Anda di halaman 1dari 20

Lampiran

SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi


Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Keberhasilan penanggulangan penderita gawat darurat antara lain ditentukan oleh
tersedianya sumber daya yang sesuai dengan standar dan terlaksananya sistem
penanggulangan gawat darurat, karena bilamana keadaan tersebut memerlukan waktu
tanggap (respon time) yang sangat terbatas.
Keadaan gawat darurat medik merupakan suatu peristiwa yang dapat menimpa
seseorang atau kelompok orang dengan tiba-tiba yang dapat membahayakan jiwa sehingga
memerlukan tindakan yang cepat dan tepat agar dapat meminimalkan angka kematian dan
mencegah terjadinya kecacatan yang tidak perlu.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka disusunlah Buku Pedoman pelayanan Instalasi
gawat darurat RS Permata Bekasi. Diharapkan dengan tersusunnya buku ini dapat
meningkatkan pelayanan gawat darurat, baik pra Rumah Sakit maupun didalam Rumah Sakit
sesuai dengan standar yang ditentukan.

1.2 TUJUAN PEDOMAN


Tujuan dari disusunnya Buku Pedoman Pelayanan Instalasi gawat darurat RS Permata
Bekasi ini adalah untuk dijadikan acuan dalam pelayanan di Instalasi gawat darurat agar dapat
meningkatkan kemampuan dan mutu pelayanan yang sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kesehatan, perubahan peraturan Perundang-undangan yang
diberlakukan dan harapan masyarakat.

1.3 RUANG LINGKUP


1. Pasien Rawat Jalan
2. Pasien Rawat Inap
3. Pasien Umum
4. Pasien Jaminan Asuransi/Perusahaan
5. Pasien Jaminan Kesehatan Nasional

1.4 BATASAN OPERASIONAL


- Pelayanan gawat darurat adalah semua keterangan tentang pelayanan yang tersedia di
Instalasi gawat darurat
- Triase adalah sistem seleksi terhadap keluhan atau masalah penderita dalam situasai
sehari-hari dan seleksi terhadap penderita yang memerlukan tindakan pertolongan
pertama dalam kondisi kegawatdaruratan.
- Rujukan adalah pengiriman pasien untuk dilakukan pemeriksaan diagnostik dan atau
terapi maupun pasien yang dikirim untuk alih rawat untuk hal-hal lain dalam keadaan
tertentu, pemeriksaan spesimen juga termasuk dalam ketentuan rujukan ini.
- DOA (Death on arrival) merupakan kejadian kematian pada saat pasien sampai di IGD
- Keselamatan Pasien (Patient Safety) merupakan suatu sistem dimana Rumah Sakit
membuat asuhan pasien lebih aman.
- Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana Rumah Sakit membuat
kerja/aktifitas karyawan lebih aman.

1
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

1.5 LANDASAN HUKUM


Instalasi gawat darurat di suatu Rumah Sakit adalah merupakan bagian yang harus
terselenggara sesuai dengan :
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
b. Undang-undang Praktik Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004
c. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
d. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan
minimal Rumah Sakit.

2
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

2.1 STRUKTUR ORGANISASI

KEPALA INSTALASI
IGD

KEPALA PELAYANAN
PERAWAT IGD

DOKTER DOKTER
IGD IGD

PERAWAT PERAWAT
IGD IGD

2.2 HUBUNGAN KERJA DENGAN UNIT LAIN

3
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

EKSTERNAL

PMI

RUMAH
VENDOR
SAKIT
AMBULA IGD RUJUKA
NCE
N

2.3 KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA

Tabel 2.1 Kualifikasi SDM bagian Gawat Darurat RS PERMATA BEKASI

Kualifikasi Jabatan Kualifikasi Pendidikan Pengalaman Kerja Pelatihan


Ka Inst Rawat Jalan Dokter Umum Minimal 2 tahun ATLS/ACLS
Dokter Jaga Dokter Umum ATLS/ACLS
Kepala Pelayanan Minimal Ners/D-3 Minimal 2 tahun BLS / PPGD/ BTLS
Keperawatan IGD Keperawatan
Perawat Pelaksana Ners/D-3 - BLS/ PPGD / BTLS
Keperawatan/Kebidanan

Tabel 2.2 Pola Ketenagaan Instalasi gawat darurat RS PERMATA BEKASI bagian keperawatan

