Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya dan kemudian

dapat diproduksi oleh industri yang berbeda dari perusahaan inovator (patent

holding) (Davit B et. al., 2013). Pergantian generik diperkenalkan di berbagai

negara dengan alasan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan akses obat,

walaupun peraturan dan ketersediaan obat generik berbeda-beda antar negara

(Toverud EL et. al., 2015).

Dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, produk obat

yang beredar di Indonesia terdiri dari produk obat paten atau produk dengan nama

dagang (bermerek) dan generik berlogo. Obat generik merupakan salah satu

alternatif pilihan bagi masyarakat karena harganya lebih murah dibandingkan

harga obat dengan nama dagang. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan

pada biaya produksi dan promosi. Persaingan harga diikuti pengendalian mutu

yang ketat akan mengarah pada tersedianya obat generik bermutu tinggi dengan

harga yang terjangkau (Kemenkes, 2013).

Adanya perbedaan formulasi dan proses produksi obat dapat

mempengaruhi ketersediaan obat dalam tubuh sehingga juga berpengaruh

terhadap efektifitas obat tersebut (Shargel et. al., 2005). Hal ini disebabkan karena

meskipun obat generik dibuat mirip dengan obat inovatornya oleh produsen,

eksipien yang digunakan mungkin berbeda (FDA, 1997).


2

1.2 Tujuan Percobaan

- Untuk membandingkan laju disolusi furosemid generik dan merek dagang.

1.3 Manfaat Percobaan

- Praktikan dapat mengetahui cara menentukan laju disolusi furosemid

generik dan tablet farsix merek dagang.


3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat Generik

Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang telah ditetapkan dalam

Farmakope Indonesia dan INN (International Non-proprietary Names) dari WHO

untuk zat kimia yang dikandungnya. Farmakope ialah buku yang memuat

pembakuan bahan kimia dan disahkan berdasarkan undang-undang. Nama generik

ialah nama umum atau nama resmi yang dipakai dan dikenal diseluruh dunia.

Tujuan pemberian nama generik ialah untuk memberikan pengertian yang sama

pada semua orang terhadap suatu zat kimia tertentu sehingga beribu-ribu zat kimia

dapat dibedakan dengan jelas. Dengan demikian, membedakan diantara obat-obat

generik akan lebih mudah dari pada membedakan obat-obat dengan nama dagang

yang sangat banyak jumlahnya (Rahardjo, 2008).

Latar belakang kebijakan pemerintah untuk menyediakan obat generik

diantaranya ialah karena tingginya harga obat-obat yang harus ditebus penderita di

apotek, yang sering kali menyebabkan terjadinya pembelian obat tidak penuh

(separuh, sepertiga, atau seperempat) oleh masyarakat yang tidak mampu. Hal ini

sering terungkap dalam media massa. Untuk lebih meningkatkan dan meratakan

pelayanan kesehatan, perlu disediakan obat-obatan yang bermutu secara merata.

Oleh karena itu, pemerintah bersama dengan organisasi profesi telah menyepakati

untuk menyediakan obat-obat dengan harga murah dengan mutu yang baik. Untuk

itu, pada tanggal 27 September 1986, telah disepakati untuk memproduksi obat

yang dicantumkan dalam “DOPB” (Rahardjo, 2008).


4

Generik adalah semua hal yang berhubungan dengan suatu genus atau

klas, jadi tidak harus perlu berhubungan dengan obat. Dalam bidang obat berarti

berhubungan dengan nama “umum” atau international non-priorietary name

(INN) obat tersebut nama generik (INN) adalah nama obat atau zat kimia yang

disebut dengan nama internasional, yang telah dibakukan oleh Panitia INN. Bisa

disebut dalam bahasa Latin, Inggris, Perancis, dan sebagainya, yang ejaannya di-

Indonesia-kan. Dalam Farmakope Indonesia dipakai ejaan Latin (tetrasiklina),

tetapi dalam penulisan resep dan pembahasan dalam Ilmu Kedokteran disebut

dengan ejaan Inggris yang di-Indonesiakan (tetrasiklin) (Wibowo, 2009).

Obat generik adalah obat jadi yang dipasarkan dengan nama generik.

