Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salmonella typhi disebut juga salmonella choleraesuis serovar typhi adalahstrain bakteri
yang menyebabkan terjadinya demam tipoid. Demam tipoid merupakan penyakit infeksi serius
serta merupakan penyakit endemis yang serta merupakan masalah kesehatan global termasuk di
Indonesi dan Negara Negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand. Angka kejadian
termasuk tertinggi di dunia yaitu antara 358-810 / 100.000 penduduk setiap tahun. Penyakit ini
mempunyai angka kematian yang cukup tinggi, yaitu 1-5 % dari penderita. Demam tipoid dapat
terjadi pada semua umur, terbanyak pada usia 3-19 tahun. Selain itu dapat menyebabkan
gastroenteritis (keracunan makanan) dan septicemia. Penyakit ini dianggap serius karena dapat
disertai berbagai penyakit, kejadian demam tipoid telah diperburuk dengan terjadinya
peningkatan resistensi bakteri terhadap banyak antibiotic, meningkatnya jumlah individu yang
terinfeksi HIV serta meningkatnya mobilitas pekerja migran dari daerah dengan insiden yang
tinggi. Bakteri ini masuk melalui mulut bersama makanan dan minuman yang terkontaminasi
oleh bakteri termasuk dan hanyut ke saluran perncernaan, apabila bakteri berhasil mencapai usus
halus dan masuk ke dalam tubuh mengakibatkan terjadinya demam tipoid.
Diare masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak di dunia. Setiap tahunnya
terdapat sekitar 2 milyar kasus diare di dunia 1,9 juta anak usia dibawah 5 tahun meninggal
karena diare. Lebih dari setengah kematian balita yang diakibatkan oleh diare terjadi di Negara
berkembang seperti india, Nigeria, Afghanistan, pakista. Setiap tahunnya terdapat 25,2% balita
di Indonesia yang meninggal dunia karena diare. Depkes RI menyatakan bahwa diare merupakan
pembunuh balita kedua di Indonesia setelah pneumonia. Diare berkontribusi sekitar 18% dari
seluruh kematian balita di dunia atau setara dengan lebih dari 5 ribu balita meninggal perhari.
Prevelensi diare di Indonesia 9%. Pada umumnya balita yang mengalami diare dapat sembuh
karena 40% diare disebabkan oleh Rotavirus. Namun jika tidak dikenali dan ditangani secara dini
dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi ini lama lama akan menjadi berat dan dapat
menyebabkan kematian.

1
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami konsep penyakit dan asuhan
keperawatan penyakit diare dan demam typhoid pada anak.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami definisi dari penyakit diare dan demam
typhoid pada anak.
2. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami etiologi dari penyakit diare dan demam
typhoid pada anak.
3. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami fisiologis dari penyakit diare dan
demam typhoid pada anak.
4. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami patofisiologis dari penyakit diare dan
demam typhoid pada anak.
5. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami manifestasi klinis dari penyakit diare
dan demam typhoid pada anak.
6. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami penatalaksanaan dari penyakit diare dan
demam typhoid pada anak.
7. Mahasiswa mampu memaparkan dan memahami pengkajian, diagnosa, dan perencanaan
pada penyakit diare dan demam typhoid pada anak.

1.3 Manfaat
Agar mahasiswa mampu memaparkan dan memahami konsep penyakit dan asuhan
keperawatan pada penyakit diare dan demam typhoid.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Penyakit dan Asuhan Keperawatan Diare pada Anak

2.1.1 Definisi
Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan/tanpa darah dan/atau lender
dalam tinja. Diare dapat disebabkan oleh pelbagai infeksi, selain penyebab lain seperti
malabsorbsi. Diare sebenarnya merupakan salah satu gejala dari penyakit pada system
gastrointestinal atau penyakit lain di luar saluran pencernaan. Tetapi sekarang lebih dikenal
dengan “penyakit diare”, karena dengan sebutan penyakit diare akan mempercepat tindakan
penanggulangannya. Penyakit terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena
dapat membawa bencana bila terlambat. Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih
dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak; konsistensi feses encer, dapat berwarna
hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja.

2.1.2 Etiologi
1. Infeksi: virus (Rotavirus, Adenovirus, Norwalk), bakteri (Shigella, Salmonella, E. Coli,
Vibrio), parasite (protozoa: E. Histolytica, G. Lamblia, Balantidium coli; cacing perut:
Askaris, Trikuris, Strongiloideus; dan jamur: Kandida).
2. Malabsorbsi: karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak, atau protein.
3. Makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Imunodefisiensi
5. Psikologis: rasa tajut dan cemas.
Berdasarkan patofisiologinya, maka penyebab diare dibagi menjadi:
1. Diare sekresi, yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, kuman pathogen dan apatogen;
hoperpiristaltik usus halus akibat bahan kimia atau makanan, gangguan psikis, gangguan
saraf, hawa dingin, alergi; dan defisiensi imun terutama IgA sekretorik.
2. Diare osmotik, yang dapat disebabkan oleh malabsorbsi makanan, kekurangan kalori
protein (KKP), atau bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

