Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

MAKROALGA

Oleh :
INDRAWATI (123456789)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS NUSA NIPA MAUMERE
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya
lah penulis dapat menyelesaikan Makalah “Makroalga” ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan karena
keterbatasan pengetahuan, Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan bimbingan atau
saran-saran dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.
Berkaitan dengan makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Maumere, Juni 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

JUDUL …………………………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Pengertian Makroalga ……………………………………………………. 1
B. Tujuan ……………………………………………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Deskripsi Makroalga ……………………………………………………... 2
B. Morfologi Makroalga …………………………………………………….. 2
C. Klasifikasi Alga …………………………………………………………... 4
1. Ganggang hijau (Chlorophyta) …………………………………….. 4
2. Phaeophyta (Ganggang Coklat) ……………………………………. 7
3. Rhodophyta (Ganggang Merah) …………………………………… 11
D. Habitat Alga ………………………………………………………………. 14
E. Manfaat Makroalga ………………………………………………………. 14
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN ……………………………………………………………… 16
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………… 17

3
4
5
BAB I
PENDAHULUAN

C. Pengertian Makroalga
Alga merupakan salah satu sumber daya alam hayati laut yang bernilai ekonomis dan
memiliki peranan ekologis sebagai produsen yang tinggi dalam rantai makanan dan tempat
pemijahan biota-biota laut (Bold and Wyne, 1985). Alga adalah organisme holoplankton yang
hidup bebas terapung dalam air dan selama hidupnya merupakan plankton. Alga (ganggang)
memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis.
Selain itu juga memiliki pigmen-pigmen tambahan lain yang dominan. Dalam perairan alga
merupakan penyusun fitoplankton yang hidup melayang-layang di dalam air, tetapi juga
dapat hidup melekat di dasar perairan (Odum, 1994).
Makroalga adalah kelompok alga multiseluler yang tubuhnya berupa talus yang tidak
mempunyai akar, batang dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini hidup di perairan laut yang
masih mendapat cahaya matahari dengan menempel pada substrat yang keras (Asriyana dan
Yuliana, 2012). Secara ekologi, komunitas makroalga mempunyai peranan dan manfaat
terhadap lingkungan sekitarnya, yaitu sebagai tempat asuhan dan perlindungan bagi jenis-
jenis ikan tertentu (nursery ground), sebagai tempat mencari makanan alami ikan-ikan dan
hewan herbivor (feeding grounds) (Bold and Wayne, 1985).

D. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi makroalga secara umum
2. Mengetahui jenis-jenis makroalga
3. Mengetahui manfaat makroalga

1
BAB II
PEMBAHASAN

F. Deskripsi Makroalga
Alga adalah organisme berklorofil, tubuhnya merupakan thalus (uniselular dan multi
selular), alat reproduksi pada umumnya berupa sel tunggal, meskipun ada juga alga yang alat
reproduksinya tersusun dari banyak sel (Sulisetijono, 2009)
Menurut Sulisetijono (2009), ada tiga cirri reproduksi seksual pada alga yang dapat
digunakan untuk membedakannya dengan tumbuhan hijau yang lain. Ketiga ciri yang
dimaksud adalah :
1. Pada alga uniselular, sel itu sendiri berfungsi sebagai sel kelamin (gamet).
2. Pada alga multiselular, gametangium (organ penghasil gamet) ada yang berupa sel
tunggal, dan ada pula gamitangium yang tersusun dari banyak sel.
3. Sporangium (organ penghasil spora) dapat berupa sel tunggal, dan jika tersusun dari
banyak sel, semua penyusun sporangium bersifat fertil.
Makroalga termasuk tumbuhan tingkat rendah walaupun tampak adanya daun, batang,
dan akar, bagian-bagian tersebut hanya semu belaka (Yulianto, 1996).
Makroalga merupakan tumbuhan thalus yang hidup di air, setidak-tidaknya selalu
menempati habitat yang lembab atau basah. Selnya selalu jelas mempunyai inti dan plastid,
dan dalam plastidanya terdapat zat-zat warna derivate klorofil, yaitu klorofil a dan b atau
kedua-duanya. Selain derivat-derivat klorofil terdapat pula zat-zat lain, dan zat warna lain
inilah yang justru kadang-kadang lebih menonjol dan menyebabkan ganggang tertentu diberi
nama menurut warna tadi. Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin (warna biru), fikosantin
(warna pirang), dan fikoeritrin (warna merah). Disampimng itu juga biasa ditemukan zat-zat
warna santofil, dan karotin (Tjitrosoepomo, 1998).

