Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 2

Blok 7.3

Pembimbing Tutor : dr. Erny kusdiyah M.kes

KELOMPOK 4

Andika Anjani Agustin (1-5) G1A112081

Ivo Amrina Rasyada (6-9) G1A112077

Nadia Fetrisia (10-13) G1A112023

Miftahul Hayati(14-17) G1A112025

Khalisa Badriani(18-21) G1A112027

Maizola Putri(22-25) G1A112031

Septia Puji Mayasari(26-29) G1A112075

Ahmad Solihi Saad(30-33) G1A112079

Alvin Pratama (34-37) G1A112083

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI
2015/2016
SKENARIO

dr. Dani adalah dokter PNS baru di PKM simpang 4 Sipin. Ini hari pertama dia
bertugas di poli umum. Ia melihat hampir semua pasien memiliki kartu BPJS.
dr. Dani masih bingung dengan sistem pembiayaan kesehatan sehingga ia
bertanya dengan Kepala Puskesmas. Selain itu juga dr. Dani masih perlu
mempelajari bagaimana sistem penjamin mutu di suatu pelayanan kesehatan
beserta manajemen sarana dan prasarana nya, karena ia melihat di PKM masih
terbatas SDM dan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelayanan pasien. dr. Dani
juga melihat masih banyak tenaga medis yang melaksanakan tindakan medis
masih tidak sesuai dengan standar keselamatan yang ditetapkan dam etika
kedokteran.
Klarifikasi Istilah

1. Puskesmas : kesehatan perseorangan dan masyarakat


ditingkat pertama, promotif dan preventif.1
2. BPJS : suatu lembaga yang dibentuk dengan
Undang-Undang untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.2
3. Sistem pembiayaan kesehatan : Besarnya dana yang harus disediakan
untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan
yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.3
4. Pelayanan kesehatan : sebuah sub sistem pelayanan kesehatan
yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan
promotif ( peningkatan kesehatan ) dengan sasaran masyarakat.1
5. Standar keselamatan : proses dalam suatu Rumah Sakit yang
memberikan pelayanan pasien yang lebih aman.4
6. Etika kedokteran : pengetahuan tentang perilaku
professional para dokter dan dokter gigi dalam menjalankan pekerjaannya
sebagaiman tercantum dalam lafal sumpah dan kode etik masing-masing
yang telah disusun oleh organisasi profesinya bersama-sama pemerintah.5
Identifikasi Masalah

1. Sebutkan hukum penyelenggaraan BPJS?


2. Sebutkan macama-macam program BPJS?
3. Sebutkan fungsi, tugas, wewenang, hak dan kewajiban BPJS?
4. Jelaskan prosedur menjadi anggota BPJS?
5. Bagaimana Alur pelayanan BPJS?
6. Apa saja persyaratan yang dipenuhi puskesmas untuk bekerja dengan BPJS?
7. Bagaimana pembiayaan BPJS bagi peserta BPJS dan petigas kesehatan?
8. Bagaimana system pembiayaan kesehatan di Indonesia?
9. Jelaskan sumber, model dan macam-macam pembiayaan kesehatan nasional?
10. Sebutkan fungsi pembiayaan kesehatan?
11. Jelaskan Prinsip dan bentuk jaminan mutu pelayanan kesehatan?
12. Apa saja syarat pokok pelayanan kesehatan?
13. Jelaskan Standar dan Strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan?
14. Jelaskan cakupan pelayanann mutu yang dilakukan?
15. Jelaskan Standar pelayanan berdasarkan etika kedokteran?
16. Apa saja standar keselamatan pasien di puskesmas dan di RS dan bagaimana
evaluasi penilaian layanan mutu?
17. Jelaskan Etika dan landasan hukum kedokteran?
18. Apa saja Sarana dan prasarana pelayanan puskesmas?
19. Bagaimana SDM dan sarana yang di butuhkan di puskesmas?
Analisis Masalah

1. Sebutkan hukum penyelenggaraan BPJS?


Jawab:

UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS membentuk dua Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan.11 Pembentukan dan pengoperasian BPJS melalui
serangkaian tahapan, yaitu:
1. pengundangan UU No. 40 Tahun 2004 Tentang SJSN pada 19 Oktober
2004.
2. pembacaan Putusan Mahkamah Konstitusi atas perkara No. 007/PUUIII/
2005 pada 31 Agustus 2005;
. pengundangan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang BPJS pada 25 November
2011;
4. pembubaran PT Askes dan PT Jamsostek pada 1 Januari 2014;
5. pengoperasian BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan pada 1Januari
2014.2
2. Sebutkan macama-macam program BPJS?
Jawab:
Berdasarkan UU No. 40 tahun 2004 (pasal 2, pasal 3 dan pasal 4) program
BPJS terdiri atas:
 Program jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan)
 Jaminan kecelakaan kerja
 Jaminan di hari tua
 Jaminan pensiun
 Jaminan kematian (BPJS ketenagakerjaan)2
3. Sebutkan fungsi, kewajiban, dan wewenang BPJS?
Jawab:
Fungsi
UU BPJS menentukan bahwa, “BPJS Kesehatan berfungsi
menyelenggarakan program jaminan kesehatan.” Jaminan kesehatan menurut
UU SJSN diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial
dan prinsip ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat
pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan. BPJS Ketenagakerjaan menurut UU BPJS berfungsi
menyelenggarakan 4 (empat) program, yaitu program jaminan kecelakaan
kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian.
Kewajiban
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas BPJS bertugas untuk:
1. melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;
2. memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;
3. menerima bantuan iuran dari Pemerintah;
4. mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta;
5. mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial;
6. membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai
dengan ketentuan program jaminan sosial;
7. memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada peserta dan masyarakat.
Wewenang
Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud di atas BPJS
berwenang:
1. Menagih pembayaran iuran;
2. Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan
jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas,
kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai;
3. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan
pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan jaminan social nasional;
4. Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar
pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang
ditetapkan oleh Pemerintah;
5. Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
6. Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja
yang tidak memenuhi kewajibannya;
7. Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai
ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam memenuhi
kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
8. Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraa
program jaminan sosial. Kewenangan menagih pembayaran iuran dalam
arti meminta pembayaran dalam hal terjadi penunggakan, kemacetan, atau
kekurangan pembayaran, kewenangan melakukan pengawasan dan
kewenangan mengenakan sanksi administratif yang diberikan kepada
BPJS memperkuat kedudukan BPJS sebagai badan hukum publik.2
4. Jelaskan prosedur menjadi anggota BPJS?
Jawab:
Datang ke kantor BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) kemudian
melakukan hal berikut :
1. Mengisi formulir pendaftaran
2. Pembayaran premi
Anda akan diberi virtual account atau kode bank untuk pembayaran premi
pertama yang bisa dilakukan melalui ATM atau bank terdekat yang saat ini
sudah bekerjasama, yaitu : BRI, BNI dan Mandiri.
Untuk biaya premi peserta mandiri dalam perawatan kelas III, sebulan
hanya Rp. 25.500 per orang, untuk perawatan kelas II sebulan Rp. 42.500 per
orang dan perawatan kelas I sebesar Rp. 50.000 per orang.
Adapun besaran premi pada kelompok pekerja sebesar 5 persen dari gaji
pokoknya, 2 persen dibayarkan oleh yang bersangkutan dan 3 persen
dibayarkan oleh perusahaan tempat pekerja bekerja.2

