Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tujuan utama pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas
sumber daya manusia (SDM) secara berkelanjutan melalui pembangunan
SDM sebagai investasi bagi pertumbuhan ekonomi dan menurunkan tingkat
kemiskinan1. Manusia yang berkualitas sehat, kuat dan cerdas dapat
mempercepat, memperluas, memperdalam pembangunan di segala bidang.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pembinaan
kesehatan anak sejak dini melalui kegiatan kesehatan ibu dan anak, perbaikan
gizi balita, dan pembinaan balita agar setiap balita yang dilahirkan akan
tumbuh sehat dan berkembang menjadi manusia Indonesia yang tangguh dan
berkualitas.2
Agar dapat mempersiapkan manusia yang berkualitas tersebut, maka
kita perlu memelihara gizi anak sejak berada dalam kandungan. Bayi dan anak
yang mendapat makanan yang bergizi akan tumbuh menjadi anak yang sehat,
cerdas dan terhindar dari berbagai penyakit infeksi. Selain memperhatikan gizi
bayi maka perlu memelihara gizi ibu terutama masa hamil dan menyusui.2
Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat Pada tahun pertama kehidupan bayi, nutrisi sangat penting.3 ASI
merupakan makanan bergizi yang paling lengkap, aman, higienis dan murah. 2
Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah
ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung
dalam ASI tersebut.2 Bagi bayi, ASI merupakan makanan yang utama dan
paling sempurna karena ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan
komposisi sesuai kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang secara optimal. ASI
tidak hanya mengandung cukup zat gizi, tapi juga mengandung zat
imunologik yang melindungi bayi dari infeksi. Selain itu, ASI juga
meningkatkan keakraban ibu dan anak yang bersifat menambah kepribadian
2

anak dikemudian hari.2 Tidak perlu diragukan lagi bahwa Air Susu Ibu (ASI)
sebagai makanan bayi yang paling baik.4
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ASI
1. Fisiologi
Sebelum abad ke-18, ASI (Air Susu Ibu) adalah satu-satunya sumber
nutrisi yang tersedia bagi bayi baru lahir. 5 Secara sejarah, saat ASI tidak
memungkinkan untuk diberikan pada bayi baru lahir, maka susu dari hewan
mamalia menjadi penggantinya. Akan tetapi, penggunaannya kemudian
menjadi kontroversi, dimana tingkat morbiditas dan mortalitas yang dihasilkan
tinggi. Pada saat inilah, mulai diciptakan susu formula yang memiliki tingkat
keamanan yang lebih baik.6
Air susu terbentuk melalui dua fase, yaitu fase sekresi dan pengaliran.
Pada fase sekresi, susu disekresikan oleh sel kelenjar ke dalam lumen alveoli. 7
Pada fase ini hormon prolaktin yang memegang peranan untuk meningkatkan
sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis ibu dan
konsentrasinya dalam darah ibu meningkat sampai konsentrasi yang sangat
tinggi, yaitu sekitar sepuluh kali konsentrasi normal dalam keadaan tidak
hamil. Plasenta juga mensekresi sejumlah besar somatomamotropin korion
manusia yang mempunyai sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong
prolaktin dari hipofisis ibu. Walaupun begitu, karena efek supresi dari estrogen
dan progesteron hanya beberapa milliliter, cairan disekresikan setiap hari
sampai bayi dilahirkan. Cairan ini disebut kolostrum, dimana kolostrum
mengandung protein dan laktosa dalam konsentrasi yang sama seperti air susu
tapi hampir tidak mengandung lemak, dan kecepatan maksimal
pembentukannya adalah sekitar 1/100 kecepatan pembentukan air susu
selanjutnya.8
Pada fase pengaliran, air susu yang dihasilkan oleh kelenjar dialirkan
ke puting susu, setelah sebelumnya terkumpul dalam sinus. Ada dua macam
4

refleks saat laktasi, yaitu the milk production reflex dan the let down reflex.3
Saat bayi mengisap puting susu, impuls sensorik di transmisikan melalui saraf
somatik dari puting ke medulla spinalis lalu ke hipotalamus, sehingga memicu
sekresi oksitosin pada saat bersamaan mensekresi prolaktin. Dalam darah,
oksitosin dibawa ke kelenjar payudara dan oksitosin menyebabkan sel-sel
mioepitel yang mengelilingi dinding luar alveoli berkontraksi, sehingga
mengalirkan air susu dari alveoli ke dalam duktus. Jadi, dalam waktu 30 detik
sampai satu menit setelah bayi menghisap payudara, air susu mulai mengalir.
Proses ini disebut ejeksi air susu atau pengeluaran (let-down) air susu.8

fisiologi menyusui

a. Reflek prolaktin
Seperti telah dijelaskan bahwa menjelang akhir kehamilan terutama
hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun
jumlah kolostrum terbatas, karena aktifitas prolaktin dihambat oleh estrogen
5

dan progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus berhubung


lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan
progesteron sangat berkurang, ditambah lagi dengan adanya isapan bayi yang
merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung-ujung
saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medula spinalis
dan mensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang
menghambat sekresi prolaktin dan sebalinya merangsang pengeluaran faktor-
faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktor-faktor yang memacu sekresi
prolaktin akan merangsang adenohipofise (hipofise anterior) sehingga keluar
prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk
membuat air susu.

