Anda di halaman 1dari 33

1

PEMERINTAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN


PROVINSI SULAWESI SELATAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

NOMOR ……. TAHUN 2017

TENTANG
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
KAWASAN PERKOTAAN BUNGORO TAHUN 2017 - 2037

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

Menimbang : a. bahwa Kedudukan Kawasan Perkotaan Bungoro,


menyebabkan ruang wilayah kawasan perkotaan Bungoro
berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp),
maka pembangunan di Kawasan Perkotaan Bungoro perlu
diarahkan pada pemanfaatan ruang secara bijaksana,
berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang
dan berkelanjutan sesuai dengan kaidah – kaidah;
b. bahwa pertumbuhan dan perkembangan penduduk dan
pembangunan dapat mengakibatkan penurunan kualitas
pemanfaatan ruang dan ketidak seimbangan struktur dan
fungsi ruang, sehingga perlu dilakukan pengendalian
pemanfaatan ruang sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan, sehingga
pembangunan dapat dilaksanakan secara efisien dan
efektif;
c. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Undang – Undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, setiap
Rencana Tata Ruang Wilayah harus ditindak lanjuti
dengan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan
Peraturan Zonasi sebagai perangkat operasional Rencana
Tata Ruang Wilayah;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan
Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang dan
Peraturan Zonasi Kawasan Perkotaan Bungoro.
-2-

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tentang
Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 1822);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 07, tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188);
6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 5234);
7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang
Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
-3-

Indonesia Nomor 5160);


10.Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4247);
11.Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4377);
12.Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4433) ;
13.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104);
14.Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4444);
15.Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
16.Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
17.Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4739);
18.Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4849);
-4-

19.Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang


Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4850);
20.Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4966);
21.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
22.Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5068);
23.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumberdaya Air (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4858);
24.Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang
Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991
Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3445);
25.Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang
Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1993 Nomor 14, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3516);
26.Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang
Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata
Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor
104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3660);
27.Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan
-5-

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838);


28.Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang
Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3934);
29.Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4161);
30.Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4385);
31.Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang
Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4624);
32.Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang
Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4655);
33.Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833).
34.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42
tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4858);
35.Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air
Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4859);
36.Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
-6-

Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan


Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
37.Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
38.Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata Ruang Pulau Sulawesi;
39.Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9
Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 – 2029 (Lembaran
Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 9).
40. Peraturan Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan
Nomor 8 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan Tahun
2011 – 2032.
-7-

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN
dan
BUPATI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA DETAIL


TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BUNGORO TAHUN
2017-2037.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan;
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi
seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pangkajene Dan
Kepulauan yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah;
5. Bupati adalah Bupati Pangkajene Dan Kepulauan;
6. Kecamatan adalah Kecamatan Bungoro;
7. Kota adalah Kawasan Perkotaan Bungoro;
8. Kawasan Perkotaan adalah Desa Bowong Cindea, Kelurahan Samalewa,
Desa Bulu Cindea dan Kelurahan Boriappaka.
9. Desa/Kelurahan adalah Boriappaka, Bulu Cindea, Bowong Cindea,
Samalewa, Sapanang, Biringere, Mangilu, Tabo-Tabo;
10. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
-8-

tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan


memelihara kelangsungan hidupnya;
11. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang;
12. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
13. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan
struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan
penetapan rencana tata ruang;
14. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional;
15. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi zona lindung dan
peruntukan ruang untuk fungsi zona budi daya;
16. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang
dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan
dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya;
17. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam
kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
18. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan
tertib tata ruang;
19. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk
setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana
rinci tata ruang;
20. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan ketentuan khusus
yang ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan, dan/atau
persil;
21. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten yang selanjutnya disebut
RTRW Kabupaten adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari
wilayah kabupaten, yang merupakan penjabaran dari Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi
penataan ruang wilayah kabupaten, rencana struktur ruang wilayah
kabupaten, rencana pola ruang wilayah kabupaten, penetapan kawasan
strategis kabupaten, arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten,
dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten;
22. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah
rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten yang
dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten;
-9-

23. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta


segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional;
24. Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP adalah
RDTR Kawasan Perkotaan Bungoro;
25. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut Sub BWP
adalah bagian dari BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan terdiri
dari beberapa blok, dan memiliki pengertian yang sama dengan
Subzona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang;
26. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi;
27. Kawasan Strategis Kabupaten adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam
lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau
lingkungan;
28. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;
29. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya
alam dan sumber daya buatan;
30. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas
lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,
utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di
kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan;
31. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari pemukiman,
baik perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana,
sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang
layak huni;
32. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang
memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang
layak, sehat, aman, dan nyaman;
33. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur yang
lain;
34. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh
batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran
irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau yang
- 10 -

belum nyata seperti rencana jaringan jalan dan rencana jaringan


prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota, dan memiliki
pengertian yang sama dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang;
35. Sub blok adalah pembagian fisik di dalam satu blok berdasarkan
perbedaan Sub zona;
36. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik
spesifik;
37. Sub zona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan
karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan
karakteristik pada zona yang bersangkutan;
38. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah
angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar
bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL;
39. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH adalah angka
persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar
bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan
dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai
rencana tata ruang dan RTBL;
40. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah
angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan
gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai
sesuai rencana tata ruang dan RTBL;
41. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah
sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi
jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor (riol) sampai batas
terluar muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak
bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap
lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa
bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi
listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line);
42. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam;
43. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH adalah
ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam
kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras atau yang berupa badan
air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi
tanaman atau berpori;
- 11 -

44. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang selanjutnya disingkat


SUTET adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat
penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik
dari pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 278 kV;
45. Saluran Udara Tegangan Tinggi yang selanjutnya disingkat SUTT adalah
saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara
yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit
ke pusat beban dengan tegangan di atas 70 kV sampai dengan 278 kV;
46. Masyarakat adalah kesatuan sosial yang terikat secara garis keturunan
dan wilayah tempat tinggal atau hanya terikat secara garis keturunan
yang menetap di wilayah pesisir dan mempunyai hubungan timbal
balik dengan sumberdaya pesisir serta memilki sistem nilai dan norma-
norma yang ditegakkan melalui lembaga adatnya.