5. Bagaimana Alur pelayanan BPJS?

1. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama


 Setiap peserta harus terdaftar pada satu fasilitas kesehatan tingkat
pertama yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
 Peserta memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan
tingkat pertama tempat Peserta terdaftar.
 Peserta dapat memperoleh pelayanan rawat inap di Fasilitas Kesehatan
tingkat pertama sesuai dengan indikasi medis.
2. Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjutan
 Peserta datang ke BPJS Center Rumah Sakit dengan menunjukkan
Kartu Peserta dan menyerahkan surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama / surat perintah kontrol pasca rawat inap.
 Peserta menerima Surat Eligibilitas Peserta (SEP) untuk mendapatkan
pelayanan lanjutan.
 Peserta dapat memperoleh pelayanan rawat inap di Fasilitas Kesehatan
tingkat lanjutan sesuai dengan indikasi medis.
Alur Pelayanan Kesehatan Peserta BPJS di Pelayanan Kesehatan
Tingkat Lanjutan
Ket :

 Mondok : Rawat inap


 SEP : Surat eligibilitas peserta
 Rajal : Rawat Jalan
3. Pelayanan Kegawat Daruratan (Emergency):
 Pelayanan Gawat Darurat adalah pelayanan kesehatan yang harus
diberikan secepatnya untuk mencegah kematian, keparahan dan atau
kecacatan, sesuai dengan kemampuan fasilitas kesehatan.
 Peserta yang memerlukan pelayanan gawat darurat dapat langsung
memperoleh pelayanan di setiap fasilitas kesehatan. Kriteria
kegawatdaruratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
 Peserta yang menerima pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan
yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, akan segera dirujuk
ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dalam kondisi
dapat dipindahkan.
 Biaya akibat pelayanan kegawatdaruratan ditagihkan langsung oleh
Fasiltas Kesehatan kepada BPJS Kesehatan.6
6. Apa saja persyaratan yang dipenuhi puskesmas untuk bekerja dengan BPJS?
Jawab:
PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
KESEHATAN
NOMOR 2 TAHUN 2015
Pasal 5
Setiap Puskesmas atau fasilitas kesehatan yang setara yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan harus memenuhi persyaratan:
a. memiliki perawat;
b. memiliki bidan dan/atau jejaring bidan;
c. memiliki tenaga administrasi;
d. memenuhi kriteria kredensialing atau rekredensialing;
e. memberikan pelayanan rawat jalan tingkat pertama sesuai peraturan
perundang-undangan;
f. memberikan pelayanan obat;
g. memberikan pelayanan laboratorium tingkat pratama;
h. membuka waktu pelayanan minimal 8 (delapan) jam setiap hari kerja;
dan
i. memberikan pelayanan darurat di luar jam pelayanan.

Pasal 6
Puskesmas atau fasilitas kesehatan yang setara yang telah memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 memperoleh pembayaran
dengan besaran tarif kapitasi yang didasarkan pada jumlah dokter, rasio jumlah
dokter dengan jumlah peserta, ada atau tidaknya dokter gigi, dan waktu
pelayanan.7

7. Bagaimana pembiayaan BPJS bagi petugas kesehatan?


Jawab:
Mekanisme pembayaran klaim terhadap fasilitas kesehatan di tingkat
pertama seperti klinik, dokter keluarga, Puskesmas adalah tarif kapitasi. Dan
untuk fasilitas kesehatan rujukan seperti Rumah Sakit (RS) menggunakan Ina
CBG’s.
Tarif kapitasi diberikan kepada fasilitas kesehatan primer berdasarkan
jumlah peserta yang terdaftar dalam suatu wilayah tanpa memperhitungkan jenis
dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Kapitasi yang dibayar BPJS
Kesehatan mengacu beberapa hal seperti berapa banyak dokter yang bertugas
pada satu fasilitas kesehatan primer. Kemudian bentuknya apakah klinik atau
Puskesmas. Tarif ini terdiri atas Rp. 3 ribu – Rp. 6 ribu untuk puskesmas, Rp. 8
ribu – Rp. 10 ribu untuk klinik pratama, praktek dokter, atau dokter praktek
beserta jaringannya, dan Rp 2 ribu untuk praktik dokter gigi mandiri untuk satu
satu orang peserta dalam satu bulan.
Perbedaan didasarkan atas kelengkapan fasilitas dan kapasitas pasien pada
tiap layanan kesehatan. Lewat sistem kapitasi, fasilitas kesehatan primer dituntut
bukan hanya mengobati peserta BPJS Kesehatan tapi juga memberikan pelayanan
promotif dan preventif atau pencegahan. Jadi pemasukan fasilitas kesehatan
primer tidak tergantung dari banyaknya pasien yang datang setiap bulannya, tetapi
pada jumlah peserta terdaftar yang menjadi tanggungan di wilayahnya.
Pendapatan dokter layanan primer, akan bergantung pada sisa biaya
kapitasi. Makin sedikit masyarakat yang sakit, maka biaya kapitasi yang
digunakan untuk mengobati penyakit semakin kecil. Sehingga sisa biaya, yang
salah satunya digunakan untuk membayar jasa medik dokter, bisa semakin besar.
Untuk dokter yang bekerja di puskesmas mungkin akan mendapat jasa medik.
yang besar
karena banyaknya pasien BPJS yang berasal dari askes dan jamkesmas.
Akan tetapi besarnya jasa medik yang diterima dokter di puskesmas tergantung
dari status puskemas itu sendiri apakah berstatus Badan Layanan Umum Daerah
(BLUD) atau bukan. Kalau berstatus BLUD, maka dananya dikelola secara
mandiri oleh puskesmas yang bersangkutan. Sedangkan yang bukan BLUD,
dananya akan melalui pemerintah daerah dulu. Untuk dokter keluarga dan dokter
praktek yang ikut BPJS, mereka harus berjuang untuk mendapatkan pasien BPJS
yang terdaftar atas namanya. Sehingga mereka dituntut untuk menjalin jejaring
sekaligus mempromosikan BPJS ini.
Pada sistem Ina CBGs, tarifnya sesuai dengan diagnosis penyakit dan tipe
rumah sakit. Jadi semakin tinggi tipe rumah sakitnya, semakin besar tarif yang
dikeluarkan sesuai dengan diagnosis penyakit. Tarif rumah sakit A, B, C, dan D
berbeda bergantung pada fasilitas dan kapasitas di rumah sakit tersebut.
Pemasukan dokter tergantung pada RS yang bersangkutan. Pembayaran dokter
tidak lagi menggunakan mekanisme fee for service atau pola PPE (Paket
Pelayanan Esensial)- menggunakan sistem reimburse, melainkan renumerasi.
Maksudnya, gaji bulanan berbasis pada kinerja. Tarif ini nantinya mirip gaji
bulanan dan diterima dalam jumlah tetap.
Sistem renumerasi merupakan kesepakatan antara dokter dan manajemen
rumah sakit maupun pemerintah. Tarif renumerasi tersebut dibayar dengan harga
paket yang ada dalam INA-CBG’s, termasuk penggunaan obat dan fasilitas
lainnya. Yang menjadi kendala pada sistem renumerasi adalah bagaimana
mendapatkan nilai yang adil sesuai dengan beban kerja dokter yang bersangkutan.
Kalau menggunakan tariff yang dulu yaitu tarif fee for service, tampak jelas
jumlah jasa medik yang didapat sesuai dengan pelayanan yang diberikan pada
masing-masing dokter. 2
8. Bagaimana system pembiayaan kesehatan di Indonesia?
Jawab:

Sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia secara umum terbagi dalam 2


sistem yaitu :

