Anda di halaman 1dari 19

MENINGITIS

A. Pendahuluan
Meningitis adalah radang umum pada arakhnoid dan piamater, disebabkan
oleh bakteri, virus, Ricketsia atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan
kronis. Mikroorganisme ini dapat masuk ke setiap bagian ruang subarachnoid dan
dengan cepat menyebar ke tempat lain. Meningitis dibagi menjadi dua golongan
berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu meningitis serosa dan
meningitis purulenta. (1,2)
Meningitis serosa adalah radang selaput otak arachnoid dan piamater yang
disertai cairan otak yang jernih. Penyebab tersering adalah Mycobacterium
tuberculosa. Penyebab lain seperti lues, virus, Toxoplasma gondii, Ricketsia.
Meningitis serosa masih banyak ditemukan di Indonesia karena morbiditas
tuberkulosis masih tinggi. (1,2,3)
Meningitis purulenta adalah radang selaput otak arachnoid dan piamater
yang disertai cairan otak yang keruh. Penyebab terutama adalah Haemophilus,
Pneumococcus, Meningococcus, Staphilococcus, Streptococcus, sedangkan pada
bayi penyebab tersering yaitu E.coli, Salmonella, Staphilococcus, Streptococcus.
(1,2,3)

B. Etiologi dan Patogenesis


1. Meningitis Serosa
Meningitis serosa terjadi sebagai akibat komplikasi penyebaran
tuberkulosis primer, biasanya dari paru. Terjadinya meningitis bukanlah karena
terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen, melainkan
biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum
tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah ke dalam rongga arachnoid.
Kadang-kadang dapat juga terjadi perkontinuitatum dari mastoiditis atau
spondilitis. (1,2,3)
Pada pemeriksaan histologis, meningitis serosa ternyata merupakan
meningoensefalitis. Peradangan ditemukan sebagian besar pada dasar otak,
terutama pada batang otak (brain stem) tempat terdapat eksudat dan tuberkel.
Eksudat yang serofibrinosa dan gelatinosa dapat menimbulkan obstruksi pada

1
sisterna basalis dan mengakibatkan hidrosefalus serta kelainan pada saraf otak.
Tampak juga kelainan pada pembuluh darah seperti arteritis dan flebitis yang
menimbulkan penyumbatan. Akibat penyumbatan ini dapat terjadi infark otak
yang kemudian akan mengakibatkan perlunakan otak. (2,3)
2. Meningitis Purulenta
Kuman-kuman dapat masuk ke dalam susunan saraf pusat secara
hematogen atau langsung menyebar dari kelainan di nasofaring, paru-paru, dan
jantung. Selain itu perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan di dekat
selaput otak seperti abses otak, otitis media, mastoiditis dan trombosis sinus
kavernosus. (1,2,3)

C. Gambaran Klinis
1. Meningitis Serosa
Penyakit ini dimulai akut, subakut, atau kronis dengan gejala demam,
mudah kesal, marah-marah, obstipasi, muntah-muntah, kejang umum dan disertai
penurunan kesadaran. Dapat ditemukan tanda-tanda peransangan meningen
seperti kaku kuduk, tanda Laseque, Kernig, Brudzinski I dan Brudzinski II. Suhu
badan naik turun, kadang-kadang suhu malah merendah. Nadi sangat labil, sering
dijumpai nadi yang lambat. Selain itu terdapat hiperestesi umum. Abdomen
tampak mencekung. Gangguan saraf otak yang terjadi disebabkan tekanan eksudat
pada saraf-saraf ini. Yang sering terkena adalah Nervus III dan VII. Terjadi afasia
motoris dan sensoris, kejang fokal, monoparesis, hemiparesi, gangguan
sensibilitas (1,2,3,4) . Tanda khas penyakit ini adalah apatis, reflek pupil yang lambat
dan reflek-reflek tendo yang lemah. Terjadinya atrofi otak dapat menimbulkan
gejala sisa berupa demensia dan perubahan watak. Secara khusus dibagi menjadi 3
stadium : (1,4)
1. Stadium 1 : Adanya tanda penyakit umum seperti demam, sefalgia,
gelisah, mudah kesal (iritable)
2. Stadium 2 : Tanda-tanda pada stadium 1 disertai dengan adanya tanda
ransangan meningen dan kelainan neurologi seperti gangguan saraf otak,
hemiplegi, kejang, disertai dengan penurunan kesadaran

