Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perjuangan Muhammadiyah adalah perjuangan menegakkan dan
menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya. Perjuangan Muhammadiyah tersebut dilaksankan melalui
gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di seluruh lapangan kehidupan dengan
sasaran umat dakwah dan umat ijabah baik pada level perseorangan maupun
masyarakat, sebagaimana yang menjadi misi persyarikatan sesuai firman Allah
dalam surat Ali Imran : 104 sebagai berikut “ dan hendaklah ada diantara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Ditinjau dari stuktur konsepsinya, pada hakekatnya perjuangan
Muhammadiyah merupakan operasionalisasi strategis dari Khittah perjuangan
muhammadiyah. Karena itu Khittah Perjuangan Muhammadiyah dapat dikatakan
dengan sebagai pola dasar dari strategi perjuangan Muhammadiyah. Sedangkan
dilihat dari substansinya, Khittah Perjuangan Muhammadiyah dapat dikatakan
sebagai teori perjuangan, yakni sebagai kerangka berfikir untuk memahami dan
memecahkan persoalan yang dihadapi Muhammadiyah sesuai dengan gerakannya
dalam konteks situasi dan kondisi yang dihadapi.
Adapun Khittah Perjuangan Muhammadiyah itu berisi beberapa pernyataan
yang diantaranya tentang :
1. Hakikat Muhammadiyah
2. Muhammadiyah dan masyarakat
3. Muhammadiyah dan politik
4. Muhammadiyah dan Ukhuwah Islamiyah
5. Dasar Program Muhammadiyah

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Khittah Perjuangan Muhammadiyah…?
2. Apa saja jenis Khittah Perjuangan Muhammadiyah…?
3. Bagaimanakah pandangan tentang Khittah Perjuagangan Muhammadiyah?

1.3 Tujuan
1. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Al-Islam dan
Kemuhammadiyahan 4.
2. Memahami pengertian tentang Khittah Perjuangan Muhammadiyah.
3. Memahami berbagai pernyataan yang erat kaitannya dengan Khittah
Perjuangan Muhammadiyah.
4. Mampu memberikan pandangan tentang Khittah Perjuangan
Muhammadiyah dari berbagai aspek.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Khittah
Apa itu khittah..? Khittah secara bahasa berarti langkah atau jalan. Dalam
dunia gerakan Muhammadiyah, Khittah dipakai untuk menyebut panduan
langkah-langkah dalam berjuang. Khittah adalah pedoman yang dipegang oleh
Muhammadiyah yang sangat berguna ketika menghadapi kenyataan yang
sebenarnya di masyarakat. Singkatnya khittah adalah garis-garis garis haluan
perjuangan Muhammadiyah.
Khittah itu mengandung konsepsi (pemikiran) perjuangan yang merupakan
tuntunan, pedoman, dan arah perjuangan. Hal tersebut mempunyai arti penting
karena menjadi landasan berpikir dan amal usaha bagi semua pimpinan dan
anggota muhammadiyah. Garis-garis besar perjuangan Muhammadiyah tersebut
tidak boleh bertentangan dengan asas dan program yang telah disusun. Isi khittah
harus sesuai dengan tujuan Muhammadiyah, khittah disusun sesuai dengan
perkembangan zaman.
Dilihat dari konsepsinya, maka hakekat strategi perjuangan muhammadiyah
adalah operasionalisasi strategis dari Khittah Perjuangan Muhammadiyah. Oleh
karena itu Khittah Muhammadiyah dapat dikatakan sebagai Pola Dasar dari
Strategi Perjuangan Muhammadiyah.
Dan jika dilihat ari situasinya, maka Khittah Perjuangan Muhammadiyah
dapat dikatakan sebagai Teori Perjuangan, yaitu sebagai kerangka berfikir untuk
memahami dan memecahkan persoalan yang dihadapi Muhammadiyah sesuai
dengan gerakannya dalam konterks situasi dan kondisi yang dihadapi.
Adapun Khittah Perjuangan Muhammadiyah itu terdiri dari lima pernyataan,
yaitu tentang ; hakekat Muhammadiyah, Muhammadiyah dan masyarakat,
Muhammadiyah dan politik, Muhammadiyah dan ukhuwah Islamiyah, dan Dasar
Program Muhammadiyah, yang secara lengkap dan detail akan diuraikan sebagai
berikut :

3
2.1.1. Hakekat Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai gerakan selalu mengikuti perkembangan dan
perubahan-perubahan di semua aspek kehidupan masyarakat , seperti bidang
sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Perubahan dan
perkembangan itu selalu diarahkan untuk melaksanakan Amal ma’ruf nahi
munkar serta menyelenggarakan dan amal usaha yang sesuai dengan kondisi
masyarakat, seperti amal usaha Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya
“Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
Dalam melaksanakan usaha tersebut, muhammadiyah berjalan di atas prinsip
gerakannya, sebagaimana yang dimaksud di dalam Matan keyakinan dan cita-cita
hidup Muhammadiyah. Hal ini senantiasa menjadi landasan gerakan
Muhammadiyah, juga bagi gerakan amal usaha dan hubungannya dengan
kehidupan masyarakat dan ketatanegaraan, serta dalam kerjasama dengan
golongan Islam lainnya.

