Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hipertensi
2.1.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik sama dengan atau diatas 140
mmHg dan atau tekanans darah diastolik sama dengan atau diatas 90 mmHg.
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat
secara kronis dan bisa saja membengkak. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung
bekerja lebih keras memompa untuk membuat darah bekerja lebih untuk memenuhi
kebutuhan oksigen dan nutrisi bagi tubuh (Damayantie dkk, 2018).
Hipertensi merupakan penyakit yang bisa timbul akibat adanya interaction
berbagai faktor resiko yang dimiliki oleh banyak orang. Faktor pemicu hipertensi
dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti faktor genetik, jenis kelamin,
dan umur, serta faktor yang dapat dikontrol seperti kelebihan berat badan,
kurangnya aktivitas fisik atau malas bergerak, sering merokok, pola konsumsi
makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh yang sangat tinggi (Sartik
dkk, 2017). Hipertensi dapat juga dipengaruhi oleh perilaku penderita hipertensi
diantaranya persepsi individu tentang penyakitnya, kelompok sosial, latar belakang
budaya, ekonomi dan kemudahan akses pelayanan dan professionalitas tenaga
kesehatan (Damayantie dkk, 2018).
2.1.2 Epidimiologi Hipertensi
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi
gejala yang berlanjut untuk suatu target organ dan membuat kerusakan terhadap
organ tersebut, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh
darah jantung melebat dan untuk otot jantung. Penyakit hipertensi telah menjadi
masalah utama dalam kesehatan mesyarakat yang ada di Indonesia maupun di
beberapa negara yang ada di dunia. Diprediksikan sekitar 82 % kenaikan kasus
hipertensi di negara berkembang dan negara kaya tahun 2027 dari sebanyak 649
juta kasus di tahun 2001, di perkirakan menjadi 1,25 milyar kasus di tahun 2027
(Jannah dkk, 2017).
Hipertensi merupakan penyebab kematian yang lumayan tinggi di Indonesia
yaitu sebesar 6,80% untuk semua kelompok umur khususnya 18 tahun keatas
(Amala, 2018). Prevalensi nasional hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas
di Indonesia dari survei Riskesnas tahun 2016 sebesar 32,9%. Prevalensi tekanan
darah tinggi pada perempuan (31,9%) lebih tinggi dibanding dengan laki-laki
(26,7%). Prevalensi di perkotaan sedikit lebih tinggi (36,7%) dibandingkan dengan
perdesaan (33,2%). Prevalensi semakin meningkat seiring dengan pertambahan
umur (Oktaviarini dkk, 2019).
Pada tahun 2016, di Provinsi Jawa Timur, persentase hipertensi sebesar
11,47% atau sekitar 935.736 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 14,78%
(387.913 penduduk) dan perempuan sebesar 14.25% (547.823 penduduk). (Dinkes,
2016). Sedangkan untuk Kota Malang, jumlah pasien hipertensu yang berobat
berjumlah 42.920 pasien dan pasien yang berobat di Puskesmas Arjuno sebanyak
3.706 pasien (Dinkes, 2018).

2.1.3 Klasifikasi Hipertensi


Hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan dimanaa terjadi
peningkatan tekanan darah di atas batas normal yaitu 120/80 mmHg. Menurut
WHO (Word Health Organization), batas tekanan darah yang dianggap normal
adalah kurang dari 130/85 mmHg. Bila tekanan darah sudah lebih dari 140/90
mmHg disebut hipertensi (batas tersebut untuk orang dewasa di atas 18 tahun)
(Tarigan dkk, 2018)
The seventh of Joint Nasional Committee On Prevention, Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure yaitu Badan peneliti di Amerika
serikat (USA) yang lebih dikenal dengan JNC VIII, menentukan klasifikasi tekanan
darah orang dewasa umur lebih dari 18 tahun yang dapat dilihat pada tabel 2.1. :
Tabel 2.1. Klasifikasi Hipertens

Klasifikasi Sistol (mmHg) Diastole (mmHg)


Optimal < 120 <80
Normal 120-129 80-84
Normal tinggi 130-139 84-89
Hipertensi derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi derajat 2 160-179 100-109
Hipertensi derajat 3 >180 >110
(Soenarto dkk, 2015)
2.1.4 Etiologi Hipertensi
Hipertensi berdasarkan etiologinya dibagi menjadi dua yaitu hipertensi
primer atau esensial dan hipertensi sekunders.

2.1.4.1 Hipertensi Primer


Sekitar 95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi esensials
(primer). Penyebab hipertensi esensials ini masih belum diketahui, tetapi faktor
genetic atau keturunan dan lingkungan diyakini menyebabkan hipertensi esensials.
Faktor genetik dapat menyebabkan kenaikan aktivitas dari sistem renin-
angiotensin-aldosteron (RAA) dan sistem saraf symphatic serta sensitivitas garam
terhadap tekanan darah. Selain faktor genetik, faktor lingkungan juga dapat
mempengaruhi terjadinya hipertensi yaitu konsumsi garam yang berlebihan,
obesitas, kurang aktivitas atau kurang berolahraga, gaya hidup yang tidak sehat
serta merokok dan konsumsi alkohol (Weber dkk, 2014).

2.1.4.2 Hipertensi Sekunder


Hipertensi sekunder atau hipertensi non esensials adalah hipertensi yang
diketahui penyebabnya. Pada sekitar 15% penderita hipertensi, penyebabnya adalah
penyakit ginjal penyakit hormon endokrin, penyakit jantung dan kelainan hormonal
atau pemakaian berlebih obat tertentu (misalnya pil KB) (Tarigan dkk, 2018).

