Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tak bisa dipungkiri bahwa sektor pariwisata menjadi salah satu potensi yang
dikembangkan negara Indonesia. Melimpahnya kekayaan alam Indonesia dan uniknya budaya
lokal yang dimiliki memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik domestik maupun
mancanegara. Desa Wisata telah menjadi salah satu tren pengembangan pariwisata di Indonesia
dimana tren ini merupakan respons terhadap motivasi baru dalam berwisata. Strategi adanya desa
wisata ini dilakukan untuk mengajak para wisatawan untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam,
budaya, maupun tradisi masyarakat di berbagai pelosok desa di Indonesia. Selain itu, adanya desa
wisata tersebut diharapkan mampu memberdayakan masyakat lokal dengan memperoleh
pendapatan ekonomi dari kegiatan pariwisata pedesaan.
Namun, saat ini minat masyarakat dalam berwisata ke desa-desa cenderung berkurang
dikarenakan perkembangan pariwisata massal yang lebih cenderung tertarik pada wisata buatan
yang dibangun oleh investor-investor terutama pada daerah perkotaan. Sehingga desa-desa yang
memiliki potensi dan keunikan tersebut tidak diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu,
perlu dilakukannya promosi sebagai strategi memperkenalkan desa-desa di Indonesia yang sudah
menjadi desa wisata dapat dikenal masyarakat. Strategi tersebut dilakukan dengan cara membuat
iklan. Iklan yang dirancang guna untuk menyampaikan informasi mengenai desa wisata yang ada
di Indonesia yang memiliki beragam keunikan, tradisi budaya, serta potensi lokal yang beragam
serta dapat dinikmati oleh wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Iklan tersebut menjadi tujuan pembentukan perusahaan NusantART Creative untuk
mempublikasikan desa-desa wisata di Indonesia agar dapat dikenal oleh masyarakat luas sehingga
memiliki banyak pengunjung atau wisatawan yang datang serta dapat membawa keuntungan bagi
desa-desa tersebut untuk meningkatkan perekonomian daerah.

1.2 Pemilihan Sub Sektor Industri Kreatif (Periklanan)


Dalam pemilihan sub sektor industri kreatif yaitu subsektor periklanan. Periklanan
merupakan subsektor industri kreatif yang memiliki pengaruh besar terhadap pemasaran suatu
produk dan jasa. Periklanan dianggap sebagai bentuk komunikasi nonpersonal yang digunakan
untuk keperluan komersial yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen. Iklan yang
dihasilkan di bidang periklanan merupakan tindakan yang efisien untuk mempublikasikan produk
dan jasa dimana iklan tersebut menjadi kekuatan untuk membentuk pola pikir masyarakat, pola
konsumsi, serta pola hidup masyarakat. Dalam hal ini, cakupan periklanan kini meluas tidak hanya
untuk kegiatan komersil saja, namun dapat berupa layanan masyarakat, kegiatan politik, kegiatan
sosial, dan lain-lain.
Saat ini, dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat mempengaruhi perubahan
kondisi sosial dan budaya masyarakat dalam pemahaman terkait periklanan yang dapat dilakukan
dengan menyebarluaskan informasi untuk pemasaran suatu produk dan jasa. Pemasaran suatu
produk maupun jasa dapat melalui media yang dimanfaatkan seperti media massa yang saat ini
sedang berkembang. Melalui periklanan ini, selain untuk penyampaian informasi maupun
pemasaran suatu produk dan jasa, periklanan ini juga dapat membawa keuntungan bagi pemilik
modal maupun perusahan yang terlibat dalam pembuatan iklan tersebut.

1.3 Alasan Pemilihan Sub Sektor Industri


Periklanan di Indonesia kini bertujuan untuk menyampaikan informasi terkait pemasaran
produk dan jasa yang ditargetkan pada masyarakat luas yang disertai dengan perkembangan
teknologi yang semakin cepat melalui media yang saat ini berkembang. Pemilihan sub sektor
periklanan dilakukan untuk menyampaikan informasi terkait pemasaran produk dan jasa baik
dalam bidang komersil maupun non komersil. Periklanan merupakan strategi yang paling cepat
dan efisien dalam penyampaian informasi terkait memperkenalkan atau memasarkan suatu produk
dan jasa. Dalam hal ini, periklanan digunakan untuk mempublikasikan maupun memperkenalkan
desa-desa wisata yang ada di Indonesia yang memiliki potensi lokal yang beragam, keunikan dan
ciri khas tersendiri, adat istiadat serta kebudayaan masyarakat setempat sehingga desa wisata
tersebut dapat diketahui dan dikenali banyak masyarakat luas baik domestik maupun mancanegara
yang dapat berkunjung ke desa wisata tersebut dan mampu meningkatkan perekonomian
masyarakat.

1.4 Literatur
Literatur yang digunakan dalam pembuatan rencana bisnis periklanan pada perusahaan
NusantART Creative adalah sebagai berikut:
1. Landasan PPPI
2. Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
3. Undang-undang RI Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers
4. Undang-undang RI Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Penyiaran
5. Peraturan KPI No. 02/P/Kpi/12/2009 Pedoman Perilaku Penyiaran

1.5 Visi dan Misi Perusahaan


NusantART Creative memiliki visi sebagai berikut:
“Meningkatkan kemampuan pariwisata desa di Indonesia sehingga berdaya saing
yang memanfaatkan kekayaan budaya Indonesia, didukung oleh keberadaan orang
kreatif yang unggul dalam kreativitas dan profesionalisme”
Visi diatas disertai dengan beberapa misi diantaranya yaitu:
1. Meningkatkan image pariwisata Indonesia
2. Mempromosikan keindahan alam dan budaya Indonesia
3. Mengembangkan inovasi-inovasi dalam mempromosikan wisata di Indonesia

1.6 Profil Perusahaan


Berikut penjelasan dari profil perusahaan periklanan NusantART Creative yang terdiri
dari data perusahaan dan struktur manajemen perusahaan.
1.6.1 Data Perusahaan
1. Nama Perusahaan NusantART Creative Creative
2. Bidang Usaha Advertising
3. Jenis Produk Iklan Komersial
4. Nomor Telepon 082153557181
5. Alamat E-mail info@NusantART Creative.com
A. 1.6.2 Struktur Manajemen

