Anda di halaman 1dari 39

“EARNING MANAGEMENT, FRAUD OR NOT ?

&
THE USE OF FINANCIAL STATEMENT ANALYSIS IN RISK
ANALYSIS”

MAKALAH KELOMPOK
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Analisi Laporan Keuangan

DISUSUN OLEH:
Andre Pratama 1710246053
Hilfa Mora Marito Nasution 1710246058

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
2018
PEMBAHASAN

A. Manajemen Laba
Menurut Schipper dalam Rahmawati dkk. (2006) yang menyatakan bahwa
manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses
pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat
(sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut).
Menurut Sulistyanto (2011) mendefinisikan manajemen laba sebagai upaya
manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi dalam
laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui Stakeholder yang ingin
mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. Istilah intervensi dan mengelabui inilah
yang dipakai sebagai dasar sebagian pihak untuk menilai manajemen laba sebagai
dasar sebagian pihak untuk menilai manajemen laba sebagai kecurangan. Sementara
pihak lain tetap menganggap aktivitas rekayasa manajerial ini bukan sebagai
kecurangan. Alasanya, intervensi itu dilakukan manajer perusahaan dalam kerangka
standar akuntansi, yaitu masih menggunakan metode dan prosedur akuntansi yang
diterima dan diakui secara umum.
Scott (2000: 351) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.
Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan
utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak uang, dan political cost
(opportunistic Earnings Management). Kedua, memandang manajemen laba dari
perspektif efficient contracting (efficient Earning Management), dimana manajemen
laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan
perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk
keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian manajer dapat
mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melakukan manajemen laba,
misalnya dengan membuat perataan laba dan pertumbuhan laba sepanjang. Dapat
disimpulkan dari beberapa definisi tersebut, bahwa manajemen laba adalah cara
manajer perusahaan mengintervensi laporan keuanagan perusahaan, dengan cara
memanfaatkan kendali untuk memainkan angka dalam laba yg diperoleh perusahaan,
hal ini untuk mengelabui pihak stakeholder untuk bersudut pandang bahwa
manajemen sudah melakukan hal yang benar. Dengan demikian pun manajer dapat
mempengaruhi nilai pasar saham perusahaanya.
1. Bentuk bentuk Manajemen Laba
Bentuk-bentuk pengaturan laba yang dikemukakan oleh Scott (2003: 383)
yaitu :
1. Taking a bath
Disebut juga big baths, bisa terjadi selama periode dimana terjadi tekanan
dalam organisasi atau terjadi reorganisasi, misalnya penggantian direksi. Jika
teknik ini digunakan maka biaya-biaya yang ada pada periode yang akan datang
diakui pada periode berjalan. Ini dilakukan jika kondisi yang tidak
menguntungkan tidak bisa dihindari. Akibatnya, laba pada periode yang akan
datang menjadi tinggi meskipun kondisi tidak menguntungkan.
2. Income minimization
Pola meminimumkan laba mungkin dilakukan karena motif politik atau motif
meminimunkan pajak. Cara ini dilakukan pada saat perusahaan memperoleh
profitabilitas yang tinggi dengan tujuan agar tidak mendapat perhatian secara
politis. Kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan (write off) atas barang-
barang modal dan aktiva tak berwujud, pembebanan pengeluaran iklan, riset, dan
pengembangan yang cepat.

3. Income maximization
Maksimalkan laba bertujuan untuk memperoleh bonus yang lebih besar,
selain itu tindakan ini juga bisa dilakukan untuk menghindari pelanggaran atas
kontrak hutang jangka panjang (debt covenant).

4. Income smoothing
Perusahaan umumnya lebih memilih untuk melaporkan trend pertumbuhan
laba yang stabil daripada menunjukkan perubahan laba yang meningkat atau
menurun secara drastis.

5. Timing Revenue dan Expenses Recognation.


Teknik ini dilakukan dengan membuat kebijakan tertentu yang berkaitan
dengan timing suatu transaksi, misalnya pengakuan premature atas pendapatan.

2. Motivasi Manajemen Laba


Scott (2003) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba,
yaitu:
1. Bonus Purposes
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak
secara oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba
saat ini.

2. Political Motivation
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada
perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan
karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan
peraturan yang lebih ketat.

3. Taxation Motivation
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling
nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan untuk penghematan
pajak pendapatan.

4. Pergantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan
untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka
akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

5. Initial Public Offering (IPO)


Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan
menyebabkan manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen
laba dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

6. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor


Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor
sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa
perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

Sedangkan Healy dan Wahlen (1999) dalam Firdaus (2007) membagi motivasi
manajemen laba ke dalam tiga kelompok yaitu :
1. Motivasi Pasar Modal (capital market motivation)
Motivasi manajemen laba karena alasan pasar modal lebih banyak
disebabkan oleh adanya anggapan umum bahwa angka-angka akuntansi,
khususnya laba merupakan salah satu sumber informasi penting yang digunakan
oleh investor dalam menilai harga saham. Sehingga tidak mengherankan kalau
ada sebagian manajer yang berusaha membuat laporan keuangannya tampak
baik dengan maksud untuk mempengaruhi kinerja saham dalam jangka pendek.
Manajemen cenderung melaporkan laba bersih lebih rendah (understate) ketika
melakukan buy out dan melaporkan laba lebih tinggi (overstate) ketika
melakukan penawaran saham ke publik.
2. Motivasi Kontrak (contracting motivation)
Motivasi kontrak atas terjadinya manajemen laba dikaitkan dengan
penggunaan data akuntansi dalam memonitor dan meregulasi kontrak atas
perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Secara
eksplisit maupun implisit, kontrak-kontrak yang berjenis kompensasi
manajemen banyak dikaitkan dengan kinerja keuangan perusahaan. Ada alasan
khusus yang menyebabkan mengapa manajemen laba terjadi dalam konteks
kontrak yaitu baik kreditor maupun komite kompensasi yaitu komite yang
menyiapkan berkas kontrak antara manajer perusahaan, merasa bahwa upaya
mengungkapkan ada tidaknya manajemen laba adalah upaya yang mahal dan
membutuhkan waktu. Kondisi ini seakan menjadi pendorong bagi manajer
untuk melakukan manajemen laba.
3. Motivasi Peraturan (regulation motivation)
Bagi para penetap standar (standar settere), perhatian terhadap
manajemen laba menjadi penting karena manajemen laba apapun alasannya
dapat mengarah kepada penyajian pelaporan keuangan yang tidak
benar (misleadin) dan akhirnya dapat mempengaruhi alokasi sumber daya yang
ada. Manajer dapat memanipulasi laba dengan berbagai cara, baik yang secara
langsung berpengaruh terhadap keputusan operasi, pembiayaan, investasi
maupun dalam bentuk pemilihan prosedur akuntansi yang diperbolehkan
dalam prinsip akuntansi berterima umum

3. Teknik Manajemen Laba


Teknik dan pola manajemen laba menurut Asyik (2000: 23) dapat dilakukan
dengan tiga teknik yaitu :
1) Perubahan metode akuntansi
Manajemen mengubah metode akuntansi yang berbeda dengan metode
sebelumnya sehingga dapat menaikkan atau menurunkan angka laba. Metode
akuntansi memberikan peluang bagi manajemen untuk mencatat suatu fakta
tertentu dengan cara yang berbeda, misalnya :
a) Mengubah metode depresiasi aktiva tetap dari metode jumlah angka tahun
(sum of the year digit) ke metode depresiasi garis lurus (straight line).
b) Mengubah periode depresiasi.
2) Memainkan kebijakan perkiraan akuntansi.
Manajemen mempengaruhi laporan keuangan dengan cara memainkan
judgment (kebijakan) perkiraan akuntansi. Hal tersebut memberikan peluang
bagi manajemen untuk melibatkan subyektivitas dalam menyusun estimasi,
misalnya :
a) Kebijakan mengenai perkiraan jumlah piutang tidak tertagih
b) Kebijakan mengenai perkiraan biaya garansi
c) Kebijakan mengenai perkiraan terhadap proses pengadilan yang belum
terputuskan.
3) Menggeser periode biaya atau pendapatan
Manejemen menggeser periode biaya atau pendapatan (sering disebut
manipulasi keputusan operasional), misalnya :
a) Mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan
sampai periode akuntansi berikutnya.
b) Mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya.
c) Kerjasama dengan vendor untuk mempercepat/menunda pengiriman tagihan
sampai periode akuntansi berikutnya.
d) Menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba.
e) Mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak terpakai.

4. Pengertian Fraud
Fraud atau yang sering dikenal dengan istilah kecurangan merupakan hal yang
sekarang banyak dibicarakan di Indonesia. Pengertian fraud itu sendiri merupakan
penipuan yang sengaja dilakukan, yang menimbulkan kerugian pihak lain dan
memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan dan atau kelompoknya
(Sukanto: 2009). Sementara Albrecht (2003) mendefinisikan fraud sebagai
representasi tentang fakta material yang palsu dan sengaja atau ceroboh sehingga
diyakini dan ditindaklanjuti oleh korban dan kerusakan korban. Dalam bahasa
aslinya fraud meliputi berbagai tindakan melawan hukum.
Bologna (1993) mendefinisikan kecurangan “Fraud is criminal deception
intended to financially benefit the deceiver” yaitu kecurangan adalah penipuan
kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu.
Kriminal disini berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan
maksud jahat. Ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya secara financial dari
tindakannya tersebut. Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah yaitu (1) tindakan
(the act.), (2) penyembunyian (the concealment) dan (3) konversi (the conversion).
Adapun menurut the Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) dalam
Tuanakotta (2013) fraud adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang
dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu (manipulasi atau memberikan laporan
keliru terhadap pihak lain) dilakukan orang-orang dari dalam atau luar organisasi
untuk mendapatkan keuntungan pibadi ataupun kelompok secara langsung atau tidak
langsung merugikan pihak lain. Dengan demikian fraud adalah mencangkup segala
macam yang dapat dipikirkan manusia, dan yang diupayakan oleh seseorang untuk
mendapatkan keuntungan dari orang lain, dengan saran yang salah atau pemaksaan
kebenaran, dan mencangkup semua cara yang tidak terduga, penuh siasat atau
tersembunyi, dan setiap cara yang tidak wajar yang menyebabkan orang lain tertipu
atau menderita kerugian.

