Anda di halaman 1dari 12

HALAMAN JUDUL

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................................. i


DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
1.2 Tujuan .......................................................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................................... 2
2.1 Uji Fenol ....................................................................................................................................... 2
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................................... 5
3.1 Waktu dan Tempat ..................................................................................................................... 5
3.2 Alat dan Bahan............................................................................................................................ 5
3.3 Prosedur Kerja ............................................................................................................................ 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................................... 6
4.1 Hasil.............................................................................................................................................. 6
4.2 Pembahasan Koefisien Fenol ..................................................................................................... 6
BAB V PENUTUP................................................................................................................................. 8
5.1 Kesimpulan .................................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................ 9
LAMPIRAN......................................................................................................................................... 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai
antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan
antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut
harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras.
Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara
dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada
kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam
proses sterilisasi.
Uji fenol koefisien merupakan uji yang digunakan untuk membandingkan
aktifitas antimikroba suatu senyawa kimia dibandingkan dengan fenol pada kondisi
yang standar. Sejumlah kultur murni mikroorganisme standar unuk tes seperti
E.Colli ditambahkan pada setiap tabung. Subkultur dari mikroorganisme tersebut
dibuat dari setiap pengenceran desinfektan uji dalam media cair steril pada interval
5, 10 dan 15 menit setelah mikroorganisme dimasukkan pada desinfektan
Fenol koefisien diperoleh dengan membagi pengenceran tertinggi dari
desinfektan atau senyawa kimia uji yang mematikan mikroorganisme dalam 10
menit tetapi tidak pada 5 menit dengan pengenceran fenol tertinggi yang membunuh
mikroorganisme dalam 10 menit, bukan pada 5 menit.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah Mahasiswa dapat membandingkan
aktifitas antimikroba suatu senyawa kimia dibandingkan dengan fenol pada bahan
antiseptic dan desinfektan secara mikrobiologi melalui identifikasi secara
makroskopis

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uji Fenol

Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang


digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik
seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah
mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.Sedangkan antiseptik
didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh
pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup.
Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai,
ruangan, peralatan dan pakaian (Hermawan, 2007).

Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai
antiseptik dan desinfektan.Tapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan
antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik.Antiseptik
tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat
keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah
satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada
kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan
dalam proses sterilisasi (Hermawan, 2007). Desinfektan dan antiseptik memiliki
sifat antimikroba.Cara kerja antimikroba antara lain:

a. Merusak DNA.
Sejumlah unsur antimikroba bekerja dengan merusak DNA.Unsur ini meliputi
radiasi pengion (ionisasi), sinar ultra ungu, dan zat-zat kimia reaktif DNA. Pada
kategori yang terakhir ini terdapat zat-zat alkilasi dan zat lain yang bereaksi secara
kovalen dengan basa purin dan pirimidin sehingga bergabung dengan DNAatau
membentuk ikatan silang antar untai. Penyinaran merusak DNA melalui beberapa
cara, misalnya sinar ultra ungu menyebabkan penyilangan diantara pirimidin yang
berdekatan pada salah satu untai yang sama dari dua untai polinukleotida,
membentuk dimer pirmidin. Radiasi pengion memecahkan untaian tunggal atau

2
ganda. Kerusakan DNA yang ditimbulkan karena penyinaran atau secara kimiawi
akan mematikan sel terutama karena mengganggu replikasi DNA (Jawetz et. al.,
1996).

b. Denaturasi protein.
Protein terdapat dalam keadaan tiga dimensi, terlipat, yang ditentukan oleh
pertautan disulfida kovalen intramolekul dan sejumlah pertautan nonkovalen
seperti ikatan ion, ikatan hidrofob, dan ikatan hidrogen.Keadaan ini
dinamakanstruktur tersier protein; struktur ini mudah terganggu oleh sejumlah
unsur fisikatau kimiawi, sehingga protein tidak dapat berfungsi lagi.Kerusakan
strukturtersier ini dinamakan denaturasi protein (Jawetzet. al., 1996).

c. Gangguan selaput atau dinding sel.


