Anda di halaman 1dari 22

PERCOBAAN 2

KRISTALISASI

I. TUJUAN
1. Memahami reaksi pembentukan kristal dengan pelarut yang sesuai
2. Percobaan ini adalah untuk memurnikan zat padat dengan cara
rekristalisasi

II. DASAR TEORI


Kristalisasi merupakan sebuah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat
padat didalam suatu fase homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai pembentukan
partikel padat dalam uap, seperti dalam pembentukan salju sebagai pembekuan
(Solidification) didalam lelehan cair. Pada prinsipnya kristalisasi terbentuk melalui
dua tahap yaitu, nukleasi atau pembentukan inti Kristal dan pertumbuhan Kristal.
Factor pendorong untuk laju nukleasi dan laju pertumbuhan Kristal ialah
supersaturasi. Baik nukleasi maupun pertumbuhan tidak dapat berlangsung didalam
larutan jenuh atau tak jenuh. Inti Kristal dapat terbentuk dari berbagai jenis partikel,
molekul, atom atau ion. Karena adanya gerakan dari partikel-partikel tersebut,
beberapa partikel mungkin membentuk suatu gerombol atau klaster, klaster yang
cukup banyak membentuk embrio pada kondisi leat jenuh yang tinggi embrio
tersebut membentuk inti Kristal (Pinalia, 2011).
Kristalisasi dikatagorikan sebagai salah satu proses pemisahan yang efisien.
Pada umumnya tujuan dari proses kristalisasi adalah untuk pemisahan dan pemurnian.
Adapun sasaran dari proses kristalisasi adalah menghasilkan produk kristal yang
mempunyai kualitas seperti yang diinginkan. Kualitas kristal antara lain dapat
ditentukan dari tiga parameter berikut yaitu : distribusi ukuran kristal (Crystal Size
Distribution, CSD), kemurnian kristal (Crystal purity) dan bentuk Kristal. Pada
proses kristalisasi kristal dapat diperoleh dari lelehan (Melt crystallization) atau
larutan (Crystallization from solution). Dari kedua proses ini yang paling banyak
dijumpai di industri adalah kristalisasi dari larutan (Setyopratomo, 2003).
Pada kristalisasi bahan pengikat pengotor yang ditambahkan bervariasi
konsentrasinya. Penambahan dilakukan secara bertetes-tetes hingga tidak terbentuk
endapan. Pemurnian ini diharapkan dapat mengurangi kadar air yang terkandung
dalam garam hasil pemurnian sehingga garam tidak mudah mencair. Pada tahap
kristalisasi menggunakan bahan pengikat pengotor yaitu larutan Na2C2O4, Na2CO3 dan
NaHCO3. Bahan-bahan ini ditambahkan untuk mengikat pengotor yang ada pada
garam dapur sesuai hasil analisis zat-zat pengotor garam dapur yang telah dilakukan
sebelumnya. Pengotor ion Fe3+ akan membentuk senyawa Fe(OH)3 sedangkan
pengotor dari Mg2+ dan Ca2+ akan membentuk senyawa MgCO3 dan CaCO3.
Semua senyawa yang terbentuk tersebut akan mengendap sehingga dapat dipisahkan
dengan penyaringan biasa (Triastuti, 2010).
Jenis pelarut berperan penting pada proses kristalisasi karena pelarutan
merupakan faktor penting pada proses kristalisasi. Kelarutan suatu komponen dalam
pelarut ditentukan oleh polaritas masing-masing. Pelarut polar akan melarutkan
senyawa polar dan pelarut non polar akan melarutkan senyawa non polar. Diduga ada
sedikit perbedaan polaritas dari komponen-komponen yang ada dalam fraksi tidak
tersabunkan DALMS, termasuk perbedaan polaritas tokoferol dan tokotrienol serta
masing-masing isomernya. Oleh karena itu, penentuan jenis pelarut yang tepat
penting dilakukan pada pembuatan konsentrat vitamin E. Pada proses kristalisasi,
pelarut mempengaruhi kecepatan nukleasi dan morfologi Kristal (Ahmadi, 2010).
Pada tahap sublimasi masalah tingginya konsumsi energy pada pengeringan
beku tersebut dipecahkan dengan penerapan pemanasan terbalik, yaitu merambatkan
panas melalui lapisan beku untuk meningkatkan laju perpindahan panas. Pemanasan
terbalik yang dilakukan pada penelitian adalah dengan harapan panas akan
berkonduksi melalui lapisan beku bahan yang mempunyai nilai konduktifitas panas
lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan bahan kering brongga, sehingga waktu yang
dibutuhkan akan lebih cepat (Siregar, dkk., 2006).
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau
pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah
dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa syarat agar
suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan perbedaan
daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak
meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya. Dalam
kasus pemurnian garam NaCl dengan teknik rekristalisasi pelarut (solven) yang
