Anda di halaman 1dari 9

PEMANFAATAN NANO TEKNOLOGI

(NANOENKAPSULASI) PADA JAMUR TIRAM PUTIH

Untuk memenuhi tugas Sanitasi Makanan yang diampu oleh : Nur Endah Wahyuningsih, MS

Disusun Oleh :

KELOMPOK 5

KL 1

Fatma Nur S 25010116120036


Wardani Adi Saputra 25010116140142
Mulia Syakira Ramadhani 25010116140173
Syifa Rifqa A R 25010116140222
Eldrajune Agnes S 25010116140331

UNIVERSITAS DIPONEGORO

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

SEMARANG

2019
A. Pengertian
Jamur tiram putih merupakan salah satu jenis jamur kayu. Jamur ini disebut tiram
atau “osyter mushroom” karena bentuk tudungnya sedikit membulat, lonjong, dan
melengkung seperti cangkang tiram. Jamur tiram putih atau dikenal dengan nama ilmiah
Pleurotus ostreatus (Jacq. Ex. Fr.) merupakan jamur dengan famili agaricaceae yang
banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena dapat tumbuh diberbagai macam jenis
substrat dan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang tinggi.

Tabel 1. Kandungan gizi jamur tiram putih

Kandungan Zat Gizi


Kalori 367 kal
Protein 10,5-30,4 %
Karbohidrat 56,6 %
Lemak 1,7-2,2 %
Tianin 0,2 mg
Riboflavin 4,7-4,9 mg
Niasin 77,2 mg
Ca (Kalsium) 314 mg
K (Kalium) 3,793 mg
P (Fosfat) 717 mg
Na (Natrium) 837 mg
Fe (Zat Besi) 3,4-18,2 mg
Serat 7,5-87%

Banyaknya kandungan gizi dalam jamur tiram putih membuatnya dikonsumsi


sebagai bahan makanan serta memiliki khasiat sebagai obat. Salah satu zat yang berperan
sebagai obat dalam jamur tiram putih adalah pleura yang merupakan salah satu senyawa
dengan struktur umum β-glukan, dimana senyawa ini memiliki peran sebagai antikanker
yang telah diteliti oleh para peneliti terdahulu.
B. Manfaat Jamur Tiram Putih
1. Meningkatkan metabolisme dan menurunkan kolesterol
2. Sebagai antikanker, anti-bakterial, dan antitumor sehingga jamur tiram juga banyak
dimanfaatkan untuk mengobati berbagai macam penyakit mulai dari diabetes, lever,
kanker dan lainnya.
3. Dapat menurunkan berat badan menurunkan berat badan karena memiliki kandungan
serat pangan yang tinggi sehingga baik untuk pencernaan

C. Pemanfaatan Nano Teknologi Pada Jamur Tiram Putih


Selama ini, jamur tiram putih pada kalangan masyarakat hanya dikonsumsi sebagai
lauk maupun sayur sebagai pendamping nasi, tetapi karena kandungan nutrisi dan senyawa
aktif yang diperlukan oleh tubuh menjadikan jamur tiram putih berpotensi sebagai obat.
Struktur jamur yang mudah rusak diperlukan adanya bahan yang dapat menstabilkannya.
Salah satunya menggunakan kitosan. Kitosan mempunyai sifat yang biokompatibel,
biodegradable, tidak beracun, antimikroba, dan hydrating agen. Karena sifat ini, kitosan
menunjukkan biokompatibilitas yang baik dan memiliki sifat matriks dalam sistem
penghantaran obat ke dalam tubuh. Pada saat kitosan berinteraksi dengan tubuh, serbuk
ekstraksi jamur tiram putih ini akan terserap oleh tubuh secara perlahan.
Di samping itu, mengolahnya menjadi nanopartikel memungkinkan kitosan untuk
menjadi penghantar senyawa aktif atau obat yang lebih efektif. Pada sebagian besar
pengobatan, khususnya dalam bentuk dosis konvensional, hanya sebagian kecil dosis yang
diberikan mencapai sisi target, sedangkan sebagian besar obat terdistribusi pada bagian
tubuh lainnya sesuai dengan sifat fisikokimia dan biokimianya. Metode yang sedang
berkembang saat ini adalah metode sonokimia dengan memanfaatkan gelombang
ultrasonik yang memberikan hasil yang efektif.

