Anda di halaman 1dari 348

www.facebook.

com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN
RISIKO
1
MENGIDENTIFIKASI RISIKO PASAR,
OPERASIONAL, DAN KREDIT BANK

IKATAN BANKIR INDONESIA

MODUL SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO TINGKAT I


www.facebook.com/indonesiapustaka
Ket ent uan Pidana:
Pasal 72

1. Barang siapa dengan sengaj a m elanggar dan t anpa hak m elakukan


perbuat an sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 2 Ayat ( 1) at au Pasal
49 Ayat ( 1) dan Ayat ( 2) dipidana dengan pidana penj ara m asing- m a-
sing paling singkat 1 ( sat u) bulan dan/ at au denda paling sedikit
Rp1.000.000,00 ( sat u j ut a rupiah) , at au pidana penj ara paling lam a
7 ( t uj uh) t ahun dan/ at au denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
( lim a m iliar rupiah) .
www.facebook.com/indonesiapustaka

2. Barang siapa dengan sengaj a m enyiarkan, m em am erkan, m engedarkan,


at au m enj ual kepada um um suat u cipt aan at au barang hasil pelanggaran
hak cipt a at au hak t erkait sebagai dim aksud pada Ayat ( 1) dipidana dengan
pidana penj ara paling lam a 5 ( lim a) t ahun dan/ at au denda paling banyak
Rp500.000.000,00 ( lim a rat us j ut a rupiah) .
MANAJEMEN
RISIKO
1
MENGIDENTIFIKASI RISIKO PASAR,
OPERASIONAL, DAN KREDIT BANK
MODUL SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO TINGKAT I

IKATAN BANKIR INDONESIA


www.facebook.com/indonesiapustaka

Penerbit PT Gram edia Pust aka Ut am a


Modul Sertiikasi Manajemen Risiko Tingkat I
M AN AJEM EN RI SI KO 1

Disusun atas kerja sama antara Ikatan Bankir Indonesia (IBI) dengan
Edisi Kesat u – April 2015

Banker Associat ion for Risk Managem ent ( BARa)

Ikatan Bankir Indonesia (IBI)


Plaza Bapindo, Menara Mandiri Lt . 9
Jln. Jend. Sudirm an Kav. 54 – 55 Jakart a 12190
Telp. ( 021) 5267306
Fax. ( 021) 5278690
Websit e : ht t p: / / www.ikat anbankir.or.id
Em ail : sekret ariat @ikat anbankir.or.id

Banker Associat ion for Risk Managem ent ( BARa)


Plaza Bapindo, Menara Mandiri Lt . 9
Jln. Jend. Sudirm an Kav. 54 – 55 Jakart a 12190
Telp. ( 021) 30023364
Fax. ( 021) 5268220
Websit e : ht t p: / / www.BARa.or.id

GM 208 01 15 0030

Kompas Gramedia Building Blok I, Lt 5


Copyright © 2012 Penerbit PT Gram edia Pust aka Ut am a

Jl. Palm erah Barat 29–37


Jakart a Pusat 10270

ISBN: 978-602-03-1721-2

Hak cipt a dilindungi undang- undang. Tidak diperkenankan unt uk m ereproduksi,


m enyim pan dalam suat u sist em penyim panan at au m enyiarkan baik
sebagian m aupun seluruh cet akan ini dalam bent uk at au m edai apapun,

tanpa ijin tertulis dari Ikatan Bankir Indonesia (IBI) dan Lembaga Sertiikasi
secara elekt ronik, phot o copy, rekam an, pem indaian at au cara lainnya

Profesi Perbankan ( LSPP) , kecuali dit ent ukan lain oleh undang- undang.

ditujukan kepada Ikatan Bankir Indonesia (IBI) atau Lembaga


Pert anyaan m engenai reproduksi diluar ruang lingkup di at as agar

Sertiikasi Profesi Perbankan (LSPP) pada alamat diatas.


www.facebook.com/indonesiapustaka

Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan


Dicet ak oleh Percet akan Gram edia
MANAJEMEN RISIKO 1
V Sambutan Ketua Umum IBI

SAMBUTAN
KETUA UMUM
IBI

Dewasa ini perkembangan industri perbankan di Indonesia menunjuk­


kan arah yang makin menyatu dengan ekonomi regional dan interna­
sional yang dapat menunjang sekaligus dapat berdampak kurang meng­
untungkan. Sementara itu, perkembangan perekonomian nasional
senantiasa bergerak cepat dengan tantangan yang semakin kompleks.
Oleh karena itu, penyesuaian kebijakan di sektor perbankan dilakukan
secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi perekonomian
saat itu sehingga diharapkan dapat memperbaiki dan memperkukuh
perekonomian nasional.
Salah satu kebijakan atau peraturan yang muncul sebagai salah satu
upaya untuk mendukung industri perbankan dalam bidang manajemen
risiko adalah peraturan Otoritas Jasa Keuangan untuk menerapkan ma­
najemen risiko dan tata kelola terintegrasi bagi konglomerasi keuangan.
Peraturan ini muncul karena adanya kebutuhan mengelola eksposur
risiko yang efektif pada konglomerasi keuangan agar dapat mencipta­
kan sektor keuangan yang tumbuh berkelanjutan dan stabil serta me­
miliki daya saing tinggi. Adanya lembaga jasa keuangan yang memiliki
hubungan kepemilikan dan/atau pengendalian di berbagai sektor jasa
www.facebook.com/indonesiapustaka

keuangan telah meningkatkan kompleksitas transaksi dan interaksi an­


tar lembaga jasa keuangan dalam sistem keuangan yang menyebab­
kan peningkatan eksposur risiko. Eksposur risiko dapat timbul secara
langsung maupun tidak langsung dari kegiatan usaha perusahaan anak,
MANAJEMEN RISIKO 1
Sambutan Ketua Umum IBI
VI

perusahaan terelasi, dan entitas lainnya yang tergabung dalam suatu


konglomerasi keuangan, tak terkecuali dalam industri perbankan.
Untuk mendukung kebijakan regulator tersebut dan kebutuhan dari
bank untuk mengelola risiko dalam mencapai sasaran perusahaan,
maka bank perlu mempersiapkan bankir yang mampu memahami pe­
ran manajemen risiko dengan berbagai konsep dan jenisnya sehingga
diharapkan mampu mengelola risiko dengan baik. Untuk itu Ikatan
Bankir Indonesia bekerjasama dengan Banker Association for Risk Ma­
nagement (BARa) menerbitkan modul Manajemen Risiko Tingkat 1 un­
tuk bankir yang akan mengikuti sertifikasi manajemen risiko tingkat 1.
Buku ini disusun oleh para pakar dan praktisi perbankan dengan
memperhatikan perkembangan peristiwa yang terjadi dalam kaitannya
dengan manajemen risiko perbankan. Namun demikian perbaikan terus
menerus tentunya akan dilakukan. Untuk itu kami harapkan masukan
dari berbagai pihak terutama dari para pemangku kepentingan, baik
dari Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, pengurus dan anggota IBI,
asosiasi perbankan, bank­bank, pemerhati perbankan, lembaga pendi­
dikan, universitas dan siapa saja yang tertarik dalam pengembangan
kompetensi bankir.
Sebagai penutup kami ucapkan terimakasih yang sebesar­sebesar­
nya atas kerja keras Tim Penyusun modul Manajemen Risiko Tingkat 1
dari BARa sehingga buku atau modul sertifikasi bidang Manajemen Risi­
ko Tingkat 1 dapat diterbitkan. Dengan diterbitkannya buku ini semoga
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat meningkatkan kompe­
tensi bankir di Indonesia.

Ikatan Bankir Indonesia


www.facebook.com/indonesiapustaka

Zulkifli Zaini
Ketua Umum
MANAJEMEN RISIKO 1
VII Kata Pengantar

KATA
PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena de­
ngan pertolongan­Nya buku ini dapat terbit dan sampai ke tangan pem­
baca.
Buku Manajemen Risiko 1: Mengidentifikasi Risiko Pasar, Operasi­
onal, dan Kredit Bank adalah bahan yang dapat digunakan dalam ke­
giatan belajar mandiri, pelatihan dan persiapan Uji Kompetensi Bidang
Manajemen Risiko tingkat 1 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ser­
tifikasi Profesi Perbankan (LSPP). Buku ini terdiri dari 6 (enam) bagian
yaitu Latar Belakang Manajemen Risiko, Regulasi Perbankan Terkait Ma­
najemen Risiko, Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas dan Risiko
Operasional. Penyusunan buku ini dilakukan oleh tim penyusun yang
berasal dari kalangan manajemen risiko perbankan. Selain digunakan
sebagai materi pelatihan, buku ini kami harapkan juga dapat mendu­
kung program peningkatan kompetensi bankir di Indonesia.
Sebagai akhir kata, buku ini dapat terwujud karena dukungan dari
banyak pihak. Oleh karenanya, apresiasi dan penghargaan yang tinggi
patut diberikan kepada tim penyusun buku dari Banker Association for
Risk Management (BARa). Semoga upaya kita bersama ini dapat mem­
berikan kontribusi yang signifikan bagi kejayaan industri perbankan na­
sional, saat ini maupun pada masa­masa mendatang.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan

Sasmita
Direktur Eksekutif
MANAJEMEN RISIKO 1
Kata Sambutan
VIII

KATA SAMBUTAN

Krisis finansial yang belum lama terjadi membuktikan bahwa penerap­


an manajemen risiko sudah menjadi kebutuhan bagi bank, bukan hanya
untuk memenuhi ketentuan regulator, namun menjadi sarana untuk
mengelola risiko yang dihadapi masing­masing bank. Dengan demikian,
dibutuhkan bankir yang memahami pengetahuan manajemen risiko
serta keterampilan yang memadai sehingga tugas dan tanggung jawab
masing­masing bankir dapat dilaksanakan dengan baik.
BARa sangat menaruh perhatian untuk menciptakan para bankir
yang andal di bidang manajemen risiko. Dengan bankir yang andal, tuju­
an BARa dan Asbisindo untuk turut serta menciptakan industri perbank­
an, baik perbankan konvensional maupun bank syariah yang sehat,
diharapkan dapat terwujud sebagaimana dicanangkan dalam Arsitektur
Perbankan Indonesia (API).
Modul Sertifikasi manajemen risiko level 1 ini disusun dengan tuju­
an agar para bankir yang bertugas di bidang manajemen risiko memiliki
risk awareness dan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),
dan sikap kerja (attitude) sesuai kebutuhan bank. Pembahasan urutan
modul menggunakan Two-Prong Approach, yang secara garis besar di­
bagi menjadi dua bagian yaitu, (1) pembahasan pengelolaan risiko, dan
(2) pembahasan kebutuhan modal untuk menutup risiko.
Berbagai referensi dipergunakan untuk menyusun modul ini, antara
lain pengetahuan manajemen risiko terkini, bahan seminar manajemen
risiko dari dalam maupun luar negeri, diskusi dengan konsultan interna­
www.facebook.com/indonesiapustaka

sional di bidang manajemen risiko, maupun praktik manajemen risiko


yang telah diterapkan pada bank dan tentunya referensi dan regulasi
mengenai pengelolaan risiko perbankan. Dengan demikian, modul ini
diupayakan up to date dari sisi pengetahuan manajemen risiko, seka­
MANAJEMEN RISIKO 1
IX Kata Sambutan

ligus membahas praktik perbankan yang bersifat international best


practices.
Buku ini dibuat sebagai update peristiwa terkait manajemen risiko
perbankan seperti regulasi, kasus yang terjadi, dan lain sebagainya. Se­
lain itu, edisi ini juga memasukkan berbagai input dari para pembaca
untuk perbaikan buku panduan ini.
Meskipun kami telah memperbaiki modul ini, kami menyadari bahwa
modul ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami sangat mengharap­
kan masukan agar menjadi lebih sempurna.

Banker Association for Risk Management (BARa)

Sentot A. Sentausa
Chief Executive
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Daftar Singkatan
X

DAFTAR
SINGKATAN

AFS Available for Sale


AMA Advance Measurement Approach
AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
APTO Account Payable Turn Over
ARTO Account Receivable Turn Over
ATMR Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
BCM Business Continuity Management
BIA Basic Indicator Approach
BCBS Basel Committee for Banking Supervision
BMPK Batas Maksimum Pemberian Kredit
CAR Capital Adequacy Ratio
CD Certificate of Deposits
CFP Contingency Funding Plan
CKPN Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
COGS Cost of Goods Sold
CPA Customer Profitability Analysis
DPK Dana Pihak Ketiga
DSC Debt Service Ratio
EAD Exposure at Default
EL Expected Loss
EVA Economic Value Added
www.facebook.com/indonesiapustaka

CAR Capital Adequacy Ratio


FRA Forward Rate Agreement
FS Faktor Skala
FTO Fine Tune Operation
MANAJEMEN RISIKO 1
XI Daftar Singkatan

FTE Fine Tune Ekspansi


FTK Fine Tune Kontraksi
GCG Good Corporate Governance
GDP Gross National Product
GWM Giro Wajib Minimum
HTM Held to Maturity
ICAAP Internal Capital Adequacy Assessment Process
INTO Inventory Turn Over
IRBF Internal Rating Based Foundation
IRBA Internal Rating Based Advance
IRR Internal Rate of Return
IRS Interest Rate Swap
JIBOR Jakarta Interbank Offered Rate
LGD Loss Given Default
KAP Kualitas Aktiva Produktif
KPMM Kecukupan Pemenuhan Modal Minimum
KPR Kredit Pemilikan Rumah
KRI Key Risk Indicators
LED Loss Event Database
LCR Liquidity Coverage Ratio
LDR Loan to Deposits Ratio
LIBOR London Interbank Offered Rate
M Effective Maturity
MDB Multilateral Development Bank
MTM Marked to Market
MIS Management Information System
NII Net Interest Income
NIM Net Interest Margin
NPL Non-Performing Loan
www.facebook.com/indonesiapustaka

NPV Net Present Value


OCI Other Comprehensive Income
OECD Organisation for Economic Co-operation and Development
OPT Operasi Pasar Terbuka
MANAJEMEN RISIKO 1
Daftar Singkatan
XII

PBI Peraturan Bank Indonesia


PD Probability of Default
PSA Pendekatan Standar (risiko operasional)
PSE Public Sectors Entity
RAC Risk Acceptance Criteria
RCSA Risk and Control Self-Assessment
REPO Repurchase Agreement
ROA Return on Assets
ROE Return on Equity
RORAC Return on Risk Adjusted Capital
RS Risiko Spesifik
RSA Risk Sensitive Assets
RSL Risk Sensitive Liabilities
SA Standardized Approach (Operational Risk)
SBI Sertifikat Bank Indonesia
SBN Surat Bendahara Negara
SPN Surat Perbendaharaan Negara
SEBI Surat Edaran Bank Indonesia
SIBOR Singapore Interbank Offered Rate
SUN Surat Utang Negara (VR = Variable Rate FR = Fixed Rate)
VaR Value at Risk
VBM Value Based Management
VR Variable rate
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
XIII Daftar Isi

DAFTAR ISI

Sambutan Ketua Umum IBI v


Kata Pengantar LSPP vii
Kata Sambutan Ketua Umum BARa viii
Daftar Singkatan x

1 LAtAr BeLAkAng MAnAjeMen riSiko 1


GAMBARAN UMUM 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
1.1 Pendahuluan 3
1.1.1 Tujuan Perusahaan 3
1.1.2 Definisi Risiko 6
1.1.3 Jenis Risiko 7
1.1.4 Perlunya Manajemen Risiko 26
1.1.5 Arsitektur Perbankan Indonesia (API) 27
1.2 Proses Manajemen Risiko 32
1.2.1 Identifikasi Risiko 32
1.2.2 Pengukuran Risiko 32
1.2.3 Pemantauan Risiko 33
1.2.4 Pengendalian Risiko 33
1.3 Penerapan Manajemen Risiko 34
1.3.1 Tata Kelola Sistem Manajemen Risiko 36
1.3.2 Kerangka Sistem Manajemen Risiko 36
1.3.3 Proses Manajemen Risiko 41
1.3.4 Pengendalian Intern dalam Penerapan
www.facebook.com/indonesiapustaka

Manajemen Risiko 42
1.4 Enterprise Risk Management (ERM) 44
1.4.1 ERM dan Value Based Strategic Planning 45
1.5 Sistem manajemen Risiko sesuai Peraturan Bank Indonesia 46
MANAJEMEN RISIKO 1
Daftar Isi
XIV

2 reguLASi PerBAnkAn terkAit MAnAjeMen riSiko 49


GAMBARAN UMUM 50
TUJUAN PEMBELAJARAN 50
2.1 Fungsi Modal pada Bank 51
2.2 Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) 52
2.2.1 Basel I Tahun 1988 54
2.2.2 Amendment Basel I Tahun 1996 (Basel 1.5) 54
2.2.3 Basel II Tahun 2004 55
2.2.4 Perbandingan antara Basel I dan Basel II 57
2.2.5 Basel 2.5 57
2.2.6 Introduksi Basel III 58
2.3 Peraturan Bank Indonesia 61

3 riSiko kredit 65
GAMBARAN UMUM 66
TUJUAN PEMBELAJARAN: 66
3.1 Pemahaman Risiko Kredit 67
3.2 Kategori Kredit 68
3.2.1 Berdasarkan Jenis Aktiva 68
3.2.2 Berdasarkan Kegunaan 70
3.2.3 Berdasarkan Tujuan Kredit 71
3.2.4 Berdasarkan Jangka Waktu 72
3.2.5 Berdasarkan Jenis Dana yang Diberikan 72
3.2.6 Berdasarkan Jenis Valuta 73
3.3 Proses Manajemen Risiko Kredit 73
3.3.1 Identifikasi Risiko Kredit 74
3.3.2 Pengukuran Risiko Kredit 75
3.3.3 Pengelolaan Risiko Kredit 77
3.4 Proses Perkreditan 80
www.facebook.com/indonesiapustaka

3.4.1 Inisiasi 80
3.4.2 Analisis Kredit 82
3.4.3 Penetapan Suku Bunga Kredit (Loan Pricing) 93
MANAJEMEN RISIKO 1
XV Daftar Isi

3.5 Manajemen Kredit Bermasalah 95


3.5.1 Penggolongan Kualitas Pembiayaan 95
3.5.2 Penyebab Kegagalan dalam Pemberian Kredit 96
3.5.3 Penagihan (collection) 97
3.5.4 Pengelolaan Kredit Bermasalah 98
3.6 Perhitungan Kecukupan Modal untuk Menutup Risiko Kredit 99
3.6.1 Standardized Approach/Pendekatan Standar 99
3.6.2 Internal Rating Based (IRB) 102

4 riSiko PASAr 105


GAMBARAN UMUM 106
TUJUAN PEMBELAJARAN 106
4.1 Pemahaman Risiko Pasar 107
4.1.1 Cakupan Portofolio yang Diperhitungkan 107
4.1.2 Faktor Risiko Pasar 107
4.1.3 Posisi yang Diperhitungkan dalam Risiko Pasar 109
4.2 Trading Book 109
4.2.1 Posisi Instrumen Tunai (Cash Instrument) 111
4.2.2 Produk Derivatif (Derivative Instruments) 112
4.2.3 Pengukuran Risiko Pasar Trading Book 114
4.2.4 Pengendalian Risiko Pasar 118
4.2.5 Perhitungan Beban Modal (Capital Charge) 121
4.3 Banking Book 124
4.3.1 Identifikasi Risiko Suku Bunga pada Banking Book 126
4.3.2 Pengukuran Risiko Pasar Banking Book 127
4.3.3 Pengendalian Risiko Suku Bunga 130

5 riSiko LikuiditAS 135


5.1 Identifikasi Risiko Likuiditas 136
5.2 Pengukuran Risiko Likuiditas 136
www.facebook.com/indonesiapustaka

5.2.1 Pengukuran berdasarkan Ukuran Nominal


(Stock Based) 137
5.2.2 Metode Flow Based 138
5.3 Pengendalian Risiko Likuiditas 140
MANAJEMEN RISIKO 1
Daftar Isi
XVI

6 riSiko oPerASionAL 143


GAMBARAN UMUM 144
TUJUAN PEMBELAJARAN 144
6.1 Pemahaman Risiko Operasional 145
6.1.1 Identifikasi Risiko Operasional 147
6.1.2 Definisi 149
6.2 Pengukuran Risiko Operasional 155
6.2.1 Inherent Risk 156
6.2.2 Kualitas Kontrol 157
6.2.3 Residual Risk (Heat Map) 158
6.3 Pengendalian Risiko Operasional 159
6.3.1 Menghindarkan Risiko (Risk Avoidance) 159
6.3.2 Menerima Risiko (Risk Acceptance) 159
6.3.3 Mengalihkan Risiko pada Pihak Lain (risk transfer) 160
6.3.4 Peningkatan Kualitas Kontrol 160
6.4 Perhitungan Kebutuhan Modal Risiko Operasional 161
6.4.1 Basic Indicator Approach (BIA) atau
Pendekatan Indikator Dasar (PID) 161
6.4.2 Standardized Approach (SA) atau
Pendekatan Standar (PSA) 167
6.4.3 Advanced Measurement Approach (AMA) 168

Lampiran 171
Glosarium 306
Daftar Pustaka 324
Jawaban Latihan Soal 327
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka

1
LATAR

RISIKO
BELAKANG
MANAJEMEN
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
2

GAMBARAN UMUM
Latar belakang manajemen risiko memberikan informasi yang menda­
sar mengenai konsep manajemen risiko serta perlunya penerapan ma­
najemen risiko dalam aktivitas perbankan untuk menciptakan nilai bagi
perusahaan. Penerapan tersebut tidak hanya karena adanya ketentuan
regulator, namun karena adanya kebutuhan dari bank untuk mengelola
risiko dalam mencapai sasaran perusahaan. Bagian ini akan memberi­
kan gambaran besar mengenai pentingnya penerapan proses manaje­
men risiko, meliputi proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan
pengendalian risiko, peranan bank sentral, dan organisasi manajemen
risiko di dalam bank. Informasi dalam latar belakang ini akan menjadi re­
ferensi yang penting untuk memahami uraian pada bagian selanjutnya.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah selesai melakukan pembahasan pada bab ini, para pembaca
akan:
• Memahami peran manajemen risiko dalam mencapai tujuan per­
usahaan.
• Memahami berbagai konsep mengenai risiko dan delapan jenis ri­
siko.
• Memahami Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yaitu sebuah pro­
gram yang disusun oleh Bank Indonesia dalam upaya menciptakan
industri perbankan yang sehat.
• Memahami konsep proses manajemen risiko mulai dari identifikasi,
pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Memahami penerapan manajemen risiko melalui tata kelola mana­


jemen risiko yang baik.
• Memahami konsep manajemen risiko secara terpadu (enterprise
risk management) serta kaitan dengan strategi bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
3 Latar Belakang Manajemen Risiko

1.1 PENDAHULUAN
1.1.1 tujuan Perusahaan

Perusahaan, termasuk bank, didirikan dengan berbagai macam tujuan


seperti menjadi agen pembangunan, memberikan pelayanan yang baik
pada masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi dan memenuhi
harapan para pemangku kepentingan termasuk pemerintah, regulator,
pegawai, masyarakat, dan lain sebagainya. Namun, tujuan pokok dari
perusahaan termasuk bank adalah memberikan nilai tambah dan me­
ningkatkan kekayaan pemegang saham. Pemilik modal mempunyai
pilihan bagaimana cara menempatkan uang mereka dan mengharap­
kan imbal hasil atas modal sesuai risiko yang ditanggung. Untuk meni­
lai kinerja dari manajemen dalam upaya menghasilkan imbal hasil bagi
pemegang saham digunakan berbagai ukuran kinerja. Ukuran kinerja
operasional bank yang banyak digunakan selama ini antara lain per­
olehan laba bersih, pertumbuhan aset, Return On Asset (ROA), Return
On Equity (ROE), belum sepenuhnya mempertimbangkan risiko yang
dihadapi atas produk atau transaksi bank, khususnya untuk masa yang
akan datang. Sebagai contoh, laba bersih pada perkiraan rugi laba, su­
dah memperhitungkan cadangan piutang macet, namun belum mem­
perhitungkan biaya risiko atau modal yang diperlukan untuk melakukan
aktivitas bank.
Dalam upaya mencapai tujuan menciptakan nilai tambah bagi bank,
paling tidak diperlukan empat komponen utama yang harus dikelola
bank, yaitu:
1) meningkatkan inovasi produk dan jasa bank, seperti fitur electro-
nic banking delivery channels untuk menangkap segmen pasar
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang belum tergarap, atau memperluas pasar yang sudah ada.


Produk yang inovatif diperlukan agar bank senantiasa dapat ek­
sis, memenangkan persaingan dan meningkatkan pertumbuhan
usaha dari waktu ke waktu.
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
4

2) kelompok pemasaran yang agresif untuk meningkatkan pen­


jualan dan market share, baik dengan membuka pasar baru, atau
intensifikasi pasar yang sudah ada. Pemasaran perlu dilakukan
secara horizontal dengan memperluas pasar dan melakukan
cross sell dengan unit kerja lain di bank, ataupun secara vertikal
dengan meningkatkan penetrasi dari pasar yang sudah dikuasai.
3) tersedia kebijakan dan prosedur yang lengkap dan isinya sesuai
praktik terbaik untuk dijadikan alat melaksanakan prinsip kehati­
hatian, khususnya dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ak­
tiva produktif yang dilakukan kelompok bisnis, serta memastikan
seluruh jajaran memahami keseluruhan kebijakan dan standar
prosedur bank, dan mematuhi keseluruhan aturan yang berlaku,
dan melakukan proses kontrol internal untuk memastikan bahwa
seluruh organ kerja bank sudah melakukan fungsi masing­ma­
sing sesuai ketentuan yang berlaku.
4) sistem manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal
dan bersaing untuk memastikan kecukupan jumlah serta kuali­
tas SDM yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi aktivitas
perbankan, memiliki sistem jenjang karier yang jelas, sistem re­
munerasi yang bersaing, lingkungan kerja yang menyenangkan,
dan program suksesi untuk menjaga kesinambungan kebutuhan
SDM.
5) Mempunyai infrastruktur yang lengkap, termasuk manajemen
data sistem informasi manajemen yang dapat memberikan in­
formasi berupa laporan yang konsisten dan relevan untuk pihak
eksternal maupun internal secara tepat waktu dan akurat.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa manajemen risiko merupakan


bagian dari strategi keseluruhan bank dalam mencapai tujuan bank
www.facebook.com/indonesiapustaka

menciptakan nilai tambah, bekerja sama dengan unit bisnis. Keempat


elemen yaitu unit bisnis, manajemen risiko, unit kepatuhan, dan unit
audit mempunyai peran masing­masing, dan sama penting dalam pen­
capaian tujuan. Kalau unit bisnis berada di garda depan maka unit risk
MANAJEMEN RISIKO 1
5 Latar Belakang Manajemen Risiko

management merupakan pertahanan lapis kedua dan unit kepatuhan


serta internal control merupakan pertahanan lapis ketiga untuk men­
jaga agar risiko dapat dikendalikan dengan baik.
Strategi operasional bank juga dapat dilihat dari upaya mencapai ke­
seimbangan antara:
(1) pertumbuhan bisnis dan pencapaian market share.
(2) meningkatkan efisiensi operasional perbankan.
(3) implementasi risk management yang berorientasi bisnis.

Upaya meningkatkan pertumbuhan bisnis, bank perlu meningkatkan


inovasi produk dan jasa untuk dapat mendorong pemasaran produk dan
jasa tersebut pada berbagai segmen sesuai dengan rencana kerjanya.
Efisiensi menyangkut upaya menurunkan biaya operasional. Dalam
menjalankan usaha, bank memerlukan berbagai biaya, antara lain biaya
bunga dan biaya overhead. Biaya bunga yang dibayarkan bank kepada
para nasabah atau kreditur sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bu­
nga yang berlaku di pasar. Sementara, biaya overhead pada umumnya
berupa biaya administrasi dan umum, dapat dikendalikan oleh bank.
Berdasarkan hal itu maka bank harus mencari berbagai alternatif untuk
mengendalikan atau meningkatkan efisiensi biaya overhead agar bank
dapat beroperasi secara efisien sehingga dapat meningkatkan daya
saing berkompetisi di pasar.
Tujuan meningkatkan pertumbuhan bisnis, meningkatkan efisiensi
dan pengelolaan risiko pada umumnya tidak sejalan. Sebagai contoh,
agar volume kredit lebih cepat tumbuh maka proses kredit harus diper­
cepat atau standar prudential pemberian kredit dilonggarkan sehingga
hal ini cenderung meningkatkan risiko kredit. Apabila jumlah analisis
kredit ditambah maka biaya proses pemberian kredit menjadi lebih
mahal dan efisiensi menurun. Sebaliknya, apabila bank terlalu pruden
www.facebook.com/indonesiapustaka

dalam proses kredit maka risiko kredit dapat terjaga, namun proses kre­
dit cenderung menjadi lama dan nasabah dapat berpindah ke bank lain
sehingga target pertumbuhan bisnis terganggu.
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
6

Untuk mencapai tujuan usaha, bank perlu mencari keseimbangan


yang optimal antara bisnis, operasional, dan manajemen risiko. Bank
perlu mempunyai unit bisnis yang berorientasi risiko dan mempunyai
unit manajemen risiko yang berorientasi bisnis. Pengelolaan risiko pen­
ting agar bank tidak terperangkap pada berbagai bisnis yang secara te­
oritis atau secara historis dapat memberikan keuntungan atau marjin
yang tinggi, namun risiko terkait juga tinggi. Bank seringkali tidak me­
nyadari bahwa keuntungan besar yang diperoleh di masa lampau me­
miliki risiko tinggi, namun secara kebetulan kondisi yang terjadi di pa­
sar sesuai dengan yang diharapkan bank sehingga risiko tersebut tidak
menjadi kenyataan.

1.1.2 deinisi risiko

Menurut Bank Indonesia1, risiko adalah potensi kerugian akibat terjadi­


nya suatu peristiwa (events) tertentu. Risiko dalam konteks perbank­
an merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan
(expected) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unexpected) yang
berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank.2
Risiko yang sudah diperkirakan atau expected loss sudah diperhi­
tungkan sebagai bagian dari biaya untuk menjalankan bisnis. Yang dise­
but risiko yang memerlukan modal untuk menutup risiko tersebut ada­
lah apabila kerugian yang terjadi melebihi atau menyimpang ekspektasi
tersebut, yaitu risiko yang tidak dapat diperkirakan (unexpected loss).
Risiko juga dapat dianggap sebagai kendala/penghambat penca­
paian suatu tujuan. Dengan kata lain, risiko adalah kemungkinan yang
berpotensi memberikan dampak negatif kepada sasaran yang ingin di­
capai.
www.facebook.com/indonesiapustaka

1
PBI nomor 5/8/PBI/2003
2
Pendapat lain yang lebih umum mengatakan bahwa risiko adalah risiko yang tidak dapat
diprediksi (unanticipated, unexpected loss), sedangkan risiko yang dapat diprediksi (ex-
pected loss) merupakan komponen biaya untuk melakukan bisnis.
MANAJEMEN RISIKO 1
7 Latar Belakang Manajemen Risiko

Dalam upaya menerapkan manajemen risiko, bank harus dapat


mengidentifikasi risiko dan memahami seluruh risiko yang melekat
(inherent risks), termasuk risiko yang bersumber dari aktivitas cabang­
cabang dan perusahaan anak.

1.1.3 jenis risiko

Mengacu pada ketentuan Bank Indonesia PBI No. 5/8/PBI/2003 dan


perubahannya No. 11/25/PBI/2009 tentang penerapan manajemen ri­
siko bagi bank umum, terdapat delapan risiko yang harus dikelola bank.
Kedelapan jenis risiko tersebut adalah risiko kredit, risiko pasar, risiko
operasional, risiko likuiditas, risiko kepatuhan, risiko hukum, risiko re­
putasi, dan risiko strategis3.
Setiap aktivitas atau produk bank paling tidak mengandung satu je­
nis risiko atau lebih. Oleh karena itu, untuk menghindarkan potensi ke­
rugian, bank perlu melakukan pengelolaan atas risiko tersebut.
Manajemen risiko pada hakikatnya merupakan serangkaian me­
todologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, meng­
ukur, melakukan mitigasi, memantau, dan mengendalikan risiko yang
timbul dari seluruh kegiatan usaha bank. Manajemen risiko merupakan
upaya untuk mengelola risiko agar peluang mendapatkan keuntungan
dapat diwujudkan secara berkesinambungan (sustainable) karena ri­
siko terhadap aktivitas bank sudah diperhitungkan.
Bank Indonesia menyatakan bahwa esensi dari penerapan mana­
jemen risiko adalah kecukupan prosedur dan metodologi pengelolaan
risiko sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali (ma-
nageable) pada batas/limit yang dapat diterima, serta memberikan ke­
untungan bagi bank sesuai dengan tingkat risiko yang dapat diterima.
www.facebook.com/indonesiapustaka

3
Jenis risiko dapat juga dikelompokkan menjadi: 1) risiko kredit 2) risiko pasar (termasuk
risiko likuiditas), 3) risiko operasional (plus didalamnya risiko hukum, reputasi, kepa­
tuhan, strategik)
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
8

Mengingat perbedaan kondisi pasar, struktur, ukuran, serta kom­


pleksitas usaha bank maka tidak terdapat satu sistem manajemen ri­
siko yang universal untuk seluruh bank. Dengan demikian, setiap bank
harus membangun sistem manajemen risiko sesuai dengan fungsi dan
kompleksitas bank, dan menyediakan sistem organisasi manajemen
risiko pada bank sesuai dengan kebutuhan.
Berikut adalah penjelasan berbagai risiko sesuai definisi Bank
Indonesia:

1. risiko kredit
Risiko kredit adalah risiko kerugian akibat kegagalan pihak lawan (coun-
terparty) untuk memenuhi kewajibannya. Risiko kredit mencakup risiko
kredit akibat kegagalan debitur membayar kewajiban pada bank, risiko
kredit akibat kegagalan pihak lawan (counterparty credit risk) untuk
memenuhi kewajiban misalnya dalam perjanjian kontrak derivatif, dan
risiko kredit akibat kegagalan proses pembayaran (settlement risk)
misalnya dalam perjanjian jual beli valuta asing.
Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional
bank, seperti aktivitas perkreditan dan aktivitas treasury. Pada aktivitas
treasury, misalnya bank membeli obligasi korporasi, melakukan in­
vestasi dengan membeli surat berharga, melakukan pembiayaan per­
dagangan (trade finance), baik yang tercatat dalam banking book mau­
pun dalam trading book.
Sebagai contoh, risiko kredit dapat timbul apabila: (1) bank mem­
berikan kredit pada nasabah; (2) bank menempatkan dana pada bank
lain sebagai penempatan antar bank (lihat artikel bank Indover pada box
berikut; (3) bank melakukan transaksi derivatif seperti kontrak berjang­
ka forward atau swap dengan nasabah atau dengan bank lain; (4) bank
membeli surat berharga korporasi.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
9 Latar Belakang Manajemen Risiko

risiko kredit
Bank Indover merupakan bank komersial, didirikan di Negeri Belanda.
Pada 7 Oktober 2008 Pengadilan Belanda menutup Bank Indover. Pada
awal kejadian, bank tersebut gagal membayar kewajiban jangka pen­
dek yang jatuh tempo setara US$ 92 juta, dengan rincian US$ 67,5 juta
plus € 18 juta.
Bank tersebut mengalami kesulitan likuiditas karena mengalami
masalah kredit macet sehingga memerlukan suntikan likuiditas se­
besar ekuivalen Rp7 triliun. Pada 1 Desember 2008, administrator
Bank Indover yang ditunjuk bank sentral Belanda telah mengajukan
permohonan pailit ke pengadilan di Negeri Tulip itu. Sejumlah bank
nasional pada saat itu memiliki eksposur berupa penempatan dana di
Bank Indover dalam berbagai bentuk, antara lain interbank placement,
nostro dll.
Beberapa bank nasional diberitakan oleh berbagai media memiliki
eksposur pada bank tersebut dengan jumlah yang bervariasi. Karena
Bank Indover dipailitkan oleh otoritas moneter Belanda maka bank ter­
sebut tidak beroperasi lagi. Meskipun kasus tersebut belum selesai,
namun bank­bank yang memiliki eksposur pada Bank Indover meng­
hadapi risiko kredit.
Sumber:http://www.tempo.co/read/flashgrafis/2008/10/09/22/Jalan­Panjang­
Indover­Bank; 9 Oktober 2008;

2. risiko Pasar
Risiko Pasar adalah risiko perubahan harga pasar pada posisi portofolio
dan rekening administratif, termasuk transaksi derivatif. Perubahan har­
ga terjadi akibat perubahan dari faktor pasar, termasuk risiko perubahan
www.facebook.com/indonesiapustaka

harga option.
Yang dimaksud dengan faktor pasar adalah nilai tukar, suku bunga,
harga saham, dan harga komoditas.
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
10

Sebagai contoh, risiko pasar dapat timbul apabila (1) bank membeli
obligasi negara dengan kupon tetap, ketika harga pasar obligasi akan tu­
run apabila suku bunga pasar meningkat; (2) bank membeli valuta USD,
yang nilai dalam valuta Rupiah akan menurun apabila nilai tukar USD
melemah terhadap Rupiah; (3) bank melakukan transaksi derivatif inte-
rest rate swap yang dapat menimbulkan kewajiban derivatif bagi pihak
counterparty; (4) bank melakukan aktivitas trading atau jual beli surat
berharga (lihat artikel pada box berikut).

risiko Pasar
neW York, koMPAS.com

Terlalu berani menaruh risiko tinggi dalam derivatif hingga bank be­
sar di Amerika Serikat (AS) rugi miliaran dollar AS, harus menyalahkan
siapa? Pasti, yang pertama kena tunjuk jari adalah trader JP Morgan
Chase & Co.
Tetapi, yang harus dicermati adalah motivasi apa yang mendorong
mereka mengambil ekstra risiko? Dalam hal ini, Fortune mengulas
bahwa biang kerok utama adalah kebijakan suku bunga rendah yang
dipertahankan The Federal Reserve (The Fed/bank sentral Amerika).
Kebijakan bank sentral yang dikawal Ben S Bernanke ini diyakini
membuat industri perbankan berlomba­lomba menebus pendapatan
yang hilang akibat kecilnya imbal hasil karena mengacu pada bunga
The Fed.
Jadi, mengizinkan para eksekutif mundur seperti yang dilakukan
JP Morgan pada pagi ini tak cukup adil dalam kasus ini. Toh, yang di­
lakukan bankir ini bertujuan terus mengembangkan jutaan dollar demi
keuntungan JP Morgan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Mereka hanya mencoba terus mencetak uang dan menyeimbang­


kan kembali dislokasi posisi pasar yang diciptakan oleh besar bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
11 Latar Belakang Manajemen Risiko

Di luar taruhan di atas meja Wall Street, melemparkan kesalahan


pada The Fed atas kerugian 2 miliar dollar AS ini mungkin cukup jauh,
tapi sangat berdasar.
Kebijakan bunga rendah secara otomatis membuat keuntungan
bank berkontraksi karena memaksa bank mengambil risiko yang lebih
besar demi mengikuti permintaan pemegang saham. Pemilik saham,
selalu menuntut bank memiliki kinerja bagus, apapun yang terjadi di
pasar.
Hal inilah yang sering kali dilontarkan oleh CEO JP Morgan, Jamie
Dimon. Segala hal bisa dihalalkan demi mengembangkan uang secara
cepat. Kebijakan The Fed akhir­akhir ini dianggap memberikan kendala
bagi bank untuk menyalurkan kredit secara normal.
Namun, bank juga tak dapat lepas dari kesalahan derivatif tersebut.
Bank yang seharusnya mendapat keuntungan dari simpan pinjam,
justru bertindak sebagai hedge fund. Memang, operasional sebatas
simpan pinjam terlalu membosankan bagi bank dan tak terlalu menda­
tangkan keuntungan yang besar saat bunga rendah. Tapi hal ini meng­
hindarkan mereka dari kerugian yang lebih besar. (Dyah Megasari/
Kontan)
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/05/15/13461531/The.
Fed.Biang.Kerok.JP.Morgan.Rugi.2.Miliar.Dollar.AS.