1. Fee for service ( Out pf Pocket)

Sistem ini secara singkat diartikan sebagai sistem pembayaran berdasarkan


layanan, dimana pencari layanan kesehatan berobat lalu membayar kepada
pemberi pelayanan kesehatan (PPK). PPK mendapatkan pendapatan
berdasarkan atas pelayanan yang diberikan, semakin banyak yang dilayani
semakin banyak pula pendapatan yang diterima
2. Health Insurance
Sistem ini diartikan sebagai sistem pembayaran yang dilakukan oleh phak
ketiga atau pihak asuransi setelah pencari layanan kesehatan berobat. Sistem
health insurance dapat berpa system kapitasi dan sistem diagnose related group
(DRG system).
Sistem kapitasi merupakan metode pembayaran untuk jasa pelayanan
kesehatan dimana PPK menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta untuk
pelayanan yang telah ditentukkan per periode waktu. Pembayaran bagi PPK
dengan system kapitasi adalah pembayaran yang dilakukan oleh suatu lembaga
kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan dengan pembayaran di muka
sejumlah dana sebesar perkalian anggota dengan satuan biaya (unit cost)
tertentu. Salah satu lembaga di Indonesia adalah Badan Penyelenggara JPKM
(Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).
Masyarakat yang telah menajdi peserta akan membayar iuran dimuka
untuk memperoleh pelayanan kesehatan paripurna dan berjenjang dengan
pelayanan tingkat pertama sebagai ujung tombak yang memenuhi kebutuhan
utama kesehatan dengan mutu terjaga dan biaya terjangkau. Sistem kedua yaitu
DRG (Diagnose Related Group) tidak berbeda jauh dengan system kapitasi di
atas.
Pada system ini, pembayaran dilakukan dengan melihat diagnosis penyakit
yang dialami pasien. PPK telah mendapat dana dalam penanganan pasien
dengan diagnosis tertentu dengan jumlah dana yang berbeda pula tiap diagnosis
penyakit. Jumlah dana yang diberikan ini, jika dapat dioptimalkan
penggunaannya demi kesehatan pasien, sisa dana akan menjadi pemasukan
bagi PPK. Kelemahan dari system Health Insurance adalah dapat terjadinya
underutilization dimana dapat terjadi penurunan kualitas dan fasilitas yang
diberikan kepada pasien untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.
Selain itu, jika peserta tidak banyak bergabung dalam system ini, maka resiko
kerugian tidak dapat terhindarkan. Namun dibalik kelemahan, terdapat
kelebihan system ini berupa PPK mendapat jaminan adanya pasien (captive
market), mendapat kepastian dana di tiap awal periode waktu tertentu, PPK taat
prosedur sehingga mengurangi terjadinya multidrug dan multidiagnose. Dan
system ini akan membuat PPK lebih kea rah preventif dan promotif kesehatan.

3. Sistem Pembiayaan Berdasar Gaji

Pada sistem ini, sang dokter akan menerima penghasilan tetap di tiap
bulannya sebagai balas jasa atas layanan kesehatan yang telah diberikan.
Termasuk di dalamnya sistem pembayaran pada penyedia layanan kesehatan
yang bekerja di instansi dimana dokternya dibayarkan berdasar gaji bulanan di
instansi tersebut, bukan dari jenis layanan kesehatan yang diberikannya.

4. Sistem reimbursement
Sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak perusahaan berdasar
layanan kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien. Metode ini pada
dasarnya mirip dengan fee for service, hanya saja dana yang dikeluarkan bukan
oleh pasien, tapi pihak perusahaan yang menanggung biaya kesehatan pasien,
namun berbeda dengan kapitasi karena metode ini melihat jumlah kunjungan
dan jenis layanan yang diberikan oleh provider.3,8

Dari pembahasan ketiga sistem pembiayaan diatas, tentu saja setiap


metodenya memiliki segi positif dan negative masing – masing. Hal tersebut
dapat dirangkum sbb :

Sistem Kelebihan Kekurangan


Pembiayaan
Fee For Service · Penanganan yang · Sering terjadi
diberikan dokter cendrung moral hazard dimana
lebih maksimal dan tidak provider akan sengaja
terkesan terbatas – batas secara berlebihan
member layanan
kesehatan dengan
tujuan meningkatkan
pendapatan dari
layanan tersebut
Kapitasi · Kepastian adanya pasien · Sering terjadi
· Jaminan pendapatan di underutilisasi
awal tahun / bulan (pengurangan layanan
· Semakin efisien layanan, yang diberikan)
semakin banyak · Kebanyakan
pendapatan dokter merasa
· Dokter lebih taat dirugikan
prosedur · Bila peserta
· Lebih menekankan pada sedikit, dapat
pencegahan dan promosi merugikan dokter
kesehatan
Gaji · Dokter memperoleh · Sering terjadi
pendapatan yang tetap tiap kerjasama antara pihak
bulannya berdasar upah provider dengan
minimal yang telah bagian lain untuk
ditentukan memperoleh
pendapatan yang lebih
banyak
· Dokter cendrung
melakukan pelayanan
kesehatan seadanya
dan kurang optimal
Reimbursement · Dokter akan melakukan · Sering terjadi
penangan dengan maksimal pemalsuan identitas
· Biaya kesehatan datang dan dimanfaatkan oleh
dari pihak perusahaan pihak lain
sehingga pasien tidak perlu · Sering terjadi
mengeluarkan biaya selain adanya overutilisasi
premi (bila ada premi) dari penyedia layanan
kesehatan

9. Jelaskan sumber, model dan macam-macam pembiayaan kesehatan nasional?


Jawab:
Sumber pembiayaan nasional
a) Bersumber dari anggaran pemerintah
Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan
sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya diberikan secara
cuma-cuma oleh pemerintah sehingga sangat jarang penyelenggaraan
pelayanan kesehatan disediakan oleh pihak swasta. Untuk negara yang
kondisi keuangannya belum baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena
memerlukan dana yang sangat besar. Anggaran yang bersumber dari
pemerintah ini dibagi juga menjadi :
 Pemerintahan pusat dan dana dekonsentrasi, dana program
kompensasi BBM dan ABT
 Pemerintah provinsi melalui skema dana provinsi (PAD ditambah
dana desentralisasi DAU provinsi dan DAK provinsi)
 Pemerintah kabupaten atau kota melalui skema dana kabupaten
atau kota (PAD ditambah dana desentralisasi DAU kabupaten atau
kota dan DAK kabupaten atau kota)
 Keuntungan badan usaha milik daerah
 Penjualan aset dan obligasi daerah
 Hutang pemerintah daerah
b) Bersumber dari anggaran masyarakat
Dapat berasal dari individual ataupun perusahaan. Sistem ini
mengharapkan agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara mandiri
dalam penyelenggaraan maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan
dampak adanya pelayanan-pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pihak
swasta, dengan fasilitas dan penggunaan alat-alat berteknologi tinggi
disertai peningkatan biaya pemanfaatan atau penggunaannya oleh pihak
pemakai jasa layanan kesehatan tersebut. Contohnya CSR atau Corporate
Social Reponsibility) dan pengeluaran rumah tangga baik yang dibayarkan
tunai atau melalui sistem asuransi.
c) Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri
Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya untuk penatalaksanaan
penyakit-penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari bantuan biaya pihak
lain, misalnya oleh organisasi sosial ataupun pemerintah negara lain.
Misalnya bantuan dana dari luar negeri untuk penanganan HIV dan virus
H5N1 yang diberikan oleh WHO kepada negara-negara berkembang
(termasuk Indonesia).
d) Gabungan anggaran pemerintah dan masyaraka
Sistem ini banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia karena dapat
mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang timbul pada sumber
pembiayaan kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan yang
dibutuhkan ditanggung sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan
layanan kesehatan bersubsidi. Sistem ini juga menuntut peran serta
masyarakat dalam memenuhi biaya kesehatan yang dibutuhkan dengan
mengeluarkan biaya tambahan.
Dengan ikut sertanya masyarakat menyelenggarakan pelayanan
kesehatan, maka ditemukan pelayanan kesehatan swasta. Selanjutnya
dengan diikutsertakannya masyarakat membiayai pemanfaatan pelayanan
kesehatan, maka pelayanan kesehatan tidaklah cuma-cuma. Masyarakat
diharuskan membayar pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya.
Sekalipun pada saat ini makin banyak saja negara yang mengikutsertakan
masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, namun tidak ditemukan satu
negara pun yang pemerintah sepenuhnya tidak ikut serta. Pada negara
yang peranan swastanya sangat dominan pun peranan pemerintah tetap
ditemukan. Paling tidak dalam membiayai upaya kesehatan masyarakat,
dan ataupun membiayai pelayanan kedokteran yang menyangkut
kepentingan masyarakat yang kurang mampu.

