Anda di halaman 1dari 13

BAB III

KERANGKA KONSEP

1.4 Konsep Penelitian

Hipertensi

Terapi Farmakologi Terapi Non


Farmakologi

Obat amlodipin

Faktor yang mempengaruhi perilaku 1. Pengetahuan


terhadap penyakit
(Teori Lawrence Green)
hipertensi
2. Pengetahuan
terhadap terapi
non farmakologi
Reinforcing Enabling Predisposing factors hipertensi
factors factors 3. Pengetahuan dosis
factors amlodipin
1. Sikap terhadap
1. Dukungan 1. Sarana penyakit 1. Pengetahuan 4. Pengetahuan
hipertensi terhadap efek
2. Sikap terhadap samping
2. Dukungan 2. Prasarana terapi non amlodipin
teman
2. Pendidikan
farmakologi 5. Pengetahuan
hipertensi terhadap indikasi
3. Pemahaman amlodipin
3. Dukungan 3. Sikap terhadap 3. Sikap
tenaga ketepatan dosis 6. Pengetahuan
kesehatan amlodipin terhadap interval
4. Sikap terhadap waktu pemberian
efek samping amlodipin
amlodipin
5. Sikap terhadap
interval waktu Kepatuhan penggunaan obat amlodipin
Keterangan : 1. Kepatuhan terhadap indikasi obat amlodipin
pemberian
amlodipin 2. Kepatuhan terhadap ketepatan dosis amlodipin
: Diteliti 3. Waspada terhadap efek samping penggunaan
amlodipin
: Tidak diteliti 4. Kepatuhan terhadap interval waktu pemberin obat
amlodipin
5. Melaksanakan terapi non farmakologi
Hipertensi dapat diterapi dengan dua cara yaitu terapi non farmakologi dan
terapi farmakologik. Terapi farmakologi dapat sekali dilakukan dengan pemberian
obat antihipertensi, salah satunya amlodipin. Amlodipin merupakan obat yang
jangka panjang sehingga harus digunakan secara patuh. Ada beberapa teori yang
menjelasan tentang kepatuhan salah satunya teori Lawrence Green.

Pada teori Lawrence Green terdapat 3 faktor, yaitu Enabling factors,


Reinforcing factors, Predisposing factor. Predisposing factor mencakup
pengetahuan, pendidikan, dan sikap. Pengetahuan mencakup tentang penyakit
hipertensi, terapi non farmakologi hipertensi, indikasi amlodipin, dosis amlodipin,
efek samping amlodipin, interval waktu pemberian obat amlodipin. Sikap
mencakup sikap terhadap penyakit hipertensi, terapi non farmakologi hipertensi
interval waktu pemberian amlodipin, ketepatan dosis amlodipin, efek samping
pemakaian amlodipin. Pengetahuan dan sikap ini digunakan untuk melihat
hubungan dengan kepatuhan mencakup kepatuhan terhadap indikasi pemakaian
minum amlodipin, ketepatan dosis amlodipin, dan waspada terhadap efek samping
penggunaan obat amlodipin, interval waktu pemberian amlodipin, dan pelaksanaan
terapi non farmakologi.
BAB IV
METODE PENELITIAN
1.1 Rancangan Penelitian
Desain penelitian adalah rancangan yang dibuat sebagai model kegiatan
penelitian yang akan dilaksanakan. Pada penelitian ini menggunakan metode
observasional analitiks dengan pendekatan studi cross-sectional yaitu: suatu
penelitian untuk mempelajari hubungan antara faktor risiko (independents) dengan
faktor efek (dependents), dengan cara pengumpulan data sekaligus pada suatu saat
(point time approach) (Notoatmodjo, 2012). Untuk ingin mengetahui pengaruh
pengetahuan dan sikap terhadap kepatuhan penggunaan obat amlodipin pada
penderita hipertensi.

1.2 Populasi dan Sampel Penelitian


1.2.1 Populasi Penelitian
Populasi merupakan keseluruhan dari siapa atau golongan mana saja yang
menjadi target penelitian ini (Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini
adalah pasien hipertensi di Puskesmas Arjuno Kota Malang.
4.3.2 Sampel Penelitian
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti sehingga
dengan adanya sampel dapat mewakili jumlah populasi sampel yang ada. Sampel
dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi yang dipilih dan menerima obat
antihipertensi amlodipin di Puskesmas Arjuno Kota Malang.

