Anda di halaman 1dari 17

RHEOLOGI DAN VISKOSITAS

OLEH

Angelia Yuni Permata D (170103020)


Indah wulandari (170103036)
Nur Hanisa (170103017)
Peni Lismita (170103011)
Umi Nur Afifa (170103034)
Yunita sari dewi (1701030)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FARMASI


UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA
KALIMANTAN TIMUR
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT karena berkat limpahan rahmat, hidayah dan
karunia-Nya sehingga makalah ini dengan judul RHEOLOGI DAN VISKOSITAS sebagai Tugas
Pendahuluan mata kuliah Praktikum Fisika Farmasi dapat terselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini, Penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk
mencapai hasil terbaik namun keterbatasan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki
menjadikan makalah ini jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, untuk kepentingan perbaikan makalah-makalah berikutnya maka kritik
dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan.
Terima kasih.

Samarinda, 8 Januari 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................................


Kata Pengantar ...................................................................................................
Daftar Isi ..............................................................................................................
Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang ..................................................................................................
b. Rumuan Masalah ...............................................................................................
Bab II Pembahasan
a. Dasar Teori Rheologi .......................................................................................
b. Peranan Rheologi Dalam Dunia Farmasi ..........................................................
c. Dasar Teori Viskositas ......................................................................................
d. Macam-Macam Viskometer ..............................................................................
e. Cara Penggunaan Viskometer ...........................................................................
Bab III Penutup
a. Kesimpulan .......................................................................................................
b. Saran .................................................................................................................
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu praktikum dalam Fisika Farmasi adalah Rheologi dan Viskositas. Rheologi
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan deformasi dari padatan.
Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan kecepatan geser
(shearing rate) pada cairan atau hubungan antara strain dan stress pada benda padat. Viskositas
adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Praktikum ini membahas masalah cara
perhitungan Viskositas dengan menggunakan alat tertentu yang dikenal dengan nama Viscometer
Ostwald.
Beberapa alat yang biasa digunakan dalam praktikum rheologi yaitu Viscometer Ostwald,
Viscometer Bola Jatuh serta Viscometer kerucut dan lempeng.
Beberapa tahun terakhir ini, prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan
cat, tinta, berbagai adonan, bahan–bahan untuk pembuat jalan, kosmetik, produk hasil peternakan
serta bahan–bahan lain. Terkadang dalam literatur tidak dicantumkan nilai viscositas atau
terkadang senyawa tersebut nilai viskositasnya tidak sesuai dengan literatur. Oleh karena itu kita
sebagai mahasiswa Farmasi harus mampu menghitung nilai viskositas suatu zat.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan dasar teori rheologi
2. Menjelaskan peranan rheologi dalam dunia Farmasi
3. Menjelaskan dasar teori viskositas
4. Menyebutkan macam-macam viskometer
5. Menjelaskan cara penggunaan viskometer
BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Teori Rheologi


Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). Digunakan istilah
ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran cairan dan deformasi
dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan
kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada benda
padat.
Rheologi merupakan ilmu yang mempelajari sifat zat cair atau deformasi zat padat.
Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Dalam bidang Farmasi, prinsip–prinsip rheologi
diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, lotion, pasta, penyalut tablet dan lain
sebagainya. Selain itu, prinsip rheologi digunakan untuk karakterisasi produk sediaan Farmasi
(Dosage Form). Sebagai penjamin kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi
pencampuran aliran dari bahan, penuangan, pengeluaran dari tube atau pelewatan dari jarum
suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien,
stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga
viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang
akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebih-lebih lagi tidak adanya
perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan.
Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek rheologi yang diterapkan dibidang farmasi.
Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
a. Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan
yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
b. Shearing stress (τ atau F ) F’/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang diperlukan untuk
menyebabkan aliran.
B. Penggolongan Bahan Menurut Tipe Aliran dan Deformasi ada 2 yaitu Sistem Newtonian dan
Sistem Non-Newtonian.
1. SISTEM NEWTONIAN
Dia menemukan bahwa : makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar
pula gaya persatuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan rate of shear
tertentu.rate of shear harus berbanding lurus dengan shearing stress.
adalah koefisien viskositas atau viskositas. Satuan viskositas adalah poise, didefinisikan sebagai
gaya geser yang diperlukan agar menghasilkan kecepatan 1 cm/detik di antara dua bidang sejajar
cairan yang masing-masing luasnya 1 cm2 oleh jarak 1 cm. Istilah fluiditas, , didefinisikan sebagai
kebalikan dari viskositas :
Aliran newton adalah jenis aliran yang ideal. Pada umumnya cairan yang bersifat ideal adalah
pelarut, campuran pelarut, dan larutan sejati. Shearing Stress, S, atau gaya yang diperlukan per
satuan luas berbanding lurus dengan kecepatan aliran yang dihasilkan atau Rate of Shear, G.