2.1.2. Muhammadiyah dan Masyarakat


Muhammadiyah sebagai persyarikatan memilih dan menempatkan diri
sebagai Gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar dalam mastyarakat, dengan
harapan utama adalah untuk membentuk keluarga dan masyarakat sejahtera
dengan dakwah jamaah. Di samping itu Muhammadiyah menyelenggarakan amal
usaha seperti tersebut pada Anggaran Dasar pasal 4, dan senantiasa berikhtiar
untuk meningkatkan mutunya. Penyelenggaraan amal usaha tersebut merupakan
sebagian ikhtiar Muhammadiyah untuk mencapai keyakinan dan cita-cita hidup
yang bersumberkan ajaran islam, dan bagi usaha untuk terwujudnya masyarakat
utama, adil dan makmur yang diridlo’I oleh Allah swt.
Warga Muhammadiyah dewasa ini makin memerlukan pedoman kehidupan
yang bersifat panduan dan pengayaan dalam menjalani berbagai kegiatan sehari-
hari. Tuntutan ini didasarkan atas perkembangan situasi dan kondisi antara lain:
1. Kepentingan akan adanya pedoman yang dijadikan acuan bagi segenap anggota
Muhammadiyah sebagai penjabaran dan bagian dari Keyakinan Hidup Islami
Dalam Muhammadiyah yang menjadi amanat Tanwir Jakarta 1992 yang lebih

4
merupakan konsep filosofis.
2. Perubahan-perubahan sosial-politik dalam kehidupan nasional di era reformasi
yang menumbuhkan dinamika tinggi dalam kehidupan umat dan bangsa serta
mempengaruhi kehidupan Muhammadiyah, yang memerlukan pedoman bagi
warga dan pimpinan Persyarikatan bagaimana menjalani kehidupan di tengah
gelombang perubahan itu.
3. Perubahan-perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis (berorientasi
pada nilai-guna semata), materialistis (berorientasi pada kepentingan materi
semata), dan hedonistis (berorientasi pada pemenuhan kesenangan duniawi)
yang menumbuhkan budaya inderawi (kebudayaan duniawi yang sekular)
dalam kehidupan modern abad ke-20 yang disertai dengan gaya hidup modern
memasuki era baru abad ke-21.
4. Penetrasi budaya (masuknya budaya asing secara meluas) dan
multikulturalisme (kebudayaan masyarakat dunia yang majemuk dan serba
melintasi) yang dibawa oleh globalisasi (proses hubungan-hubungan
sosialekonomi-politik-budaya yang membentuk tatanan sosial yang mendunia)
yang akan makin nyata dalam kehidupan bangsa.
5. Perubahan orientasi nilai dan sikap dalam bermuhammadiyah karena berbagai
faktor (internal dan eksternal) yang memerlukan standar nilai dan norma yang
jelas dari Muhammadiyah sendiri.
Setiap muslim yang berjiwa mu'min, muhsin, dan muttaqin, yang paripuma
itu dituntut untuk memiliki keyakinan (aqidah) berdasarkan tauhid yang istiqamah
dan bersih dari syirk, bid'ah, dan khurafat; memiliki cara berpikir (bayani),
(burhani), dan (irfani); dan perilaku serta tindakan yang senantiasa dilandasi oleh
dan mencerminkan akhlaq al karimah yang menjadi rahmatan li-`alamin.
Dalam kehidupan di dunia ini menuju kehidupan di akhirat nanti pada
hakikatnya Islam yang serba utama itu benar-benar dapat dirasakan, diamati,
ditunjukkan, dibuktikan, dan membuahkan rahmat bagi semesta alam sebagai
sebuah manhaj kehidupan (sistem kehidupan) apabila sungguh-sungguh secara
nyata diamalkan oleh para pemeluknya. Dengan demikian Islam menjadi sistem
keyakinan, sistem pemikiran, dan sistem tindakan yang menyatu dalam diri setiap
muslim dan kaum muslimin sebagaimana menjadi pesan utama risalah da'wah