Kadar prolaktin pada ibu yang menyusui akan menjadi normal 3 bulan
setelah melahirkan sampai penyepihan anka dan pada saat tersebut tidak akan
ada peningkatan prolaktin walaupun ada isapan bayi, anmun pengeluaran susu
tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak menyusui,
kadar prolaktin akan menjadi normal pad minggu ke 2-3. Pada ibu yang
menyusui, prolaktin akan meningkat dalan keadaan-keadaan seperti :
- Stres atau pengaruh psikis
- Anastesi
- Operasi
- Rangsangan puting susu
- Hubungan kelamin
- Obat-obatan tranquilizer hipotalamus seperti reserpin,
klorpromazin, fenotiazid.
Sedangkan keadaan-keadaan yang menghambat pengeluaran prolaktin
adalah :
- Gizi ibu yang jelek
6

b. Reflek let down (milk ejection reflek)


Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adenohipofise,
rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang dilanjurkan ke
neurohipofise (hipofise posterior) yang kemudian dikelurkan oksitosin.
Melalui aliran darah, hormon ini diangkut menuju uterus yang dapat
menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ
tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel
miopitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat
keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus yang untuk selanjutnya
mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi.

Faktor-faktor yang meningkatkan reflek let down adalah :


- melihat bayi
- mendengarkan suara bayi
- mencium bayi
- memikirkan untuk menyusui bayi
Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah :
- keadaan bingung/ pikiran kacau
- takut
- cemas

Bila ada stres dari ibu yang menyusui maka akan terjadi suatu blokade
dari reflek let down. Ini disebabkan oleh karena adanya pelepasan dari
adrenalin (epinefrin) yang menyebabkan vasokontriksi dari pembuluh darah
alveoli, sehingga oksitosin sedikit harapannya untuk dapat mencapai target
orgam miopitelium. Akibat dari tidak sempurnanya refleks let down maka
akan terjadi penumpukan air susu didalam alveoli yang secara klinis tampak
payudara membesar.
Payudara yang besar dapat berakibat abses, gagal untuk menyusui dan
rasa sakit. Rasa sakit ini akan merupakan stres lagi bagi seorang ibu sehingga
stres akan bertambah. Karena reflek let down tidak sempurna maka bayi yang
7

haus jadi tidak puas. Ketidak puasan ini akan merupakan tambahan stres bagi
ibunya. Bayi yang haus dan tidak puas ini akan berusaha untuk mendapatkan
air susu yang cukup dengan cara menambah kuat isapannya sehingga tidak
jarang dapat menimbulkan luka-luka pada puting susu dan sudah barang tentu
luka-luka ini akan dirasakan sakit oleh ibunya yang juga akan menambah stres
pad ibu tadi. Dengan demikian akan terbentuk satu lingkaran setan yang
tertutup (circulus vitiosus) dengan akibat kegagalan dalam menyusui

2. Komposisi
ASI memiliki komposisi yang sangat lengkap, dimana memiliki
kandungan air, energi dan nutrisi dalam jumlah yang sangat tepat bila
dihadapkan pada kebutuhan seorang bayi.8 Komposisinya berubah sesuai
dengan kebutuhan bayi pada setiap saat, yaitu kolostrum pada hari pertama
sampai 4-7 hari, dilanjutkan dengan ASI peralihan 3-4 minggu, selanjutnya
ASI matur. ASI yang keluar pada permulaan menyusu (foremilk = susu awal)
berbeda dengan ASI yang keluar pada akhir penyusuan (hindmilk = susu
akhir).8
Komposisi ASI dapat berubah sedemikian rupa sehingga tetap dapat
memenuhi semua kebutuhan bayi hingga usia 6 bulan. 8 Selain itu, berbagai
penelitian mengatakan bahwa anak-anak yang tidak mendapat ASI
mempunyai risiko terkena diabetes tipe 1 (IDDM= Insulin Dependent
Diabetes Melitus), penyakit atopi, obesitas, kardiovaskular, dan lain-lain.9
Karbohidrat dalam ASI berupa laktosa yang bermanfaat untuk saluran
pencernaan bayi. Manfaat ini berupa pembentukan flora yang bersifat asam
dalam usus besar sehingga penyerapan kalsium meningkat dan penyerapan
fenol dapat dikurangi.4 ASI berisi laktosa 7 g3 atau berisi sekitar 6,5-7%.5
Lemak pada ASI banyak mengandung polyunsaturated fatty acid
(asam lemak tak jenuh ganda), yang biasanya dalam bentuk asam linoleat.
Dari ASI , bayi menyerap sekitar 85-90% lemak. Enzim lipase di dalam mulut
(lingual lipase) mencerna zat lemak sebesar 50-70%.4 Kandungan lemak
dalam ASI adalah 3,7 g.4 Pada ASI bervariasi sesuai dengan diet ibu; selama
8

