Anda di halaman 1dari 9

Makalah tentang

“Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan serta hubungan dengan ilmu lainnya”
Diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Filsafat

Nama : Jajang Juhana

NIM : 1211503066

Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris


UNIVERSITAS NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012

Daftar isi
Daftar isi…………………………………………………………i
Bab 1 pendahuluan………………………………………………1
 Latar belakang
 Rumusan masalah
 Tujuan penulisan
Bab II Pembahasan………………………………………………2
 Pengertian filsafat
 Ciri-ciri dan cara kerja filsafat ilmu
 Pengertian filsafat ilmu menurut para ahli
 Sejarah perkembangan filsafat ilmu
 Filsafat sebagai landasan ilmu pengetahuan alam
 Filsafat sebagai induknya ilmu pengetahuan
Bab III Kesimpulan……………………………………………..11
Daftar Pustaka…………………………………………………..13

Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Sebelum abad ke -17, ilmu pengetahuan identik sekali dengan Filsafat. Bahkan Filsafat
merupakan bahasa lain dari Ilmu pengetahuan pada saat itu. Misalnya perkembangan Filsafat di
Yunani, yang semuanya hampir meliputi pemikiran teoritis para pemikir, artinya para ahli pada
saat itu menciptakan ide dan pendapat yang nantinya dijadikan rujukan dan pedoman oleh orang
lain. Pada awal abad ke -17, munculah pemikiran baru tentang filsafat.yaitu pemisahan Filsafat
dengan Ilmu pengetahuan. Hal ini sejalan dengan pendapat seorang ahli yaitu Van Peursen yang
mengemukakan bahwa “ dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat dan setiap ilmu itu
bergantung pada Filsafat yang dianut”.
Pada awal abad ke -20, Filsafat mulai merebak. Hal ini bergantung pada kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi suatu masyarakat atau negara. Dalam perkembangan dari masa ke
masa, filsafat melahirkan konfigurasi yang menunjukkan “pohon ilmu pengetahuan” telah
tumbuh mekar bercabang subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya,
berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri.
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya
ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru. Bahkan
ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi, seperti spesialisasi-spesialisasi. Hal ini
menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu sistem yang saling menjalin dan taat
asas (konsisten).
Untuk mengatasi perbedaan antara ilmu satu dengan ilmu lainnya dibutuhkan suatu
bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Kenyataan ini
hanya dapat dijembatani oleh filsafat. Hal ini senada dengan pendapat Imanuel Kant (Anton
Bakker, 2:1994) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu
menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu,
filsafat disebut sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (The Great Mother of The Science).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian filsafat ilmu ?


2. Bagaimana Perkembangan Filsafat Ilmu?
3. Apa hubungan Filsafat Ilmu dengan Ilmu-ilmu pengetahuan lainnya?
4. Apa peranan Filsafat Ilmu dalam ilmu pengetahuan?
5. Bagaimana filsafat menjadi induknya ilmu?
6. Apa alasan yang menjadikan filsafat menjadi induknya ilmu?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Memenuhi Tugas mata kuliah Dasar-dasar Filsafat.
2. Mengetahui ciri-ciri dan cara kerja Filsafat ilmu
3. Mengetahui sejarah perkembangan Filsafat Ilmu
4. Mengetahui hubungan antara filsafat ilmu dengan ilmu pengetahuan lainnya.
5. Mengetahui peranan Filsafat dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan.
6. Mengetahui filsafat sebagai induknya ilmu

Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian Filsafat dan Filsafat Ilmu
a. Pengertian Filsafat
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari
bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : Philo artinya cinta dan Shopia artinya
kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf
adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam dan bersifat subjektiv atau
bergantung bagaimana seorang berfikir berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Para filsuf
merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang
dimilikinya.