BAB II
TUJUAN PENATAAN BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN
DAN JANGKA WAKTU
Bagian Kesatu
Tujuan Penataan BWP

Pasal 2

Tujuan penataan ruang BWP Kawasan Perkotaan Bungoro adalah


Mewujudkan Kawasan Perkotaan Bungoro yang Produktif, Mendukung
Pengembangan Industri yang Berwawasan Lingkungan, dan Berorientasi
Pada Kesejahteraan Masyarakat”

Bagian Kedua
Bagian Wilayah Perkotaan

Pasal 3

(1) Wilayah perencanaan RDTR Kawasan Perkotaan Bungoro disebut


sebagai BWP Perkotaan Bungoro.
(2) Lingkup ruang BWP Bungoro berdasarkan aspek fungsional dengan luas
kurang lebih 1.804,33 Ha (Seribu Delapan Ratus Empat koma tiga
puluh tiga hektar), beserta ruang udara di atasnya dan ruang di dalam
bumi.
(3) Batas-batas BWP Bungoro meliputi:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Labakkang;
- 12 -

b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Boriappaka;


c. Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Samalewan dan Desa
Sapanang;dan
d. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar;
(4) BWP Bungoro, terdiri atas:
a. Desa Bowong Cindea, Kelurahan Samalewa, Desa bulu Cindea dan
Kelurahan Boriappaka dengan luas kurang lebih 1.804,33 Ha (Seribu
Delapan Ratus Empat koma tiga puluh tiga hektar);
(5) BWP Bungoro dibagi menjadi 3 Sub BWP yang terdiri atas :
a. Sub BWP I dengan fungsi utama pusat Pariwisata, Perkantoran dan
Permukiman, dikembangkan sebagian di Kelurahan Samalewa,
sebagian Kelurahan Bori Appaka, dan sebagian Desa Bowong Cindea
dengan luas 623.21 Ha
b. Sub BWP II dengan fungsi utama sebagai pusat kegiatan pertanian
(Tambak) dan Cagar Alam yang dikembangkan di sebagian Desa
Bowong Cindea dan Desa Bulu Cindea dengan luas 692.36 Ha
c. Sub BWP III dengan fungsi utama sebagai Transportasi Laut dan
Perindutrian yang dikembangkan di sebagian Desa Bulu Cindea dan
sebagian Desa Bowong Cindea dengan luas 488.76 Ha

(6) Rincian luasan Sub BWP tercantum pada Lampiran I.1 berupa tabel
luasan rincian Sub BWP, dan Lampiran II.1 Peta Pembagian Sub BWP
Kawasan Perkotaan Bungoro yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari peraturan daerah ini.
Bagian Ketiga
Jangka Waktu

Pasal 4

(1) Jangka Waktu pemberlakuan RDTR Kawasan Perkotaan Bungoro


berlaku selama 20 (Dua puluh) tahun.
(2) RDTR Kawasan Perkotaan Bungoro dapat ditinjau kembali setiap 5
(Lima) tahun.
(3) RDTR Kawasan Perkotaan Bungoro dapat ditinjau kembali kurang dari
5 (lima) tahun apabila:
a. terjadi perubahan kebijakan dan strategi provinsi, walikota, dan
strategi yang mempengaruhi pemanfaatan ruang Sub BWP; dan/atau
b. terjadi dinamika internal Sub BWP yang mempengaruhi pemanfaatan
ruang secara mendasar, seperti: bencana alam skala besar atau
pemekaran wilayah yang ditetapkan melalui peraturan perundang-
undangan.
- 13 -

BAB III
RENCANA POLA RUANG
Bagian Kesatu
Umum

Pasal 5

(1) Rencana pola ruang terdiri atas:


a. zona lindung; dan
b. zona budidaya.
(2) Rencana pola ruang RDTR digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1:5.000 (Satu banding lima ribu) sebagaimana tercantum
dalam Lampiran II.2 berupa Peta Rencana Pola Ruang yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(3) Peta rencana pola ruang RDTR tersebut merupakan peta zonasi bagi
Peraturan Zonasi.
(4) Rencana pola ruang Sub BWP Kawasan Perkotaan Bungoro tercantum
pada Lampiran I.2 berupa tabel rincian Rencana Pola Ruang dan
Lampiran II.2 Peta Rencana Pola Ruang Kawasan Perkotaan Bungoro
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Bagian Kedua
Zona Lindung

Pasal 6

Zona lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a


meliputi:
a. Zona Perlindungan Setempat;
b. Zona Perlindungan terhadap kawasan bahwahannya
c. Zona RTH;

Paragraf 1
Zona Perlindungan Setempat

Pasal 7

(1) Zona perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat


(1) meliputi:
a. sub zona kawasan karst;
b. sub zona hutan mangrove;
c. sub zona sempadan sungai;dan
d. sub zona sempadan pantai;
- 14 -

