Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TUTORIAL KLINIK

Oleh:
AGUSTINI
INDIRA PUTRA RENDY PRADANA
KHAIRUN NISA
NOOR AZIZAH
RUSMINI NOVI ARIYANI

PROGRAM PROFESI NERS B


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TA 2019-2020
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS

LAPORAN TUTORIAL KLINIK

TAHAP I: PROBLEM
Tanggal pengkajian : 25 – 03 - 2019
Jam : 10.00

DATA DEMOGRAFI
1. Biodata
- Nama ( inisial ) : Tn. A
- Usia / tanggal lahir : 05-10-1952
- Jenis kelamin : Laki-laki
- Alamat : Telaga Langsat
- Suku / bangsa : Banjar/Indonesia
- Status pernikahan : Menikah
- Agama / keyakinan : Islam
- Pekerjaan / sumber penghasilan : Petani
- Diagnosa medik : LBP
- No. medical record : 18--61
- Tanggal masuk : 14 Mei 2019

Penanggung jawab
- Nama : Tn. I
- Usia : 40 th
- Jenis kelamin : Laki-laki
- Pekerjaan / sumber penghasilan : Petani
- Hubungan dengan klien : Anak

II. KELUHAN UTAMA:


Saat pengkajian pada 16 Mei 2019 klien mengatakan dan menunjukkan nyeri pada
perut dan pinggang, anak klien mengatakan klien susah untuk tidur dimalam hari,
dan badan klien lemah karena hanya bisa sebentar untuk bangun itupun dengan
bantuan.

III. RIWAYAT KESEHATAN


1. Riwayat kesehatan sekarang
Keluarga klien mengatakan 3 hari sebelum masuk IGD klien tiba-tiba lemah
tanpa diketahui sebabnya. Dari rekam medik klien pada pengkajian diruang
saraf pada 14 Mei 2019 klien mengatakan sejak seminggu yg lalu mengeluh
pusing berputar-putar, bicara pelo, lemah pada tubuh sebelah kanan, dan
terasa kesemutan pada sebelah kanan

2. Riwayat kesehatan lalu


Keluarga klien mengatakan sebelumnya klien pernah menderita katarak dan
sudah di lakukan operasi pada mata kiri dan kanan. Keluarga klien juga
mengatakan pada 8 tahun yang lalu klien pernah terjatuh dari jembatan
dengan ketinggian ± 4-5 m dan 2 bulan yang lalu klien terjatuh lagi.

3. Riwayat kesehatan keluarga


Klien mengatakan tidak ada memiliki penyakit keturunan seperti TBC, DM
dan Hipertensi.

IV. RIWAYAT PSIKOSOSIAL


a. Klien menjalin hubungan baik dengan keluarga maupun dengan perawat dan
orang lain
b. Kepuasan terhadap diri kurang karena penyakitnya klien tidak bisa
melakukan aktivitas dengan normal.
c. Lingkungan klien dengan RS sangat berbeda, klien terlihat gelisah ketika di
Rumah Sakit.
d. Klien terlihat hanya memperhatikan dirinya

V. RIWAYAT SPIRITUAL
Keluarga klien mengatakan klien saat ini tetap melakukan sholat karena
merupakan kewajiban yang harus ditunaikan.
VI. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum klien
- Keadaan klien umum baik
- Kesadaran compos mentis
- GCS E:4 V:5 M:6
- Klien terlihat meringis
- Klien terlihat menunjuk perut dan pinggang
- Klien terlihat memegangi area punggung
- Klien terlihat memegangi area perutnya
- Klien terlihat lesu
- Klien terlihat lemah
- Klien terlihat pucat
- Terlihat adanya kantung mata di bawah mata klien
- dibantu keluarganya
- Klien terlihat lemah
- Klien terlihat tidak nyaman
- Klien terlihat hanya mika/miki
- Gerakan klien terlihat lambat

2. Tanda-tanda vital
- Suhu : 36, 8 °C
- Nadi : 84 x/menit
- Pernafasan : 28 x/menit
- Tekanan darah : 125/78 mmHg
- SPO2 : 97 %

3. Sistem pernafasan
Hidung : bentuk hidung simetris, keadaan hidung terlihat cukup bersih
dan tidak ada sumbatan baik itu sekret ataupun polif, tidak
ada napas cuping hidung.