b. Ciri-ciri dan cara kerja Filsafat ilmu

Filsafat ilmu sangat penting bagi penalaran manusia dalam berfikir dan menggali ilmu
pengetahuan. Karena filsafat ilmu akan menyelidiki dan menelusuri tentang hakikat ilmu sejauh
mungkin. Sehingga dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu adalah akar dari semua ilmu
pengetahuan dewasa ini.
Adapun ciri-ciri filsafat ilmu yaitu :
 Mengkaji dan menganalisis konsep, asumsi dan metode ilmiah.
 Mengkaji hubungan antara ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lainnya.
 Mengkaji cara suatu perbedaan antara suatu ilmu dengan ilmu yang lainnya
 Menganalisis konsep dan bahasa yang digunakan
 Mengkaji persamaan ilmu yang satu dengan yang lainnya, tanpa mengabaikan persamaan
kedudukan masing-masing ilmu.
 Menyelidiki dampak perkembangan ilmiah terhadap hakikat manusia, nilai-nilai yang di anut,
cara pandang manusia, tempat tinggal manusia dan lain sebagainya.
Adapun cara kerja filsafat ilmu pengetahuan dalam melakukan penelitian, pengkajian, dan
penyelidikan terhadap suatu ilmu diantaranya berdasarkan :
 Kausalitas atau hubungan sebab akibat
 Pemastian
 Penggolongan
 Pengendalian
 Hukum
 Pengukuran
 Hipotesis
 Definisi
 Deduksi
 Induksi
 Fakta empiris
Filsafat ilmu memiliki beberapa Fungsi yaitu :
 Alat untuk menelusuri segala hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat
diterangkan dan serta dapat dinilai secara ilmiah.
 Memberikan pengertian tentang cara hidup dan pandangan hidup
 Sebagai panduan dan ajaran moral serta etika
 Panduan untuk menjalani segala aspek kehidupan
 Sarana untuk mendukung, memihak, menolak, mempertahankan pandangan filsafat.
c. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu terdiri dari dua kata yaitu filsafat dan ilmu. jika kedua kata tersebut
digabungkan, yang dimaksud dengan Filsafat Ilmu adalah telaah kefilsafatan yang ingin
menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis
maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi
(filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu.
d. Pengertian Filsafat Ilmu menurut beberapa para ahli
Terdapat banyak sekali pendapat para ahli mengenai pengertian dari filsafat ilmu
diantaranya:
 Robert Ackermann : Filsafat ilmu adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah
dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan.
 Lewis White Beck: Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran
ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
 Cornelius Benjamin: filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat ilmui yang menelaah
sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-
praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.
 May Brodbeck: filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafat ilmui,
pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
Dari semua pendapat para ahli tentang pengertian filsafat ilmu, maka bisa disimpulkan
bahwa filsafat ilmu merupakan ilmu yang menelaah kefilsafatan dan keilmuan demi menjawab
pertanyaan tentang hakikat keilmuan.
e. Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun secara
historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu
memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola fikir bangsa Yunani dan
umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan
bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa.
Karenanya para dewa harus dihormatidan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Dengan
filsafat, pola fikir yang selalu tergantung pada dewa diubah menjadi pola fikir yang tergantung
pada rasio.
Perkembangan sejarah filsafat di dunia barat dapat dibagi dalam empat periodisasi yaitu :
1. zamanYunani Kuno atau periode klasik,
Ciri pemikiran filsafat adalah kosmosentris yakni para filosof masa ini mempertanakan
asal-usul alam semesta dan jagad raya. Pada periode ini, orang Yunani berusaha memberikan
deskripsi yang rasional dari masalah-masalah yang mereka hadapi, termasuk memikirkan tentang
asal-mula amam semesta. Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting karena
terjadi perubahan pola fikir manusia dari Mitnosentris ( Mengandalkan mitos untuk menjelaskan
fenomena alam) menuju Logosentris. Thales adalah orang pertama yang berupaya mencari
jawaban atas pertanyaan tentang segala benda dalam alam ini sehingga dia dikenal sebagai bapak
filsafat.
2. Zaman periode pertengahan
Pada abad ini, tradisi berpikir ( berfilsafat ) bersentuhan dengan tradisi agama (Teologi ).
Ada 2 periode di jaman pertengahan yaitu periode skolastik Islam dan periode skolastik Kristen.