(2) Zona perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat


(2) huruf a, berupa kawasan karst terdapat di Sub BWP 1 Blok 4, Sub
BWP 1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok 2, dengan luas kurang lebih 180,76 Ha
(Seratus delapan puluh koma tujuh puluh enam hektar).
(3) Zona perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat
(2) huruf b, berupa hutan mangrove terdapat di Sub BWP 2 Blok 1, Sub
BWP 2 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 3, dengan luas
kurang lebih 17,29 Ha (Tujuh belas koma dua puluh sembilan hektar).
(4) Zona perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat
(2) huruf c, berupa sempadan sungai terdapat di Sub BWP 1 Blok 1,
Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 2
Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 3,
dengan luas kurang lebih 19,40 Ha (Sembilan belas koma empat puluh
hektar).
(5) Zona perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat
(2) huruf c, berupa sempadan pantai terdapat di Sub BWP 2 Blok 1, Sub
BWP 2 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, dengan luas kurang lebih 18,50 Ha
(Delapan belas koma lima puluh hektar).
(6) Rencana perlindungan setempat Sub BWP Kawasan Perkotaan Bungoro
tercantum pada Lampiran I.3, berupa tabel rincian zona perlindungan
setempat yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan
daerah ini.

Paragraf 2
Zona Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

Pasal 8

(1) Zona Perlindungan terhadap kawasan bahwahannya sebagaimana


dimaksud pada pasal 7 ayat (1) berupa danau buatan terdapat di Sub
BWP 1 Blok 2, dengan luas kurang lebih 0,63 Ha (Nol koma enam puluh
tiga hektar).

(2) Rencana Perlindungan terhadap kawasan bahwahannya Sub BWP


Kawasan Perkotaan Bungoro tercantum pada Lampiran I.4, berupa tabel
rincian Perlindungan terhadap kawasan bahwahannya yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Paragraf 3
Zona RTH

Pasal 9
- 15 -

(3) Zona Ruang Terbuka Hijau sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf
b, terdapat Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 3,
Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3
Blok 2, dengan luas kurang lebih 32,63 Ha (Tiga puluh dua koma enam
puluh tiga hektar).
(4) Zona Ruang Terbuka Hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf
b adalah Zona Ruang terbuka hijau Kawasan Perkotaan meliputi:
a. sub zona RTH Taman Kota;
b. sub zona RTH Pemakaman;
c. sub zona RTH Sempadan SUTR;
(5) Zona Ruang Terbuka Hijau berupa Taman Kota sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2,
Sub BWP 1 Blok 3, Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3
Blok 2, dengan luas kurang lebih 5,93 Ha (Lima koma sembilan puluh
tiga hektar).
(6) Zona Ruang Terbuka Hijau berupa Pemakaman sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b terdapat di Sub BWP 1 Blok 1 Sub BWP 1 Blok 3,
Sub BWP 1 Blok 4, dengan luas kurang lebih 2,00 Ha (Dua koma nol
hektar).
(7) Zona Ruang Terbuka Hijau berupa Sempadan SUTR sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf c terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP
1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2,
dengan luas kurang lebih 24,70 Ha (Dua puluh empat koma tujuh puluh
hektar).
(8) Rencana zona RTH Sub BWP Kawasan Perkotaan Bungoro tercantum
pada Lampiran I.5, berupa tabel rincian Ruang Terbuka Hijau yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Bagian Ketiga
Zona Budi Daya

Paragraf 1
Umum

Pasal 10

(1) Zona budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b,
terdiri atas:
a. zona perumahan;
b. zona perdagangan dan jasa;
c. zona perkantoran;
d. zona sarana pelayanan umum;
- 16 -

e. zona peruntukan lainnya;


f. zona peruntukan khusus;
g. zona campuran; dan
h. zona industri;
(2) Rincian Zona Budidaya tercantum pada Lampiran I.6 berupa tabel
rincian zona budidaya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
peraturan daerah ini.
Paragraf 2
Zona Perumahan

Pasal 11

(1) Zona perumahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a
terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 3,
Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 2
Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas kurang lebih
114,084 Ha (Seratus empat belas koma delapan puluh empat hektar).
(2) Zona perumahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. subzona perumahan dengan kepadatan sedang;
b. subzona perumahan dengan kepadatan rendah;
(3) Sub zona perumahan dengan kepadatan sedang sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a terdapat di Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 3
dan Sub BWP 1 Blok 5 dengan luas kurang lebih 43,52 Ha (Empat
puluh tiga koma lima puluh dua hektar).
(4) Sub zona perumahan dengan kepadatan rendah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP
1 Blok 3, Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok 1, Sub
BWP 2 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2 dan Sub BWP 3
Blok 3 dengan luas kurang lebih 183,69 Ha (Seratus delapan puluh
empat koma empat puluh empat hektar).
(5) Rincian zona perumahan tercantum pada Lampiran I.7 tabel rincian
zona perumahan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
peraturan daerah ini.

Paragraf 3
Zona Perdagangan dan Jasa

Pasal 12

(1) Zona perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf b terdapat Sub BWP 1 Blok 1, dengan luas kurang lebih 3,54
Ha (Tiga koma lima puluh empat hektar).
- 17 -

(2) Zona perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi ;
a. sub zona perdagangan dan jasa kopel; dan
b. sub zona perdagnagan dan jasa deret;
[

(3) Sub zona perdagangan dan jasa kopel sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, dengan luas kurang
lebih 1,41 Ha (Satu koma empat puluh satu hektar).
(4) Sub zona perdagangan dan jasa deret sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b terdapat Sub BWP 1 Blok 1, dengan luas kurang lebih
2,13Ha (Dua koma tiga belas hektar).
(5) Rincian zona perdagangan dan jasa tercantum pada Lampiran I.8 tabel
rincian zona perdagangan dan jasa yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Paragraf 4
Zona Perkantoran