Biasanya ditulis dengan huruf kecil ditengah kalimat. Bisa juga obat generik

disediakan dalam bentuk bahan baku untuk racikan diapotek, misalnya teofilin.

Obat-jadi dengan nama generik tidak boleh dipatenkan, sehingga suatu produsen

membuat kapsul bernama “ampisilin” misalnya, nama ini tidak mungkin

dipatenkan dan harus digolongkan ke dalam obat generik (Wibowo, 2009).

Obat bernama dagang adalah obat jadi yang dipasarkan dengan nama

dagang, biasanya terkait dengan nama dan logo pabrik. Logo adalah lambang atau

huruf dengan bentuk spesifik sebagai tanda pengenal suatu pabrik obat, seperti

yang di-embos diatas tablet atau brosur. Logo termasuk dalam hak paten nama

dagang. Generic prescribing disesuaikan dengan peraturan Menteri Kesehatan

nomor 85/1989, ialah menulis resep obat dengan nama generik (versi Inggris

dengan ejaan Indonesia), dan harus disediakan dan diberikan oleh apotek dalam

bentuk obat-jai generik, kecuali bila belum dapat disediakan oleh Pemerintah

(Wibowo, 2009).
5

Istilah “obat generik” mempunyai arti yang agak berbeda dalam peraturan

negara yang berbeda. Oleh karena itu, dalam pedoman ini penggunaan istilah obat

generik sedapat mungkin dihindari dan sebagai gantinya digunakan istilah “obat

bersumber ganda”. Obat generik dapat dipasarkan baik dengan nama baku kimia

(INN) atau dengan nama dagangnya. Obat generik kadang-kadang dapat

dipasarkan dalam bentuk sediaan dan/atau kekuatan yang berbeda dari obat

inovatornya. Namun demekian, bila dalam pedoman ini digunakan istilah “obat

generik”, pengertian istilah obat generik di sini adalah obat yang biasanya

diharapkan dapat saling dipertukarkan dengan obat inovatornya, dibuat tanpa

lisensi dari perusahaan inovator dan dipasarkan setelah hak paten atau hak

istimewa dari perusahaan inovator telah berakhir (Syahputri, 2007).

2.2 Furosemida

C12H11ClN2O5S

Furosemida mengandung tidak kurang dari98,0 % dan tidak lebih dari

101,0 % C12H11ClN2O5S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Furosemid

merupakan salah satu obat yang termasuk ke dalam golongan Diuretic Loop.

Diuretik ini secara selektif menghambat reabsorpsi dari natrium klorida atau

NaCl. Karena golongan ini memiliki absorbs NaCl yang besar dan efek
6

diuretiknya tidak dibatasi oleh asidosis, maka diuretik loop ini merupakan salah

satu diuretik yang cukup efektif. Furosemid sendiri merupakan salah satu obat

diuretik yang fungsinya untuk mengurangi pembengkakan atau edema dan

penyimpanan cairan yang berlebihan akibat dari berbagai masalah kesehatan

seperti pada kasus yaitu hipertensi. Furosemide juga digunakan untuk pengobatan

tekanan darah tinggi/hipertensi. Furosemide bekerja dengan membloking absorpsi

garam dan cairan dalam tubulus ginjal, sehingga menyebabkan peningkatan

jumlah urin yang diekskresikan. Efek diuretik furosemide dapat menyebabkan

deplesi cairan tubuh dan elektrolit dalam tubuh (Depkes RI, 1995).

Pemerian serbuk hablur, putih sampai hampir kuning, tidak berbau.

Kelarutan praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton, dalam

dimetilformamida dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam metanol, agak

sukar larut dalam etanol, sukar larut dalam eter, sangat sukar larut dalam

kloroform. Furosemid dan obat diuretik loop lainnya seperti bumetanid dan

torsemid merupakan diuretic loop golongan sulfonamide. Selain itu ada juga asam

etakrinat yang bukan golongan sulfonamide tetapi derivat asam fenoksiasetat yang

mengandung gugus keton dan metilen. Furosemid memiliki rumus molekul

C12H11ClN2O5S, dengan berat molekul 330,745 g/mol. Lasix merupakan nama

dagang paling dikenal di Amerika Serikat, merujuk pada rxlist dan drugbank.