3. Zaman periode kontemporer

Pemikiran filsafat pada abad ini, mayoritas mengkritisi, memperbaiki, dan


menyempurnakan pemikiran-pemikiran filsafat pada abad sebelumnya. Yang terpenting pada
abad ini yaitu mengembangkan pendekatan interdisipliner. Filsafat sebagai “ibu” ilmu
pengetahuan yang diharapkan dapat kembali mengarahkan “anak cucunya” sebagai “mitra
dialog” dalam menyelesaikan persoalan aktual masa kini dan masa mendatang yang semakin
kompleks ruang lingkupnya.

f. Filsafat sebagai landasan ilmu pengetahuan alam

Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai perbandingan,
menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian
tentang strategi dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600,
menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara
berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan
diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-
hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya
rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense
(pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan
alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu
pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.
Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental dan
struktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu
pengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar yang ada
dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan
kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan dalam meramal
(memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme menyamakan rasionalitas dengan
rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam.
Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa
ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang
langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaan ilmu
alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan gejala-
gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasi dalam eksperimen
adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimental kita. Eksperimentasi yang
aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti terhadap banyak faktor yang dalam
pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak
akan tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.
Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun
1853, Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya
penggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono,
1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-
gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Dengan
mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih tenang dan
rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan
untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut,
dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia
diurutkan dalam urutan keempat.
Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan dan
ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua sejarahnya,
secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu yang
dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).
Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi
dalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari kelompok ilmu
pengetahuan alam.
Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang
menyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia
dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia organik,
kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang
ilmu kimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition and
decomposition, which result from the molecular and specific mutual action of different
subtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan dengan
hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami maupun sintetik).
Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak saja melalui pengamatan
(observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).
Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya orang
tetap mempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal
ini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New Princiles
of Chemical Philosophy.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak
terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini
dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah
perkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.
g. Filsafat sebagai induknya Ilmu pengetahuan

Beberapa ahli filsafat menjelaskan bahwa filsafat itu adalah induk semua ilmu
pengetahuan. Dahulu pada mulanya filsafat meliputi semua ilmu yang ada pada zamanya: politik,
ekonomi, hukum, seni, dan sebagainya. Akan tetapi lama kelamaan dengan intensifnya usaha-
usaha yang bersifat empiris dan eksperimental terciptalah satu persatu ilmu yang khusus
memecahkan satu bidang masalah. Sehingga terwujudlah berbagai ilmu pengetahuan yang
mendasarkan penyelidikannya secara empiris dan eksperimental dan terlepaslah dari filsafat
sebagai induknya. Tetapi dengan munculnya ilmu-ilmu tidak berarti telah lenyaplah eksistensi
filsafat dan fungsinya. Filsafat masih tetap eksis dan mempunyai fungsi sendiri yang tidak dapat
digantikan oleh ilmu pengetahuan. Garapan filsafat berbeda dengan garapan ilmu pengtahuan
dan masing-masing dibutuhkan. Dalam kenyataan, setiap ilmu membutuhkan filsafatnya. Ada
ilmu hukum ada pula filsafat hukum, ada ilmu pendidikan ada pula filsafat pendidikan.
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan
filsafat dimulai dari keduanya. Dalam berfilsafat kita didorong untuk mengetahui apa yang kita
tahu dan apa yang belum kita tahu. Filsafat dalam pandangan tokoh-tokoh dunia diartikan
sebagai berikut:
 Plato (427 – 348 sm), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang
asli
 Aristoteles (382 – 322 sm), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang
terkandung dalam ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika
 Al Kindi (801 – ……m), filsafat adalah pengetahuan tentang realisasi segala sesuatu sejauh
jangkauan kemampuan manusia
 Al Farabi (870 – 950 m), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikat
sebenarnya.
 Prof. H. Muhammad Yamin, filsafat adalah pemusatan pikiran, sehingga manusia menemui
kepribadiannya. Di dalam kepribadiannya itu dialami sesungguhnya.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, filsafat dapat diartikan sebagai berikut
 Teori atau analisis logis tentang prinsip-prinsip yang mendasari pengaturan, pemikiran
pengetahuan, sifat alam semesta.
 Prinsip-prinsip umum tentang suatu bidang pengetahuan.
 Ilmu yang berintikan logika ,estetika, metafisika, dan epistemology
 Falsafah.
Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin dan
menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk sistematik. Dengan demikian filsafat
memerlukan analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran sudut pandangan yang
menjadi dasar suatu tindakan. Semua ilmu baik ilmu sosial maupun ilmu alam bertolak dari
pengembangannya yaitu filsafat. Pada awalnya filsafat terdiri dari tiga segi, yaitu
1. Apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika);
2. Mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika);
3. Apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).
Kemudian ketiga cabang utama itu berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang
mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik. Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain
mencakup:
1. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
2. Etika (Filsafat Moral)
3. Estetika (Filsafat Seni)
4. Metafisika
5. Politik (Filsafat Pemerintahan)
6. Filsafat Agama
7. Filsafat Ilmu
8. Filsafat Pendidikan
9. Filsafat Hukum
10. Filsafat Sejarah
11. Filsafat Matematika
Ilmu tersebut pada tahap selanjutnya menyatakan diri otonom, bebas dari konsep-konsep dan
norma-norma filsafat. Namun demikian ketika ilmu tersebut mengalami pertentangan-
pertentangan maka akan kembali kepada filsafat sebagai induk dari ilmu tersebut. Oleh karena
itu, mengapa filsafat sering disebut para ahli sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan di mana
ilmu tersebut selalu berkaitan dengan filsafat sebagai sumber acuan.

