Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CARSINOMA


MAMMAE DI RUANG INSTALASI BEDAH SENTRAL
RUMAH SAKIT DAERAH dr. SOEBANDI JEMBER

Oleh:
Ayuning Mutthia Amila, S.Kep.
NIM 182311101146

PPROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
LAPORAN PENDAHULUAN .................................................................... 1
A. Anatomi Fisiologi Payudara ..................................................................... 1
B. Definisi Carsinoma Mammae ................................................................... 2
C. Epidemiologi ............................................................................................ 3
D. Etiologi Ca Mammae ............................................................................... 4
E. Klasifikasi Ca Mammae ............................................................................ 5
F. Manifestasi Klinis Ca Mammae ................................................................ 8
G. Patofisiologi Ca Mammae ........................................................................ 9
H. Clinical Pathway ...................................................................................... 11
I. Komplikasi Ca Mammae ........................................................................... 12
J. Pemeriksaan Penunjang ............................................................................. 12
K. Penatalaksanaan Ca Mammae .................................................................. 14
L. Penatalaksanaan Keperawatan Perioperative ........................................... 15
M. Konsep Asuhan Keperawatan ................................................................... 19
a. Pengkajian/Assesment ......................................................................... 19
b. Diagnosa Keperawatan ....................................................................... 23
c. Intervensi Keperawatan ....................................................................... 31
d. Discharge Planning ........................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 40
KONSEP CA MAMAE

A. Anatomi dan Fisiologi Payudara

Gambar 1. Anatomi Payudara


Payudara merupakan suatu kelenjar yang terdiri atas jaringan lemak,
kelenjar fibrosa, dan jaringan ikat. Jaringan ikat memisahkan payudara dari otot–
otot dinding dada, otot pektoralis dan otot serratus anterior. Payudara terletak di
fascia superficialis yang meliputi dinding anterior dada dan meluas dari pinggir
lateral sternum sampai linea axillaris media, dan pinggir lateral atas payudara
meluas sampai sekitar pinggir bawah musculus pectoralis major dan masuk ke
axilla. Pada wanita dewasa muda payudara terletak di atas costaII–IV.Secara
umum payudara dibagi atas korpus, areola dan puting. Korpus adalah bagian yang
membesar.Di dalamnya terdapat alveolus (penghasil ASI), lobulus, dan
lobus.Areola merupakan bagian yang kecokelatan atau kehitaman di sekitar
putting.Tuberkel–tuberkel Montgomery adalah kelenjar sebasea pada permukaan
areola (Price, 2012).
Puting (papilla mammaria) merupakan bagian yang menonjol dan
berpigmen di puncak payudara dan tempat keluarnya ASI. Puting mempunyai
perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil, yaitu apertura duktus
laktiferosa. Suplai arteri ke payudara berasal dari arteri mammaria internal, yang
merupakan cabang arteri subklavia. Konstribusi tambahan berasal dari cabang
arteri aksilari toraks. Darah dialirkan dari payudara melalui vena dalam dan vena
supervisial yang menuju vena kava superior sedangkan aliran limfatik dari bagian
sentral kelenjar mammae, kulit, puting, dan aerola adalah melalui sisi lateral
menuju aksila. Dengan demikian, limfe dari payudara mengalir melalui nodus
limfe aksilar (Sloane dalam Riduan, 2016).
Fungsi utama payudara wanita adalah menyekresi susu untuk nutrisi bayi.
Fungsi ini diperantarai oleh hormon estrogen dan progesteron.Payudara
wanitamengalami tiga tahap perubahan perkembangan yang dipengaruhi oleh
hormon.Perubahan pertama terjadi sejak masa pubertas, dimana estrogen dan
progesteron menyebabkan berkembangnya duktus dan timbulnya asinus.Selain itu
yangmenyebabkan pembesaran payudara terutama karena bertambahnya jaringan
kelenjar dan deposit lemak. Perubahan kedua sesuai dengan siklus menstruasi,
yaitu selama menstruasi terjadi pembesaran vaskular, dan pembesaran kelenjar
sehingga menyebabkan payudara mengalami pembesaran maksimal, tegang, dan
nyeri saat menstruasi.Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui.
Payudara akan membesar akibat proliferasi dari epitel duktus lobul dan duktus
alveolus, sehingga tumbuh duktus baru. Selama kehamilan tua dan setelah
melahirkan, payudara menyekresikan kolostrum karena adanya sekresi hormon
prolaktin dimana alveolus menghasilkan ASI, dan disalurkan ke sinus kemudian
melalui duktus ke puting susu. Setelah menyapih, kelenjar lambat laun beregresi
dengan hilangnya jaringan kelenjar. Pada saat menopause, jaringan lemak
beregresi lebih lambat bila dibandingkan dengan jaringan kelenjar, namun
akhirnya akan menghilang meninggalkan payudara yang kecil dan menggantung
(Price, 2012).
B. CA Mamae/ tumor ganas payudara
CA atau kanker adalah Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan
berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan terus membelah diri, selanjutnya
menyusup ke jaringan di sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui
jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta saraf tulang
belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada
penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya, sel kanker akan
membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi
penumpukan sel baru. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan
normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya (Mangan, 2009).
CA Mammae adalah Kanker payudara bermula ketika sel-sel pada payudara
mulai tumbuh tidak terkendali. Sel-sel ini biasanya membentuk tumor yang
seringkali dapat terlihat pada x-ray atau dirasakan sebagai sebuah benjolan.
Tumor tersebut adalah malignan (kanker) apabila sel-sel tersebut dan tumbuh
(menginvasi) pada jaringan-jaringan disekitar atau menyebar (bermetastase) pada
daerah yang jauh pada tubuh. Kanker payudara terjadi hampir seluruhnya pada
wanita, namun pria juga dapat mengalaminya. Sel-sel pada hampir bagian tubuh
mana saja dapat menjadi kanker dan menyebar ke daerah lain di tubuh. Kanker
payudara dapat bermula dari bagian yang berbeda pada payudara.Sebagian besar
kanker payudara bermula dari saluran yang membawa susu menuju puting susu
(ductal cancer). Beberapa bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu
(lobular cancer). Terdapat juga jenis-jenis lain kanker payudara yang lebih jarang
terjadi (American Cancer Society, 2016).
Gambar 2. Kanker Payudara

