Anda di halaman 1dari 63

Sosialisasi

Jabatan Fungsional
Analis Anggaran
Jakarta, 25-26 April 2018
Jabatan Fungsional Analis Anggaran
dalam Rangka Mewujudkan
Value for Money APBN
OUTLINE
Outline

 Overview APBN
 Kondisi Saat Ini
 Tindak Lanjut
 Kondisi yang Diinginkan

3
3
1. Overview APBN
Belanja Negara (2010-2017) dalam trilyun rupiah
2.500
Dalam kurun waktu 8
2.081 tahun, besar anggaran
2.000 1.876
1.650
1.495 pendapatan dan belanja
1.500 1.295

1.000
1.042
melonjak hampir 2x lipat
500

0
Agama
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
1% Perlindungan
Sosial
Pariwisata & 11%
Pelayanan
Pendapatan Negara & hibah (2010-2017) Budaya Umum
1%
dalam trilyun rupiah Pendidikan 30%
10%

1.800 1.635 1.750 Kesehatan


1.439 5% Pertahanan
1.500 1.338 7%
1.211
1.200 995
900
600 Perumahan &
Ekonomi
Fasum Lingkungan Hidup
300 23%
2% 1% Ketertiban &
0 Kemanan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 9%
4
4
2. Kondisi Saat Ini
1. .....tata kelola anggaran negara belum sepenuhnya mampu menjadi instrumen distribusi
anggaran yang efektif...(karena)......anggaran berbasis kinerja ‘setengah hati’ – detil di
perencanaan, administratif di pertanggungjawaban ... Disintegrasi sistem informasi rencana –
anggaran - realisasi
--- Kajian Seknas FITRA tentang Reformasi Penganggaran di Indonesia (September 2012)
2.
.. 72% of K/L have tendency to execute payments at the end of the year, delayed from the budget
plan ... Only 57% of outputs were fully achieved (100%), 13% had 0% achievement, or were not
input... High frequency of revisions done on other operational and non-operational spending
--- Laporan Diagnostik Tim Konsultan McKinsey untuk Program Transformasi Kelembagaan Kemenkeu (2013)

3. Tingginya tingkat turnover pegawai di Kementerian/Lembaga, ketatnya tenggat waktu


penyusunan RKAKL, serta tingginya dinamika perubahan aturan, antara lain menyebabkan:
 ada gap penguasaan pengetahuan antara DJA dengan Kementerian/Lembaga
 penganggaran tidak selalu didasarkan pada hasil kajian yang mendalam
4. Pada saat ini, baik di DJA maupun di Kementerian/Lembaga, proses penganggaran dilaksanakan
oleh jabatan-jabatan struktural dalam struktur organisasi mekanistik, sehingga:
 Kepuasan kerja rendah karena minimnya ruang diskresi
 Pegawai kurang terpacu untuk menghasilkan kinerja lebih dari yang ditargetkan
5. Terdapat potensi ketidakselarasan dengan arah implementasi UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Aparat Sipil Negara, yang mengarah kepada organisasi yang miskin struktur-kaya fungsi
5
5
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
3. Tindak Lanjut
Proses penganggaran perlu spesialisasi
Proses penganggaran yang kompleks memerlukan
keahlian spesialisasi di bidang penganggaran

Perubahan mindset ke arah analitis


Insentif untuk mendorong paradigma/mind set pegawai dari
Budget Administrator menjadi Budget Analyst untuk proses
penganggaran yang lebih berkualitas sehingga dapat
menciptakan APBN yang lebih baik

Menuju organisasi ‘miskin struktur, kaya fungsi’


Penyelerasan implementasi UU No 5 Tahun 2014 tentang ASN
dan PP No 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS khususnya
tentang sistem karir PNS

6
6
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
4. Kondisi Yang diinginkan
Implementasi Jafung Analis Anggaran (JFAA)

Pembangunan
yang
berkelanjutan
dan
berkeadilan

Implementasi Peningkatan Kualitas Proses APBN yang lebih baik:


Jafung Analis Penganggaran:  Meningkatnya ruang
Anggaran  Kedalaman analisis di level fiskal
outcome  kualitas review prakiraan
 Penurunan gap pengetahuan maju dan penilaian
antara Kemenkeu dan K/L  usulan
koordinasi lebih optimal kebijakan/program/
 Peningkatan profesionalisme kegiatan baru
dan mengurangi politisasi  Kebijakan fiskal yang
 Inpassing proses penganggaran selaras kebijakan makro
 Training  Peningkatan motivasi dan
 Uji kompetensi kepuasan kerja pegawai
 Sertifikasi

7
7
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
TERIMA KASIH

DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN


Kerangka Implementasi
Jabatan Fungsional Analis Anggaran
pada Kementerian/Lembaga
Outline

1. Latar Belakang
2. Dasar Hukum
3. Tentang JFAA
4. Cakupan JFAA: Kompleksitas & Bidang Tugas
5. Unsur Kegiatan JFAA
6. Butir Kegiatan JFAA
7. Posisi JFAA dalam Struktur: Case CFO
8. Pengembangan Karir JFAA
9. Follow Up: Proses Implementasi JFAA

10
1
0
1. Latar Belakang
 Dalam rangka implementasi JFAA, Kementerian Keuangan selaku
Pembina telah membentuk Tim Kerja Pembinaan JFAA yang terdiri
dari Pokja Pembinaan dan Pokja Inpassing
 Tugas pokja pembinaan antara lain meliputi:
 Sosialisasi JFAA  Tunjangan JFAA
 Pembentukan Unit Kerja  Kurikulum pelatihan JFAA
Pembina  Uji Kompetensi JFAA
 PMK tentang karya tulis ilmiah  Asosiasi Profesi JFAA
 Evaluasi Perhitungan kebutuhan  Kode Etik dan Kode Perilaku JFAA
formasi JFAA  Standar Kualitas Hasil Kerja
 Hubungan JFAA dengan struktur
 Tim Penilai Angka Kredit Pusat
 Tujuan sosialisasi ini untuk menyamakan persepsi seluruh K/L terkait
regulasi JFAA dan langkah implementasinya
11
1
1
2. Dasar Hukum
UU Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara

UU Nomor 5 Tahun 2014


tentang ASN

PP Nomor 11 Tahun 2017


tentang Manajemen ASN

PMK Nomor 234 Tahun 2015


tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Keuangan

PERMENPAN-RB Nomor 21 Tahun 2016


tentang JFAA

PERKA-BKN Nomor 14 Tahun 2017


tentang Petunjuk pelaksanaan Pembinaan JFAA
PMK Nomor 61 Tahun 2017
tentang Petunjuk Teknis JFAA

PMK Nomor 103 Tahun 2017


tentang Standar dan Uji Kompetensi serta Diklat JFAA

Perdirjen Nomor 4 Tahun 2017


tentang Pedoman Seleksi Inpassing JFAA
12
12
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
3. Tentang JFAA
Tugas Analisis di bidang penganggaran dalam pengelolaan APBN
Jabatan