5
Islam.
Da'wah Islam sebagai wujud menyeru dan membawa umat manusia ke jalan
Allah pada dasarnya harus dimulai dari orang-orang Islam sebagai pelaku da'wah
itu sendiri (ibda binafsika) sebelum berda’wah kepada orang/pihak lain sesuai
dengan seruan Allah: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari siksa neraka....”. Upaya mewujudkan Islam dalam kehidupan
dilakukan melalui da'wah itu ialah mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf),
mencegah kemunkaran (nahyu munkar), dan mengajak untuk beriman (tu'minuna
billah) guna terwujudnya umat yang sebaikbaiknya atau khairu ummah.
Berdasarkan pada keyakinan, pemahaman, dan penghayatan Islam yang
mendalam dan menyeluruh itu maka bagi segenap warga Muhammadiyah
merupakan suatu kewajiban yang mutlak untuk melaksanakan dan mengamalkan
Islam dalam seluruh kehidupan dengan jalan mempraktikkan hidup Islami dalam
lingkungan sendiri sebelum menda’wahkan Islam kepada pihak lain

2.1.3. Muhammadiyah dan Politik


Dalam masalah politik, Muhammadiyah tetap sesuai dengan khitahnya
gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah harus
mampu membuktikan secara teoritis konsepsional, operasional dan konkrit rill
bahwa ajaran islam itu mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik
Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi
masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera, bahagia, materiil dan sepirituil
yang diridhoi Allah swt. Dan dalam melaksanakan semua usaha itu
Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada kepribadiannya.
Usaha Muhammadiyah dalam bidang politik tersebut merupakan bagian
gerakannya dalam masyarakat dan dilaksanakan berdasar landasan dan peraturan
yang berlaku dalam Muhammadiyah. Dalam hal ini Muktamar Muhammadiyah
ke-38 telah menegaskan bahwa :
a. Muhammadiyah adalah Gerakan Dakwah Islam yang beramal dalam segala
bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan
organisatoris dan tidak merupakan afiliasi dari sesuatu partai politik atau
organisasi apapun.

6
b. Setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya boleh memasuki
atau tidak organisasi lain, sepanjang tidak menyimpang dari Anggaran Dasar,
anggaran rumah tangga dan ketentuan – ketentuan yang berlaku dalam
persyarikatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah menganut prinsip netral dalam politik dan para anggotanya
diberi kebebasan untuk memilih gerakan politik yang sesuai dengan
kecenderungannya. Prinsip ini telah diputuskan dalam Kongres di Surakarta pada
1929 bahwa “Muhammadiyah tidak mengutamakan salah satu partai politik
Indonesia dan melebihkan partai lainnya; dalam hal ini, Muhammadiyah
menghormati partai-partai itu secara sepadan, tetapi Muhammadiyah sendiri akan
mengutamakan peran serta dalam melaksanakan kewajiban tertentu untuk
mempertahankan keselamatan tanah air Indonesia.”
Sejak berdiri pada 1912, menurut Syarifuddin Jurdi, Muhammadiyah telah
menunjukkan partisipasi politiknya dalam kehidupan kenegaraan. Partisipasi
politik tidak dimaksudkan sebagai upaya untuk merebut kekuasaan, tetapi
memiliki makna yang luas bagi upaya gerakan ini dalam menggarap bidang sosial
kemasyarakatan. Dengan dasar tersebut, Muhammadiyah terlibat dalam dinamika
politik. Keterlibatan itu memiliki kaitan langsung dengan orientasinya pada
lapangan sosial yang digarapnya.
Ketika pemerintah Hindia Nederland mengambil kebijakan diskriminatif
terhadap Islam, Muhammadiyah merespons secara kritis dengan tetap
mengedepankan sikap moderat. Muhammadiyah memberikan reaksi keras
terhadap kebijakan pemerintah yang membiarkan kegiatan misi Katolik dan
zending Protestan melakukan kegiatan di hampir seluruh wilayah kekuasaan
pemerintah dan juga terhadap kebijakan memberikan subsidi yang tidak
proporsional antara sekolah Kristen dan sekolah-sekolah yang dikelola pribumi
dan muslim. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah mengambil kebijakan yang
kontras dengan sikap umat Islam lain, terutama dalam soal menerima subsidi
pemerintah untuk sekolah-sekolah yang dikelolanya. Ketika SI dan Taman Siswa
menolak subsidi, sikap menerima subsidi disebut “a-nasionalis".
Sikap kooperatif dan akomodatif terhadap pemerintah ditandai dengan
kesediaan Muhammadiyah menerima subsidi untuk sekolah-sekolah yang