C. Epidemiologi
Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KPD menempati
urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. (Data Kanker di Indonesia
Tahun 2010, menurut data Histopatologik ; Badan Registrasi Kanker
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI) dan Yayasan Kanker
Indonesia (YKI)). Diperkirakan angka kejadiannya di Indonesia adalah
12/100.000 wanita, sedangkan di Amerika adalah sekitar 92/100.000 wanita
dengan mortalitas yang cukup tinggi yaitu 27/100.000 atau 18 % dari kematian
yang dijumpai pada wanita. Penyakit ini juga dapat diderita pada laki - laki
dengan frekuensi sekitar 1 %.Di Indonesia, lebih dari 80% kasus ditemukan
berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan sulit dilakukan. Oleh
karena itu perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini,
pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar
pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara optimal.
D. Etiologi
Menurut Moningkey dan Kodim (2004), penyebab spesifik kanker
payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan
mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara diantaranya:
1. Faktor reproduksi: diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama
dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation
perkembangan kanker payudara.
2. Penggunaan hormon: Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya
kanker payudara. Suatu meta analisis menyatakan bahwa walaupun tidak
terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita
yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko
tinggi untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause.
3. Penyakit fibrokistik: Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan
fibrosis, tidak ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara.
Padahiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2
kali.Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.
4. Obesitas: Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk
tubuh dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause.
5. Konsumsi lemak: Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor
risiko terjadinya kanker payudara
6. Radiasi: Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas
meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara
7. Riwayat keluarga: Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting
dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker
payudara. Terdapat peningkatan risiko keganasan pada wanita yang
keluarganya menderita kanker payudara.
8. Faktor Genetik: Kanker peyudara dapat terjadi karena adanya beberapa
faktor genetik yang diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Faktor
genetik yang dimaksud adalah adanya mutasi pada beberapa gen yang
berperan penting dalam pembentukan kanker payudara
9. Umur: Semakin bertambahnya umur meningkatkan risiko kanker
payudara. Wanita paling sering terserang kanker payudara adalah usia di
atas 40 tahun
10.
E. Klasifikasi
Klasifikasi Tumor Ganas Payudara berdasarkan perkembangan dari sel-sel
tumor:
a. Stadium 0
Kanker tidak menyebar keluar dari pembuluh / saluran payudara dan kelenjar
kelenjar susu pada payudara.
b. Stadium I (stadium dini)
Besarnya tumor tidak lebih dari 2 – 2,25 cm, dan tidak terdapat penyebaran
(metastase) pada kelenjar getah bening ketiak. Pada stadium I ini,
kemungkinan penyembuhan secara sempurna adalah 70 %. Untuk memeriksa
ada atau tidak metastase ke bagian tubuh yang lain, harus diperiksa di
laboratorium.
c. Stadium 2a
Tidak ada tanda tanda tumor, tetapi terdapat metastasis kelenjar limfe,
diameter kurang atau sama dengan 2 cm namun ada metastasis, diameter
tidak lebih dari 5 cm.
d. Stadium 2b
Diameter lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm, tidak adanya metastasis
jaringan limfe regional.
e. Stadium 3a
Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan terdapat metastasis kelenjar limfe.
f. Stadium 3b
Tumor menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa
juga luka bernanah pada payudara. Kanker menyebar ke bagian getah bening
namun belum ke jaringan lainnya.
g. Stadium 3c
Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe
mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar.
h. Stadium 4
Ukuran bisa berapa saja, telah menyebar ke lokasi yang jaug yaitu: paru paru,
tulang, liver, tulang rusuk.

F. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala kanker payudara menurut American Cancer Society tahun
2016, yaitu:
1. Terdapat benjolan baru
2. Bengkak pada sebagian atau seluruh payudara (bahkan jika tidak ada benjolan
yang diarasakan).
3. Iritasi kulit atau lesung kulit
4. Nyeri pada payudara atau puting susu
5. Retraksi puting susu
6. Kemerahan, bersisik, atau penebalan puting susu atau kulit payudara
7. Discharge/keluarnya cairandari puting susu (selain ASI)
Kemenkes RI (2017) membagi tanda adanya kanker payudara menjadi dua,
yaitu tanda primer dan tanda sekunder. Berikut tanda primer dan sekunder kanker
payudara:
1). Tanda primer:
1. Densitas yang meninggi pada tumor
2. Batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya proses infiltrasi ke
jaringan sekitarnta atau batas yang tidak jelas (komet sign)
3. Gambaran translusen di sekitar tumor
4. Gambaran stelata
5. Adanya mikrokalsifikasi sesuai criteria Egan (klasifikasi dengan lokasi di
parenkim payudara, ukuran kurang dari 0,5 mm, jumlah dari 5, dan bentuk
stelata)
6. Ukuran klinis tumor lebih besar dari radiologis
2). Tanda sekunder:
1. Retraksi kulit atau penebalan kulit
2. Bertambahnya vaskularisasi
3. Perubahan posisi putting
4. Kelenjar getah bening aksila (+)
5. Keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur
6. Kepadatan jaringan sub areolar yang berbentuk utas

G. Patofisiologi
Proses terjadinya kanker payudara dan masing-masing etiologi antara lain
obesitas, radiasi, hiperplasia, optik, riwayat keluarga dengan mengkonsumsi zat-
zat karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan epitel payudara dan dapat
menyebabkan kanker payudara. Kanker payudara berasal dari jaringan epithelial,
dan paling sering terjadi pada sistem duktal.Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel
dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma
in situ dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk
bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk
dapat diraba (kirakira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu, kira- kira
seperempatdari kanker payudara telah bermetastase.Kebanyakan dari kanker
ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri.Gejala kedua yang
paling sering terjadi adalah cairan yang keluar dari muara duktus satu payudara,
dan mungkin berdarah.Jika penyakit telah berkembang lanjut, dapat pecahnya
benjolan-benjolan pada kulit ulserasi.Tempat yang paling sering untuk metastase
jauh adalah paru, pleura, dan tulang. (Price, 2012).
Karsinoma payudara bermetastase dengan penyebaran langsung kejaringan
sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Bedah
dapatmendatangkan stress karena terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas dan
terhadap jiwa seseorang. Rasa nyeri sering menyertai upaya tersebut pengalaman
operatif di bagi dalam tiga tahap yaitu preoperatif, intra operatif dan pos
operatif.Operasi ini merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neuron
endokrine respon terdiri dari system saraf simpati yang bertugas melindungi tubuh
dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan
banyak darah, maka mekanisme kompensasi dari tubuh terlalu banyak beban dan
syock akan terjadi.Respon metabolisme juga terjadi.Karbohidrat dan lemak di
metabolisme untuk memproduksi energi.Protein tubuh pecah untuk menyajikan
suplai asam amino yang di pakai untuk membangun jaringan baru.Intake protein
yang di perlukan guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan
dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal.
Clinical Pathway Ca Mamae

Faktor
H. predisposisi dan risiko tinggi Mendesak sel Interupsi sel
hiperplasia pada sel mamae saraf saraf

Nyeri kronis

Mendesak jaringan sekitar Mensuplai nutrisi ke Mendesak pembuluh


jaringan CA darah

Menekan jaringan pada Hipermetabolisme ke Aliran darah


mamae jaringan terhambat

Peningkatan konsistensi BB turun – Mual, Hipoksia


mamae Anoreksia

Ketidakseimbangan Nutrisi: Nekrosis jaringan -


Kurang dari Kebutuhan tubuh Bakteri

Risiko Infeksi Kerusakan


Integritas Kulit

Memerlukan O2 dan Mamae bengkak Ukuran mamae Ansietas


nutrisi untuk (Ca Mamae) abnormal
perkembangan tumor
Mamae
Massa tumor Mamae asimetrik Harga diri
mendesak ke rendah
Aliran O2 ke seluruh jaringan luar
tubuh
Gangguan Citra
Infiltrasi pleura tubuh
Metabolisme anaerob parietal