digunakan adalah air. Prinsip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan
antara zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur atau pencemarnya.
Larutan yang terbentuk dipisahkan satu sama lain, kemudian larutan zat yang
diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya (mencapai kondidi
supersaturasi atau larutan lewat jenuh). Secara toritis ada 4 metoda untuk
menciptakan supersaturasi dengan mengubah temperatur, menguapkan olvens, reaksi
kimia, dan mengubah komposisi solven (Agustina, 2013).
Pengotor yang ada pada kristal terdiri dari dua katagori, yaitu pengotor yang ad
a pada permukaan kristal dan pengotor yang ada di dalam kristal. Pengotor yang ada
pada permukaan Kristal berasal dari larutan induk yang terbawa pada permukaan
kristal pada saat proses pemisahan padatan dari larutan induknya (retentionliquid).
Pengotor pada permukaan kristalini dapat dipisahkan hanya dengan pencucian.
Cairan yang digunakan untuk mencuci harus mempunyai sifat dapat melarutkan
pengotor tetapi tidak melarutkan padatan kristal. Salah satu cairan yang memenuhi
sifat diatas adalah larutan jenuh dari bahan kristal yang akan dicuci, namun dapa juga
dipakai pelarut pada umumnya yang memenuhi krteria tersebut. Adapun pengotor
yang berada di dalam kristal tidak dapat dihilangkan dengan cara pencucian. Salah
satu cara untuk menghilangkan pengotor yang ada di dalam kristal adalah dengan
jalan rekristalisasi, yaitu dengan melarutkan kristal tersebut kemudian
mengkristalkannya kembali. Salah satu kelebihan proses kristalisasi dibandingkan
dengan proses pemisahan yang lain adalah bahwa pengotorhanya bisa terbawa dalam
kristal jika terorientasi secara bagus dalam kisi Kristal (Puguh, 2003).
Bahan pengikat pengotor adalah bahan atau zat yang dapat digunakan untuk
mengikat zat-zat asing yang keberadaannya tidak dikehendaki dalam zat murni.
Secara teori garam yang beredar di masyarakat sebagai garam konsumsi harus
mempunyai kadar NaCl minimal 94,7% untuk garam yang tidak beriodium sesuai
SNI nomor 01-3556 2000, garam beriodium adalah garam konsumsi yang
mengandung komponen utama NaCl (Natrium klorida/mineral) 94,7%, air maksimal
7% dan kalium Iodat (KIO3) mineral 30 ppm, serta senyawa senyawa lain sesuai
dengan persyaratan yang ditentukan, namun pada kenyataannya kadar NaCl pada
garam dapur jauh di bawah standar. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui peningkatan kadar NaCl yang dimurnikan tanpa penambahan bahan
pengikat pengotor, dengan penambahan bahan pengikat pengotor Na2C2O4 dan
Na2CO3 atau penambahan Na2C2O4 dan NaHCO3 dengan konsentrasi yang bervariasi pada
pembuatan garam dapur dari air tua (Sulistyaningsih, 2010).
Tingginya nilai rendeman antosianin yang diperoleh dari ekstraksi
menggunakan methanol dan HCl 1% dan methanol 95% yang ditambahkan asam
sitrat 3% dibandingkan menggunakan pelarut lain disebabkan adanya kecocokan
kepolaran antara pelarut dengan bahan yang dilarutkan, sehingga campuran pelarut
tersebut mampu melarutkan lebih banyak antosianin keluar dari protoplasma sel kubis
merah menghasilkan rendeman lebih banyak (Wirda, 2011)
Padatan berwarna kuning yang terdapat pada fraksi A dan D direkristalisasi
mengunakan pelarut yang sama yaitu n-heksana aseton. Pemilihan pelarut tersebut
didasarkan pada prinsip rekristalisasi yaitu sampel yang tidak larut dalam suatu
pelarut pada suhu kamar tetapi dapat larut dalam pelarut pada suhu kamar. Jadi
rekristalisasi meliputi tahap awal yaitu melarutkan senyawa yang akan dimurnikan
dalam sedikit mungkin pelarut atau campuran pelarut dalam keadaaan panas atau
bahkan sampai suhu pendidihan sehingga diperoleh larutan jernih dan tahapan
selanjutnya yaitu mendinginkan larutan yang akan dapat menyebabkan terbentuknya
kristal, lalu dipisahkan melalui penyaringan (Lukis, 2010).
 Pemerian Sampel A (Tablet Bodrex)
Tablet bodrex mengandung caffeine (Paracetamol) (Depkes, RI. 1979)
Pemerian caffein : Serbuk atau hablur bentuk jarum mengkilat biasanya
menggumpal; tidak berbau; rasa pahit
Pemerian Paracetamol : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa
pahit
 Pemerian Sampel B (Asam Salisilat) (Depkes, RI. 1979)
Pemerian Asam Salisilat : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna
putih ; hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam.
 Pemerian Sampel C (Tablet Paracetamol) (Depkes, RI. 1979)
Pemerian Paracetamol : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa
pahit

III. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Tabung reaksi, pipet tetes, penangas air, erlenmeyer, corong buchner,
timbangan, alat penentu titik leleh
2. Bahan
Etanol 95%, etil asetat, aseton, toluena, n-heksana, aquadest, norit, kapas, es
batu, sampel A (tablet bodrex), sampel B (tablet ponstan), sampel C (tablet
paracetamol)

IV. CARA KERJA


A. Pemilihan Pelarut
Dimasukkan masing-masing 300 mg sampel A yang telah dihaluskan kedalam
6 tabung reaksi. ditambahkan 2 ml akuades, etanol 95%, etil asetat, aseton,
toluen dan heksana pada masing masing tabung reaksi. Tabung dikocok dan
diamati kelarutannya. dibiarkan larutan menjadi dingin dan diamati
pembentukan kristalnya. dilakukan prosedur yang sama untuk sampel B dan C
serta tentukan pelarut yang sesuai untuk rekristalisi.
B. Rekristalisasi Sampel
Dimasukkan 100 mg sampel A kedalam erlenmeyer, ditambahkan 2 ml pelarut
yang sesuai dari hasil prosedur A.dipanaskan campuran perlahan sambil
kocok hingga semua padatan larut, disaring. Erlenmeyer ditutup dan dibiarkan
filtrat menjadi dingin. setelah larutan berada dalam suhu kamar,disiapkan ice
bath untuk menyempurnakan proses kristalisasi. Lalu dimasukkan wadah
larutan kedalam ice bath dan diamati pembentukan kristalnya. Disaring kristal
dan dicuci dengan sejumlah pelarut dingin memggunakan penyaring Buchner.
Lalu dilanjutkan penyaringan hingga kering. Kristal ditimbang dan dihitung
persen recovery-nya.