7
dikelolanya. Atas sikap ini, Muhammadiyah dituduh oleh sesama gerakan Islam
dan kebangsaan sebagai sikap yang a-nasionalis atau bahkan antinasionalis.
Muhammadiyah berkeyakinan bahwa misi besar untuk mewujudkan masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya diperlukan aliansi dengan berbagai kalangan
termasuk pemerintah. Hal ini penting mengingat aktivisme sosialnya bergantung
pada regulasi dan kebijakan pemerintah. Sikap ini berbeda dengan sikap umum
kalangan SI yang antipemerintah dan menentang sikap kooperatif
Muhammadiyah.
Strategi Sosio budaya , Sejak kemelut dan berakhir hubungannya dengan SI,
Muhammadiyah mulai menerapkan sikap netral terhadap politik. Bagaimanapun,
sikap netral ini dalam perkembangannya mengalami dialektika, terutama ketika
iklim politik memungkinkan bagi keterlibatan gerakan Islam tentu peluang
tersebut dimanfaatkan sebagai dakwah. Ketika mengambil sikap netral terhadap
politik, gerakan ini memainkan peran-peran politiknya melalui lobi-lobi kepada
pemerintah dan kekuatan politik.
Aktivisme politik diperlukan untuk mempermudah kerja dakwahnya.
Bagaimanapun, Muhammadiyah berhasil dalam menjalankan aktivitas sosial
kemasyarakatan. Namun, apabila negara (pemerintah) membuat regulasi yang
membatasi kiprah dan bahkan mengooptasi aktivismenya, tentu hal ini tidak
banyak memberikan manfaat bagi kepentingan Muhammadiyah.
Pendirian netral terhadap politik dengan tidak mengistimewakan atau
melebihkan partai tertentu dan mengabaikan yang lain, sembari memberi
kebebasan kepada setiap warganya untuk terlibat ataupun tidak dalam politik
kepartaian merupakan sikap moderat Muhammadiyah. Gerakan ini menghormati
partai-partai yang ada secara wajar dan sepadan. Muhammadiyah sendiri akan
terus mengembangkan peran sertanya dalam melaksanakan kewajiban tertentu
untuk mempertahankan keselamatan Tanah Air.
Strategi sosiokultural yang dipilih Muhammadiyah dianggap sudah tepat
untuk menjaga organisasi dari pengaruh-pengaruh partai politik. Namun, orientasi
sosiokultural semata, dalam konteks perubahan politik dan relasi-relasi lembaga
kenegaraan yang semakin baik, kurang strategis, sehingga partisipasi politik
Muhammadiyah dalam memengaruhi proses politik tidak akan memadai. Prinsip

8
netral partai yang dipilih Muhammadiyah, khususnya pada masa otoriter,
dianggap tepat. Namun, sikap tersebut belum tentu strategis dalam periode politik
yang lebih demokratis.
Sesuai kecenderungan perubahan, kelompok-kelompok kepentingan lebih
mementingkan aspirasi kelompoknya daripada memikirkan dan mengakomodasi
aspirasi kelompok lain, tidak sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan
rakyat. Akibatnya, sikap netral terhadap politik menjadi kurang strategis. Sejarah
politik Indonesia menunjukkan bahwa pada masa sistem demokrasi liberal-
parlementer 1950-an sikap netral partai bagi ormas-ormas Islam tidak ditemukan,
hampir semua ormas Islam berafiliasi ke salah satu partai (NU menjadi partai
sendiri), sementara Muhammadiyah memperjuangkan aspirasinya melalui
Masyumi.
Usaha Muhammadiyah tetap menjaga identitasnya sebagai gerakan
sosiokultural dan ingin menjadi tenda bangsa sudah tepat karena, dengan cara itu,
organisasi ini dapat memperkuat identitasnya sebagai kekuatan civil society, mesti
tetap perlu juga memikirkan alternatif partisipasi politik yang signifikan dalam
proses politik Indonesia. Akan ke mana aspirasi politik Muhammadiyah dalam
pilpres yang akan datang, kita tunggu saja hasil tanwir.
Beberapa pinsip dalam berpolitik harus ditegakkan dengan sejujur—jujurnya
dan sesungguh-sungguhnya yaitu menunaikan amanat dan tidak boleh
menghianati amanat, menegakkan keadilan, hukum, dan kebenaran, ketaatan
kepada pemimpin sejauh sejalan dengan perintah Allah dan Rasul, mengemban
risalah Islam, menunaikan amar ma’ruf, nahi munkar, dan mengajak orang untuk
beriman kepada Allah, mempedomani Al-Quran dan Sunnah, mementingkan
kesatuan dan persaudaraan umat manusia, menghormati kebebasan orang lain,
menjauhi fitnah dan kerusakan, menghormati hak hidup orang lain, tidak
berhianat dan melakukan kezaliman, tidak mengambil hak orang lain, berlomba
dalam kebaikan, bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak
bekerjasama (konspirasi) dalam melakukan dosa dan permusuhan, memelihara
hubungan baik antara pemimpin dan warga, memelihara keselamatan umum,
hidup berdampingan dengan baik dan damai, tidak melakukan fasad dan
kemunkaran, mementingkan ukhuwah Islamiyah, dan prinsip-prinsip lainnya yang

9
maslahat, ihsan, dan ishlah.
Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud
ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan
mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentingan diri
sendiri dan kelompok yang sempit.
Para politisi Muhammadiyah berkewajiban menunjukkan keteladanan diri
(uswah hasanah) yang jujur, benar, dan adil serta menjauhkan diri dari perilaku
politik yang kotor, membawa fitnah, fasad (kerusakan), dan hanya mementingkan
diri sendiri.
Berpolitik dengan kesalihan, sikap positif, dan memiliki cita-cita bagi
terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan fungsi amar ma’ruf
dan nahi munkar yang tersistem dalam satu kesatuan imamah yang kokoh.
Menggalang silaturahmi dan ukhuwah antar politisi dan kekuatan politik yang
digerakkan oleh para politisi Muhammadiyah secara cerdas dan dewasa.

