Anda di halaman 1dari 42

SISTEMATIKA METODOLOGI PENELITIAN

Oleh:

Ahmad Taufiq MA

SISTEMATIKA METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
B. Lokasi Penelitian
C. Waktu penelitian
D. Sumber Data
E. Metode Pengumpulan Data
F. Populasi dan Penentuan Sampel
G. Instrumen penelitian
H. Metode Analisis Data

Makalah ini akan membahas lebih lanjut masing-masing bagian dari metodologi penelitian satu persatu.

A. JENIS-JENIS PENELITIAN

Dari berbagai literatur yang ada jenis penelitian sangat banyak sekali. Menurut Sugiyono (2002:2) jenis penelitian dapat
dikelompokkan menurut tujuan, pendekatan, tingkat eksplanasi dan jenis data. Berikut ini pembagian jenis penelitian
menurut Sugiyono (2002: 2-10):
Tabel 3

Tujuan Pendekatan Tingkat Eksplanasi Jenis Data

1. Murni 1. Survey 1. Deskriptif 1. Kuantitatif

2. Terapan 2. Ex Post Facto 2. Komparatif 2. Kualitatif

3. Eksperimen 3. Assosiatif 3. Gabungan Keduanya

4. Naturalistik

5. Policy Research

6. Action Research

7. Evaluasi

8. Sejarah
Sedangkan Nazir (1999:54) membagi penelitian menjadi 5 kelompok yaitu:

Tabel 4

Sejarah Deskripsi Eksperimental Grounded Penelitian


Theory Tindakan

1. Sejarah 1. Survey 1. Absolut Grouded Action


komparatif Theory Research
2. Deskriptif 2. Komparatif
2. Yuridis legal berkesinambungan
3. True
3. Biografis 3. Studi kasus experimental

4. Bibliografis 4. analisis pekerjaan 4. Quasi


experimental
5. Studi komparatif

6. Studi waktu

Sedangkan Lexy Moleong (2000) salah seorang diantara tokoh peneliti kualitatif membagi penelitian menjadi 4 macam
yaitu:

1. Pendekatan fenomenologis

2. Interaksi Simbolik

3. Kebudayaan
4. Etnometodologi

Menurut Slamet (2003:3), jenis penelitian dapat dibagi menjadi:

Jenis penggolongan Macam penelitian

Menurut tujuan 1. Penelitian eksplorasi

2. penelitian pengembangan

3. penelitian verifikasi

Menurut pendekatan 1. Penelitian cross sectional

2. Penelitian longitudinal /time series

3. Penelitian studi kasus

4. Penelitian Grounded

5. Penelitian survey

6. Penelitian assessment

7. Penelitian evaluasi

8. Penelitian aksi

Menurut tempat
1. Penelitian perpustakaan
2. Penelitian laboratorium

3. Penelitian kancah

Menurut pemakaian 1. Penelitian murni

2. Penelitian terapan

Menurut bidang ilmu 1. Penelitian pendidikan

2. Penelitian ekonomi

3. Penelitian hukum

4. dll

Menurut taraf penelitian 1. Penelitian deskriptif

2. penelitian eksplanasi

Menurut saat terjadi variabel 1. Penelitian histories

2. Penelitian ekspos facto

3. Penelitian eksperimen

Jenis penelitian menurut Newman, LW (1997) diklasifikan berdasarkan empat dimensi: 1. Berdasarkan tujuan
penelitian. 2. Berdasarkan manfaat penelitian. 3. Berdasarkan dimensi. 4. Berdasarkan teknik pengumpulan data.
Berikut ini pembagian jenis penelitian:

No Dimensi Penelitian Jenis penelitian

1 Tujuan penelitian 1. Penelitian eksploratori

2. Penelitian deskriptif

3. Penelitian eksplanatory

2 Manfaat penelitian 1. Penelitian dasar/ murni

2. Penelitian terapan

a. Penelitian action research

b. Penelitian evaluatif

– Penelitian formatif

– Penelitian sumatif

3 Waktu penelitian
1. Penelitian cross sectional

2. Penelitian longitudinal/time series


a. Panel study

b. Time series

c. Cohort studi

3. Penelitian studi kasus

4 Teknik pengumpulan data 1. Data kuantitatif

a. Penelitian eksperimen

b. Penelitian survey

c. Penelitian content analisis (analisis isi)

d. Penelitian existing statistic

2. Data kualitatif

a. Penelitian lapangan (field research)

b. Penelitian sejarah (comparative historical)

Penjelasan

1. Penelitian Eksploratory
Penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi topik baru, menggambarkan fenomena sosial dan menjelaskan
bagaimana terjadinya suatu fenomena sosial.

Tujuan penelitian eksplorasi adalah:

a Menjadikan sebuah topik yang baru dikenal oleh masyarakat luas.


b Mengembangkan gambaran dasar mengenai topik yang sedang dibahas.
c Menggeneralisasi beberapa gagasan dan mengembangkan teori yang bersifat tentatif.
d Membuka kemungkinan diadakanya penelitian lanjutan mengenai topik yang sedang dibahas.
e Memformulasikan pertanyaan dan menjelaskan kembali sebuah topik sehingga menjadi lebih sistematik untuk
dimengerti.
f Mengembangkan teknik dan arah untuk penelitian selanjutnya.

2. Penelitian Deskriptif

Tujuan penelitian deskriptif adalah menyajikan gambaran yang lengkap mengenai setting sosial dan hubungan-hubungan
yang terdapat dalam penelitian.