3
2.1.3 Fisiologis
Fungsi utama dari saluran cerna adalah menyiapkan makanan untuk keperluan hidup sel,
pembatasan sekresi empedu dari hepar dan pengeluaran sisa-sisa makanan yang tidak dicerna.
Fungsi tadi memerlukan berbagai proses fisiologi pencernaan yang majemuk, aktivitas
pencernaan itu dapat berupa:
1. Proses masuknya makanan dari mulut kedalam usus.
2. Proses pengunyahan (mastication) : menghaluskan makanan secara mengunyah dan
mencampur.dengan enzim-enzim di rongga mulut.
3. Proses penelanan makanan (diglution) : gerakan makanan dari mulut ke gaster.
4. Pencernaan (digestion) : penghancuran makanan secara mekanik, percampuran dan
hidrolisa bahan makanan dengan enzim-enzim.
5. Penyerapan makanan (absorption): perjalanan molekul makanan melalui selaput lendir usus
ke dalam. sirkulasi darah dan limfe.
6. Peristaltik: gerakan dinding usus secara ritmik berupa gelombang kontraksi sehingga
makanan bergerak dari lambung ke distal.
7. Buang air besar (defecation) : pembuangan sisa makanan yang berupa tinja.
Dalam keadaan normal dimana saluran pencernaan berfungsi efektif akan menghasilkan
ampas tinja sebanyak 50-100 gr sehari dan mengandung air sebanyak 60-80%. Dalam saluran
gastrointestinal cairan mengikuti secara pasif gerakan bidireksional transmukosal atau
longitudinal intraluminal bersama elektrolit dan zat zat padat lainnya yang memiliki sifat aktif
osmotik. Cairan yang berada dalam saluran gastrointestinal terdiri dari cairan yang masuk secara
per oral, saliva, sekresi lambung, empedu, sekresi pankreas serta sekresi usus halus. Cairan
tersebut diserap usus halus, dan selanjutnya usus besar menyerap kembali cairan intestinal,
sehingga tersisa kurang lebih 50-100 gr sebagai tinja.
Motilitas usus halus mempunyai fungsi untuk:
1. Menggerakan secara teratur bolus makanan dari lambung ke sekum.
2. Mencampur khim dengan enzim pankreas dan empedu.
3. Mencegah bakteri untuk berkembang biak.
Faktor-faktor fisiologi yang menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu dengan
lainnya. Misalnya bertambahnya cairan pada intraluminal akan menyebabkan terangsangnya
usus secara mekanis, sehingga meningkatkan gerakan peristaltik usus dan akan mempercepat

4
waktu lintas khim dalam usus. Keadaan ini akan memperpendek waktu sentuhan khim dengan
selaput lendir usus, sehingga penyerapan air, elektrolit dan zat lain akan mengalami gangguan.

2.1.4 Patofisiologi
Diare adalah peningkatan kenceran dan frekuensi feses. Diare mungkin dalam volume
besar atau sedikit dan dapat disertai atau tanpa darah. Diare dapat terjadi akibat adanya zat
terlarut yang tidak dapat diserap di dalam feses, yang disebut diare osmotic, atau karena iritasi
saluran cerna. Penyebab tersering diare dalam volume besar akibat iritasi adalah infeksi virus
atau bakteri di usus halus distal atau usus besar.
Iritasi usus oleh pathogen memengaruhi lapisan mukosa usus, sehingga terjadi
peningkatan produk sekretorik, termasuk mucus. Iritasi mukosa juga mempengaruhi lapisan otot
sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas menyebabkan banyak air dan
elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk penyerapan zat-zat tersebut berkurang.
Individu yang mengalami diare berat dapat meninggal akibat syok hipovolemik dan
ketidakteraturan elektrolit. Toksin kolera yang dikeluarkan bakteri kolera adalah contoh dari zat
yang sangat menstimulasi motilitas dan secara langsung menyebabkan sekresi air dan elektrolit
ke dalam usus besar, sehingga unsur-unsur plasma yang penting ini terbuang dalam jumlah
besar. Agens infeksius lain juga dapat menyebabkan diare berat atau ringan.

2.1.5 Manifestasi Klinis


Mula-mula anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan
berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lender atau lender
dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu.
Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam
sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh
usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan
karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Bila anak telah banyak kehilngan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak; berat
badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput
bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat
dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang, dan berat. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi
menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik, dan hipertonik.

5
Pasien diare yang dirawat biasanya sudah dalam keadaan dehidrasi berat dengan rata-rata
kehilangan cairan sebanyak 12,5%. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat
terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi cepat, nadi cepat dan kecil,
tekanan darah menurun, pasien sangat lemah, kesadaran menurun (apatis, samnolen, kadang
sampai soporokomateus). Akibat dehidrasi diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila
sudah terjadi asidosis metabolic pasien akan tampak pucat dengan pernapasan yang cepat dan
dalam. Asidosis metabolic terjadi karena (1) kehilangan NaHCO3 melalui tinja diare, (2) ketosis
kelaparan, (3) produk-produk metabolic yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (karena
oligouria/anuria), (4) berpindahnya ion Natrium dari cairan ekstrasel ke cairan intrasel, (5)
penimbunan asam laktat (anoksia jaringan).

2.1.6 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
1. Pemberian cairan: jenis cairan, cara pemberian cairan, jumlah pemberiannya
a) Pemberian cairan. Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan
derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
b) Cairan per oral. Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan
diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan NaHCO3, KCL, dan
glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas umur 6 bulan kadar
natrium 90mEq/L. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi
ringan/sedang kadar Natrium 50-60 mEq/L. Formula lengkap sering disebut
oralit. Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)
hanya mengandung garam dan gula (NaCl dan sukrosa), atau air tajin yang
diberi garam dan gula, untuk pengobatan sementara di rumah sebelum dibawa
berobat ke rumah sakit/pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih
jauh.
c) Cairan parenteral. Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai
dengan kebutuhan pasienmisalnya untuk bayi atau pasien yang MEP. Tetapi
kesemuanya itu bergantung tersedianya cairan setempat. Pada umumnya cairan
Ringer Laktat (RL) selalu tersedia di fasilitas kesehatan di mana saja. Mengenai
pemberian cairan seberapa banyak yang diberikan bergantung dari