Managing
Creative Director

Finance Marketing
Department Department

HRD Department

Account
Creative Media Production Talent Project
Executive
Department Department Department Department Management
Department

Gambar 1.1 Struktur Manajemen Perusahaan


Struktur dari NusantART Creative terdiri dari beberapa departemen dengan penjelasan
sebagai berikut:
1. Managing Creative Director: Mengelola keseluruhan strategi perusahaan
2. Finance Department: Mengelola keuangan masuk dan keluar perusahaan
3. Marketing Department: Mengelola pemasaran dari iklan yang akan diproduksi
4. HRD Department: Mengelola SDM perusahaan
5. Account Executive Department: Mengelola melakukan pengawasan dan koordinasi
atas pekerjaan yang dilakukan oleh Creative Department. Selain itu bertugas untuk
menjaga relasi dengan klien selama proyek iklan berlangsung serta menyelesaikan
masalah-masalah yang muncul agar klien puas dan loyal terhadap perusahaan
6. Creative Department: Mengubah ide-ide abstrak ke dalam bentuk yang dapat dipahami
oleh target khalayak. Dalam Creative Department terdapat beberapa orang kreatif
dalam kegiatan produksi, yaitu copywriter, art director, visualizer, typegrapher, dan
graphic designer.
7. Media Department: Penyusunan dan mempersiapkan strategi perencanaan media yang
akan dipakai untuk menyampaikan iklan klien kepada target khalayak.
8. Production Department: mengelola pekerjaan dari Creative Department sehingga
materi iklan siap tampil di media
9. Talent Department: Menyediakan model yang sesuai dengan ide dan kebutuhan tim
kreatif
10. Project Management: Memastikan bahwa pekerjaan dapat selesai tepat waktu, biaya
yang dikeluarkan sesuai dengan anggaran, dan kualitas karya iklan yang dihasilkan
sesuai dengan keinginan klien
BAB II
PROSPEK PERKEMBANGAN

2.1 Definisi Periklanan


Periklanan merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif Indonesia karena produk dari
sektor periklanan merupakan hasil kreasi dari orang kreatif di bidang periklanan. Subsektor
periklanan mengelola lebih dari 8.000 merek dengan nilai belanja iklan di media mencapai sekitar
Rp132 triliun pada tahun 2013. Pada awalnya, periklanan hanya dianggap sebagai bentuk
komunikasi nonpersonal yang digunakan untuk keperluan komersial. Namun, perkembangan
zaman dan teknologi menyebabkan terjadinya perluasan arti dan ruang lingkup periklanan.
Periklanan, terutama di Indonesia, awalnya dikenal dengan sebutan advertensi dan reklame
(Winarno, 2008). Advertensi dalam bahasa Latin adalah advertere, yang artinya “mengarahkan
kepada” atau “menarik perhatian seseorang pada”. Kata tersebut kemudian diserap ke dalam
bahasa Perancis kuno menjadi avertire, yang berarti “untuk mengumumkan” atau “untuk
memperingatkan”. Sementara reklame dalam bahasa Latin disebut re-clamare yang artinya “untuk
mengumumkan” atau “untuk menyatakan”.
Pada tahun 1951 barulah istilah periklanan mulai diperkenalkan oleh seorang tokoh pers
Indonesia bernama Soedarjo Tjokrosisworo. Kata dasar periklanan adalah iklan yang diambil dari
bahasa Arab, yaitu i’ lan atau i’ lanun, yang diartikan sebagai “informasi” atau “pengumuman”.
Periklanan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai segala sesuatu
yang berhubungan dengan iklan, sementara kata dasarnya, yaitu iklan, berarti:
1. Berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang
dan jasa yang ditawarkan;
2. Pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di
dalam media massa seperti surat kabar dan majalah atau di tempat umum.
Periklanan dapat diartikan sebagai segala aktivitas untuk mengumumkan sesuatu kepada
masyarakat yang bertujuan menginformasikan, menganjurkan, atau menawarkan produk, baik
berupa barang maupun jasa, agar masyarakat tertarik untuk membeli atau menggunakannya.
2.2 Ruang Lingkup Periklanan
Dalam perkembangannya, periklanan tidak hanya terbatas pada kegiatan untuk
memasarkan produk (product marketing) dan pemasaran sosial (social marketing). Iklan juga
digunakan untuk membangun citra perusahaan atau individu (image marketing), kepentingan
politik (political marketing), dan kepentingan pemerintah dalam membangun relasi dengan
masyarakat (government relation marketing). Berdasarkan tujuannya, iklan dapat dibedakan
menjadi:
1. Iklan komersial adalah iklan yang bertujuan untuk membujuk target konsumen untuk
membeli suatu produk;
2. Iklan nonkomersial adalah iklan yang bertujuan untuk menciptakan kesadaran atau
mengedukasi masyarakat terhadap suatu hal.
Periklanan dapat diklasifikasikan berdasarkan pihak pembuat iklan, yaitu:
1. Perusahaan periklanan. Merupakan usaha yang melayani jasa pembuatan, perencanaan,
dan penanganan iklan. Perusahaan periklanan ada yang bersifat independen maupun
dimiliki oleh perusahaan klien atau pengiklan yang disebut in-house advertising
agency. Jenis Perusahaan Periklanan antara lain:
a. Full service agency. Perusahaan yang memberikan layanan, meliputi: perencanaan,
penciptaan konsep iklan, produksi iklan, jasa riset, dan pemilihan media. Beberapa
perusahaan periklanan tersebut juga memberikan layanan lain di luar periklanan
seperti perencanaan pemasaran strategis, promosi langsung, perancangan dan
pembuatan situs perusahaan, pemasaran interaktif, serta jasa hubungan masyarakat
(public relations).
b. Creative agency atau creative boutique. Perusahaan hanya memberikan layanan
terkait dengan proses kreasi iklan atau merek.
c. Specialized agency. Perusahaan periklanan yang memiliki kekhususan pada
aktivitas tertentu dari proses penyampaian pesan pada target pasar. Beberapa di
antaranya berfokus bukan pada aktivitas dalam rantai kreatif periklanan, tetapi pada
kelompok target khalayak tertentu, industri, atau jenis komunikasi pemasaran yang
digunakan.
d. Digital agency. Perusahaan periklanan yang memberikan berbagai layanan seperti
desain situs, pemasaran berbasis Internet, search engine marketing, dan jasa
konsultasi bisnis berbasis elektronik (e-business). Digital agency ini mirip dengan
full service agency hanya saja layanan yang diberikan hanya terpaku pada media
digital.
e. Social media agency. Perusahaan memberikan layanan terbatas hanya pada
promosi di media sosial seperti blog, microblog, dan situs jejaring sosial.
f. Search engine agency. Perusahaan periklanan baru yang menyediakan pembelian
media berupa iklan berbasis teks, bentuknya dapat berupa pay per click dan search
engine optimization (SEO).
g. In-house advertising agency. Perusahaan periklanan yang pekerjanya merupakan
tim dalam perusahaan klien yang dibentuk khusus untuk menangani segala kegiatan
pemasaran untuk produk dan/atau merek perusahaan.
2. Orang kreatif periklanan (independent creative services) adalah orang kreatif yang
memilih untuk menjadi pekerja lepas (freelance) dalam bidang periklanan. Dengan
keahlian yang dimiliki, mereka mampu memenuhi kebutuhan iklan yang didapatkan
langsung dari klien dan/atau menerima pekerjaan lepas dari perusahaan periklanan.
Karena mereka bekerja secara independen, maka tarif (fee) yang dikenakan umumnya
lebih rendah daripada tarif perusahaan periklanan sehingga klien merasa diuntungkan.
3. Orang awam terdiri atas orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan
dan praktik di bidang periklanan. Kemunculan orang kreatif sebagai pembuat iklan
dipicu oleh kehadiran teknologi tepat guna dengan harga terjangkau semakin
memudahkan seseorang untuk membuat iklan. Iklan-iklan yang dibuat orang awam
banyak dijumpai di berbagai media sosial yang umumnya dibuat atas inisiatif individu,
bukan atas permintaan klien.
2.3 Perkembangan Sektor Periklanan
Ekonomi kreatif memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Indonesia
dalam beberapa tahun terakhir. Untuk itu diperlukan pengukuran secara kuantitatif untuk
mendapatkan pemahaman tentang dampak berbagai aktivitas yang telah dilakukan oleh
pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Hasilnya dapat menjadi referensi untuk
penyusunan strategi pengembangan berikutnya.
Meskipun kontribusi ekonomi industri periklanan masih rendah, namun laju
pertumbuhannya relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata ekonomi kreatif. Pemetaan
kontribusi ekonomi dari periklanan sebagai bagian dari ekonomi kreatif menekankan pada
pengukuran berdasarkan produk domestik bruto (PDB), ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan,
konsumsi rumah tangga, dan ekspor nasional.
Jika dibandingkan dengan nilai tambah subsektor lain dalam kategori ekonomi kreatif,
kontribusi nilai tambah yang diberikan oleh subsektor periklanan masih rendah, yakni di bawah
1%, sehingga perlu distimulasi agar dapat lebih berkembang.