Model pembiayaan kesehatan nasional


Dari berbagai pengalamaan diberbagai negara, ada tiga model sistem
pembiayaan kesehatan bagi rakyat yang diberlakuakan secara nasional yakni:

 Model asuransi keseatan sosial ( Social Health insurance)


Model social health incurance berkembang di beberapa negara Erop
sejak tahun 1882 kemudian ke Negara-negara asia lainnya yakni Philipin,
korea dan Taiwan. Kelebhan sistem ini memungkinkan cakupan 100%
penduduk dan realtif rendahnypeningkatan niay peayanan kesehatan.

 Model asuransi kesehatan komersia ( Commercial/ Private Health


Insurance)
Model ini berkembang di AS. Sistem ini gagal encapaai 100%
penduduk sehingga Bank Dunia merekomendasikan pengembangan model
Regulated Health Incurence. Amerika Serikt adalah negara dengan
pengeluaran untuk kesehatan tertnggi (13,7 % GNP) pada tahun 1997
sementara Jepang hanya 7% GNP tetapi derajat esehatan ebih tinggi
Jepang. Indikator umur harapan hidup didapatkan untuk laki-laki 73,8
tahun dan anita 79,7 tahun di Amerika Serikat sedangkan jepang umur
harapan hidup laki-laki 77,6 tahun dan wanita 84,3 tahun.
 Model NHS (ntional Health Service)
Midel NHS ini dirinti pemerintah Inggris sejak uai perang dunia
kedua. Model ini juga membuka peluang cakupan 100%penduduk, namn
pebiayaan kesehatan yang dijamin melalui anggaran pemerintah akan
menjadi bebean yang berat.

Macam pembiayaan kesehatan nasional

1) Biaya pelayanan kedokteran


Biaya yang dimaksud disini adalah biaya yang dibutuhkan untuk
menyelenggarakandan memanfaatkan pelayanan kedokteran, yakni yang
tujuan utamanya untuk mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan
pasien dengan sumber dana terutama dar sektor pemerintah maupun
swasta..
2) Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Biaya ini adalah yang dibutuhkan untuk meyenlenggarakanan
memanfaatan pelayana kesehatan masyakrakat yakni yang tujuan
utamanya unuk meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakait
dengan sumber dana terutama dari sektr pemerintaah.8,9

10. Sebutkan fungsi pembiayaan kesehatan?


Jawab:
a. Penggalian dana
1) Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).
Sumber dana untuk UKM terutama berasal dari pemerintah baik pusat
maupun daerah, melalui pajak umum, pajak khusus, bantuan dan pinjaman
serta berbagai sumber lainnya. Sumber dana lain untuk upaya kesehatan
masyarakat adalah swasta serta masyarakat. Sumber dari swasta dihimpun
dengan menerapkan prinsip public-private patnership yang didukung dengan
pemberian insentif, misalnya keringanan pajak untuk setiap dana yang
disumbangkan. Sumber dana dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh
masyarakat sendiri guna membiayai upaya kesehatan masyarakat, misalnya
dalam bentuk dana sehat atau dilakukan secara pasif yakni menambahkan
aspek kesehatan dalam rencana pengeluaran dari dana yang sudah
terkumpul di masyarakat, contohnya dana sosial keagamaan.
2) Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berasal
dari masing-masing individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi masyarakat
rentan dan keluarga miskin, sumber dananya berasal dari pemerintah
melalui mekanisme jaminan pemeliharaan kesehatan wajib.

b. Pengalokasian dana
1) Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal dari
pemerintah untuk UKM dan UKP dilakukan melalui penyusunan anggaran
pendapatan dan belanja baik pusat maupun daerah sekurang-kurangnya 5%
dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap
tahunnya.
2) Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari masyarakat
untuk UKM dilaksanakan berdasarkan asas gotong royong sesuai dengan
kemampuan. Sedangkan untuk UKP dilakukan melalui kepesertaan dalam
program jaminan pemeliharaan kesehatan wajib dan atau sukarela.

c. Pembelanjaan
1) Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public-private
patnership digunakan untuk membiayai UKM.
2) Pembiayaan kesehatan yang terkumpul dari Dana Sehat dan Dana
Sosial Keagamaan digunakan untuk membiayai UKM dan UKP.
3) Pembelajaan untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan
kesehatan keluarga miskin dilaksanakan melalui Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan wajib.9

11. Jelaskan Prinsip dan bentuk jaminan mutu pelayanan kesehatan?


Jawab:
Prinsip Jaminan Mutu Pelayanan :
a. Bekerja dalam tim
b. Fokus pada perubahan proses
c. Orientasi kinerja pada pelanggan
d. Pengambilan keputusan berdasarkan data
e. Adanya komitmen keputusan berdasarkan data

Dan terdapat 14 prinsip perbaikan mutu

a. Peningkatan mutu merupakan tujuan yang secara konsisten hendak


dicapai
b. Menerapkan filosofi mutu
c. Mengurangi ketergantungan pada pengawasan
d. Hentikan pendapt harga membawa nama
e. Peningkatan yang berkesinambungan sistem pelayanan dan produksi
f. Merencanakan dan melaksanakan program diklat yang membangung
g. Pendidikan dan pelatihan karyawan
h. Kepemimpinan yang mempunyai komitmen terhadap mutu
i. Menghilangkan rasa takut dalam iklim kerja pelayanan
j. Menghilangkan barier antar unit kerja membatasai slogan
k. Mengurangni penekanan pada angka pencapaian target
l. Menghilangkan hambatan pada kepuasan kerja

Bentuk Jaminan Mutu, yaitu :


1. Program menjaga mutu prospektif
Diselenggarakan sebelum pelayanan kesehatan. Pada
bentuk ini perhatian utama lebih ditunjukkan pada standar masukan
dan standar lingkungan yaitu pemantauan dan penilaian terhadap
tenaga pelaksana, dana, sarana, disamping terhadap kebijakan,
organsasi, dan manajemen institusi kesehatan. Prinsip pokok
program menjaga mutu prospektif sering dimanfaatkan dan
tercantum dalam banyak peraturan perundang-undangan
diantaranta : standarisasi, perizinan, sertifikasi, akreditasi.
2. Program menjaga mutu konkuren
Diselenggarakan kebersamaan dengan pelayanan
kesehatan. Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditujukan pada
standar proses, yakni memantau dan menilai tindakan medis,
keperawatan, dan non medis yang dilakukan.
Mutu pelayanan kesehatan sebenarnya menunjuk pada
penampilan dari pelayanan kesehatan yang dikenal dengan
keluaran (output) yaitu hasil akhir kegiatan dari tindakan dokter
dan tenaga profesi lainnya terhadap pasien, dalam arti perubahan
derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun negatif.
Sedangkan baik atau tidaknya keluaran tersebut sangat dipengaruhi
oleh proses (process), masukan (input), dan lingkungan
(environment). Sehingga pelayanan untuk menjamin baiknya mutu
pelayanan ketiga unsur harus diupayakan sedemikian rupa agar
sesuai dengan standar dan kebutuhan
3. Program menjaga mutu retrospektif
Diselenggarakan setelah pelayanan kesehatan, sehingga
lebih diperhatian utama lebih ditujukan pada standar keluaran
yakni memantau dan menilai penampilan pelayana kesehatan,
dapat berupa hasil kerja pelaksana pelayanan atau berupa
pandangan pemakai jasa kesehatan.