6
berat/ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai
dengan umur dan berat badannya.
2. Pengobatan Dietetik (cara pemberian makanan).
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan berat badan kurang
dari 7 kg jenis makanan:
1) Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam
lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron atau sejenis lainnya).
2) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim), bila anak
tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.
3) Susu khusus yang disesuaikan dengan kalainan yang ditemukan misalnya
susu yang tidak mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang
atau tidak jenuh.
Cara pemberiannya: hari 1, setelah dehidrasi segera diberikan makanan per oral.
Bila diberi ASI / susu formula tetapi diare masih sering, supaya diberikan oralit
selang-seling dengan ASI, misalnya 2 kali ASI/susu khusus, 1 kali oralit. Hari ke-2
sampai ke-4, ASI/susu formula rendah laktosa penuh. Hari ke-5, bila tidak ada
kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu atau makanan biasa, disesuaikan
dengan umur bayi dan berat badannya.
3. Obat-Obatan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja
dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa
atau karbohidrat lain (gula, tajin, tepung beras, dan sebagainya).
Medikasi untuk diare:
1) Obat anti sekresi. Asetosal. Dosis 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30
mg Klorpromazin. Dosis 0,5-1 mg/kg BB/hari.
2) Obat spasmolitik dan lain-lain. Umumnya obat spasmolitik seperti
papaverin, ekstrak beladona, opium loperamid tidak digunakan untuk
mengatasi diare akut lagi. Obat pengeras tinja seperti kaolin, pectin,
charcoal, tabonal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare, sehingga
tidak diberikan lagi.

7
3) Antibiotik. Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab
yang jelas. Bila penyebabnya kolera, diberikan tetrasiklin 25-50 mg/kg
BB/hari. Antibiotik juga diberikan bila terdapat penyakit penyerta seperti
OMA, faringitis, bronkitis, atau bronkopneumonia.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Penyakit diare walaupun tidak menular, tetapi perlu perawatan di kamar terpisah dengan
perlengkapan cuci tangan untuk mencegah infeksi serta tempat pakaian kotor tersendiri.
Masalah pasien diare yang perlu diperhatikan ialah risiko gangguan sirkulasi darah,
kebutuhan nutrisi.
1. Risiko terjadi gangguan sirkulasi darah
Diare menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit, mengakibatkan pasien
menderita dehidrasi dan jika tidak segera diatasi menyebabkan terjadinya dehidrasi
asidosis; bila masih berlanjut akan terjadi asidosis metabolic, gangguan sirkulasi
darah dan pasien jatuh dalam keadaan rejatan (syok).
1) Bila dehidrasi masih ringan
Berikan minum sebanyak-banyaknya, kira-kira 1 gelas setiap kali setelah pasien
defekasi. Cairan harus mengandung elektrolit; seperti oralit. Bila tidak ada oralit
dapat diberikan larutan gula garam dengan 1 gelas air matang yang agak dingin
dilarutkan dalam 1 sendok teh gula pasir dan 1 jumput garam dapur. Pengganti
air matang dapat teh atau air tajin. Bila pemberian cairan per oral tidak dapat
dilakukan, dipasang infus dengan cairan Ringer Laktat (RL) atau cairan lain
yang tersedia di tempat jika tidak ada RL (atas persetujuan dokter). Yang
penting diperhatikan adalah apakah tetesan berjalan lancer terutama pada jam-
jam pertama karena diperlukan untuk segera mengatasi dehidrasi.
2) Pada dehidrasi berat
Setelah 4 jam pertama tetesan lebih cepat, selanjutnya secara rumat. Untuk
mengetahui kebutuhan sesuai dengan yang diperhitungkan, jumlah cairan yang
masuk tubuh dapat dihitung dengan cara:
a) Jumlah tetesan per menit dikalikan 60, dibagi 15/20 (sesuai set infus yang
dipakai). Berikan tanda batas cairan pada waktu memantau tersebut pada
botol infusnya.

8
b) Perhatikan tanda vital: denyut nadi, pernapasan, suhu, dan tekanan darah.
Bila masih terdapat hipotensi beritahu dokter apakah kecepatan tetesan
perlu ditambah (keadaan ini dapat terjadi pada pasien kolera).
c) Perhatikan frekuensi buang air besar anak apakah masih sering, encer atau
sudah berubah konsistensinya.
d) Berikan minum teh/oralit 1-2 sendok setiap jam untuk mencegah bibir dan
selaput lendir mulut kering.
e) Jika rehidrasi telah terjadi, infus dihentikan, pasien diberi makan lunak atau
secara realimentasi.
2. Kebutuhan Nutrisi
Pasien yang menderita diare biasanya juga menderita anoreksia sehingga masukan
nutrisinya menjadi kurang. Kekurangan kebutuhan nutrisi akan bertambah jika,
pasien juga mwnderita muntah-muntah atau diare lama; keadaan ini menyebabkan
makin menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak lekas tercapai,
bahkan dapat timbul komplikasi. Pasien yang sering menderita diare atau menderita
diare kronis seperti pasien malabsorbsi akhirnya dapat menderita MEP kalau tidak
mendapatkan penanganan yang baik. Untuk mencegah kurangnya masukan nutrisi
dan membantu menaikkan daya tahan tubuh, pasien diare harus segera diberi
makanan setelah dehidrasi teratasi dan makanan harus mengandung cukup kalori,
protein, mineral dan vitamin tetapi tidak menimbulkan diare kembali (WHO, 1980).
Bayi yang masih minum ASI selama diare walaupun bayi tersebut dirawat dan
dipasang infus setelah keadaan tidak terlalu lemah, ASI harus diberikan terus. Jika
bayi tidak minum ASI diberikan susu yang cocok.
Pada pasien yang menderita malabsorbsi pemberian jenis makanan yang
menyebabkan malabsorbsi harus dihindarkan. Pemberian makanan harus
mempertimbangkan umur, berat badan dan kemampuan anak menerimanya Pada
umumnya anak di atas I tahun dan sudah makan biasa, dianjurkan makan bubur
tanpa sayuran pada hari masih diare (boleh bubur pakai kecap dengan telur asin jika
diare bukan karena telur) dan minum teh. Hari esoknya jika defekasinya telah
membaik boleh diberi wortel, daging yang tidak berlemak. Jika anak tidak dapat
meninggalkan susu (orang tua seringkali mengatakan anaknya tidak mau tidur jika