2.1.4. Muhammadiyah dan Ukhuwah Islamiyah


Sesuai dengan kepribadiannya, Muhammadiyah akan bekerja sama dengan
golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan Agama
Islam serta membela kepentingannya. Dalam melaksanakan kerjasama tersebut,
Muhammadiyah tidak bermaksud menggabungkan dengan organisasi atau
instantsi lainnya. Artinya Muhammadiyah tetap pada kebpribadiannya.
Ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam) adalah satu dari tiga unsur
kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu
pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati.
Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata. Dengan tiga kekuatan ini,
Rasulullah Saw. membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat
tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam atas muka dunia kurang dari
setengah abad. Pada abad ke-15 Hijriah ini, kita berusaha memperbaharui
kekuatan ukhuwah ini, karena ukhuwah memiliki pengaruh kuat dan aktif dalam
proses mengembalikan kejayaan umat Islam. Kedudukan Ukhuwah dalam Islam,
Ukhuwah Islamiah adalah nikmat Allah, anugerah suci, dan pancaran cahaya

10
rabbani yang Allah persembahkan untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan
pilihan. Allahlah yang menciptakannya.
Allah berfirman,
ْ َ ‫﴾ ِإ ْخ َوانًا بِنِ ْع َمتِ ِه فَأ‬
﴿‫صبَحْ ت ُ ْم‬
"...Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara..."
(QS: Ali Imran: 103).
Ukhuwah adalah pemberian Allah. Ia berfirman,
﴿‫ض فِي َما أَن َف ْقتَ لَ ْو‬
ِ ‫ف للاَ َولَ ِك َّن قُلُوبِ ِه ْم بَيْنَ أَلَّ ْفتَ َما َج ِميعًا األ َ ْر‬
َ َّ‫﴾ َب ْينَ ُه ْم أَل‬
"...Walaupun kamu membelanjakan semua (kakayaan) yang ada di bumi, niscaya
kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka... (QS: Al-Anfal: 63)"
﴿‫ف أَ ْعدَا ًء ُك ْنت ُ ْم ِإذْ َعلَ ْي ُك ْم للاِ ِن ْع َمةَ َواذْ ُك ُروا‬
َ َّ‫﴾قُلُو ِب ُك ْم َبيْنَ فَأَل‬
"...Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu." (QS: Ali Imran: 103).
Selain nikmat dan pemberian, ukhuwah juga kelembutan, cinta, dan kasih sayang.
Rasulullah Saw. bersabda,
"‫وترا ُح ِمهم توادِهم في المؤمنين مثل‬، ‫الواح ِد الجس ِد كمثل‬، ‫عضو منه اشتكى إذا‬، ‫سائر له تداعى‬
ُ ‫األعضاء‬
‫"والحمى بالسهر‬
"Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan
kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka
seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya." (HR. Imam Muslim).
Ukhuwah juga membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi
yang mampu menyatukan masyarakat manapun. Ia lebih kuat dari bangunan
materi, yang suatu saat bisa saja hancur diterpa badai atau ditelan masa.
Sedangkan bangunan ukhuwah Islamiah akat tetap kokoh. Rasulullah Saw.
bersabda,
"‫"بعضًا بعضه يشد كالبنيان للمؤمن المؤمن‬
"Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan
bagian lainnya." (HR. Imam Bukhari).
Ukhuwan tak bisa dibeli dengan uang atau sekedar kata-kata. Tapi ia
diperoleh dari penyatuan antara jiwa dan jiwa, ikatan hati dan hati. Dan ukhuwah