satu kali menyusui, kadarnya lebih tinggi pada bagian akhir pemberian
minum, yang dapat membantu mengenyangkan bayi pada akhir menyusui.5
Protein dalam ASI mencapai kadar yang lebih dari cukup untuk
pertumbuhan optimal, sementara ASI juga mengandung muatan yang mudah
larut sehingga sesuai untuk ginjal bayi yang belum matang. 10 Protein
utamanya lactalbumin yang mudah dicerna. Besar pasokan protein dihitung
berdasarkan kebutuhan untuk tumbuh kembang dan jumlah nitrogen yang
hilang lewat air seni, tinja, dan kulit. Mutu protein bergantung pada
kemudahannya untuk dicerna dan diserap serta komposisi asam amino
didalamnya. Jika asupan asam amino kurang, pertumbuhan jaringan dan
organ, berat dan tinggi badan, serta lingkar kepala akan terpengaruh (Arisman,
2004). Protein ASI terdiri dari 70% whey (manusia) dan 30% kasein manusia.3
ASI merupkan sumber laktoferin, protein whey yang mengikat besi, yang
mempunyai pengaruh menghambat pertumbuhan Escherichia coli dalam
usus.5
ASI memberikan vitamin yang cukup bagi bayi dengan kadar yang
bervariasi sesuai dengan diet maternal. Pemaparan sinar matahari selama 30
menit setiap minggu ke kepala dan tangan menghasilkan vitamin D yang
cukup.10 Zat besi di dalam ASI berikatan dengan protein yang tidak terkait jika
terdapat kadar seng dan tembaga yang sesuai dan pH di dalam usus tepat. Zat
besi diabsorbsi dengan sangat efisien dan tidak tersedia zat besi bebas untuk
memberi makan pathogen seperti E.coli. Zink dihubungkan dengan imunitas
sel yang muncul dalam bentuk “yang bersahabat dengan usus bayi” dalam ASI
sehingga dapat diabsorbsi dengan sempurna.10
Tabel 1. Kandungan nutrisi pada tiga jenis susu yang berbeda per 100 ml
KANDUNGAN NUTRISI PADA SUSU
ASI Susu sapi Susu formula
Energi (kCal) 68 64 66
Protein (g) 1,3 3,1 1,4
Kasein 32% 77% 40%
Dadih 68% 23% 60%
Laktosa (g) 7,3 4,8 7,0
Lemak (g) 3,7 3,7 3,6
Jenuh 48% 58% 41%
Natrium (mmol) 0,7 2,5 0,8
9

Kalsium (mmol) 0,9 2,8 1,3


Fosfor (mmol) 0,4 2,5 0,7
Besi (mg) 0,08 0,06 0,50
Sumber: Meadow dan Newell, 2005; Siregar, 2004.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI


Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung stimulasi pada
kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi ASI antara lain2:
a. Frekuensi Menyusui
Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa frekuensi menyusui
berhubungan dengan produksi ASI. Berdasarkan hal ini direkomendasikan
menyusui paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal setelah
melahirkan.
b. Berat Lahir
Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan
mengisap ASI yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang berat
lahir normal (> 2500 gr).

c. Umur Kehamilan saat Melahirkan


Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi asupan ASI. Hal
ini disebabkan bayi yang lahir prematur sangat lemah dan tidak mampu
mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi
yang lahir tidak prematur.
d. Umur dan Paritas
Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya
dengan produksi ASI yang diukur sebagai asupan bayi terhadap ASI.
e. Stres dan Penyakit Akut
Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga
mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI.
f. Konsumsi Rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu
hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan
menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat
pelepasan oksitosin.
g. Konsumsi Alkohol
10

Kontraksi rahim saat menyusui merupakan indikator produksi


oksitosin. Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan ibu mengakibatkan
kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg
mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal.
h. Pil Kontrasepsi
Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin
berkaitan dengan penurunan volume dan durasi ASI.

4. Manfaat ASI
ASI sangat bermanfaat karena mempunyai sifat sebagai berikut1:
a. Makanan alami (natural), ideal, dan fisiologis
b. Mengandung nutrien yang lengkap dengan komposisi yang sesuai untuk
keperluan pertumbuhan bayi yang sangat cepat, yaitu pada bulan-bulan
pertama berat badan dapat meningkat dengan kira-kira 30%.
c. Nutrien yang diberikan selalu dalam keadaan segar dengan suhu yang
optimal dan bebas dari basil patogen.
d. Mengandung zat anti dan zat kekebalan lain yang dapat mencegah
berbagai penyakit infeksi terutama pada usus.
Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan meningkat apabila bayi
hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini
sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI
bersama-sama dengan MP-ASI setelah berusia 6 bulan.
Menurut Siregar (2004), manfaat pemberian ASI bagi bayi adalah:
a. ASI sebagai nutrisi
b. ASI meningkatkan daya tahan tubuh
c. ASI meningkatkan kecerdasan
d. Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang
Selain itu, keuntungan menyusui bagi si ibu menurut Siregar (2004)
adalah:
a. Mengurangi perdarahan setelah melahirkan
b. Mengurangi terjadinya anemia
c. Menjarangkan kelahiran
d. Mengecilkan rahim
e. Lebih cepat langsing
11

