Anda di halaman 1dari 38

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Anak


2.1.1 Definisi Anak
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan terdapat dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut menjelaskan bahwa, anak adalah siapa
saja yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih didalam
kandungan, yang berarti segala kepentingan akan pengupayaan perlindungan
terhadap anak sudah dimulai sejak anak tersebut berada didalam kandungan
hingga berusia 18 tahun (Damayanti,2008).
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa
pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi 0-1 tahun, usia
bermain/toddler 1-2,5 tahun, pra sekolah 2,5-5 tahun, usia sekolah 5-12 tahun
hingga remaja 12-18 tahun (Soetjiningsih, 2015).

2.1.2 Kebutuhan Dasar Anak


Menurut Soetjiningsih (2015) Kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang anak
secara umum digolongkan menjadi kebutuhan fisik-biomedis (asuh) yang meliputi,
pangan atau gizi, perawatan kesehatan dasar, tempat tinggal yang layak, sanitasi,
sandang, kesegaran jasmani atau rekreasi. Kebutuhan emosi atau kasih saying (Asih),
pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara
ibu atau pengganti ibu dengan anak merupakansyarat yang mutlakuntuk menjamin
tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Kebutuhan
akan stimulasi mental (Asah), stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses
belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental ini
mengembangkan perkembangan mental psikososial diantaranya kecerdasan,
keterampilan, kemandirian, kreaktivitas, agama, kepribadian dan sebagainya.
2.1.3 Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Anak
Menurut Soetjiningsih (2015) Tumbuh kembang anak terbagi menjadi
beberapa tahap, yaitu:
1. Masa pranatal (konsepsi – lahir),terbagi atas :
1) Masa embrio (Mundigas: masa konsepsi – 8 minggu)
2) Masa janin (Fetus : 9 minggu – kelahiran)
2. Masa pascanatal, terbagi atas :
1) Masa neonatal usia 0 – 28 hari
2) Neonatal dini (perinal) : 0 – 7 hari
3) Neonatal lanjut : 8 – 28 hari
3. Masa bayi
1) Masa bayi dini : 1 – 12 buLan
2) Masa bayi akhir : 1 – 2 tahun
4. Masa prasekolah (usia 2 – 6 tahun), terbagi atas:
1) Prasekolah awal (masa balita) : mulai 2 – 3 tahun
2) Prasekolah akhir : mulai 4 – 6 tahun
5. Masa sekolah atau masa pubertas, terbagi atas :
1) Wanita : 6 – 10 tahun
2) Laki – laki : 8 – 12 tahun
6. Masa adolesense atau masa remaja, terbagi atas :
1) Wanita : 10 – 18 tahun
2) Laki – laki : 12 – 20 tahun

2.1.4 Tingkat Perkembangan Anak


Menurut Damaiyanti (2008), karakteristik anak sesuai tingkat
perkembangan :
1. Usia bayi (0-1 tahun)
Pada masa ini bayi belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya
dengan kata-kata. Oleh karena itu, komunikasi dengan bayi lebih banyak
menggunakan jenis komunikasi non verbal. Pada saat lapar, haus, basah dan
perasaan tidak nyaman lainnya, bayi hanya bisa mengekspresikan
perasaannya dengan menangis. Walaupun demikian, sebenarnya bayi dapat
berespon terhadap tingkah laku orang dewasa yang berkomunikasi
dengannya secara non verbal, misalnya memberikan sentuhan, dekapan, dan
menggendong dan berbicara lemah lembut. Ada beberapa respon non verbal
yang biasa ditunjukkan bayi misalnya menggerakkan badan, tangan dan
kaki. Hal ini terutama terjadi pada bayi kurang dari enam bulan sebagai cara
menarik perhatian orang. Oleh karena itu, perhatian saat berkomunikasi
dengannya. Jangan langsung menggendong atau memangkunya karena bayi
akan merasa takut. Lakukan komunikasi terlebih dahulu dengan ibunya.
Tunjukkan bahwa kita ingin membina hubungan yang baik dengan ibunya.
2. Usia pra sekolah (2-5 tahun)
Karakteristik anak pada masa ini terutama pada anak dibawah 3 tahun
adalah sangat egosentris. Selain itu anak juga mempunyai perasaan takut
oada ketidaktahuan sehingga anak perlu diberi tahu tentang apa yang akan
akan terjadi padanya. Misalnya, pada saat akan diukur suhu, anak akan
merasa melihat alat yang akan ditempelkan ke tubuhnya. Oleh karena itu
jelaskan bagaimana akan merasakannya. Beri kesempatan padanya untuk
memegang thermometer sampai ia yakin bahwa alat tersebut tidak
berbahaya untuknya. Dari hal bahasa, anak belum mampu berbicara fasih.
Hal ini disebabkan karena anak belum mampu berkata-kata 900-1200 kata.
Oleh karena itu saat menjelaskan, gunakan kata-kata yang sederhana,
singkat dan gunakan istilah yang dikenalnya. Berkomunikasi dengan anak
melalui objek transisional seperti boneka. Berbicara dengan orangtua bila
anak malu-malu. Beri kesempatan pada yang lebih besar untuk berbicara
tanpa keberadaan orangtua. Satu hal yang akan mendorong anak untuk
meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi adalah dengan
memberikan pujian atas apa yang telah dicapainya.
3. Usia sekolah (6-12 tahun)
Anak pada usia ini sudah sangat peka terhadap stimulus yang dirasakan
yang mengancam keutuhan tubuhnya. Oleh karena itu, apabila
berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan anak diusia ini harus
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti anak dan berikan contoh yang
jelas sesuai dengan kemampuan kognitifnya. Anak usia sekolah sudah lebih
mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Perbendaharaan katanya
sudah banyak, sekitar 3000 kata dikuasi dan anak sudah mampu berpikir
secara konkret.
4. Usia remaja (13-18)
Fase remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari akhir masa anak-
anak menuju masa dewasa. Dengan demikian, pola piker dan tingkah laku
anak merupakan peralihan dari anak-anak menuju orang dewasa. Anak
harus diberi kesempatan untuk belajar memecahkan masalah secara positif.
Apabila anak merasa cemas atau stress, jelaskan bahwa ia dapat mengajak
bicara teman sebaya atau orang dewasa yang ia percaya. Menghargai
keberadaan identitas diri dan harga diri merupakan hal yang prinsip dalam
berkomunikasi. Luangkan waktu bersama dan tunjukkan ekspresi wajah
bahagia.