1.3 Kriteria Inklusi dan Ekslusi


1.3.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri ini yang perlu dipenuhi oleh
setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel penelitian
(Notoatmodjo, 2012).
1. Pasien hipertensi yang pernah menggunakan obat amlodipin di Puskesmas
Arjuno Kota Malang.
2. Pasien yang bersedia menjadi responden dari penelitian.
3. Responden mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan baik.
4.3.2 Kriteria Ekslusi
Kriteria Ekslusi adalah ciri-ciri anggota sampel populasi yang tidak dapat
diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012).

1. Pasien yang baru menggunakan obat amlodipine di Puskesmas Arjuno Kota


Malang.
2. Pasien yang tidak bersedia atau tidak mau menjadi responden dari penelitian.
Untuk menghitung jumlah sampel dari populasi tertentu, maka digunakan
rumus besar sampel minimum :
2
𝑍1−𝑎/2 𝑃(1−𝑃)
n=
𝑑2
Keterangan:
n = besar sampel minimums
2
𝑍1−𝑎/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada 𝛼 tertentu
P1 = prdiksi proporsi pada populasi
d = kesalahan mutlak (absolut) yang dapat ditolerir (Riyanto Agus, 2017).
Dengan menetapkan Z = 1,96; P = 0,5; dan d = 0,1 didapat jumlah sampel minimal
sebanyak 96 orang, dengan pembulatan sehingga menjadi 100 orang responden
(Notoatmodjo, 2012).
1.4 Instrumen Penelitian
Intrumen Penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data. Instrumen penelitian ini dapat berupa kueisioner (daftar
pertanyaan), formulir observation, formulir-formulir lain ini yang berkaitan dengan
pencatatan data dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner tentang
pengetahuan, sikap, dan kepatuhan dalam menggunakan amlodipin. Untuk
mempermudah dalam pembuatan instrumen penelitian diperlukan kisi-kisi tersebut
dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Kisi-kisi Kuisioner

Variabel penelitian Kuisioner Nomor item


Favorable Unfavorable
Pengetahuan 1. Pengetahuan terhadap 1,4
penyakit hipertensi
2. Pengetahuan terhadap terapi 7
non farmakologi hipertensi
3. Pengetahuan dosis 9,10
amlodipin
4. Pengetahuan terhadap efek 2,6
samping amlodipin
5. Pengetahuan terhadap 3 5
indikasi amlodipin
6. Pengetahuan terhadap 8
interval waktu pemberian
amlodipin
Sikap 1. Sikap terhadap penyakit 1
hipertensi
2. Sikap terhadap terapi non 3,8
farmakologi hipertensi
3. Sikap terhadap ketepatan 2,6
dosis amlodipin
4. Sikap terhadap efek samping 4,7
amlodipin
5. Sikap terhadap interval 5
waktu pemberian amlodipin

Kepatuhan 1. Patuh terhadap indikasi obat 8


amlodipin
2. Patuh terhadap ketepatan 2,3 1,5
dosis obat amlodipin
3. Waspada terhadap efek 6,7
Samping obat amlodipin
4. Patuh terhadap interval 4,9
waktu pemberian obat
5. Melaksanakan terapi non 10
farmakologi hipertensi

1.5 Variabel Penelitian


1.5.1 Variabel Independen
Variabel independen (variabel bebas) merupakan variabel yang menjadi
sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat). Adapun yang
menjadi variabel independen pada penelitian ini adalah faktor-faktor perilaku yang
sangat tertutup pasien hipertensi. Pada variabel bebas yang dapat diukur dari faktor
prediposisi adalah pengetahuan dan sikap pasien tersebut.

1.5.2 Variabel Dependen


Variabel dependen adalah merupakan variabel yang dipengaruhi atau
menjadi sebab akibat karena variabel bebas. Adapun yang menjadi variabel
dependen dalam penelitian ini adalah kepatuhan penggunaan obat amlodipin yang
dapat dilihat dengan cara tepat penggunaan obat, tepat terhadap dosis obat, dan
waspada efek samping yang bisa saja ditimbulkan oleh obat.

