Anda di halaman 1dari 2

Kaliori – Seorang tersangka pelaku yang diduga

menyetubuhi anak tirinya nyaris dikeroyok massa, Senin


malam (05/12). Peristiwa itu terjadi di sebuah desa di
kecamatan Kaliori. Tersangka berinisial MA (45 tahun),
sedangkan anak tirinya, sebut saja Bunga (16 tahun), bukan
nama sebenarnya.
Awal mulanya warga mendengar kasus MA mencabuli
anak tirinya, yang dilaporkan ke Polres Rembang. Tak
berselang lama, warga tetangga korban berkumpul, ramai
membicarakan masalah tersebut. Mereka tersulut emosinya,
seraya ingin mengeroyok MA. Namun rencana itu bisa
diredakan oleh aparat desa setempat.
Salah satu perangkat desa menjelaskan pihaknya bergerak
cepat, untuk mengamankan tersangka pelaku dari amukan
warga. Setelah itu diserahkan kepada aparat Polres
Rembang dan langsung ditahan. MA terancam hukuman
sampai 15 tahun penjara.
Lalu bagaimana kronologis tersangka sampai tega
menyetubuhi anak tirinya ? Masih menurut perangkat desa
itu, MA diduga sudah “meminta jatah” kepada korban
selama 5 tahun terakhir, tepatnya antara bulan Agustus
2011 lalu, sampai bulan November 2016.
Ia berulang kali melakukan perbuatan tidak senonoh,
biasanya di dalam rumah sendiri, memanfaatkan kelengahan
ibu korban. Bunga terpaksa melayani, karena tersangka
selalu mengancam akan membunuh ibu korban, jika
menolak. Namun sepintar – pintarnya menyimpan rahasia,
suatu saat tetap akan terbongkar. Sang ibu mencermati
gelagat mencurigakan antara MA dengan Bunga. Setelah
dicecar pertanyaan, barulah Bunga yang belakangan bekerja
di Rembang ini, akhirnya mau menceritakan. Berdasarkan
hasil pengecekan, korban tidak sampai hamil.
Hanya saja pihak desa menyayangkan sampai sekarang
belum ada rumah perlindungan atau safe house, untuk
tempat singgah sementara bagi korban kekerasan
memulihkan trauma. Bagaimanapun hal ini penting, agar
korban fokus menenangkan diri, sambil ada pendampingan
dari psikolog. Pada kasus di Kec. Kaliori, Bunga terpaksa
dititipkan ke rumah seorang kenalan dan belum akan pulang
ke kampungnya.
Ia berharap Pemkab Rembang memikirkan, meski safe
house tidak berfungsi setiap saat. Namun dengan tingginya
angka pencabulan anak dibawah umur di Kab. Rembang,
safe house sudah menjadi kebutuhan mendesak.
Sebelum peristiwa di Kec. Kaliori, kasus bapak
menyetubuhi anak tiri juga sempat terjadi di Kec. Lasem.
Yang membedakan, korban di Kec. Lasem hamil 6 bulan
akibat kebiadaban nafsu bejat bapak tirinya.
Kapolres Rembang, AKBP Sugiharto mengatakan
pihaknya sudah memasang spanduk stop kekerasan
terhadap anak di titik – titik strategis. Melihat
perkembangan sekarang, pihaknya menunggu gerakan
kampanye besar – besaran bersama Pemkab Rembang,
supaya masyarakat tergugah. (MJ – 81).