3. risiko Likuiditas
Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank memenuhi
kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau
dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa meng­
ganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Risiko likuiditas dapat melekat pada aktivitas fungsional perkre­


ditan (penyediaan dana), aktivitas treasury dan investasi, dan kegiatan
hubungan koresponden dengan bank lain.
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
12

Sebagai contoh, (1) bank tidak mampu memenuhi penarikan kredit


oleh nasabah karena dana yang tersedia tidak mencukupi. (2) bank
mengalami kalah kliring dan tidak dapat memenuhi kekurangan dana di
Bank Indonesia (lihat artikel pada box). (3) bank tidak dapat memenuhi
permintaan penarikan dana masyarakat yang terjadi secara tiba­tiba.
(4) bank tidak dapat memperoleh pinjaman dari bank lain pada saat
bank memerlukan likuiditas.

risiko Likuiditas
Beberapa nasabah Bank Century di kantor pusat Gedung Sentral Se­
nayan Jalan Asia Afrika No. 8 Jakarta Pusat, sempat panik. Kepanikan
dipicu kegagalan saat hendak menarik dananya dari ATM. Kalau ingin
menarik simpanan, nasabah harus melalui teller atau kasir, namun
jumlahnya pun dibatasi maksimal Rp 1 juta.
Bahkan perdagangan saham bank hasil merger tiga bank yakni
Bank Danpac, Bank Pikko, Bank CIC Internasional itu juga dihentikan
(suspensi), Kamis (13/11). “Narik dari ATM sama sekali nggak bisa.
Dari ATM bersama juga nggak bisa. Kalau narik dari kantor masih bisa
kalau di bawah Rp 1 juta,” kata seorang nasabah Bank Century seperti
dilansir detik.com.
Nasabah tersebut mengaku semula akan mengambil dana depo­
sito yang telah jatuh tempo hari ini. Namun setibanya di kantor Bank
Century dirinya gagal menarik dananya. “Petugasnya bilang besok saja
datang lagi, tapi dia juga nggak bisa menjamin apakah besok (hari ini,
Red) itu bisa ditarik atau tidak,” ujarnya.
Dalam waktu singkat beredar isu Bank Century kalah kliring antar­
bank di Bank Indonesia, karena kesulitan likuiditas. Kliring adalah per­
tukaran warkat atau data keuangan elektronik (DKE) antara peserta kli­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ring baik atas nama bank peserta maupun atas nama nasabah peserta
yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.
MANAJEMEN RISIKO 1
13 Latar Belakang Manajemen Risiko

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham


sesi II juga menutup sementara perdagangan saham atau suspensi
bank berkode BCIC itu. Keputusan ini diambil menyusul surat PT Bank
Century Tbk dengan No. 694/Century/D/XI/2008 tanggal 13 Novem­
ber 2008 mengenai Klarifikasi ketidakikutsertaan PT Bank Century Tbk
(BCIC) pada Kliring Tanggal 12 November 2008.
“BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara per­
dagangan Efek PT Bank Century Tbk di seluruh pasar pada sesi II Per­
dagangan tanggal 13 November 2008 hingga pengumuman lebih lan­
jut karena ada kabar mengalami kegagalan kliring,” kata Kepala Divisi
Perdagangan Saham Supandi kemarin. Hingga kemarin sore belum ada
penjelasan kapan tepatnya transaksi saham BCIC dibuka.
Sumber: Sriwijaya Pos; http://palembang.tribunnews.com/14/11/2008/bank­
century­kalah­kliring

4. risiko operasional
Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau ti­
dak berfungsinya proses internal akibat tidak adanya atau tidak ber­
fungsinya prosedur kerja, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/
atau adanya kejadian­kejadian eksternal yang memengaruhi opera­
sional Bank.
Risiko operasional dapat menimbulkan kerugian keuangan secara
langsung maupun tidak langsung dan menimbulkan potensi kesem­
patan yang hilang untuk memperoleh keuntungan.
Sebagai contoh: (1) pemalsuan bilyet deposito oleh karyawan bank
yang kemudian dijadikan agunan kredit; (2) kesalahan posting uang
masuk karena pegawai yang ditunjuk kurang berpengalaman; (3) ter­
www.facebook.com/indonesiapustaka

jadi bencana alam berupa banjir besar sehingga bank tidak dapat ber­
operasi secara normal; (4) kejahatan keuangan seperti fraud yang
sering dilakukan pihak luar bekerjasama dengan pegawai bank (lihat
artikel pada box berikut).
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
14

inilah 9 kasus kejahatan Perbankan


Strategic Indonesia mencatat, dalam kuartal I 2011 telah terjadi sembi­
lan kasus pembobolan bank di berbagai industri perbankan.
Jos Luhukay, pengamat Perbankan Strategic Indonesia, mengata­
kan, modus kejahatan perbankan bukan hanya soal penipuan (fraud),
tetapi lemahnya pengawasan internal control bank terhadap sumber
daya manusia juga menjadi titik celah kejahatan perbankan. “Inter-
nal control menjadi masalah utama perbankan. Bank Indonesia harus
mengatur standard operating procedure (SOP).”
Berikut adalah sembilan kasus perbankan pada kuartal pertama
yang dihimpun oleh Strategic Indonesia melalui Badan Reserse Krimi­
nal Mabes Polri:
1. Pembobolan Kantor Kas Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tamini
Square. Melibatkan supervisor kantor kas tersebut dibantu empat
tersangka dari luar bank. Modusnya, membuka rekening atas nama
tersangka di luar bank. Uang ditransfer ke rekening tersebut sebe­
sar 6 juta dollar AS. Kemudian uang ditukar dengan dollar hitam
(dollar AS palsu berwarna hitam) menjadi 60 juta dollar AS.
2. Pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif pada Bank
Internasional Indonesia (BII) pada 31 Januari 2011. Melibatkan
account officer BII Cabang Pangeran Jayakarta. Total kerugian Rp
3,6 miliar.
3. Pencairan deposito dan melarikan pembobolan tabungan nasabah
Bank Mandiri. Melibatkan lima tersangka, salah satunya customer
service bank tersebut. Modusnya memalsukan tanda tangan di slip
penarikan, kemudian ditransfer ke rekening tersangka. Kasus yang
dilaporkan 1 Februari 2011, dengan nilai kerugian Rp 18 miliar.
4. Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Margonda Depok. Tersangka
www.facebook.com/indonesiapustaka

seorang wakil pimpinan BNI cabang tersebut. Modusnya, tersangka


mengirim berita teleks palsu berisi perintah memindahkan slip su­
MANAJEMEN RISIKO 1
15 Latar Belakang Manajemen Risiko

rat keputusan kredit dengan membuka rekening peminjaman mo­


dal kerja.
5. Pencairan deposito Rp 6 miliar milik nasabah oleh pengurus BPR
tanpa sepengetahuan pemiliknya di BPR Pundi Artha Sejahtera,
Bekasi, Jawa Barat. Pada saat jatuh tempo deposito itu tidak ada
dana. Kasus ini melibatkan Direktur Utama BPR, dua komisaris, ko­
misaris utama, dan seorang pelaku dari luar bank.
6. Pada 9 Maret terjadi pada Bank Danamon. Modusnya head teller
Bank Danamon Cabang Menara Bank Danamon menarik uang kas
nasabah berulang­ulang sebesar Rp 1,9 miliar dan 110.000 dollar
AS.
7. Penggelapan dana nasabah yang dilakukan Kepala Operasi Panin
Bank Cabang Metro Sunter dengan mengalirkan dana ke rekening
pribadi. Kerugian bank Rp 2,5 miliar.
8. Pembobolan uang nasabah prioritas Citibank Landmark senilai Rp
16,63 miliar yang dilakukan senior relationship manager (RM) bank
tersebut. Inong Malinda Dee, selaku RM, menarik dana nasabah tan­
pa sepengetahuan pemilik melalui slip penarikan kosong yang su­
dah ditandatangani nasabah.
9. Konspirasi kecurangan investasi/deposito senilai Rp 111 miliar un­
tuk kepentingan pribadi Kepala Cabang Bank Mega Jababeka dan
Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk. (nina dwiantika/Kontan)
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/03/09441743/
Inilah.9.Kasus.Kejahatan.Perbankan

5. risiko Hukum
Risiko Hukum adalah risiko akibat kelalaian bank yang dapat menimbul­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kan kelemahan dari aspek yuridis, dalam menghadapi tuntutan hukum


dari pihak lain.
Penyebab risiko hukum antara lain, peraturan perundang­undangan
yang mendukung tidak tersedia, kelalaian bank dalam proses pengikat­
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
16

an agunan sehingga perikatan seperti syarat keabsahan kontrak tidak


kuat, pengikatan agunan kredit yang tidak sempurna.
Sebagai contoh: (1) bank tidak dapat melakukan eksekusi agunan
kredit macet karena agunan tersebut tidak diikat secara sempurna,
dan pemilik agunan menolak upaya bank menjual agunan tersebut; (2)
bank kesulitan menagih kewajiban kredit nasabah, karena perjanjian
kredit ditandatangani oleh pejabat yang tidak berhak sesuai anggaran
dasar perusahaan, dan nasabah menggunakan kelemahan ini untuk ti­
dak membayar kewajibannya pada bank; (3) nasabah menuntut bank
karena nasabah merasa membeli produk bank yang tidak transparan,
mengingat bank dinilai tidak menjelaskan risiko dari produk tersebut (li­
hat artikel pada box berikut).

risiko Hukum
Perseteruan PT Esa Kertas Nusantara (EKN) dengan PT Bank
Danamon Indonesia Tbk mungkin berhenti sejenak untuk meregang­
kan urat saraf. Selanjutnya, Danamon akan memberikan perlawanan di
meja banding.
Sekitar setahun lalu, Danamon digugat oleh EKN, perusahaan na­
sional yang memproduksi coated and uncoated paper untuk tujuan
ekspor. EKN menilai bahwa pihak Danamon lalai dalam memberikan
informasi yang akurat tentang produk derivatif yang mereka tawar­
kan kepada nasabah. Akibatnya, EKN merasa dirugikan dan menuntut
Danamon agar mau melunasi kerugian itu.
Sebenarnya, permasalahan tersebut berawal ketika kedua pihak
menandatangani perjanjian untuk tujuh belas structured financial pro-
duct. Perjanjian itu terdiri dari tiga transaksi Forward with Knock Out,
delapan transaksi Target Redemption Forward, empat transaksi Can-
www.facebook.com/indonesiapustaka

celable Forward, dan satu transaksi American Knock Out, sejak Oktober
2007 hingga September 2008. Kedua pihak juga menandatangani per­
janjian cross currency swap (CCS). Total nominal transaksi structured
MANAJEMEN RISIKO 1
17 Latar Belakang Manajemen Risiko

financial product dan CCS yang telah dilakukan masing­masing adalah


US$29.5 juta dan US$5,5 juta. Belakangan, perjanjian tersebut menuai
masalah.
Belum lama ini, kemelut panjang antara EKN dengan Danamon
berakhir sudah dengan ketukan palu majelis hakim Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan. Majelis hakim mengabulkan gugatan EKN dan me­
minta Danamon untuk memberikan ganti rugi sebesar Rp 63 miliar.
Dalam amar putusannya, majelis hakim menganggap bahwa transaksi
derivatif itu dianggap perbuatan melawan hukum.
Sumber: http://komunitasamam.wordpress.com/2010/02/14/bank­danamon­
ajukan­banding­terkait­putusan­transaksi­derivatif/; Penulis Lukman Hakim Zuhdi

6. risiko reputasi
Risiko Reputasi adalah risiko suatu kejadian yang menimbulkan per­
sepsi negatif terhadap Bank, yang dapat mengakibatkan tingkat keper­
cayaan stakeholder pada bank menurun.
Sebagai contoh: (1) penagihan kartu kredit bank dilakukan oleh
pihak ketiga yang tidak memerhatikan etika cara penagihan sehingga
menurunkan reputasi bank secara umum di mata masyarakat; (2) terja­
di kerugian besar pada bank akibat perbuatan fraud oleh pegawai bank
sehingga nasabah meragukan keamanan menyimpan dana di bank
tersebut; (3) produk kartu kredit banyak menjadi sasaran kejahatan ke­
uangan sehingga reputasi bank sebagai bank yang aman menjadi me­
nurun, dan berpotensi memberikan dampak menurunnya bisnis kartu
kredit (lihat artikel pada box berikut).
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
18

risiko reputasi
Reputasi Citibank Cederai Perbankan Indonesia; Jumat, 11/05/2012
Kredibilitas perbankan di negeri ini kembali tercoreng gara­gara mana­
jemen Citibank belum menyelesaikan kewajibannya, yaitu mengem­
balikan dana simpanan nasabahnya sebesar Rp 22 miliar. Sementara
Bank Indonesia (BI) selaku lembaga pengawas perbankan yang ber­
tindak tegas terhadap bank tersebut, membeli nasabah yang menjadi
ketidakadilan bank asing tersebut.
Pemilik dana, Mirta Kartohadiprodjo, yang merupakan pendiri Grup
Femina menyayangkan sikap Citibank Indonesia yang tidak merespon
tuntutannya dan hanya mengumbar janji tanpa ada penyelesaian
hingga saat ini. Hal ini terkait kasus penipuan Rp22 miliar yang dilaku­
kan oleh oknum karyawan Citibank Malinda Dee beberapa waktu lalu.
“Terus terang, sampai hari ini, saya tidak mendapatkan kontak atau­
pun respon sama sekali dari pihak Citibank. Saya hanya membaca di
media yang menyebutkan bahwa Citibank akan mengganti pokok yang
hilang ditambah dengan bunga,” ujar Mirta kepada pers di Jakarta,
Kamis (10/5).
Menurut dia, apa yang digembar­gemborkan tentang penggantian
yang akan diberikan Citibank dianggap tidak adil dan fair. Karena itu,
Mirta menilai hal tersebut hanyalah sebagai wacana saja, di mana
Citibank menawarkan penggantian bunga berdasarkan indikasi bunga
tabungan yaitu maxi save yang hanya sebesar 5%.
Sebelumnya Mirta diketahui menyimpan dananya melalui reksada­
na saham Fortis Ekuitas di Citibank. Maksudnya, dengan menempatkan
dana di reksadana tersebut, perhitungan Return on Investment (ROI)
seharusnya mengacu pada pertumbuhan aset reksadana itu, dalam hal
ini perkembangan nilai aset bersih (NAB) –nya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Pakar hukum bisnis FH Univ. Trisakti Dr. Yenti Garnasih mengatakan,


seharusnya pihak bank tanpa harus menunggu kemudian harus meng­
MANAJEMEN RISIKO 1
19 Latar Belakang Manajemen Risiko

ganti uang nasabah, walau kejahatan perbankan itu dilakukan oleh pe­
gawainya.
“Nasabah hanya mengetahui bahwa menyimpan uang itu kepada
institusi bank, bukan individu. Oleh karena itu, pihak bank harus ikut
bertanggung jawab dengan mengganti uang nasabah yang bersangkut­
an,” katanya kepada Neraca, Kamis (10/5).
Yenti menjelaskan, pihak bank itu sendiri mempunyai perjanjian
tersendiri dengan nasabah. Salah satu isi perjanjian tersebut bahwa
semua kerugian yang diterima oleh nasabah, maka pihak bank harus
mengganti rugi. “Jika hal ini tidak dilakukan pihak bank, maka akan me­
nimbulkan ketidakpercayaan nasabah terhadap bank,” ujarnya.
Lebih lanjut lagi, menurut Yenti, adanya kelemahan peradilan da­
lam menangani kejahatan dalam dunia perbankan, dimana tidak dike­
tahui batasannya kejahatan yang dilakukan oleh individu atau institusi.
Kejahatan yang dilakukan pegawai bank merupakan kejahatan pidana
walaupun demikian bank harus ikut tanggung jawab atas kejahatan
yang dilakukan pegawainya.

Perlindungan nasabah
Mirta berharap pada BI untuk memberikan perlindungan kepada na­
sabah yang menjadi korban ketidakadilan bank. Sebab, bila tidak ada
campur tangan BI sebagai otoritas perbankan, posisi nasabah hanya
akan selalu dikorbankan ketika bank melakukan kesalahan. “Ketika na­
sabah berbuat keliru, misalnya menunggak kredit, betapa agresifnya
pihak bank dalam menekan nasabah untuk menyelesaikan kewajiban­
nya. Bahkan, nasabah juga dikenakan denda dan biaya yang berma­
cam­macam,” ujarnya.
Dia mengungkapkan kekecewaannya menjadi nasabah Citibank.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bank asing yang telah menjadi tempatnya menyimpan dana selama


lebih dari 20 tahun dan memiliki reputasi internasional ternyata mem­
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
20

perlakukan nasabahnya sangat buruk. “Saya tidak bisa membayang­


kan andaikata ini menimpa pada nasabah baru dan biasa,” ujarnya.
Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus
Abadi menegaskan, bagaimanapun Citibank harus mengganti se­
penuhnya dana nasabah yang telah dirugikan, tidak ada pengecualian,
karena ini sudah diatur dalam UU Perlindungan Konsumen No. 8/1999.
Apabila BI tidak tegas menegur pihak Citibank, ini akan berakibat
buruk bagi perbankan Indonesia, karena dapat menjadi yurisprudensi
bagi bank lainnya. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah mengatakan, pihaknya akan
segera memutuskan sanksi kepada Citibank terkait kasus pembobolan
dana nasabah. Dalam kasus tersebut, BI menemukan pelanggaran atas
pelaksanaan bisnis wealth management.
Lebih jauh, terkait perlindungan nasabah, lanjut Difi, untuk se­
mentara BI telah menghentikan izin ekspansi dan bisnis kartu kredit
Citibank. “Kita minta Citibank untuk menghentikan ekspansi atau tidak
mencari nasabah baru di Citigold dan credit card sambil menunggu pe­
meriksaan khusus BI di kedua lini produk tersebut,” tuturnya.
Pengamat perbankan Lana Soelistianingsih mengatakan, Citibank
harus bertanggungjawab atas kasus ini, jangan sampai melepas ta­
ngan begitu saja karena ini memengaruhi nama baik perbankan terse­
but dimata nasabah lainnya terlebih ini adalah nasabah premium yang
dananya besar.
Ketua Komisi XI DPR RI Emir Moeis mengaku heran apabila nasabah
dirugikan akibat ulah pegawai Citibank Melinda Dee yang tidak mem­
persoalkannya kendati praktik permainan orang dalam itu sudah terjadi
bertahun­tahun. “Yang anehnya, kok nasabahnya tidak ada yang mem­
protes atas praktik tersebut,” katanya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Risiko hilangnya kepercayaan masyarakat pada reputasi suatu


bank, jika di bank tersebut pernah terjadi internal fraud. Masyarakat
jadi merasa tidak nyaman mempercayakan dananya disimpan bank
MANAJEMEN RISIKO 1
21 Latar Belakang Manajemen Risiko

tersebut. Risiko reputasi muncul a.l. karena adanya publikasi negatif


terhadap bank tersebut.
Ketika dikonfirmasi, Corporate Affair Citibank Mona Monika, me­
ngatakan dalam kasus ini prioritas perseroan adalah melindungi na­
sabah dan untuk segera mengganti seluruh jumlah kehilangan yang
dialami nasabah.
“Dalam hal ini Citibank telah memberikan tawaran untuk mengganti
seluruh jumlah pokok yang hilang ditambah dengan bunga yang ber­
laku di Citibank. Penawaran tersebut telah kami lakukan sejak lama,”
ujarnya kemarin. mohar/bari/maya/iwan/fba
Sumber: http://www.neraca.co.id/harian/article/13696/Reputasi.Citibank.Cederai.
Perbankan.Indonesia

7. risiko Strategik
Risiko strategik adalah risiko yang terjadi akibat ketidaktepatan dalam
pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik, serta
kegagalan dalam menyesuaikan dengan perubahan lingkungan bisnis.
Sebagai contoh: (1) bank mengikuti arus mengembangkan bisnis
mikro, padahal bank tersebut belum berpengalaman dalam bidang
tersebut sehingga bank mengalami banyak permasalahan; (2) bank
memutuskan bersaing dengan bank asing dengan meluncurkan bisnis
produk terstruktur yang kompleks, padahal bank belum memiliki infra­
struktur yang memadai sehingga bank mengalami kerugian; (3) bank
memutuskan melakukan bisnis tertentu yang ternyata kemudian men­
datangkan kerugian besar pada bank (lihat artikel pada box berikut).
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
22

risiko Strategik
Wall Street kembali dilanda ”badai” keuangan. Setelah dihantam kredit
perumahan berisiko tinggi (subprime mortgage), perusahaan sekuritas
terbesar keempat di AS, Lehman Brothers, tidak dapat memikul kerugi­
an besar akibat subprime mortgage dan menderita kebangkrutan.
Krisis subprime mortgage AS kembali menelan korban. Setelah
Bear Stearns, Northern Rock, Fannie Mae, dan Freddie Mac, kini giliran
Lehman Brothers yang terpaksa meminta perlindungan kebangkrutan
menurut Pasal 11 (Chapter 11), yang diajukan pada Senin (15/9).
Keadaan yang dihadapi Lehman saat ini agak berbeda dari enam
bulan lalu saat Bear Stearns kolaps. Pada kasus Lehman sekarang ini,
pasar finansial telah bersiap menghadapi masa krisis yang lebih pan­
jang dan persiapan yang lebih matang pula.
Bank investasi juga telah diizinkan mendapatkan pinjaman darurat
langsung dari The Fed. Bank sentral memberikan akses yang sama ke
perusahaan sekuritas seperti akses yang diterima oleh perbankan. Du­
kungan khusus seperti itu tidak didapatkan pada Maret lalu ketika Bear
Stearns terlilit kesulitan.
Lehman memiliki sejarah 150 tahun sebelum terjadi Perang Sauda­
ra. Agustus 2007, Lehman menutup pemberi pinjaman subprime­nya,
BNC Mortgage. Tahun 2008, Lehman terus mengalami kerugian karena
surat utang berisiko tinggi yang sudah merebak pada 2007.
Kerugian Lehman tampaknya berasal dari terlalu banyaknya sub-
prime dan surat utang berisiko tinggi yang beragun aset (disekuriti­
sasi). Belum jelas apakah Lehman menyatakan bangkrut karena tidak
dapat dengan mudah menjual obligasi berperingkat rendah atau meru­
pakan keputusan internal perusahaan.
Kerugian besar akibat efek beragun aset yang berperingkat rendah
www.facebook.com/indonesiapustaka

semakin membengkak sepanjang tahun 2008. Pada laporan keuangan


kuartal kedua, Lehman melaporkan kerugian 2,8 miliar dollar AS. Selain
MANAJEMEN RISIKO 1
23 Latar Belakang Manajemen Risiko

itu, mereka harus menjual paksa aset bernilai 6 miliar dollar AS. Harga
saham Lehman terus menurun karena kerugian beruntun itu.
Pada 10 September, Lehman melaporkan kerugian kuartal ketiga
sebesar 3,9 miliar dollar AS. Mereka juga berniat menjual saham di unit
manajemen investasi. Saham mereka turun 95 persen dalam tahun ini
dan menjadi saham terburuk pada indeks 11 perusahaan sekuritas AS.
Agustus 2008, Lehman mengumumkan akan memecat sekitar 5
persen dari jumlah pekerjanya atau sekitar 1.500 orang. Langkah ini
diambil beberapa hari sebelum laporan keuangan kuartal ketiga di­
umumkan.
Pada akhir Agustus tahun 2008 lalu, Perusahaan itu mengalami ke­
rugian sebesar USD 3,9 miliar (sekitar Rp 36,6 triliun dengan kurs Rp
9.400 per USD), menyusul kerugian USD 2,8 miliar (sekitar Rp 26,32
triliun) yang terjadi pada triwulan II 2008 yang lalu. Kerugian ini akibat
krisis subprime mortgage di AS, di mana mereka terpaksa menghapus­
bukukan kredit macet USD 13,8 miliar (sekitar Rp 129,7 triliun).
Strategi membesarkan aset dengan terlalu banyak konsentrasi
dalam portofolio subprime mortgage ternyata menimbulkan kerugian
yang sulit untuk ditanggulangi bank.
Bank investasi terbesar keempat di AS sekaligus salah satu per­
usahaan finansial ternama di dunia, Lehman Brothers, menyatakan
pailit atau bangkrut tanggal 15 September 2008.
Sumber: http://entertainment.kompas.com/read/2008/09/16/00345387/lehman.
brothers.bangkrut

8. risiko kepatuhan
Risiko kepatuhan adalah risiko yang terjadi akibat bank tidak mematuhi
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan/atau tidak melaksanakan ketentuan internal dan peraturan per­


undang­undangan yang berlaku, seperti ketentuan Kewajiban Penye­
diaan Modal Minimum (KPMM), penilaian Kualitas Aktiva Produktif, Pem­
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
24

bentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), Batas Maksimum


Pemberian Kredit (BMPK), ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN), risiko
strategik terkait dengan ketentuan Rencana Kerja Anggaran Tahunan
(RKAT) bank, dan risiko lain yang terkait dengan ketentuan tertentu.
Sebagai contoh: (1) bank tidak mengirimkan laporan harian wajib
kepada Bank Indonesia sehingga harus membayar denda; (2) bank me­
langgar ketentuan limit posisi devisa netto dan mendapat teguran dan
denda dari regulator; (3) akibat terkena persaingan, bank tidak secara
utuh mengikuti prosedur seperti yang ditetapkan oleh regulator (lihat
artikel pada box berikut).

Bank indonesia membekukan kegiatan usaha Pt.Bank global


SEJAK 14 Desember 2004, Bank Indonesia (BI) membekukan kegiatan
usaha (BKU) PT Bank Global Tbk. Sekitar 8.000 nasabah yang tercatat
di 13 kantor cabang terpaksa kerepotan mengurus dananya. Bukan ha­
nya itu, ratusan investor publik pemegang saham juga menjadi tak je­
las investasinya. Belum lagi bank dan pihak lain yang memiliki tagihan.
Nasib ratusan karyawan pun menjadi tak menentu di tengah sulitnya
lapangan kerja. Apa jadinya kalau mereka di­PHK? Jelas, akan menam­
bah deretan panjang pengangguran. Semua itu tentu akan menambah
beban pemerintah dalam memulihkan roda perekonomian, terutama
sektor riil.
Empat alasan ditutupnya Bank Global:
• Pertama, terus memburuknya kondisi keuangan Bank Global.
• Kedua, tidak menyetorkan tambahan modal yang diminta BI
sejak bank tersebut masuk pengawasan khusus (special sur-
veillance unit) pada 27 Oktober hingga 13 Desember 2004.
• Ketiga, direksi Bank Global tidak menunjukkan iktikad baik
www.facebook.com/indonesiapustaka

untuk patuh pada aturan. Bahkan, dalam pengawasan BI dan


kepolisian ada upaya secara sengaja dari pihak bank tersebut
untuk memusnahkan dan menghilangkan barang bukti.
MANAJEMEN RISIKO 1
25 Latar Belakang Manajemen Risiko

• Keempat, direksi, pejabat eksekutif, dan beberapa karyawan


bank publik itu diduga telah melakukan tindak pidana perbank­
an dengan merusak dan menghilangkan dokumen­dokumen
penting bank.

Hal yang dicermati dari kasus ini


• Pertama, sebagai perusahaan terbuka, semestinya Bank Global
transparan dan menerapkan dengan seksama asas good corpo-
rate governance.
• Kedua, seperti dilansir Investor Daily Online (14/12/2004),
bahwa kehancuran Bank Global sangat boleh jadi disebabkan
oleh sebuah kolusi antara pengelola Bank Global dengan Pru­
dence Asset Management (PAM).
• Ketiga, kasus Bank Global menarik diikuti karena kasus ini men­
coreng citra reksadana, sebuah instrumen pasar modal yang
mengalami pertumbuhan pesat selama dua tahun terakhir.
• Keempat, kasus Bank Global mencerminkan lemahnya peng­
awasan BI dan Bapepam.

Kesimpulan
• Kesehatan bank tidak hanya berpatokan pada aset (modal) se­
mata, tetapi juga harus memperhitungkan faktor manajemen
risiko yang meliputi delapan faktor, yakni risiko kredit, risiko pa­
sar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stra­
tegi, risiko kepatuhan dan risiko reputasi. Tidak sedikit para ban­
kir yang tidak bisa mengelola manajemen risiko dengan baik,
sehingga terjadi pelanggaran prinsip kehati­hatian bank. Yang
terpenting dari kasus­kasus pembekuan bank adalah pembela­
www.facebook.com/indonesiapustaka

jaran bagi pemilik maupun pengurus bank untuk bercermin diri


dalam pengelolaan keuangan dan manajemen perbankan agar
tidak menyimpang dari ketentuan­ketentuan yang ada, serta
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
26

diharuskan menerapkan prudent banking. Lebih khusus lagi,


bagi para nasabah agar tidak gegabah dan senantiasa berhati­
hati jika ingin menempatkan dananya pada lembaga perbankan
maupun lembaga keuangan lainnya.
SUMBER: http://fahmihaeruman.wordpress.com/2011/02/28/belajar­dari­kasus­
bank­global/

1.1.4 Perlunya Manajemen risiko

Sejalan dengan prinsip enam pilar API, khususnya pilar 4, penerapan


manajemen risiko pada perbankan menjadi sangat penting dalam men­
ciptakan industri perbankan yang sehat dan terintegrasi. Peranan ma­
najemen risiko sebagai partner dari unit bisnis dalam mencapai target
usaha bank menjadi semakin penting, dimana bisnis bank dijalankan
dalam koridor risiko yang tetap terkendali. Penerapan manajemen risiko
yang tertib pada setiap bank pada akhirnya akan membantu proses
penciptaan industri perbankan yang semakin sehat.
Lingkungan internal dan eksternal perbankan yang berkembang de­
ngan pesat disertai dengan risiko kegiatan usaha bank yang semakin
kompleks, menuntut bank menerapkan manajemen risiko secara di­
siplin dan konsisten.
Penerapan manajemen risiko pada bank berperan besar dalam
upaya meningkatkan shareholder value melalui penerapan strategi bis­
nis berbasis risiko. Manajemen risiko memberikan gambaran kepada
pengelola bank mengenai potensi kerugian di masa mendatang, serta
memberikan informasi untuk membuat keputusan yang tepat sehingga
dapat membantu pengelola bank untuk meningkatkan daya saing.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bagi Bank Indonesia selaku otoritas pengawas bank, penerapan ma­


najemen risiko, akan mempermudah penilaian terhadap kemungkinan
kerugian yang dihadapi bank, yang selanjutnya dapat memengaruhi
MANAJEMEN RISIKO 1
27 Latar Belakang Manajemen Risiko

permodalan bank. Modal merupakan faktor penting bagi bank untuk me­
lindungi kepentingan deposan, dan menjaga kepercayaan masyarakat
terhadap industri perbankan.

1.1.5 Arsitektur Perbankan indonesia (APi)

Perbankan Indonesia telah mengalami berbagai siklus ekonomi, baik


yang mendorong maupun yang menghambat pertumbuhan ekonomi.
Krisis keuangan yang terjadi di Asia pada 1998 dan krisis global dengan
di Eropa dan Amerika yang terjadi pada 2011, merupakan suatu pe­
ngalaman yang sangat berharga untuk memperbaiki industri perbankan
agar lebih mempunyai daya tahan pada kondisi krisis.
Bank Indonesia pada 9 Januari 2004 telah meluncurkan API sebagai
suatu kerangka menyeluruh arah kebijakan pengembangan industri
perbankan Indonesia ke depan. Peluncuran API tersebut tidak terlepas
dari upaya Pemerintah dan Bank Indonesia untuk membangun kembali
perekonomian Indonesia. API menetapkan 6 pilar sebagai program un­
tuk menciptakan industri yang sehat. Enam pilar tersebut adalah (lihat
diagram di bawah):

1. Menciptakan struktur perbankan yang sehat yang mampu meme­


nuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan eko­
nomi nasional yang berkesinambungan.
Program ini bertujuan memperkuat permodalan bank umum (kon­
vensional dan syariah) dalam rangka meningkatkan kemampuan
bank mengelola usaha maupun risiko, mengembangkan teknologi
informasi, maupun meningkatkan skala usaha untuk mendukung
peningkatan kapasitas pertumbuhan kredit. Implementasi program
www.facebook.com/indonesiapustaka

penguatan permodalan bank dilaksanakan secara bertahap dengan


membuat business plan yang menjelaskan mengenai target waktu,
cara dan tahap pencapaian yang dilakukan melalui:
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
28

a) Penambahan modal baru baik dari pemegang saham lama mau­


pun investor baru;
b) Merger dengan bank lain untuk mencapai persyaratan modal mi­
nimum (KPMM);
c) Penerbitan saham baru atau right issue di pasar modal;
d) Penerbitan obligasi subordinasi sesuai ketentuan mengenai
pengakuan instrumen tersebut sebagai modal bank.

Secara keseluruhan, struktur perbankan Indonesia ke depan diha­


rapkan akan terbentuk sebagaimana digambarkan sebagai berikut:

2. Menciptakan sistem pengaturan yang efektif dan mengacu pada


standar internasional.
Program ini bertujuan meningkatkan efektivitas pengaturan serta
www.facebook.com/indonesiapustaka

memenuhi standar pengaturan yang mengacu pada international


best practices. Program tersebut dapat dicapai dengan penyempur­
naan proses penyusunan kebijakan perbankan secara bertahap dan
menyeluruh. Ke depan diharapkan regulator telah sejajar dengan
MANAJEMEN RISIKO 1
29 Latar Belakang Manajemen Risiko

negara­negara lain dalam penerapan international best practices


termasuk 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision.
Dari sisi proses penyusunan kebijakan perbankan regulator telah
memiliki sistem penyusunan kebijakan perbankan yang efektif yang
telah melibatkan pihak­pihak terkait dalam proses penyusunannya.

3. Melaksanakan sistem pengawasan bank yang independen dan


efektif guna menjaga industri perbankan dari risiko sistemik.
Program ini bertujuan meningkatkan independensi dan efektivitas
pengawasan perbankan yang dilakukan oleh regulator. Hal ini dica­
pai dengan peningkatan kompetensi pemeriksa bank, peningkatan
koordinasi antar lembaga pengawas, pengembangan pengawasan
berbasis risiko, peningkatan efektivitas enforcement, dan konsoli­
dasi organisasi sektor perbankan di OJK. Ke depan diharapkan fung­
si pengawasan bank yang dilakukan oleh OJK akan lebih efektif dan
sejajar dengan pengawasan yang dilakukan oleh otoritas pengawas
di negara lain.

4. Menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya


saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi ri­
siko, dengan cara menciptakan good corporate governance dalam
rangka memperkuat kondisi internal perbankan nasional.
Program ini bertujuan meningkatkan Good Corporate Governance
(GCG), kualitas manajemen risiko dan kemampuan operasional ma­
najemen. Standar GCG yang tinggi dan didukung oleh kemampuan
operasional (termasuk manajemen risiko) yang andal diharapkan
dapat meningkatkan kinerja operasional perbankan, yang akan
memperkuat kondisi internal perbankan nasional.
www.facebook.com/indonesiapustaka

5. Mewujudkan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung tercipta­


nya industri perbankan yang sehat.
Program ini bertujuan mengembangkan sarana pendukung operasi­
onal perbankan yang efektif seperti biro kredit, lembaga pemering­
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
30

kat kredit domestik, dan pengembangan skim penjaminan kredit.


Pengembangan biro kredit akan membantu perbankan dalam me­
ningkatkan kualitas keputusan kreditnya. Penggunaan lembaga
pemeringkat kredit dalam perdagangan obligasi miliki bank akan
meningkatkan transparansi dan efektivitas manajemen keuangan
perbankan. Sementara, pengembangan skim penjaminan kredit
akan meningkatkan akses kredit bagi masyarakat.

6. Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa per­


bankan
Program ini bertujuan memberdayakan nasabah melalui penetapan
standar penyusunan mekanisme pengaduan nasabah, pendirian
lembaga mediasi independen, peningkatan transparansi informasi
produk perbankan dan edukasi bagi nasabah. Program­program ter­
sebut dapat meningkatkan kepercayaan nasabah pada sistem per­
bankan.
Krisis finansial dunia yang terjadi mulai 2008 semakin mene­
gaskan perlunya penerapan manajemen risiko secara konsisten. Di­
bandingkan dengan krisis finansial pada 1998, dalam menghadapi
krisis tahun 2008 perbankan Indonesia dinilai sudah lebih siap.
Hal tersebut didukung oleh berbagai perubahan regulasi dan peng­
awasan Bank Indonesia. Di samping itu, kesadaran masyarakat se­
makin baik, tidak mudah panik dan tidak terpengaruh oleh rumor se­
hingga kondisi perbankan semakin baik. Hal ini membuktikan bahwa
penerapan pilar­pilar API secara konsisten dan berkesinambungan
akan membuat perbankan menjadi lebih tangguh.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
31 Latar Belakang Manajemen Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
32

1.2 PROSES MANAJEMEN RISIKO


Bank harus memiliki proses manajemen risiko yang komprehensif yang
meliputi tahapan identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengen­
dalian risiko.

1.2.1 identiikasi risiko

Proses identifikasi risiko dilakukan dengan menganalisis sumber risiko


dari seluruh aktivitas bank, minimal dilakukan terhadap risiko produk
dan aktivitas bank, serta memastikan bahwa risiko dari produk dan ak­
tivitas baru telah melalui proses manajemen risiko yang layak sebelum
diperkenalkan atau dijalankan.
Sebagai contoh, apabila bank memberikan kredit, risiko yang dapat
terjadi adalah kredit menjadi macet (risiko kredit). Apabila bank mem­
beli surat berharga berupa obligasi pemerintah maka harga obligasi da­
pat menurun apabila suku bunga pasar meningkat (risiko suku bunga).
Pegawai bank dapat saja melakukan fraud (risiko operasional).

1.2.2 Pengukuran risiko

Pengukuran risiko digunakan untuk mengukur eksposur risiko bank


sebagai acuan untuk memutuskan apakah perlu dilakukan proses pe­
ngendalian. Sistem pengukuran risiko minimal harus dapat mengukur:
1) Eksposur risiko secara keseluruhan maupun per risiko. Sebagai
contoh, total baki debet kredit, total posisi obligasi yang ada pada
www.facebook.com/indonesiapustaka

portofolio bank.
2) Seluruh risiko yang melekat pada seluruh transaksi serta produk
perbankan, termasuk produk dan aktivitas baru. Sebagai contoh,
risiko kredit, risiko suku bunga, risiko nilai tukar dsb.
MANAJEMEN RISIKO 1
33 Latar Belakang Manajemen Risiko

3) Sensitivitas produk/aktivitas terhadap perubahan faktor­faktor ri­


siko yang memengaruhinya, baik dalam kondisi normal maupun
tidak normal. Sebagai contoh, berapa besar penurunan obligasi
milik bank apabila suku bunga pasar meningkat satu persen.
4) Kecenderungan perubahan faktor­faktor dimaksud berdasarkan
fluktuasi yang terjadi di masa lalu dengan memperhitungkan
faktor korelasi (volatilitas). Sebagai contoh, volatilitas nilai tukar
Rupiah terhadap USD.

Metode pengukuran risiko dapat dilakukan secara kuantitatif dan/


atau kualitatif. Metode pengukuran tersebut harus dipahami secara je­
las oleh pegawai terkait dalam pengendalian risiko, antara lain manajer
treasury, chief dealer, komite manajemen risiko, satuan kerja manaje­
men risiko, dan Direktur bidang terkait.

1.2.3 Pemantauan risiko

Pemantauan risiko dilakukan terhadap besarnya eksposur risiko, tole­


ransi risiko, kepatuhan limit internal, dan hasil stress testing maupun
konsistensi pelaksanaan dengan kebijakan dan prosedur yang di­
tetapkan.
Pemantauan dilakukan baik oleh unit pelaksana maupun oleh satu­
an kerja manajemen risiko. Hasil pemantauan disajikan dalam laporan
berkala terkait manajemen risiko yang disampaikan kepada manaje­
men dalam rangka mempertimbangkan melakukan upaya mitigasi risi­
ko dan tindakan yang diperlukan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

1.2.4 Pengendalian risiko

Pengendalian risiko adalah upaya untuk mengurangi atau menghilang­


kan risiko, disesuaikan dengan eksposur risiko dan tingkat risiko yang
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
34

akan diambil dan toleransi risiko bank. Pengendalian risiko dapat dila­
kukan antara lain dengan cara mekanisme lindung nilai, meminta ga­
ransi, melakukan sekuritisasi aset, menggunakan credit derivatives,
serta penambahan modal bank untuk menyerap potensi kerugian.

1.3 PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO


Dalam menerapkan manajemen risiko secara efektif, baik untuk bank
secara individual maupun untuk bank secara konsolidasi dengan per­
usahaan anak, bank melakukan minimal mencakup empat pilar, yaitu:
1) Melaksanakan tata kelola manajemen risiko bank sesuai praktik ter­
baik.
2) Menyediakan kerangka manajemen risiko bank yang memadai.
3) Mengupayakan kecukupan proses identifikasi, pengukuran, peman­
tauan, dan pengendalian risiko serta menyediakan sistem informasi
manajemen risiko secara memadai, dan menyediakan sumber daya
manusia yang dibutuhkan baik secara kuantitas maupun kualifikasi
sesuai kebutuhan.
4) Melaksanakan sistem pengendalian intern secara menyeluruh.

1.3.1 tata kelola Sistem Manajemen risiko

Prinsip tata kelola perusahaan bagi bank adalah seperangkat ketentuan


mengenai hubungan antara Dewan Komisaris, Dewan Direksi, seluruh
pihak yang memiliki kepentingan secara langsung atau tidak langsung
terhadap kegiatan usaha bank (stakeholders) dan pemegang saham
perusahaan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan, bank harus menerap­


kan prinsip­prinsip keterbukaan, akuntabilitas, pertanggungjawaban,
independensi dan kewajaran (PBI No. 8/4/PBI/2006 dan penyempurna­
an pada PBI No. 8/14/PBI/2006).
MANAJEMEN RISIKO 1
35 Latar Belakang Manajemen Risiko

Tata kelola sistem manajemen risiko akan berjalan baik apabila bank
sudah menerapkan batas risiko yang direncanakan diambil (risk appe-
tite) dan toleransi risiko (risk tolerance), dan menerapkan pengawasan
aktif dari Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan manajemen senior bank
lainnya.

1.3.1.1 Struktur tata kelola Perusahaan

Struktur tata kelola perusahaan di bank dapat bervariasi bergantung


pada kebiasaan yang berlaku, batasan hukum dan perkembangan se­
jarah, dan pengalaman tiap­tiap bank.
Meskipun tidak terdapat satu struktur yang ideal, terdapat isu­isu
penting yang harus diterapkan dalam rangka memastikan kecukupan
checks and balances yang terbangun dalam struktur, antara lain me­
liputi:
• Penetapan risk appetite dan toleransi risiko.
• Pengawasan aktif oleh Dewan Komisaris dan Direksi.
• Pengawasan oleh pihak yang tidak terlibat dalam menjalankan
operasional bisnis.
• Pengawasan langsung terhadap setiap aktivitas bisnis yang di­
laksanakan bank.
• Menyediakan fungsi manajemen risiko dan fungsi audit yang in­
dependen terhadap fungsi bisnis.
• Melakukan proses ‘fit and proper’ terhadap personal kunci sesuai
bidang pekerjaannya.
• Membuat laporan berkala mengenai pelaksanaan GCG.

1.3.1.1.1 Risk Appetite dan Risk Tolerance


www.facebook.com/indonesiapustaka

Tingkat risiko yang direncanakan akan diambil bank merupakan tingkat


dan jenis risiko yang bersedia diambil oleh bank dalam rangka menca­
pai tujuan dan sasaran bank. Tingkat risiko yang akan diambil tercermin
pada strategi dan sasaran bisnis bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
36

Toleransi risiko yang ditetapkan bank merupakan tingkat dan jenis


risiko yang maksimum dapat dikelola oleh bank. Toleransi risiko me­
rupakan penjabaran dari tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite).
Dalam menyusun kebijakan manajemen risiko, Direksi harus memberi­
kan arahan yang jelas mengenai tingkat risiko yang akan diambil bank,
dan besar dari toleransi risiko bank.
Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko harus diperha­
tikan dalam penyusunan kebijakan manajemen risiko, termasuk dalam
penetapan limit. Dalam menetapkan toleransi risiko, bank perlu mem­
pertimbangkan strategi dan tujuan bisnis bank serta kemampuan bank
dalam mengambil risiko (risk bearing capacity), yang ditentukan oleh
jumlah modal yang dimiliki bank.

1.3.1.1.2 Pengawasan Aktif atas Implementasi Manajemen Risiko


Dewan Komisaris dan Direksi bertanggungjawab atas efektivitas pe­
nerapan manajemen risiko di bank. Untuk itu Dewan Komisaris dan Di­
reksi harus:
• memahami risiko­risiko yang dihadapi bank.
• memberikan arahan yang jelas atas rencana bisnis bank.
• melakukan pengawasan dan mitigasi risiko secara aktif.
• mengembangkan budaya manajemen risiko di bank.
• memastikan tersedianya struktur organisasi yang memadai.
• menetapkan tugas dan tanggung jawab yang jelas pada ma­
sing­masing unit kerja.
• memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas SDM untuk men­
dukung penerapan manajemen risiko secara efektif.

1.3.2 kerangka Sistem Manajemen risiko


www.facebook.com/indonesiapustaka

Kerangka sistem manajemen risiko meliputi strategi pelaksanaan ma­


najemen risiko, sistem organisasi manajemen risiko, kecukupan kebi­
MANAJEMEN RISIKO 1
37 Latar Belakang Manajemen Risiko

jakan dan prosedur khususnya terkait manajemen risiko, dan penetap­


an limit dengan memerhatikan tingkat risk appetite.

1.3.2.2 Penetapan tujuan Strategis dan nilai­nilai Perusahaan

Bank perlu menetapkan tujuan strategis dan kode etik perusahaan yang
jelas, dan mengomunikasikan kebijakan tersebut kepada seluruh jajar­
an organisasi di bank, dan memastikan bahwa seluruh jajaran organi­
sasi sudah memahami tujuan yang ingin dicapai bank, dan mendukung
rencana tersebut. Bank yang tidak memiliki tujuan strategis akan me­
nemui kesulitan dalam mengelola aktivitas secara baik akibat adanya
penggunaan sumber daya yang tidak fokus.
Dengan menetapkan dan menerapkan kode etik perusahaan, bank
akan mampu menjalankan bisnis sesuai dengan nilai yang sudah di­
tetapkan secara jelas. Nilai­nilai perusahaan harus diterapkan di selu­
ruh unit yang ada di bank termasuk Direksi. Sebagai contoh, larangan
melakukan korupsi dan praktik suap baik dalam lingkungan internal
maupun eksternal. Nilai­nilai tersebut harus mendorong terciptanya pe­
laporan permasalahan secara tepat waktu. Nilai­nilai itu harus ditunjang
oleh kebijakan untuk mencegah situasi yang dapat memengaruhi ke­
berhasilan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik.
Kebijakan yang jelas akan memperkuat nilai­nilai bank dalam me­
ngatasi situasi seperti ini. Direksi harus memastikan bahwa perusahaan
memiliki sistem dan proses untuk memonitor dan melaporkan kepatuh­
an terhadap kebijakan tersebut.