D. Metode Pembuatan
1. Ekstraksi Jamur Tiram
Pada penelitian ini metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi.20
Sebanyak seratus gram (100 g) tepung jamur ditambah 2000 ml air. Lalu panaskan
hingga mendidih selama 2 jam. Bubur jamur disaring dengan menggunakan saringan
untuk dipisahkan filtrat dan residunya. Hasil ekstraksi kemudian disaring untuk
dipisahkan filtrat dan residunya. Filtrat yang diperoleh ditambah etanol 96% sebanyak
3 kali volume filtrat awal, dan diinkubasi pada suhu 4ºC selama 24 jam. Kemudian
filtrat yang terbentuk disentrifugasi dengan kecepatan 6000 rpm
2. Penyiapan Tepung Jamur
Tubuh buah jamur tiram segar yang akan diekstraks dicuci bersih kemudian
dirajang tipis-tipis. Hasil rajangan dikeringanginkan dan dijemur dibawah sinar
matahari hingga kering krispi. Selanjutnya dimasukan oven pada suhu 45ºC selama 2
jam. Jamur yang sudah kering kemudian dibuat tepung dengan cara diblender sampai
halus dan disaring dengan saringan halus, timbang beratnya (± 10% berat awal).
3. Pembuatan Nanopartikel Ekstrak Jamur Tiram Tersalut Kitosan TPP
Serbuk kitosan TPP hasil spry dryer dilarutkan kembali dalam 200 ml asam
asetat 2% dan 100 ml aquades kemudian stirrer dengan pemanasan 30ºC. 300 ml larutan
kitosan TPP ditambahkan 2 ml ekstrak jamur tiram putih 5% yang sudah ditambahkan
tween 2% kemudian sonikasi kembali dengan variasi waktu 30 menit, 60 menit, dan 90
menit. Larutan yang sudah disonikasi kemudian dilakukan karakteristik PSA dan spray
dryer untuk menghasilkan serbuk kemudian lakukan karakteristik lanjutan.

Table. 2 Kode Sampel

Waktu sonikasi ekstrak jamur tersalut Kode sampel


kitosan TPP
30 Menit B1
60 Menit B2
90 Enit B3

4. Karakterisasi Ukuran Partikel


Uji ukuran partikel dilakukan menggunakan PSA untuk mengetahui distribusi
ukuran partikel pada sampel A1, A2, B1, B2, B3 dengan tahapan :
a. Sampel diambil dengan menggunakan ujung pengaduk, dilarutkan dalam 20 mL
aquades kemudian diaduk sampai homogen.
b. Larutan sampel kemudian dimasukan kedalam disposeable plastic cuvet pipet tetes
maksimum 1 tetes.
c. Sampel diukur menggunakan Zeta Sizer Nano Particle Analyzer dengan diatur run
5 kali pengukuran per sampel pada attenuator lebar celah yang optimum yaitu sekitar
6-8.
d. Untuk sampel yang terlalu keruh maka attenuator akan berada di bawah 6, maka
sampel perlu diencerkan sedangkan untuk sampel yang terlalu transparan maka
attenuator akan berada di atas 8, maka sampel perlu ditambahkan.
e. Keluaran grafik PSA yang dihasilkan dalam bentuk intensyti, number, dan volume
distribusi.
f. Buat grafik hubungan ukuran nanopartikel dengan waktu sonikasi dari perlakuan
konsentrasi tween-80.
5. Karakteristis Morfologi Permukaan Menggunakan SEM
Sampel yang sudah di karakteristik dengan PSA kemudian analisis morfologi
permukaan pada sampel B1, B2, B3.
1. Sampel diletakkan pada plat aluminium yang memiliki dua sisi.
2. Kemudian dilapisi dengan lapisan emas dengan waktu coating ± 30 detik.
3. Sampel yang telah dilapisi kemudian diamati menggunakan SEM.
6. Pengukuran Efisiensi Penyalutan
Rekam sprektrum larutan ekstrak jamur dan ketiga sampel kitosan-jamur
dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 510 nm.
Kandungan β-glukan dihitung berdasarkan pustaka kurva kalibrasi yang diperoleh dari
larutan standar β-glukan dari Barley13 dengan memasukan absorbansi yang di dapat
dari hasil pengukuran ke dalam persamaan regresi linear. Hasil yang didapatkan yaitu
konsentrasi dalam satuan ppm yang kemudian di konversi ke satuan % w/w.
7. Karakterisasi Gugus Fungsi
Karakterisasi FTIR dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui gugus
fungsi dari ekstrak jamur tiram putih dengan tahapan sebanyak 2 mg sampel
nanopartikel dicampur dengan 100 mg KBr untuk dibuat pelet dengan pencetak vakum.
Pelet yang terbentuk dikenai sinar infra merah dengan jangkauan bilangan gelombang
400-4000 cm-1. Latar belakang absorpsi dihilangkan dengan cara pelet KBr dijadikan
satu pada setiap pengukuran.