Jaminan mutu
Mutu dalam pelayanan kesehatan adalah tingkat dimana pelayanan
kesehatan pasien ditingkatakan mendekati hasil yang diharapkan dan
mengurangi faktor-faktor yang tidak diinginkan (JCAHO, 1993). Jaminan
mutu adalah suatu proses yang obyektif dan sistematis dalam memonitor
dan mengevaluasi mutu dan kesiapan dalam pelayanan terhadap pasien
dalam meningkatakn pelayanan, dan memecahkan masalah yang telah
diidentifikasi (JCAHO). Oleh karena itu jaminan mutu didefinisikan dalam
tiga kegiatan yang tidak terpisahkan yaitu :
1. Merencakan suatu produk atau pelayanan dan pengendalian
produknya yang tidak dapat dilepaskan dari mutu. Dalam
pelayanan kesehatan, aktifitas dan program dimaksudkan
menjamin atau memberi garansi terhadap mutu
2. Pengendalian mutu adalah suatu proses dimana kinerja aktual
dinilai atau diukur, dan dibandingkan dengan tujuan serta
perbedaan atau penyimpangan ditindaklanjtui dengan
menggunakan metode statistik
3. Peningkatan mutu : proses pencapaian suatu tingkat kinerja atau
mutu baru yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pencapaian tingkat
mutu baru adalah yang terbaik dari pada tingkat mutu sebelumnya
Oleh Depkes RI, jaminan mutu merupakan upaya yang
dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, objektif, dan terpadu
dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan
berdasarkan standar yang telah ditetapkan dan selanjutnya menetapkan
serta melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan
yang tersedia, menilai hasil yang dicapai dan menyusun rencana saran
tindak lanjut untuk lebih meningkatkan kesehatan. Sedangkan pengertian
dari
Terdapat 12 faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan
kesehatan yang dituangkan dengan spesifikasi seperti dibawah ini :
 Kelayakan : tingkat dimana perawatan atau tindakan yang
dilakukan relevan terhadap kebutuhan klinis pasien dan
memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan
keadaannya
 Kesiapan : tingkat dimana kesiapan perawatan atau
tindakan yang layak dapat memenuhi kebutuhan pasien
sesuai keperluannya
 Kesinambungan : tingkat dimana perawatan atau tindakan
yang dilakukan dengan baik setiap saat, diantara tim
kesehatan dalam organisasi
 Efektifitas : tingkat dimana perawatan atau tindakan yang
dilakukan dengan benar, serta mendapatkan penjelasan dan
pengetahuan sesuai dengan keadaannya, dalam rangka
memnuhi harapan pasien
 Kemanjuran : tingkat dimana perawatan atau tindakan yang
diterima pasien dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk
menyempurnakan hasil sesuai harapan pasien
 Efisiensi : ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasien
terhadap sumber-sumber yang dipergunakan dalam
memberikan layanan bag pasien
 Penghormatan dan perhatian : pasien dilibatkan dalam
pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya
 Keamanan : dimana bahaya lingkungan perawatan
diminimalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain,
termasuk petugas kesehatan
 Ketepatan waktu : dimana perawatan atau tindakan
diberikan kepada pasien tepat waktu sangat penting dan
bermanfaat.

Jaminan mutu juga merupakan suatu proses yang dilaksanakan


secara berkesinambungan, sistematis, obyektif, dan terpadu untuk:

 menetapkan masalah dan penyebabnya berdasarkan standar


yang telah ditetapkan,
 menetapkan upaya penyelesaian masalah dan melaksanakan
sesuai kemampuan menilai pencapaian hasil dengan
menggunakan indikatir yang ditetapkan,
 menetapkan dan menyusun tindak lanjut untuk
meningkatkan mutu pelayanan

walaupun mutu tidak selalu dapat dijamin tetapi dapat diukur. Jika
bisa diukur, berarti bisa ditingkatkan dan dapat disempurnakan.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi indikator kunci
mutu dalam pelayanan, memonitor indikator tersebut dan
mengukur mutu hasilnya. Jadi upaya pendekatan yang dilakukan
diawali dari jaminan mutu (QA), mengarah pada peningkatan mutu
yang proaktif (QI).10

12. Apa saja syarat pokok pelayanan kesehatan?


Jawab:

Pelayanan kesehatan yang baik memiliki berbagai persyaratan pokok.


Syarat pokok yang dimaksud (Azwar, 1996:36) yaitu sebagai berikut:

1. Tersedia dan berkesinambungan

Yaitu syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah


pelayanan kesehtaan tersebut harus tersedia di masyarakat serta bersifat
berkesinambungan. Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan
oleh masyarakat tidak sulit ditemukan serta keberadaannya dalam masyarakat
selalu ada ketika dibutuhkan.

2. Dapat diterima dan wajar

Pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan


kepercayaan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adapt
istiadat, kebudayaan, keyakakinan, dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat
tidak wajar bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.

3. Mudah dicapai

Lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Dengan demikian maka


pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting, pelayanan
kesehatan yang terlalu terkonsentrasi pada perkotaan saja dan tidak ditemukan di
daerah pedesaaan bukanlah pelayanan kesehatan yang baik.

4. Mudah dijangkau

Dapat dilihat dari segi biaya, untuk dapat mewujudkan keadaan yang
seperti ini harus diupayakan biaya pelayanan kesehatan yangb sesuai dengan
kemempuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal dan hanya
bisa dijangkau oleh sebagian masyarakat bukanlah pelayanan kesehatan yang
baik.

5. Bermutu

Maksudnya menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan


yang diselenggarakan, yang di satu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa
pelayanan. Dan dipihak lain tata cara penyelenggaraan sesuai kode etik serta
standar yang telah ditetapkan.9

13. Jelaskan Standar dan Strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan?


Standar layanan kesehatan adalah suatu pernyataan tentang mutu yang
diharapkan yaitu akan menyangkut masukan (input), proses dan keluaran
(output) system layanan kesehatan.
Input (masukan) terdiri atas mutu petugas, bahan, alat, dan sebagainya,
biasanya dikaitkan dengan penggunaaan dan penguasaan ilmu dan teknologi.
Proses mencakup mutu kerja dan mutu pelayanan, biasanya memakai standar
etika kepuasaan rata-rata komunitas. Sedangkan keluaran (ouput) biasanya
dikaitkan dengan kinerja pemberi pelayanan kesehatan.
Penegelolaan mutu harus selalu menghasilkan standarisasi. Standarisasi
bertujuan untuk mempertahankan hasil dan mencegah mutu pelayanan intitusi
kesehatan termasuk kesehatan termasuk puskesmas.1

14. Jelaskan cakupan pelayanann mutu yang dilakukan?


Jawab:
a) Batasan menajemen mutu
Program jaminan muutu merupakan suatu upaya ang dilaksanakan
secara berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu untuk:
 Menetapkan masalah mutu dan penyebabnya berdasarkan
standar yang telah ditetapkan.
 Menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah
sesuai dengan kemampuan yang tersedia.
 Menilai hasil yang dicapai.
 Menyusun rencana tindak lanjut untuk lebih meningkatkan
mutu.

