hakim yang terhormat,

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Berkaitan dengan hal tersebut, kami tetap berkesimpulan bahwa dakwaan berdasarkan pasal
340 KUHPidana jo pasal 55 (1) ke-1 KUHPidana tidak dapat dibuktikan pada diri terdakwa, sehingga
menurut hemat kami, terdakwa hanya dapat dipersalahkan dengan dakwaan pasal 340KUHPidana jo
pasal 56 ke-1. Sekalipun tidak ada alasan pemaaf dan pembenar bagi terdakwa, namun kami
memandang bahwa sesuai dengan kondisi yang menyertai terdakwa, maka terdakwa harus
dihindarkan dari penjatuhan sanksi pidana sebagaimana yang telah disebutkan.

Bahwa dengan demikian maka kami menyatakan tetap pada pembelaan sebagaimana telah kami
bacakan pada sidang tanggal 6 April 2012.

Akhirnya pertimbangan selanjutnya kami serahkan sepenuhnya kepada Majelis Hakim yang
memeriksadan mengadili perkara ini dan harapan kami adalah terwujudnya hukum pidana yang adil
dan manusiawidalam perkara ini.

Subang, 22 April 2011

Hormat Kami,

Tim Penasihat Hukum Terdakwa,

1. Wildi Mulyawan, SH, MH.

2. Dina Berliana Mustika, SH.


3. Robby Nugraha, SH.

WILDI MULYAWAN & ASSOCIATES”


S.K. Menteri Kehakiman No.A.2423-KP.05.12-98
Office: Bumi Abdi Praja Gang VB No.123, Subang – 41251 INDONESIA
Phone: (0260) 418999
“UNTUK KEADILAN”
DUPLIK
——————
TANGGAPAN PENASIHAT HUKUM
ATAS REPLIK JAKSA PENUNTUT UMUM

Majelis Hakim yang terhormat,


Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Sebelumnya kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa Seniman mengucapkan terima kasih kepada
semua yang hadir di persidangan ini, terutama pada Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini,
karena kami masih diberi kesempatan untuk mengajukan tanggapan atas Replik Jaksa Penuntut
Umum. Dengan tanggapan atas tanggapan ini, kami sama sekali tidak bermaksud memperlambat
atau mempersulit jalannya persidangan, namun kesempatan yang disediakan oleh prosedur Hukum
Acara Pidana ini kami tujukan semata-mata untuk mencari kebenran sejati untuk menegakkan hukum
dan keadilan dalam perkara ini.
Bahwa setelah mempelajari point-point replik dari Jaksa Penuntut Umum, maka berikut ini kami akan
memberikan tanggapan point demi point sebagai berikut:
a. Bahwa Tim Penasihat Hukum tidak sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum berkaitan dengan
pembuktian fakta-fakta di persidangan atas dasar pertimbangan sebagai berikut:
– Bahwa meskipun saksi Wariah dan Sijumpa mendengar terdakwa berteriak “Keluar kau Bonet,
ayahmu sudah kubunuh” namun hal tersebut tidak saja dapat dikatakan bahwa terdakwa benar-benar
telah melakukan pembunuhan dengan cara disengaja. Terdakwa menusuk korban Simalama
sehingga menyebabkan korban meninggal adalah karena terdakwa membela diri atas serangan yang
terlebih dahulu mengancam terdakwa maka terdakwa melakukan pembelaan diri.
– Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi dan visum et repertum, tidak dijelaskan bagian tubuh mana
yang terkena tusukan. Tidak dijelaskan secara jelas dan rinci apakah penusukan terjadi di sekitar
dada atau di perut.
– Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di tempat kejadian perkara dan sesuai keterangan para saksi,
tidak jelas dikatakan pemukulan yang dilakukan terdakwa dilakukan di bagian tubuh yang mana.
– Pada saat terdakwa telah menusuk korban Simalama, korban memang tidak mengetahui apakah
korban meninggal atau tidak. Setelah dipastikan bahwa korban meninggal, terdakwa baru menyadari
perbuatannya dan menyerahkan diri ke kantor polisi karena menyesal atas perbuatannya. Selama
diinterogasi dengan polisi pun, terdakwa sangat kooperatif dan tidak berbuat yang macam-macam.
b. Kami memang mengakui bahwa terdakwa pernah berteriak
“Keluar kau Bonet, ayahmu sudah kubunuh” di depan rumah korban Simalama. Namun hal tersebut
dilakukan terdakwa karena masih terbawa emosi yang meluap-luap atas kejadian sebelumnya
dimana diri terdakwa dalam keadaan terancam saat menghadapi korban Simalama yang pada saat
itu menyerang secara membabi buta dengan menggunakan goloknya. Akibat kejadian tersebut maka
terdakwa mengalami keguncangan emosi yang meluap-luap sehingga berteriak-teriak di luar
kendalinya.
c. Berdasarkan pada kedua tanggapan yang telah diuraikan di atas, maka persoalan apakah
terdakwa telah melakukan tindak pidana dengan sengaja membunuh, menganiaya, atau khilaf adalah
menjadi tidak relevan.

REPORT THIS AD

Majelis Hakim yang terhormat,


Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,
Berkaitan dengan hal tersebut, kami tetap berkesimpulan bahwa dakwaan primer Pasal 338 KUHP,
dakwaan subsider Pasal 351 ayat (3) KUHP, dan dakwaan lebih subsider Pasal 359 KUHP tidak
dapat dibuktikan pada diri terdakwa, sehingga menurut hemat kami, terdakwa hanya dapat
dipersalahkan dengan dakwaan Pasal 49 ayat (1). Sekalipun tidak ada alasan pemaaf dan pembenar
bagi terdakwa, namun kami memandang bahwa sesuai dengan kondisi yang menyertai terdakwa,
maka terdakwa harus dihindarkan dari penjatuhan sanksi pidana sebagaimana yang telah
disebutkan.

Bahwa dengan demikian maka kami menyatakan tetap pada pembelaan sebagaimana telah kami
bacakan pada sidang tanggal 6 April 2012.

Akhirnya pertimbangan selanjutnya kami serahkan sepenuhnya kepada Majelis Hakim yang
memeriksa dan mengadili perkara ini dan harapan kami adalah terwujudnya hukum pidana yang adil
dan manusiawi dalam perkara ini.

Subang, 22 April 2011


Hormat Kami,
Tim Penasihat Hukum Terdakwa,

1. Wildi Mulyawan, SH, MH.

2. Dina Berliana Mustika, SH.

3. Robby Nugraha, SH.