Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI INTERNA HEWAN BESAR


YANG DILAKSANAKAN DI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

“IMPAKSIO RUMEN”

Oleh:
Dinda Adinda, S.KH
NIM. 170130100011045

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada penulis, karena berkat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan koasistensi rotasi interna hewan
besar dan menuliskan laporan kegiatan dengan lancar tanpa ada hambatan yang
berarti. Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak di antaranya:
1. Drh. Arfan Lesmana, M.Sc selaku dosen pembimbing maupun dosen penguji
pada kegiatan PPDH rotasi Interna Hewan Besar
2. Drh. Ribut Hartono sebagai dosen pembimbing lapang yang telah bersedia
untuk berbagi ilmu selama kegiatan koasistensi
3. Teman sejawat PPDH Gelombang X Kelompok 4 atas kerjasama, dorongan,
semangat, inspirasi, keceriaan, dan kebersamaannya.
Akhir kata, penulis berharap semogaTuhan Yang Maha Esa membalas
segala kebaikan yang telah diberikan dan penulis sepenuhnya menyadari bahwa
penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mohon kritik
dan saran yang bersifat membangun demi masa mendatang yang lebih baik.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Maret 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii


KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................1
1.3 Tujuan ..............................................................................................................1
BAB II STUDI KASUS ..........................................................................................2
2.1 Signalement .....................................................................................................2
2.2 Anamnesa ........................................................................................................2
2.3 Temuan Klinis .................................................................................................2
2.4 Pemeriksaan klinis ...........................................................................................3
2.5 Diagnosa Diferensial .......................................................................................3
2.6 Terapi ...............................................................................................................3
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................4
BAB IV PENUTUP ..............................................................................................10
4.1 Kesimpulan ....................................................................................................10
4.2 Saran ..............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................11

iv
DAFTAR GAMBAR
Tabel Halaman
2.1 Kondisi dari sapi di lapangan ................................................................... 2
3.1 Diagram alir patogenesa impaksio rumen ................................................ 5

v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Direktorat Jendral Pertanian (2011), peningkatan populasi
terbesar pada sapi yaitu, sapi potong sebanyak 7,24% dari tahun 2012 sampai
2013, sedangkan untuk sapi perah hanya 2,41%. Salah satu ternak terpenting dari
jenis hewan ternak yang dipelihara oleh manusia sebagai sumber daging, susu,
tenaga kerja, serta kebutuhan manusia lain. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-
55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit.
Termasuk komponen penting dan komoditas unggulan di Indonesia karena
pemeliharaannya ditujukan untuk memperoleh keuntungan yang bersifat
ekonomis. Peningkatan produktivitas dan reproduksi perlu dipikirkan kembali, hal
tersebut bertujuan mencegah terjadinya penyakit yang sulit diberantas dan sering
muncul bahkan dapat menyebabkan kematian sekalipun. Indonesia merupakan
negara kepulauan dengan iklim tropis yang bervariasi pada setiap daerah sehingga
memiliki variasi biodiversitas termasuk populasi vektor di masing-masing daerah
yang sangat beragam. Hal ini mengakibatkan perpindahan vektor dan ternak yang
sangat sering terjadi dan bahkan dapat meningkatkan prevalensi penyakit.
Salah satu penyakit yang sering terjadi akibat manajemen pemeliharaan
yang tidak tepat yaitu indigesti dimana merupakan salah satu gangguan pada
saluran pencernaan terutama lambung akibat dari faktor manajemen pakan yang
buruk. Apabila penyakit tersebut tidak ditangani akan berlanjut pada kondisi
alkalosis rumen.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana peneguhan diagnosa impaksio rumen pada sapi?
b. Bagaimana pencegahan dan penanganan impaksio rumen pada sapi?
1.3 Tujuan
Tujuan koasistensi rotasi interna hewan besar ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui peneguhan diagnosa impaksio rumen pada sapi
b. Mengetahui pencegahan dan penanganan impaksio rumen pada sapi
BAB II STUDI KASUS
2.1 Signalement
Berikut ini merupakan signalement dari pasien kasus impaksio rumen yang
meliputi:
Jenis Hewan : sapi
Ras Hewan : simental
Jenis Kelamin : jantan
Umur : ± 2 tahun
Berat badan : ± 400 kg
Ciri khusus : warna coklat, bagian kepala ada corak putih berwarna
putih
2.2 Anamnesa
Berdasarkan keluhan dari pemilik sapi tersebut, diperoleh infomasi apabila :
1. sapi mengalami pincang pada kaki kiri belakang
2. nafsu makan dan minum menurun sejak dua hari yang lalu
3. Diam sepanjang hari
2.3 Temuan Klinis
Gejala klinis yang nampak yaitu :
1. Kaki kiri belakang pincang
2. Konsistensi feses mengeras dan kering
3. Anoreksia