Dari batasan tersebut dapat diketahui bahwa jaminan mutu


merupakan sebuah proses yang dilakukan secara bertahap tetapi
berkelanjutan, mulai dari identifikasi masalah mutu mencari dan
menerapkan solusi serta menilai hsilnya dalam bentuk peningkatan
mutu dan penutruruanan biaya produksi. Beberapa istilah tentang
progrm jaminan mutu yang sudah diperkenalan oleh banyak pakar
adalah :

 Program pengawasan mutu


 Prgram peningkatan mutu
 Menajmen mutu terpadu
 Peningktan mutu berkesinambungan
b) Tujuan program jaminan mutu
Jika sebuah orgnisasi kesehatan ingin menerapkan menajmen
mutu, maka harus dirumuskan tujuannya terlebih dahulu. Tujuan
ersebut adalah tujuan pengembangan mutu, pimpinan mutu stf
organisasi tersebut harus merumuskn masalah mutu pelayanan.
Masalah mutu dijadikan dasar untuk menerapkan tujuan
peningkatan mutu yang ingin icapai. Sedangkan tujuan akhir
ditetpkan untuk mnjaga mutu pelayanan kesehatan adalah
meningkatkan mutu produksi dan jas pelayanan kesehaan.Tujuan
ini terkait dengan kepuasan konsumen, termasuk trunnya biaya
produksi dan jasa.
c) Tahapan kegiatan program jaminan mutu
Operasional jaminan mutu layanan kesehata adalah upaya yang
sistematis dan berkesinambungan dalam memantau dan mengukur
mutu serta melakukan peningkatan mutu diperlukan agar mutu
layanan kesehatan senantiasa sesuai dngn stndar layanan kesehatan
yang disepakati. Pendekatan jaminan mutu layanan kesehatan
dilaksanakan melalui tahap-tahap:
 Sadar mutu
 Menyusun standar
 Mengukur apa yang terjadi
 Membuat rencana peningkatan mutu layanan ksehatan
 Melakukan peningatan mutu layanan kesehatan yang
diperlukan

Sasaran yang ingin dicapai dalam upaya peningkatan mutu dalah :

 Menurunkan angk kematian


 Menurunkan angka kecacatan
 Meningkatkan kepuasa masyarakat dan emberian ellayanan
kesehatan kepada masyarakat terutam wilayah kerjany

Penggunaan obat secara rasional serta tindakan pengbtan
yang wajar.11

15. Jelaskan Standar pelayanan berdasarkan etika kedokteran!


Jawab:
Pasal 2 : Standar pelayanan kedokteran yang baik
Seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan keputusan
professional secara independen, dan mempertahankan perilaku professional
dalam ukuran yang tertinggi.
Cakupan pasal :
(1) Seorang dokter wajib mempertahankan standar profesi, integritas moral dan
kejujuran intelektual dirinya sebagai dasar pengambilan keputusan
professional.
(2) Pengambilan keputusan professional sebagaimana dimaksud pada pasal 2
dan standar tertinggi profesi sebagaimana dimaksud cakupan pasal butir 1
merupakan kombinasi selaras, serasi dan seimbang antara keputusan medis
teknis dengan keputusan etis yang berasal dari totalitas pelayanan terhadap
pasien yang merupakan perilaku keutamaan profesi.
(3) Pengambilan keputusan kedokteran yang professional sebagaimana
dimaksud pada pasal 2, dilakukan setelah melakukan pemeriksaan dan
penilaian yang teliti terhadap pasien dengan menggunakan standar
pedoman pelayanan kedokteran yang telah diakui secara sah.
(4) Dalam hal situasi fasilitas pelayanan kesehatan tidak optimal atau kurang
memadai untuk mendukung pelayanan yang diberikan, pengambilan
keputusan professional wajib diwujudkan dalam atau disertai dengan
perilaku professional terbaik dokter demi kepentingan terbaik pasien.
(5) Dalam hal terjadi dilemma etik dalam pemberian pelayanan kesehatan,
setiap dokter wajib bersikap sesuai keutamaan profesinya.
(6) Setiap dokter secara sendiri-sendiri maupun bersama melalui organisasi
profesi kedokteran wajib memperjuangkan dipenuhinya fasilitas, sarana
dan prasarana sesuai dengan standar minimal dan/atau pedoman nasional
pelayanan kedokteran yang menjamin dipenuhinya keselamatan pasien.

Pasal 12 : Pelayanan kesehatan holistic


Dokter melakukan pekerjaannya seorang dokter wajib memperhatikan
keseluruhan aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif,
rehabilitative dan paliatif), baik fisik maupun psiko-sosial-kultural pasiennya,
serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat.
Cakupan pasal :
(1) Setiap dokter wajib memandang seorang klien/pasien sebagai manusia
utuh/holistic berwujud kesatuan bio-psiko-sosio-kultural-spiritual dan
bertindak dalam pelayanan kesehatan menyeluruh/ komprehensif unutk
mendukung terwujudnya derajat kesehaatan individu dan masyarakat yang
optimal dengan cara melakukan intervensi medic terhadap derajat
kesehatan masyarakat.
(2) Setiap dokter wajib menghargai kearifan local dan berperan sebagai agen
pe-ubah kea rah masyarakat lebih baik, damai, adil dan sejahtera berkat
kepemimpinan transformative yang dimilikinya, sesuai dengan kompetensi
dokter yang tertera dalam dokumen pendidikan kedokteran sederajat.
(3) Soerang dokter seharusnya memahami klien/pasien yang ditanganinya
memiliki konstruksi berpikir dan bersikap tindak perilaku sesuai dengan
lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya dalam
menyatakan,menginginkan dan mengatasi penyakitnya.
(4) Seorang dokter seharusnya memahami bahwa pendekatan kedokteran
modern yang positivistic selain memiliki kekuatan juga mengandung
kelemahan, yang dapat diatasi melalui pendekatan kedokteran holistic baik
yang integrative maupun yang sinergistik.
(5) Dalam aspek promotif, seorang dokter seharusnya bertindak sebagai
advocator/ pemberdaya masyarakat melalui pengorganinasian mrerka baik
melalui pendidikan kesehatan, perbaikan lingkungan fisik, social, ekonomi
dan budaya agar dapat membantu masyarakat mampu memilih pola hidup
sehat dan semakin lebih sehat lagi.
(6) Dalam aspek preventif, seorang dokter seharusnya bertindak sebagai
pemberi pelayanan, pendidikan kesehatan dan perlindungan pencegahan
supaya klien dan keluarganya dapat tetap sehat, terhindar dari risiko atau
sumber penyakit.
(7) Dalam aspek rehabilitative, seorang dokter seharusnya bertindak untuk
mengembalikan dan memulihkan fungsi gangguan, disabilitas atau
kecacatan serta keterbatasan gerak social pasien termasuk mencegah
stigmatisasi dan ketimpangan sosialnya sehingga tercapai kualitas hidup
yang layak.
(8) Dalam aspek paliatif, seorang dokter khususnya pada pasien yang tidak
akan tersembuhkan walau segala upaya medic dilakukan wajib
mengupayakan kenyamanan pasien agar jangan sampai tersiksa/menderita
karena penyakitnya sehingga terjunjung tinggi nilai kemanusiaanya dan
akhirnya wafat secara bermartabat.12

16. Apa saja standar keselamatan pasien di puskesmas dan di RS dan bagaimana
evaluasi penilaian layanan mutu?
Jawab:
Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu
ditangani segera di rumah sakit di Indonesia maka diperlukan standar
keselamatan pasien rumah sakit yang merupakan acuan bagi rumah sakit di
Indonesia untuk melaksanakan kegiatannya. Standar Keselamatan Pasien wajib
diterapkan rumah sakit dan penilaiannya dilakukan dengan menggunakan
Instrumen Akreditasi Rumah Sakit.
Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar yaitu:
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien
Uraian tujuh standar tersebut diatas adalah sebagai berikut:

I. Hak pasien
Standar:
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
insiden.
Kriteria:
1.1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.
1.2. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana
pelayanan.
1.3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan
secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana
dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk
kemungkinan terjadinya insiden.

