Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEGAWATDARURATAN SISTEM

KARDIOVASKULAR : ACUTE MIOCARD INFARK (ACS)

DISUSUN OLEH :

SRI RIZKI AMALIA

NIM : 0433131420116043

PRODI S1 KEPERAWATAN TINGKAT III

STIKES KHARISMA KARAWANG

2018/2019
KONSEP DASAR

A. Definisi
Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan istilah yang mencakup
spektrum kondisi klinis yang ditandai dengan iskemia miokard secara
akut, diakibatkan karena ketidakseimbangan antara ketersediaan oksigen
dengan kebutuhannya (Dipiro et al., 2009 dalam Rahmawati, 2016).

B. Klasifikasi
1. UAP (Unstable Angina Pectoris)
2. STEMI (ST Elevasi Miocard Infark)
3. NSTEMI (Non- ST Elevasi Miocard Infark)

KLASIFIKASI UAP STEMI NSTEMI


Nyeri Dada + +/- +/-
EKG N/ISKEMIK ST ELEVASI N/ISKEMIK
Enzim N N/INCREASED INCREASED

Tabel. 1.1
(Sumber : PPT EKG Pada Acute Coronary Syndrom by Ii Ismail)

C. Etiologi
1. Suplay oksigen ke miokardium berkurang
a. Faktor pembuluh darah : ateroklerosis, spasme, arteritis
b. Faktor sikulasi : hipotensi, stenosis aorta, insufisiensi aorta
c. Faktor darah : anemia, hipoksemia, polisitermia
2. Curah jantung meningkat : hipertiroidisme, anemia, aktivitas dan
emosi
3. Kebutuhan oksigen miokardium meningkat : kerusakan miokardium,
hipertropi miokardium dan hipertensi
(sumber : PPT Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner dan Syndrom Koroner Akut
(SKA) by Uun Nurjanah, M.Kep)
D. Manifestasi Klinis
Kriteria Angina Infark Miokard
Durasi Nyeri Dada <20 menit >20 menit
Pencetus Stres, aktivitas Tiba – tiba, biasanya
pagi hari
Respon terhadap Membaik Tidak membaik
nitrogliserin/istirahat
Gejala penyerta Tidak ada Disertai gejala :
 Mual/muntah
 Dispnea
 Disritmia
 Kelelahan
 Palpitasi
 Ansietas
 Pusing
 Merasa “napas
pendek”
(sumber : Jenskins P(2010), Ignatavitus & Workman (2010) dalam PPT Asuhan Keperawatan
Penyakit Jantung Koroner dan Syndrom Koroner Akut (SKA) by Uun Nurjanah, M.Kep)

E. Patofisiologi
Sebagian besar ACS adalah manifestasi akut dari plak ateroma pembuluh
darah koroner yang koyak atau pecah akibat perubahan komposisi plak
dan penipisan tudung fibrosa yang menutupi plak tersebut. Kejadian ini
akan diikuti oleh proses agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi
sehingga terbentuk trombus yang kayak trombosit. Trombus ini akan
menyumbat lubang pembuluh darah koroner, baik secara total maupun
parsial; atau menjadi mikroemboli yang menyumbat pembuluh darah
koroner yang lebih distal. Selain itu terjadi pelepasan zat vasoaktif yang
menyebabkan vasokontriksi sehingga memperberat gangguan aliran darah
koroner. Berkurangnya aliran darah koroner menyebabkan iskemia
miokardium. Suplai oksigen yang berhenti kurang-lebih 20 menit
menyebabkan miokardium mengalami nekrosis (Infark Miokard).

Infark Miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi pembuluh darah


koroner. Sumbatan subtotal yang disertai vasokontriksi yang dinamis juga
dapat menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan otot jantung.
Selain nekrosis, iskemia juga menyebab kan gangguan kontraktilitas
miokardium karena proses hibernating dan stunning (setelah iskemia
hilang), serta distritmia dan remodeling ventrikel (perubahan bentuk,
ukuran dan fungsi ventrikel). Pada sebagian pasien, ACS terjadi karena
sumbatan dinamis akibat spasme lokal arteri koronaria epikardial (angina
prizmetal). Penyempitan arteri koronaria, tanpa spasme maupun trombus,
dapat disebabkan oleh progresi pembentukan plak atau restenosis setelah
intervensi koroner perkutan (IKP). Beberapa faktor ekstrinsik, seperti
demam, anemia, tirotoksikosis, hipotensi, takikardia, dapat menjadi
pencetus terjadinya ACS pada pasien yang telah mempunyai plak
aterosklerosis. (PERKI, 2018)
F. Penatalaksanaan
Intervensi awal (10 menit pertama)