E. Dampak Terhadap Kesehatan


Dengan penurunan ukuran, ada peningkatan toksisitas yang melekat dari
nanopartikel. Partikel nano memasuki tubuh melalui inhalasi, injeksi ke dalam aliran darah,
dan lewat melalui kulit. Mereka juga berpotensi menembus pembuluh darah otak karena
ukurannya yang kecil. Nanopartikel tersebut dapat berinteraksi dengan protein dan enzim,
mengubah ekspresi gen, dan dengan demikian mempengaruhi perilaku biologis pada
tingkat organ, jaringan, seluler, subselular, dan protein. Bahan utama yang digunakan
dalam penelitian ini adalah serbuk kitosan, beberapa efek sampingnya Antara lain pusing ,
migraine, menganggu saraf, hipotensi, sembelit, perut kembung, kelebihan lemak pada
feses (steatorrhea), kehilangan berat badan dan Reaksi anafilaktoid oleh tween-80.

Nanopartikel dalam produk makanan dan obat-obatan dicerna langsung dan masuk
ke saluran pencernaan dan berinteraksi dengan jaringan sel limfatik. Partikel-partikel yang
dicerna diekskresikan tergantung pada sifatnya tetapi dalam kasus penyumbatan
nanopartikel di saluran pencernaan, nanopartikel dapat menyebabkan kematian.
Nanopartikel secara langsung atau tidak langsung digunakan dalam produk makanan dan
obat-obatan dicerna secara oral dan diserap melalui mekanisme saluran pencernaan dari
tempat mereka masuk dalam jaringan sel limfatik (Teow et al. 2011). Nanopartikel yang
dicerna ini tergantung pada sifatnya diekskresikan jika tidak stabil atau diaglomerasi oleh
perubahan fisik atau kimia yang mengakibatkan penyumbatan saluran usus yang
menyebabkan kematian (Wang et al. 2006). Nanopartikel dapat mengubah permeabilitas
lapisan gastrointestinal dan dapat mengakibatkan bisul, melemahnya epitel, menyebabkan
metaplasia atau displasia epitel, malabsorpsi nutrisi, atau dalam kasus yang parah dapat
menyebabkan perdarahan kronis. Nanopartikel dapat berperilaku berbeda saat memasuki
sirkulasi hati. Nanopartikel dapat hepatotoksik, atau lumpur pada pohon bilier atau saluran
pankreas dan dapat menyebabkan obstruksi atau fibrosis bertahap.
F. Solusi