Ekpansi paru Ketidakefektifan


Penurunan produksi menurun pola nafas
ATP

Energi menurun Fatigue

Intoleransi aktivitas
I. Komplikasi
Komplikasi potensial dari Ca payudara adalah limfederma. Hal ini terjadi jika
saluran limfe untuk menjamin aliran balik limfe ke sirkulasi umum tidak
berfungsi dengan adekuat. Jika nodus eksilaris dan sistem limfe diangkat, maka
sistem kolateral dan aksilaris harus mengambil alih fungsi mereka. Apabila
mereka diinstruksikan dengan cermat dan didorong untuk meninggikan,
memasase dan melatih lengan yang sakit selama 3-4 bulan. Dengan melakukan
hal ini akan membantu mencegah perubahan bentuk tubuh dan mencegah
kemungkinan terbukanya pembengkakan yang menyulitkan. dan hati. Selain itu
komplikasi Ca Mammae yaitu:
a. metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darah
kapiler ( penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab hematogen dan
limfogen dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang, otak, syaraf.
b. gangguan neuro varkuler
c. Faktor patologi
d. Fibrosis payudara
e. Kematian

J. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Kemenkes RI dalam Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara.
Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu:
a. Mamografi payudara
Mamografi adalah pencitraan menggunakan sinar X pada jaringan payudara
yang dikompresi. Mammografi dikerjakan pada wanita usia diatas 35 tahun,
namun karenapayudara orang Indonesia lebih padat maka hasil
terbaikmamografi sebaiknya dikerjakan pada usia > 40 tahun.Tanda primer
yang dapat dilihat berupa densitas yang meninggi pada tumor, batas tumor
yang tidak teratur oleh karena adanya proses infiltrasi ke jaringan sekitarnya
atau batas yangtidak jelas (komet sign), gambaran translusen disekitar tumor,
gambaran stelata, ukuran klinis tumor lebih besar dari radiologis. Sedangkan
tanda sekundernya adalah retraksi kulit atau penebalan kulit, bertambahnya
vaskularisasi, perubahan posisi putting, kelenjar getah bening aksila (+),
keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidakteratur, dan kepadatan
jaringan sub areolar yang berbentuk utas.
b. USG Payudara
Salah satu kelebihan USG adalah dalam mendeteksi massakistik.Gambaran
USG pada benjolan yang harus dicurigai ganas di antaranya Permukaan tidak
rata, Taller than wider, Tepi hiperekoik, Echo interna heterogen,
Vaskularisasi meningkat, tidak beraturan dan masuk kedalam tumor
membentuk sudut 90 derajat.
c. Biopsi payudara: memberikan diagnosa definitive terhadap massa
d. Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
e. CT Scan dan MRI : untuk mendeteksi penyakit pada payudara.khususnya
massa yang lebih besar, tumor kecil, payudara mengeras dan sulit diperiksa
dengan mammografi
f. Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat.
Ultrasonografi Memeriksa berdasarkan pemantulan gelombang suara,
hanyadapat membedakan lesi / tumor yang solid dan kistik dan ukuran
lesidapat lebihakurat. Alat yang digunakan sebaiknya berfrekuensi 7,5 mHZ
hingga 10 mHZbahkan lebih dari 10 mHZ.
g. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
K. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis menurut Kemenkes RI dalam Panduan
Penatalaksanaan Kanker Payudara yang diterapkan di Indonesia sesuai stadium
kanker payudara, yaitu:
1. Kanker payudara stadium 0 (TIS/T0, N0M0)
Terapi definitif pada T0 bergantung pada pemeriksaan histopatologi.Lokasi
didasarkan pada hasil pemeriksaan radiologik.
2. Kanker payudara stadium dini/operabel (Stadium I dan II) Dilakukan
tindakan operasi:
a. Breast Conserving Therapy (BCT), tumor tidak boleh lebih dari 3 cm
b. Kemoterapi adjuvant
c. Radiasi
3. Kanker payudara locally advanced (lokal lanjut)
a). Operabel (III A)
1) Mastektomi simpel dan radiasi dengan kemoterapi adjuvant
dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target.
2) Mastektomi radikal modifikasi dan radiasi dengan kemoterapi
adjuvant dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target.
3) Kemoradiasi preoperasi dilanjutkan dengan atau tanpa BCT atau
mastektomi simpel, dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi
target.
b). Inoperabel (III B)
1) Radiasi preoperasi dengan/tanpa operasi, kemoterapi, hormonal
terapi
2) Kemoterapi preoperasi/neoadjuvant, dengan/tanpa operasi,
kemoterapi, radiasi, terapi hormonal, dengan/tanpa terapi target
3) Kemoradiasi preoperasi/neoadjuvant, dengan/tanpa operasi,
dengan/tanpa kemoterapi, dengan/tanpa terapi target.
4. Kanker payudara stadium lanjut
a. Sifat terapi paliatif
b. Terapi sistemik merupakan terapi primer (kemoterapi dan terapi hormonal)
c. Terapi lokoregional (radiasi dan bedah) apabila diperlukan Hospice home
care

L. ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian pada klien dengan kanker payudara diperoleh data sebagai berikut:
1. Aktifitas/istirahat:
Gejala: kerja, aktifitas yang melibatkan banyak gerakan
tangan/pengulangan, pola tidur (contoh, tidur tengkurap).
2. Sirkulasi
Tanda: kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem limfe).
3. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat badan.
4. Integritas Ego
Gejala: stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah. Stres/takut tentang
diagnosa, prognosis, harapan yang akan datang.
5. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri pada penyakit yang luas/metastatik (nyeri lokal jarang terjadi
pada keganasan dini). Beberapa pengalaman ketidaknyamanan atau
perasaan lucu pada jaringan payudara. Payudara berat, nyeri sebelum
menstruasi biasanya mengindikasikan penyakit fibrokistik.
6. Keamanan
Tanda: massa nodul aksila. Edema, eritema pada kulit sekitar.
7. Seksualitas
Gejala: adanya benjolan payudara, perubahan pada ukuran dan
kesimetrisan payudara. Perubahan pada warna kulit payudara atau suhu,
rabas puting yang tak biasanya, gatal, rasa terbakar atau puting meregang.
Riwayat menarke dini (lebih muda dari usia 12 tahun), menopause lambat
(setelah 50 tahun), kehamilan pertama lambat (setelah usia 35 tahun).
Masalah tentang seksualitas/keintiman.
Tanda: perubahan pada kontur/massa payudara, asimetris. Kulit cekung,
berkerut, perubahan pada warna/tekstur kulit, pembengkakan, kemerahan
atau panas pada payudara. Puting retraksi, rabas dari puting (serosa,
serosangiosa, sangiosa, rabas berair meningkatkan kemungkinan kanker,
khususnya bila disertai benjolan).