N Jenis pendidikan Jumlah tenaga


o
1 Dokter Umum 5
2 D-3 Keperawatan 8
3 D-3 Kebidanan 2

2.4 DISTRIBUSI KETENAGAAN

Distribusi ketenagaan dilakukan sesuai dengan daftar dinas Perawat per bulan. Kebutuhan
tenaga diperoleh berdasarkan perhitungan standar tenaga Perawat RS Permata Bekasi yang telah
dibuat. Instalasi gawat darurat dapat mengajukan penambahan tenaga kepada Direktur untuk
selanjutnya dikoordinasikan dengan bagian Sumber Daya Manusia untuk pengadaan ketenagaan.

4
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

2.5 Pengaturan Jaga

1. Dokter Jaga IGD

a. Pengaturan Jadwal Dokter jaga IGD terbagi 3 shif, yaitu sebagai berikut :

- Shift pagi : Jam 08.00 WIB – 16.00 WIB


- Shift siang : Jam 16.00 WIB – 20.00 WIB
- Shift malam : Jam 20.00 WIB – 08.00 WIB

b. Jadwal Dokter Jaga IGD disusun setiap bulan dibuat oleh bagian yanmed dan diperbanyak untuk
didistribusikan pada minggu terakhir setiap bulan kepada setiap Dokter Jaga IGD.

c. Bila Dokter Jaga IGD berhalangan memenuhi jadwal jaga yang sudah ditentukan, maka harus
berkoordinasi mengupayakan mencari penggantinya dan melaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat
Jalan.

2. Perawat

a. Pengaturan Jadwal Jaga Perawat IGD terbagi dalam 3 shiff, yaitu sebagai berikut :
- Shift pagi : Jam 07.00 WIB – 14.00 WIB
- Shift siang : Jam 14.00 WIB – 21.00 WIB
- Shift malam : Jam 21.00 WIB – 07.00 WIB
b. Jadwal Jaga Perawat IGD disusun setiap bulan oleh Kepala Pelayanan Keperawatan IGD.
c. Bila Perawat IGD berhalangan memenuhi jadwal jaga yang sudah ditentukan, maka harus
berkoordinasi mengupayakan mencari penggantinya dan melaporkan kepada Kepala
Pelayanan Keperawatan IGD.

5
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB III
STANDAR FASILITAS

3.1 Denah Ruang

3.2 Standar Fasilitas

1. Zona Resusitasi

Ruang yang difungsikan untuk pasien yang membutuhkan pertolongan tindakan resusitasi segera
dan memerlukan pengawasan khusus, misalnya :

- Kasus Henti Jantung


- Kasus Henti Nafas
- Pasien dicurigai Sakit Jantung
- Pasien tidak sadar karena berbagai penyebab (misalnya karena hipoglikemia,stroke,syok dan sebagainya)
- Kasus Kejang Demam
- Kasus Cedera Kepala Berat
- Kasus Tenggelam

Kelengkapan alat yang diperlukan diruang resusitasi, antara lain :

Tempat tidur Lampu senter


Tensimeter Stetoskop
Oksigen + Selang O2 Neck Collar
Monitor Set Catheter Set ( dengan berbagai ukuran )
Oksimeter Nasogastric Tube Set ( dengan berbagai ukuran)
Deflibrilator Endotracheal Tube ( dengan berbagai ukuran )
Suction Set Oropharyngeal Tube/Guedel (dengan berbagai
ukuran)
EKG Ventilation Bag
Syringe Pump Set Laryngoscope + Blade
Nebulizer Cairan Infus, Obat

6
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

Berikut adalah tabel daftar obat yang tersedia di IGD RS Permata Bekasi berikut dengan penjelasan
indikasi penggunaan dan dosisnya :

