Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TYPHOID PADA ANAK

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Anak 1

Dosen Pengampu: Ns.Herlina, M.Kep,Sp.Kep.An

Disusun oleh:

Riski Dwiana 1710711080

S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2019
ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TYPHOID PADA ANAK

1. Pengertian

Demam typhoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan


oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara
berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis, hal ini biasa di
tandai dengan panas (hipertermi) yang berkepanjangan. Hipertermia merupakan
peningkatan suhu tubuh >37,5oC yang dapat disebabkan oleh gangguan hormon,
gangguan metabolisme,peningkatan suhu lingkungan sekitar. Pada pasien demam
Typhoid dengan masalah hipertermi jika tidak segera diatasi dapat berakibat fatal
seperti kejang demam, syok, dehidrasi, syok dan dapat terjadi kematian ( Lusia,
2015). Pertimbangkan demam tifoid pada anak yang demam dam memiliki salah satu
tanda seperti diare (konstipasi), muntah, nyeri perut,dan sakit kepala (batuk). Hal ini
terutama bila demam telah berlangsung selama 7 hari atau lebih dan penyakit lain
sudah disisihkan (WHO,2005).

2. Etiologi

Penyebab penyakit ini adalah jenih salmonella tyhosa, kman ini memiliki ciri-
ciri sebagai berikut.

1) Basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar dan tidak berspora
2) Memiliki paling sedikit 3 macam antigen, yaitu antigen O (somatic
yang terdiri atas zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flagella),
dan antigen Vi. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboraturium pasien,
biasanya terdapat zat anti (agglutinin) terhadap ketiga macam antigen
tersebut.

Salmonella terdiri atas berates-ratus spesies, namun memiliki susunan antigen


yang serupa, yaitu sekurang-kurangnya antigen O (somatic) dan antigen H (flagella).
Perbedaan di antara spesies tersebut disebabkan oleh factor antigen dan sifat biokimia.

Mekanisme kuman diawali dengan nfeksi yang terjadi pada saluran


pencernaan, basil diserap oleh usus melalui pembuluh limfe lalu masuk ke dalam
peredaran darah sampai di organ-organ lain, terutama hati dan limpa. Basil yang tidak
dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ –organ tersebut
akan membesar disertai dengan rasa nyeri pada perabaan, kemudian basil masuk
kembali ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke
dalam klnjar limfoid usus halus, sehingga menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada
mukosa di atas plak peyeri; tukak tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan
perfiorasi usus. Gejala demam diebabkan oleh endotoksin, sedangkan gejala pada
saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus
3. Klasifikasi
Menuruh WHO (2003) ada 3 macam klasifikasi demam tifoid dengan perbedaan
gejala klinis :
1) Demam tifoid akut non komplikasi
Demam tifoid akut dikarakteristikkan dengan adanya demam berkepanjangan
abnormalis, fungsi bowel (konstipasi pada pasien dewasa, dan diare pada
anak-anak), sakit kepala, malaise, dan anoksia.bentuk bronchitis biasa terjadi
pada fase awal penyakit selama periode demam, sampai 25% penyakit
menunjukan adanya rose spot pada dada, abdomen dan punggung.
2) Demam tifoid dengan komplikasi
Pada demam tifoid akut, keaaan mungkin dapat berkembang menjadi
komplikasi parah. Bergantung pada kualitas pengobatan dan keadaan
kliniknya, hingga 10% pasien dapat mengalami komplikasi, mulai dari
melena, perforasi, usus daan peningkatan ketidaknyamanan abdomen.
3) Keadaan karier
Keadaan karier tifoid pada 1-5% pasien, tergantung umur pasien. Karier tifoid
bersifat kronis dalam hal sekresi salmonella typhi difeses.