2
3. Stadium 3 : penurunan kesadaran disertai dengan suhu yang tidak teratur
dan semakin tinggi serta gangguan pernafasan dalam bentuk cheynes
stokes atau kussmaul. Selain itu terdapat gangguan miksi.
2. Meningitis Purulenta
Pada neonatus gambaran klinik berbeda dengan anak yang lebih besar dan
dewasa. Umumnya meningitis purulenta terjadi secara akut dengan panas tinggi,
mual, muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan berkurang, konstipasi,
diare. Biasanya disertai septikemia dan pneumonits. Tanda-tanda iritasi meningeal
seperti kaku kuduk, tanda Kernig, Laseque, Brudzinski dan Fontanella menonjol
untuk sementara waktu belum timbul. (1,2,3,)
Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, permulaan penyakit juga
terjadi secara akut dengan panas, nyeri kepal yang hebat sekali, malaise umum,
kelemahan, nyeri otot dan nyeri punggung. Biasanya dimulai dengan gangguan
saluran nafas atas. Selanjutnya terjadi kaku kuduk, opistotonus, dapat terjadi
renjatan, hipotensi dan takikardi karena septikemia. Gangguan kesadaran berupa
letargi sampai koma yang dalam. (1,2,3,4)

D. Diagnosa
Diagnosa meningitis ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan
klinis, dan pemeriksaan penunjang. (1,2,3,4)

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar haemoglobin, jumlah dan hitung jenis leukosit,
laju endap darah (LED), kadar glukosa puasa, kadar ureum, elektrolit. Pada
meningitis serosa didapatkan peningkatan leukosit dan LED. (1,2,3)
2. Lumbal pungsi / pemeriksaan cairan otak
Hasil pemeriksaan lumbal pungsi digunakan membedakan antara meningitis
serosa dengan meningitis purulenta. (1,2)

LP PURULENTA SEROSA
Warna Keruh Jernih

3
Sel PMN 1000-10000 MMN 300-500
Protein 100-500 mg% 100-500 mg%
Glukosa 0-40 mg% Rendah
Klorida 650-680 510
Mikroorganisme Kultur Khusus/Ziehl-Nielsen

3. Kultur darah
Pemeriksaan ini diperlukan untuk menentukan jenis bakteri yang menginfeksi
meningen sehingga dapat diberikan terapi dengan obat yang sesuai oleh
penyebabnya. (1,2,4,5)
4. Pemeriksaan Radiologis
Dilakukan pemeriksaan roentgen dada dan kepala. Bila perlu dilakukan CT
scan kepala. (1,2,5)

F. Penatalaksanaan
Terapi untuk meningitis ini terbagi menjadi terapi umum dan terapi
khusus, yaitu : (1,2,4)
1. Terapi Umum
- Istirahat mutlak, bila perlu diberikan perawatan intensif
- Pemberian gizi tinggi kalori tinggi protein
- Posisi penderita dijaga agar tidak terjadi dekubitus
- Keseimbangan cairan tubuh
- Perawatan kandung kemih dan defekasi
- Mengatasi gejala demam, kejang
2. Terapi Khusus
a. Penatalaksanaan meningitis serosa meliputi : (1,2)
1) Rejimen terapi : 2RHZE – 7RH
 2 bulan pertama
- INH : 1 x 400 mg/hari, oral
- Rifampisisn : 1 x 600 mg/hari, oral
- Pirazinamid : 15-30 mg/kgBB/hari, oral
- Etambutol : 15-20 mg/kgBB/hari, oral
 7-12 bulan berikutnya
- INH : 1 x 400 mg/hari, oral

4
- Rifampisin : 1 x 600 mg/hari, oral
2) Steroid
Diberikan untuk :
- Menghambat reaksi inflamasi
- Mencegah komplikasi infeksi
- Menurunkan edem cerebri
- Mencegah perlengketan arachnoid dan otak
- Mencegah arteritis / infark otak
Indikasi :
- Kesadaran menurun
- Defisit neurologi fokal
Dosis : Dexametason 10 mg bolus intravena, kemudian 4 x 5 mg
intravena selama 2-3 minggu, selanjutnya turunkan perlahan selama 1
bulan.
b. Penatalaksanaan meningitis purulenta meliputi : (1,2)
Pemberian antibiotika harus tepat dan cepat, sesuai dengan bakteri
penyebabnya dan dalam dosis yang cukup tinggi. Sambil menunggu hasil
biakan sebaiknya diberikan antibiotika dengan spektrum luas. Antibiotika
diberikan selama 10-14 hari atau sekurang-kurangnya 7 hari setelah bebas
demam.
 Penisilin G dosis 1-2 juta unit setiap 2 jam untuk infeksi
Pneumococcus, Streptococcus, Meningococcus.
 Kloramfenikol dosis 4 x 1 gr/hari atau ampisilin 4 x 3 gr/hari untuk
infeksi Haemophilus.
 Gentamisin untuk infeksi E.coli, Klebsiella, Proteus dan kuman-
kuman gram negatif.