No NAMA OBAT INDIKASI DOSIS


1 Adrenalin Anaphylatic Shock Anak : 0,01 ml/kg (iv)
1:1000 ampul Dewasa : 0,5 – 1 ml (im, sc, iv)
(1mg/ml) Di ulang tiap 5 – 10 menit, bila
perlu
2 Aminophylin Ampul Asthma Bronchial Anak : 0,1-0,5 ml/kg ( iv, push)
250mg/10ml) Dewasa : 1 ml (iv, Push)
Diulang tiap 5 menit, bila perlu
3 Aspirin (aspilet) Acute Myocard Infark 1-2 tablet Sublingual
80 mg/tablet
4 Atropin ampul 0,25  Symptomatic Bradycardia 0,5 – 1 mg IV
mg/1ml (>60x/menit) 1 mg iv Push
 Asystole Diulang tiap 3- 5 menit sampai
 Intoksikasi total 0,4 mg/10 kgBB
Dosis : 14 mg IV
5 Diazepam (Valium) Kejang Anak 0,25 mg/kg, IV pelan
ampul 10 mg/2ml Dewasa 10 mg, IV pelan
6 Dopamin ampul 200 Shock yang belum teratasi 2,5 -20 mg/kg/min IV drip
mg/10 ml dengan pemberian cukup Dosis ginjal 1-5 mg/ kg/drip
cairan Dosis jantung 5-10 mg/kg/drip
Dosis syock/vasopresor 10–20
mg/kg/drip
7 Furosemid (Lasix) Edema Paru Akut (TD>90 20–40 mg IV
ampul 20 mg/2 ml mmHg) Hypertensi Berat 0,5–1 mg/kg IV (max 2mg/kg)
8 Morpin ampul 10 AMI edema paru akut (TD > 3-5 mg IV
mg/ml 90 mm/hg) 5-10 mg IM
Dapat di ulang bila perlu
9 Glucose 40% vial 10 Hypoglikemi 25 – 50 ml, IV pelan
gr/25ml
10 Sodium Bicarbonat Metabolic Acidosis Bolus 1 meq/kg, IV pelan
(meylon) vial 25 meq/ Drip 0,05 meq/kg/menit
25 ml
11 Isosorbide Dinitrite Angina Pectoris 1 tablet sublingual di ulang tiap 5
menit bila perlu
12 Dexametason Asthma Bronchial 0,05-0,2 mg/kg, IV (1ml untuk 10–
(Oradexon) ampul Anaphylactic Reaction 25 kgBB)
4mg/ml
13 Digoxin (Lanoxin) 0,25 Flutter/ Fibralasi Atrial CHF 1 tablet peroral, dapat di ulang 6
mg/tablet Jam Kemudian
14 Pethidin ampul (100 Analgetik kuat 1 mg/kgBB IV/IM
mg/2 ml)
15 MgSO4 20% ampul 5 Ventrikel Tachikardi ( Torsade 5-10 ml IV, pelan-pelan
gr/25 mg de Pointes) 10 ml IV, Pelan-pelan
Eklamsia
16 Lidokain (Xylocard - Cardiac Aritmia (karena 1 mg/KgBB bolus pelan-pelan,
500) ampul MI) dapat di ulang 10 menit kemudian
(500mg/5ml) - Takikardi Ventrikel 0,5 mg/kg lalu drip 2- 4 mg.

7
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

17 Combiven nebulizer Asthma Branchial 1 amp untuk pasien dewasa


18 Diazepam (Stesolid) Kejang Dewasa : 10 mg rectal
Rectal Enema Anak-anak : 5 mg rectal
10mg/2,5 ml dan 5
mg/ 2,5 ml

Kebutuhan perlengkapan administrasi yang di perlukan, antara lain :

Buku Administrasi IGD Palu Reflex


Buku Laporan IGD Lampu Senter
Telepon Dalam dan Luar Tempat tidur
Meja Komputer O2 Set
Komputer Surgery Desk
Kursi Cairan Antiseptik (Savlon, Povidone
Iodinecair,H2O2, Alkohol 70%, NaCl 0,9%,
Aquadest)
Stetoskop Jarum kulit + benang
Termometer Jarum dalam + benang
Tensimeter Sofratulle
Otoscope Elastis bandage

a. Zona triase
Triase adalah sistem penyeleksian problem pasien untuk memberikan
pertolongan dengan tepat, efektif dan efisien sesuai dengan tujuan
utama IGD, yaitu :
o Mencegah kematian dan cacat
o Menerima rujukan pasien gawat darurat
o Menanggulani korban bencana
o Menanggulangi “False Emergency” sebagai tujuan tambahan
Kelengkapan sarana dan alat kesehatan yang diperlukan diruang
triase, antara lain :
o Tempat tidur
o Lembar status
o Tensimeter
o Stetoskop
o Termometer
o Timbangan badan
o Glucotest
b. Zona pemeriksaan (kasus bedah dan non bedah) Ruang ini dapat dipergunakan untuk pasien
yang akan :
o Dilakukan pengukuran tanda-tanda vital
o Dilakukan pemeriksaan fisik
o Menunggu hasil pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi)
o Menunggu masuk ke rawat inap
o Dilakukan tindakan keperawatan ( pasang infus, cateter, NGT dan sebagainya)
o Menunggu obat
o Menunggu proses penyelesaian administrasi
o Observasi setelah dilakukan di ruang bedah minor