Lasix adalah diuretik yang merupakan turunan asam antranilat. Lasix tablet

untuk pemberian oral mengandung furosemid sebagai bahan aktif dan bahan aktif

berikut : laktosa monohidrat NF , magnesium stearat NF , NF pati , talk USP , dan

koloid silikon dioksida NF. Rumus kimia IUPAC adalah asam 4 - kloro - N -

furfuril - 5 – sulfamoylanthranilic (Depkes RI, 1995).


7

Baku pembanding Furosemida BPFI, lakukan pengeringan pada suhu

105𝑜 selama 3 jam sebelum digunakan. Asam 4-kloro-N-furfuril-5-

sulfamoylanthranilic BPFI, tidak boleh dikeringkan sebelum digunakan, simpan

dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya. Asam 2-kloro-4-N-

furfirilamino-5-sulfamoilbenzoat BPFI, tidak boleh dikeringkan sebelum

digunakan, simpan dalam wadah tertutup rapat terlindungi dari cahaya. Senyawa

sejenis Asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfamoylanthranilic tidak lebih dari 0,5% dan

Asam 2-kloro-4-N-furfirilamino-5-sulfamoilbenzoat tidak lebih dari 0,5%.

Lakukan penetapan dengan cara kromatografi cair kinerja tinggi seperti yang

tertera pada kromatografi. Cemaran senyawa organik mudah menguap. Wadah

dan penyimpanan dalam wadah tertutup baik, tidak tembus cahaya. Penetapan

kadar timbang seksama lebih kurang 600 mg, larutkan dalam 50 ml

dimetilfornamida P yang telah ditambah 3 tetes biru bromotimol LP, dan

sebelumnya telah dinetralkan dnegan natrium hidroksida 0,1 N. Titrasi dengan

natrium hidroksida sampai titik akhir warna biru (Depkes RI, 1995).

Furosemide tablet diindikasikan pada pasien dewasa dan anak-anak untuk

pengobatan edema yang dihubungkan dengan gagal jantung kongestif, sirosis hati,

dan penyakit ginjal, termasuk syndrome nephritic. Furosemide tablet juga

digunakan pada dewasa untuk pengobatan hipertensi. Setiap obat mempunyai

efek samping, tetapi beberapa orang tidak menunjukkan efek samping (ISO, 2017)

Furosemide menimbulkan efek samping sebagai berikut :anemia, sensasi

abnormalitas kulit, kejang kandung kemih, penglihatan kabur, konstipasi/sembelit,

kram, pusing, demam, iritasi mulut dan lambung, kemerahan, sedikit ikterik,

kejang otot, telinga berdengung, fotosensitivitas, inflamasi vena, mual, jaundice.


8

Biasanya frekuensi urin maksimal sampai enam jam setelah dosis pertama, dan

akan menurun setelah mengkonsumsi furosemide dalam waktu beberapa minggu.

Pemberian injeksi dosis Minimal/Maximal untuk dewasa adalah 10 mg/600mg.

untuk anakanak dosis Minimal/Maximal adalah 0.5mg/kg / 6 mg/kg. Sedangkan

untuk pemberian secara oral untuk dewasa dosis Minimal/Maximal adalah 20mg /

600mg, dan untuk anak-anak dosis Minimal/ Maximal adalah 0.5mg/kg /

6mg/kg.Untuk pengobatan edema, pada dewasa bisa digunakan Furosemide 20-80

mg sigle dose. Jika dibutuhkan, pada dosis yang sama dapat diberikan 6-8 jam

berikutnya atau dosis bisa ditingkatkan (ISO, 2017).

2.3 Tablet Farsix

Farsix 40 mg tablet merupakan obat yang mengandung Furosemid. Obat

ini digunakan untuk mengatasi edema, sebagai terapi tambahan untuk edema

serebral atau paru, serta pengobatan hipertensi baik tunggal maupun

dikombinasikan dengan obat diuretik lain. Dalam penggunaan obat ini harus

sesuai dengan petunjuk dokter. Kontra indikasi gangguan fungsi ginjal, oliguria,

anuria, hipokalemia, hiponatremia, hipotensi. Indikasi umum edema akibat

gangguan jantung, hati, ginjal, edema perifer akibat obstruksi mekanik atau

insufisiensi vena dan hipertensi. (ISO, 2017).