9
tidak minum susu) boleh diberi tetapi diencerkan dahulu misalnya, hari pertama 1/3,
hari kedua 2/3 dan jika defeksi tetap baik boleh penuh pada hari berikutnya. Untuk
membantu mengembalikan daya tahan tubuh yang menurun selama diare
sebenarnya jumlah kalori perlu ditambah 30% dan protein juga dinaikkan; protein
yang diperlukan anak pada umumnya adalah 2,5 g/kg BB/hari perlu ditambah
menjadi 3-4g/kg BB/hari. Di samping itu anak perlu diberikan banyak minum.
Berikan juga petunjuk bila anak menderita diare agar secepatnya diberi banyak
minum (jelaskan apa perlunya) dan lebih baik dengan oralit atau jika ada dapat
dengan larutan gula garam. Tetapi jika anak muntah lebih ring atau berak-berak
terus sehingga pemberian oralit tidak dapat menolong upaya segera dibawa berobat
ke pelayanan kesehatan agar tidak terlambat. Jelaskan bahwa oralit/LGG bukan
untuk mengobati diarenya tetapi hanya untuk mencegah agar anak tidak jatuh dalam
keadaan dehidrasi berat. Dalam perjalanan agar pasien terus diberi minum.

2.1.7 Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Diare


A. Pengkajian
1. Identitas pasien/biodata
2. Keluhan utama
Buang air besar lebih 3 kali sehari
Bab <4 kali dan cair (diare tanpa dehidrasi)
Bab 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan/sedang)
3. Riwayat penyakit sekarang
1) Mula mula anak atau bayi menjadi cengeng, suhu badan mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang.
2) Tinja makin cair mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja berubah menjadi
kehijauan karena bercampur empedu.
3) Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan sifatnya makin
lama makin asam.
4) Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
5) Apabila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit.
4. Riwayat kesehatan
1) Riwayat imunisasi terutama campak.

10
2) Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan yang menyebabkan anak diare.
3) Riwayat penyakit sering terjadi pada anak adalah batuk, panas, pilek dan kejang
sebelum, selama atau setelah diare.
4) Riwayat nutrisi (sebelum sakit diare)
a. Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat mengurangi risiko diare
dan infeksi yang serius.
b. Pemberian susu formula.
c. Perasaan haus.
5) Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
a) Baik, sadar (tanpa dehidrasi)
b) Gelisah, rewel (dehidrasi ringan atau sedang)
c) Lesu, lunglai, atau tidak sadar (dehidrasi berat)
b. Berat badan
Tingkat dehidrasi % kehilangan berat
badan
Bayi Anak besar
Dehidrasi ringan 5% (50 ml/kg) 3% (30 ml/kg)
Dehidrasi sedang 5-10% (50-100 ml/kg) 6% (60 ml/kg)
Dehidrasi berat 10-15% (100-150 ml/kg) 9% (90 ml/kg)
c. Kulit
Untuk mengetahui elastisitas kulit dapat dilakukan pemeriksaan turgor dengan
cara mencubit daerah perut menggubakan kedua ujung jari (bukan kuku).
Apabila turgor kembali dengan lambat (dalam waktu 2 detik) berarti dehidrasi
ringan. Apabila turgor kembali lambat (dalam waktu lebih 2 detik) termasuk
diare berat.
d. Kepala
Anak yang berusia dibawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi ubun-ubunnya
biasanya cekung.
e. Mata
Apabila mengalami dehidrasi ringan kelopak matanya cekung sedangkan
dehidrasi berat kelopak matanya cekung.

11
f. Mulut dan lidah
a) Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
b) Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan/sedang)
c) Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat
g. Abdomen kemungkinan mengalami distensi, kram dan bising usus yang
meningkat.
h. Anus, apakah ada iritasi pada kulitnya
Data dan klasifikasi diare
Tanda/gejala yang tampak klasifikasi
Terdapat dua atau lebih tanda tanda berikut: Diare dengan dehidrasi berat
1. Letargis atau tidak sadar
2. Mata cekung
3. Tidak bisa minum atau malas minum
4. Cubitan kulit perut kembalinya sangat
lambat
Terdapat dua atau lebih tanda tanda berikut: Diare dengan dehidrasi ringan/sedang
1. Gelisah, rewel, atau mudah marah
2. Mata cekung
3. Haus, minum dengan lahap
4. Cubitan kulit perut kembalinya lambat
Tidak cukup tanda tanda untuk Diare tanpa dehidrasi
diklarifikasikan sebagai dehidrasi berat atau
ringan/sedang
Diare selama 14 hari atau lebih disertai Diare persisten berat
dengan dehidrasi
Diare selama 14 hari atau lebih tanpa disertai Diare persisten
tanda dehidrasi
Terdapat darah dalam tinja (berak campur Disentri
darah)
B. Diagnosa masalah
1. Diagnosa
Data dan klasifikasi untuk menentukan diare ini tidak disebutkan di sini sebagai
diagnose medis, tetapi merupakan pengklasifikasikan sesuai dengan gejala dan tanda
seperti pada bagan diatas. Hal ini disesuaikan dengan pedoman MTBS yaitu apabila di
lapangan, maka digunakan suatu klasifikasi. Adapun klasifikasi untuk diare ini adalah:
1) Diare dengan dehidrasi.
2) Diare dengan dengan dehidrasi ringan/sedang.
3) Diare tanpa dehidrasi.

