Anda di halaman 1dari 17

ARTEFAK MRI

Disusun oleh :

ARI DWI JAYANTI

ASEP NUR HIDAYAT

RIDHO PRAMU BHAKTI

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN


RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Magnetic Resonance Imaging MRI adalah suatu teknik penggambaran penampang


tubuh berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hydrogen. Teknik
penggambaran MRI relatih komplek karena gambaran yang dihasilkan tergantung pada
parameter yang digunakan. Alat tersebut memiliki kemampuan membuat gambaran
potongan coronal, sagittal, aksial dan oblik tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien.
Bila pemilihan parameter tepat, kualitas gambaran tubuh manusia akan tampak jelas,
sehingga anatomi dan patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti.

Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan MRI merupakan kategori pemeriksaan yang ralatif


aman. Namun pemeriksaan MRI tergolong dalam pemeriksaan yang paling senditif
terhadap timbulnya artefak pada hasil gambaran. Artefak yang terjadi dapat disebabkan
oleh pasien, mesin atau teknik / sequence yang dipakai saat pemeriksaan.

Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mempelajari lebih lanjut tentang artefak pada
MRI beserta cara menghilangkannya. Dan mengangkatnya menjadi judul makalah yang
berjudul “Artefak Pada MRI”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, penulis mengangkat beberapa rumusan masalah


sebagai

berikut :

1. Apakah yang dimaksud dengan Artefak ?


2. Apa macam-macam Artefak pada MRI ?
3. Bagaimana cara menghilangkan Artefak pada MRI?

1.3 Tujuan

Pembuatan Laporan kasus ini bertujuan untuk:

1. Tujuan Umum

Memenuhi tugas makalah pada mata kuliah MRI dasar di Semester VI.

1. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian Artefak..
2. Mengetahui macam Artefak pada MRI beserta cara untuk
menghilangkanya.
3. Menambah pengetahuan penulis maupun pembaca tentang macam
artefak beserta cara untuk menghilangkanya pada modalitas MRI.

1.4 Manfaat

Manfaat dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat bagi penulis adalah menambah pengetahuan penulis tentang pengertian


Artefak, macam-macam Artefak beserta cara untuk menghilangkanya pada
modaitas MRI.
2. Manfaat bagi masyarakat untuk menambah wawasan dan ilmu tentang Artefak
pada modalitas MRI.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Artefak

Pencitraan tubuh manusia dengan MRI terbentuk dari hasil pemanfaatan medan magnet
dan gelombang radiofrekuensi terhadap tubuh manusia (pasien), walaupun pemeriksaan
MRI relatif aman namun pemeriksaan dengan menggunakan modalitas MRI rentan atau
sensitif terhadap timbulnya suatu artefakpada hasil gambaran. Artefak sendiri
merupakan suatu gambaran asing yang muncul pada hasil citra MRI yang sebetulnya
tidak diinginkan kemunculannya.

Artefak muncul disebabkan oleh beberapa sebab yaitu, disebabkan oleh pasien, mesin
atau teknik yang dipakai saat pemeriksaan. Artefak dapat ditimbulkan oleh:

1. Sistem/ peralatan MRI

2. Sequences/ protocol yang dipakai

3. Radiografer yang mengoperasikan alat MRI

4. Pasien

5. Gerakan fisiologi organ tubuh (aliran darah, gerakan peristaltic, nafas dan
denyut jantung)

6. Lingkungan

Hasil citra MRI tidak sepenuhnya akan terhindar atau bersih dari artefak, akan
selalu ada artefak yang muncul pada hasil citra MRI. Hal itu dianggap wajar, namun
berikut merupakan patokan atau dasar penilaian artefak manakah yang perlu untuk
menjadi perhatian, sbb:
1. Dapat langsung terlihat/ nyata