f. Mengurangi kemungkinan menderita kanker


g. Lebih ekonomis / murah
h. Tidak merepotkan dan hemat waktu
i. Portabel dan praktis
j. Memberi kepuasan bagi ibu
ASI juga bermanfaat bagi negara2, yaitu:
a. Penghemat devisa untuk membeli susu formula dan
perlengkapan menyusui
b. Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntahmuntah,
mencret dan sakit saluran nafas
c. Penghematan obat-obatan,tenaga dan sarana kesehatan.
d. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan
berkualitas untuk membangun Negara.

B. INISIASI MENYUSU DINI (IMD)

1.PENGERTIAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD)



Arti ‘inisiasi menyusu dini (Early initiation) adalah permulaan kegiatan
menyusu dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. Inisiasi dini juga bisa
diartikan sebagai cara bayi menyusu satu jam pertama setelah lahir dengan
usaha sendiri dengan kata lain menyusu bukan disusui. Cara bayi
melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan The Breast Crawl atau
merangkak mencari payudara.11

Inisiasi menyusu dini yaitu bayi yang baru lahir, setelah tali pusat
dipotong, di bersihkan agar tidak terlalu basah dengan cairan dan segera
diletakkan diatas perut atau dada ibu, biarkan minimal 30 menit sampai 1
jam, bayi akan merangkak sendiri mencari puting ibu untuk menyusu.12

Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah perilaku pencarian puting payudara
ibu sesaat setelah bayi lahir.13

2.MANFAAT INISIASI MENYUSU DINI


1. Mencegah hipotermia karena dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat
selama bayi merangkak mencari payudara.
12

2. Bayi dan ibu menjadi lebih tenang, tidak stres, pernapasan dan detak
jantung lebih stabil, dikarenakan oleh kontak antara kulit ibu dan bayi.
3. Imunisasi Dini. Mengecap dan menjilati permukaan kulit ibu sebelum
mulai mengisap puting adalah cara alami bayi mengumpulkan bakteri-
bakteri baik yang ia perlukan untuk membangun sistem kekebalan
tubuhnya.
4. Mempererat hubungan ikatan ibu dan anak (Bonding Atthacment) karena 1
– 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur
dalam waktu yang lama.
5. Makanan non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari
susu manusia, misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu
pertumbuhsn fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.
6. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui
ekslusif dan akan lebih lama disusui.
7. Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi diputing susu dan
sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang
pengeluaranhormon oksitosin.
8. Bayi mendapatkan ASI kolostrum-ASI yang pertama kali keluar. Cairan
emas ini kadang juga dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi
kesempatan inisiasi menyusu dini lebih dulu mendapatkan kolostrum
daripada yang tidak diberi kesempatan. Kolostrum, ASI istimewa yang
kaya akan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan terhadap infeksi ,
penting untuk pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan hidup bayi,.
Kolostrum akan membuat lapisan yang melindungi dinding usus bayi yang
masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus ini.
9. Ibu dan ayah akan sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama
kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan
mengazankan anaknya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi
ketiganya yang amat indah.
10. Meningkatkan angka keselamatan hidup bayi di usia 28 hari pertama
kehidupannya.14
13

11. Perkembangan psikomotorik lebih cepat.


12. Menunjang perkembangan koknitif
13. Mencegah perdarahan pada ibu
14. Mengurangi risiko terkena kanker payudara dan ovarium.15

3.FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG INISIASI MENYUSU DINI


1. Kesiapan fisik dan psikologi ibu yang sudah dipersiapkan sejak awal
kehamilan
2. Informasi yang diperoleh ibu mengenai Inisiasi menyusu dini
3. Tempat bersalin dan tenaga kesehatan.

4.INISIASI MENYUSU DINI YANG KURANG TEPAT


 Saat ini, umumnya praktek inisiasi menyusu seperti berikut :
1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi dengan kain
kering.
2. Bayi segera dikeringkan dengan kain kering. Tali pusat di potong, lalu
diikat.
3. Karena takut kedinginan, bayi dibungkus atau digedong dengan selimut
bayi.
4. Dalam keadaan digedong, bayi diletakkan di dada ibu (tidak terjadi kontak
dengan kulit ibu). Bayi dibiarkan di dada ibu (bonding) untuk beberapa
lama ( 10 – 15 menit) atau sampai tenaga kesehatan selesai menjahit
perineum.
5. Selanjutnya, diangkat dan disusukan pada ibu dengan cara memasukkan
puting susu ibu ke mulut bayi.
6. Setelah itu, bayi dibawa ke kamar transisi atau kamar pemulihan (recovery
room) untuk di timbang, di ukur, di cap, di azankan oleh ayah, diberi
suntikan vitamin K, dan kadang diberi tetes mata. 16