Gambar 2. 1 PDB atas Dasar Harga Berlaku Setiap Subsektor Ekonomi Kreatif Tahun 2013
Sumber: Rencana Pengembangan Periklanan Nasional 2015-2019
Periklanan merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi di
ekonomi kreatif. Meskipun pada tahun 2012 laju pertumbuhannya lebih rendah dari tahun
sebelumnya, di tahun 2013 pertumbuhannya meningkat kembali. Pada tahun 2014 diestimasi
laju pertumbuhan tersebut akan lebih rendah daripada tahun 2013 karena Indonesia memasuki
periode pemilihan umum nasional.
Gambar 2. 2 Pengeluaran Belanja Iklan di Media Tradisional (dalam juta Rp)
Sumber: Rencana Pengembangan Periklanan Nasional 2015-2019
Jumlah tenaga kerja menunjukkan tingkat partisipasi tenaga kerja periklanan masih
memberikan partisipasi yang rendah terhadap penyerapan tenaga kerja baik untuk keseluruhan
tenaga kerja Indonesia maupun khususnya di sektor ekonomi kreatif. Meskipun laju
pertumbuhan periklanan adalah yang tertinggi untuk sektor ekonomi kreatif, tampak terjadi tren
penurunan dari 4,72 persen di tahun 2012 menjadi 2,74 persen pada tahun 2013.

Gambar 2. 3 Kontribusi Jumlah Tenaga Kerja Setiap Subsektor Ekonomi Kreatif Tahun 2013
Sumber: Rencana Pengembangan Periklanan Nasional 2015-2019
Sementara jika ditinjau dari produktivitas tenaga kerja, periklanan termasuk ke dalam
salah satu subsektor yang menghasilkan produktivitas tertinggi setelah riset dan pengembangan,
arsitektur, dan permainan interaktif. Produktivitas tenaga kerja periklanan mengalami
peningkatan dari Rp158.020 pada tahun 2012 menjadi Rp182.238 pada tahun 2013 82.238
meningkat dari Rp158.020.
Periklanan termasuk ke dalam tiga subsector ekonomi kreatif yang memiliki laju
pertumbuhan tertinggi setelah mode dan kerajinan. Namun, nilai ekspor subsektor ini
dibandingkan total ekspor eknomi kreatif masih sangat rendah, yakni di bawah 1 persen Lebih
banyak iklan regional yang ditampilkan di media nasional daripada iklan Indonesia yang
diekspor ke mancanegara. Keadaan ini mendorong perlunya sikap proaktif pemerintah untuk
meningkatkan daya saing periklanan.
Tabel 2. 1 Kontribusi Ekspor-Impor Periklanan

Sumber: Badan Pusat Statistik (2013)