2. Merupakan hasil teknik yang salah

3. Sangat mempengaruhi hasil citra secara luas (menimbulkan missinteprtasi)

2.2 Macam-Macam artefak

A. Artefak yang disebabkan karena Gelombang RF.


1. Zipper Artefak.

Zipper Artefak muncul sebagai garis padat pada gambar titik tertentu.
artefak Zipper terlihat adanya garis horizontal pada gambar. Penyebab
terjadinya ialah disebabkan oleh RF yang memasuki ruangan pada frekuensi
tertentu dan mengganggu sinyal yang lemah datang dari pasien.dan bisa terjadi
juga karena hal ini disebabkan oleh kebocoran di perisai RF ruangan. Cara
menanggualnginya ialah hanya ada satu jalan keluar yaitu memanggil teknisi
dari alat yang bersangkutan untuk mencari kebocoran dan memperbaikinya

2. Signal Loss Artifact.

Artefak yang disebabkan ada elemen coil yang rusak dan coil yang tidak
mencakup seluruh organ yang diperiksa. Ciri-cirinya gambaran semakin lama
semakin gelap / hilang seiring penambahan slice. Cara menangulanginya ialah
gunakan coil yang sesuai dengan luas obyek / mencakup obyek yang diperiksa
dan simpan coil dengan posisi yang benar untuk mencegah kerusakan coil.

3. Noisy Image due to Excessive Coil Use.

Ciri Gambaran sangat noise dan low resolution walaupun SNR telah
dinaikkan. Penyebab terlalu banyak coil yang dipakai / diaktifkan – Coil yang
berada diluar FOV akan menghasilkan dephasing signal yang akan ditangkap
bersamaan dengan signal echo oleh coil yang berada di dalam FOV. Cara
mengatasinya dengan mengunakan coil sesuai dengan luas obyek/ mencakup
obyek yang diperiksa.

B. Artefak yang disebabkan karena pengaturan Parameter.


1. Aliasing or Wrap Around Artefak.
Lilitan atau aliasing membuat suatu gambar dimana anatomi yang ada
diluar FOV terlipat kedalam anatomi yang ada di dalam FOV. Pada gambar
dibawah, FOV pada arah sefase lebih kecil daripada dimensi anterior-posterior
dari kepala. Untuk itu sinyal di luar FOV pada arah yang sefase terlilit ke dalam
gambar. Penyebabnya ialah, Aliasing terbentuk saat anatomi yang ada di luar
FOV terpetakan di dalam FOV. Anatomi yang diluar FOV yang terpilih masih
membentuk sinyal apabila berada dekat dengan receiver coil (koil penerima).
Data dari sinyal harus diencode, mengalokasikan posisi suatu pixel. Apabila data
under-sampling, sinyal disalahpetakan ke dalam pixel yang berada pada FOV
daripada diluar FOV. Aliasing dapat terjadi bersamaan dengan frekuensi dan
fase axis.
 Lilitan pada frekuensi (Wrap Frekuensi)

Aliasing yang bersamaan dengan axis frekuensi encoding dikenal dengan


lilitan pada frekuensi (frekuensi wrap). Hal ini disebabkan oleh under-sampling
frekuensi yang terjadi di dalam echo. Frekuensi ini umumnya berasal dari sinyal
manapun, tanpa memperhatikan apakah anatomi membentuk frekuensi di dalam
maupun di luar dari FOV yang dipilih. Idealnya, hanya frekuensi yang berasal
dari dalam FOV yang mengalokasikan posisi suatu pixel. Hal ini hanya terjadi
jika frekuensi dicontohkan (sample) cukup sering. Menurut teori Nyquist,
frekuensi harus dicontohkan (sample) paling tidak dua kali per siklus untuk
memetakan mereka dengan benar. Apabila teori Nyquist tidak dipatuhi dan
frekuensi tidak dicontohkan (sampled) secara cukup, sinyal dari anatomi di luar
FOV di dalam arah frekuensi yang diencode akan dipetakan ke dalam FOV
(gambar di bawah). Menghasilkan lilitan di sekitar (wrap around) axis frekuensi
encode.

