Anda di halaman 1dari 240

LAPORAN

PENGELOLAAN PROGRAM
DAN LAPORAN KEUANGAN
JAMINAN SOSIAL KESEHATAN
TAHUN 2017

MEMBANGUN SINERGI UNTUK


MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP
MASYARAKAT INDONESIA
DAFTAR
ISI
HAL HAL

vi LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PENGELOLAAN 51 BAB II ASPEK KELEMBAGAAN


PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN
SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 52 ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
vii DAFTAR SINGKATAN 59 SUMBER DAYA SARANA
ix PENGHARGAAN BPJS KESEHATAN TAHUN 2017 60 TEKNOLOGI INFORMASI
xii GAMBARAN SINGKAT KINERJA BPJS 68 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KESEHATAN TAHUN 2017
72 AKTUARIA DAN MANAJEMEN RISIKO
xiv IKHTISAR KINERJA OPERASIONAL TAHUN 2017
75 PENGAWASAN INTERNAL
xviii IKHTISAR KINERJA KEUANGAN
DANA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 81 BAB III ASPEK PENGELOLAAN PROGRAM
2017
xx IKHTISAR KINERJA KEUANGAN 82 REALISASI RENCANA KERJA PROGRAM
DANA BPJS KESEHATAN TAHUN 2017
131 KINERJA OPERASIONAL
xxii ANNUAL MANAGEMENT CONTRACT (AMC)
TAHUN 2017 163 BAB IV ASPEK KEUANGAN
xxvi KATA PENGANTAR
164 DANA JAMINAN SOSIAL (DJS)
1 BAB I PENDAHULUAN 179 BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
(BPJS)
2 KONDISI UMUM
3 KONDISI PEREKONOMIAN 191 BAB V LAPORAN TINDAK LANJUT HASIL
4 VISI DAN MISI PENGAWASAN
6 SUSUNAN DIREKSI DAN DEWAN PENGAWAS 192 PENGAWASAN DEWAN PENGAWAS
8 PROFIL DIREKSI 197 PENGAWASAN INTERNAL
16 PROFIL DEWAN PENGAWAS 199 PENGAWASAN EKSTERNAL
23 RIWAYAT SINGKAT BPJS KESEHATAN
24 IDENTITAS BPJS KESEHATAN 205 BAB VI PENUTUP
25 NAMA DAN ALAMAT LEMBAGA PROFESI/JASA
PENUNJANG BPJS KESEHATAN 206 KESIMPULAN
26 JARINGAN KANTOR 207 HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN
PEMERINTAH
28 PROGRAM BPJS KESEHATAN JKN-KIS
40 PERISTIWA PENTING
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN
LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017

Direksi BPJS Kesehatan Periode 2016-2021 bertanggung jawab atas laporan Pengelolaan Program dan Laporan
Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2017 dengan membubuhkan tanda tangan di bawah ini:

Jakarta, Juni 2018

Fachmi Idris
Direktur Utama

Mundiharno Kemal Imam Santoso


Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Direktur Keuangan dan Investasi
Manajemen Risiko

Andayani Budi Lestari R. Maya Amiarny Rusady


Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan

Bayu Wahyudi Mira Anggraini


Direktur Kepatuhan, Hukum dan Direktur SDM dan Umum
Hubungan Antar Lembaga

Wahyuddin Bagenda
Direktur Teknologi Informasi

vi LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
DAFTAR SINGKATAN

AMC : Annual Management Contract


ANRI : Arsip Nasional Republik Indonesia
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
APT : Anggaran Pelayanan Kesehatan Terselamatkan
ATM : Anjungan Tunai Mandiri
BAPPENAS : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BBM : Belanja Barang Modal
BNI : Bank Negara Indonesia
BP : Bukan Pekerja
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
BPKP : Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan
BPS : Badan Pusat Statistik
BPTSP : Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
BOPO : Biaya Operasional Pendapatan Operasional
BRI : Bank Rakyat Indonesia
BU : Badan Usaha
BUMD : Badan Usaha Milik Daerah
BUMN : Badan Usaha Milik Negara
COB : Coordination of Benefit
DAU : Dana Alokasi Umum
DJS : Dana Jaminan Sosial
DJSN : Dewan Jaminan Sosial Nasional
DPM : Dewan Pertimbangan Medik
EEI : Employee Engagement Index
FASKES : Fasilitas Kesehatan
FKRTL : Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan
FKTP : Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
ICCA : Indonesia Corsec dan Corpcomm Award
IHCA : Indonesia Human Capital Award
IHSG : Indeks Harga Saham Gabungan
IMF : International Monetary Fund
IK : Instruksi Kerja
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
JKN-KIS : Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat
KIS : Kartu Indonesia Sehat
KK : Kartu Keluarga
LPEM-UI : Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat-Universitas Indonesia
MoU : Memorandum of Understanding
NHIS : National Health Insurance Service
NIK : Nomor Induk Kependudukan
OCC : Organizational Change Capacity

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 vii
PBI : Penerima Bantuan Iuran
PBPU : Peserta Bukan Penerima Upah
PDB : Produk Domestik Bruto
PMN : Penyertaan Modal Negara
PPNPN : Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri
PPOB : Payment Point Online Bank
PPU : Pekerja Penerima Upah
PPU BU : Peserta Penerima Upah Badan Usaha
PRB : Program Rujuk Balik
PRIA : Public Relations Indonesia Awards
PUSKESMAS : Pusat Kesehatan Masyarakat
RISTI : Risiko Tinggi
RITL : Rawat Inap Tingkat Lanjutan
RITP : Rawat Inap Tingkat Pertama
RJTL : Rawat Jalan Tingkat Lanjutan
RJTP : Rawat Jalan Tingkat Pertama
RKAT : Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan
RS : Rumah Sakit
SJSN : Sistem Jaminan Sosial Nasional
TKMKB : Tim Kendali Mutu Kendali Biaya
UHC : Universal Health Coverage
UR : Utilization Review
VA : Virtual Account
WNA : Warga Negara Asing
WTA : Walk Through Audit
WTM : Wajar Tanpa Modifikasi
WTP : Wajar Tanpa Pengecualian
YoI : Yield on Investment
yoy : year on year

viii LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
PENGHARGAAN BPJS KESEHATAN TAHUN 2017

27 Januari 2017 3 Februari 2017 22 Maret 2017


Jakarta Jakarta Jakarta
Penghargaan The Winner of Penghargaan The Best of Peringkat I Kategori Tokoh Public
Indonesia Prestige Brand Award Government Inhouse Magazine Relations/Humas dan Peringkat II
2017 for Brand Used Most Often (InMA) 2017 Kategori Silver Kategori Pemerintah, dalam Indonesia
Category Health Insurance yang Winner, yang diselenggarakan Corsec dan Corpcomm Award II 2017
diselenggarakan oleh Warta oleh SPS (Serikat Perusahaan (ICCA-II-2017) yang diselenggarakan
Ekonomi. Pers). oleh Majalah Economic Review .

24 Maret 2017 28 April 2017


Bali Jakarta
Penghargaan dalam PR Indonesia Penghargaan dalam Indonesia Human
Awards (PRIA) 2017 Kategori Capital Award-III-2017 (IHCA-III-2017)
Media Internal Sub Kategori New peringkat 2nd The Best Human Capital
Media, yang diselenggarakan oleh 2017 Category: Government
PR Indonesia. Company yang diselenggarakan oleh
Majalah Economic Review.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 ix
17 Juli 2017 17 Agustus 2017 23 Agustus 2017
Jakarta Jakarta Singapura
Penghargaan sebagai Lembaga Juara II untuk Unit Kearsipan Terbaik Peringkat II sebagai Asuransi
pengunggah Vlog terbanyak oleh Tingkat Nasional, kategori Lembaga Pemerintah Terbaik se-Indonesia pada
MURI. Pemerintah Non Kementerian ajang Indonesia Insurance Award VI
(LPNK) yang diselenggarakan oleh 2017 yang diselenggarakan oleh
Arsip Nasional Republik Indonesia Majalah Economic Review.
(ANRI).

23 Agustus 2017 23-25 Agustus 2017


Jakarta Yogyakarta
Penghargaan sebagai Lembaga Penghargaan Best Communicator
pemerintah dengan komitmen 2017 Kategori Pemimpin
pengembangan organisasi terbaik Lembaga diberikan kepada
yang diselenggarakan oleh PPM Fachmi Idris dalam kegiatan
Manajemen. Jambore PR Indonesia.

x LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
29 Agustus 2017 31 Oktober 2017 2 November 2017
Jakarta Jakarta Jakarta
Penghargaan "Inovasi Penghargaan sebagai Top IT on Penghargaan Good Corporate
Pelayanan" pada program Drop National Impact 2017 dan Top IT Governance Award III 2017
Box calon peserta BPJS Kesehatan Implementation on Social dalam Kategori Perusahaan
dalam kegiatan Apresiasi Inovasi Insurance Sector 2017 yang Asuransi yang diselenggarakan
Award Koran Sindo. diselenggarakan oleh Itech. oleh Majalah Economic Review.

22 November 2017 8 Desember 2017


Jakarta Jakarta
Penghargaan Indonesian Customer Penghargaan Customer of The
Satisfaction Award sebagai The Best Year 2016 yang diselenggarakan
in Achieving Total Customer oleh PT Pelabuhan Indonesia II
Satisfaction dalam kategori Health (Persero).
Insurance yang diselenggarakan oleh
Majalah SWA Network.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xi
GAMBARAN SINGKAT KINERJA
BPJS KESEHATAN TAHUN 2017

Cakupan Kepesertaan
tercapai 187.982.949 jiwa

01 atau bertambah
16.043.695 jiwa dari
tahun 2016.

Tingkat Kepuasan
Peserta tercapai 79,5%
atau meningkat 0,9% dari
tahun 2016.
02

Pemda yang pengelolaan


kesehatan masyarakatnya
telah terintegrasi ke

03 Program JKN-KIS sebanyak


482 Pemda atau 93,77%
dari total Pemda, dengan
jumlah peserta sebanyak
20.305.273 jiwa.

Jumlah FKTP bekerja


sama tercapai 21.763
Faskes (termasuk FKTP
Gigi) atau bertambah 04
1.055 FKTP dari tahun
2016.

xii LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Jumlah FKRTL bekerja sama
tercapai 2.268 RS/Klinik Utama
(bertambah 200 FKRTL dari
05 tahun 2016) dan 3.405 Faskes
Penunjang (Apotek/Optik).

Channel pembayaran iuran yang


meliputi jaringan Bank BUMN
mencapai lebih dari 70.000 titik
pembayaran termasuk ATM dan
Payment Point Online Bank
(PPOB) mencapai lebih dari
06
600.000 titik pembayaran,
termasuk media e-commerce
dan virtual money.

Pengelolaan BPJS
Kesehatan dilakukan sesuai
prinsip Good Governance
07 dengan hasil assessment
mendapat predikat “Baik”
dengan skor 85,63.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xiii
IKHTISAR KINERJA OPERASIONAL TAHUN 2017

Realisasi
Posisi 1 Januari
No. Uraian s.d. 31 Maret s.d. 30 Juni s.d. 30 s.d. 31
2017
2017 2017 September 2017 Desember 2017
1 2 3 4 5 6 7
A Cakupan Kepesertaan (Jiwa)
1. Penerima Bantuan Iuran 91.099.279 92.067.303 91.998.220 92.269.142 92.380.352
2. PPU Penyelenggara Negara a) 16.062.367 16.183.564 16.340.546 16.515.527 16.674.668
3. PPU Non Penyelenggara Negara b) 24.964.862 25.094.742 25.837.154 26.626.412 28.216.374
4. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 19.336.531 20.711.900 22.078.327 23.419.666 25.397.828
5. Bukan Pekerja (BP) 5.060.927 5.012.211 5.019.842 4.948.007 5.008.454
6. Penduduk yang didaftarkan oleh Pemda 15.415.288 16.669.779 17.110.199 18.763.974 20.305.273
Total 171.939.254 175.739.499 178.384.288 182.542.728 187.982.949
B Jumlah Faskes yang bekerja sama:
1. Faskes Tingkat Pertama (termasuk FKTP 20.708 20.727 20.850 21.196 21.763
Gigi)
2. Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan 2.068 2.099 2.156 2.225 2.268
3. Faskes Penunjang (Optik dan Apotek) 3.094 3.161 3.257 3.353 3.405
C Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan:
1. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat 34.508.547 72.890.722 110.027.276 150.288.478
Pertama (RJTP)
2. Jumlah Rujukan 4.388.023 8.987.643 13.698.748 18.891.657
3. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat 11.585.759 29.273.215 46.794.868 64.438.896
Lanjutan (RJTL)
4. Jumlah Kasus Rawat Inap Tingkat 1.662.695 4.026.473 6.419.789 8.726.857
Lanjutan (RITL)

Keterangan:
a) PPU Penyelenggara Negara terdiri dari: PNS, TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri, Pejabat Negara (PN) dan Pegawai Pemerintah Non PNS
b) PPU Non Penyelenggara Negara terdiri dari: Eks JPK Jamsostek, Perusahaan BUMN dan Swasta Lainnya

xiv LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Cakupan Kepesertaan (jiwa) Selama periode tahun 2017, jumlah peserta terus
mengalami peningkatan dengan jumlah peserta
1 Jan.
171.939.254 mencapai 187.982.949 jiwa atau meningkat sebesar
2017
9,33% dari posisi awal tahun 2017 (171.939.254
per 31 Mar. jiwa), dengan rata-rata penambahan peserta per
175.739.499
2017
bulan sebanyak 1.336.975 jiwa. Peningkatan jumlah
per 30 Jun. peserta antara lain disebabkan semakin efektifnya
2017 178.384.288
program pemasaran sosial yaitu melalui kegiatan
per 30 Sep. sosialisasi secara langsung (sosialisasi kepada
182.542.728
2017 komunitas, pekerja/pemberi kerja, tokoh masyarakat/
tokoh agama/masyarakat umum, dan forum
per 31 Des.
187.982.949 komunikasi para pemangku kepentingan utama)
2017
maupun tidak langsung (kegiatan promosi melalui
berbagai media).

Jumlah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Seiring dengan bertambahnya jumlah peserta,
yang bekerja sama sebagai upaya meningkatkan pelayanan kepada
peserta maka terus dilakukan perluasan kerja sama
1 Jan.
20.708 dengan fasilitas kesehatan. Untuk fasilitas kesehatan
2017
tingkat pertama (FKTP), sampai dengan 31 Desember
s.d. 31 Mar.
20.727 2017 jumlah FKTP (termasuk FKTP Gigi) yang bekerja
2017
sama sebanyak 21.763 FKTP atau meningkat sebesar
s.d. 30 Jun.
20.850 5,09% dari posisi awal tahun 2017 (20,708 FKTP),
2017
dengan rata-rata penambahan jumlah FKTP bekerja
s.d. 30 Sep. sama per bulan sebanyak 88 FKTP. Dalam upaya
21.196
2017 meningkatkan hubungan kemitraan dengan FKTP,
telah dilaksanakan beberapa program yaitu Supervisi
s.d. 31 Des.
21.763
2017 dan Walk Through Audit (WTA) Pelayanan Primer
serta Pertemuan Koordinasi Pelayanan Primer.

Untuk Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan


Jumlah Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat lanjutan (FKRTL), sampai dengan 31 Desember 2017 jumlah
(FKRTL) yang bekerja sama
FKRTL yang bekerja sama sebanyak 2.268 FKRTL
1 Jan. atau meningkat sebesar 9,67% dari posisi awal
2.068
2017 tahun 2017 (2.068 FKRTL), dengan rata-rata
s.d. 31 Mar.
penambahan jumlah FKRTL bekerja sama per bulan
2.099
2017 sebanyak 17 FKRTL. Dalam upaya meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan kepada peserta di
s.d. 30 Jun.
2017 2.156 FKRTL, telah dilaksanakan beberapa program yaitu
Supervisi dan Walk Through Audit (WTA) FKRTL,
s.d. 30 Sep. Pertemuan Kemitraan dengan Stakeholders,
2.225
2017
Pertemuan Forum Kemitraan Tingkat Provinsi dan
s.d. 31 Des.
2.268 Kabupaten/Kota serta Pertemuan Nasional dengan
2017
Manajemen RS.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xv
Jumlah Faskes Penunjang (Optik dan Apotek) Dalam memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan
yang Bekerja sama
penunjang, maka terus dilakukan penambahan kerja
1 Jan. sama dengan apotek dan optik. Sampai dengan 31
3.094
2017 Desember 2017, jumlah kerja sama dengan fasilitas
s.d. 31 Mar.
penunjang sebanyak 3.405 faskes atau meningkat
3.161
2017 sebesar 10,05% dari posisi awal tahun 2017 (3.094
faskes), dengan rata-rata penambahan jumlah faskes
s.d. 30 Jun.
2017 3.257 penunjang bekerja sama per bulan sebanyak 26
faskes. Fasilitas penunjang yang telah bekerja sama
s.d. 30 Sep.
3.353 sampai dengan 31 Desember 2017 terdiri dari 2.388
2017
apotek dan 1.017 optik.
s.d. 31 Des.
3.405
2017

Jumlah Kunjungan RJTP


Jumlah kunjungan Rawat Jalan Tingkat Pertama
200.000.000 (RJTP) merupakan jumlah peserta yang melakukan
pemeriksaan ke FKTP. Jumlah kunjungan RJTP
150.288.478 tahun 2017 mencapai 150.288.478 kunjungan atau
150.000.000
meningkat sebesar 24,29% bila dibandingkan
110.027.276
realisasi tahun 2016 (120.922.433 kunjungan),
100.000.000 dengan rate kunjungan RJTP sebesar 75,16‰.
72.890.722
Rata-rata kunjungan RJTP per bulan selama periode
34.508.547 tahun 2017 sebanyak 12.524.040 kunjungan.
50.000.000

0
s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.
2017 2017 2017 2017

Jumlah Rujukan

18.891.657 Jumlah rujukan dari FKTP ke FKRTL tahun 2017


20.000.000
mencapai 18.891.657 rujukan, dengan rasio rujukan
sebesar 12,56% dan rata-rata jumlah rujukan per
15.000.000 13.698.748
bulan sebanyak 1.574.305 rujukan.

8.987.643
10.000.000

4.388.023
5.000.000

0
s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.
2017 2017 2017 2017

xvi LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Jumlah Kunjungan RJTL Jumlah kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan
80.000.000 (RJTL) tahun 2017 mencapai 64.438.896 kunjungan
atau meningkat sebesar 30,75% bila dibandingkan
64.438.896
realisasi pada tahun 2016 (49.283.264 kunjungan),
60.000.000
dengan rate kunjungan RJTL sebesar 30,08‰.
46.794.868 Rata-rata jumlah kunjungan RJTL per bulan mencapai
40.000.000 5.369.908 kunjungan.
29.273.215

20.000.000 11.585.759

s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.


2017 2017 2017 2017

Jumlah Kasus RITL


10.000.000
8.726.857
Pada tahun 2017, jumlah kasus pada Rawat Inap
8.000.000
6.419.789
Tingkat Lanjutan (RITL) mencapai 8.726.857 kasus
atau meningkat sebesar 14,08% bila dibandingkan
6.000.000 realisasi pada tahun 2016 (7.649.690 kasus), dengan
rate kunjungan RITL tahun 2016 sebesar 4,07‰.
4.026.473
Rata-rata jumlah kasus RITL per bulan mencapai
4.000.000
727.238 kasus.

1.662.695
2.000.000

0
s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.
2017 2017 2017 2017

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xvii
IKHTISAR KINERJA KEUANGAN
DANA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017

(juta rupiah)
Realisasi
No. Uraian s.d. 30 September s.d. 31 Desember
s.d. 31 Maret 2017 s.d. 30 Juni 2017
2017 2017
1 2 3 4 5 6

A Laporan Posisi Keuangan


Aset Lancar 6.366.700 3.032.260 2.207.621 1.201.852
Total Aset 6.366.700 3.032.260 2.207.621 1.201.852
Total Liabilitas 17.990.303 18.188.066 22.531.673 24.227.104
Aset Neto (11.623.603) (15.155.806) (20.324.052) (23.025.252)

B Laporan Aktivitas
Pendapatan Iuran 17.482.596 35.962.478 55.044.046 74.246.641
Pendapatan Investasi 89.513 133.003 143.406 150.941
Pendapatan Lainnya 43.863 93.817 155.148 220.237
Beban Manfaat 19.899.041 41.188.218 62.478.651 84.444.864
Beban Operasional 885.536 1.843.473 2.933.887 3.809.233
Beban Investasi 17.577 25.118 26.701 28.216
Beban Lainnya 560 1.086 1.319 45.887
Perubahan Aset Neto (4.153.647) (6.595.025) (11.763.270) (14.464.470)
Aset Neto Akhir Periode (11.623.603) (15.155.806) (20.324.052) (23.025.252)

C Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas (%) 1) 35,39 16,67 9,80 4,96
Rasio Solvabilitas (%) 2) 35,39 16,67 9,80 4,96

1) Rasio Likuiditas merupakan jumlah aset lancar dibagi jumlah liabilitas jangka pendek pada periode tertentu
2) Rasio Solvabilitas merupakan jumlah aset dibagi jumlah liabilitas pada periode tertentu

Total Aset (juta rupiah) Total Liabilitas (juta rupiah)


6.366.700
24.227.104
22.531.673
18.188.066
17.990.303
3.032.260
2.207.621
1.201.852

per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.


per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.
2017 2017 2017 2017
2017 2017 2017 2017

xviii LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Aset Neto (juta rupiah) Pendapatan Iuran (juta rupiah)
74.246.641
per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.
2017 2017 2017 2017
55.044.046

35.962.478

17.482.596
(11.623.603)
(15.155.806)

(20.324.052) s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.


2017 2017 2017 2017
(23.025.252)

Beban Manfaat (juta rupiah) Pendapatan Investasi (juta rupiah)


84.444.864
150.941
143.406
62.478.651 133.003

89.513
41.188.218

19.899.041

s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des. s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.
2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017

Beban Investasi (juta rupiah) Pendapatan Lainnya (juta rupiah)


28.216 220.237
26.701
25.118
155.148
17.577

93.817

43.863

s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des. s.d. 31 Mar. s.d. 30 Jun. s.d. 30 Sep. s.d. 31 Des.
2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xix
IKHTISAR KINERJA KEUANGAN
DANA BPJS KESEHATAN TAHUN 2017

(juta rupiah)
Realisasi
No. Uraian s.d. 30 September s.d. 31 Desember
s.d. 31 Maret 2017 s.d. 30 Juni 2017
2017 2017
1 2 3 4 5 6

A Laporan Posisi Keuangan


Aset Lancar 4.889.988 4.702.560 5.184.307 5.163.387
Total Aset 12.558.320 12.156.264 12.470.959 12.600.792
Total Liabilitas 1.928.324 1.791.901 1.932.466 2.439.427
Liabilitas Jangka Pendek 709.154 415.107 503.672 693.009
Liabilitas Jangka Panjang 1.219.170 1.376.794 1.428.794 1.746.418
Jumlah Liabilitas 1.928.324 1.791.901 1.932.466 2.439.427
Ekuitas 10.629.996 10.364.363 10.538.493 10.161.365

B Laporan Kinerja Keuangan


Pendapatan Operasional 885.536 1.843.473 2.933.887 3.809.233
Beban Operasional 748.622 1.873.174 2.793.609 4.049.056
Penghasilan (Beban) Operasional 136.914 (29.701) 140.277 (239.823)
Pendapatan dan Beban Non Operasional (59.673) 33.096 77.440 169.418
Penghasilan (Beban) Sebelum Pajak 77.241 3.395 217.717 (70.405)
Penghasilan (Beban) Pajak Penghasilan (26.585) 14.055 (20.650) 78.376
Penghasilan (Beban) Neto 50.656 17.450 197.067 7.971
Penghasilan (Beban) Komprehensif Lain (2.906) 2.175 (3.311) (191.343)
Penghasilan (Beban) Komprehensif 47.750 19.625 193.756 (183.372)

C Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas (%)1) 689,55 1.132,85 1.029,30 745,07

Rasio Solvabilitas (%) 2)


651,26 678,40 645,34 516,55
1) Rasio Likuiditas merupakan jumlah aset lancar dibagi jumlah liabilitas jangka pendek pada periode tertentu
2) Rasio Solvabilitas merupakan jumlah aset dibagi jumlah liabilitas pada periode tertentu

Total Aset (juta rupiah) Total Liabilitas (juta rupiah) 2.439.427

12.558.320 12.156.264 12.600.792 1.932.466


12.470.959 1.928.324
1.791.901

per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.


2017 2017 2017 2017 per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.
2017 2017 2017 2017

xx LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Ekuitas (juta rupiah) Pendapatan Operasional (juta rupiah)
10.629.996 3.809.233
10.538.493
10.364.363
10.161.365 2.933.887

1.843.473

885.536

per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des. per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.
2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017

Beban Operasional (juta rupiah) Penghasilan (Beban) Komprehensif


193.756
4.049.056

47.750 19.625
2.793.609

1.873.174 per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.


2017 2017 2017 2017

748.622

per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des. (183.372)


2017 2017 2017 2017

Rasio Likuiditas (%) Rasio Solvabilitas (%)


745,07 651,26 678,40
645,34
516,55
1.029,30

1.132,85

689,55

per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des. per 31 Mar. per 30 Jun. per 30 Sep. per 31 Des.
2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xxi
ANNUAL MANAGEMENT CONTRACT (AMC) TAHUN 2017

RKAT Capaian
No. Uraian Satuan Bobot Realisasi Nilai
2017 (%)
1 2 3 4 5 6 7=6/5 8=7*4
PEMANGKU KEPENTINGAN (S) 12% 13,14%
S1 Meningkatkan Efektivitas Kebijakan dan Implementasi Layanan
Jaminan Kesehatan yang Berkualitas dan Berkeadilan
S1.1 Tingkat Kepuasan Peserta % 6% 80 79,5 99,38 5,96
S1.2 Organization Image Index Angka Indeks 6% 65 77,79 119,68 7,18
KEUANGAN (F) 35% 38,22%
F1 Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Keuangan yang Sehat,
Berkesinambungan, Transparan dan Akuntabel
F1.1 Rasio BOPO a) % 5% 100% 99,13% 100,88 b) 5,04
F1.2 Rasio Likuiditas BPJS a) % 5% 617% 745,07% 120,76 6,00
F1.3 Rasio Solvabilitas BPJS a) % 5% 583% 516,55% 88,60 4,43
F1.4 Opini Auditor Eksternal Poin (Predikat) 5% WTP* WTP 125,00 6,00
F1.5 YOI BPJS a)
% 5% 7,09% 8,10% 114,24 5,71
F1.6 Ketepatan Waktu Persetujuan RKAT oleh Dewan Pengawas % 5% 100% 100,73% 100,73 5,04
yang Dikirim ke Kementerian Keuangan
F1.7 Ketepatan Waktu Penerbitan Laporan Keuangan Audited % 5% 100% 146,41% 146,41 6,00

PROSES BISNIS INTERNAL (P) 38% 39,56%


P1 Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kepesertaan
P1.1 % Cakupan Peserta % 5% 77% 71,78% 93,22 4,66
P1.2 % Validitas Data Peserta % 4% 90,75% 95,35% 105,07 4,20
P1.3 % Tindak Lanjut Pengaduan Peserta yang Tepat Waktu % 5% 91% 99,58% 109,43 5,47
P2 Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Iuran
P2.1 Rasio Kolektibilitas Iuran a) % 5% 96,78% 100,21% 103,54 5,18
P2.2 YOI DJS a) % 4% 6,65% 7,93% 119,32 4,77
P3 Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Fasilitas Kesehatan
P3.1 Tingkat Kepuasan Faskes % 4% 78 75,7 97,05 3,88
P3.2 % Faskes yang bekerja sama
a. FKTP % 3% 65 74,29 114,30 3,43
b. FKRTL % 3% 75 87,20 116,26 3,49
P4 Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Jaminan Pembiayaan
Manfaat dan Utilisasi
P4.1 Rasio Klaim a) % 5% 101,79% 113,74% 89,50 b) 4,47
PEMBELAJARAN DAN PERTUMBUHAN (L) 15% 15,45%
L1 Meningkatkan Produktivitas SDM
L1.1 % SDM yang kompeten % 3% 78 83,93 107,60 3,23
L1.2 Employee Engagement Index Angka Indeks 3% 75 75,46 100,61 3,02
L2 Meningkatkan Dukungan TIK
L2.1 % Ketersediaan Sistem TI % 3% 99,2% 99,03% 99,83 2,99
L3 Meningkatkan Kehandalan Organisasi
L3.1 Organizational Change Capacity (OCC) Angka Indeks 3% 75 80,10 106,80 3,20
L4 Meningkatkan Tata Kelola Organisasi
L4.1 Skor Tata Kelola Organisasi yang Baik Poin (Predikat) 3% Baik Baik 100,00 3,00
Total 100% 106,37%
* WTP dengan Paragraf Penjelasan
a)
Berdasarkan Laporan Keuangan 31 Desember 2017-Audited
b)
Indikator Rasio BOPO dan Rasio Klaim menggunakan formula Capaian=Target/Realisasi

xxii LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Pelaksanaan program JKN-KIS sudah menginjak tahun Pencapaian kinerja BPJS Kesehatan Tahun 2017
ke-4. Dengan segenap manfaat yang sangat besar terhadap RKAT 2017 antara lain tercapainya jumlah
bagi rakyat Indonesia, tentu masih terdapat hal yang peserta per 31 Desember 2017 sebanyak 187.982.949
harus diperbaiki oleh seluruh pemangku kepentingan. jiwa (93,22% dari RKAT 2017). Jika dirinci secara
Tahun 2017 menjadi titik yang krusial dalam menentukan parsial dalam segmen peserta, proporsi segmen non
kesinambungan program JKN-KIS, oleh karena itu PBI telah mencapai 50,86%, hal tersebut menunjukkan
BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara jaminan upaya yang maksimal telah dilakukan dalam perluasan
sosial kesehatan berupaya terus dalam memantapkan peserta. Jumlah fasilitas kesehatan yang sudah bekerja
langkah-langkah strategis yang dituangkan dalam 3 sama dengan BPJS Kesehatan sampai dengan 31
(tiga) fokus utama yang menjadi prioritas tahun 2017, Desember 2017 adalah 21.763 fasilitas kesehatan
yaitu: tingkat pertama (termasuk 1.188 FKTP Dokter Gigi),
1. Keberlangsungan Finansial melalui peningkatan 2.268 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan dan
rekrutmen peserta potensial dan meminimalkan 3.353 fasilitas kesehatan penunjang (apotek dan
adverse selection, peningkatan kolektibilitas optik).
iuran peserta dari seluruh segmen, peningkatan
kepastian dan kemudahan pembayaran iuran, Sampai dengan 31 Desember 2017, pendapatan iuran
penerapan law enforcement bagi faskes, peserta, tercatat sebesar Rp74,246 triliun (86,65% dari RKAT
atau Badan Usaha yang melanggar serta efisiensi 2017). Pertumbuhan peserta dari segmen non PBI
dan efektivitas pengelolaan dana operasional memberikan kontribusi sebesar 65,83% (Rp48,88
serta optimalisasi kendali mutu dan kendali biaya triliun) dari total pendapatan iuran, hal tersebut
Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan; menunjukkan pertumbuhan peserta non PBI
2. Kepuasan Pelanggan melalui perbaikan sistem memberikan dampak positif seiring dengan peningkatan
pelayanan online untuk seluruh peserta, pendapatan iuran. Kolektabilitas iuran sebesar 100,21%
implementasi nyata Coordination of Benefit menunjukkan bahwa upaya maksimal telah dilakukan
(COB) untuk peserta PPU, perluasan dan dalam proses kolekting iuran. Realisasi biaya manfaat
peningkatan kualitas fasilitas kesehatan (tingkat (termasuk biaya promotif dan preventif) sebesar
pertama dan lanjutan) khususnya optimalisasi Rp84,445 triliun (96,82% dari RKAT 2017), dengan
peran FKTP sebagai lini pelayanan tingkat pertama rasio klaim mencapai 113,74%.
dan kemudahan penanganan keluhan pelanggan
dan akses informasi peserta; Pencapaian kinerja manajemen secara komprehensif
3. Menuju Cakupan Semesta melalui percepatan diukur melalui indikator-indikator yang merupakan
rekrutmen peserta, mobilisasi peran strategis komponen Annual Management Contract (AMC) yang
kelembagaan baik pemerintah maupun non telah ditetapkan. Hasil total dari capaian masing-
pemerintah untuk menggerakkan partisipasi dan masing indikator terhadap target yang telah ditetapkan,
peran serta masyarakat agar sadar memiliki menggambarkan berhasil tidaknya manajemen
jaminan kesehatan, serta peran aktif kader JKN- melaksanakan program-program yang telah disepakati
KIS melalui organisasi kemasyarakatan/ keagamaan dengan Dewan Pengawas selama satu tahun. Secara
yang memiliki struktur nasional hingga ke daerah. keseluruhan sampai dengan 31 Desember 2017,
kinerja manajemen berdasarkan AMC tersebut
mencapai nilai 106,37 dari target 100.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xxiii
Pencapaian indikator kinerja tahun 2017, secara terinci pengaduan peserta yang tepat waktu 99,58%
sebagai berikut: (capaian 109,43%. Dalam hal meningkatkan
1. Perspektif pemangku kepentingan sebagai upaya efektivitas pengelolaan iuran, tercapai rasio
terwujudnya layanan Jaminan Kesehatan Nasional kolektibilitas iuran sebesar 100,21% (capaian
(JKN) yang berkualitas dan berkeadilan bagi 103,54%), dan YOI DJS 7,93% (capaian 119,32%).
seluruh rakyat Indonesia, dengan realisasi indikator Dalam hal pengelolaan fasilitas kesehatan (faskes),
tingkat kepuasan peserta dan Brand/Organization terkait indikator % fasilitas kesehatan (faskes)
Image Index mencapai masing-masing 79,5 yang bekerja sama tercapai rata-rata faskes yang
(capaian 99,38%) dan 77,79 (capaian 119,68%); telah bekerja sama FKTP mencapai 74,29%
2. Perspektif finansial dalam rangka meningkatnya (capaian 114,30%), dan FKRTL mencapai 87,20%
p e n g e l o l a a n ke u a n g a n ya n g s e h a t , (capaian 116,26%), dengan tingkat kepuasan
berkesinambungan, transparan dan akuntabel. faskes sebesar 75,7% (capaian 97,05%). Terkait
Realisasi indikator kinerja yaitu Rasio BOPO indikator jaminan pembiayaan manfaat dan utilisasi
99,13% (capaian 100,88%), Rasio Likuiditas yaitu rasio biaya pelayanan terhadap iuran
BPJS 745,07% (capaian 120,76%), Rasio terealisasi sebesar 113,74% (capaian 89,50%).
Solvabilitas BPJS 516,55% (capaian 88,60%), 4. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dalam
Opini Auditor Eksternal memperoleh opini WTP, rangka meningkatkan produktivitas SDM,
YOI BPJS 8,10% (capaian 114,24%), ketepatan persentase capaian SDM yang kompeten
waktu persetujuan RKAT oleh Dewan Pengawas terealisasi sebesar 83,93% (capaian 107,60%),
yang dikirim ke Kementerian Keuangan 100,73%, serta Employee Engagement Index sebesar
ketepatan waktu penerbitan Laporan Keuangan 75,46% (capaian 100,61%). Dalam hal
Audited (146,41%); meningkatkan dukungan TI, yaitu melalui
3. Perspektif proses bisnis internal dalam rangka ketersediaan sistem TI terealisasi sebesar 99,03%
meningkatkan efektivitas pengelolaan kepesertaan, (capaian 99,83%). Kehandalan organisasi dapat
efektivitas pengelolaan iuran, efektivitas dilihat dari indikator Organizational Change
pengelolaan fasilitas kesehatan, dan efektivitas Capacity (OCC) yang terealisasi sebesar 80,10%
pengelolaan jaminan pembiayaan manfaat dan (capaian 106,80%). Dalam upaya peningkatan
utilisasi. Realisasi indikator kinerja pada Tata Kelola Organisasi melalui indikator Skor Tata
pengelolaan kepesertaan yaitu: cakupan peserta Kelola Organisasi yang Baik, diperoleh predikat
71,78% (capaian 93,22%), validitas data peserta Baik (capaian 100%).
95,35% (capaian 105,07%), tindak lanjut

xxiv LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xxv
KATA PENGANTAR

xxvi LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Ungkapan puji syukur tidak hentinya kami ucapkan
kehadirat Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, BPJS
Kesehatan dapat terus menjalani masa pengabdian dalam
mengemban amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),
dalam menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu
Indonesia Sehat (JKN-KIS) sampai dengan memasuki tahun ke lima beroperasi
di tahun 2018 ini.

Kami laporkan bahwa sampai dengan Dari aspek pemanfaatan layanan, Program
tanggal 31 Desember 2017, kepesertaan JKN-KIS secara nyata telah membantu
Program JKN-KIS telah mencapai masyarakat mendapatkan kemudahan
187.982.949 jiwa atau sebesar 72,3% dari akses secara finansial (pembiayaan) bagi
target 259.993.081 jiwa penduduk mereka yang membutuhkan pelayanan
Indonesia. Dengan jumlah kepesertaan kesehatan di fasilitas kesehatan, baik di
ini, Program JKN-KIS telah menjadi Program tingkat Primer maupun di tingkat Lanjutan.
Jaminan Sosial Kesehatan dengan jumlah Sehingga dapat memulihkan kondisi
kepesertaan terbesar di dunia, yang dikelola kesehatan mereka serta mencegah
dengan pendekatan Single Payer Institution. kecacatan atau mencegah semakin
memburuknya gangguan kesehatan yang Sebagai penyelenggara Program JKN-KIS,
dideritanya. Karena sesuai dengan falsafah BPJS Kesehatan terus berupaya memperluas
dan dasar Negara yaitu Pancasila sila ke-5 cakupan peserta dan meningkatkan kualitas
yang menyatakan bahwa setiap orang layanan program kepada Peserta JKN-KIS.
berhak atas keadilan sosial, termasuk hak Oleh karena itu, sejak awal tahun 2018
yang sama dalam memperoleh akses di telah ditetapkan Tiga Fokus Utama BPJS
bidang kesehatan dan memperoleh Kesehatan yang digunakan sebagai acuan
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu pelaksanaan program di seluruh lini
dan terjangkau. organisasi, yaitu Menjaga Kesinambungan
Program JKN-KIS, Meningkatkan Kepuasan
Pertumbuhan peserta dari tahun 2014-2017 Peserta dan Efektif dan Efisien dalam
telah mencapai 41%. Seiring dengan Mengimplementasikan Program Kerja.
pertumbuhan tersebut, BPJS Kesehatan Selain itu, penyelenggaraan Program
selalu berupaya memberikan pelayanan kegiatan di tahun 2017 juga senantiasa
prima bagi peserta melalui jaringan fasilitas dijalankan berdasarkan Rencana Kerja dan
kesehatan, baik tingkat pertama maupun Anggaran Tahunan (RKAT) Tahun 2017 yang
tingkat lanjutan. Sampai dengan 31 telah ditetapkan berdasarkan Keputusan
Desember 2017 telah tercapai 21.763 FKTP Dewan Pengawas BPJS Kesehatan.
yang telah bekerja sama. Hal ini mengalami
kenaikan 1.055 FKTP dari akhir tahun 2016. Laporan Pengelolaan Program Jaminan
Sementara itu untuk pelayanan kesehatan Sosial Kesehatan ini kami sampaikan
di tingkat lanjutan, BPJS Kesehatan telah sebagai bentuk pertanggungjawaban BPJS
bekerja sama dengan 2.268 Faskes Rujukan Kesehatan sebagai penyelenggara Program
Tingkat Lanjutan. Jumlah fasilitas kesehatan JKN-KIS kepada para pemangku kepentingan
bekerja sama ini akan terus ditingkatkan, terkait. Hasil kegiatan operasional,
mengingat jumlah Peserta JKN-KIS yang keuangan, dan penunjang BPJS Kesehatan
akan terus bertambah setiap harinya seiring diuraikan dengan lengkap mengacu pada
dengan perluasan kepesertaan menuju Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2013
universal health coverage pada tahun 2019. tentang Bentuk dan Isi Laporan Pengelolaan

xxviii LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Program Jaminan Sosial. Kami berharap, Kami yakin, dengan dukungan dari Bapak
Laporan ini dapat memberikan gambaran Presiden, Para Pemangku Kepentingan,
menyeluruh seputar penyelenggaraan serta dengan kerja keras dari seluruh Duta
program dan keuangan Jamsoskes Tahun BPJS Kesehatan di seluruh Indonesia,
2017 kepada pemangku kepentingan terkait. pencapaian target kelembagaan ini akan
Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih dapat berhasil diraih dengan gemilang,
kepada Bapak Presiden serta seluruh meskipun di tengah tantangan dan dinamika,
Pemangku Kepentingan, atas kepercayaan demi mewujudkan JKN-KIS yang berkualitas
dan dukungan selama ini, sehingga BPJS dan berkesinambungan bagi seluruh Rakyat
Kesehatan dapat menjalankan Program Indonesia.
JKN-KIS dengan jumlah peserta terbesar
di dunia. Semoga Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan
Yang Maha Esa, senantiasa meridhoi setiap
upaya yang dilakukan dalam mewujudkan
Indonesia yang lebih sehat dan melancarkan
semua ikhtiar terbaik kita.

Jakarta, Juni 2018


Direktur Utama

Fachmi Idris

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 xxix
BAB I
PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
KONDISI UMUM

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 mengamanatkan yang semakin meningkat setiap tahunnya. Berbekal
BPJS Kesehatan untuk mewujudkan terselenggaranya pengalaman selama 3 tahun penyelenggaraan Program
pemberian jaminan kesehatan guna memenuhi JKN-KIS, BPJS Kesehatan terus berupaya meningkatkan
kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta profesionalisme dan kerja keras untuk mewujudkan
beserta anggota keluarganya. Penyelenggaraan Program Indonesia yang lebih sehat. Namun demikian, perubahan
Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat kondisi lingkungan internal dan eksternal organisasi
(JKN-KIS) dilaksanakan berdasarkan prinsip gotong selama 3 tahun implementasi program Jaminan
royong, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, Kesehatan Nasional memberikan tantangan yang
portabilitas, kepesertaan bersifat wajib, dana amanat, semakin kompleks dan dinamis.
dan hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial (DJS)
senantiasa dipergunakan seluruhnya untuk Dalam upaya mencapai target kinerja tahun 2017 yang
pengembangan program dan untuk sebesar-besar telah dituangkan dalam Kontrak Kinerja tahun 2017,
kepentingan peserta. Hal tersebut guna mendukung maka strategi yang menjadi fokus utama tahun 2017
salah satu program nawacita pemerintah dalam yaitu: Keberlangsungan Finansial, Kepuasan Pelanggan,
mewujudkan “Pemerataan yang Berkeadilan” bagi dan Menuju Cakupan Semesta. Oleh karena itu,
seluruh rakyat Indonesia. sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen
kepada stakeholders dengan mengacu pada Peraturan
Sejak diluncurkan tanggal 1 Januari 2014, Program Presiden Nomor 108 Tahun 2013 tentang Bentuk dan
Jaminan Kesehatan, telah mendapatkan sambutan Isi Laporan Pengelolaan Program Jaminan Sosial,
yang cukup baik dari berbagai elemen masyarakat, BPJS Kesehatan menyusun laporan pengelolaan
hal ini terbukti dengan cakupan peserta sampai dengan program jaminan sosial kesehatan yang menyajikan
31 Desember 2017 mencapai 187.982.949 jiwa, serta hasil kegiatan operasional, keuangan dan penunjang
tingkat pemanfaatan jaminan pelayanan kesehatan lainnya.

2 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
KONDISI PEREKONOMIAN

PEREKONOMIAN GLOBAL Indikator perbaikan ekonomi Indonesia dapat kita lihat


Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF), pada kondisi di bawah ini:
pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2017 mengalami 1) Inflasi terkendali pada level 3,3% year on year
kenaikan sebesar 0,4% dari 3,2% pada tahun 2016 (yoy) sehubungan dengan rendahnya volatilitas
menjadi 3,6%. Hal tersebut ditopang oleh adanya inflasi makanan (food) seiring dengan kebijakan
perbaikan ekonomi di beberapa negara maju yang pemerintah yang selalu menjaga stabilitas harga
memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan pangan;
ekonomi dunia. Amerika Serikat menunjukkan 2) Suku bunga (BI 7 Days Repo Rate) yang cenderung
pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan yaitu menurun (dari 5% menjadi 4,25%) sejak Agustus
dari 1,5% tahun 2016 menjadi 2,2% pada tahun 2017. 2016 sampai dengan Desember 2017, konsisten
Begitu pula dengan Eropa mengalami pertumbuhan dengan pelonggaran kebijakan moneter yaitu
sebesar 2,2% dari sebelumnya hanya 1,8% pada rendahnya realisasi inflasi;
tahun 2016. Selain itu, Jepang juga menunjukkan 3) Neraca perdagangan mencatat surplus 12,02
pertumbuhan ekonomi dari 1% tahun 2016 menjadi miliar Dollar AS, lebih besar dibandingkan periode
1,4% tahun 2017. Pemulihan perekonomian dunia yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 8,48
mempengaruhi peningkatan volume perdagangan miliar Dollar AS;
dunia, sehingga mendorong kenaikan harga komoditas. 4) Defisit neraca transaksi berjalan mengalami
perbaikan, jauh lebih rendah dari tahun
sebelumnya;
PEREKONOMIAN DOMESTIK 5) Cadangan devisa yang terus mengalami kenaikan
Pertumbuhan ekonomi domestik sampai dengan hingga mencapai 125,9 miliar Dollar AS;
triwulan III tahun 2017 mencapai 5,06%, apabila 6) Rupiah dinilai cukup stabil pada tahun 2017 pada
dibandingkan dengan triwulan III tahun 2016 sebesar posisi 13.555;
5,01% mengalami peningkatan sebesar 0,05%. 7) Indonesia telah mendapatkan peringkat layak
Pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik investasi (BBB)/Stabil dari 3 (tiga) lembaga
dipengaruhi oleh kenaikan beberapa komponen dalam pemeringkat dunia;
perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB). Kenaikan 8) Pasar modal Indonesia tahun 2017 menunjukkan
yang signifikan terlihat dari realisasi ekspor/impor kinerja yang sangat baik dengan pertumbuhan
antara tahun 2016 dibandingkan dengan tahun 2017. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai
Tahun 2016 ekspor maupun impor pada posisi negatif 19,99%.
masing-masing sebesar -5,65% dan -3,67%, sedangkan
tahun 2017 ekspor dan impor mengalami kenaikan Kedelapan indikator tersebut menggambarkan bahwa
signifikan hingga masing-masing mencapai 17,27% fundamental ekonomi Indonesia sangat baik. Hal
dan 15,09%. tersebut merupakan prospek cerah bagi kemajuan
dan kemandirian bangsa Indonesia di masa yang akan
datang, terutama di kancah internasional.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 3
VISI DAN MISI

VISI BPJS KESEHATAN

Visi menggambarkan arah dan tujuan yang ingin dicapai oleh


sebuah organisasi. Sebagai penerima mandat penyelenggara
program JKN, manajemen BPJS Kesehatan dalam hal ini
Direksi dan Dewan Pengawas telah menetapkan visi organisasi
sampai dengan akhir masa jabatan di tahun 2021, yaitu:

“Terwujudnya Jaminan Kesehatan (JKN-KIS) yang berkualitas


dan berkesinambungan bagi seluruh penduduk Indonesia
pada tahun 2019 berlandaskan gotong royong yang berkeadilan
melalui BPJS Kesehatan yang handal, unggul, dan terpercaya”.

4 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
MISI BPJS KESEHATAN

Untuk mencapai visi tersebut, BPJS Kesehatan kemudian berupaya


mengoptimalkan seluruh kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki yang
tercermin melalui pernyataan misi sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas layanan yang berkeadilan kepada peserta,
pemberi pelayanan kesehatan, dan pemangku kepentingan
lainnya melalui sistem kerja yang efektif dan efisien.
b. Memperluas kepesertaan JKN-KIS mencakup seluruh penduduk
Indonesia paling lambat 1 Januari 2019 melalui peningkatan
kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan dan mendorong
partisipasi masyarakat, serta meningkatkan kepatuhan kepesertaan.
c. Menjaga kesinambungan program JKN-KIS dengan mengoptimalkan
kolektibilitas iuran, sistem pembayaran fasilitas kesehatan, dan
pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel.
d. Memperkuat kebijakan dan implementasi program JKN-KIS
melalui peningkatan kerja sama antar lembaga, kemitraan,
koordinasi, dan komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
e. Memperkuat kapasitas dan tata kelola organisasi dengan didukung
SDM yang profesional, penelitian, perencanaan dan evaluasi,
pengelolaan proses bisnis dan manajemen risiko yang efektif
dan efisien, serta infrastruktur dan teknologi informasi yang
handal.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 5
SUSUNAN DIREKSI DAN DEWAN PENGAWAS

DIREKSI

Berdasarkan: maka susunan Direksi adalah sebagai berikut:


a. Keputusan Presiden RI Nomor 24/P Tahun 2016 a. Direktur Utama
tanggal 19 Februari 2016 tentang Pengangkatan Fachmi Idris
Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Kesehatan b. Direktur Keuangan dan Investasi
Masa Jabatan Tahun 2016-2021. Kemal Imam Santoso
b. Peraturan Direksi Nomor 10 Tahun 2017 tentang c. Direktur Kepatuhan, Hukum dan Hubungan Antar
Struktur Organisasi Badan Penyelenggara Jaminan Lembaga
Sosial Kesehatan. Bayu Wahyudi
c. Peraturan Direksi Nomor 251 Tahun 2017 tentang d. Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan
Susunan Anggota Direksi BPJS Kesehatan Tahun R. Maya Amiarny Rusady
2017. e. Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta
Andayani Budi Lestari
f. Direktur SDM dan Umum
Mira Anggraini
g. Direktur Perencanaan, Pengembangan dan
Manajemen Risiko
Mundiharno
h. Direktur Teknologi Informasi
Wahyuddin Bagenda

6 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
DEWAN PENGAWAS

Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 24/P a. Ketua


Tahun 2016 tanggal 19 Februari 2016 tentang Chairul Radjab Nasution
Pengangkatan Dewan Pengawas dan Direksi BPJS b. Anggota
Kesehatan Masa Jabatan Tahun 2016-2021, maka Sri Hartati
susunan Dewan Pengawas adalah sebagai berikut: c. Anggota
Michael Johannis Latuwael
d. Anggota
Roni Febrianto
e. Anggota
Misbahul Munir
f. Anggota
La Tunreng
g. Anggota
Karun

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 7
PROFIL DIREKSI

Prof. Dr. dr. FACHMI IDRIS, M.Kes

kemasyarakatan, tercatat
antara lain: sebagai Wakil
Ke tu a U m u m D ewa n
Pengurus KORPRI Nasional
(2015–2020) dan salah satu Ketua
Pengurus Pimpinan Pusat Dewan
Masjid Indonesia. Di bidang keprofesian,
tercatat antara lain: sebagai Ketua Umum
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (2003-
2006), dan Presiden Ikatan Dokter Asia dan Oceania
(The Confederation of Medical Association on Asia
and Oceania) 2006-2009 yang berpusat di Tokyo,
Jepang. Saat ini beliau juga tercatat sebagai Vice-
Chairperson of the Technical Commission on Medical
Care and Sickness Insurance pada International Social
Security Association (ISSA) yang berpusat di Geneva,
Switzerland.

Lahir di Palembang Suami dari Dr. dr. Rini Sp.A, dan bapak dari tiga anak
pada tanggal  1 ini, mengawali karir di tahun 1995 sebagai Kepala
Februari 1968. Menjadi Puskesmas Makarti Jaya, Sungsang, daerah perifer
salah satu Mahasiswa pada waktu itu, di Musi Banyuasin Sumatera Selatan.
Berprestasi lulusan Fakultas Kemudian, menjadi dosen di Fakultas Kedokteran
Kedokteran Universitas Sriwijaya Universitas Sriwijaya Bidang Ilmu Kesehatan
(1993). Beliau memiliki kemampuan di Masyarakat. Beliau pernah mengabdi sebagai Dewan
bidang akademik yang sangat luar biasa, Pengawas RS Mohammad Hoesin Palembang (BLU),
terbukti dengan banyaknya penghargaan yang anggota Konsil Kedokteran Indonesia, serta sebagai
beliau terima diantaranya adalah memperoleh Ketua Komisi Kajian dan Penelitian Dewan Jaminan
predikat lulusan terbaik Program Studi Magister Sosial Nasional. Kemudian pada tahun 2008 beliau
Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana bergabung dengan PT Askes (Persero) sebagai Dewan
Universitas Indonesia (1998), menjadi lulusan dengan Komisaris sekaligus Ketua Komite Manajemen Risiko,
predikat Cum Laude Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan kemudian pada tahun 2013 mengabdi sebagai
Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia (2003) Direktur Utama PT Askes (Persero), lalu sebagai
dan menjadi salah satu lulusan terbaik Peserta Program Direktur Utama BPJS Kesehatan (2014-2015),
Pendidikan Reguler Lemhannas RI angkatan XLV selanjutnya kembali dipercaya untuk menjadi Direktur
Tahun 2010 serta merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Utama BPJS Kesehatan (2016–2021) guna mewujudkan
Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas, cita-cita Universal Health Coverage (UHC) Tahun 2019.
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Pemikiran beliau dapat dilihat dari 14 buah buku (ISBN)
Selain menorehkan banyak prestasi baik di tingkat yang telah beliau tulis, dan juga dapat dibaca pada
nasional maupun di tingkat internasional. Beliau juga lebih dari seratus tulisan/paparan yang disampaikan
aktif dalam organisasi bidang keprofesian maupun pada berbagai pertemuan/jurnal ilmiah/non ilmiah,
bidang sosial kemasyarakatan. Di bidang sosial baik di lingkup nasional maupun internasional.

8 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Dr. MUNDIHARNO, M.Si

Lahir di Pemalang, 4 Agustus 1965.


Menyelesaikan pendidikan terakhir S3 Manajemen
Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (2011).
Disamping itu juga mengikuti pendidikan S3 Kesehatan
Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia (2010-2015, tidak selesai, sampai tahap proposal
disertasi). Pendidikan magister diperoleh dari Kajian Kependudukan
dan Ketenagakerjaan Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia
(2000), sedangkan pendidikan S1 dari IKIP Jakarta yang kini
berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Beliau pernah mengikuti sejumlah pelatihan, workshop, seminar


terkait jaminan sosial kesehatan dibeberapa negara sepeti USA,
Jepang, Thailand, Filipina, Korea Selatan, Nepal dan Malaysia. media massa pernah
mendapatkan
Beliau mengawali karir sebaga peneliti di Lembaga Demografi penghargaan sebagai
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1990-2000). Pada saat Pemenang Pertama Penulisan
bersamaan selama dua puluh tahun juga menjadi peneliti di Pusat Artikel Bidang Pendidikan dan
Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Kebudayaan dari Menteri Pendidikan
Masyarakat Universitas Indonesia (1995-2015). Sebagai peneliti dan Kebudayaan RI, 1996.
pernah mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya sebagai
Peneliti Muda Universitas Indonesia Berprestasi Bidang Pengetahuan Selain sebagai peneliti dan penulis, beliau juga
Ekonomi dan Manajemen dari Rektor Universitas Indonesia (2000) memiliki pengalaman panjang sebagai konsultan
dan Juara I Hasil Penelitian Terbaik Bidang Sosial Kemasyarakatan diantaranya sebagai konsultan Program Keluarga Harapan
dari Rektor Universitas Indonesia (tahun 2000). (conditional cash transfer-Kemensos), konsultan penyusunan
rencana strategis (UNICEF-European Union-Kemendiknas), Senior
Disamping itu juga aktif menulis baik di media massa, jurnal Advisor di Social Protection Program GIZ Indonesia (German Agency
maupun penulisan dokumen nasional terkait jaminan kesehatan. for International Cooperation, 2010-2015), konsultan penyusunan
Beberapa tulisannya antara lain Peta Jalan Menuju Jaminan Grand Design Monitoring JKN (Asian Development Bank-ADB
Kesehatan Nasional 2012-2019, DJSN, 2012 (sebagai salah satu Indonesia), konsultan pengelolaan Sekretariat Gabungan Persiapan
penulis utama), Strategi Integrasi Jaminan Kesehatan Daerah BPJS Kesehatan (Kemenkes-AUSAID/DFAT) dan sebagainya. Dalam
Kedalam JKN, DJSN, 2013 (sebagai salah satu penulis utama), bidang manajerial, beliau pernah menjadi salah satu Senior Manager
Pedoman Monitoring Dan Evaluasi Program JKN Oleh DJSN, dan Senior Auditor di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN,
DJSN, 2014 (sebagai salah satu penulis utama), Grand Design 2000-2004) serta menjadi direksi di perusahaan swasta.
Monitoring Dan Evaluasi Program Jaminan Kesehatan Nasional,
BAPPENAS, 2015 (sebagai salah satu penulis utama), Teknis Pada tanggal 23 Februari 2016, Beliau dilantik sebagai Direksi BPJS
Penghitungan Iuran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Kesehatan 2016-2021 dan bertugas sebagai Direktur Perencanaan,
Dokumen Teknis, P2JK Kementerian Kesehatan, 2013 (sebagai Pengembangan dan Manajemen Risiko BPJS Kesehatan.
Co-Writer) dan sebagainya. Salah satu tulisannya disalah satu

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 9
Kemal Imam Santoso, MBA

Lahir di Surabaya, 7 Agustus Senior Vice President PT Bank Mandiri, lalu pada
1960. Menyelesaikan pendidikan tahun 2002 Komisaris Utama PT Axa Mandiri Financial
sarjana di Universitas Airlangga, Service, kemudian di tahun 2003 beliau menjabat
Surabaya dan memperoleh gelar Master sebagai Komisaris Utama PT Mandiri Manajemen
of Business Administration (MBA- Investasi, di tahun 2005 sebagai Country Marketing
Marketing) di California State University, Director Citibank, Indonesia dan tahun 2007 menjabat
California USA. Deputy Country Manager, Visa International Indonesia.

Beliau memiliki pengalaman yang sangat luar biasa, Beliau bergabung di PT Askes (Persero) pada tahun
terbukti dengan banyaknya pelatihan teknis maupun 2008 sebagai Wakil Direktur Utama, kemudian pada
kepemimpinan serta pelatihan manajerial di dalam tahun 2013 beliau menjabat sebagai Presiden Direktur
dan di luar negeri. PT Peruri Digital Indonesia dan di tahun 2015 sebagai
Komisaris Utama PT Asuransi Reliance Indonesia,
Malang melintang di industri layanan keuangan, Ayah Komisaris Independen PT Asuransi Reliance Indonesia
dari 1 orang anak ini memulai karir pada tahun 1989 dan Senior Advisor Creador Investment Indonesia
di Citibank Indonesia dan selanjutnya pada tahun dan saat ini terhitung sejak tanggal 23 Februari 2016
1996 menjadi Vice President Bank Papan Indonesia. beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Direktur
Kemudian di tahun 1999 beliau menjabat sebagai Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan.

10 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Dr. dr. H. BAYU WAHYUDI,
SpOG. MPHM. MHKes. MM

Lahir di Jakarta, 1 Maret 1962. Menempuh


pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya, kemudian beliau menyelesaikan beberapa
pendidikan S2 diantaranya adalah memperoleh gelar
Master Primary Health Care Management AIHD di i tu
Mahidol University di Thailand (Sponsor Fellowships beliau
dari WHO) selesai tahun 1993. Pada tahun 1995 j u g a
melanjutkan pendidikan Spesialis Kebidanan & Penyakit b a n y a k
Kandungan di Universitas Sriwijaya beasiswa dari mengikuti
Depkes RI, mengenyam pendidikan Hukum Kesehatan pelatihan-pelatihan
di Universitas Katolik Soegija Pranata Semarang serta teknis maupun
memperoleh pendidikan Management Kesehatan kepemimpinan serta diklat
Rumah Sakit di STIE GR, Jakarta dan menyelesaikan manajerial di dalam dan di luar
pendidikan S3 pada Program Doktor Ilmu Kedokteran negeri.
Universitas Padjajaran.
Mengawali karir pada tahun 1989 sebagai
Beliau memiliki prestasi yang sangat membanggakan, Kepala Puskesmas Transmigrasi Air Sugihan
hal ini terbukti dengan telah diperolehnya ASEAN 27 OKI Sumsel, Koordinator Executive UNFPA
Best Executive Award IHRDP (2014), Satya Lencana South Sumatera Region /Kanwil Dinkes Sumsel
Karya Sosial dari Presiden RI atas prestasi sebagai (2002-2003), Konsultan STAR-H Kes Repro Kanwil
relawan tsunami Aceh tahun 2005, Satya Lencana BKKBN Sumsel (2002-2005), menjabat sebagai
Karya Bakti ke-X dan ke-XX dari Presiden RI (2007 & Direktur Utama RS Kusta Dr. Rivai Abdullah Palembang
2010) dan memperoleh predikat sebagai Peserta (2005-2008) sekaligus Dirut Medik RS M Hoesin
terbaik Diklatpim TK.II (2006) dan TK.I Angkatan Palembang (2007-2008). Beliau menjabat sebagai
XX/2010, LAN RI, Peserta terbaik calon Penatar P4 Direktur Utama RSUP Dr. Moh Husein Palembang
Tingkat Nasional dari Menpora & BP7, ASEAN Best (2008-2010) dan Direktur Utama RSUP Dr. Hasan
Executive Award IHRDP, Family Role Model Award Sadikin Bandung (2010-2014) sampai pada akhirnya
IHRDP, Indonesian Leader Achivement Award dari beliau dilantik sebagai Direktur Hukum, Komunikasi
YAY, Llama Award dari Berkeley University of California, dan HAL BPJS Kesehatan pada tanggal 23 Februari
USA, dan banyak lagi penghargaan lainnya. Selain 2016.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 11
dr. R. Maya Amiarny Rusady, M.Kes, AAK

Lahir di Bandung pada tanggal 10 Mei 1962. Regional XI (Bali, NTB, NTT), Kepala Divisi Pemasaran
Menyelesaikan pendidikan Sarjana di Fakultas (2008), Corporate Secretary (2008), Kepala Grup
Kedokteran Trisakti, Jakarta dan melanjutkan Manajemen Manfaat (2009-2013), kemudian beliau
pendidikan Program S2 Fakultas Kesehatan dipercaya sebagai Sekretaris BPJS Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia, Jurusan Ekonomi (2013-2014), lalu menjadi Kepala Pusdiklat BPJS
Kesehatan dan Asuransi Kesehatan, selanjutnya Kesehatan (2014-2015) kemudian menjabat sebagai
meraih Gelar Ahli Asuransi Kesehatan (AAK), dan Kepala Divisi Regional VI BPJS Kesehatan sampai
saat ini sebagai Kandidat Doktor Program Ilmu akhirnya berdasarkan Surat Keputusan Presiden
Kesehatan Masyarakat Univertas Indonesia. Nomor 24/P Tahun 2016 tentang Pengangkatan
Dewan Pengawas dan Direksi Badan Penyelenggara
Memiliki pengalaman yang sangat luar biasa, Jaminan Sosial Kesehatan Masa Jabatan Tahun
dengan mengikuti berbagai pelatihan–pelatihan di 2016-2021 beliau di lantik sebagai Direktur Pelayanan
dalam dan luar negeri beliau mengawali karir di PT BPJS Kesehatan.
Askes (Persero) pada tahun 2007 sebagai Kepala

12 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
ANDAYANI BUDI LESTARI,
SE. MM. AAK

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 26 Februari 1960. Cabang


Menyelesaikan pendidikan sarjana Ekonomi dan Studi U t a m a
Pembangunan di Universitas terbuka (1991) dan Yogyakarta, lalu
melanjutkan ke program Pascasarjana di Universitas dipercaya menjabat
Atmajaya Yogyakarta (2000). Beliau juga memiliki beberapa sebagai Kepala PT Askes
gelar profesi diantaranya gelar Ahli Asuransi Kesehatan. (Persero) Cabang Pasuruan
(2001-2005), kemudian Kepala
Beliau terbilang aktif didalam organisasi dan beberapa Bidang Pemasaran Regional VII
kali di percaya sebagai pembicara baik di dalam dan Jawa Timur (2005-2006), Kepala PT
di luar negeri diantaranya adalah sebagai pembicara Askes (Persero) Kantor Cabang Utama
“Membership Development” di Manila (2014). Beliau Yogyakarta (2006-2007), Kepala PT Askes
juga banyak mengikuti pelatihan–pelatihan di luar (Persero) Cabang Utama Jakarta Pusat (2007-
negeri seperti yang baru–baru diikuti adalah pelatihan 2008), Kepala PT Askes (Persero) Regional IV wilayah
ASEAN Global Leadership Programme di London DKI Jakarta, Banten dan Kalimantan Barat (Februari
Business School, London (2016). 2008–Juni 2008), Kepala Divisi Askes Komersial PT
Askes (Persero) (2008–2009), Kepala Grup Kepesertaan
Mengawali karir sebagai penanggung jawab PBF PT dan Pemasaran PT Askes (Persero) (2009–2013),
Mulya Wibawa Yogyakarta pada tahun 1980. Selanjutnya Kepala Divisi Regional VI wilayah Jawa Tengah dan
pada tahun 1985 beliau menjabat sebagai Kepala DIY (2013–2014), Kepala BPJS Kesehatan Divisi
Cabang PBF PT Rexa Dhatina dan pada tahun 1987 Regional VI Jawa Tengah dan DIY (2014–2015) , sampai
menjabat sebagai Direktur CV Sinar Satya Abadi akhirnya beliau memasuki masa pensiun (2015) lalu
Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1989 beliau kembali ke BPJS Kesehatan dan terhitung mulai
bergabung dengan PT Askes (Persero) dengan menjabat tanggal 23 Februari 2016 beliau dipercaya menjadi
Pelaksana dan Kepala Seksi Pemasaran di Kantor Direktur Kepesertaan dan Pemasaran.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 13
Mira Anggraini, S.Si, MM

Lahir di Ujung Pandang, 7 Serang dengan wilayah kerja meliputi Kota Serang,
Desember 1969, menyelesaikan Provinsi Lampung, Provinsi Kalbar (2014–2016).
pendidikan S1 Statistika Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Istri dari Dr. dr. Basuni Radi, Sp.JP dan Ibu dari 3
(FMIPA) Universitas Padjajaran Bandung (tiga) orang ini, memiliki pemikiran, tindakan, serta
dan menyelesaikan pendidikan S2 Magister kepedulian terhadap keluarga yang sangat besar.
Manajemen Program Studi Manajemen Aktuaria Dalam menjalankan perannya sebagai wanita karir
di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. beliau tetap mengutamakan work life balance yang
menurut beliau sangat penting karena dapat
Pada tahun 2013 beliau dipercaya untuk menjadi meningkatkan energi positif untuk mendorong
Ketua Project Management Office Transformasi semangat di tempat kerja dan kebahagiaan keluarga.
PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. Selaku Direktur yang mengelola sumber daya
Kemudian pada tahun 2013-2014 beliau dipercaya manusia, profesionalisme kerja yang ditunjukkan
untuk menjabat Kepala Grup Manajemen Perubahan melalui kompetensi dan perilaku menjadi tuntutan
BPJS Kesehatan. Selain berkarir di wilayah kerja beliau dalam membangun Duta BPJS Kesehatan
Kantor Pusat, beliau juga pernah menjabat sebagai sebagai talenta berkinerja unggul yang dapat
Kepala Divisi Regional XIII BPJS Kesehatan di Kota diandalkan.