5.INISIASI MENYUSU DINI YANG DIANJURKAN


14

 Berikut ini langkah-langkah melakukan inisiasi menyusu dini yang


dianjurkan :
1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
2. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua
tangannya.
3. Tali pusat di potong lalu diikat.
4. Vernix (zat lemak putih) yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak
dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.
5. Tanpa digedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu
dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Jika perlu, bayi diberi topi untuk
mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.13

6.TAHAPAN INISIASI MENYUSU DINI


1. Tahap pertama disebut istirahat siaga (rest/quite alert stage). Dalam waktu
30 menit, biasanya bayi hanya terdiam. Tapi jangan menganggap proses
menyusu dini gagal bila setelah 30 menit sang bayi tetap diam. Bayi
jangan diambil, paling tidak 1 jam melekat.
2. Tahap kedua, bayi mulai mengeluarkan suara kecapan dan gerakan
menghisap pada mulutnya. Pada menit ke 30 sampai 40 ini bayi
memasukkan tangannya ke mulut.
3. Tahap ketiga, bayi mengeluarkan air liur. Namun air liur yang menetes dari
mulut bayi itu jangan dibersihkan. Bau ini yang dicium bayi. Bayi juga
mencium bau air ketuban di tangannya yang baunya sama dengan bau
puting susu ibunya. Jadi bayi mencari baunya.
4. Tahap keempat, bayi sudah mulai menggerakkan kakinya. Kaki mungilnya
menghentak guna membantu tubuhnya bermanuver mencari puting susu.
Khusus tahap keempat, ibu juga merasakan manfaatnya. Hentakan bayi di
perut bagian rahim membantu proses persalinan selesai, hentakan itu
membantu ibu mengeluarkan ari-ari.
15

5. Pada tahap kelima, bayi akan menjilati kulit ibunya. Bakteri yang masuk
lewat mulut akan menjadi bakteri baik di pencernaan bayi. Jadi biarkan si
bayi melakukan kegiatan itu.
6. Tahap terakhir adalah saat bayi menemukan puting susu ibunya. Bayi akan
menyusu untuk pertama kalinya. "Proses sampai bisa menyusu bervariasi.
Ada yang sampai 1 jam.6

7.TATA LAKSANA INISIASI DINI SECARA UMUM


1. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
2. Disarankan untuk mengurangi penggunaan obat kimiawi saat persalinan.
Dapat diganti dengan cara non-kimiawi, misalnya pijat, aromaterapi,
gerakan atau hynobirthing.
3. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya
melahirkan normal di dalam air atau dengan jongkok.
4. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua
tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan kulit bayi sebaiknya
dibiarkan.
5. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat
dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan
minimun satu jam atau setelah menyusu awal selesai. Kedunya diselimuti,
jika perlu gunakan topi bayi.
6. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi
dengan sentuhan lembut tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
7. Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau
perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung selama
beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan
meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit
bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia
telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan
puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap
bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.
16

8. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada


ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya operasi caesar.
9. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, di ukur, di cap setelah satu jam
atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasife, misalnya suntikan
vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.
10. Rawat gabung – ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24 jam
ibu – bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu.
Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI
keluar) dihindarkan.6

8.TATALAKSANA INISIASI DINI PADA IBU POST OPERASI CAESAR


1. Tenaga dan pelayanan kesehatan yang suportif
2. Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20°-25°C. Disediakan selimut
untuk menutupi punggung bayi dan badan ibu. Disiapkan juga topi bayi
untuk mengurangi hilangnya panas dari kepala bayi.
3. Anjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat melahirkan yang
tepat, sensitif dan mendukung ibu
4. Sarankan untuk mempergunakan cara yang tidak mempergunakan obat
kimiawi dalam menolong ibu saat melahirkan (pijat, aroma therapi dsb)
5. Biarkan ibu menentukan cara dan posisi melahirkan
6. Keringkan bayi secepatnya tanpa menghilangkan vernix yang
menyamankan kulit bayi
7. Tengkurapkan bayi di dada atau perut ibu dengan kulit bayi melekat pada
kulit ibu. Selimuti keduanya, kalau perlu menggunakan topi bayi
8. Biarkan bayi mencari puting susu ibunya sendiri. Ibu dapat merangsang
bayi dengan sentuhan lembut. Bila perlu ibu boleh mendekatkan bayi pada
puting tapi jangan memaksakan bayi ke puting susu
9. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibu sampai
proses menyusu pertama selesai
10. Ibu melahirkan dengan proses operasi berikan kesempatan skin to skin
contact
17

11. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dicap, setelah menyusu
dini selesai
12. Hindarkan pemberian minuman pre-laktal
13. Jika inisiasi dini belum terjadi di kamar bersalin, kamar operasi atau bayi
harus dipindah sebelum satu jam maka bayi tetap diletakkan di dada ibu
ketika dipindahkan ke kamar perawatan atau pemulihan. (Roesli Utami,
2008:22-23).