II. Mendidik pasien dan keluarga


Standar:
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban
dan
tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

Kriteria:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan
keterlibatan pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena
itu, di rumah sakit harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan
keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan
pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat :
1. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.
2. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga.
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.
4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
5. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit.
6. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
7. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

III. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan


Standar:
Rumah Sakit menjamin keselamatan pasien dalam kesinambungan
pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria:
1. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat
pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan,
tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit.
2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan
pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga
pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat
berjalan baik dan lancar.
3. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan
komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan
keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan
kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.
4. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman
dan efektif.

IV. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan


evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
Standar:
Rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang
ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Kriteria:
1. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (desain)
yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit,
kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini,
praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko
bagi pasien sesuai dengan “Tujuh Langkah Menuju Keselamatan
Pasien Rumah Sakit”.
2. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang
antara lain terkait dengan: pelaporan insiden, akreditasi, manajemen
risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
3. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan
semua insiden, dan secara proaktif melakukan evaluasi satu proses
kasus risiko tinggi.
4. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi
hasil analisis untuk menentukan perubahan sistem yang diperlukan,
agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.
V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
Standar:
1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan
pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan “Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit “.
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi insiden.
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk
mengukur,mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta
meningkatkan keselamatan pasien.
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.
Kriteria:
1. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
2. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan
program meminimalkan insiden.
3. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari
rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan
pasien.
4. Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan
kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain
dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
5. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan
insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang
Analisis Akar Masalah “Kejadian Nyaris Cedera” (Near miss) dan
“Kejadian Sentinel’ pada saat program keselamatan pasien mulai
dilaksanakan.
6. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya
menangani “Kejadian Sentinel” (Sentinel Event) atau kegiatan proaktif
untuk memperkecil risiko, termasuk mekanisme untuk mendukung staf
dalam kaitan dengan “Kejadian Sentinel”.
7. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit
dan antar pengelola pelayanan di dalam rumah sakit dengan pendekatan
antar disiplin.
8. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam
kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan pasien,
termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut.
9. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan
kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah
sakit dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan
implementasinya.
VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Standar:
1. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk
setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien
secara jelas.
2. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta
mendukung pendekatan interdisipliner dalam pelayanan pasien.
Kriteria:
1. Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan
orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai
dengan tugasnya masing-masing.
2. Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien
dalam setiap kegiatan in-service training dan memberi pedoman yang jelas
tentang pelaporan insiden.
3. Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama
kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisipliner dan
kolaboratif dalam rangka melayani pasien.
VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan
pasien
Standar:
1. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal.
2. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
Kriteria:
1. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang halhal terkait
dengan keselamatan pasien.
2. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang ada.13

17. Jelaskan Etika dan landasan hukum kedokteran?

Etik akhlak, adat kebiasaan, watak perasaan, sikap baik, yang layak atau
seperangkat asas dan nilai yang berkaitan seperti asas kode etik

Etik : seperangkat asas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak seperti dalam
kode etik.

Etika : ilmu pengetahuan tentang azas akhlak.


Menurut kamus bahasa Indonesia dari departemen pendidikan dan kebudayaan
(1988),etika adalah :
- Ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk dan hak dan kewajiban moral.
- Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
- Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Etika kedokteran : pengetahuan tentang perilaku professional para dokter dan


dokter gigi dalam menjalankan pekerjaannya sebagaiman tercantum dalam lafal
sumpah dan kode etik masing-masing yang telah disusun oleh organisasi
profesinya bersama-sama pemerintah.

Landasan etik kedokteran :

- Sumpah hippokrates (460-377 SM)


- Deklarasi geneva (1948)
- International code of medical ethics (1949)
- Lafal sumpah dokter Indonesia (1960)
- Kode etik kedokteran Indonesia (1983)
- Pernyataan-pernyataan (deklarasi) ikatan dokter sedunia (world medical
association, WMA) yaitu antara lain :
- Deklarasi geneva (1948) tentang laval sumpah dokter
- Deklarasi Helsinki (1964) tentang riset klinik
- Deklarasi Sydney (1968) tentang saat kematian
- Deklarasi oslo (1970) tentang pengguguran kandungan atas
indikasi medic
- Deklarasi Tokyo (1975) tentang penyiksaan

Etika yang Dibenarkan dalam Kedokteran


- Menggantung atau memancangkan papan nama di depan ruangan/
tempat praktek
- Kertas resep berukuran maksimal ¼ folio(10,5 x 16,5cm)

Ethical Methode Of Rasoning

Ethical Methode Of Rasoning langkah-langkah untuk memutuskan dilema


etik denagn menggunakan cara berfikir kritis untuk membuat keputusan yang
benar dalam menentukan tindakan kesehatan

Langkah-langkah Ethical Methode Of Resoning

a. Fact deliberation : pertimbangan terhadap fakta yang ada denagan cara


 Case
Menentukan kasus yang akan ditelaah terlebih dahulau sambil
memikirkan fakta-fakta yang ada
 Deliberation of fact
Pengungkapan fakta dari kasus yang diangkat untuk diselesaikan
b. Value deliberation : pertimbanagan terhadap nilai yang ada di masyarakat
 Identifikasi of problem
Menghubungkan masalah-masalah yang timbul dengan nilai-nilai
yang di kandung dalam kehidupan
 Choice of main problem
Memilih pokok permasalahan dan mengaitkannya dengan aspek nilai
kehidupan

 The values of stake


Menentukan nilai yang merupakan poin utama dalam masalah ynag
timbul
c. Duty deliberation : pertimbanagan atas kemungkinan yang akan terjadi dan
menentukan pilihan yang terbaik
 Reflecting on the most challenging case
Pertimbangan terhadap kasus yang sedang dihadapi setelah di
kaitkan dengan aspek nilai yang ada
 Reflecting on other case
Mempertimbangkan dengan kasus yang pernah terjadi sebelumnya
d. Testing consistensy : pertimbangan dengan membandingkan berdasarkan
hukum yang berlaku dan kemampuan kerja
e. Conclusion/ Final decision : keputusan akhir dari masalah
18. Apa saja Sarana dan prasarana pelayanan puskesmas?
Sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di puskesmas

1. puskesmas induk
a. sarana rawat jalan : poli umm, poli KIA, gigi, sanitasi, gizi, MTBS, DDTK
& fisioterapi
b. sarana rawat darurat : UGD, pelayanan kasus bersalin dengan kompetensi
PONED
c. sarana kamar operasi
d. sarana rawat inap (ruang vip, kelas 1,2,3
e. sarana penunjang (ruang loket, lab, kamar obat, radiologi, tata saha
f. sarana lai : ruang imunisasi, ruang IT, dapur, gedung alat, gudang obat,
gudang alat kebersihan
g. garasi
h. tempat parkir
i. kamar mandi
j. ruang satpam
k. ruang merokok
l. musolla,
m. ruang genset
n. bangunan IPAL

2. puskesmas pembantu

Tata kelola sarana dan prasarana puskesmas persyaratan puskesmas


sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, harus memnuhi
persyaratan lokasi, bangunan dan ruang, prasarana, peralatan, dan ketenagaan.
Pendirian puskesmas harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana,
peralatan kesehatan, ketenagaan, kefarmasian, dan laboratorium. Lokasi
pendirian puskesmas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. geografis
b. aksestabilitas untuk jalur transportasi
c. kontur tanah
d. fasilitas parkir
e. fasilitas keamanan
f. ketersediaan utilitas publik
g. pengelolaan kesehatan lingkungan, dan
h. kondisi lainnya

Selanjutnya puskesmas harus memiliki prasarana yang berfungsi paling sedikit


terdiri atas :

a. sistem penghawaan (ventilasi)


b. sistem pencahayaan
c. sistem sanitasi
d. sistem kelistrikan
e. sistem komunikasi
f. sistem gas medik
g. sistem proteksi petir
h. sistem proteksi kebakaran
i. sistem pengendalian kebisingan
j. sistem transportasi vertikal untuk bangunan lebih dari 1 (satu) lantai
k. kendaraan puskesmas keliling, dan
l. kendaraan ambulans

Peralatan kesehatan di Puskesmas harus memenuhi persyaratan :

a. standar mutu, keamanan, keselamatan


b. izin edar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, dan
c. diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi penguji dan pengkalibrasi
yang berwenang
Manajemen sarana dan prasarana kesehatan adalah seluruh proses
perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan yang digunakan
untuk menunjang pelayana kesehatan agar pencapaian tujuan dari pelayanan
kesehatan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif, dan efisien. Sarana
pelayanan kesehatan adalah semua peangkat peraltan, bahan, dan perabot yang
secara langsung digunakan dalam proses pelayanan kesehatan seperti.
Sedangkan prasarana pelayanan kesehatan adalah semua perangkat
kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang proses pelayanan
kesehatan, misalnya seperti lokasi, bangunan puskesmas, ruangan.