Tujuan dari penelitian deskriptif adalah:

a Menghasilkan gambaran yang akurat tentang sebuah kelompok.


b Menggambarkan mekanisme sebuah proses atau hubungan.
c Memberikan gambaran, baik yang berbetnuk verbal maupun numerikal.
d Menyajikan informasi dasar.
e Menciptakan seperangkat kategori atau pengklasifikasian.
f Menjelaskan tahapan-tahapan atau seperangkat tatanan.
g Menyimpan informasi yang tadinya bersifat kontradiktif mengenai subyek penelitian.

3. Penelitian Eksplanatory

Penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sebuah fenomena sosial terjadi. Tujuan dari penelitian
ekplanasi yaitu:

a Menjelaskan secara akurat sebuah teori.


b Mencari penjelasan yang lebih baik mengenai sebuah topik.
c Mengembangkan pengetahuan yang lebih jauh mengenai sebuah proses.
d Menghubungkan topik-topik yang berbeda namun memiliki kesamaan dalam pernyataan.
e Membangun dan memodifikasi sebuah teori sehingga menjadi lebih lengkap.
f Mempertahankan sebuah teori dalam topik baru.
g Menghasilkan bukti untuk mendukung sebuah penjelasan atau prediksi.

4. Penelitian Murni

Penelitian murni menjelaskan pengetahuan yang amat mendasar mengenai dunia sosial. Penelitian ini mendukung teori
yang menjelaskan bagaimana sosial, apa yang menyebabkan sebuah peristiwa terjadi.

5. Penelitian Terapan

Penelitian yang bersifat pragmatis serta berorientasi pada perubahan serta mencoba untuk menyelesaikan masalah
tertentu secara spesifik. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi-rekomendasi bagi masalah-masalah tertentu, dan bukan
semata-mata untuk mengembangkan teori.
Beda Penelitian Murni dan Terapan

Penelitian murni Penelitian terapan

1. Penelitian diadakan untuk kepuasan peneliti. 1. Penelitian adalah pekerjaan yang diatur oleh sponsor
yang kedudukannya ada di luar disiplin ilmu.
2. Peneliti secara bebas memilih permasalahan
dan subyek penelitian. 2. Penelitian diadakan berdasarkan tuntutan pemberi
sponsor.
3. Penelitian diadakan berdasarkan norma
absolut penelitian yang dibuat oleh peneliti. 3. Sponsor diberikan berdasarkan manfaat yang diperoleh
setelah hasil penelitian.
4. Fokus penelitian pada logika dan rancangan
penelitian yang dibuat oleh peneliti. 4. Fokus penelitian adalah kemampuan untuk
menggeneralisasikan hasil penelitian sehingga dapat
5. Tujuan utamanya adalah untuk
digunakan untuk kepentingan pemberi sponsor.
menyumbangkan pengetahuan teoritis dasar.
5. Tujuan utamanya adalah tujuan pragtis dari hasil
6. Keberhasilan dinilai ketika hasil penelitian
penelitian.
dimuat dalam jurnal dan memiliki pengaruh
pada komunitas ilmuan lain. 6. Keberhasilan dinilai ketika hasil penelitian dapat
digunakan oleh pihak pemberi sponsor dalam membuat
keputusan.
Ada beberapa macam penelitian terapan yaitu:

a. Action research

Merupakan penelitian terapan yang berfokus pada tindakan sosial seperti masalah gender

b. Evaluative

Penelitian terapan yang mengukur keberhasilan suatu program, penelitian evaluaitve ini meliputi:

– Formatif, yaitu penelitian yang dilakukan selama program berjalan.

– Sumatif, berupa penelitian yang dilakukan ketika program sudah selesai.

6. Penelitian Cross Sectional

Penelitian yang mengambil satu bagian dari gejala (populasi) pada satu waktu tertentu. Penelitian ini biasanya
merupakan penelitian yang mudah dan berbiaya murah

7. Penelitian Longitudinal

Penelitian yang dilakukan pengamatan-pengamatan yang berkaitan dengan satu fenomena sosial –informasi-informasi
mengenai masyarakat atau unit penelitian lain dalam durasi waktu tertentu yang dilakukan lebih dari sekali. Penelitian ini
lebih kompleks dan memerlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan cross sectional.
Penelitian ini terdiri dari:

a Panel studi, yaitu peneliti mengamati kelompok orang-orang yang sama dalam kurun waktu yang berbeda.
b Time series, yaitu peneliti mengumpulkan tipe informasi yang sama mengenai perubahan gejala dari sekelompok
orang dalam waktu yang berbeda.
c Cohort studi, yaitu peneliti mengamati perubahan gejala pada pada sejumlah responden dengan karakteristik yang
sama – bisa dilihat dari pengalaman hidup yang dimilikinya.

8. Penelitian Case Study

Penelitian ini bersifat mendalam dengan penekanan pada kasus-kasus yang spesifik yang terjadi pada satu rentang
waktu yang ketat.

9. Penelitian Eksperimen

Penelitian yang dilakukan dalam lingkungan laboratorium maupun dalam kehidupan yang sebenarnya. Peneliti biasanya
menciptakan kondisi yang dimanipulasi bagi salah satu kelompok subyek penelitiannya.

10. Penelitian Survey

Peneliti mengajukan pertanyaan tertulis, baik yang telah tersusun dalam kuisioner maupun dalam wawancara.

11. Penelitian Content Analisis

Teknik pengumpulan data untuk menjelaskan formasi yang terdapat dalam material yang bersifat simbolik seperti
gambar, film dan lirik lagu.

12. Penelitian Excisting Variabel


Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan data statistik yang dikumpulkan pada penelitian terdahulu maupun
laporan yang diberikan oleh pemerintah.