14 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Dr. Ir. WAHYUDDIN BAGENDA, MM

Lahir di Palopo pada tanggal 10 Desember 1961. Karya Satya 10 tahun yang diberikan
Menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Elektro di langsung oleh Presiden RI.
Universitas Hasanuddin, Makassar (1986), lalu
melanjutkan pendidikan S2 Magister Manajemen di Mengawali karir di Lembaga Ilmu
Universitas Padjajaran, Bandung (2013), kemudian Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Peneliti
menyelesaikan pendidikan S3 Doktor Ilmu Manajemen Bidang Telekomunikasi dan Microwave, kemudian
Bisnis di Universitas Padjajaran, Bandung (2016). beliau bergabung di PT Len Industri (Persero) pada
tahun 1990 pada bagian Penjualan dan menempati
Beliau memiliki banyak pengalaman organisasi diantaranya berbagai jabatan strategis di PT Len Industri (Persero)
adalah Ketua Bidang Pengembangan Produk Dalam Negri, dan pada tahun 2002–2007 beliau menjadi Direktur
PII BKE (2011–2012), Ketua Asosiasi Pabrikan Solar Modul Pemasaran PT Len Industri (Persero) hingga menjadi
Indonesia ( 2011–Agustus 2012) dan Ketua Himpunan Direktur Utama PT Len Industri (Persero) pada tahun
Mahasiswa Elektro Universitas Hasanuddin (1982–1983). 2007–2012. Beliau bergabung dan menjabat sebagai
Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan pada
Selain aktif di berbagai organisasi, beliau juga aktif mengikuti tahun 2014–2016, dan pada tanggal 23 Februari 2016
pelatihan–pelatihan dan memperoleh beberapa beliau di lantik menjadi Direktur Teknologi Informasi
penghargaan diantaranya adalah penghargaan Satyalancana BPJS Kesehatan.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 15
PROFIL DEWAN
PENGAWAS

dr. Chairul Radjab Nasution,


Sp.PD, KGEH, FINASIM,
FACP, M.Kes
beliau juga pernah
menjabat sebagai
Direktur Bina Upaya
Kesehatan Rujukan
Kementerian Kesehatan,
Staf Ahli Menteri Kesehatan
Bidang Teknologi Kesehatan
dan Globalisasi dan Plt Direktur
Jenderal Bina Upaya Kesehatan,
Kementerian Kesehatan. Sampai
akhirnya pada tanggal 23 Februari 2016
dipercayakan oleh Presiden Republik
Indonesia, Bapak Joko Widodo, sebagai
Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan
periode 2016-2021 dari unsur Pemerintah.

Di sela-sela kesibukan bekerjanya, seorang bapak 3 anak


ini juga aktif dalam organisasi yang diikutinya, antara lain
turut bergabung sebagai Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Jakarta Selatan, Wakil Ketua Persatuan Ahli Penyakit
Dalam Indonesia Cabang Jakarta, Ketua Indonesian
Association for The Study of The Liver (InaASL) Cabang
Jakarta, Ketua Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia
Cabang Jakarta, Ketua Perkumpulan Digestive-Endoscopy
Indonesia Cabang Jakarta, Wakil Ketua PB PDMMI
Lahir di Medan,
(Persatuan Dokter Manajemen Medis Indonesia), Sekretaris
22 Februari 1957,
Jenderal Pengurus Besar Persatuan Ahli Penyakit Dalam
merupakan Dokter
Indonesia (PB. PAPDI), Ketua I Pengurus Besar Persatuan
Spesialis Penyakit Dalam
Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PB. PAPDI) dan Dewan
lulusan Fakultas Kedokteran
Pertimbangan Pengurus Besar (PB. PAPDI).
Universitas Indonesia tahun
1991 yang dikenal luas sebagai
Pada tahun 2010 saat penugasan ke luar negeri, beliau
birokrat karir yang memiliki
dipercayakan menjadi Koordinator Tim Kesehatan Haji
pengalaman panjang dalam manajemen
Indonesia di Arab Saudi. Demi menunjang karirnya,
kesehatan. Menjadi seorang dokter adalah
beliau juga tertarik untuk mengikuti pelatihan penjenjangan,
cita-cita beliau dari sejak SMP Kelas 1. Pada
antara lain SPAMA Lembaga Penyelenggara Kementerian
tahun 2001 di Australia, beliau melanjutkan
Kesehatan Jakarta (1997) dan Diklat PIM TK. II Lembaga
pendidikan Health Services Management di Royal
Administrasi Negara Jakarta (2013).
Melbourne Institute of Technology. Pada tahun 2008
juga melanjutkan pendidikan Magister Manajemen
Berkat kegigihan dan dedikasi yang tinggi terhadap ilmu
Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
pengetahuan serta pekerjaannya, beliau juga banyak
Gajah Mada Yogyakarta.
memperoleh penghargaan. Pada tahun 1997, beliau
memperoleh penghargaan sebagai Peringkat Pertama
Beliau mengawali karirnya sebagai Dokter Spesialis
Diklat SPAMA oleh Kementerian Kesehatan. Beberapa
Penyakit Dalam RSUP Fatmawati Jakarta tahun 1992.
tahun kemudian memperoleh Wing Kehormatan Parkespra
Kemudian pada tahun 1996, menjabat sebagai Kepala
oleh Perhimpunan Kesehatan Penerbang dan Antariksa
Bagian Sekretariat RSUP Fatmawati Jakarta. Beberapa
Indonesia (2012). Satu tahun kemudian, tepatnya tahun
tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2005-2007 di
2013, memperoleh Peringkat Kedua Diklat PIM TK. II
instansi yang sama, beliau menjalankan profesinya
Angkatan XXXVII oleh Lembaga Administrasi Negara,
sebagai Direktur Medik dan Keperawatan. Menyebrang
serta memperoleh penghargaan sebagai Pegawai
ke pulau Sumatera pada tahun 2008, beliau dipercayakan
Berprestasi dan Berdedikasi atas Kinerja Baik serta
menjabat sebagai Direktur Utama RSUD Djamil Padang
Integritas, Loyalitas, Moralitas dan Dedikasi terhadap
dan pada tahun 2008-2011 juga dipercayakan menjabat
Institusi oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia
sebagai Direktur Utama di RSUP Fatmawati Jakarta
(Kep. Menkes RI Nomor: KP.04.02/MENKES/386/2014).
serta Direktur RS Haji Jakarta. Tidak hanya sampai disitu,

16 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Dra. Sri Hartati, MBA

Lahir di Tulungagung 23 Agustus 1956, merupakan


lulusan Master Of Business Administration, Saint
Mary’s University Canada. Memulai karir di Kementerian
Keuangan sejak tahun 1977. Terlibat dalam upaya
reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan di
Lingkungan Kementerian Keuangan, khususnya dalam
mengembangkan teknologi informasi. Beliau menjabat
sebagai Kepala Pusat Sistem Informasi dan Teknologi
Keuangan, di Kementerian Keuangan. Atas loyalitas
dan pengabdiannya beliau mendapatkan Penghargaan
Satyalancana dari Presiden Republik Indonesia pada
tahun 1998 dan 2010. Sampai akhirnya pada tanggal
23 Februari 2016 beliau dilantik oleh Presiden Republik
Indonesia, Bapak Joko Widodo menjadi Anggota
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan periode 2016-2021
dari unsur Pemerintah.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 17
Michael Johannis Latuwael, S.Sos

Lahir di Bandung pada tanggal 06 November 1975,


merupakan lulusan FISIP Universitas Hasanuddin
pada tahun 1999. Sebagai perwakilan unsur pekerja,
beliau aktif sebagai pengurus FSPMI dan sejak lama
dikenal melalui pengalamannya dalam mengadvokasi
kasus-kasus pasien di Rumah Sakit. Aktif terlibat
Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) dan turut dalam
mendorong terwujudnya Undang-Undang Nomor 24
tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (UU BPJS). Sampai akhirnya pada tanggal 23
Februari 2016 beliau dilantik oleh Presiden Republik
Indonesia, Bapak Joko Widodo menjadi Anggota
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan periode 2016-2021
dari unsur Pekerja.

18 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Roni Febrianto, S.T

Lahir di Jakarta pada


tanggal 20 Februari
1969, Mengawali karir
sebagai Leader Quality
Assurance di Panasonic
(PT Kotabuki Elektronik
Indonesia) tahun 1991 dan
pernah terpilih sebagai pekerja
teladan tahun 1993. Posisi terakhir di
perusahaan adalah Senior Supervisor.
Memulai karir di Organisasi Serikat Pekerja
sebagai Sekretaris Pimpinan Unit Kerja (PUK)
PT PHCI 4 Periode, yaitu tahun 2001-2004; 2004-
2007; 2010-2013; 2013-2016. Kemudian menjadi Ketua
PUK SPEE FSPMI PT PHCI tahun 2007-2010. Setelah itu
menjadi Ketua Forum Serikat Pekerja Panasonic Gobel
(FSPM-G) tahun 2002-2007; 2007-2012; dan 2012-2014.
Selanjutnya, Wakil Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi
Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Elektronik Electrik–FSPMI tahun
2006-2011. Dilanjutkan di Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi
Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) tahun 2010-2014, pada
tahun 2011-2016 menjadi Wakil Presiden Bidang Informasi,
Komunikasi, dan Pendidikan Dewan Pimpinan Pusat FSPMI.
Selanjutnya menjadi Kepala Departement Informasi dan
Komunikasi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tahun
2012 - 2015 dan terakhir menjabat sebagai Ketua Bidang Infokom
Jamkeswatch tahun 2014-2015.
Peru; World Social Forum Migran,
Selain aktif di Organisasi beliau juga sangat aktif mengikuti 2012, Manila, Philipina; 6th KCTU
Pelatihan, Seminar, dan Workshop baik di dalam maupun di luar Leadership Education and Exchange
negeri. Dalam negeri adalah Seminar Ketenagakerjaan, “Kep Course in Asia, 2013, Seoul, Korea Selatan;
Men 150 tahun 2000”, 2001, Departemen Tenaga Kerja dan International Colloquium on Building an
Transmigrasi; Emerging Trade Union Leader Course, 2002, ILO, Altenative Development Paradigm in a Changing
Jakarta; Indonesia Trade Union Leadership Training, Bali, 2005, Global Political Economic Context, 2013, Johanesburg,
ILO Jakarta; Seminar Ilmiah “Pemberantasan Korupsi terhadap Afrika Selatan; Worker’s Symposium on Incoming Inequality
Pengentasan Kemiskinan.” 2006, Jakarta; Expert Meeting on Labor Market Institution and Worker’s Power, 2013, Genewa,
Social Security and Social Protection Floor; Learing from Regional ILO–Swiss; G-20 E-Learning Course in Social Protection, 2014,
Experience, 2011, ILO Jakarta; Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Turin Italia; Academy on National Tropartit Social Dialoque 2014
bagi Kalangan Multikultur, Lembaga Ketahanan Nasional–RI, Turin Italia; International Labor Congress–104 Session, 2015,
2015. Pelatihan di bidang Quality ISO 9001; 2000 Internal Quality Genewa–Switzerland; 10th Ministrial Conference WTO 2015 di
Audit QMS System “Understanding & Documentation” 2003; Nairobi, Kenya. World Social Security Forum ISSA
ISO 9001; 2000 Quality Management System “Understanding ke 32 2016, Panama.
& Documentation” 2005 Jakarta; Customer Statisfaction Survey
& Workshop ISO-9001; 2000, 2003 Jakarta. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24/P Tahun 2016
tentang Pengangkatan Dewan Pengawas dan Direksi Badan
Sedangkan untuk pelatihan di Luar Negeri adalah 21th Staturoy Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Masa Jabatan Tahun
Congress of the Finnish Metal Workers Union, 2012, Helsinki, 2016-2021 beliau di lantik menjadi Anggota Dewan Pengawas
Finlandia; Civil Sociaty Input into Economic Policy, 2012, Lima, BPJS Kesehatan dari unsur Pekerja.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 19
dr. Misbahul Munir, MKK

tahun 1995-1997 kembali


menjalankan profesinya sebagai
Dokter Klinik Perusahaan di PT
Nikomas, Serang/JPK Jamsostek. Selang
satu tahun yakni pada tahun 1998-2002
beliau menjabat sebagai Remote Area Doctor/
Rotating di International SOS, Jakarta. Pada instansi
yang sama, tahun 2002-2004 beliau dipercayakan
sebagai Coordinator Doctor/Alarm Center yang banyak
bertugas mengatur pelayanan emergency evakuasi
skala nasional dan internasional.

Tertarik untuk mendalami pelayanan kesehatan


keluarga, beliau bergabung sebagai Family Doctor di
Klinik Medika Loka Jakarta, tahun 2004-2005. Secara
bersamaan, beliau merintis layanan kesehatan mandiri
dengan menjabat sebagai Direktur Utama PT Sera
Omega Sera Indonesia sampai tahun 2009. Perhatian
terhadap kesehatan pekerja dijalani melalui profesi
sebagai Occupational Health Doctor di PT KMK Global
Sport Tangerang tahun 2006-2015. Di sela-sela waktu
beliau juga menjadi Konsultan Kesehatan Kerja di
Lahir di Gresik, 10 November 1964, merupakan beberapa perusahaan di Wilayah Karawang, dan
lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Jepara.
Malang dan Program Magister Kedokteran Kerja FK
UI. Bapak dari 3 orang anak ini merupakan seorang Pada saat beliau bekerja sebagai dokter perusahaan,
dokter yang dikenal sangat berdedikasi dalam beliau turut serta memberikan sumbangsih dalam
meningkatkan kesehatan para pekerja di lingkungan penyusunan buku Pedoman Kebugaran di Perusahaan
industri. Sebagai dokter perusahaan, beliau terlibat yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan
dalam banyak kajian tentang upaya menyehatkan Indonesia. Selanjutnya beliau menjalani karir mandiri
masyarakat khususnya para pekerja. Hal ini yang sebagai Komisaris CV Jaya Omega tahun 2011-2015.
mengantarkan beliau kepada kelompok kajian tentang Sampai akhirnya di tahun 2016 beliau dipercayakan
Jaminan Kesehatan di DPN-APINDO. oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi
untuk menjabat sebagai Anggota Dewan Pengawas
Beliau mengawali karirnya sebagai Dokter Umum, BPJS Kesehatan Indonesia dari unsur Pemberi Kerja.
Dokter PTT di Sumatera Utara (1992). Kemudian pada

20 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Drs. La Tunreng, MM
Lahir di Sidrap, 6 Juli 1966, merupakan lulusan S1
Universitas Negeri Makassar dan S2 Universitas
Hasanudin. Beliau dikenal kiprahnya sebagai Pengusaha
bidang property dan eksport import mulai dari tahun
1989 hingga 2015 dan menjadi Ketua DPP HIPPI
(Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) Sulawesi
Selatan dari tahun 2000–2010 dan menjadi Asosiasi
Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Selatan
sejak tahun 2007 hingga saat ini. Wakil Ketua Kadin
dan Dewan Penasehat DPD REI Sulawesi Selatan
serta aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial
kemasyarakatan baik di tingkat daerah maupun nasional.
Kiprahnya dalam dunia usaha telah dikenal luas dan
turut mendorongnya menjadi salah seorang Anggota
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan periode 2016-2021
mewakili unsur Pemberi Kerja.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 21
Karun, Ak. CA. CFrA. ME

Lahir di Banjarmasin pada tanggal 4 Juli kemudian Jabatan terakhir yang diemban beliau adalah
1958 merupakan seorang Auditor yang sebagai Inspektur Jenderal di Kementerian Sosial
berkarier cemerlang. Sebelum menjabat (2011–2016). Pengalaman organisasi beliau terus
anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, berlanjut pada tahun 2007–2010 sebagai Wakil
beliau mengawali kariernya di Kantor Akuntan Negara– Bendahara di Forbes Pengawasan, Jakarta.
Ditjen PKN Dep Keuangan sebagai anggota Tim
Auditor (1980–1983) kemudian di BPKP sebagai Bapak 5 orang anak ini dengan komitmen loyalitas
Auditor diberbagai bidang (1986–2007), disela-sela dalam bekerja sehingga mendapatkan penghargaan
kesibukannya beliau masih diberikan amanat untuk Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI pada tahun
menjadi Bendahara di KORPRI BPKP SUMBAR, 1996, 2001 dan 2011. Hingga akhirnya pada Tahun
Padang pada tahun 1990 sampai dengan tahun 1993, 2016 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24/P
selain itu beliau juga menjadi Anggota di Ikatan Tahun 2016 tentang Pengangkatan Dewan Pengawas
Akuntan Indonesia, Padang pada tahun 1989 hingga dan Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
tahun 1997 Karena kegigihan dan dedikasinya yang Kesehatan Masa Jabatan Tahun 2016-2021 beliau
sangat baik, beliau dipercayakan oleh Kementerian dilantik menjadi Anggota Dewan Pengawas dari unsur
Perumahan Rakyat sebagai Inspektur (2007–2010) Tokoh Masyarakat BPJS Kesehatan.

22 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
RIWAYAT SINGKAT BPJS KESEHATAN

2014
1992
1984 PERIODE BPJS KESEHATAN
2014- Sekarang

1968 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004


Undang-Undang Nomor 24 tahun 2011
Peserta: Peserta Askes, Jamkesda,
TNI/POLRI, Jamsostek dan seluruh
masyarakat
PERIODE PERUM HUSADA BHAKTI
1984-1992
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1984
Peserta: PNS dan Penerima Pensiunan Veteran,
Pensiunan TNI/POLRI dan Pejabat Negara
Sistem: Managed Care
Cost Containment System
(Kapitasi, DPHO dan Tarif Paket)

PERIODE BPDPK 1968-1984 PERIODE PT ASKES (PERSERO)


Keputusan Presiden Nomor 230 Tahun 1968 1992-2013
Peserta: PNS dan Penerima Pensiunan Veteran Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991
beserta anggota keluarga Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992
Sistem: Reimbursement Peserta: PNS dan Penerima Pensiunan Veteran,
Cikal bakal Asuransi Kesehatan Nasional Pensiunan TNI/POLRI dan Badan Usaha lainnya
Kartu Health Insurance Sistem: Managed Care
Pilot project pengembangan asuransi kepada Health Insurance Specialist
masyarakat luas

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 23
IDENTITAS BPJS KESEHATAN
Nama Institusi : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan
Dasar Hukum : 1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.

Alamat Perusahaan
a. Alamat Lengkap : Jl. Letjend Suprapto Kav. 20 No.14 Cempaka Putih
b. Status Pemilikan Gedung : Milik Sendiri
c. Sandi Lokasi : 31.71
d. Nama Kota : Jakarta Pusat
e. Kode Pos : 10510

Telepon dan Faksimili


a. Telepon : (021) 4212938
b. Faksimili : (021) 4212940

Website : http://bpjs-kesehatan.go.id

Jumlah Kantor
a. Jumlah Kantor Kedeputian Wilayah : 13
b. Jumlah Kantor Cabang : 127
c. Jumlah Kantor Kabupaten/Kota : 388

Direksi dan Dewan Pengawas


a. Jumlah Direksi : 8
b. Jumlah Dewan Pengawas : 7

Jumlah Pegawai
a. Kantor Pusat : 548
b. Kantor Kedeputian Wilayah : 330
c. Kantor Cabang dan Kantor Kabupaten/Kota : 6.312
d. Total : 7.190

Nama Aktuaris : Ocke Kurniadi, M.Si, FSAI, AAAIJ

Care Center : 1-500-400


Contact Center : Facebook: BPJS Kesehatan
Twitter: @BPJSKesehatanRI
Youtube: BPJS Kesehatan
Kompasiana: infobpjskesehatan
Kaskus: bpjskesehatan
Instagram: bpjskesehatan_ri

24 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
NAMA DAN ALAMAT LEMBAGA PROFESI/JASA
PENUNJANG BPJS KESEHATAN
No. Lembaga Profesi Nama Lembaga Alamat
1 Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris Intiland Tower lantai 7
Jl. Jenderal Sudirman, Kav. 32
Jakarta Pusat 10220
Telp : (62-21) 570-8111
Fax : (62-21) 5722-737
2 Bank Kustodian Mandiri Plaza Mandiri
Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 36-38,
Jakarta 12190 - Indonesia
Telp : (62-21) 526-5045
Fax : (62-21) 527-4477, 527-5577
Website: www.bankmandiri.co.id
BRI Gedung BRI 1
Jl. Jenderal Sudirman Kav.44-46,
Jakarta 10210
Telp : (62-21) 251-0244, 251-0254
Fax : (62-21) 250-0077
Website: www.bri.co.id
BNI BNI Building
Jl. Jenderal Sudirman Kav.1,
Jakarta 10220
Telp : (62-21) 251-1946, 572-8387
Fax : (62-21) 572-8805
Website: www.bni.co.id
BTN Menara Bank BTN
Jl. Gajah Mada No.1 Jakarta 10130
Telp : (62-21) 6336789
Fax : (62-21) 6336719
Website: www.btn.co.id
3 Aktuaris Eksternal PT Sigma Prima Solusindo Wisma Laena Suite 204
Jl. KH Abdullah Syafei no.7 Casablanca,
Tebet Jakarta Selatan 12860
Telp : (62-21) 835 6657
Fax : (62-61) 8379 6277
Website: www.sigma-act.com
PT Padma Radya Aktuaria Plaza Asia 21st Floor Zone B
Jl. Jend Sudirman Kav. 59 Jakarta 12190
Telp : (62-21) 5155787
Fax : (62-21) 5155880
Website: www.padmaaktuaria.com
PT Bestama Aktuaria Gd. Menara 165 Lt 21 Unit D2
Jl. TB Simatupang Kav. 1 Cilandak Timur,
Pasar Minggu, Jakarta
Telp : (62-21) 29407161
Fax : (62-21) 29407160
Website: www.bestama.co.id

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 25
JARINGAN KANTOR

01 01
0101

0202
0808
0303

04 04 0707
0404 07 07
0606
1111

1313

0505

01 Kedeputian Wilayah Sumatera Utara 04 Kedeputian Wilayah DKI Jakarta, Bogor,


dan DI Aceh (Kepwil Sutac) Depok, Tangerang, dan Bekasi
(Kepwil Jabodetabek)

02 Kedeputian Wilayah Riau, Kepulauan Riau, 05 Kedeputian Wilayah Jawa Barat


Sumatera Barat, dan Jambi (Kepwil Jabar)
(Kepwil Sumbagteng Jambi)
06 Kedeputian Wilayah Jawa Tengah dan
DI Yogyakarta (Kepwil Jateng DIY)
03 Kedeputian Wilayah Sumatera Selatan,
Kepulauan Bangka Belitung, dan Bengkulu
(Kepwil Sumsel Babel Beng) 07 Kedeputian Wilayah Jawa Timur
(Kepwil Jatim)

26 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
10

12

09

08 Kedeputian Wilayah Kalimantan Timur, 11 Kedeputian Wilayah Bali, Nusa Tenggara


Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Timur, dan Nusa Tenggara Barat
dan Kalimantan Utara (Kepwil Bali Nusra)
(Kepwil Kaltimtengseltara)

09 Kedeputian Wilayah Sulawesi selatan, 12 Kedeputian Wilayah Papua dan


Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat (Kepwil Papabar)
Maluku (Kepwil Sulselbartramal)

10 Kedeputian Wilayah Sulawesi Utara, 13 Kedeputian Wilayah Banten, Kalimantan


Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Maluku Barat, dan Lampung (Kepwil Bakalbalam)
Utara (Kepwil Sulutenggomalut)

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 27
PROGRAM BPJS
KESEHATAN JKN-KIS
LANDASAN HUKUM BPJS KESEHATAN 5. Akuntabilitas
1. Undang-Undang Dasar 1945. 6. Portabilitas
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang 7. Kepesertaan bersifat wajib
Sistem Jaminan Sosial Nasional. 8. Dana amanat
3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang 9. Hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan
4. Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2013 program dan untuk sebesar-besar kepentingan
Tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Peserta.
Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara
Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, PESERTA
Pekerja, dan Penerima Bantuan Iuran Dalam Peserta sebagaimana Undang-Undang Nomor 24
Penyelenggaraan Jaminan Sosial. Tahun 2011 dan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun
5. Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden
tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan adalah setiap orang, termasuk orang asing yang
Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2015 bekerja paling singkat 6 bulan di Indonesia, yang telah
tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah membayar iuran. Kelompok Peserta meliputi:
Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Aset 1. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
Jaminan Sosial Kesehatan. (PBI): fakir miskin dan orang tidak mampu, dengan
6. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang penetapan peserta sesuai ketentuan peraturan
Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah perundang- undangan.
beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Presiden 2. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
Nomor 28 Tahun 2016 tentang Perubahan Ketiga (Non PBI), terdiri dari:
Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 a. Pekerja Penerima Upah dan anggota
tentang Jaminan Kesehatan. keluarganya.
7. Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2013 tentang 1) Pegawai Negeri Sipil.
Bentuk dan Isi Laporan Pengelolaan Program 2) Anggota TNI.
Jaminan Sosial. 3) Anggota Polri.
4) Pejabat Negara.
BPJS Kesehatan menyelenggarakan sistem jaminan 5) Pimpinan dan Anggota Dewan
sosial nasional berdasarkan asas: Perwakilan Rakyat Daerah.
1. Kemanusiaan. 6) Pegawai Pemerintah non Pegawai
2. Manfaat. Negeri.
3. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 7) Pegawai Swasta.
8) Pekerja yang tidak termasuk angka (1
BPJS Kesehatan menyelenggarakan sistem jaminan s.d. 7) yang menerima upah.
sosial nasional berdasarkan prinsip: Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia
1. Kegotongroyongan. paling singkat 6 bulan dan didaftarkan oleh
2. Nirlaba. masing-masing Pemberi Kerja.
3. Keterbukaan.
4. Kehati-hatian.

28 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
b. Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota ANGGOTA KELUARGA YANG DITANGGUNG
keluarganya. 1. Pekerja Penerima Upah:
1) Pekerja di luar hubungan kerja atau a. PPU dan anggota keluarganya meliputi
Pekerja mandiri. Pekerja Penerima Upah, istri/suami yang
2) Pekerja yang tidak termasuk huruf a. sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan
yang bukan penerima upah. yang sah dan anak angkat yang sah sebanyak-
Termasuk WNA yang bekerja di banyaknya 5 orang.
Indonesia paling singkat 6 bulan yang b. Anak kandung, anak tiri dari perkawinan
mendaftarkan dirinya dan anggota yang sah, dan anak angkat yang sah, dengan
keluarganya secara sendiri-sendiri atau kriteria:
kolektif sebagai Peserta Jaminan 1) Tidak atau belum pernah menikah atau
Kesehatan pada BPJS Kesehatan tidak mempunyai penghasilan sendiri.
dengan membayar iuran. 2) Belum berusia 21 tahun atau belum
c. Bukan pekerja dan anggota keluarganya. berusia 25 tahun yang masih melanjutkan
1) Investor. pendidikan formal.
2) Pemberi Kerja. 2. Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan dapat
3) Penerima Pensiun, terdiri dari: mengikutsertakan anggota keluarga yang lain
a) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti (keluarga tambahan) meliputi anak ke 4 dan
dengan hak pensiun seterusnya, ayah, ibu, dan mertua.
b) Anggota TNI dan Anggota Polri
yang berhenti dengan hak pensiun MANFAAT
c) Pejabat Negara yang berhenti Mengacu pada landasan hukum pendirian, program
dengan hak pensiun. BPJS Kesehatan yang merupakan program pemberian
d) Janda, duda, atau anak yatim piatu manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjamin:
dari penerima pensiun sebagaimana 1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu
dimaksud huruf a), b), c) yang pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup:
mendapat hak pensiun. a. Administrasi pelayanan.
e) Penerima pensiun lain. b. Pelayanan promotif dan preventif.
f) Janda, duda, atau anak yatim piatu c. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi
dari penerima pensiun lain medis.
sebagaimana dimaksud huruf e) d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif
yang mendapat hak pensiun. maupun non operatif.
4) Veteran. e. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
5) Perintis Kemerdekaan. f. Pemeriksaan penunjang diagnosis
6) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari laboratorium tingkat pertama.
Veteran atau Perintis Kemerdekaan. g. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi.
7) Bukan Pekerja yang tidak termasuk
angka 1) sampai dengan 6) yang mampu
membayar iuran.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 29
Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama
- RJTP
- RITP

1. S IDEN
2.
UR TITA
RU

AT
A
IAS

RU S PES
UK
NB

JU ER
ALUR

BA

KA TA
GA

N
IK
UN

PELAYANAN
NJ
KU

KESEHATAN
IDENTI
TAS
PESERT
A

Fasilitas Kesehatan
Tingkat Lanjut
DARURAT - RJTL
- RITL

2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, SISTEM PEMBAYARAN


yaitu pelayanan kesehatan mencakup: Mengacu pada landasan hukum pelaksanaan program,
a. Administrasi pelayanan. sistem dan mekanisme pembayaran fasilitas kesehatan
b. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi pada FKTP terdiri dari:
medis dasar. 1. Kapitasi.
c. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi 2. Non Kapitasi.
spesialistik. Dalam rangka upaya peningkatan mutu dan kualitas
d. Tindakan medis spesialistik, baik bedah pelayanan kesehatan oleh FKTP maka sesuai amanat
maupun non bedah sesuai dengan indikasi regulasi, BPJS Kesehatan mengembangkan penilaian
medis. indikator kinerja FKTP melalui Sistem Pembayaran
e. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai Kapitasi berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan
f. Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan (KBK).
sesuai dengan indikasi medis.
g. Rehabilitasi medis. BPJS Kesehatan melakukan pembayaran klaim
h. Pelayanan darah. berdasarkan tarif INA-CBG dan tarif non INA-CBG
i. Pelayanan kedokteran forensik klinik. kepada FKRTL.
j. Pelayanan jenazah pada pasien yang 1. Tarif INA-CBG meliputi:
meninggal di fasilitas kesehatan. a. Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL).
k, Pelayanan keluarga berencana. b. Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL).
l. Perawatan inap non intensif. 2. Tarif Non INA-CBG meliputi:
m. Perawatan inap di ruang intensif. a. Obat untuk penyakit kronis dan obat
kemoterapi.

30 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
b. Alat bantu kesehatan. IURAN
c. Pelayanan ambulan. 1. Bagi peserta Penerima Bantun Iuran (PBI) Jaminan
d. Continuous Ambulatory Peritonial Dialysis Kesehatan dan penduduk yang didaftarkan oleh
(CAPD). Pemerintah Daerah iuran dibayar oleh Pemerintah
e. Pelayanan Gawat Darurat. sebesar Rp23.000,- per orang per bulan.
2. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah
PENCEGAHAN KECURANGAN Penyelenggara Negara terdiri dari Pegawai Negeri
Mengacu pada landasan hukum pelaksanaan program Sipil, Anggota TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara,
dan dalam rangka menjaga sustainabilitas finansial pimpinan dan anggota DPRD, serta Pegawai
pelaksanaan JKN, BPJS Kesehatan mengembangkan Pemerintah Non Pegawai Negeri sebesar 5%
sistem pencegahan kecurangan pada lingkup di dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan
bawah ini: 3% dibayar oleh pemberi kerja dan 2% dibayar
1. Penerbitan Regulasi. oleh peserta.
Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 7 Tahun 2016 3. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang
tentang Sistem Pencegahan Kecurangan (Fraud) bekerja di BUMN, BUMD dan Badan Usaha
dalam Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan. Swasta sebesar 5% dari Gaji atau Upah per bulan
2. Monitoring Kecurangan. dengan ketentuan 4% dibayar oleh Pemberi Kerja
Membentuk Bidang Anti Fraud Pelayanan Primer dan 1% dibayar oleh Peserta, dengan batas
dan Rujukan. paling tinggi Gaji atau Upah per bulan yang
3. Pencegahan Kecurangan. digunakan sebagai dasar perhitungan besaran
a. Membentuk tim pencegahan kecurangan iuran sebesar Rp8.000.000,-.
internal (Tingkat Cabang, Kedeputian Wilayah 4. Iuran untuk keluarga tambahan Pekerja Penerima
dan Kantor Pusat) dan mendorong Upah yang terdiri dari anak ke-4 dan seterusnya,
pembentukan tim pencegahan kecurangan ayah, ibu dan mertua, besaran iuran sebesar
FKTP dan FKRTL. sebesar 1% dari dari gaji atau upah per orang
b. Sosialisasi pencegahan kecurangan internal per bulan, dibayar oleh Pekerja Penerima Upah.
dan eksternal. 5. Iuran bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah
c. Mencantumkan klausul pencegahan dan Bukan Pekerja adalah:
kecurangan pada kontrak kerja sama dengan a. Sebesar Rp25.500,- per orang per bulan
Fasilitas Kesehatan. dengan manfaat pelayanan di ruang
d. Otomasi bisnis proses (verifikasi digital). perawatan Kelas III.
e. Optimalisasi fungsi TKMKB, DPM, DPK. b. Sebesar Rp51.000,- per orang per bulan
4. Deteksi Kecurangan. dengan manfaat pelayanan di ruang
a. Mengembangkan sistem deteksi kecurangan perawatan Kelas II.
(Aplikasi BI menu red flag, Aplikasi Defrada). c. Sebesar Rp80.000,- per orang per bulan
b. Audit Klaim. dengan manfaat pelayanan di ruang
c. Analisis Data Utilization Review. perawatan Kelas I.
d. Supervisi dan monitoring implementasi
JKN.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 31
6. Iuran bagi Bukan Pekerja Penyelenggara Negara Perubahan terhadap data pendaftaran peserta PBI
diatur sebagai berikut: dapat dilakukan dengan penghapusan, penggantian
Bagi penerima pensiun PNS, TNI, Polri, Pejabat atau penambahan yang ditetapkan oleh Kementerian
Negara serta janda, duda atau anak yatim piatu Sosial dan didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan.
dari penerima pensiun sebesar 5% dari besaran Proses perubahan melalui verifikasi dan validasi
pensiun pokok dan tunjangan keluarga yang sebagaimana dimaksud dilakukan setiap saat dan
diterima per bulan, dengan ketentuan 3% dibayar penetapan dilakukan paling lama setiap 6 bulan
oleh Pemerintah dan 2% oleh penerima pensiun. berdasarkan SK Penetapan dari Kementerian Sosial
Bagi Veteran, Perintis Kemerdekaan, dan janda, dan pendaftaran dari Kementerian Kesehatan kepada
duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau BPJS Kesehatan.
Perintis Kemerdekaan, iurannya ditetapkan sebesar
5% dari 45% gaji pokok Pegawai Negeri Sipil Selain peserta PBI yang ditetapkan oleh Pemerintah
golongan ruang III/a dengan masa kerja 14 tahun Pusat, juga terdapat penduduk yang didaftarkan oleh
per bulan, dibayar oleh Pemerintah. Pemerintah Daerah berdasarkan SK Gubernur/Bupati/
7. Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 setiap Walikota bagi Pemda yang mengintegrasikan program
bulan. Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke program
JKN-KIS.

KETERLAMBATAN PEMBAYARAN IURAN Pendaftaran Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah/PPU


Sejak tanggal 1 Juli 2016, keterlambatan pembayaran Pendaftaran bagi peserta PPU Badan Usaha dapat dilakukan
iuran tidak dikenakan denda. Setelah dilakukan melalui:
pembayaran tunggakan iuran, kepesertaan langsung 1. Kantor Cabang BPJS Kesehatan.
aktif kembali. Namun apabila dalam waktu 45 hari a. Perusahaan/Badan Usaha mendaftarkan
sejak status kepesertaan diaktifkan kembali, peserta seluruh kar yawan beserta anggota
yang bersangkutan memperoleh pelayanan kesehatan keluarganya ke Kantor BPJS Kesehatan
rawat inap, maka dikenakan denda sebesar 2,5% dari dengan melampirkan Formulir Registrasi
biaya pelayanan kesehatan untuk setiap bulan Badan Usaha/ Badan Hukum Lainnya
tertunggak, dengan ketentuan: b. Perusahaan/Badan Usaha menerima:
1. Jumlah bulan tertunggak paling banyak 12 bulan. 1) Nomor Virtual Account (VA) untuk
2. Besar denda paling tinggi Rp30.000.000,-. pembayaran ke bank yang telah bekerja
sama.
2) Username dan password Aplikasi e-Dabu
PROSEDUR PENDAFTARAN PESERTA JKN-KIS untuk melakukan entri data kepesertaan
Pendaftaran Bagi Penerima Bantuan Iuran/PBI karyawan beserta anggota keluarga
Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak mampu pada laman https://new-edabu.bpjs-
dilakukan oleh lembaga yang menyelenggarakan kesehatan.go.id/new.
urusan Pemerintahan di bidang statistik (Badan Pusat c. Bukti pembayaran iuran diserahkan ke Kantor
Statistik) yang diverifikasi dan divalidasi oleh BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu
Kementerian Sosial dalam suatu Basis Data Terpadu. JKN-KIS atau mencetak e-ID secara mandiri
Pendaftaran fakir miskin dan orang tidak mampu oleh perusahaan/Badan Usaha melalui
sebagai Peserta PBI dilakukan oleh Kementerian Aplikasi e-Dabu.
Kesehatan ke BPJS Kesehatan berdasarkan data dari
Kementerian Sosial.

32 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
2. Website BPJS Kesehatan atau Perusahaan/Badan Usaha mencetak
a. Perusahaan/ Badan Usaha baru melakukan e-ID secara mandiri melalui Aplikasi e-Dabu.  
pendaftaran secara online melalui website/
laman BPJS Kesehatan dengan cara mengisi Pendaftaran bagi peserta PPU Penyelenggara Negara
Formulir Registrasi Badan Usaha elektronik Dapat dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara
yang tersedia secara lengkap dan benar. kolektif melalui Satuan Kerja yang dilakukan di Kantor
b. Perusahaan/Badan Usaha melakukan aktivasi Cabang BPJS Kesehatan, booth, maupun Mobile
melalui email dan menerima: Customer Service.
1) Virtual Account (VA), username dan
password Aplikasi e-Dabu. Pendaftaran Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah
2) Perusahaan/Badan Usaha melakukan Dan Bukan Pekerja (PBPU dan BP)
entri data kepesertaan karyawan beserta Pendaftaran PBPU dan BP dapat dilakukan melalui:
anggota keluarganya secara online 1. Kantor Cabang BPJS Kesehatan
melalui aplikasi yang disediakan oleh Pendaftaran peserta melalui Kantor Cabang dapat
BPJS Kesehatan (aplikasi e-Dabu) pada dilakukan dengan pelayanan cepat (fast track),
laman https://new-edabu.bpjs- dengan mekanisme pendaftaran:
kesehatan.go.id/new. a. Calon Peserta datang ke kantor cabang
c. Bukti pembayaran iuran disampaikan ke b. Calon peserta melengkapi persyaratan,
BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu sebagai berikut:
JKN-KIS dan dikirimkan kepada Badan Usaha 1) Asli/fotokopi KTP.
atau Perusahaan/Badan Usaha mencetak 2) Asli/fotokopi KK.
e-ID secara mandiri melalui Aplikasi e-Dabu. 3) Nomor HP.
3. Aplikasi Pendaftaran Terpadu (Portal Pendaftaran c. Calon peserta mengambil antrian.
Bersama) BPJS Kesehatan dan BPJS d. Calon Peserta mengisi formulir daftar isian.
Ketenagakerjaan. e. Calon peserta menuju loket layanan.
a. Perusahaan/Badan Usaha baru melakukan f. Petugas melakukan verifikasi berkas.
pendaftaran secara online melalui website/ g. Petugas memberikan informasi dan edukasi
laman www.bpjs.go.id  dengan cara mengisi kepada calon Peserta sebagai berikut:
Formulir Registrasi Badan Usaha elektronik 1) Hak dan kewajiban Peserta Program
yang tersedia secara lengkap dan benar. JKN-KIS.
b. Perusahaan/Badan Usaha melakukan aktivasi 2) Prosedur pelayanan kesehatan.
melalui email dan menerima: 3) Validasi nomor handphone peserta dan
1) Virtual Account (VA), username dan alamat email.
password e-Dabu. 4) Validasi alamat pengiriman kartu.
2) Perusahaan/Badan Usaha melakukan 5) Virtual Account (VA) akan dikirim melalui
entri data kepesertaan karyawan beserta sms dan/atau email ke nomor
anggota keluarganya secara online handphone dan alamat email calon
melalui aplikasi yang disediakan oleh Peserta.
BPJS Kesehatan (aplikasi e-Dabu) pada 6) Apabila dalam kurun waktu maksimal
laman https://new-edabu.bpjs- 3x24 jam sejak mendaftar calon peserta
kesehatan.go.id/new. belum menerima VA melalui sms dan/
c. Bukti pembayaran iuran disampaikan ke atau email, calon Peserta dapat
BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu menghubungi BPJS Kesehatan Care
JKN-KIS dan dikirimkan kepada Badan Usaha Center 1500400.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 33
7) Apabila Kartu JKN KIS belum diterima 2. Website BPJS Kesehatan.
maksimal 6 hari kerja setelah Pendaftaran peserta Perorangan melalui website
pembayaran iuran pertama, peserta BPJS Kesehatan dilakukan dengan mengisi
dapat menghubungi BPJS Kesehatan Formulir Daftar Isian Peserta (FDIP) elektronik
Care Center 1500400. di website BPJS Kesehatan secara lengkap dan
8) Mengingatkan kepada peserta bahwa benar, dengan mekanisme pendaftaran:
untuk pendaftaran peserta PBPU baru, a. Peserta melakukan pendaftaran melalui
pembayaran iuran pertama dapat website/laman BPJS Kesehatan menu
dilakukan paling cepat hari ke 14 dan “pendaftaran online (e-registration)” dan
paling lambat hari ke 30 setelah mengisi formulir online secara lengkap dan
pendaftaran atau sejak virtual account benar meliputi: Nomor KK, NIK, Nama
diterima. Lengkap, Tempat Lahir, Tanggal Lahir, Nomor
9) Menginfokan kepada peserta untuk Handphone, Kelas Perawatan, Nama FKTP
pembayaran iuran berikutnya dilakukan (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama), email,
secara rutin sebelum tanggal 10 setiap Alamat Domisili, Nomor Rekening, Status
bulan. Pernikahan, Alamat, RT, RW, Kode Pos,
10) Menginfokan kepada peserta bahwa Nomor Telepon Rumah, Kelurahan/Desa.
pendaftaran peserta PBPU baru, kartu b. Hasil konfirmasi Daftar Isian Peserta akan
mulai berlaku setelah peserta melakukan dikirimkan melalui email yang didaftarkan
pembayaran iuran pertama. pada formulir tersebut.
11) Menginfokan kepada peserta bahwa c. Peserta melakukan aktivasi melalui email
untuk perubahan data FKTP dan dan melakukan cetak Virtual Account.
Perubahan hak kelas rawat, akan berlaku d. Peserta membayar iuran pertama melalui
pada tanggal 1 bulan berikutnya. channel pembayaran yang bekerja sama
12) Kartu identitas Peserta akan dikirim ke dengan BPJS Kesehatan. Untuk kelas
alamat domisili Peserta, dengan SLA perawatan I dan II dapat melakukan
pengiriman kartu 6 hari kerja setelah pembayaran secara auto debit.
pembayaran iuran pertama. e. Peserta yang mendaftar melalui website
13) Menginfokan kepada peserta manfaat dan telah melakukan pembayaran dapat
dan kemudahan pendaftaran di BPJS membuka kembali halaman aktivasi untuk
Ke s e h a t a n , s e r t a m e m b a n tu membuka link pencetakan e-ID BPJS
menyampaikan informasi tersebut Kesehatan.
kepada orang lain. f. Kantor Cabang BPJS Kesehatan mencetak
h. Petugas mengisi lembar konfirmasi ulang dan mengirimkan Kartu JKN-KIS kepada
kelengkapan berkas Peserta dan menyerahkan peserta.
tanda terima berkas kepada calon Peserta, 3. Pendaftaran melalui Care Center 1500400.
ditandatangani oleh calon Peserta dan Pendaftaran melalui Care Center 1500400
petugas checker. diperuntukkan bagi pendaftaran Peserta PBPU
i. Calon peserta pulang. dan BP, dengan mekanisme pendaftaran:
j. Nomor Virtual Account diterima calon peserta. a. Peserta menghubungi 1500400 untuk
k. Peserta membayar iuran. melakukan pendaftaran.
l. Peserta menerima kartu JKN-KIS yang dikirim b. Petugas menjelaskan persyaratan dan
oleh Kantor Cabang ke alamat domisili ketentuan pendaftaran.
peserta.

34 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
c. Peserta menyiapkan data, seperti NIK, dilakukan melalui proses autodebet untuk
Nomor KK, NIK, FKTP dipilih, Nomor Rekening peserta yang memilih kelas perawatan I
Bank/Nomor ATM, nomor telepon selular dan II.
dan alamat e-mail. e. Petugas mencetak e-ID Peserta.
d. Petugas menanyakan data calon peserta f. Kantor Cabang BPJS Kesehatan mencetak
seperti Nomor KK, NIK, Hak Kelas, FKTP, dan mengirimkan Kartu JKN-KIS ke alamat
dan Nomor Rekening Bank. domisili peserta.
e. Petugas menginput data peserta pada sistem 5. Pihak Ketiga (kartu Kredit).
aplikasi. Pendaftaran melalui Pihak Ketiga (via Kartu Kredit)
f. Petugas mengkonfirmasi ulang data calon adalah pendaftaran yang dikhususkan untuk
peserta dan menanyakan persetujuan. nasabah yang memiliki kartu kredit bank yang
g. Peserta melakukan persetujuan pendaftaran bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan belum
h. Petugas mengirimkan Virtual Account melalui menjadi peserta JKN-KIS.
SMS engine. a. Bank melakukan penawaran kepada nasabah
i. Peserta menerima Virtual Account. tentang pendaftaran JKN-KIS berikut
j. Peserta melakukan pembayaran iuran. keuntungan sesuai promo bank.
k. Peserta menerima link e-ID. b. Nasabah menghubungi BNI call 1500 46
l. Peserta menerima kartu JKN-KIS yang dikirim dan memberikan persetujuan untuk
oleh Kantor Cabang ke alamat domisili didaftarkan menjadi peserta JKN-KIS dan
peserta. membayarkan iurannya melalui autodebet
4. Pihak Ketiga (Bank). kartu kredit.
Pendaftaran melalui Pihak Ketiga/Bank adalah c. Bank melakukan rekapitulasi data calon
pendaftaran yang dikhususkan untuk peserta peserta.
yang membawa NIK dan membawa KK, dengan Data sekurang-kurangnya memuat:
mekanisme pendaftaran: 1) Nomor referensi/unique number (bank).
a. Peserta menunjukkan dokumen pendukung 2) Nama pemegang kartu kredit.
kepada petugas: 3) Nomor Induk Kependudukan.
1) Asli NIK dan KK. 4) Nama calon peserta JKN-KIS.
2) Asli Paspor dan surat ijin kerja yang 5) Nomor HP.
diterbitkan instansi yang berwenang 6) Alamat email.
bagi Warga Negara Asing yang bekerja 7) Kota lokasi ambil Kartu JKN-KIS
minimal 6 (enam) bulan di Indonesia. (kabupaten/kota).
3) Asli KITAS. 8) Status Peserta Berhasil Autodebet (Ya/
4) Nomor rekening Bank yang tercantum Tidak).
pada halaman pertama buku tabungan. d. Peserta menerima Virtual Account yang
b. Petugas melakukan entri data peserta beserta dikirimkan oleh kantor Cabang BPJS
keluarga (berdasarkan keluarga yang tercatat Kesehatan melalui email.
dalam KK) melalui aplikasi Pendaftaran melalui e. Pembayaran iuran dilakukan secara auto
Bank/Pihak Ketiga dan mengkonfirmasi data debit dan kartu aktif pada saat tanggal
tersebut kepada peserta. pembayaran (autodebet khusus peserta
c. Petugas mencetak Virtual Account (VA). baru).
d. Peserta membayar iuran pertama melalui f. Kantor Cabang BPJS Kesehatan mencetak
teller Bank yang bekerja sama dengan BPJS dan mengirimkan Kartu JKN-KIS ke alamat
Kesehatan. Proses pembayaran selanjutnya domisili peserta.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 35
6. Pendaftaran melalui Mobile JKN. l. Kantor Cabang/Kantor Kabupaten/Kota
Pendaftaran melalui Mobile JKN diperuntukkan mendistribusikan kartu peserta ke alamat
bagi pendaftaran Peserta Pekerja Bukan Penerima domisili peserta.
Upah dan Peserta Bukan Pekerja Non 7. Pendaftaran melalui Kantor Kecamatan.
Penyelenggara Negara, dengan prosedur Pendaftaran melalui Kantor Kecamatan dapat
Pendaftaran: dilakukan dengan 2 mekanisme:
a. Calon Peserta mengunduh aplikasi  Mobile a. Pendaftaran melalui Aplikasi.
JKN pada smartphone berbasis Android Proses pendaftaran di-entry langsung secara
atau iOS. online menggunakan aplikasi pendaftaran
b. Memilih menu Pendaftaran Peserta Baru yang disediakan BPJS Kesehatan, dengan
pada aplikasi Mobile JKN. prosedur pendaftaran:
c. Memberikan persetujuan untuk mematuhi 1) Calon Peserta mengisi Formulir Daftar
syarat dan ketentuan yang berlaku. Isian Peserta (FDIP).
d. Mengisi Formulir Daftar Isian Peserta (FDIP) 2) Calon Peserta menyerahkan FDIP yang
elektronik di aplikasi mobile JKN secara telah dilengkapi dan melampirkan
lengkap dan benar meliputi: Nomor KK, NIK, dokumen pendukung kepada Petugas
Nama Lengkap, Tempat Lahir, Tanggal Lahir, Kecamatan.
Nomor telepon selular, Kelas Perawatan, 3) Petugas Kecamatan menerima dan
Nama FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat memeriksa kelengkapan pengisian
Pertama), email, Alamat Domisili, Nomor FDIP beserta lampirannya.
Rekening, Status Pernikahan, Alamat, RT, 4) Apabila terdapat kekurangan pada isian
RW, Kode Pos, Nomor Telepon Rumah, serta kelengkapan berkas FDIP, Petugas
Kelurahan/Desa. Kecamatan mengarahkan calon Peserta
e. Hasil konfirmasi Daftar Isian Peserta akan untuk melengkapi FDIP sesuai dengan
dikirimkan melalui email yang didaftarkan ketentuan.
pada form tersebut. 5) Petugas Kecamatan wajib memberikan
f. Peserta membuka email hasil konfirmasi informasi kepada calon Peserta sebagai
dan memastikan bahwa konfirmasi tersebut berikut:
terdapat dalam inbox atau spam dengan a) Hak dan kewajiban Peserta Program
header “Admin Web–BPJS Kesehatan”. Jaminan Sosial Kesehatan Kartu
g. Peserta membuka email tersebut dan Indonesia Sehat.
mengklik Aktivasi Pendaftaran. b) Prosedur pelayanan kesehatan
h. Pada saat Aktivasi Pendaftaran di klik, maka c) Kartu identitas Peserta akan dikirim
akan tampil form untuk dicetak/diunduh ke alamat domisili Peserta
Peserta yakni: “Cetak Virtual Account (VA)”. maksimal hari ketujuh sejak
i. Peserta menerima informasi jumlah iuran Peserta melakukan pembayaran
yang harus dibayarkan paling cepat 14 hari iuran pertama. Sementara e-ID
setelah Virtual Account diterima. akan dikirim ke email Peserta
j. Peserta yang mendaftar melalui Mobile JKN maksimal hari ketiga sejak Peserta
dan telah melakukan pembayaran iuran melakukan pembayaran iuran
pertama dapat membuka kembali halaman pertama.
Aktivasi untuk membuka link pencetakan d) Apabila dalam kurun waktu
e-ID BPJS Kesehatan. maksimal 7 hari sejak Peserta
k. Kantor Cabang/Kantor Kabupaten/Kota membayar iuran pertama, kartu
menerbitkan kartu peserta. identitas tidak diterima maka

36 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Peserta dapat menghubungi BPJS 6) Petugas Kecamatan wajib memberikan
Kesehatan Care Center 1500400/ informasi kepada calon Peserta sebagai
datang ke Kantor Cabang terdekat. berikut:
6) Petugas Kecamatan melakukan entri a) Hak dan kewajiban Peserta Program
data calon peserta. Jaminan Sosial Kesehatan Kartu
7) Petugas Kecamatan mengkonfirmasi Indonesia Sehat.
ulang data calon peserta yang di-entry. b) Prosedur pelayanan kesehatan.
8) Petugas Kecamatan  menerbitkan VA c) Virtual Account (VA) akan dikirim
dan menyerahkan kepada calon peserta. melalui SMS dan/atau email ke
9) Kantor Cabang/Kantor Kabupaten/Kota nomor handphone dan alamat
menerbitkan kartu peserta setelah email calon Peserta.
dilakukan pembayaran iuran pertama. d) Apabila dalam kurun waktu
10) Kantor Cabang/Kantor Kabupaten maksimal 3x24 jam sejak calon
mendistribusikan kartu peserta ke Peserta menyerahkan FDIP serta
alamat domisili peserta. kelengkapannya, VA tidak diterima
melalui sms dan/atau email, calon
b. Pendaftaran melalui Drop Box. Peserta dapat menghubungi BPJS
Berkas pendaftaran diterima dan diverifikasi Kesehatan Care Center 1500400.
di Kantor Kecamatan/Instansi Pemerintah e) Kartu identitas Peserta akan dikirim
lainnya untuk selanjutnya dilakukan proses ke alamat domisili Peserta
entry dan cetak kartu di Kantor Cabang/ maksimal hari ketujuh sejak
Kantor Kabupaten, dengan prosedur Peserta melakukan pembayaran
pendaftaran: iuran pertama. Sementara e-ID
1) Calon Peserta mengisi Formulir Daftar akan dikirim ke email Peserta
Isian Peserta (FDIP). maksimal hari ketiga sejak Peserta
2) Calon Peserta menyerahkan FDIP yang melakukan pembayaran iuran
telah dilengkapi dan melampirkan pertama.
dokumen pendukung kepada Petugas f) Apabila dalam kurun waktu
Kecamatan. maksimal 7 (tujuh) hari sejak
3) Petugas Kecamatan menerima dan Peserta membayar iuran pertama,
memeriksa kelengkapan pengisian kartu identitas tidak diterima maka
FDIP beserta lampirannya. Peserta dapat menghubungi BPJS
4) Apabila terdapat kekurangan pada isian Kesehatan Care Center 1500400/
serta kelengkapan berkas FDIP, Petugas datang ke Kantor Cabang terdekat.
Kecamatan mengarahkan calon Peserta 7) Petugas Kecamatan mengisi lembar
untuk melengkapi FDIP sesuai dengan konfirmasi ulang kelengkapan berkas
ketentuan. Peserta dan menyerahkan tanda terima
5) Setelah pengisian FDIP serta lampirannya berkas kepada calon Pesert a
dinilai lengkap dan benar, Petugas sebagaimana format terlampir yang
Kecamatan melakukan konfirmasi ditandatangani oleh calon Peserta dan
kembali kepada calon Peserta terkait petugas kecamatan.
nomor handphone, email dan alamat 8) Petugas Kecamatan memasukkan FDIP
domisili calon Peserta sebagai alamat serta lampirannya ke dalam drop box
tujuan pengiriman kartu identitas yang telah disediakan.
Peserta.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 37
9) Secara periodik staf pemasaran maksimal hari ketiga sejak Peserta
mengambil FDIP serta lampirannya melakukan pembayaran iuran pertama.
dari dropbox kecamatan untuk 4) Apabila dalam kurun waktu maksimal
selanjutnya diserahkan kepada staf 7 hari sejak Peserta membayar iuran
administrasi kepesertaan untuk pertama, kartu identitas tidak diterima
dilakukan proses validasi, entry, maka Peserta dapat menghubungi
konfirmasi kepada peserta (jika BPJS Kesehatan Care Center 1500400/
diperlukan), pengiriman SMS VA, datang ke Kantor Cabang terdekat.
pencetakan dan pengiriman kartu g. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya
peserta. melakukan entri data calon peserta.
 8. Pendaftaran melalui Payment Point Online Bank h. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya
(PPOB) dan Agen Mitra lainnya. mengkonfirmasi ulang data calon peserta
Pendaftaran melalui Payment Point Online Bank yang di-entry.
(PPOB) dan Agen Mitra lainnya diperuntukkan i. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya
bagi pendaftaran Peserta Pekerja Bukan Penerima menerbitkan VA dan menyerahkan kepada
Upah dan Peserta Bukan Pekerja Non calon peserta.
Penyelenggara Negara. Prosedur pendaftaran: j. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya
a. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya mencetak formulir daftar isian sesuai data
menjelaskan persyaratan dan ketentuan yang di-entry.
pendaftaran. k. Calon Peserta menandatangani formulir
b. Calon Peserta menyerahkan dokumen daftar isian.
persyaratan pendaftaran. l. Kantor Cabang/Kantor Kabupaten menerbitkan
c. Calon Peserta yang memilih manfaat kartu peserta setelah peserta melakukan
perawatan kelas I dan II wajib mengisi surat pembayaran iuran pertama.
kuasa auto debit. m. Kantor Cabang/Kantor Kabupaten
d. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya mendistribusikan kartu peserta ke alamat
menerima dan memeriksa kelengkapan domisili peserta.
berkas pendaftaran.
e. Apabila terdapat kekurangan berkas
kelengkapan pendaftaran, petugas PERSYARATAN MENJADI FASILITAS
mengarahkan calon Peserta untuk melengkapi KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
berkas sesuai dengan ketentuan. Untuk Klinik Pratama atau yang setara harus memiliki:
f. Petugas PPOB dan Agen Mitra lainnya wajib 1. Surat Izin Operasional.
memberikan informasi kepada calon Peserta 2. Surat Izin Praktik (SIP) bagi dokter/dokter gigi
sebagai berikut: dan Surat Izin Praktik atau Surat Izin Kerja (SIP/
1) Hak dan kewajiban Peserta Program SIK) bagi tenaga kesehatan lain.
Jaminan Sosial Kesehatan Kartu 3. Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) bagi Apoteker
Indonesia Sehat. dalam hal klinik menyelenggarakan pelayanan
2) Prosedur pelayanan kesehatan. kefarmasian.
3) Kartu identitas Peserta akan dikirim ke 4. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan.
alamat domisili Peserta maksimal hari 5. Perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika
ketujuh sejak Peserta melakukan diperlukan.
pembayaran iuran pertama. Sementara 6. Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan
e-ID akan dikirim ke email Peserta yang terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional.

38 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Untuk Praktik Dokter atau Dokter Gigi harus memiliki: PERSYARATAN MENJADI FASILITAS
1. Surat Izin Praktik. KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Persyaratan Administrasi (Mutlak)
3. Perjanjian kerja sama dengan laboratorium, yaitu terkait perizinan fasilitas kesehatan dan izin
apotek, dan jejaring lainnya. praktik tenaga medis (lengkap dan masih berlaku).
4. Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan
yang terkait dengan JKN Persyaratan Teknis
1. Jenis pelayanan dan SDM, meliputi: ketersediaan
Untuk Puskesmas atau yang setara harus memiliki: pelayanan dan dokter spesialis/subspesialis,
1. Surat Izin Operasional. jumlah apoteker, rasio perawat.
2. Surat Izin Praktik (SIP) bagi dokter/dokter gigi, 2. Kelengkapan sarana dan prasarana (peralatan
Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) bagi Apoteker, dan bangunan), meliputi:
dan Surat Izin Praktik atau Surat Izin Kerja (SIP/ a. Fasilitas pelayanan: MRI, CT Scan, CT Arms,
SIK) bagi tenaga kesehatan lain. dan lain-lain sesuai standar kompetensi
3. Perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika kelas RS.
diperlukan. b. Tempat Tidur perawatan (biasa dan intensive).
4. Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan c. Jaringan internet.
yang terkait dengan JKN. 3. Sistem dan prosedur, meliputi: peraturan internal
RS, standar pelayanan medis atau protokol
Untuk Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara pelayanan klinis, indikator mutu keperawatan,
harus memiliki: dan lain-lain.
1. Surat Izin Operasional. 4. Komitmen RS terhadap JKN, antara lain:
2. Surat Izin Praktik (SIP) tenaga kesehatan yang a. Tidak melakukan pungutan biaya tambahan
berpraktik. kepada peserta diluar ketentuan.
3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan. b. Menyediakan sarana dan petugas pemberian
4. Perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika informasi dan penanganan pengaduan
diperlukan. peserta Jaminan Kesehatan.
5. Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan c. Tidak melakukan diskriminasi terhadap
yang terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional. pasien umum ataupun pasien JKN-KIS.
d. Melaksanakan rujukan berjenjang dan
BPJS Kesehatan mengembangkan sistem seleksi program rujuk balik sesuai dengan ketentuan
fasilitas kesehatan kerja sama dengan menggunakan yang berlaku.
aplikasi HFIS (Health Facilities Information System), e. Berkomitmen memiliki dan mengirimkan
guna memudahkan fasilitas kesehatan melakukan rencana kebutuhan obat bagi peserta JKN
proses pengajuan kerja sama dengan BPJS Kesehatan kepada Kementerian Kesehatan sesuai
dan keterbukaan informasi tahapan proses kerja ketentuan yang berlaku.
samanya. f. Berkomitmen memiliki dan mengirimkan
rencana kebutuhan obat bagi peserta JKN
kepada Kementerian Kesehatan sesuai
ketentuan yang berlaku.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 39
PERISTIWA PENTING

25 JANUARI 2017
Menko PMK memberikan sambutan dan arahan
bagi seluruh jajaran Duta BPJS Kesehatan dalam
Rapat Arahan Stategis Nasional 2017.

25 JANUARI 2017
Direktur Perencanaan,Pengembangan dan
Manajemen Risiko memberikan penghargaan
kepada Kepala Bappenas sebagai narasumber
dalam Rapat Arahan Strategis Nasional Tahun
2017.

25 JANUARI 2017
Menko PMK bersama Direktur Utama BPJS
Kesehatan mengunjungi Puskesmas Kampus
Palembang untuk melihat langsung pelaksanaan
Program JKN-KIS di Puskesmas tersebut.

8 FEBRUARI 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Ambon.

40 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
17 FEBRUARI 2017
Penandatanganan MoU Universal Health Coverage
di Sumbawa Barat.

22 FEBRUARI 2017
BPJS Kesehatan menjalin sinergi dengan National
Health Insurance Service (NHIS) selaku lembaga
pengelola jaminan sosial kesehatan di Korea
Selatan dalam rangka meningkatkan kualitas
pelayanan kepada peserta JKN-KIS di Denpasar.

28 FEBRUARI 2017
Penandatanganan Kerja sama“Coordination of
Benefit” dengan Asuransi Swasta di Indonesia.

9 MARET 2017
Penandatanganan Nota Kesepahaman antara
BPJS Kesehatan dengan Kementerian Riset,
Teknologi dan Pendidikan Tinggi tentang
Perluasan Kepesertaan Jaminan Kesehatan di
Perguruan Tinggi.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 41
9 MARET 2017
Penandatanganan Perjanjian Kerja sama antara
BPJS Kesehatan dengan Kabupaten Tanah Datar
tentang Sinergi Program Optimalisasi Peran
Pemerintah Daerah Tanah Datar dalam Program
Jaminan Kesehatan Kartu Indonesia Sehat.

17 MARET 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Sambas.

18 MARET 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Mempawah.

22 MARET 2017
Penandatanganan MoU bersama Asuransi
Swasta dalam kegiatan BUMN Gathering guna
meningkatkan pelayanan jaminan kesehatan
bagi pegawai BUMN dan anggota keluarganya
melalui sinergitas koordinasi manfaat.

42 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
23 MARET 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Batam.

25 MARET 2017
Penandatanganan Perjanjian Kerja sama Layanan
Pendaftaran Peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan
dengan PT Lippo Karawaci Tbk.

10 APRIL 2017
Penandatanganan Perjanjian Kerja sama antara
BPJS Kesehatan dengan PT Bank BNI (Persero)
dalam menyukseskan Program JKN-KIS.

12 APRIL 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Cirebon.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 43
26 APRIL 2017
Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan
Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri Jakarta
dalam upaya mewujudkan sistem Good
Governance.

3 MEI 2017
Penandatanganan Perjanjian Kerja sama dan
Nota Kesepahaman antara PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk dan Mitra Kerja dengan BPJS
Kesehatan dalam menyukseskan program JKN-
KIS.

8 MEI 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Halmahera.

9 MEI 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Skouw, Jayapura.

44 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
10 MEI 2017
Pembagian Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden
Joko Widodo di Wamena.

12 MEI 2017
Penandatangan MoU antara BPJS Kesehatan
dan Be Kraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia)
dan PT Bank BRI (Persero) tentang Perluasan
Kepesertaan Program JKN-KIS bagi para pelaku
ekonomi kreatif.

15 MEI 2017
Launching Kanal Pendaftaran Peserta melalui
Care Center 1500400.

16 MEI 2017
Penandatangan Surat Edaran Bersama antara
BPJS Kesehatan dengan BPJS Ketenagakerjaan
tentang Sinergi Penyelenggaraan Program
Jaminan Sosial Dalam Mendukung Kemudahan
Berusaha (EODB).

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 45
23 MEI 2017
Public Expose BPJS Kesehatan tentang Laporan
Keuangan dan Laporan Pengelolaan Program
Tahun 2016.

17 JULI 2017
Penandatanganan prasasti SJSN oleh Presiden
ke-5 RI, Ibu Megawati Soekarno Putri dalam
rangkaian kegiatan sarasehan BPJS Kesehatan.

19 JULI 2017
Penandatanganan Surat Keputusan Bersama
tentang Tim Bersama Penanganan Kecurangan
dalam Program JKN antara Kementerian
Kesehatan, BPJS Kesehatan dan KPK.

19 JULI 2017
Penandatangan Perjanjian Kerja sama antara
BPJS Kesehatan dengan BPJS Ketenagakerjaan
tentang Koordinasi Pelayanan Kesehatan dalam
Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan
Kesehatan.

46 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
19 JULI 2017
Perjanjian Kerja sama antara BPJS Kesehatan
dengan PT Bank Bukopin tentang konfirmasi
atas data pembiayaan pelayanan kesehatan
yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

13 NOVEMBER 2017
Penandatanganan Pencapaian Universal Health
Coverage Kota Cirebon.

15 NOVEMBER 2017
Grand Launching Aplikasi Mobile JKN BPJS
Kesehatan.

15 NOVEMBER 2017
Penadatanganan Nota Kesepahaman dengan
Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang
Kerja sama Dalam Mendukung Penyelenggaraan
Sistem dan Teknologi Informasi pada Program
Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia
Sehat.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 47
22 NOVEMBER 2017
Launching pembayaran iuran JKN-KIS melalui
aplikasi Go-Pay dari Gojek.

22 NOVEMBER 2017
Penandatanganan Perjanjian Kerja sama antara
BPJS Kesehatan dengan Bank Jabar Banten
tentang Konfirmasi atas Data Pembiayaan
Pelayanan Kesehatan Peserta JKN-KIS Kepada
Fasilitas Kesehatan yang Bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan.

22 NOVEMBER 2017
Penandatanganan MoU antara BPJS Kesehatan
dengan CT Corp, Ovo dan OY!.

18 DESEMBER 2017
Penandatanganan Nota Kesepahaman antara
BPJS Kesehatan, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank
BRI dan Koperasi Nusantara dan launching
Program Menabung Sehat.

48 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 49
50 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
ASPEK KELEMBAGAAN
ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA

PENGEMBANGAN ORGANISASI 2) Asisten Deputi Bidang/Asisten Sekretaris


Struktur organisasi yang dikembangkan manajemen Utama.
untuk menyelenggarakan operasional BPJS Kesehatan c. Kantor Kedeputian Wilayah.
mengacu pada Peraturan Direksi Nomor 10 Tahun 1) Deputi Direksi Wilayah.
2017 tentang Struktur Organisasi Badan Penyelenggara 2) Asisten Deputi Wilayah.
Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2017. d. Kantor Cabang.
1) Kepala Cabang.
Struktur Organisasi BPJS Kesehatan, sesuai Peraturan 2) Kepala Bidang.
Direksi tersebut, secara ringkas meliputi: e. Kantor Kabupaten/Kota.
a. Direksi.
b. Kantor Pusat. Secara lebih jelas, struktur organisasi BPJS Kesehatan
1) Deputi Direksi Bidang/Sekretaris Utama/ disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut:
Aktuaris/CMAT Leader.