1. Kaji ABCD
2. Tirah baring dan beri Oksigen
Memaksimalkan suplai Oksigen, dimulai 2-4 L/menit selama 6 jam,
dilanjutkan jika saturasi Oksigen <94%.
Gunakan selang yang sesuai pada saat pemberian Oksigen, monitor
saturasi Oksigen secara teratur dan hindari pemberian berlebih pada
pasien dengan COPD/PPOK.
3. Kaji TTV, saturasi Oksigen, dan melakukan EKG
4. Pasang jalur IV
5. Kaji Nyeri (PQRST)
6. Aspirin 160-325 mg (Dikunyah)
Berikan Aspirin sesegera mungkin setelah dicurigai ACS
Pada saat diberikan Aspirin kaji adanya tanda dan gejala perdarahan.
7. Nitrogliserin 0,4 mg (Sublingual)
Pemberian Nitrogliserin/Nitrat dapat diulang sampai 3 kali setiap 5
menit.
Pada saat pemberian Nitrogliserin beritahu kepada pasien bahwa
penggunaan nya dibawah lidah, bukan ditelan. Serta akan ada rasa
berdenyut dibawah lidah.
Pantau TD, HR, RR. Kntraindikasi jika TD <90 mmHg, atau pasien
mengalami bradikardi <50x/menit, atapun takikardi >120x/menit.
8. Morfin 2-4 mg/IV, dapat ditingkatkan 2-8 mg dengan interval 5-10
menit.
Morfin diberikan apabila nyeri tidak reda dengan Nitrogliserin. Setelah
diberikan morfin kaji TTV (khawatir terjadi Hipotensi) dan skala
nyeri, apakah terjadi perbaikan atau tidak.
9. Clopidogrel (Intervensi awal tambahan)
Loading dose 300 mg, dilanjutkan 75 mg/hr. Setelah pemberian
Clopidogrel pantau adanya tanda gejala perdarahan.
10. Ambil darah (enzim, elektrolit, koagulasi)
11. Rontgen/x-ray dada (<30 menit)
12. Monitoring : ABC, TTV, Tingkat kesadaran, Efek obat (adanya
penurunan nyeri atau tidak)
13. Atasi kecemasan :
 Jelaskan prosedur tindakan
 Lakukan teknik relaksasi/distraksi
 Support pasien/keluarga sebagai dukungan emosional
14. Antisipasi kegawatan
 Intubasi jika terjadi distress pernapasan
 RJP + AED (jika henti jantung, henti napas)

(sumber : PPT Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner dan Syndrom Koroner Akut (SKA)
by Uun Nurjanah, M.Kep)

G. Pemeriksaan Penunjang
Berdasarkan Buku Pedoman Tatalaksanan Sindrom Koronaria Akut pada
tahun 2018, ada beberapa Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan
untuk mendiagnosis ACS, antara lain :

1. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengidentifikasi faktor pencetus
iskemia, komplikasi iskemia, penyakit penyerta dan menyingkirkan
diagnosis banding. Regurgitasi katup mitral akut, suara jantung tiga
(S3), ronkhi basah halus dan hipotensi hendaknya selalu diperiksa
untuk mengidentifikasi komplikasi iskemia. Ditemukannya tanda-
tanda regurgitasi katup mitral akut, hipotensi, diaphoresis, ronkhi
basah halus atau edema paru meningkatkan kecurigaan terhadap SKA.
Pericardial friction rub karena perikarditis, kekuatan nadi tidak
seimbang dan regurgitasi katup aorta akibat diseksi aorta,
pneumotoraks, nyeri pleuritik disertai suara napas yang tidak seimbang
perlu dipertimbangkan dalam memikirkan diagnosis banding SKA.
2. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG)
Semua pasien dengan keluhan nyeri dada atau keluhan lain yang
mengarah kepada iskemia harus menjalani pemeriksaan EKG 12
sadapan sesegera mungkin sesampainya di ruang gawat darurat.
Sebagai tambahan, sadapan V3R dan V4R, serta V7-V9 sebaiknya
direkam pada semua pasien dengan perubahan EKG yang mengarah
kepada iskemia dinding inferior. Sementara itu, sadapan V7-V9 juga
harus direkam pada semua pasien angina yang mempunyai EKG awal
nondiagnostik. Sedapat mungkin, rekaman EKG dibuat dalam 10
menit sejak kedatangan pasien di ruang gawat darurat. Pemeriksaan
EKG sebaiknya diulang setiap keluhan angina timbul kembali.