2.1.5 Pertumbuhan dan Perkembangan


Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai
dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Ini berarti bahwa
tumbuh kembang sudah terjadi sejak di dalam kandungan dan setelah kelahiran
merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh kembang anak dapat dengan
mudah diamati. Sejak lahir hingga usia kurang lebih dua tahun perkembangan
anak sangat berkaitan dengan keadaan fisik dan kesehatannya. Perkembangan
kemampuan, terutama motorik, sangat pesat. Perbedaannya sangat terlihat walau
hanya dalam dua atau tiga bulan saja.
2.2 Konsep Dasar ISPA
2.2.1 Definisi
Istilah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengandung tiga unsur
yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau
mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga
menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernapasan adalah organ dimulai
dari hidung sampai alveoli beserta organ adneksa seperti sinus-sinus, rongga
telinga dan pleura. Istilah ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan
bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksanya saluran
pernapasan. Sedangkan infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai
dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun
untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan ISPA, proses ini dapat
berlangsung lebih dari 14 hari (Depkes RI, 2010).
Pengertian ISPA adalah penyakit saluran pernapasan akut dengan
perhatian khusus pada radang paru (pneumonia), dan bukan penyakit telinga dan
tenggorokan (Widoyono, 2008; 155).
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran
pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan
terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada
saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & bIan Roberts; 2012; 450).
Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan
nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 2010; 1418).
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI).
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut.
(Indah, 2010).
Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA
secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan
bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran
pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan
(respiratory tract).
Dalam buku pedoman pemberantasan penyakit infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA) untuk penanggulangan pneumonia pada balita dari Departemen
Kesehatan RI tahun 2004 menyebutkan bahwa infeksi saluran pernapasan akut
merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari
saluran pernapasan mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan
pleura (http://id.scribd.com/doc/44393156).
Secara definisi ISPA berarti timbulnya infeksi di saluran napas yang
bersifat akut (awitan mendadak) yang disebabkan masuknya mikroorganisme
(virus, bakteri, jamur).

