Anda di halaman 1dari 27

TUGAS BEDAH MULUT 2

NERVUS FACIALIS

Oleh Kelompok 2 :

1. Afifah Astarini (04031181320034)


2. Florin Amalia (04031181320004)
3. Aprilia Hanum (04031181320033)
4. Tiara Safitri (04031181320022)
5. Nurul Khoiriyah (04031181320028)
6. Abu Bakar Lutfi (04031281320009)
7. RA Septiana S Z (04031281320010)
8. Wenny Heryulia Ningsih (04031281320006)
9. Mariatun Zahro Nasution (04031181320031)

Dosen Pembimbing : drg. Adi Prabowo, Sp.BM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2015
I. Anatomi Nervus Fasialis
Nervus fasialis merupakan salah satu nervus kranialis yang
berfungsi untuk motorik sensorik somatik, dan aferen eferen visceral.
Gambar berikut ini memperlihatkan cabang nervus fasialis beserta otot yg
dipersarafinya. Nervus fasialis memiliki dua subdivisi, yang pertama
adalah yang mempersarafi otot ekspresi wajah kemudian yang kedua
memiliki serat yang jauh lebih tipis yaitu intermediate yang membawa
aferen otonom, somatik, dan eferen otonom.1

Gambar 1. Divisi nervus fasialis


Gambar 2. Otot yang dipersarafi nervus fasialis1
Nervus fasialis mengandung 4 macam serabut, yaitu: 3,4,5,6
1. Serabut somato-motorik, yang mensarafi otot-otot wajah (kecuali
m.levator palpebrae (N.III)), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian
posterior dan stapedius di telinga tengah.
2. Serabut visero-motorik (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivarius
superior. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum,
rongga hidung, sinus paranasal, dan glandula submaksilar serta sublingual
dan lakrimalis.
3. Serabut visero-sensorik yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua
pertiga bagian depan lidah.
4. Serabut somato-sensorik rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa
raba dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh
n.trigeminus. Daerah overlapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf
(tumpang tindih) ini terdapat di lidah, palatum, meatus akustikus eksterna
dan bagian luar gendang telinga.
Tabel 1 Nervus fasialis1
Nama Komponen Asal Fungsi
Saraf fasialis Brankial eferen Nukleus fasialis Otot-otot ekspresi
wajah: M.platisma,
m.stilohioideus,
m.digastrikus
Saraf intermediat Viseral eferen Nukleus Nasal, lakrimal,
salivatorius kelenjar liur
superior (sublingual dan
submandibular)
Viseral aferen Ganglion genikuli Pengecapan 2/3
spesial anterior lidah
Somatik aferen Ganglion genikuli Telinga luar, bagian
kanalis auditorius,
permukaan luar
membran timpani
(sensibilitas)
II. Nervus fasialis
Nukleus motorik terletak pada bagian ventrolateral tegmentum pontin bawah
dekat medula oblongata. Sewaktu di tegmentum pons, akson pertama motorik
berjalan dari arah sudut pontoserebelar dan muncul di depan nervus vestibularis.
Saraf intermediate muncul di antara saraf fasialis motorik dengan
vestibulokoklearis. 1

Gambar 3. Letak nukleus nervus fasialis di batang otak dilihat dari dorsal1
Gambar 4. Nukleus nervus fasialis dari samping1

Nervus intermediate, nervus fasialis, dan nervus vestibulokoklearis


berjalan bersama ke lateral ke meatus akustikus internus. 1
Gambar 5. Tempat keluarnya nervus fasialis dari kranium1

Di dalam meatus akustikus internus, nervus fasialis dan intermediate


berpisah dengan nervus vestibulokoklearis. 1
Gambar 6. Perjalanan beserta cabang dan efektor nervus fasialis7

Nervus fasialis berjalan ke lateral ke dalam kanalis fasialis kemudian ke


ganglion geniculatum. Pada ujung kanalis tersebut, nervus fasialis keluar kranium
melalui foramen stilomastoideus.1
Gambar 7. Foramen stilomastoideus, tempat keluar nervus fasialis2