Lokasi Infark Berdasarkan Sadapan EKG


(sumber : Buku BTCLS by GTC dan Buku Pedoman Tatalaksanan Sindrom Koronaria Akut by
PERKI)

Sadapan dengan Deviasi Segmen Lokasi Iskemia atau


ST Infark
V1-V2 Septal
V1-V4 Anterior
V5-V6/aVL Lateral
Lead II, III, aVF Inferior
V7-V9 Posterior
Lead II, III, aVF, V3R, V4R Ventrikel Kanan

3. Pemeriksaan Marka/enzim Jantung.


Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau troponin I/T merupakan marka
nekrosis miosit jantung dan menjadi marka untuk diagnosis infark
miokard. Troponin I/T sebagai marka nekrosis jantung mempunyai
sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dari CK-MB. Peningkatan
marka jantung hanya menunjukkan adanya nekrosis miosit, namun
tidak dapat dipakai untuk menentukan penyebab nekrosis miosit
tersebut (penyebab koroner/nonkoroner). Troponin I/T juga dapat
meningkat oleh sebab kelainan kardiak nonkoroner seperti takiaritmia,
trauma kardiak, gagal jantung, hipertrofi ventrikel kiri,
miokarditis/perikarditis. Keadaan nonkardiak yang dapat
meningkatkan kadar troponin I/T adalah sepsis, luka bakar, gagal
napas, penyakit neurologik akut, emboli paru, hipertensi pulmoner,
kemoterapi, dan insufisiensi ginjal. Pada dasarnya troponin T dan
troponin I memberikan informasi yang seimbang terhadap terjadinya
nekrosis miosit, kecuali pada keadaan disfungsi ginjal. Pada keadaan
ini, troponin I mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi dari troponin
T. Dalam keadaan nekrosis miokard, pemeriksaan CK-MB atau
troponin I/T menunjukkan kadar yang normal dalam 4-6 jam setelah
awitan SKA, pemeriksaan hendaknya diulang 8-12 jam setelah awitan
angina. Jika awitan SKA tidak dapat ditentukan dengan jelas, maka
pemeriksaan hendaknya diulang 6-12 jam setelah pemeriksaan
pertama. Kadar CK-MB yang meningkat dapat dijumpai pada
seseorang dengan kerusakan otot skeletal (menyebabkan spesifisitas
lebih rendah) dengan waktu paruh yang singkat (48 jam). Mengingat
waktu paruh yang singkat, CK-MB lebih terpilih untuk mendiagnosis
ekstensi infark (infark berulang) maupun infark periprosedural. (lihat
gambar 2). Pemeriksaan marka jantung sebaiknya dilakukan di
laboratorium sentral. Pemeriksaan di ruang darurat atau ruang rawat
intensif jantung (point of care testing) pada umumnya berupa tes
kualitatif atau semikuantitatif, lebih cepat (15-20 menit) tetapi kurang
sensitif. Point of care testing sebagai alat diagnostik rutin SKA hanya
dianjurkan jika waktu pemeriksaan di laboratorium sentral
memerlukan waktu >1 jam. Jika marka jantung secara point of care
testing menunjukkan hasil negatif maka pemeriksaan harus diulang di
laboratorium sentral.
4. Pemeriksaan laboratorium.
Data laboratorium, di samping marka jantung, yang harus
dikumpulkan di ruang gawat darurat adalah tes darah rutin, gula darah
sewaktu, status elektrolit, koagulasi darah, tes fungsi ginjal, dan panel
lipid. Pemeriksaan laboratorium tidak boleh menunda terapi SKA.
5. Pemeriksaan foto polos dada.
Mengingat bahwa pasien tidak diperkenankan meninggalkan ruang
gawat darurat untuk tujuan pemeriksaan, maka foto polos dada harus
dilakukan di ruang gawat darurat dengan alat portabel. Tujuan
pemeriksaan adalah untuk membuat diagnosis banding, identifikasi
komplikasi dan penyakit penyerta.
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian Primer
A : Airway

 Apakah terdapat sumbatan atau tidak ? (Total/parsial)


 Apakah terdapat suara tambahan atau tidak ?

