Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PRAKTIKUM ORAL MEDICINE

LAPORAN KASUS

ORAL PSEUDOMEMBRANE CANDIDIASIS DISERTAI


SMOKER’S MELANOSIS PADA PEROKOK

Oleh :
Aisyah Gediyani Permatasari
121611101098

Pembimbing :
drg. Leni Rokhma, Sp. PM
Praktikum Putaran I
Semester Gasal Tahun Ajaran 2017/2018

BAGIAN ILMU PENYAKIT MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2017/2018
Laporan Kasus

ORAL PSEUDOMEMBRANE CANDIDIASIS DISERTAI SMOKER’S


MELANOSIS PADA PEROKOK

Aisyah Gediyani Permatasari (121610101098)


Pembimbing: drg. Leni Rokhma, Sp.PM
Bagian Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember
Jln. Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto, Jember
September 2017

Abstrak

Pendahuluan: Oral candidiasis merupakan infeksi oportunistik jamur Candida labicans


pada mukosa oral yang paling sering terjadi. Virulensi orgnisme komensal ini menjadi
patogen dapat dipicu faktor predisposisi seperti merokok dan penurunan imunitas. Selain
meningkatkan virulensi C. albicans, merokok juga bermanifestasi pada pigmentasi
mukosa oral yang dikenal dengan sebutan smoker’s melanosis. Tujuan: Untuk
mengetahui manifestasi klinis infeksi oportunistik jamur Candida albicans dan
penatalaksanaannya. Kasus: Pasien laki-laki berusia 56 tahun datang dengan keluhan
lidah terasa tebal dan pahit ketika makan dan minum. Kondisi ini telah dialami pasien
sejak 2 bulan yang lalu dan belum pernah diobati. Pasien memiliki kebiasaan merokok
dan memiliki indeks massa tubuh dibawah normal. Diagnoasa akhir dari kasus ini ialah
oral pseudomembrane candidiasis. Terapi: Antijamur Nystatin oral suspension,
multivitamin Becomzet dan intruksi penggunaan pembersih lidah. Kesimpulan: Oral
pseudomembrane candidiasis pada pasien dipicu oleh adanya infeksi oportunistik dari
jamur Candida albicans disebabkan faktor predisposisi merokok dan penurunan sistem
imunitas pasien karena malnutrisi.
LATAR BELAKANG
Merokok memiliki beragam efek samping pada rongga mulut, termasuk
peningkatan virulensi candida, kerusakan periodontal dan pigmentasi mukosa oral
(Tadakamadla et al., 2012). Peningkatan virulensi candida pada rongga mulut dapat
memicu terjadinya oral candidiasis.
Oral candidiasis merupakan infeksi oportunistik pada mukosa oral yang paling
sering terjadi. Penyebab utama dari oral candidiasis ialah jamur Candida albicans.
Candida albicans yang merupakan flora komensal normal rongga mulut dapat berubah
menjadi organisme patogen jika dipicu oleh faktor predisposisi (Greenberg et al., 2008).
Untuk menginvasi lapisan mukosa, candida melakukan perlekatan dan berkolonisasi.
Penetrasi sel jamur pada epitel didukung oleh kemampuannya untuk memproduksi enzim
lipase dan untuk bertahan pada lapisan epitel, sel-sel jamur harus mampu bertahan dari
