Anda di halaman 1dari 17

Pengertian Pyrrophyta (Dinoflagellata)

Filum Pyrrophyta sering


disebut Dinoflagellata, diberi nama
demikian karena pergerakan yang
dibantu dua flagela mirip cambuk
(dalam bahasa Latin,dino artinya
pusaran air). Dinoflagellata terdiri
dari sekitar 1.100 jenis, terutama
hidup di dalam air laut, meskipun
beberapa jenis hidup di air tawar.
Dinoflagellata merupakan ganggang
uniseluler yang motil, dengan ciri
utama terdapat celah dan alur di
sebelah luar pembungkus yang melingkupi dinding sel.
Beberapa jenis Dinoflagellata tidak mempunyai dinding sel, namun
kebanyakan mempunyai dinding sel yang terbagi-bagi menjadi lempeng-lempeng
selulosa poligonal yang saling bersambungan sangat rapat. Pyrrophyta juga sering
disebut tumbuhan api (fire plant) atau ganggang api.

Mengapa Pyrrophyta atau Dinoflagellata disebut ganggang api?

Filum Pyrrophyta disebut ganggang api karena memiliki cangkang yang


mengandung fosfor yang mampu memendarkan cahaya bewarna merah menyala
seperti api atau berwarna hijau biru yang sangat indah terutama dalam kondisi
gelap pada malam hari di air laut. Peristiwa perpendaran cahaya ini disebut
dengan bioluminesens. Contohnya adalah Noctiluca sp., dan Ceratium sp.

Timbulnya warna merah karena pada Protista ini banyak


mengandung karotenoid, sehingga penampakannya lebih sering bewarna emas,
cokelat atau merah daripada bewarna hijau. Pyrrophyta atau Dinoflagellata ini
kebanyakan mempunyai vakuola non-kontraktil, kloroplas, dan mempunyai klorofil
a dan b.

Klorofil hijau Dinoflagellata biasanya ditutupi oleh pigmen merah yang


membantu menangkap energi cahaya. Ketika air dalam keadaan hangat dan kaya
akan nutrisi, populasi Dinoflagellata akan meledak. Jumlah Dinoflagellata akan
sedemikian banyaknya sehingga air akan bewarna merah oleh warna tubuh.
Peristiwa ini dikenal dnegan gelombang merah (red tide).

Dinoflagellata autotrof merupakan tipe fitoplankton yang umum dijumpai.


Mereka merupakan penghasil biomassa dan oksigen yang luar biasa. Beberapa
Dinoflagellata yang bersifat fotosintetik, hidup bersimbiosis pada tubuh beberapa
jenis karang, anemon laut, cacing pipih, dan kerang raksasa.

Beberapa Dinoflagellata juga bersifat heterotrof. Mereka hidup dengan cara


menelan materi organik dan sel-sel hidup lain. Selain itu, sebagian kecil
Dinoflagellata dapat bersifat sebagai parasit pada tubuh berbagai hewan laut,
contohnya Protogonyaulax catenella.

Struktur Tubuh Pyrrophyta (Dinoflagellata)


Untuk memahami bagian-bagian struktur sel dari Dinoflagellata beserta
fungsinya, silahkan kalian cermati gambar dan penjelasannya berikut ini.