13. Penelitian Lapangan

Penelitian yang dilakukan dalam bentuk studi kasus pada kelompok kecil orang dalam durasi waktu tertentu.

14. Penelitian historical comparative

Menjelaskan aspek-aspek kehidupan sosial yang terjadi di masa lalu atau yang terjadi pada kebudayaan yang
berbeda.Penelitian historis bertujuan untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara
mengumpulkan, mengevaluasi dan memverifikasikan, serta mensistematiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan
memperoleh kesimpulan yang kuat, dihubungkan dengan fakta yang ada pada masa sekarang dan proyeksi masa depan.

15. Penelitian Perkembangan

Penelitian perkembangan bertujuan untuk menyelidiki pola dan perurutan pertumbuhan atau perubahan sebagai fungsi
waktu. Contoh studi mengenai pertumbuhan anak secara langsung dengan mengukur pertumbuhan dan perkembangan
anak (individu) yang diteliti.

16. Penelitian Korelasional

Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menyelidiki sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan
variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

17. Penelitian Kausal Komparatif


Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat yang ada, mencari kembali fakta yang
mungkun menjadi penyebab melalui daa tertentu.

18. Penelitian Eksperimental Sungguhan

Penelitian eksperimental sungguhan bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan
cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental, satu atau lebih kondisi perlakuan dari membandingkan
hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.

19. Penelitian Eksperimental Semu

Penelitian Eksperimental semu bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang
dapat diperoleh denganeksperimen yang sebenarnya dalam keadaan ang tidak memungkinkan untuk mengontrol atau
memanipulasikan semua variabel yang relevan.

20. Penelitian Eksplorasi

Penelitian yang mencari sebab akibat permasalahan dan maslah tersebut belum pernah terjadi, sehingga peneliti
bertindak dalam suasana kegelapan, namun berusaha untuk menemukan permaslahan yang sedang atau akan diteliti.

21. Penelitian Pengembangan

Bertujuan untuk mengembangkan hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, baik pengembangan ilmu murni
maupun untuk terapan

22. Penelitian Verifikasi


Penelitian yang bermaksud mengulangi penelitian dengan maslah dan obyek yang sama, dengan tujuan mengoreksi
penelitian sebelumnya.

23. Penelitian Grounded

Suatu metode penelitian yang mendasarkan diri kepada fakta dan menggunakan analisa perbandingan bertujuan untuk
mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori dimana
pengumpulan data dan analisa data berjalan pada waktu yang bersamaan.

24. Penelitian Asessment

Penelitian ini dalam kasus-kasus management atau ekonomi digunakan untuk penilaian suatu proyek dimulai sampai
akhir proyek, sehingga kredibilitas peneliti sangat diutamakan.

25. Penelitian Perpustakaan

Penelitian yang dilakukan di ruang perpustakaan dengan berbagai literature atau yang disebut dengan penelitian literatur

26. Penelitian Laboratorium

Penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan menggunakan eksperimen-eksperimen biasa sering digunakanoleh
orang-orang eksakta

27. Penelitian Kancah

Penelitian yang berhubungan dengan masyarakat tentang manusia dimana persoalan atau permaslahan tidak kunjung
selesai.

28. Penelitian Ekspos Fakto


Penelitian untuk mengekspos kejadian-kejadian yang sedang berlangsung

B. Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian secara ekstrim dipisahkan menjadi dua macam yaitu paradigma kuantitatif, dan paradigma
kualitatif.

1. Paradigma Kuantitatif

Paradigma ini menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dengan
angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

2. Paradigma Kualitatif

Penelitian ini menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan
kondisi realitas atau natural setting yang holistik, komplek dan rinci.

Tabel 1: Perbedaan Asumsi Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif

Paradigma Kuantitatif Paradigma Kualitatif

Realitas bersifat objektif dan berdimensi tunggal. Realitas bersifat subjektif dan berdimensi banyak.

Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti. Peneliti berinteraksi dengan fakta yang diteliti.

Bebas nilai dan tidak bias. Tidak bebas nilai dan bias.
Pendekatan deduktif. Pendekatan induktif.

Pengujian teori dengan analisis kuantitatif. Penyusunan teori dengan analisis kualitatif.

C. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti
memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan dengan jelas, jika perlu disertakan peta lokasi, struktur organisasi,
dan suasana kerja sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada kemenarikan dan keunikannya

D. Waktu Penelitian

Periode penelitian disebutkan dengan jelas, diawali dengan kapan dimulainya penelitian sampai dengan target
selesainya penelitian yang akan dilakukan.

E. Sumber Data

Data yang dikumpulkan secara garis besar dapat dibagi menjadi:

1. Data primer. Yaitu data yang dikumpulkan, diolah, dan disajikan oleh peneliti dari sumber pertama.

2. Data sekunder. Yaitu data yang dikumpulkan, diolah, dan disajikan oleh pihak lain yang biasanya dalam bentuk
publikasi ilmiah atau jurnal.

F. Metode Pengumpulan Data


Ada beberapa metode pngumpulan data. Yaitu: metode observasi (pengamatan), metode kuisioner (angket), metode
interviw (wawancara), dan metode dokumentasi.

1. Metode Observasi (Pengamatan)

a. Pengertian dan ciri-ciri

Pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara
sistematik gejala-gejala yang diselidiki.

Ciri-ciri metode observasi adalah:

1) Mempunyai arah yang khusus, sistematik, bersifat kuantitatif.


2) Diikuti pencatatan segera (pada waktu observasi berlangsung), hasilnya dapat dicek dan dibuktikan.

b. Petunjuk untuk mengadakan pengamatan:

1) Memiliki pengetahuan terhadap apa yang akan diobservasi dan berlaku sangat cermat dan kritis.