 Lilitan pada Fase (Wrap Fase)

Aliasing yang bersamaan dengan axis fase dari suatu gambar dikenal
dengan wrap fase (lilitan pada saat fase). Hal ini disebabkan oleh under-
sampling yang bersamaan dengan axis fase. Setelah FFT setiap vase bernilai dari
0o hingga 360o (atau jam 12 hingga kembali lagi ke jam 12) harus dipetakan ke
dalam FOV dalam fase encoding yang searah (gambar 1.3). kurva fase ini
diulangi ke kedua sisi dari FOV yang bersamaan dengan axis fase. Sinyal
apapun mengalokasikan suatu nilai fase berdasarkan posisinya bersama dengan
kurva ini. Dengan kurva yang diulangi, sinyal yang umumnya berada diluar
FOV dalam fase yang searah mengalokasikan nilai fase yang sudah diberikan
untuk sinyal yang berasal dari dalam FOV. Untuk itu, ada suatu nilai fase yg
diduplikasi. Duplikasi ini menyebabkan wrap fase selama fase axis.

Adapun cara menanggulanginya ialah dengan cara, Aliasing yang


bersamaan dengan frekuensi maupun axis fase dapat sepenuhnya menurunkan
kualitas suatu gambar dan harus diperbaiki. Memperbesar FOV sehingga semua
anatomi memproduksi sinyal disatukan ke dalam FOV yang menerima sinyal
ini, namun juga menghasilkan hilangnya resolusi spasial. Membawa pre-saturasi
ke dalam area di luar FOV yang mungkin terlilit (wrap) ke dalam gambar
terkadang bisa secara cukup membatalkan sinyal dari area ini dan mengurangi
aliasing. Bagaimanapun juga, ada dua metode anti-aliasing yang tersedia untuk
memperbaiki wrap.

2. Cross-exitation and Cross-talk

Batas slice pada suatu akuisisi mempunyai perbedaan kontras image.


Penyebabnya ialah pulse RF eksitasi tidak selalu berbentuk persegi. Lebar pulse
harus setangah dari nilai amplitude, namun normalnya dapat dirubah hingga %
dari nilai amplitude. Hasilnya, inti atom menjadi batasan slice pada pulse RF
eksitasi. Batasan slice tersebut menerima energy dari pulse RF eksitasi dari
sebelahnya. Energi ini menekan nilai NMV dari inti atom terhadap garis
transversal, yang pada akhirnya menghasilkan saturasi saat inti atom tersebut
eksitasi. Efek ini dinamakan dengan cross-exitation dan mempengaruhi kontras
image. Efek yang sama dihasilkan oleh energy hambur, seperti atom-atom pada
slice tertentu yang relaksasi menuju B0. Atom-atom tersebut menghilangkan
energy untuk menuju relaksasi spin lattice. Efek ini spesial disebut sebagai
cross-talk. Cross-talk, tidak akan pernah hilang atau tidak akan pernah bisa
diatasi karena disebabkan hilangnya energy secara alami dari inti atom. Cross-
excitation dapat sedikit dikurangi dengan memastikan bahwa adanya sedikit
batasan sekitar 30% antara tiap slices. 30% ini ialah bagian dari slicethickness
dan kemungkinan dapat mengurangi batasan slice dari RF eksitasi.

3. Chemical Shift/ Black Boundary Artefak

Chemical Shift/ Black Boundary, pada dasarnya terjadi karena adanya


perbedaan dari ikatan atom hydrogen pada jaringan , terutama pada jaringan
lunak dan lemak. Artefak tervisualisasi seperti adanya gambaran batas berwarna
hitam pada organ (sisi terluar organ) dan akan semakin terlihat jelas pada saat
penggunaan bandwidth kecil. Gambaran batas berwarna hitam tersebut timbul
pada arah frekuensi encoding. Terkadang jenis artefak ini berguna untuk
memberikan gambaran batas organ yang lebih tegas.

Cara mengatasinya adalah dengan menggunakan bandwidth yang lebih


lebar, merubah arah frekuensi encoding dan direkomendasikan untuk merubah
nilai TE mendekati 4.5 ms, 9 ms atau 13.6 ms ( pada MRI 1.5 ) untuk
menguranginya.