V. HASIL PENGAMATAN
A. Penentuan Pelarut

SAMPEL A (Tablet Bodrex)


Suhu Kamar Dipanaskan Didinginkan
Pelarut
TL L TL L TL L
Aquadest   
Etanol   
Etil Acetat   
Aseton   
Toluena   
Heksana   
SAMPEL B (Asam Salisilat)
Suhu Kamar Dipanaskan Didinginkan
Pelarut
TL L TL L TL L
Aquadest   
Etanol   
Etil Acetat   
Aseton   
Toluena   
Heksana   

SAMPEL C (Paracetamol)
Suhu Kamar Dipanaskan Didinginkan
Pelarut
TL L TL L TL L
Aquadest   
Etanol   
Etil Acetat   
Aseton   
Toluena   
Heksana   

B. Rekristalisasi Sampel

Perlakuan

Sampel
Pelarut Suhu Panas Dingin Kering Rendeman
kamar

A Aquadest Larut Larut Terbentuk Terbentuk


(Bodrex ) kristal serbuk 581,1%
kembali
B
(Asam Etanol Larut Larut Terbentuk Terbentuk
salisilat ) kristal Kristal 356,6%

C Aquadest Larut Larut Terbentuk Terbentuk


(Paracetamol) kristal serbuk 358,6%
kembali

PERHITUNGAN RENDEMAN

Sampel A : berat hasil percobaan x 100% = 581,1 mg x 100 % = 581,1 %

berat sampel 100 mg

Sampel B : berat hasil percobaan x 100% = 356,6 mg x 100 % = 356,6 %

berat sampel 100 mg

Sampel C : berat hasil percobaan x 100% = 358,6 mg x 100 % = 358,6 %

berat sampel 100 mg

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum 1 ini dilakukan percobaan kristalisasi. Kristalisasi
merupakan sebuah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat di
dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai pembentukan
partikel padat dalam uap, seperti dalam pembentukan salju sebagai
pembekuan (Solidification) di dalam lelehan cair (Pinalia, 2011).
Ada 3 sampel yang digunakan pada percobaan kristalisasi ini yaitu
sampel A bodrex tablet yang berisi kandungan Paracetamol 350 mg,
Propyphenazone 150 mg, Caffeine 50 mg digerus agar menjadi serbuk,
sampel B serbuk asam salisilat, sampel C tablet parasetamol digerus agar
menjadi serbuk. Untuk melakukan percobaan kristalisasi, terlebih dahulu
dilakukan penentuan kelarutan sampel dengan pelarut yang sesuai untuk
setiap sampel, pelarut yang digunakan yaitu aquades, etanol, etil asetat,
aseton, toluena, heksana. Penentuan larutan ini di lakukan pada suhu yang
berbeda-beda yaitu pada suhu ruang, dipanaskan dan didinginkan. Pelarut
yang sesuai akan melarutkan sampel pada semua suhu. Ada beberapa syarat
agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan
perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat
pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah
dipisahkan dari kristalnya. Pada percobaan penentuan pelarut yang sesuai, di
gunakan 6 yabung seaksi pada setiap sampel. Tiap tabung reaksi diisi masing-
masing 2 ml pelarut yang berbeda-beda dan kemudian ditambahkan masing-
masing 300 mg sampel.
Diketahui pada percobaan ini sampel A, sampel larut dengan pelarut
aquadest pada suhu kamar, dipanaskan dan didinginkan, pada pelarut etanol
dan etil asetat hanya larut pada suhu kamar saja dan pada pelarut aceton,
aseton, toluene dan heksana sampel A tidak larut, sehingga pelarut yang sesuai
dengan sampel A yaitu pelarut aquadest.Diketahui padapercobaan ini sampel
B, sampel larut dengan pelarut etanol dan etil acetat pada suhu kamar,