G. Morfologi Makroalga
Alga atau ganggang adalah kelompok Thallophyta yang berklorofil. Berdasarkan
ukuran struktur tubuhnya, alga dibagi kedalam dua golongan besar yaitu :
1. Makroalga, yaitu alga yang mempunyai bentuk dan ukuran tubuh makroskopik
2. Mikroalga, yaitu alga yang mempunyai bentuk dan ukuran tubuh mikroskopik.
Menurut Sulisetijono (2000), kajian fisiologi dan biokimia dan dilengkapi dengan
penggunaan mikroskop elektron, maka dasar pengelompokan alga yang utama adalah sebagai
berikut :
2
1. Pigmentasi
Alga mempunyai berbagai warna, pigmenpun telah pula ditemukan. Semua
golongan alga mengandung klorofil dan beberapa karotenoid. Dalam pigmen
karotenoid termasuk karoten dan xantofil. Disamping pigmen tersebut diatas yaitu
pigmen yang larut dalam larutan organik, ada pula pigmen yang larut dalam air, yaitu
fikobili protein. Pigmen ini terdapat dalam alga merah.
2. Hasil fotosintesis yang disimpan sebagai cadangan makanan
Cadangan makanan umumnya disimpan didalam sitoplasma sel, kadang-kadang
didlam plastida ditempat berlangsungnya fotosintesis. Bentuk yang paling umum
adalah tepung, senyawa yang menyerupai tepung, lemak, atau minyak. Beberapa alga
tampaknya membebaskan sebagian materi yang berlebihan ke lingkungannya dan
mungkin menggunakan lingkungan sebagai tempat penyimpanan. Materi yang
dibebaskan ini mungkin kembali lagi ke sel dikemudian hari.
3. Motilitas
Sebagian organisme dalam sebagian besar hidupnya motil, sedangkan bagian
lainnya marga tidak mempunyai motilitas, atau tidak mempunyai sel-sel reproduksi
yang mobil. Sebagian alga tidak bergerak secara aktif ketika ia dewasa, tetapi kadang-
kadang dalam stadium reproduksi mempunyai sel-sel motil, misalnya pada alga coklat
(Phaeophyceae) yang batik atau alga hijau yang bentik.
Bagian-bagian rumput laut secara umum terdiri dari “holdfast” yaitu bagian dasar
dari rumput laut yang berfungsi untuk menempel pada substrat dan thallus yaitu
bentuk-bentuk pertumbuhan rumput laut yang menyerupai percabangan.

Gambar. Morfologi makroalga (Afrianto dkk, 1993 dalam Zainuddin, 2011)

Bagian-bagian rumput laut secara umum terdiri dari holdfast yaitu bagian dasar dari
rumput laut yang berfungsi untuk menempel pada substrat dan thallus yaitu bentuk-bentuk
pertumbuhan rumput laut yang menyerupai percabangan. Tidak semua rumput laut bisa

3
diketahui memiliki holdfast atau tidak. Rumput laut memperoleh atau menyerap makanannya
melalui sel-sel yang terdapat pada thallusnya. Nutrisi terbawa oleh arus air yang menerpa
rumput laut akan diserap sehingga rumput laut bisa tumbuh dan berkembang biak.
Perkembangbiakan rumput laut melalui dua cara yaitu generatif dan vegetatif (Juneidi, 2004).

H. Klasifikasi Alga
Salah satu potensi biota laut perairan Indonesia adalah makroalga atau dikenal dalam
perdagangan sebagai rumput laut (seaweed). Makroalga laut ini tidak mempunyai akar,
batang, dan daun sejati yang kemudian disebut dengan thallus, karenanya secara taksonomi
dikelompokan ke dalam divisi Thallophyta . Tiga kelas cukup besar dalam divisi ini adalah
Chlorophyta (alga hijau), Phaeophyta (alga coklat, Rhodophyta (alga merah) (Waryono,
2001).
Pada umumnya divisi alga yang banyak hidup dilingkungan laut dan tubuh tersusun
secara multiselular adalah divisi Chlorophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta. Sedangkan
divisi lain yang umumnya berukuran makroskopik dan hidup sebagai fitoplankton (Smith
dalam Sulisetijo, 2000).
4. Ganggang hijau (Chlorophyta)
Ganggang hijau (green algae) diberi nama berdasarkan kloroplasnya yang
bewarna hijau. Warna hijau ini ada karena pigmen yang dominan adalah klorofil
a dan klorofil b, di samping jenis pigmen yang lain yaitu karoten dan santofil. Bentuk
kloroplas pada ganggang hijau bermacam-macam, ada yang seperti mangkuk (misalnya
pada Chlamidomonas), berbentuk spiral (misalnya pada Spirogyra), dan berbentuk
seperti bintang.