Leher : leher berbentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid


maupun kelenjar getah bening, tidak adanya keterbatasan
gerak, tidak ada terasa nyeri saat menoleh kekiri dan
kekanan.
Dada : Bentuk dada normal, simetris antara kiri dan kanan, suara
napas bronco-vesikuler, terdapat retraksi dinding dada, tidak
ada suara napas tambahan, pola napas teratur, taktil premitus
(tidak terkaji).

4. Sistem kardiovaskuler
CRT > 2 detik, tidak ada distensi vena jugularis, suara jantung S1/S2
normal, terdapat pembesaran jantung, ictus cordis tidak teraba (tidak kuat
angkat).

5. Sistem perncernaan
Mukosa bibir klien terlihat lembab, mulut normal, mampu mengunyah
dan menelan, struktur gigi tidak lengkap. Bising usus 7x/menit, perkusi
abdomen tympani, tidak ada distensi abdomen saat dipalpasi, adanya
nyeri pada abdomen hilang timbul. P : bagian perut Q: seperti ditusuk-
tusuk R: perut menyebar S: 5 (sedang) T: hilang timbul.

6. Sistem indra
Kelopak mata tidak ptosis, mata kiri dan kanan simetris, sebaran bulu
mata dan alis merata, pupil isokor, miosis terhadap rangsang cahaya.
Penglihatan normal, penciuman normal (mampu membedakan antara bau
parfum dan minyak kayu putih), fungsi pendengaran menurun, fungsi
peraba normal (peka terhadap rangsangan ).

7. Sistem saraf
a. Fungsi serebral :
- Klien nampak gelisah, daya ingat kurang, dapat melihat dan
mendengar dengan jelas.
- Kesadaran compos mentis
b. GCS = 15
c. Fungsi kranial
Saraf I : Klien tidak mengalami masalah dalam fungsi penciuman
Saraf II : Klien tidak mengalami masalah dalam fungsi penglihata
Saraf III, IV, VI: kelopak mata klien tidak ptosis, pupil isokor
Saraf V : Klien tidak mengalami masalah dalam mengunyah
Saraf VII: Klien tidak mengalami masalah dalam fungsi pengecapan
Saraf VIII: Klien mengalami masalah dalam fungsi pendengaran
Saraf IX dan X : Klien tidak mengalami masalah dalam fungsi menelan
Saraf XI: Mobilisasi klien bergerak terbatas.
Saraf XII : Klien tidak mengalami masalah dalam indra pengecapan
d. Fungsi motorik
Klien masih bisa meraskan panasnya suhu lingkungan, dan mampu
merasakan adanya rangsangan nyeri.

8. Sistem Muskuloskeletal
Terdapat nyeri pada punggung bawah bagian belakang P: jika digerakkan
Q: seperti ditusuk-tusuk R: punggung bawah S: 6 (sedang) T: ± 2 menit.
Terdapat kelemahan pada otot ekstremita bawah dan atas. Klien terpasang
infus NS pada ekstremitas atas dekstra.

4444 4444 0 = Tidak ada kontraksi


1 = Ada kontraksi
2 = Dapat bergerak dengan bantuan
4444 4444 3 = Dapat melawan gravitasi
4 = Dapat menahan tahanan ringan
5 = Dapat menahan tahanan penuh
Hasil : Gerakan normal penuh

9. Sistem integumen
Rambut klien berdistribusi normal berwarna keputihan, terlihat cukup rapi
dan bersih. Turgor kulit <2 detik, kondisi kulit kering dan kuku klien
tampak bersih.

10. Sistem endokrin


Klien tidak mengalami pembesaran kelenjar teroid dan kelenjar getah
bening, pertumbuhan klien sejak dari anak-anak sampai tua tidak
mengalami gangguan.
11. Sistem perkemihan
BAK klien normal, klien tidak merasakan adanya nyeri saat BAK, klien
terpasang cateter urine dengan jumlah urine 500 cc.

12. Sistem reproduksi


Klien berjenis kelamin laki-laki dengan usia 67 tahun dan sudah
menikah. Klien terpasang kateter.