STRUKTUR ORGANISASI KANTOR PUSAT

DIREKTUR UTAMA

DIREKTUR DIREKTUR DIREKTUR DIREKTUR DIREKTUR DIREKTUR


KEPATUHAN, DIREKTUR
PERLUASAN DAN JAMINAN KEUANGAN PERENCANAAN, SUMBER DAYA TEKNOLOGI
PELAYANAN PENGEMBANGAN DAN MANUSIA DAN HUKUM DAN
PELAYANAN DAN INVESTASI HUBUNGAN INFORMASI
PESERTA KESEHATAN MANAJEMEN RISIKO UMUM ANTAR LEMBAGA

DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI
BIDANG JAMINAN DEPUTI DIREKSI SEKRETARIS
BIDANG BIDANG DIREKSI BIDANG BIDANG AKTUARIA BIDANG MANAJEMEN BIDANG KEPATUHAN BIDANG STRATEGI
PEMBIAYAAN PERENCANAAN DAN
UTAMA STAF AHLI
PENGAWASAN PERLUASAN KESEHATAN MANAJEMEN DAN MANAJEMEN PERUBAHAN DAN DAN PELAYANAN BPJS KESEHATAN
INTERNAL KEPESERTAAN IURAN RISIKO REVOLUSI MENTAL HUKUM KEAMANAN TI
PRIMER

DEPUTI DIREKSI DEPUTI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI
DEPUTI DIREKSI BIDANG JAMINAN BIDANG RISET BIDANG MANAJEMEN BIDANG
PEMBIAYAAN DIREKSI BIDANG BIDANG
BIDANG DAN SUMBER HUBUNGAN ANTAR PENGEMBANGAN
KESEHATAN TREASURY DAN LEMBAGA DAN
KEPESERTAAN RUJUKAN PENGEMBANGAN DAYA MANUSIA SISTEM INFORMASI
INVESTASI REGULASI

DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI


DEPUTI DIREKSI DEPUTI DIREKSI BIDANG BIDANG
BIDANG BIDANG
BIDANG PERENCANAAN DAN OPERASIONAL
PELAYANAN EVALUASI PENDIDIKAN TEKNOLOGI
AKUNTANSI
PESERTA ORGANISASI DAN PELATIHAN INFORMASI

DEPUTI DIREKSI
BIDANG SUMBER
AKTUARIS
DAYA SARANA
DAN UMUM

CHANGE
MANAGEMENT
ACTION TEAM

52 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
STRUKTUR ORGANISASI KEDEPUTIAN WILAYAH
DEPUTI
DIREKSI WILAYAH

ASISTEN DEPUTI ASISTEN DEPUTI BIDANG ASISTEN DEPUTI BIDANG


BIDANG PERENCANAAN, MONITORING DAN SDM, UMUM DAN
KEUANGAN, DAN EVALUASI KOMUNIKASI PUBLIK
MANAJEMEN RISIKO

ANALIS PERENCANAAN, ANALIS MONITORING DAN


EVALUASI PERLUASAN ANALIS SDM
PROSES BISNIS DAN KEPALA CABANG
DAN PELAYANAN DAN UMUM
MANAJEMEN RISIKO
PESERTA

STAF ANALIS MONITORING


ANALIS KOMUNIKASI
PROSES BISNIS DAN DAN EVALUASI
PUBLIK DAN INTERNAL
MANAJEMEN RISIKO JAMINAN PEMBIAYAAN

ANALIS MONITORING
STAF PERENCANAAN STAF SDM DAN
DAN EVALUASI
DAN PEMBUKUAN KOMUNIKASI INTERNAL
IURAN DAN KEPATUHAN

STAF MONITORING STAF UMUM


KASIR DAN EVALUASI DAN PENGADAAN

IT HELP DESK STAF


KOMUNIKASI PUBLIK

STAF
ADMINISTRASI DAN
KESEKRETARIATAN

STRUKTUR ORGANISASI KANTOR CABANG

KEPALA CABANG

KA. BIDANG KA. BIDANG KA. BIDANG KA. BIDANG KA. BIDANG KA. BIDANG SDM,
PERLUASAN KEPESERTAAN PENJAMINAN PENJAMINAN PENAGIHAN UMUM DAN IT HELP DESK
PESERTA DAN DAN PELAYANAN MANFAAT MANFAAT DAN KEUANGAN KOMUNIKASI
KEPATUHAN PESERTA PRIMER RUJUKAN PUBLIK

VERIFIKATOR
SUPERVISOR CASE STAF SDM DAN
RELATIONSHIP PENJAMINAN STAF
FRONT LINER MANAGER KOMUNIKASI
OFFICER MANFAAT PENAGIHAN
INTERNAL
PRIMER

STAF STAF VERIFIKATOR STAF


STAF PENJAMINAN STAF UMUM
ADMINISTRASI PENGELOLAAN PERENCANAAN
FRONT LINER MANFAAT DAN
PERLUASAN FASILITAS DAN
RUJUKAN KESEKRETARIATAN
KEPESERTAAN KESEHATAN PRIMER PEMBUKUAN

STAF STAF UTILISASI STAF


STAF PELAYANAN PENGELOLAAN STAF
ADMINISTRASI PENANGANAN FASILITAS KOMUNIKASI
KESEHATAN KASIR
PEMERIKSAAN PENGADUAN PRIMER DAN KESEHATAN PUBLIK
PESERTA ANTI FRAUD RUJUKAN

STAF STAF UTILISASI


PETUGAS STAF PROMOTIF PELAYANAN
PENANGANAN KESEHATAN
PEMERIKSA DAN DAN PREVENTIF
PENGADUAN RUJUKAN DAN
KEPATUHAN
PESERTA DI RS ANTI FRAUD

STAF
ADMINISTRASI
KEPESERTAAN

KEPALA
KABUPATEN/KOTA

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 53
STRUKTUR ORGANISASI CABANG PRIMA

KEPALA CABANG
PRIMA

KA. BIDANG PERLUASAN KA. BIDANG KEPESERTAAN KA. BIDANG PENAGIHAN


PESERTA DAN KEPATUHAN DAN PELAYANAN PESERTA DAN KEUANGAN

SUPERVISOR
RELATIONSHIP OFFICER STAF PENAGIHAN IT HELP DESK
FRONT LINER

STAF ADMINISTRASI STAF PERENCANAAN


STAF FRONT LINER
PERLUASAN PESERTA DAN PEMBUKUAN

STAF ADMINISTRASI STAF PENANGANAN STAF UMUM DAN


PEMERIKSAAN PENGADUAN PESERTA RUMAH TANGGA

PETUGAS PEMERIKSA STAF ADMINISTRASI


KASIR
DAN KEPATUHAN KEPESERTAAN

STRUKTUR ORGANISASI KANTOR KABUPATEN/KOTA

KEPALA
KABUPATEN/KOTA

STAF PERLUASAN PESERTA STAF KEPESERTAAN DAN STAF PENAGIHAN DAN VERIFIKATOR PENJAMINAN
DAN KEPATUHAN PELAYANAN PESERTA KEUANGAN MANFAAT

Untuk menunjang operasional BPJS Kesehatan, telah


dikembangkan jaringan kantor yang secara rinci
disajikan pada tabel berikut:

Tabel Jumlah Jaringan Kantor BPJS Kesehatan


Tahun 2017
Status Kepemilikan
No. Unit Kerja Jumlah
Milik Sendiri Sewa Menumpang
1 2 3 4 5 6=3+4+5
1 Kantor Pusat 1 - - 1
2 Kantor Kedeputian Wilayah 13 - - 13
3 Kantor Cabang 106 17 4 127
4 Kantor Kabupaten/Kota 28 334 26 388
Total 148 351 30 529

54 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
PROSES BISNIS BPJS KESEHATAN dengan strategi organisasi berupa sub proses, Prosedur
Sebagai salah satu upaya dalam menjaga kualitas Operasional (Pro-Ops) dan Instruksi Kerja (IK),
mutu layanan, BPJS Kesehatan telah mengembangkan sebagaimana tergambar dalam arsitektur proses
manajemen proses bisnis yang telah diselaraskan bisnis BPJS Kesehatan sebagai berikut:

Gambar Arsitektur Proses Bisnis BPJS Kesehatan Tahun 2017

Dengan adanya Prosedur Operasional (Pro-Ops) dan Berdasarkan assessment proses bisnis diperoleh
Instruksi Kerja (IK) menjadikan seluruh aktivitas hasil sebagai berikut:
operasional terstandar dan terjaga mutunya untuk a. Indeks tingkat kematangan proses bisnis BPJS
setiap level unit kerja, sesuai dengan ruang lingkup, Kesehatan sebesar 2,77 dalam skala 5. Ini
kewenangan dan tanggung jawab masing-masing mengindikasikan bahwa saat ini telah terdapat
pegawai. proses terdefinisi dengan jelas, dapat dimengerti,
dan terdokumentasi melalui format prosedur,
Agar implementasi proses bisnis tersebut berjalan tools dan metode pelaksanaan. Standar, deskripsi
dengan optimal, maka dilakukan pengukuran tingkat proses, dan prosedur disusun untuk keseluruhan
kematangan implementasi proses bisnis BPJS proses di organisasi, dan dijalankan secara
Kesehatan pada tahun 2017 melalui Assessment konsisten.
Proses Bisnis yang dilaksanakan sebagai hasil kerja b. Terdapat dua Area of Improvement (AoI) penting
sama dengan pihak eksternal. yang perlu ditindaklanjuti, agar implementasi
proses bisnis semakin baik, yaitu memastikan
efektifitas kinerja proses bisnis dan kejelasan
mekanisme perbaikan (improvement) proses
bisnis itu sendiri.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 55
PENETAPAN TATA NILAI ORGANISASI dengan Duta BPJS Kesehatan antara lain berupa
Tata nilai organisasi merupakan pondasi awal yang materi dalam diklat penjenjangan dan Best Practice
akan memaknai jati diri individu sebagai bagian dari Sharing. Kegiatan lain adalah berupa pertemuan
organisasi. Oleh karena itu penguatan nilai–nilai nasional Direktorat; penggunaan media-media internal
organisasi diperlukan untuk membentuk budaya BPJS Kesehatan dan pencetakan dan pengadaan
organisasi, yang kemudian tercermin dalam sikap artefak-artefak perubahan.
dan perilaku Duta BPJS Kesehatan dalam menjalankan
fungsi dan tugas sesuai jabatannya. Selanjutnya, untuk memastikan tata nilai revolusi
mental dipahami dan terimplementasi dalam aktivitas
BPJS Kesehatan telah menetapkan 4 tata nilai Duta BPJS Kesehatan di internal maupun eksternal
organisasi (organization values) dan pernyataan makna organisasi, maka diperlukan upaya melakukan
(meaning statement), yaitu: monitoring evaluasi dan pengukuran efektivitas
implementasi tata nilai revolusi mental BPJS Kesehatan
Tata Nilai Organisasi (organization values): melalui survei implementasi tata nilai organisasi BPJS
1. Integritas, merupakan prinsip dalam menjalankan Kesehatan. Selain itu juga dilakukan survei Readiness
setiap tugas dan tanggung jawab melalui for Change (RFC) dan survei Resistance to Change
keselarasan berpikir, berkata dan berperilaku (RTC) yang bertujuan untuk mengukur seberapa besar
sesuai keadaan sebenarnya. kesiapan Duta BPJS Kesehatan untuk berubah serta
2. Profesional, merupakan karakter melaksanakan survei seberapa besar penolakan Duta BPJS Kesehatan
tugas dengan kesungguhan, sesuai kompetensi terhadap perubahan yang terjadi dalam organisasi.
dan tanggung jawab yang diberikan. Pada tahun 2017, survei tata nilai organisasi dan RTC
3. Pelayanan Prima, merupakan tekad dalam sudah dilaksanakan dan diperoleh hasil survei tata
memberikan pelayanan terbaik dengan ikhlas nilai organisasi secara Nasional sebesar 89,02 untuk
kepada seluruh peserta. Behavior Index dan 3,02 untuk Misbehavior Index.
4. Efisiensi Operasional, merupakan upaya untuk Sedangkan untuk tingkat RTC adalah sebesar 11,09%.
mencapai kinerja optimal melalui perencanaan
yang tepat dan penggunaan anggaran yang
rasional sesuai dengan kebutuhan. REKRUTMEN DAN PENEMPATAN SDM
Dalam rangka mendukung fokus utama organisasi
Pernyataan Makna (meaning statement) Tahun 2017, BPJS Kesehatan melakukan beberapa
“Kami yakin dengan pertolongan TUHAN Yang Maha langkah khususnya dalam rekrutmen dan seleksi serta
Esa kami dapat mencapai cakupan semesta sebagai penempatan pegawai guna memenuhi fungsi-fungsi
warisan untuk Indonesia yang lebih baik”. prioritas yang dibutuhkan.

Sampai dengan saat ini, telah dilakukan pengangkatan


INTERNALISASI TATA NILAI ORGANISASI Pegawai Tidak Tetap (PTT) BPJS Kesehatan di Kantor
DAN REVOLUSI MENTAL Pusat sebanyak 40 orang sehingga total PTT pada
Program Internalisasi Tata Nilai Revolusi Mental BPJS tahun 2017 adalah 1.775 orang yang tersebar di Kantor
Kesehatan merupakan program atau kegiatan yang Pusat dan Kedeputian Wilayah. Jumlah PTT yang
dilakukan oleh Manajemen dalam rangka menanamkan berubah setiap bulannya dikarenakan berakhirnya
nilai-nilai revolusi mental ke dalam setiap diri individu Kontrak kerja PTT tersebut atau dikarenakan masih
Duta BPJS Kesehatan. terdapat beberapa Wilayah maupun Unit kerja yang
masih melakukan rekrutmen PTT untuk memenuhi
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam internalisasi alokasi yang diberikan di tahun 2017.
tata nilai yaitu diantaranya melalui tatap muka langsung

56 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) MANAJEMEN TALENTA
Jumlah pegawai tetap BPJS Kesehatan tahun 2017 Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan melakukan
sebanyak 7.190 orang yang secara rinci disajikan pada penyempurnaan kebijakan dan implementasi manajemen
tabel berikut: talenta melalui penyusunan manajemen talenta
terintegrasi. Manajemen talenta terintegrasi adalah suatu
Tabel Jumlah Pegawai Tetap Berdasarkan Jabatan sistem yang menghubungkan strategi dengan pengelolaan
Tahun 2017
SDM di dalam organisasi, serta didesain untuk menarik,
No. Uraian Realisasi
mengelola, mengembangkan, memotivasi, dan
1 2 3
mempertahankan individu kunci dalam pencapaian
1 General Manager 35
strategi. Proses ini meliputi aktivitas terkait manajemen
2 Senior Manager 44
kinerja, manajemen karir, manajemen suksesi,
3 Manager 219
pengembangan kepemimpinan, pembelajaran dan
4 Asisten Manager 1.207
pengembangan kapabilitas, dan akuisisi talent.
5 Pelaksana 5.685
Total 7.190
Implementasi manajemen talenta di BPJS Kesehatan
Komposisi pegawai tetap BPJS Kesehatan berdasarkan tidak lagi menjadi bagian tersendiri, namun selaras
jabatan dan kelompok usia disajikan pada tabel berikut: dengan sistem manajemen kinerja, sistem manajemen
karir, dan pengembangan individu. Siklus manajemen
Tabel Jumlah Pegawai Tetap Berdasarkan Jabatan dan Usia talenta di BPJS Kesehatan terdiri dari arahan strategis,
Tahun 2017
identifikasi posisi kunci (critical jobs), assessment talenta
< 50 51-56
No. Uraian Total berdasarkan requirement, pemetaan talenta (human
Tahun Tahun
capital valuation), penyelarasan talenta dengan posisi
1 2 3 4 5=3+4
1 General Manager 18 17 35
kunci, serta perencanaan suksesi dan perpindahan
2 Senior Manager 32 12 44
karir.
3 Manager 169 50 219
4 Asisten Manager 1.072 135 1.207
5 Pelaksana 5.603 82 5.685 MANAJEMEN KARIR
Total 6.894 296 7.190 Pada tahun 2017 dilakukan pengembangan sistem
manajemen karir BPJS Kesehatan yang merupakan
Komposisi pegawai tetap BPJS Kesehatan berdasarkan bagian dari manajemen talenta terintegrasi.
tingkat pendidikan disajikan pada tabel berikut: Pengembangan karir pegawai juga merupakan bagian
yang penting dalam mempertahankan (retensi) pegawai
Tabel Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan sekaligus memastikan ketersediaan suksesor untuk
Tahun 2017
menduduki posisi kunci (critical jobs) dalam
No. Uraian Jumlah
implementasi sistem manajemen talenta.
1 2 3
1 Strata 3 (S3) 1
Implementasi sistem manajemen karir di BPJS
2 Strata 2 (S2) 185
Kesehatan menggunakan konsep pola karir yang
3 Strata 1 (S1) 5.039
mencakup sasaran karir, jalur karir dan kebijakan/tata
4 Diploma IV 28
kelola sistem manajemen karir. Pola karir akan dijadikan
5 Diploma III 1.763
referensi bagi seluruh pegawai BPJS Kesehatan dalam
6 Diploma II 5
menetapkan perencanaan karir atau Individual Career
7 Diploma I 6
Plan (ICP) secara mandiri dan selanjutnya menjadi
8 SLTA 163
input bagi manajemen dalam mengambil keputusan
Total 7.190
pengembangan karir pegawai.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 57
Sistem manajemen karir BPJS Kesehatan merupakan Selain kegiatan Pendidikan dan Pelatihan tersebut,
proses menciptakan keseimbangan aspirasi karir juga telah dilakukan kegiatan The Champ, yaitu aktivitas-
individu (nilai, minat, dan kompetensi) dengan aktivitas yang bertujuan menggerakan perubahan,
kebutuhan organisasi yang berorientasi pada menginternalisasi tata nilai dan menggiatkan fungsi
ketersediaan suksesor posisi kunci (critical job). Sistem Knowledge Management (KM) melalui KM Enabler.
manajemen karir BPJS Kesehatan disusun dengan Kegiatan yang dilakukan antara lain kegiatan assist
mempertimbangkan keluarga jabatan, model yang merupakan kegiatan dimana setiap individu
kompetensi jabatan, job grading, serta konsep jabatan dibantu oleh seorang mentor (individu yang lebih
struktural dan fungsional. Implementasi sistem senior/berpengalaman) yang dapat memberikan
manajemen karir akan dilanjutkan pada tahun 2018 informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam
dengan penyusunan perencanaan karir oleh seluruh menyelesaikan suatu permasalahan; kegiatan practice,
pegawai sebagai dasar pengembangan individu pada dimana Duta BPJS Kesehatan dapat saling berbagi
Individual Development Plan (IDP). pengetahuan dan keterampilan yang mendukung
aktivitas kerja sehari-hari. Kegiatan yang termasuk
aktifitas dalam Practice adalah Best Practice Sharing
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (BPS) dan English Course/Day.
Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui
pemenuhan kompetensi sesuai leveling yang BPJS Kesehatan juga memiliki Knowledge Management
dipersyaratkan jabatan serta peningkatan kompetensi (KM) Portal sebagai salah satu sarana knowledge
pada leveling yang lebih tinggi sebagai persyaratan management yang menyediakan berbagai pengetahuan
promosi jabatan dan kemudian diperhitungkan sebagai baik teoritis maupun praktis termasuk kebijakan yang
jumlah sumber daya manusia yang berkompeten berlaku di BPJS Kesehatan. Sebagai upaya untuk
menjadi salah satu sasaran utama yang ingin dicapai mengoptimalkan fungsi KM Portal, maka setiap
organisasi. bulannya akan dilakukan pemeliharaan melalui
optimalisasi fitur-fitur yang ada dalam KM Portal (KM
Dalam upaya pemenuhan kompetensi tersebut, maka Enabler, E-Track dan E-Library, survey, forum komunikasi
BPJS Kesehatan menyelenggarakan berbagai kegiatan KMCC), upload kebijakan dan informasi terkait BPJS
pendidikan dan pelatihan antara lain Diklat Peningkatan Kesehatan dan materi-materi pendidikan dan pelatihan.
Kompetensi yang diarahkan untuk memenuhi dan
mengembangkan kompetensi pegawai sebagai satu
kesatuan dari implementasi sistem manajemen kinerja MANAJEMEN KINERJA
pegawai berbasis kompetensi; Diklat Penjenjangan Sistem Manajemen Kinerja BPJS Kesehatan bertujuan
yang ditujukan untuk menyediakan pegawai yang untuk memastikan pegawai memfokuskan pekerjaan
memiliki kompetensi sesuai dengan yang dipersyaratkan mereka pada pencapaian sasaran organisasi melalui
sebagai pegawai BPJS Kesehatan, dan juga sebagai proses perencanaan, pengelolaan/pemantauan, dan
diklat untuk menempati jabatan yang lebih tinggi dari evaluasi kinerja. Pada tahun 2017 dilakukan
posisi saat ini; Diklat Luar Negeri serta Diklat Profesi, penyempurnaan kebijakan dan implementasi sistem
Sertifikasi dan Perguruan Tinggi yang ditujukan bagi manajemen kinerja. Manajemen kinerja tidak lagi
pegawai yang berdasarkan kompetensi jabatan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari
ditempati memerlukan keahlian/sertifikasi khusus pengembangan talenta pada sistem manajemen
untuk menunjang pekerjaannya. Selain itu, BPJS talenta. Penyempurnaan sistem manajemen kinerja
Kesehatan juga memberikan kesempatan kepada antara lain adalah perubahan komponen penilaian
pegawai untuk melanjutkan pendidikan formil dan yang tidak lagi mengukur komponen pengembangan
non formil ke tingkat yang lebih tinggi sesuai dengan kompetensi, karena sudah menjadi bagian dalam
bidang yang dibutuhkan untuk pengembangan BPJS sistem manajemen karir (ICP) dan sistem manajemen
Kesehatan. talenta (IDP).

58 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
OPINI PEGAWAI SUMBER DAYA SARANA
Pada tahun 2017 telah dilakukan survei opini pegawai
untuk melihat tingkat kepuasan, engagement dan MANAJEMEN PENGADAAN
komitmen pegawai. Selain itu juga agar diperoleh Kegiatan pengadaan barang dimulai dengan
umpan balik dari pegawai terkait kebijakan pengelolaan pembentukan Panitia Pengadaan yang terdiri dari
SDM. Hasil yang diperoleh dari survei opini pegawai Panitia Daftar Rekanan Terseleksi, Panitia Peneliti
tahun 2017 ini adalah sebagai berikut: Harga Pasar, Panitia Pemilihan Langsung, Panitia
a. Employee Satisfaction Index (ESI) pegawai BPJS Lelang, Panitia Penerima Barang/Jasa (P2BJ) dan Tim
Kesehatan tahun 2017 adalah 77,70% (yang Pengelola Proyek. Pada tahun 2017, telah dilaksanakan
menandakan bahwa pegawai BPJS Kesehatan beberapa kegiatan pengadaan seperti lelang, pemilihan
sudah puas maksimal. langsung dan pengadaan langsung.
b. Sub-dimensi yang perlu ditingkatkan (improve)
adalah Manajemen Kinerja, Rekrutmen & Seleksi,
Tugas & Peran dalam Organisasi, Perhatian & MANAJEMEN ASET
Penghargaan, Pengembangan Karir, dan Aset Tetap dan Idle
Penempatan. Sub-dimensi yang dianggap oleh Jumlah aset tetap tahun 2017 disajikan pada tabel
pegawai sudah cukup memuaskan (maintain) berikut:
adalah Pelatihan, Renumerasi (Kompensasi &
Benefit). Sub-dimensi yang sangat perlu Tabel Jumlah Aset Tetap
Tahun 2017
dipertahankan (competitive advantage) adalah
(Unit)
Kejelasan Arah Kebijakan & Strategi Organisasi,
No. Jenis Aset Jumlah
Komunikasi & Kerja sama Atasan Langsung, dan 1 2 3
Kondisi Kerja. 1 Tanah 223
c. Employee Engagement Index (EEI) pegawai 2 Bangunan 195
BPJS Kesehatan 2017 adalah 75,46% yang 3 Kendaraan
menandakan bahwa pegawai BPJS Kesehatan a. Roda 4 1.218
sudah engage. b. Roda 2 888
d. Employee Commitment Index (ECI) pegawai 4 Komputer 14.608
BPJS Kesehatan 2017 adalah 85,35% yang
menandakan bahwa pegawai BPJS Kesehatan
sudah sangat komit. SIM Manajemen Aset dan e-Procurement
Untuk menunjang kegiatan pengadaan dan inventarisasi
aset, telah dibangun dan saat ini terus dikembangkan
sistem aplikasi IMAP’s (Integrated Management
Asset and Procurement System).

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 59
Kegiatan yang dapat dilaksanakan dengan menggunakan pedoman yang berlaku serta mampu menerapkan
aplikasi IMAP’s adalah sebagai berikut: sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
1. E-procurement, meliputi: dengan baik dan benar.
a. Kegiatan Daftar Rekanan Terseleksi (DRT),
meliputi kegiatan registrasi vendor, verifikasi
vendor, usulan aktivasi vendor, dan finalisasi PEKERJA ALIH DAYA (OUTSOURCE)
aktivasi vendor. Pekerja alih daya merupakan pekerja dari perusahaan
b. Kegiatan pengadaan dengan metode jasa penyedia pekerja yang dipekerjakan oleh BPJS
Pemilihan Langsung dan Lelang. Kesehatan, dimana perusahaan jasa penyedia pekerja
2. Manajemen aset,meliputi: tersebut telah mempunyai perjanjian penyediaan jasa
a. Pencatatan aset. pekerja antara BPJS Kesehatan dengan perusahaan
b. Penyusunan DIR (Daftar Inventaris Ruangan). penyedia jasa pekerja yang memuat hak dan kewajiban
c. Mutasi aset. para pihak. Proses pemilihan perusahaan penyedia
d. Penghapusan aset. jasa pekerja dilaksanakan melalui proses pengadaan
e. Inventory. barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku di BPJS
Kesehatan.

KEAMANAN, KESEHATAN DAN Jenis pekerja alih daya di BPJS Kesehatan meliputi
KESELAMATAN KERJA (K3) SERTA pekerja pengamanan (security), pekerja pengemudi
PENANGANAN BENCANA (driver), dan pekerja pemelihara kebersihan (cleaning
Dalam mendukung operasionalisasi BPJS Kesehatan, service). Jumlah pekerja alih daya di BPJS Kesehatan
diperlukan kondisi yang kondusif yang juga tahun 2017 adalah sebanyak 3.373 orang dengan
memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja rincian security sebanyak 1.481 orang, driver 887
pegawai. Untuk itu telah diterbitkan kebijakan tentang orang dan cleaning service 1.005 orang.
penerapan dan pelaksanaan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam bentuk pedoman yang wajib dipatuhi oleh
seluruh pegawai demi terciptanya lingkungan kerja TEKNOLOGI INFORMASI
yang kondusif.
PERENCANAAN TI
Mengingat Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Peranan Teknologi Informasi bagi BPJS Kesehatan
Kerja (K3) BPJS Kesehatan telah ditetapkan dan sangatlah penting karena sebagian besar core business
menyadari potensi bahaya yang dimiliki setiap bangunan BPJS Kesehatan memerlukan dukungan Teknologi
gedung sehingga perlu adanya implementasi Informasi. Untuk membantu Teknologi Informasi BPJS
Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut. Untuk Kesehatan mencapai sasaran dan target yang telah
itu, telah dibentuk regu koordinator lantai keadaan disusun, diperlukan sebuah Perencanaan Strategis
darurat di setiap unit kerja serta dilakukannya sosialisasi Teknologi Informasi (Information Technology Strategic
Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja BPJS Plan) yang selaras dengan Strategi Bisnis (Business
Kesehatan di Kedeputian Wilayah. Selain itu juga telah Strategic) BPJS Kesehatan. Rencana Strategis Teknologi
dilakukan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan K3 dengan Informasi merupakan alat bagi manajemen sebagai
tujuan agar duta BPJS Kesehatan dapat panduan pendayagunaan teknologi informasi sehingga
mengimplementasikan penanganan K3 dalam sektor secara esensial dapat beroperasi secara efisien dan
listrik, konstruksi bangunan dan penanggulangan mendukung tujuan bisnis.
kebakaran dengan baik dan benar sesuai dengan

60 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Review dan Implementasi Tata Kelola TI PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN
Tata kelola Teknologi Informasi merupakan struktur APLIKASI
kebijakan, prosedur, serta kumpulan proses yang Pengembangan aplikasi pada tahun 2017 diprioritaskan
bertujuan untuk memastikan terciptanya kesesuaian dalam mendukung penguatan keberlangsungan
dalam penerapan Teknologi Informasi serta dukungannya organisasi dengan pengembangan aplikasi baru dan
terhadap pencapaian tujuan unit kerja dengan optimalisasi fungsi aplikasi eksisting serta pemeliharan
mengoptimalkan manfaat yang ditawarkan oleh aplikasi yang telah berjalan.
Teknologi Informasi, mengendalikan penggunaan
sumber daya Teknologi Informasi, serta mengelola Pengembangan dan Implementasi Aplikasi
risiko-risiko yang terkait dengan Teknologi Informasi. Dalam menunjang keberlangsungan kegiatan
organisasi melalui kegiatan pengembangan dan
Pada tahun 2017 telah dilakukan Asesmen IT Maturity implementasi aplikasi pada tahun 2017, aplikasi
Level menggunakan kerangka kerja COBIT 4.1 untuk yang telah diimplementasikan adalah sebanyak 62
mengetahui tingkat kematangan dan kapabilitas aplikasi.
Teknologi Informasi BPJS Kesehatan. Hasil Asesmen
IT Maturity Level BPJS Kesehatan tersebut diperoleh Perkembangan Otomasi Proses Bisnis
tingkat kematangan di level 3,85 yang artinya bahwa Otomasi proses bisnis diprioritaskan pada
sebagian besar prosedur dalam Tata Kelola Teknologi penyelesaian aplikasi yang berdampak secara
Informasi mengalami peningkatan (penyempurnaan langsung pada dukungan penguatan keberlangsungan
dan perbaikan) dibandingkan tahun sebelumnya yaitu organisasi tahun 2017. Bersama unit kerja terkait
pada level 3,08. Namun masih ada beberapa proses ditetapkan prioritas penyelesaian dari requirement
yang harus ditingkatkan agar Tata Kelola Teknologi dan change request yang masuk pada tahun 2017.
Informasi menjadi lebih baik.
Aplikasi yang telah dikembangkan untuk mendukung
Review dan Implementasi Arsitektur TI pencapaian fokus utama organisasi sebagai berikut:
Pada tahun 2017, telah dilakukan review terhadap 1. Pelayanan Kesehatan.
ITSP (Information Technology Strategic Plan) BPJS Ruang lingkup:
Kesehatan Tahun 2016-2020 dan Arsitektur Teknologi a. Pengelolaan penagihan klaim melalui Fasilitas
Informasi BPJS Kesehatan yang bertujuan untuk Kesehatan.
penyelarasan antara ITSP eksisting dengan Strategic b. Pengelolaan verifikasi klaim pelayanan
Plan organisasi serta dalam rangka mengukur capaian kesehatan.
pemenuhan gap Arsitektur Teknologi Informasi. c. Pengelolaan data Fasilitas Kesehatan.

Pengguna:
Internal dan Fasilitas Kesehatan.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 61
Tabel Aplikasi Terkait Pelayanan Kesehatan
No. Aplikasi Jenis Aplikasi Fitur & Manfaat Aplikasi Pengguna
1 Aplikasi BPJS Office Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan tagihan klaim dari FKTP, Internal
App (BOA) FKRTL dan Provider (Optik, Lab)
2 Aplikasi Luar Paket Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk verifikasi & penerbitan tagihan pelayanan Internal, Petugas
INA-CBG (LUPIS) di luar paket INA-CBG dan pelayanan Provider (Optik, Lab) Provider (Optik,
Lab)
3 Aplikasi Primary Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan dan penagihan pelayanan FKTP
Care (PCARE) BPJS Kesehatan non-Kapitasi pada FKTP
4 Aplikasi Referensi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pembuatan kode referensi FKTP, FKRTL, Internal
Online Asuransi Komersial COB dan Satuan Kerja
5 Aplikasi Surat Desktop Aplikasi yang dipergunakan untuk: Internal, FKRTL
Eligibilitas Peserta · Penerbitan surat eligibilitas peserta untuk mendapatkan pelayanan
(SEP) kesehatan di FKRTL (User FKRTL)
· Pengajuan Klaim
· Verifikasi klaim FKRTL hasil luaran INA-CBG (Verifikator BPJS
Kesehatan di FKRTL)
· Pencatatan Fraud (Verifikator BPJS Kesehatan di FKRTL)

2. Keuangan. c. Pengelolaan pembayaran klaim Fasilitas


Ruang lingkup: Kesehatan.
a. Pengelolaan pencatatan sistem keuangan d. Pengelolaan penggajian, pajak dan investasi.
dan akuntansi.
b. Pengelolaan penerimaan iuran peserta JKN. Pengguna:
Internal, Fasilitas Kesehatan, dan Bank Mitra.

Tabel Aplikasi Terkait Keuangan


No. Aplikasi Jenis Aplikasi Fitur & Manfaat Aplikasi Pengguna
1 Aplikasi Andalan Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk memberikan informasi denda pelayanan FKRTL
kesehatan
2 Aplikasi Bcash Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pembayaran iuran melalui Kantor Cabang Internal
3 Aplikasi Akuntansi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan pembukuan akuntansi Internal
4 Aplikasi Keuangan Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan keuangan BPJS Kesehatan & Internal
DJS
5 Aplikasi Revenue Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk proses rekon data FTP Bank Internal
Collection
Management
System (Revenant)
6 Aplikasi Autodebet Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pendaftaran peserta auto debit di bank Bank Mitra
7 Aplikasi Uang Muka Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan pengajuan Uang Muka Kerja Internal
Kerja (UMK)
8 Aplikasi In-Monica Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pembayaran klaim FKTP dan FKRTL FKTP & FKRTL
10 Aplikasi Iuran Wajib (IW) Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan premi APBD dan APBN Internal
11 Aplikasi Investasi Kantor Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan investasi BPJS Kesehatan Internal
Pusat
12 Aplikasi Payroll Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk penggajian Pegawai BPJS Kesehatan Internal
13 Aplikasi Pajak Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk perhitungan pajak Internal
14 Laporan Iuran Premi Web Based Aplikasi untuk pelaporan penerimaan iuran segmen PBPU dan PPU Internal

62 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
3. Kepesertaan. Pengguna:
Ruang lingkup: Internal, Bank Mitra, Care Center, Agen PPOB, Peserta
a. Pengelolaan administrasi sistem kepesertaan JKN dan Publik.
JKN.
b. Pengelolaan kegiatan pemasaran.
c. Pengelolaan informasi tagihan iuran peserta
JKN.

Tabel Aplikasi Terkait Kepesertaan


No. Aplikasi Jenis Aplikasi Fitur & Manfaat Pengguna
1 Aplikasi Aktivasi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk melakukan aktivasi peserta Internal
2 Aplikasi Manajemen Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pengelolaan user aplikasi BPJS Internal
User Kesehatan
3 Aplikasi Kepesertaan Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan administrasi peserta Internal
4 Aplikasi Kepesertaan Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk mencetak e-ID peserta PPU BU Badan Usaha
(Cetak e-ID Peserta BU) /
BPJS Admin
5 Aplikasi BPJS Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pendaftaran Peserta BPJS Bank Mitra
Admission Kesehatan via bank
6 Aplikasi Pendaftaran Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pendaftaran peserta PBPU & BP Agen Care Center &
Peserta Mandiri melalui Agen PPOB
Care Center
7 Aplikasi BPJS Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk cek tagihan iuran Peserta via Peserta JKN-KIS
Checking website BPJS Kesehatan
8 Aplikasi Kepesertaan Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pendaftaran Peserta BPJS Publik
(Daftar Via Website) / Kesehatan via website BPJS Kesehatan
BPJS Online
9 Aplikasi Cetak Kartu Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk cetak kartu e-ID bagi bayi baru lahir Internal
Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit.
10 Aplikasi Pemasaran Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan kegiatan pemasaran. Internal
11 Aplikasi Registrasi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pendaftaran Badan Usaha menjadi Badan Usaha
Badan Usaha Peserta BPJS Kesehatan via website BPJS Kesehatan.
12 Aplikasi Rekonsiliasi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk rekon tagihan dan iuran Badan Internal
Tagihan Usaha & PBPU

4. Pendukung/Supporting h. Pengelolaan kepegawaian internal.


Ruang lingkup: i. Pengelolaan proses pengadaan barang dan
a. Pengelolaan administrasi sistem kepesertaan jasa.
JKN. j. Pengelolaan pencatatan keluhan oleh service
b. Pengelolaan pelayanan peserta JKN. desk internal.
c. Pengelolaan proses bisnis, regulasi dan k. Pengelolaan monitoring kinerja organisasi.
anggaran internal. l. Pengelolaan pencatatan kerja sama antar
d. Pengelolaan administrasi pengiriman kartu lembaga.
JKN-KIS. m. Pengelolaan Kader JKN.
e. Pengelolaan pencatatan & penanganan
keluhan peserta JKN. Pengguna:
f. Pengelolaan data fasilitas kesehatan. Internal, Bank Mitra, Kader JKN, Fasilitas Kesehatan,
g. Pengelolaan tata persuratan internal. Peserta JKN dan Publik.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 63
Tabel Aplikasi Pendukung
No. Aplikasi Jenis Aplikasi Fitur & Manfaat Pengguna
1 Aplikasi Migrasi Data Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk migrasi data kepesertaan PPU dan Internal
Badan Usaha / Mig34 PBPU Kolektif via file excel
2 Aplikasi e-Dabu (elektronik Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan dan mutasi data Badan Usaha
Data Badan Usaha) Karyawan Badan Usaha serta mengecek tagihan Badan Usaha
3 Aplikasi P3D-KIS Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan dan monitoring Internal
distribusi Kartu Indonesia Sehat (KIS)
4 Aplikasi Cetak Cepat KIS Desktop Aplikasi yang dipergunakan untuk pencetakan kartu JKN KIS secara Internal
masal
5 Aplikasi Saluran Informasi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan & penanganan keluhan Publik
Pengaduan Peserta (SIPP) Peserta
6 Aplikasi e-Performance Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk monitoring cakupan Tri Sukses BPJS Internal
Kesehatan
7 Aplikasi CSTI-Supel Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk sistem antrian yang terintegrasi Internal
dengan survei kepuasan pelayanan frontdesk Kantor Cabang
8 Aplikasi Absensi Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan absensi pegawai Internal
Realtime
9 Aplikasi IHC Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk penilaian kinerja pegawai Internal
10 Aplikasi Arsip Digital BPJS Web Based Otomasi bisnis proses kearsipan BPJS Kesehatan Internal
Kesehatan
11 Aplikasi Arsip Digital Web Based Otomasi bisnis proses kearsipan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Internal
Dewas
12 Aplikasi Komunikasi Web Based Media informasi yang digunakan oleh BPJS Kesehatan untuk pegawai Internal
Internal BPJS kesehatan
13 Aplikasi Aplicares Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencarian lokasi FKTP , FKRTL dan Publik
Kantor BPJS Kesehatan, informasi profil FKTP dan FKRTL serta
informasi ketersediaan kamar inap FKRTL
14 Aplikasi HFIS Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk Pencatatan Data FKTP & FKRTL FKTP & FKRTL
(Kredentialing) serta Kredensialing
15 Aplikasi RKA Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk mengelola proses perencanaan Internal
anggaran BPJS Kesehatan
16 Aplikasi Bisnis Proses Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk mendukung proses automatisasi Internal
pembuatan bisnis proses
17 Aplikasi Regulasi Web Based Bank data peraturan BPJS Kesehatan Internal
18 Manajemen User Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan dan pengelolaan user Internal
Requirement (Manjur) requirement pengembangan sistem informasi
19 Aplikasi Manajemen Tiket Web Based Pencatatan dan pengelolaan penanganan keluhan oleh IT Service Internal
Desk
20 Aplikasi Manajemen Risiko Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan dan pengelolaan risiko Internal
21 Aplikasi P2BJ Web Based Otomasi pembuatan berita acara P2BJ Internal
22 Aplikasi Monitoring Web Based Monitoring proses pembangunan atau renovasi gedung BPJS Internal
Pembangunan Kesehatan
23 Aplikasi KM-Portal Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk Knowledge Management Internal
BPJS Kesehatan
24 Aplikasi Monitoring PKS & Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk Monitoring PKS & MOU Internal
MOU

64 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Aplikasi Pendukung
No. Aplikasi Jenis Aplikasi Fitur & Manfaat Pengguna
25 Mobile JKN Mobile Aplikasi yang dipergunakan untuk Pendaftaran Peserta Baru PBPU, Cek Publik
Android dan Tagihan, Riwayat Pembayaran, Pencarian Fasilitas Kesehatan, Skrining
iOS Riwayat Kesehatan
26 Aplikasi Mudik BPJS Mobile Media Informasi seputar mudik BPJS kesehatan yang di dalamnya Publik
Kesehatan Android dan berisi informasi Kantor BPJS kesehatan, fasilitas kesehatan, tips
iOS mudik dan FAQ BPJS Kesehatan
27 Aplikasi Kepatuhan Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan dan monitoring sanksi Internal
(Wasrik) kepada BU yang bermasalah
28 Aplikasi Monev Kinerja Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk Monitoring capaian kinerja Internal
organisasi
29 Aplikasi Kader JKN Mobile Aplikasi yang dipergunakan untuk: Kader JKN
Android a. Pencatatan & pelaporan kegiatan Kader JKN
b. Informasi tunggakan & riwayat pembayaran peserta binaan Kader
JKN
30 Aplikasi iMaps (SIM SDS) Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk pencatatan aset BPJS Kesehatan Internal
31 Portal Manajemen Web Based Aplikasi yang dipergunakan untuk menyajikan informasi dalam Internal
Pelaporan (Business mendukung pengambilan keputusan
Intelligence)

KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI (PC, Laptop dan perangkat server) serta keamanan
Dalam rangka mengimplementasikan Sistem Keamanan sistem aplikasi dan database untuk menjamin
Teknologi Informasi di Lingkungan BPJS Kesehatan sistem berjalan sesuai dengan kaidah keamanan
maka dilaksanakan serangkaian aktivitas yang komunikasi dan data.
dibutuhkan sebagai berikut: 5. Monitoring dan evaluasi rutin terhadap hak akses
1. Peningkatan terhadap kontrol keamanan dan pengguna pada perangkat Teknologi Informasi
ditindaklanjuti penggunaan dari sisi perangkat BPJS Kesehatan baik itu perangkat jaringan,
keamanan teknologi informasi yaitu firewall, server, dan database untuk meningkatkan kontrol
untuk pencegahan terhadap ancaman intrusion keamanan terhadap penyalahgunaan kewenangan
menggunakan modul Intrusion Detection System serta monitoring dan evaluasi terhadap hak akses
(IDS)/Intrusion Prevention System (IPS). pengguna di aplikasi BPJS Kesehatan.
2. Sosialisasi kepada pengguna sistem informasi 6. Untuk implementasi keamanan pada technical
terkait tindakan pencegahan terhadap insiden control, juga dibentuk Security Incident and
keamanan teknologi informasi di lingkungan Response Team (SIRT) sebagai tim khusus dalam
BPJS Kesehatan. penanganan insiden yang berhubungan dengan
3. Monitoring dan evaluasi rutin terhadap perangkat keamanan informasi TI.
server di DC dan DRC melalui Manajemen Konsol 7. Dalam pengembangan sistem aplikasi telah
dari Endpoint Protection/Antivirus. diterapkan beberapa kebijakan keamanan untuk
4. Melaksanakan kegiatan rutin security assesment secure coding serta awareness terhadap pengguna
terhadap sistem teknologi informasi di lingkungan (user) akan pentingnya menjaga keamanan data
BPJS Kesehatan meliputi keamanan sistem dan informasi organisasi.
jaringan dan infrastruktur teknologi informasi

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 65
MANAJEMEN DATA DAN INFORMASI JARINGAN DAN INFRASTRUKTUR
TEKNOLOGI INFORMASI
Pengelolaan Data Warehouse
Kegiatan pengelolaan data warehouse bertujuan untuk Pengembangan dan Pemeliharaan Infrastruktur
menyediakan informasi sesuai kebutuhan laporan 1. Pengembangan dan Pemeliharaan Hardware
organisasi yang valid, dengan ruang lingkup kegiatan Jumlah perangkat infrastruktur TI untuk
sebagai berikut: mendukung operasional SIM BPJS Kesehatan
1. Purifikasi data transaksi. adalah sebagai berikut:
2. Pengolahan data set sesuai kebutuhan.
Tabel Jumlah Perangkat Infrastruktur TI
Tahun 2017
Sistem Pelaporan BPJS Kesehatan telah di dukung
No. Perangkat DC DRC Jumlah
dengan Teknologi Data Warehouse dan Business
1 2 3 4 5=3+4
Intelligence yaitu sebuah metode untuk melakukan
1 Jaringan 183 55 238
transformasi data transaksional hingga menjadi Komunikasi
informasi yang bermakna dan bermanfaat bagi Data*)
pengambilan keputusan bagi Manajemen BPJS 2 Storage 788TB 301TB 1089TB
Kesehatan dan stakeholder terkait. 3 Server 186 76 262
Jaringan Komunikasi Data sebanyak 238 unit antara lain meliputi: router,
*)

Sebagai sebuah teknologi untuk membantu pengambilan switch, load balancer, switch access list, portal SSL, core router dan

keputusan, Business Intelligence membantu proses fortinet.

pengambilan keputusan agar lebih efektif, bukan


hanya menggunakan asumsi melainkan juga 2. Pengembangan dan Pemeliharaan Jaringan
berdasarkan data dan fakta. Aplikasi Business Komunikasi Data.
Intelligence (BI) merupakan sebuah portal aplikasi Pada tahun 2017, jaringan komunikasi data yang
yang digunakan sebagai sumber pelaporan (reports telah terpasang dan tersebar di internal BPJS
management portal) yang berguna untuk menyajikan Kesehatan, fasilitas kesehatan serta beberapa
informasi secara visual, baik statis maupun responsif, mitra, secara rinci disajikan pada tabel berikut:
analytic hingga self-service yang dilakukan secara
mandiri oleh pengguna. Sistem ini menyajikan
kebutuhan pelaporan terhadap seluruh sistem informasi
yang digunakan oleh BPJS Kesehatan sehingga hak
akses pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pengembangan dan Pemeliharaan Database


Terpusat (Database Administrator)
Kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan layanan
database yang mendukung operasional SIM BPJS
Kesehatan, dengan ruang lingkup kegiatan sebagai
berikut:
1. Proses pemeliharaan dan tunning database.
2. Pemeliharaan tabel referensi.
3. Proses backup database.
4. Hak akses database.

66 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Jumlah Koneksi Jaringan Komunikasi Data
Tahun 2017
Teknologi Koneksi
Jumlah Total
No. Lokasi Internet VPN Over % Koneksi
Lokasi VPN VSAT Koneksi
Publik GPRS
1 2 3 4 5 6 7 8=4+5+…+7 9=8/3
1 Kantor Pusat 19 4 - 6 9 19 100,00%
2 Kedeputian Wilayah 13* 13 - - 13 26 100,00%
3 Kantor Cabang 127** 127 - - 127 254 100,00%
4 Ekstensi KC 12 11 - - - 11 91,67%
5 Kantor Kabupaten/Kota 388 279 97 - - 376 96,91%
6 Liason Office 34 21 - - - 21 61,76%
7 Pusdiklat 2 1 - 1 - 2 100,00%
8 Faskes Primer 21.730 - - 19.061 - 19.061 87,72%
9 Faskes Rujukan 2.303 358 20 1.692 2.070 89,88%
10 Eksternal/Instalansi 9 8 - - - 8 88,89%
Terkait
Jumlah 24.637 21.848 88,68%
*Jumlah sebenarnya adalah 26 (13 VPN + 13 VPN GPRS)
**Jumlah sebenarnya adalah 254 (127 VPN + 127 VPN GPRS)

LAYANAN TEKNOLOGI INFORMASI Website


Website BPJS Kesehatan dengan alamat www.bpjs-
Email BPJS Kesehatan kesehatan.go.id mulai dioperasikan pada tanggal 1
Layanan email BPJS Kesehatan dipergunakan untuk Januari 2014 dengan tujuan sebagai media informasi
mendukung percepatan operasional pegawai (@bpjs- bagi masyarakat untuk mengetahui seluk beluk
kesehatan.go.id) dan sistem penyampaian tagihan penyelenggaraan JKN oleh BPJS Kesehatan. Website
iuran kepada Badan Usaha (@bpjskes.id). Pada tahun tersebut selain berisikan informasi-informasi terkait
2017, jumlah akun email sebanyak: JKN juga dapat diakses oleh masyarakat yang ingin
1. Akun email pegawai berjumlah 8.052 buah. mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan.
2. Akun email Badan Usaha berjumlah 156.374
buah.
3. Akun email Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(Puskesmas) berjumlah 11.746 buah.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 67
PENELITIAN DAN KAJIAN INOVASI PENDANAAN DEFISIT
PENGEMBANGAN PROGRAM JKN-KIS MELALUI PUNGUTAN
(TAMBAHAN) ATAS ROKOK UNTUK
Kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan KESEHATAN (PRUK)
untuk memberikan rekomendasi kebijakan berdasarkan 1. PRUK merupakan salah satu alternatif yang sangat
evidence based, perbaikan kebijakan pengelolaan direkomendasikan untuk pembiayaan JKN karena:
internal, pengukuran kinerja serta pengembangan 1) tidak membebani APBN, 2) tidak mengurangi
inovasi. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan melalui alokasi anggaran kesehatan, 3) tidak membebani
Kedeputian Bidang Riset dan Pengembangan melakukan pemerintah daerah, dan 4) mekanisme pungutan
kajian antara lain: dan pengelolaannya lebih mudah.
2. Potensi dana yang terkumpul dari PRUK
diperkirakan antara Rp13,80 triliun hingga Rp21,30
KAJIAN DAMPAK JAMINAN KESEHATAN triliun dari skenario produksi 340 miliar batang
NASIONAL TERHADAP KEMISKINAN rokok (dapat dipakai untuk menutup defisit JKN).
1. Program JKN-KIS terbukti mengurangi angka 3. PRUK diterapkan hanya pada rokok buatan mesin
kemiskinan dan menyelamatkan dari kondisi dengan pertimbangan: 1) pangsa pasar cukup
jatuh lebih miskin serta mengurangi ketimpangan besar, 2) bersifat padat modal, 3) jumlah pabrik
(Gini Ratio). lebih sedikit, dan 4) penyumbang cukai terbanyak.
2. Program JKN-KIS menurunkan pengeluaran Opsi ini juga diharapkan dapat mengurangi
kesehatan peserta pada biaya jasa pelayanan resistensi dari pabrik rokok jenis SKT (Sigaret
kesehatan. Kretek Tangan) yang bersifat padat karya dan
3. Program JKN-KIS menyelamatkan 984 ribu jumlah pabriknya lebih banyak.
hingga 1,18 juta peserta pada tahun 2015 dan 4. Mekanisme pengumpulan dan penyetoran PRUK
sekitar 990 ribu hingga 1,16 juta peserta pada menggunakan mekanisme pengumpulan dan
tahun 2016 dari kemiskinan akibat biaya penyetoran pajak seperti halnya mekanisme yang
pelayanan kesehatan. dilakukan untuk pajak rokok.
4. Program JKN-KIS melindungi 15,9 juta jiwa
pada tahun 2015 dan 14,5 juta jiwa pada tahun
2016 dari kondisi kemiskinan yang lebih parah. KAJIAN KESIAPAN PENERAPAN
5. Tanpa Program JKN-KIS, ada 320 ribu penduduk PELAYANAN TANPA KELAS RAWAT
miskin yang harus berutang hingga Rp12,3 Kajian ini dilakukan agar diperoleh gambaran kesiapan
juta pada tahun 2015 dan 290 ribu penduduk penerapan pelayanan tanpa kelas pada semua pihak
miskin yang harus berutang hingga Rp7,3 juta yang terkait, serta diperoleh rekomendasi untuk
pada tahun 2016 untuk membiayai layanan pengambilan keputusan mengenai penerapan pelayanan
kesehatan yang layak. tanpa kelas. Rekomendasi yang diperoleh dari hasil
6. Program JKN-KIS menekan angka ketimpangan kajian ini adalah bahwa diperlukan adanya revisi Peta
(koefisien GINI) dari 0,395 ke 0,394 pada tahun Jalan JKN khususnya terkait target waktu implementasi
2015, dan dari 0,384 ke 0,383 pada tahun 2016. manfaat kelas standar dalam JKN; penguatan regulasi

68 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Peraturan Presiden untuk mengatur pengertian kelas KAJIAN KESIAPAN PENERAPAN
standar serta Permenkes untuk standarisasi fisik kelas PELAYANAN KELAS STANDAR RAWAT
perawatan di rumah sakit; sosialisasi ke stakeholder INAP
pemerintah, peserta dan rumah sakit untuk persiapan 1. Amanat dalam Peta Jalan Jaminan Kesehatan
implementasi kebijakan “manfaat kelas standar” bagi Nasional agar pada tahun 2019 paket manfaat
peserta JKN; serta apabila kebijakan kelas standar jaminan kesehatan diupayakan sama untuk semua
ini akan diterapkan, maka perlu peran serta kementerian/ peserta baik manfaat medis dan non-medis (kelas
lembaga dalam mengawal implementasi kebijakan perawatan). Kelas perawatan yang dituju adalah
kelas standar. kelas I (satu kamar 3 orang) atau setidak tidaknya
kelas II.
2. Rumah sakit pemerintah lebih mudah
EKSTENSIFIKASI CUKAI SEBAGAI bertransformasi menjadi satu kelas perawatan
INOVASI PENDANAAN JKN-KIS MENUJU dengan dukungan subsidi dari pemerintah.
INDONESIA SEHAT 2025 Sebaliknya masalah yang dihadapi rumah sakit
1. Pemerintah Indonesia dapat mengikuti langkah swasta adalah keterbatasan dana untuk investasi
Filipina dan Rumania yang mengalokasikan jika diimplementasikan kelas standar.
sebagian dana cukai untuk membiayai Jaminan 3. Kebutuhan tempat tidur (TT) pada tahun 2019
Kesehatan rakyatnya. Di Filipina 80% dari sisa (dengan asumsi jumlah rumah sakit sama pada
saldo pendapatan tambahan yang berasal dari tahun 2017 saat ini) secara nasional adalah 37.257
Undang-Undang cukai dialokasikan untuk TT.
perawatan kesehatan semesta di bawah Program 4. Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan
Jaminan Kesehatan Nasional. kebijakan kelas standar diperlukan waktu minimal
2. Pemerintah Indonesia saat ini hanya mengenakan 5 tahun (lebih dari 5 tahun) untuk mempersiapkan
cukai pada 3 Barang Kena Cukai (BKC) yaitu infrastruktur di rumah sakit.
tembakau, minuman beralkohol, dan etil alkohol.
Apabila ada tambahan 11 BKC maka total
penerimaan cukai setelah ekstensifikasi berpotensi KAJIAN EVALUASI EKONOMI PENAMBAHAN
menjadi (Rp150 triliun + Rp47,7 triliun) = Rp197,7 BEVACIZUMAB PADA REGIMEN KEMOTERAPI
triliun, sehingga diusulkan earmarking dana cukai UNTUK TERAPI KANKER KOLOREKTAL
10% (potensi Rp19,7 triliun) untuk JKN-KIS dan METASTASE (MCRC)
5% (Rp9,9 triliun) untuk program promosi 1. Penambahan bevacizumab pada regimen kemoterapi
kesehatan nasional agar masyarakat berperilaku untuk terapi pasien mCRC membutuhkan tambahan
hidup sehat. anggaran sebesar Rp514.855.919.662 untuk 6.110
3. Usulan penambahan 11 BKC yaitu: 1) Bahan Bakar pasien mCRC yang ada di Indonesia untuk terapi
Minyak, 2) Minuman berpemanis, 3) Minyak selama 1,5 tahun.
Goreng (Kelapa Sawit), 4) Mobil, 5) Pulp and 2. Penambahan bevacizumab pada regimen
paper, 6) Tiket pesawat terbang, 7) Makanan kemoterapi untuk terapi pasien mCRC tidak cost
mengandung garam (fast food), 8) Puntung rokok, effective, dengan nilai ICER dari perspektif
9) Sepeda Motor, 10) Smartphone, 11) Kantong penyedia layanan (rumah sakit) sebesar
Plastik. Rp653.336.010 per (Quality Adjusted Life Years)
QALY jika menggunakan data sekunder dan
Rp354.719.903 per QALY jika menggunakan real
world data.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 69
KAJIAN EVALUASI EKONOMI TERAPI UJI COBA PEMBERIAN KOMPENSASI DI
CETUXIMAB UNTUK PASIEN DENGAN DAERAH BELUM TERSEDIA FASILITAS
KANKER KOLOREKTAL (KKR) METASTASIS KESEHATAN YANG MEMENUHI SYARAT
1. Hasil evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa 1. Uji coba dilaksanakan di 6 Kabupaten yaitu Aceh
terapi cetuximab dan FOLFOX dibandingkan Barat, Anambas, Malinau, Mamuju, Ende, dan
dengan pemberian FOLFOX atau FOLFIRI saja Nduga.
menghasilkan ICER berturut-turut sebesar 2. Pengiriman tenaga kesehatan di FKTP melibatkan
Rp1.744.943.818 dan Rp1.494.737.964 untuk dokter, perawat/bidan, dan tenaga kesehatan
mendapatkan satu tahun hidup berkualitas yang masyarakat dengan rata-rata berjumlah 3-5 orang
disesuaikan. Sedangkan jika dibandingkan dengan dalam satu tim. Intensitas pengiriman tim tenaga
cetuximab dan FOLFIRI, ICER yang dihasilkan kesehatan rata-rata sebanyak 1-2 kali per bulan
adalah Rp1.951.881.031 per QALY. selama kurang lebih 3-5 hari per kunjungan
2. Penambahan cetuximab pada regimen kemoterapi (termasuk lama waktu perjalanan pulang-pergi).
untuk pasien dengan KKR metastasis tidak 3. Kompensasi yang diberikan oleh BPJS Kesehatan
mengindikasikan hasil yang cost-effective. Selain untuk tenaga kesehatan berupa uang harian dan
itu, tambahan luaran yang diberikan, dalam hal biaya transportasi. Penyediaan akomodasi, tempat
tambahan tahun hidup, tidak signifikan. dan sarana pemberian pelayanan kesehatan
menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
4. Rata-rata jumlah kunjungan peserta JKN lebih
KAJIAN EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI dari 50 kali pada setiap kunjungan tim tenaga
IMPLEMENTASI KAPITASI BERBASIS kesehatan. Kunjungan terbanyak mencapai lebih
PEMENUHAN KOMITMEN (KBK) dari 120 pasien per kunjungan tim di Ende.
PELAYANAN DI FKTP
1. FKTP yang menjalankan KBK berbeda signifikan Selain kajian di atas, Kedeputian Bidang Riset dan
dengan FKTP non-KBK dari pencapaian indikator Pengembangan juga telah melakukan beberapa kajian
angka kontak, rasio rujukan dan rasio peserta dan survei, secara keseluruhan berjumlah 32 kajian
yang menghadiri program pengelolaan penyakit sebagai berikut:
kronis (Prolanis). FKTP yang menjalankan KBK 1. Aspek Kepesertaan
kinerjanya lebih baik daripada FKTP non-KBK. a. Survei Kepuasan Peserta dan Fasilitas
2. Terdapat efisiensi biaya yang dilihat dari pencapaian Kesehatan.
indikator KBK dalam mencegah kunjungan peserta b. Survei Efektivitas Sosialisasi.
ke rumah sakit. Pencapaian indikator tersebut c. Survei Tingkat Pemahaman terhadap
merupakan salah satu bentuk penguatan FKTP Prosedur, Hak dan Kewajiban Peserta
sebagai gatekeeper. Program JKN-KIS.
3. Indikator KBK perlu diperbaharui sehingga d. Analisis Integrasi Jamkesda dalam Program
berorientasi pada outcome status kesehatan JKN.
peserta. e. Studi Dampak Implementasi Revolusi Mental
Terhadap Kualitas Pelayanan BPJS Kesehatan.
f. Spotcheck Distribusi Kartu Indonesia Sehat.
g. Kajian Analisis Potensi Peserta Penerima
Upah-Badan Usaha (PPU-BU).

70 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
2. Aspek Keuangan e. Kajian Sistem Pembayaran Pelayanan Rawat
a. Analisis Kepatuhan BUMN dalam Membayar Jalan di Rumah Sakit.
Iuran PPU BU. f. Evaluasi Ekonomi Penambahan Bevacizumab
b. Kajian Efektivitas Virtual Account Keluarga. pada Regimen Kemoterapi Kanker Colorektal
c. Inovasi Pendanaan Defisit Program Jaminan RKA (Health Technology Assessment).
Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat g. Kajian Efektivitas Klinis dan Evaluasi Ekonomi
(JKN-KIS) melalui Pungutan (Tambahan) atas Terapi Cetuximab untuk Pasien dengan
Rokok untuk Kesehatan (PRUK). Metastic Colorectal (Health Technology
d. Kajian Creative Funding sebagai Upaya Assessment).
Alternatif Pengumpulan Dana Bagi BPJS h. Kajian Pengukuran Indeks Kualitas Layanan
Kesehatan. Fasilitas Kesehatan
e. Studi Potensi Efisiensi Biaya Kapitasi i. Kajian Efektifitas dan Efisiensi Implementasi
berdasarkan Skema Perhitungan Kapitasi Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen
dari Peserta PBPU menunggak Pelayanan Di FKTP.
f. Kajian Efektivitas Implementasi Kader JKN. j. Uji Coba dan Pengembangan Konsep
g. Kajian Efektivitas Pengenaan Denda Pelayanan Pemberian Kompensasi di Daerah Belum
BPJS Kesehatan. Tersedia Fasilitas Kesehatan yang Memenuhi
h. Kajian Ekstensifikasi Cukai Sebagai Inovasi Syarat.
Pendanaan JKN-KIS menuju Indonesia Sehat k. Kajian Efektivitas Program Kemitraan BPJS
2025. Kesehatan dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat
i. Ability to Pay (ATP) Peserta PBPU Program Primer.
JKN-KIS. l. Kajian Biaya Riil Layanan di RJTP sebagai
Dasar Perhitungan Besaran Kapitasi FKTP
3. Aspek Pelayanan Kesehatan Program JKN.
a. Kajian Kesiapan Penerapan Pelayanan Tanpa m. Kajian Pengembangan Model Pembayaran
Kelas Rawat. kepada FKTP (selain kapitasi).
b. Kajian Metode Pembayaran Global Budget.
c. Kajian Efisiensi dan Efektivitas Implementasi 4. Efektifitas Pengelolaan Program
VEDIKA. a. Organizational Image Survey.
d. Kajian Metode Pembayaran Berbasis Kinerja b. Survei Opini Pegawai Tahun 2017.
Berdasarkan Indikator Kualitas Layanan di c. Kajian Dampak Program JKN-KIS terhadap
FKRTL. Kemiskinan.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 71
AKTUARIA DAN 2. Perhitungan Proyeksi Biaya Pelayanan Kesehatan
MANAJEMEN RISIKO Dalam rangka perhitungan proyeksi biaya
pelayanan kesehatan, telah dilakukan pemodelan
terhadap kasus dan biaya per segmen peserta
AKTUARIA per Kedeputian Wilayah.
Kegiatan terkait pelaporan aktuaria yang telah dilakukan 3. Dalam upaya pengendalian defisit Dana Jaminan
pada tahun 2017 antara lain: Sosial, bidang Aktuaria melakukan hal-hal sebagai
berikut:
Perhitungan Imbalan Pasti Pasca Kerja (IPPK) a. Penyusunan naskah akademik yang
Dalam rangka kegiatan General Audit tahun buku disampaikan kepada Kementerian Koordinator
2016, maka pada tahun 2017 telah dilakukan pengadaan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
aktuaris independen untuk melakukan perhitungan (Kemenko PMK) pada bulan Januari 2017
IPPK dan LAT tahun 2016 serta review perhitungan sebagaimana hasil Rapat Terbatas Kabinet
IPPK tahun 2017 yang hasilnya telah telah disepakati tanggal 9 November 2016 maka penyusunan
aktuaris independen dengan KAP. Selain itu, telah Peraturan Presiden, dikoordinir oleh Menteri
dilakukan perhitungan IPPK tahun 2018 pegawai BPJS Koordinator Pembangunan Manusia dan
Kesehatan dengan berbagai simulasi perhitungan. Kebudayaan (Menko PMK).

Penyusunan Laporan Aktuaris Tahunan BPJS Kesehatan Naskah akademik tersebut disusun sebagai
Tahun 2016 tindak lanjut kegiatan Rapat Terbatas tanggal
Sesuai dengan persyaratan OJK Nomor 5/POJK.05/2013 9 November 2016 bahwa Presiden menyetujui
tentang Pengawasan BPJS oleh OJK tercantum bahwa untuk disusun langkah-langkah sistematis
BPJS Kesehatan harus menyusun laporan aktuaris dan menyeluruh untuk menyelamatkan
tahunan yang menggambarkan kemampuan pendanaan Program JKN-KIS, agar program ini dapat
program di masa depan dan laporan tersebut harus terus berlangsung (suistainability) dan
di-review oleh aktuaris independen minimal 1 kali memberikan dampak positif bagi seluruh
dalam 3 tahun, maka laporan aktuaris tahunan BPJS masyarakat. Naskah akademik yang disusun
Kesehatan tahun 2016 telah disampaikan ke OJK memberikan gambaran ringkas mengenai
pada tanggal 22 Juni 2017. Selain itu, telah dilakukan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh BPJS
review laporan aktuaris BPJS Kesehatan bersama Kesehatan dan seluruh pemangku
aktuaris independen dengan hasil bahwa secara kepentingan terkait kemampuan Dana
umum kelengkapan informasi pada Laporan Aktuaris Jaminan Sosial. Sehingga dalam jangka
(tahun 2014, 2015 dan 2016) sudah sesuai dengan panjang, diharapkan kesinambungan
rujukan ketentuan yang ada. program JKN-KIS dapat terjaga, dan
memberikan dampak positif kepada
Valuasi Aktuaria masyarakat (status kesehatan, proteksi
1. Analisa Perhitungan Cadangan Teknis (IBNR) finansial dan pertumbuhan ekonomi).
Berdasarkan Peraturan Direksi Nomor 13 tahun
2017 tanggal 1 Mei 2017 tentang metode dan Informasi yang disampaikan dalam naskah
asumsi perhitungan cadangan teknis BPJS akademik antara lain permasalahan yang
Kesehatan maka dalam perhitungan cadangan dihadapi dan upaya yang telah dilakukan
teknis BPJS Kesehatan tidak melakukan BPJS Kesehatan dalam melaksanakan
perhitungan cadangan premi (UPR). Perhitungan program JKN-KIS serta usulan solusi yang
cadangan teknis ini telah dilakukan setiap bulannya diharapkan dapat diterima untuk dimasukkan
sebagai bahan penyusunan laporan keuangan. dalam rancangan Peraturan Presiden (Perpres)

72 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
tentang Pengendalian Defisit Program MANAJEMEN RISIKO
Jaminan Kesehatan. Penyusunan Profil Risiko BPJS Kesehatan
b. Selain itu, untuk mendukung pengambilan Secara garis besar, penyusunan profil risiko BPJS
keputusan oleh Regulator, maka dilakukan Kesehatan meliputi proses sebagai berikut:
perhitungan proyeksi surplus/defisit Dana 1. Penyusunan strategi manajemen risiko
Jaminan Sosial dengan hasil proyeksi defisit Penyusunan profil risiko bertujuan untuk
tahun 2018 sebesar Rp13,48 triliun. Asumsi memberikan gambaran kepada manajemen dan
yang dipergunakan untuk hasil perhitungan para pemangku kepentingan tentang risiko yang
yaitu: jumlah peserta sesuai target dihadapi oleh organisasi agar upaya penanganannya
pemasaran, besaran iuran tetap (mengacu dapat menjadi perhatian. Penyusunan Profil Risiko
Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2016), Tahun 2017 didasarkan kepada Fokus Utama
tarif pelayanan kesehatan tetap sesuai BPJS Kesehatan Tahun 2017 yang tertuang melalui
regulasi yang berlaku, masa aktivasi peserta 3 Wildly Important Goals (WIG’s) yaitu
Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) 14 Keberlangsungan Finansial, Kepuasan Peserta
hari, memperhatikan tingkat kolektabilitas dan Cakupan Semesta.
per segmen peserta dan biaya operasional
5,05%. Strategi penyusunan Profil Risiko BPJS Kesehatan
c. Sampai dengan akhir tahun 2017 dilakukan Tahun 2017 dilakukan dalam 4 tahap, yaitu:
rapat-rapat pembahasan bersama dengan a. Penyempurnaan pedoman manajemen
Kementerian dan Lembaga terkait risiko.
(Kementerian Keuangan, Kementerian b. Penyusunan profil risiko unit kerja.
Kesehatan, Bappenas, Direksi BPJS c. Validasi profil risiko unit kerja, dan
Kesehatan dan lain-lain) serta akademisi d. Penyusunan laporan profil risiko.
yang dikoordinir oleh Kementerian Koordinator
PMK sebagai tindak lanjut atas usulan Penyusunan profil risiko BPJS Kesehatan dilakukan
regulasi Pemerintah terkait pengendalian secara berjenjang dengan urutan sebagai berikut:
defisit DJS antara lain sebagai berikut: a. Profil risiko Kantor Cabang dibuat oleh tiap
1) Pembahasan draf usulan Peraturan Kantor Cabang dan diagregasikan oleh Kantor
Presiden pengendalian defisit. Kedeputian Wilayah.
2) Pembahasan metode dan asumsi serta b. Profil risiko Kedeputian Wilayah dibuat oleh
skenario perhitungan proyeksi surplus/ tiap Kedeputian Wilayah berdasarkan
defisit DJS. masukan dalam pertemuan manajemen
3) Pembahasan pokok – pokok rancangan risiko dengan koordinator risiko.
Peraturan Presiden. c. Profil risiko Unit Kerja Kantor Pusat dibuat
4) Pemaparan metodologi dan upaya oleh tiap Kedeputian Bidang melalui
pengendalian defisit yang dilakukan pertemuan koordinator risiko dan
BPJS Kesehatan. administrator risiko nasional.
5) Pembahasan opsi strategis dalam d. Profil risiko organisasi BPJS Kesehatan
pengendalian defisit terkait bauran disusun berdasarkan gabungan beberapa
kebijakan yang diusulkan dalam regulasi. masukan sebagai berikut:
1) Rencana strategis 2017-2021.
2) Kajian 3 WIG’s.
3) Profil risiko Kedeputian Bidang.
4) Profil risiko Kedeputian Wilayah.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 73
Dari total 393 risiko yang muncul pada profil Metode asesmen yang digunakan adalah review
risiko semester II Tahun 2017, terdapat 10 Risiko dokumen, survei persepsi, interview dan observasi,
teratas organisasi yang telah dipilah berdasarkan serta review analitis. Dari asesmen tingkat maturitas
risiko yang menunjang capaian BPJS Kesehatan ERM ini diperoleh hasil dengan nilai 2,86 yang berada
yaitu 3 WIG’s sebagai berikut: pada level 3 (repeatable).