2.4 Potensi dan Permasalahan Sektor Periklanan


2.4.1 Potensi Sektor Periklanan
Dari segi sumber daya kreatif, potensi yang dimiliki oleh sektor periklanan adalah
Jumlah perguruan tinggi yang menawarkan program DKV dan periklanan cukup banyak: 28
untuk jenjang diploma, 56 untuk jenjang S-1, 2 untuk jenjang S-2 Desain, dan 1 untuk jenjang
S-3 Desain. Selain itu terdapat program lokakarya Certified Workshop in Marketing
Communications (CWMC) yang diinisiasi oleh P3I, Tingginya minat terhadap program studi
DKV dan periklanan serta lokakarya CWMC, terjadi peningkatan kreativitas orang kreatif
periklanan dilihat dari berbagai penghargaan yang diperoleh di tingkat internasional, peluang
untuk melibatkan praktisi, institusi pendidikan dan pemerintah untuk pengembangan
kurikulum, adanya peluang untuk pembentukan lembaga sertifikasi profesi, peluang untuk
mempelajari teknik atau metode pembuatan iklan dari orang kreatif mancanegara.
Dari sumber daya pendukung, potensi yang dimiliki oleh sektor periklanan adalah
kekayaan budaya Indonesia yang dapat menjadi aspirasi bagi orang kreatif untuk menghasilkan
ide dan konsep iklan. Selain itu terdapat peningkatan minat masyarakat internasional terhadap
budaya Indonesia. Sebagian orang kreatif periklanan dan institusi pendidikan juga melakukan
dokumentasi karya iklan dalam bentuk portofolio secara offline dan online, serta adanya
pemanfaatan dokumentasi karya iklan sebagai media pembelajaran di beberapa institusi
pendidikan.
Dari segi industri, potensi yang dimiliki oleh sektor periklanan adalah Jumlah usaha
kreatif periklanan yang besar, yaitu 2.560 entitas usaha di tahun 2013. Adapula potensi berupa
peningkatan jumlah orang kreatif yang memilih bekerja secara independen, adanya jejaring
yang kuat di tingkat nasional antar wirausaha periklanan yang tergabung dalam asosiasi, karya
iklan yang ditampilkan di media nasional sangat beragam, meningkatnya jumlah karya iklan
yang masuk sebagai finalis dan mendapatkan enghargaan di tingkat internasional.
Perkembangan periklanan pada saat ini bukan hanya menggunakan media tradisional,
melainkan juga menggunakan media
digital. terdapat peluang untuk penciptaan model bisnis baru untuk usaha periklanan berbasis
media digital dan standar terkait etika periklanan berupa Etika Pariwara Indonesia.
Dari segi pembiayaan dan pemasaran, potensi yang dimiliki oleh sektor industri antara
lain adalah Modal untuk memulai usaha periklanan tidak terlalu besar, adanya pertumbuhan
nilai belanja iklan baik di media tradisional maupun media digital, pertumbuhan ekonomi di
luar Pulau Jawa yang berdampak pada pertumbuhan usaha yang membutuhkan jasa periklanan,
pertumbuhan UMKM yang dapat menjadi klien potensial bagi perusahaan periklanan, serta
meningkatnya kesadaran para pelaku bisnis untuk membangun merek lokal.
Dari segi infrastruktur dan teknologi, potensi yang dimiliki oleh sektor periklanan antara
lain adalah Penetrasi Internet di Indonesia bertumbuh secara signifikan, perkembangan
teknologi informasi menciptakan peluang untuk melakukan diversifikasi media komunikasi
dengan media digital, Mudah untuk mendapatkan piranti lunak penunjang aktivitas periklanan,
beberapa di antaranya dapat diakses secara gratis, dan adanya pengembangan piranti lunak yang
tepat guna dan berkualitas.
Dari segi kelembagaan, terdapat dua potensi untuk sektor periklanan, Potensi tersebut
adalah Regulasi Bank Indonesia yang mewajibkan bank umum untuk mengalokasikan kredit
pada UMKM dan tersedianya kebijakan yang menaungi sektor periklanan berupa Peraturan
Menteri Komunikasi dan Informatika No. 25/PER/M. KOMINFO/5/2007 tentang penggunaan
sumber daya dalam negeri untuk produk iklan yang disiarkan melalui lembaga penyiaran
nasional.
2.4.2 Permasalahan Sektor Periklanan
Permasalahan yang dapat dijumpai pada sektor periklanan terutama dalam sumber daya
kreatif adalah terjadi disparitas pendidikan karena program studi DKV dan periklanan hanya
terpusat di beberapa kota besar, kurikulum pendidikan program DKV dan periklanan yang tidak
mengikuti perkembangan di bidang periklanan, kurang sesuainya antara kebutuhan industri
dengan materi perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa, kualitas tenaga pengajar yang
masih rendah karena kurang memiliki pemahaman tentang perkembangan industri periklanan,
Rendahnya keterlibatan praktisi di institusi pendidikan, beberapa institusi pendidikan tidak
memiliki sarana pendukung untuk praktik bagi mahasiswa, praktisi belum dilibatkan secara
aktif dalam proses belajar mengajar, program bantuan pendanaan dari pemerintah bagi
mahasiswa program studi DKV dan periklanan yang magang di perusahaan iklan sudah
ditiadakan, rendahnya kemandirian dan keberanian lulusan dalam mengungkapkan ide kreatif.,
adanya brain drain, terbatasnya jumlah orang kreatif yang berkualitas di industri periklanan
dan industri pendukungnya, profesionalisme beberapa orang kreatif periklanan masih dinilai
rendah, sebaran orang kreatif periklanan yang masih terpusat di beberapa kota besar, saat ini
banyak orang kreatif periklanan asing yang bekerja di Indonesia dan dikhawatirkan jumlah
tersebut akan bertambah dengan berlakunya pasar bebas dan PP No. 39 tahun 2014, serta belum
ada program sertifikasi profesi di industri periklanan.
Dari segi sumber daya pendukung dan industri, permasalahan yang dapat ditemukan
dalam sektor industri periklanan adalah Beberapa situs budaya yang dapat dimanfaatkan untuk
pembuatan karya iklan kondisinya kurang terawat, terjadi penetrasi nilai-nilai budaya asing
yang
dapat mempengaruhi budaya local, laju pertumbuhan entitas usaha periklanan yang mengalami
penurunan, sebaran usaha periklanan masih terpusat di beberapa kota besar, kurang terciptanya
sinergi antara perusahaan periklanan, klien, dan media, lemahnya penerapan etika bisnis dalam
industri periklanan, serta terjadi peningkatan pelanggaran etika periklanan karena lemahnya
pengawasan.
Dari segi pembiayaan dan pemasaran permasalahan yang dihadapi oleh sektor
periklanan adalah terjadi disparitas permodalan dimana akses terhadap sumber pembiayaan
masih terpusat di kota-kota yang menjadi sentra industri periklanan, minimnya alternatif
sumber pembiayaan selain bank, perusahaan periklanan yang termasuk kategori UMKM sulit
mendapatkan pinjaman karena ada syarat agunan, banyak perusahaan periklanan skala kecil
dan menengah belum memanfaatkan sumber pembiayaan, Pemberlakuan pasar bebas ASEAN
akan memengaruhi intensitas persaingan antar perusahaan periklanan, Pelayanan Penguatan
dan Perluasan Ekspor Indonesia saat ini masih terfokus pada barang berwujud untuk sektor jasa
masih dalam tahap penyusunan dan belum endapat perhatian, fluktuasi nilai tukar
mempengaruhi besarnya anggaran belanja iklan dan biaya produksi.
Dari segi infrastruktur dan teknologi permasalahan yang dihadapi oleh sektor periklanan
adalah penggarapan iklan digital di Indonesia belum maksimal dan kemudahan untuk
mendapatkan piranti lunak yang tepat guna menyebabkan orang awam dapat membuat karya
kreatif tanpa melalui perusahaan periklanan. Dari segi kelembagaan permasalahan yang dapat
ditemui adalah UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mensyaratkan jenjang
pendidikan dosen menjadi kendala bagi tenaga pengajar program studi DKV dan periklanan,
karena institusi yang menawarkan program pascasarjana di bidang tersebut masih sangat sedikit
serta penerapan terhadap Permen Komunikasi dan Informatika No.
25/PER/M/KOMINFO/5/2007
masih lemah.
BAB III
ASPEK PENGEMBANGAN