2) Menyelidiki tujuan penelitian (baik umum maupun khusus). Kejelasan tujuan penelitian akan menuntun
mempermudah apa yang harus diobservasi.

2. Metode Kuisioner (Angket)

a. Pengertian dan tujuan

Metode kuisioner adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu maslaah atau
bidang yang akan diteliti untuk memperoleh data, angket disebarkan kepada responden (orang-orang yang menjawab
jadi yang diselidiki), terutama pada penelitian survei.
Tujuan dilakukan angket atau kuisioner ialah: 1) Memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. 2)
Memperoleh informasi mengenai suatu maslaah secara serentak.

b. Macam-macam angket

1) Menurut prosedurnya, angket terbagi menjadi:

i. Angket langsung, yaitu angket yang dikirimkan kepada dan dijawab oleh responden.

ii. Angket tidak langsung, yaitu angket yang dikirim kepada seseorang untuk mencari informasi
(keterangan) tentang orang lain.

2) Menurut jenis penyusun itemnya dapat dibedakan menjadi:

i. Angket tipe isian, yang terbagi menjadi dua:

i.a. Angket terbuka, yaitu apabila responnya tentang masalah yang dipertanyakan

Contoh: Bagaimana pendapat anda jika seseorang yang berkelainan (tuna) baik fisik maupun
mental tidak dididik?

Jawab: ….

i.b. Angket tertutup, yaitu angket yang diwajibkan oleh responden secara oleh faktor-faktor tertentu
misalnya faktor subyektivitas seseorang

Contoh: Siapa nama anda? Jawab …

Apa hobi anda? Jawab …


ii. Angket tipe pilihan.

Yaitu angket yang harus dijawb oleh responden dengan cara tinggal memilih salah satu jawaban yang
sudah tersedia jumlah alternatif jawab minimal dua dan maksimal sebaiknya lima alternatif, dengan
maksud supaya responden tidak bosan.

Contoh: Sudah berapa lama anda tinggal di kota ini?

Jawab:

( …. ) 1 tahun atau kurang dari 2 tahun

( …. ) 2 tahun atau hampir 2 tahun

( …. ) 3 tahun atau hampir 3 tahun

( …. ) 4 tahun atau hampir 4 tahun

c. Menyusun petunjuk

Dalam menyusun petunjuk-petunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan perlu diperhatikan petunjuk-


petunjuk berikut ini:

1) Petunjuk harus singkat, lengkap, jelas namun tepat.

2) Petunjuk harus jelas. Hindarkan kata-kata asing, sulit bahkan kabur.

3) Tiap-tiap jawaban yang berbeda dengan jawaban berikutnya, hendaknya diberi petunjuk baru.
4) Bila perlu gunakanlan contoh. Berilah satu atau dua contoh tentang cara menjawabnya, namun jangan
menimbulkan kesan menyarankan atau memberi sugesti kepada respon (orang yang diberi kuisioner)

c. Menyusun items (pertanyaan-pertanyaan)

1) Mempergunakan kata.

Dalam membuat kuisoner, hendaknya diperhatikan beberapa hal berikut ini:

i. Tegas dan jelas, biasa dipakai sehari-hari yang sudah dimengerti oleh responden.

ii. Hindari kata-kata yang sifatnya sentimentil. Gantilah kata-kata itu dengan yang lebih sopan.

2) Urutan-urutan pertanyaan.

Pada umumnya daftar pertanyaan mengandung tiga unsur, yaitu:

i. Informasi yang akan dikumpulkan.

ii. Identitas responden. Seperti nama, umur, kelamin, dan lain sebagainya.

iii. Bagian yang memuat mengenai tenaga lapangan (field worker).

3) Susunan pertanyaan.

i. Pertanyaan sebaiknya dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan perhatian dan minat, serta
gampang dijawab.

ii. Pertanyaan yang kurang menarik perhatian, apalagi mengenai soal-soal pribadi, sebaiknya diletakkan di
bagian tengah angket.
iii. Sebaiknya diajukan pertanyaan-pertanyaan pancingan untuk mengecek jawaban dari pertanyaan lain.

iv. Pertanyaan-pertanyaan harus disusun secara sistematis.

d. Menganalisis data

Setelah semua jawaban diterima kembali dan dicek kelengkapan jawabannya, lalu dilanjutkan dengan
menabulasikan hasil-hasil jawaban yang ada ke dalam daftar tabulasi, untuk sementara jawaban yang kurang lengkap
dipisahkan terlebih dahulu.

Bila data yang masuk sudah cukup lengkap dan persiapan analisis (tabulasi) telah cukup baik dan benar, maka
analisis dapat segera dilaksanakan. Untuk lebih menperdalam dan mengongkretkan analisis, gunakanlah analisis
kuantitatif (statistik). Namun jika permasalahannya dipandang cukup simpel, analisisnya dapat menggunakan kualitatif
(pernyataan-pernyataan/statement saja).

3. Metode Interview (Wawancara)

Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan. Dilakukan dalam tatap
muka dua orang atau lebih, lalau mendengarkan secara langsung informasi atau keterangan-keterangan yang
dibutuhkan.

Tujuan wawancara ialah untuk mengumpulkan informasi, dan bukannya untuk mengubah atau memengaruhi
pendapat responden.

4. Metode Dokumentasi
Metode ini berasal dari:

a. Sumber tertulis. Seperti buku, majalah ilmiah, arsip, atau dokumen pribadi maupun resmi.

b. Foto-foto.

