Anda di halaman 1dari 20

2019

PEDOMAN
MANAJEMEN RESIKO KLINIS
PUSKESMAS BANGKUANG

TIM UKP
UPTD PUSKESMAS BANGKUANG
Alamat : Jl. Barito Raya RT 22 / RW. VIII
Bangkuang
email: bangkuangpuskesmas@gmail.com

i
VISI MISI, KEBIJAKAN MUTU, TATA NILAI, SLOGAN
PUSKESMAS BANGKUANG

VISI
Memberikan pelayanan kesehatan bermutu dalam mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup
sehat.

MISI
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar yang Profesional dan bermutu
2. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sector.
3. Mendorong kemandirian dan peran serta masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat.
4. Menjalankan sistem organisasi yang efektif dan sesuai tatakelola yang baik.

KEBIJAKAN MUTU
1. Meningkatkan kompetensi SDM pendukung pelayanan.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan masyarakat dan lingkungan
3. Memberikan pelayanan yang prima.
4. Meningkatkan peran serta masyarakat untuk menuju kemandirian hidup sehat secara pribadi
maupun masyarakat.
5. Melaksanakan pemeriksaan kesehatan bermutu bagi jamaah haji sesuai peraturan
perundangan yang berlaku serta secara terus menerus melakukan peningkatan berkelanjutan
terkait pemeriksaan kesehatan jamaah haji.
6. Menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008.

TATA NILAI
PESONAKU

(Profesional, Empati, Santun , Obyektif, Nyaman, Amanah, Kualitas Unggul)

SLOGAN
“Sahabat sehat anda”

ii
PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO SELATAN


DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS BANGKUANG
TAHUN 2019

iii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1


A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Definisi .............................................................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................................... 1
D. Ruang Lingkup ................................................................................................. 1
E. Batasan Operasional ......................................................................................... 2
BAB II GAMBARAN UMUM .............................................................................................. 4
A. Identifikasi Risiko ............................................................................................. 4
B. Analisis Resiko ................................................................................................. 4
C. Evaluasi Risiko ................................................................................................. 4
D. Pengelolaan Resiko ........................................................................................... 5
E. Investigasi ......................................................................................................... 6
F. HFMEA ............................................................................................................ 6
G. Tindakan atau Perbaikan ................................................................................... 7
H. Dokumentasi ..................................................................................................... 7
BAB III MANAJEMEN RESIKO LINGKUNGAN ............................................................... 8
A. Definisi .............................................................................................................. 8
B. Ruang Lingkup Penerapan Manajemen Resiko Lingkungan ............................ 8
C. Penerapan Manajemen Resiko Lingkungan di Puskesmas ............................... 8
D. Dokumentasi ..................................................................................................... 10
BAB IV MANAJEMEN RESIKO LAYANAN KLINIS ....................................................... 11
A. Definisi ............................................................................................................ 11
B. Ruang Lingkup Penerapan Manajemen Resiko Lingkungan........................... 11
C. Penerapan Manajemen Resiko Lingkungan di Puskesmas ............................. 12
D. Dokumentasi ................................................................................................... 13
BAB V MANAJEMEN RESIKO PELAKSANAAN PROGRAM ...................................... 14
A. Definisi ............................................................................................................ 14
B. Ruang Lingkup Penerapan Manajemen Resiko Lingkungan........................... 14
C. Penerapan Manajemen Resiko Lingkungan di Puskesmas ............................. 14
D. Dokumentasi ................................................................................................... 15

REFERENSI ............................................................................................................................ 16

