Anda di halaman 1dari 18

Laporan Pendahuluan DSS

A. DEFINISI.

Penyakit Dengue adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus

( arthropod-borne virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes

Albopictus dan Aedes Aegypti ) (Ngastiyah dan Ilmu Kesehatan Anak).

Penyakit Dengue Haemoragie Fever adalah penyakit Demam Dengue dengan

manifestasi perdarahan ( sumarmo dkk ;2008)

Penyakit Dengue Shock Syndrom (dss) adalah penyakit DHF yang mengalami

renjatan atau shock ( Mansjoer, Arief.dkk;2001.428)

B. ETIOLOGI

1. Virus dengue

Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam

Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue

tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat

dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk

dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak

dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel

mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel Arthropoda

misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990).

2. Vektor

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu

nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa

spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi dengan salah satu

serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan


tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer

&Suprohaita; 2000; 420).

Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor

penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya

nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban)

sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam

penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang

terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun

yang terdapat di luar rumah di lubang – lubang pohon di dalam potongan bambu,

dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk

betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada

waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 1990).

3. Host

Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia

akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih

mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue

tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang

pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi

ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang

mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat

imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990).


C. PATOFISIOLOGI

Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan

virtemia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi

komplek imun Antibodi – virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan

melepaskan zat (C3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan

merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu

hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi

hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas

dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek

imun antibodi – virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi

gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut

menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika

shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis

metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang

akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun

jika tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan.

Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat

hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama

dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan

tubuh manusia.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem

komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan

permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular

ke ekstravaskular, (2) agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut

akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi


mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel

pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.

Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas

kapiler; (2) kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati;

trombositopenia; dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000).


Pathway :
D. MANIFESTASI KLINIS

1. Demam

Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun

menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam,

gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung ,

nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya.

(Soedarto, 1990).

2. Perdarahan

Perdaran biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan umumnya terjadi

pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan

pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. (Soedarto, 1990). Perdarahan ringan

hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan

haematemesis. (Nelson, 1993). Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului

dengan nyeri perut yang hebat. (Ngastiyah, 1995).

3. Hepatomegali

Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang

kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati

teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita

. (Soederta, 1995).

4. Renjatan (Syok)

Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai

dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung

hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada

masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. (Soedarto, 1995).
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda

dan gejala lain adalah :

o Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.

o Asites

o Cairan dalam rongga pleura ( kanan )

o Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

Gejala klinik lain yaitu nyeri epigasstrium, muntah – muntah, diare maupun

obstipasi dan kejang – kejang. (Soedarto, 1995).

E. KLASIFIKASI

Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi

menjadi 4 tingkat (UPF IKA, 1994 ; 201) yaitu :

1. Derajat I

Panas 2 – 7 hari , gejala umum tidak khas, uji taniquet hasilnya positif,

trombositipenia, dan hemokonsentrasi.

2. Derajat II

Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala – gejala pendarahan spontan seperti

petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, haematemesis, melena, perdarahan gusi

telinga dan sebagainya.

3. Derajat III

Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah

dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun

(120 / 80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg.


4. Derajat IV

Nadi tidak teraba,tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > – 140 mmHg)

anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

Derajat (WHO 1997):

a. Derajat I : Demam dengan test rumple leed positif.

b. Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan

lain.

c. Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan

nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi

gelisah.

d. Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak

dapat diukur.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Hasil laboratorium

o Trombosit menurun <100.000/ μ (pada hari sakit ke 3 – 7

o Hematokrit meningkat 20% atau lebih

o Albumin cenderung menurun

o SGOT, SGPT sedikit meningkat

o Asidosis metabolik pada lab BGA (pc02 < 35 – 40 mmHg, HCO3 menurun.

o Dengue blat 19m positif 19G positif pada hari ke 6.

o NS 1 positif

2. Foto rontgen

Pemeriksaan foto thorax RLD (Right Lateral Dext)

o Efusi Pleura (PEI ………%)


3. USG

Pada pemeriksaan USG biasanya ditemukan

o Asites dan Efusi pleura

o Hepatomegali

G. PENATALAKSANAAN MEDIS

Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA,

1994 ; 203 – 206 adalah.

1. Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface

cooling”. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen,asetosal

tidak boleh diberikan

o Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kali, 4 kali sehari

o Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg, 4 sehari

o Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg, 4 kali sehari

o Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari.

2. Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan

BB < 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama –

sama di berikan minuman oralit, air bauh susu secukupnya

3. Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak –

banyaknya dan sesering mungkin.

4. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang

harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24

jam yang diestimasikan sebagai berikut :

o 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg

o 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg


o 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg

o 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg

5. Obat-obatan lain :

o Antibiotika apabila ada infeksi sekunder lain

o Antipiretik untuk anti panas

o Darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.

Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA,

1994 adalah.

1. Belum atau tanpa renjatan (Grade I dan II) :

Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface

cooling”. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen, asetosal

tidak boleh diberikan

o Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kaji, 4 kali sehari

o Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg, 4 sehari

o Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg, 4 kali sehari

o Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari

Terapi cairan

1) Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan

BB < 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama –

sama di berikan minuman oralit, air bauh susu secukupnya

2) Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak –

banyaknya dan sesering mungkin.


3) Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang

harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24

jam yang diestimasikan sebagai berikut :

o 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg

o 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg

o 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg

o 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg

o Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas,

darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.

2. Dengan Renjatan (Grade III) :

1) Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba

dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer

Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan

jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam

dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi

waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan

dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut :

o 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg

o 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.

o 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.

o 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.

2) Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan

tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka
penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang

lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg

BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL

sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi

sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

3) Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam

keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat

lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma

ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat

diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.

Bila pasien sudah masuh dalam tahap DSS (Dengue Syok Syndrom) yaitu

pada grade 3 atau 4 maka penatalaksanaan yang terpentingadalah pengelolaan

cairan diantaranya adalah :

1. Resusitasi volume pada DSS :

Pilihan cairan colume intra verkuler dan kemampuan menyumpal vaskuler. Cepat

mempertahankan volume vaskuler, bertahan lama didalam intra vaskuler sehingga

cepat mengatasi syok.

Hal – hal yang perlu dipertahankan dalam tubuh / cairan pada DSS :

1) Kristaloid

oR/C

o NacL 0,9%

Tujuan : memperbaiki volume extra vaskuler seperti pada diare akut dengan

dehidrasi
2) Koloid

o HES

o Wida HES

o Voluven

o Fima HES, dll.

Efek yang menguntungkan :

o Dapat meningkatkan ankotik plasma

o Dapat meningkatkan volume darah

o Dapat membatasi kebocoran vaskuler

3) Kolaborasi MedisàPemberian terapi /oksigen

4) Transfusi komponen darah

o Komponen yang biasa dipakai FFP : 15 cc / kg BB

o Bila terdapat trombositopeni beratàTrombosit konsentrit

(Trombo <30.000 / m3).

5) Obat – Obatan (Kolaborasi Medis)

o Pemberian Antibiotika

o Pemberian obat antipiretik

o Imunoglobolin intravena (Gamaras)

o asidosis metabolik

I. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue (viremia)

2. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan dari intravaskuler ke

ekstravaskuler

3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake in adekuat
4. Resiko syok hipovolemik b/d permeabilitas membran meningkat

5. Resiko cedera (perdarahan) b/d trombisitopenia

6. Resiko perfusi jaringan tidak efektif b/d perdarahan dan syok

7. Resiko pola nafas tidak efektif b/d efusi pleura

J. INTERVENSI

1. Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue (viremia)

Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan.

Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37, membran mukosa basah, nadi dalam

batas normal (80-100 x/mnt), Nyeri otot hilang.

Intervensi :

a. Berikan kompres (air biasa / kran).

b. Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai

toleransi )

c. Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap

keringat pada klien.

d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam

sekali atau lebih sering.

e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat antipiretik sesuai

program.

2. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan dari intravaskuler ke

ekstravaskuler

Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal (TD 100/70

mmHg, N: 80-120x/mnt), Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill <

3 detik, Pulsasi kuat.

Intervensi :

a. Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering

b. Observasi capillary Refill

c. Observasi intake dan output. Catat jumlah, warna, konsentrasi, BJ urine.

d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi)

e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena, plasma atau darah.

3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake in adekuat

Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi

Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, tidak terjadi penurunan berat badan,

Nafsu makan meningkat, porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien,

mual dan muntah berkurang.

Intervensi :

a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai

b. Observasi dan catat masukan makanan pasien

c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )

d. Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun sering dan atau

makan diantara waktu makan

e. Berikan dan Bantu oral hygiene.

f. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas.

g. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting nutrisi/ makanan bagi proses

penyembuhan.
h. Sajikan makanan dalam keadaan hangat.

i. Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual.

j. Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat.

k. Observasi porsi makan klien, berat badan dan keluhan klien.

4. Resiko syok hipovolemik b/d permeabilitas membran meningkat

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik

Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal

Intervensi :

a. Monitor keadaan umum pasien

b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih

c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika

terjadi perdarahan

d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo

5. Resiko cedera (perdarahan) b/d trombisitopenia

Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan.

Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat, tidak ada

perdarahan spontan (gusi, hidung, hematemesis dan melena), trombosit dalam batas

normal (150.000/uL).

Intervensi :

a. Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring ( bedrest )

b. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya yang dapat timbul

akibat dari adanya perdarahan, dan anjurkan untuk segera melaporkan jika ada
tanda perdarahan seperti di gusi, hidung(epistaksis), berak darah (melena), atau

muntah darah (hematemesis).

c. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara

kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah dan

Observasi tanda-tanda perdarahan serta tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu dan

pernafasan).

d. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah lengkap).

e. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.

f. Monitor trombosit setiap hari

g. Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate).


DAFTAR PUSTAKA

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume

2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).

Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif & Suprohaita. (2000). Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Fakultas

Kedokteran UI : Media Aescullapius. Jakarta.

Ngastiyah (1997). Perawatan Anak Sakit. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Soeparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Penerbit FKUI.

Jakarta.

Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Penerbit buku Kedokteran EGC,

Jakarta.

Soedarto (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi. F.K. Universitas Airlangga.

Surabaya.

(1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas

Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

Anda mungkin juga menyukai