4. Faktor resiko

faktor yang dapat memicu terjadinya demam tifoid antara lain


1) umur, demam tifoid paling tinggi pada usia 3-19 tahun karena pada usia tersebut
orang-orang cenderung memiliki aktivitas fisik yang banyak, dan kurang
memperhatikan pola makannya, akibatnya mereka cenderung lebih memilih makan
di luar rumah, atau jajan di sembarang tempat yang kurang memperhatikan
higienitas.
2) jenis kelamin,
3) pendidikan,
4) pekerjaan,
5) sanitasi lingkungan,
6) personal hygiene
 kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, tidak memiliki kebiasaan
mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, memilki risiko lebih
besar menderita tifoid dibandingkan dengan mereka yang memiliki
kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.
 kebiasaan mencuci tangan setelah buang air besar, kebiasaan mencuci
bahan makanan mentah, dan jamban sehat
7) Kebiasaan makan di luar rumah. Menurut pendapat Addin (2009), yang
menyatakan bahwa 8 penularan tifus dapat terjadi dimana saja dan kapan saja,
biasanya terjadi melalui konsumsi makanan di luar rumah atau di tempat-
tempat umum, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang
bersih. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh seorang
penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat
memasak. Seseorang dapat membawa kuman tifus dalam saluran
pencernaannya tanpa sakit, ini yang disebut dengan penderita laten. Penderita
ini dapat menularkan penyakit tifus ini ke banyak orang, apalagi jika dia
bekerja dalam menyajikan makanan bagi banyak orang seperti tukang masak
di restoran, di pedagang kaki lima atau emperan.
.
5. Komplikasi

Komplikasi biasanya terjadi pada usus halus, namun hal tersebut jarang
terjadi. Apabila komplikasi ini terjadi pada seorang anak,maka dapat berakibat fatal.
Gangguan paa usus halus ini dpat berupa :

1) Perdarahan usus;
Apabila perdarahan usus terjadi dalam jumlah sedikit, perdarahan tersebut
hanya dapat ditemukan jika dilakukan pemeriksaan feses dengan berzidin; jika
perdarahan banyak, maka dapat terjadi melena yang bias disertai nyeri perut
dengan tanda-tanda renjatan. Perforasi usus biasanya timbul pada minggu
ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian usus distal ileum.
2) Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat
udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara di
antara hati dan diafragma pada foto Rontgen abdomen yang dibuat dalam
keadaan tegak;
3) Peritonitis;
Peritonitis biasanya menyertai perforasi, namun dapat juga terjadi tanpa
perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut seperti nyeri perut yang hebat,
dinding abdomen tegang (defence musculair), dan nyeri tekan.
4) Komplikasi di luar usus;
Terjadi lokalisasi peradangan akibat sepsis (bacteremia),yaitu meningitis,
kolesistisis, ensefelopati, dan lain-lain. Komplikasi di luar usus ini terjadi
karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia.

6. Patofisio
Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia bersama dengan makanan
atau minuman yang tercemar oleh kuman Salmonella typhi. Kemudian sebagian
dimusnahkan di lambung dan sebagian lagi masuk ke dalam usus halus kemudian
berkembang biak. Jika respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka
kuman tersebut akan menembus sel-sel epitel dan selanjutnya menuju lamina propia.
Di lamina propia kuman akan terus berkembang biak dan ditangkap oleh sel-sel
fagosit terutama makrofag kemudian masuk melalui aliran limfe sehingga dapat
menimbulkan bakterimia primer kemudian dibawa ke peyer’spatches ileum distal dan
ke kelenjar getah bening mesenterika (Widodo, 2006).
Salmonella typhi akan mengikuti aliran darah sampai ke kandung kemih.
Bersama dengan disekresikannya empedu ke salam saluran cerna, kuman tersebut
kembali memasuki saluran cerna dan akan menginfeksi Peyer’s patches, yaitu
jaringan limfoid yang ada di ileum, lalu kembali memasuki peredaran darah dan
menimbulkan bakterimia sekunder. Pada saat terjadi bakterimia sekunder lah gejala
klinis dari demam tifoid dapat terlihat (Salyers dan Whitt, 2002).