DAFTAR PUSTAKA

5
1. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Infeksi. Dalam : Buku Ajar
Neurologi Klinis, edisi pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
1996 : 161-68, 181-87
2. Mardjono M, Sidharta P. Mekanisme Infeksi Susunan Saraf. Dalam :
Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat. Jakarta 2003 : 303-20
3. Price S.A & Willson L.M. Alih bahasa Anugerah P. Infeksi Pada Sistem Saraf.
Dalam : Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, edisi 4. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta 1995 :1004-7
4. Duus P. Alih bahasa Ronardy D.H. Meningen, Ventrikel dan Cairan
Serebrospinalis. Dalam : Diahnostik Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi,
Tanda, Gejala. Edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta 1996 : 246-
62
5. Groot J & Chusid J. G. Alih bahasa Munandar A. Diskusi Kasus. Dalam :
Neuroanatomi Korelatif , edisi 21. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
1997 : 266

ILUSTRASI KASUS

6
IDENTITAS PASIEN
Nama : MK
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 28 tahun
Suku bangsa : Minangkabau
Alamat : Bukittinggi

Alloanamnesis (diberikan oleh ibu kandung)


Seorang pasien laki-laki umur 28 tahun dirawat di bangsal Syaraf RS Dr.
M. Djamil Padang tanggal 28 Oktober 2010 dengan :

Keluhan Utama :
Penurunan kesadaran sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang :


• Penurunan kesadaran sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit,
kesadaran turun perlahan-lahan. Sebelumnya pasien masih bisa
membuka mata spontan dan berbicara dengan baik. Lama kelamaan
mata pasien kehilangan kontak dan hanya membuka mata jika
dipanggil atau mendengar suara yang cukup keras, dan pasien mulai
disorientasi dalam berbicara, meracau dan akhinya berbicara hanya
dengan satu atau dua patah kata. Penurunan kesadaran ini diikuti
dengan perubahan posisi bola mata menjauhi hidung.
• Demam sejak 35 hari yang lalu, tidak tinggi, hilang timbul, disertai
dengan muntah dan sakit diseluruh kepala, terasa berat, terutama di
daerah tengkuk.
• Pasien sudah dirawat di bangsal penyakit dalam RSAM Bukittinggi
selama ±1 bulan

.Riwayat Penyakit dahulu

7
• Lemah kedua tungkai sejak 2 tahun yang lalu, diawali oleh kaki
kiri dan disusul dengan kaki kanan, namun pasien masih bisa berjalan,
kemudian bertambah berat hingga pasien tidak dapat berjalan sejak 4
bulan yang lalu.
• Benjolan pada punggung bagian bawah dirasakan sejak 2 tahun
yang lalu dan terasa nyeri sejak 10 bulan terakhir terutama apabila
digerakkan.

Riwayat Penyakit Keluarga


• Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

Riwayat Pribadi dan Sosial


• Pasien adalah seorang pedagang di Batam
• Riwayat seks bebas, penggunaan narkkoba dan jarum suntik tidak
diketahui

PEMERIKSAAN FISIK
Vital sign :
Keadaan umum : Sakit Berat
Kesadaran : GCS 12 ( E3M6V3)
Tekanan Darah : 130/70 mmHg
Frekuensi nadi : 98 x/menit
Frekuensi nafas : 28 x /menit
Suhu : 37,8º C
Status Internus :
• Kulit : tak ada kelainan
• Rambut : hitam, tidak mudah dicabut.
• Mata : Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
• Telinga : tidak ada kelainan
• Hidung : tidak ada kelainan

8
• Mulut dan gigi: terdapat caries dentis
• Leher : JVP 5 – 2 cmH2O, KGB tidak teraba
• Thorak :
• Paru :
Inspeksi : normochest, simetris kiri dan kanan statis dan
dinamis
Palpasi : fremitus sulit dinilai
Perkusi : sonor kiri = kanan
Auskultasi : vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
• Jantung
Inspeksi : ictus tidak terlihat
Palpasi : ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada.
• Abdomen
Inspeksi : perut tidak membuncit, distensi tidak ada
Palpasi : supel, hepar tak teraba, lien tidak teraba.
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
• Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan
benjolan di
daerah CVA ukuran 6x4 cm
• Alat kelamin : tidak diperiksa