Pasal 13

(1) Zona perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf
c terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 4,
Sub BWP 1 Blok 5 dan Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas kurang lebih
7,77 Ha (Tujuh koma tujuh puluh tujuh hektar).
(2) Zona perkantoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Sub zona perkantoran pemerintah; dan
b. Sub zona perkantoran swasta.
(3)Sub zona perkantoran pemerintah sebagaimana pada pasal 12 ayat (2)
huruf a terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1
Blok 4, Sub BWP 1 Blok 5 dan Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas kurang
lebih 5.81 Ha (Lima koma delapan puluh satu hektar).
(4)Sub zona perkantoran swasta sebagaimana pada pasal 12 ayat (2) huruf
b terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, dengan luas kurang lebih 1,95 Ha (Satu
koma sembilan puluh lima hektar).
(5)Rincian zona perkantoran tercantum pada Lampiran I.9 tabel rincian
zona perkantoran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
peraturan daerah ini.

Paragraf 5
Zona Sarana Pelayanan Umum

Pasal 14
- 18 -

(1) Zona Sarana Pelayanan Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9


ayat (1) huruf d terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub
BWP 1 Blok 3, Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok
1, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas kurang lebih
11,96 (Sebelas koma sembilan puluh enam hektar).
(2) Zona Sarana Pelayanan Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi;
a. Sub zona Sarana Pelayanan Umum;
b. Sub zona Pendidikan;
c. Sub zona Kesehatan;
d. Sub zona Olahraga;
e. Sub zona Peribadatan;
(3) Sub zona Sarana Pelayanan Umum sebagaimana pada pasal 13 ayat (2)
huruf a, terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1
Blok 3, Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas 1,95 (Satu
koma sembilan puluh lima hektar).
(4) Sub zona Pendidikan sebagaimana pada pasal 13 ayat (2) huruf b,
terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 4,
Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 2 Blok 2 dan Sub BWP 3 Blok 2, dengan
luas 5,66 (Lima koma enam puluh enam hektar).
(5) Sub zona Kesehatan sebagaimana pada pasal 13 ayat (2) huruf c,
terdapat di Sub BWP 1 Blok 2 dan Sub BWP 2 Blok 1 dengan luas 0,33
(Nol koma tiga puluh tiga hektar).
(6) Sub zona Olahraga sebagaimana pada pasal 13 ayat (2) huruf d, terdapat
di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 4, dengan luas 2,68 (Dua koma
enam puluh delapan hektar).
(7) Sub zona Peribadatan sebagaimana pada pasal 13 ayat (2) huruf e,
terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 5,
Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas
1,34 (Satu koma tiga puluh empat hektar).
(8) Rincian zona sarana pelayanan umum tercantum pada Lampiran I.10
tabel rincian zona sarana pelayanan umum yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Paragraf 6
Zona Peruntukan Lainnya

Pasal 15

(1) Zona peruntukan lainnya sebagaimana pada pasal 9 ayat (1), terdapat
di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 3, Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP
1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 2 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, Sub
- 19 -

BWP 3 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 3, dengan luas kurang lebih 1.126,68
Ha (Seribu seratus dua puluh enam koma enam puluh delapan hektar).
(2) Zona peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
huruf e, meliputi;
a. sub zona pertanian;
b. sub zona pariwisata;
(3) Sub zona pertanian sebagaimana dimaksud pada pasal 15 ayat (2)
huruf a, meliputi;
a. Sub sub zona sawah;
b. Sub sub zona tambak;
c. Sub sub zona kebun campuran;
(4) Sub zona pariwisata sebagaimana pada pasal 15 ayat (2) huruf b,
terdapat di Sub BWP 1 Blok 4, dengan luas kurang lebih 6,31 Ha (Enam
koma tiga puluh satu hektar).
(5) Sub sub zona sawah sebagaimana pada pasal 15 ayat (1) huruf a,
terdapat di Sub BWP 2 Blok 1, Sub BWP 2 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1,
Sub BWP 3 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 3, dengan luas kurang lebih 137,38
Ha (Seratus tiga puluh tujuh koma tiga puluh delapan hektar).
(6) Sub sub zona tambak sebagaimana pada pasal 15 ayat (1) huruf b,
terdapat di Sub BWP 1 Blok 3, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP 2 Blok 1,
Sub BWP 2 Blok 2, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2 dan Sub BWP
3 Blok 3, dengan luas kurang lebih 775,96 Ha (Tujuh ratus tujuh puluh
lima koma sembilan puluh enam hektar).
(7) Sub sub zona kebun campuran sebagaimana pada pasal 15 ayat (1)
huruf c, terdapat di Sub BWP 1 Blok 3, Sub BWP 1 Blok 4 dan Sub
BWP 1 Blok 5, dengan luas kurang lebih 206,29 Ha (Dua ratus enam
koma dua puluh sembilan hektar).
(8) Rincian zona peruntukan lainnya tercantum pada Lampiran I.11 Tabel
Rincian zona peruntukan lainnya yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Paragraf 7
Zona Peruntukan Khusus

Pasal 16

(1) Zona peruntukan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
huruf f, meliputi sub zona Instalansi Pengolahan Air, terdapat di Sub
BWP 3 Blok 3 dengan luas kurang lebih 0,53 Ha (Nol koma lima puluh
tiga hektar).
(2) Rincian zona peruntukan khusus tercantum pada Lampiran I.12 Tabel
Rincian zona peruntukan khusus yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari peraturan daerah ini.
- 20 -

