Anda di halaman 1dari 51

PROTEKSI SISTEM TENAGA

LISTRIK

oleh
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN 1
Rio Afrianda S.T., M.T.

Tempat / Tgl Lahir : Bukittinggi / 28 April 1992


Jenis Kelamin : Laki –Laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kenaga VIII No.C7, Perumahan Griya Kenanga,
Email : rio.sttpln@gmail.com
HP : +6285263313349
Riwayat Pendidikan : STT PLN S1 Teknik Elektro (Arus Kuat)
: STT PLN S2 Teknik Elektro (Energi dan Ketenagalistrikan)

Ketua Kelas : YOAN (A) ASAD (B)


HP : 082165694371 / 085773660000
Sekretaris : SILVI (A) DELIA (B)
HP : 085782806727 / 085722849966

2
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Rio Afrianda S.T., M.T.

ASPEK PENILAIAN BOBOT

Kehadiran / Sikap 10 %
Tugas / Quiz 30 %
Ujian Tengah 30 %
Semester
Ujian Akhir Semester 30 %
3
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Penilaian
1. Absensi 10%
2. Tugas 30%
100 %
3. UTS 30%
4. UAS 30%
5. BONUS* 10%

*Diberikan kepada satu orang yang dapat menjawab pertanyaan


dengan benar, diberikan di setiah akhir sesi perkuliahan.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
BAB I
PENDAHULUAN
Pertemuan 1

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
1.1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI

 Listrik memiliki peran vital dan strategis, ketersediannya harus memenuhi aspek
andal, aman dan akrab lingkungan.

 Keandalan sistem tenaga listrik ditentukan oleh sistem dan konstruksi instalasi
listrik yang memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

 Keamanan sistem tenaga listrik ditentukan oleh sistem pengaman (protection


system) yang baik, benar, andal atau tepat sesuai dengan kebutuhan sistem
yang ada.
 Pengertian/ definisi :
 Proteksi : perlindungan/ pengaman.
 Sistem tenaga listrik : suatu sistem yang terdiri dari dari beberapa sub
sistem, yaitu : pembangkitan (pembangkit tenaga listrik), penyaluran
(transmisi), pendistribusian (distribusi) dan instalasi pemanfaatan.
 Proteksi sistem tenaga listrik : perlindungan/ pengaman pembangkitan
(pembangkit tenaga listrik), penyaluran (transmisi), pendistribusian
(distribusi) dan instalasi pemanfaatan.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
1
1.1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI
 Dua fungsi utama proteksi, adalah :
 Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya pada bagian
sistem yang diamankannya.
 Melepaskan bagian sistem yang terganggu, sehingga bagian sistem lainnya
yang tidak mengalami gangguan dapat terus beroperasi.

 Contoh komponen (alat) proteksi yang paling sederhana, adalah Pengaman Lebur (Fuse).
Jika dalam memilih Fuse, tepat sesuai kebutuhan, maka kedua fungsi tersebut di atas dapat
dipenuhi.
 Untuk pengaman sistem yang lebih kompleks, diperlukan komponen (alat) pengaman
yang lebih lengkap (terdiri dari berbagai jenis alat pengaman), misalnya :
 Relay pengaman, berfungsi sebagai elemen perasa yang mendeteksi adanya
gangguan.
 Pemutus Tenaga (PMT), berfungsi untuk pemutus arus dalam rangkaian listrik, untuk
melepas bagian sistem yang terganggu.
 Trafo arus dan/ atau trafo tegangan, berfungsi untuk meneruskan arus dan/ atau
tegangan pada sirkit tenaga (sirkit primer) ke sirkit rele (sirkit sekunder).
 Battery (Accu), berfungsi sebagai sumber tenaga untuk men-trip PMT atau catu
daya untuk rele (static relay) dan rele bantu.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
2
1.1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
1.1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI

 Sistem tenaga listrik terdiri dari seksi-seksi (sub sistem), yang satu dengan
yang lainnya dapat dihubungkan dan diputuskan dengan menggunakan alat
pemutus tenaga (PMT).
 Masing-masing seksi (sub sistem) diamankan ole rele pengaman dan setiap
rele mempunyai kasawan pengamanan, yang berupa bagian dari sistem.
Jika terjadi gangguan di dalamnnya, rele akan mendeteksi dan dengan
bantuan PMT melepaskan seksi yang terganggu dari bagian sistem lainnya.
 Gambar kawasan pengamanan (zone of protection) :

Differential

Distance

Over Current

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
3
Lanjutan 1.3.