13. Sistem imun


Klien mengatakan tidak alergi terhadap makanan seperti telur dan
makanan yang berasal dari laut, tidak ada alegi terhadap cuaca dan obat-
obatan.

VII. AKTIVITAS SEHARI-HARI


A. Kebutuhan Nutrisi
Keluarga klien mengatakan klien hanya makan 5 sendok makanan dari RS
dan meminum secangkir susu.
B. Kebutuhan Cairan
Keluarga klien mengatakan klien minum ± 1600 ml perhari baik air putih
maupun susu.
C. Kebutuhan Eliminasi
Klien terpasang poly kateter dengan haluaran urine ± 1200 ml/perhari.
Ada BAB pagi ini dengan konsistensi lembek dan berwarna hijau
kehitaman.
D. Perhitungan intake dan output cairan (balance cairan)
Klien mengatakan minum ± 1600 ml perhari. Klien terpasang poly kateter
dengan haluaran urine ± 1200 ml/perhari.
E. Kebutuhan Istirahat Tidur
Keluarga klien mengatakan klien susah untuk memulai tidur dan sering
sekali terbangun dimalam hari karena merasa panas, klien mengatakan
susah tidur karena tidak terbiasa dengan lingkungan RS. Klien tidur siang ±
2 jam perhari.
F. Kebutuhan Olahraga
Keluarga klien mengatakan klien tidak berlahraga karena badan masih
lemah. Skala otot ektremitas bawah 4444.
G. Rokok / alkohol dan obat-obatan
Klien mengatakan iya memiliki riwayat merokok aktif dan sering minum
obat bodrek dengan dosis 2-3 kali perhari sebanyak 2 tablet.
H. Personal hygiene
Keluarga klien mengatakan klien diseka agar klien tetap merasa segar,
sesekali berkumur-kumur agar mulut tetap bersih.
I. Aktivitas / mobilitas fisik
Klien mengatakan tidak dapat bergerak aktif dan tidak dapat beraktivitas
secara mandiri karena masih mengalami kelemahan. Keluarga klien
mengatakan tidak dapat untuk bangun sendiriKlien mengatakan
bangun harus dibantu, klien mengatakan badan terasa lemas, skala
aktivitas 4 (sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisifasi
dalam perawatan.
J. Rekreasi
Klien mengatakan tidak bisa berekreasi dengan keluarga karena sedang
sakit. Klien mengatakan jarang melakukan rekreasi.

VIII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Tanggal pemeriksaan : 15 Mei 2019
Pemeriksaan Laboraturium
Komponen Hasil Satuan Normal Ranges

RBC 1.24 3.80 : 6.50


RDW 19.6 11.0 : 16.0
HCT 10.5 35.0 : 55.0
PLT 537 140 : 440
MPV 7.7 8.0 : 11.0
HGB 3.7 11.4 : 17.7
MCHC 35.2 31.5 : 35.0
Kalsium 1.08 1.0-1.23
Natrium 3.9 3.4-5.5
Kalium 144 135-145
Ureum 46.8 10 : 45 mg/dl
Creatinin 0,78 0,6: 1,1 mg/dl
Radiologi, 15 Mei 2019

Hasil pemeriksaan Foto Thorax AP:


Cor: membesar, aorta dilatasi dan elegansi
Pulmo: tak tampak infiltrate, tampak perivaskuler hazines
Sinus pherrnicocostalis kanan kiri tajam

Kesimpulan: Cardiomegali disertai early lung edema dengan dilatasio dan


elengasio aorta

Hasil pemeriksaan foto Thoracolumbosacral AP/Lat:


Maligment
Tampak fraktur kompresi CV L2
Trabekulasi tulang menurun
Superior dan inferior enplate baik
Lipping CV thoracolumbal, Pedicle dan spatium invertebra baik
Tak tampak paravertebra soft tissu mass

Kesimpulan: Fraktur kompresi CV L2


Spondylosis thoracolumbal

IX. TERAPI SAAT INI


Nama Obat Komposisi Golonga Indikasi/ Dosi Cara
n Obat Kontraindikas s Pemberia
i n
Ns Natrium Elektroli In: untuk 20 Iv
Clorida t menganti tpm
cairan tubuh
yang hilang

Antrain Natrium Analgetik In: 3 x iv


metamizole , mengurangi 1g
antipireti demam dan
k nyeri

Ko:
hipersensitivit
as metamizole,
ibu hamil,
hipotensi dll.
Lansoprazol In: mengobati 2 x Oral
masalah 30
lambung dan mg
esofagus

Ko:
penggunaan
bersamaan
dengan obal
rilpivirine dan
atazanavir.