8
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

4.1 PELAYANAN PENDAFTARAN PASIEN


Pasien datang ketempat penerimaan gawat darurat. Masuk ke Ruang IGD pasien ditolong
terlebih dahulu.
Setelah mendapat pelayanan yang cukup, ada beberapa kemungkinan dari setiap Pasien :
o Pasien boleh langsung pulang
o Pasien dirujuk ke RS lain
o Pasien harus dirawat
1. Pasien yang sudah diseleksi dan membawa surat pengantar untuk dirawat dapat langsung dibawa ke
ruangan perawatan sambil menunggu tempat tidur kosong dari ruang perawatan.
2. Jika pasien sudah sadar dan dapat diwawancarai, Petugas pendaftaran mendatangi pasien/keluarga
untuk mendapatkan identitas selengkapnya
3. Bagi pasien yang pernah berobat/dirawat maka Rekam Medisnya segera dikirim ke ruang perawatan
yang bersangkutan dan tetap memakai nomor yang dimilikinya.
4. Pasien yang sudah pernah berobat ke RSPB dapat ditanyakan siapa Dokter Spesialis yang pernah
dikunjungi
5. RS Permata Bekasi tidak berwenang melayani permintaan Visum pada kasus luka karena benda
tajam atau sejenisnya dan hanya dapat memberikan surat keterangan luka

4.2 PELAYANAN TRIASE


Triase adalah Sistem seleksi pasien untuk pengelompokkan korban dalam menentukan
tingkat kegawatan serta prioritas dan kecepatan penanganan serta pemindahan. Pasien diseleksi
berdasarkan tingkat kegawatdaruratannya dengan kategori :
1. Pasien gawat darurat
Pasien yang tiba–tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam
nyawanya serta anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan
secepatnya.
2. Pasien gawat tidak darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya
penyakit kanker stadium lanjut.
3. Pasien darurat tidak gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba–tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota
badannya, misalnya luka sayat dangkal.
4. Pasien tidak gawat tidak darurat
Misalnya pasien dengan Ulcus Tropium, TBC Kulit, dll.
5. Kecelakaan
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya mendadak, tidak
dikehendaki sehingga menimbulkan cedera (fisik, mental, sosial)
6. Cedera
Masalah kesehatan yang didapat /dialami sebagai akibat kecelakaan.

7. Bencana
Peristiwa/rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang
mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian, harta benda, kerusakan
lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum, serta menimbulkan gangguan terhadap
tata kehidupan dan penghidupan masyarakat serta pembangunan nasional yang memerlukan
pertolongan dan bantuan. Dalam pelaksanaan Pelayanan di IGD diberlakukan kategori kasus

9
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

emergency dan false emergency. Dalam hal ini yang termasuk pasien emergency adalah :
Kasus Prioritas 1 (P1) yaitu pasien gawat darurat, Prioritas 2 (P2) yaitu pasien gawat tidak
darurat dan atau pasien darurat tidak gawat. Sedangkan yang termasuk pasien false
emergency adalah kasus Prioritas 3 (P3) yaitu pasien tidak gawat tidak darurat dan kasus
prioritas 0 (P0) yaitu pasien yang datang dalam keadaan sudah meninggal dunia (Death On
Arrival)

Kartu kode warna Triase dapat digunakan sebagai cara pengklasifikasian dalam Triase setelah
diperoleh informasi akurat tentang keadaan pasien. Kartu warna yang digunakan adalah :
1. MERAH : Korban yang membutuhkan stabilisasi, misal nya :
o Syok oleh berbagai kausa
o Gangguan pernafasan
o Trauma kepala dengan pupil anisokor
o Perdarahan eksternal masif
o Gangguan jantung yang mengacam
o Luka bakar >50% atau luka bakar di daerah terbakar
Semua pasien tersebut di atas disalurkan ke ruang resusitasi.
2. Kuning : Korban yang memerlukan pengawasan ketat tetapi perawatan dapat di
tunda sementara, misal :
o Korban dengan risiko syok (korban dengan gangguan jantung, trauma abdomen berat)
o Fraktur multiple
o Fraktur femur/pelvis