1.3.2.3 Strategi Manajemen risiko


www.facebook.com/indonesiapustaka

Sistem kebijakan dan prosedur disusun untuk memastikan bahwa eks­


posur risiko bank dapat dikendalikan dengan baik sesuai kebijakan dan
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
38

prosedur intern bank, serta mematuhi peraturan perundang­undangan


dan ketentuan lain yang berlaku.

1.3.2.4 Wewenang dan tanggung jawab yang jelas

Agar pemantauan dan pengendalian aktivitas bank berjalan efektif, Di­


reksi harus menetapkan garis wewenang dan tanggung jawab yang je­
las untuk seluruh jajaran organisasi, termasuk juga tugas dan tanggung
jawab Direksi sendiri. Seluruh area aktivitas bisnis harus memiliki akun­
tabilitas yang jelas untuk memastikan bahwa setiap masalah mendapat
perhatian yang fokus dari manajemen.
Apabila bank memiliki aturan tingkat kewenangan yang jelas, garis
akuntabilitas yang jelas, bank dapat menciptakan kondisi lingkungan
yang stabil untuk pengelolaan operasional bank sehari­hari, dan me­
mungkinkan melakukan proses pengambilan keputusan secara efektif
dan efisien.

1.3.2.5 organisasi Manajemen risiko

Organisasi manajemen risiko wajib dibentuk pada level direksi dan pada
level komisaris yang disesuaikan dengan kompleksitas masing­masing
bank.

A. Organisasi Manajemen Risiko di bawah Dewan Komisaris


Organisasi manajemen risiko untuk membantu fungsi pengawasan
dari Komisaris minimal sebagai berikut:
1) Komite Pemantau Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

Komite Pemantau Risiko bertugas membantu Komisaris untuk


memantau seluruh proses manajemen risiko, meliputi proses
identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko
pada bank, serta memberikan saran perbaikan pada Direksi.
MANAJEMEN RISIKO 1
39 Latar Belakang Manajemen Risiko

2) Komite Audit
Komite Audit mengawasi kualitas kerja audit internal dan ekster­
nal, serta memastikan bahwa manajemen bank telah mengambil
tindakan perbaikan secara disiplin dan tepat waktu untuk mem­
perbaiki kelemahan pengendalian, ketidakpatuhan terhadap ke­
bijakan, hukum dan regulasi yang berlaku.
3) Komite Remunerasi
Komite remunerasi mengawasi pengaturan pemberian insentif
dan kompensasi bagi direksi, komisaris, dan pejabat eksekutif.
Selain itu, komite remunerasi juga wajib mengupayakan agar sis­
tem remunerasi tidak mendorong perilaku pegawai untuk meng­
abaikan risiko.

B. Organisasi Manajemen Risiko di bawah Dewan Direksi


Organisasi di bawah Dewan Direksi dibentuk untuk membantu pe­
laksanaan tugas Direksi sesuai kompleksitas bank, dan minimal se­
bagai berikut:
a. Komite Manajemen Risiko
Komite Manajemen Risiko adalah organisasi manajemen risiko
tertinggi di suatu bank, yang bertugas membahas dan memutus­
kan segala kegiatan terkait dengan manajemen risiko antara lain
kebijakan, prosedur, limit, dan risk appetite. Keanggotaan Komite
Manajemen Risiko dapat bersifat keanggotaan tetap dan tidak te­
tap sesuai dengan kebutuhan bank;
Di bawah Komite Manajemen Risiko, bank dapat membentuk
sub­komite sesuai kebutuhan, seperti Komite Pengelolaan Aktiva
Pasiva (ALCO), Komite Risiko Kredit, Komite Risiko Operasional
dsb.
Keanggotaan Komite Manajemen Risiko sekurang­kurangnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

terdiri dari mayoritas Direksi dan pejabat eksekutif terkait.


b. Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR)
Struktur organisasi SKMR disesuaikan dengan ukuran dan kom­
pleksitas usaha bank. Setiap bank dapat menentukan struktur
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
40

organisasi yang sesuai dengan kondisi, termasuk kemampuan


keuangan dan sumber daya manusia.
Bagi bank yang relatif besar dari sisi total aset dan memi­
liki tingkat kompleksitas usaha yang tinggi, struktur organisasi
SKMR harus mencerminkan karakteristik usaha bank dimaksud.
Bagi bank yang relatif kecil dari sisi total aset dan memiliki ting­
kat kompleksitas usaha yang rendah, bank dapat menunjuk se­
kelompok petugas dalam suatu unit/grup yang melaksanakan
fungsi SKMR.
Sesuai dengan ukuran dan kompleksitas usaha bank maka
posisi pejabat yang memimpin SKMR dapat setingkat atau tidak
setingkat dengan posisi pimpinan satuan kerja operasional. Na­
mun, yang bersangkutan tetap bertanggung jawab langsung ke­
pada Direktur Utama atau Direktur yang ditugaskan khusus mem­
bidangi manajemen risiko.
Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) harus independen
terhadap satuan kerja operasional (risk-taking unit) seperti unit
pemasaran kredit, unit treasury dan investasi, unit pendanaan,
akunting, dan terhadap satuan kerja yang melaksanakan fungsi
pengendalian intern (satuan kerja audit intern/SKAI).
c. Satuan Kerja Operasional
Satuan Kerja Operasional adalah satuan kerja yang menjalankan
aktivitas bisnis dan operasional, di luar satuan kerja manajemen
risiko, kepatuhan dan fungsi pengendalian internal. Sebagai
contoh, unit kerja kantor cabang, kantor wilayah, unit kerja pe­
masaran kredit dan sebagainya.
d. Satuan Kerja Audit Intern (SKAI)
Satuan Kerja Audit Intern adalah satuan kerja yang menjalankan
fungsi pengendalian internal, dan memastikan bahwa mana­
www.facebook.com/indonesiapustaka

jemen risiko telah diterapkan sesuai dengan ketentuan dan re­


gulasi yang ada. Satuan Kerja Audit Internal harus independen
terhadap Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Ope­
rasional bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
41 Latar Belakang Manajemen Risiko

e. Satuan Kerja Kepatuhan (Compliance)


Satuan Kerja Kepatuhan bertanggung jawab mendorong seluruh
jajaran organisasi mematuhi kebijakan dan prosedur yang sudah
ditetapkan oleh manajemen, dan mematuhi ketentuan ekstern
seperti Peraturan Bank Indonesia, undang­undang dan sebagai­
nya.

1.3.2.6 kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit

Kebijakan dan prosedur yang dimiliki bank harus didasarkan pada


strategi manajemen risiko, dan dilengkapi dengan toleransi risiko dan
limit risiko. Penetapan toleransi risiko dan limit risiko dilakukan dengan
memperhatikan tingkat risiko yang akan diambil, dan strategi bank se­
cara keseluruhan.

1.3.3 Proses Manajemen risiko

Bank harus mampu melaksanakan proses identifikasi, pengukuran, pe­


mantauan, dan pengendalian risiko sesuai dengan praktik terbaik. Un­
tuk maksud tersebut bank memerlukan dukungan infrastruktur antara
lain Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang baik dan Sumber Daya Ma­
nusia (SDM) yang cukup baik dari sisi jumlah dan kualifikasi pegawai.

1.3.3.1 Sistem informasi Manajemen risiko

Sebagai bagian dari proses manajemen risiko, sistem informasi mana­


www.facebook.com/indonesiapustaka

jemen risiko bank digunakan untuk mendukung pelaksanaan proses


identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian Risiko.
Untuk melaksanakan hal tersebut, diperlukan dukungan sistem in­
formasi manajemen yang dapat mendukung pembuatan laporan yang
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
42

akurat, informatif, relevan, lengkap, konsisten dan tepat waktu me­


ngenai kondisi keuangan bank, kinerja aktivitas fungsional dan ekspo­
sur risiko bank.

1.3.3.2 Sumber daya Manusia (SdM)

Direksi memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas SDM yang ada di


bank, dan memastikan SDM dimaksud memahami tugas dan tanggung
jawabnya. Pejabat dan staf yang ditempatkan pada masing­masing sa­
tuan kerja tersebut memiliki pemahaman mengenai risiko yang melekat
pada setiap produk/aktivitas bank; paham mengenai faktor­faktor risiko
yang relevan dan kondisi pasar yang memengaruhi produk/aktivitas
bank, serta mampu mengestimasi dampak dari perubahan faktor­faktor
tersebut terhadap kelangsungan usaha bank.
Direksi memastikan agar seluruh SDM memahami strategi, tingkat
risiko yang akan diambil dan toleransi risiko, dan kerangka manajemen
risiko yang telah ditetapkan Direksi dan disetujui oleh Dewan Komisaris
serta mengimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas yang di­
tangani.

1.3.4 Pengendalian intern dalam Penerapan Manajemen


risiko

Dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik, selain peran aktif
dari Dewan Komisaris dan Direksi, bank juga memerlukan peran auditor
internal dan eksternal.
Untuk memastikan seluruh jajaran organisasi melaksanakan ke­
www.facebook.com/indonesiapustaka

bijakan manajemen risiko yang sudah digariskan, bank memerlukan


suatu sistem pengendalian intern, yang dapat secara efektif mengawasi
pelaksanaan kegiatan usaha dan operasional pada seluruh jenjang or­
MANAJEMEN RISIKO 1
43 Latar Belakang Manajemen Risiko

ganisasi bank. Pelaksanaan sistem pengendalian intern mampu secara


tepat waktu mendeteksi kelemahan dan penyimpangan yang terjadi.
Fungsi utama dari auditor internal dan eksternal memastikan bahwa
seluruh aktivitas bank sudah dijalankan berdasarkan prinsip­prinsip
tata kelola perusahaan.
Agar peran auditor internal dan eksternal dapat berfungsi secara op­
timal, Direksi harus memahami tugas mereka, dan menempatkan me­
reka sebagai agen penting bagi bank. Proses yang dapat dikembangkan
oleh Direksi dalam melakukan hal tersebut antara lain:
• Memahami pentingnya proses audit dan mengkomunikasikan
kepada seluruh jajaran bank untuk mendukung proses audit ter­
sebut.
• Menetapkan ukuran kinerja petugas audit, dengan tujuan untuk
meningkatkan independensi dan status auditor.
• Memanfaatkan temuan audit dengan efektif dan tepat waktu de­
ngan melakukan tindak lanjut, disertai penentuan pihak pelak­
sana, dengan batas waktu yang jelas untuk perbaikan yang
harus dilakukan manajemen atas permasalahan yang sudah di­
identifikasi oleh auditor.
• Memastikan independensi kepala audit melalui garis pelaporan
langsung kepada Direktur Utama dan/atau Komite Audit.
• Melibatkan auditor eksternal untuk menilai efektivitas pengen­
dalian audit internal yang ada.
• Sistem pengendalian intern dalam penerapan manajemen risiko
pada aktivitas bank minimal mencakup:
• Kesesuaian antara sistem pengendalian intern dengan jenis dan
tingkat risiko yang melekat pada kegiatan usaha bank;
• Penetapan wewenang dan tanggung jawab untuk pemantauan
kepatuhan kebijakan, prosedur dan limit;
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Penetapan jalur pelaporan dan pemisahan fungsi yang jelas dari


satuan kerja operasional kepada satuan kerja yang melaksana­
kan fungsi pengendalian;
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
44

• Struktur organisasi yang menggambarkan secara jelas kegiatan


usaha bank, wewenang dan tanggung jawab.
• Pelaporan masalah kondisi keuangan serta kegiatan operasional
bank yang akurat dan tepat waktu;
• Kecukupan kebijakan dan prosedur untuk memastikan kepatuh­
an bank terhadap ketentuan dan perundang­undangan yang ber­
laku;
• Proses kaji ulang yang efektif, independen dan objektif terhadap
prosedur penilaian kegiatan operasional bank;
• Pengujian dan proses kaji ulang yang memadai terhadap sistem
informasi manajemen;
• Dokumentasi secara lengkap dan memadai terhadap cakupan,
prosedur operasional, temuan audit, serta tanggapan pengurus
bank berdasarkan hasil audit;
• Verifikasi dan review secara berkala dan berkesinambungan
terhadap penanganan kelemahan­kelemahan bank yang ber­
sifat material dan tindakan pengurus bank untuk memperbaiki
penyimpangan­penyimpangan yang terjadi.

1.4 ENTERPRISE RISK MANAGEMENT (ERM)


Agar dapat menghasilkan nilai tambah, bank perlu tumbuh dan meng­
hasilkan keuntungan sesuai target. Untuk itu, unit bisnis bersama unit
manajemen risiko, kepatuhan dan unit audit secara bersama melaku­
kan tugas masing­masing sehingga secara keseluruhan bank dapat
tumbuh secara sehat. Kegiatan ketika unit manajemen risiko bekerja
sama dengan bisnis dan audit menciptakan sistem bank yang sehat di­
sebut dengan ERM.
www.facebook.com/indonesiapustaka

ERM menjadi dasar untuk mengukur kinerja bank sesuai risiko yang
diambil. Ukuran penilaian kinerja bank secara tradisional menggunakan
pencapaian laba bank atau ROE *Return on Equity). Dalam rangka ERM,
MANAJEMEN RISIKO 1
45 Latar Belakang Manajemen Risiko

penilaian kinerja yang sering digunakan adalah Return on Risk Adjusted


Capital (RORAC) dan/atau Economic Value Added (EVA). Kedua metriks
tersebut memerlukan nilai modal atau risk capital, yang dapat menggu­
nakan regulatory capital (modal sesuai perhitungan formula yang dite­
tapkan oleh regulator) ataupun economic capital (jumlah modal yang
dihitung sesuai formula yang dikembangkan oleh bank sendiri).
Konsep dasar dari ERM adalah bahwa unit kerja dalam melakukan
bisnis mengandung risiko. Semakin besar risiko, peluang laba akan se­
makin besar, namun modal yang diperlukan untuk menutup risiko se­
makin besar. Apabila modal yang dibutuhkan semakin besar, maka unit
kerja tersebut memerlukan penghasilan yang lebih besar agar dapat
menghasilkan RORAC atau EVA yang sesuai harapan pemegang saham,
yaitu nilai RORAC lebih besar dari hurdle rate sesuai kebijakan bank,
atau memperoleh nilai EVA yang positif. Bank juga dinilai sudah mencip­
takan nilai apabila nilai RORAC atau EVA membaik dibandingkan dengan
periode sebelumnya.
Oleh karena itu, untuk menghasilkan nilai tambah, bank memerlukan
kombinasi dari strategi bisnis yang baik, dan pengendalian risiko yang
pruden, sehingga menghasilkan nilai perusahaan yang sustainable.

1.4.1 erM dan Value Based Strategic Planning

Dengan nilai RORAC atau EVA, bank dapat mengetahui unit bisnis yang
paling memberikan nilai tambah bagi bank. Selain itu, apabila ditelusuri
lebih jauh, bank juga dapat mengidentifikasi produk atau jasa mana
yang paling banyak memberikan nilai tambah bagi bank. Selanjutnya
bank juga dapat merinci, daerah kerja mana yang memberikan nilai tam­
bah paling besar bagi bank.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dengan informasi seperti ini, bank dapat lebih fokus mengarahkan


strategi untuk mempercepat pertumbuhan bisnis atau produk yang
MANAJEMEN RISIKO 1
Latar Belakang Manajemen Risiko
46

paling memberikan nilai tambah bagi bank. Dengan demikian, terlihat


bahwa manajemen risiko berperan sangat penting untuk mengarahkan
bank melaksanakan strategi pada arah yang benar, untuk menciptakan
nilai bagi pemegang saham.

1.5 SISTEM MANAJEMEN RISIKO SESUAI


PERATURAN BANK INDONESIA
Keseluruhan pengelolaan risiko seperti diuraikan padabagian sebelum­
nyadiuraikan secara lengkap pada Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/
PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum seba­
gaimana telah diubah dengan No. 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan
Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 Tentang Penerapan
Manajemen Risiko Bagi Bank Umum (Lampiran 1).
Uraian rinci dari PBI tersebut diatas terdapat pada SEBI No. 13/23/
DPNP tanggal 25 Oktober 2011 Perihal Perubahan atas Surat Edaran
No. 5/21/DPNP perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum
(Lampiran 2).

Contoh Pertanyaan Bab i (jawaban di bagian belakang buku ini)

1. Mana dari pernyataan di bawah ini yang bukan merupakan tujuan


dari pelaksanaan API (Arsitektur Perbankan Indonesia):
a. Menciptakan struktur perbankan yang sehat
b. Menciptakan sistem pengukuran yang efektif
c. Mencegah dominasi pemilikan asing pada bank nasional
d. Menciptakan struktur perbankan yang kuat
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
47 Latar Belakang Manajemen Risiko

2. Tujuan utama dari bisnis perbankan adalah:


a. Memeroleh laba.
b. Memberikan pelayanan prima pada nasabah.
c. Memberikan balas jasa yang pantas pada pegawai.
d. Memeroleh nilai tambah bagi stake-holders.

3. Yang tidak termasuk dalam definisi risiko sesuai Peraturan Bank In­
donesia adalah:
a. Risiko Pasar
b. Risiko Kredit
c. Risiko Bisnis
d. Risiko Reputasi

4. Bank mempunyai debitur macet, namun tidak dapat mengeksekusi


agunan karena pengikatan agunan berupa tanah tidak ditandata­
ngani oleh pemilik sehingga pengikatan menjadi tidak sempurna.
Potensi kerugian bank karena hal tersebut di atas termasuk dalam
kategori:
a. Risiko Kredit
b. Risiko Hukum
c. Risiko Agunan
d. Risiko Strategik

5. Untuk membantu Dewan Komisaris menjalankan fungsi peng­


awasan, bank membentuk komite yang disebut dengan:
a. Komite Manajemen Risiko
b. Komite Aset dan Liability
c. Komite Teknologi Informasi
d. Komite Pemantau Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka
2
REGULASI
PERBANKAN
TERKAIT
MANAJEMEN
RISIKO
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
50

GAMBARAN UMUM
Regulasi perbankan terkait manajemen risiko memberikan informasi
mengenai ketentuan yang perlu dipatuhi oleh perbankan dalam melak­
sanakan aktivitas perbankan. Kebutuhan Penyediaan Modal Minimum
(KPMM) merupakan ketentuan yang sentral pada industri perbankan,
dalam rangka memelihara kestabilan industri perbankan.
Peraturan perbankan di Indonesia, seperti juga perbankan pada ne­
gara lainnya mengacu pada ketentuan yang ditetapkan oleh Basel Com­
mittee, yang secara periodik mengeluarkan dan memperbaharui keten­
tuan yang perlu dipahami oleh industri perbankan.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah selesai melakukan pembahasan pada bab ini, maka para pem­
baca akan:
• Memahami fungsi utama modal pada perbankan.
• Memahami kerangka dasar dari Basel I, Basel II dan Basel III.
• Memahami peraturan Bank Indonesia khususnya menyangkut
manajemen risiko untuk Bank Umum.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
51 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

2.1 FUNGSI MODAL PADA BANK


Aktivitas utama bank adalah mengumpulkan dana masyarakat, kemu­
dian menyalurkan dana tersebut pada pihak yang membutuhkan dana
antara lain pengusaha yang ingin membangun fasilitas usaha. Oleh ka­
rena itu, penting bagi regulator memelihara kepercayaan masyarakat
pada industri perbankan, karena tanpa dana masyarakat, industri per­
bankan sulit untuk tumbuh secara baik dan sehat.
Dalam menyalurkan dana masyarakat menjadi kredit, bank dapat
saja mengalami kerugian. Untuk menutup potensi kerugian akibat risiko
kredit, bank menetapkan cadangan kredit macet yang disebut dengan
CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai). Kerugian pada perkreditan
akan mengurangi modal bank. Apabila kerugian bank cukup besar se­
hingga modal bank tidak mencukupi menutup kerugian, maka dana ma­
syarakat berpotensi tidak dapat dikembalikan bank. Apabila dana ma­
syarakat tidak dikembalikan, maka masyarakat tidak akan lagi percaya
lagi bahwa perbankan akan melindungi uang yang disimpan pada bank.
Sebagai contoh, bank memiliki aset berupa kredit dengan nilai buku
Rp100 miliar; dana masyarakat (DPK) dengan nilai Rp90 miliar, dan mo­
dal bank Rp10 miliar.
Neraca (Rp milyar)
Akva Passiva
Kredit 100 DPK 90
Modal 10
Total Akva 100 Total Passiva 100

Apabila sebagian kredit bank mengalami permasalahan misalnya


menyebabkan kerugian bank sebesar 5 miliar, maka aktiva dan modal
www.facebook.com/indonesiapustaka

bank akan berkurang Rp 5 miliar, sehingga modal bank menjadi Rp 5


miliar, dan dana masyarakat belum terganggu. Maka neraca bank akan
menjadi sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
52

Neraca (Rp milyar)


Akva Passiva
Kredit 95 DPK 90
Modal 5
Total Akva 95 Total Passiva 95

Apabila kredit bank yang macet bertambah lagi sehingga bank meng­
alami kerugian lagi sebesar Rp 7 miliar, maka modal bank yang sebesar
Rp 5 miliar tidak akan mencukupi untuk menutup kerugian, sehingga
dana masyarakat yang tidak dapat dibayar bank sebesar Rp 2 miliar,
dan neraca bank akan menjadi sebagai berikut:
Neraca (Rp milyar)
Akva Passiva
Kredit 88 DPK 88
Modal -
Total Akva 88 Total Passiva 88

Untuk melindungi dana masyarakat, regulator mengatur bahwa bank


harus menjaga tingkat modal minimum sebesar minimal 8% dari ATMR
(Aktiva Tertimbang Menurut Risiko) dan tambahan modal “add on” se­
suai kebijakan regulasi yang berlaku. Regulator dapat melakukan penu­
tupan bank apabila tingkat modal yang dimiliki bank berada di bawah
tingkat minimum yang ditetapkan agar penyimpan dana dapat terlin­
dungi.

2.2 BASEL COMMITTEE ON BANKING


SUPERVISION (BCBS)
Agar regulator di setiap negara tidak membuat aturan sendiri­sendiri
www.facebook.com/indonesiapustaka

maka regulator di berbagai negara membentuk kerja sama antarbank


sentral dunia, dibentuk pada 1930, yang menjadi embrio terbentuk­
nya The Bank for International Settlement (BIS), yang berkantor di Kota
Basel, negara Swiss.
MANAJEMEN RISIKO 1
53 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) yang dibentuk


pada 1974 oleh para Gubernur bank sentral dari negara­negara yang
tergabung dalam Group of Ten (G 10) bertujuan menyusun dan mene­
tapkan berbagai standar aturan bagi industri perbankan, agar perbank­
an yang beroperasi secara internasional mempunyai aturan yang se­
ragam.
Keanggotaan Basel Committee pada awalnya terdiri dari sepuluh
negara G­10 ditambah dengan Spanyol dan Luxemburg. Selanjutnya,
negara­negara anggota Basel Committee tersebut terus bertambah,
dan saat ini jumlah anggota komite terdiri atas 25 negara meliputi
Argentina, Australia, Belgia, Brazil, China, Perancis, Hong Kong SAR,
India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea, Luxemburg, Meksiko, Belanda,
Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Swiss,
Turki, Inggris dan Amerika Serikat. Keanggotaan negara­negara tersebut
direpresentasikan dengan kehadiran bank sentral dan pengawas bank
pada negara anggota pada acara rapat berkala komite.
Dua tujuan fundamental dari ketentuan Basel I tahun 1988 yang di­
tetapkan oleh Basel Committee adalah sebagai berikut:
• Memperkuat kerangka dasar dan stabilitas atas sistem perbank­
an internasional.
• Menciptakan kerangka dasar yang konsisten dan tidak memihak
bagi bank­bank di berbagai negara dengan sumber daya berbe­
da, yang aktif menjalankan kegiatan operasional perbankan se­
cara internasional.

Kerangka dasar tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dalam


mengurangi kesenjangan daya saing antar bank­bank yang menjalan­
kan kegiatan secara internasional.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
54

2.2.1 Basel i tahun 1988

Pada 1988 BCBS mengeluarkan suatu ketentuan permodalan yang le­


bih dikenal dengan the 1988 Accord (Basel I). Basel I mengatur bahwa
bank harus menyediakan modal untuk menutup risiko kredit dengan
mensyaratkan standar modal minimum 8% dari aktiva tertimbang me­
nurut risiko (ATMR).
Eksposur kepada nasabah dengan segmen yang sama (seperti eks­
posur kepada semua nasabah komersial) akan memiliki persyaratan
modal yang sama, tanpa memerhatikan perbedaan pada besar kredit,
kemampuan pembayaran kredit ataupun risiko yang dimiliki oleh ma­
sing­masing individu nasabah.

2.2.2 Amendment Basel i tahun 1996 (Basel 1.5)

Sejalan dengan perkembangan instrumen keuangan dan usaha bank


yang semakin kompleks, aktivitas bank dapat terekspos terhadap ri­
siko pasar. Untuk itu, diperlukan penyediaan modal yang cukup untuk
mengkaver potensi kerugian akibat risiko pasar.
Pada 1996, BCBS melakukan amandemen terhadap Basel I, yang di­
sebut juga dengan Basel 1.5, yang selain risiko kredit, sekarang bank
juga perlu menyediakan modal untuk menutup risiko pasar posisi
trading book, yaitu posisi bank yang dimaksudkan untuk tujuan diper­
dagangkan untuk memeroleh laba. Di samping itu, Basel 1.5 juga me­
nambahkan komponen neraca yang dapat dimasukkan sebagai modal
bank, yaitu modal pelengkap tambahan (Tier 3) yang dapat digunakan
hanya untuk menutup risiko pasar.
Perhitungan risiko pasar dalam kebutuhan permodalan bank dapat
www.facebook.com/indonesiapustaka

dilakukan dengan metode standar (standard method), atau mengguna­


kan model internal (internal model).
MANAJEMEN RISIKO 1
55 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

2.2.3 Basel ii tahun 2004

Setelah terjadi krisis keuangan Asia pada 1998, BCBS menyempurna­


kan kerangka permodalan pada Basel I, dan mengeluarkan konsep per­
hitungan kebutuhan modal yang lebih dikenal dengan Basel II. Basel II
dibuat berdasarkan struktur dasar Basel I, namun memberikan kerang­
ka perhitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko. Selain
itu, Basel II juga memberikan insentif terhadap peningkatan kualitas pe­
nerapan manajemen risiko di bank.
Apabila pada Basel I, bank harus menyediakan kecukupan modal
untuk menutup risiko kredit dan risiko pasar, maka pada Basel II, ke­
butuhan modal ditambah dengan kebutuhan modal untuk menutup ri­
siko operasional. Selain itu, Basel II juga memperkenalkan konsep baru
yang disebut dengan sistem 3 Pilar, yaitu (1) kecukupan penyediaan
modal minimum; (2) proses pengawasan implementasi manajemen ri­
siko bank; dan (3) disiplin pasar atau ketentuan mengenai keterbukaan
informasi, sebagai berikut:

2.2.3.1 Pilar 1

Pilar 1 Basel II merupakan pengembangan dari Basel I tahun 1988, yang


mengatur tentang perhitungan modal minimum untuk menutup risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

kredit, risiko pasar, dan risiko operasional. Perhitungan modal untuk


menutup risiko operasional merupakan tambahan yang sebelumnya ti­
dak dibahas dalam Basel I. Perhitungan kecukupan modal untuk menu­
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
56

tup risiko pasar hanya mencakup portofolio trading book, dengan cara
perhitungan tetap sama dengan Basel I Market Risk Amendment tahun
1996 (Basel 1.5).

2.2.3.2 Pilar 2

Pilar 2 dari Basel II berisi proses review dari pengawas bank atau regulator
atas metode pengukuran internal yang dilaksanakan oleh bank, untuk
menentukan kecukupan modal bank menutup risiko kredit, pasar, dan
operasional. Di samping itu, Pilar 2 juga mengatur risiko dan kebutuhan
modal yang tidak termasuk dalam pilar 1 seperti risiko suku bunga pada
portofolio banking book, risiko konsentrasi kredit, implementasi mana­
jemen risiko bank atas pengelolaan risiko likuiditas, risiko reputasi dan
risiko lainnya, serta ketentuan mengenai pelaksanaan stress test agar
bank mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi krisis.
Review dari pengawas bank tersebut dimaksudkan agar bank lebih
fokus pada kebutuhan modal di atas kebutuhan minimal yang dibu­
tuhkan sesuai dengan ketentuan Basel I, serta agar bank melakukan
tindakan awal yang diperlukan untuk mencegah agar modal bank tidak
jatuh di bawah kebutuhan minimal.

2.2.3.3 Pilar 3

Pilar 3 merupakan ketentuan keterbukaan bank dalam menguraikan


mekanisme governance internal dan eksternal. Pilar 3 mencakup ke­
butuhan atas public disclosure yang harus dilaksanakan bank. Hal ter­
sebut disusun untuk membantu pemegang saham, analisis pasar dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

masyarakat dalam menilai praktik implementasi manajemen risiko


pada bank, dan meningkatkan transparansi khususnya dalam hal kuali­
tas portofolio aset bank, dan kondisi profil risiko bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
57 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

2.2.4 Perbandingan antara Basel i dan Basel ii

Perbandingan antara Basel I dan Basel II adalah sebagai berikut.

1. Basel I
• Fokus pada pengukuran risiko kredit dan risiko pasar trading book.
• Pendekatan perhitungan kebutuhan modal untuk menutup risiko
kredit relatif sederhana, dan dinilai kurang sensitif terhadap risiko.
Sebagai contoh, bobot risiko untuk semua kredit komersial akan
sama walaupun mempunyai eksposur berbeda, dan mempunyai
kualitas kredit yang berbeda.
• Menggunakan satu ukuran untuk semua risiko yang dihadapi bank,
dan kebutuhan modal yang sama digunakan untuk berbagai jenis
dan ukuran bank.

2. Basel II
• Fokus diperluas menjadi risiko kredit, risiko pasar, dan risiko ope­
rasional.
• Fokus pada metode internal pada pengukuran risiko, walau­
pun tetap menyediakan metode perhitungan dengan metode
standar.
• Pendekatan internal memang lebih kompleks, namun memiliki
tingkat sensitivitas yang lebih tinggi terhadap risiko.
• Penggunaan metode internal bersifat fleksibel dan dilakukan se­
suai dengan kebutuhan bank.

2.2.5 Basel 2.5


www.facebook.com/indonesiapustaka

Setelah terjadi krisis global pada 2008­2009 yang disebabkan terutama


oleh produk sub-prime mortgage dan turunannya, BCBS menilai bahwa
modal yang dipersyaratkan pada Basel II perlu diperbarui. BCBS mene­
tapkan perubahan atas metode menghitung ATMR untuk risiko pasar se­
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
58

hingga lebih mencerminkan potensi risiko pasar pada saat terjadi krisis
keuangan global.
Selain itu, Basel juga menilai stress testing yang dilakukan bank se­
lama ini dipandang belum memadai sehingga banyak bank mengalami
permasalahan dalam menghadapi kondisi krisis. Oleh karena itu, BCBS
memutuskan untuk memperbarui Basel II dalam sejumlah ketentuan
baru yang disebut dengan Basel II.5.

2.2.6 introduksi Basel iii

Pada Basel III, sistem tiga pilar pada Basel II tetap berlaku, ditambah de­
ngan sejumlah peraturan baru yang pada umumnya untuk menghadapi
kondisi krisis.
Sebagai langkah perbaikan setelah terjadi krisis keuangan global ta­
hun 2008, Basel III diterbitkan dengan fokus pada:
1) Perubahan pada permodalan, yaitu:
a. perubahan definisi modal yang lebih fokus pada modal inti
(core capital);
b. kewajiban menyediakan tambahan modal inti sebagai buffer
atau cadangan modal;
c. ketentuan baru mengenai Leverage Ratio;
2) Memperluas cakupan risiko pasar, yaitu mengubah/menambah­
kan metode perhitungan kebutuhan modal untuk menutup risiko
pasar trading book secara internal, dan
3) Ketentuan mengenai pengendalian risiko likuiditas bank, yai­
tu Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio
(NSFR).
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sebagai anggota G20, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank


Indonesia No. 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum Bank Umum tanggal 12 Desember 2013, mencakup sebagian
dari ketentuan Basel III, yaitu definisi modal, dan kewajiban menyedia­
MANAJEMEN RISIKO 1
59 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

kan tambahan modal sebagai buffer atau cadangan modal bank. Selan­
jutnya, OJK akan menerbitkan ketentuan mengenai ketentuan Basel III
lainnya seperti leverage ratio, LCR dan NSFR.

2.2.6.1 definisi Modal

Pada Basel II, yang dapat diperhitungkan sebagai modal bank pada per­
hitungan KPMM adalah modal Tier 1, modal Tier 2 dan modal Tier 3, di­
mana modal Tier 2 dapat digunakan maksimum 50% dari total modal Tier
1 dan Tier 2.
Pada Basel 3, Tier 3 tidak lagi diakui sebagai komponen modal, dan
modal Tier 2 menjadi maksimum 25% dari total modal Tier 1 dan Tier 2.
Dengan peraturan baru ini maka jumlah modal yang dapat diguna­
kan pada umumnya lebih kecil apabila dibandingkan dengan jumlah
modal yang dapat digunakan pada Basel II.

2.2.6.2 Perhitungan AtMr risiko Pasar

Basel III dikeluarkan sebagai reaksi atas permasalahan yang terjadi


pada industri perbankan yang memiliki banyak posisi derivatif dengan
aset dasar sub-prime mortgage, ketika bank harus menambah ATMR un­
tuk risiko pasar sehingga memerlukan modal yang lebih besar apabila
dibandingkan dengan modal yang diperlukan sesuai dengan regulasi
pada Basel II.

2.2.6.3 kPMM lebih besar dari 8%


www.facebook.com/indonesiapustaka

Pada Basel II, Kebutuhan modal minimum adalah 8% dari ATMR. Pada
Basel III, bank diwajibkan menambah modal dengan modal Tier 1 yang
disebut dengan capital conservation buffer sebesar 2.5%, sehingga to­
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
60

tal modal minimum menjadi 10.5%. Buffer ini diperlukan agar pada saat
terjadi krisis, bank diharapkan dapat bertahan sekitar 3 bulan. Sesuai
ketentuan Bank Indonesia, ketentuan ini hanya diberlakukan bagi bank
dengan modal diatas Rp 5 triliun.
Selain itu, pada saat kondisi ekonomi sedang dalam keadaan baik
dan kredit tumbuh pesat, bank diwajibkan menambah modal yang di­
sebut: counter cyclical buffer dari modal tier 1 sebesar 0% ­ 2.5% untuk
digunakan pada saat ekonomi sedang dalam kondisi buruk. Sesuai ke­
tentuan Bank Indonesia, ketentuan ini diberlakukan bagi semua bank.
Sebagai tambahan, untuk bank yang ditetapkan sebagai bank sis­
temik (D­SIB: Domestic systemic Important banks), maka bank harus
menambah modal tier 1 sebesar 1% ­ 2.5%.

2.2.6.4 Leverage ratio

Leverage Ratio merupakan rasio yang baru pada Basel III. Untuk me­
nentukan Leverage Ratio, bank membagi modal Tier 1 dengan Jumlah
total aset bank baik on balance sheet maupun off balance sheet (tidak
diberikan bobot risiko). Leverage Ratio ditetapkan minimal 3%.

2.2.6.5 Liquidity ratio

Liquidity ratio yang terdiri dari LCR (Liquidity Coverage Ratio), atau rasio
jangka pendek; dan NSFR (Net stable funding ratio) yang merupakan ca­
dangan likuiditas Jangka panjang. Kedua rasio tersebut minimal 100%.
LCR adalah jumlah aset likuid dibagi dengan net cash out flow sela­
ma 30 hari pada saat terjadi krisis. NSFR adalah jumlah dana yang di­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nilai stabil dibagi dengan kebutuhan dana stabil. Basel III memberikan
secara rinci definisi dari parameter yang digunakan pada formula LCR
dan NSFR.
MANAJEMEN RISIKO 1
61 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

2.3 PERATURAN BANK INDONESIA


Implementasi manajemen risiko diatur dngan PBI No. 15/12/13 tanggal
12 Desember 2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum,
dan SEBI 14/37/DPNP tanggal 27 Desember 2012 tentang Kwajiban Pe­
nyediaan Modal Minimum (KPMM) sesuai profil risiko dan pemenuhan
Capital Equivalency Maintained Assets (CEMA).
KPMM bank tergantung nilai rating profil risiko (net risk rating) se­
bagai berikut:
Net Risk Rang Minimum CAR
1 8%
2 9% - <10%
3 10% - <11%
4 11% - <14%
5 11% - <14%

KPMM adalah jumlah modal dibagi dengan ATMR (Aktiva Tertimbang


Menurut Risiko). Definisi modal bank adalah: modal inti (Tier 1), modal
pelengkap (Tier 2), dan modal pelengkap tambahan (Tier 3).
ATMR adalah untuk menutup risiko kredit, risiko pasar, dan risiko
operasional. Kebutuhan modal untuk menutup risiko kredit dapat meng­
gunakan model standar, atau Internal Rating Based (IRB) dengan per­
setujuan Bank Indonesia. Kebutuhan modal untuk risiko operasional
dapat menggunakan metode Pendekatan Indikator Dasar atau Basic
Indicator Approach (BIA). Bank juga dapat menggunakan metode Stan-
dardized Approach (SA), atau Advance Measurement Approach (AMA)
dengan persetujuan Bank Indonesia. Untuk kebutuhan modal untuk
risiko pasar, bank dapat menggunakan model standar. Apabila bank
www.facebook.com/indonesiapustaka

menggunakan model internal maka harus memperoleh persetujuan


Bank Indonesia terlebih dahulu.
Bank harus menyusun laporan ICAAP (Internal Capital Adequacy
Assessment Process) secara self- assessment, minimal mencakup (1)
MANAJEMEN RISIKO 1
Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko
62

pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi; (2) penilaian kecu­


kupan modal; (3) pemantauan dan pelaporan; dan (4) pengendalian
internal.
Kebutuhan Capital Conservation Buffer seperti diatur pada Basel
III hanya diperuntukkan bagi bank pada kelompok BUKU 3 dan BUKU
44. Yaitu bank, dengan modal di atas Rp 5 triliun. Kebutuhan Counter
Cyclical Buffer berlaku bagi semua kategori bank. Kebutuhan modal
untuk bank sistemik (D­SIB: Domestic systemic Important banks) dite­
tapkan bagi bank yang dinilai sistemik oleh regulator sebesar 1%–2.5%.
Dengan demikian, KPMM bank akan menjadi 10.5%, dan dapat
menjadi minimum 13% untuk bank BUKU 3 dan BUKU 4 pada saat per­
tumbuhan kredit tinggi (pada saat ekonomi membaik), dan sebesar
15.5% untuk bank yang tergolong sistemik (D­SIB).
www.facebook.com/indonesiapustaka

4
BUKU adalah bank umum berdasarkan kegiatan usaha sesuai BI nomor 14/26/PBI/2012
MANAJEMEN RISIKO 1
63 Regulasi Perbankan Terkait Manajemen Risiko

Contoh Pertanyaan Bab 2 (jawaban di bagian belakang buku ini)

1. Salah satu kelebihan Basel II dibandingkan dengan Basel I adalah:


a. Basel II memperhitungkan modal untuk risiko pasar
b. Basel I lebih sensitif terhadap risiko
c. Basel II lebih mudah dalam melakukan perhitungan
d. Basel II memperhitungkan modal untuk risiko operasional

2. Fungsi utama dari modal pada perbankan adalah:


a. Sebagai sumber dana untuk memberikan kredit
b. Sebagai modal kerja bank
c. Untuk membiayai biaya umum dan administrasi
d. Untuk menutup kerugian akibat risiko

3. Perbaikan Basel I bahwa bank harus menyediakan modal untuk me­


nutup risiko pasar dengan metode:
a. Internal Rating Based Foundation
b. Standard Model
c. Basic Indicator Approach
d. Advance Measurement Approach

4. Pilar 1 pada Basel II mengatur perhitungan modal untuk menutup:


a. Risiko likuiditas
b. Risiko reputasi
c. Risiko konsentrasi kredit
d. Risiko operasional

5. Salah satu ketentuan yang diatur pada Basel III adalah bahwa bank
harus:
www.facebook.com/indonesiapustaka

a. Menyediakan modal untuk menutup risiko kredit


b. Menyediakan modal untuk menutup risiko operasional
c. Memenuhi ketentuan rasio likuiditas
d. Menurunkan tingkat kredit bermasalah (non-performing loan)
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka

3
RISIKO KREDIT
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
66

GAMBARAN UMUM
Pada umumnya, bisnis kredit masih menjadi sumber utama pendapatan
bank­bank di Indonesia. Dalam bagian ini akan dijelaskan mengenai ba­
gaimana mengidentifikasi risiko kredit dan dilanjutkan dengan pengen­
dalian risiko kredit mulai dari proses pencarian nasabah sampai dengan
kredit dilunasi. Dijelaskan bagaimana para analisis kredit mengelola ri­
siko sesuai dengan peran mereka dalam mencapai tujuan bank sampai
dengan peran para petugas restrukturisasi kredit bermasalah.

TUJUAN PEMBELAJARAN:
Dengan selesainya pembahasan bab ini, pembaca diharapkan:
• Memahami risiko kredit dan mengidentifikasi risiko tersebut.
• Memahami jenis­jenis risiko kredit.
• Memahami berbagai kebijakan dan prosedur perkreditan.
• Memahami proses kredit dan peran berbagai fungsi bidang per­
kreditan.
• Mengetahui peran rating kredit.
• Memahami langkah­langkah di dalam menganalisis pemberian kre­
dit sesuai kaidah 5C dan analisis kredit sebagai salah satu langkah
pengelolaan risiko kredit.
• Memahami penyebab kredit bermasalah dan strategi penanganan­
nya.
• Mengetahui ketentuan Basel tentang berbagai perhitungan ke­
butuhan modal untuk menutup risiko kredit dengan pendekatan
standar.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Mengetahui parameter metode perhitungan kebutuhan modal de­


ngan Internal Rating Based.
MANAJEMEN RISIKO 1
67 Risiko Kredit

3.1 PEMAHAMAN RISIKO KREDIT


Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain
dalam memenuhi kewajiban melunasi kredit pada bank. Pada aktivitas
pemberian kredit, baik kredit komersial maupun kredit konsumsi, ter­
dapat kemungkinan debitur tidak dapat memenuhi kewajiban kepada
bank karena berbagai alasan, seperti kegagalan bisnis, karena karakter
dari debitur yang tidak mempunyai iktikad baik untuk memenuhi kewa­
jiban kepada bank, atau memang terdapat kesalahan dari pihak bank
dalam proses persetujuan kredit.
Risiko kredit juga terdapat pada aktivitas treasury. Risiko kredit pada
aktivitas treasury antara lain terdapat pada aktivitas penempatan dana
kepada bank lain. Pada umumnya, limit penempatan kepada bank lain
bersifat clean, artinya tidak mensyaratkan penyerahan agunan dari
bank yang menerima penyimpanan dana. Dengan demikian, terdapat
risiko kredit apabila bank penerima dana tidak dapat memenuhi kewa­
jiban kepada bank pemberi dana, yaitu mengembalikan dana tersebut
pada saat jatuh tempo.
Penentuan besarnya risiko kredit atau lebih dikenal dengan peng­
ukuran risiko kredit baik pada kredit komersial maupun kredit konsumsi
dilakukan dengan pendekatan berbeda. Pendekatan pengukuran indi­
vidual (transaksional) lebih umum dilakukan pada kredit korporasi dan
komersial, antara lain dengan menggunakan sistem rating. Sementara,
pada kredit konsumsi, untuk mengukur besarnya risiko kredit pada
umumnya dilakukan pendekatan portofolio.
Pada saat ini aktiva produktif perbankan nasional lebih didominasi
oleh kredit yang diberikan, sementara sumber dana bank terutama
berasal dari dana pihak ketiga. Apabila terjadi peningkatan risiko kredit
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang signifikan terhadap bank maka bank tersebut dapat mengalami


gangguan kemampuan membayar kepada sumber dana. Apabila ini ter­
jadi, maka kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana mereka di
bank dapat berkurang.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
68

3.2 KATEGORI KREDIT


Identifikasi risiko kredit dimulai dari proses untuk melakukan aktivitas
kredit, kemudian mengidentifikasi faktor yang dapat memicu terjadinya
potensi risiko kredit. Oleh sebab itu, untuk dapat melakukan identifikasi
risiko kredit, terlebih dahulu perlu diketahui berbagai jenis produk per­
kreditan yang umum diberikan oleh perbankan.
Jenis kredit yang dapat diberikan bank mempunyai beraneka ragam
bentuk. Secara umum, jenis kredit bank dapat diklasifikasikan menurut:
1. Jenis aktiva,
2. Kegunaan kredit tersebut dalam usaha debitur,
3. Tujuan kredit,
4. Jangka waktu,
5. Jenis dana yang diberikan (tunai atau non­tunai),
6. Jenis valuta kredit.