2.4 Disolusi

Ketika suatu tablet atau sediaan padat lain dimasukkan kedalam gelas piala

berisi air atau kedalam saluran cerna, obat tersebut mulai bergerak dari padatan

utuh kedalam larutan. Kecuali tablet tersebut merupakan bahan polimerik yang

bergandengan, matriks padat juga berdisentegrasi menjadi garnul-granul. Granul-

granul yang dihasilkan selanjutnya berdeagerasi menjadi partikel-partikel halus.


9

Disintergrasi, seagrerasi, dan disolusi dapat terjadi bersamaan dengan pelepasan

obat dari bentuk penghantarannya. Disolusi sering kali merupakan tahap penentu

atau pengendali kecepatan pada absorbsi obat berkelarutan rendah karena disolusi

kerap kali menjadi tahap paling lambat diantara berbagai tahap yang terlibat

dalam pelepasan obat dari bentuk sediaan dan pergerakan kedalam sirkulasi

sistemik. Kecepatan disolusi mencerminkan jumlah obat yang terlarut dalam

periode waktu tertentu.(Sinko,patrick.2011)

Uji disolusi in vitro komparatif dapat bermanfaat dalam membuat

dokumentasi ekuivalensi antara dua obat bersumber ganda. Namun, karena

memiliki banyak keterbatasan, dalam pedoman ini dianjurkan bahwa penggunaan

uji disolusi in vitro untuk tujuan dokumentasi ekuivalensi sebaiknya seminumal

mungkin. Oleh karena itu, pengujian disolusi in vitro tidak dapat digunakan

sebagai satu-satunya dokumentasi ekuivalensi untuk obat dan bentuk sediaan yang

terdaftar pada contoh (a) – (e), terapi dapat dijadikan dokumentasi pendukung

pada obat- obat yang sangat mudah larut. (Mimi,2007)

Bila obat bersumber ganda yang diuji dan obat pembanding merupakan

obat yang cukup larut (misalnya lebih dari 80% dalam 15 menit). Ekuivalensi

invitro dapat diperkirakan. Pemberian izin untuk formulasi obat bersumber ganda

dengan menggunakan uji disolusi in vitro komperatif dan bukan berdasarkan uji

disolusi pada satu titik, sebagaimana diuraikan dalam berbagai kompendium

farmakope dan publikasi lainnya. Dianjurkan untuk melakukan uji disolusi dalam

berbagai kondisi dan dalam media fisiologi yang sesuai.(Mimi, 2007)

Uji disolusi in vitro bermanfaat dalam pengembangan produk dan dalam

pemantauan kesegaraman proses pembuatan dari bets ke bets setelah izin edar
10

diperoleh. Pengujian ini juga digunakan untuk memantau keseragaman

karakterikstik peluluhan suatu bentuk sediaan selama penyimpanan. Uji disolusi

juga dapat digunakan untuk menilai sejumlah karakteristik bentuk sediaan obat,

meliputi, distribusi ukuran partikel, bentuk hidrat, bentuk kristal, dan sifat sifat

lainnya dari bahan aktif dalam bentuk padat.Sifat mekanis bentuk sediaan

(kandungan air, ketahanan tablet terhadap tekanan, intergritas cangkang kapsul,

dan tablet salut) (Mimi, 2007).

Dalam hal pengawasan mutu obat, dokumentasi yang memberikan

informasi disolusi in vitro harus diserahkan bersama dengan pengajuan izin edar.

Uji disolusi in vitro dan spesifikasi pengawasan mutu hendaklah berdasarkan pada

spesifikasi kompendium yang sesuai atau pada performain vitro dari bets-bets

pengujian yang digunakan untk membentuk bahan untuk uji ekuivalensi yang

akan dilakukan. (Mimi, 2007).

