Anda di halaman 1dari 14

SKILL LAB FOTO RONTGEN PERIAPIKAL

BIDANG ILMU RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI

RESUME

Disusun oleh :
Fine Ramadhaniya Febri Adipuri
G4B017018

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2017
RESUME SKILL LAB FOTO RONTGEN PERIAPIKAL

A. Radiografi periapikal
1. Gambaran Umum
Radiografi pertama kali dikemukakan oleh Wilhelm Conrad Roentgen, seorang
professor fisika dari Universitas Wurzburg, Jerman pada November 1895. Pada Januari
1896, Dr. Otto Walkoff, seorang dokter gigi berkebangsaan Jerman mencoba untuk
membuat radiografi dental yang pertama. Pada percobaan pertama Dr. Otto Walkoff
menggunakan teknik bitewing sederhana dan memasukan lempeng kaca fotografi yang
di bungkus dengan kertas hitam kedalam mulutnya sendiri dan kemudian diberi paparan
sinar radiografi selama 25 menit. Radiografi terbagi menjadi dua yaitu radiografi ekstra
oral dan intra oral (Whaites, 2003).
Radiografi intraoral merupakan suatu pemeriksaan yang menghasilkan gambaran
tulang dan jaringan sekitarnya dalam dunia kedokteran gigi dengan menempatkan paket
film dalam rongga mulut lalu memproyeksikan sinar x-ray dari posisi luar mulut dengan
berbagai variasi sudut melewati regio anatomi yang diinginkan. Syarat-syarat hasil
gambaran radiografi yang optimal yaitu:
a. Radiografi sebaiknya dapat menghasilkan gambaran secara lengkap dari daerah
yang diinginkan. Pada periapikal, setidaknya terlihat panjang akar gigi utuh dan
tulang periapikal ±2 mm.
b. Hasil radiografi memiliki gambaran distorsi yang minimal. Distorsi dapat terjadi
bila posisi angulasi tube x-ray dan film kurang tepat
c. Gambaran radiografi memiliki kontras dan densitas yang optimal untuk
memfasilitasi interpretasi. Hal ini dipengaruhi oleh waktu paparan sinar maupun
kegagalan prosesing film (Langland, dkk., 2002).
Radiografi periapikal adalah komponen penunjang diagnostik yang
menghasilkan gambar radiografi dari beberapa gigi dan jaringan apeks sekitarnya.
Radiografi periapikal merupakan salah satu jenis radiografi intraoral yang mencakup
gigi geligi dan jaringan sekitarnya sampai dengan daerah periapikal. Setiap film atau
gambar menunjukkan tiga sampai empat gigi dan memberi informasi detail mengenai
gigi dan tulang alveolar di sekitarnya. Teknik yang digunakan adalah paralel dan biseksi
(Whaites dan Drage, 2013). Menurut Gupta (2014) indikasi dilakukannya radiografi
periapikal yaitu:
a. Untuk mendeteksi awal terjadinya infeksi atau inflamasi apikal
b. Pemeriksaan status jaringan periodontal seperti resorpsi tulang ada interproksimal
furkasi, pelebaran ligamen periodontal, hilangnya intergritas lamina dura.
c. Setelah terjadinya trauma pada gigi yang berhubungan dengan tulang alveolar.
d. Untuk mengetahui keberadaan benih dan posisi gigi yang belum erupsi.
e. Untuk mengetahui morfologi akar gigi sebelum dilakukan pencabutan.
f. Selama perawatan endodontik.
g. Untuk pemeriksaan pre-operatif dan post-operatif bedah apikal.
h. Evaluasi kista apikal dan lesi lainnya pada tulang alveolar.
i. Evaluasi post-operatif implan.
2. Instrumen radiografi periapikal
Instrumen yang dipakai untuk pengambilan foto rontngen periapikal adalah
sebagai berikut.