Ondansetro Ondansetro Antiemeti In: mengobati 2 x 4 iv


ne n k mual dan mg
hydrochlori muntah
de akibat
kemoterapi,
radioterapi,
pasca operasi

Ko:
Hipersensitivit
as, sindroma
perpanjangan
interval QT
bawaan.

TAHAP 2. HYPOTESIS
No. Tanggal/Jam Data Fokus Etiologi Problem
1. 08.35 Data Subjektif: Agen cidera Nyeri Akut
(00132)
a. Klien mengatakan fisik
nyeri punggung
bawah belakang
b. P: jika digerakkan Q:
seperti ditusuk-tusuk
R: punggung bawah S:
6 (sedang) T: ± 2
menit

Data Objektif:
- Klien terlihat
meringis
- Klien terlihat
memegangi area
punggung
- Terlihat klien hanya
memperhatikan
dirinya
- N = 84 x/menit
2. 08.43 Data Subjektif: Kendala Gangguan pola
tidur
- Klien mengatakan lingkungan
(00198)
susah tidur siang dan
malam hari
- Klien mengatakan
susah tidur karena
panas
- Klien mengatakan
susah tidur karena
tidak terbiasa dengan
lingkungan RS
- Klien mengatakan
sering terbangun
- Klien sulit untuk
memulai tidur
Data Objektif:
- Klien terlihat lesu
- Klien terlihat lemah
- Klien terlihat pucat
- Terlihat adanya
kantung mata di
bawah mata klien
3. 08.45 Data Subjektif: Nyeri, Hambatan
mobilitas
- Keluarga klien kekuatan
ditempat tidur
mengatakan tidak otot tidak (00091)
dapat untuk bangun memadai
sendiri
- Klien mengatakan
bangun harus
dibantu
- Klien mengatakan
badan terasa lemas
Data Objektif :
- dibantu keluarganya
- Klien terlihat lemah
- Klien terlihat tidak
nyaman
- Klien terlihat hanya
mika/miki
- Gerakan klien
terlihat lambat
TAHAP 3. MECHANISM
1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Gangguan pola tidur b.d kendala lingkungan
3. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri

Masalah musculoskeletal, gangguan ginjal, masalah pelvi, tumor

Kontraksi punggung

Tulang belakang menyerap gocangan vertikal

Otot abdominal dan toraks melemah Terjadi perubahan


struktur dengan discus
Mobilitas fisik terganggu susun atas fibri fertiligo
dan matrik gelatinus
Kerusakan mobilitas fisik

Fibri kartilago

Penonjolan
diskus/kerusak
an sendi pusat

Menekan akar syaraf pusat

gangguan pola tidur Gangguan rasa aman nyeri

TAHAP 4. MORE INFO


1. Pengkajian psikologis pasien
2. Hasil lab

TAHAP 5. DON’T KNOW


3. Apa saja factor pencetus LBP ?
Usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit.

4. Penatalaksanaan apa yang dilakukan untuk penderita LBP ?


Manajemen nyeri, kolaborasi analgetik, ROM, dan kompres hangat.
TAHAP 6. LEARNING ISSUE
Factor pencetus LBP terdiri dari factor individu, factor perilaku, factor riwayat
penyakit dan factor psikososial. Contoh dari factor individu yakni umur. Low Back
Pain (LBP) lebih sering terjadi pada orang berumur 30 sampai 50 tahun. Rentang
umur tersebut merupakan rentang umur produktif, sehingga orang-orang tersebut
lebih aktif melakukan aktivitas atau pekerjaan, yang berarti lebih besar resikonya
terhadap aktivitas-aktivitas yang menyebabkan Low Back Pain (LBP). Risiko Low
Back Pain (LBP) atau nyeri pinggang juga akan meningkat seiring dengan
bertambahnya umur, karena penurunan fungsi tubuh, termasuk
tulang. Contoh dari factor perilaku yaitu mengangkat beban berat.
Mengangkat beban terlalu berat menyebabkan tulang belakang terasa nyeri atau sakit,
termasuk nyeri pinggang. Pembebanan berlebih pada tulang dapat menyebabkan
cidera maupun trauma pada jaringan lunak.