Bila bets-bets untuk validasi proses berskala penuh dalam jumlah yang

sesuai tidak padat dibuat segera setelah masa pemberian izin, beberapa bets obat

yang akan diuji (direkomendasikan 2 atau 3 bets) sebaiknya dibuat dalam masa

sebelum pemberian izin sesuai dengan prosedur standart, konstisten, dan

terdokumentasi dengan baik. Dua bets dari antara bets-bets trsebut harus

emengandung sedikitnya 10.000 unit atau 10% dari bets produksi, bets yang satu

dapat lebih besar dari pada bets yang lain. Bets ketiga, jika dibuat dapat lebih

kecil, misalnya (misalnya 25.000 unit). Pemggunaan bets-bets yang lebih kecil

harus disertai alasan yang tepat. Bahan dari bets uji ini digunakan untuk membuat

bahn untuk uji disolusi dan untuk uji ekuivalensi. Kondisi pengujian dan media

fisiologi yang sesuai harus digunakan untuk uji disolusi bets-bets ini. Saat
11

pemiihan metode pengujian, direkomendasikan untuk mula-mula menggunakan

metode kompendium yang umum digunakan (“dayung” dan “keranjang”)dan

metode lain (“flow-throug cell” dan yang lainnya.dicoba jika metode yangpertama

gagal memberikan pemisahan yang memadai, dengan cara dan metode yang

berbeda dalam uji disosusi in vitro.(Mimi, 2007).

Penetapan profil disolusi sebaiknya dilakukan, walaupun berdasarkan

untuk kompedia hanya uji disolusi pada satu titik yang tersedia. Untuk obat yang

melepaskan zat aktif dengan cepat (obat lepas segera), uji disolusi pada satu titik

dapat digunakan untuk tujuan pengawasan mutu obat. Spesifikasi performa

disolusi dari bets-bets yang diproduksi berikutnya akan dibuat berdasarkan pada

hasil uji disolusi yang dilakukan pada bets hasil uji disolusi tersebut. Walaupun

tidak perlu dipersoalkan lagi bahwa nilai uji disolusi akan meningkat jika hasil uji

disolusi dapat ditunjukkan dengan uji in vivo untuk memperlihatkan perubahan

penting dalam formulasi dan/atau proses pembuatan, namun masalah yang terjadi

dalam pelaksanaannya masih dalam pembahasan. Tidak dianjurkan untuk

mengurangi standar spesifikasi disolusi dari performa bets uji lebih dari titik yang

ditentukan bila ekuivalensibahan uji yang digunakan untuk uji ekuivalensi dan

bets-bets produksi yang dibuat berikutnya tidak lagi dapat diperkirakan

lagii.(Mimi, 2007).

Pelepasan obat adalah proses yang terjadi ketika obat meninggalkan

produk obat dan tersedia untuk mengalami absorbsi, distribusi, metabolisme, dan

ekskresi (ADME) dan akhirnya tersedia untuk kerja farmakologis. Pelepasan obat

digambarkan dengan beberapa cara. Pelepasan segera mengacu pada ketersediaan

obat seketika untuk absorbsi atau kerja farmakologis. Produk obat pelepasan
12

segera memungkinkan obat melarut tanpa diharapkan terjadi penundaan atau

perpanjangan disolusi atau absorbsi obat. Bentuk sediaan pelepasan dimodifikasi

mencakup produk pelepasan obat tertunda dan pelepasan di perpanjang. Pelepasan

tertunda didefinisikan sebagai pelepasan obat selain pelepasan segera setelah

pemberian. Produk pelepasan terkendali meliputi produk pelepasan di perpanjang

dan produk berdenyut merupakan pelepasan sejumlah tertentu (plus/denyut) (

Braunwald 1991 ).

Ketika sutau tablet atau sediaan padat lain dimasukkan ke dalam gelas

piala berisi air atau kedalam saluran cerna, obat tersebut mulai bergerak dari

padatan utuh ke dalam larutan. Kecuali tablet tersebut merupakan bahan polimetik

yang bergandengan, matriks padat juga berdisintegrasi menjadi granul-granul.

Granul granul yang dihasilkan selanjutnya berdeagregasi menjadi partikel-partikel

halus. Disintegrasi, deagregasi, dan disolusi dapat terjadi bersamaan dengan

pelepasan obat dari bentuk penghantarannya. Tahap-tahap ini diilustrasikan secara

terpisah agar lebih jelas (Sinko,patrick.2011).