No. Risiko Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan juga telah menerima
1 Rendahnya kolektabilitas iuran (Dukungan Dana, Longevity 3 penghargaan ASEAN Risk Awards 2017 dalam kategori
Risk)
Runner-Up Public Initiative, 5 terbaik kategori Public Risk,
2 Besaran iuran JKN tidak sesuai dengan harga
serta 5 terbaik kategori Risk Manager of The Year pada
keekonomian (Asuransi, Economic Risk)
acara pemberian penghargaan yang diselenggarakan
3 Tingginya keluhan terhadap pelayanan administrasi
kepesertaan (Operasional) oleh ERMA (Enterprise Risk Management Academy).
4 Tingginya keluhan peserta terhadap pelayanan faskes Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi dorongan
(Operasional, Moral Hazard) untuk meningkatkan kualitas implementasi manajemen
5 Rendahnya dukungan regulator dan pemangku risiko dalam membantu pencapaian target-target
kepentingan lainnya terhadap Program JKN-KIS (Strategis,
Epidemic Risk) organisasi serta menciptakan nilai tambah organisasi.
6 Penegakan Kepatuhan membayar iuran belum optimal
7 Tingginya fraud oleh Fasilitas Kesehatan Penyusunan Pedoman Business Continuity Management
8 Biaya tambahan peserta yang harus dibayarkan (iur biaya) (BCM)
9 Distribusi peserta pada faskes dan nakes tidak merata Pedoman BCM ini disusun dengan maksud untuk
10 Penempatan SDM tidak sesuai dengan kompetensi dan memberi arahan bagi BPJS Kesehatan dalam rangka
latar belakang pendidikan mengimplementasikan BCM secara efektif serta
memberikan petunjuk yang terdokumentasi dalam
2. Penyusunan Kajian Risiko. hal perencanaan, penyiapan, implementasi, evaluasi
Pada tahun 2017, telah dilakukan penyusunan dan peningkatan secara berkesinambungan, yang
kajian risiko dan policy brief kajian risiko terkait harus dilakukan oleh suatu organisasi sehingga
kebijakan-kebijakan sebanyak 115 kajian risiko. organisasi dapat menerapkan BCM secara efektif.
Selain itu, tujuan dari pedoman ini adalah untuk
Implementasi Enterprise Risk Management (ERM) mewujudkan keberlangsungan pemberian jaminan
Pada tahun 2017, telah dilakukan self asessment maturitas kesehatan bagi masyarakat, yang merupakan salah
ERM dan divalidasi oleh asesor independen eksternal, satu aspek dari kebutuhan dasar hidup yang layak
terhadap seluruh kerangka kerja manajemen risiko bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya,
berdasarkan ISO 31000:2009 asessment ini dilakukan sesuai dengan amanat Undang-Undang serta untuk
dengan tujuan untuk menilai ketersediaan dan meningkatkan kinerja BPJS Kesehatan dalam
kecukupan kerangka kerja manajemen risiko dalam memberikan pelayanan jaminan kesehatan bagi
mendukung pencapaian tujuan organisasi; menilai masyarakat.
keselarasan sistematika dan struktur kerangka kerja
manajemen risiko yang komprehensif serta terintegrasi Secara umum, ruang lingkup Pedoman BCM ini adalah
dalam sistem manajemen organisasi; menilai efektivitas pada proses usaha yang terkait dengan pelayanan
dan efisiensi praktik pengelolaan risiko dalam organisasi; jaminan kesehatan. Pedoman BCM juga menjadi
menilai kesesuaian praktik pengelolaan risiko dengan acuan bagi penyusunan kebijakan-kebijakan di tingkat
pedoman yang ditetapkan organisasi; dan memberikan unit kerja yang terkait dengan BCM.
rekomendasi yang diperlukan guna memperbaiki dan
mengembangkan kerangka kerja dan proses penerapan
manajemen risiko organisasi di masa mendatang.

74 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
PENGAWASAN INTERNAL c. Pendampingan Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK-RI) sesuai dengan
Surat Tugas Nomor 63/ST/VIII/10/2017 tanggal
Audit Rutin 9 Oktober 2017 dan Surat Tugas Nomor 52/
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi BPJS Kesehatan ST/VIII/08/2017 tanggal 4 Agustus 2017.
Nomor 376 tahun 2016 tentang Program Kerja Tahunan
Kedeputian Pengawasan Internal Badan Penyelenggara Tata Kelola yang Baik (Good Governance)
Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2017, maka audit Tata Kelola yang Baik (Good Governance) merupakan
rutin akan dilaksanakan terhadap 11 fungsi pada makro salah satu prasyarat guna mencapai organisasi yang
bisnis proses BPJS Kesehatan, dengan sampling sehat. Implementasi prinsip-prinsip Tata Kelola yang
pemeriksaan adalah 5 Kedeputian di Kantor Pusat, Baik (Good Governance) secara menyeluruh dan
13 Kantor Kedeputian Wilayah dan 89 Kantor Cabang. konsisten harus dilakukan untuk mendorong
pengelolaan organisasi secara profesional, efisien
Pada tahun 2017 telah dilakukan Field Audit pada 5 dan efektif, serta mendukung pelaksanaan program
Unit Kerja Kantor Pusat dan telah dilakukan Field Audit dalam mengemban amanah mulia, menyelenggarakan
di seluruh Kedeputian Wilayah. Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia
Sehat (JKN-KIS) bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Pendampingan Auditor Eksternal.
1. Pendampingan General Audit Tata Kelola yang Baik atau Good Governance telah
Pada tahun 2017, telah ditetapkan KAP Mulyamin diterapkan di lingkungan BPJS Kesehatan dengan
Sensi Suryanto & Lianny sebagai auditor konsisten telah diterapkan di lingkungan BPJS
independen BPJS Kesehatan tahun 2016 sesuai Kesehatan dengan konsisten selama tahun 2015-2016.
dengan SK Dewan Pengawas Nomor KEP-011/ Implementasi Good Governance dilaksanakan dengan
Dewas.BPJS-KESEHATAN/2016 tanggal 05 mengacu kepada Pedoman Tata Kelola yang Baik
Desember 2016 dan telah diterima Laporan Audit (Good Governance) yang ditetapkan melalui Peraturan
atas General Audit KAP TB 2016 dengan Predikat Direksi Nomor 128 Tahun 2014 serta Pedoman
Wajar Tanpa Modifikasi (WTM). Pengukuran Tata Kelola yang Baik serta Pedoman
Pengukuran Tata Kelola yang Baik, yang saat ini telah
Terkait dengan pelaksanaan General Audit Tahun disempurnakan melalui Peraturan Direksi Nomor 33
Buku 2017, telah dilakukan penunjukkan KAP Tahun 2016.
Mirawati Sensi Idris sebagai Auditor Independen
General Audit Laporan Keuangan TB 2017 melalui Pedoman Tata Kelola Yang Baik berisikan:
Surat Penunjukan Pemborongan Nomor 14386/ 1. Pedoman Umum Tata Kelola yang Baik
VI.2/1117 tanggal 17 November 2017, dengan Dalam Pedoman Umum Tata Kelola yang Baik,
masa kerja terhitung sejak 23 November 2017-22 diatur tentang tujuan dan prinsip-prinsip Tata
Maret 2018. Laporan Audit atas General Audit Kelola yang Baik. Prinsip-prinsip tersebut adalah
KAP TB 2017 telah diterima dengan Predikat Keterbukaan (Transparency), Akuntabilitas
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). (Accountability), Responsibilitas (Responsibility),
Independensi (Independency), Prediktabilitas
2. Pendampingan Audit Lainnya. (Predictability), Partisipasi (Participation),
a. Pendampingan Audit Badan Pengawasan Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness), Dinamis
Keuangan dan Pembangunan (BPKP). (Dynamism).
b. Pendampingan Audit Otoritas Jasa Keuangan
(OJK).

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 75
BPJS Kesehatan, saat ini sedang melakukan 3. Board Manual Tata Hubungan Kerja (Tahubja).
penyempurnaan Pedoman Umum Tata Kelola Board Manua/ Tata Hubungan Kerja adalah
yang Baik (Good Governance) sesuai dengan pedoman kerja yang mengatur pola hubungan
ketentuan International Social Security System kerja antara Direksi dan Dewan Pengawas dan
Association (ISSA) bekerja sama dengan World merupakan naskah kesepakatan antara Direksi
Bank yang akan melakukan pendampingan dan Dewan Pengawas yang bertujuan untuk:
Penyusunan Pedoman Good Governance dan a. Menjelaskan fungsi, tugas pokok dan tahapan
Edukasi Good Governance di BPJS Kesehatan. aktivitas Dewan Pengawas dan Direksi
secara terstruktur, sistematis agar mudah
Sebagai langkah awal penyusunan penyempurnaan dipahami dan dapat dijalankan.
Good Governance, telah diselenggarakan Pelatihan b. Menjadi rujukan/pedoman dalam mengatur
Kajian Diagnostik Tata Kelola yang Baik dengan hubungan kerja antara Dewan Pengawas
mengundang tim dari World Bank, untuk dan Direksi agar tercipta suatu pola hubungan
menciptaan kesamaan persepsi para senior kerja yang lebih baik antara kedua organ
leaders BPJS Kesehatan terkait Good Governance, BPJS Kesehatan tersebut.
terutama bagi Steering Committee dan Technical c. Menerapkan prinsip-prinsip Good Governance,
Committee yang telah ditunjuk oleh manajemen. yakni keterbukaan, akunt abilit as,
Selain itu juga telah dihasilkan suatu Work Plan responsibilitas, independensi, prediktabilitas,
penyempurnaan Pedoman Good Governance partisipasi, kesetaraan dan kewajaran serta
hingga akhir tahun 2016 yang melibatkan tim dinamis dalam hubungan kerja antara Dewan
BPJS Kesehatan dan tim dari World Bank. Sampai Pengawas dan Direksi agar pengelolaan
dengan bulan Desember 2017, telah dilakukan BPJS Kesehatan dilaksanakan secara
visitasi ke 7 Kantor Cabang dan 7 Kantor profesional, efisien, efektif dan berkualitas.
Kabupaten/Kota serta telah dilakukan pembahasan d. Menciptakan hubungan kerja antara Dewan
dengan narasumber. Selain itu juga telah dilakukan Pengawas dan Direksi yang harmonis guna
penyusunan draf pedoman Tata Kelola Yang Baik. mendukung pencapaian kinerja BPJS
Kesehatan, diperlukan adanya persamaan
2. Pengukuran Penerapan Tata Kelola yang Baik persepsi dan komunikasi antara Dewan
BPJS Kesehatan Tahun Buku 2017. Pengawas dan Direksi.
Dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas
Penerapan Tata Kelola yang Baik, BPJS Kesehatan 4. Kode Etik.
wajib melakukan pengukuran terhadap Penerapan Kode Etik merupakan norma yang wajib ditaati
Tata Kelola yang Baik. Apabila masih terdapat oleh organisasi dan segenap jajaran dalam
kekurangan dalam penerapannya, BPJS Kesehatan menjalankan kewenangan dan tanggung jawabnya
dapat segera menetapkan rencana tindak (action secara pribadi maupun secara organisasi termasuk
plan) sebagai tindakan korektif (corrective action). norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang
Pengukuran penerapan Tata Kelola yang Baik secara tegas menyatakan apa yang benar dan
tahun buku 2017 dilakukan oleh Badan Pemeriksa baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai profesional. Kode Etik BPJS Kesehatan
Asesor Independen dengan hasil skor 85,63 poin membingkai hubungan setiap Duta BPJS
dan predikat yang dicapai sesuai target yang Kesehatan dengan sesama rekan kerja, peserta,
ditetapkan dalam Annual Management Contract mitra kerja organisasi, pemerintah dan masyarakat
(AMC). umum dalam interaksi yang berlandaskan nilai-
nilai kejujuran, keadilan dan penghargaan terhadap
martabat kemanusiaan.

76 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Kode Etik ini bersifat dinamis, yang dapat System kepada seluruh Duta BPJS Kesehatan.
senantiasa diperbaharui sesuai dengan Kode Etik ini tercantum dalam Buku Pedoman
perkembangan kebutuhan dan lingkungan Tata Kelola yang Baik dan juga dicetak dalam
organisasi. Kode Etik berlaku bagi seluruh Duta bentuk buku saku yang telah dibagikan kepada
BPJS Kesehatan dan keluarganya, mulai dari seluruh Duta BPJS Kesehatan, untuk memastikan
Dewan Pengawas, Dewan Direksi, Pejabat kode etik ini dipahami secara menyeluruh. Laporan
Struktural dan Fungsional serta seluruh pegawai. pelanggaran kode etik telah disampaikan secara
Dalam rangka mendorong implementasi kode berkala setiap triwulan oleh Komite Etika kepada
etik dan memastikan kode etik dipatuhi dan Direktur Utama dan Komisi Pemberantasan
dilaksanakan dengan baik maka setiap Duta BPJS Korupsi (KPK).
Kesehatan wajib menandatangani penyataan
komitmen untuk melaksanakan Kode Etik secara 5. Sosialisasi dan Implementasi Tata Kelola Yang
berkala setiap 1 tahun. Baik (Good Governance).
Sosialisasi Good Governance telah dilakukan
Pada tanggal 3 Januari 2017, telah dilakukan secara rutin kepada Duta BPJS Kesehatan yang
sosialisasi Kode Etik kepada Duta BPJS Kesehatan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Penjenjangan
di unit kerja seluruh Indonesia. Setelah mengikuti dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar.
sosialisasi Kode Etik, seluruh Duta BPJS Kesehatan
diwajibkan untuk menandatangani komitmen 6. Penyampaian Laporan Harta Kekayaan
Kode Etik Tahun 2017 sebagai pernyataan dan Penyelenggaran Negara (LHKPN).
komitmen Duta BPJS Kesehatan untuk memegang Sesuai dengan ketentuan tentang kewajiban
kode etik dalam melaksanakan tugas dan tanggung pengisian dan penyampaian Laporan Harta
jawabnya di BPJS Kesehatan. Seluruh pernyataan Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) bagi
kode etik yang telah ditandatangani oleh Duta Dewan Pengawas, Direksi dan pejabat struktural
BPJS Kesehatan telah diserahkan kepada Komite serta pejabat fungsional di lingkungan BPJS
Etika. Kesehatan, maka pengisian dan penyampaian
LHKPN kepada Komisi Pemberantasan Korupsi
Komite Etika BPJS Kesehatan telah dibentuk (KPK) berlaku untuk:
melalui Surat Keputusan Direktur Utama yang a. Pejabat yang belum pernah menyampaikan
bertugas untuk mensosialisasikan dan melakukan LHKPN.
monitoring dalam upaya pencegahan terjadinya b. Pejabat yang mengalami mutasi/promosi/
pelanggaran serta untuk penegakan Kode Etik demosi.
yang meliputi Pengelolaan Benturan Kepentingan, c. Pejabat yang telah menduduki jabatan yang
Pengelolaan Gratifikasi dan Whistle Blowing sama selama 2 tahun.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 77
78 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 79
80 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
ASPEK PENGELOLAAN
PROGRAM
REALISASI RENCANA kegiatan promosi melalui berbagai media, baik
KERJA PROGRAM above the line, below the line maupun through
the line. Media above the line merupakan media
pemasaran produk/jasa melalui media massa
PERKEMBANGAN KEPESERTAAN dan menyasar khalayak umum, seperti media
Penyelenggaraan program kegiatan BPJS Kesehatan televisi, radio, media cetak (koran, majalah, dan
tahun 2017 dilaksanakan berdasarkan Rencana Kerja lain-lain). Sedangkan media below the line adalah
dan Anggaran Tahunan (RKAT) Tahun 2017. Sampai media pemasaran, dimana promosi dilakukan
dengan 31 Desember 2017, realisasi dari program langsung dengan calon peserta/peserta melalui
kerja terkait perkembangan kepesertaan sebagai leaflet, banner, poster, brosur, pameran, dsb.
berikut: Adapun through the line merupakan pemasaran
melalui media online.
Perluasan Kepesertaan
Perluasan kepesertaan merupakan program atau Kegiatan yang telah dilakukan s.d. 31 Desember
kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi tentang 2017 dalam rangka promosi di berbagai media
implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional- yaitu:
Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) BPJS Kesehatan a. Pemberian informasi dilakukan melalui
untuk mengubah pemikiran, sikap dan perilaku televisi sebanyak 13.098 spot dan radio
masyarakat sehingga bersedia ikut menjadi peserta sebanyak 139.394 spot.
JKN-KIS dengan membayar iuran. Kegiatan perluasan b. Pemberian informasi melalui media cetak,
kepesertaan dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: yaitu surat kabar/majalah sebanyak 2.244
1. Sosialisasi dan edukasi untuk membangun tayang.
pemahaman masyarakat akan pentingnya jaminan c. Promosi melalui media luar ruang, yaitu
kesehatan bagi diri dan keluarganya sehingga dengan pemasangan baliho di 301 titik lokasi
timbul kesadaran untuk bergotong royong dan spanduk sebanyak 3.022 unit.
membantu sesama dengan menjadi Peserta d. Promosi JKN-KIS juga dilakukan melalui
Program JKN-KIS. media online, leaflet, banner, poster, souvenir
2. Membangun tingkat pemahamanan masyarakat dan media lainnya, baik di tingkat pusat
terhadap Program JKN-KIS dari berbagai aspek. maupun tingkat daerah.

Pelaksanaan program kegiatan perluasan kepesertaan 2. Kegiatan Sosialisasi dan Advokasi


meliputi sosialisasi secara langsung maupun tidak Kegiatan ini meliputi sosialisasi kepada komunitas,
langsung. Sosialisasi secara langsung antara lain pekerja/pemberi kerja, tokoh masyarakat dan
sosialisasi kepada komunitas, pekerja/pemberi kerja, melalui forum komunikasi para pemangku
tokoh masyarakat/tokoh agama/masyarakat umum, kepentingan utama. Kegiatan ini bertujuan untuk
dan forum komunikasi para pemangku kepentingan melakukan rekrutmen peserta dengan lebih
utama. Sosialisasi secara tidak langsung dilakukan mengedepankan edukasi tentang sanksi,
melalui berbagai media. Kegiatan perluasan kepesertaan kepatuhan membayar iuran, serta meningkatkan
yang telah dilakukan sampai dengan 31 Desember kesadaran masyarakat agar membiasakan hidup
2017 diuraikan sebagai berikut: bergotong royong dengan sesama dan
1. Promosi. meningkatkan kesadaran masyarakat akan
Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan informasi pentingnya jaminan kesehatan sebelum jatuh
dan sosialisasi tentang adanya implementasi sakit.
JKN-KIS kepada peserta dan masyarakat melalui

82 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
a. Sosialisasi kepada Komunitas. Sebelas Maret, Universitas Sumatera Utara,
Kegiatan sosialisasi kepada komunitas Universitas Padjajaran, Institut Pertanian
diselenggarakan melalui kegiatan “BPJS Bogor, Universitas Indonesia, Universitas
Goes To Campus” dengan melibatkan 9 Sriwijaya, Universitas Airlangga, dan Institut
Universitas. Kegiatan sosialisasi kepada Teknologi Bandung dan Universitas Gajah
mahasiswa tersebut diharapkan dapat Mada.
menjadi saluran informasi efektif sehingga
mahasiswa dapat membantu menyebarkan Kegiatan sosialisasi kepada komunitas di
informasi tentang Program JKN-KIS melalui daerah dilaksanakan melalui pemberian
m e d i a s o s i a l nya , ko m u n i t a s nya , informasi langsung kepada komunitas.
lingkungannya maupun kepada masyarakat Sampai dengan 31 Desember 2017 telah
di sekitarnya pada saat Kuliah Kerja Nyata. dilaksanakan 3.630 kali sosialisasi kepada
Sampai dengan 31 Desember 2017, kegiatan komunitas di daerah. Secara rinci dijelaskan
tersebut telah dilaksanakan di Universitas pada tabel berikut:

Tabel Sosialisasi kepada Komunitas di Daerah


Realisasi Tahun 2017
Peserta Mandiri Bukan Pekerja
No. Kedeputian Wilayah Jamkesda Jumlah
Asosiasi Komunitas Pensiunan Lainnya

1 2 3 4 5 6 7 8=3+…+7
1 Sumut dan DI Aceh 4 312 5 27 19 367
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi - 103 1 15 - 119
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 17 97 3 26 2 145
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 19 146 4 57 12 238
5 Jabar 7 83 4 77 1 172
6 Jateng dan DI Yogyakarta 33 869 - 11 - 913
7 Jatim 5 136 1 11 4 157
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 18 309 5 9 66 407
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 2 283 1 3 4 293
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 2 44 - 29 - 75
11 Bali, NTT dan NTB 2 49 3 5 2 61
12 Papua dan Papua Barat 6 80 4 31 3 124
13 Banten, Kalbar dan Lampung - 306 237 16 - 559
Jumlah 115 2.817 268 317 113 3.630

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 83
b. Sosialiasi kepada Pekerja/Pemberi Kerja. Satuan Kerja Badan Layanan Umum dan
Kegiatan ini ditujukan pada pemberi kerja Lembaga Non Struktural, BUMN Gathering
dan pekerja penerima upah. Pelaksanaan dan BPJS Kesehatan “Goes to Market”.
kegiatan sosialisasi kepada satu Badan Sedangkan di tingkat daerah, telah
Usaha bisa dilakukan lebih dari satu kali. dilaksanakan 1.412 kali kegiatan sosialisasi
Untuk sosialisasi awal disampaikan informasi kepada 26.321 Badan Usaha yang dihadiri
meliputi regulasi, hak dan kewajiban peserta, oleh 69.745 peserta/perwakilan dari BU,
serta manfaat pelayanan. Sosialisasi antara lain Kementerian/Lembaga,
berikutnya disampaikan informasi meliputi Disnakertrans/Disperindag/ Instansi, BUMN,
teknis proses entr y data dengan HRD Perusahaan, Serikat Pekerja dan
menggunakan aplikasi New e-Dabu. Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Sampai dengan 31 Desember 2017 telah (UMKM). Kegiatan sosialisasi di daerah
dilaksanakan kegiatan di tingkat pusat yaitu disajikan pada tabel berikut:
sosialisasi kepesertaan PPNPN kepada

Tabel Sosialisasi Kepada Pekerja Penerima Upah


Realisasi Tahun 2017
Jumlah BU/
No. Kedeputian Wilayah Jumlah Kegiatan Jumlah Peserta
Instansi
1 2 3 4 5
1 Sumut dan DI Aceh 31 215 1.516
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 69 1.053 4.352
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 57 447 1.695
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 298 5.473 9.750
5 Jabar 284 3.091 9.523
6 Jateng dan DI Yogyakarta 230 6.136 13.397
7 Jatim 144 4.946 13.691
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 35 528 1.916
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 104 1.993 4.725
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 18 312 1.533
11 Bali, NTT dan NTB 78 1.136 4.628
12 Papua dan Papua Barat 47 740 2.497
13 Banten, Kalbar dan Lampung 17 251 522
Jumlah 1.412 26.321 69.745

84 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
c. Sosialisasi kepada Tokoh Masyarakat/Tokoh Kesehatan Goes to Campus” sebagaimana
Agama/Masyarakat Umum. telah dijelaskan sebelumnya.
Sasaran kegiatan Sosialisasi kepada Tokoh
Agama/Masyarakat pada tahun 2017 Kegiatan sosialisasi kepada Tokoh Masyarakat/
difokuskan kepada akademisi. Sebagai Tokoh Agama/ Masyarakat Umum di daerah
akademisi dan intelektual, diharapkan para dilakukan baik atas inisiatif Kantor Cabang
dosen dan lingkungan kampus dapat menjadi maupun dengan adanya permintaan sebagai
kanal informasi yang tepat tentang Program narasumber pada berbagai kegiatan yang
JKN-KIS baik melalui pemberian informasi diadakan komunitas. Sampai dengan 31
secara formal di kalangan mahasiswa, Desember 2017 telah dilakukan 4.362 kali
maupun di luar lingkungan kampus kepada sosialisasi kepada tokoh masyarakat/tokoh
masyarakat umum. Sampai dengan 31 agama/masyarakat umum di seluruh
Desember 2017, sosialisasi kepada akademisi Kedeputian Wilayah. Secara rinci disajikan
telah dilaksanakan melalui kegiatan “BPJS pada tabel berikut:

Tabel Sosialisasi kepada


Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama/Masyarakat Umum
Perbandingan Target dan Realisasi Tahun 2017
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
1 2 3 4 5=4/3
1 Sumut dan DI Aceh 168 477 283,93
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 147 169 114,97
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 102 187 183,33
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 42 281 669,05
5 Jabar 66 112 169,70
6 Jateng dan DI Yogyakarta 120 693 577,50
7 Jatim 114 240 210,53
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 126 548 434,92
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 174 589 338,51
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 132 173 131,06
11 Bali, NTT dan NTB 123 147 119,51
12 Papua dan Papua Barat 126 163 129,37
13 Banten, Kalbar dan Lampung 102 583 571,57
Jumlah 1.542 4.362 282,88

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 85
d. Forum Komunikasi Para Pemangku Manajemen Kepesertaan
Kepentingan Utama. BPJS Kesehatan melaksanakan program administrasi
Kegiatan ini dimaksudkan agar Pemerintah kepesertaan agar masyarakat calon peserta maupun
Daerah dapat segera mengintegrasikan peserta mendapat pelayanan administrasi yang cepat
Jamkesda yang dikelolanya ke dalam skema dan mudah sebelum peserta menggunakan haknya
JKN-KIS, mendorong regulasi/kebijakan mendapat pelayanan kesehatan sesuai dengan
terkait peningkatan kepatuhan Badan Usaha ketentuan yang berlaku. Secara rinci program-program
dalam mendaftarkan pekerjanya, serta tersebut diuraikan sebagai berikut:
menghimbau masyarakat umum untuk 1. Pengembangan Kebijakan.
mendaftar sebagai peserta JKN-KIS. Kegiatan a. Hasil Penyusunan/Perubahan/Review
direncanakan untuk dilakukan sebanyak 1.644 Kebijakan.
kali atau 3 kali per tahun (setiap caturwulan) 1) Surat Edaran Direktur Kepesertaan dan
untuk tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pemasaran BPJS Kesehatan Nomor 02
Sampai dengan 31 Desember 2017, telah Tahun 2017 tentang Mekanisme
dilaksanakan 1.570 kali forum komunikasi Pendaftaran, Perubahan Status
para pemangku kepentingan utama, Kepesertaan dan Perubahan Kelas
khususnya Pemda, di beberapa Kedeputian Perawatan.
Wilayah. Secara rinci disajikan pada tabel 2) Surat Edaran Direktur Kepesertaan dan
berikut: Pemasaran BPJS Kesehatan Nomor 10
Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis
Tabel Forum Komunikasi Para Pemangku Kepentingan Utama Distribusi Kartu Indonesia Sehat
Realisasi Tahun 2017
Penerima Bantuan Iuran Jaminan
No. Kedeputian Wilayah Realisasi
Kesehatan Tambahan Tahun 2017.
1 2 3
3) Keputusan Direktur Kepesertaan dan
1 Sumut dan DI Aceh 287
Pemasaran BPJS Kesehatan Nomor 73
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 128
Tahun 2017 tent ang Uji Coba
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 87
Implementasi Pendaftaran Peserta
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 60
Pekerja Bukan Penerima Upah Melalui
5 Jabar 37
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
6 Jateng dan DI Yogyakarta 84
Kesehatan Care Center 1500400.
7 Jatim 154
4) Peraturan Direktur Kepesertaan dan
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 111
Pemasaran BPJS Kesehatan Nomor 03
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 181
Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 123
Perubahan Status Kepesertaan Peserta
11 Bali, NTT dan NTB 118
Pekerja Bukan Penerima Upah dan
12 Papua dan Papua Barat 86
Peserta Bukan Pekerja.
13 Banten, Kalbar dan Lampung 114
5) Surat Edaran Direktur Perluasan dan
Jumlah 1.570
Pelayanan Peserta Nomor 42 Tahun
2017 tentang Penggantian Kartu
Jamkesmas Bagi Peserta Aktif Penerima
Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan.

86 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
6) Surat Edaran Direktur Perluasan dan 2) Pihak ketiga yang bekerja sama dengan
Pelayanan Peserta Nomor 44 Tahun BPJS Kesehatan, antara lain Channel
2017 tentang Supervisi Distribusi Kartu Bank (Bank Mandiri, BNI, BRI), Point
Indonesia Sehat bagi Peserta Penerima of Service di pusat perbelanjaan, serta
Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan. Kecamatan/Kelurahan.
7) Peraturan Direksi BPJS Kesehatan 3) Website BPJS Kesehatan.
Nomor 39 Tahun 2017 tentang Tata 4) Aplikasi mobile JKN (android dan iOS).
Laksana Verifikasi Peserta Pekerja Bukan 5) BPJS Kesehatan Care Center 1500400.
Penerima Upah dengan Surat 6) Mobile Customer Service.
Rekomendasi Dinas Sosial. 7) Portal pendaftaran Badan Usaha bersama
8) Surat Edaran Direktur Perluasan dan B P J S Ke s e h a t a n d a n B P J S
Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Ketenagakerjaan (www.bpjs.go.id).
Nomor 52 Tahun 2017 tentang 8) Stand/booth BPJS Kesehatan.
Penonaktifan Anggota Keluarga PPU 9) Kader JKN-KIS.
Berusia Diatas 21 tahun sampai dengan
25 Tahun yang Tidak Melanjutkan Untuk mengantisipasi tingginya animo
Pendidikan Formal, Peserta/Keluarga masyarakat untuk mendaftar menjadi peserta
Peserta Usia Diatas 90 Tahun serta BPJS Kesehatan, terutama calon peserta
PPNPN yang Telah Habis Masa dari segmen peserta PBPU dan BP, yang
Kontraknya. mengakibatkan antrian pendaftaran yang
9) Peraturan Direksi Nomor 05 Tahun 2017 cukup panjang di beberapa tempat
tentang Pedoman Tata Laksana pendaftaran, BPJS Kesehatan telah
Administrasi Kepesertaan. melakukan berbagai upaya untuk mengatasi
kondisi tersebut, salah satunya dengan
b. Laporan Sosialisasi Kebijakan. mengurangi waktu antrian untuk
Sampai dengan 31 Desember 2017, telah meningkatkan kenyamanan saat pendaftaran,
dilaksanakan sosialisasi kebijakan terkait antara lain yaitu:
kepesertaan, yaitu: 1) Setiap Kantor Cabang disediakan
1) Sosialisasi Pedoman Tata Laksana beberapa sistem antrian untuk calon
Administrasi Kepesertaan dan Pelayanan peserta yang mengacu pada:
Prima pada tanggal 21-25 Mei 2017 di a) Pelayanan Pendaftaran Baru.
Surabaya. b) Pelayanan Mutasi Data Peserta
2) Sosialisasi Pedoman Tata Laksana (penggantian fasilitas kesehatan,
Administrasi Kepesertaan di Bali tanggal kelas rawat, tambah/kurang, dan
15-18 November 2017 dan di Palembang lain-lain).
tanggal 22-25 November 2017. c) Pelayanan Cetak Kartu.
d) Pelayanan Informasi/Pengaduan.
2. Manajemen Administrasi Kepesertaan. e) Pelayanan Pendaftaran Kolektif
a. Pengelolaan Tempat Pendaftaran Peserta (Badan Usaha).
Pendaftaran peserta dapat dilakukan melalui: 2) Pendaftaran peserta melalui Bank dan
1) Kantor BPJS Kesehatan, yaitu Kantor website, mengacu pada Nomor Kartu
Cabang dan Kantor Kabupaten/Kota. Keluarga, dimana peserta yang

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 87
m e n d a ft a r d i wa j i b k a n u n tu k 3) Kartu JKN BPJS Kesehatan, yaitu
mendaftarkan seluruh anggota keluarga identitas yang diberikan kepada setiap
yang ada pada Kartu Keluarga tersebut. peserta dan anggota keluarganya,
3) Mengembangkan aplikasi bantu untuk sebagai bukti peserta yang sah dalam
mempercepat pendaftaran peserta memperoleh pelayanan kesehatan
khususnya bagi peserta dari Badan sesuai ketentuan yang berlaku. Kartu
Usaha dan yang didaftarkan oleh Pemda. peserta ini dicetak pada blanko kartu
Aplikasi yang digunakan untuk dengan security printing.
membantu percepatan pendaftaran 4) Electronic Identity yang selanjutnya
peserta Badan Usaha adalah Aplikasi disebut e-ID, yaitu identitas yang
Kepesertaan, Aplikasi Migrasi, dan diberikan kepada setiap peserta dan
Aplikasi New e-Dabu. Sedangkan untuk anggota keluarganya sebagai bukti
penduduk yang didaftarkan oleh Pemda peserta yang sah dalam memperoleh
menggunakan Aplikasi Kepesertaan, pelayanan kesehatan. e-ID dapat dicetak
Aplikasi Migrasi, dan Aplikasi New sendiri di atas kertas biasa oleh peserta
e-Dabu (bagi penduduk yang didaftarkan baru yang mendaftar.
oleh Pemerintah DKI Jakarta). 5) Kartu Indonesia Sehat (KIS), yaitu tanda
kepesertaan Program Jaminan
b. Pengelolaan Identitas Peserta. Kesehatan Nasional (JKN-KIS) sesuai
Setiap peserta yang telah terdaftar pada dengan Instruksi Presiden Nomor 7
BPJS Kesehatan berhak mendapatkan tahun 2014 tentang Pelaksanaan
identitas peserta. Identitas peserta memuat Program Simpanan Keluarga Sejahtera,
informasi mengenai nomor peserta, nama Program Indonesia Pintar, dan Program
peserta, tanggal lahir peserta, NIK peserta Indonesia Sehat untuk Membangun
dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Keluarga Produktif.

Dalam mengelola identitas peserta, BPJS c. Service Level Agreement (SLA) Pelayanan
Kesehatan mengembangkan Aplikasi Kepesertaan di KC.
Kepesertaan agar dapat melakukan perubahan Kantor Cabang dan Kantor Kabupaten Kota
data peserta untuk mengisi struktur data memberikan pelayanan pada peserta yang
NIK, perbaikan nama, jenis kelamin dan datang berdasarkan jenis layanan. Sesuai
tanggal lahir. Sampai dengan 31 Desember Peraturan Direksi BPJS Kesehatan Nomor
2017, identitas peserta yang berlaku di fasilitas 47 tahun 2017 tentang Pedoman Standar
kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Pelayanan Peserta, untuk waktu layanan
Kesehatan yaitu: setiap fungsi pelayanan loket adalah sebagai
1) Kartu Askes, yaitu kartu yang dimiliki berikut:
oleh peserta eks Askes Sosial dan 1) Pelayanan Cepat (Fast Track): 3 menit.
anggota keluarganya. 2) Pelayanan Perubahan Data dan Cetak
2) Kartu Jakarta Sehat (KJS), yaitu kartu Kartu: 7 menit.
Jaminan Kesehatan yang dimiliki oleh 3) Pelayanan Korporasi: 15 menit.
penduduk Propinsi DKI Jakarta yang 4) Pelayanan Informasi dan Pengaduan:
dikeluarkan oleh Pemda DKI Jakarta. 15 menit.

88 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
3. Manajemen Data Kepesertaan.
a. Pengelolaan Master File.
Pembentukan master file kepesertaan BPJS
Kesehatan bersumber dari beberapa proses,
antara lain melalui migrasi data dan entry
data melalui aplikasi Kepesertaan. Adapun
matriks mekanisme entry dan mutasi data
per segmen peserta sebagaimana tabel
berikut:

Tabel Mekanisme Entri dan Mutasi Data Per Segmen Peserta


Mekanisme Entri dan Mutasi Data
No. Segmen Peserta Migrasi Database Aplikasi Aplikasi Aplikasi
oleh Kantor Pusat Kepesertaan e-Dabu Migrasi
1 Peserta PBI-JK.
a. Penambahan peserta untuk pemenuhan kuota PBI-JK √

b. Penonaktifan peserta karena meninggal dan validasi √ √


Kementerian Sosial
c. Pendaftaran bayi yang lahir tahun 2017 √

d. Perubahan segmen peserta PBI-JK menjadi segmen peserta √


lainnya yang disebabkan karena peserta menjadi PPU/PBPU
2 Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah
a. Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI √ √ √
Jakarta
b. Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah selain √ √
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
3 PNS, TNI, Polri √
4 PPU Badan Usaha √ √ √
5 Peserta PBPU dan BP
a. PBPU dan BP Kolektif berbadan hukum √ √

b. PBPU dan BP non kolektif √

Proses input data peserta dilakukan melalui b. Pemutakhiran Data Peserta Melalui Kerja sama
aplikasi kepesertaan berdasarkan Nomor dengan Institusi Terkait.
Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi 1) Peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan
dengan data Administrasi Kependudukan Kesehatan (PBI JK).
dan Pencatatan Sipil (Adminduk) Kementerian Proses pemutakhiran data peserta
Dalam Negeri RI melalui web service. Apabila khususnya peserta PBI JK dilakukan
proses input data tidak ditemukan di dalam paling lama setiap 6 bulan sesuai
server Adminduk, maka proses input data Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun
dilakukan secara manual. 2015 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 89
tentang Penerima Bantuan Iuran Tahun 2017 Tahap Ketiga dan
Jaminan Kesehatan. Pemutakhiran Keputusan Menteri Sosial Nomor
Peserta PBI JK dirinci sebagai berikut: 127/HUK/2017 hal Penetapan
a) Per tanggal 31 Agustus 2017 Perubahan Peserta PBI JK Tahun
terdapat peserta PBI JK sesuai 2017 Tahap Ketiga. Jumlah Peserta
dengan Surat Keputusan Menteri Penerima Bantuan Iuran Tahun
Sosial RI Nomor 76/HUK/2017 2017 yang diubah sebanyak
tentang Penetapan Perubahan 92.400.000.
Data Peserta Penerima Bantuan d) Surat Kepala Pusat Pembiayaan
Iuran Jaminan Kesehatan Tahun Dan Jaminan Kesehatan Nomor
2017 dan Surat Kepala Pusat JP.02.01/3/1904/2017 tanggal 21
Pembiayaan dan Jaminan Desember 2017, Hal Penghapusan
Kesehatan Kementerian Kesehatan dan Penambahan Peserta PBI JK
RI Nomor JP.02.01/3/1129/2017 Tahun 2017 Tahap Keempat.
tanggal 18 Juli 2017 perihal Keputusan Menteri Sosial Nomor
Penghapusan dan Penambahan 148/HUK/2017 tentang Penetapan
Peserta PBI JK tahun 2017, peserta Penonaktifan Peserta Penerima
PBI sebagaimana dimaksud terdiri Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
dari 92.300.000 jiwa by name by Tahun 2017 Tahap Keempat
address. sebanyak 291.200 jiwa, dan
b) Keputusan Menteri Sosial Nomor Keputusan Menteri Sosial Nomor
94/HUK/2017 tentang Penetapan 149/HUK/2017 tentang Penetapan
Penonaktifan Data Peserta Perubahan Data Peserta Penerima
Penerima Bantuan Iuran Jaminan Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
Kesehatan Tahun 2017 Tahap Kedua Tahun 2017 Tahap Keempat.
dan Keputusan Menteri Sosial
Nomor 95/HUK/2017 tentang 2) Peserta Non PBI.
Penetapan Perubahan Data Proses pemutakhiran data peserta Non
Pesert a Penerima Bantuan PBI meliputi pemutakhiran NIK, anggota
Iuran Jaminan Ke s e h a t a n keluarga dan akurasi gaji, dilakukan
Tahun 2017 Tahap Kedua serta melalui kerja sama dengan instansi
surat Kepala Pusat Pembiayaan peserta antara lain Badan Kepegawaian
dan Jaminan Kesehatan nomor Negara (BKN), Badan Kepegawaian
JP.02.01/3/1387/2017 tanggal 7 Daerah (BKD), Ditjen Dukcapil
September 2017 hal Penghapusan Kementerian Dalam Negeri Republik
dan Penambahan Peserta PBI JK Indonesia, Kementerian Pertahanan
Tahun 2017 Tahap Kedua. Jumlah Republik Indonesia, Kementerian
Peserta Penerima Bantuan Iuran Keuangan Republik Indonesia dan
Tahun 2017 yang diubah sebanyak Kementerian Sosial Republik Indonesia.
92.400.000. Pemutakhiran data personil TNI, PNS
c) Keputusan Menteri Sosial Nomor TNI dan anggota Polri dilakukan oleh
126/HUK/2017 tentang Penetapan masing-masing Kantor Cabang dengan
Penonaktifan Peserta Penerima cara melakukan kegiatan rekonsiliasi
Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan data dengan masing-masing Satker

90 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
TNI dan Polri, sedangkan di Kantor d. Purifikasi Master File Kepesertaan.
Pusat pemutakhiran data TNI bekerja Tujuan dari purifikasi data adalah untuk
sama dengan Mabes TNI dan meningkatakan akurasi dan kelengkapan
Kementerian Pertahanan. data master file kepesertaan. Tindak lanjut
hasil purifikasi dilakukan dengan penyampaian
c. Penonaktifan Peserta. umpan balik data bermasalah oleh Kantor
Penonaktifan peserta dilakukan berdasarkan Pusat ke Kantor Cabang. Untuk selanjutnya
Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2016 Kantor Cabang melakukan rekonsiliasi dengan
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan BKD, Badan Usaha dan Pemerintah Daerah.
Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Dalam rangka peningkatan akurasi data gaji
Jaminan Kesehatan pasal 17 A.1 bahwa PNS Pusat, juga dilakukan kegiatan pertukaran
keterlambatan pembayaran iuran jaminan data dengan Badan Kepegawaian Negara
kesehatan lebih dari 1 bulan sejak tanggal (BKN).
10, penjaminan peserta diberhentikan
sementara. Sebagai tindak lanjut atas
pemberhentian penjaminan, maka: MANAJEMEN PENGADUAN
1) Tidak diperhitungkan dalam pembayaran Pengembangan Kebijakan
kapitasi. BPJS Kesehatan telah menyusun beberapa kebijakan
2) Dilakukan penghentian sementara atas yang mengatur tentang pelayanan peserta yang
pemberian pelayanan kesehatannya. ditujukan kepada Kantor Kabupaten/Kota, Kantor
3) Bila peserta tersebut hendak Cabang dan Kedeputian Wilayah sebagai pedoman
mendapatkan pelayanan kembali maka dalam memberikan pelayanan peserta, di antaranya
peserta: adalah:
a) Membayar iuran tertunggak paling 1. Peraturan Direksi Nomor 44 Tahun 2017 tentang
banyak untuk waktu 12 bulan dan, Transformasi BPJS Kesehatan Center menjadi
b) Membayar iuran pada bulan saat Layanan Informasi dan Penanganan Pengaduan
pesert a ingin mengakhiri JKN Terintegrasi dengan Pengelolaan Informasi
penghentian sementara jaminan. dan Penanganan Pengaduan Rumah Sakit.
2. Peraturan Direksi Nomor 47 Tahun 2017 tentang
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor Pedoman Standar Pelayanan Peserta.
5 Tahun 2016, untuk peserta PBI JK yang 3. Keputusan Direktur Kepesertaan dan Pemasaran
meninggal dan pindah segmen dapat BPJS Kesehatan Nomor 166 tahun 2017 tentang
dilakukan Kantor Cabang. Sedangkan untuk Layanan BPJS Kesehatan Care Center (Virtual
segmen peserta non PBI JK, per tanggal Service) 1500400.
31 Agustus 2017, telah dilakukan penonaktifan 4. Surat Edaran Direktur Perluasan dan Pelayanan
antara lain: Peserta Nomor 57 Tahun 2017 tentang Unit
1) Anak peserta PPU usia di atas 25 tahun. Pengendali Mutu Pelayanan dan Penanganan
2) Peserta usia di atas 90 tahun yang tidak Pengaduan Peserta.
melakukan update data kepesertaan. 5. Surat Edaran Direktur Perluasan dan Pelayanan
3) Kepesertaan PPNPN karena berakhirnya Peserta Nomor 60 tahun 2017 tentang Petunjuk
masa kontrak. Pelaksanaan Pemberian Informasi dan Penanganan
Pengaduan di Rumah Sakit.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 91
Kanal Komunikasi bagi peserta BPJS Kesehatan 4. Website BPJS Kesehatan (www.bpjs-kesehatan.go.id)
Untuk meningkatkan aksesibilitas peserta terhadap Merupakan halaman informasi BPJS Kesehatan
informasi dan pengaduan atas program JKN-KIS yang yang disediakan melalui jalur internet yang
diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, telah menyediakan konten pemberian informasi seputar
dikembangkan beberapa sarana sebagai kanal program JKN-KIS dan BPJS Kesehatan,
komunikasi bagi peserta BPJS Kesehatan, yaitu: pendaftaran peserta PBPU, penanganan
1. Kantor BPJS Kesehatan. pengaduan serta saran.
Pemberian informasi dan penanganan pengaduan 5. Media Sosial.
bagi peserta yang datang langsung, dapat Merupakan sarana komunikasi berupa pemberian
dilakukan di setiap unit kerja BPJS Kesehatan informasi, saran dan masukan terhadap
yaitu 388 Kantor Kabupaten/Kota, 127 Kantor pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional
Cabang, 13 Kantor Kedeputian Wilayah dan Kantor oleh BPJS Kesehatan, baik mengenai kebijakan
Pusat melalui Unit Penanganan Pengaduan pelayanan kesehatan maupun kebijakan lainnya.
Peserta. Saat ini media sosial yang dikelola dapat menerima
2. BPJS Kesehatan Care Center 1500400. pengaduan adalah twitter dan facebook yang
Merupakan media layanan pemberian informasi dilakukan oleh BPJS Kesehatan Care Center
dan penanganan pengaduan peserta yang dapat 1500400.
diakses selama 7 hari/24 jam di seluruh Indonesia 6. LAPOR! SP4N.
melalui telepon regular maupun telepon selular. LAPOR! SP4N merupakan sebuah aplikasi
Pengaduan yang disampaikan melalui BPJS terintegrasi milik Kantor Staf Kepresidenan yang
Kesehatan Care Center 1500400 untuk dapat digunakan oleh masyarakat dalam menyampaikan
dijawab dan diselesaikan, juga dapat dieskalasi aspirasi atau pengaduan terkait pelayanan publik.
ke unit kerja BPJS Kesehatan (Kantor Cabang- Sebagai badan pelayanan publik, BPJS Kesehatan
Kantor Pusat) jika membutuhkan koordinasi lebih bekerja sama dengan Kantor Staf Kepresidenan
lanjut. dalam pemanfaatan Aplikasi LAPOR! SP4N,
3. Mobile JKN. dalam upaya memperluas akses pengaduan
Merupakan aplikasi yang dapat diunduh melalui peserta terhadap layanan BPJS Kesehatan, yang
play store (android) maupun app store (iOS) yang dapat diakses oleh seluruh Kantor Cabang dan
memberikan kemudahan bagi peserta antara dimonitor secara nasional.
lain:
a. Kemudahan mendaftar dan mengubah data Pemberian Informasi
kepesertaan. Pemberian Informasi kepada peserta dapat dilakukan
b. Kemudahan mengetahui informasi data secara langsung maupun tidak langsung, yaitu:
peserta dan keluarga. 1. Langsung.
c. Kemudahan mengetahui informasi tagihan Metode pemberian informasi secara langsung
dan pembayaran iuran. terbagi menjadi dua, yaitu:
d. Kemudahan mendapatkan pelayanan di a. Personal, terdiri dari:
fasilitas kesehatan (KIS digital). 1) Tatap muka, yaitu melalui kanal Unit
e. Kemudahan menyampaikan pengaduan dan Penanganan Pengaduan Peserta, BPJS
permintaan informasi seputar JKN-KIS. Kesehatan Center, Mobile Customer
Jumlah peserta yang telah melakukan registrasi Service dan Kader JKN-KIS.
pada aplikasi Mobile JKN pada tahun 2017 telah 2) Suara, yaitu melalui kanal BPJS
mencapai 1.108.417 jiwa. Kesehatan Care Center 1500400 dan
telepon reguler.

92 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
b. Kolektif, terdiri dari: 2. SLA Penanganan Pengaduan.
1) Gathering, yaitu dengan mengumpulkan Sesuai dengan Peraturan Direksi Nomor 47 Tahun
peserta berdasarkan segmen yang 2017 tentang Pedoman Standar Pelayanan Peserta
telah terlaksana sebanyak 5.967 kali. bahwa SLA Penanganan Pengaduan peserta,
2) Sosialisasi/Pemberian Informasi diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
Langsung, yaitu dengan sasaran peserta a. Pengaduan yang disampaikan secara langsung
seluruh segmen, yang telah terlaksana 1) Pengaduan yang tidak memerlukan
sebanyak 799 kali. Sampai dengan 31 masukan dari unit kerja lain (level
Desember 2017, telah dilaksanakan pengaduan hijau) paling lambat
antara lain kegiatan Goes to Customer diselesaikan pada hari yang sama.
yaitu sosialisasi secara serentak oleh 2) Pengaduan yang memerlukan masukan
Kantor Cabang selama 2 pekan yang dari unit kerja lain:
dihadiri 97.563 peserta. a) Level pengaduan kuning: respon
3) Customer Visit, kepada peserta yang awal paling lambat pada hari yang
ada di Rumah Sakit yang bertujuan sama, penyelesaian paling lambat
untuk pemberian informasi dan edukasi. 3 hari kerja.
Sampai dengan 31 Desember 2017 b) Level pengaduan merah: respon
telah dilaksanakan sebanyak 1.589 kali. awal paling lambat pada hari yang
2. Tidak langsung. sama sampai dengan 3 hari kerja,
Metode pemberian informasi secara tidak penyelesaian paling lambat 30 hari
langsung terbagi menjadi dua, yaitu: kerja.
a. Media Cetak, berupa poster, leaflet, spanduk/ b. Pengaduan yang disampaikan secara tidak
banner, buku panduan layanan dan surat langsung
kabar. 1) Pengaduan yang tidak memerlukan
b. Media Elektronik, yang disampaikan melalui masukan dari unit kerja lain (level
TV dan Radio. pengaduan hijau) paling lambat
c. Media Sosial, berupa twitter, facebook dan diselesaikan dalam 3 hari kerja.
instagram. 2) Pengaduan yang memerlukan konfirmasi
dari unit kerja lain:
Penanganan Pengaduan a) Leve l p e n g a d u a n k u n i n g
1. Laporan Pengelolaan Pengaduan dan Umpan diselesaikan paling lambat dalam
Balik Peserta. 3 hari kerja.
Pengaduan dari peserta atas layanan BPJS b) Level pengaduan merah: respon
Kesehatan masuk melalui kanal pengaduan, yaitu awal paling lambat pada hari yang
Kantor Cabang, BPJS Kesehatan Center di rumah sama sampai dengan 3 hari kerja,
sakit, Care Center 1500400, website, media penyelesaian paling lambat 30 hari
sosial dan LAPOR! SP4N. kerja.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 93
PENERIMAAN IURAN 2) Pengumpulan iuran Pekerja Penerima
Pengembangan Sistem Moda dan Sentra Pembayaran Upah Badan Usaha (PPU BU), Pekerja
1. Kerja sama Pengumpulan Iuran dengan Instansi Bukan Penerima Upah (PBPU) dan
Terkait, Pemberi Kerja dan Pemungut Iuran. Penduduk yang didaftarkan oleh
a. Iuran PBI JK. Pemerintah Daerah dilakukan melalui
Proses pencairan iuran PBI JK setiap bulannya kerja sama dengan 4 bank BUMN yaitu
dilakukan melalui koordinasi dengan Bank Mandiri, BNI, BRI dan BTN beserta
Kementerian Kesehatan, Kementerian seluruh channel pembayaran yang ada
Keuangan dan Kementerian Sosial, yang dibawahnya yang meliputi lebih dari
secara diatur dalam: 70.000 titik pembayaran, termasuk
1) Peraturan Pemerintah RI Nomor 76 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di seluruh
Tahun 2015 tentang Perubahan atas Indonesia.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 3) Pengumpulan iuran Bukan Pekerja (BP)
Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan khusus untuk Penerima Pensiun PNS/
Iuran Jaminan Kesehatan. TNI/Polri dilakukan melalui kerja sama
2) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor dengan PT Taspen (Persero) dan PT Asabri
39/PMK.02/2015 tentang Perubahan (Persero), sebagaimana diatur dalam:
atas Peraturan Menteri Keuangan a) PMK Nomor 226/PMK.05/2016
Nomor 206/PMK.02/2013 tentang Tata tentang Perubahan Kedua atas
Cara Penyediaan, Pencairan, dan Peraturan Menteri Keuangan
Pertanggungjawaban Dana Iuran Nomor 222/PMK.05/2014 tentang
Jaminan Kesehatan Penerima Bantuan Dana Perhitungan Fihak Ketiga.
Iuran. b) PMK Nomor 82/PMK.02/2015
b. Iuran Non PBI. tentang Tata Cara Perhitungan,
1) Pengumpulan iuran Pekerja Penerima Penyediaan, Pencairan, dan
Upah Pemerintah (PPU P) yang terdiri Pertanggungjawaban Dana Belanja
dari PNS, Anggota TNI/Polri, Pejabat Pensiun yang Dilaksanakan oleh
Negara dan Pegawai Pemerintah Non PT Taspen (Persero) dan PT Asabri
Pegawai Negeri, baik yang menjadi (Persero).
kewajiban peserta sebesar 2% maupun
kewajiban pemerintah sebesar 3% 2. Jenis dan Jumlah Sentra Penerima Iuran.
serta iuran Veteran dan Perintis Sampai dengan akhir tahun 2017, BPJS Kesehatan
Kemerdekaan dilakukan melalui kerja telah menjalin kerja sama pengumpulan iuran
sama dengan Kementerian Keuangan dengan berbagai jenis saluran yaitu:
sebagaimana diatur dalam: a. Channel Perbankan.
a) PMK Nomor 226/PMK.05/2016 Telah bekerja sama dengan 4 Bank BUMN,
tentang Perubahan Kedua atas yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTN. Untuk
Peraturan Menteri Keuangan peserta PPU BU, PBPU dan Penduduk yang
Nomor 222/PMK.05/2014 tentang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah dapat
Dana Perhitungan Fihak Ketiga. melakukan pembayaran iuran melalui channel
b) PMK Nomor 205/PMK.05/2013 perbankan, yaitu:
tentang Tata Cara Penyediaan, 1) Teller bank penerima setoran, di kantor
Pencairan, dan Pertanggungjawaban cabang (termasuk Kantor Cabang
Dana Iuran Jaminan Kesehatan Pembantu, Kantor Kas, dan Kantor Unit)
Penerima Penghasilan dari 4 Bank mitra yaitu 2.505 Kantor Cabang
Pemerintah. Bank Mandiri, 7.426 Kantor Cabang

94 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
BRI, 1.908 Kantor Cabang BNI, dan 767 b. Payment Point Online Bank (PPOB).
Kantor Cabang BTN. Peserta PBPU dan BP juga dapat melakukan
2) Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di 17.461 pembayaran iuran melalui channel non Bank
ATM Bank Mandiri, 23.695 ATM BRI, yaitu PPOB, baik pada agen tradisional
16.951 ATM BNI dan 1.830 ATM BTN. maupun agen modern, serta Bank Swasta
3) Internet Banking Bank Mandiri, BNI, dengan 4 Bank BUMN sebagai aggregator.
BRI dan BCA. Sampai dengan 31 Desember 2017, jumlah
4) SMS Banking Bank Mandiri dan BRI. channel pembayaran telah mencapai lebih
5) Lalu Lintas Giro (LLG)/Real Time Gross dari 600.000 titik pembayaran, termasuk
Settlement (RTGS). media e-commerce dan virtual money.
6) Mesin Electronic Data Capture (EDC)
dan ATM Kartu Kasir yang tersedia di Sebagai gambaran, selama bulan Desember
Kantor Cabang dan Kantor Kabupaten/ 2017, jumlah transaksi pembayaran iuran
Kota. melalui mitra-mitra PPOB, khususnya yang
7) Auto Debit Rekening Bank Mandiri, diatas 1.000 transaksi, sebagaimana pada
BRI, BNI, dan BCA. tabel berikut:
8) Kartu Kredit BNI dan BCA.
9) Mobile Banking Bank Mandiri dan BRI.
10) Agen 46 Bank BNI dan Agen BRILink
Bank BRI.

Tabel Transaksi Pembayaran Iuran Melalui PPOB


Realisasi Bulan Desember 2017
Jumlah Jumlah
No. Mitra PPOB No. Mitra PPOB
Transaksi Transaksi
1 2 3 1 2 3

1 Indomaret 1.206.484 20 BPRKS 11.572


2 PT Pos Indonesia 1.174.360 21 Bakoel 10.592
3 PT Alfamart 731.118 22 Garena 7.465
4 IDS 103.197 23 Jawara Multi Pembayaran 5.185
5 Arindo 94.760 24 Indopratama Net 4.143
6 PT Tokopedia 77.843 25 Venus 3.233
7 PT Raharja Sinergi Komunikasi 44.657 26 Delima Point 3.062
8 BCA 43.955 27 PT Lion Superindo 2.742
9 VSI 41.260 28 Muamalat 2.450
10 MBA 38.946 29 PT Artaguna Berkah Karya 2.125
11 Pegadaian 33.910 30 BNI Syariah 1.987
12 BUEP 28.165 31 Indosat 1.610
13 PT Rura Energi 26.489 32 Permata 1.596
14 Teleanjar 22.231 33 DJI/BUEP 1.535
15 PT OCBC NISP 18.173 34 PT Mandala Maya Mitra Sejahtera 1.526
16 Tektaya 14.170 35 HDI 1.382
17 Duta Pulsa 13.206 36 BTPN 1.351
18 Axes Network 12.408 37 PT Smart Technologies/Circle K 1.077
19 PT Multi Sarana Fasindo 11.918

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 95
Selama tahun 2017 BPJS Kesehatan juga Kegiatan rekonsiliasi telah dilaksanakan selama tahun
melakukan upaya perluasan channel pembayaran, 2017 antara lain:
antara lain: 1. Rekonsiliasi penerimaan iuran peserta Penerima
a. Implementasi Kader JKN-KIS. Pensiunan PNS/TNI/Polri Triwulan IV/2016, Triwulan
Sejak bulan April 2017, BPJS Kesehatan I, II dan III/2017 bersama PT Taspen (Persero),
telah mengimplementasikan Kader JKN-KIS, PT Asabri (Persero) dan Kementerian Keuangan
yaitu orang yang memiliki kapasitas sesuai RI.
dengan kriteria dan direkrut sebagai mitra 2. Rekonsiliasi penerimaan iuran Veteran dan Perintis
oleh BPJS Kesehatan untuk melaksanakan Kemerdekaan Triwulan IV/2016 dengan
sebagian fungsi, yaitu melakukan sosialisasi Kementerian Keuangan RI.
dan edukasi kepada masyarakat mengenai 3. Rekonsiliasi penerimaan iuran PBI JK Triwulan
pentingnya menjadi peserta JKN-KIS, IV/2016, Triwulan I, II, III dan IV/2017 dengan
mengedukasi untuk membayar iuran secara Kementerian Kesehatan.
rutin dan tepat waktu, membantu melakukan 4. Rekonsiliasi penerimaan iuran Pemerintah Pusat
pendaftaran menjadi peserta JKN-KIS serta yang bersumber dari DIPA untuk Triwulan I, II
pemberi Informasi dan menerima keluhan dan III/2017 bersama Kementerian Keuangan.
peserta.
Hingga akhir tahun 2017, telah tersedia 1.635 Penagihan
orang Kader JKN-KIS yang tersebar di seluruh Kegiatan penagihan yang dilakukan sampai dengan
Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 31 Desember 2017 antara lain yaitu:
1.457 orang (89%) sekaligus telah menjadi 1. Iuran PBI JK.
agen PPOB. Penagihan iuran bulanan tahun 2017 dan
b. Penyediaan fasilitas pembayaran iuran melalui kekurangan hasil rekonsiliasi Triwulan IV/2017
Program Menabung Sehat bersama Bank kepada Kementerian Kesehatan.
BNI, Bank Mandiri dan Bank BRI. 2. Iuran Non PBI.
c. Penyediaan fasilitas pembayaran tunggakan a. Iuran Penyelenggara Negara.
iuran peserta PBPU melalui mekanisme 1) Iuran Pekerja.
angsuran bekerja sama dengan Koperasi Penagihan iuran peserta PNS, TNI/Polri
Nusantara. dan Pejabat Negara kepada Kementerian
d. Perluasan ke channel pembayaran berbasis Keuangan RI melalui mekanisme PFK.
financial technology yaitu OY!, OVO, 2) Iuran Pemberi Kerja.
Tokopedia dan GO JEK. a) Pemerintah Pusat.
Penagihan iuran Pemerintah Pusat
Verifikasi dan Rekonsiliasi sebagai Pemberi Kerja PNS, TNI/
Untuk memastikan akurasi data penerimaan iuran, Polri, Pejabat Negara dan Veteran
telah dilakukan verifikasi dan rekonsiliasi secara bulan Desember 2017 kepada
periodik yang dibagi kedalam 2 kelompok: Kementerian Keuangan.
1. Verifikasi dan rekonsiliasi penerimaan iuran untuk b) Pemerintah Daerah.
peserta PPU BU, PBPU dan Penduduk yang Penagihan iuran wajib Pemerintah
didaftarkan oleh Pemerintah setiap bulan dengan Daerah selaku pemberi kerja PNS
4 bank BUMN. Daerah oleh Kantor Cabang BPJS
2. Verifikasi dan rekonsiliasi penerimaan iuran untuk Kesehatan kepada masing-masing
selain peserta di atas dilakukan setiap triwulan Pemerintah Daerah. Sebagai dasar
dengan Kementerian/Lembaga terkait. monitoring pembayaran iuran wajib

96 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Pemda yang disetor ke Kas Negara, c) Penagihan melalui telepon
Kantor Cabang berkoordinasi (telecollecting) oleh Staf Penagihan
dengan KPPN setempat secara Kantor Cabang.
periodik. d) Penagihan melalui kunjungan
langsung oleh 1.635 Kader JKN-KIS
b. Iuran Bukan Penyelenggara Negara. khususnya kepada peserta PBPU
1) Peserta PPU Badan Usaha. menunggak.
Penagihan iuran kepada peserta PPU
BU dilakukan melalui berbagai cara, Selain upaya penagihan tersebut, BPJS
yaitu: Kesehatan juga melakukan edukasi
a) Penyampaian tagihan melalui email kepada peserta untuk rutin membayar
blast setiap awal bulan secara iuran sebelum tanggal 10 setiap bulan
terpusat. melalui:
b) Pengiriman pengingat pembayaran a) Campaign peningkatan kesadaran
iuran melalui SMS Blast kepada membayar iuran melalui media
contact person BU. elektronik, luar ruang, cetak, radio
c) Penagihan melalui telepon dan digital.
(telecollecting) oleh Staf Penagihan b) Menyebarkan leaflet tentang
Kantor Cabang. informasi besaran iuran, waktu
d) Penagihan melalui kunjungan pembayaran iuran, tatacara
langsung oleh Staf Penagihan membayar iuran dan sanksi atas
Kantor Cabang kepada BU dengan keterlambatan pembayaran iuran.
tunggakan ≥Rp100 Juta. c) Membuka counter edukasi dan
2) Peserta PBPU. penerimaan pembayaran iuran di
a) Penyampaian tagihan melalui SMS pusat keramaian pada waktu-waktu
Blast. tertentu.
b) Penyampaian tagihan melalui email d) Bekerja sama dengan mitra untuk
blast. menyelenggarakan reward
program.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 97
PEMBAYARAN MANFAAT PROGRAM melihat kebutuhan faskes, jumlah
Manfaat berupa pemeliharaan dan perlindungan dalam Peserta terdaftar dan rasio Peserta
memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang terhadap jumlah faskes tingkat pertama
diberikan kepada setiap orang yang telah membayar yang bekerja sama. Sebagai tindak
iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah meliputi lanjut, BPJS Kesehatan telah
manfaat pelayanan primer dan manfaat pelayanan menyampaikan informasi kebutuhan
rujukan. Selain penerapan sistem rujukan berjenjang, faskes tingkat pertama (Dokter Praktik
penguatan fungsi dan optimalisasi pelayanan primer Klinik dan Klinik Pratama) melalui Dinas
merupakan kunci dari kesuksesan pelaksanaan Jaminan Kesehatan, Asosiasi Fasilitas Kesehatan,
Kesehatan Nasional. Kegiatan yang dilaksanakan Media Informasi baik cetak maupun
terkait dengan pembayaran manfaat program, sebagai elektronik.
berikut:
Sampai dengan 31 Desember 2017,
Manajemen Fasilitas Kesehatan jumlah faskes tingkat pertama yang
1. Manajemen Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama bekerja sama sebanyak 20.575 FKTP
(FKTP). (di luar FKTP Gigi), dengan rincian
a. Perencanaan Faskes Tingkat Pertama. sebagai berikut:
1) Mapping Faskes .
Pada tahun 2017, telah dilaksanakan
mapping faskes tingkat pertama dengan

Tabel Data Jumlah Faskes Tingkat Pertama yang Bekerja sama


Realisasi Tahun 2017
Target FKTP yang FKTP yang Dokter Umum yang
No. Kedeputian Wilayah %
Bekerja sama Bekerja sama Bekerja sama
1 2 3 4 5 6=4/3
1 Sumut dan DI Aceh 1.234 1.763 3.789 142,87
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 1.847 1.551 2.961 83,97
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 1.014 1.154 1.736 113,81
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 1.306 1.690 5.001 129,40
5 Jabar 1.869 1.994 3.597 106,69
6 Jateng dan DI Yogyakarta 2.870 2.889 5.169 100,66
7 Jatim 2.480 2.302 4.268 92,82
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 989 1.317 2.145 133,16
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 1.151 1.611 2.024 139,97
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 749 997 1.598 133,11
11 Bali, NTT dan NTB 1.027 1.368 2.081 133,20
12 Papua dan Papua Barat 493 725 659 147,06
13 Banten, Kalbar dan Lampung 972 1.214 2.086 124,90
Total 18.001 20.575 37.114 114,30

98 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
2) Profiling Faskes. Sampai dengan 31 Desember 2017,
Profiling faskes telah dilakukan pada telah dilakukan credentialing terhadap
masing-masing Kantor Cabang BPJS 2.751 FKTP dan recredentialing terhadap
Kesehatan dalam rangka analisa 12.201 FKTP. Perkembangan hasil
kebutuhan faskes sebagai dasar proses Credentialing dan Recredentialing per
credentialing dan recredentialing FKTP. Kedeputian Wilayah untuk FKTP, yaitu:

Tabel Hasil Credentialing dan Recredentialing FKTP


per Kedeputian Wilayah
Realisasi Tahun 2017
Realisasi Kegiatan
Credentialing Recredentialing

No. Kedeputian Wilayah Faskes RS Tipe Faskes RS Tipe


DPP Drg PKM TNI/ Klinik D Total DPP Drg PKM TNI/ Klinik D Total
Polri Pratama Polri Pratama

1 2 3 4 5 6 7 8 9=3+..+8 10 11 12 13 14 15 16=10+..+15

1 Sumut dan DI Aceh 59 17 - - 99 - 175 118 5 634 42 407 - 1.206


2 Riau, Kepri, Sumbar 107 18 3 3 182 - 313 273 75 650 65 538 - 1.601
dan Jambi
3 Sumsel, Kep. Babel 44 12 - - 36 - 92 145 17 281 17 59 - 519
dan Bengkulu
4 DKI Jkt, Bogor, 73 19 - 6 544 - 642 100 2 179 21 757 - 1.059
Depok, Tangerang
dan Bekasi
5 Jabar 29 7 - 2 96 - 134 37 2 67 6 104 - 216
6 Jateng dan DI 131 17 1 - 135 - 284 684 295 520 29 286 - 1.814
Yogyakarta
7 Jatim 96 28 - - 76 - 200 428 118 760 23 358 - 1.687
8 Kaltim, Kalsel, 90 7 1 - 42 - 140 145 8 10 16 39 - 218
Kalteng, dan Kaltara
9 Sulsel, Sulbar, Sultra 69 29 8 1 34 1 142 95 14 341 28 33 - 511
dan Maluku
10 Sulut, Sulteng, 125 32 13 - 91 6 267 213 59 689 40 74 1 1.076
Gorontalo dan Malut
11 Bali, NTT dan NTB 134 17 - - 50 4 205 557 105 816 73 155 2 1.708
12 Papua dan Papua 17 - 5 - 6 - 28 56 6 105 9 30 - 206
Barat
13 Banten, Kalbar dan 45 1 5 - 78 - 129 123 14 99 1 143 - 380
Lampung
Total 1.019 204 36 12 1.469 11 2.751 2.974 720 5.151 370 2.983 3 12.201

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 99
b. Faskes Tingkat Pertama. c) Penyampaian feedback kepada
Proses seleksi faskes yang meliputi FKTP terkait pemenuhan komitmen
credentialing dan recredentialing senantiasa kerja sama Pelaksanaan WTA di
dilaksanakan pada saat melakukan kerja beberapa FKTP.
sama maupun perpanjangan kerja sama d) Supervisi ke FKTP yang memiliki
antara BPJS Kesehatan dengan FKTP. Sampai rasio RNS tinggi.
dengan 31 Desember 2017, jumlah FKTP
yang telah bekerja sama dengan BPJS Rincian kegiatan supervisi dan
Kesehatan sesuai hasil credentialing dan pelaksanaan WTA pelayanan primer
recredentialing adalah 21.763 faskes, yang sebagai berikut:
terdiri dari 20.575 FKTP dan 1.188 FKTP
Gigi. Tabel Kegiatan Supervisi dan
Pelaksanaan WTA Pelayanan Primer
c. Manajemen Kemitraan Fasilitas Kesehatan
Realisasi Tahnu 2017
Tingkat Pertama (FKTP).
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
Kegiatan hubungan kemitraan dengan FKTP 1 2 3 4 5=4/3
yang telah dilaksanakan yaitu: 1 Sumut dan DI Aceh 13 30 230,77
1) Supervisi dan Pelaksanaan Walk Through 2 Riau, Kepri, Sumbar dan 11 21 190,91
Audit (WTA) Pelayanan Primer. Jambi
Sampai dengan 31 Desember 2017, 3 Sumsel, Kep. Babel dan 6 16 266,67
kegiatan supervisi dan pelaksanaan Bengkulu
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 12 14 116,67
WTA pelayanan primer telah
Tangerang dan Bekasi
dilaksanakan sebanyak 240 kali. Kegiatan
5 Jabar 9 18 200,00
ini dilakukan untuk memperoleh
6 Jateng dan DI Yogyakarta 13 25 192,31
gambaran riil tentang kondisi pelayanan
7 Jatim 13 16 123,08
pada FKTP, membangun komunikasi
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan 8 18 225,00
yang lebih baik dengan FKTP dan untuk Kaltara
melakukan penilaian terhadap FKTP 9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan 11 20 181,82
terbaik di daerah. Maluku
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan 6 17 283,33
Malut
Informasi yang diberikan pada kegiatan
11 Bali, NTT dan NTB 11 13 118,18
supervisi dan pelaksanaan WTA
12 Papua dan Papua Barat 6 19 316,67
pelayanan primer, antara lain:
13 Banten, Kalbar dan Lampung 7 13 185,71
a) Penyampaian kebijakan/regulasi
Total 126 240 190,48
terbaru terkait Pelayanan Primer.
b) Penyampaian evaluasi pemanfaatan
pelayanan kesehatan di FKTP.

