Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sakit kritis adalah kejadian tiba-tiba dan tidak diharapkan serta


membahayakan hidup bagi pasien dan keluarga yang mengancam keadaan stabil
dari ekuibrium internal yang biasanya terpelihara dalam unit keluarga tersebut
(Morton dkk, 2011). Hal ini sesuai dengan Comprehensive
Critical Care Department of Health-Inggris yang merekomendasikan untuk
memberikan perawatan kritis sesuai filosofi perawatan kritis tanpa batas (critical
care without wall), yaitu kebutuhan pasien kritis harus dipenuhi di manapun
pasien tersebut secara fisik berada di dalam rumah sakit (Jevon dan Ewens, 2009).

Meskipun perawatan fokus pada pasien telah menjadi bagian dari tugas
perawat sejak tahun 1970, namun menghadirkan peran keluarga dalam pemberian
dukungan pada pasien kritis baru saja diterima sebagai peraturan penting.
Dukungan keluarga tersebut sangat berguna sebagai pendekatan untuk
menetapkan intervensi, menyampaikan informasi serta sebagai evaluasi dari
perawatan kesehatan. Dukungan keluarga tersebut diperlukan untuk semua jenis
usia dan menjadi bagian dalam susunan asuhan keperawatan. Banyak penelitian
yang telah dilakukan pada kebutuhan keluarga yang memiliki pasien kritis.
Keluarga tersebut membutuhkan informasi, ketenangan dan kedekatan dengan
pasien. Kedekatan tersebut memberikan ketenangan kepada anggota keluarga
pasien (Mitchell, 2009).

Dukungan keluarga tersebut tidak hanya diperlukan pada pasien dewasa,


akan tetapi terlebih pada pasien neonatal di unit perawatan intensif neonatal
(Neonatal Intensive Care Unit) merupakan hal yang sangat penting dari asuhan
keperawatan bayi baru lahir, terutama dalam pemberian informasi (Mundy, 2010).
Bagi keluarga pasien yang mendapatkan perawatan intensif dalam kenyataannya
memiliki stress emosional yang tinggi. Mendapatkan informasi tentang kondisi
medis dan hubungan dengan petugas pemberi pelayanan merupakan prioritas
utama yang diharapkan dan diperlukan oleh pasien (Azizahkh, 2010). Stress yang
dialami kelurga pasien juga timbul akibat lingkungan rumah sakit, dokter dan
perawat yang merupakan bagian asing, bahasa medis yang sulit untuk dipahami
dan terpisahnya dari anggota keluarga dengan pasien. Untuk itu pelayanan
keperawatan perlu memberikan perhatian untuk memenuhi kebutuhan keluarga
selain itu pelayanan keperawatan juga perlu memahami kepercayaan, nilai-nilai
keluarga, menghormati struktur, fungsi, dan dukungan keluarga. Pelayanan
keperawatan dapat mengusahakan sumber dukungan yang kuat bagi pasien yang
dapat diperoleh dari dukungan keluarga (Potter & Perry, 2009). Dukungan

1
keluarga dapat memperkuat setiap individu, pasien, menciptakan kekuatan
keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, mempunyai potensi
sebagai strategi pencegahan utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi
tantangan kehidupan sehari-hari serta mempunyai relevansI dalam masyarakat
yang berada dalam lingkungan yang penuh tekanan (Ambari, 2010). Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumhover & Hughes (2009) diperoleh hasil
bahwa sekitar 58% perawat dan 34% dokter serta asisten dokter sangat menyetujui
kehadiran keluarga pasien sebagai hak keluarga pasien. Hal ini dikarenakan
kehadiran keluarga tersebut dapat menyebabkan pasien merasa nyaman karena
mereka merasa masih diterima serta membuat pasien merasa bahwa mereka
memiliki dukungan yang sangat kuat terutama dukungan emosional dan membuat
pasien merasa bahwa mereka tidak sendiri. Akan tetapi pemanfaatan dan
penetapan waktu berkunjung yang terbatas dapat menimbulkan kesalahpahaman
antara perawat dan keluarga. Jam kunjungan di Unit Perawatan Kritis di batasi
dengan rasional bahwa istirahat, ketenangan, dan lingkungan yang tidak terganggu
adalah intervensi keperawatan yang terapeutik. Keluarga sering kali menafsirkan
batasan ini sebagai penolakan akses orang yang mereka sayangi (Morton, dkk,
2011).