a. b.

Gambar 2.1 a. Konsistensi feses b. Kondisi fisik sapi

2
2.4 Pemeriksaan klinis
Berdasarkan anamnesa tersebut, dokter hewan melakukan pemeriksaan
klinis yang menunjukkan :
a. Keadaan umum
Pulsus :-
Respirasi : normal
Suhu tubuh : ±39,5 oC
Konjungtiva : normal, tidak ada perubahan
Mata : normal
Turgor : 2 detik
Hidung : bagian cuping kering
b. Inspeksi
1. Cara berjalan tampak kaki kiri belakang pincang
2. Tidak terlihat adanya regurgitasi
3. Konsistensi feses mengeras dan kering
c. Palpasi
1. palpasi bagian daerah flank kiri (rumen) mengalami distensi, saat ditekan
seperti konsistensi tanah liat
2. Tidak ada gerakan rumen sama sekali
2.5 Diagnosa Diferensial
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis diketahui jika diagnosa
sementara yaitu indigesti sederhana, impaksio rumen/ rumen sarat.
2.6 Terapi
1. Injeksi antibiotik (oxytetracycline) dikombinasikan dengan analgesik,
antipiretik dan antispasmodik (Dipyrone dan Lidocaine) secara intramuskular
2. Saran kepada peternak adalah menyediakan air minum secara ad libitum dan
pemberian konsentrat tidak berlebihan

3
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada saat pengamatan di lapangan terlihat jika sapi tidak begitu aktif
dibanding sapi lain yang ada di dalam kandang tersebut. Berdasarkan anamnesa
yang diperoleh dari pemilik diketahui jika nafsu makan dan minum sapi menurun
sejak dua hari yang lalu, sapi menjadi malas bergerak, jika berjalan tampak kaki
kiri belakang pincang. Ketika dilakukan inspeksi pada cuping hidung kering, sapi
tidak terlihat adanya regurgutasi, cara berjalan abnormal dimana kaki kiri
belakang pincang, dan tampak konsistensi feses mengeras serta kering. Pada saat
di palpasi bagian daerah flank kiri (rumen) mengalami distensi, saat ditekan
seperti konsistensi tanah liat dan tidak ada pergerakan rumen sama sekali.
Berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan klinis, diagnosa sementara yaitu
indigesti sederhana yang berlanjut pada rumen sarat/impaksio rumen.
Pada kasus tersebut dapat terjadi karena beberapa penyebab yang
kemungkinan berasal dari manajemen pakan yang tidak baik. Pada kasus yang
ditemukan di lapangan ini kemungkinan penyebabnya adalah perubahan pakan
secara mendadak yaitu peternak memberikan konsentrat yang tiba-tiba banyak,
jumlah hijauan yang sedikit dengan kualitas rendah serta ketersediaan air minum
yang sedikit karena kandang tidak dilengkapi dengan tempat minum permanen.
Akibat dari perubahan pakan yang mendadak, pemberian pakan kaya
karbohidrat yang mudah terfermtasi dalam jumlah banyak sehingga hasil akhir
fermentasi karbohidrat banyak menghasilkan asam laktat. Apabila asam laktat
banyak menumpuk di dalam rumen makan pH rumen akan berubah menjadi asam.
Kondisi tersebut akan menyebabkan peningkatan jumlah populasi bakteri gram
positif, sedangkan jumlah populasi bakteri gram negatif seperti bakteri selulolitik
akan menurun yang mengakibatkan proses pemecahan selulosa di dalam rumen
tidak dapat berjalan sempurna. Akibat jumlah populasi mikroba yang menurun
menyebabkan proses fermentasi di dalam tidak berjalan sempurna. Akibatnya
banyak ingesta yang tertimbun di dalam rumen. Jika timbunan ingesta di dalam
rumen berlangsung terus menerus maka akan meningkatkan kontraksi otot rumen
dan perlahan-lahan akan menyebabkan penurunan rumen. Hasil akhirnya yaitu