C. Data statistik sebagai data tambahan.

G. Populasi dan Sampel

Populasi seperti dikatakan Suharsimi (1993), adalah keseluruhan subyek penelitan. Apabila seseorang ingin
meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Scarvia
B. Anderson (1975) mengatakan, “A population is a set (or collection) of elements possessing one or more attributes of
interest.” Sedangkan Husein (2002) mengartikan populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau
subyek yang memunyai karakteristik tertentu dan kesempatan sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan
Singarimbun (1989), berpendapat populasi ialah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.

Menurut Suharsimi (1993), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sedangkan Husein (2002),
berpendapat bahwa sampel merupakan bagian kecil dari suatu populasi. Sekaran (2003) menilai, hampir seluruh
populasi diambil sebagai sampel. Dan menurut Roscoe (dalam Sekaran, 2003) ukuran sampel lebih besar dari 30, dan
kurang dari 500 adalah jumlah yang cocok untuk hampir semua jenis penelitian.

Pada umumnya masalah sampling timbul apabila peneliti bermaksud untuk:

1. Mereduksi obyek penyelidikannya dengan mengambil sebagian obyek gejala atau kejadian yang dimaksudkan saja.
2. Peneliti ingin mengadakan generalisasi dari hasil penyelidikannya. Mengadakan generalisasi berarti mengesahkan
kesimpulan-kesimpulan kepada obyek-obyek gejala atau kejadian-kejadian yang lebih luas daripada obyek-obyek
gejala maupun kejadian-kejadian yang diselidiki.

1. Petunjuk mengambil sampel

a. Daerah generalisasi

Yang terpenting di sini adalah menentukan terlebih dahulu luas populasi sebagai daerah generalisasi.
Selanjutnya barulah menentukan sampel dari daerah penelitian itu. Contoh yang penting untuk diperhatikan, jika
kita ingin menyelidik hanya satu kelas dalam sebuah sekolah, jangan perluas pengambilan sampelnya hingga ke
kelas-kelas lain. Apalagi meluaskannya hingga menyimpulkan sekolah-sekolah lain.

2. Penegasan sifat-sifat dan batas-batas populasi

Bila luas daerah generalisasinya telah ditetapkan, haruslah segera diikuti dengan penegasan tentang sifat-
sifat populasinya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya validitas dan reliabilitas penelitian.

3. Sumber-sumber informasi tentang populasi

Untuk mengetahui ciri-ciri populasi secara rinci, dapat diperoleh melalui bermacam-macam sumber informasi
sepuytar populasi yang dituju. Misalnya menelisik sensus penduduk, atau dokumen yang disusun oleh instansi
dan organisasi.

4. Menetapkan besar kecilnya sampel

Dalam konteks ini, penelitian pada dasar tidak membatasi besar atau kecilnya sampel yang harus diambil.
5. Teknik-teknik Sampling

a. Teknik random sampling (probability sampling).

Yaitu pengambilan sampling secara acak. Atau teknik pengambilan sampel semua individu dalam populasi,
baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Semua sampel diberi kesempatan sama untuk dipilih menjadi
anggota sampel.

Pelaksaan teknik ini dapat berupa:

1) Undian

2) Ordinal. Yaitu dengan memilih nomor-nomor genap atau gasal atau kelipatan tertentu melalui
pembuatan daftar yang berisi semua subyek, obyek peristiwa atau kelompok yang akan diselidiki,
lengkap dengan nomor urutnya.

3) Randomisasi dari tabel bilangan random. Cara ini menuntun para peneliti untuk memilih anggota
sampel dengan langkah menjatuhkan pensil secara sembarang pada petak-petak tabel yang berisi
nomor-nomor, hingga diperoleh sebanyak anggota yang dibutuhkan.

b. Teknik non random sampling (non probability sampling).

Yaitu cara pengambilan sampel yang tidak memberi semua anggota populasi kesempatan untuk dipilih
menjadi sampel. Penelitian-penelitian pendidikan maupun psikologi, adakalanya menggunakan teknik ini, karena
mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. Misalnya: faktor umur, tingkat kedewasaan, tingkat kecerdasan dan
lain-lain.

6. Cara menentukan jumlah sampel


Untuk menentukan besarnya sampel dari populasi yang ada, peneliti dapat menggunakan rumus Slovin
(Husein Umar,SE,MM, 2002:146):

21NeNn+=

n = Ukuran sampel

N = Ukuran populasi

e= Prosen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir
atau diinginkan.

Contoh:

Jika jumlah populasinya 245, lalu berapakah jumlah populasi minimal yang harus diambil dengan
taraf sign 10 % ?

Jawabannya adalah sebagai berikut:

2)1,0(2451245+=n

n = 71

Sedangkan menurut Naresh K. Malhotra (1993), untuk menentukan ukuran sampel dari populasi, ditetapkan
sesuai dengan variabel atau butir pertanyaan yang digunakan dalam penelitian. Menurutnya, jumlah sampel
(responden) paling sedikit 4 atau 5 kali jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian.

Misalnya, dalam sebuah penelitian menggunakan 15 variabel, maka besar sampelnya minimal 60 orang
(15×4). Dengan demikian, jumlah 60 sampel responden dianggap sudah memenuhi syarat.
Cara menghitung sampel yang paling mudah adalah dengan menggunakan formulasinya Sekaran (2003).
Dalam tabel simulasinya Sekaran telah menentukan jumlah sampel minimal yang harus diambil jika seseorang
mengadakan penelitian.