11
merupakan karakteristik istimewa dari seorang mukmin yang saleh. Rasulullah
Saw. bersabda,
"‫مألوف إلف المؤمن‬، ‫"يؤلف وال يألف ال فيمن خير وال‬
"Seorang mukmin itu hidup rukun. Tak ada kebaikan bagi yang tidak hidup rukun
dan harmonis."
Dan ukhuwah Islamiah ini diikat oleh iman dan taqwa. Iman juga diikat
dengan ukhuwah. Allah berfirman,
﴿‫﴾إخوة المؤمنون إنما‬
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS: Al-Hujurat: 10)."
Artinya, mukmin itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali
dengan keimanan. Jika Anda melihat ada yang bersaudara bukan karena iman,
maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak
memiliki buah. Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman
yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa
berakhir dengan permusuhan. Allah berfirman,
ُ ‫﴾ ْال ُمتَّقِينَ ِإالَّ َعدُو ِل َب ْعض بَ ْع‬
﴿‫ض ُه ْم يَ ْو َمئِذ األ َ ِخالَّ ُء‬
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang
lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS: Al-Zukhruf: 67).
Keutamaan Ukhuwah Islamiah
Dari ukhuwah Islamiah lahir banyak keutamaan, pahala, berpengaruh positif pada
masyarakat dalam menyatukan hati, menyamakan kata, dan merapatkan barisan.
Orang-orang yang terikat dengan ukhuwah Islamiah memiliki banyak keutamaan,
diantaranya:
1. Mereka merasakan manisnya iman. Sedangkan selain mereka, tidak
merasakannya. Rasulullah Saw. bersabda,
"‫اإليمان حالوة بهن وجد فيه كن من ثالثة‬: ‫سواهما مما إليه أحب ورسوله للا يكون أن‬، ‫ال المرء يحب وأن‬
‫للا إال يحبه‬، ‫"النار في يُقذف أن يكره كما منه للا أنقذه أن بعد الكفر إلى يعود أن يكره وأن‬
"Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai
Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang
karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia
dicampakkan ke dalam api neraka." (HR. Imam Bukhari).

12
2. Mereka berada di bawah naungan cinta Allah, dilindungi Arasy Al-Rahman. Di
akhirat Allah berfirman,
"‫بجاللي ال ُمتحابُّون أين‬، ‫"ظلي إال ظ َّل ال يوم ظلي في أ ُ ِظلُّهم اليو ُم‬
ِ
"Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan
menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku."
(HR. Imam Muslim).
Rasulullah Saw. bersabda,
"‫أخرى قرية في له أ ًخا زار رجالً إن‬، ‫ َملَ ًكا َمد َْر َجتِ ِه على تعالى للا فأرصد‬، ‫عليه أتى فلما‬، ‫قال‬: ‫تريد؟ أين‬
‫قال‬: ‫القرية هذه في لي أ ًخا أريد‬، ‫قال‬: ‫قال عليه؟ ت َُربُّها نعمة من لك هل‬: ‫ال‬، ‫تعالى للا في أحببته أنني غير‬،
‫قال‬: ‫"فيه أحب ْبت َه كما أحبَّك قد للا بأن أخبرك إليك للا رسول فإني‬
"Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah
perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya,
"Mau kemana?" Orang tersebut menjawab, "Saya mau mengunjungi saudara di
desa ini." Malaikat bertanya, "Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan
darinya?" Ia menjawab, "Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku
mencintainya karena Allah." Malaikat pun berkata, "Sungguh utusan Allah yang
diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu,
sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya." (HR. Imam Muslim).

3. Mereka adalah ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah Saw. bersabda,


"‫مريضًا عاد من‬، ‫بأن مناد ناداه للا؛ في له أ ًخا زار أو‬ َّ ‫" َم ْن ِزالً الجن ِة من‬
ْ َ‫ َم ْمشاكَ وطاب ِطبْت‬، َ‫وتبوأت‬
"Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena
Allah, maka malaikat berseru, 'Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan
perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga." (HR.
Imam Al-Tirmizi).
Rasulullah Saw. bersabda,
"‫العرش حول إن‬ ِ ‫نور من َمنا ِب َر‬، ‫سهم قوم عليها‬ ُ ‫يَغ ِب‬
ُ ‫نور ِلبَا‬، ‫نور ووجوهُهم‬، ‫شهدا َء وال بأنبيا َء ليسوا‬، ‫طهم‬
َ‫"والشهدا ُء النبيُّون‬. ‫فقالوا‬: ‫للا رسول يا لنا ان َع ْتهم‬. ‫قال‬: "‫للا في المتحابُّون هم‬، ‫للا في والمتآخون‬،
‫وقال لإلحياء تخريجه في العراقي الحافظ أخرجه الحديث "للا في وال ُمتزا ِو ُرون‬: ‫( ثقات رجاله‬2/198) ‫عن‬
‫عنه للا رضي هريرة أبي‬.
"Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya
ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka

13
bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada
cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah." Para sahabat
bertanya, "Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda,
"Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara
karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah." (Hadis yang ditakhrij Al-
Hafiz Al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat).

4. Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan
Allah.
‫سئل وقد‬
ُ ‫اإليمان أفضل عن وسلم عليه للا صلى النبي‬، ‫فقال‬: "‫هلل وتبغض هلل تحب أن‬...". ‫قيل‬: ‫يا وماذا‬
‫فقال للا؟ رسول‬: "‫لنفسك تحب ما للناس تحب وأن‬، ‫"لنفسك تكره ما لهم وتكره‬
Rasul pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda,
"...Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah..." Kemudian Rasul
ditanya lagi, "Selain itu apa wahai Rasulullah?" Rasul menjawab, "Hendaklah
kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan
hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi
dirimu sendiri." (HR. Imam Al-Munziri).