Jabatan Fungsional Analis Anggaran termasuk dalam rumpun akuntan dan


Rumpun anggaran

Keduduk Analis Anggaran berkedudukan sebagai pejabat fungsional di bidang


an penganggaran dalam pengelolaan APBN pada Kementerian
Negara/Lembaga

Kategori Jabatan Fungsional Analis Anggaran merupakan jabatan fungsional kategori


keahlian
Analis Anggaran Pertama : III/a dan III/b
Analis Anggaran Muda : III/c dan III/d
Jenjang
Analis Anggaran Madya : IV/a, IV/b, dan IV/c
Analis Anggaran Utama : IV/d dan IV/e
13
1
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN 3
4. Cakupan JFAA: Kompleksitas & Bidang Tugas
Peran JFAA Pemerintah Pusat adalah memberikan rekomendasi (operasional dan
strategis) berbasis analisis yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada JPT
atau pejabat struktural untuk pengambilan keputusan
K ANALIS
Analisis Strategis
 Rekomendasi kebijakan
O UTAMA
alokasi anggaran nasional M
ANALIS
Analisis Kompleks P MADYA
 Analisis efisiensi alokasi per
bidang thd pencapaian L
output/ outcome
 analisis dampak makro per
E
Ranah strategis
sektor/jenis belanja K
Ranah operasional
S ANALIS ANALIS
Analisis Operasional
 Review baseline K/L
I PERTAMA MUDA
 Profile belanja satker/K/L T
 analisis dampak makro
per sektor/jenis belanja A
Kompilasi/Olah Data S PELAKSANA

SATKER K/L / SUB SEKTOR SEKTOR/BIDANG NASIONAL

14
14
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
5. Unsur Kegiatan JFAA
PENDIDIKAN
Pendidikan dengan gelar kesarjanaan, diklat, sertifikasi,
prajab
UNSUR ANALISIS DI BIDANG PENGANGGARAN
Analisis belanja, pendapatan (PNBP), dan pembiayaan  “butir
UTAMA kegiatan”

PENGEMBANGAN PROFESI
KEGIATAN
Karya tulis ilmiah, penulisan buku, penerjemahan, dsb.
JFAA
 pengajar/pelatih pada diklat fungsional/teknis di bidang
penganggaran dalam pengelolaan APBN;
 peran serta dalam seminar/lokakarya/konferensi di bidang
penganggaran dalam pengelolaan APBN;
UNSUR  keanggotaan dalam organisasi profesi;
PENUNJANG  keanggotaan dalam Tim Penilai Kinerja Jafung Analis
Anggaran;
 perolehan penghargaan/tanda jasa;
 perolehan ijazah/gelar kesarjanaan lainnya
15
1
DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN 5
6. Butir Kegiatan JFAA (1/4)

 Setiap butir kegiatan memiliki angka kredit yang


nantinya akan diakumulasikan dan dinilai per
tahun untuk kenaikan pangkat dan/atau jenjang
 Target tahunan:
 Pertama: 12,5 angka kredit
 Muda: 25 angka kredit
 Madya: 37,5 angka kredit
265
 Utama: 50 angka kredit butir
 JFAA yang melaksanakan butir kegiatan satu
jenjang di bawahnya mendapatkan 100% angka kegiatan
kredit
 JFAA yang melaksanakan butir kegiatan satu
jenjang di atasnya mendapatkan 80% angka kredit
 Di awal tahun, JFAA menyusun SKP yang berisi
butir kegiatan yang merupakan turunan dari
sasaran kinerja unit

SANKSI:
 Capaian sasaran kinerja akhir tahun = 25 s.d. 50%  hukuman disiplin tingkat sedang
 Capaian sasaran kinerja akhir tahun < 25%  hukuman disiplin tingkat berat
16
1
6
6. Butir Kegiatan JFAA (2/4)
ANALIS ANGGARAN PERTAMA
Butir Kegiatan Angka Kredit
Merancang arsitektur dan informasi kinerja penganggaran 0,05
Menganalisis pagu per program 0,10
Inventarisasi data penyusunan RKAKL 0,04
Menyiapkan data penelaahan RKAKL 0,07
Menyiapkan bahan revisi anggaran 0,05
Menyiapkan bahan monitoring dan evaluasi 0,05
Inventarisasi data penyusunan usulan tambahan anggaran 0,06
Menyiapkan data tindak lanjut hasil pemeriksaan 0,06
Inventarisasi data potensi, jenis, dan tarif PNBP 0,24
Inventarisasi data target dan pagu penggunaan PNBP 0,12
Inventarisasi data revisi target dan pagu penggunaan PNBP 0,06
Inventarisasi data terkait pelaksanaan peraturan di bidang PNBP 0,09
17
1
7
6. Butir Kegiatan JFAA (3/4)
ANALIS ANGGARAN MUDA
Butir Kegiatan Angka Kredit

Menganalisis kebutuhan inisiatif baru 0,14

Menganalisis pagu per program 0,19

Menganalisis RKAKL dalam trilateral meeting 0,25

Menganalisis usulan perubahan pagu indikatif 0,25

Menganalisis data penyusunan renja per program 0,09

Menelaah rencana kerja dan anggaran 0,23

Menganalisis besaran revisi target dan pagu penggunaan PNBP 0,37

Menyusun usulan penggunaan sebagian dana PNBP 0,04

Menelaah usulan tambahan anggaran 0,20

Menyusun usulan pendanaan tahun jamak 0,09

Menganalisis kebutuhan revisi anggaran 0,11

Menganalisis kebutuhan inisiatif baru 0,14


18
1
8
6. Butir Kegiatan JFAA (4/4)
ANALIS ANGGARAN MADYA
Butir Kegiatan Angka Kredit

Menyusun proposal inisiatif baru 0,20


Menganalisis angka dasar dan/atau prakiraan maju per K/L 0,31
Menganalisis pagu per bagian anggaran 0,31
Menyusun draft rencana kerja K/L 0,16
Menganalisis usulan revisi anggaran 0,28
Melaksanakan monitoring dan evaluasi aspek manfaat 0,26
Menyusun rencana bisnis dan anggaran 0,17
Menyusun rekomendasi tanggapan atau tindak lanjut LHP 0,24
Menganalisis terkait penggunaan sebagian dana PNBP 0,58
Menyusun rekomendasi hasil monev atas pelaksanaan peratuan PNBP 0,26
Menilai usulan standar biaya 0,29
Menganalisis rancangan arsitektur dan infoormasi penganggaran per BA 0,29
19
1
9
7. Posisi JFAA dalam Struktur: Case CFO (1/2)
PP 11/2017 ttg Manajemen PNS
Pasal 67
Pejabat Fungsional berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada pejabat pimpinan tinggi
pratama, pejabat administrator, atau pejabat pengawas yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan
tugas JF.