Keaktifan suatu tablet melepaskan kandungan obatnya untuk absorbsi

sistemik sedikit banyak bergantung pada kecepatan disintegrasi bentuk sediaan

dan deagregasi granul. Namun, biasanya yang lebih berpengaruh adalah kecepatan

disolusi sediaan padat tersebut. Disolusi sering kali merupakan tahan penentu atau

pengendali kecepatan pada absorpsi obat berkelarutan rendah karena disolusi

kerap kali menjadi tahap paling lambat di antara berbagai tahap yang terlibat

dalam pelepasan obat dari bentuk sediaan dan pergerakan ke dalam sirkulasi

sistemik. Disolusi klasik telah dikaji oleh Wurster dan Taylor, Wagner, dan

Leeson dan Carstensen (Sinko,patrick.2011).


13

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat
- Dissolution tester 1 buah
- Spektrofotometer UV 1 buah
- Spuit 5 ml 1 buah
- Pipet 5 ml 1 buah
- Bola karet 1 buah
- Gelas ukur 1000 ml 1 buah
- Beaker glass 1 buah
- Labu tentukur 1000 ml 1 buah
- Labu tentukur 10 ml 1 buah
- Fial 6 buah
- Pipet tetes 1 buah
3.2 Bahan
- Furosemid
- Tablet farsix
- Dapar phosfat pH 7,4
3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Pembuatan Pereaksi

a. Aquadest Bebas CO2

- Didihkan aquadest kuat-kuat dalam beaker gelas selama 15 menit atau

lebih dan diamkan sampai dingin dan tidak boleh menyerap CO2 dari

udara.

b. NaOH 0,2 N

- Dilarutkan 8,001 g NaOH dalam aquadest bebas CO2 HINGGA 1000 ml.

c. Medium Dapar Phosfat pH 7,4

- Dicampurkan 50 ml Kalium dihidrogen fosfat 0,1 M dengan 39,1 ml

NaOH 0,2 N dan diencerkan dengan aquadest bebas CO2 hingga 200 ml.
14

3.3.2 Uji Disolusi Furosemid (Paten,Generik)

- Diatur suhu medium 37±0,5 c0 , masukkan 900 ml medium kedalam

tabung disolusi.

- Dimasukkan sediaan pada tabung disolusi dan dihidupkan alat dengan

kecepatan 50 rpm. Pada menit ke 5,10,20,30,45,60,75 diambil 75 ml

aliquot dengan menggunakan spuit. Setiap pengambilan aliquot,

ditambahkan kembali 5 ml medium kedalam tabung disolusi hingga 25 ml.

- Diukur absorbansinya dengan spektrofotometri UV panjang gelombong .


15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Tabel Data Hasl Disolusi Furosemid

CxFP
t C CxFP Faktor C obat %
No. A FP dlm 900
(menit) (ppm) (ppm) Pe (+) dilepas kumulatif
ml (ppm)
1 5 0,911 15,704 5 78,520 7066,4 2 15,704 38,79%
2 10 1,104 19,032 5 95,156 85640,4 2 19,032 47,01%
3 20 1,155 19,21 5 99,551 89596,3 2 19,91 49,18%
4 30 1,164 20,065 5 100,32 90294,7 2 20,065 49,56%
5 45 1,192 20,548 5 102,74 92466,4 2 20,548 50,75%
6 60 1,208 20,823 5 104,11 93707,1 2 20,823 51,43%
4.1.2 Tabel Data Hasil Disolusi Larsix

CxFP
t C CxFP Faktor C obat %
No. A FP dlm 900
(menit) (ppm) (ppm) Pe (+) dilepas kumulatif
ml (ppm)
1 5 1,128 19,4449 5 97,2245 87502,05 2 19,4449 48,61%
2 10 1,141 19,6690 5 98,345 88510,5 2 19,6690 49,17%
3 20 1,170 20,1689 5 100,8445 90760,05 2 20,1689 50,42%
4 30 1,186 20,4477 5 102,2235 92001,15 2 20,4447 51,11%
5 45 1,90 20,5137 5 102,5685 92311,65 2 20,5137 51,28%
6 60 1,206 20,7895 5 103,9475 93552,75 2 20,7895 51,97%
4.1.3 Tabel Data Hasil Disolusi Farsix

