Anda di halaman 1dari 9

Harga pokok mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan

harga jual produk/jasa. Penetapan biaya yang lebih tepat akan menghasilkan harga
pokok produksi/jasa yang lebih akurat. Oleh karena itu, perusahaan harus benar-benar
serius menangani harga pokok produksinya. Inilah yang mendasari dikembangkannya
metode Activity Based Costing System (ABC). Ilmu ini berkembang pada tahun 1900-
an dirancang untuk mengatasi distorsi pada akuntansi biaya tradisional. Menurut
Raiborn & Kinney (2011) Activity Based Costing adalah sistem akuntansi biaya yang
berfokus pada aktivitas organisasi dan pengumpulan biaya-biaya berdasarkan sifat
pokok yang masih mendasari tingkat beberapa overhead yang telah ditetapkan
kemudian dihitung menggunakan berbagai macam cost driver (pemicu biaya) dalam
aktivitas organisasi. Metode ABC System menggunakan cost driver (pemicu biaya)
berdasarkan aktivitas yang menimbulkan biaya.

Penerapan metode ABC merupakan inovasi yang salah satunya adalah


menambah nilai tambah aktivitas kepada produk/jasa yang akan dihasilkan dan
mengeliminasi aktivitas-aktivitas yang tidak sesuai dengan keinginan pelangan atau
yang tidak menciptakan nilai tambah. Menurut Raiborn & Kinney (2011) Aktivitas
bernilai tambah (value added activity) meningkatkan manfaat dari suatu produk/jasa
untuk pelanggannya dan pelanggan akan membayarnya. Kemungkinan lain, aktivitas
tidak bernilai tambah (non-value added activity) akan meningkatkan waktu yang
terbuang dalam suatu produk/ jasa tapi tidak meningkatkan manfaatnya. Aktivitas tidak
bernilai tambah tidak penting dalam pandangan pelanggan.

Activity Based Costing System menurut para ahli :

1. Gorrison dan Noreen (2000) mendefinisikan Activity Based Costing System


(ABC System) adalah metode costing yang dirancang untuk menyediakan
informasi biaya bagi manajer untuk keputusan dan keputusan lainnya yang
mungkin akan mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap.

1|Tugas Analisis Biaya


2. Menurut Desy (2000) terdapat beberapa indikasi atau tanda-tanda yang
membuat Activity Based Costing (ABC) System sebaiknya diterapkan di suatu
perusahaan, sebagai berikut:
 Jumlah biaya tidak langsung yang signifikan dialokasikan
menggunakan satu atau dua kelompok biaya saja.
 Semua atau kebanyakan biaya tidak langsung merupakan biaya pada
tingkat unit produksi (yakni hanya sedikit biaya tidak langsung yang
berada pada tingkatan biaya kelompok produksi, biaya pendukung
produk, atau biaya pendukung fasilitas).
 Terdapat perbedaan akan permintaan sumber daya oleh masing-masing
produk akibat adanya perbedaan volume produksi, tahap-tahap
pemrosesan, ukuran kelompok produksi, atau kompleksitas.
 Produk yang dibuat dan dipasarkan dengan baik oleh perusahaan
menunjukkan keuntungan yang rendah sementara produk yang kurang
sesuai untuk dibuat dan dipasarkan perusahaan justru memiliki
keuntungan yang tinggi.
 Staf bagian operasi memiliki perbedaan pendapat yang signifikan
dengan staf akuntansi mengenai biaya manufaktur dan biaya pemasaran
barang dan jasa.
3. Menurut Hilton et al. (2003)
mendefinisikan Activity Based Costing (ABC) adalah sistem penghitungan
biaya yang berusaha memperbaiki sistem perhitungan tradisional dengan
menekankan pada aktivitas sebagai objek biaya dasar. Aktivitas bisa berupa
kejadian, tugas, atau unit pekerjaan dengan tujuan khusus, seperti contoh,
perancangan produk, penyetelan mesin, pengoperasian mesin, dan
pendistribusian produk. Biaya-biaya yang tidak bisa dibebankan langsung ke
dalam produk dibebankan pada aktivitas-aktivitas dan biaya-biaya pada