Gambar. Alga Hijau (www.biologijk.com/2017)

4
Alga hijau meskipun disebut alga, sebenarnya secara struktur dan biokimia lebih
mendekati tumbuhan. Saat ini bahkan banyak botanis (ahli tumbuhan) yang
memasukkannya dalam kelompok tumbuhan. Seperti halnya tumbuhan, alga hijau
menyimpan karbohidrat dalam bentuk butir-butir pati dalam kloroplasnya. Dinding sel
dari beberapa spesies Chlorophyta dibangun oleh selulosa, pektin, dan polisakarida lain,
seperti dinding sel tumbuhan.
Ganggang hijau merupakan plankton yang hidup melayang-layang di air tawar
atau laut. Selain di air tawar atau laut, ganggang hijau juga memiliki habitat di tanah-
tanah yang basah dan ada pula di tempat yang kering. Karena memiliki klorofil,
ganggan ini dapat melakukan fotosintesis dan bersifat autotrof (dapat membuat
makanannya sendiri).
a. Ciri-Ciri Chlorophyta (Alga Hijau)
Ganggang hijau (Chlorophyta) mempunyai ciri atau karakteristik secara umum
sebagai berikut.
 Tubuhnya mengandung klorofil dan bewarna hijau. Sel mengandung kloroplas
yang berisi klorofil a, klorofil b, karoten dan xantofil.
 Inti sel bersifat eukariotik karena inti sel telah memiliki membran.
 Telah memiliki dinding sel yang tersusun atas selulosa.
 Hidup melayang-layang di air tawar atau air laut dan berperan sebagai
plankton sebagai sumber makanan organisme akuatik.
 Ada yang uniseluler (bersel satu) dan ada pula yang multiseluler (bersel
banyak) sederhana.
 Bersifat autotorof, karena memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis.
 Ada yang hidup soliter (sendiri), berkoloni (berkelompok) dan ada juga yang
membentuk simbiosis dengan organisme lain. Salah satu contoh simbiosis
mutualisme yang terkenal adalah simbiosis antara Chlorophyta dan Fungi
(jamur) membentuk Lichenes (lumut kerak).
 Bentuk tubuh bervariasi, ada yang bulat, berbentuk filamentus (bentuk
benang), lembaran dan ada yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi.
 Bentuk kloroplas bermacam-macam, ada yang seperti mangkung, spiral,
bintang, jala dan ada pula yang seperti busa.
 Memiliki pirenoid sebagai tempat penyimpanan hasil fotosintesis berupa
amilum dan lemak.

5
 Selain kloroplas, organel sel yang dimiliki Chlorophyta antara lain badan
golgi, mitokondria dan retikulum endoplasma (RE).
 Memiliki stigma (bintik mata merah) bagi ganggang hijau yang motil
(bergerak). Stigma ini berfungsi untuk menuntun ganggang ke arah cahaya
sehingga fotosintesis dapat terjadi.
 Memiliki satu atau dua flagella yang ukurannya sama panjang bagi ganggang
hijau yang motil.
 Memiliki vakuola kontraktil sebagai alat osmoregulasi untuk mengatur
tekanan osmosis.
 Memiliki bentuk tubuh tetap.
 Memiliki habitat di air tawar, laut, tanah-tanah yang basah, namun ada pula di
tempat yang kering. 90% Chlorophyta hidup di air tawar dan 10% hidup di
laut sebagai plankton atau bentos, di tanah dan menempel pada organisme lain.
b. Klasifikasi Chlorophyta (Alga Hijau)
Berdasarkan bentuk dan dapat tidaknya bergerak, ganggang hijau menjadi 6
macam genus, yaitu:
 Alga/ganggang hijau bersel satu tidak bergerak
Contoh:
a) Chlorella sp. berbentuk bulat, hidup di air tawar atau air laut, reproduksi
secara vegetatif dengan membelah diri, banyak digunakan untuk
mempelajari fotosintesis.
b) Cholococcum sp. berbentuk bulat, hidup di air tawar, reproduksi secara
vegetatif dengan membentuk zoospora secara generatif dengan isogami.
 Alga/ganggang hijau bersel satu dapat bergerak
Contoh:
a) Chlamydomonas sp. berbentuk bulat telur, memiliki dua flagel,
kloroplasnya berbentuk mangkok atau pita mengandung pirenoid dan
stigma. Reproduksinya dengan membelah diri dan konjugasi
b) Euglena viridis, bentuknya seperti mata, memiliki sebuah flagel, klorofil
dan sigma. Reproduksinya dengan membelah diri. Euglena ada juga
mengelompokkannya ke dalam Protozoa.

