Anda di halaman 1dari 91

LAPORAN PROYEK AKHIR

PENENTUAN RATING LIGHTNING ARRESTER DAN


ANALISIS SISTEM PENTANAHAN PADA PENYULANG PDN
4 ZONE 2
PT. PLN (PERSERO) RAYON PEDAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Ahli Madya

Disusun oleh :
AGUNG PRASETYO WIJAYA
15/386436/SV/09822

PROGRAM STUDI DIPLOMA TEKNOLOGI LISTRIK


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

ii
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa penelitian Proyek Akhir ini tidak dapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar Ahli Madya di suatu
Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang sudah
tertulis dan diacu dalam naskah dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 1 Juli 2018

Agung Prasetyo Wijaya

iii
ABSTRACT

In the rainy season, lightning strike disturbance is one of the factors that can
interfere the electric distribution system continuity. PT. PLN (Persero) Rayon
Pedan marked that disturbance caused by lightning strike occurred three times, in
the feeder PDN 4 zone 2, it appeared on the recloser on the pole number K1-
95/57A. A short suspension isolator was found on the pole number K1-95/88 in the
rainy season in February. Besides, based on the land value measurement showed
result that the land value measurement is not good, it is more than 5 Ω, which are
on the pole number K1-95/60, K1-95/62, K1-95/71, K1-95/74, and K1-95/89. The
aim of this project is to minimize the disturbance of lightning strike current with
selecting rating the lightning arrester in the 20 kV system to protect the recloser on
the pole number K1-95/57A and to analyze the land system in the feeder PDN 4
zone 2. The choosing of rating lightning arrester should be considered in order to
fit with the condition of the system. The result showed that the measurement and
analysis of choosing lightning arrester 21 kV are suitable with the condition of the
system in the feeder PDN 4 zone 2. Parallel grounding system of the rod electrode
used in the 5 spots of the land measurement thus getting the land value measurement
less than 5 Ω. The use of the plate electrode parallel system in the field is better
since the plate electrode only needs 4 electrodes to be paralleled to get the result
less than 5 Ω.

Keywords: distribution system, land measurement, lightning arrester, lightning


strike, recloser

iv
INTISARI

Pada musim penghujan, gangguan sambaran petir merupakan salah satu faktor
penyebab gangguan pada jaringan distribusi tenaga listrik. PT. PLN (Persero)
Rayon Pedan mencatat sambaran petir sudah 3 kali terjadi, pada penyulang PDN 4
zone 2 dengan bekerjanya recloser di tiang K1-95/57A. Pada musim hujan di bulan
februari ditemukan isolator suspension short di tiang K1-95/88. Selain itu
berdasarkan pengukuran nilai pentanahan didapatkan nilai pentanahan yang kurang
baik yaitu diatas 5 Ω, yaitu pada tiang K1-95/60, K1-95/62, K1-95/71, K1-95/74
dan K1-95/89. Proyek akhir ini bertujuan untuk meminimalisir arus gangguan
sambaran petir dengan cara pemilihan rating lightning arrester pada jaringan 20
kV dalam memproteksi recloser ditiang K1-95/57A dan menganalisis sistem
pentanahan pada penyulang PDN 4 zone 2. Pemilihan rating lightning arrester
harus diperhatikan agar sesuai dengan kondisi jaringan tersebut. Hasil yang
diperoleh dari perhitungan dan analisis yang dilakukan adalah pemilihan lightning
arrester 21 kV sesuai dengan kondisi jaringan pada penyulang PDN 4 zone 2.
Sistem paralel grounding elektroda batang yang digunakan pada 5 titik pentanahan
mendapatkan hasil dibawah 5 Ω. Penggunaan sistem paralel elektroda plat pada
tanah ladang lebih baik, karena elektroda plat hanya membutuhkan 4 buah elektroda
yang diparalelkan untuk mendapatkan hasil dibawah 5 Ω.

Kata Kunci : Jaringan Distribusi, Lightning Arrester, Pentanahan, Recloser,


Sambaran Petir

v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila
kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”
(QS. Al-Insyirah:6-7)

“Terus berusaha, terus berdoa, tetap percaya, tetap bersyukur, selalu


berprasangka baik Kepada Allah.
and it paid off.”

Ku persembahkan karya hebat ini untuk :


Ayah dan Ibu saya, Bapak Sulaiman dan Ibu Partinem tersayang,
yang telah memberikan semua dukungan serta doa yang tiada putus.
Dosen pembimbing proyek akhir saya, Bapak Jimmy Trio Putra yang
selalu memberikan nasehat, koreksi, dan ilmunya.
Pembimbing lapangan saya, Bang Asep Nur Hassan, Sandi Sulaiman,
Moh Joni yang banyak memberikan ilmu dan pengalaman serta
nasehat pada saat magang dan laporan ini.
Wanita yang mendampingi saya, Annisa Sakti Hasiru yang telah
banyak membantu menyelesaikan laporan ini dan memberikan
dukungan selama ini.
Sahabat sekontrakan saya, Ario Bima Tri Wicaksono, Risqi Bayu Nur
Aji, dan Titan Gilang Gumilang yang telah membantu menyelesaikan
laporan ini dan memberikan bantuan.
Dan untuk orang-orang yang terlibat dalam pembuatan sampai
penyelesaian laporan ini, saya ucapkan terimakasih atas semua
bantuan.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan mempermudah serta
memberikan rezeki untuk urusan kalian, semoga sukses. Aamiin

vi
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian Proyek Akhir (PA).
Penelitian Proyek Akhir ini berjudul “ Penentuan Rating Lightning Arrester dan
Analisis Sistem Pentanahan pada Penyulang PDN 4 Zone 2 PT. PLN (Persero)
Rayon Pedan“.

Penulisan penelitian proyek akhir ini , merupakan hasil analisa di lapangan pada
saat terjadi gangguan akibat sambaran petir pada Penyulang PDN-4 zone 2 section
1, khususnya akan membahas tentang Pemilihan rating lightning arrester dan
perbaikan sistem pentanahan. Hal-hal tersebut akan di jelaskan dalam penelitian ini.

Terselesaikannya penelitian ini adalah suatu anugerah yang merupakan


pertolongan dari Allah SWT. Dan laporan ini terselesai berkat bantuan dari
berbagai pihak yang telah memberikan informasi, bantuan, serta pembelajaran yang
berguna bagi penulis. Untuk itu pada kesempatan ini, dengan rasa hormat dan
kerendahan hati, penulis menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih kepada
yang terhomat :

1. Bapak Ma’un Budiyanto, S.T, M.T selaku Ketua Program Studi Diploma
Teknologi Listrik, Departemen Teknik Elektro dan Informatika, Sekolah
Vokasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
2. Bapak Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng. selaku dosen pembimbing proyek
akhir yang telah memberikan bimbingan dan masukan yang sangat
membangun.
3. Bapak Sulaiman dan Ibu Partinem selaku orang tua saya yang selalu
memberikan Do’a, dukungan, serta segala bentuk yang mendukung
kelancaran dalam kehidupan saya.
4. Bapak Wardiman selaku Asisten Manager Jaringan PT PLN (Persero) Area
Klaten.
5. Ibu Kustati selaku Asisten Manager SDM PT PLN (Persero) Area Klaten.
6. Ibu Muchtarommah` selaku Manager PT PLN (Persero) Rayon Pedan.
7. Bapak Muh Asep Nurhasan selaku Supervisor Teknik PT PLN (Persero)
Rayon Pedan.

vii
8. Bapak Farouq Yudistira selaku Supervisor Transaksi Energi PT PLN
(Persero) Rayon Pedan.
9. Ibu Mega Senjawati selaku Supervisor TT dan Administrasi PT PLN
(Persero) Rayon Pedan.
10. Bapak Sandi Sulaiman selaku Staff Teknik PT PLN (Persero) Rayon Pedan
dan pembimbing di lapangan.
11. Bapak Muhammad Joni selaku staff Teknik PT PLN (Persero) Rayon Pedan
dan pembimbing di lapangan.
12. Bapak Legiyo selaku Koordinator Haleyora Power di PT PLN (Persero)
Rayon Pedan.
13. Kepada Bagas Septian Pamungkas yang telah membuat laporan kerja
praktek bersama.
14. Kepada Bagas dan Erik yang telah bersama melaksanakan Magang di PT
PLN (Persero) Area Klaten Rayon Pedan.
15. Kepada Annisa Sakti Hasiru yang telah memberikan dukungan dan doa.
16. Teman-teman Mahasiswa Diploma Teknik Elektro Angkatan 2015 Sekolah
Vokasi UGM yang memberikan dukungan.
17. Semua dosen dan karyawan Program Studi Teknik Elektro, Sekolah Vokasi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta..
18. Semua staff dan Karyawan PT PLN (Persero) Area Klaten Rayon Pedan.
19. Semua pihak yang telah memberikan dukungan selama pelaksanaan
Magang dan penulisan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih kurang baik dari
kata sempurna. Untuk itu saran dan kritik dari berbagai pihak sangat kami
harapkan untuk membantu kesempurnaan laporan Proyek Akhir ini.
Mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bagi semua orang dan
khususnya bagi penulis sendiri, Amin.

Yogyakarta, 1 Juli 2018

Penulis

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................ i


LEMBAR PENGESAHAN PRODI ....................................................................... ii
PERNYATAAN..................................................................................................... iii
ABSTRACT ........................................................................................................... iv
INTISARI.................................................................................................................v
MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................... vi
PRAKATA ............................................................................................................ vii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

1.1 Latar Belakang.........................................................................................1


1.2 Tujuan Proyek Akhir ...............................................................................2
1.3 Perumusan Masalah .................................................................................2
1.4 Batasan Masalah ......................................................................................2
1.5 Metode Pengumpulan Data .....................................................................3
1.6 Sistematika Penulisan ..............................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 5

2.1 Tinjauan Pustaka ........................................................................................... 5


2.2 Dasar Teori ..............................................................................................6
2.2.1 Sistem Distribusi Tegangan Menengah ......................................... 6
2.2.2 Recloser ........................................................................................11
2.2.3 Proses Terjadi Petir .......................................................................11
2.2.4 Peta Sambaran Petir ......................................................................13
2.2.5 Lightning Arrester ........................................................................14
2.2.6 Jenis-jenis Lightning Arrester ......................................................15
2.2.7 Pemilihan Lightning Arrester .......................................................20

ix
2.2.8 Cara Kerja Lightning Arrester ......................................................23
2.2.9 Pemasangan Lightning Arrester ...................................................24
2.2.10 Sistem Pentanahan Jaringan Distribusi 20 kV ............................26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................................... 36


3.1 Diagram Alir Penelitian .........................................................................36
3.2 Metode Penelitian ..................................................................................36
3.3 Data Teknis ............................................................................................37
3.4 Alat dan Bahan ..................................................................................... 37
3.5 Data gangguan dan Data Setting Recloser............................................ 37
3.6 Lightning Arrester Polimer Katub 21 kV ............................................. 39
3.7 Letak dan Konstruksi Lightning Arrester 21 kV .................................. 43
3.8 Cara Pemasangan Lightning Arrester ................................................... 44
3.9 Faktor yang Mempengaruhi Sistem Pentanahan .................................. 45
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN .........................................................50
4.1 Analisis Lightning Arrester ................................................................. 50
1. Tegangan Operasi Kontinu dan Tegangan Pengenal Arrester 21 kV .. 50
2. Tegangan Residual atau Pelepasan Arrester 21 kV.............................. 51
3. Penentuan Impedansi Kawat Surja ....................................................... 51
4. Penentuan Arus Pelepasan Nominal ..................................................... 52
5. Arus Pelepasan Maksimum .................................................................. 52
6. Penentuan Faktor Perlindungan ............................................................ 53
7. Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester 21 kV.............. 53
4.2 Perbaikan Sistem Pentanahan pada Daerah Zone 2 Section 1 .............. 54
1. Pengaruh Tahanan Jenis Tanah ........................................................... 54
2. Elektroda Pentanahan .......................................................................... 56
3. Penentuan Besar Penampang Konduktor Pentanahan ......................... 67
4. Estimasi Biaya Penambahan Sistem Paralel Grounding ..................... 68
4.3 Cara Kerja Recloser K1-95/57A........................................................... 69
1. Relay OCR........................................................................................... 69
2. Relay GFR ........................................................................................... 69
BAB V PENUTUP ................................................................................................ 71
5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 71

x
5.2 Saran............................................................................................................... 73

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 74


LAMPIRAN .................................................................................................................... 75

xi
DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 2.1 Pola Jaringan Distribusi ...................................................................7


GAMBAR 2.2 Konfigurasi Tulang Ikan (Fishbone) ...............................................7
GAMBAR 2.3 Konfigurasi Kluster (Leap Frog).....................................................8
GAMBAR 2.4 Konfigurasi Spindel (Spindel Configuration) .................................9
GAMBAR 2.5 Konfigurasi Fork .............................................................................9
GAMBAR 2.6 Konfigurasi Spotload (Paralel Spot Configuration) .....................10
GAMBAR 2.7 Konfigurasi Jala-jala ......................................................................10
GAMBAR 2.8 Recloser ditiang K1-95/57A ..........................................................11
GAMBAR 2.9 Proses Terjadinya Petir ..................................................................12
GAMBAR 2.10 Peta Sambaran Petir Bulan Februari 2018 ...................................14
GAMBAR 2.11 Arrester Type Protector Cube (Ekspulasi) ..................................16
GAMBAR 2.12 Arrester sebagai Alat Pengaman Jenis Thyrite ............................17
GAMBAR 2.13 Karakteristik Pengaman Arrester Jenis Katup.............................18
GAMBAR 2.14 Lightning Arrester Jenis Katup (Valve) .......................................18
GAMBAR 2.15 Lightning Arrester Katup (Valve) jenis Saluran ..........................19
GAMBAR 2.16 Letak Penempatan Arrester Pada Recloser .................................25
GAMBAR 2.17 Penempatan Disconnector pada Arrester ....................................26
GAMBAR 2.18 Pentanahan Arrester pada Jaringan Distribusi ...........................26
GAMBAR 2.19 Elektroda Batang dan Lapisan Tanah ..........................................31
GAMBAR 2.20 Jenis-jenis Elektroda Pita ............................................................32
GAMBAR 2.21 Elektroda Plat Secara Vertikal .....................................................32
GAMBAR 3.1 Diagram Alir Penelitian .................................................................36
GAMBAR 3.2 Recloser Merk Cooper di tiang K1-95/57A ..................................39
GAMBAR 3.3 Lightning Arrester Polimer 21 kV .................................................39
GAMBAR 3.4 Bagian-bagian dalam Arrester ......................................................40
GAMBAR 3.5 Pengujian Tahanan Isolasi Arrester ...............................................43
GAMBAR 3.6 Pemasangan LA pada Jaringan Distribusi 20 kV ...........................44

xii
GAMBAR 3.7 Sambungan Kawat Penghubung Pentanahan ................................44
GAMBAR 3.8 Letak Penempatan Arrester pada Recloser....................................45
GAMBAR 3.9 Konstruksi Pentanahan Lightning Arrester ...................................46
GAMBAR 3.10 Earth Clamp Tester .....................................................................47
GAMBAR 3.11 Resistor for Operation .................................................................47
GAMBAR 4.1 Pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester 21 kV ................54
GAMBAR 4.2 Elektroda Batang ...........................................................................56

xiii
DAFTAR TABEL

TABEL 2.1 Tahanan Jenis Tanah ..........................................................................27


TABEL 2.2 Resistansi Pentanahan pada resistansi jenis ρ = 100 Ω.meter ............27
TABEL 2.3 Efek Temperatur Terhadap Resistivitas Tanah ..................................29
TABEL 2.4 Resistivitas Berbagai Jenis Tanah ......................................................29
TABEL 2.4 Lanjutan Resistivitas Berbagai Jenis Tanah .......................................30
TABEL 2.5 KHA Terus-Menerus dari Penghantar BC .........................................33
TABEL 2.5 Lanjutan KHA Terus-Menerus dari Penghantar BC ..........................34
TABEL 2.6 KHA Terus-Menerus dari Penghantar AAAC ...................................34
TABEL 2.7 KHA Terus-Menerus Penghantar Berisolasi XLPE ...........................35
TABEL 3.1 Data Gangguan Recloser K1-95/57A akibat Sambaran Petir ............38
TABEL 3.2 Data Setting Recloser K1-95/57A ......................................................38
TABEL 3.3 Nameplate arrester 21 kV ..................................................................40
TABEL 3.4 Spesifikasi Arrester Jaringan Distribusi 20 kV ..................................41
TABEL 3.4 Lanjutan Spesifikasi Arrester Jaringan Distribusi 20 kV...................42
TABEL 3.5 Spesifikasi Elektroda ..........................................................................46
TABEL 3.6 Hasil Pengukuran Pentanahan LA dengan clamp earth tester ..........48
TABEL 3.7 Hasil Pengukuran Pentanahan LA dengan earth tester meter ............49
TABEL 4.1 Pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester 21 kV .....................54
TABEL 4.2 Grafik Nilai Perhitungan Paralel Grounding ......................................58
TABEL 4.3 Hasil Perhitungan Nilai Pentanahan Elektroda Paralel ......................60
TABEL 4.4 Grafik Nilai elektroda Pentanahan Secara Paralel .............................67
TABEL 4.5 Estimasi Biaya Penambahan Grounding ............................................68

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

PT. PLN (Persero) Rayon Pedan merupakan salah satu unit pelayanan
jaringan yang berada dibawah PT PLN (Persero) Area Klaten, PT PLN
(Persero) Rayon Pedan berusaha untuk terus meningkatkan dan menjaga
kualitas maupun keandalan dalam proses penyaluran tenaga listrik untuk
pelanggan. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh PT PLN (Persero) Rayon
Pedan untuk meningkatkan keandalan adalah dengan dilakukan pemeliharaan
pada jaringan distribusi.