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana Pencegahan Primer Dalam Berbagai System?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pencegahan primer pada pasien kritis dalam berbagai
sistem.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pencegahan Primer
Upaya yang ditujukan kepada orang-orang sehat dan kelompok
resiko tinggi yakni mereka yang belum menderita, tetapi berpotensi untuk
mengalami Multi trauma. Tujuan dari pencegahan primer yaitu untuk
mencegah timbulnya Multi Trauma pada individu yang beresiko mengalami
Multi Trauma atau pada populasi umum. Sasaran pencegahan primer yaitu
orang-orang yang belum sakitdan klien yang beresiko terhadap kejadian
Multi Trauma.
Pencegahan primer adalah intervensi biologi,sosial,atau psikologis
yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan atau menurunkan
insiden penyakit di masyarakat dengan mengubah faktor-faktor penyebab
sebelum membahayakan seperti penyuluhan kesehatan, pengubahan
lingkungan, dukungan system social.

2.2 Pencegahan primer dalam berbagai sistem


1. Sistem Reproduksi
 Pencegahan Primer Penyakit Sifilis
Sasaran pencegahan terutama ditujukan kepada kelompok orang yang
memiliki resiko tinggi tertular sifilis. Bentuk pencegahan primer yang
dilakukan adalah dengan prinsip ABC yaitu :
1. A (Abstinensia), tidak melakukan Pengaruh seks secara bebas dan
bergantiganti pasangan.
2. B (Be Faithful), bersikap saling setia dengan pasangan dalam
Pengaruh perkawinan atau Pengaruh perkawinan atau Pengaruh
jangka panjang tetap.
3. C (Condom), cegah dengan memakai kondom yang benar dan
konsisten untuk orang yang tidak mampu melaksanakan A dan B.
4. D (Drug), tidak menggunakan narkoba/napza.

3
5. E (Education), pemberian informasi kepada kelompok yang
memiliki resiko tinggi untuk tertular sifilis dengan memberikan
leaflet,brosur, dan stiker.
2. Sistem Endokrin
 Pencegahan Primer Penyakit Diabetes Millitus
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang
memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi
berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa.
Materi penyuluhan meliputi antara lain sebagai berikut:
1. Program penurunan berat badan. Pada seseorang yang mempunyai
risiko diabetes dan mempunyai berat badan lebih, penurunan berat
badan merupakan cara utama untuk menurunkan risiko terkena DM
tipe 2 atau intoleransi glukosa. Beberapa penelitian menunjukkan
penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat
munculnya DM tipe 2.
2. Diet sehat.
a. Dianjurkan diberikan pada setiap orang yang mempunyai risiko.
b. Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan
ideal.
c. Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara
terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan puncak (peak)
glukosa darah yang tinggi setelah makan.
d. Mengandung sedikit lemak jenuh, dan tinggi serat larut.
3. Latihan jasmani.
a. Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa
darah, mempertahankan atau menurunkan berat badan, serta dapat
meningkatkan kadar kolesterol HDL.
b. Latihan jasmani yang dianjurkan dikerjakan sedikitnya selama
150 menit/minggu dengan latihan aerobik sedang (mencapai 50-
70% denyut jantung maksimal), atau 90 menit/minggu dengan
latihan aerobic berat (mencapai denyut jantung > 70% maksimal).
Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 x aktivitas/minggu.