Paragraf 8
Zona Campuran

Pasal 17

(1) Zona campuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf g,
terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok 2, Sub BWP 1 Blok 3,
Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP 3 Blok 1, Sub BWP 3
Blok 2, dengan luas kurang lebih 51,46 Ha (Lima puluh satu koma
empat puluh enam hektar).
(2) Zona campuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1)
meliputi;
a. sub zona perumahan dan perdagangan & jasa; dan
b. sub zona perumahan dan perkantoran.
(3) Sub zona perumahan dan perdagangan & jasa, sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) huruf a terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, Sub BWP 1 Blok
2, Sub BWP 1 Blok 3, Sub BWP 1 Blok 4, Sub BWP 1 Blok 5, Sub BWP
3 Blok 1, Sub BWP 3 Blok 2, dengan luas kurang lebih 48,23 Ha (Empat
puluh delapan koma dua puluh tiga hektar).
(4) sub zona perumahan dan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) huruf b terdapat di Sub BWP 1 Blok 1, dengan luas kurang
lebih 3,32 Ha (Tiga koma tiga puluh dua hektar).
(5) Rincian zona campuran tercantum pada Lampiran I.13 tabel rincian
zona campuran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
peraturan daerah ini.

Paragraf 9
Zona Industri

Pasal 18

(1) Zona peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
huruf h, meliputi aneka industri terdapat di Sub BWP 3 Blok 1, dengan
luas kurang lebih 51,22 Ha (Lima puluh satu koma dua puluh dua
hektar).
(2) Rincian zona industri tercantum pada Lampiran I.14 tabel rincian zona
industri yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan
daerah ini.

BAB IV
RENCANA JARINGAN PRASARANA
- 21 -

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 19

(1) Rencana jaringan prasarana terdiri atas:


a. Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan;
b. Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan;
c. Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi;
d. Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum;
e. Rencana Pengembangan Jaringan Drainase;
f. Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah;
g. Rencana Sistem Persampahan;dan
h. Rencana Pengembangan pasarana lainnya;

Bagian Kedua
Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan

Pasal 20

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 19 pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Peningkatan ruas jalan kolektor ;
b. Integrasi pengembangan jalan lingkar luar berupa peningkatan fungsi
jalan;
c. Pembangunan Ruas Jalan Kolektor Sekunder;
d. Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jalan Lokal;dan
e. Pembangunan dan Peningkatan Jalan Lingkungan;

Pasal 21

(1) Rencana Peningkatan ruas jalan kolektor sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 20 ayat (1) huruf a, diarahkan pada Sub BWP 1 & Sub BWP 3
kawasan perkotaan Bungoro.
(2) Integrasi pengembangan jalan lingkar luar berupa peningkatan fungsi
jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b,
diarahkan pada Sub BWP 3 kawasan perkotaan Bungoro.
(3) Pembangunan Ruas Jalan Kolektor Sekunder sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 ayat (1) huruf c, diarahkan pada Sub BWP 1 dan sub
BWP 3 kawasan perkotaan Bungoro.
(4) Rencana pembangunan dan peningkatan ruas jalan lokal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf d, diarahkan pada seluruh
BWP kawasan perkotaan Bungoro.
- 22 -

(5) Rencana pembangunan dan peningkatan jalan lingkungan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf e, diarahkan pada seluruh BWP
kawasan perkotaan Bungoro.

Bagian Ketiga
Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan

Pasal 22

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 19 huruf b, terdiri atas;
a. Peningkatan Pelayanan Jaringan Listrik BWP Bungoro;dan
b. Pengembangan Jaringan Distribusi Listrik;
(2) Rencana peningkatan pelayanan jaringan listrik BWP Bungoro
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a, diarahkan
keseluruh BWP kawasan perkotaan Bungoro.

(3) Rencana Pengembangan Jaringan Distribusi Listrik sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b, terdiri dari:

a. Jaringan SUTR yang terdapat pada Sub BWP 1 dan Sub BWP 3.
b. Jaringan distribusi mencakup keseluruh BWP kawasan perkotaan
Bungoro

Bagian Keempat
Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi

Pasal 23

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 19 huruf c meliputi :
a. Pengaturan lokasi BTS;
b. Perluasan cakupan dan kualitas layanan telekomunikasi; dan

(2) Rencana Pengaturan lokasi BTS, sebagaimana dimaksud dalam pasal


23 ayat (1) huruf a, berada pada Sub BWP 1 dan Sub BWP 3 kawasan
perkotaan Bungoro.
(3) Rencana Perluasan cakupan dan kualitas layanan telekomunikasi,
sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (1) huruf b, meliputi
seluruh BWP kawasan perkotaan Bungoro.

Bagian Kelima
Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum
- 23 -

Pasal 24

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 19 huruf d meliputi:
a. Pembangunan IPA (Instalasi Pengolahan Air);
b. Pengembangan jaringan penyediaan air minum;dan
c. Peningkatan kapasitas pelayanan air minum;
(2) Rencana pembangunan IPA (Instalasi Pengolahan Air) sebagaimana
dimaksud pada pasal 24 ayat (1) huruf a, adalah Rencana pembangunan
IPA di Sub BWP 3 Blok 3 Desa Bowong Cindea dengan luas 0,53 Ha.
(3) Rencana pengembangan jaringan penyediaan air minum, sebagaimana
dimaksud pada pasal 24 ayat (1) huruf b, direncanakan pada semua
BWP kawasan perkotaan Bungoro.
(4) Rencana peningkatan kapasitas pelayanan air minum, sebagaimana
dimaksud pada pasal 24 ayat (1) huruf c, direncanakan pada semua
BWP kawasan perkotaan Bungoro.