Gambar 1 Film packet


Sumber: Iannucci dan Howerton, 2016

Gambar 2. Film Holder


Sumber: Iannucci dan Howerton, 2016
Gambar 3. Alat X-ray Periapikal
Sumber: Iannucci dan Howerton, 2016

3. Teknik pengambilan foto periapikal


a. Teknik Paralel
Teknik ini pada mulanya dikembangkan oleh Mc Cormack telah dibuktikan
dan dipopulerkan oleh Fitzgerald. Teknik paralel dikenal juga sebagai extension
cone paralleling, right angle technique, long cone technique, true radiograph
merupakan teknik yang paling akurat dalam pembuatan radiografi intraoral. Hal
ini disebabkan karena pada teknik paralel pelaksanaan dan standarisasinya
sangat mudah dengan kualitas gambar yang dihasilkan bagus dan distorsinya
kecil. Teknik paralel dicapai dengan menempatkan film sejajar dengan aksis
panjang gigi kemudian film holder diletakkan untuk menjaga agar film tetap
sejajar dengan aksis panjang gigi. Pemusatan sinar-x diarahkan tegak lurus
terhadap gigi dan film (White dan Pharoah, 2014). Film dapat diletakkan secara
vertikal maupun horizontal. Tube Xray diarahkan di sudut yang tepat pada gigi
dan film.

Gambar 4. Diagram teknik paralel


Sumber: White dan Pharoah, 2014
Keuntungan dari teknik paralel yaitu:
1) Tanpa distorsi.
2) Gambar yang dihasilkan sangat representatif dengan gigi sesungguhnya.
3) Mempunyai validitas yang tinggi, posisi relatif dari reseptor gambar sehingga
berguna untuk beberapa pasien dengan cacat.
Kerugian dari teknik paralel yaitu:
1) Sulit dalam meletakkan film holder terutama pada anak-anak dan pasien yang
mempunyai mulut kecil,
2) Pemakaian film holder mengenai jaringan sekitarnya sehingga timbul rasa tidak
nyaman pada pasien, dan memposisikan film holder pada molar tiga bawah
sangat sulit (White dan Pharoach, 2014).
Menurut Williamson (2009) tahapan radiografi periapikal dengan teknik paralel
yaitu:
1) Pasien diposisikan tegak dan kepala sejajar dengan bidang oklusal horizontal
2) Film yang diletakkan pada pegangan film (film holder) diposisikan
paralel/sejajar dengan sumbu gigi didalam mulut. Pegangan film (film holder),
terdapat 2 jenis yaitu: paket film dan sensor digital (solid state atau phosphor
plate).
3) Ukuran film untuk radiografi periapikal bermacam-macam, yaitu:
a) Size 0, film yang berukuran sangat kecil dan digunakan untuk anak-anak,
memiliki ukuran 22 x 35 mm
b) Size 1, untuk regio anterior (gigi insisivus dan kaninus), memiliki ukuran
24 x 40 mm
c) Size 2, merupakan ukuran film standar yang digunakan untuk proyeksi gigi
anterior dan posterior dewasa (31 x 41 mm), pada gigi anterior diletakkan
secara vertikal dengan sumbu gigi sedangkan untuk gigi posterior
diletakkan secara horizontal dengan sumbu gigi
d) Peletakan filmnya juga disesuaikan sebagai berikut:
(1) Insisivus dan kaninus RA, film diletakkan pada bagian palatal gigi yang
disesuaikan dengan ukuran gigi dan palatumnya
(a) (b)
Gambar 5(a) Insisivus RA (b) Kaninus RA
Sumber: Whaites, 2003

(2) Insisivus dan kaninus RB, film diletakkan pada dasar mulut kira-kira
sejajar dengan tepi kaninus atau P1

(a) (b)
Gambar 6(a) Insisivus RB (b) Kaninus RB
Sumber: Whaites, 2003

(3) Premolar dan molar (RA), film diletakkan pada midline palatal yang
disesuaikan dengan tinggi palatum

Gambar 7. Paralel premolar dan molar RA


Sumber: Whaites, 2003
(4) Premolar dan molar RB, film diletakkan pada sulkus lingual
menyesuaikan dengan letak giginya

Gambar 8. Paralel premolar dan molar RB


Sumber: Whaites, 2003

4) Film holder diputar menyesuaikan posisi giginya.