Selaput sel berguna sebagai penghalang yang selektif,meloloskan
beberapazat terlarut dan menahan zaat lainnya.Beberapa zat diangkut secara aktif
melaluiselaput, sehingga konsentrasinya dalam sel tinggi.Selaput sel juga
merupakantempat bagi banyak enzim yang terlibat dalam biosintesis berbagai
komponenpembungkus sel. Zat-zat yang terkonsentrasi pada permukaan sel
mungkin mengubah sifat-sifat fisik normalnya dan dengan demikian membunuh
atau menghambat sel.Dinding sel berlaku sebagai struktur pemberi bentuk pada
sel, melindungi sel terhadap lisis osmotik.Dengan demikian, zat yang merusak
dinding sel (misalnya lisozim) atau menghalangi sintesis normalnya (misalnya
penisilin) akan menyebabkan lisis sel (Jawetzet. al., 1996).

Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik dan cara
kimia. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi
umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi,
yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu
senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa
terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung
gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium
kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida (Pankey, 2014).

3
Koefisen fenol dihitung sebagai rasio pengenceran tertinggi dari disinfektan

(X) yang diuji, yang tidak mematikan organisme uji dalam waktu 5 menit (dalam

medium pembiakan ada pertumbuhan), tetapi mematikan organismeuji dalam

waktu 10 menit (tidak ada pertumbuhan dalam medium pembiakan terhadap

pengenceran fenol dalam keadaan fenol dalam keadaan dan waktu yang sama

(Irianto, 2006).

Perhitungan koefisien fenol dilakukan sebagai berikut (Rahayu, 2007):

𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑢𝑗𝑖


𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 10 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡, 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑖
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙 = 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 5 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑢𝑗𝑖
𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 10 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡, 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑖
𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 5 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

Escherichia coli atau biasa disingkat E. coli adalah salah satu jenis spesies
utama bakteri Gram-negatif. Bakteri ini ditemukan oleh Theodor Escherich. Pada
umumnya bakteri ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. E. Coli
merupakan anggota dari family Enterobacteriaceae. Ukuran sel dengan panjang 2,0
– 6,0 μm dan lebar 1,1 – 1,5 μm. Selnya bisa terdapat tunggal, berpasangan, dan
dalam rantai pendek, biasanya tidak berkapsul. Bakteri ini aerobik dan dapat juga
aerobik fakultatif. E. Coli merupakan penghuni normal usus, seringkali
menyebabkan infeksi. E. Coli merupakan bakteri kemoorganotropik, mempunyai
tipe metabolisme fermentasi dan respirasi tetapi pertumbuhannya paling sedikit
banyak di bawah keadaan anaerob. Pertumbuhan yang baik pada suhu optimal 37°C
pada media yang mengandung 1% peptone sebagai sumber karbon dan nitrogen.
E.Coli memfermentasikan laktosa dan memproduksi indol yang digunakanuntuk
mengidentifikasikan bakteri pada makanan dan air. (Levinson, 2008).

4
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Pratikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 17 juni 2019 jam 13:01-
15:30 WIB di laboratorium mikrobiologi–virologi jurusan farmasi fakultas farmasi
dan sains UHAMKA

3.2 Alat dan Bahan


 Stopwatch  Betadine
 Inkubator  Tabung reaksi
 Jarum ose  So kiln lantai
 Sarung tangan steril  Laminar air flow
 Pembakar spritus  Fenol

3.3 Prosedur Kerja

1. Siapkan alat dan bahan kemudian hitung pengenceran larutan fenol dan
larutan antiseptic/desinfektan.
2. Buat larutan baku fenol dan antiseptic/desinfektan setelah dihitung dan
dibuat masing-masing 3 pengenceran pada fenol, antiseptic dan
desinfektan kemudian lakukan proses inokulasi
3. Proses inokulasi di lakukan secara aseptis dan pada menit ke 5’, 10’, dan
15’ setelah selasai lalu di inkubasi pada suhu 370C dengan waktu 24 jam
4. Setelah di inkubasi amati perubahan yang terjadi kemudian catat hasil yang
di amati lalu dimasukan ke dalam rumus koefisien fenol lalu Tarik
kesimpulan yang di dapat.