Berikut ini tabel simulasi Sekaran:

Tabel: 3 Table for Ditermining Sample Size from a Given Population

N s N s N s

10 10 220 140 1200 291

15 14 230 144 1300 297

20 19 240 148 1400 302

25 24 250 152 1500 306

30 28 260 155 1600 310

40 32 270 159 1700 313

45 36 280 162 1800 317

50 40 290 165 1900 320

55 44 300 169 2000 322

60 48 320 175 2200 327


65 52 340 181 2400 331

70 56 360 186 2600 335

75 59 380 191 2800 338

80 63 400 196 3000 341

85 66 420 201 3500 346

90 70 440 205 4000 351

95 73 460 210 4500 354

100 76 480 214 5000 357

105 80 500 217 6000 361

110 86 550 226 7000 364

120 92 600 234 8000 367

130 97 650 242 9000 368

140 103 700 248 10000 370

150 108 750 254 15000 375

160 113 800 260 20000 377


170 118 850 265 30000 379

180 123 900 269 40000 380

190 127 950 274 50000 381

200 132 1000 278 75000 382

210 136 1100 285 1000000 384

N: Population sizes.

S: Sample size.

Metode Pengumpulan Data dalam Penelitian

ILUSTRASI PENGUMPULAN DATA (SAMUEL/UCEO)

Salah satu komponen yang penting dalam penelitian adalah proses peneliti dalam pengumpulan data. Kesalahan yang
dilakukan dalam proses pengumpulan data akan membuat proses analisis menjadi sulit. Selain itu hasil dan kesimpulan
yang akan didapat pun akan menjadi rancu apabila pengumpulan data dilakukan tidak dengan benar.

Masing-masing penelitian memiliki proses pengumpulan data yang berbeda, tergantung dari jenis penelitian yang hendak
dibuat oleh peneliti. Pengumpulan data kualitatif pastinya akan berbeda dengan pengumpulan data kuantitatif. Pengumpulan
data statistik juga tidak bisa disamakan dengan pengumpulan data analisis.
Pengumpulan data penelitian tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Terdapat langkah pengumpulan data dan teknik
pengumpulan data yang harus diikuti. Tujuan dari langkah pengumpulan data dan teknik pengumpulan data ini adalah demi
mendapatkan data yang valid, sehingga hasil dan kesimpulan penelitian pun tidak akan diragukan kebenarannya.
DEFINISI PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti biasanya telah memiliki dugaan berdasarkan teori yang ia gunakan, dugaan
tersebut disebut dengan hipotesis (Baca juga: Pengertian Hipotesis dan Langkah Perumusan Hipotesis). Untuk membuktikan
hipotesis secara empiris, seorang peneliti membutuhkan pengumpulan data untuk diteliti secara lebih mendalam.

Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Pengumpulan data dilakukan
terhadap sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi penerimanya dan
masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. Data bisa memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka,
bahasa, simbol, bahkan keadaan. Semua hal tersebut dapat disebut sebagai data asalkan dapat kita gunakan sebagai
bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian, ataupun suatu konsep.

Data dapat dibedakan dalam beberapa kategori. Jenis-jenis data dapat dikategorikan sebagai berikut:

A. Menurut cara memperolehnya:

1. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari subjek atau objek penelitian.
2. Data sekunder, yaitu data yang didapatkan tidak secara langsung dari objek atau subjek penelitian.
B. Menurut sumbernya

1. Data internal, yaitu data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan dalam sebuah organisasi
2. Data eksternal, yaitu data yang menggambarkan duatu keadaan atau kegiatan di luar sebuah organisasi

C. Menurut sifatnya

1. Data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka pasti


2. Data kualitatif, yaitu data yang bukan berbentuk angka

D. Menurut waktu pengumpulannya

1. Cross section/insidentil, yaitu data yang dikumpulkan hanya pada suatu waktu tertentu
2. Data berkala/ time series, yaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan suatu perkembangan
atau kecenderungan keadaan/ peristiwa/ kegiatan.

METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam penelitian, kita seringkali mendengar istilah metode pengumpulan data dan instrumen pengumpulan data. Meskipun
saling berhubungan, namun dua istilah ini memiliki arti yang berbeda. Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara
yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sementara itu instrumen pengumpulan data merupakan alat yang
digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen pengumpulan data dapat berupa check list,
kuesioner, pedoman wawancara, hingga kamera untuk foto atau untuk merekam gambar.
Ada berbagai metode pengumpulan data yang dapat dilakukan dalam sebuah penelitian. Metode pengumpulan data ini
dapat digunakan secara sendiri-sendiri, namun dapat pula digunakan dengan menggabungkan dua metode atau lebih.
Beberapa metode pengumpulan data antara lain:

1. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara peneliti
dan narasumber. Seiring perkembangan teknologi, metode wawancara dapat pula dilakukan melalui media-media tertentu,
misalnya telepon, email, atau skype. Wawancara terbagi atas dua kategori, yakni wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.

a. Wawancara terstruktur

Dalam wawancara terstruktur, peneliti telah mengetahui dengan pasti informasi apa yang hendak digali dari narasumber.
Pada kondisi ini, peneliti biasanya sudah membuat daftar pertanyaan secara sistematis. Peneliti juga bisa menggunakan
berbagai instrumen penelitian seperti alat bantu recorder, kamera untuk foto, serta instrumen-instrumen lain.

b. Wawancara tidak terstruktur

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas. Peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi
pertanyaan-pertanyaan spesifik, namun hanya memuat poin-poin penting dari masalah yang ingin digali dari responden.
2. Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor dalam pelaksanaannya.
Metode pengumpulan data observasi tidak hanya mengukur sikap dari responden, namun juga dapat digunakan untuk
merekam berbagai fenomena yang terjadi. Teknik pengumpulan data observasi cocok digunakan untuk penelitian yang
bertujuan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, dan gejala-gejala alam. Metode ini juga tepat dilakukan pada
responden yang kuantitasnya tidak terlalu besar. Metode pengumpulan data observasi terbagi menjadi dua kategori, yakni:

a. Participant observation

Dalam participant observation, peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan sehari-hari orang atau situasi yang diamati
sebagai sumber data.

b. Non participant observation

Berlawanan dengan participant observation, non participant observation merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut
secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.