7. Klasifikasi Fraud
The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasi
Pemeriksa Kecurangan Bersertifikat, merupakan organisasi profesional bergerak di
bidang pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di Amerika Serikat dan
mempunyai tujuan untuk memberantas kecurangan,
mengklasifikasikan fraud (kecurangan) dalam beberapa klasifikasi, dan dikenal
dengan istilah “ The Fraud Tree” yaitu Sistem Klasifikasi Mengenai Hal-hal Yang
Ditimbulkan Sama Oleh Kecurangan (Uniform Occupational Fraud Classification
System).
ACFE dalam Tuanakotta (2010) membagi fraud (kecurangan) dalam 3
(tiga) jenis atau tipologi berdasarkan perbuatan, yaitu:
a. Kecurangan Laporan Keuangan (Fraudulent Statement)
Kecurangan Laporan keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang
dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang
merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat finansial atau
kecurangan non finansial.
b. Penyimpangan atas Aset (Asset Misappropriation)
Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan atau pencurian aset atau harta
perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi
karena sifatnya yang tangible atau dapat diukuratau dihitung (defined value).
c. Korupsi (Corruption)
Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena menyangkut kerja sama
dengan pihak lain seperti suap dan korupsi, di mana hal ini merupakan jenis yang
terbanyak terjadi di negara-negara berkembang yang penegakan hukumnya lemah dan
masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik sehingga faktor integritasnya
masih dipertanyakan. Fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para
pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisme). Termasuk
didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang atau konflik kepentingan (conflict of
interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah atau illegal (illegal
gratuities) dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion).

8. Penyebab Terjadinya Fraud (versi segitiga fraud)


Sebagaimana penelitian yang dilakukan Donald Cressey pada tahun
1950 sebagaimana dikutip dalam Suradi (2012) menyatakan yang menimbulkan
pertanyaan mengapa kecurangan dapat terjadi. Hasil dari penelitian itu memunculkan
faktor-faktor pemicu kecurangan yang saat ini dikenal dengan “Fraud
Triangle”. Penelitian tersebut Cressey memutuskan untuk mewawancarai pelaku
kecurangan yang menjadi tahanan atas tindakan kecurangan berupa penggelapan.
Cressey mewawancarai 200 pelaku penggelapan yang sedang menjalani masa
tahanan. Satu dari tujuan utama penelitian ini menyimpulkan bahwa setiap
kecurangan yang dilakukan oleh para pelaku memenuhi tiga faktor penting sebagai
faktor pemicu.
Secara umum fraud dapat terjadi apabila ada kesempatan(opportunity), tekana
n (pressure) atau insentif (incentive), dan rasionalisasi(rationalization). Tiga hal ini le
bih dikenal dengan segitiga fraud atau fraud triangle. Pressure (menunjukkan
motivasi dan sebagai “ unshareable need”), rationalization (personal
ethics), Knowledge dan opportunity.

The Fraud Triangle

Dari dasar hasil penelitian yang dilakukan oleh Donald Cressey,


memunculkan banyak pendapat-pendapat lain yang kian beragam, salah satunya
Ramos (2003) menggambarkan penyebab kecurangan dalam bentuk segitiga (The
fraud triangle), sebagai berikut:
a. Penyalahgunaan wewenang atau jabatan (Occupational Frauds): kecurangan
yang dilakukan oleh individu-individu yang bekerja dalam suatu organisasi untuk
mendapatkan keuntungan pribadi.
b. Kecurangan organisatoris (Organisational Fraud): kecurangan yang dilakukan oleh
organisasi itu sendiri demi kepentingan / keuntungan organisasi itu.
c. Skema kepercayaan (Confidence Schemes). Dalam kategori ini, pelaku membuat
suatu skema kecurangan dengan menyalahgunakan kepercayaan korban.
d. CKM dr Kurtiyono mengutip pendapat Riduan Simanjuntak mengatakan bahwa
terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, yang
dikenal dengan teori GONE, yaitu :
1) Greed (keserakahan)
2) Opportunity (kesempatan)
3) Need (keinginan)
4) Exposure (Pengungkapan)
Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan individu
pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). Sedangkan faktor
Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi
sebagai korban perbuatan fraud (disebut juga faktor generik/umum).
Setiap pelaku kecurangan menghadapi berbagai macam tekanan
(pressure). Tekanan yang paling kuat adalah berkaitan dengan kebutuhan
finansial, meskipun ia juga menghadapi tekanan selain finansial (seperti frustasi
ditempat kerja, kebutuhan untuk melaporkan hasil yang lebih baik daripada kinerja
yang sebenarnya, atau tantangan untuk menyiasati sistem) juga merupakan faktor
pendorong untuk melakukan kecurangan.
Pelaku kecurangan memerlukan suatu cara untuk membenarkan
(merasionalisasi) atas tindakan yang mereka lakukan agar dapat diterima.
Pelaku merasionalisasikan tindakannya dua alasan, yaitu : (1) ia tidak yakin bahwa
apa yang telah ia lakukan adalah melanggar hukum (ilegal), meskipun ia mengakui
bahwa tindakan tersebut tidak etis, dan (2) ia yakin bahwa ia akan mendapatkan
uang pengganti dari sumber lain dan sehingga dapat membayar kembali atas uang
yang telah ia gelapkan.
Dalam benak pikirannya, ia hanya meminjam dan meskipun cara yang
mereka lakukan adalah tidak etis, ia akan membayar kembali utang tersebut. Setelah
semua itu, hampir semua orang akan ikut-ikutan melakukan hal serupa. Dalam hal
terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh manajemen, sebagai contoh,
tekanan (pressure) mungkin kebutuhan untuk membuat bahwa laba perusahaan
kelihatan lebih baik untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar,
kesempatan (opportunity) mungkin karena adanya kelemahan komite audit, dan
sebagainya.
Kecurangan menyerupai terjadinya api dalam berbagai cara. Agar terjadi
suatu api, diperlukan adanya tiga unsur. Ketika semua dari ketiga unsur tersebut
datang bersamaan, terjadilah apa yang disebut dengan api (pada gambar dibawah ini).
Para petugas pemadam kebakaran mengetahui bahwa suatu api dapat dipadamkan
dengan mengeliminasi salah satu dari tigaunsur tersebut. Oksigen sering dieliminasi
dengan menggunakan bahan kimia, atau disebabkan letusan. Panas sangat lazim
dieliminasi dengan dituangi air. Bahan bakar dihilangkan dengan pemadam api atau
dengan menutupi sumber bahan bakar.
Seperti halnya dengan unsur dalam segitiga api, tiga unsur dalam segitiga
kecurangan juga saling berinteraksi. Pada api, bahan bakar lebih mudah terbakar,
oksigen tidak mudah terbakar dan panas untuk membakarnya. Pada kasus terjadinya
kecurangan, semakin besar kesempatan yang dimiliki atau semakin kuat tekanan
yang dihadapi, meskipun rasionalisasi kurang, hal ini akan mendorong seseorang
melakukan kecurangan. Demikian juga, semakin tidak jujur seseorang, meskipun
kesempatan atau tekanan yang dimiliki sangat terbatas, mereka akan termotivasi
untuk melakukan kecurangan.
Seseorang yang berusaha untuk mencoba mencegah terjadinya kecurangan
selalu bekerja hanya berada pada salah satu dari ketiga unsur segitiga kecurangan,
yaitu kesempatan. Para investigator secara umum berkeyakinan bahwa kesempatan dapat
dieliminasi dengan adanya sistem pengendalian intern yang baik dan menjamin untuk
dipatuhinya sistempengendalian intern tersebut. Jarang para investigator berfokus
pada tekanan untuk melakukan kecurangan atau rasionalisasi yang dimiliki oleh
pelaku kecurangan.