4
4. Menghentikan merokok. Merokok merupakan salah satu risiko
timbulnya gangguan kardiovaskular. Meskipun merokok tidak
berkaitan secara langsung dengan timbulnya intoleransi glukosa,
tetapi merokok dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari
intoleransi glukosa dan DM tipe 2.

3. Sistem Integumen
 Pencegahan Primer Penyakit Dermatitis
1. Menghindari Kontak Langsung dengan Alergen atau Iritan
Supaya tidak terserang penyakit dermatitis kontak, tentu hal yang
perlu dilakukan adalah dengan menghindari segala bentuk alergen
atau iritan, terutama secara langsung. Ketahui betul zat seperti apa
dan zat apa yang bisa memicu reaksi alergi sehingga Anda pun
dapat menghindarinya. Namun, jika sudah telanjur kulit Anda
terpapar oleh zat yang Anda percaya sebagai alergen atau pemicu
peradangan, bagian yang terkena tadi bisa segera dicuci atau
dibilas.
2. Mengenakan Sarung Tangan Plastik saat Bersih-bersih
Masih ada kaitannya dengan kondisi dermatitis kontak, agar kulit
tak mudah kena alergen seperti misalnya debu atau kotoran lain
yang berbahaya saat Anda bersih-bersih. Cobalah untuk
mengenakan pelindung untuk tangan Anda, seperti misalnya
sarung tangan plastik sesaat sebelum Anda akan mulai melakukan
pekerjaan rumah tangga. Bahkan menyentuh larutan pembersih pun
tidak dianjurkan karena biasanya mengandung zat keras.
3. Mengenakan Sarung Tangan saat Bekerja
Apabila Anda bekerja di tempat yang sekitarnya sering dan mudah
dijumpai adanya senyawa yang berbahaya bagi kulit, siapkan
pakaian pelindung yang aman berikut juga sarung tangan. Kedua
perlengkapan ini akan sangat membantu Anda memberikan
proteksi lebih terhadap kulit Anda yang berharga.
4. Menggunakan Krim atau Pelembab
Menjaga kelembaban dan kesehatan kulit bisa dilakukan dengan
selalu sedia krim atau pelembab ke manapun Anda pergi di mana
krim tersebut bisa dioleskan supaya menyediakan lapisan
pelindung bagi kulit. Pelembab juga merupakan solusi terbaik jika
Anda ingin lapisan paling luar kulit Anda kembali lembab. Khusus
untuk mencegah kambuhnya dermatitis seboroik, krim yang
dianjurkan untuk dipakai dan diaplikasikan ke kulit adalah yang