Petir merupakan salah satu menyebab terjadinya gangguan pada jaringan


distribusi karena sambaran petir ke jaringan distribusi. Sambaran petir dapat
menimbulkan tegangan lebih yang dapat mengakibatkan penurunan tingkat
isolasi dasar peralatan atau merusakan peralatan. Pada data gangguan PT. PLN
(Persero) Rayon Pedan mencatat bahwa gangguan akibat sambaran petir sudah
3 kali terjadi pada daerah zone 2. Recloser 57A trip karena adanya gangguan
di zone 2 dan ditemukan isolator suspension short di tiang K1-95/88.
Penggunaan lightning arrester dengan tegangan rating 18 kV dan hasil
pengukuran nilai pentanahan melebihi 5 Ω terdapat 5 titik, dianggap belum
sesuai dengan kondisi di jaringan PDN-4 zone 2.

Cara mengatasi gangguan terhadap sambaran petir ini memerlukan


peralatan lightning arrester dengan nilai rating yang sesuai kondisi jaringan
distribusi serta sistem pentanahan yang baik. Guna meminimalisir gangguan
arus lebih karena terjadi sambaran petir ke jaringan distribusi 20 kV, maka
diperlukan pemilihan rating lightning arrester yang sesuai dengan jaringan
tersebut dan memperhatikan pentanahan yang ada lightning arrester sebagai
tempat menyalurkan arus gangguan ke tanah karena sambaran petir. Jika nilai
pentanahan kurang baik atau dibawah Standar Perusahaan Listrik Negara
(SPLN), elektroda dapat dihubungkan secara paralel dengan tujuan untuk
memperkecil nilai pentanahan dan mengamankan recloser ditiang K1-95/57A.

1
2

Pada laporan ini akan dibahas tentang pengaruh pemilihan rating lightning
arrester dan sistem pentanahan pada jaringan 20 kV pada zone 2 penyulang
PDN 4.

1.2. Tujuan Proyek Akhir


Tujuan dari proyek akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pemilihan rating lightning arrester yang sesuai pada jaringan
distribusi 20 kV.
2. Mengetahui pengaruh dari pemasangan lightning arrester pada jaringan
distribusi 20 kV dalam memproteksi recloser K1-95/57A atau
meminimalisir arus gangguan karena sambaran petir.
3. Menganalisis sistem pentanahan di PDN 4 zone 2 dengan tujuan agar
lightning arrester dapat membuang arus gangguan ke tanah dengan cepat
tanpa ada loncatan bunga api atau flashover.
4. Membandingkan jenis elektroda pentanahan yang akan digunakan pada
PDN 4 zone 2.

1.3. Perumusan Masalah


Perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1. Apakah jenis rating lightning arrester yang digunakan pada jaringan
distribusi 20 kV PT PLN (Persero) Rayon Pedan ?
2. Bagaimana cara mendapatkan pentanahan atau grounding yang baik agar
arus gangguan dapat diteruskan ke tanah dengan cepat oleh lightning
arrester ?

1.4. Batasan Masalah


Masalah yang dibahas secara khusus pada laporan proyek akhir ini adalah
mengenai tentang cara meminimalisir arus gangguan tegangan lebih akibat
sambaran petir, sehingga peran lightning arrester dan sistem pentanahan
dibutuhkan untuk memproteksi recloser K1-95/57A zone 2 penyulang PDN 4
PT. PLN (Persero) Rayon Pedan.
3

1.5. Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penyusunan laporan proyek akhir ini
menggunakan beberapa metode yaitu :
1. Metode Pengenalan pekerjaan (Job Training)
Melakukan pengenalan dan pengetahuan tentang peralatan proteksi
lightning arrester terhadap sambaran petir yang digunakan di jaringan
distribusi 20 kV terutama pada zone 2 penyulang PDN 4 PT. PLN (Persero)
Rayon Pedan.
2. Metode Library Research
Melakukan pembacaan pengetahuan dari sumber pustaka yang
digunakan dan pengambilan data-data yang bersifat dokumenter dan
berhubungan dengan laporan proyek akhir dari media elektronik maupun
buku.
3. Metode Field Research
Metode yang digunakan untuk pengesahan laporan proyek akhir
dilakukan dengan mempelajari, mengamati, dan melakukan pekerjaan yang
dilakukan.
4. Metode Wawancara
Metode wawancara dengan dilakukannya tanya jawab dan berbagi ilmu
terhadap pembimbing, supersivor, dan staff untuk mendapatkan pengertian
dan penjelasan tentang materi proyek akhir.
Pengumpulan data diperoleh dengan cara :
a. Observasi, yaitu mencari data dengan pengamaan dan penelitian
objek secara langsung ke lapangan.
b. Wawancara, yaitu melakukan pembahasan materi dengan
pembimbing proyek akhir untuk memperoleh pengetahuan yang
spesifik tentang materi proyek akhir.
c. Kepustakaan, yaitu dengan membaca sumber referensi dan
menggunakan simulasi bertujuan untuk memperoleh teori maupun
praktik yang mendukung materi.
4

1.6. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan laporan ini disusun sebagai berikut :
1. BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, tujuan proyek akhir, manfaat proyek
akhir, metode pengumpulan dan sistematika penulisan laporan proyek
akhir.
2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tentang tinjauan pustaka, dasar teori tentang sistem distribusi
tegangan menengah, penjelasan mengenai recloser, proses terjadinya
petir, alat pengaman di jaringan distribusi, lightning arrester sebagai
proteksi peralatan pada jaringan distribusi, pemilihan lightning
arrester, dan metode pemilihan pengetanahan.
3. BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Berisi tentang mengenai data gangguan dan pengaturan cara kerja
tentang recloser K1-95/57A, spesifikasi lightning arrester 21 kV, data
pengukuran tahanan isolasi lightning arrester, dan data pengukuran
pentanahan atau grounding pada Penyulang PDN 4 zone 2.
4. BAB IV : ANALISIS CARA KERJA LIGHTNING ARRESTER DAN
CARA MENDAPATKAN SISTEM PENTANAHAN YANG BAIK
Berisi tentang pengolahan data dan cara kerja recloser K1-95/57A
pada saat terjadi tegangan surja petir dan analisis pemilihan rating
lightning arrester guna memproteksi jaringan distribusi 20 kV terhadap
tegangan surja petir dan cara mendapatkan sistem pentanahan yang baik
guna menyalurkan arus gangguan ke tanah.
5. BAB V : PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dari tujuan proyek akhir dan saran
pelaksanaan proyek akhir.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian yang dilakukan oleh R Ichsan pada tahun 2015, dengan judul “
Analisa Pemasangan Jarak Antara Arrester dan Transformator Daya di
Gardu Induk BOOM Baru PT.PLN (Persero) Palembang”. Pada penelitian
ini membahas tentang gangguan yang diakibatkan oleh sambaran petir
dapat mengakibatkan tegangan lebih. Pada transformator daya
menggunakan lightning arrester, untuk melewatkan arus gangguan surja
petir ke tanah.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Desta Ismiana Nugroho pada tahun 2017,
dengan judul “ Lightning Arrester Sebagai Proteksi pada Transformator
Distribusi 160 KVA 20 KV/380 V Terhadap Tegangan Surja Petir di PT
PLN (Persero) Rayon Grogol ”. Penelitian ini membahas tentang sambaran
petir langsung maupun sambaran petir tidak langsung yang dapat
mengakibatkan tegangan lebih. Maka, dibutuhkan pemasangan lightning
arrester pada transformator distribusi. Pemasangan dan penempatan dapat
mempengaruhi kinerja lightning arrester tersebut dalam memproteksi
transformator.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Widianto pada tahun 2016, dengan judul “
Analisis Sistem Pengaman Surja Petir Saluran Udara Tegangan Menengah
pada Penyulang KBL 09 ”. Penelitian ini membahas tentang gangguan petir
pada penyulang KBL 09 pada zone 3. Penggunaan lightning arrester
dengan spesifikasi 18 kV dan arus 5 kA, diharapkan arrester bisa
meminimalisir gangguan sambaran induksi. Simulasi menggunakan ATP
Draw.
4. Penelitian yang dilakukan oleh I Nengah Sunaya pada tahun 2013, dengan
judul “ Analis Pengaruh Pemasangan Kawat Tanah Terhadap Gangguan
Surja Petir Pada Sistem Distribusi Saluran Udara Tegangan Menengah 20
kV”. Penelitian ini membahas tentang pengaruh pemasangan kawat tanah
terhadap gangguan surja petir pada sistem distribusi SUTM 20 kV pada

5
6

penyulang Sempidi Gardu Induk Kapal. Berdasarkan penelitian


ditunjukkan bahwa jumlah gangguan penyulang Sempidi akibat sambaran
petir sebelum dan sesudah terpasang kabel tanah, terdapat penurunan
gangguan sebesar 85,71%, serta penurunan durasi pemadaman sejumlah 38
menit 34 detik. Dari hasil tersebut perlu dipasangnya pengaman terhadap
surja petir berupa kawat tanah.
5. Penelitian ini dilakukan oleh Wiwik Purwati Widyaningsih pada tahun
2015, dengan judul “Analisis Pengaruh Kedalaman Penanaman Elektroda
Pembumian Secara Horizontal Terhadap Nilai Tahanan Pembumian pada
Tanah Liat Dan Tanah Pasir di Semarang”. Penelitian ini dilakukan di lahan
pelatihan Koramil 12 Tembalang dan Pantai Cipta Tanjung Mas Semarang,
membahas tentang posisi elektroda utama secara horizontal dengan metode
three point. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, pada kedalaman 100
cm adalah nilai tahanan pembumian sebesar 15,1 ohm untuk tanah pasir
dan untuk tanah liat sebesar 88,3 ohm.

Penelitian yang akan dibahas pada proyek akhir ini adalah pemilihan rating
lightning arrester dan sistem pentanahan yang sesuai terhadap kondisi jaringan
pada penyulang PDN 4 di zone 2 guna memproteksi recloser ditiang K1-
95/57A di PT. PLN (Persero) Rayon Pedan.

2.2. Dasar Teori

2.2.1 Sistem Distribusi Tegangan Menengah

Sistem distribusi tegangan menengah memiliki tegangan kerja diatas 1 kV


dan setinggi-tingginya 35 kV. Jaringan distribusi tegangan menengah berawal
dari Gardu Induk sebagai pusat listrik sampai ke transformator distribusi tiga
fasa maupun satu fasa. Bentuk jaringan distribusi ini dapat berbentuk radial
atau tertutup (radial open loop). Beberapa konfigurasi sistem distribusi
sebagai berikut :

1. Jaringan Radial
Jaringan distribusi ini hanya mempunyai satu pasokan tenaga listrik
atau hanya memiliki satu sumber. Jika terjadi gangguan akan terjadi
7

“blackout” atau padam pada penyulang yang dipasok oleh sumber


tenaga listrik tersebut.
2. Jaringan Bentuk Tertutup
Jaringan yang memiliki banyak sumber atau pasokan tenaga listrik
jika terjadi gangguan. Sehingga bagian yang mengalami gangguan atau
pemadaman saat ada pekerjaan dapat dikurangi atau bahkan bisa
dihindari. Dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Pola Jaringan Distribusi

Berdasarkan kedua pola dasar tersebut, dibuat konfigurasi-


konfigurasi jaringan sesuai dengan maksud perencanaan sebagai berikut:
a. Konfigurasi Tulang Ikan (Fish-Bone)
Konfigurasi ini adalah tipikal konfigurasi dari saluran udara
tegangan menengah beroperasi radial. Untuk mengurangi luas
daerah padam dilakukan dengan mengisolasi bagian yang terkena
gangguan dengan memakai pemisah (Air Break Switch /ABSW)
dengan koordinasi relai atau dengan sistem SCADA (Supervisory
Control And Data Acquisition). Pemutus balik otomatis (PBO) /
Recloser dipasang padas saluran utama. Dapat dilihat pada
gambar 2.2.