5
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan praktikum : Membandingkan Potensi Daya Antiseptik & Desinfektan


Dengan fenol
Tanggal praktikum : 19 juni 2019

4.1 Hasil
Tabel 4.1 Uji Desinfektan (So kiln lantai)
No Pengenceran 5 menit 10 menit 15 menit keterangan
1 1:90 - - - Medium bening
2 1:100 - - - Medium bening
3 1:110 + - - Keruh pada menit ke 5’

Tabel 4.1 Uji Antiseptik (Betadine)


No Pengenceran 5 menit 10 menit 15 menit keterangan
1 1:90 + - - Keruh pada menit ke 5’
2 1:100 + + + Keruh
3 1:110 + + - Bening pada menit ke 15’

Tabel 4.1 Uji Fenol


No Pengenceran 5 menit 10 menit 15 menit keterangan
1 1:80 + - - Keruh pada menit ke 5’
2 1:90 + + + Medium bening
3 1:100 + + + Mendium bening

4.2 Pembahasan Koefisien Fenol

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan daya hambat suatu
sediaan yang berpotensi sebagai antiseptik atau desinfektan, dengan
membandingkannya terhadap standar fenol atau disebut juga koefisien fenol,
dengan menggunakan bakteri E.Colli. Konsentrasi larutan fenol yang digunakan
untuk pengujian adalah sebesar 2% karena pada konsentrasi 2% fenol sudah
tergolong efektif mendenaturasi protein dan merusak membran sel bakteri serta

6
aktif pada pH asam. Persyaratan koefesien fenol adalah jika didapat nilai
koefesien fenol antara 0,05 sampai 1, maka zat kimia uji adalah antiseptik atau
desinfektan yang kurang efektif, sedangkan jika nilai yang diperoleh lebih besar
dari 1, maka zat kimia uji adalah antiseptik atau desinfektan yang efektif.

Praktikum ini dilakukan dengan teknik aseptis, yaitu suatu sistem cara
bekerja yang menjaga sterilitas ketika menangani pengkulturan mikroorganisme
untuk mencegah kontaminasi terhdap kultur mikroorganisme yang diinginkan.
Dasar digunakannya teknik aseptis adalah karena adanya banyak partikel debu
yang mengandung mikroorganisme, berupa bakteri atau spora, yang mungkin
dapat masuk ke dalam tabung reaksi atau mengendap di meja kerja. Pertumbuhan
mikroorganisme yang tidak diinginkan ini dapat mempengaruhi atau
mengganggu hasil praktikum.

Langkah pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah melakukan


pengenceran fenol 2% dengan perbandingan 1:80, 1:90 dan 1:100 kemudian di
ikuti oleh desinfektan dan antiseptic dengan perbandingan 1:90, 1:100, 1:110
setelah di lakukan pengenceran di lakukan penanaman sub bakteri yaitu E.Colli
ke dalam tabung reaksi dengan pembagian pada menit ke 5’. 10’. Dan 15’ dimana
pengerjaan dilakukan pada saat pengenceran dan penanaman harus aseptis
dengan tujuan agar tidak terjadi kontaminasi.

Setalah penanaman di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C lalu di amati
perubahan yang terjadi dan catat hasilnya. Hasil yang didapat kelompok disini
hanya perbadingan 1:100 untuk fenol, 1:90 untuk antiseptic dan desinfektan yang
memenuhi syarat untuk di masukan pada rumus koefisien fenol dan hasil yang
didapat >1 yang menunjukan bahwa antiseptic/desinfektan lebih baik dari fenol.
adapun kesalahan dalam praktikum yaitu terjadinya kontaminasi dikarenakan
pengerjaan yang kurang aseptis dari kelompok.

7
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Antiseptik (betadine) dan desinfektan (so-kiln lantai) memiliki koefisien fenol


>1 yang berarti daya kerja fenol kurang efektif di banding antiseptic dan
desinfektan. Factor kesalahan yang mungkin terjadi adalah kurangnya aseptis
dalam melakukan praktikum

8
DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, Hana, W., & Wiwiek, T. (2007). Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (piper
betle l.) terhadap Pertumbuhan staphylococcus aureus dan escherichia
coli dengan Metode Difusi Disk. Universitas Erlangga.

Jawetz, Melnick & Adelberg.(1995). Mikrobiologi Kedokteran.Jakarta : Buku


Kedokteran EGC.

Koes, irianto. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Yrama


Widya; Bandung.

Levinson, W. (2008).Review of Medical Microbiology. Amerika: The McGraw-


Hill Companies.

Pankey, G.A. (2014). Clinical Relevance of Bacteriostatic Versus Bactericidal


Mechanisms of Action in the Treatment of Gram-Positive Bacterial
Infections.Oxford Journals Clinical Infectious Diseases. Vol.38, No.6:864-
870.

Rahayu, I. D. 2007. The sensitivity of Staphylococcus aureus as Mastitis


Pathogen Bacteria Into Teat Dipping Antiseptic in Dairy Cows. Jurnal
Protein. Vol. 4, No. 1: 31-36.

9
LAMPIRAN

10