Status neurologikus:

• Tanda perangsangan selaput otak


Kaku kuduk :+ Kernig :+
Brudzinsky I : + Brudzinsky II : +
• Tanda peningkatan TIK (-)
• Nervi Kranialis
N. I : Tak bisa dinilai

9
N.II : FODS Papil batas tegas warna kuning jingga, Aa : Vv 2:3,
cupping (-) (kesan : FODS dalam batas normal)
N.III : - Ptosis kedua mata
- Eksotropia pada kedua mata
- Doll eye’s movement (-) ke arah atas, bawah, dan ke nasal
- strabismus divergen
- Pupil midriasis (6 mm/6 mm), Refleks cahaya menurun di kedua
Mata
: Paresis bilateral
N. IV : - Doll eye’s movement (-) ke nasal bawah
: Paresis bilateral
N. V : Reflek kornea +
N. VI : Baik
N. VII :- Plica nasolabialis dextra mendatar
- Mulut miring ke arah kiri saat penekanan processus zigomatikum
: Paresis dextra tipe sentral
N. VIII: Sulit dinilai
N. IX : Refleks muntah (+)
N. X : Arkus faring simetris uvula di tengah
N. XI : Sulit dinilai
N. XII : Kedudukan lidah dalam simetris
• Koordinasi :Tidak bisa dinilai
• Motorik
Kekuatan : Lateralisasi ke kiri
Tonus : eutonus
• Sensorik
Nyeri :+
• Fungsi Otonom
Miksi : terpasang kateter
Sekresi keringat: ada
• Reflek fisiologis
Biseps : +/+ Triseps : +/+

10
KPR : +/+ APR : +/+
Dinding perut : +
• Reflek patologis
Babinsky group:-/- Chadok : -/-
Oppenheim : -/- Gordon : -/-
Schaefer : -/- Hoffman : -/-
• Fungsi luhur : Sukar dinilai

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Darah rutin : Hb : 12,1 gr %
Leukosit : 13.800/mm3
Ht : 37 vol %
Trombosit : 398.000/mm3
Kimia klinik : GDR : 104 mg/dl
Ureum : 14 mg/dl
Kreatinin : 0,6 mg/dl
Elektrolit : Na : 105 mEq/L
K : 4,3 mEq/L
Cl : 88 mEq/L

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rontgen foto thoraks : Tampak infiltrat di kedua lapangan paru. CTR <
55%
Rontgen foto Thorakolumbal : Tampak destruksi korpus vertebre Thorakal XII
dan Lumbal I. Terdapat abses paravertebral mass.

DIAGNOSA
• Diagnosis klinik : Meningitis TB stadium II
• Diagnosis etiologi : Micobacterium Tuberculosis
• Diagnosis topik : Leptomeningen
• Diagnosis sekunder : - Hiponatremia
- SpondilitisTB

11
- Suspek CAP

PENATALAKSANAAN
Terapi Umum
• Bedrest dengan posisi yang diubah-ubah
• Elevasi kepala 300
• O2
• IVFD NaCl 3% 12 jam/kolf (±10 tetes/menit)
• Pasang NGT, diet MC TKTP 6x300 cc
• Pasang kateter urine (monitor volume urin)
• Paracetamol bila demam

Terapi khusus
• Dexametason 4x5 mg IV
• Alinamin F 1x25 mg IV

• INH 1x400 mg PO

• Rifampisin 1x600 mg PO

• Pirazinamid 1x1000 mg PO

• Etambutol 1x750 mg PO

• Ceftriaxon 2x1 gr IV

• Bisolvon 2x1 amp IV

RENCANA PEMERIKSAAN SELANJUTNYA


• Lumbal Punksi
• Brain CT-Scan

12
FOLLOW UP
29 Oktober 2010
S/ Penurunan kesadaran (+), demam (-)
O/ KU : Sedang Kesadaran : GCS12 ( E3M6V3)
TD : 130/80 mmHg Nadi : 89 x/menit
Suhu : 37,60 C Nafas : 26 x/menit
Paru : Ronkhi +/+
Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan benjolan di daerah CVA
ukuran 6x4 cm
TRM (+), tanda peningkatan TIK (-)
Nn. Cranialis: Pupil midriasis (6mm/6mm), Reflek cahaya menurun
Parese N. III, IV bilateral dan N. VII dextra sentral
Sensorik : Berespon terhadap nyeri
Motorik : Lateralisasi ke kiri
Otonom : terpasang kateter
Rf: + + Rp: - -
+ + - -
Hasil LP/
Makroskopi : Volume : 3 cc
Kekeruhan : Jernih
Warna : Bening
Mikroskopis : Sel : 4 /ml
Kimia : Protein : 60 mg/dl
Glukosa : 28 mg/dl
Hasil Kimia Klinik/
GDR : 132 mg/dl
A/ meningitis TB
Spondilitis TB
Suspek CAP