Gambar 2.2 Konfigurasi Tulang Ikan (Fishbone)


8

b. Konfigurasi Kluster (Cluster/Leap Frog)


Konfigurasi saluran udara tegangan menengah yang sudah
bertipikal sistem tertutup, tetapi beroperasi radial (Radial Open
Loop). Saluran bagian tengah merupakan penyulang cadangan
guna untuk mem- back up dengan luas penampang penghantar
yang besar karena menyalurkan arus yang besar. Dapat dilihat
pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Konfigurasi Kluster (Leap Frog)


c. Konfigurasi Spindel (Spindel Configuration)
Konfigurasi spindel digunakan pada saluran kabel bawah
tanah seperti daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Pada
konfigurasi ini dikenal dengan 2 jenis penyulang yaitu penyulang
cadangan (standby atau express feeder) dan penyulang operasi
(working feeder). Penyulang cadangan tidak dibebani dan
berfungi sebagai back-up sumber jika terjadi gangguan pada
penyulang operasi.
Untuk konfigurasi 2 penyulang, maka faktor pembebanan
hanya 50%. Dengan konsep spindel, jumlah penyulang pada 1
spindel adalah 6 penyulang operasi dan 1 penyulang cadangan
sehingga faktor pembebanan konfigurasi spindel penuh adalah
85%. Pada ujung penyulang terdapat gardu yang disebut gardu
hubung dengan kondisi penyulang operasi “NO” ( Normally
Open), kecuali penyulang cadangan dengan kondisi “NC”
(Normally Close). Dapat dilihat pada gambar 2.4.
9

Gambar 2.4 Konfigurasi Spindel (Spindel Configuration)

d. Konfigurasi Fork
Konfigurasi ini diperuntukkan satu gardu distribusi diisi dari
dua penyulang yang berbeda dengan selang waktu pemadaman
sangat singkat (Short Break Time). Pada saat penyulang utama
beroperasi mengalami gangguan, gardu distribusi dapat diisi dari
penyulang cadangan secara efektif dalam waktu yang cepat
dengan menggnakan fasilitas Automatic Change Over Switch
(ACOS). Percabangan dapat dilakukan dengan sadapan Tee-off
(TO) dari saluran udara atau saluran kabel tanah melalui gardu
distribusi. Dapat dilihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Konfigurasi Fork


10

e. Konfigurasi Spotload (Parallel Spot Configuration)


Konfigurasi yang terdiri dari sejumlah penyulang yang
diparalelkan dari sumber atau gardu induk yang berakhir pada
gardu distribusi. Konfigurasi ini digunakan pada saat beban
pelanggan melebihi kemampuan hantar arus penghantar. Salah
satu penyulang berfungsi sebagai penyulang cadangan bertujuan
untuk mem- back up kontinuitas penyaluran tenaga listrik. Sistem
ini dilengkapi dengan relai arah (Directional Relay) pada gardu
hubung. Dapat dilihat pada gambar 2.6

Gambar 2.6 Konfigurasi Spotload (Parallel Spot Configuration)

f. Konfigurasi Jala-jala
Konfigurasi ini dimungkinkan untuk penyuplai tenaga listrik
dari berbagai arah ke beban. Pada umumnya dipakai daerah padat
berbeban tinggi dan pelanggan-pelanggan pemakaian khusus.
Dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.7 Konfigurasi Jala-jala


11

2.2.2 Recloser

Recloser adalah peralatan proteksi jaringan distribusi yang dipasang pada


saluran utama (Main feeder) sebagai pengaman dan switching utama jaringan.
Dapat dilihat pada gambar 2.8. Recloser memiliki kemampuan sebagai
pemutus arus bila terjadi gangguan hubung singkat yang dilengkapi relay arus
gangguan. Recloser merupakan peralatan pengatur atau pembagi jaringan
dalam beberapa zone, guna untuk melakukan pemadaman atau untuk
memisahkan daerah atau jaringan yang terganggu sistemnya secara cepat
sehingga dapat memperkecil daerah gangguan secara sesaat sampai gangguan
tersebut dianggap hilang, dengan demikian recloser akan masuk kembali
(reclose) sesuai pengaturannya, sehingga jaringan akan aktif kembali secara
otomatis.

Gambar 2.8 Recloser

Pada recloser terdapat relay OCR (Over Current Relay) dan GFR (Ground
Fault Relay). Pembacaan nilai OCR pada saat terjadi gangguan dengan
lonjakan arus fasa maupun antar fasa. Sedangkan pembacaan nilai GFR pada
saat terjadi gangguan yang disebabkan hubungan antar fasa dengan tanah
(ground).

2.2.3 Proses Terjadinya Petir

1. Fenomena Petir

Petir adalah gejala yang secara alami yang biasanya muncul pada saat
musim hujan disaat langit memunculkan kilatan cahaya. Petir sering
terjadi pada musim hujan, karena pada saat itu, udara mengandung kadar
12

air yang lebih tinggi dari musim biasanya sehingga daya isolasinya
menurun dan aliran arus akan lebih mudah mengalir.

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi.
Proses terjadinya pemisahan muatan pada awan karena bergerak secara
teratur, dan selama pergerakannya awan akan berinteraksi dengan awan
lainnya sehingga muatan negatif awan tersebut akan berkumpul pada salah
satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi
sebaliknya, jika awan negatif mengambil mengambil sisi atas maka awan
positif akan mengambil posisi bawah dan sebaliknya. Jika selisih potensial
pada awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan
negatif (elektron) dari selisih potensial awan dan bumi atau sebaliknya
untuk mencapai keseimbangan muatan negatif dan positif. Proses
terjadinya petir dapat dilihat pada gambar 2.9.

Media yang dilalui untuk proses pembuangan muatan negatif ini


adalah udara. Ledakan suara dihasilkan oleh muatan elektron yang mampu
menembus ambang batas isolasi pada udara.

Gambar 2.9 Proses Terjadinya Petir

(sumber : The Lightning Surge and Arresters, Jonathan Woodworth,


Consulting Engineer ArresterWorks)
13

Gelombang petir dapat merusak arrester dengan 2 cara yaitu, pertama


arus dari gelombang petir dapat menekan batas konduksi dari sambungan
varistor yang merupakan bagian dari mekanisme konduksi fundamental
dan yang kedua, transfer muatan dapat menghasilkan pemanasan material
varistor.
2. Sambaran Petir pada Jaringan Distribusi
Menurut Hutauruk, T.S,1991, saluran distribusi merupakan salah satu
bagian dari sistem tenaga listrik. Saluran distribusi tersebut tidak lupa dari
ancaman gangguan karena petir. Gangguan petir pada saluran adalah
kejadian tidak berfungsinya saluran dalam menyalurkan daya listrik
karena sambaran petir baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sambaran petir terhadap peralatan jaringan distribusi akan mengakibatkan
menurunnya tingkat isolasi pada peralatan tersebut dan dapat merusak
peralatan jika tingkat isolasinya lebih rendah dari pada tingkat sambaran
petir. Akibat yang ditimbulkan karena adanya gangguan petir adalah :
a. Memutuskan kontinuitas pelayanan daya pada konsumen bila
gangguan tersebut sampai memutus jaringan atau memadamkan
daerah jaringan.
b. Menyebabkan rendahnya kualitas tenaga listrik
c. Mengurangi stabilitas keandalan sistem kerja
d. Merusak peralatan pada daerah yang terkena sambaran petir secara
langsung.

2.2.4 Peta Sambaran Petir

Intensitas gangguan petir yang cukup rapat di Indonesia khususnya daerah


Pedan, Klaten akan mempengaruhi keandalan dan usia arrester maupun
peralatan pada jaringan distribusi. Menurut data dari BMKG dibulan Februari
2018, menyatakan bahwa Klaten memiliki indikator warna yaitu kuning
dengan jumlah musim hujan 30.000 – 45.000. Memiliki pontensi bahwa
terjadi sambaran petir pada daerah Klaten juga tinggi. Dapat dilihat pada peta
yang didapatkan dari BMKG.
14

Gambar 2.10 Peta Sambaran Petir Bulan Februari 2018

(sumber: BMKG 2018)

Dari peta sambaran petir terlihat bahwa Klaten memiliki jumlah musim
hujan akan sering terjadi, sehingga diperlukannya peralatan pengaman seperti
lightning arrester dan alat pelindungan peralatan dari sambaran petir yang
mampu bekerja secara terus menerus tanpa mengalami kegagalan pada
kinerja operasi.

2.2.5 Lightning Arrester

Lightning Arrester adalah alat proteksi atau pengaman peralatan tenaga


listrik terhadap surja petir, yang berfungsi melindungi peralatan sistem tenaga
listrik dengan cara membatasi surja tegangan lebih yang datang dan
mengalirkan ke tanah (ground). Frekuensi yang digunakan harus sesuai
standar jaringan yaitu 50 Hz agar tidak menggangu sistem. Pada keadaan
normal atau tidak ada arus gangguan akibat petir, maka lightning arrester
akan bersifat seperti isolator dan saat terjadi surja petir akan berfungsi sebagai
penghantar atau konduktor.
15

Ketika surja petir sudah hilang, lightning arrester harus cepat kembali pada
keadaan normal yang bersifat isolator, sehingga recloser tidak sempat untuk
membuka.

Karakteristik lightning arrester dipengaruhi oleh :

1. Bekerjanya arrester pada sistem dimana ada tegangan surja petir dan
pada sistem tegangan normal arrester tidak boleh bekerja atau sebagai
isolator.
2. Pada saat terjadi tegangan surja petir diatas nilai tegangan pengenalnya,
harus cepat meneruskan (divert) ke bumi (ground) dengan cepat melalui
kawat pentanahan.
3. Arus pelepasan pada saat break down (tembus) tidak boleh melebihi
arus pelepasan nominal agar tidak merusak arrester.
4. Pada gelombang transien dengan tegangan puncak yang nilainya lebih
tinggi dari tegangan tembus arrester, maka arrester harus mampu
untuk mengalirkan ke tanah.
5. Pada tegangan operasi normal, harus mempunyai impedansi yang tinggi
atau tidak menarik arus listrik.
6. Arus dengan frekuensi normal harus diputuskan dengan segera apabila
tegangan transien telah turun dibawah harga tegangan tembusnya.

2.2.6 Jenis-jenis Lightning Arrester

Lightning arrester terdiri dari dua jenis yaitu jenis Ekspulasi (Protector
Cube) dan jenis Tahanan Tak Linear.

1. Jenis Ekspulasi (Protector Cube)


Arrester jenis ekspulasi atau tabung pelindung memiliki prinsip
yang terdiri dari sela percik yang berada dalam tabung serat dan percik
batang yang berada diluar di yang disebut dengan sela seri. Sela batang
(external series gap) yang diletakkan pada isolator porselin untuk
mencegah arus mengalir dan membakar fiber pada tegangan lebih
setelah gangguan diatasi. Jenis arrester dapat dilihat pada gambar 2.11.
16

Pada saat tegangan surja melewati sela batang dan sela bunga api,
maka tingkat impedansi tabung akan menjadi rendah sehingga arus
surja akan mengalir ke tanah. Akibat rendahnya impedansi tabung,
maka arus yang mengalir akan membakar fiber dan menghasilkan gas
yang bergerak cepat ke arah bagian bawah arrester.

Gambar 2.11 Arrester Type Protector Cube ( Ekspulasi)


Tegangan percik impuls lebih tinggi dari arrester jenis katup.
Kemampuan untuk memutuskan arus susulan tergantung dari tingkat
arus hubung singkat dari sistem pada titik dimana arrester itu dipasang.
Dengan demikian, perlindungan dengan arrester jenis ini tidak
memadai untuk proteksi transformator daya, kecuali untuk sistem
distribusi. Arrester jenis ini digunakan untuk melindungi transformator
ditribusi yang bertegangan 3-15 kV dan banyak digunakan pada saluran
transmisi untuk membatasi besar surja yang memasuki ke gardu induk.
2. Lightning Arrester Jenis Oksida Film
Alat pengaman lightning arrester jenis ini memiliki 2 ruang didalam
tabung porselin yaitu ruang celah (gap chamber) dan ruang butiran
oksida timah hitam. Ruang celah memiliki bentuk silinder yang terbuat
dari porselin annulus, yang berisi sebuah pegas, lempengan cakram dan
celah elektroda. Lempengan cakram terdiri dari dua lempeng yang
disatukan (crimped), yang masing-masing memiliki diameter 19 cm
dan tebal 1,59 cm. Permukaan lempengan cakram dilapisi dengan film
yang diisolasi dengan vernis. Kekuatan tembus untuk setiap lempeng
cakram tersebut terjadi pada tegangan 300 V. Jumlah unit lempeng
17

cakram akan ditentukan oleh tegangan jaringan yang digunakan dan


kondisi petir agar dapat menahan ketika tegangan maksimum sistem.
Tegangan pelepasan akan dapat menembus film yang berlapis
vernis diatas lempeng cakram, ketika tegangan pelepasan (discharge
voltage) mengalir ke ruang celah dengan melalui pegas. Apabila
tegangan melebihi dari batas kekuatan lempeng cakram per unit,
loncatan busur api (flashover) akan diteruskan ke gap electrode.
3. Lightning Arrester Jenis Thyrite
Lightning arrester jenis ini terbuat dari bahan lempengan keramik
yang memiliki kualitas baik, yang bertindak sebagai penghantar
tegangan tinggi surja dan mempelihatkan tahanan tinggi untuk tenaga
jaringan (line energy). Pada arrester “hyrist magne-valve”
memperlihatkan arus petir lewat langsung celah by-pass seri ke celah
utama dan oleh elemen thyrite ke ground. Dapat dilihat pada gambar
2.12.

Gambar 2.12 Arrester sebagai Alat Pengaman Jenis Thyrite

Energi jaringan berusaha mengikuti energi petir, maka energi


jaringan dibuat untuk mengalirkan langsung ke lilitan seri, dan
menciptakan medan magnet cukup kuat untuk memadamkan busur api
dari pelepasan arus petir.Thyrite adalah bahan campuran padat tak
organik dari keramik alam, yang memiliki resistansi lebih cepat untuk
mengurangi.
18

4. Lightning Arrester Jenis Katup (Valve)


Lightning arrester jenis ini terdiri dari sebuah celah api (spark gap)
yang dihubungkan secara seri dengan sebuah tahanan non linear atau
tahanan katup (valve resistor). Ujung dari celah api dihubungkan
dengan kawat fasa, sedangkan ujung dari tahanan katup dihubungkan
ke tanah (ground). Dijelaskan pada gambar 2.13.

Gambar 2.13 Karakteristik Pengaman Arrester Jenis Katup


Percikan bunga api (arc) ditimbulkan akibat dari tegangan lebih
pada celap api (spark gap). Ketika tegangan lebih sudah tidak ada tetapi
api percikan akan timbul terus-menerus. Untuk menghentikan percikan
bunga api pada celah api, maka resistor non linier akan memadamkan
percikan bunga api tersebut. Nilai tahanan non linier ini akan turun saat
tegangan lebih menjadi besar. Tegangan lebih akan mengakibatkan
penurunan secara drastis nilai tahanan katup, sehingga tegangan
jatuhnya dibatasi walaupun arusnya besar. Pada gambar 2.14.

Gambar 2.14 Lightning Arrester Jenis Katup (Valve)


Lightning arrester jenis ini terdiri dari sela percik terbagi atau sela
seri yang terhubung dengan elemen tahanan yang mempunyai
19

karakteristik tidak linier. Apabila sela seri tembus pada saat tibanya
suatu surja petir yang cukup tinggi, alat tersebut menjadi penghantar.
Sela seri tidak dapat memutus arus susulan yang diakibatkan surja petir.
Arrester tak linier yang mempunyai karakteristik dengan tahanan yang
kecil untuk arus besar dan tahanan besar untuk arus susulan dari
frekuensi dasar yang terdapat pada gambar karakteristik volt ampere.
Lightning arrester jenis katup (valve) ini dibagi dalam empat jenis
yaitu:
a. Lightning arrester katup jenis gardu
Arrester katup jenis gardu ini adalah jenis yang memiliki
tingkat efisien yang bagus dan harga yang mahal. Umumnya
digunakan pada gardu induk besar guna untuk melindungi atau
memproteksi peralatan yang besar atau mahal pada rangkaian
mulai dari 2400 V sampai 287 kV.
b. Lightning arrester katup jenis saluran
Arrester jens ini seperti jenis arrester jenis gardu, yang
digunakan ntuk melindungi transformator dan pemutus daya serta
dipakai pada sistem tegangan 15 kV sampai 69 kV. Jenis ini lebih
murah dibandingkan arrester jenis gardu. Seperti pada gambar
2.15.

Gambar 2.15 Lightning Arrester Katup (Valve) jenis Saluran


20

c. Lightning arrester katup jenis gardu untuk mesin-mesin


Arrester jenis gardu ini digunakan khusus untuk melindungi
mesin-mesin berputar. Pemakaiannya untuk tegangan 2,4 kV
sampai 15 kV.
d. Lightning arrester katup jenis distribusi untuk mesin-mesin
Arrester jenis distribusi ini digunakan khusus untuk melindungi
mesin-mesin berputar dan melindungi transformator distribusi
dengn pendingin udara tanpa minyak. Arrester jenis ini dipakai
pada peralatan dengan tegangan 120 V sampai 750 V.