■ Dinoflagellata pada dasarnya adalah organisme motil uniseluler dan berflagel dua
(biflagella), bewarna cokelat keemasan, serta termasuk protista fotosintetik.
Meskipun warna dominan adalah cokelat keemasan, tetapi ada juga yang bewarna
kuning, hijau, cokelat bahkan biru. Beberapa di antaranya tida motil, tidak memiliki
flagel, ameboid, dan berserabut.
■ Sel umumnya ditutupi oleh mantel atau lempeng kaku terbuat dari selulosa yang
tersusun artistik seperti pahatan. Susunan lempeng ini disebut dengan armor
plate atau lempeng baju baja.
■ Dinoflagelata memiliki dua celah atau alur yaitu alur longitudinal (membujur)
yang disebut sulcus (sulkus) dan alur melingkar (melintang) yang dikenal
sebagai cingulum atau anulus atau korset.
■ Dua flagela pada Dinoflagellata berbeda (heterokon), yaitu flagel transversal dan
flagel longitudinal. Flagela longitudinal lebih kecil dan halus serta mengarah ke
posterior dan terletak pada sulcus. Sedangkan flagela transversal berbentuk seperti
pita dan terletak pada cingulum. Dua jenis flagel ini bergerak dalam arah yang
berbeda sehingga mengakibatkan terjadinya pusaran air saat Dinoflagellata
bergerak.
■ Nukleus berukuran besar dan dinamakan mesokaryon oleh Dodge (1966). Bagian
kromosom tidak memiliki histon atau RNA.
■ Plastida atau kromatofor memiliki klorofil a dan klorofil c.
■ Vesikula terletak di bagian bawah memberan sel.
■ Vakuola non-kontraktil yang disebut pusule terletak di dekat dasar
flagella. Pusule ini berguna untuk mengapung di permukaan air dan osmoregulasi.
Pada Dinoflagellata tidak ditemukan vakuola kontraktil.

Ciri-Ciri Pyrrophyta (Dinoflagellata)


Pyrrophyta atau Dinoflagellata atau Ganggang Api memiliki ciri atau
karakteristik secara umum, yaitu sebagai berikut.
■ Uniseluler (bersel tunggal)
■ Bersifat motil (aktif bergerak)
■ Memiliki flagela (bulu cambuk)
■ Memiliki dinding sel nyata yang terdiri atas lempengan-lempengan yang
mengandung selulose, tetapi ada beberapa yang tidak memiliki dinding sel,
misalnya Gymnodinium sp.
■ Memiliki sel dengan ciri khas yaitu terdapat celah dan alur serta di dalam sel
terdapat plastida yang mengandung pigmen klorofil a dan c, serta karotenoid
sehingga bewarna cokelat kekuning-kuningan.
■ Bersifat autotrof (mampu melakukan fotosintesis atau bersifat fotosintetik) dan
berperan sebagai fitoplankton di lautan.
■ Bersifat yang bersifat heterotrof yang hidup dengan cara menelan materi organik
dan sel-sel hidup lain.
■ Ada juga yang bersifat sebagai parasit yang hidup dengan cara menempel pada
tubuh berbagai hewan laut, contohnya Protogonyaulax catenella.
■ Hidup bebas atau bersimbiosis pada tubuh beberapa jenis karang, anemon laut,
cacing pipih, dan kerang raksaksa.
■ Pada beberapa jenis, cangkagnya mengandung fosfor sehingga memendarkan
cahaya di malam hari.
■ Sebagian besar berhabitat di air laut tetapi adapula yang hidup di air tawar.
■ Memiliki vakuola non-kontraktil yang berfungsi untuk mengapung dan
osmoregulasi.

Klasifikasi Pyrrophyta (Dinoflagellata)


Karena dinoflagellata dapat dilihat baik sebagai seperti tanaman dan seperti
hewan, klasifikasi mereka telah diperdebatkan di kalangan ahli botani, zoologi, dan
paleontologi. Yang paling banyak diterima skema klasifikasi adalah bahwa semua
dinoflagellata adalah anggota kerajaan Protista, divisi Dinophyta, dan kelas
Dinophyceae.
Dinoflagellata kemudian dimasukkan dalam kelompok ganggang (protista
mirip tumbuhan) yaitu filum Pyrrophyta serta diklasifikasikan ke dalam banyak
ordo, genus, dan spesies berdasarkan karakteristik seperti perilaku makan,

komposisi plat luar mereka, anatomi dan fisiologi keseluruhan.

Cara Reproduksi Pyrrophyta (Dinoflagellata)


Seperti halnya Euglenophyta, Pyrrophyta juga melakukan reproduksi hanya secara
aseksual, yaitu dengan membelah diri, tetapi beberapa jenis dapat menghasilkan
kista (stadium istirahat) yang bersifat seksual. Kista tersebut kemudian akan
berkecambah menghasilkan individu baru pada kondisi yang cocok.