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk keselamatan Puskesmas. Ada lima
isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) Puskesmas yaitu : keselamatan pasien
(patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan
peralatan Puskesmas yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas,
keselamatan lingkungan (green productivity) yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan
dan keselamatan “bisnis” Puskesmas yang terkait dengan kelangsungan hidup Puskesmas .
Kelima aspek keselamatan tersebut sangat penting untuk dilaksanakan di setiap Puskesmas, yang
harus dikelola secara professional, komprehensif dan terintegrasi. Di Puskesmas terdapat
bermacam obat, berbagai bahan-bahan berbahaya, beragam alat kesehatan dengan berbagai
teknologi yang semakin canggih dan berkembang dengan pesat, bermacam jenis tenaga profesi
dan non profesi yang memberikan pelayanan. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut
apabila tidak dikelola dengan baik, berisiko menimbulkan insiden. Karena itu Puskesmas
Munjuljaya perlu melakukan pengelolaan risiko dalam suatu manajemen risiko yang
professional, komprehensif dan terintegrasi, agar insiden dapat diminimalisasi dan dicegah sedini
mungkin.
B. Definisi
Manajemen risiko merupakan upaya sistematis berupa proses identifikasi, evaluasi,
mengendalikan dan meminimalkan risiko dalam suatu organisasi secara menyeluruh. Manajemen
risiko layanan klinis adalah suatu pendekatan untuk mengenal keadaan yang menempatkan
pasien pada suatu risiko dan tindakan untuk mencegah terjadinya risiko tersebut. Manajemen
risiko klinis di Puskesmas dilaksanakan untuk meminimalkan risiko akibat adanya layanan klinis
oleh tenaga kesehatan di Puskesmas yang dapat berdampak pada pasien maupun petugas.
C. Tujuan
1. Memberikan panduan sistem manajemen risiko yang baku dan berlaku di Puskesmas
Munjuljaya
2. Memastikan sistem manajemen risiko berjalan dengan baik agar proses identifikasi, analisis,
dan pengelolaan risiko ini dapat memberikan manfaat bagi keselamatan pasien dan
peningkatan mutu puskesmas secara keseluruhan
3. Membangun sistem monitoring dan komunikasi serta konsultasi yang efektif demi tercapainya
tujuan di atas dan penerapan yang berkesinambungan
D. Ruang Lingkup
Panduan ini mencakup seluruh manajemen risiko klinis di area pelayanan Puskesmas
Bangkuang:
1. Puskesmas
2. Puskesmas Pembantu
3. Poskesdes

1
4. Posyandu
Manajemen risiko merupakan tanggungjawab semua komponen di puskesmas. Tujuan
manajemen risiko untuk identifikasi dan pengendalian risiko strategis dan operasional tidak
akan tercapai apabila semua perangkat yang ada di puskesmas tidak bekerjasama dan
berpartisipasi pada pelaksanaannya.
E. Batasan Operasional
1. Risiko: peluang/probabilitas timbulnya suatu insiden (menurut WHO), yang akan berdampak
merugikan bagi pencapaian sasaran-sasaran keselamatan pasien dan menurunkan mutu
pelayanan.
2. Manajemen Risiko Puskesmas: merupakan upaya mengidentifikasi dan mengelompokkan
risiko (grading) dan mengendalikan/mengelola risiko tersebut baik secara proaktif risiko yang
mungkin terjadi maupun reaktif terhadap insiden yang sudah terjadi agar memberikan dampak
negatif seminimal mungkin bagi keselamatan pasien dan mutu puskesmas.
3. Insiden Keselamatan Pasien (IKP): setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cidera pada pasien. IKP terdiri dari Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Cedera (KTC),
dan Kejadian Potensial Cedera (KPC).
4. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD): adalah insiden yang mengakibatkan cidera pada pasien.
5. Kejadian Nyaris Cidera (KNC): adalah insiden yang berpotensi menimbulkan cidera pada
pasien tapi yang belum sampai terpapar ke pasien sehingga tidak ada cidera pada pasien.
6. Kejadian Tidak Cedera (KTC): adalah insiden yang berpotensi mengakibatkan cidera pada
pasien dan sudah terpapar ke pasien, tetap ternyata tidak menimbulkan cidera pada pasien.\
7. Kondisi Potensial Cedera (KPC): adalah kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan
cidera, tetapi belum terjadi.
8. Kejadian Sentinel: adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan dan telah mengakibatkan
kematian atau cidera fisik/psikologis serius, atau kecacatan pada pasien. Termasuk di dalam
kejadian sentinel antara lain: kematian yang tidak dapat diantisipasi dan tidak berhubungan
dengan penyebab alami dari penyakit pasien atau kondisi medis dasar pasien.
9. Pelaporan insiden keselamatan pasien: adalah suatu sistem untuk mendokumentasikan
laporan insiden keselamatan pasien, menganalisis dan mengantisipasi / mengelola /
mengendalikan insiden secara berkesinambungan.
10. Risiko Sisa: adalah sisa risiko tingkat terendah yang dapat dicapai setelah upaya
pengendalian/tindakan dilakukan.
11. Penilaian Risiko: adalah upaya identifikasi dari risiko yang terjadi atau berpotensi terjadi
dalam pelayanan di puskesmas dengan mempertimbangkan klasifikasi dan derajat (grading)
kerugian yang mungkin terjadi sebagai akibat dari terpapar risiko tersebut.
Tahap persiapan mencakup : ruang lingkup kegiatan manajemen risiko, personil yang terlibat,
standar dalam penentuan kriteria risiko, prosedur/mekanisme pelaporan, pemantuan serta review,
dokumentasi yang terkait.