5
kandungan kortikosteroidnya tinggi (unsur anti jamur), contohnya
ambil saja ketoconazole.
5. Menggunakan Sisir Lembut
Dalam mencegah dermatitis seboroik yang biasanya terjadi pada
kulit kepala, tentu hal yang paling utama di sini adalah selalu
menggunakan sisir lembut ketika merapikan rambut. Bisa juga
memanfaatkan minyak zaitun yang diandalkan demi membuat
permukaan kulit kepala menjadi lebih lembut. Perawatan ini sangat
alami sehingga tidak akan memberikan efek samping berbahaya.
6. Keramas dan Mandi Teratur
Masih ada kaitannya dengan pencegahan dermatitis seboroik,
mencuci rambut serta mandi secara teratur jelas akan sangat
membantu supaya Anda terjauh dari penyakit kulit ini. Ingat bahwa
ada akibat jarang mandi pagi dan sore yang harus ditanggung.
Gunakan sampo yang benar-benar cocok, beserta sabun yang
sesuai dengan jenis kulit Anda. Pelembab juga bisa digunakan jika
Anda memerlukannya.
7. Menghindari Pakaian Berbahan Kasar
Pakaian dengan bahan tebal dan kasar contohnya adalah baju
hangat yang terbuat dari benang wool. Anda pasti setuju bahwa itu
adalah contoh yang paling sering kita jumpai dan mungkin Anda
memilikinya di rumah. Supaya kulit tak tersiksa, hindari jenis
pakaian tersebut karena bahannya yang kasar bisa memberikan
efek seperti menggaruk pada kulit sehingga akan membuat kulit
menjadi lebih mudah teriritasi. Selain itu, memilih pakaian dengan
bahan yang teksturnya halus seperti katun misalnya, ini akan
membuat sirkulasi udara menjadi lebih lancar.
8. Menghindari Penggunaan Sabun Keras
Sabun keras di sini bukan yang bertekstur keras, melainkan
berbahan keras yang bisa merusak kulit, seperti misalnya sabun
cuci piring dan juga deterjen yang rata-rata sama sekali membuat
kulit kasar. Pilihlah sabun cuci piring dan baju yang larutannya
aman dan sehat untuk kulit tangan Anda.
9. Menghindari Stres
Setiap orang pasti pernah stres, namun mengendalikannya supaya
tidak menjadi semakin serius adalah tugas Anda. Ingat bahwa stres
pun dapat berimbas pada rusaknya kulit, seperti misalnya beralih
ke makanan tak sehat yang membuat kulit akhirnya tak ternutrisi
dengan baik sehingga penyakit mudah datang dan menyerang.
10. Mandi dengan Baik
Aktivitas mandi setiap orang jelas berbeda-beda menurut
kepentingan dan kebiasaan masing-masing. Namun, untuk yang

6
takut dermatitis atopik bisa menyerang atau datang kembali, Anda
bisa mencegahnya dengan mandi menggunakan air hangat (jangan
terlalu panas), serta sabun yang cocok serta tak memicu kulit
kering. Sabun tersebut bisa digunakan tepat hanya di bagian lipatan
tubuh sekitar 15 menit paling lama. Setelah selesai mandi, tubuh
bisa dikeringkan dengan menggunakan handuk, menepuk-nepuk
kulit yang basah (bukan digesek-gesekkan), terakhir pelembab bisa
dioles ke tubuh.
11. Mencukur Kumis
Untuk menghindari dermatitis seboroik, jenggot maupun kumis
perlu dicukur secara teratur agar terjauh dari gejala. Atau kalaupun
Anda sudah mengalami gejala dermatitis seboroik ini, Anda masih
bisa mencegahnya supaya tak berlanjut semakin parah. Pencukuran
jenggot dan kumis diyakini mampu mengurangi gejala jenis
dermatitis tersebut.
12. Menghindari Menggaruk
Jika Anda sudah telanjur mengalami yang namanya gejala dari
dermatitis seboroik dan mulai ada rasa gatal serta muncul ruam di
kulit, bagian tubuh tersebut sebaiknya tidak digaruk. Segatal
apapun, tahan diri Anda karena jika digaruk maka hanya akan
menimbulkan infeksi serta adanya iritasi yang semakin parah.
13. Menghindari Cuaca Panas
Bagi Anda yang lebih suka beraktivitas di dalam ruangan tentu
bukan masalah untuk berdiam di dalam ruangan, namun bagi Anda
yang senang maupun wajib bekerja di luar ruangan, Anda perlu
menghindari paparan langsung sinar matahari. Cuaca yang panas
dan terpaparnya kulit Anda ke sinar UV akan dapat membuat kulit
lebih cepat kusam dan kering. Ketahui bahaya sinar matahari
langsung, waspadai juga bila terjadi adanya perubahan cepat akan
tingkat kelembaban, Anda harus mewaspadainya juga.Kalau ingin
menghindari cuaca panas, Anda bisa memanfaatkan jaket atau baju
lengan panjang serta celana panjang, berikut juga beberapa
aksesoris yang biasanya dimanfaatkan untuk melindungi bagian
tubuh. Memakai kacamata hitam maupun topi tak ada salahnya
supaya kulit tidak terlalu banyak terpapar sinar matahari yang
akhirnya bisa membahayakan kulit.
14. Menghindari Polusi dan Asap Rokok
Tak hanya rokok itu sendiri yang akan memicu gangguan
kesehatan di organ dalam, tapi asap rokok serta polusi udara
mampu merusak kulit. Keduanya diketahui termasuk faktor penting
dalam membuat gejala dermatitis atopik makin buruk.