1.6 Definisi Operasional


Beberapa hal yang perlu didefinisiakan pada penelitian ini adalah :
1. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh pasien atau responden
mengenai seluruh atau sebagian informasi obat amlodpin, penggunaan obat
amlodipin, aturan cara pakai obat hipertensi maupun efek samping yang
mungkin akan timbul akibat penggunaan obat amlodipin.
2. Sikap adalah suatu tanggapan yang terealisasi yang merupakan reaksi tertutup
melalui perilaku atau perbuatan dari pasien atau responden mengenai
penggunaan obat amlodipin, dimana mencakup aturan minum, kepatuhan
dalam penggunaan obat ataupun efek samping yang dirasakan dari penggunaan
obat amlodipin.
3. Kepatuhan adalah suatu perilaku untuk melaksanakan cara pengobatan dan
penggunaan obat sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan terhadap penyakit
yang diderita sebagaimana pasein patuh dalam pengobatan. Dalam penelitian
ini meliputi perilaku kepatuhan tentang penggunaan obat amlodipin seperti
frekuensi banyakya pemakaian obat, ketepatan terhadap dosis, dan perilaku
timbulnya efek samping.
4. Hipertensi merupakan kondisi tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih
tinggi dan tekanan darah diastolik 90 mHg atau lebih tinggi.
5. Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang mungkiin saja
untuk melakukan analisis dari sikap-sikap perilaku maupun hasil jawaban yang
diberikan oleh suatu responden dalam suatu populasi.
6. Responden adalah pasien hipertensi yang menggunakan obat amlodipin di
Puskesmas Arjuno Malang yang bertugas menjawab kuisioner yang diajukan
untuk kepentingan penelitian.
7. Puskesmas adalah salah satu pelayanan kesehatan dinas kabupaten/kota yang
bertanggung jawab sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat. Agar
masyakarak sehat
8. Amlodipin adalah obat antihipertensi golongan CCB (Calsium Channel
Blocker).

Definisi operasional variabel dapat dilihat pada tabel 4.2 :


Tabel 4.2 Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Operasional Skala Alat Ukur Kategori
Data
Pengetahuan Kemampuan pasien untuk Nominal Kuisioner Hasil yang diperoleh
mengetahui tentang beberapa pengetahuan dari Pengetahuan
hal, diantaranya: dengan forced dikelompokkan menjadi
1. Pengetahuan terhadap choice yaitu 2 kategori yaitu :
penyakit hipertensi menggunakan 1. ≤ Mean (50) pasien
2. Pengetahuan terhadap jawaban berpengetahuan baik
terapi non farmakologi “Benar” dan 2. ≥ Mean (50) pasien
hipertensi “Salah” berpengetahuan
3. Pengetahuan dosis kurang baik
amlodipin
4. Pengetahuan terhadap
efek samping amlodipin
5. Pengetahuan terhadap
indikasi amlodipin
6. Pengetahuan terhadap
interval waktu pemberian
amlodipin
Sikap Kemampuan pasien untuk Ordinal Kuisioner Hasil yang diperoleh
mengetahui sikap terhadap Sikap dari Pengetahuan
penggunaan obat amlodpin dikelompokkan menjadi
yang meliputi : 2 kategori yaitu :
1. Sikap terhadap penyakit 1. ≤ Mean (50) pasien
hipertensi bersikap positif
2. Sikap terhadap terapi non 2. ≥ Mean (50) pasien
farmakologi hipertensi bersikap negatif
3. Sikap terhadap ketepatan
dosis amlodipin
4. Sikap terhadap efek
samping amlodipin
5. Sikap terhadap interval
waktu pemberian
amlodipin
Kepatuhan Kemampuan pasien untuk Ordinal Kuisioner Hasil yang diperoleh
mengetahui kepatuhan kepatuhan dari Pengetahuan
terhadap penggunaan obat dikelompokkan menjadi
amlodpin yang meliputi : 2 kategori yaitu :
1. Patuh terhadap indikasi 1. ≤ Mean (50) pasien
obat amlodipin berperilaku patuh
2. Patuh terhadap ketepatan 2. ≥ Mean (50) pasien
dosis obat amlodipin berperilaku tidak
3. Waspada terhadap efek patuh
Samping obat amlodipin
4. Patuh terhadap interval
waktu pemberian obat
5. Melaksanakan terapi non
farmakologi

1.7 Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Arjuno Kota Malang. Waktu
penelitian dilakukan adalah satu bulan. Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi
yang telah disebutkan sebelumnya.