2
Identifikasi bahaya merupakan tahapan yang penting.Beberapa teknik identifikasi bahaya seperti
observasi/survei, inspeksi, pemantauan, audit, kuesioner, data statistik, konsultasi dengan pekerja,
Fault Tee Analysis, Walk through survey.

3
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Identifikasi Risiko
Masing-masing unit pelayanan dan jejaring Puskesmas menyusun daftar risiko yang
berpotensi membahayakan pasien dan petugas. Dalam hal ini, risiko dapat dibedakan menjadi
risiko potensial (dengan pendekatan pro-aktif) dan insiden yang sudah terjadi (dengan
pendekatan reaktif/responsif). Risiko potensial dapat diidentifikasi dari berbagai macam
sumber, misalnya:
a) Informasi internal (hasil temuan audit internal, keluhan pasien/pelanggan puskesmas, insiden
yang pernah terjadi di unit layanan tersebut)
b) Informasi eksternal (pedoman dari pemerintah, organisasi profesi, lembaga penelitian)
c) Pemeriksaan atau audit eksternal
Risiko atau insiden yang sudah teridentifikasi harus ditentukan peringkatnya (grading) dengan
memperhatikan:
1. Tingkat peluang/frekuensi kejadian
2. Tingkat dampak yang dapat/sudah ditimbulkan

Tabel Peluang Kejadian

Tabel Penilaian Dampak

4
B. Analisis Risiko
Daftar risiko yang telah diidentifikasi kemuadian dilakukan analisis oleh Tim Mutu. Analisis
dilakukan dengan menentukan skor risiko atau insiden tersebut untuk menentukan prioritas
penanganan dan level manajemen yang harus bertanggung jawab untuk mengelola
mengendalikan risiko/insiden tersebut termasuk dalam kategori biru/hijau/kuning/merah.
Hal ini akan menentukan evaluasi dan tata laksana selanjutnya. Untuk risiko/insiden dengan
kategori biru dan hijau maka evaluasi cukup dengan investigasi sederhana sedangkan untuk
kategori kuning dan merah perlu dilakukan evaluasi lebih mendalam dengan metode RCA (root
cause analysis – reaktif/responsive) atau HFMEA (healthcare failure mode effect analysis –
proaktif)
SKOR RISIKO = DAMPAK X PELUANG
C. Evaluasi Risiko
1. Risiko atau insiden yang sudah dianalisis akan dievaluasi lebih lanjut sesuai skor dan
grading yang didapat dalam analisis.
2. Pemeringkatan memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang sesuai, dan meliputi proses
berikut :
a. Menilai secara obyektif beratnya/dampak/akibat dan menentukan suatu skor
b. Menilai secara obyektif kemungkinan/peluang/frekuensi suatu peristiwa terjadi dan
menentukan suatu skor
c. Mengalikan dua parameter untuk memberi skor risiko
3. Penilaian risiko akan dilaksanakan dalam dua tahap.
a. Tahap pertama akan diselesaikan oleh penilai risiko yang terlatih, yang akan
mengidentifikasi bahaya, efek yang mungkin terjadi dan pemeringkatan risiko.
b. Tahap kedua dari penilaian akan dilakukan oleh Kepala Instalasi Kerja yang akan
melakukan verifikasi tahap pertama dan membuat suatu rencana tindakan untuk
mengatasi risiko.
D. Pengelolaan Risiko
Setelah analisis dan evaluasi selesai dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah pengelolaan
risiko atau insiden dengan target menghilangkan atau menekan risiko hingga ke level terendah
(risiko sisa) dan meminimalisir dampak atau kerugian yang timbul dari insiden yang sudah
terjadi.