Dari foramen tersebut, serat motorik menyebar ke wajah, beberapa


melewati glandula parotis. Nukleus motorik merupakan bagian dari arkus refleks
yakni refleks kornea dan refleks berkedip. Refleks kornea berasal dari membran
mukosa mata (aferen) dibawa melalui nervus V1 oftalmikus menuju ke nukleus
sensorik trigeminus utama. Di nukleus tersebut rangsang ditransmisikan ke
neuron yang berhubungan dengan nervus fasialis pada sisi yang sama. Bagian
eferen dari refleks tersebut berasal dari neuron eferen nervus fasialis.1
Refleks berkedip berasal dari mata (aferen) mengantarkan impuls optiknya
ke nukleus di tektobulbaris menyebabkan refleks berkedip jika cahaya terang.
Selain kedua refleks tersebut, impuls akustik yang berasal dari nervus
vestibulokoklearis mencapai nukleus dorsalis dan menghasilkan arkus refleks
berupa tegangan otot stapedius atau relaksasi. 1
Persarafan supranuklear dari nervus fasialis terletak pada kedua hemisfer
serebri untuk otot dahi, sedangkan otot wajah sisanya mendapat persarafan dari
girus presentralis kontralateral. 1
Gambar 8. Jaras motorik nervus fasialis8
III. Nervus Intermediate
Serat aferen gustatorius. Serat aferen pada gustatorik berasal dari ganglion
geniculatum yang berupa sel pseudounipolar dari ganglion spinalis, sebagian lagi
berasal dari papil lidah dua pertiga anterior. Serat aferen tersebut berjalan bersama
dengan nervus lingualis ( cabang nervus mandibulari V3) menuju ke korda
timpani kemudian ke ganglion geniculatum menjadi nervus intermedius dan
menuju ke nukleus solitarius. Nukleus tersebut menerima impuls dari nervus
glosofaringeal (sepertiga posterior lidah) dan nervus vagus (dari epiglotis). Karena
yang berperan dalam sistem pengecapan terdiri dari 3 saraf yang berbeda maka
kehilangan pengecapan total (ageusia) jarang terjadi. Dari nukleus tersebut impuls
dikirim ke talamus kontralateral (nukleus ventroposteromedial) menuju ke regio
presentralis korteks area 43 dan insula area 52.1
Gambar 9. Jaras aferen gustatorik1

Serat somatik aferen. Serat somatik aferen berasal dari pinna, meatus akustikus
eksternus, dan gendang timpani. Serat berjalan menuju ganglion geniculatum
menuju nukleus sensorik nervus trigeminus. 1
Serat eferen sekretorik. Nervus intermedius terdiri dari serat parasimpatis yang
berasal dari nukleus salivatorius superior. Seratnya meninggalkan nukleus menuju
ganglion geniculatum lanjut ke ganglion pterigopalatina dan menuju glandula
lakrimal serta mukosa nasal. Sebagian lagi menuju ganglion submandibula, lewat
nervus lingualis. Ganglion submandibula bertanggung jawab untuk sekresi
glandula submandibularis dan sublingualis berupa saliva. Aferen dari sistem ini
berasal dari sistem nervus olfaktorius. Glandula lakrimal menerima input dari
hipotalamus (emosi). Hal ini mengakibatkan jika mencium bau yang enak akan
terjadi sekresi saliva. Dan jika emosi meningkat atau sedih maka akan terjadi
lakrimasi. 1

Gambar 10. Serat eferen sekretorik nervus intermedius1


IV. Klinis patologis lesi nervus fasialis
Gangguan kontralateral dari traktus kortikonuklearis seperti infark
mengakibatkan otot dahi tetap utuh yang disebut dengan paralisis sentral. Tetapi
jika lesi terjadi di nukleus nervus fasialis maka semua otot fasial ipsilateral lesi
akan mengalami paralisis perifer.1
Berikut ini perbedaan lesi nervus fasialis perifer dan sentral, gambar:

Gambar 11. Perbedaan lesi perifer dan sentral nervus fasialis1

Gambar 12. Perbedaan terjadinya lesi perifer dan sentral nervus fasialis10

Lesi pada nukleus fasialis biasanya terjadi karena stroke atau tumor.
Serabut di serebelopontin dapat rusak akibat meningitis basalis, neuroma akustik,
meningioma, kelainan A.basilaris.6
Nukleus fasialis juga menerima impuls dari talamus yang mengarahkan
gerakan ekspresi emosional otot wajah. Selain itu juga berhubungan dengan
ganglia basalis. Jika bagian dari sistem piramidal ini yang terkena lesi maka akan
terjadi penurunan ekspresi wajah (hipomimia atau amimia) seperti pada penyakit
Parkinson, atau reaksi hiperkinetik yang menyebabkan spasme mimetik fasial atau
blefarospasme. Hubungan dengan talamus dan ganglia basalis tersebut tidak
diketahui secara terperinci.1

 BELL’S PALSY

Bell’s palsy adalah paralisis wajah unilateral yang timbul mendadak


akibat lesi nervus fasialis, dan mengakibatkan distorsi wajah yang khas.
Dengan kata lain Bell’s palsy merupakan suatu kelainan pada saraf wajah
yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu isi
wajah12. Istilah Bell’s palsy biasanya digunakan untuk kelumpuhan nervus VII
jenis perifer yang timbul secara akut13. Kebanyakan orang belum mengetahui
nama dari panyakit ini. Adalah Sir Charles Bell seorang ilmuan dari
Skotlandia yang pertama kali menemukan penyakit ini pada abad ke-1915.