3.2.1 Berdasarkan jenis Aktiva

Pertimbangan utama dalam penentuan struktur kredit adalah jenis ak­


tiva yang dibiayai (aktiva lancar atau aktiva tetap). Aktiva suatu per­
usahaan secara umum dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
Aktiva tetap adalah aktiva yang tidak habis dipakai dalam satu siklus
produksi. Aktiva tetap adalah investasi jangka panjang yang dapat di­
biayai dengan modal sendiri, atau dengan digabungkan dengan pinjam­
an jangka panjang.
Aktiva lancar permanen adalah sejumlah aktiva lancar yang harus
tetap dipelihara agar operasi bisnis normal dapat berjalan lancar. Aktiva
www.facebook.com/indonesiapustaka

ini harus dibiayai dengan dana jangka panjang. Salah satu contoh ak­
tiva lancar permanen adalah kebutuhan modal kerja berupa persediaan
minimum yang harus dipelihara agar proses produksi dapat berjalan
dengan lancar.
MANAJEMEN RISIKO 1
69 Risiko Kredit

Aktiva lancar yang bersifat fluktuatif adalah aktiva lancar dengan ke­
butuhan yang naik turun sesuai dengan perkembangan permintaan. Ka­
rena sifatnya yang fluktuatif dan bersifat jangka pendek, pembiayaan
dapat dilakukan dengan pinjaman jangka pendek misalnya pinjaman
rekening koran atau pembiayaan atas piutang.
Dalam memberikan pinjaman berdasarkan jenis aset dapat dilaku­
kan dengan berbagai cara, antara lain:

1. Asset Conversion Lending (kredit Musiman)


Digunakan untuk membiayai kebutuhan jangka pendek yang bersi­
fat temporer. Di dalam asset conversion lending bank merencanakan
agar seluruh pokok pinjaman dapat dilunasi pada akhir periode pinjam­
an. Sumber pengembalian (source of payment) pinjaman berasal dari
siklus konversi dari bahan baku atau barang dagangan, sampai siklus
dinyatakan selesai, yaitu terjual pada konsumen dan sudah lunas. Pin­
jaman jenis ini bersifat self-liquidating base, artinya pinjaman yang
akan dilunasi oleh debitur pada saat siklus usaha telah selesai.
Sebagai contoh, dalam menghadapi lebaran, debitur akan mening­
katkan produksi pakaian muslim. Kredit diperlukan untuk membeli tam­
bahan bahan baku yang diperlukan untuk meningkatkan produksi, dan
juga untuk membiayai piutang dagang. Setelah lebaran usai, hasil pen­
jualan digunakan untuk melunasi kredit musiman tersebut.

2. Asset Protection Lending


Pemberian kredit atas dasar asset protection lending bersifat jangka
panjang, tidak direncanakan untuk melunasi pokok pinjaman pada akhir
periode produksi, melainkan pinjaman mengikuti prinsip going concern,
artinya suatu bisnis yang akan terus berlangsung tanpa jangka waktu
yang ditentukan sebelumnya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Aset protection lending sesuai untuk membiayai modal kerja perma­


nen (permanent current assets), seperti kebutuhan modal kerja mini­
mum agar produksi dapat berjalan lancar. Sebagai contoh, modal kerja
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
70

untuk membiayai persediaan dan piutang pada suatu usaha toko besi,
yang kreditnya digunakan untuk membiayai persediaan besi dan ba­
han bangunan, dan membiayai piutang dengan tingkat perputaran yang
wajar.
Sumber pengembalian pinjaman berasal dari tingkat penurunan
komponen pinjaman dari permanent current assets yang berasal dari
laba kumulatif yang diperoleh perusahaan dalam menjalankan usaha­
nya. Sumber pelunasan lain yang dapat digunakan untuk menurunkan
tingkat pinjaman adalah yang berasal dari fresh money dari pemilik usa­
ha, misalnya dengan tambahan penyetoran modal.

3. Cash flow Lending


Cash flow lending adalah pinjaman jangka panjang yang digunakan
antara lain untuk membiayai pembelian aktiva tetap atau investasi.
Dengan cash flow lending diharapkan seluruh pinjaman pokok dilunasi
pada akhir periode pinjaman, sesuai dengan jadual pelunasan pokok
pinjaman yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Sebagai contoh, kredit untuk membiayai pembangunan pabrik pem­
buatan keramik lantai. Investasi diperlukan untuk membeli tanah dan
bangunan, mesin dan peralatan dan biaya lainnya. Pelunasan kredit
diharapkan dari operasional pabrik yang menghasilkan arus kas bersih
setelah pabrik selesai dan mulai melakukan produksi.

3.2.2 Berdasarkan kegunaan

1. kredit investasi
Kredit investasi merupakan kredit jangka panjang yang digunakan un­
tuk keperluan investasi. Sebagai contoh, kredit ini digunakan untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

pembangunan gedung kantor, gudang, jalan dan lain­lain. Kredit inves­


tasi dapat pula digunakan untuk pembelian barang­barang modal untuk
keperluan produksi atau usaha. Contoh: kredit pembelian tanah untuk
MANAJEMEN RISIKO 1
71 Risiko Kredit

perkebunan, kredit pembangunan gedung pabrik atau kredit pembelian


mesin produksi.
Pelunasan Kredit Investasi diharapkan berasal dari kinerja operasio­
nal yang menghasilkan cash flow yang memadai untuk dapat melunasi
kewajiban debitur pada bank.

2. kredit Modal kerja


Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk kebutuhan
modal kerja operasional perusahaan. Kriteria dari modal kerja yaitu ke­
butuhan modal yang habis dalam satu siklus usaha. Contoh: kredit eks­
por, kredit untuk pengadaan bahan baku, kredit untuk membeli pupuk
dan kredit untuk kontraktor bangunan yang memperoleh proyek.
Kredit modal kerja untuk pembiayaan persediaan dan piutang akan
terus tertanam pada perusahaan, paling sesuai diberikan dalam bentuk
kredit modal kerja permanen yang bersifat jangka panjang.

3.2.3 Berdasarkan tujuan kredit

1. kredit Produktif
Kredit yang digunakan untuk meningkatkan volume usaha (penjualan)
atau produksi, dan menghasilkan arus kas untuk keuntungan pemilik
usaha, dan untuk membayar kewajiban kredit. Contoh: Kredit untuk
membuka usaha salon, kredit untuk usaha restoran dsb.

2. kredit konsumtif
Kredit yang digunakan untuk konsumsi dan tidak bersifat produktif. Se­
bagai contoh, kredit pembelian mobil, kredit pegawai, kredit untuk mem­
beli barang elektronik, kredit kepemilikan rumah, dsb.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
72

3.2.4 Berdasarkan jangka Waktu

1. kredit jangka Pendek


Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu paling lama 1 tahun. Se­
bagai contoh, kredit modal kerja musiman atau kredit insidentil.

2. kredit jangka Menengah


Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kredit antara 1–3 tahun,
misalnya kredit pembelian mobil, kredit kepemilikan rumah atau kredit
modal kerja tertentu.

3. kredit jangka Panjang


Merupakan kredit dengan jangka waktu pengembalian di atas 3 tahun,
pada umumnya merupakan kredit investasi. Contoh, kredit untuk mem­
buka perkebunan kelapa sawit atau kredit untuk membangun pabrik
baja. Selain kredit investasi, modal kerja untuk pembiayaan persediaan
dan piutang juga dapat dipertimbangkan diberikan kredit modal kerja
permanen yang mempunyai jangka lebih panjang.

3.2.5 Berdasarkan jenis dana yang diberikan

1. Cash Loan (kredit tunai)


Adalah kredit dengan dana langsung dicairkan kepada nasabah. Contoh,
kredit modal kerja, kredit investasi atau kredit konsumsi.

2. Non-cash Loan
Adalah kredit yang tidak secara langsung ditarik dalam bentuk tunai,
tetapi di dalamnya telah terkandung adanya suatu kesanggupan untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

melakukan pembayaran di kemudian hari. Contoh, fasilitas bank ga­


ransi (bid bond, performance bond), fasilitas pembukaan letter of credit
(L/C) impor atau fasilitas L/C dalam negeri (SKBDN).
MANAJEMEN RISIKO 1
73 Risiko Kredit

3.2.6 Berdasarkan jenis Valuta

1. kredit Valuta rupiah


Pinjaman yang diberikan dalam mata uang Rupiah, yang secara umum
diberikan perbankan untuk para debitur yang mengajukan permohonan
kredit.

2. kredit Valuta Asing


Pinjaman yang diberikan dalam mata uang asing (pada umumnya da­
lam valuta USD). Hal yang perlu diperhatikan dalam pinjaman valuta
asing adalah risiko nilai tukar, yaitu kerugian yang timbul akibat per­
ubahan nilai mata uang asing terhadap Rupiah.
Misalnya, apabila nilai tukar Rupiah melemah maka posisi kredit
dalam valuta asing dihitung dalam valuta Rupiah akan menjadi lebih be­
sar dan dapat menimbulkan risiko kredit apabila agunan debitur yang
dihitung dalam valuta Rupiah menjadi tidak cukup untuk menutup be­
sar baki debet kredit.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian untuk mitigasi risiko kredit
adalah proceed atau hasil penjualan perusahaan harus sebagian be­
sar dalam bentuk valuta asing yang sama. Apabila penghasilan debitur
dalam valuta Rupiah, apabila Rupiah melemah maka kewajiban debitur
dalam valuta asing akan meningkat, dan meningkatkan risiko kemam­
puan membayar dari debitur.

3.3 PROSES MANAJEMEN RISIKO KREDIT


Identifikasi risiko kredit merupakan langkah awal dalam mengelola risi­
ko. Sesudah risiko diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengukur
www.facebook.com/indonesiapustaka

besarnya risiko tersebut. Dari hasil pengukuran tersebut, bank menen­


tukan langkah mitigasi melalui proses pengendalian risiko sampai level
sesuai risk appetite bank, dan menentukan besarnya modal untuk me­
nutup risiko yang bersedia diambil bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
74

3.3.1 identiikasi risiko kredit

Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank


seperti aktivitas perkreditan, aktivitas treasury, dan aktivitas investasi,
pembiayaan perdagangan (trade finance).
Pada umumnya, proses perkreditan dapat dibagi dalam empat ba­
gian: (1) mencari calon nasabah atau debitur; (2) proses analisis ke­
layakan kredit dan membuat keputusan kredit; (3) realisasi kredit be­
rupa penarikan sesuai persyaratan yang diperjanjikan; (4) penagihan
kewajiban oleh bank dan pembayaran kewajiban oleh debitur.

1) unit Bisnis – Relationship Manager


Unit bisnis bertugas mencari nasabah yang ditargetkan, melakukan
analisis kredit, dan menilai apakah permohonan debitur dapat diproses
lebih lanjut atau ditolak.
Untuk kredit yang sudah ada dalam portofolio bank, harus dijaga
agar debitur sejauh mungkin tetap dalam kondisi baik sehingga mampu
membayar kewajibannya. Kunjungan secara rutin pada nasabah dan
analisis kondisi usaha perlu dilakukan secara teratur, dan permasalahan
perlu dideteksi secara dini agar lebih mudah mengatasi permasalahan
dan dapat mencegah agar bank tidak terlalu besar mengalami kerugian.
Pada proses mencari calon nasabah, risiko dapat saja terjadi apabila
officer atau pejabat kredit yang diberi tanggung jawab melakukan fraud,
misalnya dengan memberikan informasi yang tidak benar. Officer kredit
dapat memperbesar nilai pasar agunan yang diberikan, melebihi nilai
pasar yang sebenarnya. Kemungkinan lain, pejabat tersebut tidak ber­
pengalaman sehingga tidak dapat menilai dengan benar informasi yang
diberikan oleh calon debitur.
www.facebook.com/indonesiapustaka

2) unit Manajemen risiko kredit


Satuan Kerja Manajemen Risiko atau SKMR bertugas membantu unit
bisnis dalam menyediakan infrastruktur perkreditan seperti kebijakan
dan prosedur, sistem kewenangan memutus kredit, sistem pemutus­
MANAJEMEN RISIKO 1
75 Risiko Kredit

an kredit secara bersama antara unit bisnis dan risk management, tata
cara penarikan kredit dan sistem administrasi kredit, dan alat analisis
seperti sistem rating dan scoring, prosedur baku analisis kredit dan
analisis early warning signal (EWS).
SKMR memelihara portofolio kredit agar senantiasa terkendali dari
risiko konsentrasi pada sektor industri tertentu maupun konsentrasi
secara geografis, dan memantau perkembangan kualitas kredit dalam
portofolio sehingga dapat diambil langkah strategi perkreditan yang di­
perlukan apabila terjadi permasalahan dalam kualitas kredit.
Analis kredit melakukan proses analisis kelayakan kredit, dengan
menggunakan data yang sudah dikumpulkan oleh bagian unit bisnis.
Pada proses menganalisis kelayakan kredit berdasarkan informasi
yang sudah diperoleh, kesalahan dapat terjadi apabila analisis kredit
tidak berpengalaman dalam melakukan analisis kredit secara baik,
atau melakukan fraud, bekerja sama dengan calon debitur agar dapat
meloloskan kredit dengan kualitas yang kurang baik. Dalam hal pro­
ses menggunakan sistem rating internal, apabila model rating dibuat
dengan sumber data yang tidak akurat, maka keputusan berdasarkan
sistem rating tersebut juga menjadi tidak akurat.

3.3.2 Pengukuran risiko kredit

Risiko kredit diukur dengan mengukur risiko inheren, yaitu risiko yang
melekat pada aktivitas perkreditan. Pengukuran risiko inheren kredit di­
lakukan dengan menetapkan potensi kerugian akibat risiko kredit, yaitu
mengukur berapa besar kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pro­
ses kredit, selanjutnya menetapkan dampak yang dapat ditimbulkan
apabila potensi risiko tersebut menjadi kenyataan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sebagai contoh, risiko kredit akan besar apabila bank menyalurkan


kredit pada daerah yang bank belum mengenal karakteristik daerah
pemasaran daerah tersebut. Hal ini karena pada daerah yang belum di­
kenal, kemungkinan membuat kesalahan (probability of default) akan
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
76

lebih besar, dan apabila terjadi kesalahan, akan menimbulkan dampak


(loss given default) yang besar. Potensi kerugian ini dikenal dengan is­
tilah expected loss atau EL, yaitu perkalian antara probability of default
(PD) dengan loss given default (LGD).
Risiko kredit diukur dengan menggunakan parameter UL (Unexpec-
ted Loss), yang merupakan penyimpangan dari EL, artinya potensi
perkiraan EL meleset dari perkiraan semula. Sebagai contoh, apabila
semula diperkirakan bahwa kemungkinan jumlah kredit dalam kategori
bermasalah adalah 1% (PD = 1%), dengan jumlah kerugian apabila terja­
di masalah rata­rata sebesar 50% dari baki debet (LGD = 50%), maka EL
adalah 1% dikalikan 50% atau = 0.5%. Risiko kredit adalah apabila ternya­
ta jumlah kredit bermasalah meleset menjadi 2%, dan LGD juga meleset
dari perkiraan semula yaitu lebih besar dari 50%.
PD (Probability of Default) dihitung dari sistem rating dari internal
bank.

3.3.2.1 rating – Scoring

Credit risk rating atau sistem rating perkreditan adalah alat untuk meng­
ukur klasifikasi kualitas debitur dilihat dari sisi risiko kredit.
Sistem credit risk rating atau pemeringkatan dapat didasarkan pada
analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil akhir dari proses pemeringkatan
ini merupakan peringkat rating yang dihasilkan dari pengolahan bebe­
rapa parameter yang telah diberikan bobot tertentu. Rating dari nasa­
bah merupakan indikasi kualitas dari nasabah tersebut.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh bank adalah ketersediaan
data sebagai bahan yang diperlukan untuk melakukan analisis pemilih­
an parameter rating, dan bobot dari parameter tersebut. Data keuangan
www.facebook.com/indonesiapustaka

akan lebih mudah diperoleh apabila perusahaan­perusahaan sudah ter­


daftar di bursa, yakni ketika perusahaan yang terdaftar di bursa wajib
secara periodik menyampaikan laporan keuangan secara terbuka.
MANAJEMEN RISIKO 1
77 Risiko Kredit

Sesuai dengan ketentuan Basel, bank wajib memiliki minimal 8 pe­


ringkat risiko rating kredit, yang terdiri dari minimal tujuh peringkat de­
bitur untuk debitur non-default, dan satu peringkat rating bagi debitur
yang default. Bank sendiri harus menetapkan kriteria suatu kredit di­
nyatakan default5.
Yang perlu diwaspadai dalam sistem rating perkreditan yang ber­
potensi menimbulkan risiko kredit, adalah (1) sistem rating dibangun
tidak atas dasar data yang lengkap, akurat, konsisten dan relevan; (2)
sistem rating tidak dibangun sesuai dengan praktik terbaik (best prac-
tices); (3) sistem rating belum sepenuhnya dikomunikasikan pada ja­
jaran organisasi yang akan menggunakan sistem tersebut; dan (4) sis­
tem mudah disalahgunakan oleh pengguna.
Rating kredit memberikan informasi mengenai kualitas kredit de­
bitur dan cukup untuk mengambil keputusan kredit untuk kredit kon­
sumer, kartu kredit , atau kredit mikro. Untuk kredit komersial, yang
perlu menentukan limit kredit yang akan diberikan, bank masih perlu
melakukan analisis kredit, antara lain melihat proyeksi arus kas untuk
mengukur kemampuan debitur membayar kewajiban.

3.3.3 Pengelolaan risiko kredit

Pengelolaan atau mitigasi risiko kredit dilakukan agar risiko kredit ti­
dak melewati tingkat limit yang sudah ditetapkan sesuai dengan risk
appetite bank. Mitigasi risiko dilaksanakan dengan mengacu pada ke­
bijakan perkreditan, sebagai dasar bank melakukan pengelolaan kredit.
Analisis kredit dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh aspek ri­
siko yang melekat pada setiap aktivitas fungsional yang berpotensi me­
rugikan bank. Hal­hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan anali­
www.facebook.com/indonesiapustaka

sis kredit antara lain:

5
Peraturan Bank Indonesia saat ini hanya mengatur perhitungan KPMM untuk menutup
risiko kredit dengan standar model, dan tidak menguraikan ketentuan mengenai sistem
rating internal.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
78

• Bersifat proaktif (anticipative) dan bukan reaktif.


• Mencakup seluruh aktivitas fungsional (kegiatan operasional).
• Menggabungkan dan menganalisis informasi risiko dari seluruh
sumber informasi yang tersedia.
• Menganalisis probabilitas timbulnya risiko serta konsekuensi
atas risiko tersebut.

Untuk kegiatan perkreditan, penilaian risiko kredit perlu memerhati­


kan beberapa hal, antara lain (1) kondisi keuangan debitur, khususnya
kemampuan membayar secara tepat waktu, (2) jaminan atau agunan
yang diberikan sebagai pagar terakhir kalau terjadi gagal bayar.
Gagal bayar dapat disebabkan berbagai faktor. Penilaian debitur ber­
upaya mengidentifikasi faktor tersebut, mencakup analisis lingkungan
debitur, karakteristik mitra usaha dari debitur, kualitas pemegang sa­
ham dan pengelola usaha, kondisi laporan keuangan beberapa tahun
terakhir, kualitas strategi usaha dan proyeksi keuangan, dan dokumen
lainnya yang dapat digunakan untuk mendukung analisis yang menye­
luruh terhadap kondisi dan kredibilitas debitur.

Bank uoB Buana Ajukan Pailit nasabahnya


Lagi­lagi bank menuntut pailit nasabah yang terbelit utang lantaran
kredit macet. Kali ini yang menjadi korban adalah CV Delima Jaya. Per­
usahaan industri karoseri kendaraan bermotor itu dimohonkan pailit
oleh PT Bank UOB Buana Tbk lantaran berutang sebesar Rp 42,349
miliar. Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah menggelar
persidangan perkara Rabu (26/8) kemarin.
UOB Buana juga menyasar Wiyanta selaku termohon II pailit.
Wiyanta merupakan pengurus sekaligus penjamin pribadi utang CV
www.facebook.com/indonesiapustaka

Delima Jaya. Hal itu tertuang dalam akta jaminan pribadi, dimana Akta
jaminan menentukan Wiyanta membayar utang CV Delima Jaya seke­
tika dan sekaligus kepada UOB Buana tanpa syarat.
MANAJEMEN RISIKO 1
79 Risiko Kredit

Hubungan hukum UOB Buana dan CV Delima Jaya dimulai ketika


penandatanganan akta perjanjian kredit dan pemberian jaminan No.
41 pada 31 Oktober 2007. Akta itu kemudian dilakukan amandemen
pada 19 September 2008 dan dibuat di bawah tangan. Untuk menjamin
pelunasan utang, para termohon memberikan jaminan berupa empat
sertifikat hak tanggungan, dua sertifikat jaminan fidusia dan jaminan
pribadi atas nama Wiyanta. Dalam gugatan tak disebut berapa jumlah
kredit yang diberikan.
Dalam perjalanannya, kredit CV Delima Jaya mulai macet pada 6
Januari 2009. UOB Buana lalu memberitahukan seluruh fasilitas kre­
dit CV Delima Jaya berakhir pada 30 Juni 2009. CV Delima Jaya wajib
melunasi utangnya 15 hari setelah 30 Juni 2009. Pengakhiran kredit
sepihak itu ditentukan dalam perjanjian kredit, dimana UOB Buana ber­
hak membatalkan tanpa syarat fasilitas kredit CV Delima Jaya bila pem­
bayaran kredit tak lancar.
Hingga lewat jatuh tempo pada 15 Juli 2009, CV Delima Jaya tak
juga melunasi utangnya. Pada 22 Juli 2009, UOB Buana kembali mengi­
rimkan surat permintaan pelunasan utang sebesar Rp41,871 miliar.
Paling lambat harus dibayar pada 30 Juli 2009. Namun, hingga per­
mohonan pailit diajukan, CV Delima Jaya masih menunggak utang pada
UOB Buana. Hingga 3 Agustus 2009, utang CV Delima Jaya diperhitung­
kan sebesar Rp42,349 miliar.
Sekadar informasi, permohonan pailit oleh bank terhadap nasa­
bahnya marak beberapa bulan terakhir. Kasus teranyar adalah seng­
keta antara PT Bank Danamon Tbk melawan PT Esa Kertas Nusantara.
Bank Danamon mengajukan permohonan pailit PT Esa Kertas karena
kredit macet. Namun, majelis hakim menolak permohonan pailit Bank
Danamon lantaran PT Esa Kertas dinilai masih eksis dan mampu ber­
www.facebook.com/indonesiapustaka

operasi.
Sumber: http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol22979/bank­uob­buana­
ajukan­pailit­nasabahnya
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
80

3.3.3.1 kebijakan dan Prosedur Perkreditan

Kebijakan dan Prosedur Perkreditan merupakan pedoman kerja di bi­


dang perkreditan yang memuat rangkaian peraturan dan prosedur un­
tuk menjamin kegiatan perkreditan dapat berjalan dengan baik.
Beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam menetapkan ke­
bijakan perkreditan yaitu:
• Asas likuiditas, bank harus dapat menjaga tingkat likuiditas bank
termasuk dalam upaya memenuhi permintaan penarikan kredit
nasabah.
• Asas solvabilitas, bank dapat melakukan pertumbuhan perkre­
ditan sesuai dengan kemampuan mengumpulkan dana pihak
ketiga, dan sejauh mungkin menghindari risiko kegagalan kredit.
• Asas rentabilitas, bank harus memperoleh laba secara optimal
sesuai risiko yang diambil dan modal yang dipergunakan.
• Yang perlu diwaspadai dalam kebijakan perkreditan yang berpo­
tensi menimbulkan risiko kredit, adalah bahwa:
• kebijakan perkreditan bank tidak lengkap;
• isinya tidak sesuai dengan praktik terbaik (best practices);
• belum sepenuhnya dikomunikasikan pada jajaran organisasi
yang perlu menguasai kebijakan tersebut, sehingga mereka da­
pat memahami isi dari kebijakan tersebut.

3.4 PROSES PERKREDITAN


3.4.1 inisiasi

Kualitas kredit dapat dijaga apabila pada tahapan awal proses inisiasi
www.facebook.com/indonesiapustaka

hingga pemutusan kredit dilaksanakan dengan teliti dan melaksanakan


prinsip kehati­hatian.
Penentuan nasabah yang akan diakuisisi dari bank lain agar dilaku­
kan dengan pendekatan target market, artinya relationship manager
MANAJEMEN RISIKO 1
81 Risiko Kredit

secara aktif mencari nasabah prospek. Dalam membidik nasabah yang


menjadi target, bank perlu melakukan pre-screening dengan meng­
gunakan kriteria yang berlaku, misalnya Risk Acceptance Criteria (RAC).
Untuk memastikan calon nasabah mempunyai sejarah yang baik,
analisis perlu melakukan trade checking dan BI checking terhadap de­
bitur untuk meyakini karakter dan kualitas debitur. Dalam proses anali­
sis kredit, analisis perlu memahami pola usaha dan kebutuhan debitur,
sehingga bank dapat menetapkan struktur kredit sesuai dengan ke­
butuhan debitur.

3.4.1.1 target Market

Pemasaran kredit pada masa ini lebih baik dilakukan atas dasar target
nasabah, tidak hanya menunggu walk-in customer meminta kredit ke
bank. Kelebihan sistem target nasabah adalah membuat upaya pe­
masaran produk kredit menjadi lebih terstruktur, dan dapat berpeluang
mendapatkan calon debitur yang lebih berkualitas. Selain itu, risiko kre­
dit akan lebih mudah dilakukan mitigasi, potensi di wilayah kerja bank
dapat lebih tergarap dengan baik, dan bank dapat fokus pada sektor
usaha yang lebih menguntungkan bagi bank.
Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam penetapan tar-
get market di masing­masing wilayah, antara lain kondisi wilayah se­
tempat dengan karakteristik masing­masing dan kondisi persaingan.

3.4.1.2 negative List

Dalam mengupayakan nasabah baru, bank juga mengacu pada daftar


www.facebook.com/indonesiapustaka

usaha yang pada saat tertentu tidak menjadi prioritas bank, atau dise­
but dengan negative list. Sebagai contoh, bank tidak berniat membiayai
kredit pada sektor pertambangan karena sektor tersebut sekarang se­
dang mengalami tekanan harga jual yang rendah.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
82

3.4.2 Analisis kredit

Pada proses analisis kredit, analisis memperhatikan faktor internal de­


bitur, artinya faktor yang inheren ada pada debitur yang bersangkutan.
Selain itu, analisis juga memerhatikan faktor eksternal yang dapat me­
mengaruhi kelayakan debitur.

3.4.2.1 Faktor awal penilaian kelayakan kredit

a) Faktor internal debitur


• Tujuan kredit dan sumber pembayaran.
Bank harus memastikan, kredit akan digunakan untuk tujuan
yang dapat diterima sesuai dengan kebijakan kredit bank. Tujuan
kredit penting dianalisis agar kredit yang diberikan tidak diguna­
kan untuk maksud lain yang tidak disetujui oleh bank. Penggu­
naan kredit yang menyimpang dari tujuan semula sering menjadi
akar penyebab terjadinya kredit bermasalah.
• Karakter debitur.
• Kualitas manajemen, pengalaman, pendidikan.
• Profil risiko terkini dari debitur.
Profil risiko harus sesuai kebijakan bank yang menetapkan profil
risiko tertentu yang dapat diterima bank.
• Aspek legal dan agunan.
Untuk menentukan persyaratan kredit, misalnya untuk memba­
tasi perubahan eksposur risiko debitur di waktu yang akan da­
tang.

b) Kinerja historis, analisis rasio keuangan


www.facebook.com/indonesiapustaka

Penilaian kinerja historis dapat dilakukan dengan analisis keuangan


berdasarkan beberapa teknik analisis keuangan sebagai berikut.
MANAJEMEN RISIKO 1
83 Risiko Kredit

• Analisis Rasio Keuangan


rasio Likuiditas
Adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek (termasuk bagian dari ke­
wajiban jangka panjang yang telah berubah menjadi kewajiban
jangka pendek).
Rasio yang biasa digunakan dalam mengukur likuiditas per­
usahaan adalah Current Ratio, Cash Ratio dan Quick Ratio.
Current Ratio yang baik akan lebih besar dari 100%, dengan
trend membaik, dan sejalan dengan rasio industri pada bidang
usaha yang sama. Cash Ratio dan Quick Ratio menilai kualitas
dari komponen aktiva lancar, yang dapat digunakan untuk mem­
bayar kewajiban. Semakin besar rasio tersebut, kondisi debitur
akan semakin baik.

rasio Leverage
Adalah rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan meng­
gunakan utang sebagai sumber modal (dana pihak luar). Rasio
ini juga menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari bank se­
bagai kreditor. Bagi bank, semakin kecil Debt Equity Ratio (DER),
kondisi perusahaan semakin baik dengan risiko yang lebih kecil.

rasio Aktivitas
Adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dan efektivitas ma­
najemen dalam mengelola sumber­sumber yang dimilikinya.
Penilaian perputaran dilakukan dengan menilai trend, dan
perbandingan dengan industri sejenis. Perputaran yang semakin
tinggi (atau jumlah hari yang lebih kecil) akan semakin baik bagi
perusahaan. Sebaliknya, perputaran piutang atau persediaan
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang melambat menandakan terdapat sesuatu masalah yang


perlu dikonfirmasikan pada calon debitur.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
84

rasio Profitabilitas
Adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan men­
cetak laba. Untuk pemegang saham, rasio ini menunjukkan ting­
kat penghasilan yang menentukan tingkat pengembalian modal
yang ditanamkan pemegang saham dalam melakukan investasi.
Penilaian rasio profitabilitas dilakukan dengan melihat trend
dan perbandingan dengan industri sejenis.

Analisis Vertikal
Analisis ini juga dikenal dengan istilah Common Size Analysis
yaitu analisis laporan keuangan dalam satu periode tertentu de­
ngan cara membanding­bandingkan pos yang satu dengan pos
yang lainnya. Perbandingan tersebut dilakukan dengan meng­
gunakan persentase dimana salah satu pos ditetapkan dengan
patokan 100%.
Pada neraca, analisis vertikal sering dikaitkan sebagai pro­
sentase dari total aset. Pada rugi laba, komponen laba dan biaya
dibandingkan dengan nilai penjualan.

Analisis Horisontal
Analisis ini dilakukan dengan membandingkan pos­pos laporan
keuangan untuk dua periode atau lebih. Tujuan perbandingan
ini adalah untuk mengetahui perubahan dan tren dari waktu ke
waktu. Selain itu, analisis ini juga melihat tren perkembangan
masing­masing pos selama jangka waktu tertentu.

c) Faktor Eksternal debitur


Faktor eksternal debitur antara lain kondisi ekonomi dan industri
tempat calon debitur menjalankan usaha.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Faktor eksternal merupakan faktor yang berada di luar kendali


perusahaan debitur. Dalam hal ini analisis perlu menilai kemampuan
bisnis debitur dan kondisi sektor ekonomi/usaha debitur serta posisi
debitur dalam industri.
MANAJEMEN RISIKO 1
85 Risiko Kredit

3.4.2.2 Prinsip 5C

Dalam melakukan analisis kelayakan debitur, metode yang sering di­


lakukan analisis antara lain metode 5C. Pada analisis dengan metode
5C, kelayakan debitur dilihat dari lima faktor utama, yaitu (1) character,
menilai karakter nasabah, kemauan untuk membayar kewajiban pada
bank; (2) capacity, menilai kemampuan membayar kewajiban dari de­
bitur; (3) capital, menilai besar modal yang dimiliki dibandingkan de­
ngan jumlah utang; (4) conditions, menilai kondisi ekonomi dimana
debitur menjalankan usaha; dan (5) collateral, menilai ketersediaan
agunan sebagai cara lain untuk pelunasan agunan.

a) Character
Character atau watak calon debitur merupakan faktor penting. Bank
secara rasional hanya ingin membina hubungan dengan debitur
yang dapat dipercaya. Sifat dan watak calon debitur dapat dilihat dari
latar belakang pekerjaan maupun pribadi, seperti gaya hidup dan ke­
www.facebook.com/indonesiapustaka

adaan keluarga. Bank juga dapat memperoleh informasi terkait ka­


rakter debitur dari pusat informasi debitur Bank Indonesia. Sifat dan
watak ini dapat menggambarkan kemauan debitur untuk membayar.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
86

Parameter yang dapat menentukan karakter debitur antara lain


1) usia debitur, secara umum usia produktif adalah antara 30 – 50
tahun, memeroleh rating tertinggi.
2) pendidikan, secara umum tingkat pendidikan yang semakin
tinggi mempunyai rating karakter yang lebih baik.
3) pengalaman yang semakin banyak cenderung memberikan ra-
ting karakter yang lebih baik.
4) keuletan yang tinggi mengurangi tingkat kegagalan usaha.
5) kreativitas yang tinggi dan inovatif akan membantu kemajuan
usaha.
6) ketegasan dan fleksibilitas dalam bisnis untuk menghadapi ber­
bagai perubahan situasi lingkungan usaha.
7) kejujuran merupakan faktor karakter yang penting untuk dinilai.

Yang perlu diwaspadai dalam penilaian karakter debitur adalah


pengalaman analisis yang minim sehingga tidak mampu melaku­
kan analisis karakter secara memadai. Semakin lama pengalaman
analisis, akan semakin baik kualitas analisis dalam menilai karakter
debitur.

b) Capacity
Analisis capacity bertujuan menilai kemampuan calon debitur dalam
membayar kewajiban. Kemampuan debitur tercermin dari kemam­
puan menghasilkan arus kas dari usaha atau operating cash flow.
Usaha yang berhasil memenangkan persaingan akan mempunyai
peluang lebih baik untuk dapat menghasilkan arus kas yang lebih
besar.
Yang perlu diwaspadai dalam penilaian kemampuan membayar
debitur adalah pengalaman analisis dalam menentukan asumsi pro­
www.facebook.com/indonesiapustaka

yeksi keuangan, baik asumsi pendapatan maupun asumsi biaya­


biaya. Asumsi yang tidak cermat akan menghasilkan angka arus
kas yang tidak akurat sehingga bank dapat salah dalam menilai ke­
MANAJEMEN RISIKO 1
87 Risiko Kredit

mampuan debitur melunasi kewajiban pembayaran bunga maupun


pokok pinjaman. Semakin lama pengalaman analisis, akan semakin
baik kualitas analisis dalam menilai kemampuan membayar kewa­
jiban dari debitur.

c) Capital
Analisis capital melihat aspek kecukupan permodalan debitur. Kon­
disi keuangan akan sehat apabila jumlah modal dinilai cukup me­
madai dibandingkan dengan jumlah pinjaman. Analisis capital ha­
rus menganalisis persentase modal sendiri yang digunakan untuk
membiayai proyek. Bagi bank, semakin besar porsi modal, maka
kondisi keuangan nasabah akan semakin baik.
Yang perlu diwaspadai dalam penilaian kecukupan modal usa­
ha debitur adalah pengalaman analisis dalam menentukan asumsi
proyeksi keuangan, baik asumsi pendapatan maupun asumsi bi­
aya­biaya. Asumsi yang tidak cermat akan menghasilkan laba ope­
rasional yang tidak akurat sehingga bank dapat salah dalam menilai
peningkatan modal yang berasal dari laba, dan kebijakan debitur
dalam menggunakan laba untuk ditanamkan kembali dalam usaha,
atau ditarik dalam bentuk dividen. Semakin lama pengalaman anali­
sis, akan semakin baik kualitas analisis dalam menilai kemampuan
debitur dalam meningkatkan kemampuan permodalan.

d) Condition
Penilaian kredit juga dinilai berdasarkan kondisi ekonomi, sosial,
dan politik yang ada saat ini dan prediksi di masa mendatang. Kon­
disi ekonomi dalam keadaan resesi kurang baik untuk usaha yang
memroduksi barang mewah, tapi relatif tidak menjadi masalah se­
rius bagi usaha yang memproduksi kebutuhan pokok seperti far­
www.facebook.com/indonesiapustaka

masi, bahan makanan, dsb.


Yang perlu diwaspadai dalam penilaian kondisi ekonomi adalah
pengalaman analisis dalam menentukan kondisi ekonomi di masa
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
88

mendatang, khususnya untuk produk nasabah yang rentan terha­


dap perubahan faktor ekonomi. Asumsi kondisi ekonomi yang tidak
cermat akan menghasilkan perhitungan arus kas yang tidak akurat
sehingga bank dapat salah dalam menilai kemampuan debitur da­
lam upaya melunasi kewajiban pembayaran bunga dan pokok pin­
jaman. Semakin lama pengalaman analisis, akan semakin baik kuali­
tas analisis dalam menilai kemampuan debitur dalam meningkatkan
kemampuan melakukan prediksi kinerja usaha dalam berbagai situ­
asi perekonomian.

e) Collateral
Collateral atau agunan kredit merupakan jaminan yang diberikan
calon debitur baik berbentuk agunan di dalam proyek maupun agun­
an di luar proyek. Agunan juga dapat berupa jaminan pelunasan dari
misalnya induk perusahaan.
Jaminan seharusnya melebihi jumlah kredit yang diberikan serta
harus diteliti aspek keabsahan dan dapat diikat secara legal.
Yang perlu diwaspadai dalam penilaian agunan adalah pe­
ngalaman analisis dalam menentukan nilai agunan. Penilaian nilai
agunan yang tidak cermat akan menyebabkan kredit bank tidak ter­
lindungi apabila suatu waktu terjadi permasalahan. Selain itu, perlu
diwaspadai juga potensi terjadi kolusi antara analisis dan debitur da­
lam melakukan manipulasi nilai agunan yang sebenarnya. Semakin
lama pengalaman analisis, dan semakin tinggi integritas analisis,
maka kualitas penilaian agunan akan semakin baik.

Aplikasi 5C:
Pengajuan kredit harus dilengkapi analisis antara lain dengan 5C (cha-
www.facebook.com/indonesiapustaka

racter, capacity, capital, collateral, dan condition). Character berman­


faat untuk mengukur seberapa jauh calon debitur memiliki niat baik
untuk mengembalikan kredit yang diperoleh. Sementara itu, capacity
MANAJEMEN RISIKO 1
89 Risiko Kredit

digunakan untuk mengukur kemampuan debitur dalam mengembali­


kan kreditnya atas dasar kemampuan menjalankan bisnis, sedangkan
capital untuk mengetahui sejauh mana perusahaan mampu menggu­
nakan modal secara efektif.
Dua C terakhir, yakni collateral berguna untuk melihat sejauh mana
jaminan yang diberikan dapat menutupi risiko yang mungkin timbul
dan yang terakhir, condition, dimaksudkan untuk meneliti prospek bis­
nis dikaitkan dengan kondisi saat ini dan mendatang. Dengan kata lain,
perlu dilakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif sebelum kredit
disetujui.
Selain itu, bank dapat mempertimbangkan untuk melakukan kun­
jungan ke lapangan. Hal ini bukan hanya untuk membuktikan kebe­
naran dan kelayakan jaminan yang akan diikat, tetapi juga untuk men­
deteksi secara langsung bisnis yang tengah berjalan. Bisa saja terjadi,
jaminan gedung yang semula tampak bagus dalam foto ternyata hanya
bangunan terlantar yang tidak bernilai. Begitu pula jaminan yang be­
rupa tanah lapangan, setelah dilakukan penelitian lebih lanjut ternyata
bukan milik debitur. Agunan dalam perkreditan berperan penting untuk
mengukur seberapa jauh kredit dapat disetujui.

3.4.2.3 Sumber Pelunasan

Sumber pelunasan kredit yang utama adalah arus kas atau cash flow
dari aktivitas usaha. Bank juga berkepentingan melihat adanya sumber
pelunasan lain sebagai cadangan atau sumber kedua apabila sumber
pelunasan utama kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan. Sumber
pelunasan lainnya: refinancing dari bank lain, atau melalui upaya likui­
www.facebook.com/indonesiapustaka

dasi usaha debitur.


MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
90

• Operating cash flow


Sumber pelunasan yang berasal dari arus kas operasional akan ber­
sifat ongoing karena bersumber dari hasil usaha, dan bersifat sus-
tainable sebagai sumber pelunasan kredit.
• Refinancing
Sumber pelunasan kredit refinancing dapat dilakukan melalui dua
variasi, yaitu pembiayaan dari lembaga keuangan lain, dimana kre­
dit dari bank asal dilunasi dengan sumber dana dari kredit baru yang
diberikan oleh lembaga keuangan tersebut.
Pada beberapa kasus, akuisisi menjadi pemicu dilakukannya
pengambilalihan pembiayaan oleh bank perusahaan yang melaku­
kan akuisisi, yang menyebabkan hubungan antara nasabah dengan
bank asal berakhir.
Refinancing juga dapat dilakukan dengan penerbitan surat ber­
harga. Hasil dari IPO equity atau surat utang yang diterbitkan diguna­
kan untuk melunasi utang.
• Likuidasi usaha, yang umumnya terjadi apabila tujuan investasi su­
atu perusahaan telah tercapai. Sebagai contoh, kredit untuk mem­
biayai pembangunan jembatan, akan selesai apabila proyek jem­
batan tersebut sudah selesai.

3.4.2.4 Aspek keuangan

Sumber informasi keuangan yang digunakan untuk melakukan analisis


keuangan adalah hasil dari analisis kebutuhan investasi dan modal ker­
ja, hasil dari analisis pemasaran dan analisis aspek teknis.
Dari biaya investasi dan modal kerja yang diperlukan untuk menja­
lankan usaha, kebijakan bank antara lain mengatur berapa bagian dari
www.facebook.com/indonesiapustaka

jumlah pembiayaan harus dibiayai oleh debitur sendiri dari modal, dan
berapa bagian akan dibiayai dari kredit bank.
Semakin besar porsi kredit, untuk bank semakin mempunyai risiko
yang lebih tinggi. Seluruh biaya investasi dan modal kerja merupakan
MANAJEMEN RISIKO 1
91 Risiko Kredit

pengeluaran awal yang direncanakan menghasilkan arus kas pada ta­


hun­tahun berikutnya. Analisis keuangan akan melihat apakah rencana
penghasilan arus kas cukup untuk menutup biaya investasi dan modal
kerja yang harus dikeluarkan.
Analisis aspek pemasaran menghasilkan asumsi pendapatan, dan
analisis aspek teknis memberikan asumsi biaya produksi dan biaya
umum. Dari asumsi proyeksi keuangan tersebut, bank dapat menghi­
tung proyeksi neraca, proyeksi rugi laba dan proyeksi cash flow, serta
dapat menentukan parameter aspek keuangan penting untuk menen­
tukan kelayakan usaha, seperti berbagai rasio keuangan terutama debt
service ratio (DSC), sebagai parameter pengukuran kemampuan debitur
membayar kewajiban pada bank.