CxFP
t C CxFP Faktor C obat %
No. A FP dlm 900
(menit) (ppm) (ppm) Pe (+) dilepas kumulatif
ml (ppm)
1 5 0,178 3,0684 5 15,34 13806 2 3,0684 7,671%
2 10 0,487 8,3951 5 41,97 37773 2 8,3951 20,987%
3 20 0,518 8,9294 5 44,64 40176 2 8,9294 22,323%
4 30 0,560 9,6535 5 48,26 36234 2 9,6535 24,133%
5 45 0,600 10,3430 5 51,71 46539 2 10,3430 25,857%
6 60 0,548 9,4466 5 47,23 42507 2 9,4466 23,616%
16

4.2 Pembahasan

Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu

zat yang dapat terlarut tertentu setiap satuan waktu. Pada percobaan ini ditentukan

laju disolusi dari tablet furosemid, tablet lasix dan tablet farsix dalam medium

dapar phospat pH 7,4. Tablet diuji dengan alat disolusi dengan metode dayung

dengan kecepatan 50 rpm dan suhu 37°C disesuai kan dengan suhu badan pada

manusia.

Dari data percobaan yang diperoleh bahwa tablet lasix memiliki persen

kumulatif yang lebih besar dibandingkan tablet furosemid dan farsix. Kenyataan

ini dapat terlihat pada menit ke-5, tablet melepaskan lasix sebesar 48,61%

sedangkan sediaan generik furosemid sekita 38,79% dan sedian farsix sekita

7,671%. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu:

1. Faktor yang berkaitan dengan sifat fitokimia obat

2. Faktor yang berkaitan dengan formulasi sediaan

3. Faktor yang berkaitan dengan alat uji disolusi dan parameter disolusi

Lasix merupakan sediaan yang memiliki persen kumulatif lebih tinggi

dibandingkan sediaan furosemid dan farsix yang disebabkan karena adanya

perbedaan bahan tambahan yang digunakan dalam proses formulasi dan

pengolahan sediaan lasix, furosemid, dan farsix. Suatu bahan dalam formulasi

dapat berinteraksi secara langsung dengan obat membentuk suatu kompleks yang

larut atau tidak larut dalam air. Sifat-sifat fisika kimia dari obat dan bahan-bahan

penambah menetapkan laju penglepasan obat dari bentuk sediaan dan transport

berikutnya melewati membran-membran biologis (Shargel, 1985)


17

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

- Praktikan sudah melakukan uji disolusi untuk membandingkan furosemid

generik dengan merek dagang. Merek dagang yang dipakai yaitu lasix dan

farsix. Dari data yang diperoleh tablet lasix memiliki persen kumulatif

lebih besar dibandingkan furosemid dan farsix. Tablet lasix pada menit ke-

5 diperoleh 48,61%, sedangkan furosemid sekitar 38,79% dan farsix

sekitar 7,671% dan pada menit seterusnya juga seperti itu lasix lebih besar.

Dinyatakan bahwa larsix memiliki persen kumulatif yang lebih tinggi

dibandingkan furosemid dan farsix.

5.2 Saran

- Praktikan harus lebih teliti dalam melakukan percobaan.

- Praktikan tidak boleh sembarangan dalam melakukan percobaan.

- Praktikan harus memahami tujuan dan materi yang dilakukan.


18

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI

Sinko, Patrick. (2011). Farmasi Fisika Dan Ilmu Farmasetika. Jakarta: EGC

Syahputri, Mimi. (2007). Pemastian Mutu Obat. Jakarta: EGC.

Midian, dkk. (2017). ISO Informasi Spesialis Obat Indonesia. Jakarta: Isfi

Penerbitan.

Wibowo, Agus. (2009). Cerdas Memilih Obat dan Mengenali Penyakit. Jakarta:

PT. Lingkar Pena Kreavita.

Rahardjo, Rio. (2008). Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2. Jakarta: EGC