4
tidak ada gerakan rumen sama sekali dan terjadinya konstipasi. Patomekanisme
penyakit tersebut sejalan dengan yang dijelaskan oleh Elghany (2014) bahwa
impaksio rumen dapat terjadi perubahan mendadak dalam pemberian pakan dari
ransum hijau atau serat menjadi ransum konsentrat yang kaya akan karbohidrat
yang menyebabkan gangguan atau perubahan populasi mikroba di rumen. Hewan
yang diberikan pakan kaya karbohidrat yang mudah dicerna selama 2-6 jam pasca
ingesti akan menyebabkan perubahan jumlah populasi pada rumen karena hasil
akhir fermentasi karbohidrat berupa asam laktat menumpuk di rumen sehingga pH
rumen menjadi asam. Jumlah bakteri gram positif seperti streptococcus bovis
meningkat, sedangkan jumlah bakteri gram negatif (bakteri selulitik) mengalami
penurunan. Peningkatan jumlah gram positif yang terus menerus seperti
streptococcus bovis yang berperan dalam membantu fermentasi karbohidrat untuk
menghasilkan asam laktat yang berlebih pada rumen sehingga pH rumen berkisar
4-5. Akibat perubahan jumlah populasi bakteri di dalam rumen ini berpengaruh
pada proses fermentasi yang tidak berjalan sempurna sehingga prose pemecahan
pakan menjadi bentuk yang lebih kecil akan berjalan lebih lama. Apabila proses
tersebut berjalan terus menerus maka akan menyebabkan akumulasi ingesta di
dalam rumen. Hal tersebut menyebabkan distensi rumen yang berpengaruh pada
penurunan motilitas rumen sehingga komponen pakan serat tersebut akan
bercampur dengan ingesta lain di dalam rumen. Jika berlangsung terus menerus
maka rumen akan mengalami atoni/ stasis.

5
Kurangnya pakan serat kasar Pakan tinggi protein dan karbohidrat

Menurunkan aktivitas
mikroorganisme pada rumen

Perubahan pH rumen

Proses fermentasi terganggu

Gagal mencerna ingesta

Ingesta menumpuk pada rumen

Distensi rumen

Hipomotilitas rumen

Atoni rumen

Gambar 3.1 Diagram alir patogenesa impaksio rumen

Pada kasus di lapangan, nampak gejala klinis seperti anoreksia, distensi


abdomen, atoni rumen, konsistensi feses kering dan keras, kaki kiri belakang
pincang dan peningkatan suhu tubuh. Anoreksia dapat terjadi karena rumen sangat
penuh sehingga nafsu makan dan minum perlahan-lahan menurun. Distensi
abdomen merupakan kompensasi dari kondisi rumen yang penuh dengan ingesta
tanpa adanya motilitas rumen sehingga saat ditekan akan terasa seperti tanah liat.
Atoni rumen akibat perubahan pH rumen menyebabkan penurunan motilitas
rumen dan ingesta menjadi stasis di dalam rumen. Apabila keadaan tersebut
berlangsung secara terus menerus akan menyebabkan atoni rumen. Hal ini sesuai