3.4.2.5 Aspek Yuridis /Hukum dan Agunan

Hubungan kredit dengan debitur dapat menimbulkan permasalahan


apabila faktor legal lemah. Aspek hukum menilai masalah legalitas ba­
dan usaha serta izin­izin yang dimiliki perusahaan yang mengajukan
kredit. Penilaian dimulai dengan meneliti keabsahan dan kesempurna­
an akte pendirian perusahaan dan dokumen serta surat­surat penting
lainnya. Hal ini perlu dilakukan agar bank tidak berhubungan dengan
perusahaan yang rentan terhadap masalah hukum di kemudian hari.
Agunan yang biasa diberikan debitur beraneka­ragam sesuai dengan
jenis kredit yang diminta, beberapa di antaranya tanah dan bangunan,
mesin­mesin, kapal, kendaraan bermotor, persediaan barang, deposito,
tagihan (piutang) atau anjak piutang (factoring). Pengikatan agunan ke­
bendaan tergantung dari jenis agunan, diantaranya:
www.facebook.com/indonesiapustaka

1. Hak tanggungan
Beberapa unsur pokok hak tanggungan, yaitu hak jaminan untuk pe­
lunasan utang. Obyek hak tanggungan adalah hak atas tanah sesuai
UUPA (Undang­Undang Pokok Agraria). Hak tanggungan dapat dibe­
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
92

bankan atas tanah saja atau berikut benda­benda yang merupakan


satu kesatuan dengan tanah itu.
Hipotik merupakan hak kebendaan atas benda­benda tidak ber­
gerak, untuk dijadikan sebagai pengganti bagi pelunasan suatu per­
ikatan seperti perjanjian kredit. Saat ini sudah digantikan menjadi
hak tanggungan.

2. Gadai
Gadai merupakan hak yang diperoleh seorang kreditur atas suatu
benda bergerak yang diserahkan oleh debitur, dan memberi kekua­
saan kepada kreditur untuk mengambil benda tersebut, dan menjual
sebagai upaya pelunasan dari kewajiban debitur.

3. Fidusia
Fidusia merupakan bentuk lain bagi jaminan atas benda bergerak
selain gadai. Jaminan fidusia memberikan jaminan bagi penerima
fidusia (kreditur) apabila suatu saat debitur tidak dapat melaksana­
kan semua kewajibannya maka kreditur mempunyai hak langsung
untuk menyita dan mengeksekusi obyek yang dijadikan agunan
(parate eksekusi).
Untuk menjamin kepastian hukum bagi kreditur, akta jaminan
fidusia harus dilakukan secara notarial. Setelah itu, permohonan
diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia oleh penerima fi­
dusia, kuasa atau wakilnya kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia melalui kantor pendaftaran fidusia di
tempat kedudukan pemberi fidusia (debitur).

4. Cessie Piutang
Pada dasarnya cessie bukan merupakan lembaga jaminan. Dalam
www.facebook.com/indonesiapustaka

praktik perbankan cessie digunakan untuk memperjanjikan peng­


alihan suatu piutang atau tagihan yang dijadikan jaminan suatu
kredit.
MANAJEMEN RISIKO 1
93 Risiko Kredit

3.4.2.6 Persetujuan kredit

Apabila permohonan kredit dari nasabah sudah diterima, bank memper­


siapkan perjanjian kredit dengan nasabah.
Hal­hal yang perlu diperhatikan dalam perjanjian kredit adalah:
• Perjanjian kredit harus sesuai dengan tujuan penggunaan dana
kredit.
• Pada perjanjian kredit telah ditentukan bahwa pengembalian
uang pinjaman itu disertai pembayaran bunga sesuai yang di­
perjanjikan atau pembagian hasil.
• Sebagai penjagaan apabila debitur tidak membayar kewajiban,
bank pada umumnya mensyaratkan penyerahan agunan yang
harus diikat sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

3.4.3 Penetapan Suku Bunga kredit (Loan Pricing)

Penetapan suku bunga kredit (loan pricing) secara praktik terbaik dila­
kukan dengan berdasarkan risiko (risk based pricing/RBP). Penetapan
bunga kredit atas dasar RBP mempertimbangkan unsur: (1) biaya dana
masyarakat; (2) biaya regulasi (GWM, LPS, OJK); (3) biaya overhead
baik untuk maksud penghimpunan dana maupun biaya proses kredit;
(4) biaya premi risiko; (5) biaya modal; dan (6) marjin keuntungan bank.

3.4.3.1 Bunga tetap (Fixed rate) vs. Bunga Mengambang (Floating


rate)

Terdapat dua jenis suku bunga kredit yang umumnya dapat diberikan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kepada nasabah berdasarkan ketentuan tarif yang diberikan, yaitu:


MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
94

1. Fixed rate atau suku bunga tetap


Pada sistem fixed rate, suku bunga kredit ditentukan tetap sampai
kredit tersebut lunas. Pinjaman dengan bunga tetap akan mengan­
dung risiko suku bunga bagi bank.
Apabila selama masa kredit tingkat bunga pasar naik maka biaya
bunga bank akan meningkat, sedangkan pendapatan dari bunga kre­
dit tetap sehingga pendapatan bunga bersih bank menurun. Hal ini
karena komposisi dana pihak ketiga (DPK) pada umumnya bersifat
jangka pendek (short-term).
Dengan memberikan bunga secara fixed rate, berarti bank sudah
mengambil alih risiko perubahan suku bunga pasar. Pada umumnya
bunga secara fixed rate akan lebih tinggi dibandingkan dengan bu­
nga kredit floating rate.

2. Floating rate atau suku bunga mengambang


Pada sistem bunga floating rate, suku bunga kredit dibuat meng­
ambang sesuai dengan fluktuasi bunga pasar referensi, sebagai
contoh, suku bunga yang ditetapkan atas dasar JIBOR, SIBOR, atau
LIBOR ditambah suatu persentase tertentu sebagai marjin.
Pinjaman dengan suku bunga mengambang secara efektif meng­
alihkan risiko suku bunga dari bank kepada debitur. Di lain pihak,
apabila kenaikan suku bunga terjadi terus menerus, pada akhirnya
hal ini dapat meningkatkan risiko kredit. Kenaikan suku bunga kredit
akan menyebabkan kenaikan biaya pinjaman debitur, yang apabila
kenaikan tersebut tidak disertai oleh kenaikan cash flow dari opera­
sional usaha debitur, dapat menyebabkan kemampuan debitur un­
tuk memenuhi kewajibannya kepada bank terganggu atau bahkan
tidak dapat memenuhi kewajibannya sama sekali.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
95 Risiko Kredit

3.5 MANAJEMEN KREDIT BERMASALAH


Aktivitas perkreditan pada umumnya akan menghasilkan sebagian
kredit yang bermasalah, yaitu yang tidak membayar kewajiban pada
bank sesuai dengan yang diperjanjikan. Pengelolaan kredit bermasalah
dimaksudkan untuk meminimalkan tingkat kerugian bank melalui re­
strukturisasi atau likuidasi perusahaan.

3.5.1 Penggolongan kualitas Pembiayaan

Berdasarkan PBI No. 13/13/PBI/2011, penilaian kualitas pembiayaan


digolongkan menjadi 5 (lima) jenis kolektibilitas: (1) lancar, (2) dalam
perhatian khusus, (3) kurang lancar, (4) diragukan, dan (5) macet. Pe­
netapan kolektibilitas kredit ditetapkan berdasarkan tiga kriteria:
1) prospek usaha;
2) kinerja (performance) nasabah; dan
3) kemampuan membayar.

Penilaian terhadap prospek usaha meliputi penilaian terhadap kom­


ponen­komponen sebagai berikut:
• potensi pertumbuhan usaha;
• kondisi pasar dan posisi nasabah dalam persaingan;
• kualitas manajemen dan permasalahan tenaga kerja;
• dukungan dari grup atau afiliasi; dan
• upaya yang dilakukan nasabah dalam rangka memelihara ling­
kungan hidup.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
96

Penilaian terhadap kinerja nasabah meliputi penilaian terhadap


komponen­komponen sebagai berikut.
• perolehan laba;
• struktur permodalan;
• arus kas; dan
• sensitivitas terhadap risiko pasar.

Penilaian terhadap kemampuan membayar meliputi penilaian ter­


hadap komponen­komponen sebagai berikut:
• ketepatan pembayaran pokok dan marjin/bagi hasil/fee;
• ketersediaan dan keakuratan informasi keuangan nasabah;
• kelengkapan dokumen pembiayaan;
• kepatuhan terhadap perjanjian pembiayaan;
• kesesuaian penggunaan dana; dan
• kewajaran sumber pembayaran kewajiban.

3.5.2 Penyebab kegagalan dalam Pemberian kredit

Kegagalan dalam suatu transaksi pemberian kredit dapat disebabkan


oleh berbagai macam kejadian, antara lain:
• Self-dealing (aktivitas yang dilaksanakan untuk kepentingan diri
sendiri), yaitu adanya keterlibatan pegawai bank dalam kegiatan
usaha nasabah karena adanya kepentingan pribadi atas pemberian
kredit tersebut.)
• Anxiety for Income (haus akan laba), namun kurang mengupayakan
sumber pengembalian, yaitu arus kas.
• Kompromi terhadap prinsip pemberian kredit yang sehat.
• Tidak tersedia kebijakan dan prosedur perkreditan yang memenuhi
www.facebook.com/indonesiapustaka

syarat suatu proses pengelolaan kredit yang baik.


• Informasi kredit untuk pengambilan keputusan tidak lengkap.
• Lambat dalam mengambil tindakan likuidasi sesuai perjanjian.
MANAJEMEN RISIKO 1
97 Risiko Kredit

• Menggampangkan permasalahan yang terjadi.


• Tidak terdapat pengawasan kredit yang konsisten.
• Kurang memiliki kemampuan teknis.
• Ketidakmampuan melakukan seleksi atas risiko.
• Pemberian kredit yang melampaui batas.
• Tekanan persaingan usaha.

3.5.3 Penagihan (collection)

Peran seorang penagih atau collector sangat penting dalam menentu­


kan tingkat keberhasilan perusahaan dalam penagihan sehingga dibu­
tuhkan keahlian dan teknik­teknik yang tepat dalam proses penagihan.
Petugas penagihan harus memahami peran serta fungsi bagian pe­
nagihan kredit, mengetahui proses tindakan penagihan dan menentu­
kan kapan dan bagaimana caranya melakukan penagihan. Selain itu,
bagian penagihan juga perlu memahami bagaimana posisi dan peran
bagian penagihan terhadap bisnis secara keseluruhan.
Petugas penagihan harus menggunakan strategi penagihan yang
sesuai dengan kondisi debitur, memahami cara­cara mengelola kredit
yang macet berdasarkan tingkat risiko kredit tersebut serta menentu­
kan prioritas tindakan yang harus dilakukan pada setiap tingkat tung­
gakan kredit.
Teknik penagihan perlu memelajari cara komunikasi selama melaku­
kan penagihan, dan menentukan cara perilaku untuk mengatasi ham­
batan­hambatan yang terjadi selama negosiasi berlangsung dengan
tipe debitur yang berbeda sehingga mendapatkan hasil yang memuas­
kan bagi semua pihak sesuai dengan kebijakan bank yang berlaku.
Petugas penagihan harus mengenal berbagai macam laporan yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

digunakan di bagian penagihan seperti produktivitas dan portofolio MIS,


cara membaca dan cara menafsirkan artinya. Dari hasil MIS tersebut
juga bisa diketahui bahwa strategi penagihan yang digunakan berhasil
atau tidak.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
98

3.5.4 Pengelolaan kredit Bermasalah

Penanganan kredit bermasalah dapat dilakukan dengan berbagai pi­


lihan seperti:

1. Rescheduling
Suatu tindakan untuk memperpanjang jadwal cicilan pokok kredit.
Penjadwalan kembali dilakukan dengan memperpanjang jangka
waktu kredit atau jangka waktu angsuran kredit.

2. Reconditioning
Reconditioning merupakan metode penyehatan kredit, yaitu bank
melakukan perubahan beberapa persyaratan yang berlaku seperti
tercantum pada perjanjian kredit seperti:
• Kapitalisasi bunga, yaitu kewajiban dan tunggakan bunga dijadi­
kan utang pokok.
• Penundaan pembayaran bunga sampai jangka waktu tertentu.
• Penurunan suku bunga kredit.
• Pembebasan tunggakan bunga dsb.

3. Restructuring
Merupakan tindakan bank kepada nasabah, antara lain dengan cara
memberikan kredit tambahan pada nasabah, dengan pertimbangan
misalnya nasabah memang membutuhkan tambahan dana agar da­
pat mengatasi permasalahan, dan usaha yang dibiayai masih dinilai
layak untuk dilanjutkan.

4. kombinasi
Merupakan kombinasi dari upaya rescheduling, reconditioning, dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

restructuring.
MANAJEMEN RISIKO 1
99 Risiko Kredit

5. Likuidasi jaminan
Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah su­
dah benar­benar tidak mempunyai iktikad baik ataupun sudah tidak
mampu lagi untuk membayar semua kewajibannya.
Alternatif penyelamatan kredit dipilih yang paling memberikan
kerugian minimal bagi bank. Dengan kata lain yang memberikan NPV
maksimum bagi bank.

3.6 PERHITUNGAN KECUKUPAN MODAL


UNTUK MENUTUP RISIKO KREDIT
Basel Committee melalui BCBS dan Bank Indonesia menentukan tiga
pendekatan yang dapat digunakan oleh setiap bank dalam menghitung
kebutuhan modal untuk menutup risiko kredit, yaitu:
• Standardized Approach (Pendekatan Standar)
• Internal Rating Based Approach (Pendekatan Internal), dibagi atas:
(1) Internal Rating Based ­ Foundation (IRB­F) dan (2) Internal Ra-
ting Based Approach Advanced (IRB­A)
Sampai saat ini (Agustus 2014), Bank Indonesia baru mengelu­
arkan PBI mengenai perhitungan kecukupan modal untuk menutup
risiko kredit menggunakan Pendekatan Standar, yaitu melalui SEBI
No. 13/6/DPNP tanggal 18 Februari 2011. Peraturan menggunakan
Pendekatan Internal belum dikeluarkan.

3.6.1 Standardized Approach/Pendekatan Standar

Dalam Pendekatan Standar, peringkat kredit ditetapkan oleh lembaga


www.facebook.com/indonesiapustaka

pemeringkat eksternal yang sudah diakui oleh Bank Indonesia. Bank


dapat menggunakan peringkat yang ditetapkan oleh lembaga peme­
ringkat dimaksud untuk menetapkan bobot risiko untuk tujuan kecu­
kupan modal.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
100

Kebutuhan modal dengan menggunakan Pendekatan Standar ada­


lah minimal 8% dikalikan eksposur atau ATMR (Aktiva Tertimbang Menu­
rut Risiko).
Untuk menentukan ATMR dengan Pendekatan Standar pada Basel
II pilar 1, aset bank dibagi ke dalam kategori aset tertentu, kemudian
masing­masing kategori aset tersebut diberi bobot risiko sesuai dengan
tingkat risiko. Pada pendekatan ini, rating dari perusahaan debitur akan
menentukan besarnya bobot risiko.
ATMR risiko kredit Pendekatan Standar merupakan hasil perkalian
antara tagihan bersih dengan bobot risiko.
Sesuai SEBI No. 13/6/DPNP tanggal 18 Februari 2011, penetapan
bobot risiko eksposur dilakukan berdasarkan kategori portfolio sebagai
berikut:
• Tagihan Kepada Pemerintah.
• Tagihan Kepada entitas sektor publik.
• Tagihan Kepada bank pembangunan multilateral dan lembaga
internasional.
• Tagihan Kepada bank.
• Tagihan kepada korporasi.
• Surat berharga yang memiliki peringkat jangka Pendek.
• Tagihan yang tidak didasarkan pada peringkat.

Tagihan bersih eksposur aset dalam neraca adalah nilai tercatat aset
ditambah dengan tagihan bunga yang belum diterima (jika ada) setelah
dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

Contoh: rating dan bobot risiko pada kredit korporasi.


Rating AAA – AA A+ ­ A­ BBB+ ­ BBB­ < BB­ Unrated
Bobot risiko 20% 50% 100% 150% 100%
www.facebook.com/indonesiapustaka

Seorang debitur dengan rating A+ dan kredit Rp 50 miliar, memiliki


bobot risiko 50%.
MANAJEMEN RISIKO 1
101 Risiko Kredit

• ATMR kredit tersebut adalah 50% * Rp 50 miliar = Rp 25 miliar.


• Modal yang diperlukan untuk menutup risiko kredit = 8% * 25 mi­
liar = Rp 2 miliar.
Untuk tagihan bersih eksposur rekening administratif adalah
hasil perkalian antara nilai kewajiban komitmen atau kewajiban
kontinjensi setelah dikurangi dengan penyisihan penghapusan
aset khusus (CKPN Khusus) dengan faktor konversi kredit (FKK)
sesuai ketentuan Bank Indonesia.

3.6.1.1 Penilaian kredit oleh Pihak eksternal

Hasil penilaian dalam bentuk rating harus dilakukan oleh lembaga


rating eksternal yang diakui oleh Bank Indonesia. Kriteria yang harus
dipenuhi oleh lembaga rating eksternal adalah sebagai berikut:
• Objektivitas
• Independen
• Transparansi
• Sumber daya yang mencukupi
• Kredibilitas

3.6.1.2 Mitigasi risiko kredit

Untuk transaksi dengan agunan, nilai agunan diperkenankan untuk me­


ngurangi eksposur risiko terhadap suatu counterparty ketika memper­
hitungkan kebutuhan modal. Jenis agunan keuangan yang diakui yaitu:
• Kas dan emas termasuk deposito yang diterbitkan oleh bank kre­
ditur.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Surat utang yang diperingkat oleh lembaga pemeringkat eks­


ternal yang diakui dengan peringkat tertentu, minimal dengan
rating BBB­ (atau BB­ apabila diterbitkan oleh pemerintah).
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
102

• Surat utang yang tidak diperingkat oleh lembaga pemeringkat


eksternal yang diakui dan memenuhi persyaratan tertentu.
• Ekuitas (termasuk obligasi konversi) yang termasuk dalam in­
deks utama bursa efek.
• Investasi kolektif pada efek yang dapat ditransfer dan reksadana
yang memenuhi persyaratan tertentu.
• Khusus untuk debitur non­lancar, mitigasi risiko kredit dapat
memperhitungkan agunan berupa aktiva tetap seperti tanah dan
bangunan.

3.6.2 internal rating Based (irB)

Pendekatan Internal Rating Based (IRB) mengukur risiko berdasarkan


internal rating yang telah dimiliki oleh bank. Jika bank memilih untuk
menggunakan pendekatan IRB, bank harus memenuhi ketentuan­
ketentuan persyaratan minimum, dan mendapatkan persetujuan dari
Bank Indonesia sebagai pengawas.

3.6.2.1 Parameter

Komponen risiko pada pendekatan ini adalah:


1. Probability of Default(PD)
Probability of Default (PD) adalah besarnya kemungkinan/probabili­
tas debitur mengalami wanprestasi atau tidak mampu mengembali­
kan kewajibannya baik pokok maupun bunga pinjaman. PD merupa­
kan estimasi ke depan dan biasanya dengan time horizon 1 tahun.
2. Loss Given Default (LGD)
www.facebook.com/indonesiapustaka

Loss Given Default (LGD) adalah estimasi potensi kerugian bank


jika terjadi wanprestasi. Besar LGD adalah (1 – recovery rate), yaitu
recovery rate adalah tingkat pengembalian pinjaman, setelah bank
MANAJEMEN RISIKO 1
103 Risiko Kredit

melakukan upaya penagihan dan atau penjualan agunan atas kredit


macet.
3. Exposure at Default (EAD)
Exposure at Default (EAD) adalah estimasi besarnya eksposur kredit
pada saat terjadi wanprestasi.
4. Effective Maturity(M)
Maturity (M) adalah sisa jangka waktu kredit/instrumen kredit. Kom­
ponen risiko ini diterapkan hanya untuk tagihan kepada pemerintah,
korporasi, dan bank.

IRB approach terbagi menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut:


• Foundation IRB
• Advanced IRB

Perbedaan di antara keduanya adalah sebagai berikut.


komponen risiko F­irB A­irB
PD Internal Internal
LGD Supervisor Internal
EAD Supervisor Internal
Data yang dibutuhkan 5 tahun 7 tahun

Dengan formula yang ditetapkan oleh BCBS atau regulator maka ke­
butuhan modal dapat ditentukan.

Contoh Pertanyaan Bab 3 (jawaban di bagian belakang buku ini)

1. Rancangan template nota analisis kredit yang akan digunakan oleh


unit bisnis dalam menganalisis kelayakan nasabah menjadi tugas
dari:
www.facebook.com/indonesiapustaka

a. Unit bisnis dan cabang


b. Unit Audit (SKAI)
c. Unit kepatuhan atau compliance
d. Unit risk management
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Kredit
104

2. Untuk menentukan Expected loss dalam valuta, bank perlu menen­


tukan:
a. Probability of Default (PD)
b. Exposure at Default (EAD)
c. Loss Given Default (LGD)
d. PD, EAD dan LGD

3. Kemampuan nasabah menghasilkan arus kas operasional untuk


membayar kewajiban pada bank, dalam konteks analisis kredit me­
tode 5C termasuk dalam faktor:
a. Capital
b. Capacity
c. Collateral
d. Condition of Economy

4. Pada analisis rasio likuiditas keuangan, mana dari pernyataan di ba­


wah ini yang benar:
a. Apabila current ratio > 1, maka debitur tidak akan menjadi macet.
b. Current ratio pada umumnya akan lebih kecil dibandingkan de­
ngan quick ratio.
c. Current ratio lebih mencerminkan kemampuan membayar kewa­
jiban dibandingkan dengan quick ratio.
d. Untuk debitur yang tidak mempunyai persediaan maka current
ratio akan kurang lebih sama dengan quick ratio.

5. Apabila usaha debitur memerlukan bahan baku yang dipasok hanya


dari sedikit sumber maka usaha debitur tersebut dilihat dari analisis
Porter:
a. Lemah dilihat dari sudut bargaining power of buyer.
www.facebook.com/indonesiapustaka

b. Kuat dilihat dari sudut barrier to entry.


c. Lemah dilihat dari sudut bargaining power of supplier.
d. Kuat dilihat dari sudut intensitas persaingan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

4
RISIKO PASAR
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
106

GAMBARAN UMUM
Risiko pasar adalah risiko perubahan harga pasar pada trading book
akibat perubahan faktor pasar, atau risiko pasar pada banking book se­
perti perubahan NII (Net Interest Income) dan EVE (Economic Value of
Equity). Faktor pasar antara lain suku bunga dan nilai tukar. Bab ini
membahas mengenai posisi bank yang terekspos risiko pasar, bagai­
mana melakukan identifikasi risiko pasar, dan mengukur risiko pasar
dan kebutuhan modal untuk menutup risiko pasar.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan selesainya pembahasan bab ini, pembaca diharapkan:
• Memahami risiko pasar dan proses identifikasi risiko pasar.
• Memahami perbedaan trading book dan banking book.
• Memahami berbagai posisi trading book dan valuasi nilai pasar.
• Memahami langkah­langkah di dalam menghitung besarnya risiko
pasar dengan metode Value at Risk (VaR).
• Memahami proses stress testing dan penentuan skenario.
• Memahami pengendalian risiko pasar dan penentuan limit.
• Mengetahui ketentuan Basel tentang berbagai perhitungan kebutuh­
an modal untuk menutup risiko pasar.
• Memahami risiko atas komponen banking book, rate sensitive
assets, dan rate sensitive liabilities.
• Mengetahui prinsip perhitungan repricing gap dan pengendalian ri­
siko suku bunga.
• Dapat mengidentifikasi langkah­langkah dalam mengukur, menge­
www.facebook.com/indonesiapustaka

lola dan mengendalikan risiko likuiditas.


MANAJEMEN RISIKO 1
107 Risiko Pasar

4.1 PEMAHAMAN RISIKO PASAR


Risiko pasar adalah risiko perubahan harga pada posisi neraca dan re­
kening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan se­
cara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga
option.
Risiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas fungsional bank
seperti kegiatan treasury (trading book) dan aktivitas investasi dalam
bentuk surat berharga, termasuk perkreditan (banking book).
Risiko pasar pada bank terjadi karena bank memiliki posisi, baik
posisi trading book maupun posisi banking book, dan faktor pasar ber­
ubah, yang mengakibatkan nilai pasar dari posisi bank berubah.

4.1.1 Cakupan Portofolio yang diperhitungkan

Posisi yang diperhitungkan dalam pengukuran risiko pasar mencakup


portofolio dalam kategori sebagai berikut.
• Untuk instrumen yang terekspos suku bunga, perhitungan risiko pa­
sar hanya mencakup portofolio trading book.
• Untuk instrumen yang terekspos nilai tukar, perhitungan risiko pasar
mencakup portofolio trading book dan banking book.

4.1.2 Faktor risiko Pasar

Secara umum, jenis risiko pasar dapat dibagi menjadi empat kategori ri­
siko pasar atau disebut juga dengan risiko pasar umum (general market
www.facebook.com/indonesiapustaka

risk), yaitu:
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
108

1. risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk)


Adalah potensi kerugian pada posisi neraca bank yang timbul aki­
bat pergerakan suku bunga di pasar yang berlawanan dengan posisi,
sehingga harga pasar dari posisi bank menjadi turun nilainya, atau
risiko pada transaksi bank yang mengandung risiko suku bunga.

2. risiko nilai tukar (Foreign Exchange Risk)


Adalah potensi kerugian pada posisi valuta asing milik bank, yang
nilai dalam valuta domestik menurun akibat terjadi fluktuasi nilai
tukar. Risiko nilai tukar biasanya timbul akibat bank memiliki posisi
terbuka (FX gap) valuta asing, dan terjadi perubahan nilai tukar yang
menyebabkan nilai yang dinyatakan dalam valuta domestik menjadi
turun.
Untuk bank yang harus melakukan konsolidasi risiko dengan
anak perusahaan yang bergerak di bidang sekuritas, jenis risiko di­
tambah dengan:

3. risiko harga ekuitas atau Saham (Equity Risk)


Adalah potensi kerugian pada nilai pasar posisi bank dalam bentuk
saham, akibat fluktuasi harga saham di pasar. Risiko ekuitas dapat
terjadi karena adanya perubahan harga saham atas portofolio sa­
ham yang dimiliki bank. Oleh karena perbankan Indonesia tidak di­
perkenankan mempunyai posisi saham maka risiko ekuitas hanya
ada pada bank yang memiliki perusahaan anak yang bergerak pada
bidang sekuritas.

4. risiko harga komoditas (commodity risk)


Adalah potensi kerugian pada posisi komoditas yang dimiliki bank,
akibat fluktuasi harga komoditas. Risiko komoditas dapat terjadi
www.facebook.com/indonesiapustaka

pada posisi komoditas termasuk posisi derivatif komoditas. Untuk


bank di Indonesia, karena sesuai regulasi tidak dapat melakukan
transaksi atau melakukan investasi terkait dengan komoditas maka
MANAJEMEN RISIKO 1
109 Risiko Pasar

risiko komoditas hanya ada pada bank yang memiliki perusahaan


anak yang bergerak pada bidang sekuritas.

4.1.3 Posisi yang diperhitungkan dalam risiko Pasar

Pada saat bank melakukan transaksi membeli surat berharga seperti


obligasi dan sejenisnya, pembukuan yang dilakukan bank atas tran­
saksi tersebut tergantung dari maksud bank melakukan pembelian ter­
sebut.
(1) apabila bank melakukan pembelian, dengan niat untuk dijual kem­
bali dalam jangka pendek dengan menikmati keuntungan kenaik­
an harga surat berharga maka posisi pembelian surat berharga ter­
sebut dilakukan pada akun trading atau trading account (TA).
(2) apabila bank melakukan pembelian dengan niat untuk dijual kem­
bali pada saat bank membutuhkan tambahan likuiditas maka
posisi pembelian surat berharga tersebut dilakukan pada akun
Available for Sale (AFS);
(3) apabila bank melakukan pembelian dengan niat untuk disimpan
sampai jatuh tempo dengan menikmati kupon atau bunga dari su­
rat berharga tersebut maka posisi pembelian surat berharga terse­
but dilakukan pada akun Held to Maturity (HTM).

Setiap posisi bank yang berpotensi menimbulkan laba atau rugi


akibat perubahan faktor pasar, akan mengandung risiko pasar. Dalam
kaitan dengan pengelolaan risiko pasar, portofolio bank dikelompokkan
menjadi portofolio trading book dan banking book.
www.facebook.com/indonesiapustaka

4.2 TRADING BOOK


Trading book adalah seluruh posisi perdagangan bank (proprietary po-
sition) pada instrumen keuangan dalam neraca (on balance sheet) dan
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
110

atau rekening administratif (off balance sheet) serta transaksi derivatif


yang dicatat sebagai trading account (TA). Transaksi tersebut dimak­
sudkan untuk dimiliki dan dijual kembali guna memeroleh keuntungan
dalam jangka pendek dari perubahan harga.
Posisi trading book terjadi antara lain dari kegiatan perantaraan (bro-
kering), pembentukan pasar (market making), atau transaksi lindung
nilai (hedging) atas portofolio bank lainnya yang diklasifikasikan se­
bagai trading book. Pada transaksi brokering murni, sebenarnya bank
tidak memegang posisi, namun dalam praktik, untuk dapat memberikan
pelayanan pada nasabah, bank sering melakukan transaksi brokering
dengan memegang posisi untuk sementara waktu, sebelum dijual pada
pihak lain yang bermaksud membeli surat berharga tersebut.
Contoh portofolio trading book, misalnya bank membeli surat hutang
(obligasi) dengan tujuan akan dijual kembali dalam jangka pendek, tan­
pa menunggu obligasi tersebut jatuh tempo.
Contoh lainnya, bank melakukan transaksi jual dan beli valuta asing,
baik yang bersifat sederhana (plain vanilla) maupun dalam bentuk deri­
vatif, dengan memelihara posisi valuta asing agar dapat memperlancar
aktivitas perdagangan valuta asing tersebut.
Terhadap Posisi trading account, bank perlu melakukan proses pe­
nentuan harga pasar atau marked to market setiap hari. Dengan proses
tersebut maka akan terdapat laba atau rugi yang selanjutnya dibukukan
langsung pada posisi rugi laba bank. Bagi bank yang memiliki portofolio
trading account dalam jumlah besar maka laporan laba/rugi bank akan
berfluktuasi sebagai akibat proses marked to market tersebut.
Portofolio trading account, pada umumnya merupakan portofolio
unit bisnis treasury sebagai unit operasional atau front office. Metode
perhitungan nilai pasar (marked to market) ditentukan oleh unit ma­
najemen risiko yang independen (middle office). Sementara itu, pe­
www.facebook.com/indonesiapustaka

laksanaan perhitungan marked to market harian dilakukan oleh bagian


administrasi atau back office. Pembagian fungsi ini dilakukan untuk
menghindarkan adanya benturan kepentingan oleh pihak front office
dalam penentuan harga pasar.
MANAJEMEN RISIKO 1
111 Risiko Pasar

Pada umumnya posisi trading book dapat dibagi menjadi posisi in­
strument tunai (cash instrument) dan posisi derivatif (derivatif instru-
ment).

4.2.1 Posisi instrumen tunai (Cash Instrument)

Posisi tunai terdiri dari surat berharga jangka pendek dan jangka pan­
jang.

1. Surat Berharga jangka Pendek


Yang tergolong sebagai surat berharga jangka pendek adalah:
• Sertifikat Bank Indonesia (SBI): surat berharga dalam mata uang
IDR yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan
utang dengan jangka waktu pendek (sampai dengan 12 bulan).
• Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi): penempatan dana yang dilaku­
kan kepada Bank Indonesia dengan jangka waktu sesuai yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.
• Repurchase agreement (Repo): SBI dan Surat Bendahara Negara
(SBN); transaksi penjualan dengan jaminan Surat Berharga (SBI
dan SBN) dengan kewajiban pembelian kembali sesuai dengan
harga dan jangka waktu yang disepakati.
• Reverse Repo SBI/SBN: transaksi pembelian surat berharga (SBI
dan SBN) dengan kewajiban melakukan penjualan kembali se­
suai dengan harga dan jangka waktu yang disepakati.
• Fine Tune Operation (FTO): transaksi dalam rangka operasi pasar
terbuka (OPT) yang dilakukan sewaktu­waktu oleh BI apabila di­
perlukan untuk memengaruhi likuiditas perbankan jangka pen­
dek pada waktu, jumlah dan harga transaksi yang ditetapkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

oleh BI. FTO terdiri atas:


– Fine Tune Ekspansi (FTE); dalam rangka penambahan likuidi­
tas perbankan secara jangka pendek.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
112

– Fine Tune Kontraksi (FTK); dalam rangka penyerapan likuidi­


tas perbankan secara jangka pendek.
• SBN dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun dan
Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

SPN adalah surat utang negara yang berjangka waktu sampai de­
ngan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto, dengan
maksimal sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.

2. Surat Berharga jangka Panjang


Surat berharga jangka panjang atau sekuritas adalah surat peng­
akuan utang, wesel, obligasi, sekuritas kredit dan setiap derivatif
terkait, atau suatu kewajiban dari penerbit dalam bentuk yang lazim
diperdagangkan di pasar modal dan pasar uang.
Jenis Surat Berharga dapat dibagi dalam:
• Surat Berharga Pemerintah
• Surat berharga yang diterbitkan oleh suatu pemerintah negara
tertentu, misalnya surat berharga negara (SBN) Republik In­
donesia, U.S. Treasury , Republic of Philippines Bonds, dan se­
bagainya.
• Surat Berharga Korporasi.
• Surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan termasuk bank,
baik milik pemerintah maupun swasta di dalam maupun luar
negeri.

4.2.2 Produk derivatif (Derivative Instruments)

Produk derivatif adalah suatu produk dengan nilai tergantung dari pro­
www.facebook.com/indonesiapustaka

duk atau transaksi yang mendasari (underlying transactions). Kontrak


derivatif merupakan kontrak atau perjanjian pembayaran yang nilai dari
derivatif tersebut merupakan turunan dari nilai instrumen yang menda­
sari seperti suku bunga, nilai tukar, commodity, equity, dan indeks.
MANAJEMEN RISIKO 1
113 Risiko Pasar

Berdasarkan jenis underlying, transaksi derivatif dibedakan antara


lain atas transaksi terkait nilai tukar valuta asing, suku bunga, surat ber­
harga, equity dan commodities.

1. Produk derivatif terkait nilai tukar Valuta Asing


Produk derivatif yang terkait dengan nilai tukar valuta asing (foreign
exchange) diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bank maupun
nasabah, antara lain:
• Transaksi Currency Forward dengan berbagai variasi
yaitu kontrak pembelian atau penjualan valuta asing terhadap
valuta Rupiah atau valuta asing lainnya pada tanggal valuta di
masa yang akan datang, dengan harga yang ditentukan pada
tanggal kontrak.
• Transaksi Currency Swap
yaitu kontrak pembelian atau penjualan valuta asing terhadap
Rupiah atau valuta asing lainnya pada tanggal valuta tertentu, se­
kaligus dengan perjanjian untuk menjual atau membeli kembali
pada tanggal valuta yang berbeda dengan harga yang ditentukan
pada tanggal kontrak ditutup.
• Transaksi Currency Option
yaitu kontrak pembelian atau penjualan hak untuk membeli
(call) atau menjual (put) atas sejumlah valuta asing tertentu ter­
hadap Rupiah atau valuta asing lainnya pada harga yang telah
ditentukan (strike price) untuk suatu periode tertentu dengan
membayar bagi pembeli option) atau menerima (bagi penjual
option) sejumlah premi tertentu.

2. Produk derivatif terkait Suku Bunga


Produk derivatif yang terkait dengan suku bunga (interest rate) un­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tuk memenuhi kebutuhan bank maupun nasabah yang dapat dilak­


sanakan oleh bank, antara lain:
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
114

• Forward Rate Agreement (FRA)


Suatu kontrak antara dua pihak untuk menetapkan suatu suku
bunga masa depan pada tingkat yang ditentukan untuk jangka
waktu yang sudah disepakati lebih dulu.
• Interest Rate Swap (IRS)
Kontrak pertukaran dua pembayaran suku bunga yang memiliki
karakteristik berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut antara
lain sifat bunga (fixed & floating) atau indeks yang digunakan.
Kontrak IRS tidak melakukan penyerahan pokok, nilai pokok ha­
nya sebagai patokan notional amount.
• Interest Rate Option
Kontrak yang memberikan perlindungan kepada pembeli dari ke­
naikan/penurunan suku bunga pada level tertentu (interest rate
cap/floor) dengan membayar fee. Kontrak ini tidak melakukan
penyerahan pokok valuta.

3. Produk derivatif terkait Surat Berharga


Produk derivatif terkait dengan surat berharga (securities) diguna­
kan untuk memenuhi kebutuhan bank maupun nasabah, antara lain
Bond Option, yaitu Kontrak pembelian atau penjualan hak untuk
membeli (call) atau menjual (put) surat berharga pada harga yang
telah ditentukan (strike price) untuk suatu periode tertentu dengan
membayar (bagi pembeli option) atau menerima (bagi penjual op-
tion) sejumlah premi tertentu.

4.2.3 Pengukuran risiko Pasar Trading Book

Untuk mengukur besar risiko pasar trading book, perlu ditetapkan terle­
www.facebook.com/indonesiapustaka

bih dahulu:
1) Nilai pasar dari posisi portofolio trading.
2) Sensitivitas dari nilai pasar portofolio trading terhadap perubahan
faktor pasar.
MANAJEMEN RISIKO 1
115 Risiko Pasar

3) Volatilitas dari nilai pasar yang dapat mempengaruhi nilai pasar dari
portofolio trading.

4.2.3.1 komponen risiko Pasar

Secara umum komponen risiko pasar terdiri dari:

1. risiko Spesifik (Specific Risk)


Adalah risiko perubahan nilai pasar sekuritas akibat faktor risiko
kredit penerbit (issuer) sekuritas. Contoh, harga sekuritas turun
akibat dari memburuknya kinerja penerbit surat berharga seperti
penurunan rating. Dampak penurunan harga hanya terjadi pada se­
kuritas yang diterbitkan issuer tersebut, dan tidak memberikan dam­
pak pada harga sekuritas secara umum.

2. risiko Pasar secara umum (General Market Risk)


Adalah risiko terjadinya potensi kerugian secara umum akibat pe­
rubahan variabel pasar. Risiko pasar tersebut timbul sebagai akibat
dari perubahan variabel pasar sehingga memengaruhi harga pasar
kelompok instrumen yang terkait.
Faktor pasar yang menyebabkan harga pasar sekuritas turun
misalnya tingkat bunga atau yield pada kelompok jenis instrumen
tertentu. Sebagai contoh, kenaikan suku bunga BI rate (yang meru­
pakan benchmark pasar) dapat menyebabkan harga pasar surat
berharga (bond) turun.

4.2.3.2 Valuasi nilai Pasar dari Posisi Trading


www.facebook.com/indonesiapustaka

Pengukuran risiko pasar dimulai dengan menghitung besarnya eks­


posur atau nilai pasar untuk masing­masing instrumen pada portofo­
lio, yaitu dengan melakukan proses valuasi. Untuk memastikan bahwa
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
116

bank sudah melakukan valuasi secara konsisten, bank menggunakan


data harga pasar untuk melakukan proses valuasi setiap instrumen,
yang dianggap reliable dan tepat waktu.
Apabila data harga pasar suatu instrumen tidak tersedia, bank dapat
menggunakan suatu model yang dapat mencerminkan harga pasar ins­
trumen tersebut. Dalam hal ini bank disebut melakukan mark to model.
Untuk mengukur risiko pasar pada bank secara keseluruhan, terle­
bih dahulu perlu ditentukan risiko pasar dari masing­masing instrumen,
kemudian menentukan risiko portofolio dengan memperhitungkan ko­
relasi diantara berbagai faktor pasar.

4.2.3.3 Sensitivitas dari Posisi Trading Book

Sensitivitas dari posisi trading book adalah perubahan harga pasar dari
posisi trading book akibat perubahan satu satuan perubahan faktor pa­
sar. Faktor pasar dari posisi valuta asing adalah nilai tukar yang berlaku
di pasar. Faktor pasar dari posisi obligasi adalah suku bunga pasar.
Sebagai contoh, apabila bank membeli valuta asing USD sebesar
USD 10 juta dengan nilai tukar Rp10.000 per USD = Rp100 miliar. Apa­
bila nilai tukar USD melemah 1%, artinya nilai tukar USD/IDR sekarang
menjadi Rp9.900/USD atau Rp99 miliar maka kerugian posisi tersebut
adalah sebesar 1% atau Rp1 miliar. Jadi, apabila bank membeli USD se­
nilai Rp1 miliar, apabila nilai tukar USD melemah 1% maka kerugian bank
adalah 1% x Rp100 miliar = Rp1 miliar.
Untuk posisi obligasi, penurunan harga obligasi akibat penurunan
suku bunga tidak dapat dihitung secara langsung seperti di atas, me­
lainkan dengan menggunakan Modified Duration (MD). Apabila MD dari
suatu posisi obligasi = 5; apabila suku bunga naik sebesar 1 bp atau ba-
www.facebook.com/indonesiapustaka

sis point (1% = 100 bp) maka nilai pasar obligasi akan turun sebesar 5
bp. Sebagai contoh, suatu obligasi mempunyai nilai pasar Rp100 miliar;
obligasi tersebut mempunyai MD = 5. Apabila suku bunga pasar naik se­
MANAJEMEN RISIKO 1
117 Risiko Pasar

besar 1 bp maka nilai pasar obligasi akan turun sebesar 5 bp atau turun
sebesar Rp10 juta.

4.2.3.4 Volatilitas Faktor Pasar

Volatilitas faktor pasar merupakan ukuran perubahan faktor pasar pada


satu periode tertentu (misalnya dalam satu hari) dengan tingkat keya­
kinan atau confident level tertentu (misalnya 99%). Volatilitas faktor
pasar merupakan salah satu faktor yang akan memengaruhi nilai aset
yang pada gilirannya menimbulkan potensi kerugian akibat risiko pasar.
Pengukuran volatilitas faktor pasar dilaksanakan atas dasar distri­
busi statistik, menggunakan data pasar yang pada umumnya meru­
pakan data harian, kemudian menetapkan tingkat volatilitas dengan
confident level tertentu. Volatilitas suatu faktor pasar adalah volatilitas
dengan periode waktu tertentu dan dengan tingkat confident level atau
probability tertentu. Sebagai contoh, dari data suku bunga harian, diper­
oleh volatilitas suku bunga dengan periode satu hari dan dengan confi-
dent level 99% adalah 2.5%, artinya dalam periode waktu satu hari, suku
bunga pasar biasanya berubah sebesar 2.5% dengan tingkat keyakinan
99%.