 Differential Relay, berfungsi sebagai pengaman utama Generator pada


pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain.
 Distance Relay, berfungsi sebagai pengaman utama pada penyaluran
(transmisi), dan lain-lain.
 Differential Relay, berfungsi sebagai pengaman utama Trafo, dan lain-
lain.
 Over Current Relay Trafo sisi 150 KV, sebagai pengaman cadangan lokal
Trafo pengaman cadangan.
 Over Current Relay dan Ground Fault Relay Trafo sisi 20 KV pengaman
utama.
 Over Current Relay dan Ground Fault Relay pengaman utama saluran.

Differential Relay merupakan suatu rele yang prinsip kerjanya berdasarkan kesimbangan (balance), yang
membandingkan arus-arus sekunder transformator arus (Current Transformer) terpasang pada terminal-
terminal. peralatan atau instalasi listrik yang diamankan.

Distance relay digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada Suatu sistem transmisi, baik
SUTT maupun SUTET

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
4
BAB I
PENDAHULUAN
Pertemuan 2

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
1.4. PENGAMAN UTAMA DAN PENGAMAN CADANGAN

 Pada saat sistem tenaga listrik beroperasi dan mengalami gangguan, ada
kemungkinan komponen (alat) proteksi gagal bekerja.
 Untuk mengantisipasi timbulnya kemungkinan tersebut, disamping sistem
tenaga listrik harus dipasang pengaman utama, maka juga dilengkapi
pengaman cadangan.
 Pengaman cadangan diharapkan akan bekerja, apabila pengaman utama
gagal bekerja. Oleh karenanya pengaman cadangan selalu disertai dengan
waktu tunda (time delay), untuk memberi kesempatan pada pengaman
utama bekerja lebih dahulu.
 Jenis pengaman cadangan :
 Pengaman cadangan lokal (local back up).
 Pengaman cadangan jauh (remote back up).

 Letak (penempatan) :
 Pengaman cadangan lokal terletak di tempat yang sama dengan
pengaman utamanya.
 Pengaman cadangan jauh terletak di seksi sebelah hulunya.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
5
1.5. KRITERIA SISTEM PROTEKSI
 Kepekaan (sensitivity) :
 Peralatan proteksi (rele) harus cukup peka dan mampu mendeteksi
gangguan di kawasan pengamannya.
 Meskipun gangguan yang terjadi hanya memberikan rangsangan yang
sangat minim, peralatan pengaman (rele) harus mampu mendeteksi secara
baik.

 Keandalan (reliability) :
 Dependability :
• Peralatan proteksi (rele) harus memiliki tingkat kepastian bekerja
(dependability) yang tinggi.
• Peralatan proteksi (pengaman) harus memiliki keandalan tinggi (dapat
mendeteksi dan melepaskan bagian yang terganggu), tidak boleh gagal
bekerja.
 Security :
• Peralatan proteksi (pengaman) harus memiliki tingkat kepastian untuk
tidak salah kerja atau tingkat security (keamanannya) harus tinggi.
• Yang dimasksud salah kerja adalah kerja yang semestinya tidak kerja,
misal : karena lokasi gangguan di luar kawasan pengamannya atau sama
sekali tidak ada gangguan.
• Salah kerja bisa mengakibatkan terjadinya pemadaman, yang semestinya
tidak perlu terjadi. Rio Afrianda S.T., M.T.
6
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Lanjutan 1.5.

 Selektifitas (selectivity) :
Peralatan proteksi (pengaman) harus cukup selektif dalam mengamankan
sistem.
Dapat memisahkan bagian sistem yang terganggu sekecil mungkin, yaitu
hanya sub sistem yang terganggu saja yang memang menjadi kawasan
pengaman utamanya.
Rele harus mampu membedakan, apakah gangguan terletak di kawasan
pengaman utamanya, dimana rele harus bekerja cepat, atau terletak di sub
sistem berikutnya, dimana rele harus bekerja dengan waktu tunda atau
tidak bekerja sama sekali.