proses deskuamasi konstan epitel. Sel-sel jamur selanjutnya akan berproliferasi dan
mendeposisikan matriks eksraseluler tebal (biofilm) (Semlali et al., 2014).
Beberapa faktor predisposisi lokal seperti penggunaan gigi tiruan, merokok,
penggunaan obat steroid inhalasi maupun steroid topical, ketidakseimbangan mikroflora
serta kualitas dan kuantitas saliva dapat memicu infeksi oportunistik candida. Selain itu,
faktor predisposisi umum seperti penyakit imunosupresif, kelainan endokrin dan
defisiensi terkait kelainan darah juga dapat memicu infeksi oportunistik ini (Greenberg et
al., 2008).
Infeksi primer oral candidiasis dapat dibedakan menjadi beberapa jenis
berdasakarkan gambaran klinisnya sebagai berikut :
 Pseudomembranous Candidiasis
Gambaran klinis dari candidiasis jenis ini ialah lesi putih pada mukosa oral yang
dapat dikerok dan meninggalkan bekas eritema pada permukaan mukosa. Candidiasis
jenis ini biasanya menyerang pasien yang diterapi antibiotik, obat imunosupresan ataupun
pasien yang menderita penyakit yang menekan sistem imun. Infeksi ini dapat menyerang
bayi disebabkan sistem imun yang belum matang, sedangkan pada individu yang lebih
dewasa dapat terjadi ketika terdapat keterbatasan nutrisi, supresi imun lokal (penggunaan
steroid inhalasi) hingga adanya infeksi HIV (Greenberg et al., 2008; Williams et al.,
2011).
 Erythematous Candidiasis
Candidiasis jenis ini muncul setelah terapi antibiotik spektrum luas dan biasanya
muncul pada mukosa bukal, dorsum lidah dan palatum dengan gambaran lesi kemerahan
dengan batas difus. Infeksi candida jenis ini satu-satunya yang menimbulkan keluhan
sakit (Greenberg et al., 2008; Williams et al., 2011).
 Chronic plaque-type candidiasis
Infeksi candida jenis ini juga dikenal dengan sebutan candidal leukoplakia yang
memiliki gambaran klinis berupa lesi putih homogen ataupun nodular yang tidak dapat
dikerok. Infeksi ini dapat muncul pada mukosa oral manapun (Williams et al., 2011).
 Denture Stomatitis
Denture stomatitis ditandai dengan adanya kemerahan difus disertai mukosa yang
relatif kering. Area kemerahan biasanya terdapat pada mukosa yang berada dibawah
pemakaian gigi palsu (Hakim et al., 2015).
 Angular cheilitis
Angular cheilitis merupakan fisura pada sudut bibir yang terinflamasi, biasanya
dikelilingi tepi eritema. Pada lesi biasanya ditemukan infeksi candida dan staphylococcus
aureus. Etiologi dari penyakit ini biasanya karena defisiensi vitamin B12 dan zat besi
serta penurunan dimensi vertikal (Greenberg et al., 2008).
 Median rhomboid glossitis
Biasanya ditandai dengan lesi kemerahan pada dorsum lidah posterior bagian
tengah yang disebabkan atrofi papilla filiformis. Etiologi dari kondisi ini masih belum
jelas, perokok, pengguna gigi tiruan dan inhalasi steroid memiliki resiko lebih besar
untuk terserang (Greenberg et al., 2008).