4.2.3.5 Value at Risk (VaR)

VaR merupakan suatu angka atau jumlah yang menggambarkan perki­


raan besarnya kerugian portofolio bank akibat penurunan harga pasar
karena perubahan faktor pasar pada periode waktu tertentu dan dengan
tingkat confident level atau probability tertentu. Dengan kata lain, VaR
www.facebook.com/indonesiapustaka

merupakan representasi dari potensi kerugian finansial yang mungkin


terjadi di masa mendatang atas posisi yang dimiliki bank dalam suatu
periode tertentu dengan tingkat keyakinan tertentu (confidence level).
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
118

Pada umumnya, portofolio suatu bank terdiri dari berbagai instru­


men (bonds, swaps, options dll.) yang perlu diketahui besar risiko pa­
sar atas posisi tersebut. Nilai VaR diperoleh dengan mengalikan posisi
portofolio dengan sensitivitas dan volatilitas faktor pasar yang relevan.
Salah satu kendala dalam mengukur risiko pasar adalah pada masa
lalu tidak ada satu ukuran yang seragam untuk mengukur risiko pasar
untuk masing­masing instrumen. VaR merupakan suatu pendekatan da­
lam mengukur volatilitas dari nilai pasar aset bank. VaR dapat dinyata­
kan dalam nilai absolut atau persentase dari nilai pasar. Sebagai contoh,
VaR sebesar Rp10 miliar atau VaR sebesar 2,5% dari portofolio.

4.2.4 Pengendalian risiko Pasar

Salah satu pendekatan dalam mengendalikan risiko pasar adalah de­


ngan menggunakan sistem limit. Dengan pendekatan ini, bank mene­
tapkan limit­limit dengan jumlah tertentu agar risiko pasar tetap ter­
kendali sekaligus dapat mengakomodasi kebutuhan bisnis unit dalam
melakukan aktivitas bisnis.
Pada prinsipnya limit tidak boleh dilanggar, namun demikian pada
kondisi tertentu pelanggaran limit tidak bisa dihindarkan. Apabila limit
yang telah ditetapkan tersebut dilanggar maka bank segera menyusun
action plan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, apabila li­
mit yang ditetapkan cukup sering dilanggar maka bank perlu melakukan
review besarnya limit agar sesuai dengan perkembangan kebutuhan
bisnis bank dan pasar.

4.2.4.1 Pengelolaan Limit


www.facebook.com/indonesiapustaka

Seluruh aktivitas dan posisi trading book yang mengandung risiko pa­
sar dikendalikan dengan sistem limit. Limit risiko merupakan batasan
MANAJEMEN RISIKO 1
119 Risiko Pasar

untuk mengendalikan risiko atas transaksi trading. Limit mencerminkan


risk appetite atau besarnya toleransi risiko pasar yang dapat diterima
bank.

4.2.4.1.1 Jenis-Jenis Limit

Jenis­jenis limit risiko yang terkait dengan pengelolaan trading book


mencakup tidak hanya limit risiko pasar, tetapi juga mencakup limit
atas risiko kredit yang timbul dalam aktivitas treasury. Jenis dan ukuran
limit ditetapkan sesuai dengan kompleksitas transaksi, volume tran­
saksi, jenis dan tingkat risiko yang dihadapi.
Beberapa limit risiko pasar yang umum digunakan bank, antara lain:

• Limit Value at Risk (Limit VaR)


Limit VaR merupakan batasan potensi kerugian dari eksposur
yang dimiliki bank apabila ada sebagai posisi selama periode ter­
tentu dan tingkat keyakinan tertentu.
Limit VaR termasuk limit strategis karena menjadi dasar pe­
netapan limit­limit lain yang terkait dengan transaksi Treasury
dalam kategori Trading Book.
• Limit Nominal (Limit dealer, limit Net Open Position/NOP)
Limit nominal ditujukan untuk membatasi jumlah posisi terbuka
yang diperbolehkan untuk dimiliki dalam periode waktu tertentu.
• Limit Cut Loss atau Limit Stop Loss
Limit Cut Loss adalah harga terendah (kerugian maksimum)
yang dapat diterima bank untuk setiap posisi terbuka yang dimi­
liki dalam kategori trading book, yaitu dealer harus menutup po­
sisi rugi tersebut. Limit Cut Loss merupakan peringatan dini yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

menunjukkan bank telah menderita kerugian melampaui batas


yang dapat diterima.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
120

Contoh:
Bank memperkirakan harga akan naik dari 1.2000 ke 1.3000.
Untuk memperoleh keuntungan, bank memutuskan membeli
(buy) sekarang di harga 1.2000 dengan harapan harga akan
naik sehingga nanti bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi
dan mendapat keuntungan, tapi ternyata harga malah turun ke
1.1700.
Setelah melakukan analisis ulang, bank menyimpulkan bah­
wa kemungkinan besar harga akan turun lebih jauh, yang dapat
mengakibatkan kerugian yang lebih besar lagi. Kemudian bank
memutuskan untuk melakukan tutup posisi (melikuidasi), yang
disebut cut loss atau stop loss, yang mengakibatkan kerugian
sebesar 300 point.
Ilustrasi Limit Cut-Loss (Limit Stop Loss):
Pada saat harga jatuh di bawah 100 maka bank akan melikui­
dasi posisi untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

• Limit Transaksi (Single Transaction Limit)


Limit transaksi adalah batas maksimum nominal per transaksi
yang boleh dilakukan oleh dealer.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Limit Periode Kepemilikan (Holding Period Limit)


Limit Periode Kepemilikan adalah batas maksimum kepemilikan
atas suatu instrumen keuangan yang termasuk dalam trading
book.
MANAJEMEN RISIKO 1
121 Risiko Pasar

• Limit Jangka Waktu (Tenor Limit)


Limit Jangka Waktu atau Tenor Limit suatu transaksi instrumen
treasury pada umumnya tidak dibatasi, namun harus memerha­
tikan tingkat likuiditas dari instrumen dimaksud.
• Limit Stress Test
Limit Stress Test adalah batasan potensi kerugian atas eksposur
yang dimiliki bank berdasarkan skenario perubahan faktor pasar
secara ekstrim.

4.2.4.2 Monitoring dan Pelaporan

Penggunaan limit yang telah ditetapkan harus dimonitor secara periodik


(harian, mingguan, bulanan dll.) tergantung kebutuhan. Aktivitas me­
monitor limit akan berguna apakah terjadi pelanggaran limit atau limit
yang ditetapkan tidak dipergunakan secara optimal.
Dalam hal terjadi pelampauan limit maka bank harus segera mela­
kukan penyesuaian dan menutup pelampauan tersebut sehingga tidak
memengaruhi jumlah alokasi modal atas risiko yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Setiap pelampauan limit harus dapat diidentifikasi dengan segera
dan ditindaklanjuti dengan langkah yang tepat agar risiko dapat diken­
dalikan.

4.2.5 Perhitungan Beban Modal (Capital Charge)

Bank wajib menyediakan modal dalam jumlah tertentu untuk menutup


risiko pasar atas portofolio yang dimiliki. Perhitungan kecukupan modal
www.facebook.com/indonesiapustaka

bank sebesar minimum 8% merupakan persyaratan utama yang harus


dipenuhi bank dalam menjalankan aktivitas bisnis. Bank dalam meng­
hitung kecukupan modal tersebut dapat mempergunakan metode stan­
dar atau metode internal.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
122

Pendekatan yang paling sederhana dalam pengukuran modal yang


diperlukan untuk menutup risiko pasar adalah seperti yang diatur da­
lam PBI No. 5/23/PBI/2003 yang kemudian diubah oleh PBI No. 9/13/
PBI/2007 yaitu pendekatan metode standar.
Pendekatan lain yang dapat dilakukan bank disebut metode model
internal. Penerapan metode model internal memerlukan berbagai per­
syaratan kuantitatif maupun kualitatif untuk menjamin keakuratan mo­
del yang dipergunakan.

4.2.5.1 Metode Standar

Bank Indonesia mewajibkan bank yang memenuhi kriteria tertentu un­


tuk melakukan perhitungan risiko pasar dengan menggunakan Metode
Standar sejak tahun 2003. Tujuan perhitungan risiko pasar dengan me­
tode standar adalah untuk memenuhi ketentuan Kewajiban Penyediaan
Modal Minimum (KPMM) sebesar 8% dengan memperhitungkan faktor
risiko pasar.
Metode Standar pada perhitungan kebutuhan modal untuk menutup
risiko pasar adalah pendekatan perhitungan yang dibuat secara standar
dan ditetapkan oleh Bank Indonesia. Di samping relatif sederhana, stan­
darisasi tersebut dapat mengurangi beban pelaporan oleh bank, serta
memberikan acuan bagi pengawas dalam melakukan verifikasi.
Perhitungan beban modal untuk risiko suku bunga meliputi:
a) risiko spesifik atau risiko penerbit surat berharga dari setiap efek
atau instrumen keuangan, tanpa memerhatikan posisi long atau
posisi short.
b) risiko umum dari keseluruhan portofolio, yaitu posisi long atau
posisi short dalam efek atau instrumen keuangan yang berbeda
www.facebook.com/indonesiapustaka

dapat dilakukan saling hapus.

Setelah diperoleh modal yang diperlukan, dapat ditentukan ATMR


untuk risiko pasar dengan cara mengonversikan jumlah beban modal
MANAJEMEN RISIKO 1
123 Risiko Pasar

untuk seluruh jenis risiko pasar menjadi ekuivalen dengan ATMR (dika­
likan dengan angka 12,5, yaitu 100/8). Selanjutnya, perhitungan KPMM
dengan memperhitungkan risiko kredit dan risiko pasar dilakukan de­
ngan formula sebagai berikut:
(Tier 1 + Tier 2 + Tier 3) - penyertaan
KPMM = = min 8%
ATMR (risiko kredit) + 12.5 x modal risiko pasar

1) Menjumlahkan ATMR untuk risiko kredit dengan eksposur tertim­


bang menurut risiko pasar.
2) Menghitung modal bank yang terdiri atas modal Inti (Tier 1), modal
pelengkap (Tier 2), dan modal pelengkap tambahan (Tier 3) yang
dialokasikan untuk menutup risiko pasar setelah dikurangi penyer­
taan.
3) Dalam perhitungan KPMM secara konsolidasi, penyertaan yang
menjadi pengurang modal adalah penyertaan bank kepada perusa­
haan anak yang tidak wajib dikonsolidasikan sesuai ketentuan yang
berlaku.
4) Membagi total modal dengan jumlah ATMR dan eksposur tertimbang
yang hasilnya dinyatakan dalam persentase.
Modal pelengkap tambahan (Tier 3) yang digunakan dalam per­
hitungan rasio KPMM adalah sebesar modal yang dibutuhkan un­
tuk menutup risiko pasar trading book. Modal pelengkap tambahan
(Tier 3) yang memenuhi persyaratan namun tidak digunakan dalam
perhitungan rasio KPMM, dihitung sebagai rasio kelebihan modal pe­
lengkap tambahan (excess Tier 3 capital ratio)

4.2.5.2 Metode Model internal (internal Model)


www.facebook.com/indonesiapustaka

Internal Model merupakan model yang dikembangkan oleh bank untuk


mengukur risiko pasar dengan menggunakan Value at Risk (VaR). VaR
merupakan alat analisis dan kontrol bagi manajemen agar dapat me­
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
124

waspadai potensi kerugian pada posisi trading book apabila melebihi


toleransi atau limit yang sudah ditetapkan bank.
Sebelum bank dapat menggunakan model internal dalam per­
hitungan KPMM, bank harus memenuhi persyaratan umum, persyaratan
kualitatif, dan persyaratan kuantitatif seperti yang dipersyaratkan oleh
regulator.
Bank juga wajib memeroleh persetujuan kembali dari Bank
Indonesia apabila akan melakukan modifikasi atas penggunaan mo­
del internal yang mencakup perhitungan beban modal (capital charge)
harian, model internal yang digunakan bank harus dapat menghitung
beban modal untuk risiko pasar setiap hari.

4.3 BANKING BOOK


Banking book adalah posisi atau portofolio bank yang tidak termasuk
kategori trading book, yaitu posisi AFS dan posisi HTM. Sebagai contoh,
posisi pembiayaan, posisi dana pihak ketiga, posisi portofolio yang di­
beli dengan maksud disimpan sampai jatuh tempo.
Terhadap posisi AFS, bank perlu melakukan proses penentuan harga
pasar atau marked to market setiap hari. Dengan proses tersebut maka
akan terdapat laba atau rugi yang selanjutnya dibukukan tidak pada
posisi rugi laba bank, melainkan dibukukan langsung pada akun ekui­
tas. Bagi bank yang memiliki portofolio AFS dalam jumlah besar, laporan
ekuitas bank akan berfluktuasi sebagai akibat proses marked to market
tersebut.
Terhadap posisi HTM, bank mencatat pada harga pembelian, dan
tidak perlu melakukan proses penentuan harga pasar atau marked to
market.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sebagai lembaga intermediary, bank mengumpulkan dana masya­


rakat dan menyalurkan kredit maupun menginvestasikan dalam bentuk
aset keuangan seperti SUN, obligasi korporasi, SBI dan lainnya.
MANAJEMEN RISIKO 1
125 Risiko Pasar

Aktivitas yang dilaksanakan oleh bank dalam menjalankan fungsi


intermediary keuangan tersebut disebut aktivitas banking book. Posi­
si banking book mengakibatkan bank memiliki eksposur kepada risiko
suku bunga, risiko nilai tukar, maupun risiko lain seperti risiko likuiditas,
risiko kredit dan risiko operasional. Pengelolaan risiko dan bisnis dalam
aktivitas banking book dikenal sebagai ALM (Assets & Liability Mana-
gement).
Neraca sebuah bank memperlihatkan aset yang dimiliki dan kewa­
jiban bank serta kepemilikan/ekuitas dengan hubungan sebagai beri­
kut:
ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS

a. Aset bank dapat dibagi menjadi 4 kategori sebagai berikut.


• Kas dan setara kas; seperti dana tunai di kas kantor cabang, ATM,
GWM, penempatan di bank lain, dan FTK.
• Penyaluran dana dalam bentuk kredit seperti KPR, kredit modal
kerja, dan KUK.
• Aset Investasi; seperti SBI, SUN, obligasi korporasi, dan produk
investasi lain.
• Aset lain seperti kantor tanah dan bangunan.
b. Kewajiban dan ekuitas bank dapat dibagi menjadi 4 kategori sebagai
berikut.
• Dana masyarakat: seperti tabungan, giro dan deposito.
• Utang antarbank/ jangka pendek: FTE.
• Utang jangka panjang (lebih dari 1 tahun); seperti obligasi yang
diterbitkan.
• Modal: obligasi subordinasi yang diterbitkan, laba, saham, dan
cadangan.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
126

4.3.1 identiikasi risiko Suku Bunga pada Banking Book

Pendapatan utama dari bank adalah dari bisnis perkreditan. Pendapatan


bunga dikurangi dengan biaya bunga disebut dengan pendapatan bu­
nga bersih atau Net Interest Income (NII). NII dibagi dengan baki debet
kredit disebut dengan Net Interest Margin (NIM).
Laporan laba/rugi sebuah bank akan memperlihatkan bahwa pen­
dapatan bunga (Interest Income) dari kredit dan aset produktif lainnya,
dan biaya bunga dari dana masyarakat, merupakan bagian utama dari
struktur pendapatan dan biaya bank secara keseluruhan. Selisih dari
pendapatan dan biaya bunga disebut sebagai pendapatan bunga bersih
atau Net Interest Income (NII).

Net Interest Income = Interest Income – Interest Expense

Modal bank dapat dilihat pada neraca dan dicatat pada nilai buku se­
bagai nilai Aset dikurangi dengan liabilities. Nilai pasar dari modal dise­
but dengan Economic Value of Equity (EVE), biasanya berbeda dengan
nilai buku. Perbedaan nilai buku dari modal dan nilai pasarnya dapat
dilihat dari PBV (Price to Book Value). Suatu bank (yang sudah tercatat
pada pasar modal) dengan PBV = 2, artinya mempunyai nilai pasar dua
kali nilai bukunya.
Risiko pasar pada posisi banking book adalah potensi kerugian dari
posisi banking book terutama akibat:
• Perubahan suku bunga pasar menimbulkan potensi risiko penu­
runan pendapatan bunga bersih dan penurunan nilai ekonomis
dari modal. Perubahan nilai tukar dapat memicu potensi kerugian
akibat bank memiliki posisi terbuka dalam valuta asing, baik po­
sisi long atau posisi short.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Risiko suku bunga adalah potensi penurunan pendapatan bunga


bersih (NII), atau potensi penurunan nilai ekonomi dari modal
suatu bank (EVE), karena pengaruh perubahan tingkat suku bu­
nga pasar.
MANAJEMEN RISIKO 1
127 Risiko Pasar

Analisis terhadap hubungan, karakter dan sensitivitas neraca dan


laba/rugi bank terhadap perubahan faktor risiko pasar merupakan lang­
kah identifikasi risiko pasar pada banking book.
Penurunan NII terjadi akibat terdapat perbedaan (mismatch) ma-
turity atau repricing date antara posisi aktiva RSA dan pasiva RSL, baik
pada neraca maupun pada rekening administratif (off balance sheet).
Penurunan EVE terjadi akibat terdapat perbedaan (mismatch) dura-
tion antara posisi aktiva RSA dan pasiva RSL, baik pada neraca maupun
pada rekening administratif (off balance sheet).
Dalam jangka pendek, bank harus menjaga agar NII bank tidak meng­
alami penurunan, dan dalam jangka panjang bank harus berupaya agar
tidak terjadi penurunan nilai ekonomis dari modal akibat perubahan
suku bunga pasar. Untuk mengelola risiko penurunan NII, bank meng­
gunakan repricing gap, sedangkan untuk mengelola potensi penurunan
nilai ekonomis dari modal, bank menggunakan duration gap.

4.3.2 Pengukuran risiko Pasar Banking Book

Salah satu pendekatan untuk mengukur risiko suku bunga pada bank-
ing book adalah repricing gap. Repricing gap merupakan metode dasar
dan sederhana untuk menghitung perubahan pendapatan bunga ber­
sih (net interest income – NII) terhadap perubahan suku bunga pasar.
NII dapat berubah karena pada neraca terdapat komponen aktiva yang
sensitif terhadap perubahan suku bunga pasar (Rate Sensitive Assets =
RSA); dan terdapat komponen pasiva yang sensitif terhadap perubahan
suku bunga pasar (Rate Sensitive Liabilities = RSL).

a. Rate Sensitive Assets (rSA)


www.facebook.com/indonesiapustaka

RSA adalah aset produktif dengan nilai dipengaruhi pergerakan suku


bunga, baik pada saat jatuh tempo, atau pada saat posisi tersebut
perlu ditetapkan kembali tingkat bunganya (repriced) dalam periode
waktu tertentu.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
128

Sebagai contoh, kredit komersial dengan suku bunga mengam­


bang (floating rate) dengan benchmark SBI 6 bulan, maka suku bu­
nga dapat berubah sesuai perkembangan bunga pasar bunga SBI 6
bulan yang ditetapkan setiap enam bulan sekali. Tingkat bunga SUN
VR (Surat Utang Negara variable rate) dapat berubah sesuai dengan
benchmark rate yang digunakan. Bunga pada posisi penempatan
antar bank dengan jangka waktu 1 minggu akan berubah pada saat
diperpanjang setiap minggu.

b. Rate Sensitive Liabilities (rSL)


RSL adalah kewajiban bank ketika bunga yang harus dibayar ter­
gantung suku bunga pasar. Posisi liabilities dapat berbentuk sim­
panan masyarakat dengan bunga tetap sampai jatuh tempo, atau
posisi dimana bunga ditetapkan kembali pada periode tertentu
(repriced). Sebagai contoh, bunga giro dapat berubah setiap saat
atau bunga deposito satu bulan dapat berubah setelah jatuh tem­
po satu bulan kemudian. Utang obligasi dengan suku bunga floating
atas dasar SBI 3 bulan mempunyai suku bunga yang dapat berubah
setiap tiga bulan.

4.3.2.1 repricing gap

Repricing gap adalah selisih antara jumlah RSA dan RSL yang jatuh tem­
po, atau bunga dapat berubah (reprice), dalam periode tertentu.

Repricing GAP = RSA – RSL

Gap positif berarti RSA lebih besar dari RSL pada periode repricing
www.facebook.com/indonesiapustaka

tersebut, atau aset lebih cepat dilakukan reprice dibandingkan dengan


liabilities. Gap negatif berarti RSL lebih besar dari RSA, atau aset lebih
lambat dilakukan reprice dibandingkan dengan liabilities. Gap kumulatif
MANAJEMEN RISIKO 1
129 Risiko Pasar

adalah akumulasi nilai gap pada periode tersebut dan periode sebelum­
nya.
Gap yang dihasilkan dari perhitungan di atas apabila dikalikan de­
ngan perubahan suku bunga yang diasumsikan, menghasilkan nilai
estimasi perubahan pendapatan suku bunga bersih, NII (net interest in-
come). Dampak dari risiko suku bunga terhadap aktivitas banking book
diukur dari penurunan pendapatan suku bunga bersih, NII.

GAP * ∆ suku bunga = ∆ NII

Sebagai contoh sederhana, bank hanya memiliki satu aset KPR bu­
nga tetap selama 5 tahun dengan baki debet Rp 100 miliar, dengan bu­
nga 9%, satu posisi sumber dana pada sisi pasiva berupa dana pihak ke­
tiga sebesar Rp 90 miliar dengan rata­rata biaya bunga = 6%, dan modal
bank sebesar Rp 10 miliar sebagai berikut:

Assets Liabilities
KPR Fixed rate 5 tahun @ 9% 100 DPK, biaya bunga 6% 90
Modal 10
Total 100 100

Net Interest Margin (NIM) awal = 9% ­ 6% = 3%

Pada contoh ini, apabila bunga pasar naik 1% maka bunga pada posi­
si KPR tidak dapat disesuaikan karena sifat bunga tetap selama 5 tahun.
Namun demikian, dana pihak ketiga karena bersifat floating, perlu dise­
suaikan sesuai harga pasar, misalnya menjadi 7%.
Dengan demikian, NIM baru menjadi 9% ­ 7% = 2%
Terlihat bahwa karena bank mempunyai repricing gap negatif maka
apabila bunga pasar naik, NIM akan menurun dari 3% menjadi 2%.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
130

4.3.2.2 duration gap

Pada unsur neraca dapat dihitung satu atribut yang disebut dengan mo-
dified duration (MD). MD merupakan sensitivitas dari nilai pasar posisi
aktiva pasiva terhadap perubahan satu satuan suku bunga pasar. Se­
bagai contoh, apabila posisi KPR mempunyai MD = 5 maka apabila bu­
nga pasar naik 1%, nilai pasar dari KPR akan turun kurang lebih sebesar
5%. Apabila posisi dana pihak ketiga mempunyai MD = 2 maka apabila
bunga pasar naik 1%, nilai pasar dari KPR akan turun kurang lebih sebe­
sar 2%.
Dengan demikian, apabila suku bunga pasar naik 1%, maka nilai pa­
sar KPR akan turun 5% atau Rp 5 miliar sehingga nilai pasar KPR menjadi
Rp 95 miliar. Demikian juga nilai DPK akan turun 2% atau Rp. 1,8 miliar
sehingga nilai pasar KPR menjadi Rp88,2 miliar.
Neraca bank akan menjadi sebagai berikut:

Assets Liabilities
KPR fixed rate 5 tahun @ 9%; MD = 5 95 DPK, biaya bunga 6%, MD = 2 88,2
Modal 6,8
Total 95 95,0

Dengan demikian, terlihat bahwa karena bank mempunyai duration


gap positif maka apabila bunga pasar naik, nilai pasar modal akan me­
nurun dari Rp10 miliar menjadi Rp6,8 miliar.

4.3.3 Pengendalian risiko Suku Bunga

Untuk mencapai tujuan strategis, manajemen dapat melakukan lang­


kah sebagai berikut.
www.facebook.com/indonesiapustaka

1) Menentukan ekspektasi perubahan suku bunga dalam periode yang


telah ditentukan.
2) Menganalisis gap pada struktur neraca dan laba/rugi bank, menen­
MANAJEMEN RISIKO 1
131 Risiko Pasar

tukan keselarasan gap dengan estimasi perubahan bunga.


3) Apabila diperlukan, dapat diambil langkah untuk mencapai tujuan
strategis yang telah ditentukan dengan cara antara lain:
• Strategi aktiva (assets)
• Strategi pasiva (funding)
• Strategi off balance sheet atau derivatif

Berikut ini beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh bank untuk
mengurangi risiko.

4.3.3.1 Strategi Aktiva

a. Suku Bunga Diperkirakan Naik


Dengan kenaikan suku bunga maka bank mengupayakan agar repri-
cing gap menjadi berkurang, atau berubah menjadi positif. Salah
satu cara adalah dengan meningkatkan exposure RSA. RSA dapat
meningkat antara lain dengan metode:
• menjual surat berharga jangka panjang (existing) atau jangka
menengah.
• melakukan lebih banyak ekspansi kredit yang berbunga floating.
• meningkatkan adjustable-rate loan.
• melakukan investasi dengan bunga berdasarkan base-rate (in­
deks) yang cepat berubah, misal LIBOR jangka pendek

b. Suku Bunga Diperkirakan Turun:


Dengan penurunan suku bunga, bank harus mengupayakan re-
pricing gap menjadi negatif karena posisi ini akan dapat mem­
berikan keuntungan bagi bank dari kenaikan NII. Metode yang dapat
www.facebook.com/indonesiapustaka

digunakan antara lain mengurangi exposure RSA dengan cara:


• menjual sekuritas jangka pendek yang berbunga mengambang
(floating).
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
132

• membeli sekuritas jangka panjang dan menengah dengan bunga


tetap (fixed rate).
• Dari sisi kredit, bank dapat:
• memperbanyak kredit dengan bunga fixed.
• mengurangi adjustable-rate loan.
• investasi obligasi dengan bunga tetap (fixed rate).

4.3.3.2 Strategi dari sisi pasiva

a. Suku Bunga Diperkirakan Naik


Dengan kenaikan suku bunga, repricing gap diupayakan positif.
Bank harus mengurangi eksposur untuk menghindari kerugian aki­
bat kenaikan suku bunga dengan menurunkan RSL atau interest
bearing liabilities dengan cara menerbitkan surat utang jangka me­
nengah dan jangka panjang dengan bunga tetap, promosi deposito
jangka panjang dengan bunga yang lebih menarik dibandingkan
dengan deposito jangka pendek, atau mempromosikan tabungan
yang dibekukan dalam jangka waktu tertentu dengan memberikan
hadiah, dsb.

b. Suku Bunga Diperkirakan Turun


Dengan penurunan suku bunga, bank harus mengupayakan me­
ngurangi eksposur untuk menghindari kerugian akibat penurunan
suku bunga dengan meningkatkan interest bearing liabilities, yaitu
menerbitkan obligasi dengan bunga mengambang, mempromosi­
kan produk dana jangka pendek dengan bunga mengambang, dsb.
www.facebook.com/indonesiapustaka

4.3.3.3 Hedging

Hedging atau proses lindung nilai adalah proses melakukan suatu


transaksi yang bertujuan mengurangi risiko. Esensi dari hedging ada­
MANAJEMEN RISIKO 1
133 Risiko Pasar

lah bahwa untuk mengurangi risiko suatu transaksi dapat dilakukan


dengan melakukan transaksi lain yang berlawanan untuk meng­offset
risiko. Proses hedging memerlukan hubungan yang sangat dekat antara
jumlah dan perubahan nilai dari instrumen yang dilakukan hedging dan
instrumen hedging.
Beberapa instrumen derivatif yang digunakan untuk pengelolaan ri­
siko suku bunga, yaitu forwards, futures, options dan swaps.

Contoh Pertanyaan Bab 4 (jawaban di bagian belakang buku ini)

1. Posisi bond options merupakan posisi derivatif dengan underlying


berupa:
a. Nilai tukar
b. Suku bunga
c. Saham (equity)
d. Komoditas

2. Produk KPR dengan bunga tetap selama 5 tahun sesuai pada kon­
disi:
a. Bunga pasar akan naik
b. Bunga pasar akan turun
c. Bunga pasar akan stabil
d. Bunga pasar akan naik lalu turun

3. Untuk menentukan ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko) dari


unsur risiko pasar, jumlah modal yang dihasilkan dari perhitungan
model standar digunakan dengan perhitungan sbb:
a. Modal dikalikan 12.5
www.facebook.com/indonesiapustaka

b. Modal dibagi 12.5


c. Modal dikurangi 8%
d. modal dikalikan 8%
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Pasar
134

4. Analisis repricing gap pada posisi banking book digunakan untuk:


a. Mengukur sensitivitas dari NII terhadap perubahan suku bunga
pasar
b. Mengukur sensitivitas dari nilai ekonomis modal terhadap per­
ubahan suku bunga pasar
c. Mengendalikan risiko nilai tukar
d. Mengukur risiko likuiditas dari bank

5. Apabila diketahui suku bunga pasar akan naik, dan posisi repricing
gap bank dalam kondisi negatif maka langkah yang sebaiknya diam­
bil bank adalah:
a. Tidak perlu melakukan langkah apa pun.
b. Mempromosikan KPR fixed rate jangka panjang 5 tahun.
c. Mempromosikan deposit rate jangka panjang dengan hadiah.
d. Mempromosikan deposit rate jangka pendek dengan hadiah.
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka

5
RISIKO
LIKUIDITAS
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Likuiditas
136

Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk me­


menuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas,
dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa
mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.

5.1 IDENTIFIKASI RISIKO LIKUIDITAS


Risiko likuiditas disebabkan oleh adanya transaksi finansial atau ko­
mitmen. Oleh sebab itu, bank harus mengidentifikasi setiap transaksi
finansial yang mempunyai implikasi terhadap likuiditas bank dan
mengelola kondisi likuiditas secara hati­hati.
Pengelolaan risiko likuiditas merupakan salah satu aktivitas ter­
penting yang dilaksanakan bank. Kekurangan likuiditas pada satu bank
selain berdampak pada bank tersebut dapat pula menimbulkan efek
lebih luas pada sistem perbankan secara keseluruhan. Oleh sebab itu,
dalam pengelolaan risiko likuiditas diperlukan penerapan strategi yang
tepat dan pengawasan yang efektif yang diimplementasikan melalui
proses­proses yang sudah dilakukan validasi dalam pengukuran risiko
likuiditas.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya kebutuhan li­
kuiditas secara tak terduga antara lain seperti penurunan reputasi atau
rating bank dan kondisi ekonomi yang menurun.

5.2 PENGUKURAN RISIKO LIKUIDITAS


Metode pengukuran Risiko Likuiditas dibagi menjadi beberapa kategori
sebagai berikut.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Pengukuran berdasarkan ukuran nominal (Stock Based)


• Pengukuran berdasarkan arus kas (Flow Based)
MANAJEMEN RISIKO 1
137 Risiko Likuiditas

5.2.1 Pengukuran berdasarkan ukuran nominal


(Stock Based)

Metode pengukuran stock based menggunakan berbagai macam rasio


keuangan sebagai indikator tingkat risiko likuiditas, antara lain:

1.

Rasio ini mengukur besar aset likuid dibandingkan dengan total aset
bank.
Aset likuid primer adalah aset sangat likuid yang terdiri dari kas,
surat berharga Bank Indonesia, obligasi pemerintah jangka pendek
dan likuid.
Aset likuid sekunder adalah aset yang kurang likuid seperti:
• obligasi pemerintah kategori AFS jangka panjang 1 – 5 tahun
dan likuid, atau kategori HTM jangka pendek dibawah satu ta­
hun.
• obligasi pemerintah kategori trading dengan jangka waktu le­
bih dari 5 tahun, dengan haircut 25%.

2.

Rasio ini mengukur jumlah aset likuid dibandingkan dengan sumber


dana jangka pendek. Rasio di atas 100% dinilai memadai.
Pendanaan jangka pendek adalah DPK jangka waktu di bawah se­
tahun, giro, dan tabungan.

3.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Pendanaan non inti adalah pendanaan yang dinilai tidak stabil se­
perti: dana relatif besar di atas Rp2 miliar, transaksi antarbank, dan
pinjaman dari bank lain.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Likuiditas
138

4.

Pendanaan non inti jangka pendek adalah yang mempunyai jangka


waktu di bawah satu tahun.

5.

Total pendanaan adalah seluruh dana pihak ketiga dan pinjaman


dari pihak lain.

6.

Digunakan untuk menilai ketergantungan bank dari dana non­inti.

5.2.2 Metode Flow Based

Pengukuran risiko likuiditas berdasarkan pada neraca bank pada tang­


gal tertentu menurut maturity profile pos­pos on dan off balance sheet
ditambah dengan perkiraan arus kas akibat adanya berbagai rencana
kegiatan usaha berdasarkan proyeksi dari unit bisnis.
Metode pengukuran flow based menggunakan liquidity gap analy-
sis. Dalam analisis gap likuiditas, gap yang dimaksud adalah selisih an­
tara jumlah aset dan kewajiban yang jatuh tempo pada periode tertentu.
Distribusi komponen neraca ke dalam bucket interval waktu sesuai de­
ngan perkiraan arus kas.
Data yang digunakan adalah komponen relevan dari pos aset, Lia-
bilities maupun off balance sheet. Sumber data untuk liquidity gap di­
www.facebook.com/indonesiapustaka

peroleh dari beberapa sumber, yaitu neraca akunting, data proyeksi li­
kuiditas dari unit bisnis berikut perkiraan pendapatan, dan biaya bunga.
Liquidity gap positif berarti jumlah aset lebih besar dari kewajiban
pada periode maturity tersebut. Liquidity gap negatif berarti kewajiban
MANAJEMEN RISIKO 1
139 Risiko Likuiditas

lebih besar dari aset pada periode maturity tersebut. Gap negatif adalah
keadaan yang menimbulkan risiko bagi bank dan membutuhkan penge­
lolaan lebih lanjut.
Gap kumulatif adalah akumulasi nilai gap pada periode tersebut dan
periode sebelumnya.

Contoh:
Tabel Liquidity Gap Bank ABC (dalam miliar rupiah)

0­3
Maturity Buckets 3­6 bulan 6­9 bulan 9­12 bulan >1 tahun totAL
bulan
Kas dan setara  50       50
Penempatan
200         200
antarbank
Kredit Komersial 200 200  200  200  200  1.000
Kredit Konsumer 200 200  200  200  200  1.000
SBI/SUN 1.000         1.000
Aktiva tetap          750 750
Total Aset 1.650 400 400 400 1.150 4.000
0­3
Maturity buckets 3­6 bulan 6­9 bulan 9­12 bulan >1 tahun TOTAL
bulan
Tabungan 800         800
Giro 500         500
Deposito
1200 300       1500
Berjangka
Pinjaman
300         300
antarbank
Obligasi yang
        300 300
diterbitkan
Modal          600 600
Total Kewajiban 2800 300 0 0 900 4000
Gap (1150) 100 400 400 250  
Gap Kumulatif (1150) (1050) (650) (250) 0  
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dari tabel di atas terlihat terjadi risiko likuiditas yang sangat besar
pada periode 0­3 bulan ke depan, sebesar Rp1,15 triliun.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Likuiditas
140

5.3 PENGENDALIAN RISIKO LIKUIDITAS


Apabila bank telah mengetahui posisi likuiditas dan adanya kemung­
kinan timbulnya masalah likuiditas, bank dapat melakukan modifikasi
posisi dengan berbagai tindakan, antara lain sebagai berikut.
• Mengupayakan sumber dana berupa long-term funding dari pa­
sar uang atau menerbitkan obligasi, kemudian menggunakan
dana untuk membeli aset likuid yang dapat dijual kembali.
• Mendapatkan contingent standby credit lines dari bank lain yang
memberikan jaminan akan memberikan pinjaman dana pada
saat krisis.
• Membatasi jumlah penempatan dana pada aset berjangka waktu
panjang.
• Mengurangi jumlah liabilities berjangka pendek, misalnya de­
ngan meningkatkan simpanan berjangka panjang.

Contoh Pertanyaan Bab 5 (jawaban dibagian belakang buku ini)

1. Pengukuran dengan menggunakan rasio likuiditas digunakan pada


pengelolaan risiko likuiditas dengan metode:
a. Stock based
b. Flow based
c. Static based
d. Adjustable based

2. Dana deposito besar dari korporasi dengan jangka pendek dinilai


sebagai:
www.facebook.com/indonesiapustaka

a. Dana stabil
b. Dana tidak stabil
c. Sumber dana yang baik untuk keperluan perkreditan
d. Dana murah
MANAJEMEN RISIKO 1
141 Risiko Likuiditas

3. Pada suatu periode, apabila jumlah aset lebih besar dari posisi pa­
siva maka dari sisi pengukuran risiko likuiditas, kondisi ini disebut
dengan:
a. Liquidity gap positif
b. Liquidity gap negatif
c. Gap kumulatif positif
d. Bank kekurangan likuiditas

4. Kekurangan likuiditas ditandai dengan kondisi gap likuiditas:


a. Gap likuiditas positif
b. Rasio LDR relatif rendah
c. Dana non­inti relatif besar
d. Aset likuid tersedia dalam jumlah terbatas

5. Strategi yang diperlukan dalam kondisi likuiditas ketat adalah:


a. Memperkecil aset likuid agar biaya dana lebih ringan.
b. Mengupayakan porsi CASA yang besar sebagai dana murah.
c. Promosi deposito jangka pendek dengan bunga lebih tinggi.
d. Meningkatkan pertumbuhan kredit.
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka

6
RISIKO
OPERASIONAL
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
144

GAMBARAN UMUM
Risiko operasional dihadapi oleh semua bank dan menjadi akar penye­
bab potensi risiko lainnya seperti risiko kredit dan risiko pasar. Oleh ka­
rena itu, sangat penting untuk mengetahui faktor penyebab risiko ope­
rasional sehingga bank dapat membuat rencana kerja untuk mengelola
risiko tersebut. Kerugian yang timbul akibat risiko operasional yang
sudah diperkirakan pada umumnya dibebankan dalam proses pricing
aktiva produktif, sedangkan potensi kerugian akibat risiko operasional
yang belum diperhitungkan (unexpected loss) harus di­cover dengan
modal. Basel menetapkan beberapa cara yang dapat dipergunakan
bank dalam menghitung kebutuhan modal untuk mengantisipasi risiko
operasional.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan selesainya pembahasan bab ini, pembaca diharapkan:
• Mengetahui apa yang dimaksud dengan risiko operasional.
• Mengetahui berbagai penyebab risiko operasional.
• Mengetahui karakteristik risiko operasional.
• Memahami proses manajemen risiko operasional: identifikasi, peni­
laian (assessment), pengukuran, monitoring/mitigasi dan pengen­
dalian.
• Mengenal perangkat pengendalian risiko operasional dengan RCSA,
LED dan KRI.
• Pengenalan metode perhitungan kebutuhan modal risiko operasio­
nal bank dengan pendekatan indikator dasar (PID), dan mengetahui
www.facebook.com/indonesiapustaka

metode lain seperti metode standar dan AMA.


MANAJEMEN RISIKO 1
145 Risiko Operasional

6.1 PEMAHAMAN RISIKO OPERASIONAL


Risiko operasional dapat menimbulkan kerugian keuangan secara lang­
sung maupun tidak langsung, serta kerugian potensial berupa kesem­
patan yang hilang untuk memeroleh keuntungan. Di samping itu, risiko
operasional juga dapat menimbulkan kerugian yang tidak dapat atau
sulit dihitung secara kuantitatif, seperti nama baik atau reputasi bank,
yang dampak kerugian terkait dengan reputasi pada akhirnya dapat ber­
akibat pada kerugian finansial. Sebagai contoh, reputasi bank yang ter­
ganggu dapat mengakibatkan para nasabah deposan maupun debitur
memindahkan aktivitas perbankan mereka kepada bank lain.
Kerugian yang timbul akibat risiko operasional yang sudah diperkira­
kan (expected loss), seharusnya dibebankan dalam komponen pricing
dari aset, sedangkan kerugian operasional yang belum diperhitungkan
(unexpected loss) harus diantisipasi dengan modal. Basel II menetap­
kan beberapa cara yang dapat dipergunakan bank dalam menghitung
kebutuhan modal untuk menutup risiko operasional.
Berbagai risiko seperti kecelakaan kerja, bencana alam, masalah ka­
rena tuntutan hukum, kerugian usaha karena kesalahan proses, akibat
kecurangan manusia, ketidakjelasan dan ketidakcukupan ketentuan
kerja, hanya merupakan sekadar contoh dari risiko yang melekat pada
aktivitas yang dilakukan bank sejak lama. Risiko­risiko ini termasuk da­
lam kategori risiko operasional.
Sulit untuk benar­benar dapat mengeliminasi setiap potensi risiko
operasional, dan memang tidak mungkin dilakukan dan memang tidak
perlu. Namun demikian, pengelolaan risiko operasional yang dilakukan
secara proaktif dan memadai, dapat dimanfaatkan untuk melakukan mi­
tigasi risiko atas risiko operasional.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dibandingkan dengan risiko­risiko lainnya seperti risiko kredit dan


risiko pasar, pemahaman risiko operasional masih relatif baru. Namun,
saat ini bank­bank telah mulai memberi perhatian terhadap risiko ope­
rasional, sama pentingnya dengan pemberian perhatian terhadap ri­
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
146

siko­risiko lainnya. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh beberapa kecen­
derungan seperti:
• Peningkatan perhatian dan kesadaran para kepala unit kerja ter­
hadap berbagai isu risiko operasional.
• Bank sudah mengembangkan berbagai pendekatan untuk miti­
gasi risiko operasional.
• Perhatian bank yang semakin besar untuk mengarahkan ke­
mampuan mitigasi profil risiko bank sebagai upaya peningkatan
daya saing.
• Tekanan regulasi agar bank mengalokasikan sebagian modal un­
tuk menutup kerugian risiko operasional. Tekanan ini mendorong
bank untuk mengalokasikan sumber daya yang ada secara efi­
sien dan efektif.

Beberapa alasan yang relevan bahwa bank saat ini sudah menerap­
kan manajemen risiko yang lebih komprehensif antara lain adalah:
• Bank dituntut menerapkan manajemen risiko operasional yang
lebih sensitif terhadap risiko. Dengan demikian, bank mampu
secara dini mendeteksi berbagai risiko operasional yang berpo­
tensi menimbulkan kerugian.
• Regulator menuntut bank mengelola risiko operasional bank dari
waktu ke waktu secara proaktif.
• Para pemegang saham bank berekspektasi agar bank mampu
meningkatkan nilai secara kontinyu. Untuk ini, bank dituntut
mampu mengelola risiko operasional dengan baik.

Beberapa alasan utama mengapa risiko operasional perlu menjadi


perhatian pimpinan unit kerja di bank adalah:
• Bank lebih sering menerapkan program alih daya atau out-
www.facebook.com/indonesiapustaka

sourcing. Peningkatan popularitas outsourcing dan penggunaan


teknik­teknik keuangan yang mampu mengurangi risiko kredit
dan risiko pasar, di sisi lain meningkatkan kemungkinan kerugi­
an risiko operasional.
MANAJEMEN RISIKO 1
147 Risiko Operasional

• Saat ini sudah berlangsung proses deregulasi dan globalisasi.


Meskipun globalisasi memiliki beberapa manfaat bagi banyak
pihak, di balik itu globalisasi menambah kompleksitas dan diver­
sitas budaya, manajemen dan staf.
• Regulasi perbankan yang semakin ketat, aktivitas akuisisi, mer-
ger, aliansi skala besar dan juga konsolidasi yang memerlukan
kapabilitas sistem baru yang terintegrasi, proses yang lebih ru­
mit dan kebutuhan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
• Penggunaan e-commerce yang semakin intensif, berbagai ma­
cam inovasi teknologi semakin berkembang menguji kemampu­
an sistem yang terintegrasi. Pertumbuhan teknologi keuangan
yang semakin canggih mengakibatkan aktivitas bank dan profil
risiko menjadi lebih kompleks dengan beroperasi di pasar­pasar
yang berbeda, yang menggunakan operasional dan sistem yang
berbeda, serta hukum yang berbeda pula.
• Bank semakin rentan terhadap potensi serangan teroris dan ben­
cana alam, dan perlu melakukan mitigasi agar operasional bank
tidak terganggu.

Semua fenomena di atas akan menghadapkan bank pada risiko ope­


rasional yang baru.