B : Breathing

 Cek Pernapasan dengan Look, Lister, Feel

C : Circulation

 Hemodinamik (Tekanan Darah, Nadi, CRT <3’’/>3’’, akral


(hangat/dingin))

D : Dissability

 GCS, Pain Scale, Pupil

E : EKG

 ST Elvasi/ST depresi/Inverted, dst..

B. Pengkajian Sekunder
 KOMPAK

K : Keluhan

O : Obat yang dikonsumsi terakhir

M : Makanan yang terakhir dimakan

P : Penyakit penyerta

A : Alergi

K : Kejadian
 Lakukan pemeriksaan fisik dengan BTLS (Bentuk, Tumor, Luka,
Sakit)

C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
2. Penurunan curah jantung
3. Ansietas

D. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri Akut
Intervensi :
a. Manajemen nyeri : Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman
sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan
atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan
berintensitas ringan hingga berat dan konsisten.
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
- Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
- Idenifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi komplenter yang sudah diberikan
- Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik

- Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri


(mis .TENS ,tipnosis , akupresur , terapi musik, biofeedback,
terapi pijat, aromat terapi, teknik imajinasi terbimbing, komres
hangat atau dingin, terapi bermain )
- Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
ruangan , pencahayaan, kebisingan)
- Fasilitas istirahat dan tidur
- Pertimbangan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan stategi
meredakan nyeri

Edukasi

- Jelaskan penyebab, periode dan memicu nyeri


- Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
- Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

- Kolaborasikan pemberian analgesik , jika perlu


b. Pemberian analgesik : Menyiapkan dan memberikan agen
farmagologis untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit
Tindakan :

Observasi

- Identifikasi karakteristik nyeri ( mis. Pencetus , pereda ,


kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi durasi )
- Identifikasi riwayat alegi obat
- Identifikasi kesesuaian jenis analgesik ( mis. Narkotika, non
narkotik, atau NSAID , ) dengan tingkat keparahan nyeri
- Monitor tanda tanda vital sebelum dan sesudah pemberian
anlgesik
- Monitor efektifitas analgesik

Terapeutik
- Diskusikan jenis aanalgesik yang disukai untuk mencapai
analgesik optimal, jika perlu
- Pertimbangkan penggunaan infus kontinu, atau bolus opoioid
untuk mempertahankan keadaan dalam serum
- Tetapkan target efektifitas analgesik untuk mengoptimalkan
respons pasien
- Dokumentasikan respons terhadap efek analgesik dan efek
yang tidak diinginkan

Edukasi

- Jelaskan efek terapi dan efek samping obat

Kolaborasi

- Kolaorasi pemberian dosis dan jenias anal gesik , sesuai


indikasi
2. Penurunan Curah Jantung
Intervensi :
a. Perawatan Jantung
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi tanda/gejala primer penurunan darah curah jantung
(meliputi dispnea,kelelahan edemaa,orthopnea,proxysmal
noctumal dyspnea, peningkatan CPV)
- Identivikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung
(meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena
jugularis, palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
- Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik,
jika perlu)
- Monitor intake autput dan cairan
- Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama
- Monitor saturasi oksigen
- Monitor keluhan nyeri dada (mis.,intensitas, lokasi, radiasi,
durasi, pervitasi yang mengurangi nyeri)
- Monitor EKG 12 sadapan
- Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)
- Monitor nilai laboratorium jantung(mis., elektroki, enzim
jantung, BNP, Ntpro-BNP)
- Monitor fungsi alat pacu jantung
- Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan sesudah
aktivitas
- Periksa tekanan darah dan prekuensi nadi sebelum pemberian
obat (mis., beta blocker, ACE inhibitor, calcium channel
blocker, digoksin)

Terapeutik

- Posisikan pasien semi-fowler atau fowler dengan kaki ke


bawah atau posisi nyaman
- Berikan diet jantung yang sesuai (mis., batasi asupan kafein,
natrium, kolekstrol, dan makanan tinggi lemak)
- Gunakan stocking elastis atau pneumatik intermiten, sesuai
indikasi
- Fasilitasi pasien dan kluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat
- Berikan terapi relaksaksi untuk mengurangi stres, jika perlu
- Berikan dukungan emosional dan spiritual
- Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%