Smoker’s melanosis merupakan pigmentasi non neoplastik mukosa oral yang


timbul pada perokok dengan gambaran pigmentasi berwarna coklat, datar dan ireguler
yang biasanya muncul pada gingiva fasial anterior mandibula dan maksila, mukosa bukal,
lateral lidah, palatum dan dasar mulut. Kondisi ini dapat hilang apabila etiologi, yakni
kebiasaan merokok dihilangkan (Greenberg et al., 2008).
Identifikasi faktor predisposisi oral candidiasis penting dilakukan sebelum
memberikan terapi. Faktor predisposisi lokal biasanya mudah untuk diidentifikasi namun
sulit untuk dihilangkan, sehingga diperlukan antijamur sebagai terapi kausatif. Golongan
obat yang paling sering digunakan untuk infeksi candida ialah golongan polyene dan
azole. Golongan polyene seperti nystatin dan amphoterisin B merupakan alternatif utama
terapi candidiasis primer. Golongan ini memiliki kelebihan tidak diserap dalam saluran
cerna dan tidak berpotensi menimbulkan resistensi (Greenberg et al., 2008).

KASUS
Pasien merupakan seorang laki-laki berusia 56 tahun suku Madura yang bekerja
sebagai petani. Pasien datang ke bagian Penyakit Mulut RSGM Universitas Jember pada
tanggal 12 September 2017 dengan keluhan lidah yang terasa tebal dan pahit terutama
ketika makan dan minum. Kondisi ini telah dialami pasien sejak 2 bulan yang lalu dan
belum pernah diobati. Pasien mengaku tidak pernah menyadari kondisi serupa
sebelumnya. Pasien memiliki Indeks Massa Tubuh 16,02 yang tergolong dibawah
normal. Sehari-hari pasien jarang mengkonsumsi sayur dan buah, dan seringkali hanya
makan dengan lauk tahu tempe. Pasien memiliki kebiasaan merokok hingga 7 batang
rokok dalam sehari. Pasien juga memiliki kebiasaan tidur larut malam. Akhir-akhir ini
pasien mengaku sedang banyak pikiran dan sering kelelahan hingga seringkali tidak kuat
untuk bertani. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik, namun saat ini menderita
batuk yang telah berlangsung selama lebih dari tiga minggu dan tidak diobati.
Pemeriksaan ekstraoral menunjukkan tidak adanya abnormalitas. Hasil
pemeriksaan intraoral menunjukkan kondisi oral hygiene yang buruk, ditandai dengan
banyak nya gigi yang hilang dan sisa akar. Pasien menggunakan gigi tiruan sebagian
lepasan pada rahang atas yang dibuatkan oleh tetangganya yang seorang tukang gigi.
Pada mukosa labial atas dan bawah serta mukosa pipi kanan dan kiri ditemukan adanya
pigmentasi. Pada dorsum lidah ditemukan adanya plak putih tebal berbatas jelas yang
bisa dikerok meninggalkan bekas eritema dan tidak sakit (Gambar 1). Pasien tidak pernah
mendapatkan perawatan gigi geligi sebelumnya.
Gambar 1 Kondisi klinis lidah pasien saat kunjungan pertama.

Diagnosa sementara dan akhir dari kasus ini ialah oral pseudomembrane
candidiasis pada dorsum lidah dan smoker’s melanosis pada mukosa bukal dan labial.
Diagnosa oral pseudomembrane candidiasis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan
penunjang uji mikrobiologi jamur yang menunjukkan terdapat bentukan spora +3 (positif
tiga) dan hifa +3 (positif tiga) pada hasil oral swab dorsum lidah.

PENATALAKSANAAN KASUS
a. Rencana Perawatan
Terapi yang diberikan untuk oral pseudomembrane candidiasis ialah terapi
kausatif dengan memberikan antijamur berupa Nystatin Oral Suspension yang
diteteskan dan diratakan pada lidah 4x sehari sebanyak 0,5 ml tiap tetes. Selain itu,
pasien juga diberikan terapi suportif berupa pemberian multivitamin Becomzet yang
megandung vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin E dan zinc 1x sehari. Pasien juga
diberikan pembersih lidah yang digunakan 3x sehari. pasien juga diberikan instruksi
untuk menjaga kebersihan rongga mulut dan membersihkan lidah dengan pembersih
lidah, makan makanan bergizi seimbang, istirahat cukup dan mengurangi kebiasaan
merokok.
b. Kontrol I (hari ke-7 setelah perawatan; 19 September 2017)
 Anamnesa
Setelah dilakukan perawatan selama 7 hari pasien mengaku lidahnya sudah
tidak terasa pahit dan nyaman ketika makan, namun masih terasa sedikit tebal.
Obat yang diberikan habis, baik Nystatin Oral Suspension maupun multivitamin
Becomzet.
 Pemeriksaan Klinis
 Ekstraoral : tidak ada abnormalitas.
 Intraoral : Pada dorsum lidah masih ditemukan plak putih berbatas jelas
yang bisa dikerok meninggalkan bekas eritema dan tidak sakit.
 Instruksi
 Menjaga kebersihan rongga mulut
 Menggunakan pembersih lidah 3x sehari
 Menggunakan obat sesuai anjuran
 Makan makanan bergizi seimbang
 Kurangi merokok
 Istirahat cukup
 Kesimpulan : terapi berlanjut.

