Anda di halaman 1dari 4

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Trichoderma spp

Biologi Trichoderma spp.

Menurut Streets (1980) dalam Tindaon (2008), Trichoderma spp. diklasifikasikan dalam Kingdom
Plantae,Devisio Amastigomycota,Class Deutromycetes,Ordo Moniliales, Famili Moniliaceae,Genus
Trichoderma, Spesies Trichoderma spp.. Cendawan marga Trichoderma terdapat lima jenis yang
mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu Trichorderma harzianum,
Trichorderma koningii, Trichorderma viride, Trichoderma hamatum dan Trichoderma polysporum.

Jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum, Trichorderma
koningii, Trichoderma viride (Anonim, 2010). Trichoderma spp. memiliki konidiofor bercabang – cabang
teratur, tidak membentuk berkas, konidium jorong, bersel satu, dalam kelompokkelompok kecil terminal,
kelompok konidium berwarna hijau biru (Semangun, 1996). Trichoderma spp. juga berbentuk oval, dan
memiliki sterigma atau phialid tunggal dan berkelompok (Barnet, 1960 dalam Nurhaedah,2002).

Morfologi Trichoderma spp..

Koloni Trichoderma spp. pada media agar pada awalnya terlihat berwarna putih selanjutnya miselium
akan berubah menjadi kehijau-hijauan lalu terlihat sebagian besar berwarna hijau ada ditengah koloni
dikelilingi miselium yang masih berwarna putih dan pada akhirnya seluruh medium akan berwarna hijau
(Umrah, 1995 dalam Nurhayati, 2001). Koloni pada medium OA (20oC) mencapai diameter lebih dari 5
cm dalam waktu 9 hari, semula berwarna hialin, kemudian menjadi putih kehijauan dan selanjutnya
hijau redup terutama pada bagian yang menunjukkan banyak terdapat konidia. Konidifor dapat
bercabang menyerupai piramida, yaitu pada bagian bawah cabang lateral yang berulang-ulang,
sedangkan kearah ujung percabangan menjadi bertambah pendek. Fialid tampak langsing dan panjang
terutama apeks dari cabang, dan berukuran (2,8-3,2) μm x (2,5-2,8) μm, dan berdinding halus.
Klamidospora umumnya ditemukan dalam miselia dari koloni yang sudah tua, terletak interkalar kadang
terminal, umumnya bulat, berwarna hialin, dan berdinding halus (Gandjar,dkk., 1999 dalam Tindaon,
2008).

Mekanisme Antagonis Trichoderma spp.


Mikroorganisme antagonis adalah mikroorganisme yang mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap
mikroorganisme lain yang tumbuh dan berasosiasi dengannya. Antagonis meliputi (a) kompetisi nutrisi
atau sesuatu yang lain dalam jumlah terbatas tetapi tidak diperlukan oleh OPT, (b) antibiosis sebagai hasil
dari pelepasan antibiotika atau senyawa kimia yang lain oleh mikroorganisme dan berbahaya bagi OPT,
dan (c) predasi, hiperparasitisme, dan mikroparasitisme atau bentuk yang lain dari eksploitasi langsung
terhadap OPT oleh mikroorganisme yang lain (Istikorini, 2002 dalam Gultom, 2008). Trichoderma spp.
merupakan salah satu jamur antagonis yang telah banyak diuji coba untul mengendalikan penyakit
tanaman (Lilik,dkk., 2010). Sifat antagonis Cendawan Trichoderma spp. telah diteliti sejak lama.

Inokulasi Trichoderma spp. ke dalam tanah dapat menekan serangan penyakit layu yang menyerang di
persemaian, hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh toksin yang dihasilkan cendawan ini (Khairul,
2000). Selain itu Trichoderma spp.. mempunyai kemampuan berkompetisi dengan patogen tanah
terutama dalam mendapatkan Nitrogen dan Karbon (Cook dan Baker, 1983 dalam Djatmiko dan Rohadi,
1997). Menurut Harman (1998) dalam Gultom (2008), mekanisme utama pengendalian patogen
tanaman yang bersifat tular tanah dengan menggunakan cendawan Trichoderma spp.. dapat terjadi
melalui :

a. Mikoparasit (memarasit miselium cendawan lain dengan menembus

dinding sel dan masuk kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari dalam sel sehingga cendawan
akan mati).

b. Menghasilkan antibiotik seperti alametichin, paracelsin, trichotoxin yang dapat menghancurkan sel
cendawan melalui pengrusakan terhadap permeabilitas membran sel, dan enzim chitinase, laminarinase
yang dapat menyebabkan lisis dinding sel.

c. Mempunyai kemampuan berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan sumber makanan.

d. Mempunyai kemampuan melakukan interfensi hifa. Hifa Trichoderma spp.. Akan mengakibatkan
perubahan permeabilitas dinding sel.