 Kecepatan (speed) :
Peralatan proteksi (pengaman) harus mampu memisahkan sub sistem yang
mengalami gangguan secepat mungkin.
Untuk menciptakan selektifitas yang baik, ada kemungkinan suatu
pengaman terpaksa diberi waktu tunda (time delay), tetapi waktu tunda
tersebut harus secepat mungkin.
Dengan tingkat kecepatan yang baik, maka terjadinya kerusakan/ kerugian,
dapat diperkecil.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
7
BAB II
PENGAMAN GENERATOR I
Pertemuan 3

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
Lanjutan 2.2.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
11
2.1. SKEMA GENERATOR

 GENERATOR KECIL (sistem isolated)


Daya: 500 s/d 1000 kVA tegangan 600 volt (maksimum)

 1- 51V, backup overcurrent relay, pengendalian


tegangan atau kontrol tegangan
 1-51G, backup ground time overcurrent relay

 GENERATOR SEDANG (sistem isolated/ paralel)


Daya: 500 s/d 12 500 kVA tegangan 600 volt
(maksimum)
 3 - 51V, backup overcurrent relay, pengendalian
tegangan atau kontrol tegangan
 1 -51G, backup ground time overcurrent relay
 1 - 87, differential relay
 1 - 32, reserve power relay untuk pengendalian
protection
 1 – 40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan
medan
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
8
Lanjutan 2.1.

 3 - 51V, backup overcurrent relay,


pengendalian tegangan atau
kontrol tegangan
 1 - 51G, backup ground time overcurrent
relay
 1 - 87, differential relay
 1 - 32, reserve power relay untuk peng
endalian protection
 1 – 40, impedance relay, untuk pengaman
kehilangan medan
 1 – 46, Negative phase sequence over
current relay untuk protection
kondisi unbalanced

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
9
Lanjutan 2.1.
 3 - 51V, backup overcurrent relay,
pengendalian tegangan atau
kontrol tegangan
 1 -51G, backup ground time overcurrent
relay
 1 - 87, differential relay
 1 – 87G, ground differential relay
 1 - 32, reserve power relay untuk peng
endalian protection
 1 – 40, impedance relay, untuk pengaman
kehilangan medan
 1 – 46, Negative phase sequence over
current relay untuk protection
kondisi unbalanced.
 1 – 49, temp relay untuk monitor belitan
temp stator
 1 – 64F, generator field relay, hanya untuk
mesin yg mempunyai medan
supply slip rings
 1 – 60, voltage balance relay

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
10
Lanjutan 2.2.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
12
BAB II
PENGAMAN GENERATOR II
Pertemuan 4

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
2.2. PENGAMAN HUBUNG SINGKAT

BUS GEN.

CB CT
Beban
GEN.

OCR
MCCB

 Relai ini mengamankan generator dari beban lebih atau


gangguan hubung singkat.

 PENGAMAN : OCR (51) -- untuk generator sedang dan besar


MCCB - - untuk generator kecil

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
11
2.3. PENGAMAN TEGANGAN KURANG

BUS GEN.

CB
Beban
GEN. PT

UVR

 PENYEBAB:
 Generator mengalami beban lebih
 AVR generator mengalami kerusakan
 Gangguan hubung singkat di sistem

 AKIBAT: Dapat merusak belitan rotor


 PENGAMAN : UNDER VOLTAGE RELAY (27)

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
12
2.4. PENGAMAN TEGANGAN LEBIH (OVER LOAD)

BUS GEN.

CB
Beban
GEN. PT

OVR

 PENYEBAB:
Lepas nya beban (Ppemb > P beban)

 AKIBAT:
 Generator mengalami kapasitif.
 AVR generator mengalami kerusakan bila berlanjut, merusak instalasi
alat bantu di generator bisa rusak.
 Frekwensi naik > 50 Hz.

 PENGAMAN : DEVICE NUMBER OVER VOLTAGE RELAY : 59

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
13
2.5. PENGAMAN STATOR KE TANAH

BUS GEN.

TRF CB
Beban
Rn GEN.
CT

OCR 51N

 PENYEBAB:
Terjadi kebocoran isolasi di stator, sehingga terjadi gangguan hubung
Singkat fasa ketanah antara stator dan tanah

 AKIBAT:
Kerusakan pada belitan stator

 PENGAMAN: PENGAMAN ARUS LEBIH (51N)

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
14
2.6. PENGAMAN DAYA (BALIK) PENGGERAK MULA

BUS GEN.