2.1.5 Patofisiologi Hipertensi


Patofisiologi terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya
angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE
memegang peran fisiologis penting untuk mengatur tekanan darah. Darah
mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Setelah itu, oleh hormon
renin diubah menjadi angiotensin I. Angiotensin I diubah menjadi angiotensin II
oleh ACE yang terdapat di paru-paru (Sylvestris, 2014).
Renin disintesis dan disimpan dalam bentuk inaktif yang disebut pro-renin
dalam sel-sel jugstaglomerular (sel JG) pada ginjal. Sel JG merupakan modifikasi
dari sel-sel otot polos yang terletak pada dinding arteriol aferen tepat di proksimal
glomerulus. Bila tekanan arteri menurun, reaksi intrinsiks dalam ginjal itu sendiri
menyebabkan banyak molekul protein dalam sel JG terurai dan melepaskan renin
dan angiotensin(Sylvestris, 2014).
Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat dan memiliki efek-
efek lain yang juga mempengaruhi circulation. Angiotensin II ada dalam darah dan
hati, maka angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama yang dapat
meningkatkan tekanan arteriol. Pengaruh pertama, yaitu vasokonstriksi, timbul
dengan cepat. Vasokonstriksi terjadi terutama pada arterial dan sedikit lemah pada
vena. Cara kedua dimana angiotensin II meningkatkan tekanan arteri adalah dengan
bekerja pada ginjal untuk menurunkan pengeluaran garam dan air. (Sylvestris,
2014).
Vasopresin disebut juga antidiuretik hormone (ADH), lebih kuat daripada
angiotensin sebagai vasokonstriktors. Vasoseprin merupakan bahan
vasokonstriktors yang sangat kuat dari tubuh. Bahan ini dibentuk di hipotalamus
tetapi diangkut menuruni pusat aksen saraf ke glandula hipofisis posterior, dimana
pada akhirnya disekresi ke dalam darah (Sylvestris, 2014).
Aldosteron, yang disekresikan oleh sel-sel zona glomeruli pada korteks
adrenal, adalah suatu regulatori penting bagi reabsorpsi natriums (Na+) dan sekresi
kalium (K+) oleh tubulus ginjal. Tempat kerja utama aldosteron adalah pada sel-sel
prinsipal di tubulus koligent kortikalis. Mekanisme dimana aldosteron
meningkatkan reabsorpsi natrium sementara pada saat yang sama meningkatkan
sekresi kalium adalah dengan merangsang pompa natriumkalium ATPase pada sisi
pasolateral dari membrane tubulus koligentes kortikalis. Aldosteron juga dapat
meningkatkan permeaebilitas natrium pada sisi luminal membran (Sylvestris,
2014).
Tekanan darah arteri adalah tekanan yang di ukur pada dinding arteri
dalam millimeter merkurii. Dua tekanan darah arteri yang biasanya di ukur, tekanan
darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD). TDS di peroleh selama
jantung berkontraksi dan TDD di peroleh setelah kontraksi sewaktu ruang bilik
jantung di isi. Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi pada
secara potensial akan dalam berbentuknya hipertensi, faktor-faktor tersebut adalah:
a. Meningkatnya sebuah aktivitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis
dan/atau variasi diurnals), mungkin saja berhubungan dengan meningkatnya
respoon terhadap stress psikososiial dan lain-lain.
b. Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktors.
c. Asupan natrium (garam) yang sangat berlebihan.
d. Kurang cukupnya asupan kalium dan kalsium.
e. Peningkatan sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi
angiotensins II dan aldosteron.
f. Apnormalitas tahanan pembuluh darah, termasuk gangguan pada pembuluh
darah kecil di ginjal
g. Diabetes Milletus
h. Resistensi insulin
i. Obesitas
j. Berubahnya transpor ion dalam sel (Depkes RI, 2006).

Gambar 2.1 Mekanisme Patofisiologi dari Hipertensi (Depkes RI, 2006)


2.1.6 Manifestasi Klinis Hipertensi
Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh diam-diam (silent killer),
karena termasuk penyakit yang mematikan, tidak disertai gejala-gejalanya sebagai
peringatan dan kewaspadaan. Hipertensi merupakan penyakit tanpa gejala yang
menyebabkan kematian secara mendadak. Keadaan ini akan membuat khawatir
pada para penderitanya sehingga tekanan darah akan cepat meningkat terus
menerus dan tanpa disadari gejalanya (Yuwono dkk, 2017)
Adapun gejala hipertensi yang muncul dianggap sebagai gangguan biasa,
penderita juga mengabaikan dan terkesan tanpa merasakan apapun atau berpikir
dalam keadaan sehat sekali, sehingga penderita terlambat dan tidak mengetahui
dirinya menderita hipertensi. Gejala yang dirasakan bervariasi sekali, tergantung
pada tingginya tekanan darah. Gejala-gejala hipertensi yang sering dialami, yaitu
sakit kepala bagian tengkuk, mimisan berat, jantung berdebar-debar kencang,
sering buang air kecil di malam hari volumenya banyak, sulit bernafas, mudah lelah,
wajah memerah, telinga sering berdenging, vertigo, penglihatan kabur
(Artiyaningrum, 2015)