Gambar 2. Kondisi klinis lidah pasien setelah 7 hari perawatan.


c. Kontrol II (hari ke-13 setelah perawatan; 25 September 2017)
 Anamnesa
Setelah dilakukan perawatan lanjutan selama 6 hari pasien mengaku lidahnya
sudah tidak terasa pahit maupun tebal serta nyaman ketika makan. Nystatin Oral
Suspension yang diberikan masih sisa sedikit dan multivitamin Becomzet sisa 1
tablet.
 Pemeriksaan Klinis
 Ekstraoral : tidak ada abnormalitas.
 Intraoral : tidak ada abnormalitas.
 Instruksi
 Menjaga kebersihan rongga mulut
 Tetap menggunakan pembersih lidah 3x sehari
 Makan makanan bergizi seimbang
 Kurangi merokok
 Istirahat cukup
 Kesimpulan : terapi selesai.

Gambar 3. Kondisi klinis lidah pasien setelah 13 hari perawatan.


PEMBAHASAN
Diagnosa kasus ini mengarah pada oral pseudomembrane candidiasis didukung
oleh hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis intraoral. Saat dilakukan anamnesa, pasien
menyatakan tidak ada keluhan sakit pada lidahnya, hanya terasa tebal dan pahit. Hasil
pemeriksaan intraoral yang menunjukkan adanya bentukan plak putih tebal yang
manutupi hampir seluruh permukaan dorsum lidah. Plak putih ini memiliki batas jelas
dan dapat dikerok. Hal ini sesuai dengan gejala klinis dari pseudomembranous
candidiasis, yakni lesi putih pada mukosa oral yang dapat dikerok dan meninggalkan
bekas eritema pada permukaan mukosa (Williams et al., 2011). Selain itu, hasil
pemeriksaan penunjang mikrobiologi jamur juga menunjukkan hasil +3 bentukan spora
dan +3 bentukan hifa yang berarti plak pseudomembrane putih tersebut positif
merupakan infeksi dari jamur candida.
Etiologi pada kasus ini ialah infeksi dari jamur Candida albicans, yang
merupakan spesies jamur utama yang sering menyebabkan infeksi oportunistik pada
mukosa oral (Greenberg et al., 2008; Williams et al., 2011). Faktor predisposisi yang
mendukung virulensi flora komensal rongga mulut ini menjadi organisme patogen pada
kasus ini kemungkinan ialah kebiasaan merokok yang dimiliki pasien. Selain itu, pasien
juga memiliki indeks masssa tubuh dibawah normal dan dari hasil anamnesa didapatkan
informasi bahwa pasien seringkali hanya makan dengan lauk tahu tempe, sehingga
kemungkinan pasien mengalami malnutrisi yang kemungkinan berpengaruh pada status
imunitas pasien.
Merokok diketahui dapat mempengaruhi beragam perubahan pada rongga mulut.
Asap rokok mempengaruhi baik saliva maupun mikoroorganisme rongga mulut, termasuk
Candida albicans. Asap rokok diketahui dapat meningkatkan perlekatan candida pada
permukaan epitel disebabkan adanya perubahan interaksi candida dengan lingkungan
rongga mulut dikarenakan adanya peningkatan level adhesin. Selain itu, asap rokok
mengandung acetaldehyde, benzene, 1,3-butadiene dan isoprene yang dapat
memingkatkan potensi mutagenik dari candida. Komponen-komponen tersebut
kemungkinan dapat meningkatkan perlekatan, pertumbuhan dan pembentukan biofilm
(Semlali et al., 2014). Biofilm merupakan komunitas mikrobia yang menempel pada
permukaan padat yang terbentuk dari matriks ekstraseluler polisakarida yang dihasilkan
oleh organisme itu sendiri (Williams et al., 2011).
Menurut Ghulam Jillani Khan et al. (2010) dalam Dwiastuti (2012) asap rokok
yang menyebar ke seluruh rongga mulut dan reseptor rasa secara terus menerus dalam
jangka waktu lama dapat menyebabkan menurunnya sensitivitas dan perubahan reseptor
indera perasa yang dapat memicu supresi pada refleks saliva. Selanjutnya, perubahan ini
akan berdampak pada perubahan laju saliva. Penurunan laju saliva akan menyebabkan
penurunan komponen anorganik sehingga menyebabkan pH saliva menurun. Penurunan
pH saliva dapat memicu pertumbuhan dan kolonisasi candida (Komariyah , 2012).
Pada individu yang imunokompeten, netrofil dan makrofag memiliki peranan
penting dalam fagositosis candida untuk mencegah terjadinya infeksi mukosa oleh
candida (Williams et al., 2011). Pada perokok, terjadi penurunan aktifitas leukosit oral
dan penurunan cairan krevikular gingiva yang membawa leukosit dan immunoglobulin.
Hal ini diduga dapat meningkatkan kolonisasi dari candida (Soysa et al, 2005).
Faktor usia dan status nutrisi pasien yang berada dibawah indeks massa tubuh