2.2.2 Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan


Menurut Muttaqin (2012; 4) Anatomi saluran pernapasan terdiri atas
saluran pernapasan bagian atas (rongga hidung, sinus paranasal, dan faring),
saluran pernapasan bagian bawah (laring, trakea, bronkus, alveoli).
2.2.2.1 Saluran Pernapasan Bagian Atas
1. Rongga Hidung
Menurut Muttaqin (2012; 4), hidung terdiri atas dua lubang hidung yang
merupakan pintu masuk menuju rongga hidung. Rongga hidung merupakan dua
kanal sempit yang dipisahkan oleh septum. Dinding rongga hidung dilapisi oleh
mukosa serta sel epitel batang, bersilia, dan berlapis semu. Mukosa tersebut
menyaring, menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk melalui hidung.
Vestibulum merupakan bagian dari rongga hidung yang berambut dan berfungsi
menyaring partikel-partikel asing berukuran besar agar tidak masuk ke saluran
pernapasan bagian bawah. Dalam hidung juga terdapat saluran-saluran yang
menghubungkan antara rongga hidung dengan kelenjar air mata, bagian ini
dikenal dengan kantung nasolakrimalis. Kantong nasolakrimalis berfungsi untuk
mengalirkan air melalui hidung yang berasal dari kelenjar air mata jika seseorang
menangis.
Fungsi hidung, bulu hidung dan lapisan lendir di dalam rongga hidung yaitu
menyaring debu dan mikroorganisme dari udara yang masuk. Kapiler darah yang
banyak terdapat pada selaput lendir/membran mukus membantu mengatur suhu
udara yang masuk menjadi hampir sama dengan suhu badan di samping
melembabkannya. Selain itu hidung juga berfungsi sebagai organ untuk membau
karena reseptor bau terletak di bagian atas hidung.
a) Sinus Paranasal
Menurut Muttaqin (2012; 5) Sinus paranasal berperan dalam mensekresi
mukus, membantu pengaliran air mata melalui saluran nasolakrimalis, dan
membantu dalam menjaga permukaan rongga hidung tetap bersih dan lembab.
Sinus paranasal juga termasuk dalam wilayah pembau di bagian posterior rongga
hidung. Wilayah pembau tersebut terdiri atas permukaan inferior palatum
kribriform, bagian superior septum nasal, dan bagian superior konka hidung.
Sinus paranasal terdiri dari empat pasang sinus yaitu.
a) Sinus maksilaris (terletak di pipi),
b) Sinus etmoidalis (kedua mata),
c) Sinus frontalis (terletak di dahi) dan
d) Sinus sfenoidalis (terletak di belakang dahi).
2. Faring
Menurut Muttaqin (2012; 5) Faring (tekak) adalah pipa berotot yang bermula
dari dasar tengkorak dan berakhir sampai persambungannya dengan esofagus dan
batas tulang rawan krikoid. Faring terdiri atas tiga bagian yang dinamai
berdasarkan letaknya yakni nasofaring (di belakang hidung), orofaring (di
belakang mulut), dan laringofaring/hipofaring (di belakang laring).
Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran tenggorokan yang
merupakan saluran pernapasan, dan saluran kerongkongan yang merupakan
saluran pencernaan. Faring dimulai dari akhir lubang hidung hingga daerah awal
laring (pangkal tenggorok). Fungsi faring dalam proses pernapasan hanya sebagai
tempat lewatnya udara, menuju ke laring.
2.2.2.2 Saluran Pernapasan Bagian Bawah
1. Laring
Menurut Muttaqin (2012; 5) Laring (tenggorok) terletak di antar faring dan
trakea. Berdasarkan letak vertebra servikalis, laring berada di ruas ke-4 atau ke-5
dan berakhir di vertebra servikalis ruas ke-6. Laring disusun oleh 9 kartilago yang
disatukan oleh ligamen dan otot rangka pada tulang hioid di bagian atas dan trakea
di bawahnya.
Kartilago yang terbesar adalah kartilago tiroid, dan didepannya terdapat
benjolan subkutaneus yang dikenal sebagai jakun yang terlihat nyata pada pria.
Kartilago tiroid dibangun oleh dua lempeng besar yang bersatu di bagian anterior
membentuk sebuah sudut seperti huruf “V” yang disebut tonjolan laringeal.
Laring merupakan daerah kotak suara dengan selaput suara. Pita suara terletak
di dinding laring bagian dalam. Selaput suara akan bergetar jika terhembus udara
dari paru-paru. Pada laring terdapat katup pangkal tenggorok (epiglotis) dan
tulang-tulang rawan yang membentuk struktur jakun. Epiglottis berguna untuk
menutup laring sewaktu kita menelan makanan. Dengan demikian, makanan kita
tidak masuk ke dalam saluran pernapasan. Pada laring juga terdapat cairan yang
berguna untuk menangkap debu dan kotoran yang masuk. Bila udara yang kotor
dan mengandung banyak kuman terbawa masuk ke saluran pernapasan, maka
dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada laring yang disebut laringitis (radang
laring). Bila infeksi cukup parah, maka dapat mengakibatkan selaput suara
membengkak dan akhirnya suara menjadi serak atau hilang sama sekali. Fungsi
Laring mengatur tingkat ketegangan dari pita suara yang selanjutnya mengatur
suara. Laring juga menerima udara dari faring diteruskan ke dalam trakea dan
mencegah makanan dan air masuk ke dalam trakea.
2. Trakea
Menurut Muttaqin (2012; 7) Trakea adalah sebuah tabung yang berdiameter
2,5 cm dengan panjang 11 cm. Trakea terletak setelah laring dan memanjang ke
bawah setara dengan vertebra torakalis ke-5. Ujung trakea bagian bawah
bercabang menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan kiri. Percabangan
bronkus kanan dan kiri dikenal sebagai karina (carina). Trakea tersusun atas 16-
20 kartilago hialin berbentuk huruf C yang melekat pada dinding trakea dan
berfungsi untuk melindungi jalan udara. Kartilago ini juga berfungsi untuk
mencegah terjadinya kolaps atau ekspansi berlebihan akibat perubahan tekanan
udara yang terjadi dalam sistem pernapasan.
Dinding sebelah dalam tenggorok mempunyai selaput lendir yang sel-selnya
berambut getar. Selaput lendir dan rambut getar berfungsi untuk menahan dan
mengeluarkan udara kotor (debu) agar tidak masuk ke dalam paru-paru. Akibat
pengeluaran secara paksa tersebut kita akan batuk atau bersin. Jadi, fungsi trakea
yaitu mengusir debu-debu halus yang lolos dari penyaringan di rongga hidung.
3. Bronkus
Menurut Muttaqin (2012; 7) Bronkus mempunyai struktur serupa dengan
trakea. Bronkus kiri dan kanan tidak simetris. Bronkus kanan lebih pendek, lebih
lebar, dan arahnya hampir vertikal dengan trakea. Sebaliknya bronkus kiri lebih
panjang, lebih sempit, dan sudutnya pun lebih runcing.
Fungsi pokok dari bronkus yaitu menyediakan jalan/saluran udara bagi udara
yang keluar dan masuk ke paru-paru.
a) Bronkus pulmonaris
Bronkus pulmonaris bercabang dan beranting sangat banyak. Dinding
bronkus dan cabang-cabangnya dilapisi epitelium batang, bersilia, dan berlapis
semu. Saluran yang semakin kecil menyebabkan jenis epitelium bronkus
mengalami penyesuaian sesuai dengan fungsinya.
Bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi
utamanya adalah menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas di paru.
Selain bronkiolus terminalis, terdapat pula asinus yang merupakan unit
fungsional paru sebagai tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari bronkiolus
respiratorius dan duktus alveolaris yang seluruhnya dibatasi alveoli dan sakus
alveolus terminalis (merupakan struktur akhir paru).
b) Duktus Alveolaris dan Alveoli
Bronkiolus respiratorius terbagi dan bercabang menjadi beberapa duktus
alveolaris dan berakhir pada kantong udara berdinding tipis yang disebut
alveoli. Beberapa alveoli bergabung membentuk sakus alveolaris. Setiap paru
terdiri atas sekitar 150 juta alveoli (sakus alveolaris). Kepadatan sakus
alveolaris inilah yang memberi bentuk paru tampak seperti spons. Jaringan
kapiler darah mengelilingi alveoli ditahan oleh serat elastis. Adanya daya
rekoil dari serat ini selama ekspirasi akan mengurangi ukuran alveoli dan
membantu mendorong udara agar keluar dari paru.
2. Alveoli dan Membran Respirasi
Menurut Muttaqin (2012; 10) Membran respiratorius pada alveoli umumnya
dilapisi oleh sel epitel pipih sederhana. Sel-sel pipih tersebut disebut dengan sel
tipe 1. Makrofag alveolar bertugas berkeliling di sekitar epitelium untuk
memfagositosis partikel atau bakteri yang masih dapat masuk ke permukaan
alveoli, makrofag ini merupakan pertahanan terakhir pada sistem pernapasan. Sel
lain yang ada dalam membran respiratorius adalah sel septal atau disebut juga
dengan sel surfaktan dan sel tipe II.
Surfaktan terdiri atas fosfolipid dan lipoprotein. Surfaktan berperan untuk
melapisi epitelium alveolar dan mengurangi tekanan permukaan yang dapat
membuat alveoli kolaps. Tanpa adanya surfaktan, tekanan pada permukaan
cenderung tinggi dan akhirnya alveoli akan menjadi kolaps. Apabila produksi
surfaktan tidak mencukupi karena adanya injuri atau kelainan genetik (kelahiran
prematur), maka alveoli dapat mengalami kolaps sehingga pola pernapasan
menjadi tidak efektif.