20
2
0
7. Posisi JFAA dalam Struktur: Case CFO (2/2)
penugasan/disposisi *proyeksi grade:
DIREKTUR JENDERAL
HAY FES

DIREKTUR JFAA UTAMA 20 14

KEPALA SUBDIREKTORAT JFAA MADYA 17 12

KEPALA SEKSI JFAA MUDA 14 10


Batas Usia Pensiun:
JFAA PERTAMA 12 8

58 58 60 65
 JFAA Utama, Madya, Muda, dan TUNJANGAN *Proyeksi grade didasarkan atas:
Pertama menerima penugasan • Tunjangan Grade (diatur dengan  perhitungan awal dan
dari dan melapor/ bertanggung PMK) benchmarking Jabatan Fungsional
jawab kepada pejabat struktural • Tunjangan Jabatan JFAA (akan Analis Keuangan Pusat dan
 Pola hubungan antar JFAA beda Daerah yang tipikal hubungan
diatur dengan Perpres)
jenjang adalah koordinatif, bukan struktural-fungsionalnya mirip
dengan JFAA
instruktif, kecuali ketika
 Usulan Kemenkeu yang telah
menjalankan peran dalam tim dibahas bersama KemenPAN
21
2
1
8. Pengembangan Karir JFAA

Fungsi memimpin dan


memotivasi setiap pegawai
ASN pada instansi pemerintah

JABATAN PIMPINAN (JPT)


By
1 Utama Position
Tugas Berkaitan dgn 2 Madya Tugas berkaitan dgn pelayanan
pelayanan publik serta 3 Pratama fungsional yg berdasarkan
administrasi pemerintahan keahlian dan ketrampilan
dan pembangunan tertentu

JAFUNG ANALIS
ADMINISTRASI ANGGARAN
1 Administratur 1. Utama, By
By 2. Madya, Career
2 Pengawas
Career
3 Pelaksana 3. Muda,
4. Pertama

22
2
2
9. Follow Up: Proses Implementasi JFAA

PENETAPAN
Utama dan Madya oleh
Menteri
PROSES REKRUITMEN
JFAA Muda dan Pertama oleh
Sekretaris Jenderal
Inpassing
FORMASI
Perpindahan dari
K/L menghitung formasi jabatan lain
K/L mengajukan usulan Pengangkatan pertama
formasi ke KemenPAN dari CPNS
KemenPAN menetapkan
formasi K/L
23
2
3
Proses Implementasi
Jabatan Fungsional Analis Anggaran
pada Kementerian/Lembaga
1. Proses Implementasi JFAA

PENETAPAN
Utama dan Madya oleh
Menteri
PROSES REKRUITMEN
JFAA Muda dan Pertama oleh
Sekretaris Jenderal
Inpassing
FORMASI
Perpindahan dari
K/L menghitung formasi jabatan lain
K/L mengajukan usulan Pengangkatan pertama
formasi ke KemenPAN dari CPNS
KemenPAN menetapkan
formasi K/L
25
2
5
2. Formasi JFAA
 Berbasis analisis beban kerja KJF : Kebutuhan Jumlah Pejabat fungsional per jenjang

 Didapat dari total beban kerja dibagi


w : waktu penyelesaian hasil kerja (output) pertahun
JKE : Jam Kerja Efektif (1497 jam/1250 jam) w
waktu kerja efektif (1250 jam/tahun)
 Langkah perhitungan formasi: 2. Konversi angka kredit ke jam kerja dan
1. Menghitung total angka kredit per kebutuhan pegawai per jenjang dalam 5 tahun
jenjang per tahun
Rekapitulasi Angka Kredit
Butir
No. Kegiatan Angka Jumlah Angka Keterangan
Volume
yang kredit Kredit
Dinilai
1 2 3 4 5

Jumlah

3. Rekapitulasi kebutuhan JFAA semua jenjang per tahun


dalam 5 tahun
0,01

0,02

0,03

0,04
26
2
6
2. Rekruitmen JFAA (1/3)
INPASSING
 masih melaksanakan tugas di bidang penganggaran
dalam pengelolaan APBN terhitung sejak 3 Nopember
2016 dan memiliki pengalaman di bidang penganggaran
PENGANGKATAN dalam pengelolaan APBN > 2 tahun.
 Jangka waktu inpassing s.d. 31 Desember 2018 (dan
JFAA masih bisa diperpanjang 1 tahun dgn persetujuan BKN)

PERPINDAHAN DARI JABATAN LAIN


 memiliki pengalaman di bidang penganggaran dalam
pengelolaan APBN > 2 tahun (kumulatif)

PENGANGKATAN PERTAMA DARI CPNS


 berstatus PNS (minimal 1 tahun masa kerja setelah diangkat
PNS)

27
2
7
2. Rekruitmen JFAA – Inpassing (2/3)
SEKRETARIS DIRJEN POKJA DIRJEN SEKRETARIS
JENDERAL K/L ANGGARAN INPASSING DJA ANGGARAN JENDERAL K/L

Usulan PNS yang Proses Seleksi Rekomendasi Penerbitan SK


Sudah
memenuhi syarat Inpassing Inpassing Pengangkatan
mendapatkan
administrasi JFAA JFAA JFAA
penetapan
formasi JFAA
MATERI SELEKSI
Persyaratan Inpassing:
1. berijazah Paling rendah S1/DIV;
2. memiliki pengalaman di bidang
penganggaran dalam pengelolaan
APBN paling kurang 2 (dua) tahun;
3. masih melaksanakan tugas di bidang
penganggaran dalam pengelolaan
APBN terhitung sejak 3 Nopember 2016;
4. tidak sedang menjalani hukuman disiplin
tingkat sedang/berat dan/atau tidak
sedang dalam proses pemeriksaan
JFAA AHLI
dengan ancaman hukuman disiplin
MADYA (IVA-C)/
tingkat sedang/berat; dan
UTAMA (IVD-E)
5. dinyatakan lulus seleksi penyesuaian
(inpassing).

28
2
8
2. Rekruitmen JFAA – Perpindahan Jabatan (3/3)
KEPALA BIRO KEPALA BPPK KEPALA BPPK DIRJEN SEKRETARIS
TIM PENGUJI
SDM K/L KEMENKEU KEMENKEU ANGGARAN JENDERAL K/L

&
Usulan PNS Hasil uji Penerbitan SK
yang kompetensi Pengangkatan
memenuhi JFAA
syarat Proses pelatihan dan
Uji Kompetensi
SYARAT: • Penyelenggaraan Uji
Kompetensi dilaksanakan oleh
1. berijazah Paling rendah S1/DIV;
Badan Pendidikan dan Pelatihan
2. memiliki pengalaman di bidang penganggaran dalam Keuangan, Kemenkeu.
pengelolaan APBN paling kurang 2 (dua) tahun
3. mengikuti dan lulus diklat; • Materi Uji Kompetensi mengacu
4. mengikuti dan lulus uji kompetensi; pada Standar Kompetensi JFAA;
5. berusia paling tinggi: • Uji Kompetensi dilakukan
a. 53 thn untuk Analis Anggaran ahli Pertama dan Ahli melalui metode: Tes tertulis,
Muda; dan wawancara, dan metode lain
b. 55 thn untuk Analis Anggaran ahli Madya dan Ahli Utama. yang ditetapkan oleh Tim
6. tidak sedang menjalani hukuman disiplin tingkat sedang/berat Penguji dan metode lain yang
dan/atau tidak sedang dalam proses pemeriksaan dengan dapat dikembangkan oleh Tim
Penguji.
ancaman hukuman disiplin tingkat sedang/berat.
29
2
9
3. Penilaian Kinerja (1/3)
1. Pada awal tahun, setiap Analis Anggaran wajib menyusun Sasaran Kerja Pegawai (SKP) yang akan dilaksanakan
dalam 1 (satu) tahun berjalan.
2. SKP untuk masing-masing jenjang jabatan diambil dari kegiatan sebagai turunan dari penetapan kinerja unit
dengan mendasarkan kepada tingkat kesulitan dan syarat kompetensi untuk masing-masing jenjang jabatan.
3. SKP yang telah disusun harus disetujui dan ditetapkan oleh atasan langsung.
4. Penilaian kinerja ditetapkan berdasarkan pencapaian angka kredit setiap tahun.
5. Jumlah Angka Kredit yang harus dicapai Analis Anggaran, yaitu:
 Paling sedikit 80% angka kredit berasal dari unsur utama, tidak termasuk sub unsur pendidikan formal; dan
 Paling banyak 20% angka kredit berasal dari unsur penunjang.
TIM PENILAI
Unsur KINERJA TIM PENILAI KINERJA PUSAT
Kepegawaian  Ditetapkan oleh Dirjen Anggaran
 Menilai angka kredit JFAA Madya dan Utama
TIM PENILAI KINERJA UNIT KERJA
JFAA  Ditetapkan oleh Sekretaris DJA
 Menilai angka kredit JFAA Pertama dan Muda Kemenkeu