Pentalaksanaan pada pasien LBP yakni informasi dan edukasi serta pengkajian
psikologik, manajemen nyeri, latihan kondisi otot, rehabilitasi vokasional, pengaturan
berat badan, posisi tubuh dan aktivitas.

TAHAP 7. PROBLEM SOLVING


7.1 Faktor pencetus untuk NPB antara lain adalah: usia, jenis kelamin, obesitas,
pekerjaan, faktor psikososial, riwayat cedera punggung sebelumnya,
aktivitas/olahraga dan kebiasaan merokok.
7.1.1 Usia
Usia merupakan faktor yang memperberat terjadinya NPB, sehingga
biasanya diderita oleh orang berusia lanjut karena penurunan fungsi-fungsi
tubuhnya terutama tulangnya sehingga tidak lagi elastis seperti diwaktu
muda. Penelitian telah memperlihatkan bahwa resiko dari NPB meningkat
pada pasien yang semakin tua, tetapi ketika mencapai usia sekitar 65 tahun
resiko akan berhenti meningkat. Tetapi saat ini sering ditemukan orang
berusia muda sudah terkena NPB. Bahkan anak-anak dan remaja saat ini
ini semakin beresiko mengalami nyeri punggung akibat menghabiskan
terlalu banyak waktu membungkuk di depan komputer atau membawa tas
sekolah yang berat dari dan ke sekolah.
7.1.2 Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan
nyeri punggung bawah sampai umur 60 tahun. Namun pada kenyataannya
jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya NPB, karena pada
wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus
menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan
kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga
memungkinkan terjadinya NPB.
7.1.3 Obesitas
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih, risiko timbulnya
NPB lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan
meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya NPB. Obesitas dapat
diukur dengan menggunakan IMT (Indeks Massa Tubuh) dengan rumus
BB(kg)/TB2 (m). WHO telah menetapkan standar obesitas pada orang Asia
yaitu dengan ukuran IMT ≥ 25kg/m2.
7.1.4 Pekerjaan
Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot
rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara
pengangkatan barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh selama
bekerja, getaran, dan kerja statis. Oleh karena itu, riwayat pekerjaan sangat
diperlukan dalam penelusuran penyebab NPB.
7.1.5 Faktor Psikososial
Berbagai faktor psikologis dan sosial dapat meningkatkan risiko NPB.
Kecemasan, depresi, stress, tanggung jawab, ketidakpuasan kerja, mental,
stress di tempat kerja dapat menempatkan orang-orang pada peningkatan
risiko NPB kronis Posisi mengangkat beban dengan berdiri lalu langsung
membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah. Selain sikap
tubuh yang salah yang sering kali menjadi kebiasaan, beberapa aktivitas
berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam
sehari, melakukan aktivitas dengan duduk yang monoton lebih dari 2 jam
dalam sehari, dapat pula meningkatkan resiko timbulnya NPB.
7.1.6 Merokok
Perokok lebih beresiko terkena NPB dibandingkan dengan yang bukan
perokok. Diperkirakan hal ini disebabkan oleh penurunan pasokan oksigen
ke cakram dan berkurangnya oksigen darah akibat nikotin terhadap
penyempitan pembuluh darah arteri.
7.2 Penatalksanaan pada penderita LBP pada dasarnya dikenal dua tahapan terapi
NPB: konservatif dan operatif. Terapi konservatif meliputi rehat baring (bed rest),
mobilisasi, medikamentosa, fisioterapi, dan traksi pelvis.
7.2.1 Pada rehat baring, penderita harus tetap berbaring di tempat tidur selama
beberapa hari dengan sikap tertentu.
7.2.2 Mobilisasi, pada fase permulaan, mobilisasi dilakukan dengan bantuan
korset. Manfaat pemakaian korset adalah untuk membatasi gerak,
mengurangi aktivitas otot (relaksasi otot), membantu mengurangi beban
terhadap vertebra dan otot paraspinal, dan mendukung vertebra dengan
peninggian tekanan intra abdominal. Mobilisasi sebaiknya dimulai dengan
gerakan-gerakan ringan untuk jangka pendek. Kemudian diperberat dan
diperlama.
7.2.3 Pada medikamentosa, ada dua jenis obat dalam tatalaksana NPB ini, ialah
obat yang bersifat simtomatik dan yang bersifat kausal. Farmakoterapi:
Analgesik (asetaminofen), NSAID (asam mefenamat), Muscle relaxant
(Chlorzoxazone), Opioid
7.2.4 Pada fisioterapi, biasanya dalam bentuk diatermi (pemanasan dengan
jangkauan permukaan yang lebih dalam). Terapi panas bertujuan untuk
memperbaiki sirkulasi lokal, merelaksasi otot, memperbaiki extensibilitas
jaringan ikat.
7.2.5 Traksi pelvis, bermanfaat untuk relaksasi otot, memperbaiki lordosis serta
memaksa penderita melakukan tirah baring total. Bukti-bukti menunjukkan
bahwa traksi tidak bermanfaat untuk meregangkan discus yang menyempit.
Traksi pelvis dilarang dilakukan jika ada infeksi tulang, keganasan tulang,
adanya kompresi mielum. Beban yang umum digunakan berkisar antara
10-25 kg.
7.2.6 Terapi operatif dikerjakan apabila dengan tindakan konservatif selama 2-3
minggu tidak memberikan hasil yang nyata, atau terhadap kasus fraktur
yang langsung mengakibatkan defisit neurologik.