Gambar 13. Bells palsi tidak dapat menutup mata pada sisi yang sakit10
Perbedaan Bell’s palsy dengan Stroke

Banyak orang beranggapan bahwa Bell’s palsy merupakan stroke, tetapi


pada hakikatnya Bell’s palsy berbeda dengan serangan stroke. Yang menjadi
pembeda paling mendasar adalah, pada Bell’s palsy tidak disertai dengan
kelemahan pada anggota gerak. Hal ini disebabkan oleh letak kerusakan saraf
yang berbeda. Pada serangan stroke saraf yang rusak adalah pada saraf otak
yang mengatur pergerakan salah satu sisi tubuh, termasuk wajah. Sedangkan
pada kasus Bell’s palsy, kerusakan yang terjadi langsung pada saraf yang
mengurus persarafan wajah yaitu saraf fasialis (nervus VII)13.
asEtiologi

Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti tetapi dapat
diduga bahwa penyebab dari penyakit ini adalah karena saraf yang
mengendalikan otot wajah membengkak, terinfeksi, atau mampat karena aliran
darah berkurang15. Ada pula para ahli yang menyatakan bahwa pada kasus
Bell’s palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah tulang
temporal, di sekitar foramen stilomastoideus12.

Gejala dan Tanda Klinik

Pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat


bangun tidur, menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Mulut
tampak mencong terlebih saat meringis, kelopak mata tidak dapat dipejamkan
(lagoftalmos), waku penderita menutup kelopak matanya maka bola mata akan
tampak berputar ke atas. Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, apabila
berkumur maka air akan keluar sisi melalui sisi mulut yang lumpuh12.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan menurut gejalanya. Bell’s palsy selalu mengenai


satu sisi wajah, kelemahannya tiba-tiba dan dapat melibatkan baik bagian atas
atau bagian bawah wajah. Penyakit lain yang juga dapat menyebabkan
kelumpuhan saraf wajah adalah:
1. Tumor otak yang menekan saraf
2. Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus (misalnya sindroma Ramsay
Hunt)
3. Infeksi telinga tengah atau sinus mastoideus
4. Penyakit Lyme
5. Patah tulang di dasar tengkorak.

Untuk membedakan Bell's palsy dengan penyakit tersebut, bisa dilihat


dari riwayat penyakit, hasil pemeriksaan rontgen, CT scan atau MRI. Pada
penyakit Lyme perlu dilakukan pemeriksaan darah. p

Terapi

Terapi pertama yang harus dilakukan adalah penjelasan kepada


penderita bahwa penyakit yang mereka derita bukanlah tanda stroke, hal ini
menjadi penting karena penderita dapat mengalami stress yang berat ketika
terjadi salah pengertian12. Setelah itu dapat dilakukan beberapa terapi yang
meliputi:

Penanganan mata

Bagian mata harus mendapatkan perhatian khusus dan harus dijaga agar
tetap lembab, hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pelumas mata
setiap jam sepanjang hari dan salep mata harus digunakan setiap malam14.

Kortikosteroid

Selain itu, dari tinjauan terbaru menyimpulkan bahwa pemberian


kortikosteroid dalam tujuh hari pertama efektif untuk menangani Bell’s
palsy14.

Latihan wajah

Komponen lain yang tidak kalah pentingnya dalam optimalisasi terapi


adalah latihan wajah. Latihan ini dilakukan minimal 2-3 kali sehari, akan
tetapi kualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya. Sehingga latihan
wajahini harus dilakukan sebaik mungkin. Pada fase akut dapat dimulai
dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah, hal ini berguna
mengingkatkan aliran darah pada otot-otot wajah. Kemudian latihan
dilanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu yang dapat merangsang
otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakan otot-otot wajah.
Sebaiknya latihan ini dilakukan di depan cermin.

Gerakan yang dapat dilakukan berupa:

1. Tersenyum

2. Mencucurkan mulut, kemudian bersiul


3. Mengatupkan bibir
4. Mengerutkan hidung
5. Mengerutkan dahi
6. Gunakan telunjuk dan ibu jari untuk menarik sudut mulut secara manual
7. Mengangkat alis secara manual dengan keempat jari.

