Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INDIVIDU

ANALISIS PERKEMBANGAN PROFESI, PENDIDIKAN, DAN POLITIK


KEBIDANAN DI INDONESIA
Disusun Untuk Tugas Mata Kuliah Konsep, Sejarah, dan Politik dalam Praktik Kebidanan
Dosen Pengampu: Dr. Melyana Nurul W, S.Si.T.,M.Kes

Disusun Oleh:

Diah Ulfa Hidayati


NIM. P1337424718029

PROGRAM STUDI MAGISTER TERAPAN KEBIDANAN


PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TERAPAN KESEHATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2018
ANALISIS PERKEMBANGAN PROFESI, PENDIDIKAN, DAN POLITIK BIDAN DI
INDONESIA

Pendahuluan
Indonesia mengalami perkembangan dalam perbaikan sektor kesehatan dalam dua dekade
terakhir. Namun, terdapat beberapa indikator yang belum sesuai dengan target pembangunan
kesehatan, diantaranya masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 305/100.000 kelahiran
hidup. Angka ini memang mengalami penurunan dari tahun 2012 yaitu 359/100.000 kelahiran
hidup, tetapi belum dapat mencapai target yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) yaitu 102/100.000 kelahiran hidup.1,2
Selain itu, Angka Kematian Bayi (AKB) juga mengalami penurunan, meskipun tidak drastis.
Angka kematian bayi yaitu 32/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 mengalami penurunan
menjadi 24/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017.1
Penurunan AKI dan AKB yang merupakan tolak ukur derajat kesehatan suatu bangsa kini
menjadi prioritas utama dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJKMN)
tahun 2015-2019 dan juga menjadi target Sustainable Development Goals (SDG’s) yang harus
dicapai pada tahun 2030.2
Bidan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan menghadapi banyak perubahan dan
perkembangan baik dari segi profesinya sendiri, pendidikan, serta perluasan ke ranah politik.
Perubahan-perubahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi bidan untuk dapat mengikuti arus
perkembangan tersebut dengan tetap fokus pada tujuan awal yaitu untuk menurunkan AKI dan
AKB.

1. Perkembangan Profesi Bidan


Ikatan Bidan Indonesia (IBI) didirikan pada tanggal 24 Juni 1951 di Jakarta yang
diprakarsai oleh bidan-bidan senior yang berdomisili di Jakarta. Setelah dilakukan konferensi
bidan untuk pertama kalinya, pada tanggal 15 Oktober 1954, IBI resmi disahkan sebagai
organisasi profesi. Kemudian pada tahun 1956 IBI bergabung menjadi anggota ICM
(International Confederation of Midwifes). IBI aktif dalam mengikuti kongres ICM. Bahkan
pada kongres ke-31 ICM di Toronto, Kanada, Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes selaku ketua IBI
periode 2013-2018 terpilih menjadi coordinator ICM se-Asia Pasifik.3
Dalam menghadapi perkembangan global, IBI sebagai organisasi profesi kebidanan
yang sah berkewajiban menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebidanan yang dapat
dijadikan sebagai payung hukum serta landasan atau pedoman bagi bidan dalam menjalankan
tugasnya. Pada tahun 2005, IBI telah mengajukan RUU Kebidanan kepada DPR. Namun, pada
tahun 2013 dilakukan revisi pada RUU Kebidanan dan hingga saat ini pengesahan RUU
Kebidanan menjadi UU Kebidanan belum menemukan titik terang.2 Saat ini, yang menjadi
dasar hukum kebidanan di Indonesia adalah Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan dan Permenkes nomor 28 tahun 2017 tentang izin dan implementasi praktek bidan.3
Dalam Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, belum menunjukkan batasan
yang jelas tentang kewenangan tenaga kesehatan.
Selain itu, IBI juga mengajukan untuk dibentuknya suatu Konsil Kebidanan Indonesia,
yang terpisah dari konsil tenaga kesehatan lainnya, yang berperan sebagai badan otonom
profesi kebidanan. Dengan adanya UU Kebidanan dan Konsil Kebidanan Indonesia,
diharapkan dapat lebih mempertegas batasan kewenangan bidan sebagai penyedia layanan
kesehatan dengan profesi lainnya.
Saat ini, banyak berkembang isu-isu mengenai persamaan kewenangan antara profesi
bidan dan perawat. Dimana saat ini terdapat perawat maternitas yang memiliki kewenangan
menyerupai kewenangan bidan. Perawat maternitas dapat melakukan asuhan kehamilan,
pertolongan persalinan normal, serta asuhan pada ibu nifas dan bayi baru lahir. Kewenangan
perawat ini tidak dapat diganggu gugat karena telah tertera dalam Undang-Undang nomor 38
tahun 2014 tentang keperawatan.4
Perawat dapat memperjuangkan UU Keperawatannya, sehingga dapat lebih dulu
disahkan. Dengan demikian, perawat memiliki perlindungan hukum yang sah sehingga dapat
mencapai kesejahteraan bagi profesinya dan dapat meningkatkan mutu pelayanan yang
diberikan.
Hingga tahun 2018, 307.732 bidan telah terdaftar sebagai anggota IBI dan 658.510 telah
terdaftar di Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI). IBI sebagai organisasi profesi
mungkin memang tidak memiliki kewenangan dalam penetapan kebijakan untuk segera
direalisasikannya UU dan konsil kebidanan. Namun, IBI memiliki banyak anggota yang
berpengaruh di masyarakat sehingga dapat mendukung untuk diterbitkannya UU Kebidanan
tersebut. Bidan-bidan yang tergabung dalam IBI harus berani memperjuangkan UU
Kebidanan sehingga bidan di Indonesia memiliki dasar hukum sendiri yang terpisah dari
profesi lainnya. Dengan adanya UU Kebidanan, bidan dapat meningkatkan kualitasnya,
meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, memberi perlindungan dan kepastian hukum
kepada bidan dan klien, serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya dalam
upaya menurunkan AKI dan AKB di Indonesia.