Edukasi

- Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi


- Anjurkan beraktivitas fisik secara terhadap
- Anjurkan berhenti merokok
- Ajarkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian
- Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan outpun
cairan harian

Kolaborasi

- Kolaborasipemberian antiaritmia, jika perlu


- Rujuk ke program rehabilitasi jantung
b. Perawatan Jantung Akut
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi karaktristik nyeri dada (meliputi faktor pemicu dan
pereda, kualitas, lokasi, radiasi, skala, durasi dan frekuensi)
- Monitor EKG 12 sadapan untuk perubahan ST dan T
- Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)
- Monitor elektrolit yang dapat meningkatkan risiko aritmia
(mis., kalium, magnesium serum)
- Monitor enzim jantung (mis., CK,CK-MB, troponin T, tro[onin
I)
- Monitor saturasi oksigen
- Identifikasi stratifikasi pada sindrom koroner akut (mis., skor
TIMI, Kiliip, cusade)

Terapeutik

- Pertahankan tirah baring minimal 12 jam


- Pasang akses intervena
- Puasakan hingga bebas nyeri
- Berikan terapi relaksaksi untuk mengurangi anasietas dan stres
- Sediakan lingkungan yang kondusif untuk beristirahat dan
pemulihan
- Siapkan menjalani intervensi koroner perkuatan, jika perlu
- Berikan dukungan emosional dan spiritual
Edukasi

- Anjurkan segera melaporkan nyeri dada


- Anjurkan menghindari manuver vaisava (mis., mengedan sat
BAB atau batuk)
- Jelaskan tindakan yang di jalani pasien
- Ajarkan teknik menrunkan kecemasan dan ketakutan

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian anti platelet, jika pelu


- Kolaborasi pemberian anti angina (mis., nitrogliserin, beta
blocker, calcium channel blocker)
- Kolaborasi pemberian morfin, jika perlu
- Kolaborasi pemberian intropik, jika perlu
- Kolaborasi pemberian pemberian obat untuk mencegah
manuver valsava ( mis., elunak tinja, antiemetik)
- Kolaborasi pencrgahan trombus dengan antikoagulan, jika
perlu
- Kolaborasi pemeriksaan x-ray dada, jika perlu
3. Ansietas
Intervensi :
a. Reduksi ansietas : Meminimalkan kondisi individu dan
pengalaman subyektif terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik
akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan
tindakan untuk menghadapi ancaman.
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. Kondisi, waktu,
stresor)
- Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
- Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal)
Terapeutik
- Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuh kepecayaan
- Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika
memungkinkan
- Pahami situasi yang membuat ansietas
- Dengarkan dengan penuh perhatian
- Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
- Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
- Movitasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
- Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan
datang
Edukasi
- Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
- Informasikan secara faktual mengenai diagnosis
- Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
- Anjurkan melakukan kegiatan yang tidk kompetitif, sesuai
kebutuhan
- Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
- Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
- Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
- Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
b. Terapi relaksasi : Menggunakan teknik peregangan untuk
mengurangi tanda dan gejala ketidaknymanan seperti nyeri,
ketegangan otot, atau kecemasan.
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan
berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan
kognitif
- Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan
- Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan penggunaan teknik
sebelumnya
- Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan
suhu sebelum dan sesudah latihan
- Monitor respons terhadap terapi relaksasi
Terapeutik
- Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan
pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan
- Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur
teknik relaksasi
- Gunakan pakaian longgar
- Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama
- Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan analgetik
atau tindakan medis lain, jika sesuai
Edukasi
- Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang
tersedia (mis. Musik, meditasi, napsa dalam, relaksasi otot
progresif)
- Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih
- Anjurkan mengambil posisi nyaman
- Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
- Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih
Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis. Napas dalam,
peregangan, atau imajinasi terbimbing)
DAFTAR PUSTAKA
PERKI. (2018). Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut. Jakarta: PP
PERKI.

Rahmawati, K. (2016). IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)


PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSIS ACUTE CORONARY
SYNDROME (ACS) DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA KURNIA
RAHMAWATI. Universitas Gadjah Mada, 1–20.

PPT Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner dan Syndrom Koroner Akut
(SKA) by Uun Nurjanah, M.Kep)

PPT EKG Pada Acute Coronary Syndrom by Ii Ismail

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi
dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus PPNI

Anda mungkin juga menyukai