M. Penatalaksanaan Keperawatan Perioperatif


1. Preoperatif
Tindakan keperawatan pre operatif merupakan tindakan keperawatan
yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan pasien sebelum dilakukan
tindakan pembedahan dengan tujuan menjamin keselamatan pasien saat
dalam fase intraoperative. Peran perawat dalam tahap ini ada dua yaitu:
a) Fase Pengkajian dan Persiapan Pasien, fase ini dilakukan untuk
tindakan pengkajian, perencanaan dan evaluasi persiapan pasien untuk
melakukan operasi tindakan yang dilakukan meliputi pengkajian
riwayat pasien, manajemen alergi pada pasien, manajemen
pengobatan,riwayat keluarga, lingkungan sosial pasien, pengkajian
fisik, pemeriksaan laboratorium, informed consent dan health
education.
Pendidikan kesehatan yang perlu perawat berikan untuk klien adalah
sebagai berikut.
1) Teknik mengurangi kecemasan dan mengurangi nyeri setelah
operasi, teknik yang dapat diajarkan pada pasien adalah relaksasi
nafas dalam, guide imagery, teknik distraksi, dan terapi musik.
Pasien diajarkan untuk melakukan nafas dalam untuk mengurangi
kecemasan yang dialami pasien sebelum operasi. Teknik relaksasi
nafas dalam juga berguna untuk mengurangi nyeri post operasi
yang dialami pasien. Teknik ini dilakukan dengan cara menarik
nafas dari hidung kemudian ditahan selama 2-3 detik lalu
hembuskan melalui mulut, dapat juga dilakukan latihan batuk
efektif untuk membantu pasien dalam mengatasi efek anastesi
yang mungkindialami pasien setelah operasi.
2) Persiapan operasi, sebelum operasi pasien diminta untuk berpuasa
6-8 jam sebelum operasi. Pasien juga diminta untuk tidak makan
makanan yang dapat meningkatkan sekresi asam lambung seperti
permen dan permen karet 6-8 jam sebelum operasi. Meminta
pasien untuk menghentikan merokok. Membersihkan bagian tubuh
yang akan dilakukan operasi, membantu pasien memakai baju
operasi, menjaga keselamatan pasien saat tranportasi ke ruang OK
dengan memasang side rail, memasang kateter jika diperlukan,
dan menjelaskan kepada keluarga pasien terkait tindakan operasi
dan fasilitas yang dapat digunakan keluarga.
3) Fase Presurgical Clearance, memastikan identitas pasien,
prosedur operasi, bagian tubuh yang akan dioperasi dan check list
persiapan pasien.
2. Intra Operative
a) Mempersiapkan pasien untuk dilakukan operasi yaitu dengan
mengecek prosedur pre operative telah dilaksanakan dan anastesi
b) Memposisikan pasien untuk tindakan operasi
c) Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengoptimalkan
hasil dari tindakan operasi
d) Mempersiapkan skin preparation
e) Mengontrol pendarahan selama tindakan operasi

3. Post Operative
Implementasi dilakukan sesuai dengan perencanaan keperawatan dan
kondisi pasien, yaitu :
a) Mengkaji skala nyeri
Hal ini didukung oleh pendapat Black dan Hawks (2014), mengkaji
skala nyeri sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab nyeri,
memahami persepsi pasien terhadap nyeri, mengukur karakteristik
nyeri, memutuskan tingkatan nyeri menggunakan skala analog (0- 10),
dan untuk mengimplementasikan tehnik manajemen nyeri.
a) Mengobservasi tanda-tanda vital
Hal ini didukung pendapat Mubarak dan Chayatin (2008) bahwa
pada awal nyeri akut, respons fisiologis dapat bervariasi seperti,
peningkatan tekanan darah akibat terstumulasinya saraf simpatis.
Respons fisiologis merupakan indikator buruk bagi nyeri.
b) Mengkaji faktor yang dapat menambah nyeri
Hal ini didukung pendapat Black dan Hawks (2014), persepsi
nyeri merupakan komponen penting dalam pengalaman nyeri.
Pengalaman masa lalu nyeri merupakan aspek lain yang dapat
mengubah persepsi individu terhadap nyeri, cara yang efektif
dengan memmbandingkan nyeri masa lalu dengan sekarang dan
bagaimana pasien mentoleransi nyeri.
d) Memberikan posisi yang nyaman
Hal ini didukung oleh teori LeMone dan Burke (2016) bahwa
tindakan kenyamanan mobilitas fisik misalnya pemberian posisi
dapat menurunkan intensitas nyeri.
e) Mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam
Hal ini didukung oleh pendapat LeMone dan Burke (2016) bahwa
tehnik nafas dalam dapat merelaksasikan otot, meningkatkan
kadar oksigen dan menciptakan perasaan terbebas dari
ketegangan, sehingga meningkatkan toleransi terhadap nyeri dan
dapat terkontrol oleh pasien.
f) Menganjurkan berdzikir dalam hati
Hal ini didukung oleh pendapat Black dan Hawks (2014),
perhatian dijauhkan dari sensasi nyeri atau rangsangan emosional
negatif yang dikaitkan dengan episode nyeri. Seseorang mampu
untuk menfokuskan perhatian pada jumlah fosi yang terbatas.
Dengan menfokuskan perhatian secara aktif pada tugas kognitif
dianggap dapat membatasi kemampuan seseorang untuk
memperhatikan sensasi yang tidak menyenangkan. Hal ini sejalan
dengan penelitian Buditanto et al. (2015) yang menemukan bahwa
berdzikir atau mengingat asma Allah menyebakan otak akan
bekerja. Ketika otak mendapatkan rangsangan dari luar, maka
otak akan memproduksi zat kimia yang akan memberi rasa
nyaman yaitu neuropeptida. Zat tersebut akan serap dalam tubuh
yang akan memberi umpan balik berupa kenikmatan atau
kenyaman.
b) Anjurkan massage kulit disekitar luka operasi
Hal ini didukung oleh pendapat Black dan Hawks (2014) bahwa
massage dapat menghambat perjalanan rangsangan nyeri pada pusat
yang lebih tinggi di sistem saraf pusat. Selanjutya rangsangan taktil
dan perasaan positif yang berkembang ketika dilakukan bentuk
sentuhan yang penuh perhatian dan empatik disebakan oleh sel-sel
saraf kulit yang ditekan mengirim sinyal melalui salah satu pusat
nyeri, yakni sumsung tulang belakang. Dalam perjalananya, sinyal
tekanan lebih cepat pada sakit, sehingga dapat mengurangi nyeri/sakit.
Massage dapat meningkatkan relaksasi, membantu untuk
menfokuskan perhatian, dan membantu meningkatkan kemampuan
koping. Hasil penelitian Astarini dan Fitriana (2015) menunjukkan
intervensi mandiri Massage/pijat, efektif dalam memberikan relaksasi
fisik dan mental, mengurangi nyeri dan meningkatakan keefektifan
pengobatan nyeri. Masase daerah punggung, bahu, lengan dan kaki
selama 3-5 menit dapat merelaksasikan otot dan memberikan istirahat
yang tenang dan kenyamanan. Terapi massage dapat mempengaruhi
penurunan skala nyeri, hal ini disebabkan karena sel-sel saraf kulit
yang ditekan mengirim sinyal melalui salah satu pusat nyeri, yakni
sumsum tulang belakang, dalam perjalanannya, sinyal tekanan lebih
cepat dari pada rasa sakit, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
Tindakan utama massage dianggap “menutup gerbang” untuk
menghambat perjalanan rangsang nyeri pada pusat yang lebih tinggi
pada sistem saraf pusat. Selanjutnya, rangsangan taktil dan perasaan
positif, yang berkembang ketika dilakukan dalam bentuk sentuhan
yang penuh perhatian dan empatik, bertindak memperkuat efek
masase untuk mengendalikan nyeri.
h) Pemberian obat analgetik ketorolac dan asam mefenamat Pemberian obat
ketorolac 1 ampul tiap 12 jam pada 24 jam post operasi dan asam me
fenamat 3 x 1 tablet oral pada fase selanjutnya. Terapi tersebut bersifat
analgesik yang berfungsi untuk mengatasi nyeri berat untuk sementara,
misalnya setelah operasi. Terapi ini bekerja untuk memblok produksi
suptansi alami tubuh dan memiliki efek samping memberi rasa ngantuk