2.1.7 Komplikasi Hipertensi


Peningkatan tekanan darah merupakan salah satu faktor risiko utama untuk
kematian didunia, selain itu menjadi faktor risiko utama untuk penyakit jantung
koroner dan iskemik serta stroke hemoragik. Tingkat tekanan darah telah terbukti
pada beberapa penelitian positif dan terus berhubungan dengan risiko stroke dan
penyakit jantung koroner Selain penyakit jantung koroner dan stroke,
komplikasinya termasuk gagal jantung, gangguan pada ginjal, kelainan pada mata
yang membuat pandangan kabur(Singh dkk, 2017).
Pada usia lanjut, perjalanan penyakit secara siklus maupun komplikasi
sedikit berbeda dengan yang terjadi pada usia remaja dan dibawahnya. Komplikasi
menjadi lebih sering terjadi, gejala-gejalanya sering lebih terlihat dibandingkan
hipertensinya sendiri. Penuaan pada vaskular sangat mempengaruhi perjalanan
penyakit hipertensi pada usia lanjut. Selain penyakit jantung koroner dan stroke,
komplikasi tekanan darah meningkat termasuk gagal jantuung, penyakit pembuluh
darah perifer membengkak, gangguan pada ginjal, perdarahan retina dan gangguan
penglihatan. Mengobati tekanan darah sistolik dan diastolik tekanan darah sampai
mereka kurang dari 140/90 mmHg dikaitkan dengan penurunan komplikasi
kardiovaskular (Dukomalamo dkk, 2016).
Komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit hipertensi yaitu:
1. Stroke didefinisikan sebagai suatu gangguan disfungsi neurologes akut yang
disebabkan oleh peredaran darah yang terganggu, dan terjadi secara mendadak
dengan gejala-gejala dan tandatanda yang sesuai dengan daerah vokal otak yang
biasa terganggu. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang
memperdarahi otak mengalami hipertrofis dan penebalan, sehingga aliran darah
ke area otak yang diperdarahi menjadi kurang. Arteros otak yang mengalami
aterosklerosik dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan
terbentuknya aneurismas. Pada hipertensi terjadi beberapa gangguan fisiologis
yang dapat memicu terjadinya komplikasi berupa stroke. Gangguan yang terjadi
yaitu perubahan struktur pembuluh darah serebral, perubahan aliran darah
serebral, stres oksidatif, peradangan, dan disfungsi baorefleks arteri (Yonata &
Pratama, 2016)
2. Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang atreosklerotiks tidak
dapat menyuplai cukup O2 ke miokarsium atau apabila terbentuk trombuus
yang menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Hipertensi dapat
meningkatkan pada beban kerja jantung, tekanan darah yang tinggi secara terus
menerus menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah arteri dengan perlahan-
lahan arteri tersebut mengalami pengerasan serta dapat terjadi oklusis koroner.
Hipertensi menimbulkan suatu proses asklerosis pada dinding arteri. Proses Ini
akan mempermudah pembentukan pembekuan darah dan melemahkan
pembuluh darah penderita, sehingga mudah pecah dan terbentuk trombus. Efek
yang terjadi pada pembuluh darah jantung secara terus menerus menyebabkan
kerusakan sistem pembuluh darah arteri sehingga mengalami suatu proses
menghasilkan pengerasan pembuluh darah (Budiman dkk, 2015).
3. Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresifs akibat tekanan tinggi
pada kapiler glomerulusa ginjal. Dengan rusaknya glomerulusa, aliran darah ke
unit fungsionalis ginjal, yaitu nefrons akan terganggu dan dapat berlanjut
menjadi hipoksis dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerulusa,
protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma
berkurang dan menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi
kronis. Hipertensi dan gagal ginjal saling mempengaruhi. Hipertensi dapat
menyebabkan gagal ginjal, sebaliknya gagal ginjal kronis dapat menyebabkan
hipertensi. Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan perubahan
struktur pada arteriol di seluruh tubuh, ditandai dengan fibrlsis dan hilalinisasi
dinding pembuluh darah. Organ sasaran utama adalah jantung, otak, ginjal, dan
mata. Pada ginjal, arteriossklerosis akibat hipertensi lama menyebabkan
nefrosklerosis. Gangguan-gangguan ini merupakan akibat langsung iskemias
karena penyempitan luumen pembuluh darah intrarenal Penyumbatan arteri dan
arteriol akan menyebabkan kerusakan glomerulus dan atrofis tubulus, sehingga
seluruh nefron rusak, yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronik (Ali
dkk, 2017).
4. Ensefalopati (rusaknya otak) dapat terjadi terus menerus, terutama pada
hipertensi malignna (hipertensi yang meningkat sangat cepat dan berbahaya).
Tekanan yang sangat tinggi pada berlainan hati ini menyebabkan peningkatan
tekanan kapilir dan mendorong cairan keruang intersisial atau usus di seluruh
susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitar kolaps dan terjadi koma serta
kematian Ensefalopati hipertensi yaitu sindroma yang ditandai pada dengan
perubahan-perubahan neurologis mendadak atau sub akut yang timbulnya
akibat tekanan arteri yang meningkat, dan kembali normal apabila tekanan
darah dapat diturunkan. Sindroma ini dapat timbul pada setiap macam
hipertensi, tapi sangat jarang pada aldosteronisme primer dan koarktasiol aortas
(Sylvestris, 2014).
5. Preeklampsia merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas
ibu hamil selain pendarahan dan infeksi. Diagnosis dini preeklampsia yang
merupakan pendahuluan dari eklampsia perlu dilaksanakan untuk menurunkan
angka kematian ibu dan anak. Preeklampsia merupakan suatu sindrom yang
ditandai dengan hipertensi disertai proteinuritrisi pada strimester kedua
kehamilan atau pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu (Faiqah & Hendrati,
2014).
2.1.8 Penatalaksanaan Hipertensi
2.1.8.1 Terapi Non Farmakologi
Terapi non farmakologis selalu menjadi pilihan yang dilakukan penderita
hipertensi karena biaya yang dikeluarkan untuk terapi farmakologis relatif larang
dan menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan penderita atau pasien, yaitu
dapat memperburuk keadaan penyakit yang sangat berbahata atau efek fatal
lainnya. Langkah awal pengobatan hipertensi non farmakologis adalah dengan
menjalani pola hidup sehat (Tyani dkk, 2015)
Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan sebagai terapi non farmakologi
adalah:
1. Penurunan Berat Badan
Melakukan diet dan mengganti makanan tidak sehat dengan
memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang
lebih selain penurunan tekanan darah menghindari makanan cepat saji, seperti
menghindari diabetes dan dyslipidemia agar tubuh seimbang (Soenarto dkk, 2015).
2. Mengurangi Asupan Garam
Di Indonesia, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan
tradisional pada kebanyakan daerah sehingga mudah dikonsumsi. Tidak jarang pula
pasien tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan
kaleng, daging olahan dan sebagainya harus dihindari (Soenarto dkk, 2015). WHO
(World Health Organization) menganjurkan pada penderita hipertensi untuk
membatasi konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari atau setara dengan 2w00
mg natnium. Konsumsi garam di Indonesia tergolong tinggi, berkisar 35-45 gram
perhari. Angka ini setara dengan 12-16 gram natrium (1 gram garam dapur 500 mg
natrium (Mamahit dkk, 2017).
3. Olah Raga
Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 40 – 60 menit/ hari,
minimal 3-4 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah (Soenarto dkk,
2015).
4. Menghindari Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari
pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah, maka dari itu alcohol harus
dihinari (Soenarto dkk , 2015).