Gejala Sisa

Setelah melakukan terapi tersebut sebagian penderita akan sembuh total


dan sebagian akan meninggalkan gejala sisa yang dapat berupa2

Kontraktur

Hal ini dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga plika nasolabialis
lebih jelas terlihat dibanding pada sisi yang sehat. Bagi pemeriksa yang
belum berpengalaman mungkin bagian yang sehat ini yang disangkanya
lumpuh, sedangkan bagian yang lumpuh disangkanya sehat.

Sinkinesia (associated movement)

Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau
tersendiri, selalu timbul gerakan bersama. Bila pasien disuruh memejamkan
mata, maka otot orbikularis orispun akan akan ikut berkontraksi dan sudut
mulut terangkat. Bila ia disuruh menggembungkan pipi, kelopak mata ikut
merapat.
Spasme spontan

Dalam hal ini otot-otot wajah bergerak secara spontan, tidak terkendali.
Hal ini disebut juga tic facialis. akan tetapi tidak semua tic facialis
merupakan gejala sisa dari Bell’s palsy.

Gambar 14. Lokasi lesi nervus fasialis beserta klinisnya1

 SINDROM RAMSAY HUNT


James Ramsay Hunt (1907) : SRH adalah suatu sindrom yang terdiri dari
otalgia, vesikel pada aurikula dan parese nervus facialis perifer. SRH adalah suatu
parese nervus VII perifer yang disertai dengan eritema vesikuler pada telinga dan
mulut. Angka kejadian SRH dari seluruh kejadian paresis fasialis akut adalah 10–
15%. Pada dewasa terdapat angka kejadian sekitar 18%, anak–anak 16% dan
jarang terjadi pada anak di bawah umur kurang dari 6 tahun. Perbandingan
insidensi antara laki – laki dan wanita 1:1.

Gambar 15. Ramsay Hunt syndrome11

Etiologi

Virus varisela zooster yang merupakan jenis virus neutropik. Virus ini
termasuk dalam angota famili dari Herpez viridae dan penyebab utama dari
penyakit cacar air. SRH terjadi akibat reaktivasi dari infeksi virus varisela zooster
sebelumnya.

Patogenesis
Parese nervus VII timbul akibat reaktivasi virus varisela zooster yang
menetap pada ganglion genikulatum dan proses ini disebut ganglionitis.
Ganglionitis menekan selubung jaringan saraf, sehingga menimbulkan gejala pada
nervus VII. Peradangan dapat meluas sampai ke foramen stilomastoid.

Gejala

 Nyeri kepala/sakit kepala


 Nyeri telinga
 Lesu
 Demam
 Mual dan muntah
 Lesi terdapat di telinga luar dan sekitarnya, kelianan berupa vesikel
berkelompok diatas daerah yang eritem, edema dan disertai rasa nyeri
seperti terbakar pada telinga dan kulit sekitarnya atau nyeri radikuler

Diagnosis

 Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang THT-KL


 Pemeriksaan fungsi nervus VII; diperlukan untuk menentukan letak lesi,
beratnya kelumpuhan dan evaluasi pengobatan
 Pemeriksaan meliputi fungsi motorik otot wajah, tonus otot wajah, ada
tidaknya sinkinesis atau hemispasme, gustatometri dan tes schimer

Pemeriksaan penunjang

 Audiometri nada murni


 Timpanometri, Brainsteam Evoked Respons Audiometri (BERA)
 Tes elektronistagmografi (ENG)
 Diagnosis pasti ditegakkan dengan mengisolasi virus, deteksi antigen
spesifik untuk virus varisela zooster atau dengan hibridasi DNA virus

Penatalaksanaan

 Konservatif dan operatif


 Obat yang biasa diberikan adalah kortikosteroid dan antivirus
 Bila parese menetap lebih dari 60 hari tanpa tanda-tanda kebaikan,
tindakan dekompresi harus dilakukan
 Dekompresi dilakukan pada segmen horizontal dan ganglion genikulatum

Lesi nervus fasialis dapat pula terjadi pada kanalis fasialis berupa otitis
media, mastoiditis, kolesteatom, fraktur tulang temporal. Tic fasialis disebabkan
oleh spasme otot fasialis.6

 HYPERACUSIS
Hyperacusis adalah suatu kondisi langka yang terjadi ketika suara biasa
menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri pada telinga. Merupakan gangguan
dalam persepsi kekerasan suara. Pasien yang menderita hiperakusis mungkin
muncul terlalu sensitif terhadap berbagai suara, menemukan banyak suara tak
tertahankan dan menyakitkan. Suatu kondisi langka yang terjadi ketika suara biasa
menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri pada telinga. Hal ini terjadi ketika ada
masalah dengan cara otak memproses suara.