Bagian Keenam
Rencana Pengembangan Jaringan Drainase

Pasal 25

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Drainase sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 19 huruf e meliputi:
a. Rehabilitasi dan pembangunan drainase sebagai saluran pengendali
banjir;
b. Studi penyusunan DED drainase BWP;dan
c. Pembangunan sistem drainase kawasan Sekunder dan tersier;
(2) Rencana Rehabilitasi dan pembangunan drainase sebagai saluran
pengendali banjir sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 25 ayat (1)
huruf a, terdapat di seluruh BWP kawasan perkotaan Bungoro.
(3) Rencana Studi penyusunan DED drainase BWP sebagaimana yang
dimaksud dalam pasal 25 ayat (1) huruf b, terdapat di seluruh BWP
kawasan perkotaan Bungoro.
(4) Rencana Pembangunan sistem drainase sekunder dan tersier
sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 25 ayat (1) huruf c, terdapat
di seluruh BWP kawasan perkotaan Bungoro.

Bagian Ketujuh
Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah

Pasal 26
- 24 -

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 19 huruf f meliputi rencana sistem saluran air limbah
yang terdiri atas;
a. Studi penyusunan perencanaan air limbah (Master Plan) Kawasan;
b. Rencana pembangunan pengelolaan limbah terpusat;dan
c. Rencana pembangunan pengelolaan limbah setempat;
(2) Rencana Studi penyusunan perencanaan air limbah (Master Plan)
Kawasan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 26 ayat (1) huruf a,
terdapat di seluruh BWP kawasan perkotaan Bungoro.
(3) Rencana pembangunan pengelolaan limbah terpusat, sebagaimana
yang dimaksud dalam pasal 26 ayat (1) huruf b, terdapat di seluruh
BWP kawasan perkotaan Bungoro.
(4) Rencana pembangunan pengelolaan limbah setempat, sebagaimana
yang dimaksud dalam pasal 26 ayat (1) huruf c, terdapat di seluruh
BWP kawasan perkotaan Bungoro.

Bagian Kedelapan
Rencana Pengembangan Sistem Persampahan

Pasal 27

(1) Rencana Pengembangan Sistem Persampahan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 19 huruf g, meliputi Pengembangan Sistem Persampahan
yang terdiri atas;
a. Studi Penyusunan Perencanaan Persampahan (Master Plan);
b. Pembangunan TPS Lingkungan dan TPS Terpadu;
c. Pemeliharaan rutin TPS Lingkungan dan TPS Terpadu;dan
d. Pengadaan Container sampah;
(2) Rencana pengembangan sistem pengelolaan persampahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf a, diarahkan di seluruh BWP
kawasan perkotaan Bungoro.
(3) Rencana pengembangan sistem pengelolaan persampahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf b, diarahkan di seluruh BWP
kawasan perkotaan Bungoro.
(4) Rencana pengembangan sistem pengelolaan persampahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf c, diarahkan di seluruh BWP
kawasan perkotaan Bungoro.
(5) Rencana pengembangan sistem pengelolaan persampahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf d, diarahkan di seluruh BWP
kawasan perkotaan Bungoro.

Bagian Kesembilan
- 25 -

Rencana Pengembangan Prasarana Lainnya

Pasal 28

(1) Rencana Pengembangan Prasarana Lainnya sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 19 huruf h, meliputi Pengembangan Prasarana Lainnya
yang terdiri atas;
a. Rencana pengembangan jalur evakuasi bencana;
b. Penetapan lokasi evakuasi bencana;dan
c. Program pelatihan/sosialisasi masyarakat terhadap mitigasi
bencana;
(2) Rencana pengembangan jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 ayat (1) huruf a, diarahkan di seluruh BWP kawasan
perkotaan Bungoro.
(3) Penetapan lokasi evakuasi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 ayat (1) huruf b, diarahkan di seluruh Sub BWP 1 dan Sub BWP 2
kawasan perkotaan Bungoro.
(4) Program pelatihan/sosialisasi masyarakat terhadap mitigasi bencana
bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) huruf c,
diarahkan di seluruh BWP kawasan perkotaan Bungoro.

BAB V
PENETAPAN SUB BWP YANG DIPRIORITASKAN PENANGANANNYA

Pasal 29

Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya terdiri atas :


(1) Sub BWP 1 dan Sub BWP 3 di Kelurahan Samalewa, Kelurahan
Boriappaka, dan sebagian wilayah Desa Bulu Cindea, serta sebagian
wilayah Desa Bowong Cindea. Total luas Sub BWP Prioritas Penanganan
ini yaitu 1.111,97 Ha, yang terdiri dari 623,21 Ha pada Sub BWP 1 dan
488,76 Ha pada Sub BWP 3.
(2) Lampiran II.3 merupakan Peta Sub BWP Prioritas Kawasan Perkotaan
Bungoro yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan
daerah ini.

Pasal 30

(1) Penanganan sub BWP 1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1),
berupa Kawasan pemerintahan dan pelayanan umum di Sub-BWP 1
dengan Tema dalam penanganan kawasan pemerintahan dan pelayanan
umum ini ialah penataan kembali sarana pemerintahan dan pelayanan
umum dengan melakukan perbaikan dan pembangunan sarana dan
prasarana baru yang mendukung kegiatan terkait pemerintahan dan
pelayanan umum dan Kawasan utama perdagangan dan jasa yang
- 26 -

terdapat di Sub-BWP 1 yang merupakan zona perdagangan dan jasa


sebagai fungsi utama dengan keberadaan pasar skala pelayanan
lokal/regional serta beberapa blok pertokoan. Tema penanganan Sub-
BWP 1 sektor perdagangan dan jasa ialah penataan sirkulasi dalam
kawasan pasar, pengembangan melalui peremajaan kawasan,
rehabilitasi dan pengembangan jalan yang dapat diakses dari segala
penjuru arah untuk meningkatkan pelayanan fasilitas perdagangan yang
tersedia

