Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PPRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI

UJI WIDAL

OLEH :

NAMA : ANGGIT JULIANINGSIH PISU


NIM : 173145453070
KELAS : 17 B
KELOMPOK : III (TIGA)

PROGRAM STUDI DIII TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS


FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN
INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
2019
A. JUDUL PERCOBAAN
Pemeriksaan widal.
B. TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengetahui ada tidaknya antibody spesifik terhadap antigen salmonella
SP dalam serum.
C. PRINSIP PERCOBAAN
Adanya antibody salmonella typhi dan salmonella paratyphi dalam serum
sampel akan bereaksi dengan antigen yang terdapat dalam reagen widal. Reaksi
dengan adanya aglutinasi.
D. LANDASAN TEORI
Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi). Insidens penyakit ini sering
dijumpai di negara-negara Asia dan dapat ditularkan melalui makanan atau air
yang terkontaminasi. Pada permulaan penyakit, biasanya tidak tampak gejala
atau keluhan dan kemudian timbul gejala atau keluhan seperti demam sore hari
dan serangkaian gejala infeksi umum dan pada saluran cerna. Diagnosis
demam tifoid ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan
tambahan dari laboratorium (Nelwan, RHH, 2012).
Patogenesis demam tifoid merupakan proses yang kompleks yang melalui
beberapa tahapan. Setelah kuman Salmonella typhi tertelan, kuman tersebut
dapat bertahan terhadap asam lambung dan masuk ke dalam tubuh melalui
mukosa usus pada ileum terminalis. Di usus, bakteri melekat pada mikrovili,
kemudian melalui barier usus yang melibatkan mekanisme membrane ruffl ing,
actin rearrangement, dan internalisasi dalam vakuola intraseluler. Kemudian
Salmonella typhi menyebar ke sistem limfoid mesenterika dan masuk ke dalam
pembuluh darah melalui sistem limfatik. Bakteremia primer terjadi pada tahap
ini dan biasanya tidak didapatkan gejala dan kultur darah biasanya masih
memberikan hasil yang negatif. Periode inkubasi ini terjadi selama 7-14 hari
(Bhutta ZA. T, 2006).
Gejala yang biasanya dijumpai adalah demam sore hari dengan
serangkaian keluhan klinis, seperti anoreksia, mialgia, nyeri abdomen, dan
obstipasi. Dapat disertai dengan lidah kotor, nyeri tekan perut, dan
pembengkakan pada stadium lebih lanjut dari hati atau limpa atau kedua-
duanya. Pada anak, diare sering dijumpai pada awal gejala yang baru,
kemudian dilanjutkan dengan konstipasi. Konstipasi pada permulaan sering
dijumpai pada orang dewasa. Walaupun tidak selalu konsisten, bradikardi
relatif saat demam tinggi dapat dijadikan indikator demam tifoid (Bhan MK, et
al, 2005).
E. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu rotator atau batang
pengaduk, pipet tetes dan slide.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu reagen widal dan
serum.
F. PROSEDUR KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dipipet satu tetes serum (20µ) keadaan lingkaran yang terdapat dalam slide
dengan kode O, H, HA, CP, dan CN
3. Ditambahkan masing-masing satu tetes reagen widal sesuai dengan kode
slide, begitu pula pada CN dan CP
4. Dicampur antigen dan serum dengan batang pengaduk berbeda dan lebarkan
kemudian digoyang-goyangkan selama satu menit
5. Diamati reaksi yang terjadi
G. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Hasil Pengamatan
No. Nama Pasien Umur Jenis Kelamin Hasil Titer
(+) O dan
1. Natalia S 19 tahun Perempuan 1/80
(+) H
2. Gambar Hasil Pengamatan

H. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, kami melakukan uji widal dengan metode slide.
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya
antibody spesifik terhadap antigen salmonella SP dalam serum.
Prinsip dari uji widal metode slide yaitu adanya antibody salmonella typhi
dan salmonella paratyphi dalam serum sampel akan bereaksi dengan antigen
yang terdapat dalam raegen widal. Reaksi dengan adanya aglutinasi.
Pemeriksaan uji Widal dilakukan pada serum pasien dengan metode titrasi
slide cara cepat menggunakan Kit dari Murex Diagnostica SA, France yang
terdiri dari antigen S. Typhi O dan H. Pengenceran serum dilakukan dengan
menggunakan cairan NaCl fisiologis dalam perbandingan 1:80,1:160, 1:320,
1:640, 1:1280, 1:2560, dan 1:5120. Berdasarkan petunjuk Kit tersebut, nilai
cut-off (nilai ambang atas) untuk menyatakan hasil uji Widal positif adalah
pada pengeceran diatas 1:80, yang artinya aglutinasi antara serum pasien
dengan anti serum standard Kit maka dinyatakan hasil uji Widal positif, tetapi
bila tidak terjadi aglutinasi pada uji tersebut maka hasil dinyatakan negative
(Muliawan S.Y, et al, 2000).
Adapun seri antigen pada uji widal yakni, antigen H (antigen flagel) yang
dibuat dari strain bakteri S. Typhi dimatikan dengan larutan formalin 0,1%,
antigen O (Antigen somatik) yang dibuat dari strain bakteri S. Typhi tidak
motil. Bakteri tersebut dimatikan dengan alkohol absolut yang diencerkan
hingga 12% dan pelarut phenol 0,5% sebagai pengawet, antigen PA (Paratyphi
A) yang dibuat dari strain bakteri S. Paratyphi A. Bakteri tersebut dimatikan
dengan larutan formalin 0,1 %, antigen PB (Paratyphi B). Bakteri tersebut
dimatikan dengan larutan formalin 0,1% (Nafiah, F, 2012).
Dari uji widal ini, pada sampel serum didaptakan hasil positif pada antigen
O dan H yang ditandai dengan terbentuknya aglutinasi. Adapun titer yang
didapatkan yaitu sebesar 1:80 artinya sensitivitas antibody pada serum sangat
rendah.
Peran pemeriksaan Widal (untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen
Salmonella typhi) masih kontroversial. Biasanya antibodi antigen O dijumpai
pada hari 6-8 dan antibodi terhadap antigen H dijumpai pada hari 10-12 setelah
sakit. Pada orang yang telah sembuh, antibodi O masih tetap dapat dijumpai
setelah 4-6 bulan dan antibodi H setelah 10-12 bulan. Karena itu, Widal
bukanlah pemeriksaan untuk menentukan kesembuhan penyakit. Diagnosis
didasarkan atas kenaikan titer sebanyak 4 kali pada dua pengambilan berselang
beberapa hari atau bila klinis disertai hasil pemeriksaan titer Widal di atas rata-
rata titer orang sehat setempat (Nelwan, RHH, 2012).
Strategi pencegahan yang dipakai adalah untuk selalu menyediakan
makanan dan minuman yang tidak terkontaminasi, higiene perorangan
terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang baik,
dan tersedianya air bersih sehari-hari. Strategi pencegahan ini menjadi penting
seiring dengan munculnya kasus resistensi. Selain strategi di atas,
dikembangkan pula vaksinasi terutama untuk para pendatang dari negara maju
ke daerah yang endemik demam tifoid. Vaksin-vaksin yang sudah ada yaitu
vaksin Vi Polysaccharide, vaksin Ty21a, dan vaksin Vi-conjugate (Bhan MK,
et al, 2005).
H. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum pada kali ini dapat disimpulkan bahwa pada
uji widal didapatkan hasil positif pada antigen O dan H dengan titter 1:80.
DAFTAR PUSTAKA

Bhan MK, Bahl R, Bhatnagar S. Typhoid fever and paratyphoid fever. Lancet
2005; 366: 749-62.
Bhutta ZA. Typhoid fever: current concepts. Infect Dis Clin Pract 2006; 14: 266-
72.
Muliawan S.Y, et al. 2000. Validitas Pemeriksaan Uji Aglutinin O Dan H S.Typhi
Dalam Menegakkan Diagnosis Dini Demam Tifoid. Bagian Mikrobiologi,
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta
Nafiah, F. 2018. Kenali Demam Tifoid dan Mekanismenya. Depublish.
Yogyakarta
Nelwan, RHH. 2012. Tata Laksana Terkini Demam Tifoid. CDK-192/ vol. 39 no.
4, th. 2012. Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit
Dalam, FKUI/RSCM. Jakarta