CT
SISTEM
GEN. PT

32

40

 PENYEBAB:
PRIME-MOVER DARI SALAH SATU GENERATOR RUSAK ,
MENGAKIBATKAN GENERATOR TIDAK BERPUTAR.

 AKIBAT:
ADA PASOKAN LISTRIK DARI GENERATOR LAIN ATAU SISTEM
SEHINGGA GENERATOR MENJADI MOTOR.

 PENGAMAN -- REVERSE POWER (32)

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
15
2.7. PENGAMAN HILANG MEDAN (LOSS OF EXCITATION)

BUS GEN.

CT
SISTEM
GEN. PT

32

40

 PENYEBAB: Hilangnya eksitasi

 AKIBAT:
 Daya reaktif balik dari sistem masuk ke generator,
atau generator menyerap var sistem
 Memanaskan ujung belitan generator

 PENGAMAN -- LOSS OF EXCITATION (40)

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
16
2.8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR

GEN.
CB

RTD
26

 PENYEBAB:
 pembebanan melebihi kapasitas generator
 kerusakan sistem pendingin

 AKIBAT:
 belitan generator bisa panas
 bisa merusak konduktor stator dan isolasi
antara belitan ke inti

 PENGAMAN -- PENGAMAN TEMPERATUR (26)

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
17
2.9. PENGAMAN OVER SPEED

BUS GEN.
MESIN.
CB

GEN.

TRANSDUCER
SPEED SENSOR

 PENYEBAB:
 gangguan pada sistem sehingga lepas beban
 governor tidak mampu kembalikan put. normal
 AKIBAT:
 over speed
 bisa terjadi vibrasi  balancing pada put. tertentu
 bisa rusakkan bearing dan shaft
 frekwensi naik

 PENGAMAN : UNDER SPEED (81 – U)


OVER SPEED (81- O)
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
18
2.10. PENGAMAN DIFFERENSIAL GENERATOR

GEN.
CB

SET

DIFERENSIAL
GENERATOR

 PENYEBAB:
GANGGUAN PADA BELITAN GENERATOR
 AKIBAT:
KERUSAKAN ISOLASI BELITAN GENERATOR
 PENGAMAN: DIFFRENTIAL RELAY (87 G).

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
19
2.11. PENGAMAN BEBEAN LEBIH (OVER LOAD RELAY)

BUS GEN.

CB CT
BEBAN
GEN.

OLR

 PENYEBAB:
Arus beban melebihi nominal dan bertahan lama

 AKIBAT:
Memanaskan belitan generator. merusak konduktor dan isolasi belitan

 PENGAMAN : DEVICE NUMBER OVER LOAD RELAY : 49

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
20
2.8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR
GEN.
CB

NEG.SEQ
FILTER

OCR

 PENYEBAB:
KETIDAK SEIMBANGAN ARUS FASA BEBAN

 AKIBAT:
MEMANAS KAN ROTOR GENERATOR BILA BERTAHAN LAMA

 PENGAMAN : NEGATIVE SEQUENCE RELAY ( 46)

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
21
Pertemuan 5
KWIS
1. Apa yang dimaksud dengan proteksi dan apa yang anda ketahui
tentang proteksi?
2. Jelaskan 3 jenis proteksi secara umum
3. Gambarkan kawasan pengamanan (zone of protection)
4. Jelaskan bagaimana relay 87 bekerja
5. Relai yang mengamankan generator dari beban lebih atau
gangguan hubung singkat adalah
6. Jelaskan akibat dari hilangnya eksitasi sebuah generator dan relay
apa yang bekerja 40
7. Jelaskan akibat dari hilangnya beban secara tiba tiba dan relay apa
yang bekerja
8. Jelaskan penyebab bekerjanya relay REVERSE POWER (32)
9. Jelaskan apa yang kurang saudara pahami dari mata kuliah
proteksi sejauh ini
10. Berikan masukan untuk perkuliahan kedepannya agar lebih mudah
di phami.
BAB III
PENGAMAN
TRANSFORMATOR TENAGA
Pertemuan 6