6
dengan yang dijelaskan oleh Scott (2011) jika kasus indigesti sederhana yang
berlanjut pada impaksio rumen yaitu atoni rumen, penurunan produksi susu,
anoreksia, distensi abdomen, feses yang dikeluarkan sedikit dengan konsistensi
keras dan kering. Kemungkinan akan diikuti dengan muncul gejala pincang pada
ekstremitas. Gejala pincang kemungkinan karena endotoksin yang dihasilkan dari
bakteri gram negatif yang telah mati di dalam rumen keluar dari sel bakteri dan
menyebar melalui peredaran darah. Endotoksin tersebut berkumpul pada beberapa
daerah salah satunya yaitu bagian persendian.
Manajemen terapi yang diberikan pada saat penanganan kasus di lapangan
yaitu dengan injeksi antibiotik golongan oxytetracycline yang dikombinasikan
dengan sediaan obat analgesik, antipiretik dan antispasmodik yang mengandung
dipyrone dan lidocaine secara intramuskular dimana antibiotik diberikan dengan
tujuan untuk meminimalisasi terjadi infeksi pada rumen, sedangkan pemberian
antispasmodik pada kasus ini sangat penting untuk mengembalikan gerak rumen.
Menurut Plumb (2008) pemberian antibiotik golongan oxytetracycline bersifat
bakteristasik dan menghambat sintesis protein sel bakteri dimana mampu
melawan bakteri gram positif, strain stapylococcus dan streptococcus dan bakteri
yang resisten terhadap penicillin. Metamizole (dipyrone) merupakan golongan
obat antiinflamasi non-steroid yang memberi efek sebagai analgesik, antipiretik
maupun spasmolitik. Mekanisme kerja sebagai analgesik dengan menghambat
COX-3 serta mengurangi produksi prostaglandin. Mekanisme sebagai antipiretik
yaitu memblokir sintesis pyrogens endogen dalam produksi prostaglandin D dan
E. Mekanisme untuk efek spasmolitik dikaitkan dengan terhambatnya pelepasan
intrasellular Ca2+ sebagai akibat dari berkurangnya sintess inositol fosfat.
Lidocaine merupaakan anestesi lokal yang bekerja memblokade kanal Na+
sehingga mencegah potensial aksi sepanjang serabut syaraf.
Manajemen terapi dapat berupa manajemen medikasi dan manajemen
preventif dimana dokter hewan memberikan edukasi kepada peternak mengenai
manjemen pencegahan untuk menghindari terjadi kasus tersebut di lapangan
dengan menyarankan untuk memperhatikan manajemen pakan yaitu pemberian
konsentrat secukupnya, menyediakan hijauan dengan kualitas yang baik serta

7
menyediakan air minum di kandang secara ad libitum. Menurut Divers (2008)
menjelaskan langkah tepat dalam manajemen terapi yaitu dengan menghentikan
pemberian pakan kaya karbohidrat yang mudah difermentasi dan menyarankan
untuk memberikan hijauan serta kesediaan air minum sekitar 20-40 liter atau ad
libitum untuk memperbaiki fungsi rumen.
Adapun terapi yang dapat diberikan pada kasus impaksio rumen yaitu
melakukan evakuasi pada rumen dengan pemberian oil purgative (1-2 liter
minyak sayur), dan tindakan rumenotomy (Elghany 2014). Menurut Bohling
(2012) rumenotomy merupakan tindakan bedah melalukan insisi rumen dengan
tujuan untuk mengeluarkan isi rumen ataupun benda asing yang dapat
menyebabkan gangguan motilitas rumen. Tindakan bedah tersebut biasanya
dilakukan dengan posisi hewan berdiri dan menggunakan anestesi lokal. Tindakan
insisi pada left paralumbar. Menurut Elghany (2014), terapi selanjutnya adalah
dengan mengkoreksi kondisi pH rumen yang kemungkinan dalam suasana asam
sehingga perlu diberikan terapi berupa pemberian larutan sodium bicarbonate
200-500 g secara oral dengan tujuan meningkatkan pH rumen karena sifat dari
sodium bicarbonate yang merupakan basa kuat. Perlu dilakukan koreksi status
dehidrasi dari hewan tersebut dengan terapi cairan Ringer Lactate. Pencegahan
dari kasus ini adalah menghindari pemberian pakan biji-bijian secara berlebih,
menyediakan pakan kaya serat sekitar 10% dari berat badan, menyediakan minum
secara ad libitum. Terapi supportif ketika ditemukan gejala pincang dapat
diberikan antihistamin, sedangkan apabila hewan mengindikasikan gejala
hipocalcemia dapat diberikan Ca borogluconate 2% 1-2 liter secara intravena.
Pemberian obat-obatan yang bersifat parasympathomimetic seperti carbamyle
choline chloride maupun Neostagmine untuk menstimulasi gerakan muskulus.
Pemberian rumenotoric untuk merangsang motilitas rumen serta pemberian
antibiotik (penicillin atau oxytetracycline) untuk mengontrol pertumbuhan bakteri
yang tidak diinginkan dalam rumen.