N. Pengkajian Keperawatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya
benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna
merah dan mengeras, bengkak dan nyeri.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada
mammae, kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit
pada bagian dada sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada
bagian dada, ataupun mengidap penyakit kanker lainnya, seperti
kanker ovarium atau kanker serviks.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada
kemungkinan klien mengalami ca mammae atau pun keluarga
klien pernah mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker
ovarium atau kanker serviks
d) Pemeriksaan Fisik
Kepala : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat
dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital
dibagian posterior.
Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak
terlalu berminyak.
Mata : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata.
Mata anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
Telinga : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-
tanda infeksi dan tidak ada gangguan fungsi
pendengaran.
Hidung : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri
tekan.
Mulut : mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
Leher : biasanya terjadi pembesaran KGB.
Dada : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling,
ulserasi atau tanda-tanda radang.
Hepar : biasanya tidak ada pembesaran hepar.
Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
e) Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang
terasa pada payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu
hanya benjolan biasa.
2. Nutrisi – Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia,
muntah dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada
riwayat mengkonsumsi makanan mengandung MSG.
3. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami
melena, nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
4. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan
klien terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.
5. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga
kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun
motorik.
6. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
7. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau
kehilangan akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri,
malu, dan kehilangan haknya sebagai wanita normal.
8. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan
dalam melakukan perannya dalam berinteraksi social.
9. Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan
pada tingkat kepuasan.
10. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial
dan keputus asaan.
11. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima
kondisinya dengan lapang dada.
g) Mamografi payudara
a. Mamografi adalah pencitraan menggunakan sinar X pada
jaringanpayudara yang dikompresi. Mammografi dikerjakan
pada wanita usia diatas 35 tahun, namun karenapayudara orang
Indonesia lebih padat maka hasil terbaikmamografi sebaiknya
dikerjakan pada usia >40 tahun.Tanda primer yang dapat dilihat
berupa densitas yang meninggi pada tumor, batas tumor yang
tidak teratur oleh karena adanyaproses infiltrasi ke jaringan
sekitarnya atau batas yangtidak jelas (komet sign), gambaran
translusen disekitar tumor, gambaran stelata, ukuran klinis
tumor lebih besar dari radiologis. Sedangkan tanda
sekundernya adalah retraksi kulit atau penebalan kulit,
bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi putting, kelenjar
getah bening aksila (+), keadaan daerah tumor dan jaringan
fibroglandular tidakteratur, dan kepadatan jaringan sub areolar
yang berbentuk utas.
b. USG Payudara: Salah satu kelebihan USG adalah dalam mendeteksi
massa kistik. Gambaran USG pada benjolan yang harus dicurigai
ganas di antaranya Permukaan tidak rata, Taller than wider, Tepi
hiperekoik, Echo interna heterogen, Vaskularisasi meningkat, tidak
beraturan dan masuk ke dalam tumor membentuk sudut 90 derajat.
c. Biopsi payudara: memberikan diagnosa definitive terhadap massa
d. Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
e. CT Scan dan MRI : untuk mendeteksi penyakit pada
payudara
khususnya massa yang lebih besar, tumor kecil, payudara
mengeras dan sulit diperiksa dengan mammografi
f. Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat.
Ultrasonografi Memeriksa berdasarkan pemantulan gelombang suara,
hanya dapat membedakan lesi / tumor yang solid dan kistik dan ukuran
lesi dapat lebih akurat. Alat yang digunakan sebaiknya berfrekuensi 7,5
mHZ hingga 10 mHZ bahkan lebih dari 10 mHZ.

O. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operatif
1. Nyeri kronis berhubungan dengan berhubungan dengan:
a. Ketidakmapuan psiko sosial atau fisik secara kronis
Ditandai dengan:
a. Perubahan berat badan
b. Perubahan pola tidur
c. KelelahanTakut cedera kembali
d. Interksi dengan orang lain menurun
e. Perubahan kemampuan dalam melakukan aktifitas.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan:
a. Ketergantungan zat kimia
b. Penyakit kronis
c. Kesulitan mengunyah atau menelan
d. Faktor ekonomi
e. Intoleransi makanan
f. Kebutuhan metabolic tinggi
g. Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi
h. Akses terhadap makanan terbatas
i. Hilang nafsu makan
j. Mual dan muntah
k. Gangguan psikologis
Ditandai dengan
a. Berat badan kurang dari 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk
tinggi badan dan rangka tubuh
b. Asupan makanan kurang dari kebutuhan metabolic, baik kalori total maupun
zat gizi tertentu
c. Kehilangan berat baan dengan asupan makanan yang adekuat
d. Melaporkan asupan makanan yang tidak adekuat kurang dari RDA.
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan:
a. Ansietas
b. Posisi tubuh
c. Deformitas tulang
d. Deformitas dinding dada
e. Penurunan energy dan kelelahan
f. Hiperventilasi
g. Sindrom hipoventilasi
h. Kerusakan musculoskeletal
i. Imaturitas neurologis
j. Disfungsi neuromuscular
k. Obesitas
l. Nyeri
m. Kerusakan persepsi atau kognitif
n. Kelelahan otot-otot pernapasan
o. Cedera medulla spinalis
Ditandai dengan :
Subjektif
a. Dispnea
b. Napas pendek
Objektif
a. Perubahan ekskursi dada
b. Mengambil posisi tiga titik tumpu
c. Bradipnea
d. Penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi
e. Penurunan vntilasi semenit
f. Penurunan kapasitas vital
g. Napas dalam
h. Peningkatan diameter anterior-posterior
i. Napas cuping hidung
j. Ortopnea
k. Fase ekspirasi memanjang
l. Pernapasan binir mencucu
m. Kecepatan respirasi
n. Usia dewasa atau 14 tahun lebih ; ≤11 atau ≥24 x permenit
o. Usia 5-14 tahun < 15 atau > 25
p. Usia 1-4 tahun <20 atau >30
q. Usia bayi <25 atau >60
r. Takipnea
s. Rasio waktu
t. Pengunaan otot bantu asesoris untuk bernapas
5. Ansietas berhubungan dengan
a. Hubungan keluarga/hereditas
b. Transmisi dan penularan interpersonal
c. Krisis situasi dan maturasi
d. Stress
e. Penyalahgunaan zat
f. Ancaman kematian
g. Ancaman atau perubahan pada status peran, fungsi peran, lingkungan, status
kesehatan, status ekonomi, atau pola interaksi
h. Ancaman terhadap konsep diri
i. Konflik yang tidak disadari tentang nilai dan tujuan hidup yang esensial
j. Kebutuhan yang tidak terpenuhi
Ditandai dengan :
Perilaku
a. Penurunan produktivitas
b. Mengekspresikan kekhawatiran akibat perubahan dalam peristiwa hidup
c. Gerakan yang tidak relevan
d. Gelisah
e. Memandang sekilas
f. Insomnia
g. Kontak mata buruk
h. Resah
i. Menyelidik dan tidak waspada
Afektif
a. Gelisah
b. Kesedihan yang mendalam
c. Distress
d. Ketakutan
e. Perasaan tidak adekuat
f. Fokus pada diri sendiri
g. Peningkatan kekhawatiran
h. Iritabilitas
i. Gugup
j. Gembira berlebihan
k. Nyeri dan peningkatan ketidakberdayaan yang persisten
l. Marah
m. Menyesal
n. Perasaan takut dan khawatir
o. Ketidakpastian’
Fisiologis
a. Wajah tegang
b. Peningkatan keringat
c. Peningkatan keteganbgan
d. Terguncang
e. Gemetar/tremor
f. Suara bergetar
Parasimpatis
a. Nyeri abdomen
b. Penurunan TD, nadi
c. Diare
d. Pingsan
e. Keletihan
f. Mual
g. Gangguan tidur
h. Kesemutan pada ekstremitas
i. Sering berkemih
Simpatis
a. Anoreksia
b. Mulut kering
c. Wajah kemerahan
d. Jantung berdebar-debar
e. Peningkatan TD, nadi, reflek, pernapasan
f. Dilatasi pupil
g. Kesulitan bernapas
h. Kedutan otot
i. Kelemahan
Kognitif
a. Kesadaran terhadap gejala-gejala fisiologis
b. Bloking fikiran
c. Konfusi
d. Penurunan lapang pandang
e. Kesulitan untuk berkonsentrasi
f. Keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
g. Keterbatasan kemampuan untuk belajar
h. Takut terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
i. Mudah lupa
j. Gangguan perhatian dan cenderung untuk menyalahkan orang lain
k. Melamun
6. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan
a. Keterbatasan kognitif
b. Kesalahan dalam memahami informasi yang ada
c. Kurang pengalaman
d. Kurang perhatian didalam belajar
e. Kurang kemampuan mengingat kembali
f. Kurang familier dengan sumber-sumber informasi
Ditandai dengan
Subjektif:
a. Mengungkapkan masalah secara verbal
Objektif
a. Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat
b. Performa uji tidak akurat
c. Perilaku yang tidak sesuai atau terlalu berlebihan (histeris, bermusuhan,
agitasi atau apatis)