2.2.3 Klasifikasi
2.2.3.1 Berdasarkan lokasi anatomis ISPA dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Infeksi saluran pernafasan bagian atas. Merupakan infeksi akut yang
menyerang hidung hingga faring.
2) Infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Merupakan infeksi akut yang
menyerang daerah di bawah faring sampai dengan alveolus paru-paru.
2.2.3.2 Berdasarkan Tanda dan gejala menurut tingkat keparahannya, ISPA dapat
dibagi menjadi tiga golongan yaitu (Suyudi, 2005) :
1) ISPA Ringan, Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika
ditemukan gejala sebagai berikut:
(1) Batuk.
(2) Serak, yaitu bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya
pada waktu berbicara atau menangis).
(3) Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
(4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak
diraba dengan punggung tangan terasa panas.
2) Gejala ISPA Sedang, Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang
jika dijumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :
(1) Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu
tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.
(2) Suhu lebih dari 390C.
(3) Tenggorokan berwarna merah
(4) Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak
(5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
(6) Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.
(7) Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.
3) Gejala ISPA Berat, Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika
ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai
berikut:
(1) Bibir atau kulit membiru
(2) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu
bernapas
(3) Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun
(4) Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisa
(5) Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah
(6) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas
(7) Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba
(8) Tenggorokan berwarna merah
2.2.3.3 Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai
berikut:
1) Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding
dada kedalam (chest indrawing).
2) Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3) Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.
Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.

2.2.4 Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari (Widoyono, 2008;156).
1. Bakteri: Diplococcus Pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus Pyogenes,
Staphylococcus Aureus, Haemophilus Influenzae, dan lain-lain.
2. Virus: Influenza, Adenovirus, Sitomegalovirus.
3. Jamur: Aspergilus sp., Candida Albicans, Histoplasma, dan lain-lain.
4. Aspirasi: makanan, asap kendaraan bermotor, BBM (bahan bakar minyak)
biasanya minyak tanah, cairan amnion pada saat lahir, benda asing (biji-bijian,
mainan plastik kecil, dan lain-lain).
Secara umum faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi 3 bagian
yaitu.
1. Bibit Penyakit (Agent)
ISPA disebabkan oleh berbagai infectious agent yang terdiri dari 300
lebih jenis virus, bakteri. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus
Streptococcus, Stafilococcus, Pneumococcus, Haemofilus, Bordetella, dan
Corynebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain, golongan
Paramyksovirus termasuk didalamnya virus Influenza, Parainfluenza, dan
Virus Campak, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Herpesvirus, dan lain-
lain.
2. Pejamu (Host)
Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang terserang bibit penyakit,
terutama faktor yang ada pada dirinya sendiri seperti.
a) Umur
Insidens ISPA paling tinggi terdapat pada bayi di bawah satu tahun dan
insidens menurun dengan bertambahnya umur (Kartasamita, 2000).
b) Jenis kelamin
Meskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti
Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak penelitian
yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit ISPA terhadap
jenis kelamin tertentu. Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia
kurang dari 2 tahun, dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih
tinggi daripada laki-laki di negara Denmark (Koch et al, 2003)
c) Status Gizi
Keadaan gizi buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk
ISPA. Anak yang menderita malnutrisi berat dan kronis lebih sering
terkena ISPA dibandingkan anak dengan berat badan normal (Djaja,
2008).
d) Berat Badan Lahir
Berat badan lahir rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir
kurang dari 2500 gram. Bayi dengan BBLR akan meningkatkan resiko
kesakitan dan kematian karena bayi rentan terhadap kondisi-kondisi
infeksi saluran pernapasan bagian bawah. Ibu yang sedang hamil harus
mendapatkan asupan makanan yang cukup dengan gizi seimbang,
kekurangan asupan gizi pada saat hamil dapat menyebabkan bayi yang
dilahirkan berat badannya rendah. Penyakit anemia defisiensi zat besi pada
ibu yang tengah hamil juga dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat
badan rendah atau bayi lahir prematur (Sulistyowati, 2011). ISPA adalah
penyebab terbesar kematian akibat infeksi pada bayi yang baru lahir
dengan berat rendah, bila dibandingkan dengan bayi yang beratnya di atas
2500 gram (Tuminah, S., 2010).
e) Status ASI dan Makanan Tambahan
ASI melindungi bayi terhadap infeksi saluran pernapasan berat. Angka
kematian kasus secara berarti lebih tinggi pada anak yang telah disapih
daripada anak yang masih diberi ASI (Tuminah, S., 2011).
f) Status Imunisasi
Imunisasi yang tidak memadai merupakan faktor risiko yang dapat
meningkatkan insidens ISPA, sehingga faktor anak yang diimunisasi
sangat menentukan dalam tingginya angka insidens ISPA (Depkes RI.,
1996). Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang mendapatkan bahwa
imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti
dalam mencegah kejadian ISPA (Koch et al, 2003).
3. Lingkungan (environment)
Faktor lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam
menentukan terjadinya proses interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab
dalam proses terjadinya penyakit. Secara garis besarnya lingkungan terdiri
dari lingkungan fisik, biologis dan sosial.
Berkaitan dengan ISPA, adalah tergolong air borne disease karena salah
satu penularannya melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pernapasan, maka udara secara epidemiologi mempunyai
peranan yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan.
Salah satu gangguan yang mungkin disebabkan oleh pencemaran udara
dalam ruangan (indoor) adalah infeksi saluran pernapasan akut. ISPA dapat
meliputi bagian atas saja dan atau bahkan bagian bawah seperti laryngitis,
tracheobronchitis, bronchitis dan pnemonia (Depkes RI, 2004).
a) Rumah
Rumah merupakan stuktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk
tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang
diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani
dan keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO,
1989). Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih
tinggi menderita ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah culster di
Denmark (Koch et al, 2011).
b) Kepadatan hunian (crowded)
Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga,
dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian
oleh Koch et al (2011) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded)
mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat.
c) Status sosioekonomi
Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi
yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan
masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara status
ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi yang
bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status
sosioekonomi (Darmawan, 2008).
d) Kebiasaan merokok
Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai
kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari
keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari penelitian lain didapat bahwa
episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok (Koch et al,
2011)
e) Polusi udara
Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan
pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun
diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun kimia. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh pusat penelitian kesehatan Universitas
Indonesia untuk mengetahui efek pencemaran udara terhadap gangguan
saluran pernafasan pada siswa sekolah dasar (SD) dengan membandingkan
antara mereka yang tinggal di wilayah pencemaran udara tinggi dengan
siswa yang tinggal di wilayah pencemaran udara rendah di Jakarta. Dari
hasil penelitian tidak ditemukan adanya perbedaan kejadian baru atau
insiden penyakit atau gangguan saluran pernafasan pada siswa SD di
kedua wilayah pencemaran udara. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
pencemaran menjadi tidak berbeda dengan wilayah dengan tingkat
pencemaran tinggi sehingga tidak ada lagi tempat yang aman untuk semua
orang untuk tidak menderita gangguan saluran pemafasan. Hal ini
menunjukkan bahwa polusi udara sangat berpengaruh terhadap terjadinya
penyakit ISPA. Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap
tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan
mempermudah terjadinya ISPA anak (Mishra, 2011).