1. Pembatasan dosis
Menurut The Memorial Sloan-Kettering Cancer Center, beberapa pengguna
chitosan menunjukkan gejala seperti sembelit, mual, kembung, muntah, kehilangan
selera makan, dan kram perut. Itu sebabnya pada awal konsumsi sebaiknya dosisnya
sedikit saja agar memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi.
2. Penambahan konsumsi asupan buah-buahan
Penambahkan asupan buah-buahan sumber serat larut untuk menetralisir risiko
chitosan. Pilih jenis buah dengan kadar serat larut yang cukup tinggi seperti buah Noni.
Karena untuk dapat menjaga fungsi pencernaan berjalan baik, Anda membutuhkan
keseimbangan serat larut dan tidak larut. Hanya mengonsumsi salah satunya justru akan
menyebabkan sejumlah efek samping. Bahkan jika kita hanya mengonsumsi buah-
buahan tanpa serat tidak larut, kita bisa mengalami diare dan malnutrisi. Ini karena air
yang masuk ke usus membuat sari-sari makanan yang lebih habis diserap tubuh malah
terdorong masuk ke dalam usus besar serta diolah menjadi feses.
3. Kitosan
Memicu Reaksi Pusing Para pakar belum dalam memahami dengan pasti
bagaimana keluhan ini terjadi. Pada beberapa orang yang sensitif, kitosan dapat
menyebabkan pusing hingga migraine juga terhadap kinerja saraf. Dalam jurnal yang
dipublikasikan pada International Review of Neurobiology tahun 2013 ‘The use of
chitosan-based scaffolds to enhance regeneration in the nervous system’, memang
menunjukkan adanya pengaruh kitosan terhadap fungsi saraf. Dalam batas tertentu,
kitosan bisa membantu kinerja fungsi saraf dan mendorong proses regenerasi dari sel
sistem saraf. Namun pada kondisi lain, pasien justru bisa mengalami masalah dengan
fungsi sarafnya yang kerap kali ditandai dengan rasa sakit kepala.
4. Mengencerkan Darah
Pada kasus tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kolesterol dan masalah
pengentalan darah, peran chitosan dalam mengencerkan darah memang sangat baik
membantu mengatasi hipertensi. Tapi akan berbeda bila pasien sebelumnya sudah
mengonsumsi beberapa jenis obat yang bekerja sebagai “bloodthinner” atau pengencer
darah. Efek chitosan akan membuat obat bekerja ganda, dan malah bisa membahayakan
pasien. Pasien akan lebih mudah mengalami pendarahan di dalam tubuh. Selain itu jika
ia terbentur, bisa saja pasien mengalami pendarahan yang lebih parah. Hal ini juga akan
terjadi pada saat pasien mengalami luka terbuka.Dalam penelitian The use of chitosan-
based scaffolds to enhance regeneration in the nervous system juga tidak menyarankan
untuk memberikan chitosan bagi ibu hamil atau sedang menyusui. Efek anti-toksinnya
kadang menjadi cukup kuat dan dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan janin serta
merusak komposisi ASI. Risiko chitosan juga dapat mengganggu kesehatan bayi,
bahkan disarankan tidak dikonsumsi oleh anak di bawah usia 12 tahun. Dijelaskan
bahwa dosis aman yang disarankan untuk menghindari efek samping chitosan yakni
pada kisaran 1.35 gram 3 kali sehari. Sebaiknya awali dengan dosis lebih rendah, lalu
sesuaikan secara bertahap untuk memberi kesempatan tubuh beradaptasi terhadap
chitosan.
Daftar Pustaka

1. Eka, Valda Sofiana.2016. Nanoenkapulasi Ekstrak Jamur Tiram Putih (Pleurotus


Ostreatus)- Kitosan Dengan Metode Ultrasonikasi. Bogor : Institus Pertanian Bogor
2. Ginting A, Herlina N, Tyasmoro SY. 2013. Studi pertumbuhan dan produksi jamur
tiram pada media tumbuh gergaji kayu bengon dan bagas tebu. Jurnal produksi
tanaman.1(2):17-24
3. Sajid M, Ilyas M, Basheer C. Impact of nanoparticles on human and environment :
review of toxicity factors , exposures , control strategies , and future prospects. Epub
ahead of print 2014. DOI: 10.1007/s11356-014-3994-1.
4. Ghani, Sara. The Use of Chitosan-Based Scaffolds to Enhance Regeneration in the
Nervous System. Journal International Review of Neurobiology