Pasal 31

(1) Penanganan sub BWP 3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1),
berupa Zona industry yang berpotensi dikembangkan di Sub BWP 3 ini
merupakan salah satu program pengembangan kawasan berdasarkan
potensi kawasan serta arahan kebijakan RTRW Kabupaten Pangkep.
Jenis industri yang akan dikembangkan adalah aneka industri yaitu
pembangunan dan pengembangan fasilitas industri pertanian/perikanan
(Minapolitan) untuk kepentingan peningkatan produktifitas pertanian
tanaman pangan di Kabupaten Pangkep pada umumnya, dan kawasan
perencanaan pada khususnya dan Kawasan perlindungan setempat
berfungsi untuk pemanfaatan tanah yang dapat menjaga kelestarian
jumlah, kualitas dan penyebaran tata air dan kelancaran pengaturan air
serta pemanfaatannya. Salah satu kawasan perlindungan setempat di
Perkotaan Bungoro adalah kawasan sempadan pantai. Salah satu ciri
tapak ruang di Sub BWP 3 dengan karakteristik kawasan pesisir pantai.
Kawasan pesisir menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan
kawasan sub BWP 3 dalam pelestarian lingkungan sekaligus sebagai
upaya untuk mengurangi potensi terjadinya bencana banjir dan abrasi.

Pasal 32

(1) Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya merupakan dasar


penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang
akan ditetapkan dengan Peraturan Bupati yang dikeluarkan paling lama
24 (dua puluh empat) bulan sejak ditetapkannya Peraturan Daerah
tentang Rencana Detail Tata Ruang ini.

BAB VI
KETENTUAN PEMANFAATAN RUANG

Pasal 33

(1) Ketentuan pemanfaatan ruang dalam RDTR dan Peraturan Zonasi


Kawasan Perkotaan Bungoro, merupakan upaya mewujudkan RDTR
Kawasan perencanaan dalam bentuk program pengembangan BWP
- 27 -

dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun


masa perencanaan.
(2) Ketentuan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. Rencana pola ruang dan rencana jaringan prasarana;
b. Ketersediaan sumberdaya dan sumber pembiayaan pembangunan;
c. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang
ditetapkan;
d. Masukan dan kesepakatan dengan para investor; dan
e. Prioritas pengembangan BWP Bungoro dan pentahapan rencana
pelaksanaan program sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Pangkep dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Pangkep.

Pasal 34

Rencana pola ruang dan rencana jaringan prasarana sebagaimana


dimaksud pada Pasal 33 ayat (2) huruf a meliputi:
a. Program perwujudan rencana pola ruang di BWP Bungoro;dan
b. Program perwujudan rencana jaringan prasarana di BWP Bungoro;

Pasal 35

(1) Perwujudan rencana pola pada tiap Sub BWP sebagaimana dimaksud
pada Pasal 32 huruf a, meliputi:
a. Perwujudan zona lindung pada BWP Bungoro, termasuk didalam
pemenuhan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH); dan
b. Perwujudan zona budidaya pada BWP Bungoro, yang terdiri;
Perwujudan penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum di BWP
Bungoro, Perwujudan ketentuan pemanfaatan ruang untuk setiap
jenis pola ruang, Perwujudan intensitas pemanfaatan ruang blok;
dan/atau, Perwujudan tata bangunan.

(2) Perwujudan perwujudan rencana jaringan prasarana di BWP Bungoro


sebagaimana dimaksud pada Pasal 34 huruf b, meliputi:
a. Perwujudan pusat pelayanan kegiatan di BWP Bungoro;
b. Perwujudan sistem jaringan prasarana untuk BWP Bungoro, yang
mencakup pula sistem prasarana nasional dan wilayah/regional di
dalam Bagian Wilayah Perkotaan yang terdiri atas; Perwujudan
sistem jaringan pergerakan, Perwujudan sistem jaringan
energi/kelistrikan, Perwujudan sistem jaringan telekomunikasi,
Perwujudan sistem jaringan air minum, Perwujudan sistem jaringan
- 28 -

drainase, Perwujudan sistem jaringan air limbah, Perwujudan sistem


jaringan prasarana lainnya.

Pasal 36

Indikasi program sebagaimana dimaksud pada Pasal 33 ayat (2) huruf e,


berupa Prioritas pengembangan BWP Bungoro dan pentahapan rencana
pelaksanaan program sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Pangkep dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pangkep dapat dilihat pada
Lampiran I.16 Tabel matriks susunan tipologi program prioritas RDTR Kota
Bungoro tahun 2017 - 2036.

BAB VII
PERATURAN ZONASI

Pasal 37

Peraturan zonasi berfungsi sebagai:


a. perangkat operasional pengendalian pemanfaatan ruang;
b. acuan dalam pemberian izin pemanfaatan ruang termasuk di dalamnya
air right development dan pemanfaatan ruang di bawah tanah;
c. acuan dalam pemberian insentif dan disinsentif;
d. acuan dalam pengenaan sanksi; dan
e. rujukan teknis dalam pengembangan atau pemanfaatan lahan dan
penetapan lokasi investasi.

Pasal 38

Peraturan zonasi terdiri atas:


a. materi wajib; dan
b. materi pilihan.