2.2.5 Patofisiologi
Kuman penyakit ISPA ditularkan dari penderita ke orang lain melalui
udara pernapasan atau percikan ludah penderita (droplet). Pada prinsipnya kuman
ISPA yang ada di udara terisap oleh pejamu baru dan masuk ke seluruh saluran
pernafasan. Dari saluran pernafasan kuman menyebar ke seluruh tubuh apabila
orang yang terinfeksi ini rentan, maka ia akan terkena ISPA (Depkes RI, 1996:6).
Virus atau bakteri yang terhirup, kemudian menempel pada mukosa trakea,
kemudian terjadi peradangan, edema dan eritema pada daerah tersebut. Bakteri
dan virus masuk ke bronkus dan terjadi reaksi peradangan yang mengakibatkan
produksi sekret meningkat dan merusak epitel serta terjadi akumulasi sekret,
peningkatan suhu tubuh, kemudian terjadi edema pada bronkus sehingga menjadi
sempit, suplai O2 menurun, maka terjadi sesak.
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus
dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas
mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh
laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan
mukosa saluran pernapasan. Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut
menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran
pernafasan menyebabkan kenaikan aktivitas kelenjar mukus yang banyak terdapat
pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang
melebihi normal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan
gejala batuk. Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah
batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder
bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris
yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap
infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada
saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza
dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut. Infeksi sekunder
bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat
saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang
produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti
kedinginan dan malnutrisi.
Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-
tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan
juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah. Dampak infeksi sekunder bakteripun
bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya
hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus,
dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri.
2.2.6 Manifestasi Klinis
Sebagian besar orang dengan infeksi saluran napas bagian atas
memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran napas bagian
bawah memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat dan retraksi
dada. Selain batuk gejala ISPA juga dapat dikenali yaitu flu, demam dan suhu
tubuh meningkat lebih dari 38,50 C dan disertai sesak nafas.
Menurut Agung (2010), tanda dan gejala umum yang biasa muncul pada
penderita ISPA yaitu.
1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul
jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali
demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa
mencapai 39,50C-40,50C.
2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens,
biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas. Gejalanya adalah
nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda
kernig dan brudzinski.
3. Anoreksia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan
menjadi susah minum dan bahkan tidak mau minum.
4. Vomiting (muntah), biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa
selama bayi tersebut mengalami sakit.
5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran
pernafasan akibat infeksi virus.
6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya
lymphadenitis mesenteric.
7. Sumbatan pada jalan nafas/nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih
mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan,
mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran
pernafasan.
9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless.
Menurut Suhandayani (2007).
1. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut.
a) Batuk.
b) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal
pada waktu berbicara atau menangis).
c) Pilek, yaitu mengeluarkan lendir dari hidung.
d) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370 C atau jika dahi anak diraba.
2. Gejala dari ISPA Sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala
dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut.
a) Pernapasan >50 kali per menit pada anak yang berumur < 1 tahun atau >40
kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara
menghitung pernapasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan napas
dalam satu menit. Untuk menghitung dapat digunakan arloji.
b) Suhu lebih dari 390 C (diukur dengan termometer).
c) Tenggorokan berwarna merah.
d) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
e) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
f) Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
g) Pernapasan berbunyi menciut-ciut.
3. Gejala dari ISPA Berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-
gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala
sebagai berikut.
a) Bibir atau kulit membiru.
b) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu
bernapas.
c) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
d) Pernapasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah.
e) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas.
f) Nadi cepat lebih dari 100 kali per menit atau tidak teraba.
g) Tenggorokan berwarna merah.
2.2.7 Komplikasi
Adapun komplikasinya adalah:
1. Meningitis (radang selaput pelindung sistem).
2. OMA (Otitis Media Akut).
3. Mastoiditis.
4. Kematian.

2.2.8 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah.
1. Pemeriksaan kultur/biakan kuman (swab), hasil yang didapatkan adalah
biakan kuman sesuai dengan jenis kuman.
2. Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat
disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya
thrombositopenia.
3. Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan.