o Luka bakar luas


o Gangguan kesadaran/trauma kepala
o Korban dengan status tidak jelas
Semua pasien tersebut di atas disalurkan ke ruang tindakan bedah.
3. Hijau : Kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian
pengobatan dapat ditunda
o Fraktur minor
o Luka minor, luka bakar minor atau tanpa luka
Pasien dengan kecelakaan disalurkan ke ruang tindakan bedah
4. Hitam : Korban yang telah meninggal dunia
Pasien yang meninggal dunia disalurkan ke kamar jenazah

4.3 TRANSPORTASI PASIEN


Transportasi merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan gawat darurat. Melalui
transportasi kita dapat membantu penanganan penderita gawat darurat. Dalam memberikan
pelayanan transportasi kepada penderita gawat darurat, perlu diperhatikan beberapa petujuk
dibawah ini :
1. Persiapan alat
a. Ambulance dan kit emergency
b. Kursi roda
c. Brankard
d. Oksigen potrable

2. Cara kerja
a. Ketempat pemeriksaan X – Ray, diantar minimal 1 orang Perawat.
b. Ke Ruang perawatan, diantar minimal oleh 1 orang Perawat.
c. Ke Rumah Sakit lain :
o Bila tidak ada masalah ABC, pasien boleh tidak diantar petugas dan
10
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

membawa surat rujukan.


o Bila ada masalah ABC, pasien harus di antar 1 orang perawat dengan
membawa surat rujukan dan memakai ambulance sesuai SPO merujuk
pasien

4.4 Pemindahan Pasien dari IGD ke ICU

Pemindahan pasien dari derajat kondisi yang lebih rendah ke kondisi derajat yang lebih tinggi, misalnya dari
IGD ke High Care atau dari High Care ke ICU atau bisa dari IGD langsung ke ICU. Perpindahan perawatan dari
kondisi derajat yang rendah ke perawatan yang lebih tinggi diperlukan karena mengingat kondisi pasien
dengan Airway, Breathing, Circulation (ABC) yang tidak stabil sangat membutuhkan observasi l ketat dan
intervensi yang mendalam.

Berikut Algoritmanya:
Dari IGD ke ICU
MULAI

DOKTER JAGA
Menghubungi Dokter Jaga ICU/HCU
Tidak DOKTER JAGA ICU
Datang ke IGD untuk Memeriksa Kondisi Pasien

Indikasi Masuk ICU

Ya

PERAWAT ICU
Telpon Unit ICU Untuk Persiapan Perawatan

TRANSPORTER & PERAWAT ICU


Mempersiapkan brankar, peralatan & obat2an sesuai kondisi pasien

TRANSPORTER & PERAWAT & DOKTER INTENSIVE CARE


Mentransfer pasien menuju ruang perawatan
Intensive Care

SELESAI
Pasien yang masuk ke ICU, juga bisa berasal dari kamar operasi, mengingat kondisi pasien yang tidak stabil,
maka transporter dan petugas pendamping berasal dari ICU. Terkadang pada kondisi tertentu, pasien yang
sedang dirawat di ICU memerlukan pemeriksaan penunjang seperti CT – Scan, MRI atau pemeriksaan
penunjang lainnya. Pada kondisi tersebut maka transporter dan petugas pendamping berasal dari ICU.

11
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

4.5 PELAYANAN FALSE EMERGENCY.


Pasien tidak akut dan gawat adalah pasien yang mengalami sakit lama, tidak
mengancam nyawa (false emergency).

Langkah–langkah dalam memberikan pelayanan false emergency adalah sebagai berikut :


1. Pelayanan diberikan terlebih dahulu kepada pasien yang mengalami penyakit akut dan
gawat ”True Emergency” bukan berdasarkan urutan kedatangan pasien.
2. Kasus-kasus yang tidak tergolong akut dan gawat ”False Emergency”akan mendapatkan
pelayanan setelah kasus gawat darurat terlayani.
3. Pada Jam Kerja (07.00-14.00) setiap hari Senin – Jumat, kasus-kasus False Emergency akan
dialihkan ke poliklinik atau
4. Dokter poliklinik dimintakan bantuannya untuk melayani pasien False Emergency di IGD
bila Dokter IGD sedang menangani pasien True Emergency.