3.1 Aspek Manajemen, Ekonomi dan Lingkungan Sosial


3.1.1 Proses Produksi
Proses produksi merupakan cara yang dilakukan untuk membuat suatu produk dalam
rencana bisnis. Pada proses produksi ini dijelaskan bagaimana produk atau jasa dibentuk. Dalam
bisnis periklanan yang dilakukan oleh perusahaan NusantART Creative dilakukan dengan
cara memperkenalkan desa wisata yang ada di Indonesia dengan cara menyampaikan informasi
mengenai desa wisata yang ada di Indonesia yang memiliki beragam keunikan, tradisi budaya,
serta potensi lokal yang beragam serta dapat dinikmati oleh wisatawan, baik wisatawan
domestik maupun wisatawan mancanegara. Iklan tersebut diproduksi dengan pembuatan iklan
yang menerapkan konsep visual berupa video promosi. Pembuatannya dilakukan dengan
mengambil gambar, foto dan video mengenai desa wisata yang akan ditampilkan sebagai bahan
pembuatan periklanan.
3.1.2 Teknologi
Teknologi dalam rencana bisnis digunakan untuk membantu proses produksi suatu
barang atau jasa agar berjalan lebih efektif dan efisien sehingga penggunaan teknologi
mempermudah proses pengerjaan suatu bisnis. Teknologi yang digunakan dapat berupa
komputer maupun alat penunjang yang digunakan dalam membuat suatu produk berdasarkan
jenis bisnis yang dijalani. Pada bisnis periklanan sangat dipengaruhi oleh adanya teknologi.
Teknologi yang digunakan dalam bisnis periklanan berupa teknologi komunikasi, teknologi
informasi dan teknologi modern. Teknologi komunikasi digunakan untuk meningkatkan
komunikasi dan mempermudah penyampaian dan penerimaan informasi. Teknologi informasi
digunakan untuk mempermudah penyampaian informasi dengan tidak mempertimbangkan
jarang, waktu dan ruang. Sedangkan teknologi modern digunakan untuk membuat produk
periklanan dalam membantu pencapaian target pasar dan membuat perusahaan mencapai
jangkauan yang luas dengan biaya yang efisien.
Dalam hal ini, bisnis periklanan NusantART Creative menggunakan teknologi berupa
komputer, smartphone, android, tablet atau sejenisnya yang terkoneksi pada saluran internet.
Penggunaan internet membantu perusahaan memiliki jangkauan pengguna yang semakin luas.
Internet digunakan sebagai media online yang menunjang periklanan untuk melakukan
penyebaran informasi kepada konsumen dengan cepat dan efisien tanpa mempertimbangkan
jarak, waktu dan ruang yang disebut dengan e-advertising. NusantART Creative
menggunakan sistem tersebut untuk mempermudah promosi produk yang dibuat kepada
konsumen dengan jangkauan yang luas.
3.1.3 Infrastruktur
Infrastruktur dalam penggarapan iklan digital belum maksimal dan kemudahan untuk
mendapatkan piranti lunak yang tepat guna menyebabkan orang awam dapat membuat karya
kreatif tanpa melalui perusahaan periklanan. Dalam perusahaan NusantART Creative
Creative, infrastruktur yang akan diterapkan berupa adanya pengembangan piranti lunak yang
tepat guna dan berkualitas sehingga dapat menunjang aktivitas periklanan dan mudah diakses
secara gratis oleh publik.
3.1.4 Lokasi Usaha
Dalam menerapkan rencana bisnis diperlukan lokasi untuk tempat usaha sebagai tempat
untuk memproduksi suatu produk. Lokasi yang digunakan untuk merencanakan suatu bisnis
harus berada di lokasi yang strategis, mudah dijangkau, dan dapat dikenali oleh masyarakat
luas. Untuk perusahaan NusantART Creative lokasi usaha terletak rumah produksi Di
Perumahan Permata Brantas Indah k-96 Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru Kota
Malang.

3.2 Aspek Pasar


3.2.1 Riset dan Analisis
Pasar yang akan dituju bertujuan untuk meningkatkan minat audience kategori
wisatawan domestik maupun mancanegara agar mau berwisata di desa-desa wisata di
Indonesia. Ke depannya nanti akan dilakukan kerjasama dengan Kementerian Pariwisata.