4. Truncation Artefak

Truncation Artefak pada dasarnya terjadi karena proses undersampling


pada high spasial frekuensi encoding dan tervisualisasi sebagai garis-garis halus
pada tepian gambaran organ. Cara mengatasinya ialah dengan menaikkan jumlah
phase encoding ( misal dari 128 menjadi 256 phase encoding ) atau dengan kata
lain atur resolusi matrix pada arah frekuensi sesua dengan lebar FOV dan tidak
lebih kecil dari matrix arah phase
5. Blurring dan Low Resolution

Blurring dan Low Resolution, terjadi karena penggunaan matrix yang


terlau kecil pada FOV yang besar, misal 96 x 128 pada FoV 25 x 25 xm.
Visualisasinya adalah artefak tergambar seperti gambaran kabur yang tidak jelas.
Cara menanggulanginya ialah dengan menggunakan FOV yang lebih kecil jika
ingin perkalian matrix tetap serta gunakan perkalian matrix yang besar untuk
FOV yang besar pula, misal 256 x 256 pada FoV 25 x 25 cm.

6. Moire Pattern Artefak

Meyerupai seperti bekas jilidan atau tumpukan berwarna hitam putih


pada tepi FOV. Moire pattern (pola kain sutra) merupakan suatu artefak yang
berbentuk sebagai garis radial halus yang biasanya ditemukan dekat tulang padat
atau dekat batas lengkung suatu gambar yang padat, disebabkan fungsi mekanik
yang kurang baik.Dalam pencitraan koronal dari tubuh, terutama jika lengan
pasien menyentuh lubang magnet, piksel yang dibungkus di atas satu sama lain
karena anatomi ada di luar FOV tetapi menghasilkan sinyal. Inhomogeneitas
menyebabkan bungkus ini menjadi masuk dan keluar dari fase menyebabkan
penampilan banding. Cara mengatasinya ialah dengan menggunakan spin echo
sequence atau memastikan lengan pasien berada dalam jangkauan FOV.
Gambaran Moire Pattern Artefak

7. Magic Angle Artefak

Terlihat pada jaringan yang mengandung kolagen (seperti tendon)


sebagai intensitas sinyal tinggi. ini terlihat pada bagian tendon patella. Hal ini
disebabkan saat struktur yang mengandung kolagen yang sebenarnya tidak ada
pada sudut 55° dengan bidang utama. Bentuk anisotropik dari molekul kolagen
menyebabkan pengurangan interaksi spin ke nol sehingga peluruhan T2 waktu
meningkat ketika struktur kolagen yang mengandung terletak di sudut ini ke B0.
Hal ini menyebabkan peningkatan intensitas sinyal dalam struktur ketika TES
pendek digunakan. Cara mengatasinya ialah dengan du acara yaitu, mengubah
sudut struktur atau mengubah TE.

Magic angle artefack terlihat memiliki intensitas sinyal tinggi pada


batas bawah tendon patella.
C. Artefak yang disebabkan karena Pasien.
1. Partial Blurring dan Double Organ
Partial Blurring dan Double Organ, merupakan gamabaran yang terbentu
tidak sempurna, terlihar blurred pada sebagian besar gambaran organ, ditandai
dengan gambar yang bergradasi atau bergelombang, tampilan organ menjadi
dobel dan jika terjadi disaat akhir sequences akan menimbulkan garis-garis halus
pada tepian objek. Hal ini dapat disebabkan oleh, pasien terbatuk ditengah
pemeriksaan, pasien bergerak ditengah pemeriksaan

Cara mengatasinya ialah dengan beberapa cara, yaitu ulangi sequnces setelah
pasien lebih tenang/ berhenti batuk, turunkan TA (turunkan average) agar
pemeriksaan lebih singkat sehingga resiko gerakan dapat diminimalisir, dan
informasikan kepada pasien untuk tetap tenang selama pemeriksaan.