7
4. Sistem Perkemihan
 Pencegahan Primer Penyakit ISK (Infeksi Saluran Kemih)
Beberapa pencegahan infeksi saluran kemih dan mencegah terulang
kembali, yaitu:
1. Jangan menunda buang air kecil, sebab menahan buang air seni
merupakan sebab terbesar dari infeksi saluran kemih.
2. Perhatikan kebersihan secara baik, misalnya setiap buang air seni,
bersihkanlah dari depan ke belakang. Hal ini akan mengurangi
kemungkinan bakteri masuk ke saluran urin dari rektum.
3. Ganti selalu pakaian dalam setiap hari, karena bila tidak diganti,
bakteri akan berkembang biak secara cepat dalam pakaian dalam.
4. Pakailah bahan katun sebagai bahan pakaian dalam, bahan katun
dapat memperlancar sirkulasi udara.
5. Hindari memakai celana ketat yang dapat mengurangi ventilasi
udara, dan dapat mendorong perkembangbiakan bakteri.
6. Minum air yang banyak.
7. Gunakan air yang mengalir untuk membersihkan diri selesai
berkemih.
8. Buang air seni sesudah hubungan kelamin, hal ini membantu
menghindari saluran urin dari bakteri.

5. Sistem Hematologi
 Pencegahan Primer Penyakit Anemia

a) Pendidikan
Pendidikan dan upaya yang ada kaitannya dengan peningkatan
asupan zat besi melalui makanan Konsumsi tablet zat besi
dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga
orang cenderung menolak tablet yang diberikan. Agar
mengerti, harus diberikan pendidikan yang tepat misalnya
tentang bahaya yang mungkin terjadi akibat anemia, dan harus
pula diyakinkan bahwa salah satu penyebab anemia adalah
defisiensi zat besi. Asupan zat besi dari makanan dapat
ditingkatkan melalui tiga cara :
 Pemastian konsumsi makanan yang cukup mengandung
kalori sebesar yang semestinya dikonsumsi.
 Meningkatkan ketersediaan hayati zat besi yang
dimakan, yaitu dengan jalan mempromosikan makanan

8
yang dapat memacu dan menghindarkan pangan yang
bisa mereduksi penyerapan zat besi.
 peningkatan gizi berupa makan makanan yang
mengandung vitamin zat bezi, seperti sayur-sayuran
(bayam, kangkung, jagung), telur, kismis.
b) Pola istirahat
Mengacu pada kegiatan/aktifitas yang mengakibatkan tubuh
mengalami/beresiko terkena anemia.menghindari kondisi
dimana tubuh mengalami gangguan pembentukan sel darah
merah.dan istirahat yang dianjurkan adalah minimal 8 jam per
hari.
c) Pola Hidup
menjaga agar sedikitnya jumlah hemoglobin dalam eritrosit.
Kekurangan hemoglobin ini menyebabkan kemampuan darah
mengikat oksigen berkurang.
b) Pola Aktifitas
Menjaga kondisi dimana tubuh kekurangan zat gizi yang
diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12
dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam
kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik,
keracunan obat, dan sebagainya. Menghindari situasi
kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen.
Melakukan tes darah secara rutin untuk melihat profil darah
dan mencegah terjadinya anemia.
d) Melakukan tes laboratorium
Mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga bisa
membedakan antara anemia biasa dengan anemia pernicious.
Bila ternyata kadar vitamin B12 normal, maka dapat dilakukan
pemberian asam folat dengan dosis 0,1-1,0 mg/hari.