2.2.7 Pemilihan Lightning Arrester

Beberapa faktor yang diperlukan dan diperhatikan dalam memilih


lightning arrester untuk jaringan distribusi 20 kV menurut SPLN D5.006:
2013 ataupun buku pedoman pemeliharaan dan asesmen kondisi peralatan
sistem tenaga, agar sesuai dengan penggunaannya sebagai berikut :

1. Tegangan Operasi Kontinu dan Tegangan Pengenal Arrester


Tegangan operasi kontinyu bila mengacu pada ANSI/IEEE
merupakan nilai tegangan dimana arrester dapat terus beroperasi tanpa
batas tertentu. Lightning arrester telah diujikan pada type test yang
mampu bekerja dengan baik pada level tegangan kontinu ini.
Nilai tegangan pengenal adalah kemampuan arrester dalam
menghadapi temporary overvoltage. Tegangan pengenal ini hanya boleh
dialami oleh arrester selama durasi tertentu, yaitu 10 detik. (beberapa
pabrikan memberikan durasi hingga 100 detik) [1].
Arrester harus mampu memutuskan arus dinamik dan dapat bekerja
terus seperti semula, karena batas dari tegangan sistem dimana arus
susulan ini masih mungkin adalah tegangan dasar (rated voltage).[2]
Untuk menentukan tegangan pengenal minimum dapat dilihat pada
persamaan 2.1.
Ur, min = 0,8 x Um, min ................................................................... (2.1)
dengan :
Ur,min = Tegangan pengenal minimum
21

0,8 = nilai koefisien untuk pentanahan langsung


Um,min = Tegangan sistem tertinggi untuk peralatan
Nilai tegangan pengenal (Ur) diperoleh dengan perkalian nilai
tegangan operasi kontinu aktual dengan faktor kesalahan pentanahan
1,25. Nilai tegangan pengenal minimum dibulatkan keatas nilai
selanjutnya yang dapat dibagi 3.[3]
Pada dasarnya, relasi antara Ur dan Uc ditunjukkan oleh persamaan
2.2.
Uc = Ur/1,25 ................................................................................... (2.2)
dengan :
Uc = Tegangan operasi kontinu aktual
Ur = Tegangan pengenal
1,25 = Faktor kesalahan pentanahan
2. Tegangan Residual / Tegangan Kerja arrester
Tegangan residual adalah tegangan yang timbul saat terminal
arrester pada saat arus pelepasan mengalir ke ground. Tegangan residual
dan tegangan nominal dari suatu arrester tergantung kepada kecuraman
gelombang arus yang datang (A/μs) dan amplitudo dari arus pelepasan.
Untuk menentukan tegangan residual digunakan impuls arus sebesar
8/20 μs (standar IEC) dengan nilai puncak arus pelepasan 5 kA dan 10
kA. Untuk nilai arus pelepasan yang lebih tinggi maka tegangan residual
tidak akan naik lebih tinggi lagi. Hal ini disebabkan karena karakteristik
tahanan yang tidak linear dari arrester. Umumnya tegangan residual
tidak melebihi BIL (Basic Insulation Level = Tingkat Isolasi Dasar =
TID) dari peralatan yang dilindungi walaupun arus pelepasan maksimum
mencapai 65 – 100 kA.
3. Menentukan Impedansi Kawat Surja
Nilai impedansi adalah nilai yang diperoleh pada saat terjadi surja
petir. Untuk menentukan nilai impedansi kawat surja ditunjukan pada
persamaan 2.3.
2h
Zs = 60 ln .................................................................................... (2.3)
r

dengan :
22

r = jari-jari konduktor (m)


h = tinggi konduktor diatas permukaan tanah
4. Arus Pelepasan Nominal (Nominal Discharge Current)
Arus pelepasan dengan nilai puncak dan bentuk gelombang tertentu
yang digunakan untuk menentukan kelas dari arrester yang sesuai
dengan kemampuannya untuk melewatkan arus.
Menurut Huatauruk, T.S., harga puncak tegangan surja yang datang
atau yang masuk ke gardu induk datang dari saluran yang dibatasi oleh
BIL. Dengan mengingat variasi flashover dan probabilitas tembus
isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga (E)
adalah seperti persamaan 2.4.
E = 1,2 x TID saluran ........................................................................ (2.4)
Pada gelombang berjalan yang datang dari saluran, arus pelepasan
dalam arrester ditentukan oleh tegangan maksimum yang diteruskan
oleh isolasinya, impedansi surja pada kawat, dan karakteristik dari
arrester. Maka dapat dibuat persamaan 2.5.
2E−Ea
I⍺ = ......................................................................................................... (2.5)
Z

Dengan :
I⍺ = Arus pelepasan arrester (kA)
E = Besarnya tegangan surja yang datang (kV)
Ea = Tegangan terminal arrester (kV)
Z = Impedansi surja (Ω)
Menurut IEC, bentuk pelepasan arus gelombang adalah 8/20 μs
dengan kelas arrester :
a. Kelas arus 10 kA
Untuk perlindungan gardu induk yang besar dengan frekuensi
sambaran petir yang cukup tinggi dengan tegangan sistem diatas 70
kV.
b. Kelas arus 5 kA
Untuk tegangan sistem dibawah 40 kV
c. Kelas arus 2,5 kA
23

Untuk gard-gardu kecil dengan tegangan dibawah 22 kV, dimana


pemakaian kelas 5 kA tidak eknomis lagi.
d. Kelas arus 1,5 kA
Untuk proteksi trafo kecil di daerah pedesaan dengan pelanggan
kecil dan sedikit.
5. Arus Pelepasan Maksimum (Maximum Discharge Current)
Arus ini adalah arus maksimum yang dapat mengalir melalui
penangkal petir setelah menembus sela seri tanpa merusak atau merubah
karakteristik dari arrester.
6. Faktor Perlindungan
Faktor ini adalah besar perbedaan tegangan antara BIL dari peralatan
yang dilindungi dengan tegangan kerja dari arrester, dan untuk faktor
perlindungan yang baik tidak boleh < 20%, dapat dituliskan dalam
persamaan 2.6 dan 2.7.
TP = Ea x 1,1 ................................................................................... (2.6)
TID trafo−TP
FP = x 100%.................................................................. (2.7)
TID trafo

dengan :
Ea = Tegangan residual ( kV)
TID = Tingkat isolasi dasar trafo (kV)
TP = Tingkat perlindungan (kV)
FP = Faktor perlindungan (%)

2.2.8 Cara Kerja Lightning Arrester

Pada saat terjadi sambaran surja petir pada jaringan distribusi, peralatan
listrik seperti transformator akan mendapatkan kerusakan akibat tegangan
surja petir. Pada adanya pemasangan lightning arrester dapat melindungi
jaringan distribusi terhadap tegangan surja petir. Lightning arrester akan
melakukan :

a. Tidak menyerap tegangan surja petir


b. Tidak memberhentikan tegangan surja petir
c. Akan meneruskan (divert) tegangan surja petir ke tanah (ground).
24

d. Memotong (waktu) dari tegangan yang dibuat oleh surja petir.


e. Hanya melindungi peralatan listrik yang disambung paralel dengan
arrester.[4]

Lightning arrester memiliki dua unsur yaitu sela api (spark gap) dan
tahanan tak linier. Keduanya dihubungkan secara seri batas atas maupun
batas bawah dari tegangan percikan ditentukan oleh tegangan sistem
maksimum dan tingkat isolasi peralatan yang dilindungi.

Penyebab kerusakan lightning arrester adalah peralatan listrik yang


berfungsi sebagai alat pengaman atau proteksi bagi peralatan listrik terhadap
tegangan lebih yang diakibatkan oleh surja petir. Lightning arrester juga
dapat mengalami kerusakan pada bagian luar maupun dalam yang berakibat
pada kinerja arrester. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan
pada lightning arrester yaitu :

a. Harmonisa tegangan sistem.


b. Polusi yang disebabkan oleh debu disekitar arrester dan tingkat
kelembaban yang tinggi.
c. Efek korona yang timbul pada arrester.

2.2.9 Pemasangan Lightning Arrester

1. Lokasi Arrester pada Recloser/ PBO (Pemutus Balik Otomatis)


Arrester dipasang pada peralatan recloser diletakkan sedekat mungkin
di kedua sisi masuk atau sisi keluar (sisi primer dan beban) pada tiap
penghantar fasanya. Dilihat dari segi ekonomis, arrester dipasang hanya
pada satu sisi yaitu pada sisi sebelum / dari sumber recloser seperti gambar
2.16.
Tegangan surja petir pada sisi sumber dapat menyebabkan loncatan
bunga api (flashover) pada bushing sisi sumber dan mengakibatkan
gangguan fasa ke tanah (GFR), dan harus diamankan oleh recloser
cadangan agar pemutus daya tidak sempat membuka (PMT/CB).
25

Gambar 2.16 Letak Penempatan Arrester pada Recloser


Arrester ditempatkan pada sisi sumber bertujuan untuk mengamankan
surja petir di sisi jaringan sumber yang mengamankan arus ikutan/susulan
dengan frekuensi 50 Hz. Jika pada bushing sisi beban terkena petir, maka
recloser berfungsi secara normal untuk menginterupsi dan mengamankan
arus ikutan frekuensi 50 Hz.
2. Kawat Penghubung Disconnector
Disconnector dipasangkan pada terminal pentanahan dari arrester dan
menghubungkan terminal pentanahan arrester dengan kawat penghubung
pentanahan. Pada saat arrester mengalirkan arus yang besar akibat
kegagalan kerja pada arrester dapat menyebabkan bekerjanya
disconnector. Disconnector berfungsi untuk memisahkan terminal
pentanahan arrester dengan kawat penghubung pentanahan. Sehingga
perlu diperhatikan pada kawat penghubung pentanahan tidak terkena
kawat fasa pada saat disconnector bekerja. Sebaiknya kawat penghubung
pentanahan harus dari material yang memiliki fleksibilitas tinggi dan tidak
kaku seperti gambar 2.17.
26

Gambar 2.17 Penempatan Disconnector pada Arrester


2.2.10 Sistem Pentanahan Jaringan Distribusi 20 kV

Sistem pentanahan jaringan distribusi 20 kV harus dilakukan


pentanahan terhadap kawat penghantar netral maupun arrester dan
peralatan lainnya. Bertujuan untuk menghilangkan tegangan lebih trasien
yang dikait oleh busur tanah (arcing grounds). Sistem pentanahan tidak
membatasi arus gangguan tanah, sebaiknya diperlukan alat pengaman
yang cepat menghilangkan gangguan tersebut.

Upaya pengamanan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar


tegangan sentuh yang besar tidak berakibat pada yang bersifat merusak
peralatan tenaga listrik maupun membahayakan manusia. Dapat dilihat
pada gambar 2.18.

Gambar 2.18 Pentanahan Arrester pada Jaringan Distribusi


27

1. Tahanan Jenis Tanah


Tahanan jenis tanah (ρ) adalah faktor keseimbangan antara tahanan
pengetanahan dan kapasitansi di sekeliling kawat pentanahan. Nilai
tahanan jenis tanah pada kondisi tanah yang berbeda maka juga
mempengaruhinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi tahanan jenis
tanah yaitu :
a. Pengaruh Keadaan Struktur Tanah
Pengukuran tahanan jenis tanah dengan komposisi tanah tidak
homogen memiliki variasi secara vertikal maupun horizontal,
sehingga pada lapisan tertentu terdapat dua atau lebih jenis tanah
dengan tahanan jenis yang berbeda menyebabkan tidak bisa
menentukan suatu nilai yang tetap. Sebaiknya untuk memperoleh
nilai yang tetap harus dilakukan pengukuran langsung ditempat
dengan memperbanyak titik pengukuran. Dapat dilihat pada tabel
2.1. tentang Tahanan jenis tanah dan tabel 2.2 tentang Resistansi
pentanahan pada resistansi jenis (ρ) = 100 Ω-meter.
Tabel 2.1 Tahanan Jenis Tanah

Tabel 2.2 Resistansi Pentanahan pada resistansi jenis ρ = 100 Ω - meter


28

b. Pengaruh Unsur Kimia


Kandungan pada zat-zat kimia berupa organik maupun
anorganik dalam tanah mempengaruhi kondisi jenis tanah tersebut.
Dengan curah hujan yang tinggi, maka mempunyai tahanan jenis
tanah yang tinggi disebabkan garam yang terkandung larut dengan
zat kimia.Untuk mendapatkan tahanan jenis tanah yang lebih rendah,
dapat mengubah komposisi kima tanah dengan memberikan garam
pada tanah dekat elektroda pentanahan yang ditanam secara periodik
sedikitnya 6 bulan sekali.
c. Pengaruh Iklim
Pengaruh ini dapat menyebabkan bervariasinya tahanan jenis
tanah akibat pengaruh musim. Pentanahan dapat dilakukan dengan
menanamkan elektroda pentanahan mencapai kedalaman dimana
kondisi air tanah konstan. Kelembaban dan temperatur bervariasi
mempengaruhi tahanan jenis tanah, dengan untuk keadaan yang
paling buruk, yaitu tanah kering atau keadaan dingin.
Proses yang digunakan pada mengalirnya arus listrik di dalam
tanah sebagian besar akibat dari proses elektrolisa, yang
mempengaruhi konduktivitas atau dalam tanah. Tanah akan
dipengaruhi oleh besar kecilnya konsentrasi air tanah atau
kelembahan tanah. Konduktivitas tanah akan semakin besar
sehingga tahanan tanah akan semakin kecil.
d. Pengaruh Temperatur Tanah
Temperatur tanah pada sekitar elektroda pentanahan
berpengaruh pada besar kecilnya tahanan jenis tanah. Kenaikan nilai
tahanan tanah dengan cepat juga bisa disebabkan penurunan
temperatur yang di bawah titk beku air (0°C). Dapat dilihat pada
tabel 2.3 dan tabel 2.4 menjelaskan resistivitas jenis tanah.
29

Tabel 2.3 Efek Temperatur Terhadap Resistivitas Tanah


No Temperatur (°C) Resistivitas (Ω)

1 -5 70.000

2 0 30.000

3 10 8000

4 20 7000

5 30 6000

6 40 5000

7 50 4000

(sumber : IEEE std 142-1991)

Tabel 2.4 Resistivitas Berbagai Jenis Tanah


Tahanan jenis
No Deskripsi Tanah
tanah (Ω - cm)
1 Mengandung kerikil tinggi, campuran 60.000-
kerikil dan pasir kerapatan rendah dan 100.000
tidak halus
2 Mengandung kerikil dan tandus, 100.000-
campuran kerikil dan pasir kerapatan 250.000
rendah dan tidak halus
3 Berkerikil dan liat, tandus, campuran 20.000-40.000
tanah liat dan pasir
4 Pasir berlumpur, campuran pasir dan 10.000-50.000
lumpur
5 Pasir liat, campuran pasir dan tanah liat, 5000-20.000
tandus
6 Pasir halus berlumpur dan liat 3000-8000
mengandung plastik berkonsentrasi
rendah
30

Tabel 2.4 Lanjutan Resistivitas Berbagai Jenis Tanah


Tahanan jenis
No Deskripsi Tanah
tanah (Ω-cm)
7 Pasir halus atau tanah lumpur, lumpur 8000-30.000
elastis
8 Tanah liat berkerikil, liat berpasir, liat 2500-6000
berlumpur, tidak liat
9 Liat aborganik dengan kandungan plastik 1000-5.500
tinggi

(Sumber : IEEE std 142-1991)

2. Elektroda Pentanahan
Elektroda pentanahan adalah alat penghantar yang ditanamkan dalam
tanah dan membuat kontak langsung dengan tanah (ground). Adanya
kontak langsung tersebut berfungsi agar diperoleh hantaran arus yang
baik pada saat terjadi gangguan sehingga arus tersebut dapat dibuang ke
tanah. Elektroda pentanahan ini dihubungkan dengan kawat pentanahan
yang berasal dari titik netral maupun titik terminal bawah arrester.
Menurut PUIL [3.18.11] elektroda adalah penghantar yang
ditanamkan ke dalam tanah yang membuat kontak langsung dengan
tanah. Untuk bahan elektroda pentanahan biasanya digunakan bahan
tembaga, atau baja yang bergalvanis, atau dilapisi tembaga sepanjang
kondisi setempat, tidak mengharuskan memakai bahan lain.
Jenis-jenis elektroda yang digunakan dalam pentanahan adalah
sebagai berikut :
a. Elektroda Batang
Elektroda batang adalah elektroda terbuat dari pipa besi baja
atau batangan logam yang dimasukkan ke dalam tanah secara
dalam hingga mencapai nilai pentanahan yang kecil. Pada gambar
2.19.
Untuk menentukan besar kecilnya tahanan pentanahan dengan
satu buah elektroda batang dipergunakan persamaan 2.8.
31

ρ 4L
Rbt = 2πL (ln − 1) .............................................................. (2.8)
d

dengan :
Rbt = tahanan pentanahan elektroda batang (Ω-m)
ρ = tahanan jenis tanah (Ω m)
L = panjang batang yang tertanam (m)
d = diameter elektroda batang (m)

Gambar 2.19 Elektroda Batang dan Lapisan Tanah

b. Elektroda Bentuk Pita

Elektroda jenis ini merupakan logam yang memiliki


penampang yang berbentuk pita atau dapat berbentuk bulat. Bentuk
pita seperti dipilin layaknya berbentuk kawat yang dipilin.
Ketentuan penanaman elektroda ini secara dangkal pada
kedalaman 0,5 sampai 1 meter dari permukaan tanah. Gambar
dapat dilihat pada gambar 2.20.