Contoh dan Peranan Pyrrophyta (Dinoflagellata) dalam Kehidupan


Contoh spesies Pyrrophyta atau Dinoflagellata
Dinoflagellata terdiri dari sekitar 1.100 jenis, terutama hidup di dalam air laut,
meskipun beberapa jenis hidup di air tawar. Contoh spesies Dinoflagellata yang
paling banyak dijumpai yaitu Pfiesteria piscicidia, Gonyaulax
catanella, dan Noctiluca scintillans. Berikut ini penjelasan ketiga jenis Dinoflagellata
tersebut.
■ Pfiesteria piscicidia adalah spesies dinoflagellata banyak dijumpai di lepas pantai
North Carolina. Para ilmuwan telah menyimpulkan bahwa ia bertanggung jawab
atas pembunuhan sejumlah besar ikan dengan mensekresi racun. Spesies ini
memiliki strategi makan yang menarik. Hal ini diketahui menggunakan racun untuk
membunuh ikan kemudian menunggu untuk mengkonsumsi jaringan yang sloughs
dari dari organisme yang membusuk. Hal ini membuat salah satu spesies
heterotrofik dari beberapa dinoflagellata.

■ Gonyaulax catanella adalah dinoflagellata yang berputar sangat ketika mereka


bergerak dengan menggunakan dua flagela mereka. Mereka juga salah satu yang
terkenal spesies bercahaya dari dinoflagellata, karena mereka mengeluarkan
cahaya biru-hijau di perairan yang mereka huni.

■ Noctiluca scintillans adalah spesies dinoflagellata heterotrofik yang memakan


plankton yang ditemukan di muara dan daerah dangkal dari landas kontinen.
Spesies ini sering disebut sebagai kilauan laut karena menunjukkan bioluminesensi
dan menjadi sangat terang ketika terganggu dalam air.

Peranan Pyrrophyta atau Dinoflagellata


Dinoflagellata sering menyebabkan suatu fenomena menarik di laut, yaitu dapat
menghasilkan warna laut yang tiba-tiba memerah. Fenomena ini sering
disebut pasang/gelombang merah atau “red tides”. Kondisi seperti ini
mengandung suatu racun yang dihasilkan Dinoflagellata tertentu dan dapat
meracuni ikan, kerang, dan kadang-kadang manusia.
Pasang merah beracun biasanya dapat terjadi setelah kepadatan populasi
Dinoflagellata tertentu meningkat tajam (blooming). Jenis Dinoflagellata yang
dapat menghasilkan pasang merah beracun, di antaranya Gymnodinium dan
Protogonyaulax. Toksin atau racun yang dihasilkan spesies-spesies tersebut
biasanya bersifat racun saraf atau neurotoksin, atau dapat menyebabkan pecahnya
sel darah merah.

Ketika terjadi gelombang merah, ribuan ikan mati lemas akibat insang mereka
tersumbat atau kekurangan oksigen oleh miliaran Dinoflagellata yang mati dan
membusuk. Akan tetapi, tiram dan remis “berpesta” dengan menyaring jutaan
makanan mereka di air. Dalam proses ini, tubuh mereka akan mengumpulkan
racun saraf yang diproduksi Dinoflagellata dalam jumlah yang cukup besar.
Pada keadaan ini, racun Dinoflagellata dapat terkumpul pada tubuh tiram atau
remis tanpa menyebabkan kematian hewan tersebut. Namun, jika moluska tersebut
termakan oleh manusia, dapat terjadi keracunan pada manusia yang memakannya.
Oleh karena itu, dalam mengkonsumsi kerang-kerangan sering dihindari pada saat
musim panas, yaitu musim ketika populasi Dinoflagellata jumlahnya meningkat
tajam.