5. Diampunkan Dosa. Rasulullah Saw. bersabda,


ُ َ‫الشجرة عن ت َ َساق‬
"‫فتصافحا المسلمان التقى إذا‬، ‫ط كما أيديهما بين من ذنوبهم غابت‬
"Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan,
maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari
pohon." (Hadis yang ditkhrij oleh Al-Imam Al-Iraqi, sanadnya dha'if).

2.1.5. Dasar Program Muhammadiyah


Berdasarkan khittah Muhammadiyah perjuangan Muhammadiyah inilah,
maka Muhammadiyah menjadikannya sebagai landasan di dalam menetapkan
langkah kebijaksanaan yang di sesuaikan dengan kemampuan dan potensi
Muhammadiyah.

14
Langkah-langkah kebijaksanaan tersebut diantara lain, sebagai berikut:
1. Memulihkan kembali Muhammadiyah sebagai persyerikatan yang menhimpun
sebagian anggota masyarakat, terdiri dari muslimin dan muslimat yang
beriman teguh, taat beribadah,berakhlak mulia dan menjadi teladan yang baik
ditengah-tengah masyarakat.
2. Meningkatkan pengertian dan kematangan anggota Muhammadiyah tentang
hak dan kewajibannya sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia
dan meningkatkan kepekaan social terhadap persoalan- persoalan dan
kesulitan hidup masyarakat.
3. Menempatkan kedudukan persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan
untuk melaksanakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di segenap penjuru dan
lapisan masyarakat serta segala bidang kehidupan di Negara Republik
Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2.2 Macam-Macam Khittah


Jika dikaji secara menyeluruh, maka diketahui bahwa Muhammadiyah
memilki beberapa macam khittah. Fungsi khittah perjuangan Muhammadiyah
adalah sebagai landasan berpikir bagi semua pimpinan dan anggota juga menjadi
landasan setiap amal usaha Muhammadiyah. Ini setidaknya yang terekam dalam
sejarah rumusan khittah Muhammadiyah. Di antaranya adalah :

2.2.1. Langkah Muhammadiyah (Langkah Dua Belas Muhammadiyah)


12 Langkah Muhammadiyah disusun oleh KH. Mas Mansyur pada masa
kepemimpinannya tahun 1936-1942 :
1. Memperdalam masuknya iman
2. Memperbuahkan paham agama
3. Memperbuahkan budi pekerti
4. Menuntun amal intiqod
5. Menguatkan persatuan
6. Menegakkan keadilan
7. Melakukan kebiaksanaan
8. Menguatkan majelis tanwir

15
9. Mengadakan konferensi bagian
10. Mempermusyawarahkan putusan
11. Mengawasi gerakan jalan
12. Mempersambung gerakan luar

2.2.2. Khittah Palembang


Dirumuskan pada periode kepemimpinan A.R. (Ahmad Rasyid) Sutan
Mansur pada tahun 1956 – 1959. Isinya :
1. Menjiwai pribadi para anggota terutama pemimpin Muhammadiyah
2. Melaksanakan uswatun hasanah
3. Mengutuhkan organisasi dan merapikan administrasi
4. Memperbanyak dan mempertinggi mutu amal
5. Mempertinggi mutu anggota dan membentuk kader
6. Mempererat ukhuwah
7. Menuntun penghidupan anggota
Programnya :
1. Menempatkan Aqidah, membersihkan pokok dan alam pikiran serta
penyiaran pengetahuan agama Islam.
2. Dan segala usaha itu tidaklah boleh mundur melainkan harus maju, dan
dikerjakan dengan penuh gembira dan semangat. Maka ajaran Islam itu
tidaklah hanya semata – mata diajarkan serta dipelajari melainkan harus
diamalkan. Bukan orang lain yang terlebih dahulu harus diajak dan
disuruh mengerjakannya, tetapi hendaklah dimulai dari anggota
Muhammadiyah sendiri. Mereka harus berusaha memajukan dan
menggembirakan kehidupannya menurut kemauan agama Islam.

2.2.3. Khittah Perjuangan Muhammadiyah Tahun 1969


(Khittah Ponorogo)
Dirumuskan pada periode kepemimpinan K.H. A.R. (Abdul Razaq)
Fahruddin pada tahun 1969.
Program dasar perjuangan :

16
Dengan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam arti dan proporsi yang
sebenar-benarnya Muhammadiyah harus dapat membuktikan secara teoritis
konsepsionil secara operasionil dan secara konkrit riil, bahwa ajaran-ajaran Islam
mampu mengatur masyarakat dalam NKRI yang ber-Pancasila dan UUD 1945,
menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera, bahagia materiil dan
spiritual yang diridlai Allah SWT.