12
4) Diare persisten berat.
5) Diare persisten.
6) Disentri
2. Masalah yang sering terjadi
1) Kekurangan volume cairan.
2) Perubahan pola pemenuhan nutrisi.
3) Perubahan integritas kulit.
4) Gangguan rasa nyaman.
5) Kurangnya pengetahuan orang tua
C. Tahap perencanaan
a. Diare tanpa dehidrasi
1. Berikan cairan tambahan sebanyak anak mau. Saat berobat, orang tua perlu diberi
oralit beberapa bungkus untuk diberikan pada anak di rumah. Juga perlu
diberikanpenjelaan mengenai:
a) Beri ASI lebih lama pada setiap kali pemberian.
b) Jika diberi ASI ekslusif, berikan oralit
c) Ajarkan cara membuat dan memberikan oralit dirumah
1) 1 bungkus oralit masukkan kedalam 200 ml air matang.
2) Usia sampai 1 tahun berikan 50-100 ml oralit setiap habis berak.
3) Berikan oralit sedikit-dikit dengan sendok.
2. Lanjutkan pemberikan makan sesuai usianya
3. Apabila keadaan anak tidak membaik dalam 5 hari atau bahkan memburuk, anjurkan
agar dibawah ke rumah sakit, oralit tetap diberikan.
b. Diare dengan dehidrasi ringan
1. Berikan oralit dan observasi di klinik selama 3 jam berdasarkan usia anak.
2. Ajarkan pada ibu cara untuk membuat dan memberikan oralit, yaitu satu bungkus
oralit dicampur dengan 1 gelas.
3. Lakukan penilaian setalah anak diobservasi 3 jam.

13
c. Diare dengan dehidrasi berat
1. Jika anak menderita penyakit berat lainnya, segera dirujuk. Selama diperjalanan,
mintalah ibu untuk terus memberikan oralit sedikit demi sedikit dan anjurkan untuk
tetap memberikan ASI.
2. Jika tidak ada penyakit berat lainnya, diperlukan tindakan sebagai berikut:
a) Jika dapat memasang infus, segera berikan cairan RL atau NaCL secepatnya
secara intravena sebanyak 100 ml/BB.
b) Jika tidak dapat memasang infus tetapi dapat memasang sonde, berikan oralit
melalui nesogastrik dengan jumlah 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam.
c) Jika tidak dapat memasang infus maupun sonde, rujuk segera. Jika anak dapat
minum, anjurkan ibu untuk memberikan oralit sedikit demi sedikit selaa dalam
perjalanan.

2.2 Konsep Penyakit dan Asuhan Keperawatan Typhoid Fever pada Anak

2.2.1 Definisi
Demam Typhoid (enteric fever) adalah penykit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada
pencernaan, dan gangguan kesadaran.

2.2.2 Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Salmonella typhosa, basil gram negative yang bergerak
dengan bulu getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaitu
antigen O (somatic, terdiri zat kompleks lipolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi.
Dalam serum pasien terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

2.2.3 Patofisiologis
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus. Melalui pembuluh
limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limpa.
Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ
tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke dalam
darah (baktremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus
menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Payeri. Tukak tersebut dapat

14
mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin,
sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

2.2.4 Manifestasi Klinik


Gambaran klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa.
Masa tunas 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan
melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala
prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat,
nafsu makan kurang.
Pada kasus khas terdapat demam remiten pada minggu pertama, biasanya menurun pada
pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, pasien terus berada
dalam keadaan demam, yang turun secara berangsur-angsur pada minggu ketiga. Lidah kotor
yaitu ditutupi selaput kecoklatlan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor. Hati
dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan. Biasanya terdapat konstipasi, tetapi mungkin
normal bahkan dapat diare.

2.2.5 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis
Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan
diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai
berikut:
1. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta.
2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama,
lemah, anoreksia, dan lain-lain.
3. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali
(istirahat total), kemudian boleh duduk; jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian
berjalan di ruangan.
4. Diet. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan
makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak
menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan
makanan cair, melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik dapat
juga diberikan makanan lunak.

15
5. Obat pilihan ialah kloramfenikol, kecuali jika pasien tidak cocok dapat diberikan obat
lainnya seperti kotrimoksazol. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100
mg/kg BB/hari (maksimum 2 gram per hari), diberikan 4-kali sehari per oral atau
intravena. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi tersebut mempersingkat waktu
perawatan dan mencegah relaps. Efek negatifnya adalah mungkin pembentukan zat anti
kurang karena basil terlalu cepat dimusnahkan.
6. Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila terjadi dehidrasi
dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan sebagainya.
b. Penatalaksanaan keperawatan
Penyakit tifus abdominalis adalah penyakit menular yang sumber infeksinya berasal dari
feses dan urine, sedangkan lalat sebagai pembawa/penyebar dari kuman tersebut. Pasien
tifoid harus dirawat di kamar isolasi yang dilengkapidengan peralatan untuk merawat pasien
yang menderita penyakit menular, seperti desinfektan untuk mencucl fangan, merendam
pakaian kotor dan pot/urinal bekas pakai pasien. Yang merawat/sedang menolong pasien
agar memakai celemek. Masalah pasien tifus abdominalis yang perlu diperhatikan adalah
kebutuhan nutrisi/cairan dan elektrolit.
1. Kebutuhan nutrisi / cairan dan elektrolit.
Pasien tifus umumnya menderita gangguan kesadaran dari apatik sampai soporo-koma,
delirium (yang berat) di samping anoreksia dan demam lama. Keadaan ini
menyebabkan kurangnya masukan nutrisi/cairan sehingga kebutuhan nutrisi yang
penting komplikasi. Selain hal itu, pasien tifus abdominalis menderita kelainan berupa
adanya tukak-tukak pada usus halus sehingga makanan harus disesuaikan. Diet yang
diberikan ialah makanan yang mengandung cukup cairan, rendah serat, tinggi protein
dan tidak menimbulkan gas. Pemberiannya melihat keadaan pasien.
a) Jika kesadaran pasien masih baik, diberikan makanan lunak dengan lauk pauk
dicincang (hati, daging), sayuran labu siam/wortel yang dimasak lunak sekali.
Boleh juga diberi tahu, telur setengah matang atau matang direbus. Susu diberikan
2x1 gelas/lebih, jika makanan tidak habis diberikan ekstra susu.
b) Pasien yang kesadarannya menurun sekali diberikan makanan cair per sonde,
kalori sesuai dengan kebutuhannya. Pemberiannya diatur setiap 3 jam termasuk