2.2.9 Pencegahan
Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi
pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA
adalah.
1. Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik
a) Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan
yang paling baik untuk bayi.
b) Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
c) Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu
mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin
dan mineral.
d) Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya
dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung,
lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari
sayuran,dan buah-buahan
e) Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui
apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada
penyakit yang menghambat pertumbuhan.
2. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi
Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu
mendapatkan imunisasi yaitu DPT. Imunisasi DPT salah satunya dimaksudkan
untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya adalah infeksi
saluran nafas.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi
pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak mencerminkan
hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit. Perilaku ini dapat
dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan
lingkungan sehat.
4. Menghindari faktor pemungkin yaitu menjaga kondisi udara dalam rumah
tetap sehat melalui kebiasaan tidak merokok di dalam rumah
5. Pengobatan segera
Apabila sudah positif terserang ISPA, sebaiknya tidak memberikan
makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya
minuman dingin, penyedap masakan atau penambah rasa gurih, bahan
pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Orang yang terserang
ISPA, harus segera dibawa ke dokter.

2.2.10 Penatalaksanaan
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya
yang menderita ISPA pada perawatan di rumah yaitu (Depkes, 2004).
1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan-5 tahun demam diatasi dengan memberikan
parasetamol atau dengan kompres, bayi di bawah 2 bulan dengan demam
harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2
hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian
digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain
bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional
yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok
teh, diberikan tiga kali sehari.
3. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang
yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada
bayi yang menyusu tetap diteruskan.
4. Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah, dan sebagainya) lebih
banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan
cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
5. Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal
dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung
yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi
yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan di rumah
keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa ke dokter atau
petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain
tindakan di atas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan
benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik,
usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk
pemeriksaan ulang.
Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi
dan adanya kongesti hidung, pergunakan selang dalam melakukan pengisapan
lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah
dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lubang hidung, serta
obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan
kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret. Penatalaksanaan pada bayi dengan
pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat
mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Agung,
2010).

2.3 Asuhan Keperawatan ISPA


Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara sistematis
untuk mengkaji dan menentukan masalh kesehatan dan keperawatan keluarga,
merencanakan asuhan keperawatan dan melaksanakan intervensi keperawatan
sesuai dengan rencana yang telah disusun dan mengevaluasi mutu hasil asuhan
keperawatan yang telah dilaksanakan. Tahap-tahap dalam proses keperawatan
kesehatan keluarga meliputi:
2.3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur
keadaan klien dengan memakai norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial.
Pengkajian merupakan penjajakan tahap satu. Dalam pengkajian dilakukan
pengumpulan data.
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,
diantaranya:
a) Wawancara; yang berkaitan dengan hal-hal yang perlu diketahui, baik
aspek fisik, mental, sosial, budaya, ekonomi, kebiasaan, lingkungan dan
sebagainya.
b) Pengamatan; pengamatan terhadap hal-hal yang tidak perlu ditanyakan
karena sudah dianggap cukup melalui pengamatan saja, diantaranya yang
berkaitan dengan lingkungan fisik, misalnya ventilasi, penerangan,
kebersihan dan sebagainya.
c) Studi Dokumentasi; studi berkaitan dengan perkembangan kesehatan anak,
diantaranya melalui Kartu Menuju Sehat (KMS).
d) Pemeriksaan Fisik; dilakukan tehadap anggota keluarga yang mempunyai
masalah kesehatan dan keperawatan, berkaitan dengan keadaan fisik,
misalnya kehamilan organ tubuh dan tanda-tanda penyakit. Data yang
dikumpulkan meliputi hal-hal sebagai berikut:
(1) Identitas keluarga.
(2) Riwayat kesehatan keluarga baik yang sedang dialami maupun yang
pernah dialami.
(3) Anggota keluarga.
(4) Jarak antara lokasi dengan fasilitas kesehatan masyarakat yang ada
(5) Keadaan keluarga, meliputi: biologis, psikologis, sosial, kultural,
spiritual dan lingkungan.
2. Pengkajian
1) Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, Insomnia
Tanda : Letargi, Penurunan toleransi terhadap aktivitas
2) Sirkulasi
Tanda : Takikardi
3) Integritas Ego
Gejala : Banyaknya stressor
4) Makanan/Cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, mual/muntah
Tanda : Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan
turgor buruk, malnutrisi.
5) Neurosensori
Gejala : Sakit kepala daerah frontal
Tanda : perubahan mental (bingung)
6) Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Sakit kepala
Tanda : Nyeri dada
7) Pernafasan
Gejala: PPOM, Merokok sigaret
Tanda : Adanya sputum atau secret. Perkusi : pekak di atas area yang
konsolidasi. Bunyi nafas : menurun atau tidak ada di atasarea yang terlibat
atau nafas bronchial. Warna : Pucat (sianosis)
8) Keamanan
Gejala : Demam (38,5-39,7 0C)
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan mungkin
ada pada kasus rubeola dan varisela.
9) Penyuluhan/Pembelajaran
Tanda : Bantuan dengan perawatan diri.

2.3.2 Diagnosa Keperawatan (NANDA, 2015)


2.3.2.1 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan
produksi sekret.
2.3.2.2 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada
saluran pernafasan, aadanya sekret.
2.3.2.3 Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
2.3.2.4 Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
2.3.2.5 Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
kehilangan cairan.
2.3.2.6 Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk.
2.3.2.7 Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia,
intake inadekuat.
2.3.2.8 Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit yang dialami
oleh anak, hospitalisasi pada anak.
2.3.2.9 Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit berhubungan
dengan kurang informasi.

2.3.3 Intervensi keperawatan


2.3.3.1 Diagnosa : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses
inflamasi pada saluran pernafasan, aadanya sekret.
Tujuan: Pola nafas kembali efektif dengan
Kriteria: Usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen ke
paru-paru.
Tabel Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Observasi tanda vital, adanya sebagai dasar dalam menentukan
cyanosis, serta pola, kedalaman intervensi selanjutnya.
dalam pernafasan.
2. Berikan posisi yang nyaman Semi fowler dapat meningkatkan
pada pasien. ekspansi paru dan memperbaiki
ventilasi.