1.8 Tahap Penelitian


1.8.1 Pengumpulan Data
1. Memastikan data-data pasien memenuhi atau lolos kriteria inklusi.
2. Meminta kesediaan pasien untuk menjadi sampel penelitian dengan cara
mengisi formulir persetujuan (PSP) menjadi pasien atau responden
(Informed consent).
3. Peneliti bertemu secara langsung dengan pasien untuk memberikan
kuesioner sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya dengan
pasien.
4. Data yang terkumpul akan dianalisa dengan metode analisa yang telah
ditetapkan
1.8.2 Analisa Data
1. Editing data, yaitu penulis melihat tulisan sudah jelas dan bisa di pahami.
Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan beberapa lembar koisioner
yang telah di bagikan ke responden, kemudian peneliti melakukan
pengecekan terhadap kelengkapan dan kekurangan dari jumlah pertanyaan
kuisoner yang ada, pengecekan terhadap item-item pertanyaan sudah terisi
semua atau belum dan valid.
2. Coding data, yaitu mengklasissfikasikan hasil dari jawapan responden,
dengan memberikan kode pada masing-masing hasil ukur dari kedua
variabel.
3. Entry Data, yaitu kegiatan memasukan data yang telah di kumpulkan dan
ditabulasi kedalam tabel induk atau data base komputer, kemudian
membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga membuat tabel
kotingensi.
4. Tabulating data, yaitu pengolahan dan penyusunan data sedemikian rupa
agar sangat mudah di pahami dan di jumlahkan, di susun dan di data untuk
di jadikan di analis oleh peneliti (Nothoatmodjo, 2012).
5. Scoring, yaitu pemberian skor penelitian setelah data terkumpul (Arikunto,
2010). Setelah kuesioner dikumpulkan dilakukan pengolahan data dengan
pemberian skor. Tanggapan dan respon pada setiap item kuisioner akan
diberi skor berbeda dengan jenis jawbannya. Scoring untuk aspek
pengetahuan menggunakan forced choice. Tanggapan yang dapat
diberikan responden yaitu dengan pilihan jawaban “Benar” dan “Salah”.
Sedangkan scoring pada aspek sikap dan perilaku (kepatuhan) yaitu
menggunakan scala likert. Ketentuan pemberian skor skala likert dapa
dilihat pada tabel 4.3 dan 4.4 :
Tabel 4.3 Besar Skor Aspek Sikap

Tanggapan Pernyataan Aspek Skor Pernyataan Skor Pernyataan


Sikap dan Kepatuhan Favorable Unfavorable
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4
Tidak Setuju (TS) 2 3
Setuju (S) 3 2
Sangat Setuju (SS) 4 1
Tabel 4.4 Besar Skor Aspek Kepatuhan

Tanggapan Pernyataan Aspek Skor Pernyataan Skor Pernyataan


Sikap dan Kepatuhan Favorable Unfavorable
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4
Tidak Setuju (TS) 2 3
Setuju (S) 3 2
Sangat Setuju (SS) 4 1

1.9 Uji Validitas


Validitas menurut Sugiyono (2010) yaitu derajat ketetapan antara data
yang terjadi pada objek penelitian dan daya yang dapat dilaporkan oleh penelitian.
Dengan demikian data yang valid adalah data data “yang tidak berbeda” antara data
yang dilaporkan dan dihubungkan dengan data yang sesungguhnya terjadi pada
objek penelitian.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian harus diuji validitas dan
realibilitas. Uji validitas menyatakan bahwa instrument yang digunakan untuk dan
mendapatkan data dalam penelitian dapat digunakan ataupun sebaliknya tidak dapat
digunakan pada penelitian. Sedangkan uji realibilitas menyatakan bahwa
instrument yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama
akan menghasilkan data yang sama. Uji validitas instrumen dalam penelitan ini
dilakukan untuk mengetahui bahwa alat ukur yang telah dirancang dalam bentuk
kuesioner benar-benar dapat menjalankan fungsinya. Seperti yang dijelaskan dalam
metode penelitian bahwa untuk melihat valid tidaknya suatu alat ukur digunakan
pendekatan secara statistika, yaitu melalui koefisien korelasi skor butir pernyataan
dengan skor total butir pernyataan.
Untuk menghitung korelasi pada uji validitas menggunakan metode Pearson
Product Moment, menurut Sugiyono (2010) dengan rumus sebagai berikut:
𝑛 𝛴𝑥𝑦− 𝛴𝑥 𝛴𝑦
rxy =
√{𝑛 𝛴𝑥 2 −(𝛴𝑥)2 {𝑛 𝛴𝑦 2 −(𝛴𝑦)2 }

Dimana :
rxy = koefisien korelasi
𝛴xy = jumlah perkalian variabel x dan y
𝛴x = jumlah nilai variabel x
𝛴y =jumlah nilai variabel y
𝛴x2 =jumlah pangkat dari nilai variabel x
𝛴y2 =jumlah pangkat dari nilai variabel y
n = banyaknya sampel
Keputusan uji:
1. Bila r hitung (r pearson) ≥ r tabel ; artinya pernyataan tersebut valid.
2. Bila r hitung (r pearson) < r tabel ; artinya pernyataan tersebut tidak valid.