Besar nilai tahanan pentanahan untuk elektroda pita dapat


dihitung dengan persamaan 2.9.

ρ 2L
Rpt = πL (ln d ) ....................................................................... (2.9)

dengan :
Rpt = tahanan pentanahan elektroda pita (Ω)

ρ = tahanan jenis tanah (Ωm)


32

L = panjang elektroda pita yang tertanam (m)

d = lebar pita/diameter elektroda pita jika bulat (m)

Gambar 2.20 Jenis-jenis Elektroda Pita

c. Elektroda Bentuk Plat

Elektroda plat ini terbuat dari plat logam dengan cara


pemasangannya ditanam tegak lurus atau mendatar tergantung dari
tujuan penggunaannya. Bentuk elektroda plat seperti gambar 2.22.

Gambar 2.21 Elektroda Plat Secara Vertikal


Untuk menghitung nilai besar tahanan pentanahan elektroda
plat dipergunakan persamaan 2.10.
33

ρ b
Rpl = 4,1L (1 + 1,84 t ) ...................................................... (2.10)

dengan :
Rpl = tahanan pentanahan elektroda plat (Ω)
ρ = tahanan jenis tanah (Ω.m)
L = panjang elektroda plat (m)
b = lebar plat (m)
t = kedalaman plat tertanam dari permukaan tanah (m)

Nilai pentanahan dapat diperkecil menggunakan sistem paralel


grounding dengan cara memperbanyak pemasangan elektroda yaitu
hubungan paralel elektroda yang sudah ada dengan elektroda yang
baru. Dapat dilihat menggunakan persamaan 2.11.

1 1 1 1
= + +⋯+ ......................................................... (2.11)
Rtot R1 R2 Rn

dengan :
Rtot = nilai tahanan total (Ω)

3. Konduktor Pentanahan
Persyaratan konduktor yang digunakan untuk pentanahan yaitu :
a. Memiliki daya hantar jenis (conductivity) yang cukup besar
sehingga dapat mengalirkan arus gangguan ke tanah secara cepat.
Pada tabel 2.5 Terdapat luas penampang dengan jenis KHA.
Tabel 2.5 KHA Terus-Menerus dari Penghantar BC
Luas Penampang (mm2) KHA terus-menerus (A)
10 90
16 125
25 175
35 200
50 250
70 310
95 390
120 440
34

Tabel 2.5 Lanjutan KHA Terus-Menerus dari Penghantar BC

Luas Penampang (mm2) KHA terus-menerus (A)


150 510
185 645
240 700
300 800
400 960
500 1100

Pada tabel 2.6 memiliki ukuran dari luas penampang dengan KHA
dari penghantar kabel AAAC dan pada tabel 2.7 untuk penghantar
XPLE, pada tabel berikut.

Tabel 2.6 KHA Terus-Menerus dari Penghantar AAAC


Luas Penampang (mm2) KHA terus-menerus (A)
16 105
25 135
35 170
50 210
70 155
95 320
120 365
150 425
185 490
240 585
300 670
400 810
500 930
630 1075
800 1255
1000 1450
35

Tabel 2.7 KHA Terus-Menerus Penghantar Berisolasi XLPE

b. Tahan terhadap peleburan dari kerusakan sambungan kawat,


walaupun konduktor tersebut terkena efek arus gangguan dalam
waktu yang lama.
c. Tahan terhadap korosi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

3.2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengumpulkan dan mempelajari materi, jurnal, dan buku yang


berhubungan dengan analisa lightning arrester, sistem pentanahan, dan
recloser.

36
37

2. Mengambil dan mencari data-data maupun parameter yang diperlukan


dalam perhitungan untuk menentukan pemilihan lightning arrester dan
grounding lightning arrester.
3. Mengumpulkan data melalui pengukuran langsung dan melalui tanya jawab
terhadap pegawai lapangan yang terkait dalam objek penelitian.
4. Mengolah data-data dan memberikan hasil terkait objek penelitian guna
untuk mengurangi resiko gangguan.

3.3. Data Teknis

Beberapa data teknis yang diperlukan adalah sebagai berikut :

1. Data – data teknis peralatan seperti data dari namplate lightning arrester,
spesifikasi lightning arrester dan setting recloser K1-95/57A yang berada
di PDN 4 zone 2 section 1.
2. Data – data teknis pnegukuran seperti data pengukuran pentanahan,
pengukuran panjang serta diameter elektroda batang, dan pengukuran
tahanan isolasi lightning arrester.
3. Data – data teknis gangguan aikbat sambaran petir di recloser K1-95/57A.

3.4. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk penelitian adalah sebagai berikut:

1. Lightning Arrester 21 kV
2. Grounding pentanahan
3. Earth Clamp Tester
4. Earth Tester Meter
5. High Voltage Insulation Tester
6. Resistor for Operation
7. Probe (Kabel)

3.5. Data Gangguan dan Data Setting Recloser

Data gangguan akibat sambaran petir di Penyulang PDN 4 zone 2 dan data
setting recloser dapat dilihat pada data gangguan tabel 3.1 dan data setting
pada tabel 3.2 recloser K1-95/57A.
38

Tabel 3.1 Data Gangguan Recloser K1-95/57A akibat Sambaran Petir


No Waktu Relai Penyebab
1 01-02-2018 GFR OCR Fasa S, Hujan disertai sambaran petir
IG = 492 A

2 22-02-2018 GFR Fasa T, IG = Hujan disertai sambaran petir


269 A

3 24-02-2018 GFR OCR Fasa T, Hujan disertai sambaran petir


IG = 485 A

(sumber : PT PLN Rayon Pedan)

Tabel 3.2 Data Setting Recloser K1-95/57A

Zone Jarak dari Gardu Induk Kondisi Merk

Normally Close
2 11,20 km COOPER
(NC)

No Relai I > (A) I >> (A) I >>> (A)

1 OCR 300 1500 1500

2 GFR 110 1210 1500

(sumber : PT PLN Area Klaten)

dengan :
I> = HighSet 1
I >> = HighSet 2
I >>> = HighSet 3
39

1. Gambar Recloser K1-95/57A


Recloser ditiang K1-95/57A dapat dilihat pada gambar 3.2.

Gambar 3.2 Recloser Merk Cooper di tiang K1-95/57A


Bagian – bagian recloser pada tiang K1-95/57A adalah :
a. Upper Terminal
Terminal ini merupakan terminal yang terhubung dengan sisi
sumber atau tegangan sisi primer recloser, yang artinya tegangan
yang masuk ke recloser.
b. Lower Terminal
Terminal ini merupakan terminal yang terhubung dengan sisi
beban atau tegangan sisi sekunder recloser, yang artinya tegangan
yang keluar dari recloser.
3.6. Lightning Arrester Polimer Katub 21 kV
Lightning arrester yang digunakan pada penyulang PDN 4 zone 2
seperti gambar 3.3, nameplate arrester 21 kV pada tabel 3.3, dan bagian
bagian arrester pada gambar 3.4.

Gambar 3.3 Lightning Arrester Polimer 21 kV


40

Tabel 3.3 Nameplate arrester 21 kV

HY10W2- PT POWERINDO PRIMA


NAMA PABRIK
21 PRAKASA
Lightning Arrester Type Katub
H Jenis bahan High Polymer
Y Tahanan Non Linear Metal Oxide
10 Arus pelepasan Nominal 10 kA
W Penggunaan Outdoor
2 Class 2
21 Tegangan Pengenal 21 kV
No seri 16006479

Gambar 3.4 Bagian-bagian dalam Arrester

1. Bagian-bagian dalam Lightning Arrester


a. Tahanan MOV (Metal Oxide Varistor)
Metal oxide Varistor (MOV) adalah tahanan semikonduktor yang
memiliki sifat non-linear, yang nilai resistansinya dikontrol berdasarkan
tegangan. Berbahan dasar zinc oxide merupakan jenis yang banyak
dipakai sebagai elemen proteksi surja petir. Pada saat tegangan normal,
resistansi pada MOV cukup besar dan pada saat tegangan pada MOV
41

melebihi minimum clamping voltage, maka akan terjadi penurunan nilai


resistansi yang mengakibatkan arus dapat mengalir.
b. Selubung (Housing)
Selubung arrester yang terbuat dari bahan polimer yang berfungsi
sebagai pelindung pada bagian dalam arrester.
c. Terminal fasa (to power system)
Pada bagian atas arrester terdapat terminal fasa yang dihubungkan
dengan kawat penghantar yang berfungsi untuk menyalurkan arus surja
petir ke bagian arrester.
d. Terminal Pentanahan (to earth)
Pada bagian bawah arrester terdapat terminal pentanahan yang
dihubungkan dengan kawat pentanahan menggunakan kabel stainless
steel bertujuan untuk menyalurkan arus surja petir dari arrester ke tanah
(ground).
2. Penetapan Spesifikasi Arrester
Lightning arrester terdiri dari Elektroda terminal fasa, Housing
Polymer, Tahanan Metal Oxide,dan Elektroda terminal pentanahan. Untuk
sistem distribusi 20 kV ditetapkan spesifikasi arrester menurut SPLN
D5.006:2013 sesuai pada tabel 3.4.
Tabel 3.4 Spesifikasi Arrester Jaringan Distribusi 20 kV
Sistem Pentanahan Titik Netral
No Spesifikasi Satuan
(Solid / effective)
1 Lama arus gangguan detik ≤1
2 Tegangan pengenal (Ur) kV ≥ 21
3 Tegangan operasi kV ≥ 16.8
kontinu (Uc)
4 Tipe isolator Polymer
5 Bahan terminal Stainless Steel
fase/pentanahan
6 Frekuensi Pengenal (Fr) Hz 50
42

Tabel 3.4 Lanjutan Spesifikasi Arrester Jaringan Distribusi 20 kV

Sistem Pentanahan Titik Netral


No Spesifikasi Satuan
(Solid / effective)
7 Tegangan tertinggi kV 24
untuk peralatan (Um)
8 Arus pelepasan nominal kA 10
pengenal (8/20 μs) (In)
9 Kemampuan hubung kA ≥ 20
singkat selubung untuk rms
0,2 detik
10 Tegangan residual kVp < 58
maksimum
11 Tegangan ketahanan kVp ≥ 125
impuls (gelombang
1,2/50 μs)
12 Disconnector Ada

3. Pengujian Tahanan Isolasi Lightning Arrester


Pengujian tahanan isolasi ini bertujuan untuk menentukan baik
buruknya arrester. Tahanan isolasi arrester tidak boleh lebih rendah
dari 1 GΩ. Dengan cara pengukuran dilakukan seperti langkah berikut:
a. Posisikan probe ke BATT CHECK untuk mengecek kondisi baterai
Megger dalam kondisi masih baik atau tidak, dalam pengujian ini
baterai yang digunakan masih dalam keadaan baik (good).
b. Hubungkan jumper hijau ke terminal LINE.
c. Hubungkan jumper merah ke terminal EARTH..
d. Jepitkan jumper hijau ke elektroda atas arrester.
e. Jepitkan jumper merah ke elektroda bawah arrester.
f. Posisikan probe voltage ke 10.000 V
g. Tunggu selama 6 detik untuk mendapatkan nilai pengukuran yang
akurat.
43

Pada arrester 21 kV PT PLN (Persero) Rayon Pedan diuji tahanan


isolasinya, jarum menunjukkan angka 8 GΩ seperti gambar 3.5.

Gambar 3.5 Pengujian Tahanan Isolasi Arrester

3.7. Letak dan Konstruksi Lightning Arrester 21 kV

Penempatan arrester pada jaringan SUTM (Saluran Udara Tegangan


Menengah) dipasangkan pada titik percabangan dan pada ujung ujung saluran
yang panjang, baik saluran utama (Main Feeder) maupun saluran cabang.
Pemasangan arrester pada saluran utama bertujuan untuk melindungi PMT
baik peralatan pengaman lainnya dari gangguan surja petir.

Jarak pemasangan antar arrester yang satu dengan yang lain tidak boleh
melebihi 1000 meter (<= 1 km) dan pada daerah yang berpotensi banyak
gangguan surja petir berjarak tidak boleh melebihi 500 m (<= 0,5 km).
Pemasangan lightning arrester pada tiang saluran distribusi 20 kV PT PLN
(Persero) Rayon Pedan ini menggunakan konstruksi 3CM5-6. Arrester
dipasangkan pada cross arm dengan metal support frame. Teminal atas
arrester dihubungkan dengan penghantar fasa dan terminal bawah arrester
dihubungkan dengan kabel multi strands yang nantinya akan dihubungkan
dengan kawat pentanahan. Dapat dilihat pada gambar 3.6.
44

Gambar 3.6 Pemasangan LA pada Jaringan Distribusi 20 kV

3.8. Cara Pemasangan Lightning Arrester

1. Kawat Penghubung Arrester (Lead Wire)


Kawat penghubung pentanahan lighning arrester menggunakan A3C
dengan luas penampang 35 mm2 dan pada setiap lightning arrester
digabungkan dengan menggunakan CCO (Compression Connector) yang
terhubung dengan kawat pentanahan. Panjang kawat pentanahan adalah ±
12 meter. Terminal atas lighning arrester dihubungkan dengan fasa
tegangan menengah menggunakan kabel A3C dan CCO. Bracket lightning
arrester dipasangkan sejajar garis lurus fasa tegangan menengah 20 kV.
Dapat dilihat pada gambar 3.7.