8
Menurut Suebronto (2003) pemberian terapi pada gangguan awal kasus ini
dengan pemberian purgansia dalam dosis ruminatorium seperti larutan magnesium
sulfat atau sodium sulfat dapat diberikan 1-2 kali. Injeksi antihistamin seperti
Dipenhidramin HCl sebanyak 10-15 ml. Pemberian antibiotik golongan penicillin
yang bertujuan untuk untuk mengurangi jumlah bakteri Lactobacillus dan diulangi
12 jam kemudian. Perlu diperhatikan tingkat dehidrasi selama kasus ini
berlangsung. Apabila tingkat dehidrasi sebesar 8% dengan berat ±500 kg maka
perlu diberikan terapi cairan sebanyak 401 ml secara bertahap. Pada kasus ini
kemungkinan untuk terjadinya asidosis sangat terjadi sehingga perlu diberikan
larutan sodium bikarbonat (NaHCO3) 2,5% sebanyak 500 ml yang diinjeksikan
secara intravena perlahan-lahan.

9
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Seekor sapi dengan anamnesa yang diperoleh dari pemilik yaitu nafsu
makan dan minum menurun, kaki kiri belakang pincang dan feses kering.
Berdasarkan pemeriksaan fisik dari temuan klinis tersebut diketahui jika tidak ada
gerakan rumen sehingga peneguhan diagnosa mengarah pada kasus penyakit
indigesti sederhana yang berlanjut pada impaksio rumen. Penyebab dari kasus ini
di lapangan yaitu perubahan pakan secara mendadak yaitu peternak memberikan
konsentrat yang tiba-tiba banyak, jumlah hijauan yang sedikit dengan kualitas
rendah serta ketersediaan air minum yang sedikit karena kandang tidak dilengkapi
dengan tempat minum permanen. Pengobatan yang diberikan yaitu injeksi
antibiotik (oxytetracycline) dan analgesik, antipiretik dan spasmolitik (metamizole
dan lidocaine).
4.2 Saran
Peternak harus memperbaiki manajemen pemeliharaan sapi yang baik agar
menghindari terjadinya gangguan pada saluran pencernaan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bohling, Kristin H. 2012. Large Animal Clinical Procedures for Veterinary


Technique 2nd. Elsevier Mosby. United Kingdom American
Divers, T.J. dan Peek, S.F. 2008. Rebhun’s Disease of Dairy Cattle. Saunders
Elseviers. Missouri.
Elghany, A.E.H.A. 2014. Guide in Ruminant 2nd Edition. Benha: Benha
University
Plumb, Donald C. 2008. Veterinary Drug Handbook 6th Edition. Iowa: Blackwell
Publishing.
Scott, R. Philip., Penny, C.D. 2011. Cattle Medicine. Manson Publishing Ltd.
United Kingdom
Soebronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Universitas Gadjah Mada
Press: Yogyakarta

11