1.10 Uji Reliabilitas


Uji reliabilitas menurut Sugiyono (2010) dilakukan untuk mengetahui
seberapa jauh sih hasil pengukuran tetap konsisten (consistency) apabila dilakukan
pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan
alat pengukur yang harus sama.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui bahwa alat ukur yang dirancang
melalui dalam bentuk kuesioner dapat diandalkan, suatu alat ukur dapat diandalkan
jika alat ukur tersebut digunakan untuk berulang kali akan memberikan hasil yang
relatif harus sama. Nilai-nilai untuk pengujian reliabilitas berasal dari skor-skor
item angket yang validitas. Item yang tidak valid tidak dilibatkan dalam pengujian
reliabilitas.
Langkah yang dilakukan untuk uji reliabilitas adalah sebagai berikut:
1. Menentukan nilai r tabel
Pada program SPSS, method ini dilakukan dengan Cronbach’s Alpha,
yang mana kuesioner dikatakan reliabels apabila Cronbach’s Alpha > 0,6
yang dirumuskan sebagai berikut :
𝑘 𝛴𝜎𝑖 2
𝑟=[ ] [1 − ]
𝑘−1 𝛴𝜎𝑡 2

Keterangan :
𝑟 = Reliabilitas instrument
𝑘 = banyaknya item yang ditanyakan /banyaknya pertanyaan
Σσi2 = jumlah varian butir atau item
𝛴σt2= Varian total
2. Mengambil kesimpulan
Dasar pengambilan kesimpulan:
a. Bila r alpha > r tabel, maka butir pernyataan dikatakan reliabel.
b. Bila r alpha < r tabel, maka butir pernyataan dikatakan tidak reliabel.
Menurut Triton (2006), tingkat reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach
diukur berdasarkan skala Alpha 0 sampai 1, apabila skala tesebut dikelompokkan
dalam kedalam lima kelas dengan range yang sama, maka urutan kemantapan
Alpha dapat diinterpretasikan pada tabel 4.5

Tabel 4. 5 Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha (Triton, 2006)

Alpha Tingkat Reliabilitas


0.0 - 0.20 Kurang Reliabel
> 0.20 - 0.40 Agak Reliabel
> 0.40 – 0.60 Cukup Reliabel
> 0.60 – 0.80 Reliabel
> 0.80 – 1.00 Sangat Reliabel

1.11 Etika Penelitian


Masalah etika penelitian merupakan hal yang sangat penting, dalam
melakukan penelitian peneliti perlu membawa rekomndasi dari institusi untuk pihak
lain, dengan cara mengajukan surat permohonan izin penelitian kepada
lembaga/institusi yang akan di teliti agar aman untuk pertanggung jawaban. Setelah
mendapat perstujuan dari pasien, jadinya peneliti dapat melakukan penelitian
dengan memperhatikan masalah etika yang meliputi (Notoatmodjo, 2012) :
1. Informed consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (PSP). Informed
consent di berikan sebelum penelitian di lakukan dengan memberikan lembar
persetujuan untuk menjadi responden atau pasien. Jika subjek bersedia dan seuju
maka dia harus menandatangani lembar persetujuan dan apabila tidak bersedia
maka peneliti tidak dapat memaksakan dan tetap menghormati hak-hak subjek.
2. Anonimity (tanpa nama)
Annonimity merupakan konsepsi perlindungan peserta dalam riset,
responden berhak untuk menyembunyikan nama sepenjang proyek riset. Informasi
yang berhubungan dengan kliens, kenyataan bahwa individu tersebut, telah
berpartisipasi dalam studi tidak di beritahukan pada orang lain di luar riset kecuali
menyakut masalah hukum dan persidangan.
3. Confidentiality(Kerahasiaan)
Kerahasiaan sebagai privasi merupakan masalah etika dengan memberikan
jaminan kerahsiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah
lainnya.semua informasi yang telah di kumpulkan di jamin kerahasiaan oleh
peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan di laporkan pada hasil riset dan
penelitian.
4. Toleransi
Memandang dan menghargai orang-orang yang diteliti bukan sebagai
subjek, melainkan sebagai orang yang sama derajatnya masing-masing. Jika
suasananya dapat terbina dengan bahagia demikian, maka terbukalah kesempatan
untuk berkomunikasi secara lancar dan menjadi akrab dengan pasien.