Gambar 3.7 Sambungan Kawat Penghubung Pentanahan

2. Lokasi Arrester pada Recloser / PBO (Pemutus Balik Otomatis)


Penempatan Arrester pada recloser K1-95/57A ini terdapat pada bagian
Upper terminal. Lightning arrester dihubungkan secara paralel dengan
recloser. Dapat dilihat pada gambar 3.8.
45

Gambar 3.8 Letak Penempatan Arrester pada Recloser

3.7. Faktor yang Mempengaruhi Sistem Pentanahan

Upaya pengamanan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar


tegangan sentuh yang besar tidak berakibat pada yang bersifat merusak
peralatan tenaga listrik maupun membahayakan manusia. Faktor – faktor
yang mempengaruhi adalah dengan data berikut :

1. Tahanan Jenis Tanah


Tahanan jenis tanah (ρ) adalah faktor keseimbangan antara tahanan
pengetanahan dan kapasitansi di sekililing kawat pentanahan. Nilai tahanan
jenis tanah pada kondisi tanah yang berbeda maka juga mempengaruhinya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi tahanan jenis tanah yaitu :
a. Keadaan Struktur Tanah pada zone 2 section 1
Memiliki struktur tanah yang sebagai tempat bercocok tanam / tanah
ladang dan tanah rawa.
b. Unsur Kimia
Pada tiang K1-95/61 terdapat permukiman pembuangan sampah
yang mengandung zat zat kimia.
c. Iklim
Iklim yang berpengaruh pada faktor tahanan jenis tanah adalah iklim
panas dan iklim laut.
d. Temperatur Tanah
Temperatur tanah akan dipengaruhi juga oleh iklim panas maupun
iklim laut. Pada tanggal 19 Mei 2018, suhu terukur 30° C pada daerah
Cawas, Pedan, Klaten
46

2. Elektroda Pentanahan
Elektroda pentanahan yang digunakan oleh PT PLN Rayon Pedan
adalah elektroda batang seperti data pada tabel 3.5.

Tabel 3.5 Spesifikasi Elektroda


Jenis Elektroda Panjang Lebar
Galvanis 2 meter ¾ inci atau 1,905 cm

3. Konstruksi pentanahan Lightning Arrester


Pada saluran udara tegangan menengah menggunakan penghantar
pentanahan (shield wire) BC (Bare Cooper) yang dilindungi pipa PVC atau
menggunakan kabel LVTC dengan luas penampang 1 x 35 mm2 .
Penghantar pentanahan arrester dihubung langsung ke tanah dan
dihubungkan dengan elektroda batang melalui ground clamp. Elektroda
batang yang digunakan adalah jenis galvanis dengan panjang elektroda
batang yang digunakan PT PLN (Persero) Rayon Pedan adalah 2 meter.
Pemasangan penghantar pentanahan bertujuan untuk mengurangi arus
gangguan surja petir. Dapat dilihat pada gambar 3.9.

Gambar 3.9 Konstruksi Pentanahan Lightning Arrester


4. Pengukuran Pentahanan Lightning Arrester pada Recloser 57A dan
setelahnya menggunakan alat pada gambar 3.10 dan 3.11.
47

Gambar 3.10 Earth Clamp Tester

Gambar 3.11 Resistor for Operation

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat earth clamp tester


dengan langkah langkah sebagai berikut :
a. Hidupkan alat dengan menekan tombol POWER.
b. Pada tampilan akan menunjukkan OL.
c. Tekan tombol A/Ω , pilih Ω untuk pengukuran pentanahan.
d. Buka clamp dengan menekan hingga alat tersebut membuka dan
dapat dimasukkan kawat pentanahan , setelah itu tutup kembali alat
tersebut.
e. Maka alat tersebut akan menunjukkan nilai pengukuran dengan
satuan Ω dan tekan tombol HOLD untuk mengunci nilai pengukuran
yang berubah-ubah.
48

f. Kalibrasi dengan alat Resistor for Operation Check dengan nilai 1


Ω dan 10 Ω, saat alat dapat membaca nilai tersebut maka alat dapat
digunakan dengan baik.
g. Setelah mendapat nilai pengukuran, maka tekan clamp untuk
melepaskan kawat pentanahan dari alat .

Data hasil pengukuran nilai pentanahan mengunakan alat clamp


earth tester terdapat pada tabel 3.6.

Tabel 3.6 Hasil Pengukuran Pentanahan LA dengan clamp earth


tester

No Tiang Jenis Tanah Hasil (Ω) Keterangan


K1-95/57A Pasir Liat 2,73 Arrester + Recloser
K1-95/60 Pasir Liat 8,34 Arrester
K1-95/62 Pasir Liat 13,52 Arrester
K1-95/71 Pasir Liat 25,64 Arrester
K1-95/74 Pasir Liat 11,66 Arrester
K1-95/77 Pasir Liat 3,63 Arrester
K1-95/80 Pasir Liat 2,02 Arrester
K1-95/83 Pasir Liat 4,10 Arrester
K1-95/85 Pasir Liat 3,59 Arrester
K1-95/89 Pasir Liat 12,61 Arrester
K1-95/92 Pasir Liat 1,56 Arrester
K1-95/96 Pasir Liat 1,52 Arrester
K1-95/99 Pasir Liat 3,23 Arrester
K1-95/100 Pasir Liat 0,48 Arrester + LBS

dengan :
Pasir Liat = kondisi campuran dari pasir dan tanah liat yang tandus

Data hasil pengukuran nilai pentanahan mengunakan alat earth tester


meter terdapat pada tabel 3.7.
49

Tabel 3.7 Hasil Pengukuran Pentanahan LA dengan earth tester


meter
No Tiang Jenis Tanah Hasil (Ω) Keterangan
K1-95/57A Pasir Liat 0,44 Recloser + Arrester
K1-95/62 Pasir Liat 8,86 Arrester
K1-95/74 Pasir Liat 0,63 Arrester
K1-95/100 Pasir Liat 1,64 LBS + Arrester

dengan :
Pasir Liat = kondisi campuran dari pasir dan tanah liat yang tandus.

Pada tabel 3.7, nilai pentanahan pada peralatan LBS mendapatkan nilai
yang bawah angka 5 Ω yang berarti pentanahan pada peralatan maupun
arrester di titik tersebut dalam kondisi baik. Pada tiang K1-95/62 pada
kondisi keadaan tanah ladang mendapatkan nilai 8,86 Ω yang berarti
melebihi nilai maksimal pentanahan yang ditetapkan.

Kelayakan nilai pentanahan harus mendapatkan nilai maksimal 5 Ω bila


dibawah nilai 5 Ω akan lebih baik. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan peralatan Earth Tester Meter.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Rating Lightning Arrester


Analisis yang akan dibahas adalah tentang nilai rating dari lightning
arrester. Pemilihan rating lightning arrester mengacu pada :
1. Tegangan Operasi Kontinu dan Tegangan Pengenal Arrester 21 kV
Tegangan yang disebut tegangan nominal untuk dapat bekerjanya
lightning arrester dengan dengan karakteristik tegangan 21 kV. Arrester
tidak boleh bekerja melindungi peralatan terhadap gangguan surja petir
pada saat ada gangguan fasa ke tanah di satu tempat dalam sistem. Dalam
pemilihan tegangan pengenal arrester harus menentukan nilai
pentanahan baik secara langsung maupun tidak langsung. PT PLN
(Persero) Rayon Pedan menggunakan metode pentanahan secara
langsung dengan koefisien pentanahannya 0,8 sehingga :
⍺ = 0,8
Um, min = 24 kV

Ur, min = 0,8 x Um, min


Ur, min = 0,8 x 24 kV
Ur, min = 19,2 kV
Menggunakan persamaan 2.1, hasil tegangan pengenal minimum
adalah 19,2 kV. Nilai tegangan pengenal ini digunakan untuk
menghadapi temporary overvoltage. Nilai tegangan pengenal dapat
diperoleh dari hasil perkalian antara nilai tegangan operasi kontinu (Uc)
dengan faktor kesalahan pentanahan adalah 1,25. Pada dasarnya, relasi
antara Ur dan Uc ditunjukkan oleh persamaan 2.2.
dengan :
Ur = Ur,min dibulatkan ke nilai selanjutnya yang dapat dibagi 3 = 21 kV
1,25 = faktor kesalahan pentanahan

Ur
Uc = 1,25
21kV
Uc = 1,25

50
51

Uc = 16,8 kV
Perhitungan dari persamaan 2.2, diperoleh tegangan operasi kontinu
sebesar 16,8 kV. Nilai dari tegangan ini dipengaruhi oleh nilai tegangan
pengenal dan koefisien nilai pentanahan pada jaringan tersebut. Dari
perhitungan dengan menggunakan persamaan 2.1, maka ditentukan
tegangan pengenal arrester adalah 21 kV karena dibulatkan ke nilai
selanjutnya yang dapat dibagi 3.
2. Tegangan Residual Arrester 21 kV
Tegangan yang ditimbulkan pada saat terminal arrester melepaskan
arus pelepasan mengalir ke ground. Menggunakan standar IEC, impuls
arus sebesar 8/20 μs dengan nilai puncak arus pelepasan 10 kA. Pada
datasheet lightning arrester 21 kV menggunakan nilai tegangan kerja
sebesar 58 kV. Tegangan kerja tidak boleh melebihi BIL dari peralatan
yang dilindungi walaupun arus pelepasan maksimum mencapai 65 – 100
kA.
3. Penentuan Impedansi Kawat Surja
Pada jaringan distribusi 20 kV, nilai impedansi diperoleh pada saat
terjadi surja petir. Kawat pentanahan yang digunakan adalah jenis AAAC
(A3C) atau LVTC dengan luas penampang 1 x 35 mm2. Kawat
pentanahan ini memiliki panjang 11 m dari atas permukaan tanah dan
diameter 11 mm, maka jari – jarinya (r) adalah 5,5 mm = 0,0055 m.
Dengan demikian menggunakan persamaan 2.3 dapat dihitung nilai
impedansi kawat surja seperti berikut.
dengan :
h = 11 m
r = 0,0055 m

2h
Zs = 60 ln r
2 x 11
Zs = 60 ln 0,0055

Zs = 60 ln(8,294) = 497,64 Ω
52

Maka nilai impedansi surja adalah 497,64 Ω. Dalam hal ini, nilai
impedansi surja dipengaruhi oleh panjang konduktor pentanahan dan
diameter konduktor yang digunakan.
4. Penentuan Arus Pelepasan Nominal (Nominal Discharge Current)
Isolator yang digunakan pada zone 2 section 1 menggunakan isolator
jenis pin yang memiliki tegangan lompat api impuls 125 kV per buah pin
isolator yang ada di jaringan distribusi 20 kV. Setiap tiang SUTM 20 kV
memiliki 3 buah pin isolator, maka tegangan lompat api impuls atau TID
saluran adalah 3 x 125 kV.
Maka harga tegangan surja yang datang dapat dicari mengunakan
persamaan 2.4.
TID saluran = 3 x125 kV = 375 kV
E = 1,2 x TID saluran
E = 1,2 x 375 kV
E = 450 kV
Arus pelepasan nominal lightning arrester digunakan untuk
menentukan kelas dari lightning arrester dengan tegangan residual 58
kV, dapat menggunakan persamaan 2.5.
dengan :
E = 450 kV
Ea = 58 kV
Z = 497,64 Ω

2E−Ea
I⍺ = Z
2 x 450−58
I⍺ = 497,64

I⍺ = 1,69 kA
Dari hasil perhitungan menggunakan persamaan 2.5, arus pelepasan
nominal adalah 1,69 kA. Nilai tersebut layak dalam penggunaan arus
puncak pelepasan nominal sebesar 10 kA.
5. Arus Pelepasan Maksimum (Maximum Discharge Current)
Arus pelepasan maksimum adalah arus maksimum yang dapat
mengalir melalui penangkal petir setelah melewati sela seri tanpa
53

merusak atau merubah karakteristik dari lightning arrester tersebut. Pada


datasheet arus pelepasan maksimum adalah sebesar 100 kA.
6. Penentuan Faktor Perlindungan
Faktor ini adalah besar dari perbedaan tegangan antara BIL dari
peralatan yang dilindungi dengan tegangan kerja arrester. Faktor
perlindungan (FP) yang baik tidak boleh < 20 %. Dengan menggunakan
persamaan 2.6 maka dapat dirumuskan sebagai berikut.
dengan :
Ea = 58 kV

TP = Ea x 1,1
TP = 58 kV x 1,1
TP = 63,8 kV
Tingkat perlindungan (TP) memiliki nilai 63,8 kV yang mana akan
digunakan untuk mencari nilai FP dan nilai TID trafo adalah 125 kV
dengan melihat pada datasheet dengan persamaan 2.7.
dengan :
TID trafo = 125 kV
TP = 63,8 kV

TID trafo−TP
FP = x 100%
TID trafo
125−63,8
FP = x 100% = 48,96 %
125

Nilai faktor perlindungan yang diperoleh adalah 48,96 %. Hasil


tersebut bernilai baik karena dapat melebihi 20 % ( > 20 %).
7. Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester 21 kV
Tahanan isolasi mempengaruhi dari kinerja lightning arrester.
Tahanan isolasi akan berkurang pada saat lightning arrester tersebut
bekerja terus-menerus meneruskan surja petir ke tanah. Nilai tahanan
isolasi lightning arrester tidak boleh lebih rendah dari 1 GΩ. Jika pada
nilai dibawah 1 GΩ dipakai, maka akan mengakibatkan kerusakan pada
lightning arrester tersebut. Pada pengukuran lightning arrester yang
terukur bernilai sebesar 8 GΩ, dapat dilihat pada gambar 4.1 dan
pedoman pemeliharaan tahanan lightning arrester pada tabel 4.1.
54

Tabel 4.1 Pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester 21 kV


Nilai
Tahanan Kondisi Perbaikan
Isolasi
> 1 GΩ Kondisi Baik -
1. Lakukan pembersihan bagian
arrester, lalu lakukan
Terjadi
pengukuran ulang
< 1 GΩ Penurunan
2. Bila hasilnya tetap < 1 GΩ,
tingkat isolasi
maka disarankan untuk
pergantian arrester