Strength
•Unik
•Meningkatkan daya saing desa
•Meningkatkan pendapatan masyarakat
•Pola kerjasama dengan Kementerian Pariwissata
•Pembangunan berkelanjutan

Weakness
•Belum dikenal
•Sedikit peminat
•Kurang relasi

Opportunity
•Belum ada saingan
•Ekspansi ke jenis wisata lain

Threat
•Rawan penolakan dari masyarakat
•Kurangnya pengelolaan dari masyarakat sehingga branding yang dibuat tidak optimal
3.2.2 Faktor Pendorong dan Faktor Penarik Usaha NusantART Creative Creative
Faktor pendorong dan faktor penarik usaha periklanan diteliti untuk melihat pengaruh
apa saja yang dapat terjadi pada usaha periklanan NusantART Creative. Faktor penarik berasal
dari dalam
A. Faktor pendorong:
1. Potensi yang dimiliki oleh sektor periklanan adalah Jumlah perguruan tinggi yang
menawarkan program DKV dan periklanan cukup banyak: 28 untuk jenjang
diploma, 56 untuk jenjang S-1, 2 untuk jenjang S-2 Desain, dan 1 untuk jenjang S-
3 Desain (Rencana Pengembangan Periklanan, 2015-2019)
2. Jumlah usaha kreatif periklanan yang besar, yaitu 2.560 entitas usaha di tahun 2013
namun belum memberikan kontribusi besar pada PDB sub sektor kreatif (BPS,
2013)
B. Faktor Penarik:
1. Penetrasi Internet di Indonesia bertumbuh secara signifikan, perkembangan
teknologi informasi menciptakan peluang untuk melakukan diversifikasi media
komunikasi dengan media digital, Mudah untuk mendapatkan piranti lunak
penunjang aktivitas periklanan, beberapa di antaranya dapat diakses secara gratis,
dan adanya pengembangan piranti lunak yang tepat guna dan berkualitas. (Rencana
Pengembangan Periklanan, 2015-2019)
2. Naiknya jumlah destinasi wisata indonesia sehingga meningkatnya wisatawan di
Indonesia sebesar 22% (republika.co.id)
3. Adanya target 17 juta wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia sehingga
perlu strategi periklanan yang mumpuni untuk meningkatkan wisatawan
(kominfo.go.id)
4. Indeks daya saing Pariwisata Indonesia yang selalu naik. Dari peringkat 70 dunia
pada 2013, melompat ke posisi 50 besar pada 2015, dan tahun ini menembus papan
42 besar dunia sehingga perlu terus meningkatkan branding dari setiap destinasi
wisata (cnnindonesia.com)
3.2.3 Target Pasar
Iklan merupakan bentuk komunikasi yang digunakan oleh pihak klien untuk
menginformasikan sesuatu kepada target khalayak. Pada iklan komersial informasi yang
disampaikan bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk kepada target
konsumen yang diharapkan akan terpengaruh untuk membeli atau menggunakan produk yang
ditawarkan. Produk Iklan dapat ditayangkan di bioskop, youtube, instagram, televisi, web
digital download, alat transportasi dan home entertainment.
Audiens Relationship: Stasiun TV, Youtube dan Instagram
3.2.4 Jasa yang Diberikan
Jasa periklanan NusantART Creative meliputi periklanan di platform:
1. Sosial media
Citra merek di mata pelanggan mereka sekarang juga ditentukan oleh media sosial
mereka (atau ketiadaan) dan seberapa banyak usaha yang mereka lakukan di
dalamnya. Tim memiliki spesialis Media Sosial, yang selain mengoptimalkan
kinerja permanen, juga mengurus pembuatan materi iklan dengan pengujian A / B
berkelanjutan (media iklan, format, penargetan, waktu, penargetan ulang, dll.).

2. Video Ads
YouTube merupakan salah satu alternatif yang cocokk untuk menjangkau para
pemakai dalam bentuk video sehingga terbangun ikatan emosional. Berbeda dengan
dua jaringan media sosial utama, YouTube tidak menempatkan konten video di feed
berita (seperti posting), tetapi di depan video sebenarnya yang ingin dilihat oleh
pengguna. Kualitas tampilan video dapat diukur melalui metrik seperti durasi
tampilan video.

3. Influencer Marketing
Hal ini menjadi penting karena konsumen/wisatawan seringkali terpengaruh akibat
perilaku pembelian dari individu yang menjadi panutan. Para “influencer” ini
membantu mendorong kesadaran serta mengatur jenis merek tertentu untuk merek
yang membutuhkannya. Dengan jaringan influencer NusantART Creative yang
luas dari semua jenis latar belakang, dengan menyediakan layanan konsultasi untuk
tarif terbaik dalam periklanan melalui influencer klien.
4. TV Advertising
TV masih merupakan bentuk media yang paling banyak dikonsumsi. Ini memiliki
keuntungan memiliki jangkauan audiens tertinggi dan terluas, kendaraan yang
sempurna untuk merek yang membutuhkan membangkitkan kesadaran massal.
Dalam hal format, iklan TV telah berevolusi dari pembelian spot ke format
penempatan lebih lanjut seperti penempatan kreatif, penempatan produk, sponsor,
dan konten. Ini memberi banyak peluang untuk menghadirkan merek dengan cara
yang kreatif.

5. Out of Home Advertising


Dalam meraih wisatawan digunakan periklanan yang muncul di aktivitas kehidupan
sehari-hari. Seperti billboard, banner, branding kendaraan seperti Mobil,
Transportasi Umum dan Kereta yang ada selama melakukan perjalanan. Selain itu
ads yang muncul di bioskop. Dengan variasi format dan lokasi dapat meningkatkan
kesempatan untuk mengingatkan penonton.
6. Print Media Advertising
Kota-kota di Indonesia yang sudah memiliki koran lokal masing-masing sehingga
periklanan dapat mencakup konsumen/wisatawan yang senang dengan media cetak.
Surat kabar menawarkan format iklan yang fleksibel seperti misalnya penempatan
kreatif, advertorial, dan kolom editorial.