3. Ciptakan dan pertahankan jalan Untuk memperbaiki ventilasi


nafas yang bebas.
4. Anjurkan untuk tidak Agar tidak terjadi aspirasi
memberikan minum selama
periode tachypnea.
5. Kolaborasi Pemberian oksigen, Untuk memenuhi kebutuhan oksigen
Nebulizer Pemberian obat dan Mengencerkan sekret dan
bronchodilator. memudahkan pengeluaran sekret serta
nUntuk vasodilatasi saluran
pernapasan.

2.3.3.2 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi


mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan
produksi secret.
Tujuan : Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret
Kriteria Hasil : Jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya
pengeluaran sekret, suara napas bersih
Tabel Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Kaji bersihan jalan napas klien. Sebagai indicator dalam menentukan
tindakan selanjutnya.
2. Auskultasi bunyi napas Ronchi menandakan adanya sekret
pada jalan nafas.
3. Berikan posisi yang nyaman. Mencegah terjadinya aspirasi sekret
(semiprone dan side lying position).
4. Lakukan penghisapan sekret. Membantu mengeluarkan sekret.
5. Anjurkan keluarga untuk Membantu mengencerkan dahak
memberikan air minum yang sehingga mudah untuk dikelurkan.
hangat.
6. Kolaborasi
· Pemberian ekspectorant - Untuk mengencerkan dahak
· Pemberian antibiotic - Mengobati infeksi sehingga terjadi
penurunan produksi sekret

2.3.3.3 Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.


Tujuan : Nyeri terkontrol atau menghilang.
Kriteria Hasil : Nyeri terkontrol ditandai dengan klien melaporkan nyeri
menghilang, ekspresi wajah rileks, klien tidak gelisah danrewel
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kaji nyeri yang dirasakan klien, Sebagai indicator dalam menentukan
perhatikan respon verbal dan intervensi selanjutnya
nonverbal.
2. Anjurkan keluarga memberikan Mengurangi nyeri pada tenggorokan.
minum air hangat.
3. Berikan lingkungan yang nyaman. Meningkatkan kenyamanan dan
meningkatkan istirahat.
4. Kolaborasi dalam Pemberian Mengobati infeksi dan Memudahkan
antibiotik dan Pemberian pengeluaran sekret sehingga
ekspectora. mengurang rasa sakit saat batuk.

2.3.3.4 Diagnosa : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi


Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
Kriteria hasil : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses
infeksi hilang
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kaji peningkatan suhu tubuh yang sebagai dasar dalam menentukan
dialami oleh klien intervensi selanutnya
2. Observasi tanda-tanda vital Pemantauan tanda vital yang teratur
dapat menentukan perkembangan
perawatan selanjutnya.

3. Berikan dan anjurkan keluarga Dengan memberikan kompres maka


untuk memberikan kompres akan terjadi proses konduksi /
dengan air pada daerah dahi dan perpindahan panas dengan bahan
ketiak perantara .

4. Anjurkan keluarga untuk Kebutuhan cairan meningkat karena


mempertahankan pemberian penguapan tubuh meningkat
cairan melalui rute oral sesuai
indikasi

5. Anjurkan keluarga untuk Proses hilangnya panas akan terhalangi


menghindari pakaian yang tebal untuk pakaian yang tebal dan tidak
dan menyerap keringat akan menyerap keringat.

6. Kolaborasi dengan dokter dalam Untuk mengontrol panas


pemberian obat antipiuretik

2.3.3.5 Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan


kehilangan cairan
Tujuan :Volume cairan tetap seimbang
Kriteria Hasil :Volume cairan tetap seimbang ditandai dengan turgor kulit
baik, membrane mukosa lembab, TTV dalam batas normal
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kaji tanda-tanda dehidrasi Sebagai dasar dalam menentukan
tindakan selanjutnya
2. Observasi TTV Perubahan TTV merupakan indicator
terjadinya dehidrasi
3. Anjurkan orang tua untuk tetap Untuk mengganti cairan tubuh yang
memberikan cairan peroral hilang
4. Jelaskan kepada orang tua Peningkatan pengetahuan
pentingnya cairan yang adekuat mengembangkan kooperatif orang tua
bagi tubuh dalam tindakan keperawatan
5. Kolaborasi pemberian cairan Untuk memenuhi kebutuhan cairan
parenteral klien

2.3.3.6 Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk


Tujuan : Pola tidur kembali optimal
Kriteria Hasil :Pola tidur membaik ditandai dengan orang tua melaporkan
anaknya sudah dapat tidur, klien nampak segar:
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kaji gangguan pola tidur yang Sebagai indicator dalam melakukan
dialami klien tindakan selanjutnya
2. Ciptakan lingkungan yang tenang Mengurangi rangsangan suara yang
dapat menyebabkan klien tidak
nyaman untuk tidur
3. Berikan bantal dan seprei yang Meningkatkan kenyamanan
bersih
4. Kolaborasi Membantu klien untuk istirahat
- Pemberian obat sedatif Mengobati infeksi
- Pemberian antibiotic

2.3.3.7 Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia,


intake inadekuat
Tujuan : Tidak terjadi nutrisi kurang dari kebutuhan
Kriteria Hasil : Nutrisi adekuat ditandai dengan nafsu makan klien
meningkat, porsi makan yang diberikan Nampak dihabiskan, tidak terjadi
penurunan berat badan 15- 20%.
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kaji status nutrisi klien Sebagai indikator dalam menentukan
intervensi selanjutnya
2. Timbang berat badan setiap hari Mengetahui perkembangan terapi
3. Berikan diet dalam porsi kecil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
tapi sering klien

4. Anjurkan keluarga untuk Meningkatkan nafsu makan


menyajikan makanan dalam
keadaan hangat
5. Jelaskan kepada keluarga Peningkatan pengetahuan
pentingnya nutrisi yang adekuat mengembangkan kooperatif keluarga
dalam proses kesembuhan dalam pemberian tindakan
6. Kolaborasi dengan bagian gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
klien sesuai kebutuhan