Gambar 4.1 Pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester 21 kV

4.2. Perbaikan Sistem Pentanahan pada Daerah Zone 2 Section 1


1. Pengaruh Tahanan Jenis Tanah
Pada Penyulang PDN 4 Zone 2 adalah permukiman yang padat
daerah persawahan. Jaringan SUTM 20 kV melintang diatas persawahan
dengan letak tiang pada daerah persawahan. Kawat pentanahan arrester
menggunakan jenis A3C yang dilapisi PVC atau kabel LVTC yang
dimasukkan ke dalam tiang kemudian dibumikan. Tahanan jenis tanah
adalah faktor keseimbangan antara tahanan dan kapasitansi yang di
55

sekeliling kawat pentanahan. Nilai tahanan jenis tanah dapat dipengaruhi


oleh beberapa kondisi seperti berikut :
a. Pengaruh Keadaan Struktur Tanah
Dalam keadaan struktur tanah yang komposisi tanahnya tidak
homogen pada lapisan tertentu terdapat dua atau lebih jenis tanah dan
memiliki tahanan jenis tanah yang bervariasi menyebabkan nilai pada
pengukuran tidak tetap. Untuk memperoleh nilai jenis tahanan
dengan cara pengukuran langsung pada daerah PDN-4 zone 2 section
1 dengan memperbanyak titik pengukuran.
b. Pengaruh Unsur Kimia
Pada nomor tiang K1-95/62 terdapat permukiman sampah yang
memiliki kandungan zat-zat kimia. Pada saat musim hujan yang
intensitasnya tinggi, maka kandungan unsur garam pada tanah itu
akan terlarut oleh zat kimia akibat adanya permukiman sampah.
Guna untuk memperoleh pentanahan yang efektif yaitu dengan
cara menanamkan elektroda batang pada kedalaman yang lebih
dalam dengan kondisi tanah yang mengandung unsur garam. Untuk
mendapatkan tahanan jenis yang lebih rendah, dapat mengubah
komposisi kimia tanah dengan memberikan garam pada tanah
disekitar elektroda pentanahan yang ditanamkan secara periodik
kurang lebih 6 bulan sekali.
c. Pengaruh Iklim
Pada pengaruh iklim mengakibatkan bervariasinya tahanan jenis
tanah. Hal yang dapat dilakukan dengan menanamkan elektroda
pentanahan mencapai kedalaman yang dimana kodisi air tanahnya
konstan. Pada Zone 2 section 1 adalah daerah persawahan yang mana
akan terjadi 2 iklim yaitu iklim panas dan iklim laut. Pada saat musim
penghujan, maka kondisi air bervolume besar menyebabkan jenis
tahanan akan bernilai rendah dan sebaliknya, pada saat musim
kemarau akan terjadi kekeringan pada daerah persawahan yang
mengakibatkan kondisi air tidak stabil menyebabkan tahanan jenis
akan bernilai besar.
56

d. Pengaruh Temperatur Tanah


Temperatur tanah akan berpengaruh terhadap resistivitas pada
sekitar elektroda pentanahan akan mempengaruhi nilai tahanan
tanah. Kenaikan nilai tahanan tanah dalam koefisien temperatur
resistivitas tanah diakibatkan penurunan temperatur dibawah titik
beku air dengan suhu 0°C. Pada tanggal 9 Mei 2018, temperatur pada
daerah Cawas 30°C.
2. Elektroda Pentanahan
Elektroda pentanahan adalah alat yang ditanamkan dan digunakan
untuk menghantarkan aliran arus ke tanah dengan melalui kawat
pentanahan. Elektroda yang digunakan pada PT PLN (Persero) Rayon
Pedan menggunakan elektroda batang. Elektroda batang ini terbuat dari
pipa besi atau batang logam (galvanis) yang memiliki panjang 2 m dan
diameternya ¾ inci atau 1,905 cm seperti pada gambar 4.2.
a. Elektroda Batang

Gambar 4.2 Elektroda Batang


Untuk menentukan pengaruh besar kecilnya tahanan pentanahan
dengan satu buah elektroda batang digunakan persamaan 2.8.
𝜌 4𝐿
Rbt = (ln − 1)
2𝜋𝐿 𝑑

Dengan kondisi tanah ladang, ρ = 100 Ω


100 4x2
R = (ln 0,01905 − 1)
2 x 3,14 x 2
8
R = 7, 96 (ln 0,01905 − 1)

R = 7, 96 (6, 0401 − 1)
R = 40, 1194 Ω
57

Menggunakan persamaan 2.8 didapatkan nilai tahanan


pentanahan elektroda batang sebesar 40, 1194 Ω dengan kondisi
tanah ladang. Pada nilai tersebut (R > 5 Ω) belum memenuhi syarat
yang telah ditentukan yaitu maksimal 5 Ω.
Pada kondisi tanah ladang dapat menggunakan sistem paralel,
dengan nilai pentanahannya adalah 40, 1194 Ω.
R1 = R2 = R3 = R4 = R5 = R6 = R7 = R8 = 40, 1194 Ω
1 1 1 R1 x R2
i. = + atau Rtot1 =
Rtot1 R1 R2 R1+R2
40,1194 Ω x 40,1194 Ω
Rtot1 = 40,1194 Ω+40,1194 Ω
1609,56 Ω
Rtot1 = 80,2388 Ω

Rtot1 = 20,06 Ω

1 1 1 Rtot1 x R3
ii. = + atau Rtot2 =
Rtot2 Rtot1 R3 Rtot1+R3
20,06 Ω x 40,1194 Ω
Rtot2 = 20,06 Ω+40,1194 Ω
804,795Ω
Rtot2 = 60,179 Ω

Rtot2 = 13,37 Ω

1 1 1 Rtot2 x R4
iii. = + atau Rtot3 =
Rtot3 Rtot2 R4 Rtot2+R4
13,37 Ω x 40,1194 Ω
Rtot3 = 13,37 Ω+40,1194 Ω
536,396 Ω
Rtot3 = 53,4894 Ω

Rtot3 = 10,02 Ω

1 1 1 Rtot3 x R5
iv. = + atau Rtot4 =
Rtot4 Rtot3 R5 Rtot3+R5
10,02Ω x 40,1194 Ω
Rtot4 = 10,02 Ω+40,1194 Ω
400,99 Ω
Rtot4 = 50,139 Ω

Rtot4 = 7,98 Ω
58

1 1 1 Rtot4 x R6
v. = + atau Rtot5 =
Rtot5 Rtot4 R6 Rtot 4+R6
7,98 Ω x 40,1194 Ω
Rtot5 = 7,98 Ω+40,1194 Ω
320,15 Ω
Rtot5 = 48,09 Ω

Rtot5 = 6,65 Ω

1 1 1 Rtot5 x R7
vi. = + atau Rtot6 =
Rtot6 Rtot5 R7 Rtot5+R7
6,65Ω x 40,1194 Ω
Rtot6 = 6,65 Ω+40,1194 Ω
266,79
Rtot6 = 46,77

Rtot6 = 5,70 Ω

1 1 1 Rtot6 x R8
vii. = + atau Rtot7 =
Rtot7 Rtot6 R8 Rtot6+R8

5,70Ω x 40,1194 Ω
Rtot7 = 5,70 Ω+40,1194 Ω

228,68
Rtot7 = 45,81

Rtot7 = 4,991 Ω

Dari perhitungan yang diperoleh, maka dapat dibuat grafik

seperti tabel grafik 4.2.

Grafik 4.2 Nilai Perhitungan Paralel Grounding

Nilai Paralel Elektroda Batang


45 40.1194
40
35
30
25 20.06
20
13.37
15 10.02
7.98 6.65
10 5.7 4.99
5
0
R1 Rtot1 Rtot2 Rtot3 Rtot4 Rtot5 Rtot6 Rtot7
59

Hasil dari 8 buah elektroda batang yang diparalelkan adalah 4,99


Ω. Pada menggunakan elektroda batang dengan kondisi struktur
tanah dan jenis elektroda yang digunakan, sebaiknya menggunakan
elektroda yang lebih panjang agar lebih efisien.

Pada hasil pengukuran pentanahan lightning arrester terdapat 5


nilai pentanahan yang kurang baik (R > 5) pada tiang K1-95/60, K1-
95/62, K1-95/71, K1-95/74, dan K1-95/89.
Pada tiang K1-95/60 telah diukur nilai pentanahannya sebesar
8,34 Ω pada kondisi tanah ladang. Dapat dicari nilai tahanan jenis
tanahnya dengan menggunakan persamaan 2.8.
dengan :
Rbt ukur = 8,34 Ω
L=2m
d = 0,01905 m

ρ 4L
Rbt = 2πL (ln − 1)
d
Rbt x 2 πL
ρ= 4L
(ln −1)
d

8,34 x 2x3,14x2
ρ= 4x 2
(ln −1)
0,01905

104,7504
ρ= 5,04

ρ = 20,7 Ωm

Nilai tahanan jenis tanah didapatkan dari persamaan 2.8 sebesar


20,7 Ωm. Nilai tahanan jenis tanah menjadi faktor utama pada nilai
pentanahan karena memiliki sifat berbanding lurus dengan nilai
tahanan jenis tanah.
Nilai 8,34 Ω melebihi standar nilai yang ditetapkan oleh SPLN.
Untuk mendapatkan nilai pentanahan maksimal 5 Ω, dapat
mempergunakan cara memparalelkan elektroda batang dengan
panjang 2 m dan lebar 0,01905 m. Menggunakan persamaan 2.11.
dengan :
60

R1 = 8,34 Ω
R2 = 8,34 Ω
dapat dihitung :
1 1 1 1
= + + ⋯+
Rtot R1 R2 Rn
R1 x R2
Rtot = R1+R2
8,34 x 8,34
Rtot = 8,34+8,34
64,5516
Rtot = 16,68

Rtot = 3,87 Ω
Nilai pentanahan paralel elektroda batang pada tiang K1-95/60
sebesar 3,87 Ω. Nilai tersebut didapatkan dengan memparalelkan
satu elektroda batang baru dengan memiliki pentanahan sebesar 8,34
Ω. Hasil perhitungan nilai pentanahan dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Nilai Pentanahan Elektroda Paralel


Rbt
ρ L d Jumlah Rbt tot
No Tiang ukur
(Ω.m) (m) (m) paralel (Ω)
(Ω)
K1-95/60 8,34 20,70 2 0,01905 1 3,87
K1-95/62 13,52 41,74 2 0,01905 2 4,44
K1-95/71 25,64 63,59 2 0,01905 5 4,26
K1-95/74 11,66 29,04 2 0,01905 2 3,88
K1-95/89 12,61 31,42 2 0,01905 2 4,20

Pada nomor tiang k1-95/71 memiliki nilai tahanan jenis tanah


yang besar yaitu 63,59 Ω.m. Nilai tersebut mempengaruhi banyak
jumlah elektroda yang akan dihubungkan paralel dengan elektroda
sebelumnya. Jumlah elektroda yang digunakan mencapai 5 elektroda
batang, hingga mendapat nilai 4,26 Ω (R < 5 Ω).
Nilai tahanan jenis tanah pada daerah pentanahan dan panjang
elektroda sangat mempengaruhi nilai tahanan pentanahan, karena
pada saat kondisi tanah semakin kering maka nilai tahanan jenis
61

tanah akan semakin besar. Pada panjang elektroda, semakin panjang


elektroda akan membuat nilai tahanan pentanahan akan semakin
kecil.
b. Elektroda Pita
Elektroda pita ini juga bisa sebagai pengganti elektroda batang
pada tahanan jenis tanah ladang ataupun tanah pasir basah.
Asumsikan nilai panjang elektroda pita adalah 5 m dan diameter 3
mm.
Pada persamaan 2.9 nilai tahanan pentanahan untuk elektroda pita
dapat dihitung seperti berikut.
dengan :
ρ = 100 Ω.m
L=5m
d = 3 mm = 0,003 m

ρ 2L
Rpt = (ln d )
πL
100 2.5
Rpt = (ln 0,003)
3,14.5

Rpt = 6,37 (8,11)


Rpt = 51,66 Ω
Nilai yang didapatkan adalah 51,66 Ω dari persamaan diatas.
Pada kondisi tanah ladang dengan menggunakan elektroda pita,
sistem paralel grounding sebaiknya digunakan untuk memperkecil
nilai tahanan pentanahan dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut.
dengan :
Rpt1 = 51,66 Ω
Rpt2 = 51,66 Ω
1 1 1 Rpt1 x Rpt2
= + atau Rtot1 =
Rtot1 Rpt1 Rpt2 Rpt1+Rpt2
51,66 x 51,66
Rtot1 = 51,66 +51,66
2668,75
Rtot1 = 103,32

Rtot1 = 25,83 Ω
62

Hasil paralel grounding kedua elektroda pita adalah 25,83 Ω. Nilai


tersebut belum mencapai ketentuannya, maka harus diparalelkan
dengan elektroda pita yang lainnya. Sebaiknya dilakukan dengan
elektroda pita yang lainnya seperti berikut
dengan :
Rtot1 = 25,83 Ω
Rpt3 = 51,66 Ω

1 1 1 Rtot1 x Rpt3
= + atau Rtot2 =
Rtot2 Rtot1 Rpt3 Rtot1+Rpt3
25,83 𝑥 51,66
Rtot2 = 25,66+51,66
1334,37
Rtot2 = 77,49

Rtot2 = 17,21 Ω

Hasil dari ketiga elektroda pita yang diparalelkan adalah 17,21 Ω


. Nilai ketiga elektroda pita dengan menggunakan sistem paralel
grounding belum cukup untuk memenuhi ketentuannya. Untuk
menenuhi ketentuan nilai pentanahan, maka dilakukan paralel
dengan elektroda lainnya seperti berikut :
dengan :
Rtot2 = 17,21Ω
Rpt4 = 51,66Ω
1 1 1 Rtot2 x Rpt4
= + atau Rtot3 =
Rtot3 Rtot2 Rpt4 Rtot2+Rpt4
17,21 x 51,66
Rtot3 = 17,21+51,66
889,06
Rtot3 = 68,87

Rtot3 = 12,90 Ω
Hasil dari keempat elektroda pita yang diparalelkan adalah 12,90
Ω. Nilai dari metode paralel grounding, semakin banyak yang
diparalelkan akan semakin kecil nilai tahanan pentanahan yang
didapatkan. Nilai ini sebaiknya dilakukan paralel dengan elektroda
lainnya, untuk memperkecil nilai tahanan pentanahan dengan cara
seperti berikut.
63

dengan :
Rtot3 = 12,90 Ω
Rpt5 = 51,66 Ω

1 1 1 Rtot3 x Rpt5
= + atau Rtot4 =
Rtot4 Rtot3 Rpt5 Rtot3+Rpt5
12,90x 51,66
Rtot4 = 12,90+51,66
666,41
Rtot4 = 64,56

Rtot4 = 10,32 Ω

Hasil dari kelima elektroda pita yang diparalelkan adalah 10,32


Ω. Penggunaan sistem ini, dapat memperkecil nilai tahanan
pentanahan secara drastis disetiap paralel elektrodanya. Dapat
dilakukan paralel dengan elektroda lainnya dengan perhitungan
seperti berikut.
dengan :
Rtot4 = 10,32Ω
Rpt5 = 51,66 Ω

1 1 1 Rtot4 x Rpt6
= + atau Rtot5 =
Rtot5 Rtot4 Rpt6 Rtot4+Rpt6
10,32x 51,66
Rtot5 = 10,32+51,66
533,12
Rtot5 = 113,64

Rtot5 = 4,69Ω

Hasil pada keenam elektroda pita dengan menggunakan sistem


paralel grounding adalah 4,69 Ω. Sistem paralel grounding ini
digunakan pada jenis tanah yang memiliki tahanan tanah yang tinggi.
Tujuan sistem ini adalah mendapatkan nilai tahanan pentanahan yang
baik (R < 5 Ω) agar arus gangguan surja petir dapat dibumikan tanpa
terjadi flashover karena pentanahan yang kurang baik.
64

c. Elektroda Plat
Elektroda plat dapat digunakan selain elektroda pita dan batang.
Elektorda plat ini ditanamkan secara vertikal. Untuk menghitung
nilai tahanan pentanahan elektroda plat ini digunakan persamaan
2.10.
dengan :
ρ = 100 Ω.m
L=2m
b = 0,5 m
t =1m

ρ b
Rpl1 = (1 + 1,84 t )
4,1L
100 0,5
Rpl1 = (1 + 1,84 )
4,1.2 1

Rpl1 = 12,195 (1,92)


Rpl1 = 23,41 Ω

Hasil perhitungan menggunakan persaman 2.8 sebesar 23,41 Ω.


Nilai tahanan pentanahan dengan menggunakan elektroda belum
memenuhi ketentuan (5 < Ω). Sebaiknya, perlu menggunakan sistem
paralel grounding elektroda plat. Bertujuan untuk memperkecil nilai
tahanan pentanahan. Cara memperkecil dengan menggunakan
persamaan berikut.
dengan :
Rpl1 = 23,41 Ω
Rpl1 = 23,41 Ω

1 1 1 Rpl1 x Rpl2
= + atau Rtot1 =
Rtot1 Rpl1 Rpl2 Rpl1+Rpl2
Rpl1 x Rpl2
Rtot1 = Rpl1+Rpl2
23,41 x 23,41
Rtot1 = 23,41+23,41
548,02
Rtot1 = 46,82

Rtot1 = 11,70 Ω
65

Hasil dari perhitungan paralel grounding sebesar 11,70 Ω.