100 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
2) Pertemuan Koordinasi Pelayanan Primer Hasil kegiatan pertemuan koordinasi
Pertemuan koordinasi pelayanan primer pelayanan primer antara lain:
dilakukan bersama dengan stakeholder a) Tersampaikannya hasil evaluasi
terkait (Pemerintah Daerah, Dinas pemanfaatan pelayanan kesehatan
Kesehatan, Asosiasi Faskes, TKMKB, primer.
dan FKTP) guna meningkatkan kualitas b) Tersosialisasinya kebijakan terbaru
pelayanan kesehatan baik langsung mengenai pelayanan primer di era
maupun tidak langsung. JKN.
c) Terpahamkannya para pemangku
Sampai dengan 31 Desember 2017, kepentingan mengenai
telah dilaksanakan sebanyak 1.154 kali permasalahan pelaksanaan
pertemuan koordinasi pelayanan primer program di pelayanan kesehatan
dengan rincian sebagai berikut: primer.
d) Terjalinnya koordinasi yang
Tabel Pertemuan Koordinasi Pelayanan Primer stakeholder terkait (Dinas
Realisasi Tahun 2017
Kesehatan, Asosiasi Faskes,
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
Organisasi Profesi).
1 2 3 4 5=4/3
e) Terjalinnya sinergi program dengan
1 Sumut dan DI Aceh 184 121 65,76
Dinas Kesehatan.
2 Riau, Kepri, Sumbar dan 158 82 51,90
Jambi
f) Pertemuan dengan Faskes pemberi
3 Sumsel, Kep. Babel dan 87 85 97,70
pelayanan obat rujuk balik.
Bengkulu g) Pertemuan dengan Asosiasi
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 127 101 79,53 Faskes.
Tangerang dan Bekasi
5 Jabar 127 83 65,35
2. Manajemen Fasilitas Kesehatan Rujukan.
6 Jateng dan DI Yogyakarta 184 117 63,59
a. Perencanaan Fasilitas Kesehatan Rujukan
7 Jatim 183 76 41,53
Tingkat Lanjutan (FKRTL).
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan 116 98 84,48
1) Proses Pemetaan Fasilitas Kesehatan
Kaltara
Pemetaan faskes rujukan tingkat
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan 158 117 74,05
Maluku lanjutan bertujuan untuk mendapatkan
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo 88 68 77,27 sebaran fasilitas kesehatan pada setiap
dan Malut Kabupaten/Kota. Proses ini sejalan
11 Bali, NTT dan NTB 157 51 32,48 dengan perhitungan kebutuhan fasilitas
12 Papua dan Papua Barat 86 77 89,53 kesehatan pada setiap daerah sesuai
13 Banten, Kalbar dan Lampung 101 78 77,23
dengan pertumbuhan peserta. Data
Total 1.756 1.154 65,72
FKRTL terus diperbaharui dengan
melakukan validasi hasil pemetaan
FKRTL melalui pengecekan fasilitas
kesehatan yang bekerja sama dengan
referensi PPK online yang selanjutnya
memastikan FKRTL tersebut aktif pada
database pelayanan BPJS Kesehatan.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 101
Sedangkan bagi FKRTL yang tidak medis, jam praktik dokter, dan informasi
bekerja sama lagi maka FKRTL tersebut sarana prasarana FKRTL lainnya.
dinonaktifkan. Proses ini dilakukan rutin
melalui koordinasi Kedeputian Wilayah 3) Analisa Kebutuhan Faskes.
dengan Kantor Pusat. Rasio peserta BPJS Kesehatan terhadap
faskes merupakan aspek penting yang
2) Profiling Faskes. akan digunakan sebagai dasar
Profiling Faskes bertujuan untuk pertimbangan dalam menentukan
mendapatkan informasi profil dan kebutuhan faskes. Referensi yang dapat
kapasitas pelayanan dari masing-masing digunakan dalam menghitung kebutuhan
faskes rujukan tingkat lanjutan. Data faskes adalah berdasarkan National
profiling digunakan sebagai dasar Health Service (NHS) bahwa rasio faskes
perhitungan kapasitas FKRTL dalam tingkat lanjutan terhadap peserta adalah
melayani peserta dan sumber data 1:50.000 sampai dengan 500.000 jiwa,
perhitungan kebutuhan fasilitas untuk peserta BPJS Kesehatan
kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan. digunakan angka standar rasio
Selain itu data profiling sangat kecukupan Faskes Rujukan yaitu
bermanfaat dalam menata sistem 1:100.000. Perhitungan rasio faskes
rujukan berjenjang berbasis kompetensi. terhadap peserta dan rasio sebaran
Sistem ini memberikan kemudahan faskes dilakukan sebagai pertimbangan
bagi peserta untuk mendapatkan pilihan terhadap pengajuan kerja sama baru
fasilitas kesehatan rujukan sesuai dari FKRTL. Pendekatan rasio peserta
dengan kebutuhan, disisi lain sistem terhadap jumlah TT Rawat Inap
ini mendukung efisiensi dalam digunakan untuk mendapatkan
pembiayaan yang tidak diperlukan. perhitungan yang lebih akurat yaitu
lebih mendekati kebutuhan peserta.
Profiling faskes dilakukan secara periodik
per triwulan oleh Kantor Cabang, Upaya-upaya yang dilakukan dalam
divalidasi dan direkapitulasi oleh rangka menambah FKRTL adalah
Kedeputian Wilayah dan selanjutnya sebagai berikut:
digabung menjadi data profil faskes a) Melakukan koordinasi dengan
nasional oleh Kantor Pusat. Informasi Pemerintah Daerah di tingkat
ketersediaan FKRTL yang bekerja sama Kedeputian Wilayah/Kantor Cabang
dapat diakses secara mandiri melalui dan dengan Pemerintah Pusat
website BPJS Kesehatan. Berdasarkan (Kementerian Kesehatan) di tingkat
hasil rekapitulasi sampai dengan 31 pusat untuk pemenuhan FKRTL
Desember 2017, jumlah tempat tidur di daerah yang kekurangan FKRTL
rawat inap dari seluruh rumah sakit termasuk ketersediaan tenaga
yang bekerja sama adalah 200.192 dokter spesialis/sub spesialis,
tempat tidur meliputi 36.690 TT untuk kebutuhan terhadap pemeriksaan
Kelas I, 51.752 TT untuk Kelas II dan penunjang dan fasilitas lainnya
111.750 TT untuk Kelas III. Selain juga menjadi hal yang selalu
kapasitas tempat tidur, profiling juga disampaikan kepada Pemerintah
memberikan gambaran fasilitas Daerah untuk dipenuhi, terutama
pemeriksaan penunjang FKRTL,tenaga pada daerah terbatas FKRTL.

102 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
b) Melakukan koordinasi dengan Menteri. Sampai saat ini belum terdapat
Asosiasi FKRTL (PERSI). kesepakatan tarif di bawah ketetapan
c) Melakukan penambahan Klinik Menteri karena belum diberikannya
Utama. kewenangan kepada BPJS Kesehatan
d) Mengimplementasikan ketentuan untuk melakukan negosiasi dan
masa transisi untuk persyaratan pembayaran sesuai dengan kapasitas
sertifikat akreditasi dalam waktu FKRTL.
5 tahun sejak tanggal 1 Januari
2016 sesuai ketentuan di Peraturan 5) Seleksi Faskes.
Menteri Kesehatan Nomor 99 Seleksi faskes dilakukan untuk
Tahun 2015 tentang perubahan mendapatkan faskes yang berkualitas
atas Peraturan Menteri Kesehatan dan memiliki komitmen tinggi dalam
Nomor 71 Tahun 2013 tentang rangka memberikan pelayanan yang
Pelayanan Kesehatan pada Jaminan berkualitas kepada peserta yang terdiri
Kesehatan Nasional. dari credentialing dan recredentialing.
e) Menambah FKRTL dengan jumlah Credentialing adalah proses seleksi/
tempat tidur perawatan kelas I, II penilaian awal melalui penilaian terhadap
dan III yang lebih banyak pemenuhan beberapa persyaratan bagi
dibandingkan kelas rawat VIP/VVIP. faskes yang akan bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan.
4) Kesepakatan Tarif dengan Asosiasi
Faskes. Sedangkan recredentialing adalah
Sesuai Undang-Undang Nomor 40 proses seleksi/penilaian ulang terhadap
tahun 2004 pada pasal 24 ayat 1 bahwa pemenuhan persyaratan dan kinerja
besarnya besarnya pembayaran kepada pelayanan bagi faskes yang telah dan
faskes untuk setiap wilayah ditetapkan akan melanjutkan kerja sama dengan
berdasarkan kesepakatan antara Badan BPJS Kesehatan. Sasaran credentialing/
Penyelenggara Jaminan Sosial dengan recredentialing adalah seluruh faskes
Asosiasi Faskes di wilayah tersebut. yang akan dan masih bekerja sama.
Asosiasi Faskes yang akan melakukan Credentialing dan recredentialing
negosiasi dengan BPJS Kesehatan dilaksanakan di seluruh Kantor Cabang
dalam rangka Sistem JKN adalah BPJS Kesehatan oleh Tim Seleksi
Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh FKRTL. Untuk memastikan obyektivitas
Indonesia (PERSI), Asosiasi Klinik dalam melaksanakan proses seleksi
Indonesia (ASKLIN) dan Perhimpunan maka BPJS Kesehatan melibatkan
Klinik dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan untuk melakukan
Primer Indonesia (PKFI) di bawah seleksi dan memberikan rekomendasi
koordinasi PERSI. Hasil kegiatan kerja sama dengan FKRTL.
tersebut berupa kesepakat an
regionalisasi tarif tingkat provinsi yang Sampai dengan 31 Desember 2017,
telah dilaksanakan sebanyak 34 provinsi. realisasi kegiatan credentialing dan
Kesepakatan tarif ini mengacu pada recredentialing sebagai berikut:
standar tarif yang telah ditetapkan oleh

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 103
Tabel Kegiatan Credentialing dan Recredentialing FKRTL Tabel Program Supervisi dan Pelaksanaan WTA Faskes Rujukan
Tahun 2017 Realisasi Tahun 2017
Realisasi Kedeputian
No. Faskes No. Target Realisasi %
Credentialing Recredentialing Wilayah
1 2 3 4 5=4/3
1 2 3 4
1 RS Pemerintah 69 558 1 Sumut dan DI 200 210 105,00
Aceh
2 RS BUMN 6 36
2 Riau, Kepri, 150 164 109,33
3 RS Swasta 268 934 Sumbar dan
4 RS Milik TNI 5 19 Jambi
5 RS Milik Polri 8 13 3 Sumsel, Kep. 100 126 126,00
Babel dan
6 Klinik Utama 101 33
Bengkulu
Jumlah 457 1.593
4 DKI Jkt, Bogor, 250 260 104,00
Depok, Tangerang
dan Bekasi
b. Manajemen Kemitraan Faskes Rujukan . 5 Jabar 170 189 111,18
1) Supervisi dan Pelaksanaan Walk Through 6 Jateng dan DI 300 328 109,33
Yogyakarta
Audit (WTA) FKRTL.
7 Jatim 250 270 108,00
Sesuai dengan Peraturan Menteri
8 Kaltim, Kalsel, 110 133 120,91
Kesehatan Nomor 99 tahun 2015,
Kalteng, dan
pembinaan fasilitas kesehatan Kaltara
dilaksanakan melalui supervisi JKN. 9 Sulsel, Sulbar, 140 158 112,86
Sasaran program tersebut adalah Sultra dan
Maluku
seluruh faskes tingkat lanjutan yang
10 Sulut, Sulteng, 90 114 126,67
ada di wilayah Kantor Cabang. Melalui Gorontalo dan
program ini Kantor Cabang melakukan Malut
sosialisasi mengenai kebijakan dan 11 Bali, NTT dan 120 144 120,00
NTB
prosedur pelayanan kesehatan kepada
12 Papua dan Papua 50 60 120,00
Faskes, sedangkan WTA dilakukan Barat
kepada peserta yang mendapatkan 13 Banten, Kalbar 120 146 121,67
pelayanan di FKRTL dengan waktu dan Lampung
pelaksanaan setiap semester. Total 2.050 2.302 112,29

Sampai dengan 31 Desember 2017,


program supervisi dan pelaksanaan
WTA telah dilaksanakan sebanyak 2.302
kali dengan rincian sebagai berikut:

104 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Kegiatan supervisi program faskes m) Supervisi dalam rangka monitoring
rujukan dilaksanakan antara lain untuk: informasi ketersediaan tempat
a) Supervisi dalam rangka penegasan tidur perawatan.
komitmen PKS FKRTL Tahun 2017. n) S u p e r v i s i dalam rangka
b) Koordinasi dengan FKRTL tentang melaksanakan customer visite
rencana perluasan jenis pelayanan pasien rawat inap.
FKRTL. o) Supervisi dalam rangka memastikan
c) Sosialisasi dalam rangka standardisasi pemasangan provider
implementasi Permenkes baru sign di FKRTL.
tentang standar tarif pelayanan p) S u p e r v i s i dalam rangka
kesehatan. mensosialisasikan pentingnya
d) Supervisi dalam rangka pemenuhan kerapihan berkas pengajuan klaim.
ketersediaan dokter spesialis q) Supervisi dalam rangka koordinasi
dalam rangka kerja sama faskes kepada manajemen rumah sakit
baru. terkait masa berlaku SIP tenaga
e) Supervisi dalam rangka mengecek medis.
kesiapan rumah sakit yang siap r) Supervisi dalam rangka memastikan
melaksanakan Vedika. kesiapan software INA-CBG ke
f) Supervisi dalam rangka sosialisasi rumah sakit yang mendapatkan
tambahan biaya pada pelayanan kenaikan kelas.
rawat inap pesert a yang
menginginkan naik ke kelas Sosialisasi kepada faskes, peserta dan stakeholder
perawatan VIP. lainnya tentang penyelenggaraan JKN juga dilakukan
g) Sosialisasi persyaratan rawat jalan melalui berbagai kegiatan seperti menjadi narasumber
eksekutif bagi peserta JKN. sosialisasi, workshop, pertemuan koordinasi, kunjungan
h) Melaksanakan WTA. lapangan dan lainnya. Sampai dengan 31 Desember
i) Supervisi dalam rangka memonitor 2017, kegiatan yang telah dilaksanakan,yaitu:
pelayanan fasilitas kesehatan 1. Narasumber seminar Penerapan Survei Demografi
khususnya apakah ada iur biaya. dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dalam Sistem
j) Supervisi dalam rangka pemintaan Pelayanan Kesehatan di Era JKN yang
data profiling rumah sakit. diselenggarakan oleh Persatuan Perawat Nasional
k) S u p e r v i s i dalam rangka Indonesia (PPNI) di Jakarta pada Bulan Januari
mensosialisasikan ketentuan 2017.
Peraturan Menteri Kesehatan 2. Narasumber rapat kerja nasional tahun 2017
(Permenkes) Nomor 4 Tahun 2017 tentang "Peranan BPJS Kesehatan dalam
tentang Perubahan Kedua atas Pelayanan Kesehatan” merupakan acara
Permenkes Nomor 64 Tahun 2016. Kementerian Kesehatan pada bulan Februari
l) Supervisi dalam rangka persiapan 2017.
pelaksanaan Aplikasi Aplicares.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 105
3. Pembicara ASM (Annual Scientific Meeting) dengan tema "How Indonesian Community can
degan topik "Pengaturan Obat Antimikroba dalam Access Wound Ostomy and Continence Nurse
Formularium Nasional untuk Pencegahan dan Services through Indonesian Health National
Pengendalian Resistensi Antimikroba" Coverage” di IPB Bogor pada bulan April 2017.
diselenggarakan oleh FK UGM di Yogyakarta 12. Narasumber Pertemuan Peningkatan Kemampuan
pada bulan Februari 2017. Penggunaan Strategic Purchasing dalam Kebijakan
4. Narasumber Plenary Lecture Acara Pertemuan Jaminan Kesehatan Nasional bagi Kelompok
Ilmiah Berkala XVII Ilmu Penyakit Dalam dengan Provider dan Asosiasi Faskes/Profesi
topik "The Role of Healthcare Stages in BPJS to diselenggarakan oleh DJSN di Jakarta pada bulan
Optimize Health Services” di Padang pada bulan Mei 2017.
Februari 2017. 13. Narasumber Peningkatan Kompetensi Tim NHA
5. Narasumber Seminar Perumahsakitan, Lokakarya Pusat dalam rangka penyusunan NHA
dan Medan Hospital Expo VII PERSI Daerah diselenggarakan oleh Kemenkes RI di Bogor
Sumatera Utara dengan topik paparan "Perjalanan pada bulan Mei 2017.
BPJS Kesehatan Menuju Universal Health 14. Narasumber Pertemuan Konsultasi Penyusunan
Coverage 2019" pada bulan Februari 2017. Peta Jalan Sistem Layanan Kesehatan Inklusi bagi
6. Narasumber pada rakernas Kemenkes RI Tahun orang dengan disabilitas diselenggarakan oleh
2017 tentang "Peranan BPJS Kesehatan dalam Kemenkes RI di Jakarta pada bulan Mei 2017.
Pelayanan Kesehatan pada bulan Maret 2017 di 15. Narasumber Pelatihan Teknis Petugas RS dalam
Jakarta. Implementasi Sistem Casemix INA-CBG pada
7. Narasumber Plenary Lecture Acara Pertemuan Program JKN” yang diselenggarakan oleh
Ilmiah Berkala XVII Ilmu Penyakit Dalam dengan Kemenkes di Malang pada bulan Mei 2017.
topik "The Role of Healthcare Stages in BPJS to 16. Narasumber Pertemuan Pokja Belanja Strategi
Optimize Health Services” pada bulan Maret JKN yang diselenggarakan oleh DJSN di Jakarta
2017 di Padang. pada bulan Mei 2017.
8. Pembicara ASM (Annual Scientific Meeting) 17. Narasumber seminar pelayanan darah yang
degan topik "Pengaturan Obat Antimikroba dalam berkualitas dengan tema "Biaya Pengganti
Formularium Nasional untuk Pencegahan dan Pengolahan Darah" diselenggarakan oleh PMI di
Pengendalian Resistensi Antimikroba" di FK UGM Jakarta pada bulan Mei 2017.
Yogyakarta pada bulan Maret 2017. 18. Narasumber Persamaan Persepsi dengan
9. Narasumber workshop Coding, Verifikator, St.Carolus terkait kegiatan Peran dan Mutu Tenaga
Administrasi Klaim dan Pemahaman Vedika, Keperawatan dalam implementasi JKN KIS yang
diselenggarakan oleh PERSI Sumatera Utara di diselenggarakan oleh RS St.Carolus di Jakarta
Medan pada bulan April 2017. pada bulan Juni 2017.
10. Narasumber Strategi Manajemen RS dalam 19. Narasumber Peningkatan Kemampuan Penggunaan
Upaya Menjadikan Mutu dan Keselamatan Pasien Belanja Strategis dalam implementasi JKN yang
Menjadi Budaya di Era Total Coverage diselenggarakan oleh DJSN di Jakarta pada bulan
diselenggarakan oleh PERSI Jawa Timur di Juni 2017.
Surabaya pada bulan April 2017. 20. Narasumber Penyusunan Pengelolaan Rujukan
11. Narasumber dalam seminar Apetna (Asian Pacific yang diselenggarakan oleh Kemenkes RI di
Enterostomal Therapy Nurse Association) 2017 Jakarta pada bulan Juni 2017.

106 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
21. Pembicara Seminar dengan tema Peran dan 30. Narasumber "Peluang & Tantangan Pelayanan
Mutu Tenaga Keperawatan dalam Implementasi Mata di Era MEA yang diselenggarakan oleh
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di RS Asosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia (ARSAMI)
St.Carolus Jakarta pada bulan Juli 2017. di Bandung pada bulan November 2017.
22. Narasumber FGD kajian tentang Metode 31. Narasumber Seminar Nasional Kebijakan
Pembayaran Berbasis Kinerja Berdasarkan Kesehatan dengan tema "Strategi Kendali Mutu
Indikator Kualitas Layanan FKRTL yang & Biaya Fasilitas Kesehatan di Era JKN" yang
diselenggarakan oleh PPEK UI di Jakarta pada diselenggarakan oleh Universitas Airlangga di
bulan Agustus 2017. Surabaya pada bulan November 2017.
23. Narasumber kegiatan Asosiasi Rumah Sakit Swasta 32. Narasumber Seminar Nasional Keperawatan
Indonesia (ARSSI) dengan tema "Smart Hospital, dengan Tema "Penguatan Profesi Keperawatan
Tantangan bagi RS di Era Universal Health Coverage" dalam Peningkatan Pelayanan Keperawatan,
di Jakarta pada bulan Agustus 2017. Continuum Care: dari Ketergantungan Menuju
24. Kegiatan Monitoring & Evaluasi Sinergitas Program Kemandirian Hidup yang Berkualitas" yang
Kecelakaan Lalu Lintas di Balikpapan dan Makassar diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran di
pada bulan September 2017. Bandung pada bulan November 2017.
25. Narasumber Pertemuan Nasional VII Pergemi 33. Narasumber kegiatan sharing session tentang
(Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia) & Kaidah Koding sesuai Peraturan Menteri Kesehatan
Temu Ilmiah PPG I (Padang Psiko Geriatri) di Nomor 76 Tahun 2016 pada bulan Desember
Padang pada bulan September 2017. 2017 di Bali.
26. Narasumber Pelatihan teknis costing RS dan 1) Pertemuan Kemitraan.
Kodifikasi Diagnosis untuk kendali mutu kendali Sasaran Pertemuan Kemitraan dengan
biaya pada program JKN dengan topik Stakeholders adalah seluruh faskes
"Pendeteksian Potensi Fraud” yang diselenggarakan tingkat lanjutan di wilayah kerja
oleh Asosiasi Praktisi Casemix Indonesia (APCI) Kedeputian Wilayah/Kantor Cabang.
di Yogyakarta pada bulan September 2017. Tujuan program ini antara lain agar
27. Pembicara dalam workshop Pertemuan Ilmiah tercapainya hubungan kemitraan dengan
Tahunan (PIT PAMKI/Annual Scientific Meeting FKRTL sebagai mitra kerja dalam
of Indonesian Society for Clinical Microbiology) peningkatan pelayanan kepada peserta
di Padang pada bulan Oktober 2017. dan tercapainya pemahaman yang sama
28. Narasumber dalam Rakor Baku Mabes TNI AU atas program-program yang dilaksanakan
tentang Mekanisme Klaim BPJS di Bandung oleh BPJS Kesehatan.
pada bulan November 2017.
29. Narasumber kegiatan The 3rd International Sampai dengan 31 Desember 2017,
Scientific Meeting Of Hematology, Oncology, realisasi kegiatan pertemuan kemitraan
Thrombosis, and Transplantation in Indonesia dengan stakeholders sudah dilaksanakan
(ISMI HOTTI) 2017 yang diselenggarakan oleh sebanyak 1.778 kali, dengan rincian
Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah sebagai berikut:
Indonesia (PHTDI) di Jakarta pada bulan November
2017.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 107
Tabel Kegiatan Pertemuan Kemitraan dengan Stakeholders g) Pembahasan Surat Edaran Menteri
Realisasi Tahun 2017 Kesehatan Nomor HK 03.03/
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi % MENKES/ 518/ 2016 mengenai
1 2 3 4 5=4/3
kasus rawat jalan dengan diagnosa
1 Sumut dan DI Aceh 150 160 106,67
Severe Mental Retardation dan
2 Riau, Kepri, Sumbar dan 100 117 117,00
Jambi Moderate Mental Retardation
3 Sumsel, Kep. Babel dan 70 95 135,71 sert a kriteria penjaminan
Bengkulu pelayanan rehabilitasi psikososial
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 165 185 112,12
rawat jalan.
Tangerang dan Bekasi
5 Jabar 100 114 114,00 h) Pembahasan kriteria pelayanan
6 Jateng dan DI Yogyakarta 280 297 106,07 Ambulan.
7 Jatim 170 188 110,59
i) Pembahasan kewenangan dokter
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, 80 98 122,50
dan Kaltara
ya n g m e n g i k u t i Pr o g r a m
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan 120 138 115,00 Pendidikan Dokter Spesialis
Maluku (PPDS) dalam memberikan
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo 60 80 133,33 pelayanan kesehatan rujukan
dan Malut
tingkat lanjutan di FKRTL.
11 Bali, NTT dan NTB 100 135 135,00
12 Papua dan Papua Barat 45 60 133,33 j) Pembahasan alur koordinasi pelayanan
13 Banten, Kalbar dan 90 111 123,33 bagi peserta BPJS Kesehatan dan
Lampung
BPJS Ketenagakerjaan.
Total 1.530 1.778 116,21
k) Pembahasan ketentuan pembayaran
INA-CBG bagi RS Khusus.
Topik pembahasan Pertemuan Kemitraan
dengan Stakeholders antara lain: l) Pembahasan bersama tentang
a) Pembahasan ketersediaan koordinasi manfaat dan koordinasi
informasi ruang perawatan bagi pelayanan penjaminan Kecelakaan
Peserta JKN di rumah sakit. Kerja dan Kecelakaan Lalulintas
oleh Fasilitas Kesehatan, BPJS
b) Pembahasan alur pelayanan bagi
Ketenagakerjaan, PT Taspen, Jasa
pasien fisioterapi.
Raharja dengan mengundang Dinas
c) Pembahasan pelayanan obat.
Kesehatan.
d) Pembahasan pelayanan pada
3) Pertemuan Forum Kemitraan dengan
peserta JKN yang mengalami
Faskes, Dinkes dan Instansi Terkait
kecelakaan lalu lintas.
Kegiatan ini sebagai bentuk koordinasi
e) Pembahasan evaluasi pelaksanaan dengan lintas sektor/organisasi/
rujukan berjenjang pelayanan lembaga terkait. Unsur-unsur yang
kesehatan berbasis kompetensi diikutsertakan di dalam kegiatan
tahun 2016. tersebut adalah dari unsur pemerintah
f) Umpan balik dan pembahasan maupun instansi terkait antara lain
hasil luaran aplikasi Defrada. Dinas Kesehatan, BAKP, BKD, Kepala

108 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Kesehatan Daerah Militer, Kepala
Bidang Kedokteran dan Kesehatan Tabel Kegiatan Forum Kemitraan Tingkat Kabupaten/Kota
Realisasi Tahun 2017
Polda, Direktur RS, PWRI, LVRI, Pepabri
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
dan instansi lain sesuai kebutuhan. 1 2 3 4 5=4/3
Bahkan, apabila ada rumah sakit swasta 1 Sumut dan DI Aceh 100 97 97,00
daerah non provider yang potensial 2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 98 87 88,78
untuk menjadi faskes BPJS Kesehatan 3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 68 64 94,12
dapat diikutsertakan di dalam kegiatan 4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 30 25 83,33
Tangerang dan Bekasi
t e r s e b u t k a r e n a m e ru p a k a n
5 Jabar 42 34 80,95
kesempatan yang sangat baik untuk
6 Jateng dan DI Yogyakarta 70 76 108,57
mensosialisasikan program JKN dan
7 Jatim 76 72 94,74
melakukan advokasi kepada Pemerintah
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan 84 77 91,67
Daerah dalam hal menyediakan faskes. Kaltara
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 100 91 91,00

Sampai dengan 31 Desember 2017, 10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan 88 83 94,32


Malut
realisasi kegiatan Forum Kemitraan
11 Bali, NTT dan NTB 84 77 91,67
Tingkat Provinsi sudah dilaksanakan
12 Papua dan Papua Barat 54 44 81,48
sebanyak 56 kali, dengan rincian 13 Banten, Kalbar dan Lampung 66 35 53,03
sebagai berikut: Total 960 862 89,79
Hasil pembahasan forum kemitraan
Tabel Kegiatan Forum Kemitraan Tingkat Provinsi
antara lain:
Realisasi Tahun 2017
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
a) U m p a n b a l i k p e n c a p a i a n
1 2 3 4 5=4/3 kepesertaan dan iuran peserta
1 Sumut dan DI Aceh 4 4 100,00 serta evaluasi terkait pendaftaran
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 8 7 87,50 peserta di kelurahan.
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 6 6 100,00 b) Sosialisasi terkait regulasi terbaru
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 2 3 150,00 BPJS Kesehatan.
Tangerang dan Bekasi
c) Dukungan pemerintah daerah
5 Jabar 2 1 50,00
untuk peningkatan kualitas
6 Jateng dan DI Yogyakarta 4 4 100,00
7 Jatim 2 1 50,00
pelayanan fasilitas kesehatan
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan 8 8 100,00 melalui pemenuhan sarana
Kaltara prasarana dan ketersediaan dokter.
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 8 9 112,50 d) Sosialisasi tentang pencegahan
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan 8 4 50,00
kecurangan sesuai Peraturan
Malut
11 Bali, NTT dan NTB 6 4 66,67
Menteri Kesehatan Nomor 36
12 Papua dan Papua Barat 4 1 25,00 Tahun 2015.
13 Banten, Kalbar dan Lampung 6 4 66,67 e) Dukungan pemerintah daerah
Total 68 56 82,35 untuk perluasan fasilitas kesehatan
yang bekerja sama dengan BPJS
Kegiatan Forum Kemitraan Tingkat Kabupaten/Kota, Kesehatan.
sampai dengan 31 Desember 2017 sudah dilaksanakan f) Komitmen bersama pelaksanaan
sebanyak 862 kali, dengan rincian sebagai berikut: rujukan bagi peserta JKN.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 109
g) Komitmen stakeholders untuk Kesehatan di Era Jaminan
mengatasi 4 permasalahan utama Kesehatan Nasional (JKN)”.
pelayanan peserta JKN-KIS, yaitu (c) Prof Budi Hidayat, SKM., M.PPM.,
antrian, iur biaya, ketersediaan Ph.D. sebagai pemandu metaplan
ruang perawatan, dan ketersediaan dengan tema peningkatan kualitas
obat. pelayanan kesehatan pesertaJKN.
h) Koordinasi integrasi kepesertaan d) Direktur Mutu dan Akreditasi
Jamkesda Kemenkes RI tentang “Dukungan
Regulasi Mewujudkan Peningkatan
4) Pertemuan Nasional dengan Manajemen Kualitas Pelayanan Kesehatan
Rumah Sakit. dalam Program JKN-KIS”
Sasaran dari kegiatan Kegiatan e) Ketua PERSI tentang “Upaya
Pertemuan Nasional Manajemen Rumah Fasilitas Kesehatan untuk Tetap
Sakit Tahun 2017 adalah Kepala/Direktur Menjamin Kualitas Pelayanan bagi
Rumah Sakit yang bekerja sama dengan Peserta JKN-KIS Dalam Perubahan
BPJS Kesehatan dalam rangka dukungan Regulasi”
dan optimalisasi pelayanan kesehatan f) Best Practice Sharing Direktur RS
kepada Peserta. Pelni, Direktur RSU Annisa
Tangerang, Direktur RS William
Pertemuan Nasional Manajemen RS Booth Surabaya dan Direktur RS
Tahun 2017 telah dilaksanakan di Jakarta Dr Sardjito tentang “Upaya Fasilitas
pada tanggal 16 sampai dengan 19 Mei Kesehatan dalam Peningkatan
2017 dengan tema “Meningkatkan Akuntabilitas Pelayanan Kesehatan
Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Menuju Rujukan Tingkat Lanjutan” dan
Cakupan Semesta Tahun 2019”. Kegiatan “Pengelolaan Dana JKN Secara
ini dilaksanakan dalam bentuk seminar, Efektif & Efisien Oleh Rumah Sakit
diskusi, metaplan dan kunjungan Swasta untuk Menjamin Mutu
lapangan dihadiri oleh 276 peserta yang Pelayanan Kesehatan”.
terdiri dari Direktur RS, Kemenkes, IDI,
PERSI dan internal BPJS Kesehatan. 5) Pengelolaan Jejaring Komunikasi Antar
Faskes.
Materi yang disampaikan dalam Dalam rangka melaksanakan pelayanan
Pertemuan Nasional Manajemen RS administrasi dan pelayanan kepada
Tahun 2017, yaitu: peserta yang terkoordinasi serta
a) Dirjen Pelayanan Kesehatan membangun komunikasi antar FKRTL,
Kemenkes RI: keynote speech petugas BPJS Kesehatan ditempatkan
sambutan Menteri Kesehatan. di FKRTL sebagai petugas BPJS Center.
b) Rhenald Kasali tentang “Pentingnya BPJS Center adalah pusat pelayanan
Perubahan Paradigma Pikir BPJS Kesehatan yang dilaksanakan di
Pimpinan Fasilitas Kesehatan untuk RS dengan tujuan untuk memudahkan
Meningkatkan Mutu Pelayanan dan mempercepat pelayanan kepada

110 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
peserta di RS melalui pelayanan kepada Materi pembahasan dalam kegiatan
peserta di RS. Fungsi pokok BPJS pembinaan petugas BPJS Center antara
Center adalah memberikan informasi lain:
dan penanganan keluhan, pelayanan a) Pembahasan Peraturan Menteri
administrasi, fungsi pengendalian Kesehatan Nomor 76 tahun 2016
(memastikan eligibilitas peserta, tentang Pedoman INA-CBG dalam
verifikasi) dan fungsi kemitraan. pelaksanaan JKN.
b) Pembahasan mekanisme audit
Untuk terlaksananya tata cara klaim internal.
administrasi pelayanan kesehatan dan c) Pembahasan mekanisme pelayanan
membangun komunikasi dengan rujukan parsial.
fasilitas kesehatan dalam rangka d) Koordinasi pembahasan persiapan
percepatan pengajuan klaim dilakukan implementasi Vedika.
pula kegiatan pertemuan Tim Pengendali e) Pemahaman tentang Audit Klaim
Rumah Sakit dan petugas BPJS Center pelayanan kesehatan.
melalui program Pembinaan Petugas
BPJS Center . Manajemen Manfaat dan Utilisasi Pelayanan
1. Manajemen Manfaat dan Utilisasi Pelayanan
Sampai dengan 31 Desember 2017, Primer.
program pembinaan petugas BPJS Dalam mengelola manfaat pelayanan primer
Center telah dilaksanakan sebanyak dilakukan pengembangan kebijakan, penguatan
3.409 kali dengan rincian sebagai sistem gate keeper, dan pengelolaan mutu
berikut: pelayanan primer yang bertujuan memberikan
pelayanan primer berkualitas bagi seluruh
Tabel Kegiatan Pembinaan Petugas BPJS Center
peserta.
Realisasi Tahun 2017
a. Pengembangan Kebijakan.
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
1 2 3 4 5=4/3 1) Surat Edaran Direktur Pelayanan Badan
1 Sumut dan DI Aceh 300 295 98,33 Penyelenggara Jaminan Sosial
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 275 272 98,91 Kesehatan Nomor 04 Tahun 2017
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 175 186 106,29 tentang Penjelasan Peraturan Menteri
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 350 349 99,71 Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016
Tangerang dan Bekasi
tentang Perubahan atas Peraturan
5 Jabar 315 316 100,32
Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun
6 Jateng dan DI Yogyakarta 450 448 99,56
7 Jatim 410 412 100,49
2016.
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan 175 195 111,43 2) Surat Edaran Direktur Pelayanan Badan
Kaltara Penyelenggara Jaminan Sosial
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 255 255 100,00 Kesehatan Nomor 14 Tahun 2017
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo 140 157 112,14 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
dan Malut
Peer Review Diagnosa Non Spesialistik
11 Bali, NTT dan NTB 230 235 102,17
12 Papua dan Papua Barat 85 93 109,41 pada Fasilitas Kesehatan Tingkat
13 Banten, Kalbar dan Lampung 190 196 103,16 Pertama.
Total 3.350 3.409 101,76

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 111
3) Surat Nomor 4568/III.1/0417 tanggal bagi peserta BPJS Kesehatan. Sampai
12 April 2017 tentang Penyampaian dengan 31 Desember 2017, kegiatan
Peraturan Bersama Sekretaris Jenderal peningkatan komitmen pelayanan FKTP
Kementerian Kesehatan RI dan Direktur telah dilaksanakan sebanyak 486 kali
Utama BPJS Kesehatan Nomor dengan rincian sebagai berikut:
HK.01.08/III/980/2017 Tahun 2017 dan
Nomor 2 Tahun 2017 tentang Petunjuk Tabel Kegiatan Peningkatan Komitmen Pelayanan
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
Teknis Pelaksanaan Pembayaran KBK Realisasi Tahun 2017
pada FKTP. No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
1 2 3 4 5=4/3

b. Penguatan Sistem Gate Keeper. 1 Sumut dan DI Aceh 54 40 74,07


Penguatan pelayanan primer masih menjadi 2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 46 35 76,09
fokus BPJS Kesehatan tahun 2017. Fasilitas 3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 26 29 111,54
Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai 4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang 50 45 90,00
Gate Keeper adalah faktor penting dan Bekasi

tercapainya kendali mutu dan kendali biaya 5 Jabar 38 30 78,95

pelayanan kesehatan. Penguatan sistem 6 Jateng dan DI Yogyakarta 54 50 92,59

Gate Keeper di FKTP dilaksanakan melalui 7 Jatim 54 40 74,07

kegiatan: 8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 34 40 117,65

1) Peningkatan Komitmen Pelayanan 9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 46 52 113,04

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama 10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 26 31 119,23
Program peningkatan komitmen 11 Bali, NTT dan NTB 46 33 71,74
pelayanan Fasilit as Kesehat an 12 Papua dan Papua Barat 26 25 96,15
Tingkat Pertama merupakan kegiatan 13 Banten, Kalbar dan Lampung 30 36 120,00
yang melibatkan tenaga kesehatan Total 530 486 91,70
di Faskes Tingkat Pertama yang
bekerja sama dengan BPJS Peningkatan komitmen pelayanan
Kesehat an dalam upaya untuk Fasilitas Kesehatan Primer dilaksanakan
meningkatkan komitmen pelayanan, melalui:
misalnya melalui pelatihan Prolanis, - Kegiatan berupa pemantapan
Mentoring Spesialis dan Peningkatan penatalaksanaan Hipertensi,
Kompetensi Tenaga Kesehatan. diharapkan FKTP mendapatkan
Bentuk kegiatannya dapat berupa ilmu terkini tentang
pelatihan/seminar/workshop yang penatalaksanaan Hipertensi.
diselenggarakan oleh pihak eksternal - Kegiatan berupa pemantapan
maupun BPJS Kesehatan. penatalaksanaan DM, diharapkan
FKTP mendapatkan ilmu terkini
Tujuan kegiatan ini antara lain untuk tentang penatalaksanaan DM.
meningkatkan komitmen pelayanan - Pelatihan Proteksi Kardiovaskuler,
FKTP dalam memberikan pelayanan diharapkan FKTP memahami

112 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
tent ang pencegahan at au - Pelatihan entri P-Care bagi FKTP
pengobatan kardiovaskuler. - Simposium Perhimpunan Dokter
- Pelatihan Manajemen Terapi Asma, Spesialis Kesehatan Olahraga
diharapkan FKTP dapat (PDSKO).
meningkatkan kemampuan dalam - Peningkatan kompetensi tentang
menangani terapi asma. Penatalaksanaan TB Paru di
- Workshop dan symposium tentang Pelayanan Primer.
penatalaksanaan bedah di - Mentoring Spesialis Dokter
kesehatan Masyarakat. Materi Spesialis.
berupa: Suturi Like a Pro dan - Simposium dan Workshop IDI
Wound Dressing (Balutan Luka). “Menjawab Tantangan Trend
- Simposium membahas terkait Penyakit Tidak Menular”.
patofisiologi, Lung Cancer dan - Kegiatan Mentoring Spesialis
penatalaksanaannya. membahas mengenai
- S e m i n a r, wo r k s h o p d a n penatalaksanaan Diabetes Mellitus
symposium berupa materi: di FKTP.
Penyakit Dalam, Obgyn, Hukum - Peningkatan kompetensi dokter
Kesehatan, Paru, THT, Bedah gigi dalam penatalaksanaan kasus
Psikiatri, Anak, Mata. di FKTP.
- Symposium, Workshop dengan - Tata laksana Hipertensi di FKTP.
tema Respiratory Life Support In - Mentoring tentang penanganan
Daily Clinical Practices. serumen propia.
- Mentoring spesialis oleh Dokter - Pengendalian rujukan diagnosa
Spesialis pada Peserta Program Hipertensi dan Diabetes Mellitus
Rujuk Balik. oleh FKTP.
- Peningkatan kompetensi dalam - Mentoring spesialis terkait insiasi
rangka Simposium PAPDI Lampung awal insulin bagi penderita
dengan tema Cardiometbolik Diabetes Mellitus dan Program
Hipertensi II-17 Tahun 2017. Rujuk Balik BPJS Kesehatan.
- Mentoring Dokter Spesialis kulit - Mentoring spesialis dengan tema
dan kelamin dengan diagnosa hasil seminar Diabetes and Insulin
rekomendasi Tim TKMKB dan IDI Mentorship Program (DIMER) di
yaitu Exanthematous drug eruption, Pangkalan Bun.
Veruka vulgaris, Skrofuloderma - Simposium Perhimpunan Ahli
dan Cutaneus larva migran. Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
- Peningkatan kompetensi untuk - Pelatihan PIC Prolanis.
dokter di FKTP. - Mentoring Spesialing tentang
- Meningkatkan pemahaman Diabetes Melitus.
mengenai formularium nasional - Studi Kasus Penatalaksanaan
dan pemanfaatan e-catalogue. Hipertensi di FKTP.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 113
- Seminar Perhimpunan Ahli Penyakit antar Faskes baik antar FKTP maupun
Telinga, Hidung dan Tenggorok- antara FKTP dengan FKRTL.
Bedah Kepala Leher (PERHATI-KL)
dalam rangka peningkatan Sampai dengan 31 Desember 2017,
kompetensi dokter di FKTP upaya kegiatan peer review kasus non
menurunkan Rasio Rujukan Non spesialistik telah dilaksanakan
Spesialistik (RRNS). sebanyak 323 kali dengan rincian
- Seminar Kesehatan Strategi sebagai berikut:
Peningkatan Mutu Puskesmas
“Menuju Pelayanan Bermutu dan Tabel Kegiatan Peer Review Kasus Non Spesialistik
Realisasi Tahun 2017
Paripurna, Refleksi Tahun Kedua
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
dan Lanjutan Akreditasi,
1 2 3 4 5=4/3
Redistribusi Pekerja JKN”.
1 Sumut dan DI Aceh 26 29 111,54
- Keikutsertaan FKTP dalam Seminar
Riau, Kepri, Sumbar dan
SMART 2017 “Obstructive Lung 2 22 28 127,27
Jambi
Disease and Pu l m o n a r y
Sumsel, Kep. Babel dan
3 12 21 175,00
Intervention As a Respiratory Bengkulu
Problem Challange“. DKI Jkt, Bogor, Depok,
4 24 37 154,17
Tangerang dan Bekasi
- Mentoring spesialis tentang
penanganan penyakit kronis yang 5 Jabar 18 22 122,22

dapat tuntas di FKTP. 6 Jateng dan DI Yogyakarta 26 28 107,69


- Kegiatan peningkatan kompetensi 7 Jatim 26 28 107,69
bekerja sama dengan IDI wilayah Kaltim, Kalsel, Kalteng,
8 16 21 131,25
setempat. dan Kaltara

- Jejaring Komunikasi Spesialis Sulsel, Sulbar, Sultra dan


9 22 24 109,09
Maluku
Penyakit Dalam dengan FKTP.
Sulut, Sulteng, Gorontalo
- Pencegahan Stroke Kepada Mitra 10 12 21 175,00
dan Malut
BPJS Kesehatan Tahun 2017. 11 Bali, NTT dan NTB 22 25 113,64

12 Papua dan Papua Barat 12 22 183,33


2) Peer Review Kasus Non Spesialistik
Banten, Kalbar dan
13 14 17 121,43
Peer Review merupakan kegiatan untuk Lampung
menyepakati kasus non spesialistik Total 252 323 128,17
yang tuntas dilaksanakan oleh FKTP
dengan melibatkan FKTP, Dinas Hasil kegiatan peer review kasus non
Kesehatan, Organisasi Profesi dan Tim spesialistik antara lain:
Kendali Mutu dan Kendali Biaya. Dengan a) Tersosialisasinya juknis Peer Review
adanya kegiatan ini, diharapkan akan Kasus Non Spesialistik pada seluruh
terlaksana pemetaan kemampuan FKTP stakeholder terkait (Dinas Kesehatan,
untuk menuntaskan kasus non Organisasi Profesi dan FKTP).
spesialistik, serta adanya koordinasi

114 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
b) Terlaksananya mapping kemampuan Tabel Pelaksanaan Kegiatan Kendali Mutu dan Kendali Biaya
FKTP untuk penanganan Kasus Non Realisasi Tahun 2017

Spesialistik. No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %


1 2 3 4 5=4/3
c) Terpahamkannya FKTP mengenai self
1 Sumut dan DI Aceh 30 70 233,33
assessment peer review Diagnosa Non
2 Riau, Kepri, Sumbar dan 30 30 100,00
Spesialistik. Jambi
d) Terlaksananya Focus Group Discussion 3 Sumsel, Kep. Babel dan 18 20 111,11
hasil peer review. Bengkulu
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 20 32 160,00
e) Terlaksananya monitoring dan evaluasi
Tangerang dan Bekasi
hasil peer review. 5 Jabar 20 23 115,00
6 Jateng dan DI Yogyakarta 30 32 106,67
f) Kesepakatan peer review dengan Dinas 7 Jatim 28 39 139,29
Kesehatan dan FKTP. 8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, 24 30 125,00
dan Kaltara
g) Melakukan evaluasi KBK dengan hasil
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan 30 31 103,33
peer review. Maluku
h) Pertemuan pembahasan peer review. 10 Sulut, Sulteng, Gorontalo 20 18 90,00
dan Malut

3) Pengelolaan Mutu Manfaat Pelayanan 11 Bali, NTT dan NTB 28 15 53,57


12 Papua dan Papua Barat 16 21 131,25
Kesehatan Primer.
13 Banten, Kalbar dan 20 24 120,00
BPJS Kesehatan mendorong mutu pelayanan Lampung
kesehatan primer yang diberikan oleh FKTP Total 314 385 122,61
kepada peserta melalui pelaksanaan Tim
Kendali Mutu dan Kendali Biaya. Pelaksanaan Hasil pelaksanaan kegiatan Kendali Mutu
kendali mutu dan kendali biaya adalah dan Kendali Biaya antara lain:
kegiatan pertemuan yang dilaksanakan a) Tersosialisasikannya petunjuk teknis
oleh Tim kendali mutu dan kendali biaya kendali mutu dan kendali biaya.
yang tugasnya meliputi: sosialisasi b) Terbentuknya Tim KMKB Cabang dan
kewenangan tenaga kesehatan dalam Kedeputian Wilayah.
menjalankan praktik profesi sesuai c) Rekomendasi perbaikan kualitas layanan
kompetensi; utilization review dan audit di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
medis; dan/atau pembinaan etika dan disiplin d) Rekomendasi atas monitoring dan
profesi kepada tenaga kesehatan. evaluasi kemampuan FKTP dalam
penatalaksana diagnosa non spesialistik
Tim Kendali Mutu dan Biaya terbentuk di secara kontinyu.
tingkat Kabupaten/Kota (TKMKB Cabang), e) Rekomendasi kepada Dinas Kesehatan
tingkat Provinsi (TKMKB Provinsi) dan tingkat terkait sarana prasarana yang harus
Pusat (TKMKB Pusat). Sampai dengan 31 dipenuhi di faskes primer.
Desember 2017, kegiatan Kendali Mutu dan f) Pertemuan TKMKB “Utilization Review,
Kendali Biaya telah dilaksanakan sebanyak Audit Mutu dan Analisa Data Klaim
385 kali dengan rincian sebagai berikut: sebagai Alat Kendali Mutu Kendali Biaya
Pelayanan Kesehatan dalam JKN.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 115
g) Audit Klaim. beberapa perubahan ketentuan dalam
h) Pembahasan tindak lanjut audit klaim pemberlakuannya, sehingga perlu dilakukan
dan hasil kredensialing. kesepakatan kembali dengan Dinas
i) Sosialiasi peran TKMKB pada UR dan Kesehatan Provinsi, Asosiasi Faskes maupun
Clinical Pathway. dengan FKTP.
j) Pelaksanaan sosialisasi KBK. Perubahan ketentuan tersebut diantaranya
k) Pembahasan permasalahan pelayanan adalah:
di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. a) Faskes yang melaksanakan KBK Tahun
l) Kegiatan pertemuan TKMKB, Dinas 2017.
Kesehatan, Persatuan Dokter Gigi b) Implementasi KBK dikecualikan bagi
Indonesia (PDGI), Asosiasi yang FKTP yang ditetapkan sebagai FKTP
membahas mengenai pelayanan dokter Kawasan terpencil dan sangat terpencil
gigi. serta FKTP yang sulit mendapatkan
m) Pembahasan pelayanan kesehatan bagi akses jaringan komunikasi data.
Peserta JKN-KIS. c) Indikator KBK dan standar capaian
n) Evaluasi Kebidanan dan Optimalisasi indikator.
Persalinan Normal di FKTP se Sorong d) Mekanisme pelaksanaan perhitungan
Raya. pemenuhan komitmen pelayanan.
o) Optimalisasi Program Rujuk Balik. e) Ketentuan pembayaran kapitasi bagi
daerah memenuhi persyaratan tetapi
4) Pengelolaan Sistem Pembayaran Pelayanan yang belum menjalankan KBK.
Kesehatan Primer. Sampai dengan 31 Desember 2017,
Sistem pembayaran pelayanan kesehatan berdasarkan hasil validasi jumlah Fasilitas
Primer yang diatur dalam Permenkes Nomor Kesehatan Tingkat Pertama yang telah
59 tahun 2014 adalah Kapitasi dan Non sepakat (sudah tanda tangan PKS) untuk
Kapitasi. Selain itu, berdasarkan Undang- menjalankan Kapitasi Berbasis Pemenuhan
Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Komitmen Pelayanan sebanyak 8.529
Sistem Jaminan Nasional pasal 24 Puskesmas.
mengamanahkan BPJS Kesehatan untuk
melakukan pengembangan sistem pelayanan, 5) Pengelolaan Promotif dan Preventif.
sistem pembayaran dan kendali mutu kendali Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)
biaya. sebagai ujung tombak pelayanan primer
Pengembangan sistem pembayaran pada harus mampu memberikan pelayanan yang
FKTP ditindaklanjuti dengan pembayaran bermutu dan komprehensif kepada peserta
berbasis pemenuhan komitmen pelayanan. baik kuratif maupun promotif dan preventif
Pada tanggal 31 Maret 2017, telah terbit dalam upaya mencapai standar indikator
revisi Peraturan Bersama tentang Kapitasi kesehatan peserta. Kegiatan Promotif dan
Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan Preventif yang telah dilaksanakan sebagai
di FKTP Tahun 2016, dimana terdapat berikut:

116 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
a) Program Promotif. - Senam Peserta Prolanis
Dalam rangka memberikan informasi sebanyak 256.584 kali.
kepada peserta akan pentingnya - Jumlah peserta program
menjaga kesehatan, maka dilakukan Pengelolaan Penyakit DM
kegiatan promotif yang ditujukan kepada (PPDM) Tipe 2 terdaftar adalah
seluruh masyarakat, khususnya peserta 345.657 peserta dan
BPJS Kesehatan. Pe n g e l o l a a n Pe nya k i t
Hipertensi (PPHT) sebanyak
400.066 peserta.
Sampai dengan 31 Desember 2017, - Jumlah klub yang telah
kegiat an promotif yang telah melaksanakan edukasi
dilaksanakan yaitu: prolanis sebanyak 13.802 klub
(1) Penyuluhan langsung dalam bentuk dengan frekuensi kegiatan
Edukasi RISTI telah dilaksanakan sebanyak 149.206 kali.
sebanyak 1.480 kali yang diikuti - Pemeriksaan Rutin Prolanis
68.191 orang. Te l a h dilaksanakan
(2) Seminar Kesehat an telah pemeriksaan HbA1C kepada
dilaksanakan 713 kali dengan 71.158 peserta, pemeriksaan
jumlah peserta sebanyak 63.573 tahunan Kimia Darah kepada
orang. 2 7 0 . 10 0 p e s e r t a d a n
(3) Kegiatan Mobil Promosi Kesehatan pemeriksaan GDP/GDPP
Keliling telah dilaksanakan kepada 200.111 peserta.
sebanyak 432 kali. Jumlah peserta prolanis sampai
dengan 31 Desember 2017
b) Program Preventif. sebanyak 686.397 jiwa, dengan
Kegiatan preventif ditujukan untuk rasio jumlah peserta yang rutin
meningkatkan kualitas hidup peserta berkunjung sebesar 53,35% atau
sehingga peserta tetap sehat. Kegiatan 366.209 jiwa.
preventif yang telah dilaksanakan sampai (3) Mentoring Spesialis terhadap
dengan 31 Desember 2017, diantaranya Faskes Primer.
adalah: Telah dilaksanakan mentoring
(1) Melaksanakan senam sehat Tingkat spesialis terhadap Faskes Primer
Kabupaten/Kota sebanyak 483 kali sebanyak 186 kali dengan jumlah
dan senam di Instansi Tingkat peserta sebanyak 6.059 peserta.
Kabupaten/Kota sebanyak 263 kali. (4) Aktivitas Reminder (SMS Gateway).
(2) Implementasi Program Pengelolaan Kegiatan aktivitas reminder (SMS
Penyakit Kronis (PROLANIS) Gateway) telah disampaikan
melalui: kepada 19.485 peserta.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 117
c) Program Promotif Preventif Spesifik (6) Kedeputian Wilayah DKI Jkt, Bogor,
Daerah. Depok, Tangerang dan Bekasi: KC
Pelaksanaan kegiatan dititikberatkan Bekasitent ang Pe l a t i h a n
pada kegiatan yang bersifat promosi Kegawatan Kardiovaskuler.
kesehatan (contoh: penyakit terpilih (7) Kedeputian Wilayah Jabar: KC
adalah gangguan saluran pernafasan Tasikmalaya tentang Evaluasi Pilot
atas karena kabut asap, program Project Prolanis Asma, Edukasi
promotif preventif spesifik daerah adalah Pilot Project Asma dan Senam
pembagian masker wajah, penyuluhan Pilot Project Asma.
kesehatan).
(8) Kedeputian Wilayah Jatim: KCU
Kediri tentang Penyuluhan 1 rumah
Sampai dengan 31 Desember 2017,
1 jumantik.
kegiatan Promotif Preventif Spesifik
Daerah telah dilaksanakan sebanyak
6) Manajemen Utilisasi Pelayanan Kesehatan
2.330 kali, antara lain:
Primer.
(1) Kedeputian Wilayah Sulsel, Sulbar, Pemanfaatan pelayanan kesehatan tingkat
Sultra dan Maluku: KC Watampone pertama dapat dilihat dari data rate kunjungan
dan KC Makale tentang Senam dan rasio rujukan dari faskes yang bekerja
Jantung Sehat Puskesmas Kampala sama. Rate kunjungan merupakan data
dan Senam Ibu Hamil. jumlah kunjungan/pemeriksaan di faskes
(2) Kedeputian Wilayah Papua dan dibagi jumlah peserta terdaftar permil (‰).
Papua Barat: KC Jayapura tentang Sedangkan rasio rujukan adalah data jumlah
Kelas Ibu hamil Puskesmas Arso peserta yang mendapat rujukan ke FKRTL
VIII. dibagi jumlah peserta yang berkunjung
(3) Kedeputian Wilayah Sumsel, Kep. (melakukan pemeriksaan di faskes).
Babel dan Bengkulu: KC Lubuk
Linggau tentang senam hamil, KC 2. Manajemen Manfaat dan Utilisasi Pelayanan
Prabumulih tentang Klub Ibu Hamil Rujukan.
dan KCU Palembang tentang Klub a. Pengembangan Kebijakan.
Penderita SLE. 1) Peratuan Menteri Kesehatan Nomor 4
Tahun 2017 tentang Perubahan Kedua
(4) Kedeputian Wilayah Kaltim, Kalsel,
Atas Peraturan Menteri Kesehatan
Kalteng , dan Kalt ara: KC
Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar
Palangkaraya tentang Klub Ibu
Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam
Hamil.
Penyelenggaraan Program Jaminan
(5) Kedeputian Wilayah Riau, Kepri,
Kesehatan, berlaku mulai tanggal
Sumbar dan Jambi: KC Padang
diundangkan, yaitu tanggal 19 Januari
dan KC Bungo tentang Promprev
2017.
bagi pasien asma dengan
2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
menjadikan penderita asma
76 Tahun 2016 tentang Pedoman
mandiri.
Indonesian Case Base Groups (INA-

118 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
CBG) dalam Pelaksanaan Jaminan (MoU) antara BPJS Kesehatan Kedeputian
Kesehatan Nasional. Diundangkan Wilayah dengan Pemerintah Provinsi maupun
tanggal 10 Januari 2017, berlaku surut dalam Peraturan Daerah.
sejak tanggal 26 Oktober 2016.
3) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Sampai dengan 31 Desember 2017, kegiatan
Indonesia Nomor 33 Tahun 2017 tentang optimalisasi implementasi sistem rujukan
Monitoring dan Evaluasi Terhadap berjenjang di Fasilitas Kesehatan Rujukan
Perencanaan, Pengadaan Berdasarkan Tingkat Lanjutan (FKRTL) telah dilaksanakan
Katalog Elektronik dan Pemakaian Obat, sebanyak 67 kali dengan rincian sebagai
berlaku sejak diundangkan tanggal 4 berikut:
Juli 2017.
Tabel Kegiatan Optimalisasi Implementasi
4) Surat Edaran Direktur Pelayanan Badan Sistem Rujukan Berjenjang
Penyelenggara Jaminan Sosial Realisasi Tahun 2017

Kesehatan Nomor 13 Tahun 2017 No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %


tentang Penjelasan Peraturan Menteri 1 2 3 4 5=4/3

Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 tentang 1 Sumut dan DI Aceh 2 3 150,00


Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri 2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 2 6 300,00
Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 2 2 100,00
tentang Standar Tarif Pelayanan 4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang 2 1 50,00
Kesehatan dalam Penyelenggaraan dan Bekasi

Program Jaminan Kesehatan tanggal 5 Jabar 2 3 150,00

27 Februari 2017. 6 Jateng dan DI Yogyakarta 2 4 200,00


7 Jatim 2 2 100,00
5) Surat Edaran Direktur Pelayanan Nomor
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 2 12 600,00
18 Tahun 2017 tentang Penjelasan
Pelaksanaan Verifikasi di Kantor 9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 2 7 350,00

(VEDIKA). 10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 2 12 600,00


11 Bali, NTT dan NTB 2 9 450,00
6) Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan
12 Papua dan Papua Barat 2 2 100,00
Sosial Kesehatan Nomor 3 Tahun 2017
13 Banten, Kalbar dan Lampung 2 4 200,00
tentang Pengelolaan Administrasi Klaim
Total 26 67 257,69
Fasilit as Kesehat an dalam
Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan
Nasional. Hasil pelaksanaan kegiatan optimalisasi
implementasi sistem rujukan berjenjang di
b. Penguatan Sistem Rujukan Berjenjang FKRTL antara lain:
Telah dilakukan advokasi kepada Pemerintah 1) Diperolehnya dukungan dari stakeholder
Daerah (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ (Dinas Kesehatan, Asosiasi Faskes,
Kota) yang bertujuan untuk mengoptimalisasi dan Pemerintah Daerah) untuk
pelaksanaan rujukan berjenjang di masing- mengimplementasikan rujukan
masing wilayah sesuai dengan Peraturan berjenjang.
Gubernur, Memorandum of Understanding

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 119
2) Tersusunnya informasi profiling Faskes Topik yang dibahas pada pertemuan kendali
di masing-masing wilayah sebagai mutu dan kendali biaya tingkat lanjutan,
panduan untuk melakukan rujukan antara lain:
berjenjang pelayanan kesehatan. 1) Pembentukan dan Rapat Kerja TKMKB
2017.
c. Pengelolaan Mutu Pelayanan Kesehatan 2) Pembahasan Obat Penyakit Kronis di
Rujukan. FKRTL.
Dalam rangka pengelolaan mutu pelayanan 3) Permasalahan Verifikasi (dispute claim)
kesehatan rujukan, telah dilaksanakan di Rumah Sakit.
program implementasi kendali mutu dan 4) Optimalisasi TKMKB tahun 2017.
kendali biaya yang dilakukan melalui kegiatan 5) Surat Izin Praktek Dokter di suatu Rumah
Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya (TKMKB) Sakit.
di tingkat Pusat dan tingkat Kedeputian 6) Pembahasan implementasi Peraturan
Provinsi/Cabang. Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun
2017 tentang biaya tambahan bagi
Sampai dengan 31 Desember 2017, kegiatan peserta naik kelas rawatan di RS.
implementasi kendali mutu dan kendali biaya 7) Sosialisasi petunjuk teknis Kendali Mutu
tingkat lanjutan telah dilaksanakan sebanyak dan Kendali Biaya kepada seluruh
690 kali, dengan rincian sebagai berikut: anggota TKMKB.
8) Audit klaim di beberapa FKRTL
Tabel Kegiatan Implementasi Kendali Mutu dan berdasarkan analisa data utilization
Kendali Biaya Tingkat Lanjutan review.
Realisasi Tahun 2017
9) Peran dan Fungsi Ombudsman dalam
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
Pengawasan Pelayanan Publik Bidang
1 2 3 4 5=4/3
Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan
1 Sumut dan DI Aceh 30 82 273,33
Nasional.
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 30 61 203,33
10) Dasar hukum pentingnya dilakukan
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 20 30 150,00
kendali mutu dan kendali, pembentukan
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 24 31 129,17
Tangerang dan Bekasi dan tanggung jawab TKMKB.
5 Jabar 18 49 272,22 11) Perbedaan antara HTA (Health Technology
6 Jateng dan DI Yogyakarta 26 112 430,77 Assesment), CAB (Clinically Advisory
7 Jatim 26 51 196,15 Board), TKMKB (Tim Kendali Mutu dan
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 24 40 166,67 Kendali Biaya) dan DPM (Dewan
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 32 59 184,38 Pertimbangan Medik).
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan 20 34 170,00 12) Dispute Claim pelayanan kesehatan
Malut rujukan.
11 Bali, NTT dan NTB 26 83 319,23 13) Pembahasan kasus-kasus rujukan
12 Papua dan Papua Barat 16 16 100,00 internal antar poli spesialis.
13 Banten, Kalbar dan Lampung 20 42 210,00
Total 312 690 221,15

120 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
d. Pengelolaan Pembayaran Pelayanan Topik sosialisasi yang disampaikan
Kesehatan Rujukan. adalah:
1) Sosialisasi Kebijakan Sistem Pembayaran a) Update perubahan regulasi dan
Pelkes Rujukan. kebijakan pelayanan kesehatan
Sosialisasi kebijakan sistem pembayaran rujukan bagi peserta JKN yang
dilakukan melalui program Sosialisasi perlu diketahui oleh Fasilitas
Pelayanan Rujukan, Sistem Pembayaran, Kesehatan.
serta FORNAS kepada Faskes di tingkat
Kedeputian Wilayah/Kantor Cabang. b) Penyusunan Rencana Kebutuhan
Kegiat an ini bertujuan untuk Obat (RKO) melalui Aplikasi e-Monev.
meningkatkan pemahaman Fasilitas c) Diskusi untuk menyelesaikan
Kesehatan tentang sistem pembayaran permasalahan yang terjadi di
INA-CBG dan Formularium Nasional lapangan.
(FORNAS). d) Program electronic verification
atau VEDIKA.
Sampai dengan 31 Desember 2017, e) Klausul-klausul dalam Perjanjian
kegiat an sosialisasi kebijakan Kerja sama antara BPJS Kesehatan
dilaksanakan melalui program Sosialisasi dengan Rumah Sakit setempat
Pelayanan Rujukan, Sistem Pembayaran, kepada Tenaga Medis, Paramedis
serta FORNAS kepada Faskes telah dan Petugas RS.
dilaksanakan sebanyak 1.361 kali, f) Mekanisme Koordinasi Manfaat
dengan rincian sebagai berikut: antara BPJS Kesehatan dengan
Jasa Raharja terkait Penjaminan
Tabel Kegiatan Sosialisasi Pelayanan Rujukan, peserta JKN-KIS yang mengalami
Sistem Pembayaran, serta FORNAS kepada Faskes
Realisasi Tahun 2017 Kecelakaan Lalu Lintas.
g) Mekanisme Pengadaan Obat oleh
No. Kedeputian Wilayah Target Realisasi %
FKRTL dengan mengacu e-Katalog.
1 2 3 4 5=4/3
h) Pengadaan dan Penjaminan
1 Sumut dan DI Aceh 56 94 167,86
Ketersediaan Obat FKRTL bagi
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 52 72 138,46
Peserta JKN-KIS.
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 46 91 197,83
i) Peraturan BPJS Kesehatan Nomor
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang 72 55 76,39
dan Bekasi 07 Tahun 2016 tentang Sistem
5 Jabar 60 96 160,00 Pencegahan Kecurangan (Fraud)
6 Jateng dan DI Yogyakarta 60 242 403,33 dalam Pelaksanaan Program
7 Jatim 60 134 223,33 Jaminan Kesehatan.
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 48 219 456,25 j) Sosialisasi Pelaksanaan Walk
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 46 85 184,78 Through Audit.
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 42 31 73,81 k) Keluhan iur biaya obat di FKRTL.
11 Bali, NTT dan NTB 42 165 392,86
12 Papua dan Papua Barat 24 31 129,17
13 Banten, Kalbar dan Lampung 36 46 127,78
Total 644 1.361 211,34

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 121
2) Pengelolaan Koordinasi Manfaat. tim pengaju klaim FKRTL dalam
Sebagai penjabaran dari Peraturan memastikan kelengkapan dokumen
Presiden Nomor 12 Tahun 2013, Bab pengajuan klaim sesuai kesepakatan
VI mengenai Koordinasi Manfaat, maka kerja sama. Penyelesaian klaim N-1
telah disusun Petunjuk Teknis Koordinasi sampai dengan 31 Desember 2017
Manfaat yang mencakup mekanisme sebesar 51,88% dan menjadi 91,02%
pembayaran. Mekanisme pembayaran pada N-2. Hal ini berarti sudah 91,02%
klaim Coordination of Benefit (COB) FKRTL yang telah diselesaikan klaimnya
sebagai berikut: pada bulan kedua setelah pelayanan
a) Pelayanan kesehatan di Faskes diberikan.
BPJS Kesehatan berlaku COB
untuk peserta yang dirawat inap 2) Evaluasi Utilisasi.
di kelas yang lebih tinggi dari Pelaksanaan evaluasi atas data
hak kelas peserta di BPJS Utilization Review (UR) adalah kegiatan
Kesehatan. evaluasi pada Fasilitas Kesehatan
Tingkat Lanjutan dalam upaya
b) Sesuai Peraturan Presiden Nomor
pengendalian biaya pelayanan
19 Tahun 2016 tentang Perubahan
kesehatan dan tercapainya utilisasi
Kedua atas Peraturan Presiden
pelayanan kesehatan yang rasional.
Nomor 12 Tahun 2013 tentang
Sampai dengan 31 Desember 2017,
Jaminan Kesehatan, peserta COB
telah dilaksanakan kegiatan evaluasi
tidak dapat dilayani lagi di fasilitas
data utilisasi pelayanan kesehatan
kesehatan non COB.
sebanyak 1.945 kali.

e. Manajemen Utilisasi Pelayanan Kesehatan


Rujukan.
MANAJEMEN REGULASI DAN HUKUM
1) Pengelolaan Klaim.
Klaim diajukan oleh FKRTL kolektif Regulasi Internal dan Regulasi Eksternal
secara rutin pada bulan berikutnya Sampai dengan 31 Desember 2017, dari 10 target
setelah pelayanan diberikan. Pada penyelesaian regulasi, terdapat 12 regulasi yang
perjanjian kerja sama BPJS Kesehatan diselesaikan, baik regulasi internal maupun regulasi
dengan FKRTL telah disepakati bahwa eksternal, yaitu:
pengajuan klaim sebelum tanggal 10. 1. Peraturan Bersama BPJS Kesehatan dengan
Hal ini bertujuan untuk memberikan Kementerian Kesehatan Nomor 2 Tahun 2017
kepastian pembayaran bagi FKRTL dan dan Nomor HK.01.08/III/SK/980/2017 tentang
pelayanan terhadap peserta tidak Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembayaran
terganggu karena permasalahan aliran Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen
kas FKRTL. Namun pengajuan klaim Pelayanan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat
FKRTL sangat ditentukan oleh kapasitas Pertama.