5
E. Investigasi
Dalam pengelolaan risiko/IKP yang masuk dalam kategori biru atau hijau, maka tindak
lanjut evaluasi dan penyelesaiannya dilakukan dengan investigasi sederhana, melalui tahapan:
1. Identifikasi insiden dan di-grading
2. Mengumpulkan data dan informasi: observasi, telaah dokumen, wawancara
3. Kronologi kejadian
4. Analisis dan evaluasi sederhana:
a. Penyebab langsung:
- Individu
- Peralatan
- Lingkungan tempat kerja
- Prosedur kerja
b. Penyebab tidak langsung:
- Individu
- Tempat kerja
5. Rekomendasi: jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang.
Dalam pengelolaan risiko/IKP yang masuk dalam kategori kuning atau merah, maka tindak
lanjut evaluasi dan penyelesaiannya dilakukan dengan investigasi lengkap. Identifikasi
Insiden: Root cause analysis (RCA) digunakan untuk menganalisa dan mengevaluasi IKP
pada derajat kuning dan merah. Di dalam menganalisis penyebab masalah, jangan berhenti
hanya pada penyebab langsung namun harus terus menggali hingga kepada akar masalah
sehingga penyelesaian yang direkomendasikan nantinya bukanlah penyelesaian simptomatik
semata melainkan benar-benar penyelesaian etiologi yang dapat mencegah berulangnya
insiden yang sama di kemudian hari.
F. HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
Di dalam upaya mengurangi kemungkinan terjadinya suatu insiden, metode HFMEA
digunakan untuk mengidentifikasi modus kegagalan (kegagalan proses) yang berpotensi terjadi
kemudian, mengidentifikasi dampak yang mungkin timbul diikuti analisis akar masalah, sebelum
melakukan redisain proses untuk meminimalisir risiko modus kegagalan/dampaknya kepada
pasien. HFMEA merupakan proses pro-aktif untuk memperbaiki kinerja dengan mencegah
potensi kegagalan sebelum terjadi sehingga akhirnya meningkatkan keselamatan pasien. (F =
failure, yaitu saat sistim tidak bekerja sesuai yang diharapkan; M = mode, yaitu cara/perilaku
yang dapat menimbulkan kegagalan tersebut; E = effect, yaitu dampak/konsekuensi dari modus
kegagalan tadi; A = analysis, yaitu upaya investigasi terhadap proses secara detail).
Pada prinsipnya langkah-langkah untuk menjalankan HFMEA meliputi:
1. Identifikasi proses yang berisiko tinggi (IDENTIFIKASI)
2. Bentuk tim HFMEA (TIM)
3. Menggambarkan diagram dari proses tersebut (DIAGRAM PROCESS)
4. Analisis hazard (HAZARD ANALYSIS):
a. Brainstorming kemungkinan kegagalan proses dan menentukan dampaknya

6
b. Menentukan prioritas kegagalan proses yang akan diperbaiki
c. Menentukan akar masalah dari kegagalan proses yang sudah diprioritaskan tadi
5. Implementasi dan monitoring hasil dari redisain proses tersebut

G. Tindakan atau perbaikan


Jika diperlukan tindakan perbaikan maka Tim Mutu merekomendasikan rencana tindakan
perbaikan dan monitoring terhadap tindakan perbaikan. Setiap tindakan perbaikan
dikonsultasikan kepada kepala Puskesmas dan dikomunikasikan kepada petugas Puskesmas
lainnya.

H. Dokumentasi
Seluruh kegiatan manajemen risiko klinis didokumentasikan dan dilaporkan kepada Kepala
Puskesmas.
1. Pelaporan setiap masalah atau kejadian yang menyimpang dari yang direncanakan atau secara
normal seharusnya tidak terjadi dan berdampak pada keselamatan pasien ( Patient Care and
Patient Safety)
2. Pelaporan atas masalah atau kejadian yang menghadapkan pasien pada keadaan berisiko.
3. Pelaporan atas masalah/kejadian yang bertendensi/berpotensi menghadapkan puskesmas
terhadap tuntutan hokum.
4. Masalah/kejadian tidak harus selalu sudah menyebabkan cedera, tetapi termasuk juga
kejadian yg potensial menyebabkan cedera.
5. Pelaporan atas masalah/kejadian yang dapat dijadikan pelajaran untuk meneliminasi atau
menurunkan risiko.
6. Pelaporan masalah/kejadian yang mempunyai dampak terhadap anggaran dan risiko
ketersediaan keuangan, peralatan maupun supplies.