Cara Reproduksi Chlorophyta, Chrysophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, Euglenophyta, Pyrrophyta &


Bacillariophyta
PENGERTIAN CHRYSOPHYTA ATAU ALGA KEEMASAN

Alga Chrysophyta disebut juga


ganggang keemasan (golden algae)
atau ganggang pirang. Istilah
“Chrysophyta” berasal dari bahasa
Yunani, chrysos yang berarti
“keemasan”. Warna keemasan
disebabkan karena ganggang ini
memiliki pigmen berupa karoten dan
xantofil yang jumlahnya dominan
dibandingkan dengan klorofil a dan c
sehingga membuat sel plastida bewarna
hijau kekuningan/cokelat keemasan. Sumber lain ada yang menyebutkan bahwa
warna keemasan disebabkan oleh pigmen yang bernama fukosantin
(fucoxanthin).
Chrysophyta kebanyakan hidup di air tawar, meskipun beberapa jenis ada yang
hidup di air laut. Alga kelompok ini mempunyai makanan yang disimpan sebagai
laminarin, yaitu suatu polisakarida sebagai simpanan makanan pada alga ini. Alga
keemasan memiliki variasi struktur dan bentuk. Sebagian tidak memiliki dinding
sel dan dapat merayap seperti Amoeba. Sebagian lagi memiliki dinding sel yang
terbuat dari selulosa.
Sebagian besar kelompok ganggang keemasan adalah uniseluler tetapi ada pula
yang membentuk koloni. Sel-sel alga pirang mempunyai dua flagella sehingga
disebut sebagai biflagellata, khususnya untuk alga yang struktur dinding selnya
tersusun atas pektin. Kedua flagellanya terpaut di dekat salah satu ujung sel.
Selain hidup di perairan, ada juga Chrysophyta yang hidup di darat.

Alga pirang yang hidup di darat sering ditemui sebagai selaput seperti beludru di
tepi kolam, tepi perairan, atau di tanah yang lembab. Selain laminarin,
Chrysophyta menyimpan kelebihan makanan dalam bentuk minyak sehingga
merupakan komponen penting dalam pembentukan minyak bumi. Filum
Chrysophyta terdiri atas sekitar 5.300 jenis, dan 5.000 di antaranya adalah diatom
yang sekarang sudah dimasukkan dalam Filum tersendiri yaitu Bacillariophyta.
Ciri-Ciri Chrysophyta (Alga Keemasan)
Ganggang keemasan (Chrysophyta) mempunyai ciri atau karakteristik secara
umum sebagai berikut.
■ Inti sel bersifat eukariotik karena inti sel telah memiliki membran.
■ Ada yang uniseluler (bersel satu) dan adapula yang multiseluler (bersel banyak).
Ganggang yang uniseluler di perairan berperan sebagai komponen fitoplankton.
■ Bersifat autotorof, karena memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis. Namu
adapula yang bersifat heterotrof dengan menyerap makanan.
■ Habitat di wilayah perairan seperti air tawar, air payau maupun air laut dan ada
juga yang hidup darat terutama di tempat-tempat yang basah.
■ Ada yang memiliki dinding sel dan ada yang tidak.
■ Dinding sel mengandung selulosa, pektin atau silika.
■ Sebagian besar Chrysophyta mempunyai flagela untuk bergerak terutama yang
memiliki dinding sel. Namun ada juga yang bersifat amoeboid (bergerak merayap
seperti Amoeba) bagi Chrysophyta yang tidak berdinding sel.
■ Memiliki pigmen karoten, xantofil, klorofil a dan klorofil c.
■ Sebagian besar bersifat mikroskopis (tidak dapat diamati dengan mata
telanjang).
■ Hidup soliter atau berkoloni.
■ Menyimpan cadangan makana dalam bentuk laminarin atau minyak.