16
makanan ekstra seperti sari buah, bubur kacang hijau yang dihaluskan. Jika
kesadaran membaik makanan beralih secara bertahap ke lunak).
c) Jika pasien payah, seperti yang menderita delirium, dipasang infus dengan cairan
glukosa dan NaCl. Jika keadaan sudah tenang berikan makanan per sonde di
samping infus masih diteruskan. Makanan sonde biasanya merupakan setengah
dari jumlah kalori, setengahnya masih per infus. Secara bertahap dengan melihat
kemajuan pasiern beralih ke makanan biasa.

2.2.6 Asuhan Keperawatan Demam Thypoid pada Anak

A. Pengkajian
1. Identitas. Sering ditemukan pada anak berumur diatas satu tahun.
2. Keluhan utama berupa perasaan tidak enak hadan, lesu, nyeri kepala, pusing dan
kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama selama masa inkubasi).
3. Suhu tubuh. Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama 3 minggu, bersifat
febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh
berangsur-angsur naik setiap harinya, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat
lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, pasien terus berada dalam
keadaan demam. Pada minggu ketiga, suhu berangsur turun dan normal kembali pada
akhir minggu ketiga.
4. Kesadaran. Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu
apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma, atau gelisah (kecuali bila
penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan). Di samping geala-gejala
tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat
ditemukan reseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler
kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan
pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.
5. Pemeriksaan fisik:
1) Mulut, terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), sementara ujung dan
tepinya berwarna kemerahan, dan jarang disertai tremor.

17
2) Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus) Bisa terjadi
konstipasi, atau mungkin diare atau normal. Hati dan limpa membesar disertai
dengan nyeri pada perabaan
6. Pemeriksaan laboratorium:
1) Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia, limfositosis relatif,
dan aneosinofilia pada permukaan sakit.
2) Darah untuk kultur (biakan, empedu) dan widal.
3) Biakan empedu basil salmonella typhosa dapat ditemukan dalam darah pada
minggu pertama sakit. Selanjutnya, lebih sering ditemukan dalam urine dan feces
4) Pemeriksaan widal

Untuk membual diagnosis, pemeriksaan yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap
antigen O. Titer yang bernilai 1/200 atau lebih menunjukkan kenaikan yang progresit.

B. Masalah
1. Diagnosis medis: dugaan (euspec) cemam typhoid.
2. Masalah yang sering terjadi:
1) Kebutuhan nutrisi alau cairan dan elektrolit
2) Gangguan suhu tubuh
3) Gangguan rasa aman dan nyaman.
4) Risiko terjadi komplikasi.
5) Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit
C. Perencanaan
Seperti penyakit tropis lainnya, apabila ditemukan data-data yang mengarah pada demam
typhoid, maka anak harus segera dirujuk. Untuk mengatasi permasalahannya, perencanaan yang
diperlukan adalah:
1. Kebutuhan nutrisi/cairan dan elektrolit
1) Berikan makánan yang mengandung cukup cairan, rendah serat, tinggi protein, dan
tidak menimbulkan gas.
2) Jika kesadaran pasien masih baik, berikan makanan lunak dengan lauk pauk yang
dicincang (hati dan daging), dan sayuran labu siam/wortel yang dimasak lunak sekali.

18
Boleh juga diberikan tahu, telur setengah matang atau matang yang direbus. Susu
diberikan 2 x 1 gelas/lebih, jika makanan tidak habis berikan susu ekstra.
3) Berikan makanan cair per sonde jika kesadarannya menurun dan berikan kalori sesuai
dengan kebutuhannya. Pemberiannya diatur setiap 3 jam termasuk makanan ekstra
seperti sari buah atau bubur kacang hijau yang dihaluskan Jika kesadaran membaik,
makanan dialihkan secara bertahap dari cair ke lunak.
4) Pasang infus dengan cairan glukosa dan NaCl jika kondisi pasten payah (memburuk,
seperti menderilia delirium Jika keadaan sudah tenang berikan makanan per sonde, di
samping infus masih diteruskan. Makanan per sonde biasanya merupakan setengah
dari jumlah kalori, sementara setengahnya lagi masih per infus. Secara bertahap
dengan melihat kemajuan pasien, bentuk makanan beralih ke makanan biasa.
5) Observasi intake/outpul.
2. Gangguan suhu tubuh
1) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat secara mencukupi.
2) Anjurkan klien untuk istirahat mutlak sampai suhu tubuh turun dan diteruskan 2
minggu lagi.
3) Atur ruangan agar cukup ventilasi
4) Berikan kompres dingin dengan air kran.
5) Anjurkan pasien untuk banyak minum (sirup, teh manis, atau apa yang disukai anak).
6) Berikan pakaian yang tipis.
7) Observasi suhu tubuh.
3. Gangguan rasa aman:
1) Lakukan perawatan mulut 2 kali sehari, oleskan boraks gliserin (krim) pada bibir bila
kering, dan sering berikan minum.
2) Jika pasien dipasangkan sonde, perawatan mulut tetap dilakukandan sekali-kali juga
diberikan minum agar selaput lendir mulut dan tenggorokan tidak kering.
3) Selain itu, karena lama berbaring maka ketika pasien mulai berjalan mula-mula akan
terasa seperti kesemutan. Oleh karena itu, sebelum mulai berjalan pasien harus mulai
dengan menggoyang-goyangkan kakinya dahulu sambil tetap duduk di pinggir tempat
tidur, kemudian berjalan di sekitar tempat tidur sambil berpegangan. Katakan bahwa
gangguan itu akan hilang setelah 2-3 hari mobilisasi.