2.3.3.8 Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit yang dialami


oleh anak, hospitalisasi pada anak.
Tujuan : Keluarga mengalami pengurangan ansietas dan peningkatan
melakukan koping.
Kriteria Hasil : Orang tua mengajukan pertanyaan yang tepat,
mendiskusikan kondisi dan perawatan anak dengan tenang, terlibat secara
positif dalam perawatan anak.
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kenali kekhawatiran dan Sebagai dasar dalam menentukan
kebutuhan orang tua untuk tindakan selanjutnya
informasi dukungan
2. Gali perasaan keluarga dan Mengetahui masalah dan perasaan yang
masalah sekitar hospitalisasi. dirasakan oleh keluarga. Dapat
mengurangi kecemasan.
3. Berikan dukungan sesuai Dukungan yang adekuat menghasilkan
kebutuhan mekanisme coping yang efektif.
4. Anjurkan kepada keluarga agar Dapat mengurangi rasa cemas karena
terlibat secara langsung dan aktif dapat memantau langsung
dalam perawatan anaknya. perkembangan anaknya.
5. Jelaskan terapi yang diberikan Peningkatan pengetahuan
dan respon anak terhadap terapi mengembangkan kooperatif dan
yang diberikan. mengurangi kecemasan.

2.3.3.9 Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit berhubungan


dengan kurang informasi
Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit
anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria Hasil : Pengetahuan orang tua klien meningkat ditandai dengan
orang tua mengerti tentang penyakit anaknya, nampak tidak sering
bertanya, terlibat aktif dalam proses perawatan.
Tabel Intervensi
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua Sebagai dasar dalam menetukan
klien tentang proses penyakit tindakan selanjutnya
anaknya
2. Jelaskan pada keluarga klien Meningkatkan pengetahuan dan
tentang Pengertian, penyebab, pemahaman keluarga
tanda dan gejala, pengobatan,
pencegahan dan komplikasi dengan
memberikan penkes.
3. Bantu orang tua klien untuk Melibatkan keluarga dalam
mengembangkan rencana asuhan perencanaan dapat meningkatkan
keperawatan dirumah sakit seperti : pemahaman keluarga
diet, istirahat dan aktivitas yang
sesuai
4. Beri kesempatan pada orang tua Menghindari melewatkan hal yang
klien untuk bertanya tentang hal tidak dijelaskan dan belum dimengerti
yang belum dimengertinya oleh keluarga

2.3.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2012:
53). Dalam melaksanakan tindakan perawatan, selain melaksanakannya secara
mandiri, harus adanya kerja sama dengan tim kesehatan lainnya. Implementasi
merupakan realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dan menilai data yang baru. Implementasi tindakan dibedakan menjadi
tiga kategori yaitu: independent (mandiri), interdependent (bekerja sama dengan
tim kesehatan lainnya: dokter, bidan, tenaga analis, ahli gizi, apoteker, ahli
kesehatan gigi, fisioterapi dan lainnya) dan dependent (bekerja sesuai instruksi
atau delegasi tugas dari dokter). Perawat juga harus selalu mengingat prinsip 6S
setiap melakukan tindakan, yaitu senyum, salam, sapa, sopan santun, sabar dan
syukur. Selain itu, dalam memberikan pelayanan, perawat harus melaksankannnya
dengan displin, inovatif (perawat harus berwawasan luas dan harus mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi),
rasional, integrated (perawat harus mampu bekerja sama dengan sesama profesi,
tim kesehatan yang lain, pasien, keluarga pasien berdasarkan azas kemitraan),
mandiri, perawat harus yakin dan percaya akan kemampuannya dan bertindak
dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan berhasil
(Zaidin, 2010: 84).
Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah
intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi,
penguasaan keterampilan interpersonal, intelektual dan teknikal, intervensi harus
dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan
psikologis dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan
pelaporan (Gaffar, 2011: 50).

2.3.5 Evaluasi Keperawatan


Tahap evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang
kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan
lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai
tujuan yang disesuaikan denagn criteria hasil pada tahap perencanaan. Pada tahap
evaluasi ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu (Setiadi, 2012: 57).
1. Evaluasi formatif
Menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi
dengan respon segera. Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian
format catatn perkembangan denagn berorientasi kepada masalah yang dialami
klien. Format yang dipakai adalah SOAP yaitu S: subjektif ddalah perkembangan
keadaan yang dirasakan klien, dikeluhkan, dan dikemukakan klien; O: objektif
adalah perkembangan yang dapat diamati dan diukur oleh perawat atau tim
kesehatan lain; A: analisis yaitu penilaian dari kedua jenis data apakah
berkembang ke arah perbaikan atau kemunduran; P: perencanaan berdasarkan
hasil analisis yang berisi melanjutkan perencanaan sebelumnya apabila keadaan
atau masalah belum teratasi.
2. Evaluasi sumatif
Merupakan rekapitulasi dari hasil obsevasi dan analisis status pasien pada
waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan pada tahap perencanaan.
Evaluasi ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan
dicapai. Format yang dipakai adalah format SOAPIER yaitu S: subjektif ddalah
perkembangan keadaan yang dirasakan klien, dikeluhkan, dan dikemukakan klien;
O: objektif adalah perkembangan yang dapat diamati dan diukur oleh perawat atau
tim kesehatan lain; A: analisis yaitu penilaian dari kedua jenis data apakah
berkembang ke arah perbaikan atau kemunduran; P: perencanaan berdasarkan
hasil analisis yang berisi melanjutkan perencanaan sebelumnya apabila keadaan
atau masalah belum teratasi; I: implementasi yaitu tindakan yang dilakukan
berdasarkan rencana; E: evaluasi yaitu penilaian tentang sejauh mana rencana
tindakan dan evaluasi telah dilaksanakan dan sejauh mana masalah klien teratasi;
R: reassesment yaitu bila hasil evaluasi menunjukkan masalah belum teratasi,
pengkajian ulang perlu dilakukan kembali melalui proses pengumpulan data
subjektif, objektif dan proses analisisnya