dipanaskan dan didinginkan, pada pelarut aseton hanya larut pada suhu kamar
saja dan pada pelarut aquadest, toluena dan heksana sampel B tidak larut,
sehingga pelarut yang sesuai untuk sampel B yaitu pelarut etanil dan etil
asetat. Diketahui pada percobaan ini sampel C, sampel larut dengan pelarut
aquadest pada suhu kamar, dipanaskan dan didinginkan, pada pelarut etanol,
etil asetat, acetan, aseton, toluena, heksana sampel C tidak larut, sehingga
pelarut yang sesuai dengan sampel C yaitu pelarut aquadest.
Setelah ditentukannya pelarut yang sesuai dengan masing-masing
sampel, kemudian dilakukan percobaan rekristalisasi. Rekristalisasi adalah
teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang
dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan
dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa syarat agar suatu
pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan
perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat
pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah
dipisahkan dari kristalnya (Agustina, 2013).
Pada percobaan rekristalisasi ini digunakan 100 mg sampel dan 2 ml
pelarut yang sesuai. Kemudian sampel dan pelarut dimasukankan kedalam
erlenmeyer, lalu di goyang-goyangkan di dalam penangas air hingga larut.
kemudian sampel didinginkan dengan ice bath hingga terbentuk kristal. Pada
pada praktikum ini di lakukan eksperimen, sampel disaring sebelum
didinginkan dan sampel tidak disaring sebelum didinginkan, yang
memberikan hasil kristal yaitu sampel yang didinginkan tanpa disaring
terlebih dahulu. Ini disebabkan, jika sampel disaring terlebih dahulu sebelum
didinginkan maka kandungan yang akan mengkristal akan mengendap dalam
saringan sehingga kristal tidak akan terbentuk jika sampel disaring terlebih
dahulu sebelum didinginkan. Setelah kristal terbentuk dilakukan penyaringan
dan pengeringan dengan menggunakan corong buchner untuk mengetahui
persentase bobot kristal yang terbentuk dari berat sampel sebelumnya.
Perhitungan ini disebut rendemen, Rendemen adalah perbandingan jumlah
(kuantitas) kristal yang dihasilkan dari setiap sampel diketahui dalam jumlah
persentase, Semakin tinggi nilai rendemen yang dihasilkan menandakan nilai
Kristal yang dihasilkan semakin banyak.
Dari percobaan rekristalisasi pada sampel A, diketahui setelah
dilakukan pendinginan pada penangas es , sampel A membentuk kristal dan
setelah di keringkan menggunakan corong buchner sampel A membentuk
serbuk kembali dan persentase rendemen dari sampel A adalah 581,1 %. Dari
percobaan rekristalisasi pada sampel B , di ketahui setelah dilakukan
pendinginan pada penangas es , sampel B membentuk kristal dan setelah di
keringkan menggunakan corong buchner sampel B membentuk serbuk kristal
kembali dan persentase rendemen dari sampel B adalah 356,6%. Dan dari
percobaan rekristalisasi sampel C ,di ketahui setelah di dinginkan dengan
penangas es , sampel C membentuk kristal lalu dilakukan pengeringan pada
corong buchner dan sampel C membentuk serbuk kembali dan persentase
rendemen dari sampel C adalah 358,6% .