Diasumsikan gambar tersebut adalah sebuah balok cairan yang terdiri dari lapisan-
lapisan molekul paralel, bagaikan setumpuk kartu. Jika bidang cairan paling atas bergerak dengan
suatu kecepatan konstan, setiap lapisan di bawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan yang
berbanding lurus dengan jarak dari lapisan dasar yang diam.

Digunakan istilah :

Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan
yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).

Shearing stress (τ atau F ) F’/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang diperlukan
untuk menyebabkan aliran.

F’/A = η dv/dr

η= F’/A = F
dv/dr G

Viskositas η merupakan perbandingan antara Shearing stress F’/A dan Rate of shear dv/dr.
Satuan viskositas adalah poise atau dyne detik cm -2

Fluiditas merupakan kebalikan dari viskositas. Satuan fluiditas adalah centipoise (cps). 1cps=
0,01poise

 = 1/ η
Viskositas Kinematik adalah viskositas absolut dibagi kerapatan cairan (bobot
jenis).satuannya adalah stokes, s atau centistokes, cs.

Viskositas kinematik = η /

Grafik rheogram aliran Newtonian diilustrasikan sebagai berikut :

Besarnya Rate of shear sebanding dengan Shearing stress.

Pengaruh Suhu terhadap Viskositas

RUMUS ARRHENIUS :

 = A.eEv/RT

A = konstanta tergantung pada berat molekul dan molar volume cairan

Ev = energi aktivasi yang diperlukan untuk menginisiasi aliran antar molekul


Dibutuhkan lebih banyak energi untuk memecah ikatan dan membuat cairan tersebut mengalir,
karena cairan tersebut tersusun dari molekul-molekul yang dihubungkan dengan ikatan
hidrogen. Tetapi ikatan ini akan dipecahkan pada temperatur yang tinggi oleh perpindahan
panas dan Ev akan menurun dengan nyata. Viskositas cairan akan menurun jika suhu
diturunkan, sedangkan viskositas gas meningkat jika suhu dinaikkan.

2. SISTEM NON-NEWTONIAN

Berdasrkan grafik sifat aliran cairan non newton terbagi atas dua kelompok yaitu:
a. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi oleh waktu.

1.Aliran Plastis

Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress (atau
auakan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu)
pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai harga yield. Cairan plastis tidak
akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar yield value tersebut. Pada harga
stress di bawah harga yield value, zat bertindak sebagi bahan elastis (meregang lalu
kembali ke keadaan semula, tidak mengalir).

U=(F–f)
G

U adalah viskositas plastis, dan f adalah yield value.

Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang tersuspensi dalam


suspensi pekat. Adanya yield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-
partikel yang berdekatan (disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus
dipecah sebelum aliran dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi dari
kekuatan flokulasi. Makin banyak suspensi yang terflokulasi, makin tinggi yield value-
nya. Kekuatan friksi antar partikel juga berkontribusi dalam yield value. Ketika yield
value terlampaui (shear stress di atas yield value), sistem plastis akan menyerupai
sistem newton. Contoh : Pada sistem suspensi yang terflokulasi, yield value adalah nilai
yang dibutuhkan untuk memecah ikatan antar partikel terflokulasi