2.2.4. Khittah Perjuangan Muhammadiyah Tahun 1971 (Khittah Ujung


Pandang)
Dirumuskan pada periode kepemimpinan K.H. A.R. (Abdul Razaq)
Fahruddin pada tahun 1971. Isinya :
1. Muhammadiyah adalah gerakan Dakwah Islam yang beramal dalam bidang
kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris
dan tidak merupakan afiliasi dari sesuatu partai atau organisasi apapun.
2. Setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat tidak
memasuki atau memasuki organisasi lain, sepanjang tidak menyimpang dari
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan ketentuan- ketentuan lain
yang berlaku dalam Muhammadiyah.
3. Untuk lebih memantapkan Muhammadiyah sebagai gerakan Dakwah Islam
setelah Pemilu tahun 1971, Muhammadiyah melakukan amar ma’ruf nahi
munkar secara konstruktif dan positif terhadap Partai Muslimin Indonesia
seperti halnya partai – partai politik dan organisasi – organisasi lainnya.
4. Untuk lebih meningkatkan partisipasi Muhammadiyah dalam pelaksanaan
pembangunan nasional, mengamanatkan kepada PP Muhammadiyah untuk
menggariskan kebijaksanaan dan mengambil langkah – langkah dalam
pembangunan ekonomi, sosial, dan mental spiritual.

2.2.5. Khittah Perjuangan Muhammadiyah Tahun 1978 (Khittah Surabaya)


Dirumuskan pada periode kepemimpinan K.H. A.R. (Abdul Razaq)
Fahruddin pada tahun 1978.
Dasar Program Muhammadiyah :
1. Memulihkan kembali Muhammadiyah sebagai Persyarikatan yang

17
menghimpun sebagian anggota masyarakat, terdiri dari muslimin dan
muslimat yang beriman teguh, ta‘at beribadah, berakhlaq mulia, dan menjadi
teladan yang baik di tengah-tengah masyarakat.
2. Meningkatkan pengertian dan kematangan anggota Muhammadiyah tentang
hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan meningkatkan kepekaan sosialnya terhadap persoalan dan
kesulitan hidup masyarakat.
3. Menepatkan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan untuk
melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar ke segenap penjuru dan
lapisan masyarakat serta di segala bidang kehidupan di Negara Republik
Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2.2.6. Khittah Perjuangan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


(Khittah Denpasar Tahun 2002)
Dirumuskan pada era kepemimpinan Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif
pada tahun 2002.
Programnya :
Warga atau anggota Muhammadiyah yang aktif dalam kegiatan politik
hendaklah bersungguh – sungguh dalam melaksanakan tugasnya dan
mengedepankan empat hal :
1. Rasa tanggung jawab (amanah)
2. Berakhlak mulia (akhlaq al karimah)
3. Menjadi teladan / contoh yang baik (uswatun hasanah)
4. Perdamaian (ishlah)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Khittah itu mengandung konsepsi (pemikiran) perjuangan yang merupakan
tuntunan, pedoman, dan arah perjuangan. Hal tersebut mempunyai arti penting

18
karena menjadi landasan berpikir dan amal usaha bagi semua pimpinan dan
anggota muhammadiyah
Berdasarkan hasil pemaparan diatas, kami dapat menarik kesimpulan bahwa
secara garis besar Khittah perjuangan Muhammadiyah ini harus dapat
mencerminkan pemudah muhammadiyah dalam menjalankan fungsinya
organisasi modern yang berorientasi masa depan. Selain itu, Khittah perjuangan
harus menjadi variabel pengubah kultural dalam berorganisasi kader-kader
pemuda Muhammadiyah ke arah yang lebih baik.agar kultural hasanah mereka
dalam setiap nadi gerakan Pemuda Muhammadiyah, maka diperlukan upaya
pembumian semangat saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran dan saling
berlomba-lomba untuk menuju cinta dan kasih sayang Allah. Pemuda
Muhammadiyah melandasi perjuangan pada cita-cita Muhammadiyah untuk
menciptakan masyarakat islam yang sebenar-benarnya.

3.2 Saran
Dibutuhkan banyak referensi untuk menyempurnakan makalah ini, sehingga
kami mengharapkan adanya banyak sumbangsi pemikiran dari para pembaca guna
adanya perbaikan sehingga tulisan ini dapat bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

http://helsahedweg.blogspot.com/p/korean-music.html

Drs. H. Hamdan Hambali, 2006, Ideologi Dan Strategi Muhammadiyah,

19
Yogyakarta : Suara Muhammadiyah

Nashir DR. Haedar, Manhaj Gerakan Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara


Muhammadiyah kerjasama dengan Majelis Pendidikan Kader PP
Muhammadiyah).

Tarjihbms. Files. Wordpress.com / 2007 /08 / pedoman hidup – prdf.

http://taufiqismail93.blogspot.com/2014/01/macam-macam-khittah-
muhammadiyah.html

20