Pathway (terlampir)

7. Menifestasi klinis

1) Gejala pada anak : inkubasi antara 5-40 hari dengan rata-rata 10-14
hari.
2) Demam meninggi sampai akhir minggu pertama
3) Demam turun pada minggu keempat, kecuali demam tidak tertangani
akan menyebabkan syok, stupor dan koma.
4) Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari
5) Nyeri kepala, nyeri perut
6) Kembung, mual, muntah, diare, konstipasi
7) Bradikardi, pusing, nyeri otot
8) Batuk
9) Epistaksis
10) Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepian ujung merah serta
tremor)
11) Hepatomegali, splenomegali, meterosismus
12) Gangguan menelan berupa salmonella
13) Delirium atau psikosis

Neonatus
Disamping dapat menyebabkan abortus dan kelahiran prematur, infeksi demam
tifoid pada akhir kehamilan dapat terjadi secara vertikal. Gejala mulai muncul
pada 3 hari setelah persalinan. Muntah, diare dan distensi abdomen sering terjadi.
Suhu tubuh bervariasi, dapat mencapai 40,5°C. Dapat juga terjadi kejang,
hepatomegali, ikterus, anoreksia dan kehilangan berat badan.

Bayi dan anak dibawah 5 tahun


Pada usia ini demam tifoid relatif jarang. Walaupun gejala sepsis dapat terjadi,
gejala penyakit biasanya ringan, sehingga menyulitkan untuk diagnosis. Diare
lebih sering terjadi dan didiagnosis sebagai gastroenteritis. Diare bisa bersifat
profuse dan cair, yang menandakan gangguan pada usus halus atau diare dengan
jumlah sedikit disertai dengan lendir atau leukosit yang menandakan gangguan
usus besar. Diare berdarah dapat terjadi pada 25% kasus.

Usia sekolah
Onset penyakit bervariasi. Gejala awal berupa demam, nafsu makan menurun,
lemas, nyeri otot, sakit kepala, nyeri perut yang berlangsung 2-3 hari. Pada
awalnya bisa terjadi diare cair, atau konstipasi bias terjadi belakangan. Bisa juga
disertai batuk atau epistaksis. Pada banyak anak dapat berkembang menjadi letargi
(penurunan kesadaran) berat. Temperatur meningkat secara bertahap, dapat
berlangsung hingga 1 minggu dan mencapai suhu 40°C. Dalam waktu 2 minggu
selama sakit, demam masih tetap berlangsung disertai lemas, anoreksia, batuk,
nyeri perut yang semakin bertambah. Pasien tampak kesakitan, mengalami
disorientasi dan letargi. Dapat pula terjadi delirium dan stupor.

8. Pemeriksaan penunjang

1) Pemeriksaan darah tepi


Pemeriksaan hematologi pada demam tifoid tidak spesifik. Dapat
ditemukan adanya anemia normokromik normositer dalam beberapa minggu
setelah sakit. Anemia dapat terjadi antara lain oleh karena pengaruh berbagai
sitokin dan mediator sehingga terjadi depresi sumsum tulang, penghentian
tahap pematangan eritrosit maupun kerusakan langsung pada eritrosit.
Disamping itu anemia bisa disebabkan perdarahan usus.. Hitung leukosit
umumnya rendah, berhubungan dengan demam dan toksisitas penyakit,
memiliki variasi yang lebar, leukopenia, jarang dibawah 2500/mm3, umumnya
terjadi dalam waktu 1 hingga 2 minggu setelah sakit. Leukositosis dapat
mencapai 20.000-25.000/mm3, yang menandakan adanya suatu abses
pyogenik. Trombositopenia dapat merupakan suatu tanda penyakit yang berat
serta terjadinya suatu gangguan koagulasi intravaskuler.