2. Aliran Pseudoplastis

Kurva tidak linier dan tidak ada yield value (melengkung). Viskositas menurun dengan
meningkatnya rate of share. Terjadi pada molekul berantai panjang seperti polimer-
polimer termasuk gom, tragakan, na-alginat, metil selulosa, karboksimetilselulosa.
Meningkatnya shearing stress menyebabkan keteraturan polimer sehingga mengurangi
tahanan dan lebih meningkatkan rate of share padashearing stress berikutnya.
Aliran pseudoplastis yang sebagian besar dalam produk farmasi yaitu gom alam dan
sintesis, misalnya : dispersi cair dari traga ileh polimer-polimer dalam larutan, yang
merupakan kebalikan dari sistem plastis, yang tersusun dari partikel-partikel yang
terflokulasi dalam suspensi, kurva konsistensi untuk bahan pseudoplastis mulai pada
titik (0,0) atau paling tidak mendekatinya rate of shear rendah. Akibatnya, berlawanan
dengan Bingham Bodies, tidak ada yield value. Tapi karena tidak ada bagian kurva
yang linier, maka kita tidak dapat menyatakan viskositas suatu bahan pseudoplastis
dengan suatu harga tunggal.
Sistem pseudoplastik disebut pula sebagai sistem geser encer ( shear-thinning)karena
dengan menaikkan tekanan geser viskositas menjadi turun.
Contoh klasik adalah kecap atau saus tomat yang untuk mengeluarkannya dari botol
harus mengocoknya kuat-kuat.

Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear.


Rheogram lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi
shearing terhadap molekul-molekul polimer (atau suatu bahan berantai panjang).
Dengan meningkatnya shearing stress, molekul-molekul yang secara normal tidak
beraturan, mulai menyusun sumbu yang panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini
mengurangi tahanan dari dalam bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang
lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya.

FN = η’ G

Eksponen N meningkat pada saat aliran meningkat hingga seperti aliran newton. Jika
N=1 aliran tersebut sama dengan aliran newton.

3. Aliran Dilatan

Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat padat terdispersi
dengan konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir
(viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu sistem
dilatan akan kembali ke keadaan fluiditas aslinya.

Pada keadaaan istirahat, partikel-partikel tersebuat tersususn rapat dengan volume antar
partikel pada keadaan minimum. Tetapi jumlah pembawa dalam suspensi ini cukup
untuk mengisi volume ini dan membentuk ikatan lalu memudahkan partikel-partikel
bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear yang rendah. Pada saat
shear stress meningkat, bulk dari system itu mengembang atau memuai (dilate). Hal
itu menyebabkan volume antar partikel menjadi meningkat dan jumlah pembawa yang
ada tidak cukup memenuhi ruang kosong tersebut. Oleh karena itu hambatan aliran
meningkat karena partikel-partikel tersebut tidak dibasahi atau dilumasi dengan
sempurna lagi oleh pembawa. Akhirnya suspense menjadi pasta yang kaku.
b. Cairan yang sifat alirannya dipengeruhi oleh waktu
1. Aliran tiksotropik

Pada sistem plastik, pseudoplastik, dan dilatan ketika shearing stress yang sebelumnya
dinaikkan, diturunkan kembali maka kurva ke bawah akan terhimpit dengan kurva ke bawah. Bila
kurva turun ternyata berada sebelah kiri kurva menaik thiksotropi. Celah antara kurava naik dan
kurva turun disebut ‘hysteresis loop’. Thiksotropi terjadi karena proses pemulihan yang lambat
dari konsistensi. Gel  Sol  Gel (proses pertama berlangsung cepat sedangkan proses kedua
berlangsung lebih lambat).