Unsur Teknis TIM PENILAI KINERJA INSTANSI


 Ditetapkan oleh Kepala Biro Perencanaan/Keuangan K/L
Penganggaran
 Menilai angka kredit JFAA Pertama dan Muda instansi
pusat di luar Kemenkeu
30
3
0
3. Penilaian Kinerja: Tata Kerja Tim Penilai (2/3)
1. Setiap DUPAK dinilai oleh 2 (dua) orang anggota TIM Penilai Kinerja JFAA.
2. Dalam hal hasil penilaian tidak terdapat perbedaan dengan DUPAK maka hasil penilaian disampaikan
kepada Ketua Tim Penilai Kinerja JFAA melalui Sekretaris Tim Penilai Kinerja JFAA untuk disahkan dalam
Forum sidang pleno Tim Penilai Kinerja JFAA.
3. Dalam hal hasil penilaian terdapat perbedaan dengan DUPAK maka dilakukan penilaian lanjutan melalui
mekanisme sidang pleno Tim Penilai Kinerja JFAA.
4. Sidang Tim penilai dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun.
5. Sidang tim bertujuan untuk menetapkan PAK.
6. Mekanisme sidang tim dilakukan dengan:
• Sidang pleno harus dihadiri paling sedikit 50% ditambah satu orang anggota Tim.
• Pengambilan keputusan dalam sidang dilakukan dengan berlandaskan pada asas musyawarah mufakat.
• Dalam hal sidang pleno tidak mencapai musyawarah mufakat, pengambilan keputusan dilakukan melalui
mekanisme pemungutan suara terbanyak.
KEWENANGAN USULAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT
Pejabat yang berhak mengusulkan angka Pejabat yang berhak
Jenjang
kredit menetapkan
JFAA Utama dan Madya Sekretaris Ditjen/Badan Dirjen Anggaran
(Kemenkeu & K/L)
JFAA Pertama dan Muda Kabag SDM Setditjen/Setban Sekretaris DJA
Kemenkeu
JFAA Pertama dan Muda Kabag SDM Setditjen/Setban Kepala Biro
K/L Perencanaan/Keuangan K/L
31
3
1
4. Pengembangan dan Pelatihan JFAA (1/2)
Kompetensi
PNS yang menduduki Jabatan Fungsional Analis Anggaran harus
memenuhi standar kompetensi sesuai dengan jenjang jabatan

Kompetensi Analis Anggaran, meliputi:


 Kompetensi Teknis;
 Kompetensi Manajerial; dan
 Kompetensi Sosial-Kultural.

Standar Kompetensi
1. Standar Kompetensi terdiri atas:
 Standar Kompetensi Teknis;
 Standar Kompetensi Manajerial; dan
 Standar Kompetensi Sosial Kultural.
2. Sebagai pedoman untuk penyelenggaraan:
 Uji Kompetensi untuk pengangkatan pertama, perpindahan dari jabatan lain, kenaikan
jenjang jabatan dan pembinaan; dan
 Penyusunan kurikulum pelatihan berbasis kompetensi JFAA.

32
3
2
4. Pengembangan dan Pelatihan JFAA (2/2)
Pelatihan Fungsional Analis Anggaran
Pendidikan dan Pelatihan JFAA, meliputi:
Pertama, Muda, dan Madya
1. Pendidikan formal melalui pemberian tugas belajar atau izin belajar
bagi analis anggaran yang akan menempuh jenjang pendidikan yang
lebih tinggi.
2. Pelatihan fungsional yang dilaksanakan dalam rangka melengkapi
persyaratan kompetensi sesuai jabatan fungsional secara berjenjang
yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas jabatannya.
3. Pelatihan teknis dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi
Teknis JFAA sesuai dengan bidang tugasnya.
4. Pengembangan kompetensi lain sepanjang tidak bertentangan
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan: seminar,
lokakarya, konferensi, kegiatan lain yang dilakukan dalam rangka
mempertahankan tingkat keahlian.

33
3
3
TERIMA KASIH
Lampiran
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

Seleksi
ujian Tulis

Seleksi
Wawancara

36
36
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

Seleksi
penilaian
kompetensi
manajerial

Seleksi Karya
Tulis dan
Presentasi

37
37
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

PERTAMA MUDA MADYA


SELEKSI
ADMINISTRASI
1. Surat Keterangan Kesehatan dari dokter pemerintah;
2. Fotokopi Ijazah terakhir;
3. Fotokopi surat keputusan kenaikan pangkat terakhir;
4. Daftar Riwayat Hidup yang memuat:
a. Pengalaman kerja paling kurang 2 (dua) tahun di bidang penganggaran dalam pengelolaan
APBN; dan
b. Masih melaksanakan tugas di bidang penganggaran dalam pengelolaan APBN terhitung
tanggal 3 November 2016 sampai dengan tanggal pendaftaran seleksi inpassing.
yang ditetapkan atasan PNS yang bersangkutan paling kurang pejabat administrator. (Daftar
Riwayat Hidup sebagaimana contoh terlampir)
1. Fotokopi Surat keputusan penempatan terakhir;
2. Fotokopi nilai kinerja/nilai prestasi kerja selama 2 (dua) tahun terakhir;
3. Surat keterangan tidak sedang dalam proses atau menjalani hukuman disiplin tingkat sedang/berat
yang ditetapkan oleh pejabat yang membidangi kepegawaian paling kurang Pejabat Pimpinan
Tinggi Pratama;
4. Pasfoto 3 x 4 sebanyak 2 lembar (berwarna). 38
38
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

PERTAMA MUDA MADYA SELEKSI


BENTUK UJIAN TULIS UJIAN TULIS
1. Pilihan Ganda sebanyak 40 soal dengan bobot nilai 40;
2. Essay sebanyak 5 soal dengan bobot nilai 40; dan
3. Studi Kasus sebanyak 1 soal dengan bobot nilai 20.

MATERI UJIAN TULIS


1. Pengetahuan Umum terkait Pengelolaan Keuangan Negara, meliputi antara lain:
a. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
c. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
d. UU Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak;
e. PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;
f. PP Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;
g. PP Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah; dan
h. PP Nomor 17 Tahun 2017 tentang Sinkronisasi Proses Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan
Nasional.
2. Pengetahuan Teknis Penganggaran sesuai dengan rumpun keahlian.