6.1.1 identiikasi risiko operasional

Risiko operasional pada umumnya terjadi di unit kerja yang memiliki


volume transaksi tinggi, perputaran transaksi yang tinggi, perubahan
struktural yang tinggi dan menggunakan sistem yang kompleks. Kejadi­
an risiko operasional hampir terjadi setiap hari di bank.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Berdasarkan kemungkinan dan dampak yang terjadi, risiko operasio­


nal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: (1) risiko operasional
yang sering terjadi, namun dampak yang terjadi dinilai rendah atau high
frequency - low impact; (2) kejadian terkait risiko operasional dengan
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
148

frekuensi rendah atau jarang terjadi, namun dampak kerugian dari risiko
operasional tersebut tinggi atau yang sering disebut risiko operasional
kategori low frequency - high impact. Kelompok high frequency – high
impact untuk bank-wide tidak mungkin terjadi, karena tidak ada bank
yang akan bertahan apabila sering mengalami kejadian terkait risiko
operasional, dan memberikan dampak yang besar. Adapun untuk risiko
operasional yang jarang terjadi dan berdampak rendah, biaya penge­
lolaan akan lebih tinggi dibandingkan dengan penghematan yang akan
dihasilkan.
Identifikasi risiko operasional perlu dilakukan untuk setiap produk,
aktivitas, proses, dan sistem yang ada dan akan digunakan bank.
• Identifikasi dimulai dari memahami bagaimana proses bisnis di­
lakukan, berdasarkan proses pemetaan proses operasional uta­
ma dari bisnis tersebut (mapping process).
• Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap faktor penyebab tim­
bulnya risiko operasional yang melekat pada seluruh aktivitas
fungsional, produk, proses dan sistem informasi yang berdam­
pak negatif terhadap pencapaian sasaran organisasi bank.
• Manajemen dan kontrol proses operasional yang tepat di setiap
proses utama tersebut akan dapat mengendalikan dan mengu­
rangi terjadinya risiko operasional.

Hasil identifikasi tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk:


• Memperbaiki kualitas proses kerja.
• Mengurangi kerugian karena kegagalan proses.
• Mengubah budaya kerja peduli risiko.
• Menyediakan sistem peringatan dini terhadap gangguan suatu
sistem atau manajemen.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Hal utama yang diperlukan dalam melakukan identifikasi risiko ope­


rasional adalah:
• Ada kejadian (events)
• Terdapat penyebab timbulnya kejadian (cause)
MANAJEMEN RISIKO 1
149 Risiko Operasional

• Terdapat dampak (impact) kerugian (loss) baik dalam bentuk ke­


uangan maupun non­keuangan
• Dapat diprediksi terjadinya kejadian di kemudian hari (fre-
quency/probability)

6.1.2 deinisi

Sesuai definisi BCBS, risiko operasional adalah risiko yang terjadi akibat
kesalahan faktor manusia, kegagalan atau tidak berfungsinya sistem,
kesalahan dalam prosedur kerja, dan akibat faktor eksternal, yang se­
muanya merupakan penyebab terjadinya event risiko operasional.

6.1.2.1 Penyebab risiko operasional

Dalam dunia perbankan, risiko operasional melekat di setiap aktivitas


bank, antara lain melekat pada aktivitas perkreditan, treasury dan in­
vestasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan
dan instrumen utang, teknologi sistem informasi dan sistem informasi
manajemen, serta pengelolaan sumber daya manusia.
Risiko operasional yang dapat menyebabkan kerugian bank dapat
berasal dari berbagai faktor yang secara garis besar dapat dikelompok­
kan menjadi: (1) kegagalan proses internal, (2) akibat faktor manusia,
(3) kegagalan sistem, dan (4) akibat kejadian eksternal.

6.1.2.1.1 Kegagalan Proses Internal


www.facebook.com/indonesiapustaka

Bank menggunakan berbagai proses internal yang diperlukan untuk


menjual produk dan jasa kepada nasabah. Dalam setiap langkah proses
internal, dapat terjadi potensi risiko operasional. Sebagai contoh, salah
kirim dokumen kepada nasabah yang tidak berhak, kesalahan proses
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
150

pembukaan rekening dan transaksi nasabah, terlambat melakukan


penyesuaian terhadap perubahan kebijakan, kenaikan volume tran­
saksi yang tidak terduga mengakibatkan kesalahan dalam penanganan
transaksi dan bisnis, produk yang beragam dan atau aktivitas baru yang
diluncurkan namun gagal, atau sebaliknya permintaan nasabah yang
luar biasa meningkat, dan tidak bisa ditangani oleh sistem yang dimiliki
bank.
Selain itu, dampak persaingan usaha yang meningkat dapat meng­
akibatkan para pekerja bank melakukan berbagai kompromi untuk
mempercepat pelayanan, kompromi untuk melakukan kontrol kualitas
yang tidak memadai, kompromi dalam pemenuhan persyaratan utama
proses internal dan sebagainya.
Sumber risiko yang bisa mengakibatkan terjadinya hal­hal dalam
contoh di atas, bisa berkaitan dengan risiko­risiko kesalahan pembuat­
an model atau metodologi, kesalahan rancangan dan urut­urutan kerja
dengan tahapan proses yang tidak jelas.
Sumber risiko yang lain adalah kelemahan dalam proses internal
seperti ketidakpatuhan terhadap ketentuan internal maupun eksternal,
kesalahan dalam produk, atau kesalahan dalam berhubungan dengan
nasabah, proses dokumentasi yang buruk dan lain­lain.

risiko operasional ­ Proses internal


Perkara pembobolan Bank B Cabang Pondok Indah senilai Rp46,4 miliar
telah menyeret lima terdakwa pejabat dan karyawan bank.
Para buron ini membobol Bank B dengan cara mengajukan pem­
biayaan dengan agunan dokumen palsu. Dokumen yang dipalsukan
antara lain akta pendirian perusahaan, akta pemberian hak tanggung­
an, dan surat kuasa memberikan hak tanggungan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Proses pencairan dana tersebut dinilai tidak sesuai dengan prose­


dur standar operasional (SOP) perbankan, petunjuk pelaksana bisnis
MANAJEMEN RISIKO 1
151 Risiko Operasional

ritel dan prinsip kehati­hatian perbankan. “Karena ketidak­hati­hatian


dan mengucurkan dana tidak sesuai prosedur, bank dirugikan puluhan
miliar”.

6.1.2.1.2 Faktor Manusia

Kontrol internal seringkali dijadikan kambing hitam atas kegagalan sua­


tu proses operasional bank. Namun, apabila ditelusuri, ternyata sering­
kali penyebab utama dari kerugian operasional bank adalah akibat ke­
salahan manusia.
Kerugian risiko operasional dapat terjadi karena tuntutan kompen­
sasi pekerja, pelanggaran terhadap ketentuan jaminan kesehatan dan
keamanan, pemogokan, dan tuntutan karena perlakuan diskriminasi.
Risiko operasional yang disebabkan oleh faktor manusia juga bisa
disebabkan oleh pelatihan dan manajemen yang tidak memadai, ke­
salahan manusia, pemisahan tugas atau wewenang yang tidak jelas,
ketergantungan terhadap orang­orang penting tertentu, integritas dan
kejujuran yang rendah.
Risiko­risiko operasional di atas bisa lebih diperburuk oleh kualitas
pelatihan yang tidak memadai, kontrol yang tidak memadai dan kualitas
sumber staf yang buruk atau faktor­faktor lainnya.
Contoh­contoh risiko operasional berikut ini, baik yang dilakukan
secara sengaja ataupun tidak disengaja oleh faktor manusia dapat
menyebabkan kerugian bank:
• Kesalahan manusia seperti kesalahan melaksanakan transaksi
dan prosedur.
• Penyelewengan pekerja, seperti fraud dan trading yang tidak sah
www.facebook.com/indonesiapustaka

atau di luar kewenangan.


• Hal­hal lain yang terkait dengan pekerja, seperti perselisihan ke­
tenagakerjaan, kekurangan pekerja, perekrutan pekerja dan pe­
mutusan hubungan kerja, kecelakaan kerja dan lain­lain.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
152

risiko operasional – Faktor Manusia


Kepala cabang bobol uang Rp12 M di Bank Danamon Pasuruan
Bobol Bank D Cluster Pasuruan, Jawa Timur, 15 tersangka diamankan
Polda Jawa Timur. Modus pembobolan uang senilai Rp12 miliar itu, dila­
kukan dengan cara mengucurkan kredit yang menyalahi prosedur.
Sepuluh pelaku adalah karyawan bank itu sendiri yang bekerja
sama dengan pihak ketiga untuk mengajukan kredit berjumlah lima
orang. Sepuluh tersangka dari unsur karyawan bank adalah Kepala Ca­
bang Bank D yang bertindak sebagai aktor utama dan sembilan anak
buahnya. Sementara lima tersangka dari pihak ketiga, adalah seorang
pengusaha properti (aktor utama) dan empat pengusaha lain yang me­
rupakan anak buahnya.
Dijelaskan Awi, modus operandi dari kejahatan itu adalah sebagai
berikut: AAB yang merupakan pengusaha properti, mengajukan kredit
ke Bank D atas nama 68 debitur dari perusahaan lain. Kemudian, Ke­
pala Cabang Bank D Cluster Pasuruan, AA, merekomendasikan semua
pengajuan kredit yang cacat prosedur.
“Data dan sejumlah jaminan, seperti sertifikat tanah dan sebagai­
nya itu, dimanipulasi untuk meloloskan pengajuan kredit. Juga ada pe­
malsuan surat keterangan usaha yang dipalsukan. Artinya, usaha yang
disampaikan dalam pengajuan juga bukan milik debitur, hanya dipin­
jam namanya saja oleh para pelaku,” ungkap Awi.
Kasubdit II Perbankan, Polda Jatim, AKBP Wahyu Sri Bintoro, me­
nambahkan, proses verifikasi dan syarat yang diajukan untuk men­
cairkan uang hanya sebagai formalitas. “Dan karena sudah ada kese­
pakatan antara pemohon dengan pimpinan cabang, pengajuan kredit
abal­abal itupun bisa dicairkan. Akibatnya, pihak  Bank D mengalami
kerugian hingga Rp12 miliar,” tandas Sri Bintoro.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Merdeka.com - Selasa, 22 April 2014 21:30


MANAJEMEN RISIKO 1
153 Risiko Operasional

6.1.2.1.3 Kegagalan Sistem dan Teknologi

Semakin meningkatnya ketergantungan bank terhadap teknologi in­


formasi merupakan salah satu sumber utama risiko operasional. Ke­
rusakan data bank, baik karena sengaja maupun tidak sengaja, merupa­
kan penyebab umum kesalahan operasional bank yang mengakibatkan
kerugian yang harus ditanggung bank.
Contoh kasus risiko operasional adalah sebagai berikut.
• Salah satu bank yang baru mengganti teknologi informasi de­
ngan teknologi baru dan belum berjalan lancar mengakibatkan
transfer keluar dibukukan dua kali sehingga bank yang bersang­
kutan mengalami kerugian.
• Perencanaan infrastruktur teknologi informasi yang tidak dikelola
dengan baik mengakibatkan transaksi bank terganggu karena
terjadi off line yang cukup lama. Hal ini mengakibatkan timbul­
nya risiko reputasi dan potensi kerugian yang sulit diperkirakan
besarnya akibat nasabah bank pindah ke bank pesaing.
• Pembayaran bank kepada nasabah kelebihan ratusan miliar
hanya karena program komputer yang berkaitan dengan per­
ubahan angka desimal telah ditemukan sebagai akibat kesalah­
an testing.

Berbagai contoh sumber risiko operasional terkait dengan penggu­


naan teknologi informasi antara lain
• Permasalahan umum teknologi, seperti kesalahan operasional
terkait dengan teknologi, penggunaan teknologi oleh orang yang
tidak berwenang dan penyalahgunaan teknologi.
• Permasalahan hardware, seperti kegagalan perlengkapan, keti­
dakcukupan atau ketidaktersediaan hardware yang diperlukan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Permasalahan pengamanan atau security, seperti pembobolan


(hacking), kegagalan firewall dan gangguan eksternal.
• Permasalahan software, seperti virus komputer dan bugs dalam
programming.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
154

• Permasalahan sistem, seperti kegagalan sistem dan pemelihara­


an sistem.
• Permasalahan telekomunikasi, seperti jaringan telepon, faksimili
dan e-mail.

6.1.2.1.4 Kejadian Eksternal

Meskipun bank cenderung memiliki kontrol yang kecil atau bahkan ti­
dak mampu mengontrol sama sekali terhadap kejadian eksternal, keja­
dian eksternal tetap perlu dikelola.
Risiko operasional yang disebabkan oleh faktor eksternal dapat
terjadi karena perubahan perundang­undangan yang tidak terduga, se­
perti perubahan undang­undang hak konsumen. Contoh lain adanya an­
caman­ancaman fisik, seperti perampokan bank, serangan teroris, dan
bencana alam. Contoh, efek serangan teroris 11 September 2001 yang
menimpa Bank of New York.
Kejadian eksternal lainnya yang menyebabkan risiko operasional
dengan dampak luar biasa adalah kejadian tsunami di Aceh pada 26 De­
sember 2004 dan gempa bumi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta,
khususnya di Bantul dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.
Mengingat bank memiliki kemampuan kecil untuk mengelola kejadi­
an eksternal atau bahkan sama sekali tidak mampu mengelola kejadian
eksternal tersebut maka satu­satunya tindakan yang dapat dilakukan
bank adalah dengan memperkuat infrastruktur dan kesiapan sumber
daya manusia yang dimiliki untuk meminimalisasi dampak kerugian
risiko operasional. Untuk ini bank perlu mengembangkan Manajemen
Kelangsungan Usaha (Business Continuity Management).
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
155 Risiko Operasional

risiko operasional

Kebakaran melanda bagian basement dari Menara Bank T di Jakarta


Pusat pada hari Senin (2/2/2009) pukul 04.00 dini hari. Diduga keba­
karan terjadi akibat adanya korsleting listrik di lantai dasar atau base-
ment. Api berhasil dipadamkan pukul 06.30. Tak ada korban jiwa dalam
insiden tersebut. Namun dua orang keamanan gedung yang tengah
bertugas, terjebak di lantai tujuh menara tersebut.
Akibat kebakaran tersebut server data Bank T dipindahkan semen­
tara ke tempat lain. Akibat dari pemindahan tersebut, maka kegiatan
operasional melalui jalur online antara lain melalui Anjungan Tunai
Mandiri (ATM) Bank T di seluruh Indonesia dihentikan sementara se­
lama beberapa jam. (suarasurabaya.net.)
Risiko operasional akibat kebakaran tersebut antara lain adalah
kerugian finansial atas terbakarnya fisik bangunan, rusaknya jaringan
data dan informasi sehingga mengakibatkan terganggunya pelayanan
nasabah dan karyawan pada gedung tersebut tidak bekerja akibat ru­
saknya prasarana kerja.

6.2 PENGUKURAN RISIKO OPERASIONAL


Risiko operasional diukur berdasarkan dua faktor, yaitu risiko yang me­
lekat pada suatu aktivitas (inherent risk) dan sistem pengendalian ri­
siko (risk control system).
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
156

6.2.1 inherent risk

Penilaian terhadap risiko inheren didasari pada pengamatan terhadap


kejadian risiko operasional, terutama frekuensi dan dampak dari keja­
dian tersebut.
Frekuensi adalah seberapa sering suatu kejadian risiko operasional
terjadi di masa lalu, dan estimasi trend frekuensi di masa depan. Se­
dangkan dampak adalah seberapa besar kerugian yang diderita (seve-
rity) ketika kejadian risiko operasional tersebut terjadi di masa lalu, atau
estimasi besar kerugian tersebut di masa depan.
Bank perlu menetapkan definisi dari frekuensi kejadian dan besar
dampak (baik dampak finansial maupun dampak non­finansial seperti
reputasi) sesuai kebijakan bank. Sebagai contoh, tabel frekuensi kejadi­
an suatu bank sebagai berikut.
Kemungkinan terjadi
Level Rang (skenario suatu event)
kemungkinan 80% atau lebih suatu event
5 hampir pas terjadi dalam periode 12 bulan
kemunginanbesar kemungkinan suatu event terjadi dalam
4 bakal terjadi periode 12 bulan kurang dari 80%
kemungkinan dapat kemungkinan suatu event terjadi dalam
3 terjadi periode 12 bulan kurang dari 50%
Kemungkinan kecil kemungkinan suatu event terjadi dalam
2 terjadi periode 12 bulan kurang dari 20%
kemungkinan suatu event terjadi dalam
1 jarang terjadi periode 12 bulan kurang dari 5%

Berdasarkan kedua faktor penilaian tersebut, akan didapat klasifi­


kasi kejadian risiko operasional sebagai berikut.
• Low Frequency / Low Impact
• High Frequency / High Impact
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Low Frequency / High Impact


• High Frequency / Low Impact
MANAJEMEN RISIKO 1
157 Risiko Operasional

Prioritas mengatasi risiko atas risiko di atas dapat dilihat pada heat
map sebagai berikut (warna hijau [garis horizontal] adalah daerah
aman, warna merah [garis vertical] daerah prioritas):
Almost
certain

5
Likely

4
Likelihood (frekwensi)

Possible

3
Unikely

2
Rare

Negligible Minor Moderate Major Severe


1 2 3 4 5
Impact

Pelaksanaan sistem pengendalian risiko yang memadai akan me­


mengaruhi tingkat risiko yang melekat sehingga akan diperoleh nilai
risiko residual yang minimal. Di samping melakukan penilaian seperti
di atas, bank juga mengumpulkan data kerugian operasional yang akan
digunakan dalam proses mengukur kerugian operasional. Selanjutnya
data tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menghitung ke­
butuhan modal bank untuk menutup risiko operasional.

6.2.2 kualitas kontrol


www.facebook.com/indonesiapustaka

Basel II Accord menegaskan bahwa prinsip dasar pelaksanaan mana­


jemen risiko operasional selain pelaksanaan proses manajemen risiko,
juga mencakup penetapan strategi yang jelas dan terdokumentasi,
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
158

pengawasan aktif oleh Direksi dan Komisaris, implementasi budaya ri­


siko operasional (operational risk culture) yang terinternalisasi di orga­
nisasi dan penerapan sistem pengendalian internal, misalnya terdapat
pemisahan fungsi dan tanggung jawab yang jelas, serta proses eskalasi
permasalahan internal yang efektif, sistem pelaporan dan perencanaan
kontinjensi (contingency planning).
Bank mempunyai kewajiban untuk melakukan pengelolaan risiko
operasional terhadap setiap produk, aktivitas, proses dan sistem yang
digunakan bank. Bahkan untuk produk, aktivitas, proses dan sistem
yang akan digunakan bank, bank harus meyakini telah melalui prosedur
identifikasi dan pengukuran risiko inheren yang memadai.

6.2.3 residual risk (Heat Map)

Besar risiko inheren akan berkurang dengan adanya kontrol eksisting


pada bank. Selanjutnya, bank dapat membuat peta risiko atau heat map
baik sebelum maupun sesudah adanya kontrol eksisting misalnya se­
bagai berikut.
Almost
certain
5
Likely

4
Likelihood (frekwensi)
Possible

3
Unikely

2
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rare

Negligible Minor Moderate Major Severe


1 2 3 4 5
Impact
MANAJEMEN RISIKO 1
159 Risiko Operasional

Pada gambar terlihat bahwa sebelum memperhitungkan kontrol, ri­


siko operasional ada pada frekuensi skala 4 dan impact skala 5; sete­
lah memperhitungkan kontrol eksisting, maka skala risiko operasional
membaik menjadi frekuensi skala 3 dan impact skala 4;karena posisi
risiko masih berada pada daerah merah (garis vertikal), bank masih per­
lu meningkatkan kualitas kontrol untuk risiko operasional sampai posisi
risiko dapat diterima oleh bank.

6.3 PENGENDALIAN RISIKO OPERASIONAL


Pengendalian risiko operasional dicantumkan di dalam kebijakan mana­
jemen risiko operasional. Alternatif rencana aksi yang dapat dilakukan
bank adalah: (1) menghindarkan risiko (risk avoidance); (2) menerima
risiko (risk acceptance); (3) mengalihkan risiko pada pihak lain (risk
transfer); dan (4) mitigasi risiko melalui peningkatan kualitas kontrol.

6.3.1 Menghindarkan risiko (Risk Avoidance)

Risk avoidance dilakukan untuk mencegah bank mengalami suatu risiko


operasional yang tidak dapat diterima (unacceptable), atau mencegah
melakukan aktivitas lain yang mungkin dapat menambah eksposur ri­
siko operasional sebelumnya. Tindakan ini tentu saja dapat mengurangi
tingkat aktivitas bisnis atau malah menghentikan bisnis sama sekali.
Umumnya risk avoidance dipilih apabila potensi keuntungan dari
suatu aktivitas bisnis tidak sesuai dengan eksposur risiko operasional.
www.facebook.com/indonesiapustaka

6.3.2 Menerima risiko (Risk Acceptance)

Beberapa jenis risiko operasional secara proses memang tidak me­


mungkinkan untuk dilakukan intervensi untuk pencegahan atau per­
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
160

baikan situasi. Dengan demikian, potensi risiko yang ada memang harus
diterima sebagai konsekuensi bank dalam memanfaatkan kesempatan
bisnis. Namun, bukan berarti risk acceptance adalah strategi “do-
nothing”. Kontrol yang ketat harus dijalankan apabila risk acceptance
akan diterapkan.
Sebagai contoh, suatu bank menempatkan server sistem informasi
di basement dengan alasan efisiensi ruangan. Dengan kebijakan ini, ri­
siko banjir atau over heating tidak dapat dihindari. Dalam hal ini, kontrol
terhadap suhu ruangan dan antisipasi kemungkinan terjadinya banjir
harus dilaksanakan dengan ketat.

6.3.3 Mengalihkan risiko pada Pihak Lain (risk transfer)

Tidak seperti risk avoidance yang mengeliminir risiko operasional, pada


strategi risk transfer, risiko operasional masih melekat pada aktivitas
bisnis tersebut, namun ada pihak lain yang akan mengambil alih risiko
tersebut. Bank biasa menggunakan asuransi dan perusahaan jasa out-
sourcing dalam melaksanakan risk transfer.

6.3.4 Peningkatan kualitas kontrol

Kontrol terhadap potensi terjadinya risiko operasional merupakan


upaya mitigasi risiko, yang dimaksudkan untuk memperkecil potensi
kerugian yang dipicu oleh potensi risiko baik yang berasal dari faktor
eksternal, maupun bersumber dari internal bank.
Sebagai contoh, terhadap kerugian akibat gangguan listrik atau ke­
gagalan telekomunikasi, dapat dilakukan mitigasi berupa menyediakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

fasilitas back up, seperti genset atau alternatif operator jaringan teleko­
munikasi.
MANAJEMEN RISIKO 1
161 Risiko Operasional

6.4 PERHITUNGAN KEBUTUHAN MODAL


RISIKO OPERASIONAL
Metode perhitungan kebutuhan modal minimum untuk risiko operasio­
nal yang ditetapkan oleh Komite Basel terdiri dari:
• Basic Indicator Approach (BIA).
• Standardized Approach (TSA)
• Advanced Measurement Approach (AMA).

6.4.1 Basic Indicator Approach (BiA) atau Pendekatan


indikator dasar (Pid)

Pendekatan Indikator Dasar atau PID merupakan pendekatan yang pa­


ling sederhana dan tidak sensitif terhadap risiko sehingga akan meng­
hasilkan beban modal yang cenderung besar. Prosedur perhitungan ke­
butuhan modal dengan metode PID diatur pada SEBI nomor 11/3/DPNP
tanggal 27 Januari 2009 mengenai perhitungan Aktiva Tertimbang Me­
nurut Risiko (ATMR) untuk risiko operasional dengan menggunakan
Pendekatan Indikator Dasar (PID)
PID cocok digunakan oleh bank­bank yang lebih kecil dengan aktivi­
tas bisnis yang sederhana. Untuk bank­bank yang aktif secara interna­
sional, dan bank­bank yang memiliki risiko operasional tinggi didorong
untuk menggunakan pendekatan yang lebih mendekati risiko sebenar­
nya.
PID dapat diaplikasikan oleh seluruh bank tanpa memandang kom­
pleksitas dan kecanggihan suatu bank. Namun, bank perlu mematuhi
pedoman yang diatur dalam “Sound Practice for Management and Su-
www.facebook.com/indonesiapustaka

pervision of Operational Risk”.


Perhitungan ATMR untuk risiko operasional dalam perhitungan KPMM
dengan menggunakan PID dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
162

ATMR untuk risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasi­


onal.
Yang dimaksud dengan beban modal risiko operasional adalah rata­
rata dari penjumlahan pendapatan bruto (gross income) tahunan yang
mempunyai nilai positif pada tiga tahun terakhir, dikalikan faktor alpha
15% (lima belas persen).
Perhitungan beban modal risiko operasional dilakukan dengan ru­
mus sebagai berikut:

dimana: K PID =
[ ∑ GI 1....n *α ]
n
GI = Gross Income yang positif selama 3 (tiga) tahun terakhir.
n = Jumlah tahun yang memiliki gross income yang positif.
α = 15% (ditetapkan oleh Basel sesuai kebutuhan modal pada
skala industri).
KPID = beban modal risiko operasional menggunakan PID.

Pendapatan Kotor atau gross income atau pendapatan bruto ada­


lah pendapatan bunga bersih ditambah pendapatan non bunga bersih.
Pendapatan bruto dihitung secara kumulatif dari periode awal Januari
sampai dengan akhir Desember setiap tahun selama tiga tahun terakhir.
Pendapatan bunga bersih atau NII (Net Interest Income) adalah pen­
dapatan bunga dikurangi dengan beban bunga. Pendapatan non bunga
bersih adalah pendapatan non bunga dikurangi dengan beban non bu­
nga.
Yang termasuk pendapatan non bunga adalah:
• Pendapatan dividen, komisi/provisi/fee
• Keuntungan transaksi spot dan derivatif
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Peningkatan nilai wajar (MTM) kredit yang diberikan


• Peningkatan nilai wajar (MTM) aset keuangan lainnya
• Keuntungan dari penjualan surat berharga dalam trading book ­
diperdagangkan
MANAJEMEN RISIKO 1
163 Risiko Operasional

• Keuntungan dari penjualan aset keuangan lainnya dalam trading


book ­ diperdagangkan
• Pendapatan non bunga lainnya.
Yang termasuk kategori beban non bunga adalah:
• Komisi/provisi /fee
• Kerugian transaksi spot dan derivatif
• Penurunan nilai wajar (MTM) surat berharga
• Penurunan nilai wajar (MTM) kredit yang diberikan
• Penurunan nilai wajar (MTM) aset keuangan lainnya
• Kerugian dari penjualan surat berharga dalam trading book ­ di­
perdagangkan
• Kerugian dari penjualan kredit dalam trading book ­ diperdagang­
kan
• Kerugian dari penjualan aset keuangan lainnya dalam trading
book ­ diperdagangkan.

Contoh: (juta rupiah)


Bank A 2010 2009 2008 2007 2006
Pendapatan bruto 750 3.000 2.250 1.750 2.500

Berdasarkan data di atas maka pendapatan bruto dalam rangka


menghitung ATMR untuk risiko operasional posisi tahun 2011 adalah
sebagai berikut:
ATMR risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasional
= 12,5 x [15%x{(750+3.000+2.250)/3}] =
Rp.3.750 juta

Perhitungan pendapatan bruto dilakukan dengan memerhatikan hal­


hal sebagai berikut.
www.facebook.com/indonesiapustaka

• Pendapatan bruto adalah pendapatan bunga bersih ditambah pen­


dapatan operasional non­bunga tertentu lainnya bersih yang dihi­
tung secara kumulatif dari periode awal Januari sampai dengan akhir
Desember setiap tahun.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
164

• Untuk bank yang memiliki unit usaha syariah, perhitungan penda­


patan bruto memperhitungkan pula pendapatan bruto dari unit usa­
ha syariah setelah dikonversi sesuai dengan karakteristik usaha
bank dan prinsip syariah.
• Apabila berdasarkan hasil laporan keuangan yang telah diaudit oleh
kantor akuntan publik (KAP) terdapat koreksi atas besarnya penda­
patan bruto maka bank harus melakukan koreksi atas perhitungan
ATMR untuk risiko operasional pada bulan berikutnya setelah lapor­
an keuangan yang diaudit disampaikan oleh KAP kepada bank.

Contoh:
Bank menghitung ATMR untuk risiko operasional selama bulan Januari
dan Februari 2011 berdasarkan pendapatan bruto tahun 2008, 2009,
dan 2010 (unaudited). Pada awal Maret 2011, Laporan keuangan 2010
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) telah disampaikan
kepada bank.
Berdasarkan laporan tersebut bank menghitung ATMR untuk risiko
operasional bulan Maret 2011 berdasarkan pendapatan bruto tahun
2008, 2009, dan 2010 (audited).
Apabila dalam menghitung rata­rata pendapatan bruto selama tiga
tahun terakhir terdapat satu atau dua tahun bank mengalami penda­
patan bruto negatif atau nihil, maka untuk perhitungan rata­rata penda­
patan bruto tahunan, bank harus mengeluarkan nilai pendapatan bruto
negatif tersebut dari pembilang dan penyebut pada saat menghitung
rata­rata pendapatan bruto.

Contoh: (juta rupiah)


Bank A 2011 2010 2009 2008 2007
Pendapatan Bruto 800 1.200 (750) (1.750) 3.000
www.facebook.com/indonesiapustaka

Berdasarkan data tersebut, pendapatan bruto dalam rangka menghi­


tung ATMR untuk risiko operasional:
MANAJEMEN RISIKO 1
165 Risiko Operasional

Untuk posisi tahun 2012:


ATMR risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasional
= 12,5 x [15%x{(800+1.200)/2}]
= Rp.1.875 juta
Untuk posisi tahun 2011:
ATMR risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasional
= 12,5 x [15%x{(1.200)/1}]
= Rp.2.250 juta

Apabila dalam tiga tahun terakhir bank mengalami pendapatan bruto


negatif atau nihil maka untuk perhitungan rata­rata pendapatan bruto
tahunan, bank harus menghitung beban modal risiko operasional de­
ngan menggunakan pendapatan bruto tahunan terakhir yang positif.

Contoh: (juta rupiah)


Bank B 2010 2009 2008 2007 2006
Pendapatan Bruto (1.250) (1.500) (750) 1.800 2.750

Berdasarkan data tersebut maka pendapatan bruto dalam rangka


menghitung ATMR untuk risiko operasional posisi tahun 2011 adalah
sebagai berikut.
ATMR risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasional
= 12,5 x [15%x(1.800)/1] = Rp.3.375 juta

Bagi bank yang baru berdiri atau bank hasil merger atau konsolidasi
maka bank tidak diwajibkan untuk menghitung ATMR untuk risiko ope­
rasional sampai dengan akhir bulan Desember tahun pendiriannya atau
tahun bank dimaksud melakukan merger atau konsolidasi. Untuk tahun
berikutnya, bank wajib menghitung beban modal untuk risiko operasio­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nal dengan menggunakan pendapatan bruto selama tahun awal pendi­


rian yang disetahunkan.
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
166

Contoh:
Beberapa bank melakukan merger menjadi Bank C yang efektif berope­
rasi sejak 15 April 2010. Pada akhir Desember 2010 total pendapatan
bruto Bank C sebesar Rp750 juta. Berdasarkan pengaturan di atas, Bank
C tidak diwajibkan untuk menghitung ATMR untuk risiko operasional
sampai dengan akhir tahun pendiriannya (2010). Selama 2011, sejak
bulan Januari 2011 Bank A menghitung ATMR untuk risiko operasional
sebagai berikut.
ATMR risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasional
= 12,5 x [15%x{750x12/9}]
= Rp.1.875 juta

Bank D didirikan dan mulai beroperasi pada 19 Desember 2010. To­


tal pendapatan bruto Bank D sampai dengan tanggal 31 Desember 2010
sebesar Rp100 juta. Berdasarkan pengaturan di atas, Bank D tidak diwa­
jibkan menghitung ATMR untuk risiko operasional sampai dengan akhir
tahun pendiriannya (Desember 2010). Selama 2011, sejak bulan Ja­
nuari 2011 Bank B menghitung ATMR untuk risiko operasional sebagai
berikut.
ATMR risiko operasional = 12,5 x beban modal risiko operasional
= 12,5 x [15%x{100x12/1}]
= Rp.2.250 juta

Kelebihan dari metode PID yakni:


• Mudah diimplementasikan.
• Tidak membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar seperti
kalau bank mengembangkan model yang lebih maju.
• Cocok bagi bank yang sedang dalam tahap awal melakukan im­
plementasi Basel II, khususnya ketika data kerugian belum men­
www.facebook.com/indonesiapustaka

cukupi untuk membuat model yang lebih kompleks.


• Cocok bagi bank dengan ukuran kecil dan menengah.
MANAJEMEN RISIKO 1
167 Risiko Operasional

Namun demikian, metode PID memiliki tiga kelemahan sebagai be­


rikut :
• Tidak memberikan perhatian khusus terhadap eksposur dan pe­
ngendalian risiko operasional bank, struktur aktivitas bisnis, pe­
ringkat kredit, dan indikator lainnya. Dengan demikian, PID tidak
sensitif terhadap risiko.
• Hasil perhitungan modalnya sering over estimate dari kondisi se­
sungguhnya.
• PID tidak cocok diimplementasikan untuk bank besar dan bank
yang aktif secara internasional.

Peraturan Bank Indonesia yang terkait dengan perhitungan PID


ini adalah SE BI No. 11/3/DPNP tanggal 27 Januari 2009 perihal: Per­
hitungan Aktiva Tertimbang menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Opera­
sional dengan Menggunakan Pendekatan Indikator Dasar (PID).

6.4.2 Standardized Approach (SA) atau Pendekatan


Standar (PSA)

Pendekatan PSA memberikan hasil yang lebih detail dari pada PID. Re­
gulator menentukan delapan standar lini bisnis. Gross Income dibagi
sesuai delapan lini bisnis tersebut. Kebutuhan modal minimum harus
dihitung berdasarkan suatu persentase tetap dari gross income setiap
lini bisnis. Persentase tersebut ditentukan oleh Basel (regulator) dan
berbeda bagi lini bisnis tergantung dari eksposur risiko operasional su­
atu lini bisnis. Basel Committee menyebut persentase setiap lini bisnis
sebagai faktor Beta (β) yang berkisar dari 12% sampai 18%.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
168

6.4.3 Advanced Measurement Approach (AMA)

Dalam metode Advanced Measurement Approach (AMA), bank­bank


diberi kesempatan untuk menggunakan hasil dari sistem pengukuran
risiko operasional yang mereka miliki, namun tergantung pada standar
umum, standar kualitatif, dan standar kuantitatif yang ditetapkan oleh
regulator, untuk menghitung kebutuhan modal minimum.
AMA merupakan pendekatan yang lebih kompleks dibandingkan de­
ngan dua pendekatan sebelumnya sehingga lebih mencerminkan kon­
disi risiko yang sebenarnya. Dengan demikian, perhitungan kebutuhan
modal untuk menutup risiko operasional lebih sesuai.
Urutan penggunaan dari yang paling sederhana sampai dengan
yang paling kompleks adalah sebagai berikut.

Bank dianjurkan untuk menggunakan cara yang lebih baik atas da­
sar profil risiko dari bank dan kemampuan melaksanakan manajemen
risiko dari bank.
Untuk modul level 1 hanya akan dibahas perhitungan modal dengan
BIA atau PID.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
169 Risiko Operasional

Contoh Pertanyaan Bab 6 (jawaban di bagian belakang buku ini)

1. Menurut Basel, risiko operasional dapat terjadi akibat beberapa se­


bab, yaitu:
a. Faktor manusia, kegagalan sistem, faktor tak terduga
b. Faktor manusia, kegagalan sistem, faktor ekstern
c. Faktor manusia, kegagalan prosedur, kegagalan strategi
d. Faktor sistem, kegagalan prosedur, kegagalan budaya kerja

2. Pada beberapa risiko operasional, secara proses memang tidak


memungkinkan untuk dilakukan intervensi untuk pencegahan atau
perbaikan situasi. Dalam kondisi demikian, langkah yang sebaiknya
ditempuh bank adalah:
a. Risk acceptance
b. Risk avoidance
c. Risk transfer
d. Risk mitigation

3. Untuk mengukur risiko operasional yang bersifat kualitatif dan pre­


diktif dengan menggunakan dimensi dampak dan kemungkinan
kejadian, bank menggunakan operational risk tool yang disebut
dengan:
a. Heat maps
b. Estimasi frekwensi kejadian
c. Estimasi dampak akibat kejadian
d. Semua digunakan

4. Dalam perhitungan modal dengan metode PID, apabila gross income


3 tahun terakhir semuanya negatif, maka:
www.facebook.com/indonesiapustaka

a. Kebutuhan modal tidak dapat ditentukan


b. Bank harus pindah menggunakan metode standar
MANAJEMEN RISIKO 1
Risiko Operasional
170

c. Bank menggunakan tahun yang terdapat gross income positif


d. Bank harus menggunakan metode AMA untuk menghitung kebu­
tuhan modal

5. Pada 2011, bank UBS mengalami kerugian besar akibat ulah seorang
trader yang melakukan fraud, sehingga dia dapat melakukan trans­
aksi fiktif tanpa diketahui oleh pihak bank dalam jangka waktu lama.
Penyebab terjadinya risiko operasional seperti ini tergolong dalam:
a. Faktor manusia dan kegagalan prosedur
b. Faktor manusia dan faktor eksternal
c. Faktor kegagalan prosedur dan faktor eksternal
d. Faktor manusia dan kegagalan sistem
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka

LAMPIRAN
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
172

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR:


11/ 25 /PBI/2009 TENTANG PERUBAHAN
ATAS PERATURAN BANK INDONESIA
NOMOR 5/8/PBI/2003 TENTANG
PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI
BANK UMUM
DENGAN RAHMAT
TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR BANK INDONESIA,

Menimbang: a. bahwa dengan semakin kompleksnya produk dan


aktivitas Bank maka risiko yang dihadapi Bank akan
semakin meningkat;
b. bahwa peningkatan risiko yang dihadapi Bank perlu
diimbangi dengan kualitas penerapan manajemen ri­
siko yang memadai;
c. bahwa transparansi merupakan salah satu aspek
yang perlu diperhatikan dalam pengendalian risiko
yang dihadapi Bank;
d. bahwa peningkatan kualitas penerapan manajemen
risiko akan mendukung efektivitas kerangka peng­
awasan bank berbasis risiko;
e. bahwa sehubungan dengan hal­hal sebagaimana di­
maksud pada huruf a sampai dengan huruf d, maka
dipandang perlu untuk mengatur kembali penerapan
manajemen risiko bagi bank umum dalam suatu Per­
aturan Bank Indonesia;
www.facebook.com/indonesiapustaka

Mengingat : 1. Undang­Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Per­


bankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Repub­
lik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah diubah
MANAJEMEN RISIKO 1
173 Lampiran

dengan Undang­Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lem­


baran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor
182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3790);
2. Undang­Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Ta­
hun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Re­
publik Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah di­
ubah terakhir dengan Undang­Undang Nomor 6 Tahun
2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Peng­
ganti Undang­Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas Undang­Undang Nomor 23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia menjadi Undang­
Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4962);
3. Undang­Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Per­
bankan Syariah (Lembaran Negara Republik Indo­
nesia Tahun 2008 Nomor 94, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4867);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN BANK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 5/8/PBI/2003 TEN­
TANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM.

Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/
PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum
www.facebook.com/indonesiapustaka

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 56, Tam­


bahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4292) diubah se­
bagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
174

Pasal 1
Dalam Peraturan Bank Indonesia ini yang dimaksud dengan:
1. Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Un­
dang­Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan seba­
gaimana telah diubah dengan Undang­Undang Nomor 10 Tahun
1998, termasuk kantor cabang bank asing, dan Bank Umum
Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang­Undang Nomor
21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
2. Bank Umum Konvensional adalah Bank Umum Konvensional
sebagaimana dimaksud dalam Undang­Undang Nomor 21 Ta­
hun 2008 tentang Perbankan Syariah.
3. Bank Umum Syariah adalah Bank Umum Syariah sebagaimana
dimaksud dalam Undang­Undang Nomor 21 Tahun 2008 ten­
tang Perbankan Syariah.
4. Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peris­
tiwa (events) tertentu.
5. Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prose­
dur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, me­
mantau, dan mengendalikan Risiko yang timbul dari seluruh
kegiatan usaha Bank.
6. Risiko Kredit adalah Risiko akibat kegagalan debitur dan/atau
pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank.
7. Risiko Pasar adalah Risiko pada posisi neraca dan rekening ad­
ministratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan se­
cara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk Risiko perubah­
an harga option.
8. Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat ketidakmampuan Bank
untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber
pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi


keuangan Bank.
9. Risiko Operasional adalah Risiko akibat ketidakcukupan dan/
atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia,
MANAJEMEN RISIKO 1
175 Lampiran

kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian­kejadian ekster­


nal yang mempengaruhi operasional Bank.
10. Risiko Kepatuhan adalah Risiko akibat Bank tidak mematuhi
dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang­undangan
dan ketentuan yang berlaku.
11. Risiko Hukum adalah Risiko akibat tuntutan hukum dan/atau
kelemahan aspek yuridis.
12. Risiko Reputasi adalah Risiko akibat menurunnya tingkat ke­
percayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif
terhadap Bank.
13. Risiko Stratejik adalah Risiko akibat ketidaktepatan dalam
pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik
serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan
bisnis.
14. Direksi:
a. bagi Bank berbentuk Perseroan Terbatas adalah direksi se­
bagaimana dimaksud dalam Undang­Undang tentang Per­
seroan terbatas;
b. bagi Bank berbentuk hukum Perusahaan Daerah adalah di­
reksi sebagaimana dimaksud dalam Undang­Undang ten­
tang Perusahaan Daerah;
c. bagi Bank berbentuk hukum Koperasi adalah pengurus se­
bagaimana dimaksud dalam Undang­Undang tentang Perko­
perasian;
d. bagi kantor cabang bank asing adalah pimpinan kantor ca­
bang bank asing.
15. Dewan Komisaris:
a. bagi Bank berbentuk Perseroan Terbatas adalah dewan ko­
misaris sebagaimana dimaksud dalam Undang­Undang ten­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tang Perseroan terbatas;


b. bagi Bank berbentuk hukum Perusahaan Daerah adalah
pengawas sebagaimana dimaksud dalam Undang­Undang
tentang Perusahaan Daerah;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
176

c. bagi Bank berbentuk hukum Koperasi adalah pengawas se­


bagaimana dimaksud dalam Undang­Undang tentang Per­
koperasian.
16. Perusahaan Anak adalah badan hukum atau perusahaan yang
dimiliki dan/atau dikendalikan oleh Bank secara langsung mau­
pun tidak langsung, baik di dalam maupun di luar negeri yang
melakukan kegiatan usaha di bidang keuangan, yang terdiri
dari:
a. Perusahaan Subsidiari (subsidiary company) yaitu Perusa­
haan Anak dengan kepemilikan Bank lebih dari 50% (lima
puluh perseratus);
b. Perusahaan Partisipasi (participation company) adalah Per­
usahaan Anak dengan kepemilikan Bank 50% (lima puluh
perseratus) atau kurang, namun Bank memiliki Pengen­
dalian terhadap perusahaan;
c. Perusahaan dengan kepemilikan Bank lebih dari 20% (dua
puluh perseratus) sampai dengan 50% (lima puluh persera­
tus) yang memenuhi persyaratan yaitu:
i. kepemilikan Bank dan para pihak lainnya pada Perusa­
haan Anak adalah masing­masing sama besar; dan
ii. masing­masing pemilik melakukan Pengendalian secara
bersama terhadap Perusahaan Anak;
d. Entitas lain yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan
yang berlaku wajib dikonsolidasikan.