Pasal 39

(1) Materi wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf a, meliputi:


a. ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan;
b. ketentan intensitas pemanfaatan ruang;
c. ketentuan tata bangunan;
d. ketentuan prasarana dan sarana minimal; dan
e. ketentuan pelaksanaan.
(2) Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a, adalah ketentuan yang berisi kegiatan dan penggunaan
lahan yang diperbolehkan, kegiatan dan penggunaan lahan yang
- 29 -

bersyarat secara terbatas, kegiatan dan penggunaan lahan yang


bersyarat tertentu, dan kegiatan dan penggunaan lahan yang tidak
diperbolehkan pada suatu zona.
(3) Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b, adalah ketentuan mengenai besaran pembangunan
yang diperbolehkan pada suatu zona yang meliputi:
a. KDB maksimum ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat
pengisian atau peresapan air, kapasitas drainase, dan jenis
penggunaan lahan;
b. KLB maksimum ditetapkan dengan mempertimbangkan harga
lahan, ketersediaan dan tingkat pelayanan prasarana (jalan),
dampak atau kebutuhan terhadap prasarana tambahan, serta
ekonomi dan pembiayaan;
c. Ketinggian Bangunan Maksimum; dan
d. KDH minimal digunakan untuk mewujudkan RTH dan
diberlakukan secara umum pada suatu zona. KDH minimal
ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat pengisian atau
peresapan air dan kapasitas drainase.
(4) Ketentuan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
adalah ketentuan yang mengatur bentuk, besaran, peletakan, dan
tampilan bangunan pada suatu zona.
(5) Ketentuan prasarana dan sarana minimal dimaksud pada ayat (1) huruf
d, berfungsi sebagai kelengkapan dasar fisik lingkungan dalam rangka
menciptakan lingkungan yang nyaman melalui penyediaan prasarana
dan sarana yang sesuai agar zona berfungsi secara optimal.
(6) Ketentuan pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e,
meliputi;
a. ketentuan pemanfaatan ruang yang merupakan ketentuan
yang memberikan kelonggaran untuk menyesuaikan dengan
kondisi tertentu dengan tetap mengikuti ketentuan massa ruang
yang ditetapkan dalam peraturan zonasi;
b. ketentuan pemberian insentif dan disinsentif yang merupakan
ketentuan yang memberikan insentif bagi kegiatan pemanfaatan
ruang yang sejalan dengan rencana tata ruang dan memberikan
dampak positif bagi masyarakat, serta yang memberikan disinsentif
bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak sejalan dengan
rencana tata ruang dan memberikan dampak negatif bagi
masyarakat; dan
c. ketentuan untuk penggunaan lahan yang sudah ada dan tidak
sesuai dengan peraturan zonasi.

Pasal 40
- 30 -

(1) Materi pilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b meliputi:


a. ketentuan tambahan; dan
b. ketentuan khusus;
(2) Ketentuan Tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
adalah ketentuan lain yang dapat ditambahkan pada suatu zona untuk
melengkapi aturan dasar yang sudah ditetapkan.
(3) Ketentuan tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
berfungsi memberikan aturan pada kondisi yang spesifik pada zona
tertentu dan belum diatur dalam ketentuan dasar.
(4) Ketentuan Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, adalah
fungsi khusus dan diberlakukan ketentuan khusus sesuai dengan
karakteristik zona dan kegiatannya.

Pasal 41

Ketentuan peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 38


merupakan dasar dalam pemberian insentif dan disinsentif, pemberian izin
dan pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

BAB VII
KETENTUAN PENYIDIKAN

Pasal 42

(1) Selain pejabat penyidik kepolisian negara Republik Indonesia, pegawai


negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara
yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang penataan ruang
diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk membantu pejabat
penyidik kepolisian negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
(2) Pengaturan dan lingkup tugas pegawai negeri sipil tertentu yang diberi
wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

BAB VIII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 43
- 31 -

Setiap orang yang melanggar ketentuan peraturan zonasi sebagaimana


dimaksud dalam pasal 41, dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undanganngan.

BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 44

Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua peraturan


pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang Kawasan Perkotaan
Bungoro yang telah ada dinyatakan tetap berlaku, sepanjang tidak
bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini.

Pasal 45

Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini, maka :


(1) Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan masa
berlakunya;
(2) Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai
dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan:
a. Untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut
disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah
ini;
b. Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, pemanfaatan
ruang dilakukan sampai izin terkait habis masa berlakunya dan
dilakukan penyesuaian dengan menerapkan rekayasa teknis sesuai
dengan fungsi kawasan dalam Peraturan Daerah ini; dan
c. Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak
memungkinkan untuk menerapkan rekaya teknis sesuai dengan
fungsi kawasan dalam Peraturan Daerah ini, atas izin yang telah
diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul
sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat diberikan penggantian
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
(3) Pemanfaatan ruang yang izinnya sudah habis dan tidak sesuai dengan
Peraturan Daerah ini dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan
berdasarkan Peraturan Daerah ini;
(4) Pemanfaatan ruang di Kawasan Perkotaan Bungoro yang
diselenggarakan tanpa izin ditentukan sebagai berikut:
a. yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini,
pemanfaatan ruang yang bersangkutan ditertibkan dan disesuaikan
dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini;
b. yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat
untuk mendapatkan izin yang diperlukan.
- 32 -

(5) Masyarakat yang menguasai tanahnya berdasarkan hak adat dan/atau


hak-hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, yang karena Peraturan Daerah ini pemanfaatannya tidak
sesuai lagi, maka penyelesaiannya diatur sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 46

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah
tentang Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Bungoro dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 47

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap
orang dapat mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah
ini, dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Pangkajene Dan Kepulauan.

Ditetapkan di Pangkajene
pada tanggal, .... ,……., 2017

BUPATI PANGKAJENE DAN


KEPULAUAN,

…………………………….

Diundangkan di Pangkajene
pada tanggal .......,…………..,2017

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN,

……………………………………………………
- 33 -

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN


TAHUN 2017 NOMOR ………..