Intra Operatif
1. Resiko infeksi berhubungan dengan
a. Penyakit kronis
b. Penekanan system imun
c. Ketidak adekuatan imunitas dapatan
d. Pertahanan primer yang tidak adekuat
e. Pertahanan lapis dua yang tidak memadai
f. Peningkatan pemajanan lingkungan terhadap pathogen
g. Pengetahuan yang kurang untuk menghindari pajanan pathogen
h. Prosedur invasive
i. Malnutrisi
j. Agen farmasi
k. Kerusakan jaringan
l. Trauma

Post Operasi
1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan
Biofisika (penyakit kronis), kognitif/persepsi (nyeri kronis), kultural/spiritual,
penyakit, krisis situasional, trauma/injury, pengobatan (pembedahan,
kemoterapi, radiasi)
Ditandai dengan:
a. Depersonalisasi bagian tubuh
b. Perasaan negatif tentang tubuh
c. Secara verbal menyatakan perubahan gaya hidup
d. Perubahan aktual struktur dan fungsi tubuh
e. Kehilangan bagian tubuh
f. Bagian tubuh tidak berfungsi
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan
Eksternal (lingkungan)
a. Zat kimia
b. Kelembaban
c. Hipertermia
d. Hipotermia
e. Factor mekanik (terpotong, tertekan, akibat restrain)
f. Obat
g. Kelembaban kulit
h. Imobilisasi fisik
i. Radiasi
Internal (somatic)
a. Perubahan status cairan
b. Perubahan pigmentasi
c. Perubahan turgor
d. Factor perkembangan
e. Ketidakseimbangan nutrisi
f. Deficit imunologis
g. Gangguan sirkulasi
h. Gangguan status metabolic
i. Gangguan sensasi
j. Penonjolan tulang
Factor perkembangan
a. Usia eksterm muda atau tua
Ditandai dengan :
a. Kerusakan pada lapisan kulit
b. Kerusakan pada permukaan kulit
c. Invasi struktur tubuh

a. N. Perencanaan keperawatan
1) Pre operasi
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)
Keperawatan Hasil (NOC)
1. Nyeri Kronis NOC : NIC: Manajemen Nyeri (1400)
berhubungan Kontrol Nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri
hyperplasia Tujuan: Setelah secara komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi,
sel kanker dilakukan tindakan
frekuensi, kualitas dan faktor
asuhan keperawatan presipitasi
selama 6-8 jam 2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
diharapkan klien dapat
3. Evaluasi pengalaman nyeri
mengontrol nyeri dan masa lampau
merasa nyaman 4. Evaluasi bersama klien dan tim
kesehatan lain tentang
dengan kriteria hasil:
keefektifan mengontrol nyeri
1. mampu masa lampau
mengontrol nyeri 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
(tahu penyebab 6. Monitor vital sign
nyeri, mampu 7. Ajarkan klien cara menurunkan
menggunakan skala nyeri (napas dalam)
teknik 8. Kolaborasi dengan tim
nonfarmakologi, kesehatan lain untuk pemberian
mencari bantuan) analgetik untuk mengurangi
2. melaporkan nyeri
bahwa nyeri 9. Evaluasi keefektifan kontrol
berkurang dengan nyeri
menggunakan
manajemen nyeri
3. Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang

2 Ansietas NOC Pengajaran: Perioperatif


berhubungan a. Tingkat 1. Informasikan pada pasien
dengan kecemasan dan keluarga untuk
b. Tingkat rasa takut menjadwalkan tanggal,
rencana
Tujuan : Setelah waktu, dan lokasi operasi
pembedahan 2. Informasikan pada pasien
diberikan asuhan
dan keluarga perkiraan lama
keperawatan selama
operasi
6-8 jam diharapkan 3. Berikan kesempatan klien
ansietas teratasi bertanya mengenai prosedur
4. Jelaskan prosedur persiapan
Kriteria hasil
pre-operasi
1. Pasien mampu 5. Informasikan pada keluarga
melakukan letak ruang tunggu selama
aktivitas normal pasien di operasi
tanpa terlihat 6. Instruksi dan ajarkan pasien
cemas bagaimana teknik mobilisasi
2. TD 120/80 mmH paska operasi
3. Nadi 80-100 7. Informasikan pada klien
x/menit mengenai bagaimana caranya
4. Pasien mampu terlibat aktif dalam proses
beristirahat penyembuhan
dengan tenang 8. Dukung informasi yang
5. Tidak ada diberikan tenaga kesehatan
perasaan gelisah lain, jika diperlukan
dan wajah tegang 9. Kaji harapan pasien terkait
6. Pasien tidak ada pembedahan
verbalisasi rasa 10. Pandu dan minta klien
takut berdoa untuk kelancaran
7. Postur tubuh, operasi
ekspresi wajah, Pengurangan kecemasan
bahasa tubuh dan
1. Gunakan pendekatan yang
tingkat aktivitas
tenang dan meyakinkan
menunjukkan
2. Jelaskan semua prosedur
berkurangnya
termasuk sensasi yang akan
kecemasan
dirasakan yang mungkin
dialami klien selama
prosedur operasi
3. Berikan informasi faktual
terkait diagnosis, perawatan,
dan prognosis
4. Bantu klien untuk
mengidentifikasi situasi yang
memicu kecemasan
5. Lakukan usapan pada
punggung/leher dengan cara
yang tepat
6. Instruksikan klien untuk
menggunakan teknik
relaksasi