2) Pemeriksaan serologis Widal


Pemeriksaan widal adalah pemeriksaan antibodi terhadap antigen O
dan H S.Typhi, yang sudah digunakan lebih dari 100 tahun. Pemeriksaan
widal memiliki sensitivitas dan spesifitas rendah, dan penggunaannya sebagai
pemeriksaan tunggal di daerah endemik akan mengakibatkan overdiagnosis.
Antibodi O meningkat pada hari 6-8, dan antibodi H pada hari 10-12 setelah
onset. Kelemahan pemeriksaan widal lainnya, dapat juga terjadi reaksi silang
dengan enterobakter lain, atau sebaliknya penderita demam tifoid tidak
menunjukkan peningkatan titer antibodi. Di Indonesia, pengambilan angka
titer O aglutinin e” 1/40 dengan memakai uji widal slide aglutination,
menunjukkan nilai ramal positip 96%. Artinya, apabila hasil tes positip, 96%
kasus benar menderita demam tifoid, tetapi apabila negatif, tidak
menyingkirkan. Banyak center mengatur pendapat, bahwa apabila titer O
aglutinin sekali periksa e” 1/200, atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4
kali, maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan. Untuk mendapatkan hasil
pemeriksaan yang cepat dan lebih akurat dalam mendiagnosis demam tifoid,
dikembangkan pemeriksaan alternatif dari widal seperti IDL Tubex ®,
Typhidot ®, Typhidot-M ®, dipstik test.

3) Pemeriksaan PCR
Pemeriksaan nested PCR (Polymerase Chain Reaction), menggunakan
primer H1- d dapat digunakan untuk mengamplifikasi gen spesifik S. typhi
dan merupakan pemeriksaan yang cepat dan menjanjikan.Pemeriksaan PCR
memiliki sensitivitas untuk mendeteksi satu bakteri dalam beberapa jam.
Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi
risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila
prosedur teknis tidak dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam
spesimen yang bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam
spesimen darah serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses),
biaya yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. Usaha untuk melacak
DNA dari specimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan
sehingga saat ini penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium
penelitian.

4) Pemeriksaan Biakan darah


Diagnosis utama demam tifoid adalah isolasi kuman S.typhi. Isolasi kuman
penyebab demam tifoid dapat dilakukan dengan mengambil biakan dari
berbagai tempat dalam tubuh. Biakan darah memberi hasil positif pada 40-
60% kasus. Sensitivitas biakan darah yang paling baik adalah selama minggu
pertama sakit, dapat positif sampai minggu kedua dan setelah itu kadang saja
ditemukan positif. Pemeriksaan biakan feses dan urine positif pada akhir
minggu pertama tetapi memiliki sensitivitas yang lebih rendah. Dibeberapa
negara, rendahnya sensitivitas biakan darah dipengaruhi oleh penggunaan
anatibiotik. Pemeriksaan biakan darah kurang sensitif dibandingkan dengan
biakan sumsum tulang oleh karena jumlah kuman yang lebih sedikit.
Pemeriksaan biakan darah memerlukan sampel sebanyak 10-15 ml
pada anak prasekolah dan dewasa, 2-4 ml pada bayi dan anak prasekolah.
Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S.typhi adalah media empedu
(gall) dari sapi dimana dikatakan media Gall ini dapat meningkatkan
positivitas hasil karena hanya S. typhi dan S. paratyphi yang dapat tumbuh
pada media tersebut. Perbedaan jenis media yang digunakan, memberikan
karakteristik yang berbeda serta selektifitas yang berbeda pula. Pada media
blood agar, S.Typhi dan S.Paratyphi terbentuk non hemolitik koloni,berwarna
putih halus, pada media Mac Conkey terbentuk koloni halus yang
memproduksi laktose tidak terfermentasi, pada media SS agar, terbentuk
koloni yang memproduksi laktosa tidak terfermentasi dengan warna hitam di
bagian tengah, pada media Xyloselysine- desoxycholate (XLD) agar koloni
berwarna merah transparan dengan bagian tengah berwarna hitam.
Kegagalan isolasi mikroorganisme dapat disebabkan oleh beberapa
faktor antara lain terbatasnya media laboratorium, penggunaan antibiotika,
jumlah volume darah yang digunakan, waktu pengambilan sampel.

9. Penatalaksanaan
Menurut WHO (2005), adalah :
1) Obat dengan kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis per oral atau
IV selama 10-14 hari, terapi untuk bayi muda perlu dipertimbangkan secara
lebih spesifik;
2) Apabila tidak diberikan kloramfenikol, dipakai amoksilin 100 mg/kgBB/hari
per oral atau ampisilin IV selama 10 hari, atau kontrimoksazol 48
mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis per oral selama 10 hari;
3) Apabila kondisi tidak ada perbaikan, gunakan generasi ketiga sefalosporin
seperti sefriakson 80 mg/kg IM atau IV, sekali sehari, selama 5-7 hari atau
seiksim oral 20 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari.
4) Perawatan penunjang dilakukan bila anak demam (≥39°C), berikan
parasetamol dan lakukan pemantauan terhadap komplikasi.