normal kemungkinan berpengaruh pada status imunitas pasien. Kemampuan dan
kecepatan sistem imunitas tubuh akan menurun seiring pertambahan usia. Hal ini
disebabkan, pada usia lanjut terjadi penurunan produksi immunoglobulin. Hal ini
menyebabkan pada usia lanjut lebih rentan terserang infeksi, termasuk infeksi
oportunistik (Fatmah, 2006). Indeks massa tubuh pasien tergolong dibawah normal,
sehingga memiliki kemungkinan pasien mengalami malnutrisi. Malnutrisi memiliki
pengaruh negatif pada pertahanan tubuh terhadap infeksi. Status gizi yang buruk akan
mempengaruhi banyak organ dan sistem homeostatis tubuh, sebab terjadi kekurangan
asupan nutrien mikro maupun makro yang berpengaruh pada sistem imun tubuh sehingga
mudah terserang infeksi (Gozali, 2010).
Pengaruh lainnya dari kebiasaan merokok pasien yang bermanifestasi pada
rongga mulut yang dapat diamati ialah adanya pigmentasi pada mukosa labial dan bukal.
Pigmentasi ini merupakan lesi khas yang biasanya dimiliki perokok berupa gambaran
makula coklat kehitaman multiple berbatas tidak jelas yang tidak sakit. Pigmentasi ini
muncul karena peningkatan sintesis melanin oleh produk-produk yang terkandung dalam
asap rokok. Kondisi ini bukan merupakan kondisi preneoplastik dan akan hilang dalam
waktu tiga tahun apabila kebiasaan merokok dihentikan, sehingga kondisi ini tidak
memerlukan terapi (Greenberg et al., 2008).
Terapi infeksi candida pada dorsum lidah yang diberikan ialah antijamur Nystatin
oral suspension yang merupakan obat lini pertama untuk candidiasis oral (Hakim et al,
2015). Nystatin termasuk dalam obat antijamur golongan polyene, sama seperti
amphotherisin B. Golongan obat ini tidak diserap dalam saluran cerna dan sepenuhnya
dieksresikan dalam urin, sehingga memiliki toleransi yang baik. Golongan polyene juga
tidak mengembangkan resistensi. Obat ini bekerja dengan cara mengikatkan diri pada
ergosterol dan menghambat produksi ergosterol yang merupakan komponen membran sel
jamur. Hal ini dapat mengganggu permeabilitas membran sel sehingga komponen intrasel
dapat hilang. Antijamur golongan polyenes juga mempengaruhi perlekatan jamur pada
mukosa host (Greenberg et al., 2008).
Pasien juga diberikan terapi suportif berupa pemberian multivitamin Becomzet
yang mengandung vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin E, asam folat dan zinc.
Multivitamin diberikan dengan pertimbangan pasien mengalami kekurangan nutrisi
dikarenakan intake makan makanan bergizi yang kurang seimbang. Vitamin B kompleks
berperan dalam metabolisme karbohidrat, protein dan asam amino. Vitamin B12 sendiri
merupakan komponen dari beberapa koenzim yang berperan dalam sintesis asam nukleat
dan myelin, sehingga berpengaruh pada pematangan sel. Vitamin C berperan dalam
pembentukan kolagen dan proteoglikan. Vitamin E bersifat antiokasidan dan berperan
dalam memelihara integritas membran sel, sistesis DNA dan sistem imun. Zinc berperan
dalam sintesis DNA dan RNA serta sintesis dan degradasi kolagen, Vitamin E dan zinc
berinteraksi pada tingkat membran dan bekerjasama melindungi integritas membran sel,
dengan cara mencegah pembentukan radikal bebas. Asam folat mampu meningkatkan
penyerapan zat besi oleh tubuh dan sintesis hemoglobin (Sulistiawati, 2009).
Pada kasus ini, diperlukan waktu 13 hari terapi antijamur untuk menurunkan
virulensi candida kembali menjadi flora normal rongga mulut. Pada kontrol pertama,
yakni 7 hari setelah perawatan, pasien masih mengeluhkan lidah yang terasa sedikit tebal
namun sudah tidak terasa pahit. Pada intraoral masih ditemukan plak pseudomembran
putih pada dorsum lidah yang berbatas jelas, bisa dikerok dan tidak sakit. Lapisan
pseudomemberan ini merupakan kumpulan dari debris, mikroorganisme dan biofilm yang
dibentuk oleh jamur candida (Greenberg et al., 2008). Plak pseudomembran putih masih
dijumpai meskipun obat dan multivitamin yang diberikan habis. Hal ini kemungkin
dipengaruhi kebiasaan merokok pasien yang sulit dihilangkan dan pembersihan rongga
mulut yang kurang adekuat, serta status gizi pasien yang kemungkinan mengalami
malnutrisi sehingga berpengaruh pada kemampuan imunitas pasien dalam melawan
infeksi.