2) Intra operasi
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)
Keperawatan Hasil (NOC)
1 Resiko NOC: Kontrol Pencegahan perdarahan:
perdarahan kehilangan darah 1. Monitor dengan ketat risiko
terjainya peradarahan pada
berhubungan Tujuan : Setelah pasien
dengan diberikan asuhan 2. Catat nilai hemoglobin dan
hematokrit sebelum dan setelah
terbukanya keperawatan selama 6-
pasien kehilangan darah sesuai
pembuluh 8 jam diharapkan indikasi
darah bekas kehilangan darah dapat 3. Monitor tanda dan gejala
perdarahan menetap
insisi terkontrol 4. Monitor komponen koagulasi
Kriteria Hasil: darah
5. Monitor tanda-tanda vital
1. Dapat mencegah
6. Pertahankan agar pasien tetap
perdarahan tirah barig jika terjadi perdarahan
2. Hb normal > 8 aktif
g/dL 7. Berikan produk-produk
3. Suhu tubuh normal penggantian darah
8. Lindungi pasien dari trauma
yang dapat menyebabkan
perdarahan
9. Lakukan prosedur invasif
bersamaan dengan pemberian
tranfusi trombosit atau plasma
segar beku, jika dibutuhkan
10. Jangan masukkan benda apapun
pada lubang smmber perdarahan
2 Resiko NOC NIC Label :
hipotermia 1. Kontrol resiko Pengaturan suhu: perioperative
berhubungan hipotermi 1. Identifikasi dan diskusikan
2. Vital Signs tipe anastesi yang akan
dengan
Tujuan : Setelah direncanakan untuk pasien
pemajanan
diberikan asuhan bersama dengan tim bedah
lingkungan
keperawatan selama 6- 2. Identifikasi pada pasien
yang dingin adanya faktor resiko
8 jam diharapkan
mengalami suhu tubuh yang
hipotermia teratasi abnormal (missal: anestesi
Kriteria Hasil: general, umur, trauma besar,
pasien dengan luka bakar,
1. Nadi meningkat ke
berat badan rendah)
batas normal
3. Hangatkan pasien dengan
2. Tekanan darah
perlatan penghangat yang aktif
meningkat ke batas
paling tidak 15 menit sebelum
normal
mulai anastesi
3. Terjadi
4. Pindahkan pasien
peningkatan suhu
menggunakan alat yang
tubuh ke batas
hangat
normal
5. Sesuaikan suhu di sekitar
4. Hipotermia teratasi
ruangan untuk meminimalkan
resiko hipotermia kurang lebih
230C
6. Minimalkan paparan pasien
selama persiapan dan prosedur
jika memungkinkan
Temperature Regulation
1. Monitor suhu tubuh setiap 2
jam dengan tepat.
2. Monitor tekanan darah dan RR
dengan tepat
3. Monitor warna kulit dan suhu.
4. Monitor tanda dan gejala
hipotermia.
5. Berikan selimut hangat untuk
meningkatkan suhu tubuh
pasien.
3 Resiko cidera NOC: Manajemen tekanan
berhubungan a. Kontrol resiko 1. Berikan pakaian yang tidak
dengan b. Keparahan cidera ketat pasien
fisik 2. Lebarkan gips untuk
tindakan dan
Tujuan : Setelah mengurangi tekanan
perawatan
diberikan asuhan 3. Letakkan matras atau kasur
selama terapeutik dengan cara yang
keperawatan selama
tepat
operasi
6-8 jam diharapkan 4. Tinggikan ekstremitas yang
resiko cidera teratasi cidera
5. Monitor area kulit dari
Kriteria hasil
adanya kemerahan dan
1. Mampu adanya pecah-pecah
memodifikasi 6. Gunakan alat pengkajian
lingkungan yang resiko untuk memonitor
aman pasien (missal: skala braden)
2. Memonitor faktor 7. Monitor sumber tekanan dan
lingkungan yang gesekan klien
beresiko Pengaturan posisi: intra
menyebabkan
operatif
cidera
1. Cek sirkulasi perifer dan
status neurologis
2. Topang kepala dan leher
ketika memindahkan pasien
3. Tentukan jumlah petugas yang
sesuai untuk memindahkan
pasien
4. Lindungi mata dengan tepat
5. Monitor posisi intraoperative
6. Berikan bantalan pada area
tubuh yang menonjol jika
diperlukan
7. Tinggikan ekstremitas jika
diperlukan
Tindakan pencegahan dalam
pembedahan
1. Periksa monitor isolasi utama
2. Siapkan alat dan bahan
oksigenasi dan ventilasi
buatan
3. Periksa dan identifikasi
kelengkapan semua alat
tindakan yang dibutuhkan
4. Singkirkan alat-alat yang
berbahaya
5. Lakukan tindakan pencegahan
terhadap radiasi ionisasi atau
gunakan alat pelindung dalam
situasi dimana alat tersebut
dibutuhkan, sebelum operasi
dimulai
6. Jaga privasi klien, hindari
paparan yang tidak perlu atau
dari kedinginan
4 resiko infeksi NOC: Keparahan Perawatan sirkumsisi
berhubungan infeksi 1. Verifikasi bahwa izin untuk
dengan Tujuan : Setelah dilakukan pembedahan sudah
ditanda tangani
prosedur diberikan asuhan
2. Verifikasi identifikasi pasien
invasif keperawatan selama 6- dengan benar
8 jam diharapkan 3. Berikan pengontrol nyeri
sebelum prosedur dilakukan
resiko infeksi teratasi
sekitar 30menit-1 jam sebelum
Kriteria Hasil: operasi dilakukan
1. Tidak ada 4. Lakukan pembalutan yang
pengeluaran cairan tepat sesuai dengan tipe dan
yang purulen ukuran luka
2. Tidak ada 5. Instruksikan pasien mengenai
kemerahan di terapi kompresi/penekanan
sekitar luka 6. Ubah posisi tiap 2 jam sekali
3. Tidak ada edema 7. Berikan obat antiseptic atau
disekitar luka antikoagulan dengan cara
4. Tidak terjadi yang tepat
peningkatan suhu 8. Pertahankan hidrasi yang
di sekitar luka cukup untuk menurunkan
5. Tidak ada bau pada viskositas darah
luka Infection Protection
1. Monitor tanda dan gejala
infeksi lokal/sistemik
2. Cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan.
3. Gunakan sarung tangan steril
dalam tindakan.
4. Pertahankan teknik aseptik
selama melakukan tindakan
5. Kaji kondisi luka