6. Sistem Muskulokeletal
 Pencegaha Primer Penyakit Osteoporosis

9
Sebelum terlambat, segera lakukan cara mencegah osteoporosis
seperti berikut ini:

1. Jangan mengonsumsi makanan yang banyak mengandung


kalsium seperti lemak non yoghurt, keju, susu, sarden, ikan
tuna, dan ikan salmon. Konsumsilah makanan yang banyak
mengandung kalium dan vitamin K untuk mencegah kalsium
dalam tulang tidak berkurang, dan makan kedelai untuk
mempertahankan kepadatan tulang.
2. Dapatkan kalsium dan vitamin D yang dibutuhkan setiap hari.
Kalsium penting untuk membangun kekuatan tulang. Makan
makanan kaya kalsium adalah cara terbaik untuk mendapatkan
kalsium, atau Anda bisa mengonsumsi suplemen kalsium.
Vitamin D penting untuk melindungi tulang, dan tubuh Anda
juga membutuhkannya untuk menyerap kalsium. Anda bisa
mendapatkan vitamin D dengan mendapatkan sinar matahari
yang cukup, mengonsumsi makanan yang kaya vitamin D atau
mengonsumsi suplemen.
3. Olahraga teratur juga sebagai pencegahan osteoporosis.
Berolahraga secara rutin juga dapat menjaga kesehatan tulang,
meningkatkan stamina, kekuatan, postur tubuh, meningkatkan
fleksibilitas, keseimbangan, dan membantu mencegah
keroposnya tulang.
4. Cara mengatasi osteoporosis berikutnya adalah jangan
mengonsumsi alkohol, karena alkohol dapat mencegah
penyerapan kalsium dalam tulang. Berhentilah merokok karena
dapat meningkatkan fraktur tulang di usia tua.

7. Sistem Imunologi
 Pencegahan Primer Penyakit HIV
Pada sistem imunlogi, pencegahan primer yang dilakukan pada
penyakit HIV/AIDS, yaitu : Pencegahan primer dilakukan sebelum
seseorang terinfeksi HIV. Hal ini diberikan pada seseorang yang
sehat secara fisik dan mental. Pencegahan ini tidak bersifat

10
terapeutik ; tidak menggunakan tindakan yang terapeutik ; dan
tidak menggunakan identitas gejala penyakit.
Pencegahan ini meliputi beberapa hal, seperti :
1. Peningkatan kesehatan, misalnya : dengan pendidikan kesehatan
reproduksi tentang hiv/aids. : standarisasi nutrisi , menghindari
seks bebas,secreening
2. Perlindungan khusus : misalnya imunisasi, kebersihan pribadi, atau
pemakaian kondom.
3. Menyebarluaskan informasi mengenai hiv/aids ; meningkatkan
kesadaran perempuan tentang bagaimana cara menghindar
penularan hiv dan IMS , menjelaskan manfaat dari konseling dan
tes hiv secara sukarela.
4. Mengadakan penyuluhan hiv secara berkelompok : mempelajari
tentang penularan hiv dan IMS ( termasuk penggunaan kondom ),
bagaimana bernegosiasi seks aman ( penggunaan kondom ) dengan
pasangan . menghindari jarum suntik secara bersamaan .
menghindari kontak langsung bila ada luka atau berdarah.
Menghindari transfusi darah yang bebas, menghindari penggunaan
alat secara bersamaan, menghindari seks secara bebas.