7
BAB III
MANAJEMEN RESIKO LINGKUNGAN

A. DEFINISI
Manajemen risiko lingkungan di Puskesmas adalah penerapan manajemen risiko untuk
meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh aktifitas atau kegiatan di Puskesmas pada
kesehatan pasien, petugas maupun pada lingkungan.

B. RUANG LINGKUP PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO LINGKUNGAN


Lingkup pelaksanaan manajemen risiko lingkungan di Puskesmas meliputi :
- Penilaian persyaratan bangunan, sarana prasarana dan kondisi lingkungan Puskesmas
- Identifikasi risiko kondisi lingkungan yang berdampak pada pasien, petugas dan lingkungan
sekitar Puskesmas
- Tatalaksana penerapan manajemen risiko lingkungan
- Pemantauan penerapan manajemen risiko lingkungan.
Penerapan manajemen risiko lingkungan di Puskesmas Gayungan meliputi:
- Sarana dan prasarana bangunan Puskesmas
- Sarana prasarana fasilitas Puskesmas termasuk rasio jumlah karyawan dan toilet, dsb
- Tata ruang dan penetapan zona risiko
- Pemantauan kualitas lingkungan termasuk suplai air bersih, keadaan udara, penghawaan,
kebisingan, pencahayaan, kelembaban
- Pemantauan fasilitas sanitasi Puskesmas
1) Toilet dan Kamar Mandi,
2) Pembuangan sampah,
3) Penyediaan air minum dan air bersih,
4) Hygiene dan sanitasi makanan
5) Pengolahan limbah,
6) Pengolahan limbah medis
7) Pengelolaan linen
8) Pengendalian serangga dan binatang pengganggu
9) Dekontaminasi dan sterilisasi
10) Promosi hygiene dan sanitasi

C. PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO LINGKUNGAN DI PUSKESMAS


Manajemen risiko lingkungan di Puskesmas Bangkuang diterapkan pada seluruh kegiatan
yang menimbulkan dampak risiko terhadap lingkungan yaitu:
1. Kegiatan pelayanan klinis di Puskesmas
2. Kegiatan pelayanan kesehatan di Pustu, Ponkesdes dan Posyandu
3. Kegiatan pasien/pengujung Puskesmas
4. Kegiatan karyawan/ staf Puskesmas
Kegiatan penerapan manajemen risiko lingkungan

8
a. Penilaian persyaratan bangunan, sarana dan prasarana Puskesmas
- Bangunan Puskesmas terdiri dari bangunan dengan konstruksi kuat, atap tidak bocor,
lantai tidak licin, permukaan dinding kuat dan rata serta menggunakan bahan bangunan
yang tidak membahayakan
- Lingkungan Puskesmas tidak panas, ventilasi cukup, pencahayaan cukup, seluruh
ruangan tidak lembab dan tidak berdebu.
- Terdapat fasilitas pemadam kebakaran dan petunjuk jalur evakuasi dan pintu darurat jika
terjadi kecelakaan
- Rasio kecukupan toilet karyawan mengikuti indeks perbandingan jumlah karyawan
dengan toilet yaitu 1:20 artinya setiap penambahan 20 karyawan harus ditambah I toilet
dan 1 kamar mandi.
- Tata ruang
o Zona ruang dengan
 Risiko rendah : meliputi ruang administrasi TU, Ruang Kepala Puskesmas,
Ruang pertemuan, ruang penyimpanan rekam medis bersatu dengan loket (unit
pendaftaran), ruang penyimpanan obat, ruang Akreditasi dan Musholla
 Risiko sedang: meliputi poli rawat jalan (selain poli P2)
 Risiko tinggi: meliputi Poli P2, Laboratorium, UGD dan tempat penampungan
limbah/sampah medis
o Penataan ruangan memperhatikan zona risiko penularan
b. Identifikasi risiko kondisi lingkungan
Setiap unit kerja melakukan identifikasi risiko kondisi lingkungan antara lain:
1. Sarana
o Kerusakan bangunan atau sarana prasarana
o Fasilitas sanitasi seperti wastafel buntu, air tidak lancar, sampah medis tidak
tersedia, toilet rusak, dll
2. Kondisi pencahayaan, penghawaan, kelembaban, kebisingan peralatan, dsb
3. Kebersihan ruangan dan fasilitas
4. Limbah, misalnya sarana pembuangan limbah yang penuh, paparan limbah pada
lingkungan.
c. Tatalaksana penerapan manajemen risiko lingkungan
1. Toilet dan Kamar Mandi,
o Tersedia dalam keadaan bersih
o Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
o Terpisah antara toilet laki laki dan perempuan
o Tidak terdapat perindukan nyamuk
2. Pembuangan sampah,
o Tersedia fasilitas tempat sampah organik dan non organik di setiap ruangan
o Tempat sampah tertutup