9. Apakah Manajemen Laba Termasuk Fraud atau Tidak ??


Pada umumnya, manajemen laba didasarkan pada akrual. Akrual adalah
perbedaan antara laba dan arus kas. Sebagian besar keputusan akuntansi melibatkan
akrual. contohnya, penjualan kredit akan menciptakan akrual karena penjualan diakui
pada saat transaksi tersebut dan dimunculkan piutang karena mereka tidak menerima
kas. Akrual adalah bagian normal perusahaan bisnis dan cenderung untuk selalu ada
dari waktu ke waktu. Piutang akan berubah kas ketika perusahaan telah memperoleh
kas. Akrual dimaksudkan oleh prinsip-prinsip akuntansi untuk memperoleh ukuran
kinerja ekonomik yang lebih baik dibandingkan arus kas karena adanya unsur
penandingan dengan perioda atau transaksi pemanfaaatnnya. Aspek penting dari
akrual adalah seharusnya dapat dipisahkan antara akrual diskresionari dan akrual non-
diskresionari pada laporan keuangan perusahaan. Manajemen laba dapat
dipertimbangkan sebagai pemindahan penghasilan sementara antar perioda. Jika
perusahaan memiliki prinsip agresif dengan kebijakan akuntansinya, maka perusahaan
meminjam penghasilan perioda mendatang. Jika perusahaan adalah konservatif,
penghasilan sekarang akan disimpan untuk mendorong penghasilan perioda
berikutnya. Kejadian ini adalah sifat alami karena adanya akrual.
a. Kebijakan Akuntansi
Manajemen laba tidak terus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data
atau informasi akuntansi. Manajemen laba cenderung merupakan upaya
pemilihan metode akuntansi atau kebijakan akuntansi untuk menyajikan profil
laba yang bisa dilakukan karena memang diperkenankan menurut standar
akuntansi. Manajemen dapat memilih banyak cara untuk mempengaruhi waktu,
jumlah, atau angka-angka dalam suatu transaksi yang berdampak pada laba
laporan dengan melakukan pemilihan metode akuntansi dan judgment akuntansi.
Pilihan-pilihan akuntansi seharusnya dibuat dalam kerangka konseptual PABU
(prinsip akuntansi berterima umum). PABU merupakan seperangkat aturan,
praktik-praktik, dan konvensi yang dapat diterima untuk pelaporan kepada
pemegang saham. Sumber utama PABU untuk perusahaan publik adalah IFRS,
dan sumber-sumber lainnya. PABU menjadi acuan atau pedoman dalam proses
pelaporan keuangan baik dalam hal pengakuan, pengukuran, dan penyajian pada
pihak-pihak yang berkepentingan dengan pelaporan keuangan yang bersangkutan.

Gambar 1. Perbedaan pengaruh operasi dengan kebijakan akuntansi (Lev,


1989) Gambar 1. Menunjukkan bahwa perbedaan antara pilihan akuntansi yang
legal dan illegal seringkali dilihat dari seberapa banyak pilihan akuntansi tersebut
dipilih dan diimplemtasikan. Upaya memahami hal ini dapat dianalogikan dengan
mengendarai kendaraan. Mengendarai kendaraan dapat legal dan dapat pula
illegal, tergantung pada aturan di mana aktivitas tersebut dilakukan. Jika batas
kecepatan yang dipersyaratkan 60 km/jam, dan mobil berjalan dalam kecepatan
50 km/jam, berarti aktivitas mengendarai adalah legal. Dengan kata lain, kalau
kecepatannya 100 km/jam, tindakan tersebut menjadi illegal. Masalahnya adalah
seberapa banyak pilihan-pilihan akuntansi, batasnya untuk dikatakan legal atau
illegal tidak jelas. Jadi, kebijakan akuntansi semacam estimasi biaya, mungkin
akan menjadi illegal jika jumlah estimasi sangat ekstrim, tetapi menjadi legal jika
cukup memiliki alasan. PABU tidak memberikan arahan seberapa standar suatu
kebijakan dikatakan normal atau tidak. Aktivitas ekonomik rill Keputusan operasi
manajemen Transaksi atau perubahan nilai Prinsip Akuntansi Berlaku Umum
(PABU) Laba bersih perusahaan Dicatat pada system akuntansi Kebijakan
Akuntansi
b. Manajemen Laba Bukan Kecurangan
Kecurangan keuangan didefinisikan oleh the National Association of
Certified Fraud Examiners sebagai kesengajaan, penyalahsajian yang
direncanakan, atau peneyembunyian fakta-fakta material, atau data akuntansi,
yang menyebabkan kesalahan yang menyebabkan pengguna laporan mengubah
atau mengganti keputusannya. Manajemen laba adalah ujung dari tindakan yang
legal. Manajemen laba dapat mengarah pada tindakan kecurangan. Jika
diibaratkan pendulum maka kecurangan keuangan adalah ujung akhirnya
pendulum itu mengayun. Kecurangan jelas-jelas menyimpang dari pabu, FASB
menyatakan bahwa “Accrual accounting uses accrual, deferral, and allocation
procedures whose goal is to relate revenue, expenses, gains, and losses to periods
to respect an entity’s performance during a period.” Konsep utama definisi ini
adalah bahwa akuntansi berbasis PABU dilakukan untuk merefleksikan kinerja
ekonomik, bukannya mendistorsi atau mengaburkan kinerja yang sebenarnya.
PABU juga mungkin disimpangkan dengan tindakan yang tidak dikelompokkan
dalam tindakan kecurangan, semacam akuntansi agresif atau akuntansi kreatif
sebab ini teknik ini juga dapat mengakibatkan adanya distorsi atau mengaburkan
kinerja bisnis ekonomik sebenarnya sehingga pengguna bisa salah tafsir dalam
membaca informasi dalam pelaporan keuangan. Pada akhirnya, penggunalah
yang dirugikan karena pengambilan keputusannya salah. Manajer yang
menyediakan laporan keuangan merefleksikan aktivitas aktivitas yang dapat
dikelompokkan sebagai kecurangan jika :
 Melaporkan penjualan fiktif,
 Melaporkan penjualan ketika produk-produk yang belum selesai ikut
dikirimkan,
 Tidak mencatat secara cukup biaya-biaya,
 Melakukan transaksi barter dimana barang atau jasa dinilai overvalue atau
undervalue,
 Penilaian aset yang lebih tinggi,
 Mengkapitalisasi biaya dengan tidak cermat.
Manajemen laba bukan kecurangan, kecurangan adalah tindakan penipuan
yang criminal (Hornby, 1974) atau perilaku penipuan yang dapat dihukum pidana
(Procter, 1978). Sebutan, kecurangan adalah kondisi melawan hukum atau tidak
memiliki legitimasi. Manajemen laba berada batasan yang legal, penyimpangan
atas laba yang dilaporkan dari laba ekonomi dikarenakan manajemen laba yang
legal atau sah menurut standar akuntansi dan hukum perusahaan. Sama halnya
seperti tax avoidance yang diperbolehkan dan dikritik. Kecurangan dan
kepercayaan adalah dua hal yang saling berkaitan namun berbeda. Kecurangan
adalah suatu tindakan atau perilaku, sedangkan kepercayaan adalah sifat atau
kualitas laporan. Perbedaan antara laba yang dilaporkan dan laba ekonomi dapat
berasal baik dari tindakan yang illegal maupun legal. Maka, tidak dibenarkan
menyebut manajemen laba adalah tindakan kecurangan karena hasilnya adalah
berbeda. Dengan kata lain, kecurangan laba adalah perilaku curang dan tidak
bermoral. contoh perangkat kecurangan seperti membuat dokumen palsu,
mengakui pendapatan secara fiktif, suap, dan transaksi yang illegal antara induk
dan anak perusahaan.
Memang benar bahwa manajemen laba dan kecurangan laba menyebabkan
pengungkapan yang tidak jujur, bagaimanapun kecurangan laba yang
menyebabkan ketidakjujuran dengan cara melanggar standar akuntansi atau
hukum perusahaan. Sementara manajemen laba melakukannya dengan
berlandaskan pada standar akuntansi dan hukum perusahaan. Hal ini mengapa
Magrath dan Weld (2002) mengakui bahwa beberapa teknik-teknik manajemen
laba (atau lebih tepatnya, manipulasi laba) dikategorikan tidak menipu. Berbeda
dengan yang dikatakan oleh Landsittel (2000) bahwa perbedaan antara
manajemen laba dan pelaporan keuangan yang curang, terletak pada pertama,
asumsi yang menyatakan bahwa pelaporan keuangan yang dihasilkan tidak
memiliki salah saji yang material, kedua adalah perbedaan antara manajemen laba
dan kecurangan laba tidak dari tingkat kejujuran dalam penyajian, melainkan
pada legitimasi dari praktik yang dilakukan oleh manajer. Kondisi itulah yang
menyebabkan mengapa kecurangan laba seharunya tidak diperkenankan atau
dikategorikan kecurangan luar biasa, sedangkan manajemen laba tidak
seharusnya.