No. No Diagnosis Nursing Nursing Intervention Rasional


Diagnosis Outcome
Ke-
perawatan
1. (00132) Nyeri Akut Nyeri akut 1. Manajemen Nyeri a. Untuk
berhubungan berkurang a. Lakukan mengetahui
dengan agen setelah pengkajian keadaan umum
cidera fisik diberikan nyeri secara b. untuk
tindakan kompeherensif membersihkan
keperawatan yang meliputi jalan nafas
selama 1 x 24 lokasi, c. untuk
jam dengan karakteristik, mengetahui
kriteria hasil : onset/durasi, adanya
- Klien frekuensi, keabnormalan
mengatakan intensitas, atau pada status
nyeri beratnya nyeri pernapasan
berkurang dan faktor d. untuk
(skala 2) pencetus mengetahui
- Klien dapat b. Gunakan adanya
melakukan strategi keabnormalan
manajemen komunikasi pada status
nyeri (napas terapeutik untuk pernapasan
dalam) mengetahui e. untuk
TTV dalam pengalaman menetahui
batas normal nyeri pasien kadar saturasi
dan penerimaan oksigen dalam
pasien darah
terhadapnyeri f. suara napas
c. Gali tambahan
pengetahuan mengindikasi
dan kan adanya
kepercayaan gangguan
pasien terhadap pada jalana
nyeri napas

d. akibat dari
pengalaman g. posisi yang
nyeri terhadap tepat
kualitas hidup membuat
pasien jalan napas
(misalnya, lebih paten
tidur, nafsu h. untuk
makan, memenuhi
pengertian, kebutuihan
perasaan, oksigen
hubungan) pasien
e. Gali bersama
pasien faktor
faktor yang
dapat
mengurangi
nyeri

f. Gunakan
metode
penilaian yang
sesuai tahapan
perkembangan
yang
memungkinkan
untuk
memonitor
perubahan nyeri
dan akan dapat
membantu
mengidentifikas
i faktor
pencetus actual
dan potensial
(misalnya,
catatan
perkembangan
atau catatan
harian
g. Kurangi atau
eliminasi faktor
faktor yang
dapat
mempengaruhi
nyeri
h. Ajarkan tekhnik
non
farmakologi
misalnya
relaksasi
i. Mulai dan
modifikasi
tindakan
penontrol nyeri
berdasarkan
respon pasien
j. Berikan
informasi yang
akurat untuk
meningkatkan
pengetahuan
dan respon
keluarga
terhadap
pengalaman
nyeri
k. Monitor
kepuasan pasien
terhadap