10. Asuhan keperawatan


1) Pengkajian
i. Identifikasi. Penyakit ini sering ditemukan pada anak berumur di atas
satu tahun.
ii. Keluhan pertama berupa perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala,
pusing dan kurang bersemangat, serta nafsu makan berkurang
(terutama selama masa inkubasi).
iii. Suhu tubuh. Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama 3
minggu, bersifat febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali.
Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur baik setiap
harinya, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada
sore dan malam hari. Pada minggu kedua, pasien terus berada dalam
keadaan demam. Saat minggu ketiga, suhu berangsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu ketiga.
iv. Kesadaran, umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak
seberapa dalam yaitu apatis sampai somnolen; jarang terjadi
stupor,koma, atau gelisah (kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat
mendapat pengobatan). Selain gejala-gejala tersebut mungkin dapat
ditemukan gejala lain,seperti pada punggung dan anggota gerak dapat
ditemukan reseola (bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam
kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam),
kadang ditemukan juga bradikardi dan epitistaksis pada anak yang
lebih besar.
v. Pengkajian fisik
a) Mulut : terdapat napas yang berbau tidak sedap, bibir kering,
dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor
(costed tongue), sementara ujung dan tepinya berwarna
kemerahan, dan jarang disertai tremor.
b) Abdomen : dapat ditemukan keadaan perut kembung
(meterorismus), biasa terjadi konstipasi, diare, atau normal.
c) Hati dan limfe: membesar disertai dengan nyeri pada perabaan
vi. Pemeriksaan laboratorium
a) Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia,
limfositosis relative, dan aneosinofilia pada permukaan sakit.
b) Kultur darah (biakan, empedu) dan widal
c) Biakan empedu basil salmonella typhosa dapat ditemukan
dalam darah pasien pada minggu pertama sakit.
Selanjutnya,lebih sering ditemukan dalam urine dan feses.
d) Pemeriksaan widal, pemeriksaan yang diperlukan adalah titer
zat anti terhadap antigen O. Titer yang bernilai 1⁄200 atau
lebih merupakan kenaikan yang progesif.
2) Diagnosa
i. Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme
ii. Nyeri akut b.d agen cedera biologis
iii. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan mencerna makanan
iv. Intoleran aktifitas b.d fisik tidak bugar

3) Intervensi keperawatan
No Dx Tujuan dan kriteria hasil Tindakan
.
1. Hipertermia b.d Setelah dilakukan perawatan 1) Manajemen pengobatan (NIC
peningkatan laju selama 3x24 jam diharapkan : 199)
metabolism suhu tubuh klien menjadi a) Tentukan obat yang
(NANDA: 434) normal dengan kriteria hasil : diperlukan, dan kelola
1) Termolegurasi (NOC menurut resep dan/
:564) protocol
a) Berkeringat saat panas Rasional : memberikan
(ditingkatkan dari obat yang sesuai dengan
skala 2 menjadi sekala resep dokter
4)
b) Hipertermia b) Monitor pasien mengenai
(ditingkatkan dari efek terapeutik obat
skala 2 menjadi sekala Rasional : mengawasi
4) adanya perubahan kondisi
c) Peningkatan suhu kulit pasien setelah pemberian
(ditingkatkan dari obat
skala 2 menjadi sekala
4) c) Monitor efek samping obat
2) Keparahan infeki (NOC : Rasional : mengawasi
146) efek samping negative obat
a) Nyeri (ditingkatkan pada pasien
dari skala 2 menjadi
sekala 4) 2) kontrol infeksi (NIC :134)
b) Menggigil a) anjurkan pasien mengenai
(ditingkatkan dari teknik mencuci tangan
skala 2 menjadi sekala dengan tepat
4) Rasional : agar dapat
c) Hilang nafsu makan mencegah berkembangan
(ditingkatkan dari bakteri di tangan
skala 2 menjadi sekala
4) b) anjurkan pengunjung untuk
3) Status kenyamanan : fisik mencuci tangan pada saat
(NOC : 529) memasuki dan
a) Nyeri otot meninggalkan ruangan
(ditingkatkan dari pasien
skala 2 menjadi sekala Rasional : mencegah
4) penularan bakteri/penyakit
b) Sakit kepala
(ditingkatkan dari c) gunakan sabun anti
skala 2 menjadi sekala mikroba untuk cuci tangan
4) yang sesuai
c) Tingkat energi Rasional : agar membantu
(ditingkatkan dari membunuh kuman secara
skala 2 menjadi sekala maksimal
4)
3) manajemen nutrisi (NIC:197)
a) identifikasi (adanya) alergi
atau intoleran makanan
yang dimiliki pasien
Rasional : mencegah
alergi kambuh karena
makanan