4.6 Pelayanan DOA ( Death On Arrival)


DOA (Death On Arrival) merupakan kejadian kematian pada saat pasien sampai di IGD. Pasien
yang datang dalam keadaan DOA langsung disalurkan/ditempatkan dikamar jenazah.
Syarat pengambilan jenazah:
1. Pengambil jenazah menyerahkan foto copy bukti diri yang sah kepada petugas.
2. Pengambil jenazah menyerahkan Surat Pengambilan Jenazah kepada petugas.

Sarana Penunjang Pelayanan :


1. Penunjang medis : Pelayanan Laboratorium, farmasi
2. Penunjang non medis : Telepon dan ambulance.
Ada 5 hal yang wajib diinformasikan ketika petugas IGD melayani pasien gawat darurat via telepon:
1. Nama pasien
2. Alamat pasien
3. Kondisi pasien saat itu
4. Nomor telepon
5. Penjamin

Sebelum petugas IGD menjemput pasien yang meminta ambulance, petugas IGD wajib
memberitahukan keadaan pasien saat itu. Adapun informasi pelayanan Pra Rumah Sakit diberikan
adalah dengan tatalaksana sebagai berikut :
1. Jika keadaan pasien baik, petugas yang berada dimobil ambulance tidak menginformasikan
apapun kepada petugas IGD di Rumah Sakit.
2. Jika keadaan pasien darurat, petugas yang berada dimobil ambulance menginformasikan
keadaan pasien saat itu kepada petugas IGD di Rumah Sakit dengan menggunakan sarana
telekomunikasi handphone.
3. Di luar jam kerja, laporkan hal ini ke SOD (Supervisor On Duty)

12
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

4.7 Sistem Rujukan


Rujukan pasien dari RS Permata Bekasi hanya dapat dilakukan oleh Dokter Spesialis yang
kompeten atau setidaknya atas persetujuan salah satu Dokter Spesialis. Dokter Jaga IGD sebelum
melakukan rujukan pasien harus mengkonfirmasikan pasien tersebut kepada Dokter Spesialis yang
sesuai dengan penyakit pasien. Adapun bentuk rujukan yaitu :

1. Alih Rawat
Alih rawat dapat dilakukan pada keadaan :
- Tidak ada Dokter Spesialis yang kompeten
- Trauma kapitis dengan kemungkinan perdarahan intra kapitis
- Permintaan pasien
- Dugaan kasus SARS, flu burung, flu babi
2. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laboratorium
b. Pemeriksaan penunjang lain yang dianggap perlu, yang tidak dapat dilakukan di RS
Permata Bekasi
3. Spesimens
a. Darah
b. Urin
c. Jaringan
d. Mukus/sekret