2|Tugas Analisis Biaya


masing-masing aktivitas tersebut dibebankan pada produk berdasarkan
proporsi konsumsi produk tersebut pada masing-masing aktivitas.
4. Blocher (2007) mendefinisikan Activity Based Costing System (ABC System)
adalah pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya
ke objek biaya seperti produk, jasa, atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang
dilakukan untuk obyek biaya tersebut. .
5. Horngren (2008) mendefinisikan Activity Based Costing System (ABC System)
adalah menghitung biaya setiap aktivitas serta membebankan biaya ke objek
biaya seperti produk dan jasa berdasarkan aktivitas yang dibutuhkan untuk
menghasilkan tiap produk dan jasa.
6. Carter (2009) mendefinisikan Activity Based Costing System (ABC System)
adalah suatu sistem di mana tempat penampungan biaya overhead yang
jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan
satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan.
7. Daljono (2011) mendefinisikan Activity Based Costing System (ABC System)
adalah BOP yang disebabkan oleh aktivitas dapat diusut ke unit produk
individual berdasarkan frekuensi pemakaian (pengkonsumsian) sumber daya
overhead oleh setiap produk
Dari definisi-definisi di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa sistem ABC
merupakan suatu metode mengenai sistem perencanaan biaya yang dikembangkan
untuk mengantisipasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sistem akuntansi
biaya konvensional. Yang menjadi pokok perhatian ABC adalah aktivitas-aktivitas
perusahaan, dengan penelusuran biaya untuk menghitung harga pokok produk atau
jasa, yaitu aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya dan produk atau jasa yang
mengkonsumsi aktivitas. Dengan demikian sistem ABC memudahkan perhitungan
harga pokok objek biaya yang akurat dan meningkatkan efektivitas pengambilan
keputusan pihak manajemen.

3|Tugas Analisis Biaya


Perbedaan Biaya Tradisional dan Activity Based Costing (ABC) System
Carter (2009) menggambarkan perbedaan dasar antara biaya produk sistem
tradisional dan sistem ABC, yaitu :
1. Jumlah tempat penampungan biaya overhead dan dasar alokasi cenderung lebih
banyak di sistem ABC, tetapi hal ini sebagian besar disebabkan karena banyak
sistem tradisional menggunakan satu tempat penampungan biaya atau satu
dasar alokasi untuk semua tempat penampungan biaya. Perbedaan tersebut
tidaklah bersifat universal. Suatu sistem dapat menggunakan banyak tempat
penampungan overhead dan dasar alokasi, tetapi jika semua dasar alokasinya
adalah tingkat unit, maka sistem tersebut adalah sistem tradisional dan bukan
ABC.
2. Homogenitas dari biaya dalam satu tempat penampungan biaya. ABC
mengharuskan perhitungan tempat penampungan biaya dari suatu aktivitas,
maupun identifikasi atas suatu pemicu aktivitas untuk setiap aktivitas yang
signifikan dan mahal. Hasil yang biasa ditemukan adalah bahwa semua biaya
dalam satu tempat penampungan biaya aktivitas sangat serupa dalam hal
hubungan logis antara biaya-biaya tersebut dengan pemicu aktivitas, sementara
hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk kebanyakan sistem tradisional.
3. Dalam sistem biaya tradisional setiap beban diklasifikasikan ke dalam overhead
cost centre yang selanjutnya dibebankan pada masing-masing production cost
centre dengan menggunakan dasar alokasi tunggal untuk menghasilkan
perhitungan biaya untuk satu buah produk atau jasa. Seperti terlihat dalam
gambar 1 prosedur pembebanan dua tahap terlihat sederhana untuk
mengalokasikan biaya overhead untuk produksi, tetapi faktanya prosedur
pembebanan dua tahap tidak akurat karena hanya menggunakan pusat biaya
tunggal untuk seluruh plant dan hanya menggunakan dasar alokasi tunggal
seperti tenaga kerja langsung. Gambar 1 menunjukkan struktur Activity Based
Costing (ABC) System untuk operasi pabrik. Pada pandangan pertama Activity
Based Costing (ABC) System terlihat sama dengan prosedur pembebanan dua