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
3.1. JENIS PENGAMAN

 Trafo tenaga diamankan dari berbagai macam gangguan,


diantaranya dengan peralatan proteksi (sesuai SPLN 52-1:1983)
Bagian Satu, C) :
 Relai Buchollz
 Relai Jansen
 Relai tangki tanah
 Relai suhu
 Relai diffrential
 Relai beban lebih
 Relai gangguan tanah terbatas
 Rele arus hubung tanah

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
22
3.2. RELAY BUCHHOLZ
KE CONSERVATOR KRAN
TRIP
PELAMPUNG

1
TUAS TRIP
ALARM
2 TUAS ALARM

TANGKI TRAFO

 Relai buchholz dipasang pada pipa dari maintank ke konservator ataupun dari
OLTC ke konservator tergantung design trafonya apakah di kedua pipa tersebut
dipasang relai bucholz.
 Gunanya: untuk mengamankan trafo dari gangguan internal trafo yang menimbulkan
gas dimana gas tersebut timbul akibat adanya hubung singkat di dalam trafo
atau akibat busur di dalam trafo.
 Cara kerja: yaitu gas yang timbul di dalam trafo akan mengalir melalui pipa dan
besarnya tekanan gas ini akan mengerjakan relai dalam 2 tahap yaitu:
 Mengerjakan alarm (Bucholz 1st) pada kontak bagian atas 1.
 Mengerjakan perintah trip ke PMT pada kontak bagian bawah 2.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
23
Lanjutan 3.2.

 Analisa gas yang terkumpul di dalam relai Bucholz

 H2 dan C2H2
menunjukkan adanya busur api pada minyak antara bagian-bagian
konstruksi.

 H2, C2H2 dan CH4


menunjukkan adanya busur api sehingga isolasi phenol terurai,
misalnya terjadi gangguan pada sadapan.

 H2, C2H4 dan C2H2


menunjukkan adanya pemanasan pada sambungan inti.

 H2, C2H, CO2 dan C3H4


menunjukkan adanya pemanasan setempat pada lilitan inti.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
24
3.3. RELAY JANSEN

 Relai Jansen adalah relai untuk mengamankan transformator dari


gangguan di dalam tap changer yang menimbulkan gas. Dipasang
pada pipa yang menuju conservator.
 Cara Kerja Sama seperti relai bucholz tetapi hanya mempunyai
satu kontak untuk tripping.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
25
3.4. RELAY SUDDEN PRESSURE

 Relai Sudden Pressure. Relai Pressure untuk tangki utama Trafo bekerja
apabila di dalam tangki Trafo terjadi kenaikan tekanan udara akibat
terjadinya gangguan di dalam Trafo.
 Tipe Membran
Plat tipis yang didisain sedemikian rupa yang akan pecah bila menerima
tekanan melebihi disainnya. Membran ini hanya sekali pakai sehingga bila
pecah harus diganti baru.

Indikator  Pressure Relief Valve


trip
Suatu katup yang ditekan oleh sebuah pegas yang
didisain sedemikian rupa sehingga apabila terjadi
tekanan di dalam transformator melebihi tekanan
Reset Mekanis pegas maka akan membuka dan membuang
tekanan keluar bersama-sama sebagian minyak.

Katup akan menutup kembali apabila tekanan di dalam transformator turun


atau lebih kecil dari tekanan pegas.
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
26
3.5. RELAY HV/ LV WINDING TEMPERATURE

 Relai HV/LV Winding Temperature bekerja


apabila Suhu kumparan Trafo melebihi seting dari
pada relai HV/LV Winding, besarnya kenaikan suhu
adalah sebanding dengan faktor pembebanan dan
suhu udara luar Trafo.

 Urutan kerja relai suhu kumparan / winding ini dibagi 2 tahap:


 Mengerjakan alarm (Winding Temperature Alarm)
 Mengerjakan perintah trip ke PMT (Winding Temperature Trip)

 Relai HV/LV Oil Temperature bekerja apabila suhu minyak Trafo melebihi
seting dari pada relai HV/LV oil. Besarnya kenaikan suhu adalah sebanding dengan
faktor pembebanan dan suhu udara luar Trafo.