VII. KESIMPULAN
Pada praktikum kristalisasi sampel yang digunakan yaitu ada 3 pada
sampel A tablet yan di gunakan adalah bodrex, pada sampel B tablet yang
digunakan adalah asam salisilat dan pada sampel C tablet yang digunakan
adalah tablet paracetamol. Pertama-tama masing-masing tablet di gerus agar
terbentuk serbuk. Pada percobaan penentuan pelarut masing- masing sampel
ditimbang sebanyak 300 mg dan dimasukkan ke dalam 6 tabung reaksi
masing-masing sampel ditambahkan pelarut yaitu aquades, etanol, etil asetat,
aseton, toluena, dan heksana lalu dikocok dan pada sampel A, sampel larut
dengan pelarut aquadest pada suhu kamar, dipanaskan dan didinginkan, pada
pelarut etanol dan etil asetat hanya larut pada suhu kamar saja dan pada
pelarut aseton, toluene dan heksana sampel A tidak larut, sehingga pelarut
yang sesuai dengan sampel A yaitu pelarut aquadest. Sampel B, sampel larut
dengan pelarut etanol dan etil acetat pada suhu kamar, dipanaskan dan
didinginkan, pada pelarut aseton hanya larut pada suhu kamar saja dan pada
pelarut aquadest, toluena dan heksana sampel B tidak larut, sehingga pelarut
yang sesuai untuk sampel B yaitu pelarut etanol dan etil asetat, dan sampel C,
sampel larut dengan pelarut aquadest pada suhu kamar, dipanaskan dan
didinginkan, pada pelarut etanol, etil asetat, aseton, toluena, heksana sampel C
tidak larut, sehingga pelarut yang sesuai dengan sampel C yaitu pelarut
aquadest.
Pada percobaan rekristalisasi ini digunakan 100 mg sampel dan 2 ml
pelarut yang sesuai. Kemudian sampel dan pelarut dimasukankan kedalam
erlemayer, lalu di goyang-goyangkan di dalam penangas air hingga larut.
kemudian sampel didinginkan dengan ice bath hingga terbentuk kristal. Pada
pada praktikum ini di lakukan eksperimen, sampel disaring sebelum
didinginkan dan sampel tidak disaring sebelum didinginkan, yang
memberikan hasil kristal yaitu sampel yang didinginkan tanpa disaring
terlebih dahulu. Ini disebabkan, jika sampel disaring terlebih dahulu sebelum
didinginkan maka kandungan yang akan mengkristal akan mengendap dalam
saringan sehingga kristal tidak akan terbentuk jika sampel disaring terlebih
dahulu sebelum didinginkan. Setelah kristal terbentuk dilakukan penyaringan
dan pengeringan dengan menggunakan corong buchner untuk mengetahui
persentase bobot kristal yang terbentuk dari berat sampel sebelumnya. Lalu di
lakukan perhitungan randemen dari sampel A membentuk serbuk kembali dan
persentase rendemen dari sampel A adalah 581,1 %. Dari percobaan
rekristalisasi pada sampel B , di ketahui setelah dilakukan pendinginan pada
penangas es , sampel B membentuk kristal dan setelah di keringkan
menggunakan corong buchner sampel B membentuk serbuk kristal kembali
dan persentase rendemen dari sampel B adalah 356,6%. Dan dari percobaan
rekristalisasi sampel C ,di ketahui setelah di dinginkan dengan penangas es ,
sampel C membentuk kristal lalu dilakukan pengeringan pada corong buchner
dan sampel C membentuk serbuk kembali dan persentase rendemen dari
sampel C adalah 358,6% .

SARAN
Percobaan ini telah berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan
hanya saja pada saat penimbangan bahan timbangan yang terdapat di lab
hanya ada satu hal tersebut membuat kerja tidak efisien karena penimbangan
yang di lakukan pada praktikum ini lumayan banyak.
VIII. DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Kgs., 2010, Kristalisasi Pelarut Suhu Rendah Pada Pembuatan Konsentrat
Vitamin E Dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit : Kajian Jenis Pelarut,
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 11 No. 1.

Agustina, Rositawati Leokrist., Dkk, (2013). Rekristalisasi Garam Rakyat dari


Daerah Demak untuk Mencapai SNI Garam Industri.Jurnal Teknologi Kimia
Dan Industri. Vol. 2, No.4.Universitas Diponegoro. Semarang. Diakses
tanggal 8 Desember 2014

Depkes, RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia

Lukis, Prima Agusti. (2010). Dua Senyawa Mangostin dari Ekstak n-Heksan
padaKayu Akar Manggis ( Garcinia mangostana, Linn). Institut Teknologi
Sepuluh September. Surabaya. Diakses tanggal 8 Desember 2014

Pinalia, A., 2011, Penentuan Metode Rekristalisasi Yang Tepat Untuk Meningkatkan
Kemurnian Kristal Amonium Perklorat (AP), Majalah Sains dan Teknologi
Dirgantara, Vol. 6 No. 2.