2. Failed Sampling.
Gambaran artefak tidak terbentuk, noise dan outline organ saling
bertumpuk. Penyebab dari artefak ini pasien bergerak di tengah pemeriksaan.
Cara mengatasinya adalah komunikasikan agar pasien tidak boleh bergerak pada
waktu pemeriksaan atau diberikan anestesi bila diperlukan.
A. Respiratory Motion
Artefak yang disebabkan dari pasien yang bernafas pada saat
pemeriksaan tahan nafas. Ciri artefak ini gambaran menjadi blur atau tidak jelas
batas-batasnya.artefak ini sering terjadi di pemeriksaan abdomen. Cara
mengatasinya komunikasi agar mengikuti atau menggunakan respiratory trigger.

D. Artefak-artefak yang disebabkan karena Susceptibility & Metal


1. Magnetic susceptibility artefact

Magnetic susceptibility artefact merupakan artefak yang disebabkan oleh


kerentanan medan magnet. Artefak ini menghasilkan distorsi dari suatu
pencitraan dengan sinyal yang besar. Penyebabnya adalah kerentanan suatu zat
dalam kemapuannya untuk berubah menjadi suatu medan magnet. Perbedaan
magnetifikasi dari suatu jaringan menentukan derajat yang berbeda pula, dan
menghasilkan perbedaan inprecessional fase dan frekuensi. Hal ini
menyebabkan dephasing pada permukaan jaringan dnan hilangnya sinyal. Dalam
prakteknya, penyebab utama artefak ini adalah logam dalam volume pencitraan,
meskipun dapat juga dilihat dari secara alami kandungan dari perdarahan, karena
sinyal magnetisasi ini lebih banyak dihasilkan daripada jaringan lainnya. Benda
feromagnetik memiliki kerentanan magnet yang sangat tinggi dan menyebabkan
distorsi pada gambar. Artefak ini lebih sering terlihat pada sequences gradient
echo karena tidak dapat menentukan perbedaan fase dari permukaan. Namun
terkadang artefak ini dapat membantu dalam menegakkan diagnosis. Seperti
halnya pada perdarahan kecil, kadang-kadang terlihat karena perdaerahan kecil
tersebut yang justru menimbulkan adanya artefak ini. Namun secara umum tidak
diinginkan dan dianggap menganggu gambaran dari suatu imejing MRI.

Cara menanggulangi artefak ini ialah, lepaskan semua benda logam yang
berada pada tubuh objek pemeriksaan, gunakan sequences spin echo sebagai
gantinya dan menurukan nilai TE karena penggunaan nilai TE yang pendek
dapat mengurangi artefak.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada pencitraan MRI tidak akan pernah terhindar atau terlepas dari artefak. Artefak
sendiri merupakan gambaran yang sebetulnya tidak diinginkan namun muncul pada
gambaran. Sebagai radiografer kita dapat sedikit untuk mengatsinya namun tidak serta
merta dapat menghilangkan artefak begitu saja. Akan selalu ada artefak pada pencitraan
MRI. Faktor – faktor penyebab timbulnya artefak ada berbagai macam , seperti :

 Sequence Parameter : FoV dan Matrix, B/W, PE


 System : Coils, Homogeinity
 Operator : Human Error
 Pasien : Tidak Kooperatif, Metal Implant
 Physiological : Respiratory, Cardiac, Peristalsis
 External Sources: RF Interfere
DAFTAR PUSTAKA

D. W. McRobbie, E. A. Moore, M. J. Graves, M. R. Prince. 2003. MRI – From Picture


to Proton. Cambrigde University Press.

Evert J Blink. 2004. Basic MRI : Physics. For anyone who does not have a degree in
physic

Mark A Brown, et.al. 2003. MRI Basic Principal and Application 3rd ed. Canada :
Wiley-Liss

Muzammil, Akhmad. SST, Prinsip Dasar Fisika, Tips dan Trik Teknik Pemeriksaan
MRI 1,5 T, Surabaya

Westbrook, Catherine, Carolyn Kaut Roth, John Talbot. MRI in Practice Ed. 4th. 2011
Wiley-Blackwell: USA