6
 Alga/ganggang hijau berbentuk koloni tidak bergerak
Contoh: Hydrodictyon sp., koloninya berbentuk jala, banyak ditemukan di
air tawar, reproduksinya secara vegetatif dengan fragmentasi dan secara
generatif dengan konjugasi.
 Alga/ganggang hijau berbentuk koloni yang bergerak
Contoh: Volvox globator, bentuk koloninya menyerupai bola yang tersusun
atas ribuan volvox yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh benang-
benang sitoplasma. Volvox juga dikelompokan ke dalam Protozoa.
 Alga/ganggang hijau berbentuk filamen (benang)
Contoh:
a) Spirogyra sp. (benang tidak bercabang, inti tunggal, kloroplas berbentuk
pita tersusun spiral, pirenoid banyak).
b) Oedogonium sp. (filamen tidak bercabang, kloroplas berbentuk jala,
pirenoid banyak, inti satu besar).
 Alga/ganggang hijau berbentuk thalus (lembaran)
Contoh:
a) Ulva lactua (selada laut), bentuknya lembaran seperti daun dan hidup di
laut menempel pada batu, dapat dimakan. Reproduksinya secara vegetatif
dengan membentuk zoospora dan secara generatif dengan isogami.
b) Chara sp., bentuknya seperti tumbuhan tinggi, memiliki batang-batang dan
cabang yang beruas-ruas, hidup di air tawar. Reproduksinya secara vegetatif
dengan fragmentasi dan secara generatif dengan pertemuan sel telur yang
dihasilkan oleh oogonium dan sel sperma yang dihasilkan oleh anteridium.

5. Phaeophyta (Ganggang Coklat)


Ganggang coklat adalah protista mirip tumbuhan yang memiliki talus bersel
banyak, sehingga dapat dilihat secara makroskopis (kasat mata). Talusnya memiliki alat
pelekat untuk menempelkan tubuhnya pada substrat, sedangkan bagian tubuh yang
lainnya mengapung di atas air. Beberapa anggota Filum Phaeophyta seperti Sargassum,
Macrocystis, dan Nereocystis memiliki gelembung udara yang berfungsi untuk
menyimpan gas nitrogen dan untuk mengapung di atas permukaan air.