KESIMPULAN
Oral pseudomembran candidiasis pada pasien dipicu oleh adanya infeksi
oportunistik dari jamur Candida albicans disebabkan faktor predisposisi merokok dan
penurunan sistem imunitas pasien karena malnutrisi.

DAFTAR PUSTAKA
Dwiastuti N. 2012. “Perbedaan pH Saliva Antara Perokok dan Bukan Perokok pada
Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta”. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Fatmah. 2006. Respon imunitas yang rendah pada tubuh manusia usia lanjut. Journal of
Makara Kesehatan 10 (1).
Gozali A. 2010. “Hubungan antara Status Gizi dengan Klasifikasi Pneumonia pada Balita
di Puskesmas Gilingan Kecamatan Banjarsari Surakarta”. Skripsi. Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Greenberg M.S., Glick M., Ship J.A. 2008. Burket’s Oral Medicine Elventh Edition.
Ontario: BC Decker Inc.
Hakim L., Ramadhian R. 2015. Kandidiasis Oral. Majority 4(8).
Komariyah, R.S. 2012. Majalah Kedokteran FK UI 17 (1).
Semlali A., Killer K., Alanazi H. Chmielewski W., Rouabhia M. 2014. Cigarette smoke
condensate increases C. albicans adhesion, growth, biofilm formation, and EAP1,
HWP1 and SAP2 gene expression. BMC Microbiology 14(61).
Soysa N.S., Ellepola A.N.B. 2005. The impact of cigarette/tobacco semoking on oral
candidosis: an overview. Oral Disease 11: 268-273.
Sulistiawati F. 2009. “Pengaruh Suplementasi Vitamin C dan Multivitamin Mineral
terhadap Status Gizi, Kesehatan dan Fungsi Ginjal”. Tesis. Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.
Tadakamadla J., Kumar S., Nagori A., Tibdewal H. Duraiswamy P., Kulkami S. 2012.
Effect of smoking on oral pigmentation and its relationship with periodontal
status. Dent Res J 9(1).
Williams D., Lewis M. 2011. Pathogenesis and treatment of oral candidosis. Journal of
Oral Microbiology 3 (5771).