4|Tugas Analisis Biaya


tahap, tetapi underlying struktur dan konsepnya cukup berbeda. Activity Based
Costing (ABC) System menggunakan masing-masing dasar alokasi biaya untuk
setiap biaya sumber daya dan untuk setiap aktivitas, sehingga biaya aktual
untuk unit yang diproduksi dapat lebih akurat.

Gambar 1. Prosedur pembebanan dua tahap

Manfaat Penggunaan Activity Based Costing System (Sistem ABC)


Sistem ABC merupakan sistem yang terfokus pada aktivitas-aktivitas yang
dilakukan untuk menghasilkan produk. Sistem ABC diakui sebagai sistem manajemen
biaya baru yang menggantikan sistem biaya akuntansi biaya lama.
Blocher (2007) dalam bukunya manajemen biaya menyebutkan beberapa manfaat dari
Sistem ABC, yaitu :
1. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik. ABC menyajikan biaya produk yang
lebih akuran dan informatif, mengarahkan pada pengukuran profitabilitas produk

5|Tugas Analisis Biaya


yang lebih akurat dan keputusan strategi yang diinformasikan dengan lebih baik
tentang penetapan harga jual, lini, dan segmen pasar.
2. Keputusan dan kendali yang lebih baik. ABC menyajikan pengukuran yang
lebih akurat tentang biaya yang timbul karena dipacu oleh aktivitas, membantu
manajemen untuk meningkatkan nilai produk dan nilai proses dengan membuat
keputusan yang lebih baik tentang desain produk, mengendalikan biaya secara lebih
baik, dan membantu perkembangan proyek-proyek yang meningkatkan nilai.
3. Informasi yang lebih baik. ABC membantu manajer mengidentifikasi dan
mengendalikan biaya kapasitas yang tidak terpakai.

Keterbatasan Activity Based Costing System (Sitem ABC)


Terdapat tiga keterbatasan dalam penerapan Sistem ABC (Blocher, 2007), yaitu
1. Alokasi
Tidak semua biaya memiliki penggerak biaya konsumsi sumber daya
atau aktivitas yang tepat atau tidak ganda. Beberapa biaya mungkin
membutuhkan alokasi ke departemen atau produk berdasarkan ukuran
volume yang arbitrer sebab secara praktis tidak dapat ditemukan aktivitas
yang dapat menyebabkan biaya tersebut. Contohnya adalah biaya
pendukung fasilitas seperti biaya sistem informasi, gaji manajer pabrik,
asuransi produk, dan pajak bumi&bangunan untuk pabrik.
2. Mengabaikan biaya.
Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi sistem ABC cenderung tidak
mencakup seluruh biaya yang berhubungan dengan produk atau jasa
tersebut. Biaya produk atau jasa biasanya tidak termasuk biaya untuk
aktivitas seperti pemasaran, pengiklanan, penelitian dan pengembangan,
dan rekayasa produk, meski sebagian dari biaya-biaya ini karena prinsip
akuntansi yang berlaku umum untuk pelaporan keuangan mengharuskan
biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
3. Mahal dan menghabiskan waktu.

6|Tugas Analisis Biaya


Sistem ABC tidak murah dan membutuhkan banyak waktu untuk
dikembangkan dan dilaksanakan. Untuk perusahaan dan organisasi yang
telah menggunakan sistem perhitungan biaya tradisional berdasarkan
volume, pelaksanaan suatu sistem baru ABC cenderung sangat mahal.