122 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 251/ Daerah Melalui Pemotongan Dana Alokasi Umum
PMK.02/2016 tentang Kesehatan Keuangan Aset dan/atau Dana Bagi Hasil.
BPJS Kesehatan. 11. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
3. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 1 Tahun 2017 Nomor 209/PMK.02/2017 tentang Dana
tentang Pemerataan Peserta di Fasilitas Kesehatan Operasional Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Pertama. Kesehatan Tahun 2018.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 134
2017 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017
Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan tentang Pedoman Penyusunan Anggaran
Nasional. Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/ 2018.
PMK.07/2017 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 50/PMK.07/2017 Selain itu, BPJS Kesehatan mengajukan rekomendasi/
tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan masukan/usulan kebijakan strategis atas regulasi,
Dana Desa. baik secara tertulis maupun dalam rapat pembahasan,
antara lain:
6. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 3 Tahun 2017
tentang Pengelolaan Administrasi Klaim Fasilitas 1. BPJS Kesehatan berkoordinasi dengan
Kesehatan dalam Penyelenggaraan Jaminan Kementerian Kesehatan untuk membahas
Kesehatan Nasional. penyusunan Perubahan Kedua Peraturan
Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 tentang
7. Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2017 tentang
Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Kesehatan.
Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan
Kesehatan Nasional. 2. Menyusun rancangan Peraturan BPJS Kesehatan
tentang Pemerataan Peserta (Redistribusi) di
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53 Tahun
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dengan
2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
terlebih dahulu berkoordinasi bersama
Kesehatan Nomor 40 Tahun 2016 tentang
Kementerian/Lembaga terkait.
Petunjuk Teknis Penggunaan Pajak Rokok
untuk Pendanaan Pelayanan Kesehatan 3. Menyusun rancangan Peraturan BPJS Kesehatan
Masyarakat. tentang Pedoman Administrasi Penjaminan
Pelayanan Kesehatan dengan terlebih dahulu
9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/
berkoordinasi bersama Kementerian/Lembaga
PMK.02/2017 tentang Tata Cara Penyediaan,
terkait.
Pencairan dan Pertanggungjawaban Dana
Cadangan Program JKN Tahun Anggaran 4. Menyusun rancangan Peraturan BPJS Kesehatan
2017. tentang Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan
kepada BPJS Kesehatan dengan terlebih dahulu
10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 183/
berkoordinasi bersama Kementerian/Lembaga
PMK.07/2017 tentang Tata Cara Penyelesaian
terkait.
Tunggakan Iuran Jaminan Kesehatan Pemerintah

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 123
5. Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga Presiden tentang Presiden tentang Tata Kelola
terkait, untuk membahas penyusunan Instruksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Presiden tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kesehatan.
Program Jaminan Sosial Kesehatan. 13. Berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan
6. Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga untuk membahas penyusunan Perubahan Kedua
terkait, untuk membahas penyusunan Peraturan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71
Presiden tentang Pengendalian Defisit Dana Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada
Jaminan Sosial Program Jaminan Kesehatan. Jaminan Kesehatan Nasional.
7. Berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan 14. Berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan
untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri untuk membahas penyusunan Perubahan atas
Keuangan tentang Kesehatan Keuangan Aset Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun
BPJS Kesehatan. 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program
8. Berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan Jaminan Kesehatan Nasional.
untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri 15. Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga
Keuangan tentang Tata Cara Pengecualian terkait, untuk membahas penyusunan Peraturan
Pemotongan Pajak Penghasilan. Presiden tentang Sistem Monitoring dan
9. Menyusun rancangan Peraturan BPJS Evaluasi Terpadu Program Jaminan Kesehatan
Kesehatan tentang Pengelolaan Kerja sama Nasional.
Fasilitas Kesehatan dengan terlebih dahulu 16. Berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan
berkoordinasi bersama Kementerian/Lembaga untuk membahas penyusunan Perubahan
terkait. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50/
10. Menyusun rancangan Peraturan Bersama PMK.07/2017 tentang Pengelolaan Transfer ke
BPJS Kesehatan dengan Kementerian Daerah dan Dana Desa.
Ke s e h a t a n t e n t a n g Pe tu n j u k Te k n i s 17. Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga
Penyelenggaraan Pembayaran Kapitasi Berbasis terkait, untuk membahas penyusunan Peraturan
Pemenuhan Komitmen Pelayanan pada Fasilitas Presiden tentang Jaminan Kesehatan.
Kesehatan Tingkat Pertama dengan terlebih 18. Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga
dahulu berkoordinasi bersama Kementerian terkait, untuk membahas penyusunan Peraturan
Kesehatan. Pemerintah tentang Pembiayaan Kesehatan.
11. Menyusun rancangan Peraturan BPJS 19. Berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan
Kesehatan tentang Penilaian Kegawatdaruratan, untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri
Prosedur Penggantian Biaya Pelayanan Gawat Keuangan tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan
Darurat dan Pelayanan Medis Dasar di Instalasi dan Pertanggungjawaban Dana Cadangan Program
Gawat Darurat dengan terlebih dahulu JKN.
berkoordinasi bersama Kementerian/Lembaga
20. Berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan
terkait.
untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri
12. Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga Kesehatan tentang Perubahan Permenkes Nomor
terkait, untuk membahas penyusunan Peraturan 40 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan

124 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Pajak Rokok untuk Pendanaan Pelayanan Kegiatan yang dilakukan sampai dengan 31
Kesehatan Masyarakat. Desember 2017, yaitu Pendampingan hukum
21. Berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri sebanyak 14 kali.
untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri
Dalam Negeri tentang Perubahan atas Permendagri Pembinaan Hukum Sesuai Peraturan Perundang-
Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman Undangan
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Pembinaan Hukum sesuai Peraturan Perundang-
Daerah Tahun 2018. u n d a n g a n m e ru p a k a n s a l a h s a tu u p aya
22. Berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan meminimalisir terjadinya potensi permasalahan
untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri hukum. Sampai dengan 31 Desember 2017,
Keuangan tentang Tata Cara Penyelesaian kegiatan pembinaan hukum yang telah dilakukan
Tunggakan Iuran Jaminan Kesehatan Pemerintah sebanyak 6 kali pembinaan di 6 kantor cabang
Daerah Melalui Pemotongan Dana Alokasi Umum BPJS Kesehatan yang tersebar pada beberapa
dan/atau Dana Bagi Hasil. Kedeputian Wilayah.

23. Berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan


Penyusunan Kajian Hukum atas Potensi Litigasi pada
untuk membahas penyusunan Peraturan Menteri
Operasionalisasi BPJS Kesehatan
Keuangan tentang Dana Operasional BPJS
Kesehatan Tahun 2018. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pemetaan
terhadap permasalahan di BPJS Kesehatan yang
Pemberian Bantuan Hukum dan Pembuatan Legal memiliki potensi ke arah litigasi pada operasionalisasi
Opinion BPJS Kesehatan. Sampai dengan 31 Desember 2017,
kegiatan ini telah dilakukan sebanyak 4 kegiatan
Tujuan program ini adalah memberikan bantuan hukum
dengan melibatkan unit yang terkait.
bagi organisasi dalam menghadapi permasalahan-
permasalahan hukum yang timbul baik melalui
pendampingan hukum oleh internal/eksternal, maupun
penyusunan legal opinion sebagai rekomendasi dalam
pengambilan kebijakan untuk penyelesaian
permasalahan hukum.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 125
HUBUNGAN MASYARAKAT, KOMUNIKASI Karawaci, Kegiatan Penyerahan Kartu KIS
EKSTERNAL DAN HUBUNGAN ANTAR oleh Presiden Jokowi di Bandung dan
LEMBAGA Cirebon, Peliputan kegiatan Pekan
Pancasila, Peliputan Pembukaan Posko
Pengelolaan Hubungan Media M u d i k d i 8 t e m p a t , Pe l i p u t a n
Tujuan dari pengelolaan hubungan dengan media Penandatanganan Surat Keputusan
yaitu meningkatkan citra organisasi yang baik dan Bersama dengan KPK dan Kementerian
meningkatkan hubungan kemitraan yang efektif Kesehatan, Peliputan kunjungan Direktur
dengan media. Utama ke Polrestabes Surabaya, Pertemuan
Nasional FKTP, Peliputan audiensi bersama
1. Pengelolaan Media dan Isu/Berita. DJSN dengan Bapak BJ. Habibie, Peliputan
Sampai dengan 31 Desember 2017, kegiatan Launching Program Menabung Sehat dan
yang telah dilakukan antara lain: Cicilan Tunggakan JKN-KIS dsb.
a. Diskusi Media tentang Integrasi Jamkesda e. Dokumentasi sebanyak 70 kegiatan antara
menuju Universal Health Coverage dengan lain dokumentasi Penerimaan Penghargaan
Narasumber DJSN, Koordinator BPJS Watch Indonesia Prestige Brand Award 2017 as
dan Kemendagri, diskusi tentang The Winner of Indonesia Prestige Brand
crowdfunding bersama BAZNAS dan diskusi Award 2017 for Brand Used Most Often
media FMB9 dengan Kominfo. Category Health Insurance dari Warta
b. Media Visit ke Bisnis Indonesia dan Ekonomi, dokumentasi kegiatan Hari Pers
Emtek Group (SCTV dan Indosiar) dan Nasional, dokumentasi pembagian KIS di
Tempo. Batam, Tapanuli Utara dan Mandailing

c. Wawancara dengan Majalah Keuangan, Natal, dokumentasi Peninjauan Pelaksanaan

Oxford Business Group, DAAI TV, Majalah IVA Test bersama Ibu Negara, kegiatan

Gatra, JTV, Berita Satu TV, Bloomberg upacara Hari Lahir Pancasila, Kegiatan

Business Week Indonesia, Focus ltd, Radio MTR (Mid Term Review), Kunjungan Kerja

Elshinta, NET TV, Berita Satu TV, MNC TV, Komisi IX DPR RI ke Wamena, Pertemuan

TV One, Skata, Suara Pembaruan, Republika, dengan ICW, dokumentasi Peliputan

Valid.co, Media Indonesia, Tempo, TVRI dan Audiensi bersama DJSN dengan Bapak

Swedish Radio. Susilo Bambang Yudhoyono, Dokumentasi


kegiatan Kunker Komisi IX ke Palembang
d. Peliputan sebanyak 53 kegiatan antara
dsb.
lain Peliputan arahan Kemenko PMK dalam
Rasnas 2017, Peliputan Kabupaten f. Konferensi Pers Perluasan Kanal Pendaftaran

Sumbawa Barat sebagai Kabupaten Peserta JKN-KIS dan Kanal Pemberian

Universal Health Coverage Program JKN- Informasi, Konferensi Pers Serentak ‘‘Layanan

KIS, Peliputan Penandatanganan MOU Bagi Peserta JKN-KIS selama Masa Mudik”,

dengan NHIS di Bali, peliputan Launching Konferensi Pers Pra Kegiatan Hidup Sehat

Point of Service Public Area di Lippo Bersama BPJS Kesehatan, Konferensi Pers

126 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
“Progres Tindak Lanjut Kasus Penemuan 1. Pengelolaan Website
KIS di Blitar”, dan Konferensi Pers “BPJS a. Penayangan website resmi BPJS Kesehatan
goes to campus”. dengan alamat www.bpjs-kesehatan.go.id.
g. Public Expose Laporan Keuangan dan b. Pemutakhiran informasi terkini di website
LPP Tahun 2016 dan Kajian Dampak BPJS Kesehatan.
Program JKN-KIS pada Perekonomian c. Mengunggah 205 berita di website BPJS
Indonesia. Kesehatan.
h. Talkshow di Metro TV, Berita Satu TV, Radio 2. Pengelolaan Media Sosial
Sindo Trijaya, Radio Elshinta, Radio KBR, I a. Pengelolaan media sosial BPJS Kesehatan
Radio dan Jawa Pos TV. dilakukan oleh Kesekretariatan Badan, yaitu
melalui:
i. Counter informasi viral di media sosial
1) Facebook dengan akun BPJS Kesehatan
tentang Penjaminan pada Program JKN-
RI (Akun Resmi).
KIS.
a) Fanpage Facebook: BPJS
j. Pertemuan dengan Redaksi Harian Kompas
Kesehatan RI.
dalam kegiatan “Curah Pendapat Redaksi
b) Grup Facebook : BPJSKesehatan
Harian Kompas” dan BPS mengenai media
(Grup Resmi).
sosial BPJS Kesehatan dengan Bapak Iwan
2) Twitter dengan akun @BPJSKesehatanRI
Setyawan.
3) Youtube dengan akun BPJSKesehatan
k. Audiensi dengan Kapan Lagi Network. 4) Instagram dengan akun bpjskesehatan_ri
b. Pengelolaan media sosial BPJS Kesehatan
2. Pemberitaan Bernada Negatif yang Tidak Benar berupa Forum/Blog, yaitu komunikasi
di Media Mainstream. interaktif melalui:
Sampai dengan 31 Desember 2017, terkait empat 1) Kaskus: bpjskesehatan
pemberitaan bernada negatif yang tidak benar
2) Kompasiana: BPJS Kesehatan
di media mainstream maka BPJS Kesehatan
c. Sampai dengan 31 Desember 2017, telah
telah menyampaikan klarifikasi baik secara tertulis,
diunggah 93.150 berita di twitter, 324 berita
konferensi pers, menjadi narasumber, wawancara
di Kompasiana, 3.712 berita/thread di kaskus
maupun media visit.
dan 449 post di Instagram.
3. Pengelolaan Media Internal.
Pengelolaan Media Internal dan Media Sosial
Sampai dengan 31 Desember 2017, telah
Pengelolaan Media Internal dan Media Sosial bertujuan
diterbitkan 12 edisi Media Info BPJS Kesehatan
menyebarkan informasi tentang program maupun
sebagai media internal khusus untuk duta BPJS
kebijakan sekaligus pembentukan citra melalui branding
Kesehatan dan eksternal, yaitu:
BPJS Kesehatan. Pengelolaan melalui media sosial
a. Edisi 46: Tiga Tahun Pelaksanaan BPJS
juga dilakukan sebagai sarana klarifikasi dan upaya
Kesehatan Tingkatkan Kualitas Layanan.
menetralisir pemberitaan tidak benar. Sampai dengan
b. Edisi 47: JKN-KIS Hidupkan Industri
31 Desember 2017, kegiatan yang telah dilakukan
Kesehatan.
antara lain:

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 127
c. Edisi 48: Tingkatkan Kepuasan Peserta BPJS 2. Pameran.
Kesehatan Perluas Kanal-Kanal Pendaftaran. Sampai dengan 31 Desember 2017 telah
d. Edisi 49: BPJS Kesehatan dan BAZNAS dilaksanakan pameran yaitu:
Kembangkan Kreativitas Pendanaan JKN- a. Pameran Rapat Koordinasi Nasional–Badan
KIS. Kepegawaian Negara yang diselenggarakan
e. Edisi 50: BPJS Kesehatan Sukses Cetak di Jakarta Convention Center, tanggal 10
Hattrick WTP. Mei 2017.
f. Edisi 51: BPJS Kesehatan Dorong Gotong b. Pameran Pekan Kerja Nyata yang
Royong Besar. diselenggarakan di GOR Panahan Solo,
g. Edisi 52: Mendorong Peningkatan Kualitas tanggal 27-29 Agustus 2017.
Pelayanan Rumah Sakit bagi Peserta JKN- c. Pameran IBD Expo yang dilaksanakan pada
KIS. tanggal 21-24 September 2017 di Jakarta
h. Edisi 53: Pentingnya Peran Kader untuk Convention Center.
Sukseskan Program JKN-KIS. d. Pameran HKN (Hari Kesehatan Nasional) di
i. Edisi 54: 3 Tahun Jokowi-JK Rakyat Makin JI Expo Kemayoran, tanggal 09–11 November
Mudah Menggapai Layanan. 2017.
j. Edisi 55: Optimalisasi Peran Fasilitas e. Pameran Budget Day Kementerian Keuangan
Kesehatan Tingkat Pertama di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan,
k. Edisi 56: Dukung Keberlangsungan JKN-KIS, tanggal 22 November 2017.
Mendaftarlah Selagi Sehat. f. Pameran KORPRI Expo di Lapangan
l. Edisi 57: Penguatan Kapasitas Organisasi Disdukcapil Pasar Minggu, tanggal 26–30
untuk Sukseskan Program JKN-KIS. November 2017.
3. Public Affair.
Hubungan Kemitraan dan Penyelenggaraan Event Sampai dengan 31 Desember 2017, implementasi
Program ini dimaksudkan untuk membina hubungan/ public affair yaitu:
relasi dengan pihak eksternal non media massa. a. Diskusi media terkait Integrasi Jamkesda
Adapun kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan menuju Universal Health Coverage dengan
hubungan kemitraan dan penyelenggaraan event ini menghadirkan Dewan Jaminan Sosial
diantaranya Sponsorship, Pameran dan Public Affair. Nasional, Kementerian Dalam Negeri,
Khusus untuk kegiatan pameran maupun event/public Koordinator BPJS Watch, dan Direksi BPJS
affair dilakukan dengan tujuan sebagai mengenalkan Kesehatan.
produk maupun organisasi kepada publik secara b. Diskusi media terkait Masyarakat Bisa Donasi
langsung di dalam sebuah event. Manfaat yang didapat untuk Program JKN-KIS melalui crowdfunding
dari pameran adalah publikasi dan publisitas kepada dengan menghadirkan Direktur Amil Zakat
publik. Sampai dengan 31 Desember 2017, kegiatan Nasional/BAZNAS dan Direksi BPJS
yang telah dilaksanakan adalah: Kesehatan.
1. Sponsorship. c. Public Expose Laporan Keuangan (Audited)
Melakukan telaahan terhadap 658 berkas yang Tahun 2016, dengan menghadirkan Direksi
diajukan oleh pemohon pihak eksternal dan telah dan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan
disetujui oleh manajemen sebanyak 81 pemohon pada tanggal 23 Mei 2017.
sponsorship.

128 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
d. Posko Mudik yang diselenggarakan pada e. Penandatanganan Nota Kesepakatan dengan
21-24 Juni 2017 di delapan titik padat Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta terkait
pemudik, yang terdiri dari tiga pelabuhan, Penanganan Ketidakpatuhan Badan Usaha.
tiga terminal, dan dua stasiun kereta api, f. Penandatanganan MOU dan PKS antara
yaitu Pelabuhan Merak (Banten), Pelabuhan BPJS Kesehatan dengan Badan Ekonomi
Soekarno Hatta (Makassar), Pelabuhan Kreatif (BEKRAF) tentang Pengembangan
Gilimanuk (Bali), Terminal Kampung Rambutan Ekonomi Kreatif dan Optimalisasi Program
(Jakarta), Terminal Bungurasih (Surabaya), JKN-KIS, dan Perluasan Kepesertaan Program
Terminal Tirtongadi (Solo), Stasiun Bandung JKN-KIS bagi Pelaku Ekonomi Kreatif.
dan Stasiun Yogyakarta. g. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama
dengan BPJS Ketenagakerjaan tentang
Koordinasi Manfaat Kecelakaan Kerja,
Kerja Sama Strategis Penyakit Akibat Kerja.
Tujuan dari kerja sama strategis adalah mengakselerasi h. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama
pencapaian cakupan peserta dan pertumbuhan iuran antara BPJS Kesehatan dengan kementerian
serta memperkuat operasionalisasi BPJS Kesehatan. Sosial RI.
Kegiatan yang telah dilaksanakan sampai dengan 31 i. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara
Desember 2017, yaitu: BPJS Kesehatan dengan Dharma Wanita.
1. Penyusunan PKS Antar Lembaga. j. Penandatanganan PKS dengan Ikatan Dokter
Telah dilakukan kegiatan pembahasan dalam Indonesia tentang Sinergi dalam rangka
rangka penyusunan PKS antar lembaga dan optimalisasi penyelenggaraan program
penandatanganan Nota Kesepahaman antara Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia
lain:
 Sehat.
a. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara k. Penandatanganan Nota Kesepahaman dan
BPJS Kesehatan dengan NHIS Korea dalam Perjanjian Kerja Sama antara BPJS Kesehatan
rangka pelatihan bersama, seminar bersama, dengan Kementerian Komunikasi dan
pertukaran sistem informasi dan pemanfaatan Informatika.
sumber daya. l. Pembahasan draf PKS dengan Dompet
b. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Dhuafa tentang Optimalisasi Penyelenggaraan
BPJS Kesehatan dengan Kementerian Riset, Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu
Teknologi dan Pendidikan Tinggi, terkait Indonesia Sehat.
Perluasan Kepesertaan Program JKN-KIS
di Perguruan Tinggi. 2. Pertemuan Koordinasi Antar Lembaga.
c. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Sampai dengan 31 Desember 2017 BPJS
dengan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar Kesehatan telah melaksanakan kegiatan koordinasi
terkait Sinergi Program Optimalisasi Peran antar lembaga, antara lain:
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dalam a. Sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 19
Program JKN-KIS. Tahun 2016 kepada LSM dan Serikat Pekerja.
d. Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan b. Pertemuan Forum Kemitraan dengan Staf
JLN (Joint Learning Network) Indonesia Ahli Anggota Komisi IX DPR RI.
tentang Dukungan terhadap Program JKN- c. Narasumber dalam Rapat Kerja dan Konsultasi
KIS. Nasional (Rakerkonas) APINDO XXVIII.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 129
d. Kegiatan Focus Grup Disscussion (FGD) h. Audiensi dengan Dirjen Penyelenggaraan
antara BPJS Kesehatan dengan Kejaksaan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI
Tinggi DKI Jakarta terkait “Penanganan tentang persyaratan kepesertaan JKN-KIS
Ketidakpatuhan Badan Usaha”. bagi calon jamaah haji dan umroh.
e. Pertemuan koordinasi dengan Pemerintah i. Audiensi dengan KSPI-Federasi Serikat
Daerah terkait dukungan yang diperlukan Pekerja Metal Indonesia tentang PHK.
dalam memberikan kemudahan masyarakat j. Audiensi dengan Sekjen Kemendes tentang
mendaftar menjadi peserta JKN-KIS dengan kepesertaan JKN-KIS bagi tenaga pendamping
membuka pendaftaran di kecamatan maupun profesional dan Badan Usaha Milik Desa.
kelurahan. k. Audiensi dengan ICW terkait pencegahan
f. Pertemuan koordinasi antar lembaga (Seskab, fraud dalam implementasi JKN.
Kemenag, Kemenkeu, Kemendagri, Kemenlu l. Focus Group Discusion Jaminan Kesehatan
dan Polri) terkait kepesertaan dengan bagi PPU yang terkena PHK.
mempersyaratkan kepesertaan JKN-KIS m. Pertemuan tindak lanjut audiensi dengan
pada pengurusan NPWP, SIM, STNK, Paspor, World Bank mengenai Kapitasi berbasis
Visa, Akte Kelahiran dan Akte Nikah. komitmen pelayanan.
g. Audiensi dengan Ketua MUI tentang
rancangan kerja sama atas dukungan MUI
terhadap program JKN-KIS.

130 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
KINERJA OPERASIONAL 2. Hasil Rekrutmen Peserta.
a. Pekerja Penerima Upah (PPU) Non
Penyelenggara Negara.
PERKEMBANGAN KEPESERTAAN
Peserta segmen PPU Non Penyelenggara
Perluasan Kepesertaan
Negara antara lain peserta dari Eks JPK
1. Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap JKN-KIS.
Jamsostek, BUMN, BU Swasta serta WNA
Perluasan Kepesertaan dilakukan melalui kegiatan
yang bekerja ≥ 6 bulan. Sampai dengan 31
sosialisasi, edukasi dan advokasi kepada
Desember 2017, jumlah peserta PPU Non
masyarakat yang ditujukan untuk mengubah
Penyelenggara Negara berdasarkan master
pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat sehingga
file adalah sebesar 28.216.374 jiwa dengan
bersedia turut serta menjadi peserta Jaminan
rincian peserta eks Jamsostek 8.112.126 jiwa,
Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-
peserta pegawai BUMN sebesar 1.480.978
KIS) BPJS Kesehatan dengan membayar iuran.
jiwa, dan BU Swasta sebesar 18.623.270 jiwa.
Diharapkan pemahaman masyarakat yang belum
menjadi peserta Program JKN-KIS dapat mencapai
Peserta PPU Non Penyelenggara Negara yang
hasil maksimal, sehingga cakupan semesta
menjadi target perluasan kepesertaan adalah
Program JKN-KIS di tahun 2019 dapat terwujud.
peserta BUMN dan BU Swasta. Sampai
Efektivitas dan keberhasilan kegiatan pemasaran
dengan 31 Desember 2017, jumlah BUMN
sosial tersebut diukur dengan indikator tingkat
yang telah melakukan registrasi adalah
pemahaman masyarakat (non peserta) terhadap
sebanyak 145 BU. Jumlah tersebut meliputi
sistem JKN-KIS yang pada tahun 2017 ditargetkan
perusahaan BUMN dan perusahaan holding
sebesar 60 poin (60%). Hasil survei/penelitian
company. BU swasta yang melakukan registrasi
tentang Tingkat Pemahaman terhadap Prosedur,
sampai dengan 31 Desember 2017 adalah
Hak dan Kewajiban Peserta Program JKN-KIS
sebanyak 153.682 BU. Secara rinci jumlah
tahun 2017 untuk Non-Peserta adalah sebesar
peserta PPU Non Penyelenggara Negara
75,7%.
adalah sebanyak 20.104.248 jiwa.

Tabel Jumlah Peserta BUMN dan BU Swasta (selain Eks JPK Jamsostek)
Perbandingan RKAT Tahun 2017 dan Realisasi Tahun 2017
(jiwa)
Realisasi
No. Kedeputian Wilayah RKAT
BUMN Swasta Lain Jumlah %
1 2 3 4 5 6=4+5 7=6/3
1 Sumut dan DI Aceh 1.657.594 189.613 770.091 959.704 57,90
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 2.232.689 62.081 1.144.955 1.207.036 54,06
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 949.948 28.759 523.863 552.622 58,17
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 13.201.805 704.974 7.212.236 7.917.210 59,97
5 Jabar 3.905.756 257.479 2.058.060 2.315.539 59,29
6 Jateng dan DI Yogyakarta 3.267.057 42.991 1.957.106 2.000.097 61,22
7 Jatim 3.293.481 89.519 1.777.791 1.867.310 56,70
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 1.854.260 6.843 1.084.070 1.090.913 58,83
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 527.205 15.601 298.225 313.826 59,53
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 308.041 - 199.650 199.650 64,81
11 Bali, NTT dan NTB 1.008.667 1.943 569.550 571.493 56,66
12 Papua dan Papua Barat 246.649 791 125.114 125.905 51,05
13 Banten, Kalbar dan Lampung 1.796.982 80.384 902.559 982.943 54,70
Jumlah 34.250.134 1.480.978 18.623.270 20.104.248 58,70

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 131
Capaian peserta BUMN dan BU Swasta (di Pintu (BPTSP). Sebanyak 36 regulasi
luar eks JPK Jamsostek) terhadap RKAT Pemda Provinsi dan 305 regulasi Pemda
per 31 Desember 2017 masih sebesar Kabupaten/Kota telah diterbitkan terkait
58,70%. Kendala yang dihadapi dalam kewajiban menjadi peserta JKN-KIS
registrasi BUMN, BU Swasta dan Badan sedangkan sebanyak 14 Provinsi dan
Hukum lainnya ke BPJS Kesehatan antara 230 Kabupaten/Kota sudah bekerja
lain karena: sama dengan BPTSP sampai dengan
1) Belum semua BU patuh untuk 31 Desember 2017.
mendaftarkan pekerja dan anggota 3) Penandatanganan Surat Edaran Bersama
keluarganya menjadi peserta program BPJS Kesehatan dengan BPJS
JKN-KIS. BU yang belum mendaftarkan Ketenagakerjaan tentang Sinergi
tersebut mayoritas BU UMKM dengan Penyelenggaraan Program Jaminan
gaji di bawah UMK dan status Pekerja Sosial Dalam Mendukung Kemudahan
Buruh Harian Lepas, sehingga Berusaha (EODB).
d i b u tu h k a n ke b i j a k a n u n tu k 4) Monitoring BU Swasta/lainnya yang
mengakomodir kendala tersebut. sudah mendaftar ke BPJS Kesehatan
2) Masih terdapat BUMN yang belum dan telah mendaftarkan karyawannya
mendaftarkan 100% pekerja beserta 100% yang dibuktikan dengan surat
keluarganya. pernyataan dari BU Swasta/Lainnya.
3) Masih terdapat data kependudukan 5. Monitoring dan evaluasi progres Badan
karyawan yang tidak lengkap. Usaha Potensial yang ada di lapangan
4) Masih terdapat data BU tidak valid pada laporan mingguan M1 dan M2.
(banyak BU yang telah tutup pada saat 6) Monitoring dan evaluasi progres
dilakukan kunjungan oleh tenaga pendaftaran Badan Usaha melalui
pemasar). Aplikasi Pendaftaran Terpadu (www.
bpjs.go.id).
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi 7) Integrasi Canvassing (aktivitas terencana
kendala rekrutmen PPU Non Penyelenggara untuk memetakan BU berdasarkan
Negara sehingga dapat mencapai target, wilayah/area terkecil (Kelurahan,
antara lain adalah: Kecamatan) agar mendapatkan data
1) Upaya melaksanakan kegiatan potensi peserta) dengan Peraturan
pemasaran berbasis kepatuhan dan Direksi Nomor 33 Tahun 2017 tentang
penegakan kepatuhan bekerja sama Pedoman Integrasi antar Fungsi untuk
dengan Disnakertrans dan Kejaksaan Penegakan Kepatuhan dalam Perluasan
Tinggi/Kejaksaan Negeri untuk Kepesertaan dan Peningkatan
mendorong seluruh BUMN/BU swasta Kolektibilitas Iuran bagi PPU BU Swasta.
besar, menengah dan kecil untuk 8) Upaya optimalisasi rekrutmen peserta
mendaftarkan seluruh karyawan menjadi segmen BUMN, antara lain melalui
peserta. kegiatan audiensi dengan Kementerian
2) Mendorong Pemerintah Daerah Provinsi/ BUMN dan mendorong BUMN yang
Kabupaten/Kota untuk menerbitkan berada di daerah untuk segera
regulasi kewajiban Badan Usaha menjadi mendaftarkan kepesertaan program
peserta JKN-KIS dan bekerja sama JKN-KIS ke BPJS Kesehatan melalui
dengan Badan Pelayanan Terpadu Satu Surat Edaran Menteri BUMN Nomor

132 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
S E - 0 6 / M B U / 10 / 2 017 t e n t a n g 3) Menyampaikan data potensi peserta
Kepesertaan BUMN dalam Program PPNPN sejumlah 44.308 pegawai untuk
BPJS Kesehatan. didaftarkan menjadi peserta JKN-KIS.
9) Audiensi dengan Otoritas Jasa Keuangan 4) Bersurat kepada Direktur Sistem
terkait Kepesertaan JKN-KIS karyawan Informasi dan Teknologi Perbendaharaan
OJK pada tanggal 10 Oktober 2017. (SITP) Kementerian Keuangan RI terkait
10) Pengembangan aplikasi new edabu permohonan dukungan data potensi
menuju administrasi badan usaha satu PPNPN APBN agar dapat diberikan
pintu melalui aplikasi new e-Dabu 3.1 setiap bulan, dalam rangka percepatan
untuk kemudahan pendaftaran dan rekrutmen peserta PPNPN.
mutasi karyawan dan keluarga dari
Badan Usaha secara online. c. Peserta PBPU dan BP.
Peserta segmen PBPU dan BP antara lain
b. Pekerja Penerima Upah (PPU) Penyelenggara peserta dari Pekerja Mandiri, Investor,
Negara. Pemberi Kerja dan Penerima Pensiun Swasta.
Peserta segmen PPU Penyelenggara Negara Sampai dengan 31 Desember 2017, jumlah
yang menjadi target perluasan kepesertaan peserta PBPU dan BP berdasarkan master
tahun 2017 yaitu peserta Pegawai Pemerintah file secara rinci disajikan pada tabel berikut:
Non Pegawai Negeri (PPNPN). Sampai
Tabel Jumlah Peserta PBPU dan BP
dengan 31 Desember 2017 jumlah peserta
Perbandingan RKAT Tahun 2017 dan
PPNPN berdasarkan master file telah Realisasi Tahun 2017
mencapai target yaitu sebanyak 1.152.605 (jiwa)

jiwa (175,75%). No. Kedeputian Wilayah RKAT Realisasi %


1 2 3 4 5=4/3

Meskipun telah mencapai target peserta 1 Sumut dan DI Aceh 1.808.834 1.785.761 98,72

PPNPN tahun 2017, terdapat kendala dalam 2 Riau, Kepri, Sumbar dan 2.342.836 2.256.878 96,33
Jambi
proses rekrutmen peserta PPNPN yaitu
3 Sumsel, Kep. Babel dan 1.309.551 1.217.705 92,99
masih banyak peserta PPNPN yang belum Bengkulu
bisa didaftarkan sebagai peserta PPNPN 4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 6.376.620 4.537.685 71,16
dikarenakan memiliki gaji/upah rata-rata di Tangerang dan Bekasi

bawah SBM atau di bawah UMK. Sebagai 5 Jabar 3.468.794 3.223.824 92,94

upaya untuk mengatasi kendala rekrutmen 6 Jateng dan DI 3.462.988 3.312.436 95,65
Yogyakarta
peserta PPNPN telah dilakukan antara lain:
7 Jatim 3.083.673 2.971.453 96,36
1) Focus Discussion Group (FGD)
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, 1.206.975 1.431.377 118,59
kepesertaan PPNPN terkait batas bawah dan Kaltara
iuran PPNPN dengan Dirjen 9 Sulsel, Sulbar, Sultra 1.301.573 1.295.201 99,51
Perbendaharaan dan Direktur dan Maluku
Harmonisasi Peraturan Penganggaran 10 Sulut, Sulteng, 747.868 740.446 99,01
Gorontalo dan Malut
Kementerian Keuangan RI.
11 Bali, NTT dan NTB 988.252 953.447 96,48
2) Mengusulkan batas bawah gaji/upah
12 Papua dan Papua Barat 188.462 160.442 85,13
per bulan yang digunakan sebagai dasar
13 Banten, Kalbar dan 1.909.967 1.848.706 96,79
perhitungan besaran iuran JKN-KIS Lampung
bagi PPNPN sebesar upah minimum Jumlah 28.196.393 25.735.361 91,27
Kabupaten/Kota dalam rancangan
Peraturan Presiden.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 133
d. Penduduk yang Didaftarkan oleh Pemerintah tahun yang belum melakukan update data
Daerah. kepesertaannya sehingga tidak dibayarkan
Sampai dengan 31 Desember 2017, terdapat kapitasinya.
482 Pemda yang pengelolaan kesehatan b. Peserta non aktif sebanyak 13.308.805 jiwa,
masyarakatnya (Jamkesda) telah terintegrasi yaitu peserta yang status kepesertaannya
ke JKN-KIS dengan jumlah peserta sebanyak dinonaktifkan sementara terdiri atas:
20.305.273 jiwa (termasuk Jaminan 1) Tidak membayar iuran (menunggak)
Kesehatan Rakyat Aceh/JKRA dan Kartu lebih dari 1 bulan sejak tanggal 10 setiap
Jakarta Sehat/KJS). bulannya
2) Peserta PPU Non Penyelenggara Negara
Manajemen Kepesertaan (BU Swasta) yang di-PHK oleh pemberi
1. Cakupan Peserta BPJS Kesehatan. kerja/BU.
Berdasarkan master file kepesertaan jumlah 3) Peserta penduduk yang didaftarkan
penduduk Indonesia yang telah menjadi peserta Pemda atau peserta PBPU/BP Kolektif
program JKN-KIS per 31 Desember 2017 (status yang masa berlaku PKS dengan BPJS
peserta aktif dan non aktif) mencapai 187.982.949 Kesehatan telah habis.
jiwa (93,19% dari RKAT 2017), terdiri dari: 4) Peserta sudah tidak ditanggung karena
a. Peserta aktif, yaitu peserta membayar iuran usia anak PPU di atas 21 tahun tanpa
sebanyak 174.674.144 jiwa (86,59% dari surat keterangan masih kuliah dan usia
RKAT 2017), termasuk 1.389.380 jiwa anak anak di atas 25 tahun.
peserta PPU dengan usia di atas 21 s.d. 25 5) BU tidak ditemukan karena BU pindah
tahun yang belum melakukan update surat dan tidak diketahui alamat sekarang
keterangan masih menempuh pendidikan atau BU tidak beroperasi lagi tanpa
formal dan peserta dengan usia di atas 90 pemberitahuan ke BPJS Kesehatan.

134 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Cakupan Kepesertaan BPJS Kesehatan
Perbandingan RKAT Tahun 2017 dan Realisasi Tahun 2017
(Jiwa)
Realisasi
No. Segmen Peserta RKAT
Aktif Non Aktif Jumlah %
1 2 3 4 5 6=4+5 7=6/3
A Penerima Bantuan Iuran 92.400.000 92.380.352 - 92.380.352 99,98
B Bukan Penerima Bantuan Iuran
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Penyelenggara Negara
1) PNS 11.807.678 12.631.204 41.881 12.673.085 107,33
2) TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri 2.890.360 2.814.413 8.434 2.822.847 97,66
3) Pejabat Negara (PN) 21.536 25.998 133 26.131 121,34
4) Pegawai Pemerintah Non PNS 655.806 1.130.255 22.350 1.152.605 175,75
b. PPU Non Penyelenggara Negara
1) Perusahaan BUMN 1.999.689 1.447.888 33.090 1.480.978 74,06
2) BU Swasta 40.455.423 25.519.376 1.216.020 26.735.396 66,09
Sub Total 1 57.830.492 43.569.134 1.321.908 44.891.042 77,63
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 27.921.103 13.787.832 11.609.996 25.397.828 90,96
3. Bukan Pekerja (BP)
a. Investor 76 25.209 7.902 33.111 43.567,11
b. Pemberi Kerja 6.093 10.466 4.766 15.232 249,99
c. Penerima Pensiun (PP) 4.939.861 4.654.574 17.135 4.671.709 94,57
d. Veteran 421.946 285.466 181 285.647 67,70
e. Perintis Kemerdekaan (PK) 2.728 2.754 1 2.755 100,99
Sub Total 3 5.370.704 4.978.469 29.985 5.008.454 93,26
Total B 91.122.299 62.335.435 12.961.889 75.297.324 82,63
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah 18.192.612 19.958.357 346.916 20.305.273 111,61
Daerah
Total 201.714.911 174.674.144 13.308.805 187.982.949 93,19

Realisasi cakupan peserta per 31 Desember 2017 tanggal 21 Desember 2017 hal Penghapusan dan
dijelaskan sebagai berikut: Penambahan Peserta PBI JK Tahun 2017 Tahap Keempat.
Jumlah Peserta Penerima Bantuan Iuran Tahun 2017
Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang diubah sebanyak 92.400.000.
Berdasarkan Keputusan Menteri Sosial Nomor 148/
HUK/2017 tentang Penetapan Penonaktifan Peserta Jumlah peserta PBI JK tahun 2017 adalah 92.380.867
Penerima Bantuan iuran Jaminan Kesehatan Tahun jiwa, jika dibandingkan dengan kuota PBI JK tahun
2017 Tahap Keempat dan keputusan Menteri Sosial 2017 sebanyak 92.400.000 jiwa maka masih terdapat
Nomor 149/HUK/2017 hal Perubahan Peserta PBI JK kekurangan penerimaan data peserta PBI JK sejumlah
Tahun 2017 Tahap Keempat. Jumlah Peserta Penerima 19.648 jiwa. Hal ini dikarenakan terdapatnya mutasi
Bantuan Iuran Tahun 2017 yang diubah sebanyak kurang peserta PBI JK akibat peserta PBI JK meninggal
92.400.000. serta surat Kepala Pusat Pembiayaan dan peserta pindah segmen kepesertaan (segmen
dan Jaminan Kesehatan nomor JP.02.01/3/1904/2017 PPU atau segmen PBPU).

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 135
Untuk meningkatkan cakupan kepesertaan PBI JK Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).
sesuai kuota, maka telah diusulkan ke Kementerian Merupakan pekerja mandiri yang mendaftar sebagai
Sosial agar penetapan pengganti peserta PBI JK peserta JKN-KIS. Jumlah peserta PBPU adalah
dilakukan setiap bulan sehingga jika ada peserta sebanyak 25.397.828 jiwa (90,96% dari RKAT 2017).
meninggal dan keluar dari peserta PBI JK dapat
diusulkan penggantinya pada bulan berikutnya. Bukan Pekerja (BP)
Terdiri dari peserta Investor, Pemberi Kerja, Penerima
Bukan Penerima Bantuan Iuran Pensiun, Veteran dan Perintis Kemerdekaan. Jumlah
Pekerja Penerima Upah (PPU) Penyelenggara Negara peserta segmen BP adalah sebanyak 5.008.454 jiwa
Terdiri dari peserta PNS, TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri, (93,26% dari RKAT 2017).
Pejabat Negara, dan Pegawai Pemerintah Non PNS
beserta keluarganya. Jumlah peserta PPU Penyelenggara Penduduk yang Didaftarkan oleh Pemerintah Daerah
Negara adalah sebanyak 16.674.668 jiwa (108,45% Jumlah penduduk yang didaftarkan oleh Pemda dengan
dari RKAT 2017). iuran jaminan kesehatan berasal dari dana APBD
tercatat dalam master file sebanyak 20.305.273 jiwa
Pekerja Penerima Upah (PPU) Non Penyelenggara Negara (111,61% dari RKAT 2017).
Terdiri dari peserta pegawai BUMN, Pegawai Swasta
beserta keluarganya, dan WNA bekerja ≥ 6 bulan.
Jumlah peserta PPU Non Penyelenggara Negara
adalah sebanyak 28.216.374 jiwa (66,46% dari RKAT
2017).

136 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Apabila dirinci berdasarkan jenis kelamin dan kelas
perawatan, jumlah peserta BPJS Kesehatan per 31
Desember 2017 adalah sebagai berikut:

Tabel Jumlah Peserta Berdasarkan Jenis Kelamin


Realisasi Tahun 2017
(jiwa)
Jenis Kelamin
No. Segmen Peserta Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 2 3 4 5=3+4
A Penerima Bantuan Iuran 46.517.414 45.862.938 92.380.352
B Bukan Penerima Bantuan Iuran
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Penyelenggara Negara
1) PNS 6.362.867 6.310.218 12.673.085
2) TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri 1.655.370 1.167.477 2.822.847
3) Pejabat Negara (PN) 14.277 11.854 26.131
4) Pegawai Pemerintah Non PNS 627.784 524.821 1.152.605
b. PPU Non Penyelenggara Negara
1) Perusahaan BUMN 798.108 682.870 1.480.978
2) BU Swasta 14.418.190 12.317.206 26.735.396
Sub Total 1 23.876.596 21.014.446 44.891.042
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 12.768.850 12.628.978 25.397.828
3. Bukan Pekerja (BP)
a. Investor 15.626 17.485 33.111
b. Pemberi Kerja 7.909 7.323 15.232
c. Penerima Pensiun (PP) 1.948.941 2.722.768 4.671.709
d. Veteran 137.073 148.574 285.647
e. Perintis Kemerdekaan (PK) 1.007 1.748 2.755
Sub Total 3 2.110.556 2.897.898 5.008.454
Total B 38.756.002 36.541.322 75.297.324
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah 10.312.326 9.992.947 20.305.273
Total 95.585.742 92.397.207 187.982.949

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 137
Tabel Jumlah Peserta Berdasarkan Kelas Perawatan
Realisasi Tahun 2017
(jiwa)
Kelas Rawat
No. Segmen Peserta Jumlah
I II III
1 2 3 4 5 6=3+4+5
A Penerima Bantuan Iuran - - 92.380.352 92.380.352
B Bukan Penerima Bantuan Iuran
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Penyelenggara Negara
1) PNS 9.795.620 2.877.465 - 12.673.085
2) TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri 471.170 2.351.677 - 2.822.847
3) Pejabat Negara (PN) 26.131 - - 26.131
4) Pegawai Pemerintah Non PNS 49.939 1.102.666 - 1.152.605
b. PPU Non Penyelenggara Negara
1) Perusahaan BUMN 786.636 694.342 - 1.480.978
2) BU Swasta 5.186.485 21.548.911 - 26.735.396
Sub Total 1 16.315.981 28.575.061 - 44.891.042
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 4.387.457 5.812.438 15.197.933 25.397.828
3. Bukan Pekerja (BP)
a. Investor 7.633 8.664 16.814 33.111
b. Pemberi Kerja 6.467 3.643 5.122 15.232
c. Penerima Pensiun (PP) 2.406.910 2.220.087 44.712 4.671.709
d. Veteran 285.647 - - 285.647
e. Perintis Kemerdekaan (PK) 2.755 - - 2.755
f. BP Mampu Bayar selain a) - e) - - - -
Sub Total 3 2.709.412 2.232.394 66.648 5.008.454
Total B 23.412.850 36.619.893 15.264.581 75.297.324
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah - - 20.305.273 20.305.273
Total 23.412.850 36.619.893 127.950.206 187.982.949

2. Kartu Indonesia Sehat (KIS). Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan melakukan
Program JKN sebagai salah satu wujud Nawacita pencetakan Kartu Indonesia Sehat oleh Kantor
pemerintah berdampak terhadap pelayanan Cabang tahap pertama sebanyak 1.477.093 kartu.
kesehatan masyarakat. Program JKN-KIS Pada bulan September 2017 terdapat pencetakan
membuka akses lebih besar kepada masyarakat KIS tahap kedua sesuai SK Kemensos Nomor
untuk mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan. 76/HUK/2017 sebanyak 415.581 kartu dan SK
Sesuai Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 2014 Kemensos Nomor 95/HUK/2017 sebanyak 69.271
tentang Pelaksanaan Program Simpanan Keluarga kartu. Dan di bulan Desember terdapat pencetakan
Sejahtera, Program Indonesia Pintar dan Program tahap ketiga sebanyak 489.355 kartu, sehingga
Indonesia Sehat Untuk Membangun Keluarga total pencetakan tahun 2017 adalah 2.451.300.
Produktif, maka BPJS Kesehatan menyediakan Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.861.099 kartu
Kartu Indonesia Sehat sebagai identitas telah disampaikan dan diterima oleh penerima
kepesertaan JKN. manfaat, dan sejumlah 186.748 kartu mengalami
retur karena meninggal dan pindah alamat.

138 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Distribusi KIS Segmen PBI JK
Realisasi Tahun 2017
Target Distribusi ke End User Retur Total Distribusi
No. Kedeputian Wilayah
Distribusi Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 2 3 4 5=4/3 6 7=6/3 8=4+6 9=8/3
1 Sumut dan DI Aceh 162.162 129.688 79,97 7.455 4,60 137.143 84,57
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 163.642 124.402 76,02 7.482 4,57 131.884 80,59
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 110.343 84.761 76,82 11.637 10,55 96.398 87,36
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 117.416 69.299 59,02 13.055 11,12 82.354 70,14
5 Jabar 236.674 179.023 75,64 11.354 4,80 190.377 80,44
6 Jateng dan DI Yogyakarta 609.799 502.682 82,43 11.985 1,97 514.667 84,40
7 Jatim 265.464 202.537 76,30 10.096 3,80 212.633 80,10
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 60.141 48.824 81,18 3.444 5,73 52.268 86,91
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 278.543 193.143 69,34 76.054 27,30 269.197 96,64
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 140.435 108.353 77,16 16.762 11,94 125.115 89,09
11 Bali, NTT dan NTB 93.632 55.718 59,51 2.424 2,59 58.142 62,10
12 Papua dan Papua Barat 26.677 13.289 49,81 9.828 36,84 23.117 86,66
13 Banten, Kalbar dan Lampung 186.372 149.380 80,15 5.172 2,78 154.552 82,93
Jumlah 2.451.300 1.861.099 75,92 186.748 7,62 2.047.847 83,54

Sejak tahun 2014 sampai dengan 31 Desember 2017,


BPJS Kesehatan telah melakukan pencetakan KIS
sebanyak 94.886.715 kartu, dengan total distribusi
sebanyak 94.483.262 kartu, termasuk retur dengan
rincian per Kedeputian Wilayah sebagai berikut:

Tabel Distribusi KIS Segmen PBI JK


Realisasi Tahun 2014 s.d. 31 Desember 2017
Target Distribusi ke End User Retur Total Distribusi
No. Kedeputian Wilayah
Distribusi Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 2 3 4 5=4/3 6 7=6/3 8 9=8/3
1 Sumut dan DI Aceh 6.884.918 6.680.003 97,02 179.896 2,61 6.859.899 99,64
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 4.395.051 4.234.711 96,35 128.582 2,93 4.363.293 99,28
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 3.659.632 3.357.224 91,74 288.463 7,88 3.645.687 99,62
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 5.479.444 4.828.488 88,12 615.894 11,24 5.444.382 99,36
5 Jabar 13.381.319 12.951.965 96,79 383.057 2,86 13.335.022 99,65
6 Jateng dan DI Yogyakarta 17.481.316 17.133.790 98,01 252.394 1,44 17.386.184 99,46
7 Jatim 15.442.466 14.699.850 95,19 689.785 4,47 15.389.635 99,66
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 2.246.376 2.127.390 94,70 111.113 4,95 2.238.503 99,65
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 5.858.287 5.616.614 95,87 232.327 3,97 5.848.941 99,84
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 3.116.641 3.004.393 96,40 96.928 3,11 3.101.321 99,51
11 Bali, NTT dan NTB 6.252.744 5.979.462 95,63 237.792 3,80 6.217.254 99,43
12 Papua dan Papua Barat 3.653.825 3.350.610 91,70 299.655 8,20 3.650.265 99,90
13 Banten, Kalbar dan Lampung 7.034.696 6.866.640 97,61 136.236 1,94 7.002.876 99,55
Total 94.886.715 90.831.140 95,73 3.652.122 3,85 94.483.262 99,57

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 139
Tabel Jumlah Peserta Berdasarkan Lokasi Pendaftaran
3. Manajemen Pendaftaran Peserta.
Realisasi Tahun 2017
a. Jumlah Point of Service Pendaftaran Peserta
No. Lokasi Pendaftaran Jumlah
Dalam rangka meningkatkan pelayanan 1 2 3
terhadap calon peserta, saat ini pendaftaran 1 Kantor Cabang 180.429.058
peserta dapat dilakukan di beberapa tempat, 2 Website 6.816.725
yaitu Kantor BPJS Kesehatan (Kantor Cabang 3 Bank 724.755
dan Kantor Kabupaten/Kota), Bank yang 4 Care Center 1500400 12.411
bekerja sama (Bank Mandiri, BNI dan BRI), Jumlah 187.982.949
website serta melalui BPJS Kesehatan Care
Center 1500400. Sampai dengan 31 Desember 2017 jumlah
Jumlah Point of Service pendaftaran peserta peserta berdasarkan lokasi pendaftaran
per 31 Desember 2017 adalah: disampaikan sebagai berikut:
1) Kantor BPJS Kesehatan, sebanyak 127 1) Peserta yang mendaftar dengan cara
Kantor Cabang dan 388 Kantor datang langsung ke Kantor BPJS
Kabupaten/Kota. Kesehatan, yaitu melalui Kantor Cabang
2) Pihak ketiga yang bekerja sama dengan termasuk Kantor Kabupaten Kota adalah
BPJS Kesehatan, yaitu 3 Channel Bank sebanyak 180.429.058 jiwa.
(Bank Mandiri, BNI, BRI), Point of 2) Peserta yang mendaftar melalui website
Service Lippo mall, serta Kecamatan/ BPJS Kesehatan, yaitu peserta yang
Kelurahan (mekanisme dropbox). sudah terdaftar dan sudah terbit Virtual
3) Website, 1 website BPJS Kesehatan Account (VA) sebanyak 6.816.725 jiwa.
dengan alamat www.bpjs-kesehatan. 3) Masyarakat yang mendaftar melalui
go.id. Bank yang bekerja sama, yaitu:
4) 1 aplikasi Mobile JKN (android dan iOS). (a) BNI sebanyak 28.829 jiwa.
5) 92 agent dan 7 supervisor BPJS (b) BRI sebanyak 391.918 jiwa.
Kesehatan Care Center 1500400. (c) Bank Mandiri sebanyak 304.008 jiwa.
6) 118 Mobile Customer Service. 4) Peserta PBPU yang mendaftar melalui
7) 1 portal pendaftaran Badan Usaha BPJS Kesehatan Care Center 1500400
bersama BPJS kesehatan dan BPJS mencapai 12.411 jiwa.
Ketenagakerjaan (www.bpjs.go.id). c. Jumlah Peserta dengan Identitas Kepesertaan
8) Stand/booth BPJS Kesehatan. Program JKN KIS.
9) Kader JKN-KIS sebanyak 1.635 kader. Pencetakan kartu JKN (kartu BPJS) telah
dilakukan sejak 1 Januari 2014 dan secara
b. Komposisi Peserta Berdasarkan Lokasi langsung didistribusikan kepada peserta.
Pendaftaran. Sampai dengan 31 Desember 2017 jumlah
Bila dilihat berdasarkan tempat pendaftaran, peserta yang sudah mendapatkan identitas
maka komposisi peserta BPJS Kesehatan kepesertaan program JKN KIS sejumlah
per 31 Desember 2017 sebagaimana disajikan 187.982.949 dengan rincian sebagai berikut:
pada tabel berikut:

140 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Jumlah Peserta yang Sudah Mendapatkan Identitas Kepesertaan Program JKN KIS
Realisasi Tahun 2017
Jumlah Peserta % Peserta yang
Jumlah Peserta dengan yang Sudah Sudah
Jumlah Peserta Identitas Selain KIS Mendapatkan Mendapatkan
No. Segmen Peserta
dengan Identitas KIS (Askes, BPJS Identitas Identitas
Kesehatan) Kepesertaan Kepesertaan
JKN-KIS JKN-KIS
1 2 3 4 5 6=(3+4)/5
A Penerima Bantuan Iuran 92.099.296 281.056 92.380.352 100,00
B Bukan Penerima Bantuan Iuran
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Penyelenggara Negara
1) PNS 5.936.351 6.736.734 12.673.085 100,00
2) TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri 2.635.513 187.334 2.822.847 100,00
3) Pejabat Negara (PN) 22.488 3.643 26.131 100,00
4) Pegawai Pemerintah Non PNS 1.069.672 82.933 1.152.605 100,00
b. PPU Non Penyelenggara Negara
1) Perusahaan BUMN 1.268.564 212.414 1.480.978 100,00
2) BU Swasta 24.462.948 2.272.448 26.735.396 100,00
Sub Total 1 35.395.536 9.495.506 44.891.042 100,00
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 23.998.617 1.399.211 25.397.828 100,00
3. Bukan Pekerja (BP)
a. Investor 28.059 5.052 33.111 100,00
b. Pemberi Kerja 13.402 1.830 15.232 100,00
c. Penerima Pensiun (PP) 1.278.878 3.392.831 4.671.709 100,00
d. Veteran 42.487 243.160 285.647 100,00
e. Perintis Kemerdekaan (PK) 335 2.420 2.755 100,00
Sub Total 3 1.363.161 3.645.293 5.008.454 100,00
Total B 60.757.314 14.540.010 75.297.324 100,00
C Penduduk yang didaftarkan oleh 12.102.111 8.203.162 20.305.273 100,00
Pemerintah Daerah
Total 164.958.721 23.024.228 187.982.949 100,00

Jumlah peserta JKN yang sudah mendapatkan sebanyak 23.024.228 jiwa (12,2% dari
identitas berupa Kartu Indonesia Sehat, baik seluruh peserta JKN).
berupa KIS maupun identitas selain KIS 2) Telah diterbitkan Surat Edaran Direktur
seperti Kartu Askes dan Kartu BPJS Perluasan dan Pelayanan Peserta Nomor
Kesehatan yang telah dicetak dan 42 Tahun 2017 tentang Penggantian
didistribusikan sampai dengan 31 Desember Kartu Jamkesmas, dimana BPJS
2017 adalah sejumlah 100% dari jumlah Kesehatan akan melakukan penggantian
peserta yang terdapat dalam master file kartu Jamkesmas (hijau dan biru) secara
kepesertaan, dengan keterangan: bertahap dan Surat Direktur Perluasan
1) Peserta yang menggunakan Identitas dan Pelayanan Peserta Nomor 10464/
kepesertaan JKN selain KIS (Kartu VII.2/0817 tanggal 25 Agustus 2017
Jamkesmas, Kartu Eks Askes, e-ID tentang Percepatan Pemutakhiran Data
JKN, Kartu BPJS Kesehatan laminasi) dan Pencetakan KIS bagi PPU.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 141
4. Manajemen Data Kepesertaan.
a. Jumlah Peserta Berdasarkan Kelompok
Segmentasi Peserta dan Status PISA
Jumlah peserta berdasarkan segmentasi
peserta dan status PISA (Peserta, Suami,
Istri dan Anak) disajikan dalam tabel di bawah
ini:

Tabel Jumlah Peserta Berdasarkan Segmentasi Peserta dan Status PISA


Tahun 2017
(Jiwa)
No. Segmen Peserta Peserta Istri/Suami Anak Lainnya Jumlah
1 2 3 4 5 6 7=3+…+6
A Penerima Bantuan Iuran 28.853.010 16.692.565 38.867.858 7.966.919 92.380.352
B Bukan Penerima Bantuan Iuran
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Penyelenggara Negara
1) PNS 4.779.845 2.658.630 5.090.444 144.166 12.673.085
2) TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri 995.432 612.751 1.192.583 22.081 2.822.847
3) Pejabat Negara (PN) 8.720 6.342 10.973 96 26.131
4) Pegawai Pemerintah Non PNS 485.433 246.881 418.321 1.970 1.152.605
b. PPU Non Penyelenggara Negara
1) Perusahaan BUMN 591.974 314.500 572.561 1.943 1.480.978
2) BU Swasta 11.127.483 5.615.453 9.773.193 219.267 26.735.396
Sub Total 1 17.988.887 9.454.557 17.058.075 389.523 44.891.042
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 10.432.247 5.717.959 8.659.930 587.692 25.397.828
3. Bukan Pekerja (BP)
a. Investor 12.489 7.230 12.286 1.106 33.111
b. Pemberi Kerja 5.042 3.359 6.397 434 15.232
c. Penerima Pensiun (PP) 2.605.137 1.697.621 365.965 2.986 4.671.709
d. Veteran 166.827 116.411 2.346 63 285.647
e. Perintis Kemerdekaan (PK) 1.904 803 48 - 2.755
Sub Total 3 2.791.399 1.825.424 387.042 4.589 5.008.454
Total B 31.212.533 16.997.940 26.105.047 981.804 75.297.324
C Penduduk yang didaftarkan oleh 10.076.929 2.714.020 6.283.251 1.231.073 20.305.273
Pemerintah Daerah
Total 70.142.472 36.404.525 71.256.156 10.179.796 187.982.949

Dengan penjelasan sebagai berikut: 3) Untuk segmen peserta PBPU dan BP,
1) Peserta PBI JK yang dibiayai oleh perekaman data peserta dilakukan dengan
Pe m e r i n t a h P u s a t , j u m l a h cara memasukkan data peserta sesuai
kepesertaannya ditetapkan melalui dengan kegiatan pendaftaran yang
Keputusan Menteri Sosial RI. dilakukan oleh peserta. Dalam proses
2) Penduduk yang didaftarkan oleh perekaman data peserta sudah
Pemerintah Daerah adalah peserta diintegrasikan dengan data Kependudukan
Jamkesda yang terintegrasi ke dalam dan Catatan Sipil (Dukcapil) melalui web
program JKN-KIS. service dengan mengentri NIK.