13
Thy/ Lanjutkan

30 Oktober 2010
S/ Penurunan kesadaran (+), demam (-)
O/ KU : Sedang Kesadaran : GCS12 ( E3M6V3)
TD : 130/100 mmHg Nadi : 100 x/menit
Suhu : 36,10 C Nafas : 39 x/menit
Paru : Ronkhi +/+
Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan benjolan di daerah CVA
ukuran 6x4 cm
TRM (+), tanda peningkatan TIK (-)
Nn. Cranialis: Pupil midriasis (6mm/6mm), Reflek cahaya menurun
Parese N. III, IV bilateral dan N. VII dextra sentral
Sensorik : Berespon terhadap nyeri
Motorik : Lateralisasi ke kiri
Otonom : terpasang kateter
Rf: + + Rp: - -
+ + - -
A/ meningitis TB
Spondilitis TB
Suspek CAP
P/ Astrup
Na, K, Cl
Hasil Astrup :
PH : 7,46
PCO2 : 38 mmHg
PO2 : 88 mmHg
HCO3- : 27,8 mmol/L
Saturasi O2 : 98%
Beecf : 3,8

NS/K/Cl : 123/3,1/74 mEq/L


Kesan : Hiponatremi

14
Thy/ Lanjutkan

1 November 2010
S/ Penurunan kesadaran (+), demam (-)
O/ KU : Sedang Kesadaran : GCS13 ( E3M6V4)
TD : 130/90 mmHg Nadi : 96 x/menit
Suhu : 36,60 C Nafas : 37 x/menit
Paru : Ronkhi +/+
Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan benjolan di
daerah CVA ukuran 6x4 cm
TRM (+), tanda peningkatan TIK (-)
Nn. Cranialis: Pupil midriasis (6mm/6mm), Reflek cahaya menurun
Parese N. III, IV bilateral dan N. VII dextra sentral
Sensorik : Berespon terhadap nyeri
Motorik : Lateralisasi ke kiri
Otonom : terpasang kateter
Rf: + + Rp: - -
+ + - -
A/ meningitis TB
Spondilitis TB
Suspek CAP
P/ Na, K, Cl
Hasil :
NS/K/Cl : 126/3,3/100 mEq/L
Kesan : Hiponatremi

Thy/ Lanjutkan

2 November 2010
S/ Penurunan kesadaran (+), demam (-)
O/ KU : Sedang Kesadaran : GCS13 ( E3M6V4)
TD : 130/100 mmHg Nadi : 92 x/menit

15
Suhu : 36,90 C Nafas : 29 x/menit
Paru : Ronkhi +/+
Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan benjolan di daerah CVA
ukuran 6x4 cm
TRM (+), tanda peningkatan TIK (-)
Nn. Cranialis: Pupil midriasis (6mm/6mm), Reflek cahaya menurun
Parese N. III, IV bilateral dan N. VII dextra sentral
Sensorik : Berespon terhadap nyeri
Motorik : Lateralisasi ke kiri
Otonom : terpasang kateter
Rf: + + Rp: - -
+ + - -
A/ meningitis TB
Spondilitis TB
Suspek CAP
Thy/ Lanjutkan

3 November 2010
S/ Penurunan kesadaran (+), demam (-)
O/ KU : Sedang Kesadaran : GCS13 ( E3M6V4)
TD : 120/90 mmHg Nadi : 98x/menit
Suhu : 36,70 C Nafas : 30x/menit
Paru : Ronkhi +/+
Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan benjolan di daerah CVA
ukuran 6x4 cm
TRM (+), tanda peningkatan TIK (-)
Nn. Cranialis: Pupil midriasis (6mm/6mm), Reflek cahaya menurun
Parese N. III, IV bilateral dan N. VII dextra sentral
Sensorik : Berespon terhadap nyeri
Motorik : Lateralisasi ke kiri
Otonom : terpasang kateter
Rf: + + Rp: - -
+ + - -