Langkah-Langkah Penghitungan Biaya Dengan Menggunakan Activity Based


Costing (ABC) System
Menurut Desy (2000) langkah-langkah penghitungan biaya dengan
menggunakan Activity Based Costing (ABC) System adalah:
a) Identifikasikan produk yang menjadi objek biaya.
Tujuannya adalah menghitung total biaya dan biaya manufaktur dan biaya
distribusi per unit produk.
b) Hitung biaya langsung dari produk.
Biaya langsung contohnya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
c) Pilih dasar pengalokasian biaya yang akan digunakan untuk mengalokasikan
biaya tidak langsung ke produk. Penentuan dasar alokasi biaya menentukan
jumlah kelompok berdasarkan aktivitas pada sistem ABC, karena banyak
aktivitas yang mempunyai pemicu biaya yang sama.
d) Identifikasikan biaya tidak langsung yang berkaitan dengan setiap dasar
alokasi biaya. Pada tahap ini, biaya tidak langsung dialokasikan sebisa
mungkin berdasarkan hubungan sebab akibat antara dasar alokasi biaya dan
biaya aktivitas.
e) Hitung tarif per unit dasar alokasi biaya guna mengalokasikan biaya tak
langsung ke produk. Tarif per unit dasar alokasi biaya dihitung dengan
membagi total biaya pada masing-masing aktivitas dengan kuantitas dasar
alokasi biaya.
f) Hitung biaya tidak langsung yang dialokasikan ke produk.

7|Tugas Analisis Biaya


Untuk menghitung total biaya tidak langsung pada setiap produk, maka total
kuantitas dari dasar alokasi biaya yang digunakan setiap aktivitas oleh tiap
produk dikalikan dengan tarif alokasi biaya yang telah dihitung.
g) Hitung total biaya produk dengan menjumlahkan semua biaya.
Semua biaya langsung dan biaya tidak langsung dijumlahkan untuk
mendapatkan total biaya produk.

8|Tugas Analisis Biaya


DAFTAR PUSAKA

Desy, A. 2000. Akuntansi Biaya: Penekanan Manajerial. Edisi ke- 11. Jakarta: PT
Indeks Kelompok Gramedia.

Farahmita, A., Amanugraha, Hendrawan, dan Taufik. 2005. Pengantar Akuntansi.


Edisi ke-21, Jakarta: Salemba Empat.

Farahmita, A., Amanugraha, Hendrawan, dan Taufik. 2008. Product.


http:www.Investorwords.com/3874/product.html.

Hansen, M., dan M. Mowen. 2003. Cost Management: Accounting and Control. 4th
edition. United States of America: South-Western, a Division of Thomson Learning™.

Herman, W. 2000. Teori Akuntansi. Edisi ke-5. Batam: Interaksara.

Hilton, R. W., M. W. Michael, S. H. Frank. 2003. Cost Management: Strategies for


Business Decisions. New York: The McGraw Hill Companies Inc.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta.

Nurhayati. 2003. Perbandingan Sistem Biaya Tradisional dengan Sistem Biaya ABC.
http://library.usu.ac.id/download/ft/industri-nurhayati3.pdf.

Dicky, Yoanes. 2011. Penerapan metode Activity Based Costing System dalam
penghitungan profitabilitas produk. Jurnal Akuntansi, Vol 3, No. 1, Mei, 69-89.

Fujizah, Ami dan M. Yasir Zain. 2005. Aplikasi Penentuan Harga Jual Kamar Pada
Perusahaan Jasa Perhotelan Menggunakan Metode Activity Based Costing. Media
Informatika, Vol 3, No. 1, Juni, 1-10. ISSN : 0854-4743

Gunawan, Barbara. 2007. Analisis Hubungan Activity Based Costing. Simposium


Nasional Akuntansi X. 26-28 Juli. Yogyakarta : Universitas Muhammadiyah.

9|Tugas Analisis Biaya