142 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
4) Peserta Lainnya adalah peserta tambahan
di luar status PISA (Peserta, Istri/Suami,
dan Anak), yaitu orang tua dan mertua.

b. Jumlah Peserta yang telah Dilengkapi dengan


NIK.
Sampai dengan 31 Desember 2017, jumlah
peserta yang telah dilengkapi dengan NIK
lengkap sebesar 164.214.593 jiwa (87,36%
dari total jumlah peserta) disajikan pada
tabel berikut:

Tabel Jumlah Peserta yang Identitasnya Telah Dilengkapi dengan NIK


Sampai Dengan Tahun 2017
(Jiwa)
NIK Belum
No. Segmen Peserta NIK Lengkap Total %
Lengkap
1 2 3 4 5=3+4 6=3/5
A Penerima Bantuan Iuran 72.366.335 20.014.017 92.380.352 78,34
B Bukan Penerima Bantuan Iuran
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Penyelenggara Negara
1) PNS 11.718.604 954.481 12.673.085 92,47
2) TNI/Polri/PNS Kemhan/Polri 2.675.035 147.812 2.822.847 94,76
3) Pejabat Negara (PN) 24.302 1.829 26.131 93,00
4) Pegawai Pemerintah Non PNS 1.141.970 10.635 1.152.605 99,08
b. PPU Non Penyelenggara Negara
1) Perusahaan BUMN 1.475.790 5.188 1.480.978 99,65
2) BU Swasta 26.139.380 596.016 26.735.396 97,77
Sub Total 1 43.175.081 1.715.961 44.891.042 96,18
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 25.317.694 80.134 25.397.828 99,68
3. Bukan Pekerja (BP)
a. Investor 33.102 9 33.111 99,97
b. Pemberi Kerja 15.168 64 15.232 99,58
c. Penerima Pensiun (PP) 3.214.406 1.457.303 4.671.709 68,81
d. Veteran 126.520 159.127 285.647 44,29
e. Perintis Kemerdekaan (PK) 1.134 1.621 2.755 41,16
Sub Total 3 3.390.330 1.618.124 5.008.454 67,69
Total B 71.883.105 3.414.219 75.297.324 95,47
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah 19.965.153 340.120 20.305.273 98,32
Total 164.214.593 23.768.356 187.982.949 87,36

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 143
Peserta yang telah dilengkapi NIK sampai Sedangkan berdasarkan media penyampaian, jumlah
dengan 31 Desember 2017 mencapai 87,36% pemberian informasi sampai dengan 31 Desember
dari total jumlah peserta. Peserta yang 2017 disajikan pada tabel berikut:
belum dilengkapi NIK dilakukan upaya
Tabel Jumlah Pemberian Informasi
pengisian NIK dengan cara:
Berdasarkan Media Penyampaian
1) Pemadanan data kepesertaan JKN Realisasi Tahun 2017
dengan data Dukcapil. No. Media Penyampaian Jumlah
2) Pemadanaan dengan data terkini Badan 1 2 3
Kepegawaian Negara. 1 Tatap Muka
3) Pemutakhiran data peserta pada saat Customer Service 44.469
peserta melakukan kunjungan ke Kantor 2 Tulisan
Cabang atau Kantor Kabupaten/Kota. a. Surat 32
b. SMS 434
Selanjutnya untuk pendaftaran peserta baru, c. Website 840
saat ini mewajibkan menyertakan NIK pada d. Email 15
saat proses pendaftaran, sehingga untuk Sub Total 2 1.321
peserta baru sudah terisi NIK. 3 Suara
a. Telp reguler 785
b. Hotline KC 4.660
MANAJEMEN PENGADUAN c. Care center 1500400 982.380
Sub Total 3 987.825

Pemberian Informasi 4 Publik

Berdasarkan pokok materi, jumlah pemberian informasi a. Media Cetak 114

terbanyak adalah terkait pelayanan administrasi dan b. Media Saran -

iuran. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: c. Twitter 45.011


d. Facebook 21.688

Tabel Jumlah Pemberian Informasi Berdasarkan Pokok Materi Sub Total 4 66.813
Realisasi Tahun 2017 Jumlah 1.100.428
Care
Pokok Materi Media Proporsi
No. Center Jumlah
Informasi Lain (%) Pengelolaan Pengaduan dan Umpan Balik Peserta
1500400
1 2 3 4 5=3+4 6=5/∑5 Jumlah penanganan pengaduan sampai dengan 31
1 Pelayanan 704.981 83.264 788.245 71,63 Desember 2017 tercatat 117.583 pengaduan. Pengaduan
Administrasi disampaikan peserta melalui berbagai macam media,
2 Iuran 209.696 14.850 224.546 20,41 baik secara lisan maupun tertulis. Secara dirinci
3 Pelayanan 66.953 19.541 86.494 7,86 disampaikan pada tabel berikut:
Kesehatan
4 Pelayanan Obat 750 393 1.143 0,10
Jumlah 982.380 118.048 1.100.428 100,00

144 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Data Jenis Pengaduan 1. Pelayanan administrasi, antara lain mengenai:
Berdasarkan Media Penyampaian a. Pendaftaran peserta secara online:
Realisasi Tahun 2017 1) Nomor Virtual Account (VA) peserta
No. Media Penyampaian Jumlah tidak muncul saat diunduh.
1 2 3 2) Proses aktivasi gagal.
1 Tatap Muka 3) Aplikasi pendaftaran online error.
Customer Service 9.228 4) Electronic Identity (e-ID) tidak bisa dicetak.
2 Tulisan 5) Nomor KK tidak ditemukan/Data KK
a. Surat 17 tidak sesuai dengan KK yang ada (data
b. SMS 281 tidak update).
c. Website 1.338 b. Pendaftaran di Kantor Cabang:
d. Email 33 1) Pendaftaran BU yang memakan waktu
Sub Total 2 1.669
lama.
2) Data peserta tidak sesuai.
3 Suara
2. Pelayanan Kesehatan, antara lain mengenai:
a. Telp reguler 253
a. Pembatasan pasien di poli.
b. Hotline KC 815
b. Penetapan plafon biaya oleh faskes.
c. Care center 1500400 101.042
c. Penolakan faskes atas pelayanan rawat inap
Sub Total 3 102.110
termasuk intensif/HCU.
4 Publik
d. Iur biaya alat bantu kesehatan.
a. Media Cetak 21 e. Rujukan berjenjang (tanpa melalui FKTP).
b. Media Saran 2 f. Lamanya antrian dalam mendapatkan
c. Twitter 3.395 pelayanan administrasi.
d. Facebook 1.158 g. Hak kelas perawatan penuh.
Sub Total 4 4.576 h. Pembatasan rujukan internal (tindakan/poli).
Jumlah 117.583 i. Penolakan di FKTP pada hari libur.
j. Pembatasan jam di pelayanan FKTP.
Dari seluruh pengaduan yang masuk, sebanyak 101.042 3. Iuran, antara lain mengenai:
pengaduan diterima melalui BPJS Kesehatan Care a. Tagihan iuran yang muncul pada sistem
Center dan 16.541 pengaduan tercatat melalui media tidak sesuai.
lainnya. Secara rinci jenis pengaduan berdasarkan b. Tidak dapat melakukan pembayaran iuran/
pokok permasalahan adalah sebagaimana tabel berikut: gagal bayar.
c. Lamanya proses refund.
Tabel Data Jenis Pengaduan Berdasarkan Pokok Permasalahan
d. Iuran tidak terbagi rata pada setiap anggota
Realisasi Tahun 2017 keluarga.
Care 4. Pelayanan obat, antara lain mengenai:
Pokok Materi Media Proporsi
No.
Pengaduan
Center
Lain
Jumlah
(%)
a. Pembatasan pemberian Obat.
1500400 b. Iur biaya obat RJTL dan RITL.
1 2 3 4 5=3+4 6=5/∑5 c. Tidak tersedianya obat (obat kosong).
1 Pelayanan 54.714 7.593 62.307 52,99
Administrasi
SLA Respon Awal dan % Tindak Lanjut Penanganan
2 Iuran 41.269 6.053 47.322 40,25
Pengaduan
3 Pelayanan Kesehatan 4.593 2.383 6.976 5,93
SLA respon awal penanganan pengaduan yang dapat
4 Pelayanan Obat 466 512 978 0,83 diselesaikan dalam waktu 1 s.d. 3 hari kerja mencapai
Jumlah 101.042 16.541 117.583 100,00 99,03% dan pengaduan yang disampaikan oleh
peserta yang telah ditindaklanjuti mencapai 99,58%.
Berdasarkan pokok masalah, pengaduan terbanyak Berikut disampaikan perkembangan penyelesaian
yang disampaikan peserta diantaranya yaitu: pengaduan sampai dengan 31 Desember 2017:

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 145
Tabel Penanganan Pengaduan Tahun 2017
Penyelesaian Pengaduan Tahun 2017
Progres Penyelesaian
No. Unit Kerja/Kedeputian Wilayah Pengaduan
Waktu Penyelesaian Pengaduan Jumlah %
Jumlah
Pengaduan
Belum On Pengaduan 1 s.d 3 hari 4 s.d 5 hari > 5 hari SLA Respon Tindak
Selesai Selesai
direspon Process kerja kerja kerja Awal Lanjut
1 2 3 4 5 6=3+4+5 7 8 9 10=7+8+9 11=7/5 12=10/5
1 Care Center - - 105.594 105.594 105.594 - - 105.594 100,00 100,00
2 Kantor Pusat 46 67 305 418 335 8 12 355 80,14 84,93
3 Sumut dan DI Aceh 1 24 2.086 2.111 2.031 22 37 2.090 96,21 99,01
4 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 15 34 750 799 723 5 35 763 90,49 95,49
5 Sumsel, Kep, Babel dan Bengkulu 3 36 1.280 1.319 1.064 13 226 1.303 80,67 98,79
6 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang 175 135 715 1.025 727 30 74 831 70,93 81,07
dan Bekasi
7 Jabar 61 34 2.264 2.359 2.172 20 107 2.299 92,07 97,46
8 Jateng dan DI Yogyakarta 22 37 1.795 1.854 1.793 6 9 1.808 96,71 97,52
9 Jatim 14 30 492 536 491 3 19 513 91,60 95,71
10 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 4 5 475 484 462 - 13 475 95,45 98,14
11 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku - 1 575 576 575 - - 575 99,83 99,83
12 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 4 2 115 121 115 - - 115 95,04 95,04
13 Bali, NTT dan NTB 2 5 71 78 72 - - 72 92,31 92,31
14 Papua dan Papua Barat 4 7 211 222 199 5 7 211 89,64 95,05
15 Banten, Kalbar dan Lampung 2 - 85 87 85 - - 85 97,70 97,70
Jumlah 353 417 116.813 117.583 116.438 112 539 117.089 99,03 99,58

PENERIMAAN IURAN
Sampai dengan 31 Desember 2017, iuran yang diterima
secara tunai mencapai Rp74,399 triliun.

Tabel Penerimaan Iuran


Tahun 2017
(Juta Rupiah)

Realisasi s.d. 31 Realisasi s.d. 31


RKAT 2017
No. Segmen Peserta Desember Desember %
2016 (Audited) 2017 (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4

A PBI 24.814.984 25.502.424 25.362.816 102,21 99,45


B Non PBI
1. PPU
a. PPU Penyelenggara Negara 13.976.419 14.536.014 14.068.799 100,66 96,79
b. PPU Non Penyelenggara Negara 17.748.199 27.848.084 21.355.618 120,33 76,69
Sub Total 1 31.724.618 42.384.097 35.424.418 111,66 83,58
2. PBPU 5.245.056 8.722.498 6.971.990 132,92 79,93
3. BP 1.916.617 1.799.501 1.733.290 90,43 96,32
Sub Total B 38.886.291 52.906.096 44.129.698 113,48 83,41
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemda 3.565.177 4.521.627 4.906.566 137,62 108,51
Total 67.266.452 82.930.147 74.399.079 110,60 89,71

146 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
PEMBAYARAN MANFAAT PROGRAM
Grafik
Manajemen Fasilitas Kesehatan Komposisi FKTP Tahun 2017
1. Manajemen Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP). 1.188
,22%
Dokter Gigi
Sampai dengan 31 Desember 2017, faskes tingkat 45 uskesmas
2P 669
pertama yang sudah bekerja sama dengan BPJS 6% Klinik TNI

4
5,4

9.8
Kesehatan sebanyak 21.763 faskes yang terdiri 3,07%

li n i k P r a t a m a
dari 20.575 FKTP dan 1.188 FKTP Gigi yang

,1 5 %
secara rinci disajikan pada grafik dan tabel berikut:

21
3K
22

60
4.
88 ,4 4 %

4.
3 Do
k te
r Pr
aktik
Perorangan

0,07%
16 RS D Pratama
2,58%
562 Klinik Polri

Tabel Rincian Jumlah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang Bekerja Sama
per Kedeputian Wilayah
Tahun 2017
A, FKTP
Praktik
No. Kedeputian Wilayah Dokter Dokter Gigi Total (A + B)
Klinik Klinik RS D
Praktik Klinik TNI Puskesmas Total (B)
Polri Pratama Pratama
Perorangan
1 2 3 4 5 6 7 8 9=3+,,+8 10 11=9+10
1 Sumut dan DI Aceh 194 59 536 56 917 1 1.763 15 1.778
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 266 55 431 52 747 - 1.551 74 1.625
3 Sumsel, Kep, Babel dan Bengkulu 340 39 180 27 568 - 1.154 57 1.211
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang 84 39 844 69 654 - 1.690 19 1.709
dan Bekasi
5 Jabar 419 30 670 45 830 - 1.994 60 2.054
6 Jateng dan DI Yogyakarta 1.218 46 566 63 995 1 2.889 340 3.229
7 Jatim 673 45 538 82 964 - 2.302 218 2.520
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 373 52 176 60 656 - 1.317 97 1.414
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 315 59 148 63 1.022 4 1.611 102 1.713
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 249 43 66 34 602 3 997 47 1.044
11 Bali, NTT dan NTB 482 45 132 44 662 3 1.368 122 1.490
12 Papua dan Papua Barat 87 16 24 36 558 4 725 14 739
13 Banten, Kalbar dan Lampung 183 34 292 38 667 - 1.214 23 1.237
Total 4.883 562 4.603 669 9.842 16 20.575 1.188 21.763

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 147
2. Manajemen Fasilitas Kesehatan Rujukan
Jumlah faskes rujukan yang bekerja sama disajikan
pada tabel dan grafik berikut:
Grafik
Tabel Jaringan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) Komposisi FKRTL Tahun 2017
Tahun 2017
No. Kepemilikan Target Realisasi %
60,45%
1 2 3 4 5=4/3
1 Pemerintah Pusat
a. Kementerian 46 45 97,83
b. TNI 110 108 98,18
c. Polri 42 40 95,24
2 Pemerintah Daerah 8,51%
a. Pemerintah Provinsi 127 134 105,51 31,04%
b. Pemerintah Kab./Kota 565 570 100,88
3 Swasta
a. Laba 1.282 1.327 103,51
1.371 RS Swasta 193 RS Pemerintah Pusat 704 RS Pemerintah Daerah
b. BUMN/BUMD 48 44 91,67 45 Kementerian 134 Pemerintah Provinsi
106 TNI 570 Pemerintah Kab./Kota
Total 2.220 2.268 102,16 40 Polri

Rincian jumlah faskes rujukan tingkat lanjutan beserta


faskes penunjang yang bekerja sama disajikan pada
tabel berikut:

Tabel Jaringan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL)


dan Fasilitas Kesehatan Penunjang
Tahun 2017
Jenis
No. Kepemilikan RS Umum RS Khusus Klinik Total FKRTL Apotek Optik
A B C D A B C D Utama
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12=3+,,+11 13 14
1 Pemerintah Pusat
a. Kementerian
1) Kementerian Kesehatan 12 1 6 - 17 2 - - 1 39 19 -
2) Kementerian Pendidikan - 3 1 - 1 - - - - 5 - -
3) Kementerian Pertahanan - - 1 - - - - - - 1 - -
b. TNI
1) Angkatan Laut 1 3 5 10 - 1 - 1 - 21 16 -
2) Angkatan Darat 1 10 27 30 - - - - 1 69 52 -
3) Angkatan Udara - 3 5 9 - 1 - - - 18 10 -
c. Polri 1 4 26 9 - - - - - 40 26 -
2 Pemerintah Daerah
a. Pemerintah Propinsi 6 33 13 23 17 20 7 - 15 134 82 2
b. Pemerintah Kab./Kota 1 122 295 128 - 4 2 2 16 570 420 1
3 Swasta
a. Laba 1 114 450 421 1 10 156 10 164 1.327 1.527 1.014
b. BUMN/BUMD - 4 28 10 - - - - 2 44 236 -
Total 23 297 857 640 36 38 165 13 199 2.268 2.388 1.017

148 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Secara keseluruhan, faskes rujukan tingkat lanjutan
Tabel Peserta Program Rujuk Balik (PRB)
termasuk faskes penunjang (Apotek dan Optik) yang Tahun 2017
telah bekerja sama sebanyak 5.673 faskes. (Jiwa)
No. Jenis Penyakit Realisasi

Manajemen Manfaat dan Utilisasi Pelayanan 1 2 3

1. Manajemen Manfaat dan Utilisasi Pelayanan 1 Diabetes Melitus 350.693

Primer. 2 Hipertensi 366.490

a. Penguatan Sistem Gate Keeper. 3 Jantung 62.362

1) Jumlah Kunjungan dan Rujukan di 4 Asma 18.543

Faskes Tingkat Pertama. 5 Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) 5.489


6 Epilepsi 5.633
a) Data jumlah kunjungan dan rujukan
7 Skizofren 3.275
RJTP per jenis FKTP disajikan pada
8 Stroke 6.126
tabel berikut:
9 Sindroma Lupus Eritromatosus 193
Tabel Jumlah Kunjungan dan Rujukan RJTP per Jenis FKTP Total 818.804
Tahun 2017
Jumlah Jumlah
No. Jenis Faskes b. Pengelolaan Promprev di Faskes Tingkat
Kunjungan Rujukan
1 2 3 4 Pertama.
1 Dokter Praktik Perorangan 16.422.813 1.999.000 Sampai dengan 31 Desember 2017, kegiatan
2 Klinik Polri 1.335.963 267.381 yang telah dilaksanakan yaitu:
3 Klinik Pratama 39.012.419 4.842.327 1) Skrining untuk preventif primer (skrining
4 Klinik TNI 2.385.615 546.674 riwayat kesehatan peserta) terhadap
5 Praktik Dokter Gigi 1.366.156 249.115 782.552 peserta. Jika hasil skrining
6 Puskesmas 89.741.478 10.984.463 mengindikasikan peserta memiliki faktor
7 RS D Pratama 24.035 2.696 risiko Diabetes Melitus Tipe 2 atau
Total 150.288.478 18.891.657 Hipertensi, peserta diedukasi untuk
turut serta dalam Program Prolanis
b) Jumlah kasus RITP sampai dengan (Diabetes Melitus Tipe 2 atau Hipertensi).
31 Desember 2017, sebanyak 2) Skrining untuk preventif sekunder
252,263 kasus yang dilayani di selektif yang dilaksanakan bagi peserta
Puskesmas dan Klinik Pratama. risiko tinggi penyakit kronis. Berdasarkan
hasil skrining riwayat kesehatan dan
2) Program Rujuk Balik (PRB). deteksi kanker leher rahim, telah
Program rujuk balik adalah program dilakukan kegiatan Skrining Lanjutan
dimana FKRTL merujuk kembali peserta Pemeriksaan DM sebanyak 1.644
dengan penyakit kronis yang kondisinya peserta, Skrining IVA sebanyak 238.010
telah stabil yang dapat ditangani oleh peserta dan Pap Smear kepada 315.835
FKTP kepada FKTP yang merujuk peserta.
sebelumnya, dan kemudian dilakukan
rujukan kembali ke FKRTL dalam periode c. Pengelolaan Pembayaran Kapitasi.
waktu 3 bulan setelahnya untuk Sampai dengan 31 Desember 2017, BPJS
dilakukan pemantauan kembali oleh Kesehatan telah membayar biaya kapitasi
dokter spesialis. Jumlah peserta sebesar Rp12,271 triliun atau 90,55% dari
Program Rujuk Balik sampai dengan RKAT 2017. Secara rinci disajikan pada tabel
31 Desember 2017 sebanyak 818,804 berikut:
jiwa disajikan pada tabel berikut:

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 149
Tabel Rincian Pembayaran Kapitasi per Kedeputian Wilayah
Perbandingan RKAT dan Realisasi Tahun 2017
(Juta Rupiah)

No. Kedeputian Wilayah RKAT 2017 Realisasi %

1 2 3 4 5=4/3

1 Sumut dan DI Aceh 1.121.407 969.874 86,49


2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 777.183 759.276 97,70
3 Sumsel, Kep, Babel dan Bengkulu 493.774 440.333 89,18
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 1.906.068 1.806.715 94,79
5 Jabar 1.654.303 1.472.058 88,98
6 Jateng dan DI Yogyakarta 2.136.876 1.920.274 89,86
7 Jatim 1.940.399 1.710.900 88,17
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 519.457 452.490 87,11
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 754.251 689.034 91,35
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 384.476 353.158 91,85
11 Bali, NTT dan NTB 718.946 695.220 96,70
12 Papua dan Papua Barat 304.628 266.558 87,50
13 Banten, Kalbar dan Lampung 839.616 735.162 87,56
Total 13.551.384 12.271.052 90,55

Rincian pembayaran kapitasi per jenis faskes d. Evaluasi Utilisasi.


tingkat pertama sampai dengan 31 Desember Data pemanfaatan pelayanan di faskes
2017, disajikan pada tabel berikut: tingkat pertama dapat disajikan dalam bentuk
rate kunjungan dan rasio rujukan.
Tabel Pembayaran Kapitasi per Jenis FKTP
Tahun 2017 Tabel Rate Kunjungan dan Rasio Rujukan Peserta di FKTP
(Juta Rupiah) Tahun 2017
Jumlah
No. Jenis Faskes Rate Rasio
Pembayaran
No. Jenis Faskes Kunjungan Rujukan
1 2 3 (‰) (%)
1 Dokter Praktik Perorangan 940.036 1 2 3 4
2 Klinik Polri 129.442 1 Dokter Praktik Perorangan 137,96 12,17
3 Klinik Pratama 2.344.489 2 Klinik Polri 89,11 20,01
4 Klinik TNI 187.840 3 Klinik Pratama 170,62 12,41
5 Praktik Dokter Gigi 139.553 4 Klinik TNI 107,32 22,92
6 Puskesmas 8.525.389 5 Praktik Dokter Gigi 14,85 18,23
7 RS D Pratama 4.303 6 Puskesmas 58,96 12,24
Total 12.271.052 7 RS D Pratama 42,90 11,22

150 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
e. Upaya Pencegahan Kecurangan. kecurangan melalui kegiatan audit klaim
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor (FKTP dan FKRTL).
19 Tahun 2016 dan Peraturan Menteri 8) Melakukan Optimalisasi fungsi TKMKB,
Kesehatan Nomor 36 Tahun 2015 perihal DPM, DPK dalam penyelesaian kasus yang
Pencegahan Kecurangan (Fraud) dalam teridentifikasi berpotensi kecurangan (Fraud).
Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan 9) Pengendalian Biaya Pelayanan Kesehatan
Pada Sistem Jaminan Sosial Nasional. Dalam rangka memastikan pelayanan yang
Beberapa upaya yang telah dilaksanakan diberikan kepada peserta JKN adalah
oleh BPJS Kesehatan dalam rangka pelayanan yang berkualitas dengan tetap
pencegahan kecurangan yaitu sebagai mengacu kepada azas efektif dan efisien
berikut: maka upaya yang dilakukan oleh BPJS
1) Penyusunan Peraturan BPJS Kesehatan Kesehatan adalah sebagai berikut:
Nomor 7 Tahun 2016 tentang Sistem a) Melakukan Walk Through Audit (WTA)
Pencegahan Kecurangan (Fraud) dalam kepada peserta atas pelayanan yang
Pelaksanaan Program Jaminan telah diberikan oleh FKTP.
Kesehatan. b) Melakukan supervisi secara berkala
2) Pembentukan Bidang Khusus yang kepada FKTP yang bekerja sama dengan
menangani kecurangan JKN. BPJS Kesehatan berdasarkan kriteria
3) Membentuk Tim Pencegahan yang telah ditetapkan.
Kecurangan Internal di tingkat Cabang, c) Mengimplementasikan sistem
Wilayah dan Kantor Pusat. pembayaran berbasis pemenuhan
4) Mendorong Pembentukan Tim komitmen pelayanan di FKTP (KBK).
Pencegahan Kecurangan FKTP (Dinas d) Mengoptimalkan peran FKTP sebagai
Kesehatan) dan FKRTL. gate keeper, khususnya dalam
5) Melakukan Sosialisasi Pencegahan pelaksanaan sistem rujukan berbasis
Kecurangan baik kepada internal dan kompetensi dan pengelolaan Program
eksternal secara berkala. Rujuk Balik.
6) Mencantumkan Klausul pencegahan e) Melakukan penajaman proses verifikasi
kecurangan pada kontrak kerja sama klaim non kapitasi melalui
antara BPJS Kesehatan dengan Fasilitas pengembangan sistem deteksi
Kesehatan (FKTP dan FKRTL). kecurangan dari proses pengajuan klaim
7) Membangun dan mengembangkan non kapitasi (pra-verifikasi/validasi klaim
sistem pencegahan kecurangan atas non kapitasi).
klaim dari Fasilitas Kesehatan yang f) Melakukan upaya pencegahan
bekerja sama dengan BPJS Kesehatan kecurangan melalui, pelaksanaan audit
(FKTP dan FKRTL). Melakukan deteksi klaim dan audit non klaim.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 151
2. Manajemen Manfaat dan Utilisasi Pelayanan
Rujukan.
a. Pengelolaan Klaim.
1) Pemenuhan SPNM (Standar Pelayanan
Non Medis).

Tabel SPNM Penyelesaian Tagihan Klaim Faskes Lanjutan


Per 31 Desember 2017
Tanggal Diterima Tanggal Dibayar
Jumlah
Faskes 5 hari 6-15 hari ≥ 16 hari
No. Kedeputian Wilayah
Tingkat 1 s/d 10 11 s/d 20 ≥ 21 dari Tgl dari Tgl dari Tgl
Lanjutan Diterima Diterima Diterima

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Sumut dan DI Aceh 30 5 15 10 14 16 -


2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 65 11 41 13 28 37 -
3 Sumsel, Kep, Babel dan Bengkulu 39 2 19 18 30 9 -
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 171 49 98 24 108 63 -
5 Jabar 63 5 46 12 50 13 -
6 Jateng dan DI Yogyakarta 143 8 95 40 115 28 -
7 Jatim 98 13 59 26 59 39 -
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 14 1 13 - 13 1 -
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 13 2 5 6 6 7 -
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 31 9 17 5 18 13 -
11 Bali, NTT dan NTB 31 - 12 19 25 6 -
12 Papua dan Papua Barat 8 1 6 1 8 - -
13 Banten, Kalbar dan Lampung 12 - 8 4 10 2 -
Nasional 718 106 434 178 484 234 -

Penyelesaian tagihan klaim per 31 Desember 18 Oktober 2016 tentang Standar Tarif
2017, dari sebanyak 718 Faskes Lanjutan Pe l aya n a n Ke s e h a t a n d a l a m
diselesaikan dalam waktu 5 sampai dengan Penyelenggaraan Program Jaminan
15 hari kerja. Kesehatan maka perlu dilakukan
penyesuaian aplikasi INA-CBG oleh
2) Laporan Absensi Klaim. Kementerian Kesehatan dan aplikasi
Dengan terbitnya Peraturan Menteri verifikasi oleh BPJS Kesehatan.
Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 tanggal Penyelesaian klaim N-1 pada bulan
23 November 2016 tentang Perubahan pembebanan Desember 2017 mencapai
Peraturan Menteri Kesehatan Republik 51,88%, secara rinci disajikan pada
Indonesia Nomor 52 Tahun 2016 tanggal tabel berikut:

152 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Absensi Klaim per 31 Desember 2017

Klaim > N-2 Klaim N-2 Klaim N-1


No. Kedeputian Wilayah Jumlah
Jml % Jml % Jml %
1 2 3 4 5=4/3 6 7=6/3 8 9=8/3

1 Sumut dan DI Aceh 402 40 9,95 295 73,38 67 16,67


2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 342 27 7,89 132 38,60 183 53,51
3 Sumsel, Kep, Babel dan Bengkulu 194 10 5,15 49 25,26 135 69,59
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 613 30 4,89 236 38,50 347 56,61
5 Jabar 338 32 9,47 101 29,88 205 60,65
6 Jateng dan DI Yogyakarta 655 27 4,12 206 31,45 422 64,43
7 Jatim 555 69 12,43 214 38,56 272 49,01
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kaltara 151 9 5,96 41 27,15 101 66,89
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 303 30 9,90 126 41,58 147 48,51
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan Malut 195 26 13,33 58 29,74 111 56,92
11 Bali, NTT dan NTB 228 36 15,79 88 38,60 104 45,61
12 Papua dan Papua Barat 80 16 20,00 32 40,00 32 40,00
13 Banten, Kalbar dan Lampung 223 32 14,35 97 43,50 94 42,15
Total 4.279 384 8,97 1.675 39,14 2.220 51,88

b. Evaluasi Utilisasi.
1) Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Data pemanfaatan pelayanan di faskes
rujukan tingkat lanjutan disajikan pada
tabel berikut:

Tabel Rate dan Unit Cost Pelayanan di FKRTL


Sampai Dengan 31 Desember 2017
Rate (‰) Unit Cost (Rp,)
No. Tingkat Layanan
RKAT 2017 Realisasi % RKAT 2017 Realisasi %

1 2 3 4 5=4/3 6 7 8=7/6

1 RJTL 26,67 30,08 112,78 305.060 295.555 96,88


2 RITL 4,25 4,07 95,76 4.886.236 4.754.862 97,31

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 153
Sepuluh Kode CBG terbanyak pada tingkat layanan
RJTL menyerap biaya sebesar Rp13,845 triliun atau
58,86% dari total realisasi biaya pelayanan RJTL
(Rp23,524 triliun), dimana kasus terbanyak adalah
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain, dengan rincian sebagai
berikut:

Tabel Sepuluh Kode CBG Terbanyak Pada Tingkat Layanan RJTL


Tahun 2017
No. Kode CBG Nama CBG Jumlah Kasus Biaya (Rp,)
1 2 3 4 5

1 Q-5-44-0 PENYAKIT KRONIS KECIL LAIN-LAIN 35.715.552 7.469.446.533.970


2 M-3-16-0 PROSEDUR THERAPI FISIK DAN PROSEDUR KECIL MUSKULOSKLETAL 4.629.191 543.876.959.600
3 N-3-15-0 PROSEDUR DIALISIS 3.657.691 3.187.270.381.500
4 Q-5-42-0 PENYAKIT AKUT KECIL LAIN-LAIN 2.473.778 478.985.004.500
5 Z-3-27-0 PERAWATAN LUKA 2.080.817 404.733.356.486
6 Z-3-12-0 PROSEDUR REHABILITASI 1.988.399 317.194.853.000
7 Q-5-18-0 KONSULTASI ATAU PEMERIKSAAN LAIN-LAIN 1.800.341 251.610.443.000
8 Z-3-25-0 PROSEDUR ULTRASOUND GINEKOLOGIK 1.510.433 468.764.919.800
9 U-3-16-0 PROSEDUR PADA GIGI 1.367.803 407.656.063.300
10 H-3-12-0 PROSEDUR LAIN-LAIN PADA MATA 1.323.838 315.839.348.200
Total 56.547.843 13.845.377.863.356

Sepuluh Kode CBG terbanyak pada tingkat layanan


RITL menyerap biaya sebesar Rp8,352 triliun atau
17,75% dari total realisasi biaya pelayanan RITL
(Rp47,041 triliun), dimana kasus terbanyak adalah
Operasi Pembedahan Caesar Ringan, dengan rincian
sebagai berikut:

Tabel Sepuluh Kode CBG Terbanyak Pada Tingkat Layanan RITL


Tahun 2017
No. Kode CBG Nama CBG Jumlah Kasus Biaya (Rp,)
1 2 3 4 5

1 O-6-10-I OPERASI PEMBEDAHAN CAESAR RINGAN 548.978 3.012.201.951.403


2 K-4-17-I NYERI ABDOMEN & GASTROENTERITIS LAIN-LAIN (RINGAN) 384.954 657.962.092.400
3 A-4-14-I PENYAKIT INFEKSI BAKTERI DAN PARASIT LAIN-LAIN RINGAN 356.974 906.089.614.745
4 P-8-17-I NEONATAL, BBL GROUP-5 TANPA PROSEDUR MAYOR RINGAN 261.577 1.017.418.264.800
5 O-6-13-I PERSALINAN VAGINAL RINGAN 249.577 439.305.908.600
6 A-4-13-I INFEKSI NON BAKTERI RINGAN 224.592 431.361.562.300
7 K-4-18-I DIAGNOSIS SISTEM PENCERNAAN LAIN-LAIN (RINGAN) 219.675 325.749.271.400
8 L-1-40-I PROSEDUR PADA KULIT, JARINGAN BAWAH KULIT DAN 151.616 699.573.320.597
PAYUDARA RINGAN
9 O-6-13-II PERSALINAN VAGINAL SEDANG 146.486 299.869.448.000
10 J-4-16-I SIMPLE PNEUMONIA & WHOOPING COUGH RINGAN 142.614 562.429.687.400
Total 2.687.043 8.351.961.121.645

154 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
2) Rasio Biaya Manfaat terhadap
Pendapatan Iuran.
Berdasarkan RKAT 2017, ditetapkan
rasio biaya manfaat terhadap pendapatan
iuran sebesar 101,79%. Sampai dengan
31 Desember 2017, rasio biaya manfaat
(termasuk biaya promotif dan preventif)
terhadap pendapatan iuran sebesar
113,74% disajikan pada tabel berikut:

Tabel Rasio Biaya Manfaat terhadap Pendapatan Iuran


Perbandingan RKAT dan Realisasi Tahun 2017
(Juta Rupiah)
RKAT Realisasi
No. Keterangan %
2017 2017
1 2 3 4 5=4/3

1 Pendapatan Iuran 85.690.096 74.246.641 86,65


2 Biaya Manfaat (termasuk Biaya Promprev) 87.220.335 84.444.864 96,82

Rasio Klaim (%) 101,79 113,74

c. Koordinasi Manfaat.
Asuransi Kesehatan Tambahan yang telah
melakukan kerja sama dengan BPJS
Kesehatan sampai dengan 31 Desember
2017 sebanyak 22 Perusahaan Asuransi,
dengan rincian sebagai berikut:

Tabel Asuransi Kesehatan Tambahan yang Bekerja sama


Tahun 2017
Nama Perusahaan Asuransi
1 PT Bosowa Asuransi 12 PT AXA Mandiri Financial Services
2 PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 13 PT Asuransi Sinarmas MSIG
3 PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia 14 PT Asuransi Bintang Tbk
4 PT Victoria Insurance 15 PT FWD Life Indonesia
5 PT Asuransi Jasa Indonesia 16 PT Hanwha Life Insurance Indonesia
6 PT Asuransi Umum Mega 17 PT AXA Financial Indonesias
7 PT Asuransi Ramayana 18 PT Asuransi Tugu Mandiri
8 PT BNI Life Insurance 19 PT Asuransi Takaful Keluarga
9 PT Arthagraha General Insurance 20 PT Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912
10 PT Malacca Trust Wuwungan Insurance 21 PT Citra International Underwriters
11 PT Asuransi Dayin Mitra Tbk 22 PT Asuransi Reliance Indonesia

Sampai dengan 31 Desember 2017, Asuransi Kesehatan PT Asuransi Tugu Mandiri, PT Asuransi Hanwha Life,
Tambahan yang telah mendaftarkan pesertanya PT Asuransi Sinar Mas MSI, PT Asuransi Umum Mega
sebanyak 7 Perusahaan Asuransi yaitu: PT Asuransi dan PT BNI Life Insurance dengan jumlah peserta
Jiwa Mandiri Inhealth, PT Asuransi Reliance Indonesia, sebanyak 412,572 jiwa.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 155
MANAJEMEN PENGAWASAN KEPATUHAN c. Konfirmasi/pengujian hasil analisa data
PESERTA DAN PEMBERI KERJA melalui konfirmasi ke entitas.
d. Membuat laporan pemeriksaan dan
Pengawasan Kepatuhan Peserta dan Pemberi Kerja rekomendasi atas konfirmasi yang diberikan
Selain Penyelenggara Negara. entitas.
Dalam Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 3 Tahun
2014 disebutkan bahwa pemeriksaan dapat dilakukan Konfirmasi/pengujian dugaan ketidakpatuhan
melalui dua mekanisme, yaitu pemeriksaan data dan dilakukan oleh Petugas Pemeriksa BPJS Kesehatan
pemeriksaan lapangan. ke Badan Usaha melalui surat konfirmasi. Badan
1. Pemeriksaan Data. Usaha tersebut diberikan waktu selama 7 hari
Pada pemeriksaan data, Petugas Pemeriksa tidak untuk memberikan konfirmasi terkait registrasi
berkunjung langsung ke tempat pemberi kerja. BU ke BPJS Kesehatan. Perkembangan
Pemeriksaan dilaksanakan oleh Petugas Pemeriksa pelaksanaan pemeriksaan kepatuhan pemberi
di kantor BPJS Kesehatan dengan tahapan: kerja disampaikan melalui tabel berikut:
a. Melakukan pengumpulan data sekunder
yang telah tersedia.
b. Analisa data.

Tabel Pelaksanaan Pemeriksaan Data Kepatuhan Pemberi Kerja


Dalam Melaksanakan Kewajibannya ke BPJS Kesehatan
Tahun 2017
Tindakan Pemeriksaan Atas Jenis Kepatuhan Total
Jumlah Jumlah Total Dalam Progress
No. Kedeputian Wilayah RKPT* Penyampaian Pembayaran Tidak
Pendaftaran Tindakan Temuan Patuh Pemeriksaan
Data Iuran Patuh
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Sumut dan DI Aceh 921 4 61 1 66 63 58 5 3


2 Riau, Kepri, Sumbar 660 5 73 - 78 78 15 63 -
dan Jambi
3 Sumsel, Kep. Babel dan 413 31 1 - 32 19 3 16 13
Bengkulu
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 1,045 2 87 5 94 57 20 37 37
Tangerang, dan Bekasi
5 Jabar 549 51 3 3 57 40 30 10 17
6 Jateng dan DI 885 - - - - - - - -
Yogyakarta
7 Jatim 853 - - - - - - - -
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng 480 11 107 23 141 140 8 132 1
dan Kaltara
9 Sulsel, Sulbar, Sultra 670 2 - 2 4 4 - 4 -
dan Maluku
10 Sulut, Sulteng, 360 - 2 - 2 2 2 - -
Gorontalo dan Malut
11 Bali, NTT dan NTB 660 20 73 4 97 97 4 93 -
12 Papua dan Papua Barat 360 138 22 22 182 145 52 93 37
13 Banten,Kalbar dan 473 - - - - - - - -
Lampung
JUMLAH 8,329 264 429 60 753 645 192 453 108

* Rencana Kegiatan Pemeriksaan Tahunan (RKPT)

156 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Sampai dengan 31 Desember 2017 telah dilakukan dengan rincian, 2 Badan Usaha pada
pemeriksaan data terhadap Badan Usaha yang Kedeputian Wilayah Jawa Tengah dan DI
belum ataupun sudah melakukan registrasi ke Yogyakarta, dan 42 Badan Usaha pada
BPJS Kesehatan, dengan hasil: Kedeputian Wilayah Banten, Kalbar dan
a. Jumlah pemeriksaan data yang dilaksanakan Lampung.
sesuai dengan prosedur pemeriksaan,
setelah dilakukan evaluasi oleh Kedeputian 2. Pemeriksaan Lapangan.
Wilayah, sebanyak 753 Badan Usaha. Pada pemeriksaan lapangan, Petugas Pemeriksa
b. Terdapat 108 Badan Usaha yang sedang langsung memeriksa ke lokasi pemberi kerja.
dalam proses pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan oleh Petugas Pemeriksa
c. Hasil pemeriksaan data yang dilaksanakan BPJS Kesehatan di tempat entitas dengan
oleh Kantor Cabang sebagai berikut: tahapan:
1) 192 Badan Usaha patuh melaksanakan a. Membuat surat pemberitahuan pemeriksaan
kewa j i b a n s e t e l a h d i l a k u k a n lapangan.
pemeriksaan data. b. Mengumpulkan data primer dan sekunder.
2) 453 Badan Usaha tidak patuh dalam c. Melakukan analisa data.
melaksanakan kewajiban dan akan d. Melakukan pengujian data dengan langsung
ditingkatkan menjadi pemeriksaan di tempat entitas.
lapangan. e. Membuat laporan pemeriksaan dan
d. Terdapat penambahan RKPT sebanyak 44 rekomendasi atas hasil pengujian yang
Badan Usaha dari periode sebelumnya dilaksanakan.

Tabel Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan Kepatuhan Pemberi Kerja


Dalam Melaksanakan Kewajibannya ke BPJS Kesehatan
Tahun 2017
Tindakan Pemeriksaan Atas Jenis
Kepatuhan Total Dalam
Jumlah Jumlah Total
No. Kedeputian Wilayah RKPT Tidak Progress
Penyampaian Pembayaran Tindakan Temuan Patuh
Pendaftaran Patuh Pemeriksaan
Data Iuran
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Sumut dan DI Aceh 921 336 376 88 800 756 556 200 44
2 Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi 660 100 608 35 743 635 537 98 108
3 Sumsel, Kep. Babel dan Bengkulu 413 44 342 27 413 252 243 9 161
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, Tangerang, 1.045 203 798 67 1.068 952 665 287 116
dan Bekasi
5 Jabar 549 149 381 46 576 477 363 114 99
6 Jateng dan DI Yogyakarta 885 171 750 19 940 875 646 229 65
7 Jatim 853 215 563 57 835 819 561 258 16
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng dan Kaltara 480 47 342 63 452 386 334 52 66
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan Maluku 670 213 444 106 763 749 606 143 14
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo dan 360 62 219 147 428 410 365 45 18
Malut
11 Bali, NTT dan NTB 660 58 550 50 658 630 581 49 28
12 Papua dan Papua Barat 360 187 40 75 302 279 237 42 23
13 Banten,Kalbar dan Lampung 473 174 355 78 607 365 308 57 242
JUMLAH 8.329 1.959 5.768 858 8.585 7.585 6.002 1.583 1.000

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 157
Sampai dengan 31 Desember 2017 telah dilakukan denda. Sedangkan sanksi penghentian pelayanan
pemeriksaan lapangan sebanyak 8.585 Badan publik tertentu dikenakan oleh Pemerintah/Pemerintah
Usaha. Hasil dari pemeriksaan lapangan yang Daerah atas usulan dari BPJS Kesehatan.
telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a. Terdapat 6.002 Badan Usaha yang patuh Sesuai ketentuan Pasal 13 ayat 1 Peraturan Pemerintah
setelah dilakukan pemeriksaan lapangan. Nomor 86 Tahun 2013 dinyatakan bahwa Pengenaan
b. Terdapat 1.583 Badan Usaha dinyatakan sanksi administratif kepada Pemberi Kerja Selain
tidak patuh setelah dilakukan pemeriksaan Penyelenggara Negara dan setiap orang, selain Pemberi
lapangan. Kerja, Pekerja, dan Penerima Bantuan Iuran yang
c. Terdapat 1.000 Badan Usaha masih dalam memenuhi persyaratan kepersertaan dalam program
progres pemeriksaan. jaminan sosial dilakukan berdasarkan pengawasan
d. Terdapat penambahan RKPT sebanyak 44 dan pemeriksaan atas kepatuhan dalam penyelenggaraan
Badan Usaha dari periode sebelumnya program jaminan sosial.
dengan rincian, 2 Badan Usaha pada
Kedeputian Wilayah Jawa Tengah dan DI 1. Pengenaan Sanksi Administratif atas Hasil
Yogyakarta, dan 42 Badan Usaha pada Pemeriksaan Data terhadap Ketidakpatuhan
Kedeputian Wilayah Banten, Kalbar dan Pendaftaran dan Penyampaian Data.
Lampung. Sampai dengan 31 Desember 2017 BPJS
Kesehatan mengenakan sanksi administratif
Pengenaan Sanksi Administratif berupa teguran tertulis pertama dan kedua, denda
BPJS Kesehatan berwenang memberikan sanksi adminsitratif dan usulan tidak mendapatkan
administratif bagi Pemberi Kerja selain Penyelenggara pelayanan publik tertentu bagi Badan Usaha yang
Negara yang tidak patuh dengan kewajibannya dalam dinyatakan tidak patuh dalam melaksanakan
penyelenggaraan Jaminan Sosial sebagaimana diatur kewajiban pada pelaksanaan program Jaminan
oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Kesehatan Nasional oleh Petugas Pemeriksa
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Sanksi BPJS Kesehatan setelah dilakukan pemeriksaan
administratif yang dikenakan oleh BPJS Kesehatan data.
tersebut berupa teguran tertulis dan pengenaan

158 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Pengenaan Sanksi Administratif atas Hasil Pemeriksaan Data
Tahun 2017
Pengenaan Sanksi Administratif Tahun 2017

Ditindaklanjuti Dengan Pengenaan Sanksi Administratif Atas


Ketidakpatuhan Pendaftaran dan Penyampaian Data Jumlah
Total Tidak Patuh Tidak Patuh Penerbitan
No. Kedeputian Wilayah Usulan tidak Sanksi
Patuh (melaksanakan (belum Surat Kuasa
mendapat Pidana pasal
Teguran Teguran Denda rekomendasi melaksanakan Khusus (SKK)
pelayanan 55
Tertulis 1 Tertulis 2 Administratif pemeriksaan) Rekomendasi)
publik
tertentu
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Sumut dan DI Aceh 5 - - - - - - - -
2 Riau, Kepri, Sumbar dan 63 - - - - - - - -
Jambi
3 Sumsel, Kep. Babel dan 16 - - - - - - - -
Bengkulu
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 37 - - - - - - - -
Tangerang, dan Bekasi
5 Jabar 10 - - - - - - - -
6 Jateng dan DI Yogyakarta - - - - - - - - -
7 Jatim - - - - - - - - -
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng dan 132 - - - - - - - -
Kaltara
9 Sulsel, Sulbar, Sultra dan 4 - - - - - - - -
Maluku
10 Sulut, Sulteng, Gorontalo - - - - - - - - -
dan Malut
11 Bali, NTT dan NTB 93 - - - - - - - -
12 Papua dan Papua Barat 93 20 - - - - 18 - -
13 Banten,Kalbar dan Lampung - - - - - - - - -
JUMLAH 453 20 - - - - 18 - -

Dari 453 Badan Usaha yang dinyatakan tidak patuh Belum adanya pengenaan sanksi teguran II, denda
dalam melaksanakan kewajiban setelah dilaksanakan administratif, usulan tidak mendapatkan pelayanan
pemeriksaan data, telah dikenakan sanksi administratif publilk tertentu dan seterusnya terhadap Badan usaha
adalah sebagai berikut: yang tidak patuh dalam metode pemeriksaan data
a. Sanksi administratif teguran sebanyak 20 Badan dikarenakan akan di tingkatkan menjadi pemeriksaan
Usaha. dengan metode pemeriksaan lapangan.
b. Belum ada BU yang dikenakan sanksi teguran
tertulis II. Sanksi administratif dikenakan secara sekuensial
c. Belum ada BU yang dikenakan sanksi administratif (berurutan) sesuai dengan ketentuan Peraturan
denda 0,1%. Pemerintah Nomor 86 Tahun 2013 tentang Tata Cara
d. Belum ada BU yang dikenakan sanksi administratif, Pengenaan Sanksi Administratif kepada Pemberi Kerja
usulan tidak mendapat pelayanan publik tertentu. selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang, selain
e. Badan Usaha patuh melakukan rekomendasi Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima Bantuan Iuran
atas pengenan sanksi administratif tersebut di dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial dan Peraturan
atas sebanyak 18 Badan Usaha. Direksi Nomor 15 Tahun 2017 tentang Tata Cara

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 159
Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pemberi 2. Pengenaan Sanksi Administratif atas Hasil
Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang Pemeriksaan Lapangan.
selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima Bantuan Sampai dengan 31 Desember 2017 BPJS
Iuran serta Upaya Penegakan Hukum Lain bagi Pemberi Kesehatan telah mengenakan sanksi administratif,
Kerja selain Penyelenggara Negara dalam berupa teguran tertulis pertama dan kedua, denda
Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional. adminsitratif dan usulan tidak mendapatkan
Sanksi administratif berupa denda 0,1% tetap berjalan pelayanan publik tertentu, kepada Badan Usaha
perhitungannya sampai Pemberi Kerja melaksanakan yang dinyatakan tidak patuh dalam melaksanakan
kewajibannya. kewajiban dalam program Jaminan Kesehatan
Nasional oleh Petugas Pemeriksa BPJS Kesehatan
setelah dilakukan pemeriksaan lapangan.

Tabel Pengenaan Sanksi Administratif atas Hasil Pemeriksaan Lapangan


Tahun 2017
Pengenaan Sanksi Administratif Tahun 2017
Ditindaklanjuti Dengan Pengenaan Sanksi Administratif Atas
Ketidakpatuhan Pendaftaran dan Penyampaian Data Patuh Tidak Patuh Jumlah
Total Tidak Sanksi
No. Kedeputian Wilayah (melaksanakan (belum Penerbitan
Patuh Usulan tidak Pidana
rekomendasi melaksanakan SKK
Teguran Teguran Denda mendapat pasal 55
Tertulis 1 Tertulis 2 Administratif pelayanan pemeriksaan) Rekomendasi)
publik tertentu
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Sumut dan DI Aceh 200 56 121 1 - - 41 - -
2 Riau, Kepri, Sumbar dan 98 45 36 2 2 - 61 - 10
Jambi
3 Sumsel, Kep. Babel dan 9 7 - - - - 1 - -
Bengkulu
4 DKI Jkt, Bogor, Depok, 287 125 110 12 7 - 180 1 14
Tangerang, dan Bekasi
5 Jabar 114 70 34 6 2 - 54 - 3
6 Jateng dan DI 229 86 98 21 6 - 99 7 5
Yogyakarta
7 Jatim 258 112 72 27 16 - 148 3 12
8 Kaltim, Kalsel, Kalteng 52 26 8 11 - - 27 - 5
dan Kaltara
9 Sulsel, Sulbar, Sultra 143 48 36 17 - - 56 - -
dan Maluku
10 Sulut, Sulteng, 45 13 7 4 4 - 21 - 17
Gorontalo dan Malut
11 Bali, NTT dan NTB 49 32 5 8 1 - 33 - 3
12 Papua dan Papua Barat 42 18 12 - - - 22 - -
13 Banten,Kalbar dan 57 12 4 3 3 - 30 - 23
Lampung
Jumlah 1.583 650 543 112 41 - 773 11 92

160 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Dari 1.583 Badan Usaha yang dinyatakan tidak patuh 5. Indeks kepuasan Fasilitas Kesehatan sebesar 75,7%.
dalam melaksanakan kewajiban setelah dilaksanakan 6. Indeks engagement Fasilitas Kesehatan sebesar
pemeriksaan lapangan, telah dikenakan sanksi 80,5%.
administratif adalah sebagai berikut: 7. Indeks Loyalitas Fasilitas Kesehatan sebesar
a. Teguran tertulis I sebanyak 650 Badan Usaha. 80,8%.
b. Teguran tertulis II sebanyak 543 Badan Usaha. 8. Net Promoter Score Fasilitas Kesehatan sebesar
c. Denda Administratif sebanyak 112 Badan Usaha. 20,8%.
d. Usulan tidak mendapat pelayanan publik tertentu 9. Indeks kepuasan Badan Usaha Prima adalah 76,4%.
sebanyak 41 Badan Usaha.
e. Badan Usaha yang patuh melakukan rekomendasi Pengukuran Kualitas Pelayanan Fasilitas Kesehatan
atas pengenaan sanksi administratif sebanyak Kajian ini dilakukan untuk menghasilkan nilai indeks
773 Badan Usaha. kualitas pelayanan fasilitas kesehatan tahun 2017,
f. Badan Usaha yang tidak patuh melakukan dengan hasil sebagai berikut:
rekomendasi atas pengenaan sanksi administratif 1. Indeks Kualitas Layanan Fasilitas Kesehatan
sebanyak 11 Badan Usaha. dengan pendekatan Donabedian variabel
g. Badan Usaha yang di terbitkan SKK ke Kejaksaan disesuaikan dengan perhitungan-perhitungan
sejumlah 92 Badan Usaha (29 SKK terkait tahun sebelumnya menunjukan nilai sebesar
ketidakpatuhan pendaftaran dan penyampaian 76,88%.
data dan 63 SKK terkait ketidakpatuhan terkait 2. Indeks Kualitas Layanan Fasilitas Kesehatan
pembayaran iuran). dengan pendekatan Donabedian namun dilakukan
perhitungan pembobotan dengan menggunakan
Principle Component Analysis (PCA) menunjukan
KUALITAS LAYANAN nilai indeks sebesar 80,18%.
3. Indeks Kualitas Layanan Fasilitas Kesehatan
BPJS Kesehatan terus mengembangkan berbagai dengan pendekatan Malcolm Baldrige dengan
terobosan dan inovasi untuk meningkatkan kualitas menggunakan indikator dan pembobotan baru
pelayanan peserta. Hal tersebut dapat diukur melalui: (PCA) menunjukan nilai sebesar 79,94%.

Survei Kepuasan Peserta dan Fasilitas Kesehatan


Survei ini dilakukan dengan tujuan diperolehnya Indeks
Kepuasan Peserta, Indeks Kepuasan Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama, Indeks Kepuasan Fasilitas Kesehatan
Tingkat Rujukan, Indeks Engagement Peserta, Indeks
Engagement Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
dan Indeks Engagement Fasilitas Kesehatan Tingkat
Rujukan. Hasil survei kepuasan peserta dan fasilitas
kesehatan tahun 2017 sebagai berikut:
1. Indeks kepuasan Peserta sebesar 79,5%.
2. Indeks engagement Peserta sebesar 78,7%.
3. Indeks Loyalitas Peserta sebesar 81,3%.
4. Net Promoter Score Peserta sebesar 20,2%.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 161
ASPEK KEUANGAN
DANA JAMINAN SOSIAL
KESEHATAN (DJS)
PENDAPATAN IURAN
Pendapatan iuran yang telah dibukukan sampai dengan
31 Desember 2017 (Audited) mencapai Rp74,247
triliun atau 86,65% dari RKAT 2017. Secara rinci
disajikan pada tabel berikut:

Tabel Pendapatan Iuran


Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi s.d. Realisasi s.d.
No. Jenis Iuran 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4

A Penerima Bantuan Iuran (PBI) 24.814.348 25.502.424 25.362.816 102,21 99,45


B Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI)
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Pemerintah 13.750.251 14.660.062 13.820.774 100,51 94,28

b. PPU Badan Usaha 17.826.776 28.707.685 21.490.531 120,55 74,86


Sub Total 1 31.577.027 43.367.747 35.311.306 111,83 81,42
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 5.726.023 10.382.858 6.716.609 117,30 64,69

3. Bukan Pekerja 1.622.292 1.799.501 1.650.705 101,75 91,73


Sub Total B 38.925.342 55.550.106 43.678.620 112,21 78,63
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemda 3.664.322 4.637.566 5.205.205 142,05 112,24
Total (A+B+C) 67.404.011 85.690.096 74.246.641 110,15 86,65

Dibandingkan dengan RKAT 2017, pendapatan iuran 3. Iuran PPU Badan Usaha tercapai sebesar 74,86%
per segmen peserta dijelaskan sebagai berikut: dari target RKAT 2017, sejalan dengan capaian
1. Iuran PBI tercapai sebesar Rp25,363 triliun atau kepesertaan PPU Badan Usaha yang meliputi
99,45% dari RKAT 2017. Upaya yang telah dilakukan BUMN, BUMD, WNA dan swasta lainnya.
untuk meningkatkan pendapatan iuran PBI antara 4. Iuran PBPU tercapai sebesar 64,69% dari target
lain dengan melakukan rekonsiliasi secara rutin RKAT 2017. Sampai dengan 31 Desember 2017,
data kepesertaan dan iuran bersama Kementerian peserta PBPU belum secara patuh melakukan
Sosial dan Kementerian Kesehatan. pembayaran iuran sesuai dengan ketentuan. Hal
2. Iuran PPU Pemerintah tercapai sebesar 94,28% ini mengakibatkan tingginya jumlah peserta PBPU
dari RKAT 2017, antara lain karena kenaikan gaji yang diberhentikan sementara jaminan
berkala dan kenaikan pangkat (acres) yang dalam kesehatannya.
RKAT 2017 diasumsikan sebesar 3,1% per tahun, 5. Iuran Penduduk yang didaftarkan oleh Pemda
realisasinya berkisar antara 2%-2,5% per tahun. tercapai sebesar 112,24% dari RKAT 2017.
Untuk meningkatkan akurasi data iuran, BPJS
Kesehatan secara triwulanan melakukan kegiatan
rekonsiliasi dengan Pemerintah Daerah dan
Kementerian Keuangan.

164 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Adapun rincian piutang iuran per 31 Desember 2017
(Audited) adalah sebagai berikut:

Tabel Rincian Piutang Iuran per Segmen Peserta


Perbandingan RKAT 2017 dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi per
No. Piutang Iuran 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
A Penerima Bantuan Iuran (PBI) - - - - -
B Bukan Penerima Bantuan Iuran (Bukan PBI)
1. Pekerja Penerima Upah (PPU)
a. PPU Pemerintah 632.476 766.619 362.468 57,31 47,28

b. PPU Badan Usaha 504.064 1.170.105 664.539 131,84 56,79


Sub Total 1 1.136.540 1.936.723 1.027.007 90,36 53,03
2. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 2.039.162 4.016.158 1.796.346 88,09 44,73

3. Bukan Pekerja 62.138 - 14.905 23,99 -


Sub Total B 3.237.839 5.952.881 2.838.257 87,66 47,68
C Penduduk yang didaftarkan oleh Pemda 260.302 452.419 81.912 31,47 18,11
Piutang Iuran Bruto (A+B+C) 3.498.141 6.405.300 2.920.170 83,48 45,59
D Cadangan Penurunan Nilai (1.726.417) (2.894.758) (2.101.942) 121,75 72,61
Piutang Iuran Neto (C+D) 1.771.724 3.510.542 818.228 46,18 23,31

BIAYA MANFAAT DAN BIAYA LAYANAN


JAMINAN SOSIAL
Realisasi biaya manfaat (termasuk biaya promotif dan
preventif) sampai dengan 31 Desember 2017 (Audited)
sebesar Rp84,445 triliun (96,82% dari RKAT 2017),
dengan rincian sebagai berikut:

Tabel Biaya Manfaat


Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Realisasi s.d. Realisasi s.d.


No. Jenis Tingkat Pelayanan 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)

1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4

1 RJTP 12.308.391 14.458.933 12.777.198 103,81 88,37


2 RITP 768.245 1.304.417 894.548 116,44 68,58
3 RJTL 16.539.205 22.320.772 23.524.143 142,23 105,39
4 RITL 37.489.605 48.718.253 47.041.265 125,48 96,56
5 Promotif dan Preventif 142.438 417.960 207.709 145,82 49,70
Total 67.247.884 87.220.335 84.444.864 125,57 96,82

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 165
Realisasi komponen biaya manfaat dijelaskan sebagai menyebabkan tertundanya pembayaran
berikut: pelayanan promotif preventif. Namun
1. Biaya RJTP terealisasi sebesar 88,37% dari RKAT demikian, pembayaran tetap dilakukan secara
2017 antara lain disebabkan oleh belum tercapainya manual sampai proses penyusunan aplikasi
target peserta yang diasumsikan masuk hingga selesai.
bulan Desember 2017 (pencapaian jumlah peserta b. Dalam upaya optimalisasi pemanfaatan
hingga 31 Desember 2017 adalah sebesar 93,19% promotif preventif serta meningkatkan
dari RKAT 2017). awareness peserta dalam hal promosi
2. Biaya RITP terealisasi sebesar 68,58% dari RKAT kesehatan, dilaksanakan beberapa kegiatan
2017 antara lain karena perilaku FKTP yang promotif preventif secara serentak seperti
cenderung melakukan penagihan klaim non Mobile Screening Day pada bulan Februari
kapitasi secara kumulatif untuk beberapa bulan 2017. Bulan Deteksi Dini Kanker Serviks
sekaligus, terutama untuk FKTP yang lokasinya pada bulan April 2017 dan Gebyar Prolanis
jauh dari Kantor BPJS Kesehatan, dengan alasan pada bulan Mei 2017. Kegiatan tersebut
kondisi geografis. dilaksanakan bersinergi dengan Organisasi
3. Biaya RJTL dan RITL masing-masing adalah Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE
105,39% dan 96,56% dibandingkan RKAT 2017. KK), Kementerian Kesehatan dan pemangku
Tingginya biaya pelayanan kesehatan pada RJTL kepentingan lainnya sebagai bentuk kemitraan
dan RITL antara lain karena masih tingginya strategis dalam meningkatkan pemahaman
utilization rate di bulan Desember, yaitu 30,08‰ peserta dalam pelayanan promotif preventif.
pada RJTL dan 4,07‰ pada RITL. Pada RJTL, c. Peningkatan awareness pelaksanaan promotif
tingginya utilization rate terutama terjadi pada preventif.
segmen peserta PBPU (78,88‰) dan BP Salah satu upaya dalam peningkatan
(135,53‰). Pada segmen RITL tingginya utilization kesadaran hidup sehat melalui kegiatan
rate terjadi pada segmen PBPU (9,12‰) dan BP kegiatan promotif dan preventif, telah
(8,74‰). Untuk mengendalikan biaya manfaat, dilaksanakan launching kegiatan sosialisasi
dilakukan berbagai upaya antara lain optimalisasi kepada anak usia sekolah pada 13 Sekolah
rujukan berjenjang, audit klaim, dan lain sebagainya. Dasar terpilih di seluruh Indonesia pada
4. Biaya Promotif dan Preventif sebesar 49,70% bulan Juli 2017 dengan agenda yaitu olahraga
dari RKAT 2017. Beberapa kegiatan promotif bersama, penyampaian materi promotif dan
preventif dilakukan sepanjang tahun, antara lain: preventif dan edukasi serta pemeriksaan
(i) Skrining Riwayat Kesehatan-Skrining Preventif kesehatan.
Primer, (ii) Skrining Preventif Sekunder, terdiri d. Kegiatan sinergi upaya promotif preventif
dari Skrining Lanjutan DM, Skrining IVA/Pap dengan lintas Instansi/Kementerian dalam
Smear, dan Krioterapi, (iii) Implementasi Prolanis, rangka optimalisasi dan GERMAS seperti
terdiri dari: Edukasi Peserta Prolanis, Senam olahraga sehat, deteksi dini kanker serviks
Prolanis, Pemeriksaan Penunjang (HbA1C, Kimia dan pemberian informasi kesehatan melalui
Darah dan GDP/GDPP) dan SMS Gateway media banyak dilaksanakan pada periode
(Reminder), dan (iv) Program Promotif Preventif semester II, sehingga biaya baru terealisasi
Spesifik Daerah. Berkenaan dengan realisasi di akhir tahun 2017.
biaya promotif dan preventif yang belum optimal, e. Program Promotif Preventif Spesifik Daerah
beberapa faktor yang menjadi penyebab yaitu: (PPSD).
a. Penyempurnaan aplikasi penagihan pelayanan
promotif preventif masih dalam proses yang

166 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
KINERJA INVESTASI DJS
Dana Investasi
Realisasi dana investasi DJS per 31 Desember 2017 (Audited)
adalah sebesar Rp153,814 miliar, tercapai sebesar 91,20%
dibandingkan RKAT 2017. Secara rinci disajikan pada tabel
berikut:

Tabel Dana Investasi DJS


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017, dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi per
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
1 Deposito
a. Deposito on Call 290.000 - 6.170 2,13 -
b. Deposito Berjangka 5.050.000 - - - -
Subtotal 5.340.000 - 6.170 0,12 -
2 Obligasi 254.466 168.647 147.644 58,02 87,55
Jumlah 5.594.466 168.647 153.814 2,75 91,20

Profil jatuh tempo berdasarkan dana investasi DJS disajikan


sebagai berikut:

Tabel Profil Jatuh Tempo Portofolio DJS


Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
No. Jenis Investasi < 1 Bulan < 1 Tahun > 1 Tahun Total
1 2 3 4 5 6=3+4+5
1 Bank BUMN/BUMD - - - -
2 Bank Swasta/Syariah 6.170 - - 6.170
3 SUN - - - -
4 Obligasi Korporasi - 126.326 21.317 147.644
Total Investasi DJS 6.170 126.326 21.317 153.814

Instrumen investasi DJS berjangka waktu kurang dari 1. Portofolio Deposito per 31 Desember 2017
1 tahun adalah deposito dan instrumen obligasi tercapai sebesar Rp6,170 miliar pada Deposito
korporasi sebesar Rp132,496 miliar dan yang berjangka on Call (DOC). Pemerintah masih mempertahankan
waktu lebih dari 1 tahun adalah instrumen obligasi tingkat suku bunga BI 7-day Reversed Repo Rate
korporasi sebesar Rp21,317 miliar. Dibandingkan sebesar 4,25 yang menjadi acuan tingkat suku
dengan RKAT 2017, penjelasan masing-masing bunga simpanan. Rincian penempatan Deposito
instrumen diuraikan sebagai berikut: Dana Jaminan Sosial disampaikan pada tabel
berikut.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 167
Tabel Rincian Penempatan Deposito DJS
Per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Deposito Deposito Jumlah Deposito % Terhadap
No. Bank
Berjangka on Call dan DOC Portofolio
1 2 3 4 5=3+4 6
1 Bank BTPN - 1.780 1.780 1,16
2 Bank Kesejahteraan Ekonomi - 4.390 4.390 2,85
Jumlah Deposito - 6.170 6.170 4,01
Total Portofolio 153.814

2. Obligasi per 31 Desember 2017 adalah sebesar Rp147,644 miliar dengan selisih kurs obligasi
Rp147,644 miliar atau 87,55% dari RKAT 2017, sebesar Rp5,459 miliar.
dengan keseluruhan komposisi instrumen berupa
obligasi korporasi. Obligasi DJS seluruhnya berasal Pendapatan Investasi dan Pendapatan Lainnya
dari pengalihan obligasi PT Askes (Persero) dan 1. Pendapatan Investasi.
obligasi korporasi milik DJS tersebut masuk Sampai dengan 31 Desember 2017, hasil investasi
dalam kategori diperdagangkan (TS). Adanya bruto DJS adalah Rp150,941 miliar atau 113,43%
perubahan harga pasar obligasi akan mempengaruhi dari RKAT 2017. Secara rinci disajikan pada tabel
valuasi portofolio obligasi yang dimiliki. Pada berikut:
Desember 2017 harga pasar obligasi DJS

168 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Tabel Pendapatan Investasi DJS
Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017, dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi s.d. Realisasi s.d.
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
1 Bunga Deposito 44.271 92.626 125.582 283,67 135,58
2 Diskonto/Kupon Obligasi 30.977 16.216 19.041 61,47 117,42
3 Keuntungan Pelepasan Investasi 14.101 - 859 6,09 -
4 Selisih Penilaian Investasi 21.693 24.232 5.459 25,17 22,53
Hasil Investasi Bruto 111.041 133.074 150.941 135,93 113,43
5 Biaya Investasi (14.018) (22.195) (28.216) 201,28 127,13
Hasil Investasi Neto 97.023 110.879 122.725 126,49 110,68

Penjelasan secara rinci dapat disampaikan sebagai 2. Pendapatan Lainnya.


berikut: Pendapatan lainnya sampai dengan 31 Desember
a. Pendapatan bunga deposito total tercapai 2017 terealisasi sebesar Rp220,237 miliar.
135,58% dari RKAT 2017 atau sebesar Pendapatan lainnya terdiri dari pendapatan jasa
Rp125,582 miliar merupakan akumulasi giro sebesar Rp29,258 miliar, dan pendapatan
hasil penempatan deposito/deposito on call lain-lain sebesar Rp190,979 miliar.
sampai dengan tanggal pelaporan.
b. Diskonto/kupon obligasi tercapai 117,42% Beban Investasi
dari RKAT 2017 atau sebesar Rp19,041 miliar Beban investasi sebesar Rp28,216 miliar atau mencapai
merupakan akumulasi pendapatan kupon 127,13% bila dibandingkan dengan RKAT 2017. Beban
obligasi sampai dengan tanggal pelaporan. investasi ini merupakan biaya atas pajak bunga deposito
c. Keuntungan pelepasan investasi sebesar sebesar 20% dan pajak kupon obligasi sebesar 15%
Rp859 juta merupakan hasil penjualan serta biaya-biaya transaksi investasi lainnya. Berdasarkan
Obligasi Korporasi. PSAK Nomor 50 dan 55 Pendapatan Investasi dicatat
d. Selisih penilaian investasi atas harga pasar secara bruto, sedangkan pajak dan biaya transaksi
obligasi dibandingkan dengan harga perolehan investasi dicatat terpisah dari pendapatan investasinya,
obligasi sebesar Rp5,459 miliar. Sebagai dengan rincian sebagai berikut:
instrumen TS (Trading Securities) maka 1. Pajak atas bunga deposito Rp25,116 miliar.
obligasi dinilai dengan harga pasar pada 2. ­Pajak atas kupon & capital gain obligasi Rp3,099
tanggal pelaporan. miliar.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 169
Yield on Invesment (YOI)
Berdasarkan posisi dana, pendapatan dan beban
investasi di atas, maka Yield on Investment (YOI) DJS
sampai dengan 31 Desember 2017 sebesar 9,78%
(bruto) dan 7,93% (neto) disajikan pada tabel berikut:

Tabel Yield on Investment DJS Kesehatan


Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Pend. Inv. Bruto Pend. Inv. Neto Realisasi YOI Target YOI %
Rata2
No. Bulan s.d. Bln s.d. Bln
Bln N Bln N Portofolio Bruto Neto Bruto Neto Bruto Neto
N N
1 2 3 4 5 6 7 8=4/7 9=6/7 10 11 12=8/10 13=9/11

1 Januari 36.214 36.214 28.746 28.746 5.201.963 0,70 0,55 0,46 0,37 152,57 148,48
2 Februari 65.092 28.878 52.087 23.341 4.145.076 0,70 0,56 0,47 0,39 147,07 145,07
3 Maret 89.513 24.421 71.936 19.848 3.346.184 0,73 0,59 0,48 0,39 151,89 150,21
4 April 108.089 18.576 87.923 15.987 2.734.111 0,68 0,58 0,49 0,40 138,82 144,80
5 Mei 127.666 19.577 103.672 15.750 1.988.224 0,98 0,79 0,50 0,42 196,27 190,41
6 Juni 133.003 5.337 107.885 4.213 1.009.483 0,53 0,42 0,52 0,43 101,86 96,32
7 Juli 135.138 2.135 109.391 1.506 255.310 0,84 0,59 0,54 0,46 153,51 128,56
8 Agustus 140.623 5.485 114.300 4.909 265.966 2,06 1,85 0,56 0,47 367,78 388,60
9 September 143.406 2.784 116.705 2.405 221.222 1,26 1,09 0,56 0,48 223,83 227,98
10 Oktober 144.874 1.467 117.656 950 148.510 0,99 0,64 0,66 0,58 149,45 111,12
11 November 147.302 2.428 119.873 2.217 1.906.776 0,13 0,12 0,96 0,87 13,25 13,30
12 Desember 150.941 3.639 122.725 2.852 1.909.441 0,19 0,15 1,47 1,38 12,95 10,84
YOI Year to Date s.d. 31 Desember 2017 9,78 7,93 7,68 6,65 127,29 119,32

Sedangkan perhitungan YOI DJS per instrumen bulan


Desember 2017 (Audited) adalah sebagai berikut:

Tabel Perhitungan Yield on Investment (YOI) per Instrumen DJS Kesehatan


Bulan Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Hasil Hasil Selisih


Portofolio Portofolio Rata-rata
No. Uraian Investasi Investasi Hasil YOI (%)
Awal Akhir Portofolio
Awal Akhir Investasi
1 2 3 4 5 6 7 8=7-6 9=8/5

1 Deposito 3.516.350 6.170 1.761.260 122.006 125.582 3.575 0,20

2 Obligasi / SPH 148.718 147.644 148.181 17.903 19.041 1.138 0,77

3 Keuntungan Pelepasan Investasi - - - 859 859 - -

4 Selisih Penilaian Investasi - - - 6.534 5.459 (1.075) -

5 Jumlah Bruto 3.665.068 153.814 1.909.441 147.302 150.941 3.639 0,19

6 Beban Investasi - - - (27.429) (28.216) (786) -

7 Jumlah Neto 3.665.068 153.814 1.909.441 119.873 122.725 2.852 0,15

170 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
BEBAN OPERASIONAL DAN BEBAN Beban Lainnya
LAINNYA Sampai dengan 31 Desember 2017 (Audited) tercatat
realisasi beban lain-lain (di luar beban investasi) sebesar
Beban Operasional Rp421,411 miliar.
Realisasi beban operasional sampai dengan 31
Desember 2017 (Audited) sebesar Rp3,809 triliun
(89,64% dari RKAT 2017). Pada tahun 2017, persentase LAPORAN AKTIVITAS DANA JAMINAN
beban operasional adalah sebesar 5,12% dari iuran SOSIAL
yang diterima sesuai dengan Peraturan Menteri Pada tahun 2017 DJS Kesehatan membukukan aset
Keuangan Republik Indonesia Nomor 209/PMK.02/2016 neto negatif tahun berjalan sebesar Rp14,464 triliun
tentang Besaran Persentase Dana Operasional BPJS dan secara kumulatif sebesar negatif Rp23,025 triliun
Kesehatan Tahun 2017. atau 127,28% dari RKAT 2017. Secara rinci disajikan
pada tabel berikut:

Tabel Laporan Aktivitas Dana Jaminan Sosial


Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Realisasi s.d. Realisasi s.d.