3.3 Aspek Keuangan


3.3.1 Pembiayaan
Pembiayaan pada usaha NusantarART Creative meliputi modal yang berupa fixed
cost dan variable cost. Fixed cost merupakan biaya yang dikeluarkan dan tidak berubah selama
periode waktu tertentu walaupun mengalami peningkatan maupun penurunan produksi barang
atau jasa yang dihasilkan. Fixed cost untuk usaha NusantaraART Creative berupa sewa
penyusutan nilai dari aset perusahaan, rumah untuk kantor, dan tenaga kerja. Berikut ini
merupakan biaya pengeluaran berupa biaya aset dan fixed cost pada modal awal investasi untuk
tahun pertama.
Tabel 3. 1 Biaya Aset
Barang Jumlah Harga Total
Software Aplikasi 1 1.039.000 1.039.000
Komputer 3 5.050.000 15.150.000
Laptop 2 4.500.000 9.000.000
Printer and Scanner A4 3 1.750.000 5.250.000
Camera 3 5.000.000 15.000.000
Tripod 2 180.000 360.000
Printer A3 1 3.302.000 3.302.000
Total 44.671.000
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Tabel 3. 2 Biaya Penyusutan Aset
Waktu Akumulasi
Barang Jumlah Total Nilai Sisa Penyusutan/tahun
Efektif Penyusutan
Software Aplikasi 1 1.039.000 5 1.039.000 - 207.800
Komputer 3 15.150.000 5 10.150.000 5.000.000 2.030.000
Laptop 2 9.000.000 4 4.500.000 4.500.000 1.125.000
Printer and Scanner
3 5.250.000 3 3.000.000 2.250.000 1.000.000
A4
Camera 3 15.000.000 5 4.500.000 10.500.000 900.000
Tripod 2 360.000 2 160.000 200.000 80.000
Printer A3 1 3.302.000 5 2.202.000 1.200.000 440.400
Total 23.650.000 5.763.200
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Tabel 3. 3 Biaya Tetap/Fix Cost Per Tahun
Barang Jumlah Harga/tahun Total
Total Penyusutan Per 1 5.763.200 5.763.200
Tahun
Sewa Rumah 1 15.000.000 15.000.000
Tenaga Kerja 7 30.000.000 210.000.000
Total 230.763.200
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Untuk perhitungan penyusutan aset, diperoleh dari jumlah unit dikali dengan nilai sisa
yang dimiliki oleh per unit dibagi dengan waktu efektif. Maka untuk total fixed cost per per
tahun diambil dari nilai penyusutan aset per tahun, biaya sewa rumah dan biaya upah tenaga
kerja.
Selanjutnya adalah perhitungan variable cost yang akan dikeluarkan selama satu tahun.
Variable cost merupakan modal atau biaya yang dikeluarkan oleh pelaku usaha yang dapat
berubah tergantung dengan jumlah barang atau jasa yang diproduksi setiap tahunnya. Berikut
merupakan variable cost NusantarART pada tahun pertama.
Tabel 3. 4 Variable Cost Per Tahun
Barang Jumlah Harga Satuan Total
CD/DVD Blank 2 92.500 185.000
1 Rim Kertas A4 10 197.000 1.970.000
1 Rim Kertas A3 2 143.000 286.000
Tinta 4 312.000 1.248.000
Memory Card 3 188.000 564.000
Biaya Listrik 1 9.000.000 9.000.000
Biaya Air 1 1.200.000 1.200.000
Biaya Internet 1 4.800.000 4.800.000
Total 19.253.000
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Jumlah modal yang diperlukan dalam pembentukan bidang usaha periklanan
“NusantarArt” dapat diketahui dengan menjumlahkan nilai asset dengan biaya tetap/fix cost
dengan Variabel Cost. Berdasarkan perhitungan sebelumnya didapatkan bahwa nilai aset
mencapai Rp 49.101.000, kemudian biaya tetap mencapai Rp 230.763.200 dan nilai variabel
cost mencapai Rp 19.253.000. Maka didapatkan total modal yang diperlukan mencapai nilai Rp
299.117.200.
Tabel 3. 5 Estimasi/Target Penjualan Satu Tahun
Jumlah Target
Jenis Produk Harga Jumlah Unit Total
Produk
Web Design 2.500.000 1 Web 5 12.500.000
Brosur Bi Fold 265.000 10 Lembar A4 2500 66.250.000
Brosur Tri Fold 300.000 10 Lembar A4 2500 75.000.000
Poster 450.000 10 Lembar A3 1000 45.000.000
Instagram Post 240.000 3 JPG 600 48.000.000
Video 15 Detik 650.000 1 HD (480p) 50 32.500.000
Video 30 Detik 1.000.000 1 HD (480p) 50 50.000.000
Video 60 Detik 2.000.000 1 HD (720p) 20 40.000.000
Video 1-3 menit 3.500.000 1 HD (1080p-2k) 5 17.500.000
Video 1-3 menit 6.000.000 1 UHD (4k) 2 12.000.000
Total 398.750.000
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Berdasarkan hasil perhitungan estimasi/target penjualan dalam satu tahun dapat
diketahui bahwa total pendapatan mencapai Rp 398.750.000. Maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa dalam waktu satu tahun pendapatan dari “Nusantarart” mampu menutupi modal yang
telah dikeluarkan pada tahun pertama dimana total modal yang dikeluarkan adalah Rp
299.117.200 sehingga laba bersih mencapai Rp 99.632.800.
3.3.2 Kelayakan usaha
Analisis kelayakan usaha atau bisnis dapat diperhitungkan menggunakan R/C ratio dan
B/C Ratio (Sajari, 2017). Kedua analisis kelayakan bisnis tersebut menggunakan data tingkat
pendapatan yang diproleh dan modal yang harus dikeluarkan. Berikut merupakan kelayakan
usaha NusantART Creative yang dihitung menggunakan rumus R/C ratio dan B/C Ratio.
A. R/C Ratio
Revenue/Cost Ratio atau R/C Ratio merupakan besaran nilai yang menunjukkan
perbandingan antara penerimaan usaha dengan total biaya. Rumus untuk R/C ratio adalah
sebagai berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛
𝑅/𝐶𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎
Hasil analisis kelayakan dari R/C Ratio adalah:
a) R/C > 1 = layak/untung
b) R/C = 1 = BEP
c) R/C < 1 = tidak layak/rugi
Untuk menghitung R/C ratio maka dibutuhkan total pendapatan usaha selama sebulan
lamanya yang selanjutnya akan dikurangi oleh total modal yang dikeluarkan selama setahun.
Berikut adalah total biaya yang dikeluarkan dan biaya yang diterima dalam sebulan.
Tabel 3. 6 Total Biaya Pengeluaran dan Biaya yang Diterima
Uraian Jumlah (Rp/Tahun)
Total fixed cost 230.763.200
Total variable cost 19.253.000
Total (TC) 250.016.200
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Setelah itu dapat dihitung R/C usaha NusantART Creative sebagai berikut:
398.750.000
R/C = 250.016.200 = 1,59