Klasifikasi Chrysophyta (Alga Keemasan)


Alga keemasan diklasifikasikan ke dalam tiga kelas, yaitu:
■ Xanthophyceae (ganggang hijau kuning). Mempunyai klorofil, xantofil.
Contoh: Vaucheria sp.
■ Chrysophyceae (ganggang coklat-keemasan). Mempunyai klorofil dan karoten.
Contoh: Ochromonas, Synura.
■ Bacillariophyceae (diatom). Banyak dijumpai di atas permukaan tanah basah
(sawah, got, parit). Tubuh uniseluler, ada yang berkoloni. Dinding sel tersusun atas
dua belahan, yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka).
Contoh: Navicula, Pinnularia. Namun sekarang diatom sudah dipisahkan dari Filum
Chrysophyta dan dimasukkan dalam Filum tersendiri yaitu Bacillariophyta.

Berdasarkan jenis selnya, Chrysophyta dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Chrysophya Uniseluler (Bersel Tunggal)


■ Ochromonas, merupakan jenis Chrysophyta uniseluler yang mempunyai dua
flagela, satu panjang dan satu pendek. Ochromonas dapat tumbuh secara autotrof
dengan menggunakan energi cahaya matahari atau secara heterotrof dengan
menyerap makanan.
■ Navicula, sering disebut dengan diatome atau ganggang kersik, bentuk tubuhnya
kotak atau elips, jika mati fosilnya akan membentuk tanah diatome yang berfungsi
sebagai bahan penggosok, campuran semen atau penyerap nitrogliserin pada
bahan peledak. Reproduksinya membelah diri dengan memisahkan bagian
tubuhnya yang terdiri dari hipoteka (kotak) dan epiteka (tutup).
■ Pinnularia, mirip dengan diatome.

Chrysophya Multiseluler (Bersel Banyak)


■ Vaucheria, hidup berkoloni dalam filamen yang berbentuk tabung yang kadang-
kadang bercabang. Jenis yang hidup di darat menempel pada permukaan dengan
rizoid yaitu cabang-cabang menyerupai akar yang tidak berwarna.
Filamen Vaucheria berinti banyak dan tidak dibatasi oleh dinding sekat yang disebut
senosit. Di dalam sitoplasma terdapat vakuola besar di tengah sel. Di dalam
sitoplasma terdapat banyak inti, plastida yang berbentuk cakram tanpa pirenoid.
Cadangan makanan berupa minyak dalam bentuk tetes-tetes minyak.

Cara Reproduksi Chrysophyta (Alga Keemasan)


Bagaimanakah cara perkembangbiakan ganggang keemasan? Alga keemasan ini
dapat berkembang biak secara aseksual (vegetatif) dan juga seksual (generatif).
Berikut ini penjelasan kedua jenis cara reproduksi tersebut.
Reproduksi Secara Aseksual (Vegetatif)
Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan zoospora multinukleat
berukuran besar yang mempunyai banyak flagela seperti pada Vaucheria. Zoospora
ini dianggap sebagai struktur majemuk yang terdiri dari kumpulan zoospora kecil
yang berflagela dua yang masing-masing tidak memisahkan diri. Setelah zoospora
ini dilepaskan, kemudian bergerak dengan flagelanya ke tempat baru. Setelah
menetap, flagela dilepaskan dan berkecambah membentuk Vaucheria baru. Selain
pembentukan zoospora, ada juga spesies Chrysphyta yang reproduksi aseksualnya
dengan cara membelah diri seperti pada Ochromonas.

Reproduksi Secara Seksual (Generatif)


Reproduksi seksual pada Chrysophyta adalah dengan cara oogami, yaitu dengan
membentuk oogonia (pembentuk gamet betina) dan anteridia (pembentuk gamet
jantan) pada filamen yang sama. Sel telur yang dihasilkan berukuran besar dengan
satu inti yang mengandung klorofil. Sperma yang dihasilkan anteridia mempunyai
flagela yang kecil. Setelah terjadi pembuahan akan terbentuk zigot. Setelah
dilepaskan dari induknya, zigot siap tumbuh membentuk filamen baru.