9.PENGHAMBAT INISIASI MENYUSU DINI

1. Bayi kedinginan-tidak benar


 Berdasarkan hasil pnelitian Dr.Niels Bergman (2005), ditemukan bahwa
suhu dada ibu yang melahirkan menjadi 1° C lebih panas daripada suhu
dada ibu yang tidak melahirkan. Jika bayi yang diletakkan di dada ibu ini
kepanasan, suhu dada ibu akan turun 1° C. Jika bayi kedinginan, suhu
dada ibu akan meningkat 2° C untuk menghangatkan bayi. Jadi, dada ibu
yang melahirkan merupakan tempat terbaik bagi bayi yang baru lahir
dibandingkan tempat tidur yang canggih dan mahal.
2. Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya-tidak
benar.
 Seorang ibu jarang terlalu lelah untuk memeluk bayinya segera setelah
lahir. Keluarnya oksitosin saat kontak kulit ke kulit seta saat bayi menyusu
dini membantu menenangkan ibu.
3. Tenaga kesehatan kurang tersedia-tidak masalah
 Saat bayi di dada ibu, penolong persalinan dapat melanjutkan tugasnya.
Bayi dapat menemukan sendiri payudara ibu. Libatkan ayah atau keluarga
terdekat untuk manjaga bayi sambil memberi dukungan pada ibu.
4. Kamar bersalin atau kamar operasi sibuk-tidak masalah
 Dengan bayi di dada ibu, ibu dapat dipindahkan ke ruang pulih atau kamar
perawatan. Beri kesempatan pada bayi untuk meneruskan usahanya
mencapai payudara dan menyusu dini.
18

5. Ibu harus dijahit-tidak masalah


 Kegiatan merangkak mencari payudara terjadi di area payudara. Yang
dijahit adalah bagian bawah tubuh ibu.
6. Suntikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah penyakit gonore harus
segera diberikan setelah
lahir-tidak benar.
 Menurut American College of Obstetrics and Gynecology dan Academy
Breastfeeding Medicine (2007), tindakan pencegahan ini dapat ditunda
setidaknya selama satu jam sampai bayi menyusu sendiri tanpa
membahayakan bayi.

7. Bayi harus segera dibersihkan, dimandikan, ditimbang, dan diukur-tidak benar.


 Menunda memandikan pada bayi berarti menghindarkan hilangnya panas
badan bayi. Selain itu, kesempatan vernix meresap, melunakkan, dan
melindungi kulit bayi lebih besar. Bayi dapat dikeringkan segera setelah
lahir. Penimbangan dan pengukuran dapat ditunda sampai menyusu awal
selesai.
8. Bayi kurang siaga-tidak benar
 Justru pada 1-2 jam pertama kelahirannya, bayi sangat siaga (alert).
Setelah itu, bayi tidur dalam waktu yang lama. Jika bayi mengantuk akibat
obat yang diasup ibu, kontak kulit akan lebih penting lagi karena bayi
memerlukan bantuan lebih untuk Bonding.
9. Kolostrum tidak keluar atau jumlah kolostrum tidak memadai sehingga
diperlukan cairan lain
(cairan prelaktal)-tidak benar.
 Kolostrum cukup dijadikan makanan pertama bayi baru lahir. Bayi
dilahirkan dengan membawa bekal air dan gula yang dapat dipakai pada
saat itu.
10. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya untuk bayi-tidak benar
19


Kolostrum sangat diperlukan untuk tumbuh-kembang bayi. Selain sebagai
imunisasi pertama dan mengurangi kuning pada bayi baru lahir, kolostrum
melindungi dan mematangkan dinding usus yang masih muda.17

1. Kontraindikasi Pemberian ASI


Beberapa kontraindikasi pemberian ASI yaitu:
a. Bayi yang menderita galaktosemia. Pada keadaan ini, bayi tidak
memiliki enzim galaktase, sehingga galaktosa tidak dapat dipecah.
Bayi juga tidak boleh minum susu formula.
b. Ibu dengan HIV/AIDS yang dapat memberikan PASI (Pengganti ASI)
yang memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasable, Affordable,
Sustainable, and Save).
c. Ibu dengan penyakit jantung yang apabila menyusui dapat terjadi gagal
jantung.
d. Ibu yang memerlukan terapi dengan obat-obat tertentu (antikanker).
e. Ibu yang memerlukan pemeriksaan dengan obat-obat radioaktif perlu
menghentikan pemberian ASI kepada bayinya selama 5x waktu paruh
obat. Setelah itu, bayi boleh menyusu lagi. Sementara itu, ASI teteap
diperah dan dibuang agar tidak mengurangi produksi.18