2.1.8.2 Terapi Farmakologi


Tujuan terapi hipertensi adalah menurunkan morbiditas dan mortalitas
dengan cara yang paling nyaman walaupun dengan biaya yang lumayan mahal.
Berdasarkan alogaritma yang disusun JNC VII, terapi paling dini adalah mengubah
gaya hidup. Jika hasil yang dinginkan tak tercapai maka diperlukan terapi dengan
obat. Secara umum, golongan obat antihipertensi yang dikenal yaitu, diuretiks,
ACE inhibitor, angiotensin resptor bloker, canal calsium bloke(CCB)r, dan
betabloker (Fitrianto dkk, 2014)
Terapi farmakologi pada hipertensi dapat dimulai bila pada pasien
hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 5
bulan menjalani pola hidup yang sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥
2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk
menjaga kepatuhan dan meminimalisasir efek samping, yaitu :
1. Bila memungkinkan, berikan obat dosis secara tunggal.
2. Berikan obat generik (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi atau
menghemat biaya.
3. Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia
55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor k\comorbid.
4. Jangan mengkombinasikan angiotensins converting enzyme inhibitor
(ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs).
5. Memberikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi
farmakologi.
6. Melakukan pemantauan efek samping obat secara teratur (Soenarto dkk,
2015).
Terapi hipertensi

Tidak ada penyakit Ada penyakit lain


lain

Obat-obat tertentu
Hipertensi dengan TD Hipertensi dengan TD yang sesuai dengan
(≥ 160 / ≥ 100) penyakit yang
(140-159/90-99)
menyertai. Obat
selain diuretik thiazid,
alternative (ACE, Ca,
Pilihan pertama diuretic Kombinasi 2 obat, dan β-bloker), dan
thiazid. Alternatif diuretic thiazid dengan ARB mungkin
(ACE, Ca, dan β alternatif (ACE, diperlukan
bloker), ARB atau Ca, dan β-bloker), dan
kombinasi ARB

Gambar 2.2 : Alogaritma Pemilihan Obat Untuk Hipertensi

Berikut tabel obat antihipertensi beserta dosisnya pada tabel 2.2 dan 2.3 :
Tabel 2.2 Obat-Obat Antihipertensi
Dosis Frekuensi
lazim pemberia
Kelas Subkelas Obat (nama dagang)
(mg/hari n
) (perhari)
Thiazid Chlortalidone (Hygroton) 12,5-25 1
Hydrochlorothiazide(Microzide) 12,5-25 1
Indapamide (Lozol) 1,25-2,5 1
Metolazone (Zaroxolyn) 2,5-5 1

Loops Bumetamid (Bumex) 0,5-4 2


Furosemid (Lasix) 20-80 2
Torsemid (Demadex) 5-10 1
Diuretik
Pottasium Amilorid (Midamor) 5-10 1 atau 2
sparing Amilorid/hydrochlorothiazide 5-10/50- 1
(Moduretic) 100
Triamterene (Dyrenium) 50-100 1 atau 2
Triamterene/hydrochlorothiazid 37,5- 1
e (Dyazide) 75/25-
Eplerenone (Inspra) 50 1 atau 2
50-100