19
4. Risiko terjadi komplikasi
Penyakit tifus abdominalis menyebabkan kelainan pada tukak-tukak mukosa usus halus
dan dapat menjadi penyebab timbulnya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus
jika tidak mendapa kan pengobatan, diet, dan perawatan yang adekuat. Yang perlu
diperhatikan untuk mencegah komplikasi adalah:
1) Pemberian terapi sesuai program dokter. Menurut pedoman dari Lab/UPT ilmu
Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo (1994) obat yang dapat diberikan adalah
Kloramfenikol dengan dosis 100 mg/kg BB/hari yang diberikan 4 kali sehari. Agar
berhasil dengan baik, obat harus diberikan setiap 6 jam. Buatkan daftar yang
mudahdiirgat, misalnya: pukul 6, 12, 18, 24,dan berikan tanda bila obat telah
diberikan. Selain kloramfenikol, alternatif obat lain yang mungkin adalah:
a. Amoksisilin 100 mg/kgBB/ hari secara oral 3x schari selama 14 hari.
b. Kotrimoksasol 8-10 mg/kg BB/hari secara oral 2-3x/hari selama 10-14 hari.
2) Istirahat. Pasien yangmenderita tifus abdominalis peritu istirahat mutlak selama
demam, kemudian diteruskan 2 minggu lagi setelahsuhu turun menjadi normal.
Setelah 1 minggu suhu normal, 3 hari kemudian pasien dilatih duduk. Jika tidak
timbul deman lagi, pasien boleh duduk di pinggir tempat tidur sambil kakinya
digoyang-goyangkan. Pada akhir minggu kedua jika tidak timbul demam, pasien
boleh mulai belajar jalan mengelilingi tempat tidur Selama masa istirahat,
pengawasan tanda vital mutlak dilakukan 3 kali sehari. Jika terdapat suhu tinggi yang
melebihi suhu biasanya, maka ukur suhu ekstra dan catat pada catatan perawatan.
Berikan kompres dingin intensif kemudian periksa lagi 1 jam kemudian. Apabila
panas tidak turun, hubungi dokter.
3) Pengawasan komplikasi. Komplikasi yang mungkin terjadi dan tindakan yang
diperlukan adalah:
a. Perdarahan usus. Dapat terjadi pada saat demam tinggi. Ditandai dengan suhu
mendadak turun, nadi meningkat cepat dan kecil, serta tekanan darah menurun.
Jika dilihat dari kurva suhu dan nadi akan terdapat silang, di mana garis suhu
yang biasanya di atas akan terbalik. Pasien terlihat pucat, kulit terasa lembab, dan
kesadarannya makin menurun. Jika perdarahan ringan mungkin gejalanya tidak
terlihat jelas, karena darah dalam fases hanya dapat dibuktikan dengan tes

20
benzidin. Sementara bila perdarahan berat maka akan terlihat melena. Jika hal ini
yang terjadi maka tindakannya adalah menghentikan makan dan minum, pasang
infus segera jika sebelumnya tidak dipasang, dan segera hubungi dokter. Selain
pemberian pengobatan, untuk menghentikan perdarahan dapat dilakukan melalui
pemasangan eskap gantung (walaupun secara medis mungkin tidak banyak
berarti, namun secara psikologis dapat membantu mengurangi gerakan pasien,
sehingga dapat mengurangi perdarahannya).Jika tidak ada perlengkapan duk
khusus untuk eskap gantung, maka dapat dibuat dari duk biasa yang keempat
ujungnya dipasangi tali panjang yang dapat dikaitkan pada sudut tempat tidur
pasien. Perlu diperhatikan bahwa eskap tidak boleh menekan perut pasien, tetapi
berikan jarak kira-kira setebal telapak tangan. Jika menolong pasien dengan
perdarahan usus, misalnya membereskan tempat tiduratau mengganti alat tenun,
maka hal tersebut tidak boleh sendirian melainkan harus oleh 2-3 orang. Dua
orang mengangkat pasien (Jika pasiennya kecil hanya perlu 1 orang), sementara
yang lain membereskan tempat tidur/alat tenun. Jangan memiring- miringkan
pasien. Untuk mengurangi seringnya mengganti alat tenun, pasien dipasangi
dower kateter untuk berkemih dan diberikan pakaian kain seperti popok dengan
dialasi perlak di bawahnya. Pengawasan tanda vital lebih sering dilakukan karena
pasien dapat jatuh renjatan.
b. Perforasi usus. Komplikasi ini daput terjadi pada minggu ketiga ketika suhu
sudah turun. Oleh karena itu, walaupun suhu sudah normal. istirahat masih harus
diteruskan sampai 2 minggu. Gejala perforasi usus adalah adanya keluhan pasien
akan sakit perut hebat dan yang akan lebih nyeri lagi jika ditekan, perut terlihat
tegang/kembung, pasien menjadi pucat, dapat juga mengeluarkan keringat dingin,
dan nadinya kecil Pasien juga dapat mengalamisyok. Apabila dijumpai gejala
yang demikian, segera hubungi dokter dan siapkan foto rontgent. Biasanya pasien
akan dikonsul ke bagian bedah. Pasang infus, hentikan makan dan minumnya.
Jika terjadi kedua komplikasi tersebut, orang tua perlu diberi penjelasan mengapa
hal tersebut dapat terjadi (mungkin karena terlambat berobat atau karena kuman
penyakitnya sangat ganas) dan diminta agar membantu menenangkan pasien (beri
penjelasan secara bijaksana agar orang tua tidak menjadigelisah/cemas).