2. Pemberian ASI pada Keadaan Khusus


a. Pemberian ASI pada Bayi Kurang Bulan (BKB)
Bagi BKB, ASI adalah makanan terbaik. Komposisi ASI yang
dihasilkan oleh ibu yang melahirkan prematur (ASI prematur) berbeda
dengan komposisi ASI ibu yang melahirkan cukup bulan (ASI matur).
Sayangnya, komposisi ASI prematur ini hanya berlangsung beberapa
minggu dan akan berubah menjadi seperti ASI matur. Untuk bayi dengan
masa gestasi > 34 minggu dapat disusukan langsung kepada ibunya karena
refleks menghisap dan menelannya sudah cukup baik. Komposisi ASI
yang prematur akan berubah menjadi ASI matur dalam waktu 3-4 minggu.
Namun, pada saat itu masa gestasi bayi juga sudah cukup bulan sehingga
komposis ASI sesuai dengan kebutuhannya.
20

Untuk bayi yang pada usia kronologis 4 minggu dengan masa


gestasi belum 37 minggu, selain ASI perlu ditambahkan Human Milk
Fortifier atau susu formula untuk BKB. Untuk bayi dengan masa gestasi >
32-34 minggu, refleks menelan sudah cukup baik tetapi refleks hisapnya
belum. ASI perlu diperah dan diberikan dengan sendok/cangkir/pipet.
Untuk bayi dengan masa gestasi < 32 minggu, ASI perah diberikan dengan
sonde lambung karena refleks hisap dan menelan belum baik (Kosim dkk,
2008).

b. Ibu dengan TBC Paru


Kuman TBC tidak melalui ASI sehingga bayi boleh menyusu ke
ibu. Ibu perlu diobati secara adekuat dan diajarkan pencegahan penularan
ke bayi dengan menggunakan masker. Bayi tidak langsung diberi BCG
karena efek proteksinya tidak langsung terbentuk. Walaupun sebagian obat
anti TBC melalui ASI, kadarnya tidak cukup sehingga bayi tetap diberikan
profilaksis dengan INH dosis penuh. Pengobatan TBC pada ibu
memerlukan waktu paling krang 6 bulan. Setelah 3 bulan pengobatan
secara adekuat, biasanya ibu sudah tidak menularkan lagi, dan pada bayi
dilakukan Uj Mantoux. Bila hasilnya negatif, terapi INH dihentikan. Dua
hari kemudian, bayi diberi vaksinasi BCG agar kadar INH di dalam darah
sudah sangat rendah sehingga BCG dapat efektif.19

c. Ibu dengan Hepatitis B


Transmisi virus Hepatitis B sekitar 50% apabila ibu tertular secara
akut sebelum, selama, atau segera setelah kehamilan. Transmisi, kalau
terjadi biasanya adalah selama masa persalinan. HbsAg ditemukan di
dalam ASI, tetapi dokumentasi mengenai transmisi melalui ASI tidak
banyak. Ibu dengan HbsAg (+) boleh menyusui asalkan bayinya telah
diberikan vaksin Hepatitis B bersama dengan imunoglobulin spesifik
HbIg.20
21

d. Ibu dengan HIV


Transmisi HIV dari ibu ke bayi adalah 35%. Dua puluh persen saat
antenatal dan intanatal dan 15% melalui ASI. Saat ini, setelah ditemukan
obat antiretroviral dan persalinan melalui seksio sesarea, penularan saat
antenatal dan intranatal dapat ditekan menjadi 4% tetapi transmisi melalui
ASI tidak dapat diteka. Dengan demikian, pemberian ASI dari ibu dengan
HIV dilarang dan bayi diberi susu formula. Pemberian susu formula ini
harus memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasable, Affordable,
Sustainable, dan Save.21 Sayangnya, di daerah yang miskin, susu formula
yang memenuhi syarat AFASS tadi belum tentu dapat disediakan. Untuk
itu, ada kebijaksanaan bahwa ibu dapat memberikan ASI tetapi dengan
syarat:

ASI harus diperah, tidak boleh menyusu langsung, karean bial
menyusu langsung ada saja luka pada puting yang menyebabkan
penularan lebih besar

ASI diberikan secara eksklusif, tidak boleh ditambah dengan susu
formula, karena susu formula menyebabkan perdarahan kecil kecil
pada usus bayi dan virus di dalam ASI akan lebih mudah diserap

ASI perah kalau bisa dipasteurisasi, tetapi hal ini tentu sukar
dilakukan, karena tidak tersedia alat untuk ini