5) Instruksikan pasien untuk menggigit bite block pada film holder dan cotton roll
pada gigi lawannya untuk menstabilisasi.
6) X-ray tubehead di arahkan sejajar pada gigi dan film hingga mendapatkan posisi
yang benar lalu siap untuk diproduksi.
b. Teknik bisecting (bisected angle)
Teknik bisekting adalah teknik lain yang dapat dilakukan selain teknik paralel
dalam pengambilan film periapikal. Teknik bisekting biasa digunakan pada kasus-
kasus kelainan anatomi seperti torus palatinus besar, palatum sempit, dasar mulut
dangkal, frenulum pendek, lebar lengkung rahang yang sempit atau pada pasien
anak yang kurang kooperatif. Teknik bisekting dicapai dengan menempatkan
reseptor sedekat mungkin dengan gigi dan meletakan film sepanjang permukaan
lingual/palatal pada gigi kemudian sinar-x diarahkan tegak lurus (bentuk T) ke
garis imajiner yang membagi sudut yang dibentuk oleh aksis panjang gigi dan
bidang film. Teknik bisekting menghasilkan gambar yang kurang optimal karena
reseptor dan gigi tidak berada secara vertikal dengan sinar-x.18 dan teknik ini
memerlukan kepekaan dan ketelitian operator. Jika sudut bisekting tidak benar,
perpanjangan atau pemendekan akan terjadi (Gupta dkk., 2014).
Gambar 9. Diagram teknik bisected angle
Sumber: White dan Pharoah, 2014
Kelebihan dari teknik bisecting menurut Whaites dan Drage (2013) adalah
posisi film pada seluruh area terasa lebih nyaman bagi pasien, posisi relatif mudah
dan cepat. Sedangkan kekurangan dari teknik bisecting yaitu cukup sering
menghasilkan gambaran dengan distorsi, kesalahan angulasi vertikal tube head
dapat terjadi foreshortening atau elongation, dan membutuhkan keterampilan
operator dalam mengambil sudut horizontal maupun vertikal setiap pasien. Tahapan
dalam melakukan radiografi bisected angle menurut Whaites (2007) yaitu:
1) Film diletakkan dekat pada gigi dalam rongga mulut tanpa membengkokkan
film. Tepi film diletakkan diatas permukaan oklusal/insisal gigi ± 2 mm untuk
mendapatkan seluruh anatomi gigi
2) Sudut yang diambil diagonal terhadap gigi diantara sumbu gigi dan sumbu
film
3) X-ray tubehead diposisikan secara benar pada garis diagonalnya hingga sinar
x-ray dapat melewati akar gigi
4) Pasien diintruksikan untuk menahan film menggunakan ibu jari/telunjuk
secara perlahan untuk meminimalisir distorsi pada hasil rontgen
a) Insisivus dan kaninus rahang atas

(a) (b)
Gambar 10 (a) Insisivvu RA (b) Kaninus RA
Sumber: Whaites, 2003
b) Insisivu dan kaninus rahang bawah

(a) (b)
Gambar 11 (a) Insisivvu RB (b) Kaninus RB
Sumber: Whaites, 2003

c) Molar dan Premolar rahang atas

Gambar 12. Paralel premolar dan molar RA


Sumber: Whaites, 2003

d) Molar dan Premolar rahang bawah

Gambar 13. Paralel premolar dan molar RB


Sumber: Whaites, 2003.

B. Pemrosesan rontgen periapikal


Menurut WHO (1985), terdapat tujuh tahapan pemrosesan film, yaitu.
1. Marking the film
Pada tahap ini dilakukan penulisan nama pasien pada film menggunakan pensil
atau tinta sebelum film dimasukkan ke dalam developer.
2. Developing
Pada tahap developing, film dimasukkan ke dalam tangki developer dan
digerakkan ke atas dan ke bawah sesekali atau dua kali di dalam tangki. Kemudian
film dibiarkan agar mengalami proses developing dengan waktu yang berbeda
tergantung pada temperatur dari cairan kimia yang digunakan.
3. Rinsing
Tahap rinsing film dibilas selama kurang lebih 30 detik menggunakan air
bersih. Selama tahap ini, film harus diangkat ke atas dan ke bawah beberapa kali di
dalam tangki air. Pada tahap ini pastikan tidak ada kebocoran cahaya putih selama
prosesnya.
4. Fixing
Film dimasukkan ke dalam tangki yang berisi cairan fiksasi dan dibiarkan di
dalam tangki setidaknya 5 menit. Selama tahap ini juga harus dipastikan tidak ada
cahaya putih di dalam ruangan pada 3 menit pertama prosesnya.
5. Washing
Pada tahap washing film dicuci didalam tangki pencuci yang besar dengan air
bersih yang mengalir. Film harus dibiarkan di dalam tangki air paling tidak 30 menit
dengan kondisi ruangan yang disinari cahaya putih dengan syarat tidak boleh ada
film lainnya yang diproses.
6. Drying
Film siap untuk dikeringkan. Temperatur pengeringan tidak boleh lebih dari
35oC dan film harus digantung tanpa terkena debu atau terkontaminasi kotoran-
kotoran lainnya.
7. Checking
Film yang sudah kering harus kembali diperiksa dengan jelas nama pasien,
nomor rumah sakit, tanggal dan tanda yang menandakan sisi kanan dan kiri dari
film, agar film terbaca dengan jelas. Setelah pengecekan, film siap untuk dikemas
maupun dipakai.