Aldosterone Spironolakton (Aldactone) 25-50 1 atau 2


antagonists Spironolakton/hydrochlorothiazi 25-
(hemat kalium) de 50/25- 1
(Aldactazide) 50
Benazepril (Lotensin) 10-40 1 atau 2
Captopril (Capoten) 25-150 2 atau 3
Enalapril (Vasotec) 5-40 1 atau 2
Fosinopril (Monopril) 10-40 1
ACE
Lisinopril (Prinivil) 10-40 1
Inhibitor
Moexipril (Univasc) 7,5-30 1 atau 2
s
Perindopril (Aceon) 4-16 1
Quinapril (Accupril) 10-80 1 atau 2
Ramipril (Altace) 2,5-10 1 atau 2
Trandolapril (Mavik) 1-4 1
Canderstan (Atacand) 8-32 1 atau 2
E prosartan (Teveten) 600-800 1 atau 2
Irbesartan (Avapro) 150-300 1
ARBs Losartan (Cozaar) 50-100 1 atau 2
Olmesartan (Benicar) 20-40 1
Telmisartan (Micardis) 20-80 1
Valsartan (Diovan) 80-320 1
Amlodipin (Norvasc)
2,5-10 1
Felodipin (Plendil)
5-20 1
Isradipin (DynaCirc)
5-10 2
Isradipin SR (DynaSirc SR)
5-20 1
Nicardipin SR (Cardene SR)
60-120 2
Dihidropiridin Nifedipin long-acting
30-90 1
(Procardia XL)
Nisoldipin (Sular)
10-40 1
Calcium
Diltiazem SR (Cardizem SR)
channel 180-360 2
Diltiazem SR (Cardizem CD,
blockers 120-480 1
Cartia XT, Dilacor XR, Diltia
XT, Tiazac, Taztia XT)
Diltiazem ER (Cardiazem LA)
120-540 1 (pagi
Dihidropiridin
atau sore)
Verapamil SR (Calan SR,
180-480 1 atau 2
Isoptin SR, Verelan)
Verapamil ER (Covera HS)
180-420 1 (sore)
Verapamil oral drug absorption
100-400 1 (sore)
system ER (Verelan PM)
Cardioselective Atenolol (Tenormin) 25-100 1
Betaxolol (Kerlone) 5-20 1
Bisoprolol (Zebeta) 2,5-10 1
Metoprolol tartrate (Lopressor) 100-400 2
B-
Metoprolol succinate (Toprol 50-200 1
Blockers
XL)
40-120 1
Nonselective Nadolol (Corgard) 160-480 2
Propanolol (Inderal) 80-320 1
Propanolol long-acting (Inderal
LA, InnoPran XL) 10-40 1
Timolol (Blocarden)
200-800 2
Intrinsic Acebutol (Sectral) 2,5-10 1
sympathomimeti Carteolol (Catrol) 10-40 1
c activity Penbutolol (Levatol) 10-60 2
Pindolol (Visken)
12,5-50 2
Mixed α- and β- Carvedilol (Coreg) 20-80 1
blockers Carvedilol phosphate (Coreg 200-800 2
CR)
Labetalol (Normodyne)
(dipiro et al, 2008)
Tabel 2.3 Obat-Obat Antihipertensi Alternatif
Dosis Frekuensi
Kelas Obat (nama dagang) lazim pemberian
(mg/hari) (perhari)
Doxazosin (Cardura) 1-8 1
a-blockers Prazosin (Minipress) 2-20 2 atau 3
Terazosin (Hytrin) 1-20 1 atau 2
Penghambat
renin Aliskiren (Tekturna) 150-300 1
langsung
Agonis Klonidin (Catapres) 0,1-0,8 2
sentral α2- Metildopa (Aldomet) 250-1000 2
Antagonis
Adrenergik Reserpin (hanya generik) 0,05-0,25 1 atau 2
Perifer
Vasodilator
Minoxidil (Loniten) 10-40 1 atau 2
arteri
Hydralazin (Apresoline) 20-100 2 atau 4
langsung
(Dipiro et al, 2008)
2.2 Amplodipin

3-methyl 5-methyl 2-(2-amindoethoxymethyl)-4-(2-chlorophetsnyl)1.4 dihydro-6-


methylpyridinse-3.5-dicdarboxylate monocbenzenesulphonate
Gambar 2.3 Struktur Amlodipin (McEvoy, 2008)

Amlodipin adalah obat antihipertensi golongan calcium channel blocker


(CCB) derivat1,4-dihidropiridien, tidak seperti obat-obat lain dikelas dihidripiridin
amlodipin memiliki durasi kerja yang panjang. Amlodipin bekerja dengan cara
menghambat ion kalsium memasuki saluran atau daerah tegangan sensitive otot
polos pada pembuluh darah dan miocardium selama depolarisasion sehingga
menyebabkan relaksasi otot polos pembuluh darah koroner dan vasodilatasi
koroner, amlodipin juga dapat meningkatkan pengiriman oksigen miokardium pada
pasien dengan angina vasospastic. Secara singkat amlodipin bekerja dengan
menghambat masuknya ion kalsium pada membran sel otot polos pembuluh darah
sistemik dan coroner (Alawiyah & Mutakin, 2017).

2.2.1 Dosis Amlodipin


Amlodipin diminum 1x sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg (Tjay,
2015). Dosis awal amlodipin yaitu 5 mg dan biasanya dianjurkan dengan dosis
harian maksimun 10 mg. Pasien lanjut usia dan pasien dengan gagal hati, dosis awal
2,5 mg dan dengan penambahan sesuai anjuran dokter (Fares et al, 2016).
2.2.2 Nama Dagang
Nama dagang obat amlodipin dapat dilihat pada tabel 2.3 :
No Nama Dagang Sediaan
1 Amlogal Amlodipin tab 5mg dan 10mg
2 Cardisan Amlodipin tab 5mg dan 10mg
3 Exforge Amlodipin tab 5mg dan 10mg
4 Lodipas Amlodipin tab 5mg dan 10mg
5 Lopas Amlodipin tab 5mg dan 10mg
6 Norvask Amlodipin tab 5mg dan 10mg
7 Zenicardo Amlodipin tab 5mg dan 10mg
8 Zevask Amlodipin tab 5mg
9 Cardicap Amlodipin tab 5mg
10 Calsivas Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
11 Amcor Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
12 Cardivask Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
13 Actapin Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
14 Calsivas Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
15 Lopiten Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
16 Amdixal Amlodipin besilat tab 5mg dan 10mg
(MIMS, 2014)
2.2.3 Farmakokinetik
Amlodipin digunakan secara oral. Amlodipin mencapai onset pada 30- 50
menit, Puncak konsentrasi darah terjadi setelah 6-12 jam, mempunyai durasi kerja
selama 24 jam serta waktu paruh 30-50 menit. Volume distribusi amlodipin sebesar
20 L/Kg. Amlodipin mempunyai bioavailabilitas bervariasi tetapi biasanya sekitar
50 sampai 60% dan terikat protein plasma sebanyak 96,5 %. Amlodipine secara
luas dimetabolisme oleh hati, metabolit sebagian besar diekskresikan dalam urine
bersama-sama kurang dari 10 % dari dosis sebagai obat tidak berubah (Nurhayati
& Saputri, 2016).
2.2.4 Efek Samping
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah edema perifer
pembengkakan. Namun efek samping ini dapat diminimalisir dengan pemberian
saat malam sebelum tidur lelap. Amlodipine sendiri memiliki efek vasodilatasi yang
dapat menyebabkan penurunan curah jantung dalam pengaturan stenosis aortas
(Fares et al, 2016).