Bab III

Kesimpulan

Ilmu filsafat seperti peristiwa sebuah kapal yang mengarungi samudera yang luas.
Menjelajahi samudera tersebut, hingga akhirnya menemukan pulau. Maka berlabuhlah
kapal tersebut di pulau itu, dan menurunkan awaknya. Seluk beluk pulau akan
dijelajahi, dieksplorasi, hingga berkembang menjadi suatu peradaban.

Menurut beberapa ahli, ilmu filsafat dapat dikatakan sebagai induk ilmu, karena dari
sinilah ilmu pengetahuan lainnya muncul. Filsafat kerap disandingkan dengan kata
“heran” dan “penasaran”. Mulailah seseorang berfikir bebas (seperti sebuah kapal yang
mengarungi samudra), maka akan ditemukan hal baru, berkembang pertanyaan, dan
muncul hal-hal baru lainnya (seperti penjelajahan pulau oleh awak kapal). Hasilnya,
muncul ilmu-ilmu pengetahuan baru; mempelajari sosial, ilmu pasti,dsb.

Ilmu filsafat, dari sinilah kita mulai berpikir dari suatu titik dasar, pikiran murni, logika
dan pertanyaan paling sederhana. Disinilah kondisi dimana kita tidak mengetahui
apapun tentang “sesuatu” yang ingin kita ungkap kebenarannya.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan
filsafat. Hal itu membuat filsafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri
eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan
ketertarikan yang dimasukkan ke dalam proses dialektika. Filsafat juga bisa berarti
perjalanan menuju suatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh
oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis.

Filsafat dari ilmu pengetahuan, saat kita berfikir bebas untuk menyelami hakikat dan
makna dari ilmu pengetahuan itu. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan seperti
penelitian dan percobaan (misal pada ilmu eksak) untuk menyibak misterinya. Akan
muncul lagi pertanyaan-pertanyaan baru, berfilsafat, berfikir, penelitian, dan penarikan
kesimpulan, begitulah seterusnya. Menurut saya, tidak hanya Socrates, Plato, atau
Aristoteles saja seorang filusuf. Menurut saya, orang macam Albert Einstein, Newton,
Thomas Alfa Edison, atau Michael Faraday dapat juga disebut seorang filusuf. Tidak
mungkin semua yang mereka raih tanpa melalui proses berfilsafat.

filsafat ilmu sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu khususnya ilmu
pengetahuan alam karena kenyataanya, filsafat merupakan induk dari ilmu
pengetahuan alam.

Daftar Pustaka
Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”, Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu
Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya
Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM
Yogyakarta p.3, 14-16.
____________________., 1996., “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste
Comte”, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.
____________________., 1999., “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran
Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu”, Makalah, Ditjen
Dikti Depdikbud – Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, p.1.
Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam,
Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono”, Fakultas Filsafat – PPPT UGM Yogyakarta p.6-7.
JWM. Bakker: Sejarah Filsafat dalam Islam. Penerbit, Yayasan Kanisius, Anggota Ikapi.
Yogyakarta, Cetakan ke 7. 2001
http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/
Science And Civilization in islam, pengarang : seyyed Hossein nasr. penerbit : Barnes & Noble Books, State University of
New York dialih bahasakan oleh DR. yazid penerbit Press, 1993