ASI eksklusif dianjurkan selama 3-6 bulan saja, kemudian pemberian
ASI dihentikan.22

e. Ibu dengan CMV


Ibu dengan seropositif CMV boleh memberikan ASI pada bayi
cukup bulan (BCB). Pada BKB kurang dari 1500 gram, perlu
dipertimbangkan manfaat ASI dengan risiko terjadi transmisi CMV.
Dengan cara membekukan dan atau pasteurisasi dapat menurunkan
kandungan virus CMV dalam ASI.12

f. Ibu dengan Varisela/Herpes zoster


22

Kalau ibu terlihat lesi antara 5 hari sebelum dan 5 hari setelah lahir,
pisahkan bayi dan ibunya sampai ibu tidak infeksius lagi. Bayi boleh
diberi ASI perah apabila tidak ada lesi pada payudara. Setelah tidak ada
infeksius, bayi dapat menetek langsung.13

g. Ibu dengan toksoplasmosis


Transmisi toksoplasmosis selama menyusui belum pernah
dilaporkan. ASI mungkin mengandung antibiotik terhadap Toxoplasma
gondii. Mengingat ringannya infeksi pascanatal dan adanya antibodi
dalam ASI, tidak ada alasan untuk tidak memberikan ASI dari ibu yang
terinfeksi toksoplasma.13

h. Ibu dengan infeksi lain


Bila tidak ada kontraindikasi menyusui, ibu yang demam boleh
memberikan ASI. Tidak ada alasan untuk ibu yang sakit infeksi untuk
menghentikan pemberian ASI karena bayi sudah terpapar penyakit
tersebut sejak masa inkubasi. Disamping itu, ibu membentuk antibodi
terhadap penyakit yang dideritanya yang akan disalurkan melalui ASI
kepada bayinya. Tentu ibu dianjurkan melaksanakan hal-hal untuk
mencegah penularan, misalnya menggunakan masker atau memberikan
ASI perah. Mungkin ibu memerlukan bantuan orang lain untuk
merawat bayinya.12
23

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada penulisan diatas adalah:
1. Air susu terbentuk melalui dua fase, yaitu fase sekresi dan pengaliran.
2. ASI memiliki komposisi yang sangat lengkap dan berubah sesuai dengan
kebutuhan bayi pada setiap saat.
3. ASI memiliki banyak manfaat bagi bayi
4. Inisisasi menyusui dini penting untuk ibu dan bayi.
5. Terdapat kontraindikasi pemberian ASI pada keadaan tertentu dan terdapat
pemberian ASI pada kondisi tertentu.
.
24

DAFTAR PUSTAKA

1. Siregar, A.M., 2004. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-faktor Yang


Mempengaruhinya. (http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-
arifin4.pdf, 29 Iktober 2013).

2. Alatas, Husein., Hasan, Rusepno., Latief, Abdul., Napitupulu, Partogi M


dkk. 2007. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

3. Atmawikarta, Arum. 2006. Prospek Pembangunan Nasional Bidang


Sumber Daya Manusia (SDM). Disampaikan pada Pertemuan Lintas
Sektor Badan PPSDM Kesehatan.

4. Alpers, Ann et al., 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph. Edisi 20 Volume 1.
Jakarta: EGC.

5. Arisman., 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi.
Jakarta: EGC.

6. Behrman R, Kliegman R.M, dan Arvin A.N., 2000. Ilmu Kesehatan Anak
Nelson. Edisi 15 Jilid I. Jakarta: EGC.

7. Depkes., 2013. Gizi Lebih Merupakan Ancaman Masa Depan Anak.


(http://www.bppsdmk.depkes.go.id/, 28 Oktober 2013).

8. Guyton A.C dan Hall J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
25

9. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas


Diponegoro., 2011. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.

10. Duggan C, Watkins J.B, dan Walker W.A., 2008. Nutrition in Pediatrics.
Hamilton: BC Decker Inc.

11. Henderson C dan Jones K., 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta:
EGC.

12. Kian, Marty Oktofin., Jutomo, Lewi dan Anna Henny T. 2008. Kajian
Lama Pemberian ASI Eksklusif pada Kelompok Ibu Bekerja dan Tidak
Bekerja di Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun
2008. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDANA.

13. Kosim, M Sholeh., Yunanto, Ari., Dewi, Rizalya., Sarosa, Gatot Irawan
dan Ali Usman. 2008. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI.

14. Lawrence RA., Larence RM. 2005. Breastfeeding, A Guide for the
Medical Profession. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier Mosby.

15. McKenna JJ. Mosko SS.,Richard CA.1997. Bedsharing Promotes


Breastfeeding. Pediatrics 1997; 100; 214-9.

16. Meadow S.R dan Newell S.J., 2005. Lecture Notes: Pediatrika. Edisi 7.
Jakarta: Erlangga.

17. Narendra M.B, Sularyo T.S, Soetjiningsih dkk., 2008. Buku Ajar I Tumbuh
Kembang Anak dan Remaja. Edisi 1. Jakarta: Sagung Seto.

18. Notoatmodjo, S., 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.

19. Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia). 2007. Modul Pelatihan


Manajemen Laktasi. Jakarta
26

20. Prawirohardjo, S., 2009. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi 4.


Jakarta: Bina Pustaka.

21. Schwartz, M.W., 2005. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC.

22. Suyatno., 2009. Gizi Daur Hidup: ASI (Air Susu Ibu).
(http://suyatno.blog.undip.ac.id/files/2013/12/gizi-dan-asi.pdf, 29 Oktober
2013).