Anda di halaman 1dari 5

STUDI KASUS MEMANTAPKAN KEMAMPUAN APARATUR SIPIL NEGARA

UNTUK MEMINIMALISIR MONEY LOUNDERING DALAM


MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI NKRI

KELOMPOK :

NAMA :

1. Agus
2. sandy
3. rahayu
4.septi
5. nancy
1. PENDAHULUAN

A. Pengertian Money Laundry


Pencucian uang (money laundry) adalah suatu perbuatan merubah dan
menyembunyikan uang tunai atau asset yang diperoleh dari suatu kejahatan, yang terlihat
seperti berasal dari sumber yang sah.
Dana haram (illifict funds) tidak bersifat seperti dunia pada umumnya, karena dana ini dapat
merusak pasar, merugikan perserta pasar yang sah dan selalu tidak memberikan kontribusi
terhadap pembangunan ekonomi jangka panjang dan stabilitas pasar tempat dimana dana
tersebut tersenbunyi.
Problematik pencucian uang yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama “money
laundry” mulai sekarang dibahas, karena banyak menyita perhatian dunia international
disebabkan dimensi dan implikasinya yang melanggar batas-batas negara.
Sebagai suatu fenomena kejahatan yang menyangkut terutama dunia kejahatan yang
dinamakan “organized crime”, ternyata ada pihak - pihak tertentu yang ikut menikmati
keuntungan dari lalu lintas pencucian uang tanpa menyadari akan dampak kerugian yang
ditimbulkan.

Berdasarkan hal tersebut, maka disusun Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai pengganti Undang-
Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Materi muatan yang terdapat dalam Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2010, antara lain: (1) redefinisi pengertian hal yang terkait dengan tindak
pidana Pencucian Uang, (2) penyempurnaan kriminalisasi tindak pidana Pencucian Uang, (3)
pengaturan mengenai penjatuhan sanksi pidana dan sanksi administrative, (4)pengukuhan
penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa (5) perluasan Pihak Pelapor, (6) penetapan
mengenai jenis pelaporan oleh penyedia barang dan/atau jasa lainnya, (7) penataan mengenai
Pengawasan Kepatuhan, (8) pemberian kewenangan kepada Pihak Pelapor untuk menunda
Transaksi, (9) perluasan kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap
pembawaan uang tunai dan instrumen pembayaran lain ke dalam atau ke luar daerah pabean,
(10) pemberian kewenangan kepada penyidik tindak pidana asal untuk menyidik dugaan
tindak pidana Pencucian Uang, (11) perluasan instansi yang berhak menerima hasil analisis
atau pemeriksaan PPATK,(12) penataan kembali kelembagaan PPATK, (13)penambahan
kewenangan PPATK, termasuk kewenangan untuk menghentikan sementara Transaksi, (14)
penataan kembali hukum acara pemeriksaan tindak pidana Pencucian Uang; dan (15)
pengaturan mengenai penyitaan Harta Kekayaan yang berasal dari tindak pidana. Tujuan
penulisan makalah ini untuk membahas Tujuan seberapa jauh Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dapat
diberlakukan secara efektif. Metoda yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan
pendekatan deskriptif eksploratif.
Dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul Harta Kekayaan yang
diketahuinya, atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, dipidana karena tindak
pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama
15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah).

B. Modus Operandi Money Loundering


Pada tindak pidana money loundering (pencucian uang), instrument dalam system
keuanganlah yang paling dominan dan banyak digunakan (modus), terutama instrument
keuangan yang ditawarkan oleh sector perbankan. Pemanfaatan bank dalam pencucian uang
dapat berupa:
(1) Menyimpan uang hasil tindak pidana dalam bentuk tabungan /deposito/rekening
koran/giro dengan nama palsu,
(2) Menukar pecahan uang hasil kejahatan dengan pecahan lainnya yang lebih besar atau
lebih kecil,
(3) Menggunakan fasilitas transfer,
(4) Melakukan transaksi ekspor-impor fiktif dengan menerbitkan Letter of Credit (L/C)
dengan cara memalsukan dokumen dokumen dan bekerja sama dengan oknum terkait,
(5) Mendirikan/memanfaatkan/melakukan prakteik bank gelap.

Proses pencucian uang biasanya dilakukan melaluitiga tahap, yaitu:


1. Placement ; adalah penempatan uang/asset hasil kejahatan pada sistem keuangan baik yang
berada di dalam negeri maupun luar negeri dengantujuan untuk memindahkan uang/asset
tersebut dari sumber asalnya. Untuk menghindarkan pengawasan pihak berwajib, uang/asset
tersebut biasanya dikonversi ke dalam bentuk asset yang berbeda, misalnya dengan
memanfaatkan instrument perbankan seperti deposito/tabungan atas nama orang lain,
traveller cheque, giro, e-cash, dan lain-lain. Modus lainnya adalah menggabungkan uang
hasil kejahatan dengan uang hasil kegiatan yang sah dalam satu instrumen perbankan,
2. Layering; adalah pelapisan uang haram untuk memperpanjang jalur pelacakan dengan
cara melakukan berlapis-lapis transaksi keuangan yang dirancang untuk menghilangkan jejak
dan menciptakan anonim. Modus operasinya adalah dana ditransfer ke luar negeri misalnya
sebagai bagian dari pembayaran impor melalui LC yang dibayarkan kepada perusahaan yang
sah. Modus lainnya dapat pula dilakukan melalui pembukaan rekening bank atas nama
sebanyak mungkin perusahaan-perusahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentuan rahasia
bank,
3. Integration; adalah penempatan uang/aset hasil kejahatan yang telah melalui tahap
placement dan layering untuk menjadi uang/ asset yang benar-benar terlihat legal. Pada tahap
ini, uang/asset tersebut diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang legal dan
diasimilasikan dengan semua uang/ asset yang ada. Pelaku dalam hal ini berusaha untuk
menjelaskan bahwa uang/asset yang dimiliki adalah berasal dari kegiatan dan transaksi yang
sah. Dari uang/asset yang telah terintegrasi inilah, pelaku kemudian melakukan
transaksi/pembayaran-pembayaran dengan memanfaatkan instrumen bank. Modus
operandinya adalah dilakukan transaksi yang bersih. Dana yang telah terlapis tadi baru
kemudian digunakan untuk melakukan pembayaran atas transaksi yang dilakukan
dengan/melalui lembaga keuangan biasa sebagai bagian dari transaksi yang sah. Misalnya
untuk melakukan pembayaran utang atau tagihan- tagihan lainnya.

C. Cara Meminimalisir Money Loundering


1. Meningkatkan kesadaran pada diri sendiri untuk tidak melakukan tindak korupsi
sehingga tidak adanya uang gelap yang akan di samarkan.
2. Tidak menerima dana yang tidak jelas asal usulnya
3. Sosialisasi dan penyuluhan dilingkungan ASN baik secara langsung maupun melalui
media.
4. Mengingatkan ASN/orang disekitar kita untuk tidak membantu
menyimpan/mentrabsfer dana dari orang lain pada rekening tanpa kejelasan asal
sumber dananya.
5. Meningkatkan kesadaran diri dalam melaporkan SPT Pajak
2. Penutup
Kesimpulan