3. Angket (kuesioner)

Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang lebih efisien
bila peneliti telah mengetahui dengan pasti variabel yag akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Selain
itu kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas.
Berdasarkan bentuk pertanyaannya, kuesioner dapat dikategorikan dalam dua jenis, yakni kuesioner terbuka dan kuesioner
tertutup. Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang memberikan kebebasan kepada objek penelitian untuk menjawab.
Sementara itu, kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah menyediakan pilihan jawaban untuk dipilih oleh objek
penelitian. Seiring dengan perkembangan, beberapa penelitian saat ini juga menerapkan metode kuesioner yang memiliki
bentuk semi terbuka. Dalam bentuk ini, pilihan jawaban telah diberikan oleh peneliti, namun objek penelitian tetap diberi
kesempatan untuk menjawab sesuai dengan kemauan mereka.

4. Studi Dokumen

Studi dokumen adalah metode pengumpulan data yang tidak ditujukan langsung kepada subjek penelitian. Studi dokumen
adalah jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna untuk bahan analisis. Dokumen yang
dapat digunakan dalam pengumpulan data dibedakan menjadi dua, yakni:

a. Dokumen primer

Dokumen primer adalah dokumen yang ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa, misalnya: autobiografi

b. Dokumen sekunder

Dokumen sekunder adalah dokumen yang ditulis berdasarkan oleh laporan/ cerita orang lain, misalnya: biografi.
IKUTI KULIAH BISNIS ONLINE & GRATIS UCEO

Bila selama ini anda mengalami kesulitan dalam menjual produk / jasa anda, maka pembelajaran KEJAR TARGET ini adalah
yang anda butuhkan!

Di pembelajaran KEJAR TARGET, Dedy Budiman yang adalah seorang champion sales trainer mengajarkan secara jelas
dan gamblang mengenai prinsip, tips serta teknik dalam berjualan yang perlu dikuasai oleh seorang sales untuk mencapai
target penjualan yang diinginkan. Disertai dengan berbagai contoh problem nyata yang sering dihadapi dalam berjualan,
menjadikan pembelajaran KEJAR TARGET ini sangat menarik untuk diikuti dan mudah untuk dimengerti.

Anda ingin meningkatkan kemampuan dalam menjual? Segera ikuti KEJAR TARGET !

Pengertian Hipotesis dan Langkah Perumusan


Hipotesis
PENGERTIAN HIPOTESIS

Ketika sedang melihat sebuah drama ataupun reality show di televisi, pernahkah Anda menduga-duga apa yang akan terjadi pada tokoh
utama di akhir cerita? Jika pernah, apa dasar yang Anda gunakan untuk membuat dugaan tersebut?
Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang membuat kita sering menduga-duga tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Seringkali
dugaan-dugaan tersebut muncul karena adanya pengalaman akan hal yang sama atau setidaknya mirip dengan kejadian yang tengah kita
hadapi. Dalam ranah penelitian, dugaan-dugaan juga seringkali muncul. Dugaan ini lebih sering disebut dengan istilah hipotesis.

Hipotesis (atau ada pula yang menyebutnya dengan istilah hipotesa) dapat diartikan secara sederhana sebagai dugaan sementara.
Hipotesis berasal dari bahasa Yunani hypoyang berarti di bawah dan thesis yang berarti pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian.
Jika dimaknai secara bebas, maka hipotesis berarti pendapat yang kebenarannya masih diragukan. Untuk bisa memastikan kebenaran dari
pendapat tersebut, maka suatu hipotesis harus diuji atau dibuktikan kebenarannya.

Untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis, seorang peneliti dapat dengan sengaja menciptakan suatu gejala, yakni melalui percobaan
atau penelitian. Jika sebuah hipotesis telah teruji kebenarannya, maka hipotesis akan disebut teori.

Dalam penelitian ada dua jenis hipotesis yang seringkali harus dibuat oleh peneliti, yakni hipotesis penelitian dan hipotesis statistik.
Pengujian hipotesis penelitian merujuk pada menguji apakah hipotesis tersebut betul-betul terjadi pada sampel yang diteliti atau tidak.
Jika apa yang ada dalam hipotesis benar-benar terjadi, maka hipotesis penelitian terbukti, begitu pun sebaliknya. Sementara itu, pengujian
hipotesis statistik berarti menguji apakah hipotesis penelitian yang telah terbukti atau tidak terbukti berdasarkan data sampel tersebut
dapat diberlakukan pada populasi atau tidak.

MACAM HIPOTESIS

Terdapat tiga macam hipotesis dalam penelitian, yakni hipotesis deskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif. Masing-masing
dari hipotesis ini dapat digunakan sesuai dengan bentuk variabel penelitian yang digunakan. Apakah penelitian menggunakan variabel
tunggal/ mandiri atau kah variabel jamak? Jika yang digunakan adalah variabel jamak, apa yang ingin diketahui oleh peneliti dalam
rumusan masalah?

1. Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskripsif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yang berhubungan dengan
variabel tunggal/mandiri.

Contoh:

Seorang peneliti ingin mengetahui apakah bakso di restoran Bakso Idola Malang mengandung boraks atau tidak.

Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut: Apakah bakso di restoran Bakso Idola Malang mengandung boraks?

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel tunggal yakni bakso di restoran Bakso Idola Malang, maka hipotesis yang
digunakan adalah hipotesis deskriptif. Ada dua pilihan hipotesis yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia
gunakan, yakni:

Ho : Bakso di restoran Bakso Idola Malang mengandung boraks

Atau

H1 : Bakso di restoran Bakso Idola Malang tidak mengandung boraks


2. Hipotesis Komparatif

Hipotesis komparatif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan
perbandingan (komparasi) antara dua variabel penelitian.

Contoh:

Seorang peneliti hendak mengetahui bagaimana sikap loyal antara pendukung club sepakbola Manchester United jika dibandingkan
dengan sikap loyal pendukung club sepakbola Chelsea. Apakah pendukung memiliki tingkat loyalitas yang sama ataukah berbeda.

Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut: Apakah pendukung club sepakbola Manchester United dan Chelsea
memiliki tingkat loyalitas yang sama?

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel jamak. Variabel pertama adalah loyalitas club sepakbola Manchester
United, sedangkan variabel kedua adalah loyalitas club sepakbola Chelsea. Karena rumusan masalah mempertanyakan perihal
perbandingan antara dua variabel, maka hipotesis yang digunakan adalah hipotesis komparatif. Ada dua pilihan hipotesis yang dapat
dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia gunakan, yakni:

Ho: Pendukung club Manchester United memiliki tingkat loyalitas yang sama dengan pendukung club Chelsea

Atau

H1: Pendukung club Manchester United memiliki tingkat loyalitas yang tidak sama (berbeda) dengan pendukung club Chelsea
3. Hipotesis Asosisatif

Hipotesis asosiatif dapat didefinisikan sebagai dugaan/jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan hubungan
(asosiasi) antara dua variabel penelitian.

Contoh:

Seorang peneliti ingin mengetahui apakah sinetron berjudul “Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam mengendarai
motor.

Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut: Apakah sinetron berjudul “Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-
laki dalam mengendarai motor?

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel jamak. Variabel pertama adalah sinetron berjudul “Anak Jalanan”,
sedangkan variabel kedua adalah gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor. Karena rumusan masalah mempertanyakan perihal
hubungan antara dua variabel, maka hipotesis yang digunakan adalah hipotesis asosiatif. Ada dua pilihan hipotesis yang dapat dibuat oleh
peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia gunakan, yakni:

Ho: Sinetron berjudul “Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor.

Atau

H1: Sinetron berjudul “Anak Jalanan” tidak memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor.
CIRI-CIRI HIPOTESIS YANG BAIK

Setiap orang bisa membuat hipotesis, entah hipotesis dalam penelitian maupun hipotesis untuk hal-hal yang lebih sederhana dalam
berbagai gejala di kehidupan sehari-hari. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menghasilkan suatu
hipotesis yang baik. Menurut Moh. Nazir, setidaknya ada 6 ciri-ciri hipotesis yang baik, yaitu:

1. Harus menyatakan hubungan


2. Harus sesuai dengan fakta
3. Harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan
4. Harus dapat diuji
5. Harus sederhana
6. Harus bisa menerangkan fakta

Dengan demikian, untuk membuat sebuah hipotesis yang baik, seorang peneliti harus mempertimbangkan fakta-fakta yang relevan,
masuk akal dan tidak bertentangan dengan hukum alam. Selain itu, hipotesis juga harus bisa diuji sebagai langkah verifikasi dalam
penelitian.

PERUMUSAN HIPOTESIS

Setelah mengetahui pengertian hipotesis, jenis-jenis hipotesis, dan ciri-ciri hipotesis yang baik, sekarang saatnya kita belajar untuk
membuat hipotesis. Untuk menghasilkan sebuah hipotesis, tentunya kita harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Dengan langkah dan
cara yang benar, sebuah hipotesis yang baik akan memudahkan jalannya proses penelitian.
Awal terbentuknya hipotesis dalam sebuah penelitian biasanya diawali atas dasar terkaan atau conjecture peneliti. Meskipun hipotesis
berasal dari terkaan, namun sebuah hipotesis tetap harus dibuat berdasarkan paca sebuah acuan, yakni teori dan fakta ilmiah.

Teori Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis

Untuk memudahkan proses pembentukan hipotesis, seorang peneliti biasanya menurunkan sebuah teori menjadi sejumlah asumsi dan
prostulat. Asumsi-asumsi tersebut dapat didefinisikan sebagai anggapan atau dugaan yang mendasari hipotesis. Berbeda dengan asumsi,
hipotesis yang telah diuji dengan menggunakan data melalui proses penelitian adalah dasar untuk memperoleh kesimpulan.

Fakta Ilmiah Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis

Selain menggunakn teori sebagai acuan, dalam merumuskan hipotesis dapat pula menggunakan acuan fakta. Secara umum, fakta dapat
didefinisikan sebagai kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan yang dapat dikenali dengan panca indera.

Fakta Ilmiah sebagai acuan perumusan hipotesis dapat diperoleh dengan berbagai cara, misalnya :

1. Memperoleh dari sumber aslinya


2. Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya dari sumber yang asli.
3. Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam bentuk abstract reasoning (penalaran abstrak).

Selain teori dan fakta ilmiah, hipotesis dapat pula dirumuskan berdasarkan beberapa sumber lain, yakni:

1. Kebudayaan dimana ilmu atau teori yang relevan dibentuk


2. Ilmu yang menghasilkan teori yang relevan
3. Analogi
4. Reaksi individu terhadap sesuatu dan pengalaman