21
c. Komplikasi lain. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah pneumonia baringan
(pneumonia hispostatik) karena pasien lama herbaring terus. Gejala yang dapat
dijumpai adalah suhu mendadak naik tinggi setelah sebelumnya sudah turun atau
suhu menjadi lebih tinggi dan tidak pernah turun walaupun pagi hari, selain
terlihat adanya sesak napas. Untuk mencegah komplikasi tersebut, pasicn yang
payah perlu diubah sikap baringnya tiap 3 jam. Apabila perlu, dapat dibuat daftar
perubahan sikap pasien agar tidak terjadi kesalahan, misalnya, setelah pasien
miring ke kiri lalu dimiringkan ke kiri lagi sesudah telentang. Mengubah sikap
baring secara tcratur, mengelap dengan air. serta membedaki juga dapat
mencegah timbulnya dekubitus dan memberi rasa nyaman (jangan menggosok
kulit dengan kamfer spiritus karena hal tersebut merangsang sekali untuk anak).
5. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Berikan penyuluhan pada orang tua tentang hal-hal berikut ini:
1) Pasien tidak boleh tidur der gan anak-anak lain. Mungkin ibunya harus menemaninya,
tetapi jangan tidur bersama-sama dengan yang lain. Anak-anak lain yang
mengunjungi pasien tidak boleh dudukdi tempat tidur pasien.
2) Pasien juga harus istirahat mutlak. Setelah demam turun istirahat masih lanjutkan
selama 2 minggu berikutnya. Jelaskan hahwa untuk mandi dan buang air besar/kecil
di alas tempat tidur harus ditolong dan siapa pun yang menolong harus mencuci
tangannya dengan desinfektan.
3) Pemberian obat dan pengukuran suhu dilakukan seperti di rumah sakit. Orang tua
diuminta untuk membuat catatan suhu dan makanan yang diberikan. Diet diberikan
seperti pasien yang dirawat di rumah sakit. Karena penyakit pasien dianggap ringan,
maka biasanya diperbolehkan untuk memberikan bubur atau makanan lunak dengan
lauk pauk yang lunak pula. Biasanya dokter memberikan obat yang sudah
diperhitungkan sampai suhu dapat turun. jika obat hampir habis dan suhu masih tetap
tinggi, orang tua diminta untuk kembali ke dokter. Di samping obat, berikan juga
penjelasan mengenai cara mengompres atau pemberitahuan jika pasien boleh dirawat
di kamar yang ber-ACserta harus banyak minum.jika suhu sesudah 2 minggu masih
belum turun, pasien dininta untuk dibawa ke lagi dokter dan mungkin perlu dirawat di
rumah sakit.

22
4) Feces dan urin harus dibuang ke dalam lubang WC dan disiram air sebanyak-
banyaknya. WC dan sekitarnya harus bersih agar tidak ada lalat. Pot dan urinal
setelah dipakai harus direndam ke dalam cairan desinfektan sebelum dicuci. Pakaian
pasien/alat tenun bekas pakai juga harus direndam dahulu dalam desinfektan sebelum
dicuci, dan jangan dicuci bersama-sama dengan pakaian anak lainnya.
Selain penjelasan mengenai perawatan pasien di rumah, penyuluhan yang juga perlu
diterikan kepada orang tua pasien (termasuk yang dirawat di rumah sakit) adalah mengenai:
1. Penyebab dan cara penularan penyakit tifus abdominalis, serta bahaya yang dapat terjadi.
2. Pentingnya merjaga kesehatan dergan memelihara kebersihan lingkungan serta minum air
bersih dan dimasak sampai mendidih.
3. Pentingnya agar anak dibiasakan buang air besar di WC dan setiap keluarga hendaknya
mempunyai WC sendiri-sendiri. WC yang baik adalah WC yang disiram serta
tertutup,sehingga tidak ada lalat (jelaskan bahwa penyakit tersebut bersumber dari
feses/urin pasien dan lalat sebagai pembawa kumannya, bagi keluarga yang kurang
mengerti).
4. Pentingnya agar anak yang sudah sekolah dinasihatkan untuk tidak membeli makanan
yang tidak ditutup/yang tidak bersih.

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan/tanpa darah dan/atau lender
dalam tinja. Diare dapat disebabkan oleh pelbagai infeksi, selain penyebab lain seperti
malabsorbsi. Diare merupakan penyakit yang mengganggu pencernaan manusia, dan dapat
menghambat manusia dalam beraktifitas karena penyakit ini membuat seseorang menjadi sering
buang air besar, keram, dan nyeri di perut, demam, darah dalam tinja, dan kembung. Penyakit ini
jug adapt berakibat gangguan sirkulasi darah berupa hipovolemik dan juga dapat berakibat
kehilangan air dan elektrolit sarta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi dan asidosis
metabolik.
Demam Typhoid (enteric fever) adalah penykit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada
pencernaan, dan gangguan kesadaran. Demam tifoid pada anak memiliki gejala yang cukup
spesifik berupa demam,gangguan gastro intestinal, dan gangguan saraf pusat. Demam yang
terjadi lebih dari 7 hariterutama pada sore menjelang malam dan turun pada pagi hari. Gejala
gastro intestinal bisaterjadi diare yang diselingi konstipasi. Pada cavum oris bisa didapatkan
Tifoid Tongue yaitu lidah kotor dengan tepi hiperemi yang mungkin disertai tremor. Gangguan
Susunan Saraf Pusat berupa Sindroma Otak Organik, biasanya anak sering ngelindur waktu tidur.
Dalam keadaan yang berat dapat terjadi penurunan kesadaran seperti delirium, supor sampai
koma.

24
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: EGC

Nursalam. Rekawati Susilaningrum. & Sri Utami. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak
(untuk Perawat dan Bidan). Jakarta: Salemba Medika

25