Pinalia, A., 2011, Kristalisasi Ammonium Perkoalat (AP) Dengan Sistem


Pendinginan Terkontrol Untuk Menghasilkan Kristal Berbentuk Bulat,
Majalah Teknologi Dirgantara, Vol. 9 No. 2.

Setyopratomo, P., dkk., 2003, Studi Eksperimental Permurnian Garam NaCl Dengan
Cara Rekristalisasi, Unitas, Vol. 11 No. 2.

Setyopratomo, Puguh. Dkk, (2003). Studi Eksperimental Pemurnian Garam NaCl


dengan CaraRekristalisasi. Universitas Surabaya

Siregar, K., dkk. 2006, Pengeringan Beku Dengan Metode Pembekuan Vakum Dan
Lempeng Sentuh Dengan Pemanasan Terbalik Pada Proses Sublimasi Untuk
Daging Buah Durian, Buletin Agricultural Engineering BEARING, Vol. 2
No.1.
Sulistyaningsih, Triastuti.Dkk, (2010). Pemurnian Garam Dapur Melalui Metode
Kristalisasi Air Tua dengan Bahan Pengikat Pengotor Na2C2O4-NaHCO3
dan Na2C2O4-Na2CO3.Vol.8, No. 1Universitas Negri Semarang

Triastuti, A., dkk., 2010. Pemurnian Garam Dapur Melalui Metode Kristalisasi Air
Tua Dengan Bahan Pengikat Pengotor Na2C2O4 – NaHCO3 Dan Na2C2O4 –
Na2CO3. Vol. 8 No. 1.

Wirda, Zurrahmi. dkk. (2011). Pengaruh Berbagai Jenis Pelarut dan Asam Terhadap
Rendemen Antosianin dari Kubis Merah (Brassica Oleraceae Capitata). Vol
18. No 2.Universitas Malikussaleh Reuleut-Aceh utara.Banjarbaru
IX. LAMPIRAN
A. Penentuan Pelarut

SAMPEL A (Tablet Bodrex)


Sampel/ Dipanaskan Didinginkan
Pelarut
TL/L TL/L
300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Aquades
t

Larut Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Etanol

Tidak Larut Tidak Larut


300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Etil
Acetat

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Aseton

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Toluena

Tidak Larut Tidak Larut


300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Heksana

Tidak Larut Tidak Larut

SAMPEL B (Asam Salisilat)


Dipanaskan Didinginkan
Pelarut
TL/L TL/L
300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Aquades
t

Tidak Larut Tidak Larut


300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Etanol

Larut Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Etil
Acetat

Larut Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Aseton

Tidak Larut Tidak Larut


300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Toluena

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Heksana

Tidak Larut Tidak Larut

SAMPEL C (Tablet Paracetamol)


Dipanaskan Didinginkan
Pelarut
TL/L TL/L
300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Aquadest

Larut Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Etanol

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Etil Acetat

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Aseton

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Toluena

Tidak Larut Tidak Larut

300 mg
sampel+
2ml
pelarut
Heksana

Tidak Larut Tidak Larut

B. Rekristalisasi
Sampel Pelarut Hasil Dingin Kering Rendeman

A 100 mg Terbentuk Terbentuk


(Bodrex ) sampel+ kristal serbuk 581,1%
2ml kembali
Aquadest

B
(Asam 100 mg Terbentuk Terbentuk
salisilat) sampel+ kristal Kristal 356,6%
2ml
Etanol

C 100 mg Terbentuk Terbentuk


(Paracetamol) sampel+ kristal serbuk 358,6%
2ml kembali
Aquadest