Seleksi wawancara digunakan untuk menilai kemampuan teknis


dan manajerial yang meliputi aspek:
SELEKSI
WAWANCARA
1.Pengalaman Kerja; 5. Motivasi (Extra Effort);
PERTAMA
2.Pengetahuan Teknis; 6. Kerja sama (Team Work);
3.Keterampilan Analisis Teknis; 7. Etika (Sopan Santun); MUDA
39
39
4. Kemampuan Melayani; 8. Kemampuan Komunikasi.
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

PENILAIAN
MADYA
KOMPETENSI MANAJERIAL

a. Peserta menyerahkan Laporan Hasil Penilaian Kompetensi Manajerial (Laporan


Individual Assessment Center/LIAC).
b. Seleksi penilaian kompetensi manajerial digunakan untuk menilai kompetensi
manajerial peserta seleksi inpassing JFAA yang meliputi aspek:
 In-Depth Problem Solving And Analysis/Pemecahan Dan Analisa
Masalah/Berpikir Analitis;
 Quality Focus/Fokus Kepada Kualitas/Berorientasi pada Kualitas;
 Stakeholder Focus/Fokus Kepada Pemangku Kepentingan/Berorientasi Pada
Pelayanan;
 Team Work and Collaboration/Kerja Sama Tim dan Kolaborasi/Kerja Sama;
 Driving For Results/Mendorong Hasil/Semangat Berprestasi; dan
 Integrity/Integritas.

40
40
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

KARYA TULIS [1] MADYA

 Digunakan untuk menilai kemampuan teknis dalam melakukan analisis penganggaran


dalam pengelolaan APBN yang bersifat kebijakan strategis
 Tema meliputi Pendapatan Negara, Belanja Negara dan/atau Pembiayaan
 Bobot penilaian untuk Karya tulis (40%) dan Presentasi (60%).

Kriteria Penulisan Karya Tulis


Format karya tulis diketik dengan jumlah halaman sebanyak 20-30 halaman, diketik dengan spasi 1,5 di atas
kertas berukuran A4 yang terdiri atas:
Bagian Awal
1. Halaman judul;
2. Lembar pengesahan;
3. Kata pengantar;
4. Daftar isi dan daftar lainnya; dan
5. Ringkasan karya tulis minimal 2 lembar.
Bagian Inti
1. Pendahuluan;
2. Telaah pustaka;
3. Metode penulisan;
4. Analisis dan sintesis; dan
5. Kesimpulan dan rekomendasi.
Bagian Akhir
1. Daftar pustaka dan lampiran jika diperlukan.
41
41
MEKANISME
PENGANGKATAN JFAA

KARYA TULIS [2] MADYA

Kriteria Penilaian Karya Tulis


Penilaian dalam seleksi karya tulis meliputi:
1. Penilaian format karya tulis memiliki bobot 6% yang terdiri atas:
a. Tata tulis yang terdiri atas ukuran kertas, tipografi, kerapian ketik, tata letak, jumlah halaman; dan
b. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Penilaian kreativitas dan inovasi memiliki bobot 9% yang terdiri atas:
a. Kreatif, inovatif dan bermanfaat bagi pengelolaan APBN;
b. Keaslian gagasan; dan
c. Kejelasan pengungkapan ide, sistematika, pengungkapan ide.
3. Topik yang dikemukakan dengan bobot 4% yang terdiri atas:
a. Kesesuaian judul dengan tema, topik yang dipilih dan isi karya tulis; dan
b. Aktualitas topik dan fokus bahasan yang dipilih.
4. Data dan sumber informasi dengan bobot 6% yang terdiri atas:
a. Kesesuaian informasi dengan acuan yang digunakan; dan
b. Keakuratan data dan informasi.
5. Pembahasan/analisis, kesimpulan, serta transfer gagasan dengan bobot 15% yang terdiri atas:
a. Kemampuan menganalisis;
b. Kemampuan menyimpulkan bahasan; dan
c. Kemampuan memprediksi dan mentransfer gagasan untuk dapat diadopsi.

Kriteria Penilaian Presentasi


Penilaian dalam presentasi meliputi
a. Penyajian  bobot 25%
b. Tanya jawab  bobot 35% 42
42
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


Pendidikan dan Pelatihan JFAA, meliputi:

1. Pendidikan formal melalui pemberian tugas belajar atau izin belajar bagi
analis anggaran yang akan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2. Pelatihan fungsional yang dilaksanakan dalam rangka melengkapi
persyaratan kompetensi sesuai jabatan fungsional secara berjenjang yang
diperlukan untuk pelaksanaan tugas jabatannya.
3. Pelatihan teknis dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi Teknis JFAA
sesuai dengan bidang tugasnya.
4. Pengembangan kompetensi lain sepanjang tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan: seminar, lokakarya, konferensi,
kegiatan lain yang dilakukan dalam rangka mempertahankan tingkat
keahlian.

43
43
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

KOMPETENSI
PNS yang menduduki Jabatan Fungsional Analis Anggaran harus memenuhi
standar kompetensi sesuai dengan jenjang jabatan

Kompetensi Analis Anggaran, meliputi:


• Kompetensi Teknis;
• Kompetensi Manajerial; dan
• Kompetensi Sosial-Kultural.

Standar Kompetensi
1. Standar Kompetensi terdiri atas:
• Standar Kompetensi Teknis;
• Standar Kompetensi Manajerial; dan
• Standar Kompetensi Sosial Kultural.
2. Sebagai pedoman untuk penyelenggaraan:
• Uji Kompetensi untuk pengangkatan pertama, perpindahan dari jabatan lain,
kenaikan jenjang jabatan dan pembinaan; dan
• Penyusunan kurikulum pelatihan berbasis kompetensi JFAA.
44
44
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

UJI KOMPETENSI
1. PNS yang akan menduduki JFAA melalui pengangkatan pertama.
Syarat:
telah mengikuti dan dinyatakan lulus pelatihan fungsional perjenjangan Analis
Anggaran Pertama/Ahli Pertama.
2. Analis Anggaran yang akan naik jenjang JFAA setingkat lebih tinggi.
Syarat:
• memiliki angka kredit minimal 50% dari angka kredit yang dipersyaratkan untuk
kenaikan jenjang jabatan di atasnya telah mengikuti; dan
• lulus pelatihan fungsional sesuai dengan jenjang JFAA yang akan diduduki.
3. PNS dari jabatan lain yang akan diangkat dalam JFAA melalui perpindahan jabatan.
Syarat :
• telah melakukan kegiatan analisis di bidang penganggaran dalam pengelolaan APBN
paling sedikit 2 tahun;
• telah memiliki angka kredit sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
• telah mengikuti dan lulus pelatihan fungsional sesuai dengan jenjang JFAA yang akan
diduduki.