Penggunaan dua buah elektroda plat yang di paralelkan dapat
memperkecil hasil tahanan pentanahan. Sebaiknya, dilakukan
penambahan elektroda guna untuk diparalelkan seperti persamaan
berikut ini.
dengan :
Rtot1 = 11,70 Ω
Rpl3 = 23,41 Ω

1 1 1 Rtot1 x Rpl3
= + atau Rtot2 =
Rtot2 Rtot1 Rpl3 Rtot1+Rpl3
Rtot1 x Rpl3
Rtot2 = Rtot1+Rpl3
11,70 x 23,41
Rtot2 = 11,70+23,41
273,89
Rtot2 = 35,11

Rtot2 = 7,80 Ω

Hasil dari perhitungan ketiga paralel grounding sebesar 7,80 Ω,


yang berarti untuk tiga buah elektroda dengan ukuran 2 m x 0,5 m ini
bisa mencapai nilai tahanan sebesar 7,80 Ω. Untuk memperoleh nilai
dibawah 5 Ω, maka sebaiknya dilakukan paralel elektroda plat yang
lain, seperti persamaan berikut :
dengan :
Rtot2 = 7,80 Ω
Rpl4 = 23,41 Ω

1 1 1 Rtot2 x Rpl4
= + atau Rtot3 =
Rtot3 Rtot2 Rpl4 Rtot2+Rpl4
Rtot2 x Rpl4
Rtot3 = Rtot2+Rpl4
7,80 x 23,41
Rtot3 = 7,80+23,41

Rtot3 = 5,85 Ω
66

Hasil dari perhitungan keempat elektroda plat yang diparalelkan


sebesar 5,85 Ω. Nilai ini mendekati nilai ketentuan (R < 5 Ω). Untuk
memperoleh nilai tahanan pentanahan yang dibawah 5 Ω dapat
dilakukan paralel elektroda pita yang lainnya, seperti persamaan
berikut.
dengan :
Rtot3 = 5,85 Ω
Rpl5 = 23,41 Ω

1 1 1 Rtot3 x Rpl5
= + atau Rtot4 =
Rtot4 Rtot3 Rpl5 Rtot3+Rpl5
Rtot3 x Rpl5
Rtot4 = Rtot3+Rpl5
5,85 x 23,41
Rtot4 = 5,85+23,41

Rtot4 = 4,68 Ω

Hasil dari perhitungan kelima elektroda plat yang diparalelkan


sebesar 4,68 Ω. Nilai ini sudah memenuhi dari kententuan nilai
tahanan pentanahan. Pada penggunaan elektroda plat, dengan jenis
tanah ladang (ρ =100 Ω.m) memiliki luas 2 m x 0,5 m, ditanamkan
secara vertikal dengan kedalaman 1 m, dan menggunakan sistem
paralel grounding 5 buah elektroda plat, dapat memperoleh nilai
tahanan pentanahan 4,68 Ω. Hal ini dipengaruhi oleh tahanan jenis
tanah dan panjang dari elektroda plat yang digunakan.

Penggunaan elektroda pentanahan sangat dipengaruhi oleh nilai


tahanan jenis tanah dan panjang maupun luas dari elektroda pentanahan itu
sendiri. Semakin besar nilai tahanan pentanahan, semakin banyak juga
elektroda pentanahan yang digunakan pada sistem paralel grounding.
Bertujuan untuk mendapatkan nilai tahanan pentanahan yang maksimal 5
Ω seperti tabel grafik 4.4.
67

4.4 Grafik Nilai elektroda Pentanahan Secara Paralel

KURVA NILAI PARALEL ELEKTRODA PENTANAHAN


60
51.66
50
NILAI TAHANAN PENTANAHAN (Ω)

40.1194
40

30 25.83
23.41
20.06
20 17.21
13.37 12.9
11.7 10.02 10.32
10 7.8 7.98 6.65
5.85 4.69 5.7 4.99
4.68

0
R1 Rtot1 Rtot2 Rtot3 Rtot4 Rtot5 Rtot6 Rtot7
PLAT PITA BATANG

Pada ρ = 100 Ω-m, usulan untuk penggunaan elektroda batang dengan


panjang 2 m , maka diperlukan 8 buah elektroda untuk mendapatkan nilai
dibawah 5 Ω. Jika menggunakan elektroda pita, maka elektroda yang akan
diparalelkan 6 buah agar mendapatkan nilai dibawah 5 Ω. Penggunaan
elektroda plat memerlukan 5 buah elektroda plat yang diparalelkan untuk
mencapai nilai 4,68 Ω. Hal ini karena, luas dari elektroda plat sendiri lebih
besar ukurannya.

3. Penentuan Besar Penampang Konduktor Pentanahan


Dalam pemasangan konduktor pentanahan dimana penghantar yang
digunakan jenis AAAC dan LVTC, dengan luas penampang 35 mm2.
Sedangkan dalam Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000)
ditetapkan dalam pemasangan penghantar pentanahan digunakan jenis
penghantar BC dengan luas penampang minimal 50 mm2. Karena
penggunaan jenis penghantar yang berbeda harus diperhitungkan berapa
luas penampang AAAC untuk mengganti penghantar BC dengan luas 50
mm2. Dalam menentukan luas penghantar dapat dilakukan dengan
68

perbandingan dari KHA penghantar yang disyaratkan. KHA penghantar


BC dengan luas penampang 50 mm2 adalah 250 A.
Dari KHA tersebut dapat digunakan untuk menentukan luas
penampang, jika mengunakan kawat AAAC dengan melihat tabel kawat
AAAC. Pada tabel AAAC untuk mencari KHA 250 A dapat
menggunakan kawat AAAC dengan luas penampang 95 mm2 dengan
KHA 320 A.
Konduktor pentanahan atau penghantar pentanahan harus memiliki :
a. Tahan terhadap peleburan dari kerusakan sambungan kawat,
karena terkena efek dari arus gangguan dalam waktu yang lama
membuat penghantar memanas dan mudah mengurai maupun
putus.
b. Luas penampang yang disyaratkan agar arus yang mengalir sesuai
dengan KHA.
c. Tahan terhadap korosi.
4. Estimasi Biaya Penambahan Sistem Paralel Grounding
Berikut adalah tabel 4.5 daftar bahan dan peralatan untuk
pemasangan grounding.
Tabel 4.5 Estimasi Biaya Penambahan Grounding

Harga
No Spesifikasi Harga Total
Jumlah Satuan satuan
. Produk
(Rp) (Rp)
1. Ground Wire Cu 24 m 43.008,00 1.032.192,00
50 mm²

2. Ground Rod 2 m x 12 buah 180.096,00 2.161.152,00


¾” Galvanis

3. Pipa Pralon 2,5" 1 buah 27.700,00 27.700,00

4. Ground Clamp 12 buah 4.685,00 56.220,00

Total (Rp) 3.277.264,00


69

4.3. Cara Kerja Recloser K1-95/57A


Pada saat terjadi surja petir pada jaringan distribusi, maka lightning
arrester akan berfungsi meneruskan (divert) arus gangguan surja petir ke
dalam tanah secara cepat. Jika lightning arrester gagal bekerja, maka
frekuensi arus sistem akan mengikuti arus gangguan surja petir yang
menyebabkan kerusakan pada sistem. Recloser pada tiang K1-95/57A
sebagai alat pengaman zone 2 pada penyulang PDN-4 sebagai alat pemutus
aliran listrik jika terjadi gangguan seperti surja petir di zone 2.
Pada data gangguan yang diperoleh, tiga data penyebab recloser pada
tiang K1-95/57A trip adalah pada saat hujan deras disertai petir dan arus
gangguan terdeteksi oleh relay diatas nilai pengaturannya. Sambaran petir
pada zone 2 membuat adanya arus gangguan surja petir yang tidak bisa di
teruskan ke tanah oleh lightning arrester. Pada hal ini, relay pada recloser
akan bekerja dengan indikasi :
1. Relay GFR
Relay GFR (Ground Fault Relay) mendeteksi adanya arus sistem
yang mengalir ke tanah (ground). Dapat disebabkan oleh arus surja petir
karena pada saat terjadi sambaran petir di konduktor fasa, terdapat
lightning arrester yang dapat meneruskan ke tanah, tetapi pentanahan
pada tiang tersebut kurang baik. Terjadinya loncatan bunga api yang
diakibatkan kurang baiknya penghantar pentanahan dan grounding yang
kurang baik. Loncatan bunga api ini hanya pada 1 fasa (semisal fasa T),
terjadi lonjakan arus pada sistem yang mengikuti arus gangguan surja
petir ke tanah. Maka, relay GFR mendeteksi adanya arus sistem yang
tidak normal ke tanah.
Pada recloser K1-95/57A memiliki nilai setting relay GFR dengan
arus sebesar 110 A (HighSet 1), 1210 A (HighSet 2),dan 1500 A
(HighSet 3). Minimal untuk membuat recloser ini bekerja nilai arus
gangguan harus melebihi nilai setting-nya pada HighSet 1.
2. Relay OCR
Relay OCR (Over Current Relay) mendeteksi adanya arus hubung
singkat antar fasa yang melebihi nilai arus setting. Pada saat sambaran
70

surja petir di jaringan distribusi, dengan menggunakan lightning


arrester yang memiliki arus pelepasan maksimum 100 kA, jika terjadi
arus gangguan surja petir diatas nilai arus pelepasan maksimum 100 kA,
maka di antar fasa akan terjadi loncatan bunga api yang menyebabkan
gangguan hubung singkat antar fasa.
Nilai setting relay OCR pada recloser K1-95/57A adalah sebesar
300 A (Highset 1) dan untuk 1500 A (Highset 2). Bahwa dengan nilai
setting tersebut, pada saat arus gangguan karena loncatan bunga api
melebihi nilai dari 300 A maka, recloser akan bekerja / membuka.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dan analisis tentang pemilihan rating


lightning arrester dan perbaikan nilai pentanahan menggunakan sistem paralel
grounding pada penyulang PDN 4 zone 2, guna untuk meminimalisir arus lebih
karena gangguan sambaran petir yang berdampak pada Recloser tiang K1-
95/57A, dapat menyimpulkan bahwa :
1. Pemilihan lightning arrester sesuai perhitungan adalah menggunakan
lightning arrester dengan tegangan pengenal 21 kV dengan arus pelepasan
nominal 10 kA.
2. Pemasangan kawat penghubung arrester dengan menggunakan
penampang kabel berdiameter 10 mm2 dan panjang 200-250 mm atau
sesuai dengan panjang antar arrester.
3. Dari spesifikasi tegangan pengenal lightning arrester 21 kV didapat nilai-
nilai sebagai berikut :
a. Tegangan kerja = 58 kV
b. Tegangan operasi kontinu = 16,8 kV
c. Arus pelepasan nominal = 1,69 kA
d. Arus pelepasan maksimum = 100 kA
e. Faktor perlindungan = 48,96 %
4. Dari analisis penelitian nilai pentanahan yang kurang baik (R > 5 Ω) pada
5 titik, dilakukan perbaikan dengan sistem paralel grounding dengan hasil:
a. Pada tiang K1-95/60 memiliki nilai pentanahan terukur sebesar 8,34
Ω, dibutuhkan 1 tambahan elektroda batang yang diparalelkan agar
mendapatkan nilai pentanahan sebesar 3,87 Ω (R < 5 Ω).
b. Pada tiang K1-95/62, memiliki nilai pentanahan terukur sebesar 13,52
Ω, dibutuhkan 2 tambahan elektroda batang yang diparalelkan agar
mendapatkan nilai pentanahan sebesar 4,44 Ω (R < 5 Ω).

71
72

c. Pada tiang K1-95/71, memiliki nilai pentanahan terukur sebesar 25,64


Ω, dibutuhkan 5 tambahan elektroda batang yang diparalelkan agar
mendapatkan nilai pentanahan sebesar 4,26 Ω (R < 5 Ω).
d. Pada tiang K1-95/74, memiliki nilai pentanahan terukur sebesar 11,66
Ω, dibutuhkan 2 tambahan elektroda batang yang diparalelkan agar
mendapatkan nilai pentanahan sebesar 3,88 Ω (R < 5 Ω) .
e. Pada tiang K1-95/89, memiliki nilai pentanahan terukur sebesar 12,61
Ω, dibutuhkan 2 tambahan elektroda batang yang diparalelkan agar
mendapatkan nilai pentanahan sebesar 4,20 Ω (R < 5 Ω).
5. Pada nilai tahanan jenis tanah (ρ) sebesar 100 Ω.m, menggunakan sistem
paralel grounding :
a. Penggunaan elektroda batang membutuhkan 7 tambahan elektroda
batang agar dapat nilai pentanahan sebesar 4,99 Ω.
b. Penggunaan elektroda pita membutuhkan 5 tambahan elektroda pita
agar mendapatkan nilai pentanahan sebesar 4,69 Ω.
c. Penggunaan elektroda plat membutuhkan 4 tambahan elektroda plat
agar mendapatkan nilai pentanahan sebesar 4,68 Ω.
6. Penggunaan penampang konduktor pentanahan dapat menggunakan
penghantar BC minimal luas penampang 50 mm2 atau penghantar AAAC
dengan minimal luas penampang 95 mm2.
7. Dilakukannya analisa pemilihan lighning arrester dan perbaikan sistem
pentanahan pada penyulang PDN 4 zone 2 ini, bertujuan untuk mengurangi
gangguan arus lebih akibat sambaran petir.
73

5.2. Saran
Setelah melaksanakan kerja praktik dan magang di PT. PLN
(Persero) Rayon Pedan, berikut beberapa saran yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kinerja perusahaan adalah :
1. Menaati SOP (Standard Operating Procedure) yang sudah
menjadi aturan perusahaan.
2. Melakukan PS4 guna kenyamanan bekerja dalam masyarakat.
3. Mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
4. Pada saat PTT (Panjat Tiang Tuntas), agar mengamati dan
memeriksa kondisi lightning arrrester yang digunakan guna
menjaga kualitas keandalan sistem terhadap gangguan sambaran
petir.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Buku PLN,2012, Pedoman dan Asesmen Kondisi Peralatan Sistem Tenaga.
Jakarta: PLN

[2] Suswanto, Daman, 2009, Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Padang:118-184

[3] IEC 60099-4, 2001, Metal Oxide Surge Arresters without Gaps for AC Systems:
IEC

[4] Woodworth, Jonathan, 2008, What is an Arrester.Arrester: ArresterWorks

[5] Zoro, R, 2011, Lightning Arrester Pada Jaringan Transmisi & Distribusi
Tenaga Listrik. Bandung: ITB

[6] Woodworth, Jonathan, 2008, The Lightning Surge and Arrester.ArresterFacts


011 : ArresterWorks

[7] Woodworth, Jonathan, 2008, Distribution System Responses to Lightning


Strikes.ArresterFacts 029 : ArresterWorks

[8] SPLN D5.006,2013, Pedoman Pemilihan Lightning Arrester Untuk Jaringan


Distribusi 20 kV. Jakarta: PLN

[9] BUKU 5 PLN,2010, Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Menengah


Tenaga Listrik. Jakarta Selatan : PLN

[10] PUIL,2000, Persyaratan Umum Instalasi Listrik.Jakarta : Panitia Revisi PUIL

[11] A S Pabla,1986, Sistem Distribusi Daya Listrik. Jakarta : Erlangga

74
LAMPIRAN 1

Datasheet lightning arrester pada PT Powerindo Prima Perkasa

75
76

LAMPIRAN 2

Terjadi flashover fasa S pada isolator suspension ditiang K1-95/88


77

LAMPIRAN 3

Single Line Diagram Penyulang PDN 4