Contoh dan Peranan Chrysophyta (Alga Keemasan) dalam Kehidupan


Dalam kehidupan manusia, ganggang keemasan memiliki banyak manfaat,
terutama Navicula dan Vaucheria. Navicula yang telah mati dan mengendap di
dasar laut membentuk endapan tanah yang bermanfaat sebagai bahan penggosok,
penyekat dinamit, bahan pembuatan cat, pernis, bahan dasar industri kaca,
penyaring dan piringan hitam. Pada Vaucheria, cadangan makanan disimpan dalam
bentuk minyak, sehingga organisme ini merupakan komponen utama dalam
pembentukan minyak bumi.
PENGERTIAN RHODOPHYTA (ALGA MERAH)

Istilah “Rhodophyta” berasal dari bahasa


Yunani, rhodos yang berarti “merah”. Jadi,
Rhodophyta berarti ganggang merah (red
algae). Berbeda dengan Filum lainnya,
Filum ini tidak mempunyai tahapan flagella
dalam siklus hidupnya. Anggota Filum ini
mempunyai pigmen fotosintetik berupa
fikobilin yang terdiri
dari fikoeritrin (pigmen merah)
dan fikosianin (pigmen biru). Selain dua
pigmen tersebut, Rhodophyta juga
memiliki klorofil a dan b serta karotenoid.
Fikoeritrin merupakan pigmen yang paling dominan sehingga menyebabkan warna
talus ganggang ini menjadi merah. Meskipun demikian, tidak semua ganggang ini
berwarna merah. Di laut dalam, ganggang ini mempunyai warna ungu hampir
hitam. Pada kedalaman sedang berwarna merah cerah, sedangkan pada air yang
sangat dangkal, berwarna agak kehijauan.

Saat ini telah dikenal sekitar 2.500 jenis yang kebanyakan hidup di laut terutama
daerah tropis dan sering disebut dengan nama rumput laut (sea weed) karena
bentuk tubuhnya seperti rumput. Rhodophyta tumbuh pada bebatuan di daerah
pasang hingga kedalaman mencapai 90 meter di bawah permukaan laut di mana
gelombang cahaya tertentu dari sinar matahari masih mampu mencapainya.

Talus Rhodophyta relatif besar, namun jarang yang panjangnya melebihi 90 cm.
Beberapa jenis berbentuk filamen tetapi kebanyakan membentuk struktur kompleks
yang bercabang-cabang menyerupai bulu atau pipih menyebar menyerupai pita.
Umumnya, Rhodophyta multiseluler, namun terdapat juga Rhodophyta yang
uniseluler. Alga merah multiseluler umumnya makroskopis dan struktur tubuhnya
menyerupai tumbuhan (talus). Talus pada Rhodophyta berupa helaian atau seperti
tumbuhan.
Ciri-Ciri Rhodophyta (Alga Merah)
Ganggang merah (Rhodophyta) memiliki ciri atau karakteristik secara umum,
antara lain sebagai berikut.
■ Inti sel bersifat eukariotik karena inti sel telah memiliki membran.
■ Sebagian besar multiseluler (bersel banyak).
■ Umumnya makroskopis (dapat dilihat dengan kasat mata) dengan panjang dapat
mencapai 1 meter.
■ Satu-satunya alga yang tidak memiliki fase berflagel dalam siklus hidupnya.
■ Bersifat autotorof, karena memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis.
■ Kloroplas mengandung pirenoid untuk menyimpan hasil fotosintesis.
■ Cadangan makanan disimpan dalam bentuk tepung fluoride (sejenis karbohidrat),
floridosid (senyawa gliserin dan galaktosa) dan tetes-tetes minyak. Floridosid akan
bewarna kemerah-merahan jika ditambah dengan iodium.
■ Bentuk talus berupa helaian atau berbentuk seperti pohon.
■ Talus bewarna merah sampai ungu tetapi ada juga yang pirang atau kemerah-
merahan.
■ Tubuhnya diselimuti kalsium karbonat (CaCO3).
■ Dinding sel terdiri atas komponen yang berlapis-lapis. Dinding sel sebelah dalam
tersusun dari myofibril, sedangkan sel sebelah luar tersusun dari zat lendir.
■ Memiliki pigmen klorofil a dan b, karotenoid, fikosianin (biru) dan pigmen
dominan fikoeritrin (merah).