9
o Sampah/ limbah non medis padat ditampung dalam kantong warna hitam. Sampah
medis ditampung dalam kantong warna kuning.
o Sampah setiap hari dibuang di tempat penampungan sampah sementara
3. Penyediaan air minum dan air bersih,
o Tersedia air bersih
o Tersedia air minum untuk karyawan sesuai kebutuhan
4. Hygiene dan sanitasi makanan
o Kebersihan peralatan makan di Puskesmas
5. Pengolahan limbah
o Limbah cair ditampung dalam SPAL Puskesmas
6. Pengolahan limbah medis
o Limbah medis tajam ditampung dalam safety box
o Limbah medis padat ditampung dalam tempat sampah medis dengan kantong warna
kuning
o Limbah medis padat selanjutnya ditampung pada penampungan sementara untuk
dikirim ke tepat pemusnahan
7. Pengelolaan linen
o Dilakukan pemisahan linen yang infeksius dan non infeksius
o Linen / kain yang terkontaminasi dilakukan proses desinfeksi
o Linen / kain secara berkala dikumpulkan dan dikirim ke tempat pencucian
8. Pengendalian serangga dan binatang pengganggu
o Dilakukan pengamatan terhadap serangga nyamuk, kecoa dan tikus
o Kebersihan ruangan dijaga untuk mencegah binatang pengganggu
o Dilakukan pemberantasan jika terdapat binatang pengganggu
9. Dekontaminasi dan sterilisasi
o Seluruh peralatan yang terkontaminasi dilakukan proses dekontaminasi dan
sterilisasi
o Proses dekontaminasi dilaksanakan segera setelah proses pelayanan, sterilisasi
dilakukan di ruang sterilisasi
10. Promosi hygiene dan sanitasi
o Tersedia promosi untuk menjaga kebersihan ruangan, membuang sampah,
kebersihan kamar mandi dan cara mencuci tangan, etika batuk.
d. Pemantauan penerapan manajemen risiko lingkungan
Pemantauan penerapan manajemen risiko lingkungan dilaksanakan oleh petugas sanitasir

D. DOKUMENTASI
Seluruh kegiatan manajemen risiko lingkungan didokumentasikan dan dilaporkan kepada
Kepala Puskesmas

10
BAB IV
MANAJEMEN RESIKO LAYANAN KLINIS

A. DEFINISI
Manajemen risiko merupakan proses identifikasi, evaluasi, mengendalikan dan
meminimalkan risiko dalam suatu organisasi secara menyeluruh. Manajemen risiko layanan klinis
adalah suatu pendekatan untuk mengenal keadaan yang menempatkan pasien pada suatu risiko
dan tindakan untuk mencegahterjadinya risiko tersebut.
Manajemen risiko layanan klinis di Puskesmas dilaksanakan untuk meminimalkan risiko
akibat adanya layanan klinis oleh tenaga kesehatan di Puskesmas yang dapat berdampak pada
pasien maupun petugas. Tujuan utama penerapan manajemen risiko layanan klinis di Puskesmas adalah
untuk keselamatan pasien dan petugas.Penyusunan panduan manajemen risiko layanan klinis bertujuan
untuk memberikan panduan bagi petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang paling
aman untuk pelanggan Puskesmas