7
Gambar. Alga Cokelat (www.biologijk.com/2017)
Ganggang cokelat mengandung pigmen cokelat (xantofil), klorofil a dan c.
Pigmen xantofil jumlahnya dominan, sehingga menyebabkan warna talusnya coklat.
Cadangan makanannya disimpan dalam bentuk laminarin. Umumnya, ganggang cokelat
bersel banyak (multiseluler). Bentuk tubuhnya menyerupai tumbuhan tingkat tinggi
karena memiliki bagian menyerupai akar, batang, dan daun sehingga membuat
ganggang ini mudah untuk dikenali.
Sekitar 1.500 jenis Phaeophyta atau ganggang cokelat telah diketahui. Hampir
semua jenis Phaeophyta hidup di laut terutama di daerah yang dingin, yaitu hidup di
batu-batuan di dasar perairan sedalam 1,5 – 5 meter dari permukaan air. Semua alga
cokelat berbentuk benang atau lembaran dan bersifat autotrof (mampu menghasilkan
makanannya sendiri).
Semua Phaeophyta hidup berkoloni dengan bentuk bervariasi dari yang sederhana
hingga yang berbentuk besar dengan organisasi sel yang rumit. Pada Phaeophyta yang
berkoloni besar, belum terbentuk organ yang sesungguhnya meskipun pada beberapa
jenis terdapat bentuk menyerupai akar, batang, dan daun, namun keseluruhan bagian itu
disebut sebagai talus.
1. Ciri-Ciri Phaeophyta (Alga Cokelat)
Ganggang coklat (Phaeophyta) memiliki ciri atau karakteristik secara umum,
yaitu sebagai berikut.
a. Inti sel bersifat eukariotik karena inti sel telah memiliki membran.
b. Multiseluler (bersel banyak).
c. Berbentuk lembaran, bahkan ada yang menyerupai tumbuhan tinggi
(Plantae) karena memiliki bagian menyerupai akar, batang, dan daun.
d. Memiliki gelembung-gelembung udara yang berfungsi sebagai pelampung.
e. Memiliki ukuran talus mikroskopis sampai makroskopis.
8
f. Memiliki pigmen klorofil a, klorofil c, violaxantin, b-karotin,
diadinoxantin, serta xantofil yang jumlahnya dominan.
g. Berbentuk filamen bercabang, tidak bercabang dan ada juga yang tegak.
h. Bersifat autotorof, karena memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis.
i. Memiliki kloroplas tunggal berbentuk seperti benang ada pula yang
berbentuk cakram (discoid).
j. Kloroplas mengandung pirenois untuk menyimpan cadangan makanan.
k. Cadangan makanan yang disimpan berupa laminarin.
l. Memiliki dinding sel.
m. Pada dinding sel dan ruang intersel terdapat algi (asam alginate), bagian
dalam dinding sel tersusun oleh lapisan selulosa.
n. Memiliki jaringan untuk transportasi seperti tumbuhan tingkat tinggi.
o. Hampir semua jenis Phaeophyta memiliki habitat di laut terutama di daerah
yang dingin, yaitu hidup di batu-batuan di dasar perairan sedalam 1,5 – 5
meter dari permukaan air.
p. Semua Phaeophyta hidup berkoloni dengan bentuk bervariasi dari yang
sederhana hingga yang berbentuk besar (lebih dari 30 meter) dengan
organisasi sel yang rumit.
2. Klasifikasi Phaeophyta (Alga Cokelat)
Ganggang atau alga cokelat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Laminaria, memiliki batang, daunnya berbentuk lembaran, mengandung
yodium dan asam alginat.
b. Macrocystis, menghasilkan yodium dan asam alginat yang berfungsi
sebagai bahan industri.
c. Sargasum, daunnya berbentuk lembaran, di antara batang dan tangkainya
terdapat gelembung udara.
d. Fucus, bentuk daun berupa lembaran dan pada bagian tepi daun terdapat
gelembung.
3. Cara Reproduksi Phaeophyta (Alga Cokelat)
Perkembangbiakan pada Phaeophyta dilakukan secara aseksual (vegetatif) dan
seksual (generatif). Reproduksi aseksual alga cokelat dilakukan dengan
fragmentasi dan pembentukan spora (aplanospora dan zoospora). Zoospora
yang dihasilkan memiliki flagel yang tidak sama panjang dan terletak di bagian
lateral (sisi atau pinggir).
9
Sedangkan perkembangbiakan seksual dilakukan dengan isogami, anisogami,
atau oogami. Fucus vesiculosis adalah salah satu contoh alga cokelat yang
berkembang biak secara oogami. Ada cara reproduksi generatif/seksual ganggang
cokelat yang mirip dengan tumbuhan tingkat tinggi, yaitu ujung-ujung lembaran
talusnya yang fertil membentuk suatu badan yang mengandung alat pembiak
disebut reseptakel.
Di dalam reseptakel ini terdapat konseptakel yang mengandung anteridium
yang menghasilkan sel kelamin jantan berupa spermatozoid dan oogonium yang
menghasilkan sel telur (ovum) dan benang-benang mandul yang disebut parafisis.
Anteridium berupa sel-sel berbentuk corong yang muncul dari dasar dan tepi
konseptakel, oogonium berupa badan yang duduk di atas tangkai.
Jika spermatozoid dapat membuahi sel telur akan terbentuklah zigot. Zigot
lalu membentuk dinding selulosa dan pektin yang tebal, kemudian melekat pada
suatu substrat seperti bebatuan, selanjutnya tumbuh menjadi individu baru yang
kromosom tubuhnya diploid.
4. Contoh dan Peranan Phaeophyta (Alga Cokelat) dalam Kehidupan
Banyak jenis Phaeophyta yang bermanfaat bagi manusia. Beberapa jenis
menghasilkan bahan makanan manusia. Di negara lain kelp dimanfaatkan untuk
makanan ternak dan pupuk, karena kandungan nitrogen dan kaliumnya tinggi
tetapi kandungan fosfornya rendah. Phaeophyta juga menghasilkan algin (asam
alginat), suatu koloid yang berguna sebagai bahan penstabil pada pembuatan es
krim. Algin juga penting dalam industri farmasi, yaitu untuk bahan pembuatan
pil, tablet, salep, dan obat pembersih gigi.
Beberapa contoh Phaeophyta adalah sebagai berikut.
a. Fucus vesiculosus, tingginya dapat mencapai 30 – 100 cm, hidup menempel di
bebatuan yang tampak jika air surut. Terdapat gelembung udara sepanjang sisi
talus yang bercabang-cabang seperti garpu. Ujungnya membesar yang
membentuk konseptakel.
b. Sargassum siliquosum, hidup menempel bebatuan di sepanjang pantai berbatu
daerah tropis. Namun di pantai Atlantik bagian utara jenis Sargasssum
natans hidup bebas mengapung di permukaan laut. Ukuran Sargassum
beragam dari yang kecil hingga yang panjangnya mencapai ratusan meter.