No. Uraian RKAT 2017 %
31 Desember 2016 31 Desember 2017

1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4

A Pendapatan
1. Pendapatan Iuran 76.133.820 85.690.096 74.246.641 97,52 86,65
2. Bantuan dari Pemerintah - - 3.600.000 - -
3. Pendapatan Lain-lain 176.495 355.402 506.449 286,95 142,50
Jumlah Pendapatan 76.310.315 86.045.498 78.353.090 102,68 91,06
B Beban
1. Beban Jaminan Kesehatan 67.247.884 87.220.335 84.444.864 125,57 96,82
2. Beban Cadangan Teknis 4.041.990 2.242.266 4.113.837 101,78 183,47
3. Beban Operasional BPJS 3.625.662 4.249.686 3.809.233 105,06 89,64
4. Beban Lainnya 886.345 1.232.867 449.627 50,73 36,47
Jumlah Beban 75.801.881 94.945.154 92.817.560 122,45 97,76
C Perubahan Aset Neto 508.434 (8.899.656) (14.464.470) (2.844,90) 162,53
D Aset Neto Awal Periode (9.069.216) (9.189.945) (8.560.782) 94,39 93,15
E Aset Neto Akhir Periode (8.560.782) (18.089.602) (23.025.252) 268,96 127,28

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 171
Untuk mengendalikan laju negatif aset neto DJS yang ditujukan untuk memberikan informasi
Kesehatan, telah dilakukan berbagai upaya antara dan sosialisasi tentang implementasi JKN-
lain: KIS kepada para pemangku kepentingan.
1. Upaya dalam Fungsi Pengumpulan Dana (Revenue
Collection). 3. Upaya dalam Fungsi Pembelian Manfaat
a. Meningkatkan kepastian dan kemudahan (Purchasing).
pembayaran iuran melalui perluasan jenis Meningkatkan efektivitas dan efisiensi fasilitas
dan jumlah channel pembayaran. kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada
b. Mengoptimalkan penagihan iuran kepada peserta, dilakukan berbagai upaya pengendalian
peserta dan pemberi kerja melalui berbagai pemanfaatan pelayanan kesehatan melalui
cara. berbagai program, antara lain:
c. Mengoptimalkan rekosiliasi iuran dengan a. Pada pelayanan tingkat pertama, yaitu:
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. menurunkan angka rujukan non spesialistik,
d. Membina peran aktif Kader JKN-KIS melalui optimalisasi Program Rujuk Balik (PRB),
kemitraan pihak ketiga dengan pola kerja penerapan sistem rujukan berjenjang,
sama dan pertanggungjawaban yang jelas. optimalisasi Rawat Inap Tingkat Pertama
e. Melakukan sosialisasi untuk meningkatkan (RITP) dan optimalisasi persalinan di FKTP.
kesadaran masyarakat untuk membayar b. Pada pelayanan rujukan, yaitu: pengendalian
iuran secara rutin. severity level di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjutan (FKTL), peningkatan ketajaman
2. Upaya dalam Fungsi Pengumpulan Risiko (Risk verifikator dalam pencegahan potensi fraud
Pooling). dan optimalisasi audit medis dan audit klaim.
a. Mempercepat proses rekrutmen peserta
potensial khususnya dari segmen peserta Untuk mengendalikan negatif aset neto tersebut,
PPU Badan Usaha. pada tahun 2017 Pemerintah juga telah memberikan
b. Memobilisasi peran strategis kelembagaan suntikan dana dalam bentuk belanja negara sebesar
baik pemerintah maupun non pemerintah Rp3,600 triliun yang telah terealisasi pada bulan
untuk menggerakkan partisipasi dan peran November 2017. Belanja negara tersebut telah
serta masyarakat agar sadar untuk memiliki digunakan untuk menambah aset neto dan memenuhi
JKN. kebutuhan likuiditas DJS Kesehatan dalam rangka
c. Menerapkan law enforcement bagi peserta menjaga kesinambungan pembayaran kepada fasilitas
atau badan usaha yang melanggar ketentuan. kesehatan yang bekerja sama dalam melayani peserta
d. Melakukan promosi melalui berbagai media program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
baik above the line maupun below the line

172 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
LAPORAN POSISI KEUANGAN DANA
JAMINAN SOSIAL
Per 31 Desember 2017 jumlah aset DJS (Audited)
mencapai Rp1,202 triliun atau 62,08% dari RKAT 2017.
Secara rinci disajikan pada tabel berikut:

Tabel Laporan Posisi Keuangan Dana Jaminan Sosial


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited), RKAT 2017,
dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi per
Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5=4/2 6=4/3
Aset
1 Kas dan Bank 1.273.542 (1.805.735) 184.716 14,50 (10,23)
2 Deposito 5.340.000 - 6.170 0,12 -
3 Piutang Iuran 1.771.724 3.510.542 818.228 46,18 23,31
4 Piutang COB - 7.994 - - -
5 Piutang Hasil investasi 4.304 1.527 2.827 65,68 185,16
6 Piutang Kontribusi BPJS - - - - -
7 Piutang Kepada BPJS 10.655 - 26.306 246,88 -
8 Piutang Lain 3.625 46.465 11.316 312,19 24,35
9 Uang Muka 1.642 6.662 4.646 283,05 69,75
10 Surat Utang Negara - - - - -
11 Obligasi 254.466 168.647 147.644 58,02 87,55
12 Aset Lancar Lain - - - - -
Total Aset 8.659.957 1.936.101 1.201.852 13,88 62,08
Liabilitas dan Aset Neto
1 Liabilitas
a. Utang Jaminan Kesehatan 2.412.605 2.406.066 5.728.819 237,45 238,10
b. Pendapatan Diterima Dimuka 798.452 1.337.423 355.133 44,48 26,55
c. Akumulasi Iuran yang Belum Dapat 586 158.863 18.371 3.137,27 11,56
Teridentifikasi Pesertanya
d. Utang Kepada BPJS 3.082.000 3.082.000 3.082.000 100,00 100,00
e. Utang Kepada Pihak Ketiga - - - - -
f. Utang COB - 3.997 2 - 0,04
g. Utang Pajak 8.290 6.892 9.435 113,82 136,90
h. Cadangan Teknis
- Liabilitas Pelayanan Kesehatan Dalam 2.284.942 2.597.785 4.902.897 214,57 188,73
Proses
- Liabilitas Pelayanan Kesehatan Belum 8.590.189 7.975.586 10.086.071 117,41 126,46
Dilaporkan
- Iuran Belum Merupakan Pendapatan - 2.457.090 - - -
Jumlah Cadangan Teknis 10.875.131 13.030.461 14.988.967 137,83 115,03
i. Utang Lain-lain 43.676 - 44.376 101,60 -
Jumlah Liabilitas 17.220.739 20.025.703 24.227.104 140,69 120,98
2 Aset Neto (8.560.782) (18.089.602) (23.025.252) 268,96 127,28
Total Liabilitas dan Aset Neto 8.659.957 1.936.101 1.201.852 13,88 62,08

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 173
Beberapa komponen laporan posisi keuangan dijelaskan fasilitas kesehatan yang telah ditetapkan nilai
sebagai berikut: gantinya namun belum dilakukan pembayaran.
a. Piutang Iuran tercapai sebesar Rp818,228 miliar d. Utang Pajak tercapai sebesar Rp9,435 miliar atau
atau sebesar 23,31% dari RKAT 2017. Hal ini sebesar 136,90% dari RKAT 2017 merupakan
disebabkan karena adanya perubahan pengakuan saldo utang pajak atas jasa pelayanan dokter
iuran PBPU yang diberhentikan sementara jaminan keluarga dan jasa lainnya.
layanannya dari sebelumnya diakui secara akrual e. Liabilitas Pelayanan Kesehatan Dalam Proses
paling banyak 6 bulan menjadi 1 bulan, serta tercapai 188,73% dari RKAT 2017 merupakan
penyesuaian piutang iuran yang diakibatkan cadangan klaim yang dalam proses penyelesaian,
karena adanya rekonsiliasi antara BPJS Kesehatan yang dihitung berdasarkan klaim yang telah
dengan Pemda, Taspen dan PFK. dilaporkan namun masih dalam proses verifikasi.
b. Piutang Hasil Investasi tercapai sebesar Rp2,827 f. Liabilitas Pelayanan Kesehatan Belum Dilaporkan
miliar atau sebesar 185,16% dari RKAT 2017 tercapai sebesar 126,46% dari RKAT 2017
merupakan piutang bunga Deposito on Call dan merupakan cadangan klaim yang sudah terjadi
piutang kupon obligasi. namun belum dilaporkan, yang dihitung
c. Utang Jaminan Kesehatan sebesar Rp5,729 menggunakan prinsip dan metode aktuaria yang
triliun atau sebesar 238,10% dari RKAT 2017. Hal berlaku umum.
tersebut dikarenakan oleh besarnya tagihan dari

174 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
ARUS KAS DANA JAMINAN SOSIAL
Dilihat dari laporan arus kas, sampai dengan 31 Desember
2017 terjadi defisit arus kas operasi sebesar Rp10,254
triliun dan menyebabkan kas dan setara kas pada akhir
periode menjadi Rp190,886 miliar.

Tabel Arus Kas Dana Jaminan Sosial


Realisasi untuk Periode yang Berakhir pada 31 Desember 2017
(Juta Rupiah)
Realisasi s.d.
No. Keterangan RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited)
1 2 3 4 5=4/3

A Aktivitas Operasi
1. Penerimaan 83.814.034 74.748.969 89,18

2. Pengeluaran 91.134.006 85.002.649 93,27


Arus Kas Neto dari Aktivitas Operasi (7.319.972) (10.253.680) 140,08
B Aktivitas Investasi
1. Penerimaan 5.311.486 231.024 4,35

2. Pengeluaran - - -
Arus Kas Neto dari Aktivitas Investasi 5.311.486 231.024 4,35
C Aktivitas Pendanaan
1. Penerimaan - 3.600.000 -

2. Pengeluaran - - -
Arus Kas Neto dari Aktivitas Pendanaan - 3.600.000 -
D Kenaikan (Penurunan) Arus Kas (2.008.485) (6.422.656) 319,78
E Kas Dan Setara Kas Awal Periode 202.750 6.613.542 3.261,92
F Kas Dan Setara Kas Akhir Periode (1.805.735) 190.886 (10,57)
Rincian Kas dan Bank Akhir Periode:
1. Kas 2.000 898 44,92

2. Bank (1.807.735) 183.818 (10,17)


3. Deposito on Call - 6.170 -
4. Deposito - - -
Jumlah (1.805.735) 190.886 (10,57)

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 175
RASIO KEUANGAN DANA JAMINAN SOSIAL

Rasio Likuiditas
Perhitungan rasio likuiditas disajikan pada tabel berikut:

Tabel Rasio Likuiditas


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi per
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5
A Aset Lancar
1. Kas dan Bank 1.273.542 (1.805.735) 184.716

2. Deposito 5.340.000 - 6.170

3. Piutang Iuran 1.771.724 3.510.542 818.228

4. Piutang COB - 7.994 -

5. Piutang Hasil investasi 4.304 1.527 2.827

6. Piutang Kontribusi BPJS - - -

7. Piutang Kepada BPJS 10.655 - 26.306

8. Piutang Lain 3.625 46.465 11.316

9. Uang Muka 1.642 6.662 4.646

10. Surat Utang Negara - - -

11. Obligasi 254.466 168.647 147.644

12. Aset Lancar Lain - - -


Jumlah Aset Lancar 8.659.957 1.936.101 1.201.852
B Liabilitas Lancar
1. Utang Jaminan Kesehatan 2.412.605 2.406.066 5.728.819

2. Pendapatan Diterima Dimuka 798.452 1.337.423 355.133

3. Akumulasi Iuran yang Belum Dapat Teridentifikasi Pesertanya 586 158.863 18.371

4. Utang Kepada BPJS 3.082.000 3.082.000 3.082.000

5. Utang Kepada Pihak Ketiga - - -

6. Utang COB - 3.997 2

7. Utang Pajak 8.290 6.892 9.435

8. Cadangan Teknis -
- Liabilitas Pelayanan Kesehatan Dalam Proses 2.284.942 2.597.785 4.902.897
- Liabilitas Pelayanan Kesehatan Belum Dilaporkan 8.590.189 7.975.586 10.086.071
- Iuran Belum Merupakan Pendapatan - 2.457.090 -
9. Utang Lain-lain 43.676 - 44.376
Jumlah Liabilitas Lancar 17.220.739 20.025.703 24.227.104
C. Rasio Likuiditas (A/B) 50,29% 9,67% 4,96%

176 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Pencapaian rasio likuiditas per 31 Desember 2017 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun
adalah sebesar 4,96%, lebih rendah dari RKAT 2017 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
disebabkan oleh jumlah aset lancar yang lebih rendah Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Aset
dari RKAT 2017. Dalam upaya memenuhi kebutuhan Jaminan Sosial Kesehatan, bahwa besaran dana
likuiditas Dana Jaminan Sosial Kesehatan, BPJS talangan yang semula dapat diberikan maksimal 10%
Kesehatan telah: diubah menjadi 25% dari aset BPJS Kesehatan.
1. Memberikan Surplus BPJS Kesehatan kepada Penetapan besaran dana talangan mengacu pada
DJS sesuai dengan persetujuan Dewan Pengawas jumlah aset BPJS Kesehatan per 30 November 2015
melalui surat Nomor S-069/Dewas.BPJS- sebesar Rp12,491 triliun, sehingga dana talangan
Kesehatan/2015 tanggal 16 April 2015 tentang yang dapat diberikan ke DJS Kesehatan maksimal
Alokasi Surplus BPJS Kesehatan Tahun 2014, sebesar Rp3,123 triliun. Berdasarkan ketentuan di
BPJS telah memberikan 100% surplus tahun atas, maka setelah dikurangi dengan dana talangan
2014 (Audited) sebesar Rp1,071 triliun kepada yang telah dicairkan pada tahap I sebesar Rp1,192
DJS. Pemberian dan pemanfaatan surplus BPJS triliun, maka sisa dana talangan yang dapat dicairkan
tersebut selaras dengan pengaturan dalam Pasal maksimal sebesar Rp1,931 triliun.
15 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun
2013 tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Pencairan dana talangan tahap II sebesar Rp680 miliar
Kesehatan. Pembayaran surplus dilakukan dilakukan pada bulan Desember 2015. Sehingga
bertahap dengan rincian sebagai berikut: sampai dengan akhir tahun 2015 dana talangan telah
a. Tanggal 27 April 2015 Rp899 miliar. dicairkan sebesar Rp1,872 triliun.
b. Tanggal 4 Mei 2015 Rp172 miliar.
c. Tanggal 30 November 2015 Rp69,935 juta. Penetapan besaran dana talangan tahap III pada tahun
2016 mengacu pada jumlah aset BPJS Kesehatan
2. Memberikan dana talangan kepada DJS dengan per 31 Desember 2016 sebesar Rp12,34 triliun.
penetapan besaran dana talangan mengacu pada Dengan demikian total dana talangan maksimal yang
jumlah aset BPJS Kesehatan per 31 Desember dapat diberikan adalah Rp3,085 triliun. Sehingga dana
2014 sebesar Rp11,917 triliun. Sesuai dengan talangan yang telah dicairkan sebesar Rp1,872 triliun,
Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 maka sisa dana talangan yang masih dapat diberikan
tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial ke DJS Kesehatan maksimal sebesar Rp1,21 triliun.
Kesehatan, bahwa besaran dana talangan yang Pencairan dana talangan tahap III sebesar Rp1,21
dapat diberikan maksimal 10% dari aset BPJS triliun adalah sebagai berikut:
Kesehatan. Dengan jumlah aset bulan November a. Tanggal 30 Agustus 2016 Rp200 miliar.
2014 tersebut, maka besaran dana talangan yang b. Tanggal 17 Oktober 2016 Rp750 miliar.
dapat diberikan maksimal sebesar Rp1,192 triliun. c. Tanggal 24 Oktober 2016 Rp250 miliar.
Pencairan dana talangan tahap I sebesar Rp1,192 d. Tanggal 28 Oktober 2016 Rp10 miliar.
triliun adalah sebagai berikut:
a. Tanggal 23 Maret 2015 Rp885 miliar. Sehingga sampai dengan akhir tahun 2016 dana
b. Tanggal 25 Maret 2015 Rp144 miliar. talangan yang telah direalisasikan sebesar Rp3,082
c. Tanggal 27 Maret 2015 Rp100 miliar. triliun, sedangkan pada tahun 2017, tidak ada dana
d. Tanggal 1 April 2015 Rp63 miliar. talangan tambahan yang dicairkan.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 177
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas disajikan pada tabel berikut:

Tabel Rasio Solvabilitas


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5
A Total Aset 8.659.957 1.936.101 1.201.852
B Total Liabilitas 17.220.739 20.025.703 24.227.104
Rasio Solvabiltas (A/B) 50,29% 9,67% 4,96%

Realisasi rasio solvabilitas selaras dengan kondisi


likuiditas sebagaimana diuraikan di atas.

178 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
BADAN PENYELENGGARA
JAMINAN SOSIAL (BPJS)
PENDAPATAN OPERASIONAL PENDAPATAN INVESTASI DAN
Realisasi besaran Pendapatan Operasional yang PENDAPATAN LAINNYA
diperoleh s.d. 31 Desember 2017 (Audited) sebesar
Rp3,809 triliun atau 89,64% dari RKAT 2017 yang Dana Investasi
dihitung sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Per 31 Desember 2017 (Audited), dana investasi BPJS
RI Nomor 209/PMK.02/2016 tentang Besaran mencapai Rp7,262 triliun atau 110,69% dari RKAT
Persentase Dana Operasional BPJS Kesehatan Tahun 2017. Secara rinci disajikan pada tabel berikut:
2017, yaitu sebesar 5,12% dari iuran yang diterima.

Tabel Dana Investasi BPJS


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi per
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
A Pendapatan Tetap
1. Deposito
- Deposito on Call 49.825 31.685 4.500 9,03 14,20
- Deposito Berjangka 3.110.000 1.705.000 2.125.000 68,33 124,63
Subtotal 3.159.825 1.736.685 2.129.500 67,39 122,62
2. Obligasi 3.335.000 2.801.000 3.099.000 92,92 110,64
Jumlah A 6.494.825 4.537.685 5.228.500 80,50 115,22
B Non Pendapatan Tetap
1. Saham
- Saham Diperdagangkan 166.040 183.399 124.035 74,70 67,63
- Saham Tersedia Dijual 70.191 70.486 62.976 89,72 89,35
Subtotal 236.232 253.885 187.012 79,16 73,66
2. Reksadana 333.337 1.760.724 1.838.340 551,50 104,41
3. Properti Investasi 8.047 8.047 8.047 100,00 100,00
Jumlah B 577.616 2.022.657 2.033.399 352,03 100,53
Jumlah (A+B) 7.072.441 6.560.342 7.261.899 102,68 110,69

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 179
Penjelasan realisasi masing-masing instrumen dengan bunga 6,00%–9,00% dan penempatan
dibandingkan dengan RKAT 2017, diuraikan sebagai deposito pada bank swasta sebesar Rp365 miliar
berikut: dengan bunga 6,50%–8,25%. Instrumen deposito
1. Deposito tercapai sebesar Rp2,129 triliun atau merupakan penempatan dana investasi dalam
122,62% dari RKAT 2017. Komposisi deposito jangka pendek untuk optimalisasi pendapatan.
tersebut terdiri atas deposito berjangka dan
deposito on call pada bank-bank pemerintah Rincian penempatan deposito BPJS disajikan
(BUMN dan BUMD) sebesar Rp1,764 triliun pada tabel berikut:

Tabel Rincian Penempatan Deposito BPJS


Per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Deposito on Call Jumlah Deposito % Terhadap


No. Bank Deposito Berjangka
(DoC) dan DoC Portofolio

1 2 3 4 5=3+4 6
A Bank BUMN
1. BNI 390.000 - 390.000 5,37
2. Mandiri 250.000 - 250.000 3,44
3. BTN 100.000 4.500 104.500 1,44
4. BRI 350.000 - 350.000 4,82
Jumlah 1.090.000 4.500 1.094.500 15,07
B Bank BUMD
1. BPD Nagari 35.000 - 35.000 0,48
2. BPD Sulut 60.000 - 60.000 0,83
3. BPD Sumselbabel 50.000 - 50.000 -
4. BPD Kalbar - - - -
5. BPD Kaltim 350.000 - 350.000 4,82
6. BPD Jabar 65.000 - 65.000 0,90
7. BPD Maluku 10.000 - 10.000 0,14
8. BPD Jateng 70.000 - 70.000 0,96
9. BPD Sulselbar 10.000 - 10.000 0,14
10. BPD Lampung 20.000 - 20.000 0,28
Jumlah 670.000 - 670.000 9,23
C Bank Swasta
1. Bukopin 305.000 - 305.000 4,20
2. Kesejahteraan Ekonomi 10.000 - 10.000 0,14
3. Muamalat 25.000 - 25.000 0,34
4. BTPN 25.000 - 25.000 0,34
Jumlah 365.000 - 365.000 5,03
Jumlah Deposito 2.125.000 4.500 2.129.500 29,32
Total Portofolio 7.261.899

180 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Penempatan dana investasi dalam instrumen pelaporan, nilai selisih kurs saham TS sebesar
deposito berjangka berdasarkan pada Pasal 25 negatif Rp12,895 miliar.
Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 4. Reksa dana tercapai 104,41% dari RKAT 2017,
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan yang terdiri atas reksa dana saham Rp334,381
Pemerintah Nomor 84 Tahun 2015 tentang miliar, reksa dana penyertaan terbatas sebesar
Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 87 Rp11,648 miliar, dan reksa dana pendapatan
Tahun 2013 tentang Pengelolaan Aset Jaminan tetap sebesar Rp1,492 triliun. Pendapatan reksa
Sosial Kesehatan, yaitu hanya diperbolehkan dana sampai dengan 31 Desember 2017 sebesar
paling tinggi maksimal 15% dari jumlah dana Rp85,610 miliar. Dalam hal pemenuhan Peraturan
investasi untuk setiap bank. Hingga saat ini Otoritas Jasa Keuangan Nomor 05 Tahun 2016
penempatan deposito, sesuai dengan ketentuan tentang investasi surat berharga bagi Lembaga
tersebut. Jasa Keuangan Non Bank, investasi surat berharga
2. Obligasi tercapai sebesar Rp3,099 triliun atau ditempatkan melalui reksa dana pendapatan
110,64% dari RKAT 2017. Seluruh obligasi yang tetap.
dimiliki merupakan obligasi korporasi dengan 5. Properti investasi berupa investasi dalam tanah
kupon berkisar antara 7,75% s.d. 13,00% p.a dengan nilai perolehan sebesar Rp8,047 miliar
bruto. terdiri dari 10 Kaveling di KSB Laguna, Surabaya.
3. Saham tercapai 73,66% dari RKAT 2017 dengan
komposisi Trading Security 66,32% dan Available Pendapatan Investasi
for Sale 33,68%. Rendahnya capaian investasi Sampai dengan 31 Desember 2017, pendapatan
pada saham pada akhir tahun, dikarenakan adanya investasi bruto mencapai Rp580,992 miliar atau
realisasi keuntungan dengan memanfaatkan 122,38% dari RKAT 2017. Secara rinci disajikan pada
momentum kenaikan IHSG. Pada tanggal tabel berikut:

Tabel Pendapatan Investasi BPJS


Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017 dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi s.d. Realisasi s.d.
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
A Pendapatan Tetap
1. Bunga Deposito 369.183 148.045 236.639 64,10 159,84
2. Diskonto/Kupon Obligasi 301.058 254.228 290.237 97,47 114,16
Jumlah A 670.240 402.273 526.876 78,61 130,97
B Non Pendapatan Tetap
1. Dividen & Capital Gain 41.825 23.817 74.508 178,14 312,84
2. Kenaikan (Penurunan) Kurs Saham (1.092) 13.983 (12.895) 1.181,26 (92,22)
3. Reksadana 55.667 109.107 85.610 153,79 78,46
Jumlah B 96.400 146.906 147.223 152,72 100,22
Hasil Investasi Bruto (A+B) 766.641 549.179 674.099 87,93 122,75
C Biaya Investasi (121.348) (74.419) (93.107) 76,73 125,11
Hasil Investasi Neto (A+B+C) 645.293 474.760 580.992 90,04 122,38

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 181
Penjelasan masing-masing komponen pendapatan Pendapatan Lainnya
investasi dibandingkan dengan RKAT 2017 diuraikan Pendapatan lainnya s.d. 31 Desember 2017 sebesar
sebagai berikut: Rp170,848 miliar, bersumber dari pendapatan sewa,
1. Bunga deposito tercapai tercapai 159,84% atau pendapatan jasa giro, pendapatan bunga pinjaman
sebesar Rp236,639 miliar. Tercapainya pendapatan pegawai, pendapatan selisih pembayaran, pendapatan
bunga deposito lebih tinggi dibandingkan dengan denda, pendapatan denda pegawai dan pendapatan
RKAT 2017 selaras dengan jumlah dana kelolaan lain-lain.
pada deposito yang melampaui target RKAT 2017.
2. Diskonto/kupon obligasi tercapai 114,16% atau Beban Investasi
sebesar Rp290,237 miliar, melampaui RKAT 2017 Beban investasi sebesar Rp93,107 miliar (125,11%
terutama adanya perolehan kupon obligasi 7,75%. dari RKAT 2017), merupakan biaya atas pajak bunga
3. Dividen dan capital gain tercapai 312,84% atau deposito sebesar 20% dan pajak kupon obligasi
sebesar Rp74,508 miliar melampaui RKAT 2017 sebesar 15% serta biaya-biaya transaksi investasi
disebabkan karena adanya realisasi keuntungan lainnya. Berdasarkan PSAK Nomor 50 dan 55
saham TS dan AFS memanfaatkan momentum pendapatan investasi dicatat secara bruto, sedangkan
kenaikan IHSG dan adanya penerimaan dividen pajak dan biaya transaksi investasi dicatat terpisah
dari kepemilikan saham pada beberapa emiten. dari pendapatan investasinya, dengan rincian sebagai
4. Terjadi penurunan kurs saham s.d. 31 Desember berikut:
2017 sebesar Rp12,895 miliar yang disebabkan 1. Pajak atas bunga deposito Rp47,328 miliar.
penurunan beberapa harga saham pada akhir 2. Pajak atas kupon obligasi Rp43,879 miliar.
periode pelaporan. 3. Beban transaksi saham Rp1,900 miliar.
5. Pendapatan reksa dana tercapai sebesar 78,46%
yaitu sebesar Rp85,610 miliar yang merupakan Yield on Invesment (YOI)
hasil peningkatan nilai aset bersih dari produk Berdasarkan dana dan pendapatan investasi di atas,
reksa dana yang dimiliki. maka YOI BPJS sampai dengan 31 Desember 2017
terealisasi sebesar 9,40% (bruto) dan 8,10% (neto).

Tabel Yield On Investment BPJS Kesehatan


Perbandingan Target dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017
Pend. Inv. Bruto Pend. Inv. Neto Realisasi YOI Target YOI %
Rata2
No. Bulan s.d. Bln s.d. Bln
Bln N Bln N Portofolio Bruto Neto Bruto Neto Bruto Neto
N N
1 2 3 4 5 6 7 8=4/7 9=6/7 10 11 12=8/10 13=9/11

1 Januari 50.424 50.424 42.585 42.585 7.099.927 0,71 0,60 0,73 0,62 96,72 96,16
2 Februari 106.719 56.295 92.012 49.427 7.144.342 0,79 0,69 0,83 0,73 94,84 94,85
3 Maret 170.972 64.253 145.694 53.681 7.137.925 0,90 0,75 0,74 0,64 121,54 116,66
4 April 222.328 51.356 190.150 44.456 7.118.145 0,72 0,62 0,56 0,47 128,36 133,40
5 Mei 279.963 57.635 240.344 50.194 7.133.694 0,81 0,70 0,68 0,59 118,48 119,32
6 Juni 355.477 75.514 308.417 68.073 7.046.311 1,07 0,97 0,61 0,52 175,69 185,89
7 Juli 407.765 52.288 351.503 43.086 7.007.598 0,75 0,61 0,74 0,65 100,72 94,38
8 Agustus 454.806 47.041 392.053 40.550 7.164.814 0,66 0,57 0,61 0,52 108,47 109,54
9 September 493.585 38.779 421.892 29.839 7.300.392 0,53 0,41 0,52 0,43 101,76 94,16
10 Oktober 544.745 51.160 465.019 43.128 7.283.140 0,70 0,59 0,76 0,67 92,63 88,24
11 November 602.939 58.194 517.974 52.955 7.314.331 0,80 0,72 0,66 0,57 121,28 127,16
12 Desember 674.099 71. 160 580.992 63.018 7.331.844 0,97 0,86 0,76 0,68 127,39 127,30
YOI Year to Date s.d. 31 Desember 2017 9,40 8,10 8,20 7,09 114,60 114,24

182 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Sedangkan YOI per instrumen di bulan Desember 2017
disajikan pada tabel berikut:

Tabel Perhitungan Yield on Investment per Instrumen BPJS Kesehatan


Bulan Desember 2017
(Juta Rupiah)
Hasil Hasil Selisih
Portofolio Portofolio Rata-rata
No. Uraian Investasi Investasi Hasil YOI (%)
Awal Akhir Portofolio
Awal Akhir Investasi
1 2 3 4 5 6 7 8 9=8/5
A Pendapatan Tetap
1. Deposito 2.385.000 2.129.500 2.257.250 223.212 236.639 13.428 0,59
2. Obligasi/SPH 3.034.000 3.099.000 3.066.500 292.972 290.237 (2.375) (0,09)
Sub Total 5.419.000 5.228.500 5.323.750 516.183 526.876 10.693 0,20
B Non Pendapatan Tetap
1. Saham 190.360 187.012 188.686 55.105 61.614 6.508 3,45
2. Reksa dana 1.784.381 1.838.340 1.811.360 31.651 85.610 53.959 2,98
3. Properti Investasi 8.047 8.047 8.047
Sub Total 1.982.788 2.033.399 2.008.094 86.756 147.223 60.468 3,01
C Total A+B (Bruto) 7.401.788 7.261.899 7.331.844 602.939 674.099 71.160 0,97
D Beban Investasi (84.965) (93.107) (8.143)
E Total C+D (Neto) 7.401.788 7.261.899 7.331.844 517.974 580.992 63.018 0,86

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 183
BEBAN OPERASIONAL DAN BEBAN
LAINNYA

Beban Operasional
Beban operasional sampai dengan 31 Desember 2017
(Audited) mencapai Rp4,049 triliun atau 87,42% dari
RKAT 2017 yang secara rinci disajikan pada tabel berikut:

Tabel Beban Operasional BPJS


Perbandingan Realisasi s.d 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017, dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Realisasi s.d. Realisasi s.d.


No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)

1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
A Beban Personil
1. Pimpinan & Karyawan 1.720.481 2.377.112 2.065.216 120,04 86,88
Subtotal A 1.720.481 2.377.112 2.065.216 120,04 86,88
B Beban Non Personil
1. Administrasi 36.614 35.719 32.385 88,45 90,66
2. Umum 491.298 475.956 456.280 92,87 95,87
3. Komunikasi Organisasi 36.858 35.830 30.038 81,50 83,83
4. Pembinaan Manajemen 110.385 112.699 101.279 91,75 89,87
5. Penyusutan 251.663 381.906 272.837 108,41 71,44
6. Penelitian & Pengembangan 26.153 25.598 21.056 80,51 82,26
7. Pendidikan & Latihan 97.706 82.147 68.190 69,79 83,01
8. Sistim Manajemen Mutu 6.902 6.678 6.456 93,54 96,68
9. Imbalan Pasti Pasca Kerja 228.813 207.999 369.675 161,56 177,73
Subtotal B 1.286.393 1.364.532 1.358.196 105,58 99,54
C Beban Peningkatan Kapasitas
Pelayanan
1. Administrasi Peserta 178.279 88.234 65.405 36,69 74,13
2. Pembinaan Pelayanan 146.951 177.763 124.137 84,47 69,83
3. Pelayanan Informasi 46.494 68.501 58.041 124,84 84,73
4. Sosial Marketing 136.677 252.934 170.967 125,09 67,59
5. Penagihan Premi 74.245 123.173 80.116 107,91 65,04
6. Teknologi Informasi - 179.643 126.977 - 70,68
Subtotal C 582.646 890.248 625.644 107,38 70,28
Total Biaya Operasional 3.589.520 4.631.892 4.049.056 112,80 87,42

184 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
Beban Lainnya
Beban Lainnya sampai dengan 31 Desember 2017
(Audited) sebesar Rp582,422 miliar (199,26% dari
RKAT 2017) yang secara rinci disajikan pada tabel
berikut:

Tabel Beban Lainnya BPJS Kesehatan


Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017, dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Realisasi s.d. Realisasi s.d.


No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)

1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
1 Beban Insentif 285.865 285.208 285.208 99,77 100,00
2 Beban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan 5.119 5.520 4.421 86,36 80,08
3 Beban Lain 477.451 1.561 157.522 32,99 10.093,11
4 Beban atas Hibah Kepada Program DJS 6.827.891 - 135.271 1,98 -
Total Biaya Lainnya 7.596.325 292.289 582.422 7,67 199,26

Penjelasannya diuraikan sebagai berikut: 4. Beban atas hibah kepada Program DJS merupakan
1. Beban insentif diakui proporsional secara akrual pengembalian atas kelebihan pengakuan
sesuai RKAT tahun 2017. pembebanan (dana) operasional tahun 2015 oleh
2. Beban tanggung jawab sosial dan lingkungan BPJS yang bersumber dari dana Penyertaan
merupakan beban atas kegiatan yang dilakukan Modal Negara Tahun 2015. BPJS harus
oleh BPJS Kesehatan kepada lingkungan. mengembalikan kelebihan pengakuan pembebanan
3. Beban lain terdiri atas beban kerugian perusahaan, (dana) operasional tersebut dengan skema hibah
beban selisih pembayaran, keuntungan (kerugian) dari rekening BPJS ke DJS.
pelepasan aset tetap, dan beban pajak final.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 185
LAPORAN KINERJA KEUANGAN DANA
BPJS KESEHATAN
Sampai dengan 31 Desember 2017 (Audited), dana
BPJS Kesehatan mencatat pendapatan komprehensif
negatif sebesar Rp183,372 miliar. Secara rinci disajikan
pada tabel berikut:

Tabel Laporan Kinerja BPJS Kesehatan


Perbandingan Realisasi s.d. 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017, dan Realisasi s.d. 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi s.d. Realisasi s.d.
No. Keterangan 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4

A Pendapatan Operasional
Pendapatan Operasional Penyelenggaraan Program 3.625.662 4.249.686 3.809.233 105,06 89,64
Jaminan Kesehatan
Jumlah Pendapatan 3.625.662 4.249.686 3.809.233 105,06 89,64
B Beban Operasional
Beban Operasional Penyelenggaraan Program Jaminan 3.589.520 4.631.892 4.049.056 112,80 87,42
Kesehatan
Jumlah Beban Operasional 3.589.520 4.631.892 4.049.056 112,80 87,42
C Penghasilan (Beban) Operasional (I-II) 36.142 (382.206) (239.823) (663,55) 62,75
D Pendapatan Dan Beban Non Operasional
1. Pendapatan Investasi 766.641 549.179 674.099 87,93 122,75
2. Pendapatan Lain-lain 235.223 1.792 170.848 72,63 9.533,87
3. Beban Investasi (121.348) (74.419) (93.107) 76,73 125,11
4. Beban Bunga - - - - -
5. Beban Insentif (285.865) (285.208) (285.208) 99,77 100,00
6. Beban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (5.119) (5.520) (4.421) 86,36 80,08
7. Beban lain-lain (477.451) (1.561) (157.522) 32,99 10.093,11
8. Beban atas Hibah Kepada Program DJS (6.827.891) - (135.271) 1,98 -
9. Bagian Laba (Rugi) Entitas Asosiasi - - - - -
Jumlah Pendapatan dan Beban Non Operasional (6.715.810) 184.264 169.418 (2,52) 91,94
E Penghasilan (Beban) Sebelum Pajak (III+IV) (6.679.668) (197.943) (70.405) 1,05 35,57
F Beban Pajak Penghasilan 156.835 62.920 78.376 49,97 124,57
G Penghasilan (Beban) Neto (V+VI) (6.522.833) (135.023) 7.971 (0,12) (5,90)
H Pendapatan Komprehensif Lain
1. Penyesuaian Nilai Wajar Aset Keuangan Tersedia (9.083) (1.458) (4.198) 46,21 287,97
Untuk Dijual
2. Keuntungan (Kerugian) Aktuaria Liabilitas (67.331) - (187.145) 277,95 -
Imbalan Pasti Pascakerja
Jumlah Pendapatan Komprehensif Lain (76.414) (1.458) (191.343) 250,40 13.126,72
Penghasilan (Beban) Komprehensif (VII+VIII) (6.599.247) (136.480) (183.372) 2,78 134,36

186 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
LAPORAN POSISI KEUANGAN
DANA BPJS KESEHATAN

Per 31 Desember 2017 jumlah aset BPJS (Audited )


mencapai Rp12,601 triliun atau 101,50% dari RKAT
2017, sedangkan jumlah liabilitas mencapai Rp2,439
triliun yang terdiri atas liabilitas jangka pendek
Rp693,003 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp1,746
triliun. Secara rinci disajikan pada tabel berikut:

Tabel Laporan Posisi Keuangan BPJS Kesehatan


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited), RKAT 2017, dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi per Realisasi per
No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited) (Audited)
1 2 3 4 5 6=5/3 7=5/4
Aset
1 Aset Lancar 4.533.617 4.657.639 5.163.387 113,89 110,86
2 Aset Tidak Lancar:
- Investasi Jangka Panjang 2.801.000 2.063.000 2.361.000 84,29 114,44
- Piutang Talangan 2.606.555 3.082.000 2.475.617 94,98 80,33
- Investasi Pada Entitas Asosiasi 0 0 0 100,00 100,00
- Properti Investasi 8.047 8.047 8.047 100,00 100,00
- Aset Tetap 1.713.479 2.189.640 1.902.763 111,05 86,90
- Aset Tidak Berwujud 7.922 - - - -
- Aset Pajak Tangguhan 493.898 412.950 634.656 128,50 153,69
- Pajak Dibayar Dimuka 1.697 - 660 38,89 -
- Aset Tidak Lancar Lain 1.437 748 54.662 3.804,44 7.309,64
Total Aset 12.167.652 12.414.024 12.600.792 103,56 101,50
Liabilitas Dan Ekuitas
1 Liabilitas Jangka Pendek 550.120 754.375 693.009 125,97 91,87
2 Liabilitas Jangka Panjang 1.272.794 1.375.169 1.746.418 137,21 127,00
Jumlah Liabilitas 1.822.915 2.129.544 2.439.427 133,82 114,55
3 Ekuitas
- Modal 21.479.704 21.479.704 21.479.704 100,00 100,00
- Saldo Penyesuaian Nilai Wajar Aset (30.388) (33.163) (34.586) 113,81 104,29
Keuangan Tersedia Untuk Dijual
- Saldo Selisih Kombinasi dan Pelepasan 391.104 393.867 391.104 100,00 99,30
Bisnis Antar Entitas Pengendali
- Saldo Keuntungan (Kerugian) Aktuaria (67.331) - (187.145) - -
Liabilitas IPPK
- Saldo Penghasilan (Beban) Neto Tahun Lalu (4.905.519) - (11.495.683) - -
- Saldo Penghasilan (Beban) Neto Tahun (6.522.833) (11.555.929) 7.971 (0,12) (0,07)
Berjalan
Jumlah Ekuitas 10.344.737 10.284.480 10.161.365 98,23 98,80
Total Liabilitas Dan Ekuitas 12.167.652 12.414.024 12.600.792 103,56 101,50

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 187
Penjelasan mengenai beberapa komponen laporan 4. Liabilitas jangka panjang tercapai sebesar Rp1,746
posisi keuangan yang memiliki deviasi yang signifikan triliun atau 127,00% dari RKAT 2017, hal ini
terhadap RKAT 2017 adalah sebagai berikut: disebabkan oleh adanya penyesuaian atas
1. Aset lancar tercapai sebesar Rp5,163 triliun, atau pengakuan Imbalan Pasti Pasca Kerja hasil
sebesar 110,86% dari RKAT 2017. Hal tersebut perhitungan aktuaris eksternal pada penyusunan
disebabkan oleh penempatan dana pada instrumen laporan keuangan audited Tahun Buku 2017.
deposito yang mencapai Rp2,129 triliun atau
122,62% dari RKAT 2017. ARUS KAS BPJS KESEHATAN
2. Investasi jangka panjang tercapai sebesar Rp2,361 Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017,
triliun atau 114,44% dari RKAT 2017 disebabkan Arus kas aktivitas operasi mengalami surplus sebesar
karena adanya pelampauan dana kelolaan Rp710,854 miliar. Hal tersebut disebabkan oleh selisih
dibanding RKAT 2017 yang ditempatkan pada pencapaian pendapatan dan biaya operasional dengan
instrumen obligasi jangka panjang. RKAT 2017. Di sisi lain, terdapat penurunan arus kas
3. Aset pajak tangguhan tercapai sebesar Rp634,656 sebesar Rp58,223 miliar dan menyebabkan kas setara
miliar, atau 153,69% dari RKAT 2017 disebabkan kas akhir periode menjadi Rp2,101 triliun.
oleh adanya koreksi audit Tahun Buku 2016 yang
signifikan.

Tabel Arus Kas BPJS Kesehatan


Perbandingan RKAT dan Realisasi
Untuk Periode yang Berakhir Pada 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)
Realisasi s.d.
No. Uraian RKAT 2017 31 Desember 2017 %
(Audited)
1 2 3 4 5=4/3
A Aktivitas Operasi
1. Penerimaan 4.253.513 3.931.047 92,42
2. Pengeluaran 4.221.593 3.220.193 76,28
Arus Kas Neto dari Aktivitas Operasi 31.919 710.854 2.227,04
B Aktivitas Investasi
1. Penerimaan 1.134.509 8.553.275 753,92
2. Pengeluaran 2.271.805 9.322.352 410,35
Arus Kas Neto dari Aktivitas Investasi (1.137.295) (769.077) 67,62
C Aktivitas Pendanaan
1. Penerimaan - - -
2. Pengeluaran - - -
Arus Kas Neto dari Aktivitas Pendanaan - - -
D Kenaikan (Penurunan) Arus Kas (1.105.376) (58.223) 5,27
E Kas Dan Setara Kas Awal Periode 1.221.788 2.159.521 176,75
F Kas Dan Setara Kas Akhir Periode 116.412 2.101.297 1.805,06
Rincian Kas dan Bank Akhir Periode:
1. Kas 3.000 718 23,94
2. Bank 50.727 156.079 307,69
3. Deposito on Call 31.685 4.500 14,20
4. Deposito setara kas 31.000 1.940.000 6.258,06
Jumlah 116.412 2.101.297 1.805,06

188 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
RASIO KEUANGAN BPJS KESEHATAN
Rasio keuangan dalam bentuk likuiditas dan solvabilitas
per 31 Desember 2017 disajikan pada tabel berikut:

Tabel Rasio Keuangan BPJS Kesehatan


Perbandingan Realisasi per 31 Desember 2016 (Audited),
RKAT 2017, dan Realisasi per 31 Desember 2017 (Audited)
(Juta Rupiah)

Realisasi per Realisasi per


No. Uraian 31 Desember 2016 RKAT 2017 31 Desember 2017
(Audited) (Audited)

1 2 3 4 5
1 Rasio Likuiditas
a. Aset Lancar 4.533.617 4.657.639 5.163.387
b. Liabilitas Lancar 550.120 754.375 693.009
c. Rasio ( a : b ) 824,11% 617,42% 745,07%
2 Rasio Solvabilitas
a. Total Aset 12.167.652 12.414.024 12.600.792
b. Total Liabilitas 1.822.915 2.129.544 2.439.427
c. Rasio ( a : b ) 667,48% 582,94% 516,55%

Per 31 Desember 2017, rasio likuiditas tercapai lebih BELANJA BARANG MODAL
tinggi dibandingkan target. Hal tersebut disebabkan Sampai dengan 31 Desember 2017 terdapat realisasi
oleh adanya pelampauan jumlah aset lancar jika Belanja Barang Modal sebesar Rp261,551 miliar.
dibandingkan target RKAT 2017. Di sisi lain, rasio
solvabilitas per 31 Desember 2017 lebih rendah dari
RKAT 2017 disebabkan karena jumlah liabilitas jangka
panjang melebihi target RKAT 2017.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 189
190 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
BAB V
LAPORAN TINDAK
LANJUT HASIL
PENGAWASAN

LAPORAN TINDAK
LANJUT HASIL PENGAWASAN
PENGAWASAN DEWAN PENGAWAS
Hasil Pengawasan Dewan Pengawas Tahun Jumlah Rekomendasi Selesai Rekomendasi Dalam Proses
2017 62 62 0

No. Saran/Rekomendasi Tindak Lanjut yang Telah Dilakukan Status


A. Terkait dengan Aspek kelembagaan
1. Teknologi Informasi
a. Aplikasi e-Dabu tidak dapat digunakan optimal Kedeputian Bidang Kepesertaan mendorong kepada Kedeputian Bidang SPKTI Selesai
oleh Badan Usaha. Direksi agar segera memperbaiki dan PSI untuk penyempurnaan aplikasi e-Dabu, antara lain:
aplikasi e-Dabu sehingga dapat mempermudah a. Data Pada Aplikasi e-Dabu tersinkronisasi dengan master file (selama ini
proses administrasi Badan Usaha. masih membaca database lokal e-Dabu)
b. Mengingat semakin banyak penduduk yang sudah terdaftar menjadi
peserta JKN maka dibutuhkan penyempurnaan e-Dabu untuk mempermudah
proses mutasi peserta dari segmen lainnya (PBPU, BP, Penduduk yang
didaftarkan oleh Pemerintah Daerah, dan PBI JK menjadi segmen PPU
Badan Usaha).
b. Direksi agar melakukan langkah-langkah untuk Prosedur pengajuan perpindahan FKTP sudah dapat dilakukan di aplikasi Selesai
mempermudah prosedur pengajuan perpindahan Mobile JKN oleh peserta yang bersangkutan tanpa persyaratan administrasi.
FKTP peserta dengan cara memperluas kanal
pengajuan (melalui care center, email, website,
dan mobile) serta meringkas persyaratan
administrasi, sehingga didapat peserta yang
berobat di FKTP luar wilayah adalah benar-benar
peserta yang sedang bepergian.
2. Sumber Daya Manusia
Direksi agar merekrut dan menempatkan SDM Dari mapping CCI staf pada bidang Pemasaran sudah memiliki kompetensi Selesai
pemasaran yang tepat sasaran dengan cara memadai (67% memiliki CCI di atas 70%) dan selebihnya masih memiliki CCI
mencocokkan kebutuhan tiap-tiap wilayah dengan di bawah 70% dikarenakan masa kerja yang masih baru (kurang lebih 1 tahun).
skill dan karakter individu. Terkait karakter individu perlu adanya upaya dari atasan langsung untuk
memberikan arahan/coaching/pelatihan agar masing-masing pegawai memiliki
karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang tenaga pemasar agar target
unit kerja tercapai.
3. Sumber Daya dan Sarana
Direksi berkoordinasi dengan semua Deputi Direksi Kedeputian Bidang SDS dan Umum telah melakukan pembahasan dengan Selesai
Wilayah untuk mempersiapkan sarana dan prasarana Kedeputian Bidang JPKR dan seluruh Asisten Deputi Direksi Wilayah SDM
di tiap Kantor Cabang dan Kantor Kabupaten/Kota dan Umum Kedeputian Wilayah se-Indonesia pada tanggal 5 dan 12 April
apabila vedika mulai diberlakukan. 2017. Hasil pembahasan tersebut dapat disampaikan bahwa pada prinsipnya
masing-masing Kedeputian Wilayah telah mempersiapkan sarana dan
prasarana terkait vedika dengan mekanisme pemenuhannya dalam bentuk
penggunaan/pengoptimalan sarana dan prasarana yang sudah ada.
B. Terkait dengan Aspek Pengelolaan Program
1. Pelayanan
a. Direksi agar mendorong Kantor Cabang melakukan Terkait dengan upaya peningkatan pemahaman peserta terhadap mekanisme Selesai
terobosan dalam meningkatkan pemahaman pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional, telah disediakan alur pelayanan
masyarakat maupun aparat setempat terhadap di setiap Rumah Sakit terkait prosedur pelayanan, selain itu juga disediakan
mekanisme pelaksanaan Jaminan Kesehatan banner informasi terkait perubahan ketentuan pelayanan sebagai contoh
Nasional untuk menghindari kesalahpahaman adanya regulasi tentang denda pelayanan dan himbauan untuk membayar
pada saat terjadi keluhan di pelayanan. iuran tepat waktu.

192 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
No. Saran/Rekomendasi Tindak Lanjut yang Telah Dilakukan Status
b. Direksi agar mendorong peningkatan kapasitas Di tingkat Kantor Cabang terdapat program forum kemitraan dengan stakeholder Selesai
FKRTL setempat khususnya dalam hal yang melibatkan FKRTL, Dinas Kesehatan dan asosiasi faskes. Pada wadah
kemampuan pengelolaan klaim, perencanaan tersebut disosialisasikan terkait dengan kebijakan dan ketentuan yang baru
dan pencegahan fraud. diantaranya pengenalan konsep vedika, dan sosialisasi Peraturan BPJS
Kesehatan Nomor 7 Tahun 2016 tentang Sistem Pencegahan Kecurangan
(fraud) dalam Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan.
c. Direksi segera merumuskan langkah-langkah Dalam rangka meningkatkan kinerja FKTP, BPJS Kesehatan sejak tahun 2016 Selesai
strategis untuk mengoptimalkan fungsi FKTP secara bertahap mulai menerapkan pelaksanaan Kapitasi Berbasis Pemenuhan
sebagai gate keeper. Melakukan advokasi kepada Komitmen Pelayanan dengan 3 indikator.
Kemenkes dan Dinkes untuk meningkatkan kinerja
Puskesmas dengan cara memperbaiki sarana Selain itu, BPJS Kesehatan Kantor Cabang telah melakukan kegiatan peer
prasana, memenuhi kebutuhan alat kesehatan, review untuk menyepakati diagnosa yang dapat tuntas pada suatu FKTP
memenuhi kebutuhan obat dan bahan habis pakai, mengacu pada level kompetensi 4A. Kendala dalam menuntaskan diagnosa
serta meningkatkan kualitas SDM tenaga medis, penyakit di FKTP dapat disebabkan adanya gap kompetensi, keterbatasan
termasuk dokter dan dokter gigi. sarana prasarana atau kendala ketersediaan obat.

Kegiatan ini merupakan salah satu langkah strategis dalam melakukan


peningkatan atau perbaikan sarana-prasarana oleh FKTP khususnya Puskesmas.
BPJS Kesehatan juga telah melaksanakan pertemuan kemitraan untuk
melakukan advokasi dengan Kemenkes di tingkat Pusat, dengan Dinas
Kesehatan di tingkat Kedeputian Wilayah dan dengan FKTP di tingkat Cabang
per triwulan untuk mengoptimalkan fungsi FKTP sebagai gate keeper dan
untuk meningkatkan kinerja Puskesmas.

BPJS Kesehatan mengikutsertakan Dinas Kesehatan dalam proses kredensialing/


rekredensialing FKTP sesuai dengan Permenkes Nomor 99 Tahun 2015,
sehingga Dinas Kesehatan dapat lebih mengetahui keadaan sarana prasarana
dan tenaga medis FKTP, sehingga dapat memberikan rekomendasi untuk
perbaikan FKTP.
d. Direksi agar segera melakukan MoU dengan BPJS Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh BPJS Kesehatan adalah: Selesai
Ketenagakerjaan dan Jasa Raharja dengan skala a. Telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan BPJS
nasional mengenai batasan klaim kecelakaan lalu Ketenagakerjaan Nomor 296/KTR/0717 tentang Koordinasi Pelayanan
lintas dan kecelakaan kerja sehingga BPJS Kesehatan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kesehatan;
Kesehatan tidak terkena dampak klaim apabila dan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Koordinasi Pelayanan Kesehatan
terjadi kasus kecelakaan di lapangan yang sering Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kesehatan serta
kali mejadi double cost untuk beberapa pihak. Percepatan Perluasan Fasilitas Kesehatan sebagai lampiran yang tidak
terpisahkan dari Perjanjian Kerja Sama tersebut.
b. Telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan PT
Asabri (Persero) Nomor 575/KTR/1216 tentang Sinergi Program Jaminan
Kesehatan dengan Program Jaminan Kecelakaan Kerja-Penyakit Akibat
Kerja (KK-PAK) bagi Peserta Asabri Aktif dan Petunjuk Teknis sedang
dalam proses finalisasi.
c. Telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan PT
Taspen (Persero) Nomor 485/KTR.1215 tentang Sinergi Pelayanan Program
Jaminan Kecelakaan Kerja bagi peserta Taspen; dan Surat Edaran Bersama
antara BPJS Kesehatan dengan PT Taspen (Persero) Nomor 19/Ed/0516
tentang Petunjuk Teknis Sinergi Pelayanan Program Jaminan Kecelakaan
Kerja-Penyakit Akibat Kerja (KK-PAK) bagi Peserta PT Taspen (Persero).
d. Telah dilakukan PKS antara BPJS Kesehatan dengan PT Jasa Raharja
(Persero) Nomor 382/III.2/KTR/1113 dan SEB Nomor 377/KTR/1115
tentang Pelaksanaan Koordinasi Manfaat Program Jaminan Kecelakaan
Lalu Lintas antara PT Jasa Raharja (Persero) dan BPJS Kesehatan.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 193
No. Saran/Rekomendasi Tindak Lanjut yang Telah Dilakukan Status
2. Kepatuhan
a. Atas pembatasan pelayanan kesehatan oleh Terkait dengan komitmen Rumah Sakit terhadap pelayanan kepada peserta Selesai
oknum Rumah Sakit, Direksi agar menginstruksikan JKN-KIS, telah dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama yang tercantum
kepada Kepala Kantor Cabang dan Kepala Kantor pada pasal 4 hak dan kewajiban para pihak, Rumah Sakit berkewajiban
Kabupaten Kota untuk memberikan sanksi tegas untuk:
kepada Rumah Sakit yang memberikan layanan a. Melayani Peserta dengan baik sesuai dengan standar profesi dan
kesehatan tidak sesuai peraturan. standar pelayanan kedokteran, prosedur pelayanan kesehatan yang
berlaku bagi FKRTL.
b. Menyediakan data dan informasi tentang Sumber Daya Manusia dan
sarana prasarana, sistem antrian dan informasi ketersediaan tempat
tidur rawat inap baik perawatan biasa (umum) maupun perawatan
khusus (intensive) yang dapat diakses oleh peserta dan fasilitas
kesehatan, serta informasi lain (termasuk melihat rekam medis sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan) yang dianggap perlu oleh
BPJS Kesehatan.

Terkait dengan sanksi terdapat pada pasal 11 yakni dalam hal Rumah
Sakit terbukti secara nyata melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Tidak melayani Peserta sesuai dengan kewajibannya.
b. Tidak memberikan fasilitas dan pelayanan kesehatan kepada Peserta
sesuai dengan hak peserta.
c. Memungut biaya tambahan kepada Peserta di luar ketentuan dan
atau melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Perjanjian ini,
maka PIHAK PERTAMA berhak melakukan teguran tertulis kepada
PIHAK KEDUA sebanyak 3 kali dengan tenggang waktu masing-masing
surat teguran minimal 7 hari kalender, dengan tembusan ke Dinas
Kesehatan dan Asosiasi Fasilitas Kesehatan setempat.
b. Direksi agar memberikan sanksi kinerja terhadap Sanksi terhadap faskes yang terbukti melakukan pelanggaran komitmen Selesai
Rumah Sakit dan DPJP (Dokter Penanggung Jawab terlebih lagi yang terbukti melakukan indikasi kecurangan pelayanan kesehatan
Pasien) yang secara kontinyu melakukan upcoding adalah dilakukan pemutusan kerja sama, hal ini sudah tertuang di dalam
dan potensi fraud lainnya. naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS). Kesulitan dalam pemberian sanksi
pemutusan kerja sama adalah apabila faskes tersebut merupakan faskes
milik pemerintah atau pada daerah yang minim faskes.

Berdasarkan Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 7 Tahun 2016 Pasal 24


menyatakan bahwa “dalam hal terbukti adanya tindakan kecurangan berdasarkan
laporan hasil investigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf e maka
BPJS Kesehatan dapat menghentikan perjanjian kerja sama dengan FKTP
dan FKRTL milik swasta. Selanjutnya FKTP dan FKRTL yang dihentikan kerja
samanya dapat bekerja sama kembali setelah jangka waktu paling cepat 1
tahun dan paling lama 2 tahun sejak dihentikan kerja samanya dan setelah
dilakukan kredensialing.
3. Kepesertaan
a. Direksi agar berkoordinasi dengan Kemensos untuk Saat ini, data PBI JK yang akan di tetapkan oleh Kemensos untuk data Selesai
memastikan bahwa informasi peserta PBI yang perubahan (penghapusan, penggantian dan penambahan) telah melalui
diberikan adalah informasi yang valid dan terkini proses validasi dengan data Dukcapil, dimana sumber data usulan PBI JK
mulai dari NIK, nama peserta, biodata, sampai dari Kemensos adalah data kependudukan yang bersumber dari Pendataan
dengan kondisi domisili terakhir. Meminta Kemensos Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang diusulkan dari Dinsos/Kelurahan
untuk memverifikasi data tersebut secara langsung di masing-masing wilayah Kemensos, untuk selanjutnya di validasi dengan
melalui Dinsos/Kelurahan di masing-masing Dukcapil sebelum masuk dalam BDT (Basis Data Terpadu). Setiap bulan
wilayah. Mencari solusi efektif dalam kepastian Kedeputian Kepesertaan mengadakan koordinasi dengan Kemensos terkait
data kepesertaan dari segmen PBI dan PBI Daerah. dengan data PBI JK, untuk proses akurasi dan validasi data yang diusulkan
sebagai dasar penambahan atau penggantian.

194 LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017
No. Saran/Rekomendasi Tindak Lanjut yang Telah Dilakukan Status
b. Direksi agar melakukan purifikasi data internal Penanganan data ganda kepesertaan mengacu pada Surat Edaran Direktur Selesai
dengan menggunakan algoritma yang baku agar Kepesertaan dan Pemasaran Nomor 37 Tahun 2016 tentang Penanganan
permasalahan data ganda pada master file data Data Ganda Kepesertaan.
kepesertaan dapat terselesaikan. Saat ini proses purifikasi data internal khususnya untuk mengidentifikasi
ganda/tidak dengan inquiry ke Dukcapil telah menggunakan standar validasi
7 variabel yang baku yaitu NIK, Nama, Tempat Lahir, Tanggal Lahir, Alamat,
Kecamatan, Kelurahan. Dan apabila 7 variabel tersebut belum dapat
memberikan kepastian data tersebut ganda/tidak dapat ditambahkan variabel
susunan anggota keluarga.
c. Direksi segera mereviu ulang tata cara dan Perubahan FKTP peserta dilakukan dengan kelengkapan berkas: Selesai
persyaratan administrasi kepesertaan yang lebih a. Identitas peserta JKN
ringkas tetapi tetap mengedepankan mekanisme b. Identitas peserta (menunjukkan KTP/KK yang berlaku).
fraud prevention. Sebagai contoh untuk perubahan c. Mengisi formulir mutasi data peserta. Formulir ini sebagai bukti evidence
data FKTP ataupun biodata peserta, seharusnya perubahan data sebagai aspek legal bahwa permintaan FKTP dilakukan
peserta cukup membawa kartu peserta dan kartu atas permintaan peserta.
identitas. Selain itu perlu dibuat mekanisme Perubahan FKTP bagi peserta juga telah dapat dilakukan melalui aplikasi
perubahan data melalui care center dan daring mobile JKN dengan minimal sudah terdaftar di FKTP sebelumnya selama 3
(online) yang tidak rumit dengan mencontoh metode bulan. Untuk proses update data kepesertaan kebijakan administrasi saat
verifikasi yang dipergunakan perbankan. ini cukup dengan menunjukkan kartu identitas dan selanjutnya akan dilakukan
inquiry kepada database kependudukan, kecuali jika ada anggota keluarga
yang belum tercantum dalam data kependudukan nasional, tetapi dalam KK
telah tercantum maka, kita mintakan untuk peserta menunjukkan KK terakhir.
C. Terkait dengan Aspek Keuangan dan Investasi
1. Direksi agar melakukan upaya dalam mengoptimalisasi Optimalisasi penerimaan iuran terutama dari segmen PBPU akan diupayakan Selesai
kolektibilitas tagihan segmen PBPU dan Jamkesda dengan cara:
dengan total potensi piutang sebesar Rp11,843 miliar. a. Perluasan channel pembayaran iuran untuk peserta PBPU utamanya yang
terletak di daerah dengan channel perbankan yang terbatas, yakni
pembayaran melalui channel PPOB, dengan terus menambah mitra kerja
sama dari channel PPOB Tradisional, PPOB Modern, e-Commerce dan
Bank Daerah.
b. Telekolekting, yaitu upaya penagihan melalui media telepon oleh staf
Penagihan Kantor Cabang setiap hari.
c. SMS Blast sebagai salah satu upaya penagihan, reminder dan juga media
edukasi khususnya bagi peserta PBPU.
d. Upaya Jemput Bola, dengan membuka stand pembayaran ataupun mobil
customer care di lokasi strategis seperti di Pasar, di pusat kota saat
kegiatan Car Free Day (CFD).
e. Upaya Reward, dengan memberikan cashback kepada peserta yang
membayar iuran untuk 6 bulan di muka, bekerja sama dengan salah satu
mitra pembayaran iuran BPJS Kesehatan.
f. Pencetakan leaflet edukasi pembayaran iuran dan informasi terkait denda
pelayanan di Kantor Cabang.
Optimalisasi penerimaan iuran terutama dari segmen Jamkesda diupayakan
dengan cara proaktif memberikan informasi dan mendorong Pemda untuk
mengalihkan peserta PBPU yang menunggak khususnya kelas 3, untuk menjadi
peserta Jamkesda.

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN TAHUN 2017 195
No. Saran/Rekomendasi Tindak Lanjut yang Telah Dilakukan Status
2. Direksi agar memperbaiki bisnis proses antara Kader Kader JKN-KIS saat ini diberikan tugas untuk melaksanakan berbagai aktivitas Selesai
JKN yang menyasar peserta PBPU khususnya non yaitu:
aktif dengan Relation Officer (RO) yang menyasar a. Sosialisasi kepada peserta maupun kepada calon peserta untuk
peserta PPU BU agar bisa terjadi perubahan status mengembangkan pemahaman dan pengetahuan tentang program JKN-KIS.
kepesertaan dari PBPU menjadi PPU BU agar potensi b. Mengedukasi serta mengingatkan peserta untuk membayar iuran secara
iuran bisa bertambah. rutin sebelum tanggal 10 setiap bulan.
c. Mengedukasi dan membantu proses pendaftaran calon peserta serta
memberi informasi dan m