B. RUANG LINGKUP PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO LAYANAN KLINIS


Manajemen risiko layanan klinis mencakup adanya prosedur untuk mencegah kejadian yang
membahayakan (preventing harm) dan prosedur untuk meminimalkan risiko (patient safety).
Lingkup penerapan manajemen risiko layanan klinis di Puskesmas Bangkuang meliputi:
1. Risiko yang berhubungan dengan pasien/pengunjung Puskesmas
2. Risiko yang berhubungan dengan petugas kesehatan
3. Risiko yang berhubungan dengan staf Puskesmas lainnya
4. Risiko yang berhubungan dengan peralatan kesehatan dan properti Puskesmas lainnya
Penerapan manajemen risiko layanan klinis di Puskesmas Bangkuang dilaksanakan di unit
pelayanan yang menyelenggarakan layanan klinis yaitu:
1. Loket Pendaftaran dan Rekam Medis
2. Poli Umum
3. Poli Anak
4. Poli KIA/KB
5. Poli Gigi
6. Poli Pencegahan Penyakit (P2)
7. UGD
8. Laboratorium
9. Unit layanan Obat
Ruang lingkup penerapan manajemen risiko pelayanan klinis juga dilaksanakan di jaringan
pelayanan Puskesmas Bangkuang yang melaksanakan layanan klinis seperti pemeriksaan,
pengobatan dan tindakan termasuk imunisasi. Jaringan pelayanan Puskesmas yang dimaksud
meliputi: Puskesmas Pembantu (Pustu), Polindes/Ponkesdes dan Posyandu.
.

11
C. PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO LAYANAN KLINIS
Proses penerapan manajemen risiko layanan klinis meliputi kegiatan:
1. Identifikasi risiko
Masing-masing unit pelayanan dan jaringan Puskesmas menyusun daftar risiko yang
berpotensi membahayakan pasien dan petugas yang bisa didapatkan dari:
- Hasil temuan pada audit internal
- Keluhan pasien/pelanggan Puskesmas
- Adanya insiden atau kejadian berbahaya yang pernah terjadi di unit pelayanan tersebut
Contoh daftar risiko pada layanan klinis di Puskesmas:
Unit Layanan Risiko
Loket Pendaftaran dan - Kesalahan pemberian identitas rekam medis
Rekam Medis - Kesalahan pengambilan rekam medis
Poli umum, Poli Gigi dan - Kesalahan diagnosis
UGD - Kesalahan identifikasi pasien/salah orang
- Kesalahan pemberian terapi
- Kesalahan pemberian resep
- Kesalahan tindakan yang menimbulkan perlukaan
- Monitoring pengobatan atau tindakan yang kurang baik
- Insiden tertusuk jarum bekas pakai
- Limbah medis berceceran
- Paparan dengan luka terbuka atau cairan tubuh pasien
- Tidak menggunakan Alat Pelindung Diri
- Menggunakan peralatan tidak steril
Laboratorium - Kegagalan pengambilan sampel sehingga menimbulkan
perlukaan
- Kesalahan pengambilan sampel
- Kesalahan pemberian label sampel laboratorium
- Kesalahan penulisan hasil pemeriksaan laboratorium
- Hasil pemeriksaan hilang
- Sampel rusak atau hilang
Kamar Obat - Kesalahan membaca resep
- Kesalahan pemberian obat
- Kesalahan dosis/formula obat
- Kesalahan edukasi cara minum/pemakaian obat
- Kesalahan identifikasi pasien
- Pemberian obat kadaluwarsa
- Kesalahan penulisan label
- Pemberian obat rusak
- Kesalahan pengambilan obat

12
Daftar risiko yang telah teridentifikasi, dicatat dalam formulir identifikasi manajemen
risiko Puskesmas dan dilaporkan kepada Tim Mutu Puskesmas.
2. Analisis risiko (Risk Assessment)
Daftar risiko yang telah diidentifikasi kemudian dilakukan analisis oleh Tim Mutu.
Analisis risiko dilakukan dengan cara menilai tingkat kegawatan dari risiko (severity
assessment) dan dengan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) seperti dalam
Formulir berikut:
Formulir Analisis FMEA
Risiko Pelayanan Klinis Puskesmas Bangkuang
Failure Frekuensi Kemudahan Rpn
Kegawatan Validasi
No (Kegagalan/ Penyebab Efek Terjadinya Terdeteksi (Occ X Sv X Solusi
(Sv) Solusi
Kesalahan) (Occ) (Dt) Dt)