10
c. Macrocystis integrifolia atau kelp, ukurannya sangat besar, di pantai barat
Amerika Utara panjangnya ditemukan dapat mencapai tiga kilometer. Kelp
hidup menempel kuat di bebatuan dengan bantuan talus yang menyerupai akar.
d. Laminaria sinclairii merupakan jenis ganggang cokelat penghasil asam alginat
yang dibutuhkan untuk produksi tekstil, makanan, dan kosmetik.
e. Fucus serratus, termasuk alga warna cokelat yang berdiferensiasi menjadi
bentuk yang mengapung.
f. Postelia merupakan contoh alga cokelat yang banyak dijumpai.
g. Turbinaria decurens, Dictyota sp., Dictyosiphon sp., Nereocystis sp. adalah
contoh lain dari spesies Phaeophyta atau ganggang cokelat.

6. Rhodophyta (Ganggang Merah)


Istilah “Rhodophyta” berasal dari bahasa Yunani, rhodos yang berarti “merah”.
Jadi, Rhodophyta berarti ganggang merah (red algae). Berbeda dengan Filum lainnya,
Filum ini tidak mempunyai tahapan flagella dalam siklus hidupnya. Anggota Filum ini
mempunyai pigmen fotosintetik berupa fikobilin yang terdiri dari fikoeritrin (pigmen
merah) dan fikosianin (pigmen biru). Selain dua pigmen tersebut, Rhodophyta juga
memiliki klorofil a dan b serta karotenoid.

Gambar. Alga Merah (www.biologijk.com/2017)


Fikoeritrin merupakan pigmen yang paling dominan sehingga menyebabkan
warna talus ganggang ini menjadi merah. Meskipun demikian, tidak semua ganggang
ini berwarna merah. Di laut dalam, ganggang ini mempunyai warna ungu hampir hitam.
Pada kedalaman sedang berwarna merah cerah, sedangkan pada air yang sangat
dangkal, berwarna agak kehijauan.

11
Saat ini telah dikenal sekitar 2.500 jenis yang kebanyakan hidup di laut terutama
daerah tropis dan sering disebut dengan nama rumput laut (sea weed) karena bentuk
tubuhnya seperti rumput. Rhodophyta tumbuh pada bebatuan di daerah pasang hingga
kedalaman mencapai 90 meter di bawah permukaan laut di mana gelombang cahaya
tertentu dari sinar matahari masih mampu mencapainya.
Talus Rhodophyta relatif besar, namun jarang yang panjangnya melebihi 90 cm.
Beberapa jenis berbentuk filamen tetapi kebanyakan membentuk struktur kompleks
yang bercabang-cabang menyerupai bulu atau pipih menyebar menyerupai pita.
Umumnya, Rhodophyta multiseluler, namun terdapat juga Rhodophyta yang uniseluler.
Alga merah multiseluler umumnya makroskopis dan struktur tubuhnya menyerupai
tumbuhan (talus). Talus pada Rhodophyta berupa helaian atau seperti tumbuhan.
a. Ciri-Ciri Rhodophyta (Alga Merah)
Ganggang merah (Rhodophyta) memiliki ciri atau karakteristik secara
umum, antara lain sebagai berikut.
 Inti sel bersifat eukariotik karena inti sel telah memiliki membran.
 Sebagian besar multiseluler (bersel banyak).
 Umumnya makroskopis (dapat dilihat dengan kasat mata) dengan
panjang dapat mencapai 1 meter.
 Satu-satunya alga yang tidak memiliki fase berflagel dalam siklus
hidupnya.
 Bersifat autotorof, karena memiliki klorofil untuk melakukan
fotosintesis.
 Kloroplas mengandung pirenoid untuk menyimpan hasil fotosintesis.
 Cadangan makanan disimpan dalam bentuk tepung fluoride (sejenis
karbohidrat), floridosid (senyawa gliserin dan galaktosa) dan tetes-tetes
minyak. Floridosid akan bewarna kemerah-merahan jika ditambah
dengan iodium.
 Bentuk talus berupa helaian atau berbentuk seperti pohon.
 Talus bewarna merah sampai ungu tetapi ada juga yang pirang atau
kemerah-merahan.
 Tubuhnya diselimuti kalsium karbonat (CaCO3).