2. aliran anti tiksotropik

Merupakan kebalikan dari aliram tiksotropik (sol menjadi gel menjadi sol). Sedangkan Anti
tiksotropik, kurva menurun berada di kanan kurva menaik (konsistensi meningkat). Contohnya :
magma magnesia. Sediannya mengandung zat padat dalam jumlah sedikit (1-10%) dan
terflokulasi. Bila dikocok, struktur sol akan menjadi gel, dimana kekentalannya bertambah,
sehingga terjadi hambatan untuk mengalir, namun bila didiamkan akan kembali menjadi sol.
C. Dasar Teori Viskositas
Viskositas adalah suatu ungkapan dari resistensi zat cair untuk mengalir. semakin tinggi
viskositas aliran akan semakin besar resistensinya. Viskositas berpengaruh terhadap laju
penyerapan obat dari saluran pencernaan dalamn penelitian dan teknologi farmasetik dan
sejenisnya. Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluid terhadap perubahan bentuk
dibawah tekanan shear. Viskometer merupakan ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Biasanya
Viscometer diterima sebagai kekentalan atau penolakan terhadap penuangan. Viscositas
menggambarkan penolakan dalam fluid kepada aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk
mengukur gesekan fluid. Air memiliki viskositas rendah sedangkan minyak sayur memiliki
Viskositas tinggi.
Viskositas berpengaruh terhadap laju penyerapan obat dari saluran pencernaan serta
dalam penelitian dan teknologi farmasetik dan sejenisnya. Penggolongan sistem cair menurut tipe
aliran dan deformasinya ada dua yaitu: Sistem Newton dan Sistem non-Newton. Pada cairan
Newton, hubungan antara shearing rate dan shearing stress adalah linear dengan suatu tetapan yang
dikenal dengan viskositas atau koefisien viskositas. Sedangkan pada cairan non-Newton, shearing
rate dan shearing stress tidak memiliki hubungan linear, viskositasnya berubah-ubah tergantung
dari besarnya tekanan yang diberikan. Tipe aliran non-Newton terjadi pada dispersi heterogen
antara cairan dengan padatan seperti pada koloid, emulsi dan suspensi.
D. Macam-Macam Viskometer
Alat pengukur viskositas berdasarkan prinsip kerjannya dibedakan atas 4 tipe, yaitu:
1. Viskosimeter kapiler/otswald
2. Viskosimeter bola jatuh
3. Viskosimeter Cup and Bob
4. Viskosimete Cone and Plate (kerucut dan lempeng)
Viskosimeter kapiler dan viskosimeter bola jatuh hanya digunakan untuk mengukur
viskositas sistem Newton. Sedangkan viskosimeter cup and bob serta viskosimeter cone and plate
bisa digunakan baik untuk cairan bersistem Newton maupun non-Newton.

E. Cara Penggunaan Viskometer


Viskositas dari cairan Newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang diperlukan
bagi cairan Newton untuk lewat antara dua tanda (tanda atas dan tanda bawah) melalui suatu
tabung kapiler yang vertikal yang dikenal sebagai Viskosimeter Ostwald.
1. Viscometer Kapiler/Ostwald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi
cairan tersebut untuk lewat antara dua tanda ketika mengalir karena gravitasi melalui viscometer
Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu
zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat dua tanda tersebut.

2. Viscometer Hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum terjadi keseimbangan sehingga
gaya gesek sama dengan gaya berat – gaya Archimedes. Prinsip kerjanya adalah
menggelindingkan bola (yang terbuat dari kaca) melalui tabung gelas yang berisi zat cair yang
diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel.
3. Viscometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya simple digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding
dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah – tengah. Kelemahan viscometer ini adalah
terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi di sepanjang keliling bagian tube
sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan
keluar memadat.

4. Viscometer Cone dan Plate (kerucut dan lempeng)


Cara pemakaiannya dengan cara sampel ditempatkan ditengah – tengah papan, kemudian
dinaikan sehingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakan oleh motor dengan bermacam
kecepatan dan sampelnya digeser kedalam ruang semitransparan yang diam dan kemudian kerucut
yang berputar.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). Digunakan istilah ini
untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran cairan dan deformasi
dari padatan.
2. Viskositas adalah suatu ungkapan dari resistensi zat cair untuk mengalir. semakin tinggi
viskositas aliran akan semakin besar resistensinya.

B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, Penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk
mencapai hasil terbaik namun keterbatasan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki
mejadikan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, untuk kepentingan perbaikan
makalah-makalah berikutnya maka kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat
penulis harapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Martin Alfred.1983. Farmasi Fisik Edisi III Jilid I. Jakarta. UI Press


Martin Alfred.1983. Farmasi Fisik Edisi III Jilid II. Jakarta. UI Press
Voight. 1951. Tekhnologi Farmasi. Jakarta. UI Press
Cheng, D.C.H. 1992. The Calibration of Coaxial Cylinder Viscometer for Newtonian and Non
Newtonian Viscosity Measurement. Theor. Appl. Rheol. Proc. Int. Congr. Rheol. 11th. 2:
902-903.