Dalam hal Pelatihan Peserta Uji Kompetensi dapat mengikuti uji kompetensi
Fungsional belum
tersedia maka
: tanpa harus mengikuti dan lulus Pelatihan fungsional
terlebih dahulu. 45
45
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

TIM PENGUJI
1 . Tim Penguji ditetapkan oleh Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di lingkungan Kementerian
Keuangan yang membidangi penganggaran.
2 . Tim penguji berjumlah ganjil paling sedikit 3 orang yang terdiri atas:
• 1 orang ketua merangkap anggota.
• 1 orang sekretaris merangkap anggota.
• Paling sedikit 1 orang anggota.
3 . Syarat menjadi anggota tim penguji:
• Menduduki pangkat/ jabatan paling rendah satu tingkat di atas pangkat/ jabatan peserta
yang diuji;
• Memiliki keahlian serta kemampuan di bidang penganggaran dalam pengelolaan APBN;
dan
• Memiliki keahlian dan kemampuan dalam melakukan Uji Kompetensi.
4 . Dalam hal tidak terdapat pejabat yang memenuhi syarat menjadi anggota tim Penguji
dapat berasal dari pejabat dengan pangkat/ jabatan paling rendah setara dengan pangkat
/ jabatan peserta yang diuji.
5 . Tim Penguji memiliki tugas : menyusun materi uji kompetensi, melakukan uji kompetensi,
mengolah hasil uji kompetensi, melakukan penilaian hasil Uji Kompetensi dan
merekomendasikan hasil uji kompetensi.
6 . Dalam hal diperlukan, pejabat pimpinan tinggi madya di lingkungan Kementerian
Keuangan yang membidangi penganggaran dapat menunjuk tenaga ahli yang memiliki 46
kompetensi teknis untuk mendampingi Tim Penguji. 46
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

PENYELENGGARAAN
UJI KOMPETENSI
• Penyelenggaraan Uji Kompetensi dilaksanakan sesuai kebutuhan oleh unit di lingkungan
Kementerian Keuangan yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan, pelatihan,
dan sertifikasi kompetensi di bidang keuangan negara.
• Pejabat pimpinan tinggi madya di lingkungan Kementerian Keuangan yang mempunyai
tugas menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi kompetensi di bidang
keuangan negara menetapkan penyelenggaran uji kompetensi.
• Pedoman Uji Kompetensi disusun oleh pihak penyelenggara Uji Kompetensi.

MATERI DAN METODE


UJI KOMPETENSI
• Materi Uji Kompetensi mengacu pada Standar Kompetensi JFAA;
• Materi Uji Kompetensi disusun oleh tim penguji;
• Uji Kompetensi dilakukan melalui metode: Tes tertulis, wawancara, dan metode lain yang
ditetapkan oleh Tim Penguji; dan metode lain yang dapat dikembangkan oleh Tim Penguji.

47
47
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

MEKANISME
UJI KOMPETENSI
1 Calon peserta Uji Kompetensi yang telah
memenuhi persyaratan diusulkan oleh paling
2 Penyelenggara Uji Kompetensi melakukan
verifikasi terhadap usulan calon peserta
rendah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama yang Uji Kompetensi dan menetapkan calon
membidangi kepegawaian pada masing-masing peserta Uji Kompetensi yang selanjutnya
unit kepada penyelenggaran uji kompetensi. disampaikan kepada Tim Penguji.
Hasil Uji Kompetensi disampaikan kepada
Peserta yang dinyatakan lulus uji
3 1. Pejabat Pimpinan tinggi madya di lingkungan
kementerian keuangan yang mempunyai
4 kompetensi diberikan sertifikat JFAA
tugas menyeklenggarakan pendidikan, sesuai dengan jenjang tertentu yang
pelatihan, dan sertifikasi kompetensi di ditetapkan oleh:
bidang keuangan negara dan 1. Pejabat pimpinan tinggi madya di
2. Pejabat pimpinan tinggi madya di lingkungan lingkungan Kemenkeu yang
kemenkeu yang membidangi penganggaran mempunyai tugas menyelenggarakan
untuk mendapat penetapan kelulusan. pendidikan, pelatihan, dan sertfikasi
kompetensi di bidang keuangan
negara.
5 Peserta yang tidak lulus uji kompetensi, dapat
2. Pejabat pimpinan tinggi madya di
mengikuti Uji kompetensi ulang sesuai dengan
jadwal pelaksanaan Uji Kompetensi yang lingkungan Kemenkeu yang
ditetapkan oleh penyelenggaran Uji Kompetensi. membidangi penganggaran. 48
48
PENGEMBANGAN DAN
PELATIHAN JFAA

MONITORING DAN EVALUASI


PENYELENGGARAAN UJI KOMPETENSI
• Unit di lingkungan Kemenkeu yang membidangi penganggaran selaku pembina teknis Jabatan
Fungsional Analis Anggaran melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan Uji
Kompetensi secara periodik paling sedikit sekali dalam 1 tahun.
• Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan Uji Kompetensi
dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan dan untuk mendapatkan umpan balik
dalam rangka perbaikan.
• Hasil monitoring dan evaluasi disampaikan kepada unit di lingkungan Kemenkeu yang
mempunyai tugas antara lain menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi di bidang
keuangan negara dengan tembusan kepada unit pembina jabatan fungsional di lingkungan
kemenkeu.

49
49
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

PENILAIAN KINERJA [1]


1. Pada awal tahun, setiap Analis Anggaran wajib menyusun Sasaran Kerja Pegawai (SKP) yang
akan dilaksanakan dalam 1 (satu) tahun berjalan.
2. SKP untuk masing-masing jenjang jabatan diambil dari kegiatan sebagai turunan dari
penetapan kinerja unit dengan mendasarkan kepada tingkat kesulitan dan syarat kompetensi
untuk masing-masing jenjang jabatan.
3. SKP yang telah disusun harus disetujui dan ditetapkan oleh atasan langsung.
4. Penilaian Kinerja JFAA bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan yang didasarkan
sistem prestasi dan sistem karir.
5. Penilaian kinerja ditetapkan berdasarkan pencapaian angka kredit setiap tahun.
6. Jumlah angka kredit kumulatif paling kurang yang harus diangkat dalam jabatan dan kenaikan
jabatan dan/atau pangkat analis anggaran:
• Analis Anggaran dengan pendidikan Sarjana/Diploma IV sebagaimana tercantum dalam
lampiran II.
• Analis Anggaran dengan pendidikan Magister sebagaimana tercantum dalam lampiran III.
• Analis Anggaran dengan pendidikan Doktor sebagaimana tercantum dalam lampiran IV.
7. Jumlah Angka Kredit yang harus dicapai Analis Anggaran, yaitu:
• Paling sedikit 80% angka kredit berasal dari unsur utama, tidak termasuk sub unsur
pendidikan formal; dan
50
• Paling banyak 20% angka kredit berasal dari unsur penunjang. 50
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

PENILAIAN KINERJA [2]

1. Analis anggaran muda ahli muda yang akan naik jabatan setingkat lebih tinggi menjadi ahli
madya angka kredit yang disyaratkan sebanyak 6 (enam) dari sub unsur pengembangan
profesi;
2. Analis anggaran muda ahli madya yang akan naik jabatan setingkat lebih tinggi menjadi ahli
utama angka kredit yang disyaratkan sebanyak 6 (enam) dari sub unsur pengembangan
profesi.
3. Analis anggaran yang memiliki angka kredit melebihi yang disyaratkan untuk kenaikan jabatan
dan/atau pangkat setingkat lebih tinggi, kelebihan angka kredit tersebut dapat diperhitungkan
untuk kenaikan jabatan dan/atau pangkat berikutnya.
4. Analis Anggaran yang pada tahun pertama telah memenuhi atau melebihi angka kredit yang
disyaratkan untuk kenaikan jabatan dan/atau pangkat dalam masa pangkat yang didudukinya,
pada tahun kedua dan seterusnya diwajibkan mengumpulkan paling sedikit 20% angka kredit
dari jumlah angka kredit yang disyaratkan untuk kenaikan jabatan dan/atau pangkat setingkat
lebih tinggi yang berasal dari kegiatan analisis di bidang penganggaran dalam pengelolaan
APBN.
5. Analis anggaran utama yang menduduki pangkat tertinggi dari jabatannya, setiap tahun sejak
menduduki pangkatnya wajib mengumpulkan paling sedikit 25 (dua puluh lima) angka kredit
dari kegiatan analisis di bidang penganggaran dalam pengelolaan APBN dan pengembangan
profesi.
51
51
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