8. Sistem Pencernaan
 Pencegahan Primer Penyakit Diare
Mencegah terjadinya gangguan pencernaan dapat dilakukan
dengan menjalani gaya hidup sehat. Berikut ini beberapa upaya
yang dapat dilakukan:

1. menghindari makan terlalu banyak dalam satu kali makan


2. tidak makan terlalu cepat
3. menghindari makanan tinggi lemak
4. menghindari terlalu banyak konsumsi alkohol dan kafein
5. mengonsumsi cukup serat
6. banyak minum air putih
7. menghindari atau menghentikan kebiasaan merokok
8. menghindari penggunaan obat anti nyeri secara berlebihan
9. menghindari stress
10. menjaga berat badan agar tetap ideal
11. menjaga kebersihan

9. Sistem Saraf
 Pencegahan Primer Penyakit Stroke

11
Langkah utama untuk mencegah stroke adalah menerapkan gaya
hidup sehat. Selain itu, kenali dan hindari faktor risiko yang ada,
serta ikuti anjuran dokter. Beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk mencegah stroke, antara lain:
1. Menjaga pola makan.
Terlalu banyak mengonsumsi makanan asin dan berlemak
dapat meningkatkan jumlah kolesterol dalam darah dan risiko
menimbulkan hipertensi yang dapat memicu terjadinya stroke.
Jenis makanan yang rendah lemak dan tinggi serat sangat
disarankan untuk kesehatan. Hindari konsumsi garam yang
berlebihan. Konsumsi garam yang baik adalah sebanyak 6
gram atau satu sendok teh per hari. Makanan yang disarankan
adalah makanan yang kaya akan lemak tidak jenuh, protein,
vitamin, dan serat. Seluruh nutrisi tersebut bisa diperoleh dari
sayur, buah, biji-bijian utuh, dan daging rendah lemak seperti
dada ayam tanpa kulit.

2. Olahraga secara teratur.


Olahraga secara teratur dapat membuat jantung dan sistem
peredaran darah bekerja lebih efisien. Olahraga juga dapat
menurunkan kadar kolesterol dan menjaga berat badan serta
tekanan darah pada tingkat yang sehat.

3. Atasi tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyebab utama


stroke. Oleh karena itu, penting untuk selalu rutin
memeriksakan tekanan darah. Dengan mengetahui kondisi
tekanan darah, tindakan cepat dapat segera diambil untuk
menurunkan tekanan darah. Tekanan darah umumnya berubah
sesuai usia, namun rata-rata tekanan darah yang kurang dari
120/80 mmHg dianggap normal. Sedangkan di atas 120/90
mmHg tergolong tinggi.

4. Berhenti konsumsi alcohol dan rokok


Alih-alih merokok dan minuman beralkohol, sebaiknya
konsumsi asupan yang sehat dan seimbang. Perbanyak buah
dan sayuran, dan membatasi daging merah dapat mengurangi
risiko stroke. Asupan garam dan lemak jenuh juga sebaiknya
dibatasi. Ini banyak terkandung dalam makanan cepat saji.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pasien – pasien yang dirawat di ICU adalah pasien-pasien yang


sedang mengalami keadaan kritis. Keadaan kritis merupakan suatu
keadaan penyakit kritis yang mana pasien sangat beresiko untuk
meninggal. Pada keadaan kritis ini pasien mengalami masalah psikososial
yang cukup serius dan karenanya perlu perhatian dan penanganan yang
serius pula dari perawat dan tenaga kesehatan lain yang merawatnya.
Dalam member asuhan keperawatan pada pasien kritis ini, perawat harus
menunjukkan sikap professional dan tulus dengan pendekatan yang baik
serta berkomunikasi yang efektif kepada pasien.

3.2 Saran

Kita sebagai seorang perawat harus mengetahui tentang


pencegahan primer dalam berbagai system tubuh manusia. Karena jika
seorang perawat dapat memahami dengan baik tentang pencegahan primer
dalam berbagai system tubuh manusia, maka akan sangat bermanfaat untuk
perawat maupun masyarakat.

13
DAFTRAPUSTAKA

Stillwell B. Susan. 2012. Pedoman Keperawatan Kritis. Jakarta : Perpustakaan


Nasional Katalog Dalam Tubuh (KDT)

14

Anda mungkin juga menyukai