2. Perkembangan Pendidikan Bidan


Dalam menurunkan AKI dan AKB, pemerintah telah melakukan beberapa upaya seperti
meningkatkan jumlah pelayanan kesehatan, meningkatkan anggaran kesehatan, serta
melakukan pemerataan penyebaran tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.1
AKI dan AKB memang mengalami penurunan, namun masih jauh dibawah target yang
dicanangkan PBB. Pemerintah harus menelaah lebih dalam aspek-aspek yang dapat berperan
dalam menurunkan AKI dan AKB tersebut.
Di negara-negara dengan tingkat AKI dan AKB yang rendah, tenaga kesehatan yang
terampil merupakan salah satu faktor penentunya. Sebagai pemberi layanan yang
komprehensif, bidan harus terampil dan mampu menjalankan tugasnya dengan professional.
Bidan yang terampil dan professional didapatkan dengan mengikuti pendidikan kebidanan
pada instansi dengan kurikulum yang telah terstandarisasi dan terakreditasi baik.
Pendidikan bidan muncul pertama kali pada tahun 1851 di Batavia yang diprakarsai oleh
Dr. Willem Bosch. Kemudian pendidikan bidan terus mengalami perkembangan hingga pada
akhirnya tahun 1974 dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Tahun 1989, dibuka Program
Pendidikan Bidan A (PPB/A) untuk lulusan SPK dengan lama pendidikan satu tahun.
Kemudian tahun 1987 dibuka pendidikan diploma III kebidanan dan dilanjutkan dengan
dibukanya diploma IV kebidanan pada tahun 2000. Pendidikan kebidanan berkembang hingga
dibukanya program profesi bidan dan S1 Kebidanan. Bahkan sejak tahun 2014 telah dibuka
Magister Terapan Kebidanan yang diselenggarakan oleh Politeknik Kesehatan Semarang.
Pendidikan vokasi akan diberikan kesempatan berkembang hingga mencapai Doktor
Terapan.5
Adanya perkembangan dalam pendidikan kebidanan diharapkan dapat menjadi sarana
bagi bidan di Indonesia dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuannya, sehingga mutu
bidan sebagai sumber daya pemberi layanan kesehatan yang komprehensif dapat lebih baik
lagi. Saat ini, kualifikasi pendidikan bidan yang bertugas di pelayanan kesehatan adalah
minimal diploma III. Kualifikasi ini dirasa mampu mengemban tugas sebagai pelaksana teknis
di lapangan. Dengan pengetahuan dan kegiatan-kegiatan praktek selama 3 tahun masa
pendidikan, diharapkan dapat menjadi bidan yang terampil dan professional.
Dalam hal pemberian pelayanan medis, bidan dengan kualifikasi pendidikan yang tinggi
mungkin akan dapat memberikan pelayanan dengan baik dan sesuai dengan Standar
Operasional Prosedur (SOP) di tempatnya bekerja. Tetapi, berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Indrayani, dkk, (2017) yang berjudul “Expectation and Prospect Regarding the
Midwife Services in Indonesia”, menunjukkan bahwa adanya ketidakpuasan yang dirasakan
klien terhadap pelayanan yang diberikan oleh bidan. Klien berpendapat bahwa bidan sebagai
pemberi pelayanan hanya sekedar menjalankan tugasnya sebagai praktisi, tanpa memandang
perasaan kliennya. Bidan juga seringkali menunjukkan sikap yang kurang ramah dan kurang
memperhatikan kebutuhan klien.6
Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan dalam kurikulum pendidikan kebidanan.
Pendidikan karakter bagi mahasiswa bidan mungkin diperlukan. Sehingga nantinya setelah
lulus dari pendidikan kebidanan, mahasiswa tidak hanya menjadi bidan yang terampil, tetapi
juga memiliki kepribadian yang baik.
Selain itu, pembelajaran yang diberikan juga seringkali menggunakan metode Teacher
Center Learning (TCL). Hal ini menyebabkan proses pembelajaran bersifat satu arah.
Mahasiswa menjadi tidak mandiri dan tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir
kritisnya. Padahal kemampuan berpikir kritis dangat diperlukan dalam dunia kerja khusunya
dalam proses pengambilan keputusan. Kedepannya, proses pembelajaran dapat diubah
menjadi Studen Center Learning (SCL), sehingga dapat merangsang kemampuan mahasiswa
dalam berpikir.
Selain masalah kurikulum, masalah sarana prasarana institusi pendidikan serta kualitas
tenaga pengajar dan SDM penunjang pendidikan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Sarana dan prasarana untuk pembelajaran dan praktikum harus memadai sehingga mahasiswa
dapat fokus dalam belajar. Tenaga pengajar/dosen juga minimal memiliki kualifikasi S2.
Terlebih lagi dengan adanya Magister Terapan Kebidanan diharapkan dapat meningkatkan
mutu tenaga pengajar bagi sekolah vokasi. Tenaga SDM lainnya seperti pranata laboratorium
juga harus memiliki kualifikasi dan kemampuan yang sesuai.
Akreditasi juga diperlukan bagi institusi pendidikan sebagai pengakuan bahwa institusi
tersebut memiliki kemampuan dalam mengemban tugasnya sebagai penyedia pendidikan.
Akreditasi juga menunjukkan kualitas dari institusi tersebut. Akreditasi juga seringkali
dijadikan persyaratan dalam melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Bidan dengan kualifikasi pendidikan yang terstandar serta berasal dari institusi
pendidikan yang terakreditasi baik dengan kurikulum yang sesuai standar, sarana prasarana
yang memadai, serta tenaga pengajar yang berkualitas diharapkan dapat memberikan
pelayanan yang menyeluruh, sesuai dengan kebutuhan klien, serta menghormati harkat dan
martabat klien, sehingga dapat mencapai derajat kesehatan yang maksimal.