Gambar: Struktur telinga dalam


Etiologi
Banyak hal yang dapat menyebabkan hyperacusis, termasuk paparan suara
sangat keras atau trauma, cedera kepala, infeksi, beberapa kondisi neurologis,
penyakit Lyme, kerusakan telinga, dan sindrom sendi temporo mandibular.
Hyperacusis bias terjadi pada satu telinga atau kedua telinga. Mendengarkan suara
lebih dari 85 desibel untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan
pendengaran.

Gejala
Ciri gejala hiperakusis adalah memiliki berkurangnya toleransi dan
peningkatan sensitivitas untuk suara di kehidupan sehari-hari terdengar di
lingkungan normal Anda. Orang yang menderita penyakit ini sering mengeluh
hidup di dunia di mana volume suara tampaknya terdengar terlalu tinggi.
Oleh karena itu orang-orang dengan kondisi yang begitu sensitif terhadap
suara, mereka mungkin mengembangkan rasa takut kebisingan, yang dikenal
sebagai fonofobia. Akibatnya, hal ini dapat menyebabkan mereka untuk
menghindari situasi sosial dan publik dalam ketakutan mengekspos telinga
mereka untuk suara yang berbahaya.

Diagnosis
 Audiogram dengan LDL, UCL
 Pengujian OAE
 Tympanometry dan refleks akustik
 Pengujian ABR (untuk lesi brainstem)
 MRI scan of the brain
 Evaluasi psikologi (jarang membantu, tetapi terkadang diminta dalam
evaluasi medikolegal)

Perawatan
Pengobatan untuk hyperacusis biasanya mencakup terapi suara untuk
melatih otak Anda untuk mendengar suara normal. Anda juga mungkin perlu
konseling.
 Medikasi
1. Lorazepam or klonazepam (dosisrendah). "benzodiazepines"
2. Antidepresan
3. Obat anti-migrain: venlafaxine, topiramate, verapamil, beta-
blockers, tricyclics.
4. Obat anti-seizure: oxcarbazapine, gabapentin
5. Baclofen
 Peralatan
1. Ear plugs
2. Maskers/sound generators
 Terapi
1. TRT (Tinnitus Retraining Therapy)
2. AIT or (Auditory integration training)
 Psikologi
 Pembedahan
DAFTAR PUSTAKA

1. Baehr, Frotscher. Duus Topical Diagnosis in Neurology: Anatomy,


Fisiology, Sign, Simptom. Edisi 4. New York: Mc-Graw Hill companies.
2005;167-175.
2. Netter. Atlas of Human Anatomy. Philadelpia: McGrawHill; 2005
3. Mardjono, Sidharta. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat. 2000;
159-163.
4. Soepardi, iskandar. Telinga Hidung Tenggorok Kepala leher. Edisi 5.
Jakarta: FK UI. 2001;85-87.
5. Higler. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC.1997; 139-
152.
6. Tobing. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: FK UI.
2007; 55-60.
7. Netter FH, Craig JA, Perkins J, Hansen JT, Koeppen BM. Atlas of
Neuroanatomy and Neurophysiology. USA: ICON; 2002.
8. Eyesthetica [homepage on the Internet]. USA: Eyesthetica; c2012 [cited
2012 Jun 2]. USA; [about 1 screen]. Available from:
http://www.eyesthetica.com/storage/pictures/sd3-
2.png?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1297885704339
9. Juwono. Pemeriksaan Klinik neurologik Dalam Praktek. Jakarta: FK UI.
1996; 34-36.
10. Hitcounter [homepage on the Internet]. Amber Munir; c2012 [ cited 2012
Jun 3]. Amber; Available from: http://cranialnerves-
pathways.blogspot.com/
11. Howshealth [homepage on the Internet]. USA: Your online doctor; c2009-
12 [cited 2012 Jun 3]. USA; Available from:
http://howshealth.com/ramsay-hunt-syndrome/
12. Djamil, Yulius. 2003. Kapita Selekta Neurologi. Gajah Mada University
Press: Yogyakarta
13. Lumbantobing. 2003. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental.
Balai Penerbit FKUI: Jakarta
14. Holland, J. N and Graeme M Weiner. 2004. Recent Developments in
Bell's palsy. BMJ. 2004 September 4; Vol: 329(7465) Page: 553-557. doi:
10.1136/BMJ.329.7465.553.
15. Anonim. 2007. Bell's Palsy Fact Sheet.
http://www.ninds.nih.gov/disorders /bells/detail_bells.htmLast updated
July 23, 2007