Cara Reproduksi Rhodophyta (Alga Merah)


Ganggang merah dapat bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dan secara
seksual (generatif). Perkembangbiakan aseksual dengan membentukaplanospora,
yaitu spora nonmotil (tidak bergerak) dan berasal dari talus ganggang yang diploid.
Selanjutnya, spora tersebut akan tumbuh menjadi ganggang merah baru. Pada
Rhodophyta, perkembangbiakan aseksual secara fragmentasi jarang terjadi.
Perkembangbiakan seksual (generatif) terjadi secara oogami, dan pada beberapa
jenis mengalami pergiliran keturunan (metagenesis). Reproduksi secara generatif
dilakukan dengan peleburan antara gamet jantan yang tidak memiliki alat gerak
(spermatium) dan ovum. Gamet jantan tersebut dibentuk dalam spermatangium,
sedangkan gamet betina dibentuk dalam karpogonium. Zigot hasil pembuahan
selanjutnya akan tumbuh menjadi ganggang merah yag diploid.
Berikut ini bagan daur hidup atau pergiliran keturunan pada salah satu contoh
spesies alga merah yaitu Polysiphonia.

Sporofit menghasilkan meiospora yang akan berkembang menjadi gametofit.


Gametofit membentuk spermatangia yang
menghasilkan spermatia dancarpogonium yang mengandung sel trichogen.
Spermatia menempel pada ujung trichogen, terus masuk ke dasar sel. Di sini
terjadi peleburan antara inti sperma dan inti sel betina membentuk zigot
(goninoblast). Goninoblast adalah filamen yang terbentuk dari zigot dan di ujung
filamen terbentuk carposporangium.
Selanjutnya, di dalam carposporangium terbentuk carpospora. Carpospora keluar
dari carposporangium, untuk selanjutnya tumbuh menjadi sporofit (Polysphonia
baru). Dalam pertumbuhannya, Polysiphonia mengalami pergiliran keturunan
(metagenesis), yaitu perkembangbiakan aseksual dan perkembangbiakan seksual
berlangsung secara bergantian
Contoh dan Peranan Rhodophyta (Alga Merah) dalam Kehidupan
Beberapa alga merah bermanfaat sebagai penyokong penting bagi batu karang
tropis. Ganggang merah merupakan bahan pangan penting di negara-negara Asia.
Di Jepang misalnya, alga merah dikeringkan dan digunakan dalam berberapa
hidangan masakan. Selain menghasilkan algin, ganggang merah juga menghasilkan
karagenan dan agar.

Karagenan (carrageenan) merupakan sejenis polisakarida yang digunakan sebagai


bahan kosmetik dan kapsul gelatin dan merupakan zat aditif yang dapat
ditambahkan pada puding dan es krim. Agar digunakan sebagai bahan pangan.
Selain untuk bahan makanan, agar-agar juga dimanfaatkan sebagai medium kultur
mikroorganisme, kosmetik, obat, pelapis daging kaleng, pengeras es krim, serta
pengelmusi lemak dan cokelat batangan.

Beberapa contoh Rodophyta adalah sebagai berikut.


■ Eucheuma spinosum, banyak dibudidayakan karena menghasilkan agar, banyak
terdapat di perairan Indonesia.
■ Chondrus crispus, juga dibudidayakan yang dikenal sebagai rumput laut.
■ Gelidium coulteri dan Gracilaria sp., sebagai bahan pembuatan agar-agar banyak
terdapat di perairan negara yang agak dingin.
■ Carolina sp. merupakan anggota Rhodophyta (ganggang merah) yang tubuhnya
dilapisi oleh kalsium karbonat.
■ Dasya, Batracnospermum, Scinaiafurcellata, Porphyra perforata,
Polysphonia, Halosaccion glandiforme, Bossea orbigniana, dan sebagainya.
Pyrrophyta (Dinoflagellata) atau Alga Api
Chrysophyta Atau Alga Keemasan
Rhodophyta Atau Alga Merah

Anda mungkin juga menyukai