10. Sisi Baik Manajemen Laba


Manajemen laba dilakukan tidak hanya termotivasi untuk mementingkan
kepentingannya manajemen (pribadi). Beberapa riset dan teoritis yang mendukung
sisi baik dari manajemen laba adalah Subramanyam (1996) membuktikan bahwa
setelah mengontrol komponen arus kas operasi dan akrual non diskresioner, pasar
modal secara positif mersepon akrual diskresioner. Temuan ini konsisten dengan
pendapat bahwa dengan menggunakan akrual, manajemen bertanggung jawab
utuk meyampaikan inside information tentang kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba di masa yang akan datang. Liu, et al (1997) membuktikan
bahwa reaksi harga saham yang positif terhadap peningkatan yang tidak
diharapkan dalam loan loss provision pada bankbank yang berisiko. Sebaliknya
pada bank yang tidak berisiko, reaksi harga signifikan negative. Hal ini
menunjukkn bahwa pada bank yang berisiko, bahwa dengan menurunnya laba,
maka kredibelitas bank akan menyampaikan kepada pasar bahwa bank mengambil
langkah untuk menyelesaikan masalah mereka, yang akan meningkatkan kinerja
bank di masa yang akan datang. Evans dan Sridhar (1996) membuktikan dalam
teori efficient contracting, bahwa potensi untuk melakukan manajemen laba
ditentukan oleh GAAP yang terus berubah. Sedangkan Dye (1985) membuktikan
bahwa pemegang saham lebih menyukai kontrak kompensasi yang memotivasi
manajer untuk meratakan laba yang di laporkan, kontrak kompensasi ini
bermanfaat bagi pemegang saham dengan secara efisien mengimplementasikan
tingkat usaha manajer yang diinginkan dan dengan memaksimalkan hasil yang
diterima oleh pemegang saham jika merka menjual saham kepada investor baru.
Kritik Manajemen Laba Bagi manajemen yang melakukan manajemen laba,
meskipun tindakan tersebut tidak termasuk kategori kecurangan. Namun tidak
terlepas dari kritikan praktik tersebut. Kritiknya berupa dampak manajamen laba
terhadap transparansi informasi. Manajemen laba dapat mengurangi transpransi
karena mengaburkan laba “yang sebenarnya” (true earnings). Namun, terdapat
akademisi yang berpendapat bahwa tingkatan dan pola laba dapat menyampaikan
informasi kepada para pemegang saham (Arya, et al,2003). Sedangkan Cohen et al
(2004) membuktikan bahwa volatilitas return saham disekitar pengumuman laba
berhubungan positif dengan manajemen laba. Pengumuman laba tersebut
menunjukkan bahwa manajemen laba itu informative.
11. Contoh Kasus Manajemen Laba
Sunprima Nusantara Pembiayaan sering disingkat menjadi SNP adalah
perusahaan pembiayaan yang berdiri sejak tahun 2000, sempat vacum selama 2 tahun
dan kemudian Columbia Group mengambil alih kepemilikannya pada tahun 2002,
tetapi PT.SNP baru beroperasi secara penuh pada tahun 2004. SNP terutama bergerak
dalam bidang consumer finance yang disebut Prima Finance, dan dealer utama yang
100% pembiayaannya di support oleh PT. SNP adalah semua konsumen Columbia
Retail.

Produk yang dibiayai adalah semua kebutuhan rumah tangga, seperti semua
produk elektronik, furniture, hand phone, komputer, motor roda dua. Selain produk
tersebut PT. SNP juga melakukan pembiayaan untuk produk2 produktif seperti hand
tractor, dan motor roda 3.

Principal yang bekerja sama sampai dengan hari ini seperti, Nozomi, Yanmar,
Olympic, Modena, Fujitec, Sanken, Galeri musik jakarta. Selain membiayai seluruh
outlet Columbia PT.SNP juga membiayai dealer yang lain, baik tradisional market
maupun modern market, melalui divisi Prima Finance. Saat ini melalui Columbia
Group kami berada di 72 kota, dan melalui divisi Prima Finance kami berada di 10
kota

VISI

Menjadi perusahaan pembiayaan nasional yang terkemuka


MISI

Memberikan jasa pembiayaan dengan cara yang lebih cepat dan lebih efisien

Masalah PT Sun Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) tiba-tiba hangat


dibicarakan publik. Kesulitan keuangan yang melilit perusahaan ini tiba-tiba
menyeruak ke publik.
Cerita kasus ini terkuak terkuak diawali adanya laporan Bank Panin pada awal
Agustus 2018 lalu. Dimana PT SNP mengajukan pinjaman fasilitas kredit modal kerja
dan fasilitas rekening koran kepada Bank Panin periode Mei 2016 sampai 2017
dengan plafon kepada debitur sebesar Rp 425 miliar. Tetapi pada Mei 2018, status
kredit tersebut macet sebesar Rp 141 miliar.
Bank Panin yang merasa ada kejanggalan dan melaporkan ke pihak kepolisian.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa PT SNP diduga telah melakukan tindak
pidana pemalsuan dokumen, penggelapan, penipuan, dan pencucian uang. Modus dari
PT. SNP yakni dengan menambahkan, menggandakan, dan menggunakan daftar
piutang (fiktif) berupa data list yang ada di PT CMP.
Selain itu juga kasus ini juga bermula dari gagal bayar (default) Medium Term
Notes yang diterbutkan SNP Finance pada 9 Mei dan 14 Mei. Total kewajiban bunga
utang yang harus dibayar mencapai Rp 6,75 miliar dari dua seri MTN.
Seri MTN V SNP Tahap II senilai Rp 5,25 miliar jatuh tempo 9 Mei 2018 dengan
nilai pokok Rp 200 miliar yang terbit Februari 2018 dengan Rating Pefindo
idA/Stable dengan kupon 10,5%. Kedua bunga MTN III seri B senilai Rp 1,5 miliar
yang diliris 13 November 2018 senilai Rp 50 miliar dengan kupon 12,12% dengan
Rating idA/Stable.
Menurut data dari KSEI, seluruh nilai MTN sebesar Rp 1,852 triliun dengan jatuh
tempo dan seri yang berbeda. Nilai MTN yang jatuh tempo 2018 sebesar Rp725
miliar dengan 5 seri. Sementara MTN yang jatuh tempo 2019 sebesar Rp 817 miliar
dengan 10 Seri dan yang jatuh tempo 2020 sebesar Rp 310 miliar dengan 4 seri.
Semua dengan rating idA/Stable dari Pefindo.
Pada Desember 2017, menurut Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia
kategori SNP Finance sebetulnya masih ada di kol 1 dengan status lancar. Tapi,
Januari 2018, terjadi peralihan dan di bawah kontrol OJK, yakni Sistem Layanan
Informasi Keuangan (SLIK) yang kemudian statusnya berubah menjadi kol 2.
Hal itu berimbas pada timbulnya pertanyaan bank-bank yang mengucurkan dana
mereka ke SNP Finance dan berbuntut pada seretnya aliran kredit dari bank-bank lain.
Di sisi lain, sistem manajemen penagihan di kantor-kantor cabang SNP Finance
semakin lemah.
Cerita kemudian berlanjut, ternyata perseroan juga seret membayar utang kepada
para krediturnya. Tak tanggung-tanggung nilai kredit SNP Finance ke 14 bank
mencapai Rp 6 triliun.
Bank-bank besar ikut memberikan kredit kepada SNP Finance. PT Bank Mandiri
Tbk (BMRI) menyalurkan kredit senilai Rp 1,4 triliun dan PT Bank Central Asia Tbk
(BBCA) menyalurkan sekitar Rp 200 miliar ke SNP Finance.
Takut masalah membesar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya membekukan
kegiatan usaha PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).
PKPU itu terbit pada 4 Mei 2018, setelah dikabulkan majelis hakim Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat. Dalam PKPU disebutkan total tagihan SNP Finance mencapai
Rp4,07 triliun dari 14 bank sebagai kreditur dengan jaminan Rp2,2 triliun, serta 336
pemegang MTN senilai Rp1,85 triliun.
Langgar Standar Audit
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif kepada dua
akuntan publik (AP) dan satu kantor akuntan publik (KAP). Pangkal soalnya, AP
Marlinna dan AP Merliyana Syamsul serta KAP Satrio, Bing, Eny (SBE) dan Rekan
yang merupakan partner lokal Deloitte Indonesia dinilai tidak memberikan opini yang
sesuai dengan kondisi sebenarnya dalam laporan keuangan tahunan audit milik PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).
Sanksi yang diterima dua AP dan satu KAP itu berupa pembatalan pendaftaran
terkait hasil pemeriksaan laporan keuangan SNP Finance. Kedua AP dan satu KAP itu
memberikan opini ‘Wajar Tanpa Pengecualian’ dalam hasil audit terhadap laporan
keuangan tahunan SNP Finance. Padahal, hasil pemeriksaan OJK mengindikasikan
SNP Finance menyajikan laporan keuangan yang tidak sesuai dengan kondisi
keuangan yang sebenarnya secara signifikan. Sehingga, menyebabkan kerugian
banyak pihak termasuk perbankan.
Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo
mengatakan pengenaan sanksi terhadap dua AP dan KAP itu berlaku untuk sektor
perbankan, pasar modal maupun industri keuangan non bank (IKNB). Artinya untuk
sementara mereka tidak dapat melakukan proses audit jasa keuangan. Pembatalan
pendaftaran KAP SBE berlaku efektif setelah KAP tersebut menyelesaikan
audit Laporan Keuangan Tahunan Audit (LKTA) tahun 2018 para klien yang masih
memiliki kontrak.
KAP SBE juga dilarang untuk menambah klien baru. Sementara untuk AP
Marlinna dan AP Merliyana Syamsul, pembatalan pendaftaran efektif berlaku sejak
ditetapkan OJK pada Senin (1/10).
OJK menilai AP Marlinna dan AP Merliyana Syamsul telah melakukan
pelanggaran berat sehingga melanggar POJK Nomor 13/POJK.03/2017 Tentang
Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik. Ini sebagai mana
tertera dalam penjelasan Pasal 39 huruf b POJK Nomor 13/POJK.03/2017 (PDF),
bahwa pelanggaran berat yang dimaksud antara lain AP dan KAP melakukan
manipulasi, membantu melakukan manipulasi, dan atau memalsukan data yang
berkaitan dengan jasa yang diberikan.
Sementara itu, KAP SBE yang merupakan partner lokal Deloitte Indonesia,
menegaskan belum menerima salinan resmi putusan OJK tersebut. Dengan begitu,
pihaknya belum bisa memutuskan langkah apa yang akan ditempuh. KAP SBE
menambahkan, pihaknya telah menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Pusat
Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK) Kementerian Keuangan. Namun KAP SBE
menyatakan sama sekali tidak pernah diminta untuk memberikan keterangan terkait
LKTA SNP Finance oleh OJK.