2.2.5 Kontraindikasi
Amlodipin dikontraindikasikan pada pasien yang mempunyai shok
kardiogenis, angina tidak stabil, stenosis aorta signifikan, dan juga ibu menyusui
(Fares et al, 2016).

2.3 Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Kepatuhan


Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012) perilaku manusia
dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaotu: predisposing factor, enabling factor), dan
reinforcing factor (Purnomo dkk, 2017).
1. Faktor predisposision (predisposing factors) adalah faktor-faktor yang
mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, value, tradisi, dan sebagainya.
2. Faktor pemungkin (enabling factors) adalah faktor-faktor yang memungkinkan
atau yang memfasilitasi perilaku seseorang. Contohnya adalah sarana prasarana
kesehatan, misalnya Puskesmas, Posyandu, rumah sakit, uang untuk berobat,
tempat sampah profesionalitas tenaga kesehatan.
3. Faktor penguat (reinforcing factors) adalah faktor yang menguatkan dan
memacu seseorang untuk berperilaku sehat ataupun berperilaku sakit,
mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku seperti dorongan dari keluarga
dan orang tua, tokoh masyarakat, dan perilaku teman sebaya yang menjadi
panutan.
2.3.1 Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan merupakan pegnindraan melalui panca indra manusia, yakni
indra penglihatan atau mata, pendengaran atau telinga, penciuman atau hidung, rasa
atau lidah, dan raba atau kulit. Sebagian besar pengetahuan manusia atau sesorang
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam pembentukan perilaku seseorang (overt behavior).
Pengetahuan yang baik tentang hipertensi dapat mempengaruhi perilaku
masyarakat dalam menstabilkan hipertensi agar tidak parah (Limbong dkk,, 2016).
Tingkat pengetahuan serta pemahaman pasien hipertensi terkait
penyakitnya dapat menunjang keberhasilan terapi sehingga tekanan darah pasien
dapat terkontrol dengan baik. Semakin pasien memahami penyakitnya, maka pasien
akan semakin waspada aware dalam menjaga pola hidup yang sehat, teratur minum
obat, dan tingkat kepatuhan pasien juga akan semakin meningkat (Sinuraya dkk,
2017)
Menurut Notoatmodjo (2012) Pengetahuan dalam kognitif tercakup dalam
domain kogitif mempunyai 6 tingkat, yakni :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya atau kejadian sebelumnya. Pengetauan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifikasi dari seluruh bahan yang telah diterima.
Contohnya: dapat menyebutkan manifestasi atau gejala darn juga pengobatan
hipertensi.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan dan presentasikan
materi tersebut secara baik dan benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau
materi harus dapat bisa menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, meberikan persepsi dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
Misalnya, dapat menjelaskan mengapa harus minum obat secara teratur dan patuh.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materik yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
diartikan aplikasi atau penerapan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau berbagai situasi yang lain. Misalnya, dapat
menggunakan prinsip-prinsip syklus pemecahan masalah (problem solving cycle)
dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen tersebut, tetapi masih dalam suatu
strukturural organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisik ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat
menggambarkan dan mendeskripsikan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain syntesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada pada kehiduoan. Misalnya dapat menyusun,
merencanakan, menjelaskan, menyesuaikan, dan sebagainya, terhadap suatu materi
atau penjelasan yang telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek baik yang dialami atau yang tidak
dialami dengan cara melihat. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Evaluasi
merupakan suatu hal yang subjektif yang mana tiap orang kemungkinan memilik
persepsi yang berbeda

2.3.1.1 Cara Pengukuran Pengetahuan


Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan inteerview atau
memberikan seperangkat alat tes ataukuesioner tentang isi materi yang ingin diukur.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan
dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo, 2012).

2.3.1.2 Pengukuran Pengetahuan Pasien Penggunaan Obat Amlodipin


1. Penyakit Hipertensi
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Destiani dkk, 2016).
2. Terapi nonfarmakologi hipertensi
Tekanan darah dapat distabilkan dengan pola hidup sehat seperti
penurunan berat badan, mengurangi asupan garam, berolahraga secara teratur, dan
menghindari konsumsi alcohol (Soenarta dkk, 2015)
3. Dosis obat amlodipine
Amlodipin diminum 1x sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg (Tjay &
Rahardjo, 2015). Dosis awal 5 mg dan biasanya dianjurkan dengan dosis harian
maksimun 10 mg. Pasien lanjut usia dan pasien dengan gagal hati, dosis awal 2,5
mg (Fares et al, 2016).
4. Efek samping obat amlodipin
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah edema perifer. Namun
efek samping ini dapat diminimalisir dengan pemberian saat malam sebelum tidur.
Amlodipine sendiri memiliki efek vasodilatasi yang dapat menyebabkan penurunan
curah jantung dalam pengaturan stenosis aorta (Fares et al, 2016).
5. Indikasi amlodipin
Amlodipin diindikasikan untuk pengobatan hipertensi dan penyakit angina
pectoris (Nurhayati & Saputri, 2016).
6. Interval Waktu pemberian obat amlodipin
Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis,
agar mudah ditaati oleh pasien (Kemenkes RI, 2011). Amlodipin diminum 1x
sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg berarti obat harus diminum tiap interval
24 jam (Tjay & Rahardjo, 2015).