Keterangan:
- Rentang nilai OCC mulai 0-10; dimana 0= tidak mungkin terjadi dan 10 = sangat sering
terjadi
- Rentang nilai SV mulai 0-10; dimana 0=tidak gawat dan 10=sangat gawat
- Rentang nilai DT mulai 0-10; dimana 0=mudah dideteksi dan 10=sangat sulit dideteksi
3. Evaluasi risiko
Evaluasi risiko dilakukan pada kasus yang terpilih berdasarkan kegawatan risiko. Evaluasi
dilakukan dengan mencari penyebab masalah menggunakan Analisis Akar Masalah
(RCA/Root Cause Analysis) kemudian ditentukan apakah memerlukan tindakan perbaikan
(treatment) ataukah tidak.
4. Tindakan atau perbaikan
Jika diperlukan tindakan perbaikan maka Tim Mutu merekomendasikan rencana tindakan
perbaikan dan monitoring terhadap tindakan perbaikan.Setiap tindakan perbaikan
dikonsultasikan kepada Kepala Puskesmas dan dikomunikasikan kepada petugas Puskesmas
lainnya.

D. DOKUMENTASI
Seluruh kegiatan manajemen risiko layanan klinis didokumentasikan dan dilaporkan
kepada Kepala Puskesmas.

13
BAB V
MANAJEMEN RESIKO PELAKSANAAN PROGRAM

A. DEFINISI
Manajemen risiko pada pelaksanaan program Puskesmas merupakan upaya untuk
mengidentifikasi, menganalisa dan meminimalkan dampak atau risiko atas pelaksanaan program
Puskesmas.

B. RUANG LINGKUP
Manajemen risiko pelaksanaan program Puskesmas meliputi risiko :
- Risiko pelaksanaan program terhadap masyarakat sasaran
- Risiko pelaksanaan program terhadap lingkungan
- Risiko pelaksanaan program terhadap petugas pelaksana program
Tempat pelaksanaan program dan sasaran program termasuk pada pelaksanaan kegiatan
Posyandu balita dan Posyandu lansia

C. PENERAPAN
Penerapan manajemen risiko pelaksanaan program meliputi kegiatan
1. Identifikasi risiko
Risiko yang dapat timbul karena pelaksanaan program antara lain:
Program Risiko
Posyandu Balita - Kesalahan penentuan kebutuhan imunisasi
- Kesalahan cara pemberian imunisasi
- Kesalahan jenis imunisasi
- Kesalahan dosis vaksin
- Insiden kegagalan pemberian imunisasi
- Insiden efek samping imunisasi
- Ceceran limbah medis
- Insiden petugas tertusuk jarum
- Insiden balita terluka pada proses penimbangan
menggunakan dacin
- Kesalahan cara penimbangan
- Kesalahan pencatatan hasil pengukuran dan pemeriksaan
Posyandu Lansia - Kesalahan identifikasi
- Kesalahan pemeriksaan dan diagnosis
- Insiden perlukaan karena penggunaan alat periksa
- Kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium
- Insiden perlukaan karena pemeriksaan laboratorium
- Insiden tertusuk jarum
- Insiden kontak dengan cairan tubuh penderita

14
Program Risiko
- Tidak menggunakan APD
- Kesalahan pemberian obat
- Kesalahan dosis obat

2. Evaluasi risiko
Risiko yang teridentifikasi dianalisi menggunakan formulir FMEA dan analisis
penyebab dengan menggunakan metode RCA (Root Caused Analysis).Tingkat risiko
yang memiliki nilai yang tinggi merupakan prioritas untuk dilakukan pemecahan
masalah. Identifikasi risiko dilaporkan kepada Tim Mutu Puskesmas
3. Tindakan perbaikan
Jika diperlukan tindakan perbaikan maka Tim Mutu merekomendasikan rencana
tindakan perbaikan dan monitoring terhadap tindakan perbaikan. Setiap tindakan
perbaikan dikonsultasikan kepada Kepala Puskesmas dan dikomunikasikan kepada
petugas Puskesmas lainnya

D. DOKUMENTASI
Seluruh kegiatan manajemen risiko layanan klinis didokumentasikan dan dilaporkan kepada
Kepala Puskesmas.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat


Departemen Kesehatan RI 2006;
2. Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, Direktorat
Jenderal Bina Upaya Kesehatan Dasar Tahun 2015.
3. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik
Indonesia Nomor 80 Tahun 2012 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Instansi Pemerintah
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor 14 tahun 2017 tentang Tata Naskah
Dinas di Lingkungan Kementerian Kesehatan
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204 Tahun 2004tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit

16