13
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB V
LOGISTIK

Pengelolaan obat dan alat kesehatan/alkes meliputi pemesanan, pengambilan dan


pencatatan obat/alkes untuk pasien-pasien IGD.
1. Mekanisme Pengadaan Obat dan Alat Medis di IGD adalah sebagai berikut:
- Persiapan Alat
a. Lembaran stok obat
b. Buku keluar/masuk alat
c. Buku inventaris alat
d. Blangko pemesanan obat dan alkes
- Setiap hari petugas/pekarya pagi mengantar alkes yang terpakai untuk disterilkan dan
mengambil kembali setelah disterilkan untuk disimpan pada tempatnya.
- Pemesanan alat kesehatan dilakukan oleh perawat penanggung jawab dinas pagi
setiap hari Senin dengan mengisi blanko pemesanan alkes yang ditandatangani
Kepala Perawat/Kepala Instalasi Rawat Jalan dengan jumlah yang sesuai kebutuhan,
kecuali bila jatuh pada hari libur, pemesanan dilakukan sehari sebelumnya.
2. Pengadaan Alat Umum :
a. Petugas IGD membuat permintaan kebagian Gudang, dengan mengisi Formulir
Pengambilan Barang yang ditandatangani oleh Ka Instalasi Rawat Jalan
b. Formulir diserahkan ke Bagian Gudang
3. Pengadaan Alat-alat Kesehatan :
a. Bagian Gawat Darurat mengajukan permintaan barang dengan mengisi formulir
permintaan barang. Formulir tersebut terlebih dahulu diajukan kepada Kepala
Departemen Pelayanan untuk diketahui, dipertimbangkan dan disetujui serta
ditandatangani oleh Kepala Instalasi Rawat Jalan dan Manajer Pelayanan.
b. Permintaan barang yang telah disetujui oleh Manager Pelayanan, selanjutnya diajukan
kepada Tim untuk dipertimbangkan dan pengesahan
c. Tim pengadaan melakukan negoisasi penawaran harga untuk mendapat kesepakatan
harga dengan pemasok
d. Tim pengadaan memberi perintah kepada bagian/petugas pembelian,untuk membeli
barang–barang sesuai kebutuhan bagian yang meminta. Dalam hal kebutuhan barang-
barang rutin yang telah dilakukan perjanjian kerjasama, maka pembelian dapat langsung
dilakukan ke pemasoknya, setelah ada pengesahan dari Tim Pengadaan.
e. Bagian/petugas pembelian melakukan transaksi atas pembelian barang–barang sesuai
permintaan baik untuk barang–barang rutin atau barang–barang yang non stock.
f. Pemasok mengantar barang ke RS Permata Bekasi sesuai pesanan dan barang tersebut
diterima oleh bagian, Petugas Gudang memeriksa apakah barang–barang tersebut sesuai
dengan pesanan baik jenis maupun jumlah pesanan.
g. Kemudian bagian gudang mendistribusikan barang kepada bagian Gawat Darurat.
h. Untuk pengambilan barang digudang yang sudah diajukan, Petugas IGD melakukan
prosedur pada permintaan alat–alat umum diatas.

14
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

6.1 PENGERTIAN
Keselamatan pasien (Pastient Safety) merupakan suatu sistem dimana Rumah Sakit
membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi : Assessmen Resiko, Identifikasi
dan Pengelolaan hal yang berhubungan dengan Resiko Pasien, Pelaporan dan Analisis Insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta Implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya resiko. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya
cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.

6.2 TUJUAN
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit.
2. Meningkatkan akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan masyarakat.
3. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Rumah Sakit.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian
tidak diharapkan.

6.3 TATA LAKSANA KESELAMATAN PASIEN


1. Keselamatan pasien merupakan hal yang terutama dalam pelayanan IGD
2. Terdapat petugas IGD yang memahami mengenai keselamatan pasien.
3. Terdapat sistem pelayanan yang komprehensif, baik medis maupun keperawatan sehingga
meminimalkan terjadinya kasus yang tidak diharapkan (KTD).
4. Setiap pasien yang masuk melalui IGD harus mendapat penilaian langsung oleh Dokter
Jaga, untuk menyatakan kondisi kedaruratannya, termasuk menanyakan Riwayat alergi,
Riwayat penyakit dan pengobatan yang pernah dijalani
5. Pasien yang mengalami kondisi yang darurat, yaitu mengancam keselamatan pasien,
harus ditatalaksana dengan lengkap di IGD.
6. Identifikasi pasien harus dilakukan secara lengkap, baik berupa status maupun gelang
identitas
7. Segala bentuk pemindahan pasien, baik ke ruang perawatan atau kamar operasi harus
sudah teridentifikasi dengan baik dan diketahui oleh kepala perawat jaga saat itu.
8. Sarana dan prasarana harus mengindahkan keselamatan pasien : sterilitas alat, tabung
oksigen, tempat tidur dorong, privacy, dll.
9. Terdapat evaluasi berkala kelengkapan sarana dan pra sarana.
10. Terdapat pelaporan kasus yang tidak diharapkan, yaitu :
- Insiden kesalahan identifikasi kedaruratan pasien
- Insiden pasien jatuh.
- Insiden kejadian infus blong.
- Insiden kesalahan pemberian obat.
- Insiden kesalahan cara pemberian obat.
- Insiden kesalahan persiapan operasi.
- Insiden kesalahan persiapan pemeriksaan penunjang.
11. Membangun kesadaran atau budaya akan nilai keselamatan pasien.

15
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

7.1 PENGERTIAN
Keselamatan kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi
pekerjanya,perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan disekitar tempat kerja.
Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan pribadi ataupun Rumah Sakit.

a. TUJUAN
1. Terciptanya budaya keselamtan kerja di RS Permata Bekasi
2. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
3. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya.
4. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

7.2 TATA LAKSANA KESELAMATAN KARYAWAN

a. Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi, yaitu:

- Menganggap bahwa pasien maupun dirinya sendiri dapat menularkan infeksi.