2.3.2 Sikap (Attitude)


Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup privasi dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek belum melakukan penindakan. Sikap
secara nyata menunjukkan konootasi atau signall adanya kesesuaian reaksi terhadap
stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat
emosional terhadap stimulus social skill. Newcob, salah seorang ahli psikologi
sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan respon kesiapan atau kesediaan
untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif atau tindakan tertentu.
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan
predisposisi atau persiapan tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan
reaksi tertutup (privacy), bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang
terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan
tertentu sebagai suatu penghayatan dan pemahaman terhadap objek (Notoatmodjo,
2012).
Sikap merupakan bagian dari faktor predisposisi yang berpengaruh dalam
membentuk perilaku seseorang. Sikap pasien hipertensi mempengaruhi kepatuhan
pengontrolan tekanan darah, dan angka morbiditas serta mortalitas penyakit
hipertensi agar dapat teratasi (Tarigan dkk, 2018). Sikap tidak dapat langsung
dilihat, tetapi hanya dapat diartikan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Dengan
demikian, sikap merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap
nilai kesehatan individu serta dapat menentukan cara pengendalian yang tepat untuk
penstabilan penyakit hipertensi (Heriyandi dkk, 2017).
Menurut Allport, menjelakaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen
pokok, yaitu :
1 Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep pada suatu objeks.
2 Kehidupan emosional atau evaluasi pada suatu objeks.
3 Kecenderungan agar bertindak (tend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiranm dan
emosi memegang peranan penting dalam kehidupan. Suatu contoh misalnya,
seorang ibu telah mendengar tentang penyakit hipertensi (penyebab, akibat,
pencegahan, dan sebagainya). Disini melihat respon ibunya. Bagaimana
memperlakukan penyakit tersebut. Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk
berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena penyakit hipertensi atau
mencegah. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja dan
berupaya sehingga ibu tersebut berniat mengimunisasikan anaknya untuk
mencegah agar tidak terkena hipertensi (Notoatmodjo, 2012). Ibu ini mempunyai
sikap tertentu terhadap objek yang berupa penyakit hipertensi. Seperti halnya
dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tindakan, yaitu :
1. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek) penerimaan impuls kabar. Misalnya sikap orang
terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-
ceramah tentang gizi atau video di youtube tentang gizi, maupun artikel tentang gixi
(Notoatmodjo, 2012).
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menjelaskan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha
dan upaya untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan,
terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima
ide-ide tersebut (Notoatmodjo, 2012).
3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan (discussion)
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya: seorang ibu yang
mengajak ibu yang lain (tetangganya, saudaranya, kerabatnya dan sebagainya)
untuk pergi menimbangkan anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi,
adalah suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap
gizi anak agar terperhatikannya gizi (Notoatmodjo, 2012).
4. Bertanggung Jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko yang merupakan sikap yang paling tinggi. Melihat seuatu masalah
agar dipertanggung jawabkan. Misalnya: seorang ibu mau Pengukuran sikap dapat
dilakukan secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect). Secara langsung
dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu
objek. Misalnya, sebagaimana pendapat anda tentang pelayanan dokter atau
professional kesehatan lain di Rumah Sakit ? Secara langsung dapat dilakukan
dengan pernyataan-pernyataa hipotesis secara subektif, kemudian ditanyakan
pendapat responden. Misalnya, apabila rumah ibu sangat luas, apakah boleh dipakai
untuk kegiatan posyandu ? atau saya akan menikah apabila saya sudah berumur 25
tahun (sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju).menjadi akseptors KB,
meskipun mendapat tantangan (Challenge) dari mertua atau orang tuanya sendiri
(Notoatmodjo, 2012).

2.3.2.1 Pengukuran Sikap


Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek. Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan
pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan kepada responden (Notoatmodjo, 2012).
1. Penyakit hipertensi
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Destiani dkk, 2016).
2. Terapi nonfarmakologi hipertensi
Tekanan darah dapat distabilkan dengan pola hidup sehat seperti
penurunan berat badan, mengurangi asupan garam, berolahraga secara teratur, dan
menghindari konsumsi alcohol (Soenarta dkk, 2015)
3. Ketepatan dosis amlodipin
Amlodipin diminum 1x sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg (Tjay &
Rahardjo, 2015). Dosis awal 5 mg dan biasanya dianjurkan dengan dosis harian
maksimun 10 mg. Pasien lanjut usia dan pasien dengan gagal hati, dosis awal 2,5
mg (Fares et al, 2016)
4. Efek samping pemakaian amlodipin
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah edema perifer. Namun
efek samping ini dapat diminimalisir dengan pemberian saat malam sebelum tidur.
Amlodipine sendiri memiliki efek vasodilatasi yang dapat menyebabkan penurunan
curah jantung dalam pengaturan stenosis aorta (Fares et al, 2016).
5. Interval waktu pemberian obat amlodipin
Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis,
agar mudah ditaati oleh pasien (Kemenkes RI, 2011). Amlodipin diminum 1x
sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg be rarti obat harus diminum tiap interval
24 jam (Tjay & Rahardjo, 2015).