Trichoderma spp. adalah jenis cendawan yang tersebar luas di tanah, dan mempunyai sifat mikoparasitik.
Mikoparasitik adalah kemampuan untuk menjadi parasit cendawan lain. Sifat inilah yang dimanfaatkan
sebagai biokontrol terhadap jenis-jenis cendawan fitopatogen. Beberapa cendawan fitopatogen penting
yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma spp. antara lain : Rhizoctonia solani, Fusarium spp, Lentinus
lepidus, Phytium spp, Botrytis cinerea, Gloeosporium gloeosporoides, Rigidoporus lignosus dan
Sclerotium roflsii yang menyerang tanaman jagung, kedelai, kentang, tomat, dan kacang buncis, kubis,
cucumber, kapas, kacang tanah, pohon buah- buahan, semak dan tanaman hias (Wahyudi, 2002 dalam
Tindaon, 2008).

Potensi Trichoderma Spp.. Sebagai Agens Hayati

Pengertian agens hayati menurut FAO (1997) dalam Supriadi (2006) yaitu organisme yang dapat
berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator, parasit, arthropoda pemakan tumbuhan, dan
patogen. Agens hayati yang digunakan untuk mengendalikan penyakit disebut agens antagonis,
pemanfaatan agens hayati dalam menekan perkembangan penyakit terus dikembangkan dan
dimasyaratkan ke petani (Lilik, dkk., 2010). Salah satu metode pengendalian penyakit tanaman dengan
menggunakan mikroorganisme antagonis yang sekarang banyak dikembangkan yaitu dengan
menggunakan cendawan atau bakteri nonparasitik (Djatmiko dan Rohadi, 1997).

Penggunaan cendawan antagonis sebagai pengendali patogen merupakan salah satu alternatif yang
dianggap aman dan dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan (Darmono, 1994). Pengendalian
hayati terhadap patogen dengan menggunakan mikroorganisme antagonis dalam tanah memiliki
harapan yang baik untuk dikembangkan karena pengaruh negatif terhadap lingkungan tidak ada.
Rasminah (1995) dalam Khaeruni (2010) menyatakan bahwa pemanfaatan mikroorganisme sebagai
agens pengendalian nampaknya masih perlu dikembangkan. Pengembangan penggunaan
mikroorganisme tersebut perlu dilandasi pengetahuan jenis-jenis mikroorganisme, jenis-jenis penyakit
dan juga mekanisme pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan mikroorganisme.
Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu pengendalian penyakit tanpa mengganggu kondisi
lingkungan. Pengendalian hayati dengan menggunakan agens hayati seperti Trichoderma spp. yang
terseleksi ini sangatlah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dan mengatasi dampak negatif
dari pemakaian pestisida sintetik yang selama ini masih dipakai untuk pengendalian penyakit tanaman di
Indonesia (Purwantisari dan Hastuti, 2009).

3.2 Isolasi cendawan Trichoderma spp

Hasil isolasi dengan metode pancingan diperoleh Trichoderma spp dengan ciri-ciri morfologi memiliki
warna koloni berwarna hijau. Pada media PDA memiliki zona-zona pertumbuhan. Sedangkan pada
metode pengenceran tidak diperoleh Trichoderma spp. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi
isolasi yang kurang steril. Sehingga tidak ada cendawan yang tumbuh pada media PDA.
BAB IV

KESIMPULAN

Dari penulisan diatas dapat disimpulkan bahwa Trichoderma spp. mempunyai potensi yang baik untuk
dikembangkan sebagai agens hayati dalam pengendalian penyakit tanaman, hal ini dikarenakan sifat
Trichoderma spp. sebagai cendawan antagonis yang dianggap aman bagi lingkungan karena cendawan
ini berasal dari tanah dan dapat berfungsi sebagai pengurai unsur hara tanaman serta dalam
pengendalian penyakit memberikan hasil yang cukup memuaskan.

https://hardiyanti1992.wordpress.com/2012/08/07/laporan-praktikum-trichoderma/