Berdasarkan perbandingan total penerimaan dan total biaya menunjukkan bahwa


perhitungan R/C rasio yaitu menguntungkan karena nilai R/C rasio 1,59 > 1. Hal ini
menunjukkan setiap pengeluaran Rp. 100 memberikan penerimaan sebesar Rp. 159. Dapat
diambil kesimpulan dari R/C rasio, Bisnis NusantART Creative layak dan dapat
dikembangkan.
B. B/C Ratio
Benefit Cost ratio merupakan ukuran perbandingan antara pendapatan (benefit = B)
dengan total biaya produksi (cost = C). Analisis ini untuk memberikan gambaran mengapa
harus memilih atau tidak memilih spesifikasi dari suatu investasi (Keen dalam Sajari, 2017).
Besaran nilai B/C Ratio dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak
menguntungkan. Rumus B/C ratio adalah sebagai berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 (𝐵)
B/C = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 (𝑇𝐶)

Hasil analisis dari kelayakan B/C ratio adalah


a) B/C ratio > 0 = bisnis layak dilaksanakan
b) B/C ratio < 0 = bisnis tidak layak atau merugi
Untuk menghitung B/C ratio maka dibutuhkan data jumlah keuntungan yang
didapatkan, yaitu dengan cara mengurangkan total pendapatan (TR) dengan total modal yang
dikeluarkan (TC). Berikut merupakan perhitungan keuntungan untuk NusantART Creative.
Tabel 3. 7 Total Penerimaan dan Modal Biaya
Uraian Jumlah (Rp/Tahun)
Total penerimaan (TR) 398.750.000
Total Modal/Biaya (TC) 299.117.200
Keuntungan 99.632.800
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Setelah itu dapat dihitung B/C dari NusantART Creative sebagai berikut:
99.632.800
B/C = 250.016.200 = 0,39

Berdasarkan perbandingan total penerimaan dan total biaya menunjukkan bahwa


perhitungan B/C rasio yaitu menguntungkan karena nilai B/C rasio 0,39 > 0. Hal ini
menunjukkan setiap biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp. 100 maka akan diperoleh
keuntungan sebesar Rp. 39. Dapat diambil kesimpulan dari B/C rasio, NusantART Creative
dapat dikatakan layak atau untung untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan
yang besarnya lebih besar dari 0.
3.3.3 Arus Kas dan Payback Period
Arus kas memiliki pengertian sebagai laporan keuangan yang menyajikan informasi
tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu usaha selama suatu periode. Dalam arus kas
menggunakan data cash in dan cash out. Sebelum membentuk arus kas maka harus diketahui
pendapatan dan pengeluaran dalam lima tahun ke depan.
Tabel 3. 8 Pengeluaran Dalam 5 Tahun
Tahun Variable Cost Fix Cost Total Pengeluaran
1 19.253.000 274.101.000 293.354.000
2 19.148.500 230.763.200 249.911.700
3 19.724.000 230.763.200 250.487.200
4 21.601.500 230.763.200 252.364.700
5 22.231.000 230.763.200 252.994.200
Total 101.958.000 1.197.153.800 1.299.111.800
Sumber: Hasil Analisis, 2018
Tabel 3.8 menunjukkan pengeluaran per bulan untuk setiap tahunnya. Untuk tahun
pertama tidak tercantum biaya penyusutan karena akan muncul di tahun kedua atau tahun
selanjutnya, maka untuk tahun pertama dicantumkan biaya aset.
BAB IV
KESIMPULAN

Pembuatan bisnis plan mengenai sub sektor industri kreatif periklanan merupakan
subsektor industri kreatif yang memiliki pengaruh besar terhadap pemasaran suatu produk dan
jasa dimana periklanan dianggap sebagai bentuk komunikasi nonpersonal yang digunakan
untuk keperluan komersial yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen. Periklanan
merupakan strategi yang paling cepat dan efisien dalam penyampaian informasi terkait
memperkenalkan atau memasarkan suatu produk dan jasa.
Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang sangat berpotensi, hal ini justru akan
memberikan dampak pada suatu daerah. NusantART Creative merupakan bisnis yang
bergerak pada industri kreatif periklanan yang diharapkan dapat memberikan dampak positif
untuk pengembangan pariwisata di Indonesia khususnya desa wisata. Saat ini, penggunaan
internet sudah semakin meluas dan dari kalangan manapun bisa mengakses internet dengan
mudah, hal inilah yang menjadi celah bagi NusantART Creative untuk mengembangkan
bisnis periklanan dengan menggunakan internet sebagai penghubung antara desa wisata dengan
para calon wisatawan. Pembuatan bisnis periklanan dengan pembuatan NusantART Creative
dilakukan dengan menerapkan beberapa aspek pengembangan yang terdiri dari aspek
manajemen, ekonomi dan lingkungan; aspek pasar serta aspek keuangan.
Dalam aspek manajemen, ekonomi dan lingkungan, NusantART Creative dilihat dari
beberapa faktor yang meliputi proses produksi yang dilakukan, teknologi yang digunakan
dalam pembuatan produk periklanan, infrastruktur serta lokasi usaha yang digunakan untuk
merencanakan suatu bisnis dengan lokasi yang strategis, mudah dijangkau, dan dapat dikenali
oleh masyarakat luas. Dalam aspek pasar, NusantART Creative bertujuan untuk
meningkatkan minat audience kategori wisatawan domestik maupun mancanegara agar ingin
berwisata di desa-desa wisata di Indonesia dengan menargetkan konsumen yang diharapkan
akan terpengaruh untuk membeli atau menggunakan produk yang ditawarkan. Dalam aspek
keuangan, NusantART Creative ditargetkan untuk penjualan dalam satu tahun dapat mencapai
Rp 398.750.000 sedangkan total modal yang dikeluarkan adalah Rp 299.117.200 sehingga laba
bersih mencapai Rp 99.632.800. Maka dari segi pembiayaan, NusantART Creative dinilai
layak untuk dikembangkan dan dapat mendapatkan laba dari hasil penjualan.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistika Tahun 2013


Rencana Pengembangan Periklanan Nasional Tahun 2015-2019
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 25/PER/M. KOMINFO/5/2007 tentang
penggunaan sumber daya dalam negeri untuk produk iklan yang disiarkan melalui
lembaga penyiaran.
www.republika.co.id (diakses pada, 04 Desember 2018)
www.kominfo.go.id (diakses pada, 04 Desember 2018)
www.cnnindonesia.com (diakses pada, 04 Desember 2018)

Beri Nilai