3) post operasi
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)
Keperawatan Hasil (NOC)
1 nyeri akut NOC : Label NIC :
berhubungan a. pain level Pain Management.
dengan luka b. pain control 1. Lakukan penilaian yang
Tujuan: Setelah komprehensif dari rasa sakit
akibat post
diberikan asuhan untuk memasukkan lokasi,
operasi
keperawatan selama karakteristik, onset / durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas
6-8 jam diharapkan
atau keparahan nyeri, dan
nyeri akut teratasi faktor pencetus
Kriteria Hasil: 2. Amati isyarat nonverbal
ketidaknyamanan, terutama
1. skala nyeri
dalam mereka yang tidak
berkurang (skala
mampu untuk berkomunikasi
5)
secara efektif
2. Klien tidak
3. Pastikan pasien yang
mengerang atau
menerima
menangis terhadap
4. Gunakan strategi komunikasi
rasa sakitnya
terapeutik untuk mengakui
(skala 5)
mengalami rasa sakit dan
3. Klien tidak
menyampaikan respon
menunjukkan rasa
penerimaan pasien terhadap
sakit akibat
nyeri
nyerinya (skala 5) Pemberian Analgesik
1. Tentukan lokasi,
karakterisktik, kualitas dan
keparahan nyeri sebelum
mengobati pasien
2. Cek perintah pengobatan
meliputi obat, dosis, dan
frekuesnsi obat analgesik
yang diresepkan
3. Cek riwayat alergi obat
4. Monitor tanda vital sebelum
dan setelah memberikan
analgesic
5. Evaluasi keefektifan
pemberian analgesik
2 Ketidakefektifan NOC : Manajemen ventilasi mekanik:
bersihan jalan a. Status nafas: invasive
nafas kepatenan jalan 1. Monitor kondisi yang
nafas mengindikasikan perlunya
berhubungan
b. Status pernafasan: dukungan ventilasi
dengan ventilasi (misalnya: kelelahan otot
akumulasi secret Tujuan: Setelah pernafasan, disfungsi
pasca anastesi diberikan asuhan neurologi akibat trauma
keperawatan selama sekunder, anesthesia
overdosis obat, asidoses
6-8 jam diharapkan
respirasi refraktorik)
bersihan jalan nafas 2. Monitor apakah terdapat
efektif gagal nafas
3. Konsultasikan dengan
Kriteria Hasil:
petugas kesehatan lain dalam
1. RR normal (20- hal pemilihan jenis ventilator
24x/menit) (yang akan) digunakan
2. Jalan nafas bersih 4. Pastikan bahwa alarm
3. Tidak gagal napas ventilator menyala
5. Monitor adanya penurunan
volume yang dihembuskan
dan peningkatan tekanan
pernafasan
6. Lakukan suksion jika ada
suara nafas abnormal
dan/atau peningkatan
inspirasi
7. Gunakan teknik aseptik pada
semua prosedur suksion
sesuai kebutuhan
8. Tingkatkan cairan yang
adekuat dan asupan nutrisi
9. Kolaborasikan dengan dokter
dalam rangka menggunakan
dukungan tekanan atau PEEP
untuk meminimalkan
hipoventilasi, sesuai
kebutuhan

3 Resiko jatuh NOC: Pemulihan Pencegahan Jatuh


berhubungan pembedahan: segera 1. bantu ambulasi individu
dengan efek setelah operasi yang tidak memiliki
keseimbangan
anastesi Tujuan: Setelah
2. gunakan perlak untuk
diberikan asuhan membantu proses
keperawatan selama pemindahan klien paska
operasidengan mudah
6-8 jam diharapkan
3. pasang side rail
resiko jatuh teratasi 4. pasang restrain pada pasien
Kriteria Hasil: yang tidak sadar setelah
operasi (efek anestesi)
1. kepatenan jalan
Monitor Tanda tanda vital
nafas
2. tanda vital dalam 1. monitor TTV dengan tepat
batas normal 2. monitor sianosis perifer
3. saturasi oksigen 3. monitor warna kulit, suhu
normal dan kelembapan
4. monitor tanda dan gejala
hipotermi dan hipertemi
5. monitor oksimetri

G. DISCHARGE PLANNING
Pertimbangan Rencana Pemulangan: DRG menjelaskan kebutuhan
bantuan dalam pengobatan/rehabilitasi, keputusan, aktivitas perawatan diri,
pemeliharaan rumah. Discharge planning untuk klien dengan CA Mammae
adalah (Nurarif & Kusuma, 2015):
1. Terapi non bedah: penyinaran, kemoterapi, terapi hormone dan endokrin
2. Lakukan pemeliharaan kulit/diri dengan benar, yang terdiri dari:
a. menggunakan sabun ringan dengan penggoskan minimal
b. hindari sabun berparfum atau berdeodoran
c. gunakan lotion hidrofilik untuk keringanan
d. gunakan sabun aveno jika terjadi pruritus
e. hindari pakaian yang ketat, kutang dengan kawat penyangga, dan suhu
yang berlebihan atau cahaya ultraviolet.

3. Hindari mencuci rambut setiap hari dan gunakan shampo ringan untuk
menghindari kerontokan
4. Biarkan rambut mengering secara alami dan jangan menyikat rambut
5. Konsultasikan dengan dokter untuk pemakaian terapi hormonal
6. Istirahat cukup dan olahraga secara teratur
7. Makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh
8. Jika mengingkan kehamilan konsultasikan dengan dokter karena
kebanyakan diminta menunggu selama 2 tahun

9. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)


Adapun tata cara sadari (periksa payudara sendiri) adalah sebagai berikut:
a. berdirilah didepan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan
pada payudara. biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak
terletak pada ketinggian yang sama. perhatikan apakah terdapat keriput,
lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. bila terdapat kelainan itu atau
keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter.
b. letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali
kedua payudara. kemudian bungkukkan badan hingga payudara tergantung
tergantung ke bawah, & periksa lagi.
c. berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di
belakang kepala, dan sebuah bantal dibawah bahu kiri. rabalah payudara kiri
dengan telapak jari-jari kanan. periksalah apakah ada benjolan pada payudara.
kemudian periksa juga apakah ada benjolan atan pembengkakan pada ketiak
kiri.
d. periksalah dan rabalah puting susu dan sekitarnya. pada umumnya
kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa
kenyal dan mudah digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari
tempatnya). bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1cm atau lebih,
segeralah pergi ke dokter. makin dini penanganan, semakin besar
kemungkinan untuk sembuh secara sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2016. Breast Cancer Signs and Symptoms.


https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/about/breast-cancer-signs-nd-
symptoms.html (Diakses pada 30 Maret 2019 pukul 19.00)

Bulechek, dkk. 2015. Nursing Intervension Classification. Jakarta: EGC.


Daniell, Jane Charette. 2006. Ancologi Nursing Care. Jakarta: EGC.

Heather, Herdman. 2015. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.

Kemenkes RI (Tanpa tahun). Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara.


http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf (Diakses pada
11 Mei 2019 pukul 20.30)

Kemenkes RI (2013). Situasi Penyakit Kanker.


http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
kanker.pdf (Diakses pada 11 Mei 2019 pukul 19.30)

Kodim, Nasrin & Moningkey, Shirley Ivonne.(2004). Epidemiologi Kanker


Payudara. Himpunan Badan Kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak
Menular. FKM UI.

Mangan, Y., 2009, Cara Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker, Agromedia
Pustaka, Jakarta

Moorhead, dkk. 2015. Nursing Outcomes Classification. Jakarta: EGC.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic Noc. Jogja: Mediaction

Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. (2012) Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
https://books.google.co.id/books?id=PwLdwyMH9K4C&pg=PT156&dq=
Patofisiologi:+Konsep+Klinis+Proses-
Proses+Penyakit&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj714KK3sjYAhVIULwK
HfyeBskQ6AEIJzAA#v=onepage&q=Patofisiologi%3A%20Konsep%20K
linis%20Proses-Proses%20Penyakit&f=false (Diakses pada 11 Mei 2019
pukul 21.00)

Riduan, Ria Janita. (2016). Hubungan Status Estrogen Receptor (ER),


Progesteron Receptor (PR), dan Human Epidermal Growth Factor
Receptor–2 (her–2) dengan Derajat Keganasan Kanker Payudara di
RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Fakultas Kedokteran,
Universitas Lampung. http://digilib.unila.ac.id/20642/15/BAB%20II.pdf
(Diakses pada 11 Mei 2019 pukul 20.00)

Theodore, R. Schrock. 2007. Ilmu Bedah, Edisi 7. Jakarta, EGC

Thomas, F Nelson. 2007. Ilmu Bedah, edisi 4. Jakarta: EGC

Velde, Van de.2006. Ilmu bedah Edisi 5. Jakarta: EGC