12
 Dinding sel terdiri atas komponen yang berlapis-lapis. Dinding sel
sebelah dalam tersusun dari myofibril, sedangkan sel sebelah luar
tersusun dari zat lendir.
 Memiliki pigmen klorofil a dan b, karotenoid, fikosianin (biru) dan
pigmen dominan fikoeritrin (merah).
b. Cara Reproduksi Rhodophyta (Alga Merah)
Ganggang merah dapat bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dan secara
seksual (generatif). Perkembangbiakan aseksual dengan membentuk
aplanospora, yaitu spora nonmotil (tidak bergerak) dan berasal dari talus
ganggang yang diploid. Selanjutnya, spora tersebut akan tumbuh menjadi
ganggang merah baru. Pada Rhodophyta, perkembangbiakan aseksual secara
fragmentasi jarang terjadi.
Perkembangbiakan seksual (generatif) terjadi secara oogami, dan pada
beberapa jenis mengalami pergiliran keturunan (metagenesis). Reproduksi secara
generatif dilakukan dengan peleburan antara gamet jantan yang tidak memiliki
alat gerak (spermatium) dan ovum. Gamet jantan tersebut dibentuk dalam
spermatangium, sedangkan gamet betina dibentuk dalam karpogonium. Zigot
hasil pembuahan selanjutnya akan tumbuh menjadi ganggang merah yag diploid.
c. Contoh dan Peranan Rhodophyta (Alga Merah) dalam Kehidupan
Beberapa contoh Rodophyta adalah sebagai berikut.
 Eucheuma spinosum, banyak dibudidayakan karena menghasilkan agar,
banyak terdapat di perairan Indonesia.
 Chondrus crispus, juga dibudidayakan yang dikenal sebagai rumput laut.
 Gelidium coulteri dan Gracilaria sp., sebagai bahan pembuatan agar-agar
banyak terdapat di perairan negara yang agak dingin.
 Carolina sp. merupakan anggota Rhodophyta (ganggang merah) yang
tubuhnya dilapisi oleh kalsium karbonat.
 Dasya, Batracnospermum, Scinaiafurcellata, Porphyra perforata,
Polysphonia, Halosaccion glandiforme, Bossea orbigniana, dan
sebagainya.

13
I. Habitat Alga
Wilayah pesisir merupakan wilayah yang unik karena ditemukan berbagai ekosistem
mulai dari daerah pasang surut, estuari, hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, estuaria,
dan sebagainya. Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara darat dan laut yang meliputi
wilayah sekitar 8% permukaan bumi (Fachrul, 2007). Pada perairan dangkal hingga
kedalaman 40 m terdapat salah satu ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan laut, baik
perairan dangkal maupun laut dalam.
Ekosistem terumbu karang (coral reef), yang merupakan nama ekosistem tersebut
merupakan perairan paling produktif di perairan laut tropis. Luas ekosistem terumbu karang
di perairan Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 85.707 km2, yang berarti menyimpan
kekayaan alam yang sangat besar. Terumbu karang merupakan sumber kehidupan bagi jutaan
nelayan dan masyarakat, serta sumber devisa bagi negara. Ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi
yang selama ini ditangkap di daerah terumbu karang antara lain kerapu, kakap, napoleon dan
lain sebagainya. Sementara biota nonikan yang ditangkap/diambil di daerah terumbu karang
diantaranya; kima, kerang, kerang mutiara, susu bundar, teripang, bulu babi, lobster, sotong
dan rumput laut. Beberapa spesies rumput laut tersebut adalah Eucheuma, Gracilaria,
Gelidium, Hypnea (Kordi, 2010).