KARYA TULIS ILMIAH


1. Analis Anggaran terdiri dari 2 (dua) orang penulis, maka pembagian angka kredit yaitu 60%
bagi penulis utama dan 40% bagi penulis pembantu.
2. Analis Anggaran terdiri dari 3 (tiga) orang penulis, maka pembagian angka kredit yaitu 50%
bagi penulis utama dan masing-masing 25% bagi penulis pembantu.
3. Analis Anggaran terdiri dari 4 (empat) orang penulis, maka pembagian angka kredit yaitu 40%
bagi penulis utama dan masing-masing 20% bagi penulis pembantu.
4. Jumlah penulis pembantu paling banyak 3 orang.

52
52
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT


Penilaian Angka Kredit oleh Tim Penilai Kinerja JFAA dilakukan melalui tata
cara sebagai berikut:
1. Analis Anggaran menyusun DUPAK dan berkas pendukung lainnya dengan diketahui
oleh atasan langsung.
2. DUPAK dan berkas pendukung lainnya disampaikan kepada pimpinan unit kerja
paling kurang pejabat pengawas yang bertanggung jawab di bidang tata usaha.
3. Pimpinan unit kerja menyampaikan DUPAK dan berkas pendukung lainnya kepada
pejabat yang berwenang mengajukan usulan penilaian angka kredit.
4. Pejabat yang berwenang mengajukan usulan penilaian angka kredit
menandatangani DUPAK serta menyampaikan DUPAK danberkas pendukung lainnya
kepada tim penilai kinerja JFAA.
5. Ketua tim penilai kinerja JFAA membagi tugas penilaian kepada anggota TIM Penilai
Kinerja JFAA.
6. Ketua tim penilai kinerja JFAA menyampaiakn DUPAK dan berkas-berkas pendukung
lainnya kepada Sekretaris Tim penilai kinerja JFAA untuk dibagikan kepada anggota
Tim Penilai Kinerja JFAA.
7. Anggota Tim penilai kinerja JFAA masing-masing melaksanakan penilaian terhadap
angka kredit yang diajukan pada setiap DUPAK sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
8. Berdasarkan hasil penilaian DUPAK Tim Penilai Kinerja JFAA melaksanakan di sidang
pleno untuk menyusun BAPK sebagai hasil penilaian akhir. 53
53
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

PEJABAT YANG MENGUSULKAN ANGKA KREDIT


• Pejabat tinggi pratama yang membidangi kepegawaian pada unit yang membidangi
penganggaran kepada pejabat pimpinan tinggi madya yang membidangi penganggaran untuk
angka kredit analis anggaran madya dan analis anggaran utama di lingkungan Kemenkeu dan
instansi pusat luar kemenkeu.
• Pejabat administrator yang membidangi kepegawaian kepada pejabat pimpinan tinggi pratama
yang membidangi penganggaran untuk angka kredit bagi analis anggaran pertama dan analis
anggaran muda di lingkungan kemenkeu.
• Pejabat administrator yang membidangi kepagawaian kepada Pejabat pimpinan tinggi pratama
yang membidangi penganggaran untuk angka kredit bagi analis anggaran pertama dan analis
anggaran muda di lingkungan instansi pusat luar kemenkeu.

PEJABAT YANG BERWENANG MENETAPKAN ANGKA KREDIT


• Pejabat pimpinan tinggi madya yang membidangi penganggaran (Dirjen Anggaran) untuk angka
kredit bagi analis anggaran madya dan utama di lingkungan kemenkeu dan instansi pusat luar
kemenkeu.
• Pejabat pimpinan tinggi pratama yang membidangi kepegawaian pada unit yang membidangi
penganggaran (ses DJA)untuk angka kredit bagi analis anggaran pertama/ahli pertama dan
analis anggaran muda di lingkungan kemenkeu.
• Pejabat pimpinan tinggi pratama yang membidangi penganggaran ubntuk angka kredit bagi
analis anggaran pertama dan analis anggaran muda di lingkungan instansi pusat di luar 54
54

kementerian keuangan.
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

TIM PENILAI ANGKA KREDIT


1. Tim penilai kinerja pusat bagi pejabat pimpinan tinggi madya yang membidangi penganggaran
untuk angka kredit yang membidangi penganggaran untuk angka kredit bagi analis anggaran
madya dan analis anggaran utama di lingkungan kemenkeu dan instansi pusat kemenkeu.
2. Tim penilai kinerja unit kerja bagi pejabat pimpinan tinggi pratama yang membidangi
penganggaran untuk angka kredit bagi analis anggaran pertama dan analis anggaran muda.
3. Tim penilai kinerja instansi bagi pejabat pimpinan tinggi pratama yang membidangi
penganggaran untuk angka kredit bagi analis anggaran pertama dan anggaran muda di
lingkungan instansi pusat di luar kementerian keuangan.
4. Tim penilai kinerja terdiri dari pejabat berasal dari unsur teknis yang membidangi
penganggaran, unsur kepegawaian, dan pejabat fungsional analis anggaran.

SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM PENILAI KINERJA JFAA


1. Seorang ketua merangkap anggota (paling rendah pejabat pratama atau fungsional madya).
2. Seorang sekretaris merangkap anggota (harus berasal dari unsur kepegawaian pada instansi
masing-masing).
3. Paling sedikit 3 (tiga) orang anggota (minimal 2 orang pejabat fungsional/PNS lain yang
memiliki kompetensi utk menilai kinerja analis anggaran).
4. Pejabat pimpinan tinggi pratama yang membidangi penganggaran untuk angka kredit bagi
analis anggaran pertama dan analis anggaran muda di lingkungan instansi pusat di luar
kementerian keuangan. 55
55
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

TIM PENILAI ANGKA KREDIT


Syarat menjadi anggota tim yaitu:
• Menduduki jabatan/pangkat paling rendah sama dengan JFAA yang dinilai.
• Memiliki keahlian serta kemampuan untuk menilai kinerja pejabat fungsional analis anggaran.
• Aktif melakukan penilaian.

Pembentukan dan susunan anggota tim penilai ditetapkan oleh:


• Pejabat pimpinan tinggi madya yang membidangi penganggaran pada kementerian keuangan
untuk tim penilai pusat;
• Pejabat pimpinan tinggi pratama ang membidangi penganggaran pada kementerian keuangan
untuk tim penilai unit kerja;
• Pejabat pimpinan tinggi pratama yang membidangi penganggaran pada instansi pusat di luar
kemenkeu untuk tim penilai instansi.