Dilihat dari Segi Manajemen Laba Yakni :


Menurut Schipper dalam Rahmawati dkk. (2006) yang menyatakan bahwa
manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses
pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat
(sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut). Selain
itu juga menurut Sulistyanto (2011) mendefinisikan manajemen laba sebagai upaya
manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi dalam
laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui Stakeholder yang ingin
mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan.
Berdasarkan kasus diatas PT. SNP sengaja melakukan manipulasi laporan
keuangan untuk bisa mendapatkan fasilitas kredit dari bank lain dengan kelebihan PT.
SNP ini mempunyai track record yang baik pada Bank Mandiri. Menurut Kami
manipulasi laporan keuangan yang dilakukan PT. SNP ini yakni dengan menaikkan
laba perusahaan agar bisa mendapatkan fasilitas kredit dari bank lain walaupun
sebenarnya banyak nasabah dari PT. SNP ini yang melakukan penunggakan
pembayaran. Hal ini dilakukn oleh PT. SNP kemungkinan PT. SNP ini memiliki
motif yakni motivasi kontrak dimana ini terjadi dikarenakan dalam memonitor dan
meregulasi kontrak perusahaan dengan pihak - pihak yang berkepentingan lainnya
perusahan harus menampilkan data akuntansi yang baik yakni juga harus
menampilkan laba yang baik sehingga partner bisnis menjadi yakin akan memberikan
fasilitas kredit terhadap perusahaan kita.

B. Analisis Risiko
1. Pengertian Analisis Risiko
Secara sederhana, analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai
sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian
menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran dan menyoroti bagaimana
dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis risiko
juga dipahami sebagai sebuah proses untuk menentukan pengamanan macam apa
yang cocok atau layak untuk sebuah sistem atau lingkungan (ISO 1799, “An
Introduction To Risk Analysis”, 2012).
Analisis risiko merupakan bagian dari manajemen risiko, yang terdiri dari
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi kemungkinan kondisi, peristiwa, atau situasi negative eksternal
dan internal.
b. Penentuan hubungan sebab-akibat antara peluang kejadian, skalanya dan
kemungkinan dampaknya.
c. Evaluasi sebagai dampak dibawah ini asumsi dan profitabilitas yang berbeda.
d. Penerapan teknik kualitatif dan kuantitatif untuk mengurangi ketidakpastian
dari dampak dan biaya, kewajiban, atau kerugian.
2. Analisis Sumber Risiko

Dalam teori manajemen keuangan, ada trade-off antara risiko dan return. Jika
risiko suatu investasi lebih tinggi, return yang diharapkan juga tinggi. Banyak para
manajer mengetahui risiko untuk dipertimbangkan dalam menilai dan mengambil
keputusan investasi. Penilaian dan pemahaman trade-off antara risiko dan return
membentuk landasan untuk memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham.
Perusahaan seharusnya mengenali apakah return yang diharapkan dapat dicapai atau
tidak, yang berarti perusahaan harus mengenali elemen risiko dalam proses
pengambilan keputusan. Risiko dapat didefinisikan sebagai variabilitas return dari apa
yang diharapkan (Brealey, Stewart, and Alan, 1995). Dengan kata lain risiko adalah
sebagai kemungkinan bahwa return sesungguhnya dari suatu investasi akan lebih
rendah dari return yang diharapkan. Return adalah keuntungan atau aliran kas neto
yang diperoleh dari suatu investasi. Dalam kegiatan bisnis, perusahaan sering
dihadapkan pada pengeluaran biaya yang bersifat tetap, yang tentu saja mengandung
risiko. Berkaitan dengan itu manajemen harus tahu mengenai leverage. Leverage
menunjukkan penggunaan biaya tetap dalam usaha meningkatkan keuntungan.
Secara umum investor enggan terhadap risiko (averse risk) (Horne and
John,1992). Jika risiko lebih besar, investor mengharapkan return dari suatu investasi
yang lebih besar. Return yang tinggi tidak selalu disertai investasi berisiko. Investasi
yang berisiko tidak akan dilakukan oleh investor jika investasi tersebut tidak memberi
harapan tingkat return yang tinggi.
Sumber-sumber dan tipe-tipe risiko bisa dilihat pada bagan berikut ini:

Sumber Contoh resiko yang timbul

Internasional Ketidak stabilan pemerintah local


Ketidak stabilan kebijakan pemerintah setempat
Risiko perubahan kurs mata uang
Resesi dunia

Domestik Resesi
Inflasi atau deflasi
Perubahan tingkat bunga
Perubahan demografis
Perubahan kebijakan dalam negeri
Perubahan politik dalam negeri
Industri Perubahan teknologi
Persaingan
Perubahan kekuatan tawar menawar dalam industry
Peraturan pemerintah yang berkaitan dengan industry
Perusahaan Perubahan manajemen
Perubahan strategi
Risiko terkena bencana
Risiko terkena tuntutan hukum

Sebagai ilustrasi dapat dijelaskan beberapa jenis dan sumber risiko sebagai berikut:

1. Risiko perubahan nilai tukar yang bersumber dari luar negeri

Perubahan nilai tukar dapat berupa apresiasi atau depresiasi. Apabila mata uang
domestik mengalami apresiasi terhadap mata uang asing berarti nilai mata uang
domestik menguat terhadap mata uang asing. Demikian pula sebaliknya, apabila
terjadi depresiasi. Secara umum, apabila terjadi apresiasi mata uang domestik
terhadap mata uang asing maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap
kegiatan ekspor yang dilakukan perusahaan. Sebaliknya, apabila terjadi depresiasi
mata uang domestik terhadap mata uang asing maka akan menimbulkan dampak
negatif terhadap kegiatan impor.

2. Risiko inflasi yang bersumber dari dalam negeri

Secara umum inflasi dapat mempengaruhi daya beli (purchasing power)


masyarakat. Semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah daya beli masyarakat
sehingga dengan demikian pendapatan riil masyarakat juga menurun. Apabila
daya beli menurun maka permintaan terhadap barang dan jasa juga akan menurun
sehingga pendapatan juga akan menurun. Jadi hal ini menggambarkan risiko yang
dihadapi oleh perusahaan.

3. Risiko teknologi yang bersumber dari industri

Teknologi dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan karena tingkat


penggunaan teknologi dapat mempengaruhi daya saing suatu perusahaan. Di
samping itu, penggunaan teknologi dapat mempengaruhi produktivitas dan
efisiensi suatu perusahaan. Jadi apabila suatu perusahaan beroperasi pada
penggunaan teknologi yang tidak memadai maka memungkinkan tidak dapat
bersaing serta tidak efisien.

4. Risiko atas keputusan-keputusan strategis


Keputusan-keputusan strategis yang diambil oleh manajemen suatu perusahaan
dapat mempengaruhi tingkat risiko suatu perusahaan. Artinya bahwa
apabila manajemen suatu perusahaan melakukan suatu kesalahan dalam
mengambil keputusan strategis maka memungkinkan perusahaan akan
menghadapi suatu risiko yang besar.

Meskipun risiko-risiko di atas secara langsung atau tidak langsung akan


mempengeruhi perusahaan, tetapi perusahaan harus memperhatikan risiko-risiko yang
mempunyai konsekuensi keuangan perusahaan.
Tabel dibawah ini menggambarkan kegiatan-kegiatan perusahaan dan kaitannya
dengan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan kas.
Oleh karena itu analisis aliran kas sering dipakai sebagai alat analisis untuk melihat
kemampuan perusahaan sekaligus untuk menganalisis risiko perusahaan. Perusahaan
kadang-kadang mengalami kebangkrutan (default) atau tidak bisa membayar
kewajiban-kewajibannya karena tidak mempunyai kas yang cukup, meskipun
perusahaan tersebut cukup menguntungkan. Laporan aliran kas akan melengkapi
analisis risiko disamping analisis rasio yang akan dibicarakan pada bab ini.

Kegiatan perusahaan dan aliran kas tang dihasilkan atau dibutuhkan:

Kegiatan Kemampuan Kebutuhan yang Analisis yang


Perusahaan Perusahaan menggunakan digunakan
menghasilkan kas
kas
Operasi Profitabilitas Kebutuhan Likuiditas
Perusahaan modal kerja jangka pendek
Investasi Penjualan aset Kebutuhan Likuiditas
perusahaan investasi pada jangka panjang
aktiva baru
Pendanaan Kapasitas Membayar Likuiditas
Meminjam hutang dengan jangka panjang
bunga dan
kewajiban
lainnya
Analisis risiko dibagi menjadi dua bagian:
a) Analisis risiko jangka pendek (short term liquidity risk): memfokuskan pada
kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (kurang dari
satu tahun) Risiko likuiditas jangka pendek membutuhkan suatu pemahaman
tentang siklus operasi perusahaan. Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan
untuk menilai risiko likuiditas jangka pendek adalah:

 Rasio lancar (current ratio)


Current ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas
suatu perusahaan. Semakin tinggi current ratio maka semakin likuid suatu
perusahaan dan semakin rendah risiko perusahaan.
 Rasio cepat (quick ratio)
Quick ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas
suatu perusahaan. Semakin tinggi quick ratio maka semakin likuid suatu
perusahaan dan semakin rendah risiko perusahaan.
 Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar (operating cash
flow to current liabilities)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kas yang dihasilkan dari operasi
dapat menutupi kewajiban lancar perusahaan. Semakin tinggi rasio ini
maka semakin rendah risiko yang dihadapi perusahaan.

b) Analisis risiko jangka panjang (long term liquidity risk): memfokuskan pada
kemampuan perusahaanmemenuhi kewajiban jangka panjangnya (lebih dari satu
tahun) Risiko solvabilitas jangka panjang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga dan angsuran
pinjaman atas utang jangka panjang dan untuk memenuhi kewajiban yang segera
jatuh tempo.

Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai risiko


solvabilitas jangka penjang adalah:

 Rasio utang jangka panjang (long-term debt ratio)


Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang digunakan oleh
perusahaan untuk membiayai aktivanya. Semakin besar rasio ini maka
semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula
sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula risiko yang
dihadapi perusahaan
 Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang dimiliki oleh
perusahaan jika dibandingkan dengan ekuitas. Semakin besar rasio ini
maka semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian
pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula risiko
yang dihadapi perusahaan.
 Rasio kewajiban terhadap aktiva (liabilities to assets ratio)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar utang yang digunakan untuk
membiayai aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin
besar pula risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula sebaliknya,
semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula risiko yang dihadapi
perusahaan.
 Rasio cakupan bunga (interest coverage ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kemampuan perusahaan untuk dapat
menutupi atau memenuhi kewajiban bunga atas pinjamannya kepada
kreditor. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko yang
dihadapi perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini
maka semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan
 Rasio arus kas operasi terhadap total kewajiban (operating cash flow to
total liabilities ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan arus kas dari kegiatan operasi untuk menutupi atau
memenuhi seluruh kewajibannya. Semakin besar rasio ini maka semakin
kecil risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Demikian pula sebaliknya,
semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko yang dihadapi oleh
perusahaan.
 Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal (operating cash
flow to capital expenditure)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar penggunaan arus kas operasi yang
dihasilkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pengeluaran modal.
Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko yang dihadapi oleh
perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka
semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan.

Dalam konteks investasi terdapat beberapa jenis risiko yang perlu


dipertimbangkan oleh perusahaan yaitu antara lain:

1. Risiko tingkat suku bunga (interest rate risk)

2. Risiko pasar (market risk)

3. Risiko inflasi (inflation risk)

4. Risiko nilai tukar (exchange rate risk)

5. Risiko bisnis (business risk)

6. Risiko financial (financial risk)

7. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Menurut Djohanputro (2008), Risiko dapat diklasifikasikan menjadi ke dalam dua


kategori, yaitu:

 Risiko Murni dan Spekulatif

Risiko Murni adalah risiko yang dapat mengakibatkan kerugian dan tidak
sedikitpun mengandung kemungkinan keuntungan. Contoh dari risiko ini
adalah setiap aset pada perusahaan memiliki risiko pencurian dan tidak
ada pencurian yang mengandung keuntungkan.

Risiko Spekulatif adalah risiko yang mengakibatkan dua kemungkinan,


apakah risiko tersebut mengakibatkan keuntungan atau kerugian.
Misalnya, perusahaan yang menyimpan valuta asing dapat memperoleh
keuntungan saat nilai tukar valuta sing tersebut menguat, akan tetapi saat
mengalami penurunan nilai tukar valas tersebut, perusahaan akan
mengalami kerugian.

 Risiko Sistemik dan Spesifik


Risiko sistemik adalah risiko yang tidak dapat didiversifikasi. Ciri dari
risiko sistemik adalah tidak dapat dihilangkan atau dikurangi dengan
penggabungan dengan risiko lain.

Risiko spesifik adalah risiko yang dapat didiversifikasi, dapat dihilangkan


melalui proses penggabungan. Contoh dari risiko spesifik adalah saat
mendekati Lebaran pedagang menjual ketupat, namun pada tahun baru
tiba, para pedagang ketupat tersebut berjualan terompet. Contoh tersebut
menunjukkan pada saat tahun baru tiba penjualan ketupat akan menurun
sehingga pedagang tersebut beralih menjual terompet.

3. Contoh Kasus Analisis Risiko

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. merupakan produsen berbagai


jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini
didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salim dengan nama PT.
Panganjaya Intikusuma yang pada tanggal 5 Februari 1994 menjadi Indofood Sukses
Makmur. Perusahaan ini mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia,
dan Eropa.

Dalam beberapa dekade ini Indofood telah bertransformasi menjadi sebuah


perusahaan total food solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh
tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku
hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. merupakan salah satu perusahaan mie
instant dan makanan olahan terkemuka di Indonesia yang menjadi salah satu cabang
perusahaan yang dimiliki oleh Salim Group.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh manfaat
dari ketangguhan model bisnisnya yang terdiri dari empat kelompok usaha strategis
(grup) yang saling melengkapi sebagai berikut:
 Produk Konsumen Bermerek (CBP)
Kegiatan usahanya dilaksanakan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP),
yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tanggal 7 Oktober 2010.
ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan terkemuka di
Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk makanan dalam kemasan.
 Bogasari
Memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta. Kegiatan
usaha Grup ini didukung oleh unit perkapalan dan kemasan.
 Agribisnis
Kegiatan usahanya terkonsentrasi pada Indofood Agri Resources Ltd.
(IndoAgri), yang tercatat di Bursa Efek Singapura, dan anak-anak perusahaannya
termasuk PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum), yang tercatat di BEI.
Kegiatan usaha utama Grup ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan,
pemuliaan dan pengolahan kelapa sawit hingga produksi dan pemasaran minyak
goreng, margarin dan shortening bermerek. Di samping itu, kegiatan usaha grup ini
juga mencakup pemuliaan dan pengolahan karet dan tebu serta tanaman lainnya.
 Distribusi
Memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia. Grup ini
mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak-anak
perusahannya, serta berbagai produk pihak ketiga.
PT Indofoot juga memiliki Visi dan Misi yakni :
Visi PT Indofood Tbk.:
“Menjadi Perusahaan Total Food Solutions.”
Misi PT Indofood Tbk.:
 Senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi, dan teknologi.
 Menyediakan produk yang berkualitas tinggi, inovatif dengan harga terjangkau,
yang merupakan pilihan pelanggan.
 Memastikan ketersediaan produk bagi pelanggan domestik maupun internasional.
 Memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia,
khususnya dalam bidang nutrisi.
 Meningkatkan stakeholders’ value secara berkesinambungan.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
menggunakan strategi:
Menjalin kerjasama dengan pemasok bahan baku untuk meningkatkan kualitas
produk, dan meningkatkan distribusi produk-produk.