b) anjurkan keluarga untuk


membawa makanan
favoritpasien sementara
(pasien) berada di rumah
sakit atau fasilitas
perawatan yang sesuai
Rasional : agar
menumbuhkan rasa nafsu
makan pasien

c) tawarkan makanan ringan


yang padat gizi
Rasional : guna memenuhi
kebutuhan gizi pasien

2. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan perawatan 1) Manajemen nyeri


agen cedera selama 3x24 jam diharapkan a) Gunakan strategi
biologis nyeri akut yang dirasakan komunikasi terapeutik
(NANDA : 445) pasien berkurang dengan untuk mengetahui
kriteria hasil : pengalaman nyeri dan
1) Tingkat nyeri (NOC: 577) sampaikan penerimaan
a) Tidak bias beristirahat pasien terhadap nyeri
(ditingkatkan dari Rasional : agar anak
skala 2 menjadi sekala memiliki rasa percaya dan
4) mau berbicara dengan
b) Mengerang dan perawat
menangis b) Ajarkan prinsip-prinsip
(ditingkatkan dari manajemen nyeri
skala 2 menjadi sekala Rasional : agar anak dapat
4) mengontrol rasa nyerinya
c) Mual (ditingkatkan
dari skala 2 menjadi c) Dukung istirahat/tidur
sekala 4) yang adekuat untuk
2) Status kenyamanan membantu penurunan nyeri
(NOC : 528) Rasional : membiarkan
a) Kontrol terhadap pasien beristirahat lebih
gejala (ditingkatkan banyak
dari skala 2 menjadi
sekala 4) 2) Pengaturan posisi (NIC : 306)
b) Suhu ruangan a) Tempatkan (pasien) diatas
(ditingkatkan dari matras/tempat tidur
skala 2 menjadi sekala terapeutik
4) Rasional : agar pasien
c) Dukungan social dari lebih nyaman untuk
keluarga beristirahat
3) Tidur (NOC ; 566) b) Tempatkan pasien dalam
a) Pola tidur posisi terapeutik yang
(ditingkatkan dari sudah ditetapkan (semi
skala 2 menjadi sekala fowler)
4) Rasional : untuk
b) Perasaan segar setelah mendukung pengurangan
tidur (ditingkatkan dari rasa nyeri pasien
skala 2 menjadi sekala
4) c) Berikan matras yang
c) Kualitas tidur lembut
(ditingkatkan dari Rasional : untuk
skala 2 menjadi sekala mengotimalkan rasa
4) nyaman saat istirahat

3) Peningkatan tidur (NIC : 348)


a) Tentukan pola
tidur/aktivitas pasien
Rasional : agar dapat
menghasilkan kualitas
tidur yang baik

b) Sesuaikan lingkungan
(misalnya, cahaya,
kebisingan, suhu, kasur,
dan tempat tidur) untuk
meningkatkan tidur
Rasional : agar pasien
mendapatkan kualitas
istirahat yang baik

c) Bantu pasien untuk


membatasi tidur siang
dengan menyediakan
aktivitas yang
meningkatkan kondisi
terjaga, dengan tepat.
Rasional :
menyeimbangkan waktu
istirahat siang dengan
aktivitas