Gambar 14. Pemrosesan film


Sumber: Ghom, 2008
C. Hasil
Pengambilan foto radiografi pada skill lab menggunakan periapikal dengan teknik
paralel untuk pengambilan gigi anterior.
1. Pasien menggunakan apron dan diinstruksikan untuk melepas semua perhiasan dan
benda yang dapat menggangu proses radiografi.

2. Pasien diposisikan tegak dan kepala sejajar dengan bidang oklusal horizontal.

3. Film yang diletakkan pada pegangan film (film holder) diposisikan paralel/sejajar
dengan sumbu gigi didalam mulut.
4. Dilalukan foto rontgen periapikal.

Gambar 15. Hasil foto skill lab radiografi periapikal


menggunakan teknik parallel
Sumber: Data primer, 2017

D. Interpretasi
Tidak terdapat adanya kelainan ataupun gambaran radiolusen pada gigi 11 dan 21
baik jaringan periodontal maupun pada gigi.

Hal ini sejalan menurut White dan Pharoach, (2014) gambaran radiografi periapikal
pada gigi yang normal adalah:
1. Gambaran radiografi dentin enamel junction tampak radiopak sebagai garis yang
mempertemukan enamel (sangat radiopak) dan dentin (kurang radiopak).
2. Pulpa terdiri dari kamar pulpa dan saluran pupla. Dalam ruang pulpa terdapat
pembuluh darah, nervus, dan pembuluh limfa yang tampak radiolusen pada
gambaran gigi.
3. Gambaran radiografi lamina dura diamati sebagai lapisan tipis radiopak tulang
padat di sekitar gigi secara normal, lapisan ini terus menerus dengan bayangan
tulang kortikal di puncak alveolar.
4. Lgamen periodontal merupakan bahan penyusun terbanyak adalah kolagen, maka
tampak sebagai ruang radiolusen antara akar gigi dan lamina dura.
5. Foramen insisivus disebut juga foramen nasopalatinus. Gambaran radiografi
foramen insisivus berbetuk ovoid kecil atau lingkaran radiolusen di sekitar daerah
akar insisivus sentral rahang ata
E. Kesalahan
Tidak terdapat adanya kesalahan dalam pemrosesan film radiografi periapikal
dengan teknik paralel pada gigi 11 dan 21. Warna dan ukuran yang sesuai serta
keterangan yang diperoleh jelas.
Hal ini sejalan dengan tahap yang dilakukan tepat menurut Ghom (2008) yaitu:
1. Pada tahap developing, film dimasukkan ke dalam tangki developer dan digerakkan
ke atas dan ke bawah sesekali atau dua kali di dalam tangki waktu 35 detik di kamar
gelap.
2. Tahap rinsing, film dibilas selama kurang lebih 30 detik menggunakan air bersih.
3. Fixing, film dimasukkan ke dalam tangki yang berisi cairan fiksasi dan dibiarkan di
dalam tangki setidaknya 30 detik sampai terlihat jelas.
4. Pada tahap washing dicuci menggunakan air
5. Drying atau dilakukan pengeringan
DAFTAR PUSTAKA

Ghom, A., Ghom, S., 2016, Textbook of Oral Radiology, Second Edition, Elsevier, India.
Gupta, A., Devi, P., Srivastava, R., Jyoti, B., 2014, Intra Oral Periapical Radiography: A
Review, Bangladesh Journal of Dental Research & Education, 4(2): 83-87.
Langland, O.E., Langlais, R.P., Preece, J.W., 2002, Principles of Dental Imaging, Second
Edition, Lippincott Williams&Wilkins, USA.
Whaites, E., 2007, Essentials of Dental Radiography and Radiology, Forth edition, Churchill
Livingstone, Spain.
Whaites, E., Drage, N., 2013, Essentials of Dental Radiography and Radiology, Edition 5th,
Churchill Livingstone Elsevier, London.
White, S.C., Pharoah, M.J., Oral Radiology Principles and Interpretation, Edition 7,
Elsevier, Missouri.
Williamson, G.F., 2009, Intraoral Radiography: Positioning and Radiation Protection,
A Peer-Reviewed Publication, Pennwell, California
WHO, 1985, Manual of Darkroom Technique, University of California, California, United
States of America.