- Menggunakan alat pelindung (sarung tangan, kacamata, sepatu boot/alas kaki tertutup,
celemek, dll) terutama bila terdapat kontak dengan spesimen pasien, yaitu: Darah, Urin, dll.
- Melakukan perasat yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai prosedur yang ada, misal
:
Memasang kateter, menyuntik menjahit luka, memasang infus, dll
- Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan sesudah menangani pasien.

- Pada prosedur-prosedur ringan wajib melakukan cuci tangan 6 langkah

b. Terdapat tempat sampah infeksius ,non infeksius dan safety box untuk sampah benda tajam

c. Mengelola alat dengan mengindahkan prinsip sterilitas yaitu :

- Dekontaminasi dengan larutan klorin

- Pencucian dengan sabun

- Pengeringan

d. Menggunakan baju kerja yang bersih

e. Melakukan upaya-upaya medis yang tepat dalam menangani kasus :

- HIV / AIDS (sesuai prinsip pencegahan infeksi)

- Flu burung

Kewaspadaan standar karyawan/petugas IGD dalam menghadapi penderita dengan dugaan

16
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

flu burung adalah :

 Cuci tangan
Cuci tangan dilakukan dibawah air mengalir dengan menggunakan sikat selama
+5 menit, yaitu dengan menyikat seluruh telapak tangan maupun punggung
tangan.
 Hal ini dilakukan sebelum dan sesudah memeriksa penderita.

 Memakai masker N95 atau minimal masker badan

 Menggunkan pelindung wajah/kacamata goggle

 Menggunakan apron

 Menggunakan sarung tangan

 Menggunakan pelindung kaki

- Hepatitis B/C (sesuai prinsip pencegahan infeksi)

17
Lampiran
SK Direktur Rumah Sakit Permata Bekasi
Nomor : 001/SK-DIR/YANMED-IGD/RSPB/IV/2018
Tanggal : 3 April 2018

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Beberapa indikator mutu dalam pelayanan gawat darurat sebagai berikut :

1. Angka Kecepatan Pelayanan Pertama Gawat Darurat (KPPGD)

Pelayanan Pertama Gawat Darurat dikatakan cepat apabila pelayanan terhadap penderita gawat
dan atau darurat yang dilayani dengan tindakan Life Saving oleh petugas gawat darurat kurang
dari 5 menit. Petugas gawat darurat adalah petugas yang bekerja di Ruang Gawat Darurat ,yang
telah dilatih PPGD.
Tindakan Darurat atau Life Saving adalah tindakan yang ditujukan untuk menyelamatkan jiwa
manusia yang sedang terancam karena penyakit atau luka-luka yang dideritanya.

Rumus :
Banyaknya penderita gawat darurat yang
dilayani < 5 menit perbulan x 100%
Total penderita gawat darurat pada bulan tersebut

Analisis harus dilakukan secara berkala 3 (tiga) bulan sekali secara terus menerus. Yang harus
disimpulkan dari analisis ini adalah kecenderungan dari Keterlambatan Pelayanan Pertama
Gawat Darurat.

2. Angka Kematian (AK) di IGD


Rumus:
AK = Jumlah Kematian X 100%
Jumlah Pasien IGD

Angka kematian ini harus dikumpulkan dan dilaporkan setiap 3 bulan sekali. Yang perlu
diperhatikan adalah kecenderungan angka kematian ini dari waktu ke waktu. Tidak dimasukkan
didalam angka kematian ini Death On Arrival (DOA).

18
BAB IX
PENUTUP

Demikian Buku Pedoman Pelayanan Gawat Darurat ini disusun. Kami mengajak semua pihak yang
bekerja di RS Permata Bekasi untuk dapat bersama-sama membina dan mengembangkan sistem
pelayanan di IGD. Semua petugas baik tenaga medis, paramedis, maupun non medis yang berkaitan
dengan penyelanggaraan pelayanan gawat darurat hendaknya selalu menaati kententuan yang telah
digariskandidalamBukuPedomanini.

Ditetapkan di : Bekasi
Tanggal : 3 April 2018
Rumah Sakit Permata Bekasi

Dr.Muji Hastuty
Direktur

Anda mungkin juga menyukai