Risiko bisnis yang dihadapi oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Jenis risiko yang pertama adalah risiko murni, PT Indofood
Sukses Makmur Tbk. mungkin saja menanggung risiko tersebut apabila misalnya
terjadi kebakaran atau pencurian asset seperti pencurian persediaan. Sedangkan jenis
risiko berikutnya adalah risiko spekulatif. Risiko spekulatif ini dapat meliputi
variabilitas dari biaya input, harga jual, dan permintaan, kemudian dapat juga meliputi
kemampuan menjual produk baru dan mengembangkan produk yang sudah ada, dan
tingkat nilai tukar rupiah terhadap dolar. Risiko yang dihadapi perusahaan
diantaranya:
 Risiko keamanan pangan
Sebagai produsen makanan olahan dalam kemasan dan memiliki konsumen
dari segala usia, Perseroan menghadapi risiko yang berhubungan dengan keamanan
produk barang jadi yang dipasarkan.
Walaupun Perseroan telah memperhatikan faktor higienis makanan dan
memastikan bahwa bahan baku yang dipergunakan telah sesuai dengan yang
ditetapkan oleh instansi yang berwenang dan memenuhi persyaratan untuk
memperoleh sertifikat halal, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa produk
makanan tersebut dapat tercemar ataupun terkena isu negatif lainnya. Apabila terjadi,
hal tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha dan
operasional Perseroan.
 Risiko fluktuasi harga bahan baku dan komoditas
Harga dan biaya produksi Perseroan dipengaruhi oleh harga bahan baku di
pasar internasional, terutama gandum yang digunakan untuk memproduksi tepung
terigu Grup Bogasari, dan bahan baku lainnya yang diimpor seperti SMP
dan resin (bahan baku untuk pembuatan kemasan).
Harga tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
· Tingkat produksi bahan baku dunia.
· Tingkat penawaran dan permintaan produk.
· Tingkat konsumsi dunia atas produk-produk; dan
· Perkembangan perekonomian dunia pada umumnya.
Fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar
Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan dampak negatif terhadap
kegiatan operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Walaupun Perseroan dapat
menaikkan harga jual produknya akan tetapi Perseroan tidak dapat secara langsung
meningkatkan harga jual produk sedemikian rupa sejalan dengan kenaikan harga
bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata
uang asing.
 Risiko peningkatan kompetisi pada segmen usaha
Sebagian besar produk Perseroan menghadapi kompetisi baik dari perusahaan
lokal maupun internasional. Tidak dapat dipastikan bahwa kompetitor tidak akan
mengoptimalkan upayanya dalam berkompetisi untuk meningkatkan pangsa pasarnya
dan/atau tidak akan ada tambahan pesaing domestik maupun asing yang memasuki
pasar dimana Perseroan beroperasi. Peningkatan kompetisi tersebut dapat
mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk mempertahankan atau menaikkan
pendapatannya.
 Risiko suksesi dan ketrampilan tenaga kerja
Kesuksesan Perseroan tidak luput dari faktor ketersediaan tenaga kerja yang
handal untuk terus dapat melakukan yang terbaik serta mendukung budaya untuk
terus berinovasi agar memperoleh hasil yang unggul. Oleh karena itu Perseroan
menyadari risiko kegagalan pengembangan karyawan atau mempertahankan tenaga
kerja bertalenta dapat mempengaruhi kegiatan bisnis, daya saing, dan pertumbuhan
Perseroan secara nyata.
 Risiko bencana alam, iklim dan cuaca ekstrim
Secara geografis, fasilitas Perseroan berupa kantor, pabrik, perkebunan dan
gudang distribusi, hampir seluruhnya berlokasi di Indonesia yang berlokasi di pulau
Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Letak Indonesia berada di zona pertemuan dari tiga lempengan bumi utama
yang berpotensi mengalami gempa bumi, tsunami, gelombang laut dan letusan
gunung berapi. Hal ini dapat terjadi di luar kendali Perseroan, dan dapat
membahayakan keselamatan karyawan, merusak fasilitas, dan mengganggu jalur
distribusi. Walaupun risiko ini tidak berdampak negatif secara langsung terhadap
kegiatan usaha Perseroan di masa lampau, tetapi bencana tersebut dapat berdampak
negatif terhadap keadaan ekonomi Indonesia pada umumnya yang secara tidak
langsung akan berdampak juga terhadap Perseroan. Selain itu, beberapa kegiatan
usaha dan hasil operasional Perseroan juga tergantung pada iklim dan kondisi cuaca.
Risiko yang berhubungan dengan hal tersebut akhir-akhir ini meningkat
dengan adanya efek rumah kaca di atmosfer yang berdampak buruk terhadap suhu
global dan perubahan suhu secara ekstrim. Kondisi tersebut dapat berdampak negatif
terhadap produktivitas, kinerja dan prospek usaha Perseroan.
Analisis Risiko Perusahaan
Tujuan dari analisis risiko adalah untuk membedakan risiko minor yang dapat
diterima dari resiko mayor, dan untuk menyediakan data untuk membantu evaluasi
dan penanganan risiko. Analisis risiko akan tergantung dari informasi dan data yang
tersedia.
Risiko yang dapat dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Resiko yang di
analisis secara kuantitatif adalah risiko keuangan dengan menggunakan penghitungan
rasio keuangan. Perhitungan rasio ini dilakukan dari data laporan keuangan PT
Indofood Sukses Makmur Tbk sejak tahun 2011 sampai tahun 2013. Beberapa rasio
yang sudah dianalisis adalah rasio likuiditas, rasio leverage, dan rasio profitabilitas.
Dari hasil perhitungan rasio likuiditas, PT Indofood Sukses Makmur Tbk
memiliki rasio likuiditas yang baik yakni lebih dari 1, walaupun nilainya
fluktuatif. Rasio berikutnya adalah rasio profitabilitas. Dari hasil perhitungan rasio
profitabilitas didapatkan hasil Gross profit margin secara rata-rata selalu mengalami
peningkatan, begitu juga dengan Return On Aset (ROA) mencerminkan tingkat
pengembalian terhadap investasi aset perusahaan.
ROA secara rata-rata selalu meningkat yang dapat diartikan bahwa
pengembalian terhadap aset lancar perusahaan selalu meningkat pula. Berkaitan
dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini sedang menjadi
permasalahan, didapatkan dari hasil regresi bahwa volatilitas kurs rupiah per dolar
berpengaruh negatif terhadap return harian saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
Semakin besar ROA suatu perusahaan maka semakin baik pula kinerja
perusahaan tersebut. ROA berpengaruh negatif terhadap prediksi kebangkrutan
perusahaan yang berarti semakin tinggi rasio tinggi ROA kemungkinan perusahaan
bangkrut semakin kecil
ROA =
Tahun Perhitungan Hasil
(dalam %)
2011 8.795,9/78.092,8 0,1126339432
2012 8.567,8/59.389,4 0,144264801
2013 8.360/53.716 0,15563333

ROE adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan modal sendiri
suatu perusahaan. ROE merupakan indikator yang penting bagi pemegang saham
untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih
yang berkaitan dengan dividen. Jika rasio ini meningkat maka laba bersih dari
perusahaan yang bersangkutan akan meningkat pula, peningkatan tersebut juga
mempengaruhi harga saham. ROE berpengaruh negatif terhadap kemungkinan
perusahaan bangkrut, artinya semakin kecil ROE maka probabilitas perusahaan
bangkrut semakin besar
ROE = X 100%
Tahun Perhitungan Hasil (dalam %)

2011 8.795,9/39.719,7 0,221449306


2012 8.567,8/25.249,2 0,339329562
2013 8.260/22.114,7 0,373507214
Operating Income Return on Investment menunjukkan kefektifan manajemen
dalam menghasilkan laba operasional atas aset-aset perusahaan, yang diukur dengan
membandingkan laba operasional terhadap total aset. Dengan kata lain OIROI
mengambarkan kemampuan perusahaan untuk menjaga biaya operasional rendah.
OIROI mengukur seberapa efisien perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari
total aset yang dimiliki yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan teresebut.
Semakin besar OIROI maka semakin efektif suatu perusahaan dalam mengelola total
aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
OIROI =
Tahun Perhitungan Hasil (dalam %)

2011 6.718/78.092,8 0,086025856

2012 6.877/59.389,4 0,115795074

2013 6.847,4/53.716 0,127474123

Respon Terhadap Risiko


Perseroan menyadari bahwa penerapan sistem manajemen risiko yang memadai
sangat penting untuk menghadapi beragamnya risiko kegiatan usaha yang dihadapi
sejalan dengan semakin berkembangnya usaha Perseroan. Untuk itu, Perseroan
menjalankan pengelolaan terhadap risiko dengan menerapkan sistem ERM yang telah
dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan di seluruh organisasi, termasuk
anak perusahaan. Perseroan mengelola ERM berdasarkan kerangka dasar COSO
(Committee of Sponsoring Organization of Treadway Commission) dan ISO 31000,
yang disesuaikan dengan kegiatan usaha dan budaya Perseroan.
Direksi bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam suksesnya
penanganan manajemen risiko dan pengendalian internal yang efektif. Untuk itu,
Perseroan membentuk tim manajemen risiko yang didedikasikan untuk menjalankan
proses ERM dan implementasinya. Setiap manajemen anak perusahaan, berperan
penting atas proses ERM, yaitu melakukan identifikasi risiko, menganalisa
kemungkinan exposure, menetapkan langkah-langkah perbaikan dan pengendalian
internal, dan memberikan laporan ERM kepada manajemen terkait.
Komite Audit sebagai kepanjangan tangan dari Dewan Komisaris, melakukan
pengawasan terhadap program dan implementasi manajemen risiko. Laporan
konsolidasi ERM disampaikan setiap semester kepada Direksi dan Komite Audit.
Audit Internal melakukan penelaahan yang independen melalui audit yang dilakukan
secara rutin untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa risiko yang
signifikan dan kelemahan pengendalian internal teridentifikasi dan tindakan perbaikan
dijalankan. Laporan penelahaan tersebut disajikan dalam laporan audit internal yang
disampaikan secara rutin kepada Direksi dan Komite Audit. Beberapa risiko-risiko
utama yang dapat berpotensi memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap
operasional Perseroan, dan langkah langkah Perseroan dalam mengurangi risiko
tersebut adalah sebagai berikut:
 Risiko keamanan pangan
Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan melakukan proses kontrol yang
berkesinambungan, dimulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas, pemilihan
pemasok, proses penerimaan bahan baku dan proses produksi dan distribusi yang
sesuai dengan standard operating procedures.
Perseroan senantiasa menerapkan Good Manufacturing Practices untuk
memastikan produk dibuat dengan proses yang higienis dan menghasilkan kualitas
yang baik. Sebagian besar fasilitas produksi Perseroan telah memperoleh sertifikasi
ISO 9001 dan ISO 22000, dan/atau sertifikasi HACCP (Hazard Analysis & Critical
Control Points), serta beberapa fasilitas produksi lainnya telah memperoleh sertifikasi
ISO 14000. Di samping itu, seluruh produk Perseroan telah mendapatkan sertifikat
halal dari MUI. Sebagian besar produk Perseroan juga telah memperoleh berbagai
sertifikasi lainnya, seperti sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang
dikeluarkan oleh lembaga pemerintahan yang berwenang. Untuk menanggapi keluhan
dan mendapatkan masukan yang berharga dari konsumen, Perseroan menyediakan
Layanan Konsumen Indofood.
 Risiko fluktuasi harga bahan baku dan komoditas
Fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar
Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan dampak negatif terhadap
kegiatan operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Walaupun Perseroan dapat
menaikkan harga jual produknya akan tetapi Perseroan tidak dapat secara langsung
meningkatkan harga jual produk sedemikian rupa sejalan dengan kenaikan harga
bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata
uang asing.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Perseroan melakukan kegiatan-kegiatan
strategis dengan membentuk pola hubungan kerja sama dan kemitraan dengan petani
dan pemasok, melakukan simulasi harga bahan baku terhadap harga jual, melakukan
kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan dalam dan luar negeri, dan
menggunakan bahan baku substitusi tanpa mengurangi kualitas akhir dari produk
barang jadi yang dipasarkan kepada konsumen. Ketangguhan model bisnis Perseroan
yang terdiri dari kegiatan usaha komoditas dan non-komoditas juga memberikan
manfaat dalam mengurangi risiko tersebut dan dapat meredam dampak gejolak harga
komoditas yang pada akhirnya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pendapatan dan keuntungan Perseroan.
 Risiko peningkatan kompetisi pada segmen usaha
Untuk melanjutkan sukses dan mengurangi risiko tersebut, Perseroan
senantiasa mengikuti dinamika perkembangan pasar, meluncurkan produk yang sesuai
dengan kebutuhan dan selera konsumen, melakukan inovasi secara berkelanjutan
untuk menghasilkan produk unggulan baru, mempertahankan dan meningkatkan
kualitas produk, melakukan kegiatan pemasaran yang tepat sasaran dan menerapkan
program-program efisiensi biaya guna meningkatkan daya saing. Dalam iklim bisnis
yang kompetitif ini, Perseroan tetap menjalankan usahanya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.
 Risiko suksesi dan ketrampilan tenaga kerja
Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan melakukan kegiatan pengembangan
karyawan berkelanjutan serta program pelatihan profesional baik internal atau
eksternal. Dengan program tersebut, Perseroan dapat mempertahankan tenaga kerja
bertalenta yang sudah ada dan menarik tenaga kerja bertalenta yang baru, demi
meneruskan kelangsungan operasional dan daya saing Perseroan di era globalisasi ini.
 Risiko bencana alam, iklim dan cuaca ekstrim
Untuk menangani risiko tersebut, Perseroan melakukan kajian terhadap
perlindungan bencana alam seperti kecukupan perlindungan asuransi dan
implementasi sistem penanggulangan krisis. Perseroan juga melakukan kegiatan
tanggung jawab sosial terkait dengan kejadian bencana alam sebagai bentuk
kepedulian terhadap masyarakat.
Kesimpulan