Proses manajemen sarana dan prasarana, meliputi :


1. pengadaan
Untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan pelayanan di
puskesmas, seperti menggantikan barang yang rusak, hilang, menjaga tingkat
persediaan barang setiap tahun, kegiatanny meliputi: analisis kebutuhan,
anggaran, seleksi, keputusan, pemerolehan
2. pendistribusian
pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang penanggungjwab
penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang yg membutuhkan barang
tersebut.
3. pemakaian dan pemeliharaan
Ada 2 prinsip yaitu keefektifitasan dimana sarana dan prasarana kesehatan
semata-mata untuk memperlancar pelayanan kesehatan dan efisiensi yaitu
sengan cara hemat dan hati-hati dalam menggunakan sarana dan prasarana
kesehatan di puskesmas
4. inventarisasi
Agar dapat tercipta administrasi barang, pengehmatan keuangan,
mempermudah pemeliharaan pengawasan
5. penghapusan
tujuannya untuk mencegah atau sekurang-kurangnya membatasi
kerugian/pemborosan biaya pemeliharaan sarana & prasarana yang kondisinya
semakin buruk dan tidak dapat digunakan lagi.1

19. Bagaimana SDM dan sarana yang di butuhkan di puskesmas?


PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 75 TAHUN 2014

TENTANG

PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT

BAB III
PERSYARATAN

Pasal 9

(1) Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan.

(2) Dalam kondisi tertentu, pada 1 (satu) kecamatan dapat didirikan lebih dari 1
(satu) Puskesmas.

(3) Kondisi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan berdasarkan
pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah penduduk dan aksesibilitas.

(4) Pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan,


prasarana, peralatan kesehatan, ketenagaan, kefarmasian dan laboratorium.

Pasal 10

(1) Lokasi pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan:

a. geografis;

b. aksesibilitas untuk jalur transportasi;

c. kontur tanah;

d. fasilitas parkir;

e. fasilitas keamanan;

f. ketersediaan utilitas publik;

g. pengelolaan kesehatan lingkungan; dan

h. kondisi lainnya.

(2) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pendirian Puskesmas
harus memperhatikan ketentuan teknis pembangunan bangunan gedung negara.

Pasal 11

(1) Bangunan Puskesmas harus memenuhi persyaratan yang meliputi:

a. persyaratan administratif, persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, serta


persyaratan teknis bangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;

b. bersifat permanen dan terpisah dengan bangunan lain; dan


c. menyediakan fungsi, keamanan, kenyamanan, perlindungan keselamatan dan
kesehatan serta kemudahan dalam memberi pelayanan bagi semua orang termasuk
yang berkebutuhan khusus, anak-anak dan lanjut usia.

Pasal 12

(1) Selain bangunan Puskesmas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, setiap
Puskesmas harus memiliki bangunan rumah dinas Tenaga Kesehatan.

(2) Bangunan rumah dinas Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) didirikan dengan mempertimbangkan aksesibilitas tenaga kesehatan dalam
memberikan pelayanan.

Pasal 13

(1) Puskesmas harus memiliki prasarana yang berfungsi paling sedikit terdiri atas:

a. sistem penghawaan (ventilasi);

b. sistem pencahayaan;

c. sistem sanitasi;

d. sistem kelistrikan;

e. sistem komunikasi;

f. sistem gas medik;

g. sistem proteksi petir;

h. sistem proteksi kebakaran;

i. sistem pengendalian kebisingan;

j. sistem transportasi vertikal untuk bangunan lebih dari 1 (satu) lantai;

k. kendaraan Puskesmas keliling; dan

l. kendaraan ambulans.

Pasal 14

Bangunan dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 sampai dengan


Pasal 13 harus dilakukan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara
berkala agar tetap laik fungsi.

Pasal 15

(1) Peralatan kesehatan di Puskesmas harus memenuhi persyaratan:


a. standar mutu, keamanan, keselamatan;

b. memiliki izin edar sesuai ketentuan peraturan perundangundangan; dan

c. diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi penguji dan pengkalibrasi yang
berwenang.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai peralatan tercantum dalam Lampiran

yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 16

(1) Sumber daya manusia Puskesmas terdiri atas Tenaga Kesehatan dan tenaga
non kesehatan.

(2) Jenis dan jumlah Tenaga Kesehatan dan tenaga non kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan analisis beban kerja, dengan
mempertimbangkan jumlah pelayanan yang diselenggarakan, jumlah penduduk
dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan
pembagian waktu kerja.

(3) Jenis Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit
terdiri atas:

a. dokter atau dokter layanan primer;

b. dokter gigi;

c. perawat;

d. bidan;

e. tenaga kesehatan masyarakat;

f. tenaga kesehatan lingkungan;

g. ahli teknologi laboratorium medik;

h. tenaga gizi; dan

i. tenaga kefarmasian.

(4) Tenaga non kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dapat
mendukung kegiatan ketatausahaan, administrasi keuangan, sistem informasi, dan
kegiatan operasional lain di Puskesmas.

Pasal 17
(1) Tenaga Kesehatan di Puskesmas harus bekerja sesuai dengan standar profesi,
standar pelayanan, standar prosedur operasional, etika profesi, menghormati hak
pasien, serta mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien dengan
memperhatikan keselamatan dan

kesehatan dirinya dalam bekerja.

(2) Setiap Tenaga Kesehatan yang bekerja di Puskesmas harus memiliki surat izin
praktik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

Pasal 18

(1) Pelayanan kefarmasian di Puskesmas harus dilaksanakan oleh Tenaga


Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk melakukan
pekerjaan kefarmasian.

(2) Pelayanan kefarmasian di Puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 19

(1) Pelayanan laboratorium di Puskesmas harus memenuhi kriteria ketenagaan,


sarana, prasarana, perlengkapan dan peralatan.1
Daftar Pustaka

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014


Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat
2. Asih Eka Putri. Paham Bpjs. Edisi 2. Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung
Kantor Perwakilan Indonesia. 2014
3. System Health Insurance. World Health Organization (Who). 2009
4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, Pasal 43
Ayat (1)
5. Hanafiah Mj, Amir Amri. 2007. Etika Kedokteran Dan Hukum Kesehatan.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Egc
6. Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan, 2014. Bpjs Kesehatan.
7. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nomor 2 Tahun
2015
8. Djuhaeni. E., 2007. Asuransi Kesehatan dan Managd Care. Modul belajar
mengajar. Bandung
8. Azwar, Azrul. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi ketiga. Penerbit
Binarupa Aksara, Jakarta. 1996
9. Al-Assaf. 2009. Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : EGC
10. “Muninjaya, A.A.G. 2007. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Jakarta ;
EGC”
11. Kode Etik Kedokteran Indonesia.2012
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 1691 / Menkes / Per /
Vii / 2001 “Keselamatan Pasien Rumah Sakit”