16
Hasil pemeriksaan Na/K/Cl : 125/3,8/95 mmol/L
A/ meningitis TB
Spondilitis TB
Suspek CAP
Hiponatremia
Thy/ Lanjutkan

4 November 2010
S/ Penurunan kesadaran (+), demam (-)
O/ KU : Sedang Kesadaran : GCS13 ( E3M6V4)
TD : 140/80 mmHg Nadi : 84x/menit
Suhu : 37,70 C Nafas : 34x/menit
Paru : Ronkhi +/+
Punggung : terdapat deformitas dan ditemukan benjolan di daerah CVA
ukuran 6x4 cm
TRM (+), tanda peningkatan TIK (-)
Nn. Cranialis: Pupil midriasis (6mm/6mm), Reflek cahaya menurun
Parese N. III, IV bilateral dan N. VII dextra sentral
Sensorik : Berespon terhadap nyeri
Motorik : Lateralisasi ke kiri
Otonom : terpasang kateter
Rf: + + Rp: - -
+ + - -
A/ meningitis TB
Spondilitis TB
Suspek CAP
Thy/ Lanjutkan

17
DISKUSI

Telah dilaporkan seorang laki-laki, umur 28 tahun dengan diagnosis klinik


meningitis TB stadium II. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa berupa
penurunan kesadaran sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit, kesadaran turun
perlahan-lahan. Sebelumnya pasien masih bisa membuka mata spontan dan
berbicara dengan baik. Lama kelamaan mata pasien kehilangan kontak dan hanya
membuka mata jika dipanggil atau mendengar suara yang cukup keras, dan pasien
mulai disorientasi dalam berbicara, meracau dan akhinya berbicara hanya dengan
satu atau dua patah kata. Penurunan kesadaran ini diikuti dengan perubahan posisi
bola mata menjauhi hidung. Demam sejak 35 hari yang lalu, tidak tinggi, hilang
timbul, disertai dengan muntah dan sakit diseluruh kepala, terasa berat, terutama
di daerah tengkuk.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 37,80 C. Dari pemeriksaan
neurologi ditemukan tanda rangsang meningeal, tanda peningkatan TIK tidak
ditemukan. Terjadi parese N III, IV bilateral dan N. VII dextra tipe sentral. Dari
pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya leukositosis. Pada Lumbal pungsi
ditemukan warna bening, tidak keruh, peningkatan kadar protein dan penurunan
kadar gula darah. Berdasarkan gejala klinis, labor dan penunjang, pasien ini
didiagnosis sebagai meningitis tuberkulosa.
Selain daripada itu, pasien didiagnosis dengan Spondilitis TB.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa berupa lemah kedua tungkai sejak 2
tahun yang lalu, diawali oleh kaki kiri dan disusul dengan kaki kanan, namun
pasien masih bisa berjalan, kemudian bertambah berat hingga pasien tidak dapat
berjalan sejak 4 bulan yang lalu serta adanya benjolan pada punggung bagian
bawah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dan terasa nyeri sejak 10 bulan terakhir
terutama apabila digerakkan. Kemudian pada pemeriksaan fisik didapatkan

18
deformitas punggung dan terdapat benjolan di daerah CVA dengan ukuran 6x4
cm. Dari Hasil rontgen foto thorakolumbal didapatkan destruksi korpus vertebre
Thorakal XII dan Lumbal I dan terdapat abses paravertebral mass.
Pasien dicurigai menderita Community Acquired Pneumonia berdasarkan
beberapa pemeriksaan seperti ditemukan ronkhi pada basal kedua paru dan
tampak infiltrat di kedua lapangan paru (CTR < 55%) pada hasil rontgen foto
thoraks. Disamping itu karena kadar natriun serum menurun, pasien didiagnosis
hiponatremia.
Penatalaksanaan pasien adalah dengan terapi umum dan khusus. Terapi umum
terdiri dari Bedrest dengan posisi yang diubah-ubah, elevasi kepala 300 , O2, IVFD
NaCl 3% 12 jam/kolf (±10 tetes/menit), pemasangan NGT dengan diet MC TKTP
6x300 cc, pemasangan kateter urine (monitor volume urin), dan pemberian
paracetamol kapan perlu. Terapi khusus terdiri dari pemberian OAT,
Dexametason 4x5 mg IV, Alinamin F 1x25 mg IV, Ceftriaxon 2x1 gr IV, dan
Bisolvon 2x1 amp IV sebagai mukolitik.

19