2.3.3 Kepatuhan
Kepatuhan (compliance atau adherence) merupakan sejauh mana pasien
mengikuti instruksi-instruksi atau saran tenaga medis. Terkait dengan terapi obat,
kepatuhan pasien didefinisikan sebagai derajat kesesuaian antara riwayat dosis yang
sebenarnya dengan rejimen dosis obat yang diresepkan oleh dokter. Oleh karena
itu, pengukuran kepatuhan pada dasarnya mempresentasikan perbandingan antara
dua rangkaian kejadian, yaitu bagaimana nyatanya obat dikonsumsi dengan
bagaimana obat seharusnya diminum sesuai resep (Pameswari dkk, 2016).
Kepatuhan merupakan hal yang sangat penting dalam perilaku hidup sehat.
Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan nasihat medis
atau kesehatan dan menggambarkan penggunaan obat sesuai dengan petunjuk pada
resep serta mencakup penggunaannya pada waktu yang benar. Kepatuhan minum
obat adalah tingkah laku penderita dalam mengambil suatu tindakan atau upaya
untuk secara teratur menjalani pengobatan. Penderita yang patuh minum obat
adalah yang menyelesaikan pengobatannya secara teratur dan lengkap tanpa
terputus selama minimal 6 bulan sampai dengan 9 bulan, sedangkan penderita yang
tidak patuh dating untuk berobat dan minum obat bila frekuensi minum obat tidak
dilaksanakan sesuai rencana atau keinginan yang telah ditetapkan
(Yulisetyaningrum dkk, 2019).

2.3.3.1 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam


Menjalani Pengobatan Hipertensi
1. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yang secara fisik
melekat pada masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin
berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan
perempuan dalam masyarakat. Dalam hal menjaga kesehatan, biasanya para
perempuan lebih memperhatikan kesehatanya dibandingkan dengan laki-laki.
Perbedaan pola perilaku sakit juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, perempuan lebih
sering mengobatkan dirinya dibandingkan dengan laki-laki yang malas
(Notoatmodjo, 2012).
2. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan usaha atau upaya manusia meningkatkan
kepribadian atau proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan
penyempurnaan kehidupan manusia dengan jalan membina dan mengembangkan
potensi kepribadiannya, yang berupa rohani (cipta, rasa, karsa) dan jasmani (Astuti
dkk, 2015)
Domain pendidikan dapat diukur dari (Notoatmodjo, 2012) :
1) Pengetahuan terhadap pendidikan yang diberikan (knowledge).
2) Sikap atau tanggapan terhadap materik pendidikan yang diberikan (attitude).
3) Praktek atau tindakan sehubungan dengan materik pendidikan yang diberikan
(practice).
3. Status Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupannya dan keluarga. Pekerjaan bukanlah semata-mata sumber kesenangan,
tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang,
dan banyak tantangan. Orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk
mengunjungi fasilitas kesehatan sehingga menjadi malas (Rasajati dkk, 2015 ).
4. Lama Menderita Hipertensi
Tingkat kepatuhan penderita hipertensi di Indonesia untuk berobat dan
kontrol cukup rendah atau jarang dilakukan. Semakin lama seseorang menderita
hipertensi maka tingkat kepatuhanya makin rendah, hal ini disebabkan kebanyakan
penderita akan merasa bosan dan malas untuk berobat (Gama dkk, 2014).
5. Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga yang baik sebagai support, pasien akan merasa lebih
tenang dan nyaman. Faktor lingkungan berhubungan dengan keluarga, dalam hal
ini keluarga menjadi stimulus yang dapat mengurangi tingkat kecemasan pada
pasien melalui dukungan yang diberikan kepada psien. Keluarga dapat berperan
sebagai motivator dan pensupport terhadap anggota keluarganya yang sakit
(penderita) sehingga mendorong penderita untuk terus berpikir positif terhadap
sakitnya dan patuh terhadap pengobatan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan
(Afiyah, 2017).
6. Peran Tenaga Kesehatan
Peran serta dukungan petugas kesehatan sangat besar bagi penderita,
dimana petugas kesehatan adalah pengelola penderita sebab petugas adalah yang
paling sering berinteraksi dengan pasien. Perilaku petugas yang ramah dan segera
mengobati pasien tanpa menunggu lama-lama, serta penderita bertele-tele diberi
penjelasan tentang obat yang diberikan dan pentingnya minum obat secara teratur
merupakan sebuah bentuk dukungan dari tenaga kesehatan yang dapat berpengaruh
terhadap perilaku kepatuhan pasien agar hidup sehat (Puspita dkk, 2017).
2.3.3.2 Pengukuran Kepatuhan Pasien
1. Indikasi obat amlodipin
Amlodipin diindikasikan untuk pengobatan hipertensi dan penyakit angina
pectoris (Nurhayati & Saputri, 2016).
2. Ketepatan Dosis amlodipin
Amlodipin diminum 1x sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg (Tjay &
Rahardjo, 2015). Dosis awal 5 mg dan biasanya dianjurkan dengan dosis harian
maksimun 10 mg. Pasien lanjut usia dan pasien dengan gagal hati, dosis awal 2,5
mg (Fares et al, 2016)
3. Efek samping pemakaian amlodipin
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah edema perifer. Namun
efek samping ini dapat diminimalisir dengan pemberian saat malam sebelum tidur.
Amlodipine sendiri memiliki efek vasodilatasi yang dapat menyebabkan penurunan
curah jantung dalam pengaturan stenosis aorta (Fares et al, 2016).
4. Interval waktu pemberian obat amlodipin
Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis,
agar mudah ditaati oleh pasien (Kemenkes RI, 2011). Amlodipin diminum 1x
sehari 5mg, maksimal pemberian 10 mg berarti obat harus diminum tiap interval
24 jam (Tjay & Rahardjo, 2015).
5. Terapi nonfarmakologi hipertensi
Tekanan darah dapat distabilkan dengan pola hidup sehat seperti
penurunan berat badan, mengurangi asupan garam, berolahraga secara teratur, dan
menghindari konsumsi alkohol (Soenarta dkk, 2015)