Manajemen laba merupakan tindakan yang disengaja oleh manajer dengan


memanfaatkan peluang yang ada dalam prinsip-prinsip akuntansi (boleh dilakukan)
untuk kepentingan tertentu. Hal ini (manajemen laba) terjadi merupakan akibat dari
hubungan asimetri antara manajer, pemegang saham, dan pihak-pihak yang memiliki
kepentingan dengan perusahaan.
Praktek manajemen laba disatu sisi berbentuk praktek manipulasi sementara
disisi yang lain praktek sehat (murni), namun kedua-duanya diperbolehkan oleh
Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (PABU/GAAP). Sementara untuk
yang manipulasi ketika dalam lingkup Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berterima
Umum (PABU/GAAP) artinya tidak melanggar atau menyimpang, maka praktek
manajemen laba ini bukan termasuk kategori tindakan fraud. Sebaliknya jika
manipulasi atas manajemen laba dilakukan melanggar atau menyimpang dari Prinsip-
prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (PABU/GAAP), maka ini termasuk
kategori fraud.
Analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah prosedur
untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian menganalisanya untuk
memastikan hasil pembongkaran dan menyoroti bagaimana dampak-dampak yang
ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis risiko bersama-sama dengan
analisis profitabilitas digunakan untuk mengevaluasi daya tarik suatu perusahaan. Ada
beberapa sumber resiko : internasional, nasional ,industry dan perusahaan itu sendiri.
Sumber-sumber resiko tersebut secara langsung atau tidak langsung akan
mempengaruhi perusahaan. Rekening off balance sheet kelihatannya tidak
mempunyai pengaruh terhadap neraca karena tidak tercantum di neraca, meskipun
sebenarnya mempunyai pengaruh.penyesuaiaan bias dilakukan dengan memasukkan
item-item off balance sheet kedalam analisis.
Daftar Pustaka

Albrecht, W. Steve and Chad. 2003. Fraud Examination. New York: Thomson South-
Western.
Assih, & Gudono, M. 2000. Hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi Pasar atas
Pengumuman Informasi Laba Perusahaan. Jurnal Riset Indonesia. h.35-53.
Bartov, Eli. 1993. The Time of Assets Sales and Earnings Manipulation. The Accounting
Review Vol. 68 No. 4 (October), p. 840-855.
Beneish, M.D. and M.E. Vargus. 2002. “Insider Trading, Earnings Quality, and Accruals
Mispricing”. The Accounting Review 77: 755--791.
Bologna dan Lindquist. 1995. Fraud Auditing and Forensic Accounting. New York: John
Wiley & Sons.
Cheng, Q., and Warfield, D. T. 2005. Equity Incentives and Earnings Management.The
Accounting Review, 80 (April): 441-476.
Daley, Lane, and Philip Vigeland. 1993. The Effects of Debts Covenants and Political Costs
on The Choice of Accounting Method: The Case of Accounting for R&D
Costs. Journal of Accounting and Economics. p. 195–211.
Fischer, M dan K Rosenzweig. 1995. Attitudes of Students and Accounting Practitioners
Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Management.Journal of Business
Ehtics. 14: 234-444.
Fischer, Marily, and Kenneth Rosenzweig. 1995. Attitude of Students and Accounting
Practitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Management. Journal
of Business Ethics. Vol. 14. p. 433–444.
Frankel, Micah, danTrezervant, 1994, The Year End LIFO Inventory Purchasing Decesion:
An Empirical Test. The Accounting Review, April, 382-398.
Guenther, David A. 1994. Earnings Management in Response to Corporate Tax Rate
Changes: Evidence from the 1986 Tax Reform Act. The Accounting Review, 230-243.
Healy, P.M. and J.M. Wahlen. 1999. “A Review of the Earnings Management Literature and
its Implication for Standard Setters”. Accounting Horizon.
Healy, P.M. and Palepu, K.G. 2001. Information Asymmetry, Corporate Disclosure, and the
Capital Markets: A Review of the Empirical Disclosure Literature.Journal of
Accounting and Economics 31: 405–440.
Jansen, M.C., and W.H. Meckling. 1976. Theory of The Firm: Managerial Behaviour,
Agency Cost, and Ownership Structure. Journal of Financial and Economic, 3, 305-
360.
Lambert, D.M., Stock, J.R., 2001. Strategic Logistic Manajement, Fourth Edition. Mc Graw
Hill: New York - USA.
Maydew, Edward L.1997. Tax-Induced Earnings Management by Firms with Net Operating
Losses. Journal of Accounting Research, Spring: 83-96.
Phillips, John., Morton Pincus dan Sonja Olhoft Rego. 2003. Earnings Management: New
Evidence Based on Deferred Tax Expense. The Accounting Review. Vol 78: 491-521.
Prasetyo, Dwi. Rifka Julianty. 2002. Analisis Laporan Keuangan Edisi Revisi. Yogyakarta:
AMP YKPN.
Rahmawati dan Mutiara Solikhah. 2008. The Ability Of Deffered Tax Expense In Detecting
Earnings Management At The Manufacture Companies Listed In The Indonessian
Stock Exchange, JAMER Vol. 8 No.1 Januari.
Rahmawati dkk, 2006. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap prakteik Manajemen Lab
Perusahaan Perbankan Publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Simposium
Nasional Akuntansi IX, Padang.
Rahmawati, Sri Seventy Pujiastuti, dan Anastasia Riani Suprapti. 2010. Model Strategi
Manajemen Laba Pada Perusahaan Publik Di Bursa Efek Indonesia: Suatu
Pemeriksaan Pergeseran Klasifikasi Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Saham,
Pemilihan Metoda Akuntansi, Klasifikasi Akuntansi, Dan Pengaturan Waktu
Transaksi. Jurnal Akuntansi UNTAR, Januari tahun XIV no. 01.
Rahmawati. 2007. Model Pendeteksian Manajemen Laba Pada Industri Perbankan Publik Di
Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Perbankan, JAM YKPN April.
Rahmawati. 2008. Motivasi, Peluang, dan Batasan Manajemen Laba (Studi Empiris Pada
Industri Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta), Jurnal Ekonomi dan
Bisnis (JEBI), Desember.
Rajan, M.V. and R.E. Saouma. 2006. “Optimal Information Asymmetry.” The Accounting
Review, Vol. 81, No. 3, May: 677 – 712.
Ramos, J. "Using TF-IDF to Determine Word Relevance in Document Queries. Department
of Computer Science, Rutgers University. Journal of Computer and System
Sciences, 2003: 671-687.
Rashidah Abdul Rahman and Fairuzana Haneem Mohamed Ali. 2006. Board, Audit
Committee, Culture and Earnings Management: Malaysian Evidence.Manajerial
Auditing Journalt Volume 21 Issue 7:783-804.
Schipper, K. (1989). “Commentary on Earnings Management”. Accounting Horizon(3), 91-
102.
Scott, William R. 2003. Financial Accounting Theory. New Jersey: Prentice Hall Inc
Setiawati, L. dan A. Na.im. 2000. Manajemen Laba. Journal Ekonomi dan Bisnis. Mei: 159-
176.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 2009. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Cetakan 11. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Subekti Dj, Rahmawati, Handayani Tri Wijayanti. 2008. Analisis Perbedaan Antara Laba
Akuntansi Dan Laba Fiskal Terhadap Persistensi Laba, Akrual, Dan Aliran Kas Pada
Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia. Januari.
Suradi. 2012. Mengapa Seorang Korupsi?. BPK diakses di
http://www.bppk.depkeu.go.id/bdk/palembang/attachments/178_MENGAPA-
SESEORANG-KORUPSI.pdf
Tuanakotta, Theodorus M. 2010. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, Edisi 2. Jakarta:
Salemba Empat.
Tuanakotta, Theodorus M. 2013. Mendeteksi Manipulasi Laporan Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat.
Watts, R, L., and Zimmerman, J, L. 1986, Positive Accounting Theory. New York:Prentice
Hall.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20180531114910-4-17302/leo-chandra-
columbia-dan-lilitan-utang-snp-finance
http://rumajamur.blogspot.com/2016/06/analisis-risiko-pada-pt-indofood.html