56
56
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

TATA KERJA TIM PENILAI KINERJA JFAA (1)


1. Tim Penilai Kinerja JFAA berdasarkan lingkup tugas terdiri atas Tim Penilai Pusat, Tim Penilai
Unit Kerja, dan Tim Penilai Instansi.
2. Setiap DUPAK dinilai oleh 2 (dua) orang anggota TIM Penilai Kinerja JFAA.
3. Dalam hal hasil penilaian tidak terdapat perbedaan dengan DUPAK maka hasil penilaian
disampaikan kepada Ketua Tim Penilai Kinerja JFAA melalui Sekretaris Tim Penilai Kinerja JFAA
untuk disahkan dalam Forum sidang pleno Tim Penilai Kinerja JFAA.
4. Dalam hal hasil penilaian terdapat perbedaan dengan DUPAK maka dilakukan penilaian
lanjutan melalui mekanisme sidang pleno Tim Penilai Kinerja JFAA.
5. Sidang Tim penilai dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun.
6. Sidang tim bertujuan untuk menetapkan PAK.
7. Mekanisme seidang tim dilakukan dengan:
• Sidang pleno harus dihadiri paling sedikit 50% ditambah satu orang anggota Tim.
• Pengambilan keputusan dalam sidang dilakukan dengan berlandaskan pada asas
musyawarah mufakat.
• Dalam hal sidang pleno tidak mencapai musyawarah mufakat, pengambilan keputusan
dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara terbanyak.

57
57
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

TATA KERJA TIM PENILAI KINERJA JFAA (2)


• Hasil sidang dituangkan dalam BAPAK dan ditandatangani oleh selutuh anggota TIM Penilai
Kinerja JFAA yang hadir dalam sidang Pleno Tim Penilai Kinerja JFAA.
• BAPAK disusun sesuai dengan contoh formulir Lampiran VI.
• Berdasarkan BAPAK pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit harus menetapkan
angka kredit analis anggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
• Terhadap PAK yang teklah ditetapkan tidak dapat diajukan keberatan.
• Dalam hal anggota tim penilai memasuki masa pensiun, berhalangan sementara/tetap paling
kurang enam bulan atau mengundurkan diri ketua tim penilai kinerja JFAA dapat mengajukan
usul penggantian anggota secara definitif sesuai dengan masa kerja tim yang tersisa kepada
pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.
• Dalam hal terdapat anggota tim penilai dinilai maka dalam proses penilaian DUPAk ketua tim,
sekretaris tim penilai kinerja JFAA menjadi ketua sementara tim penilai kinerja JFAA.

58
58
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

PENILAIAN ANGKA KREDIT BAGI ANALIS ANGGARAN YANG


MELAKSANAKAN TUGAS TIDAK SESUAI DENGAN JENJANG JABATANNYA
• Apabila suatu unit kerja tidak terdapat Analis Anggaran untuk melaksanakan tugas sesuai
dengan jenjang jabatannnya maka analis anggaran lain yang berada satu tingkat di atas atau
satu tingkat di bawah jenjang jabatannya dapat melaksanakan kegiatan tersebut berdasarkan
penugasan dari pimpinan unit kerja yang bersangkutan.
• Dalam hal unit kerja terdapat salah satu jenjang JFAA memiliki kelebihan volume beban tugas,
maka analis anggaran yang berada satu tingkat di atas atau satu tingkat di bawah jenjang
jabatannya dapat melaksanakan kegiatan tersebut berdasarkan penugasan secara tertulis dari
pimpinan unit kerja yang bersangkutan.
• Analis anggaran yang melaksanakan tugas satu tingkat di atas jenjang jabatannya, angka kredit
yang diperoleh ditetapkan sebesar 80% dari angka kredit setiap butir kegiatan.
• Analis anggaran yang melaksanakan tugas satu tingkat di bawah jenjang jabatannya , angka
kredit yang diperoleh ditetapkan sebesar 100% dari angka kredit setiap butir kegiatan.

PENILAIAN ANGKA KREDIT ATAS HASIL PENUGASAN DITETAPKAN


SEBAGAI BERIKUT:
• Analis anggaran yang melaksanakan tugas satu tingkat di atas jenjang jabatannya, angka kredit
yang diperoleh ditetapkan sebesar 80% dari angka kredit setiap butir kegiatan; dan
• Analis anggaran yang melaksanakan tugas satu tingkat di bawah jenjang jabatannya , angka
kredit yang diperoleh ditetapkan sebesar 100% dari angka kredit setiap butir kegiatan.
59
59
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

PELANTIKAN DAN PENGAMBILAN SUMPAH JANJI


Setiap PNS yang diangkat menjadi pejabat fungsional analis anggaran wajib dilantik dan diambil
sumpah/janji menurut agama atau kepercayaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa

PEMBERHENTIAN DARI JABATAN


1. Analis Anggaran Pertama s.d. Analis Anggaran Utama diberhentikan dari jabatannya apabila:
• Diberhentikan sementara sebagai PNS.
• Menjalani cuti di luar tanggungan negara.
• Menjalani tugas belajar lebih dari 6 bulan.
• Ditugaskan secara penuh pada jabatan pimpinan tinggi, jabatan administrator, pengawas
atau jabatan fungsional lainnya; atau
• Tidak memenuhi persyaratan.
2. Analis Anggaran huruf a,b, dan d dapat diangkat kembali sesuai dengan jabatan terakhir
apabila tersedia kebutuhan jabatan analis anggaran.
3. Analis Anggaran huruf c dapat diangkat kembali sesuai dengan jabatan terakhir apabila telah
selesai menjalani tugas belajar.
4. Pengangkatan kembali ke dalam JFAA paling tinggi berusia :
• 50 tahun bagi analis anggaran pertama dan muda
• 56 tahun bagi analis anggaran madya dan utama
60
60
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

KENAIKAN PANGKAT DAN KENAIKAN JABATAN


• Kenaikan pangkat dana kenaikan jabatan dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan
kebutuhan jabatan.
• Selain memenuhi syarat kinerja, JFAA yang akan naik jabatannya setingkat lebih tinggi harus
mengikuti dan lulus uji kompetensi.

PELATIHAN
1. Pelatihan yang diberikan disesuaikan dengan hasil analisis kebutuhan pelatihan dan/atau
pertimbangan dari Tim Penilai Kinerja JFAA.
2. Pelatihan yang diberikan antara lain dalam bentuk:
a. Pelatihan fungsional
b. Pelatihan teknis
c. Program pengembangan kompetensi lainnya
• Maintain rating;
• Seminar
• Lokakarya (workshop) atau
• konferensi

61
61
PENILAIAN KINERJA DAN
ANGKA KREDIT

ORGANISASI PROFESI
1. JFAA wajib memiliki 1 (satu) organisasi profesi dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun
terhitung sejak tanggal penetapan JFAA.
2. Pembentukan organisasi profesi JFAA difasilitasi oleh instansi pembina.
3. Organisasi wajib menyusun kode etik dan kode perilaku profesi.
4. Tugas organisasi profesi JFAA
• Menyusun kode etik dan kode perilaku profesi (mendapat persetujuan Pimpinan Instansi
Pembina).
• Memberikan advokasi.
• Memeriksa dan memberikan rekomendasi atas pelanggaran kode etik dan kode perilaku
profesi.

KETENTUAN LAIN
• Untuk kepentingan organisasi dan pengembangan karier pejabat fungsional analis anggaran
dapat dipindahkan ke dalam jabatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
• Pengangkatan dalam jabatan tidak dapat dilakukakn sebelum ditetapkan pedoman perhitungan
kebutuhan JFAA.
62
62
63
6
3

Anda mungkin juga menyukai