J. Manfaat Makroalga
Menurut Atmadja et al. (1996) pada awal 1980 perkembangan permintaan rumput laut
di dunia meningkat seiring dengan peningkatan pemakaian rumput laut untuk berbagai
keperluan antara lain di bidang industri, makanan, tekstil, kertas, cat, kosmetika, dan farmasi
(obat-obatan). Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut untuk industri dimulai untuk industri
agar-agar (Gelidium dan Gracilaria) kemudian untuk industri kerajinan (Eucheuma) serta
untuk industri alginat (Sargassum).
Makroalga merupakan salah satu sumber kekayaan laut di Indonesia yang tumbuh dan
menyebar hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia. Diperkirakan sepanjang garis pantai
sekitar 81.000 km diyakini memiliki potensi makroalga yang sangat tinggi. Dari segi
ekonomis rumput laut merupakan komoditi yang potensial untuk dikembangkan mengingat
nilai gizi yang dikandungnya. Menurut kandungan zat yang terdapat pada rumput, maka
rumput laut dapat dijadikan bahan makanan seperti agar-agar, sayuran, kue dan menghasilkan
bahan algin, karaginan dan furcelaran yang digunakan dalam industri farmasi, kosmetik,
tekstil dan lain-lain (Miarni, 2004).

14
Keberadaan makroalga di rataan terumbu merupakan sadiaan bahan makanan, obat-
obatan bagi manusia juga sebagai ladang pakan bagi biota herbivor. Makroalga yang dapat
dikonsumsi banyak diperoleh dari marga Caulerpa, Gracilaria, Gelidiella, Eucheuma, dan
Gelidium. Kehadiran, pertumbuhan sampai perkembangbiakan makroalga lebih banyak
dijumpai pada substrat yang stabil dan keras, sehingga tidak mudah terkikis oleh arus dan
ombak (Kadi, 2008). Khusus mengenai vegetasi makroalga di perairan laut, umumnya
merupakan komponen dari ekosistem terumbu karang. Keberadaannya sebagai makroalga
juga berperan dalam upaya pemulihan kualitas air, akibat pencemaran ekosistem perairan
payau, khususnya di perairan budidaya, yang dapat dilakukan dengan berbagai jenis
teknologi, baik dengan teknologi sederhana maupun teknologi yang kompleks (Atmadja et al.
1996). Keberadaan makroalga sebagai organisme produser memberikan sumbangan yang
berarti bagi kehidupan binatang akuatik terutama organisme-organisme herbivora di perairan
laut. Dari segi ekologi makroalga juga berfungsi sebagai penyedia karbonat dan pengokoh
substrat dasar yang bermanfaat bagi stabilitas dan kelanjutan keberadaan terumbu karang
(Oktaviani, 2013).

15
BAB III
PENUTUP

B. KESIMPULAN
Makroalga adalah kelompok alga multiseluler yang tubuhnya berupa talus yang tidak
mempunyai akar, batang dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini hidup di perairan laut yang
masih mendapat cahaya matahari dengan menempel pada substrat yang keras (Asriyana dan
Yuliana, 2012).
Makroalga laut ini tidak mempunyai akar, batang, dan daun sejati yang kemudian
disebut dengan thallus, karenanya secara taksonomi dikelompokan ke dalam divisi
Thallophyta . Tiga kelas cukup besar dalam divisi ini adalah Chlorophyta (alga hijau),
Phaeophyta (alga coklat, Rhodophyta (alga merah) (Waryono, 2001).
Keberadaan makroalga sebagai organisme produser memberikan sumbangan yang
berarti bagi kehidupan binatang akuatik terutama organisme-organisme herbivora di perairan
laut. Dari segi ekologi makroalga juga berfungsi sebagai penyedia karbonat dan pengokoh
substrat dasar yang bermanfaat bagi stabilitas dan kelanjutan keberadaan terumbu karang
(Oktaviani, 2013).

16
DAFTAR PUSTAKA

Bold, and wynne,1985.dalam lase 2014.H.4/5. Ekologi Perairan.sekolah pasca sarjana


Jurusan Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan.

Maused,1998,H.608.Laut Nusantara.. Djambatan.Jakarta.

Setyobudiandi,2009.H.3. Evaluasi lingkungan budidaya rumput laut di teluk bagula


Maluku.http://www.coremap.or.id/download01/21.pdf.

Sulisetijono,2000.dalam Zainuddin,2011.H.20.Distribusi makroalga di perairan kepulauan


spermonde.Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar.

17