2. (00198) Gangguan pola Gangguan pola 1. Peningkatan Tidur 1.Peningkatan


tidur (00198) tidur teratasi a. Tentukan Pola Tidur
berhubungan setelah tidur/aktivitas a. Untuk
dengan kendala diberikan pasien. Mengetahui
lingkungan tindakan b. Perkirakan kemudahan
keperawatan tidur/siklus dalam tidur
selama 2 x 24 bangun pasien b. Mengatur pola
jam dengan didalam tidur pasien
kriteria hasil : perencanaan. c. Memberikan
-Melaporkan c. Jelaskan pemahaman
istirahat tidur pentingnya agar pasien
malam optimal tidur selama berupaya
-Mempertahan penyakit, seoptimal
kan pola tidur tekanan mungkin untuk
yang psikososial dll. tidur dengan
memberikan d. Tentukan efek teratur
energy yang dari obat yang d. Memahami
cukup untuk dikonsumsi agar tidak salah
beraktivitas pasien terhadap dalam
sehari hari pola tidur memberikan
obat yang bisa
e. Monitor/catat membuat tetap
jumlah jam terjaga
tidur pasien. e. Memantau
f. Monitor pola peningkatan
tidur pasien, tidur pasien
dan catat f. Mencari
kondisi fisik sumber
(misalnya, penyebab susah
sumbatan jalan tidur
napas, g. Memudahkan
nyeri/ketidakny pasien agar
amanan, dan tidur lebih
frekuensi buang cepat
air kecil) dan h. Melakukan
atau psikologis pemberian obat
(misalnya, dengan tepat
ketakutan atau tanpa
kecemasan) mengambil
keadaan yang waktu tidur
mengganggu pasien
tidur. i. Agar pasien
tidak terjaga

g. Bantu untuk
menghilangkan
situasi stress
sebelum tidur
h. Sesuaikan
jadwal
pemberian obat
untuk
mendukung
tidur/siklus
bangun pasien
i. Dorong
penggunaan
obat tidur yang
tidak
mengandung
(zat) penekan
tidur(REM)
3. (00085) Hambatan Hambatan 1. Terapi Latihan 1. Terapi latihan
mobilitas fisik mobilitas fisik mobilitas Sendi mobilitas sendi
berhubungan dapat teratasi a. Tentukan a. Mengetahui
dengan Nyeri, setelah batasan batasan
penurunan dilakukan pergerakan pergerakan
kekuatan otot, tindakan sendi dan pasien
penurunan keperawatan efeknya b. Memberikan
kendali otot, selama 1 x24 terhadap fungsi pemahaman
intoleransi dengan kriteria sendi kepada
aktivitas , fisik hasil: b. Jelaskan pada pasien
tidak bugar -klien dapat pasien atau maupun
melakukan keluarga keluarga
perpindahan manfaat dan pasien untuk
posisi sendiri tujuan menjalin
- klien dapat melakukan komunikasi
melakukan latihan sendi dan
pergerakan c. Monitor lokasi tindakan
sendi dan c. Pergerakan
kecenderungan pasien
adanya nyeri mungkin
dan terbatas dan
ketidaknyaman sakit jika
an selama dipaksakan
pergerakan/akti d. Memudahk
vitas an
d. Pakaikan baju pergerakan
yang tidak pasien
menghambat e. Mencegah
pergerakan resiko
pasien cedera.
e. Lindungi pasien f. Memaksim
dari trauma alkan hasil
selama latihan dan manfaat
f. Bantu pasien tindakan
mendapatkan
posisi tubuh g. Gerakan
yang optimal ROM Pasif
untuk membutuhk
pergerakan an bantuan
sendi pasif untuk
maupun aktif dilaksanaka
g. Lakukan ROM n
pasif dengan h. Menmgedu
bantuan, sesuai kasi
indikasi keluarga
h. Instruksikan terkait
pasien/keluarga tindakan
cara melakukan rom
latihan ROM
pasif dengan
bantuan

Kandangan , 30 Mei 2019

Preseptor Akademik

(Linda., Ns. M.Kep)