 Urutan kerja relai suhu minyak / oil ini dibagi 2 tahap:


 Mengerjakan alarm (Oil Temperature Alarm).
 Mengerjakan perintah trip ke PMT (Oil Temperature Trip).
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
27
3.6. PENGAMAN PANJAT TRAFO

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
28
3.7. RELAY ARUS LEBIH (OVER CURRENT RELAY)

indikator

 Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan


hubung singkat antar fasa didalam maupun diluar daerah pengaman
transformator.
 Diharapkan Relai ini mempunyai sifat komplementer dengan Relai beban lebih.
Relai ini berfungsi pula sebagai pengaman cadangan bagi bagian instalasi
lainnya.
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
29
3.8. RELAY TANGKI TANAH

 Berfungsi untuk mengamankan trafo terhadap hubung singkat antara fasa


dengan tangki trafo dan titik netral trafo yang ditanahkan.

F51G

 Relai 51 G yang terpasang, mendeteksi arus gangguan dari tangki trafo


ketanah, kalau terjadi kebocoran isolasi dari belitan tarafo ke tangki, arus
yang mengalir ke tanah akan dideteksi relai arus lebih melalui CT. Relai
akan mentripkan PMT di kedua sisi (TT dan TM). Jadi arus gangguan
kembali kesistem melalui pembumian trafo.
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
30
3.9. RESTRICTED EARTH FAULT (REF)

 Relai gangguan tanah terbatas atau Restricted Earth Fault (REF) untuk
mengamankan transformator bila ada gangguan satu satu fasa ke tanah
di dekat titik netral transformator yang tidak dirasakan oleh rele
differensial.

87N 87N

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
31
3.10. PENGAMAN DIFFERENSIAL

 PRINSIPNYA :
membandingkan arus yang masuk
ke peralatan dengan arus yang
keluar dari peralatan tersebut

 Fungsi:
untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat yang
terjadi didalam daerah pengaman transformator.

PERALATAN
IIN IOUT

 Cara Kerja:
Membandingkan antara arus yang masuk dengan arus yang keluar

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
32
Lanjutan 3.10.

 DIFFERENSIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO (lanjutan)

TRAFO TENAGA
IP CTP IS CTS

BEBAN
iS

DIFF. RY

iP
DOT POLARITY

 DALAM KEADAAN NORMAL  ARAH IP DAN IS SEPERTI


PADA GAMBAR

 DISISI SEKUNDER MASING-MASING CT, ARUS KELUAR DARI TERMINAL


DOT, SEHINGGA ARAH ARUSNYA :
 KARENA IP SAMA BESAR IS TAPI ARAH BERLAWANAN MAKA
DIFFERENSIAL RELAI TIDAK DILALIRI ARUS
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
33
Lanjutan 3.10.

 DIFFERENSIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO (lanjutan)

TRAFO TENAGA
IP CTP CTS

BEBAN

DIFF. RY
DOT POLARITY

iP

 DALAM KEADAAN GANGGUAN  ARAH IP SEPERTI PADA


GAMBAR DAN HANYA IP

 DISISI SEKUNDER CTP, ARUS iP KELUAR DARI


TERMINAL DOT, DAN MENGERJAKAN DIFF RY
 PERHATIKAN : TERMINAL SEKUNDER CTP DAN CTS TERHUBUNG
KE DIFF. RY DI FASA YANG BERLAWANAN
ATAU BEDA SUDUT 180o
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
34
3.11. BAGAN SATU GARIS PENGAMAN TRANSFORMATOR
BUS I 150 kV

BUS 2 150 kV

PMS BUS 1 PMS BUS 2

Trip

PMT 150kV

Meter
CT
200/5-5-5A OCR & EF

TRAFO DIFFRENSIAL
20 MVA NGR 40 ohm CT
CT 300A/12 kV
150 / 20 kV 1000/5
300/5A 10 Sec
Z = 12,4 5 REF
EF

CT OCR & EF
1000/5-5-5A
Meter
Trip
PMT 20kV
PT
BUS 20 kV
Trip 20kV/110V KETERANGAN :
PMT 20kV
V3 V3 OCR & EF : Over Current Relay & Earth Fault
OCR & EF
CT DIFF : Diffrencial Relay
Meter REF : Restricted Earth Fault
Meter : Alat Ukur Amper, kWh, kVarh, MW, MVar dll.
PENYULANG 20 kV
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
35