3. Bidan dalam Dunia Politik


Ilmu politik merupakan ilmu yang luas, sehingga dalam penerapannya dapat merambah
ke berbagai bidang termasuk kesehatan. Hingga saat ini, masih sedikit bidan yang bermain di
ranah politik. Sebenarnya, bidan memiliki kesempatan yang besar apabila ingin bergabung
dunia politik, misalnya menjadi anggota DPR/DPD. Hal ini dikarenakan untuk menjadi
anggota DPR/DPD dibutuhkan dukungan dari masyarakat, sementara bidan adalah profesi
yang dekat dengan masyarakat, sehingga bidan akan dengan mudah mendapatkan simpati
masyarakat.
Apabila bidan ikut mengambil peran dalam dunia politik, dapat memberikan beberapa
keuntungan. Salah satunya dalam upaya perwujudan UU Kebidanan yang sampai saat ini
belum dapat terealisasi. Bidan yang berkecimpung dalam politik dapat berperan pada proses
penetapan kebijakan. Bidan juga dapat melakukan kerjasama dengan negara-negara regional
untuk mendukung realisasi UU Kebidanan. Selain itu, konsil kebidanan Indonesia juga akan
lebih mudah tebentuk karena bidan akan memiliki kewenangan dalam hal tersebut. Jadi, bidan
yang ikut dalam kegiatan politik memiliki peran yang cukup penting bagi kesejahteraan
profesinya.
Selain sebagai penyedia pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, bidan juga berperan
dalam kesejahteraan perempuan. Bidan berfungsi untuk melakukan advokasi agar perempuan
dapat mencapai hak-haknya. Bidan berperan dalam kesetaraan gender. Saat ini, banyak
organisasi-organisasi pemberdayaan perempuan yang mendukung setiap perempuan di negara
ini untuk mendapatkan haknya. Sehingga dapat mengurangi kejadian diskriminasi dan
kekerasan terhadap perempuan. Perempuan akan menjadi lebih produktif dalam menjalankan
perannya. Hal ini berperan dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga
serta dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang lebih baik.
Melalui organisai-organisasi pendayagunaan perempuan tersebut, bidan juga dapat
menjajaki dunia politik. Diharapkan dengan adanya bidan di legislatif, kebijakan-kebijakan
yang dibuat akan pro terhadap profesi kebidanan sehingga seluruh bidan di Indonesia dapat
mencapai kesejahteraannya dan dapat meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan.

Sumber :
1. Kementerian Kesehatan RI. 2017. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta : Pusat
Data dan Informasi Kemenkes RI
2. United Nations Fund for Population Activities (UNFPA). 2014. Midwifery Consultancy
Report. Jakarta: UNFPA Indonesia
3. Ikatan Bidan Indonesia (IBI). 2018. Indonesian Midwives Association (IBI) Brief History.
Jakarta : Indonesian Midwives Association Article
4. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). 2014. Kebijakan Kementerian
Kesehatan Terkait UU Keperawatan Terhadap Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit.
Jakarta : Pusat Data PERSI
5. Kementerian Kesehatan RI. 2017. Konsep Kebidanan dan Etikolegal dalam Praktik
Kebidanan Komprehensif. Jakarta : Pusdik SDM Kesehatan
6. Indrayani, Husin Farid, Hilmanto Dany, Ritha Aniah, Rumintang Baiq I, dkk. 2017.
Expectation and Prospects Regarding The Midwive Services in Indonesia. Journal of South
India Medicolegal Association Vol. 9, No. 2, September 2017.