3. Ketidakseimbanga Setelah dilakukan perawatan 1) Terapi nutrisi (NIC : 443)


n nutrisi kurang selama 3x24 jam diharapkan a) Lengkap pengkajian
dari kebutuhan nutrisi klien dapat seimbang nutrisi, sesuai kebutuhan
tubuh b.d dengan kriteria hasil : tubuh
ketidakmampuan 1) Status nutrisi (NOC : 154) Rasional : agar dapat
mencerna a) Asupan makanan menyesuaikan nutrisi
makanan (ditingkatkan dari skala sesuai kebutuhan pasien
(NANDA : 153) 2 menjadi sekala 4)
b) Asupan cairan b) Bantu pasien untuk
(ditingkatkan dari skala memilih makan yang
2 menjadi sekala 4) lunak, lembut yang tidak
c) Asupan gizi mengandung asam sesuai
(ditingkatkan dari skala kebutuhan
2 menjadi sekala 4) Rasional : agar anak dapat
2) Kaparan mual-muntah memakan makanannya
(NOC : 551) dengan baik
a) Frekuensi mual
(ditingkatkan dari skala c) Sajikan makanan dengan
2 menjadi sekala 4) menarik, cara yang
b) Frekuensi muntah menyenangkan dengan
(ditingkatkan dari skala mempertimbangkan warna,
2 menjadi sekala 4) tekstur, dan keragaman.
c) Nyeri lambng Rasional : agar anak
(ditingkatkan dari skala tertarik untuk memakan
2 menjadi sekala 4) makanannya
3) Nafsu makan (NOC : 319)
a) Hasrat/keinginan untuk 2) Manajemen elektrolit/cairan
makan (ditingkatkan (NIC : 167)
dari skala 2 menjadi a) Monitor tanda-tanda vital,
sekala 4) yang sesuai
b) Merasakan makanan Rasional : Untuk
(ditingkatkan dari skala mengetahui perkembangan
2 menjadi sekala 4) tanda-tanda vital pasien
c) Rangsangan untuk terutama perubahan suhu
makan (ditingkatkan tubuh
dari skala 2 menjadi
sekala 4) b) Berikan cairan , yang
sesuai
Rasional : Untuk
memenuhi kebutuhan
cairan pasien

c) Monitor kehilangan cairan


(misalnya, perdarahan ,
muntah, diare, keringatan,
dan takipneu)
Rasional : Untuk
mengetahui sumber
kehilangan cairan tambahan
pada pasien (muntah)

3) Pemberian makan (NIC : 250)


a) Atur makanan sesuai
keinginan pasien
Rasional : Agar anak lebih
beselera untuk makan

b) Tawarkan kesempatan
mencium makan untuk
menstimulasi nafsu makan
Rasional : Agar anak
tertarik untuk mencoba
makanannya

c) Suapi tanpa terburu-


buru/pelan
Rasional : Agar anak tidak
tersedak dan bias
menikmati makanannya
DAFTAR PUSTAKA
Ikatan Dokter Anak Indonesia.2016. Rekomendasi IDAI mengenai Pemeriksaan Penunjang
Diagnostik Demam Tifoid.

Nanda.2017.Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-2020 Edisi 1 editor T Heather


Herdman, Shigemi Kamitsuru. Jakarta:EGC.

Ratnawati M, arif S.A, Monika S.2016.ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DEMAM TYPHOID
DENGAN HIPERTERMIA DI PAVILIUN SERUNI RSUD JOMBANG.Stikes Pemkab Jombang.

Sodikin.2011.Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Sistem Gastrointestinal dan


Hepatobilier.Jakarta:Salemba Medika.

Sucipta, AAM. 2015. Buku emas pemeriksaan laboratorium demam tifoid pada anak. Skala husada.
12(1):22-26.

WHO.2003. Diagnosis of Typhoid Fever.Dalam:Backgroud Document: The Diagnosis Treatment an


Prevention of Typhoid Fever.Word Health Organization.