2. Ketentuan Pasal 2 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 2
(1) Bank wajib menerapkan Manajemen Risiko secara efektif,
www.facebook.com/indonesiapustaka

baik untuk Bank secara individual maupun untuk Bank secara


konsolidasi dengan Perusahaan Anak.
(2) Penerapan Manajemen Risiko sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling kurang mencakup:
MANAJEMEN RISIKO 1
177 Lampiran

a. pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi;


b. kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit mana­
jemen risiko;
c. kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan,
dan pengendalian Risiko, serta sistem informasi Manajemen
Risiko; dan
d. sistem pengendalian intern yang menyeluruh.

3. Ketentuan Pasal 4 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 4

(1) Risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mencakup:


a. Risiko Kredit;
b. Risiko Pasar;
c. Risiko Likuiditas;
d. Risiko Operasional;
e. Risiko Hukum;
f. Risiko Reputasi;
g. Risiko Stratejik; dan
h. Risiko Kepatuhan;
(2) Bank Umum Konvensional wajib menerapkan Manajemen Risi­
ko untuk seluruh Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Bank Umum Syariah wajib menerapkan Manajemen Risiko pa­
ling kurang untuk 4 (empat) jenis Risiko sebagaimana dimak­
sud pada ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d.

4. Penjelasan Pasal 8 diubah sebagaimana tercantum dalam penje­


lasan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

5. Ketentuan Pasal 20 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:


MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
178

Pasal 20
(1) Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur secara tertulis un­
tuk mengelola risiko yang melekat pada produk atau aktivitas
baru Bank.
(2) Kebijakan dan prosedur sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling kurang mencakup:
a. sistem dan prosedur (standard operating procedures) dan
kewenangan dalam pengelolaan produk atau aktivitas baru;
b. identifikasi seluruh Risiko yang melekat pada produk atau
aktivitas baru baik yang terkait dengan Bank maupun nasa­
bah;
c. masa uji coba metode pengukuran dan pemantauan Risiko
terhadap produk atau aktivitas baru;
d. sistem informasi akuntansi untuk produk atau aktivitas
baru;
e. analisa aspek hukum untuk produk atau aktivitas baru; dan
f. transparansi informasi kepada nasabah.
(3) Produk atau aktivitas Bank merupakan suatu produk baru atau
aktivitas baru apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. tidak pernah diterbitkan atau dilakukan sebelumnya oleh
Bank; atau
b. telah diterbitkan atau dilaksanakan sebelumnya oleh Bank
namun dilakukan pengembangan yang mengubah atau
meningkatkan eksposur Risiko tertentu pada Bank.

6. Diantara Pasal 20 dan Pasal 21 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal


20 A sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 20 A
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bank dilarang menugaskan atau menyetujui pengurus dan/atau pe­


gawai Bank untuk memasarkan produk atau melaksanakan aktivitas
yang bukan merupakan produk atau aktivitas Bank dengan menggu­
nakan sarana atau fasilitas Bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
179 Lampiran

7. Ketentuan Pasal 21 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 21
Bank wajib menerapkan transparansi informasi produk atau aktivi­
tas Bank kepada nasabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20
ayat (2) huruf f, baik secara tertulis maupun lisan.

8. Ketentuan Pasal 24 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 24
(1) Bank wajib menyampaikan laporan profil Risiko kepada Bank
Indonesia.
(2) Laporan profil Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
yang disampaikan oleh satuan kerja Manajemen Risiko, wa­
jib memuat substansi yang sama dengan laporan profil Risiko
yang disampaikan oleh satuan kerja Manajemen Risiko kepada
Direktur Utama dan Komite Manajemen Risiko.
(3) Laporan profil Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di­
sampaikan secara triwulanan untuk posisi bulan Maret, Juni,
September, dan Desember.
(4) Laporan profil Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah
akhir bulan laporan.
(5) Dalam hal diperlukan, Bank Indonesia dapat meminta Bank me­
nyampaikan laporan profil Risiko sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diluar jangka waktu yang ditetapkan.

9. Ketentuan Pasal 25 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:


www.facebook.com/indonesiapustaka

Pasal 25
(1) Bank wajib menyampaikan laporan produk atau aktivitas baru
kepada Bank Indonesia, yang terdiri dari:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
180

a. Laporan rencana penerbitan produk atau pelaksanaan akti­


vitas baru; dan
b. Laporan realisasi penerbitan produk atau pelaksanaan akti­
vitas baru.
(2) Laporan rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
wajib disampaikan paling lambat 60 (enam puluh) hari sebelum
penerbitan atau pelaksanaan produk atau aktivitas baru.
(3) Laporan realisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b wajib disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah
produk atau aktivitas baru dilakukan.
(4) Selain memenuhi ketentuan pelaporan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), rencana penerbitan produk atau pelaksanaan
aktivitas baru yang memenuhi kriteria dalam Pasal 20 ayat (3)
huruf a wajib dicantumkan dalam Rencana Bisnis Bank.
(5) Berdasarkan hasil evaluasi terhadap laporan sebagaimana di­
maksud pada ayat (1) huruf a, Bank Indonesia dapat melarang
Bank untuk menerbitkan produk atau melaksanakan aktivitas
baru yang direncanakan.
(6) Dalam hal di kemudian hari berdasarkan evaluasi Bank Indo­
nesia, produk yang diterbitkan atau aktivitas yang dilaksana­
kan memenuhi kondisi sebagai berikut:
a. tidak sesuai dengan rencana penerbitan produk atau aktivi­
tas baru yang dilaporkan kepada Bank Indonesia;
b. berpotensi menimbulkan kerugian yang signifikan terhadap
kondisi keuangan Bank; dan/atau
c. tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Bank Indo­
nesia dapat memerintahkan Bank untuk menghentikan pe­
nerbitan produk atau pelaksanaan aktivitas dimaksud.
(7) Laporan rencana dan realisasi atas penerbitan produk atau pe­
www.facebook.com/indonesiapustaka

laksanaan aktivitas tertentu dapat diatur secara tersendiri da­


lam Surat Edaran.
MANAJEMEN RISIKO 1
181 Lampiran

10. Ketentuan Pasal 26 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 26
(1) Bank wajib menyampaikan laporan lain kepada Bank Indonesia
selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, dalam hal terda­
pat kondisi yang berpotensi menimbulkan kerugian yang signi­
fikan terhadap kondisi keuangan Bank.
(2) Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia laporan lain
yang terkait dengan penerapan Manajemen Risiko dan/atau
terkait dengan penerbitan produk atau pelaksanaan aktivitas
tertentu secara berkala atau sewaktu­waktu apabila diperlukan.
(3) Format dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur tersendiri dalam Surat Edaran.

11. Ketentuan Pasal 29 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 29
Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24,
Pasal 25, dan Pasal 26 wajib disampaikan kepada Bank Indonesia
dengan alamat:
a. Direktorat Pengawasan Bank terkait, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta
10350 bagi Bank yang berkantor pusat di wilayah kerja Kantor
Pusat Bank Indonesia.
b. Kantor Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang berkantor pu­
sat di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia.

12. Ketentuan Pasal 33 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 33
www.facebook.com/indonesiapustaka

(1) Bank yang terlambat menyampaikan laporan sebagaimana di­


maksud dalam Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25 ayat (1)
huruf b dan ayat (7), dan Pasal 26 ayat (2) dikenakan sanksi
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
182

kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupi­


ah) per hari keterlambatan per laporan.
(2) Bank yang belum menyampaikan laporan atau menyampaikan
laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, Pa­
sal 24, Pasal 25 ayat (1) huruf b, dan ayat (7), dan Pasal 26 ayat
(2) setelah 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampai­
an laporan dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) per laporan.
(3) Bank yang belum menyampaikan laporan sebagaimana dimak­
sud dalam Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25 ayat (1) huruf
b dan ayat (7), dan Pasal 26 ayat (2) dan telah dikenakan sank­
si kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
tetap wajib menyampaikan laporan kepada Bank Indonesia.
(4) Bank yang tidak menyampaikan laporan rencana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf a dikenakan sanksi
kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
(5) Bank yang menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud da­
lam Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25 ayat (1) huruf b dan
ayat (7), dan Pasal 26 ayat (2) namun dinilai tidak lengkap se­
cara signifikan atau tidak dilampiri dengan dokumen dan infor­
masi yang material sesuai dengan format yang ditentukan, dike­
nakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah) setelah Bank diberikan 2 (dua) kali su­
rat teguran oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 7 (tu­
juh) hari kerja untuk setiap teguran dan Bank tidak memperba­
iki laporan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah surat
teguran terakhir.
www.facebook.com/indonesiapustaka

13. Ketentuan Pasal 34 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:


MANAJEMEN RISIKO 1
183 Lampiran

Pasal 34
Bank yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana ditetapkan
dalam Peraturan Bank Indonesia ini dan ketentuan pelaksanaan
terkait lainnya dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 52 Undang­undang Nomor 7 Tahun 1992 ten­
tang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang­undang
Nomor 10 Tahun 1998 dan Pasal 58 Undang­undang Nomor 21 Ta­
hun 2008 tentang Perbankan Syariah, antara lain berupa:
a. teguran tertulis;
b. penurunan tingkat kesehatan Bank;
c. pembekuan kegiatan usaha tertentu;
d. pencantuman anggota pengurus, pegawai Bank, dan/atau pe­
megang saham dalam daftar pihak­pihak yang mendapat predi­
kat tidak lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatutan atau
dalam catatan administrasi Bank Indonesia sebagaimana diatur
dalam ketentuan Bank Indonesia yang berlaku; dan/atau
e. pemberhentian pengurus Bank.

14. Ketentuan pasal 35 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 35
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan Manajemen Risiko
bagi Bank diatur dengan Surat Edaran Bank Indonesia.
(2) Dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini, Bank wajib
menyesuaikan pedoman operasional yang terkait dengan pe­
nerapan Manajemen Risiko.
(3) Pengaturan mengenai Manajemen Risiko untuk seluruh Risiko
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dan penetapan
penilaian peringkat Risiko bagi Bank Umum Konvensional yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

dikategorikan dalam 5 (lima) peringkat sebagaimana dimaksud


dalam penjelasan Pasal 8 huruf d Peraturan Bank Indonesia ini
berlaku sejak tanggal 1 Juli 2010.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
184

(4) Pengaturan mengenai Manajemen Risiko sebagaimana dimak­


sud dalam Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) PBI No.5/8/PBI/2003
tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, serta
penetapan penilaian peringkat Risiko Bank Umum Konven­
sional yang dikategorikan dalam 3 (tiga) peringkat sebagai­
mana dimaksud dalam penjelasan Pasal 8 huruf d PBI No.5/8/
PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank
Umum tetap berlaku sampai dengan tanggal 30 Juni 2010.

15. Diantara Pasal 35 dan Pasal 36 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni


Pasal 35A sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 35A
(1) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 20, Pasal 21, Pasal
25, dan Pasal 26 ayat (2) dan ayat (3) tidak berlaku bagi Bank
Umum Syariah.
(2) Dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini, pengaturan
dalam ketentuan pelaksanaan yang terkait dengan Manajemen
Risiko yang bertentangan dengan pengaturan dalam Peraturan
Bank Indonesia ini dinyatakan tidak berlaku dan wajib mengi­
kuti pengaturan dalam Peraturan Bank Indonesia ini.

Pasal II
Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Bank Indonesia ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
185 Lampiran

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 1 Juli 2009


Pjs. GUBERNUR BANK INDONESIA

MIRANDA S. GOELTOM

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 1 Juli 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA

ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 103


DPNP
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
186

No. 13/23/DPNP Jakarta, 25 Oktober 2011

SURAT EDARAN
Kepada
SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL
DI INDONESIA

Perihal : Perubahan atas Surat Edaran No. 5/21/DPNP perihal Penerapan


Manajemen Risiko bagi Bank Umum.

Sehubungan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003


tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum (Lembaran Ne­
gara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 56, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4292), sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/25/PBI/2009 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 103, Tambahan Lem­
baran Negara Republik Indonesia Nomor 5029), Peraturan Bank Indo­
nesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5184), dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/6/PBI/2006 tentang
Penerapan Manajemen Risiko secara Konsolidasi bagi Bank yang Me­
lakukan Pengendalian terhadap Perusahaan Anak (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4602), serta dalam rangka meningkatkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

efektivitas penerapan dan harmonisasi dengan ketentuanketentuan


tersebut di atas, maka perlu dilakukan perubahan atas Surat Edaran No­
mor 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 perihal Penerapan Manaje­
men Risiko bagi Bank Umum, sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
187 Lampiran

1. Ketentuan angka 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:


3. Penyempurnaan pedoman penerapan manajemen risiko seba­
gaimana dimaksud pada angka 2 dilakukan paling lambat tang­
gal 30 November 2011 dan disampaikan kepada Bank Indonesia
paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diselesaikannya penyem­
purnaan pedoman tersebut.
2. Ketentuan angka 4 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
4. Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank
Umum, paling kurang memuat:
a. Penerapan Manajemen Risiko Secara Umum, yang mencakup
mengenai pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi;
kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit; kecu­
kupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pe­
ngendalian Risiko, serta sistem informasi Manajemen Risiko;
dan sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
b. Penerapan Manajemen Risiko untuk Masing­Masing Risiko,
yang mencakup penerapan Manajemen Risiko untuk ma­
sing­masing Risiko yang meliputi 8 (delapan) Risiko yaitu Ri­
siko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional,
Risiko Hukum, Risiko Stratejik, Risiko Kepatuhan, dan Risiko
Reputasi.
c. Penilaian Profil Risiko, yang mencakup penilaian terhadap
Risiko inheren dan penilaian terhadap kualitas penerapan
Manajemen Risiko yang mencerminkan sistem pengendalian
Risiko (risk control system), baik untuk Bank secara individu­
al maupun untuk Bank secara konsolidasi. Penilaian tersebut
dilakukan terhadap 8 (delapan) Risiko yaitu Risiko Kredit,
Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Hu­
kum, Risiko Stratejik, Risiko Kepatuhan, dan Risiko Reputasi.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dalam melakukan penilaian profil Risiko, Bank wajib mengacu


pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai pe­
nilaian tingkat kesehatan Bank Umum.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
188

3. Lampiran 1, Lampiran 5, Lampiran 6, dan Lampiran 7 diubah se­


hingga menjadi Lampiran 1, Lampiran 5, Lampiran 6, dan Lampiran
7, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran
Bank Indonesia ini.
4. Ketentuan dalam angka 9 diubah sehingga berbunyi sebagai be­
rikut:
9. Pelaporan
Dalam rangka penerapan Manajemen Risiko, Bank wajib me­
nyampaikan laporan sebagai berikut:
a. Laporan Profil Risiko
1) Bank wajib menyampaikan laporan profil Risiko baik se­
cara individual maupun secara konsolidasi kepada Bank
Indonesia secara triwulanan untuk posisi bulan Maret,
Juni, September, dan Desember, yang disajikan secara
komparatif dengan posisi triwulan sebelumnya paling
lama 15 (lima belas) hari kerja setelah akhir bulan laporan.
2) Format dan isi laporan profil Risiko berpedoman pada
Lampiran 5 dan Lampiran 6 Surat Edaran Bank Indonesia
ini.
3) Laporan profil Risiko yang disampaikan oleh Bank kepada
Bank Indonesia wajib memuat substansi yang sama de­
ngan laporan profil Risiko yang disampaikan oleh satuan
kerja Manajemen Risiko kepada Direktur Utama dan Ko­
mite Manajemen Risiko.

Mekanisme penilaian profil Risiko, penetapan tingkat Ri­


siko dan penetapan peringkat profil Risiko mengacu pada ke­
tentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penilaian
tingkat kesehatan Bank Umum.
www.facebook.com/indonesiapustaka

b. Laporan Produk dan Aktivitas Baru Cakupan, format, dan cara


penyampaian mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang
mengatur mengenai pelaporan produk atau aktivitas baru.
MANAJEMEN RISIKO 1
189 Lampiran

c. Laporan lain dalam hal terdapat kondisi yang berpotensi me­


nimbulkan kerugian yang signifikan terhadap kondisi keuang­
an Bank. Dalam hal ini, kondisi Bank tersebut antara lain da­
pat berupa:
1) Bank telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam status
Bank dalam pengawasan intensif atau Bank dalam peng­
awasan khusus;
2) Bank memiliki eksposur Risiko Pasar dan Risiko Likuidi­
tas yang sangat signifikan; dan/atau 3) kondisi eksternal
(pasar) mengalami fluktuasi yang sangat tajam dan cen­
derung tidak mampu dikendalikan oleh Bank.
Laporan ini bersifat insidentil yang disampaikan kepada
Bank Indonesia berdasarkan kondisi terkini Bank yang me­
miliki eksposur tertentu dan hasil penilaian Bank Indonesia
terhadap Bank tersebut.
d. Laporan lain terkait penerapan Manajemen Risiko, antara lain
laporan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas
1) Dalam rangka pemantauan likuiditas, Bank wajib menyam­
paikan laporan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas
kepada Bank Indonesia, yang terdiri dari:
a) Laporan Proyeksi Arus Kas dalam rangka pengelolaan
posisi likuiditas dan Risiko Likuiditas harian sebagai­
mana dimaksud dalam butir II. C. 3. c. 4). c). (2) Pe­
doman Standar Penerapan Manajemen Risiko yang
merupakan Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia
ini; dan
b) Laporan Profil Maturitas dalam rangka mengukur Ri­
siko Likuiditas sebagaimana dimaksud dalam butir II.
C. 3. c. 2). d). (2) Pedoman Standar Penerapan Manaje­
www.facebook.com/indonesiapustaka

men Risiko yang merupakan Lampiran 1 Surat Edaran


Bank Indonesia ini, baik dalam rupiah maupun valuta
asing.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
190

2) Laporan Proyeksi Arus Kas sebagaimana dimaksud dalam


butir 1). a) mencakup data proyeksi arus kas selama 1
(satu) minggu berikutnya yang dipetakan secara harian.
Laporan tersebut disampaikan secara mingguan yaitu se­
tiap hari Jumat sesuai dengan format internal Bank.
Contoh: Bank wajib menyampaikan Laporan Proyeksi
Arus Kas pada hari Jumat tanggal 7 Oktober 2011 yang
mencakup proyeksi arus kas hari Senin tanggal 10 Okto­
ber 2011 sampai dengan hari Jumat tanggal 14 Oktober
2011.
Dalam hal hari Jumat jatuh pada hari libur, maka lapor­
an disampaikan pada hari kerja sebelumnya.
3) Format Laporan Proyeksi Arus Kas sebagaimana dimak­
sud pada angka 2) mencakup paling kurang pos­pos ne­
raca dan pos­pos rekening administratif yang memiliki
transaksi yang signifikan sesuai dengan karakteristik, ke­
giatan usaha, dan kompleksitas Bank serta harus dilaku­
kan secara konsisten. Bank Indonesia dapat meminta
Bank untuk menyesuaikan format Laporan Proyeksi Arus
Kas yang disampaikan kepada Bank Indonesia.
Dalam hal Bank mengubah format Laporan Proyeksi
Arus Kas yang disampaikan kepada Bank Indonesia, Bank
wajib menginformasikan alasan perubahan tersebut ke­
pada Bank Indonesia.
4) Laporan Profil Maturitas sebagaimana dimaksud dalam
butir 1).b) disampaikan kepada Bank Indonesia secara
bulanan dengan cakupan dan format sesuai Lampiran 7
Surat Edaran Bank Indonesia ini. Tata cara penyampaian
laporan Profil Maturitas kepada Bank Indonesia dilakukan
www.facebook.com/indonesiapustaka

sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang mengatur


mengenai laporan berkala Bank Umum.
5) Selama format Laporan Profil Maturitas dalam laporan
Berkala Bank Umum (LBBU) belum sesuai dengan format
MANAJEMEN RISIKO 1
191 Lampiran

pada Lampiran 7 Surat Edaran Bank Indonesia ini, Bank te­


tap wajib menyampaikan Laporan Profil Maturitas sesuai
dengan format dalam ketentuan Bank Indonesia yang
mengatur mengenai laporan berkala Bank Umum yang
berlaku.
6) Laporan Proyeksi Arus Kas dan Laporan Profil Maturitas
disampaikan kepada Bank Indonesia secara on­line yaitu:
a) Laporan Proyeksi Arus Kas melalui Laporan Kantor Pu­
sat Bank Umum (LKPBU);
b) Laporan Profil Maturitas melalui LBBU.
7) Selama Laporan Proyeksi Arus Kas belum dapat disampai­
kan secara on­line melalui LKPBU, laporan tersebut wajib
disampaikan secara offline oleh Bank kepada Bank Indo­
nesia dengan alamat sebagai berikut:
a) Direktorat Pengawasan Bank, Jl. M.H. Thamrin No. 2,
Jakarta 10350, bagi Bank yang berkantor pusat di wila­
yah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau
b) Kantor Bank Indonesia, bagi Bank yang berkantor pu­
sat di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia.
8) Selain penyampaian laporan yang diwajibkan sebagaima­
na dimaksud pada angka 1), Bank Indonesia dalam kon­
disi tertentu dapat mewajibkan Bank untuk menyampai­
kan laporan yang terkait dengan penerapan Manajemen
Risiko untuk Risiko Likuiditas diluar waktu yang ditetap­
kan dan/atau laporan lain selain yang wajib disampaikan
secara berkala. Contoh laporan lain selain yang wajib di­
sampaikan secara berkala adalah laporan proyeksi arus
kas dalam rangka pengukuran Risiko sebagaimana di­
maksud dalam butir II. C. 3. c. 2). d). (3) Pedoman Standar
www.facebook.com/indonesiapustaka

Penerapan Manajemen Risiko dan laporan stress testing


sebagaimana dimaksud dalam butir II. C. 3. c. 2). d). (4)
Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko yang me­
rupakan Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia ini.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
192

e. Laporan lain terkait dengan penerbitan produk atau pelaksa­


naan aktivitas tertentu, antara lain laporan pelaksanaan ak­
tivitas berkaitan dengan reksadana, laporan pelaksanaan
kerjasama pemasaran dengan perusahaan asuransi (bancas­
surance). Cakupan, format, dan cara penyampaian mengacu
pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku.
5. Ketentuan Penutup
1. Pada saat Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku, Surat
Edaran Bank Indonesia Nomor 11/16/DPNP tanggal 6 Juli 2009
tentang Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas dan
ketentuan pelaksanaan lainnya yang terkait dengan Penerapan
Manajemen Risiko yang bertentangan dengan pengaturan dalam
Surat Edaran ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku bagi Bank
Umum Konvensional, kecuali untuk ketentuan mengenai pela­
poran sebagaimana dimaksud pada angka IV dalam Surat Edaran
Bank Indonesia Nomor 11/16/DPNP tanggal 6 Juli 2009 tentang
Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas.
2. Ketentuan mengenai pelaporan sebagaimana dimaksud pada
angka IV dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/16/DPNP
tanggal 6 Juli 2009 tentang Penerapan Manajemen Risiko untuk
Risiko Likuiditas dicabut dan dinyatakan tidak berlaku pada tang­
gal 31 Desember 2011 bagi Bank Umum Konvensional.
3. Ketentuan mengenai Lampiran 1, Lampiran 5, Lampiran 6, dan
Lampiran 7 sebagaimana dimaksud pada angka 3 dan ketentu­
an pelaporan sebagaimana dimaksud pada angka 4 dalam Surat
Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 31 Desem­
ber 2011.

Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 25 Ok­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tober 2011.
MANAJEMEN RISIKO 1
193 Lampiran

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman


Surat Edaran Bank Indonesia ini dengan penempatannya dalam Berita
Negara Republik Indonesia.
Demikian agar Saudara maklum.

BANK INDONESIA,

MuLiAMAn d. HAdAd
DEPUTI GUBERNUR
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
194

I. PEDOMAN PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO SECARA UMUM


Sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Peraturan Bank Indonesia Nomor
5/8/PBI/2003 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank
Indonesia Nomor 11/25/PBI/2009 tentang Penerapan Manajemen
Risiko Bagi Bank Umum, Bank wajib menerapkan Manajemen Risiko
secara efektif baik untuk Bank secara individual maupun untuk Bank
secara konsolidasi dengan Perusahaan Anak, yang paling kurang
mencakup 4 (empat) pilar yaitu:
1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi;
2. Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit;
3. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan
pengendalian Risiko serta sistem informasi Manajemen Risiko;
dan
4. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.

Prinsip­prinsip Manajemen Risiko dari masing­masing pilar terse­


but diuraikan sebagai berikut:

A. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi


Dewan Komisaris dan Direksi bertanggungjawab atas efektivitas
penerapan Manajemen Risiko di Bank. Untuk itu Dewan Komisaris
dan Direksi harus memahami Risiko­Risiko yang dihadapi Bank
dan memberikan arahan yang jelas, melakukan pengawasan dan
mitigasi secara aktif serta mengembangkan budaya Manajemen
Risiko di Bank. Selain itu Dewan Komisaris dan Direksi juga ha­
rus memastikan struktur organisasi yang memadai, menetapkan
tugas dan tanggung jawab yang jelas pada masing­masing unit,
serta memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas SDM untuk
mendukung penerapan Manajemen Risiko secara efektif. Hal­hal
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengawasan aktif


Dewan Komisaris dan Direksi mencakup namun tidak terbatas
atas hal­hal sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
195 Lampiran

1. Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Di­


reksi
a. Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab untuk
memastikan penerapan Manajemen Risiko telah mema­
dai sesuai dengan karakteristik, kompleksitas dan profil
Risiko Bank.
b. Dewan Komisaris dan Direksi harus memahami dengan
baik jenis dan tingkat Risiko yang melekat pada kegiatan
bisnis Bank.
c. Wewenang dan tanggung jawab Dewan Komisaris, paling
kurang meliputi:
1) menyetujui kebijakan Manajemen Risiko termasuk
strategi dan kerangka Manajemen Risiko yang dite­
tapkan sesuai dengan tingkat Risiko yang akan diam­
bil (risk appetite) dan toleransi Risiko (risk tolerance)
Bank;
2) mengevaluasi kebijakan Manajemen Risiko dan Stra­
tegi Manajemen Risiko paling kurang satu kali dalam
satu tahun atau dalam frekuensi yang lebih sering da­
lam hal terdapat perubahan faktor­faktor yang mempe­
ngaruhi kegiatan usaha Bank secara signifikan;
3) mengevaluasi pertanggungjawaban Direksi dan mem­
berikan arahan perbaikan atas pelaksanaan kebijakan
Manajemen Risiko secara berkala. Evaluasi dilakukan
dalam rangka memastikan bahwa Direksi mengelola
aktivitas dan Risiko­Risiko Bank secara efektif.
d. Wewenang dan tanggung jawab Direksi, paling kurang me­
liputi:
1) menyusun kebijakan, strategi, dan kerangka Mana­
www.facebook.com/indonesiapustaka

jemen Risiko secara tertulis dan komprehensif ter­


masuk limit Risiko secara keseluruhan dan per jenis
Risiko, dengan memperhatikan tingkat Risiko yang
akan diambil dan toleransi Risiko sesuai kondisi Bank
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
196

serta memperhitungkan dampak Risiko terhadap ke­


cukupan permodalan. Setelah mendapat persetuju­
an dari Dewan Komisaris maka Direksi menetapkan
kebijakan, strategi, dan kerangka Manajemen Risiko
dimaksud;
2) menyusun, menetapkan, dan mengkinikan prosedur
dan alat untuk mengidentifikasi, mengukur, memoni­
tor, dan mengendalikan Risiko;
3) menyusun dan menetapkan mekanisme persetujuan
transaksi, termasuk yang melampaui limit dan kewe­
nangan untuk setiap jenjang jabatan;
4) mengevaluasi dan/atau mengkinikan kebijakan, stra­
tegi, dan kerangka Manajemen Risiko paling kurang
satu kali dalam satu tahun atau dalam frekuensi yang
lebih sering dalam hal terdapat perubahan faktor­fak­
tor yang mempengaruhi kegiatan usaha Bank, ekspo­
sur Risiko, dan/atau profil Risiko secara signifikan;
5) menetapkan struktur organisasi termasuk wewenang
dan tanggung jawab yang jelas pada setiap jenjang
jabatan yang terkait dengan penerapan Manajemen
Risiko;
6) bertanggungjawab atas pelaksanaan kebijakan, stra­
tegi, dan kerangka Manajemen Risiko yang telah dise­
tujui oleh Dewan Komisaris serta mengevaluasi dan
memberikan arahan berdasarkan laporan­laporan
yang disampaikan oleh Satuan Kerja Manajemen Ri­
siko termasuk laporan mengenai profil Risiko;
7) memastikan seluruh Risiko yang material dan dam­
pak yang ditimbulkan oleh Risiko dimaksud telah
www.facebook.com/indonesiapustaka

ditindaklanjuti dan menyampaikan laporan pertang­


gungjawaban kepada Dewan Komisaris secara ber­
kala. Laporan dimaksud antara lain memuat laporan
perkembangan dan permasalahan terkait Risiko yang
MANAJEMEN RISIKO 1
197 Lampiran

material disertai langkah­langkah perbaikan yang te­


lah, sedang, dan akan dilakukan;
8) memastikan pelaksanaan langkah­langkah perbaik­
an atas permasalahan atau penyimpangan dalam ke­
giatan usaha Bank yang ditemukan oleh Satuan Kerja
Audit Intern;
9) mengembangkan budaya Manajemen Risiko terma­
suk kesadaran Risiko pada seluruh jenjang organi­
sasi, antara lain meliputi komunikasi yang memadai
kepada seluruh jenjang organisasi tentang penting­
nya pengendalian intern yang efektif;
10) memastikan kecukupan dukungan keuangan dan
infrastruktur untuk mengelola dan mengendalikan Ri­
siko;
11) memastikan bahwa fungsi Manajemen Risiko telah
diterapkan secara independen yang dicerminkan
antara lain adanya pemisahan fungsi antara Satuan
Kerja Manajemen Risiko yang melakukan identifikasi,
pengukuran, pemantauan dan pengendalian Risiko
dengan satuan kerja yang melakukan dan menyele­
saikan transaksi.
2. Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab penerapan Mana­
jemen Risiko terkait SDM maka Direksi harus:
a. menetapkan kualifikasi SDM yang jelas untuk setiap jen­
jang jabatan yang terkait dengan penerapan Manajemen
Risiko;
b. memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas SDM yang
ada di Bank dan memastikan SDM dimaksud memahami
www.facebook.com/indonesiapustaka

tugas dan tanggung jawabnya, baik untuk unit bisnis,


Satuan Kerja Manajemen Risiko maupun unit pendukung
yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Manajemen
Risiko;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
198

c. mengembangkan sistem penerimaan pegawai, pengem­


bangan, dan pelatihan pegawai termasuk rencana suksesi
manajerial serta remunerasi yang memadai untuk me­
mastikan tersedianya pegawai yang kompeten di bidang
Manajemen Risiko;
d. memastikan peningkatan kompetensi dan integritas pim­
pinan dan personil satuan kerja bisnis, Satuan Kerja Ma­
najemen Risiko dan Satuan Kerja Audit Internal, dengan
memperhatikan faktor­faktor seperti pengetahuan, pe­
ngalaman/rekam jejak dan kemampuan yang memadai
di bidang Manajemen Risiko melalui program pendidikan
dan pelatihan yang berkesinambungan, untuk menjamin
efektivitas proses Manajemen Risiko;
e. menempatkan pejabat dan staf yang kompeten pada ma­
sing­masing satuan kerja sesuai dengan sifat, jumlah, dan
kompleksitas kegiatan usaha Bank;
f. memastikan bahwa pejabat dan staf yang ditempatkan
pada masing­masing satuan kerja tersebut memiliki:
1) pemahaman mengenai Risiko yang melekat pada se­
tiap produk/aktivitas Bank;
2) pemahaman mengenai faktor­faktor Risiko yang rele­
van dan kondisi pasar yang mempengaruhi produk/ak­
tivitas Bank, serta kemampuan mengestimasi dampak
dari perubahan faktor­faktor tersebut terhadap kelang­
sungan usaha Bank;
3) kemampuan mengkomunikasikan implikasi eksposur
Risiko Bank kepada Direksi dan komite Manajemen Ri­
siko secara tepat waktu.
g. memastikan agar seluruh SDM memahami strategi, tingkat
www.facebook.com/indonesiapustaka

Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko, dan kerang­


ka Manajemen Risiko yang telah ditetapkan Direksi dan
disetujui oleh Dewan Komisaris serta mengimplementasi­
kannya secara konsisten dalam aktivitas yang ditangani.
MANAJEMEN RISIKO 1
199 Lampiran

3. Organisasi Manajemen Risiko


Dalam rangka penerapan Manajemen Risiko yang efektif, Di­
reksi Bank menetapkan struktur organisasi dengan memper­
hatikan hal­hal berikut:
a. Umum
1) Struktur organisasi yang disusun harus disertai de­
ngan kejelasan tugas dan tanggung jawab secara
umum maupun terkait penerapan Manajemen Risiko
pada seluruh satuan kerja yang disesuaikan dengan
tujuan dan kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas
kegiatan usaha Bank.
2) Struktur organisasi harus dirancang untuk memastikan
bahwa satuan kerja yang melakukan fungsi pengen­
dalian intern (satuan kerja audit intern) dan Satuan
Kerja Manajemen Risiko independen terhadap satuan
kerja bisnis Bank.
3) Bank wajib mempunyai Komite Manajemen Risiko dan
Satuan Kerja Manajemen Risiko yang independen.
4) Kecukupan kerangka pendelegasian wewenang wajib
disesuaikan dengan karakteristik dan kompleksitas
produk, tingkat Risiko yang akan diambil Bank, serta
pengalaman dan keahlian personil yang bersangkut­
an. Kewenangan yang didelegasikan harus direview
secara berkala untuk memastikan bahwa kewenang­
an tersebut sesuai dengan kondisi terkini dan level ki­
nerja pejabat terkait.
b. Komite Manajemen Risiko
1) Keanggotaan Komite Manajemen Risiko umumnya
bersifat tetap namun dapat ditambah dengan anggota
www.facebook.com/indonesiapustaka

tidak tetap sesuai dengan kebutuhan Bank.


2) Keanggotaan Komite Manajemen Risiko paling kurang
terdiri dari mayoritas Direksi dan Pejabat Eksekutif ter­
kait, dengan memperhatikan hal­hal berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
200

a) Bagi Bank yang memiliki 3 (tiga) orang anggota Di­


reksi sebagaimana persyaratan minimum yang di­
atur dalam ketentuan yang berlaku, maka pengerti­
an mayoritas Direksi adalah paling kurang 2 (dua)
orang Direktur.
b) Bank wajib menunjuk Direktur yang membawahkan
fungsi Manajemen Risiko dan Kepatuhan sebagai
anggota tetap Komite Manajemen Risiko dan Direk­
tur yang membidangi penerapan Manajemen Risi­
ko bagi Bank yang menunjuk Direktur tersendiri.
c) Pejabat Eksekutif terkait merupakan pejabat satu
tingkat di bawah Direksi yang memimpin satuan
kerja bisnis, pejabat yang memimpin Satuan Kerja
Manajemen Risiko dan pejabat yang memimpin Sa­
tuan Kerja Audit Intern.
d) Keanggotaan Pejabat Eksekutif dalam Komite Ma­
najemen Risiko disesuaikan dengan permasalahan
yang dibahas dalam Komite Manajemen Risiko se­
perti Tresuri dan Investasi, Kredit dan Operasional,
sesuai kebutuhan Bank.
3) Wewenang dan tanggung jawab Komite Manajemen
Risiko adalah melakukan evaluasi dan memberikan re­
komendasi kepada Direktur Utama terkait Manajemen
Risiko yang paling kurang meliputi:
a) penyusunan kebijakan Manajemen Risiko serta per­
ubahannya, termasuk strategi Manajemen Risiko,
tingkat Risiko yang diambil dan toleransi Risiko,
kerangka Manajemen Risiko serta rencana kontin­
jensi untuk mengantisipasi terjadinya kondisi tidak
www.facebook.com/indonesiapustaka

normal;
b) penyempurnaan proses Manajemen Risiko secara
berkala maupun bersifat insidentil sebagai akibat
dari suatu perubahan kondisi eksternal dan internal
MANAJEMEN RISIKO 1
201 Lampiran

Bank yang mempengaruhi kecukupan permodalan,


profil Risiko Bank, dan tidak efektifnya penerapan
Manajemen Risiko berdasarkan hasil evaluasi;
c) penetapan kebijakan dan/atau keputusan bisnis
yang menyimpang dari prosedur normal, seperti
pelampauan ekspansi usaha yang signifikan diban­
dingkan dengan rencana bisnis Bank yang telah
ditetapkan sebelumnya atau pengambilan posisi/
eksposur Risiko yang melampaui limit yang telah
ditetapkan.
c. Satuan Kerja Manajemen Risiko
1) Struktur organisasi Satuan Kerja Manajemen Risiko di­
sesuaikan dengan ukuran dan kompleksitas kegiatan
usaha Bank serta Risiko Bank.
2) Pimpinan Satuan Kerja Manajemen Risiko bertang­
gungjawab langsung kepada Direktur Utama atau Di­
rektur yang ditugaskan secara khusus seperti Direktur
yang membawahkan fungsi Manajemen Risiko dan Ke­
patuhan.
3) Satuan Kerja Manajemen Risiko harus independen ter­
hadap satuan kerja bisnis seperti tresuri dan investasi,
kredit, pendanaan, akuntansi, dan terhadap satuan sa­
tuan kerja audit intern (SKAI).
4) Wewenang dan tanggung jawab Satuan Kerja Manaje­
men Risiko meliputi:
a) memberikan masukan kepada Direksi dalam pe­
nyusunan kebijakan, strategi, dan kerangka Mana­
jemen Risiko;
b) mengembangkan prosedur dan alat untuk identifi­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian


Risiko;
c) mendesain dan menerapkan perangkat yang dibu­
tuhkan dalam penerapan Manajemen Risiko;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
202

d) memantau implementasi kebijakan, strategi, dan


kerangka Manajemen Risiko yang direkomendasi­
kan oleh Komite Manajemen Risiko dan yang telah
disetujui oleh Direksi;
e) memantau posisi/eksposur Risiko secara keselu­
ruhan, maupun per Risiko termasuk pemantauan
kepatuhan terhadap toleransi Risiko dan limit yang
ditetapkan;
f) melakukan stress testing guna mengetahui dam­
pak dari implementasi kebijakan dan strategi Mana­
jemen Risiko terhadap portofolio atau kinerja Bank
secara keseluruhan;
g) mengkaji usulan aktivitas dan/atau produk baru
yang dikembangkan oleh suatu unit tertentu Bank.
Pengkajian difokuskan terutama pada aspek ke­
mampuan Bank untuk mengelola aktivitas dan atau
produk baru termasuk kelengkapan sistem dan pro­
sedur yang digunakan serta dampaknya terhadap
eksposur Risiko Bank secara keseluruhan;
h) memberikan rekomendasi kepada satuan kerja
bisnis dan/atau kepada Komite Manajemen Risiko
terkait penerapan Manajemen Risiko antara lain
mengenai besaran atau maksimum eksposur Ri­
siko yang dapat dipelihara Bank;
i) mengevaluasi akurasi dan validitas data yang digu­
nakan oleh Bank untuk mengukur Risiko bagi Bank
yang menggunakan model untuk keperluan intern;
j) menyusun dan menyampaikan laporan profil Risiko
kepada Direktur Utama, Direktur Manajemen Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan Kepatuhan, dan Komite Manajemen Risiko se­


cara berkala atau paling kurang secara triwulanan.
Frekuensi laporan harus ditingkatkan apabila kon­
disi pasar berubah dengan cepat.
MANAJEMEN RISIKO 1
203 Lampiran

k) melaksanakan kaji ulang secara berkala dengan


frekuensi yang disesuaikan kebutuhan Bank, un­
tuk memastikan:
(1) kecukupan kerangka Manajemen Risiko;
(2) keakuratan metodologi penilaian Risiko; dan
(3) kecukupan sistem informasi Manajemen Ri­
siko;
5) Satuan kerja bisnis wajib menyampaikan laporan atau
informasi mengenai eksposur Risiko yang dikelola
satuan kerja yang bersangkutan kepada Satuan Kerja
Manajemen Risiko secara berkala.

B. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit


Penerapan Manajemen Risiko yang efektif harus didukung de­
ngan kerangka yang mencakup kebijakan dan prosedur Mana­
jemen Risiko serta limit Risiko yang ditetapkan secara jelas se­
jalan dengan visi, misi, dan strategi bisnis Bank. Penyusunan
kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko tersebut dilakukan
dengan memperhatikan antara lain jenis, kompleksitas kegiatan
usaha, profil Risiko, dan tingkat Risiko yang akan diambil serta
peraturan yang ditetapkan otoritas dan/atau praktek perbankan
yang sehat. Selain itu, penerapan kebijakan dan prosedur Mana­
jemen Risiko yang dimiliki Bank harus didukung oleh kecukupan
permodalan dan kualitas SDM. Dalam rangka pengendalian Risiko
secara efektif, kebijakan dan prosedur yang dimiliki Bank harus
didasarkan pada strategi Manajemen Risiko dan dilengkapi de­
ngan toleransi Risiko dan limit Risiko. Penetapan toleransi Risiko
dan limit Risiko dilakukan dengan memperhatikan tingkat Risiko
yang akan diambil dan strategi Bank secara keseluruhan. Hal­hal
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang perlu diperhatikan dalam penetapan kerangka Manajemen


Risiko termasuk kebijakan, prosedur, dan limit antara lain adalah
sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
204

1. Strategi Manajemen Risiko


a. Bank merumuskan strategi Manajemen Risiko sesuai stra­
tegi bisnis secara keseluruhan dengan memperhatikan
tingkat Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko.
b. Strategi Manajemen Risiko disusun untuk memastikan
bahwa eksposur Risiko Bank dikelola secara terkendali
sesuai dengan kebijakan, prosedur intern Bank serta per­
aturan perundang­undangan dan ketentuan lain yang ber­
laku.
c. Strategi Manajemen Risiko disusun berdasarkan prinsip­
prinsip umum berikut:
1) Strategi Manajemen Risiko harus berorientasi jangka
panjang untuk memastikan kelangsungan usaha Bank
dengan mempertimbangkan kondisi/siklus ekonomi;
2) Strategi Manajemen Risiko secara komprehensif dapat
mengendalikan dan mengelola Risiko Bank dan Per­
usahaan Anak; dan
3) Mencapai kecukupan permodalan yang diharapkan di­
sertai alokasi sumber daya yang memadai.
d. Strategi Manajemen Risiko disusun dengan mempertim­
bangkan faktor­faktor berikut:
1) Perkembangan ekonomi dan industri serta dampaknya
pada Risiko Bank;
2) Organisasi Bank termasuk kecukupan sumber daya
manusia dan infrastruktur pendukung;
3) Kondisi keuangan Bank termasuk kemampuan untuk
menghasilkan laba, dan kemampuan Bank mengelola
Risiko yang timbul sebagai akibat perubahan faktor
eksternal dan faktor internal;
www.facebook.com/indonesiapustaka

4) Bauran serta diversifikasi portofolio Bank.


e. Direksi harus mengkomunikasikan strategi Manajemen Ri­
siko dimaksud secara efektif kepada seluruh satuan kerja,
MANAJEMEN RISIKO 1
205 Lampiran

manajer, dan staf yang relevan agar dipahami secara je­


las.
f. Direksi harus melakukan review strategi Manajemen Ri­
siko dimaksud secara berkala termasuk dampaknya ter­
hadap kinerja keuangan Bank, untuk menentukan apakah
perlu dilakukan perubahan terhadap strategi Manajemen
Risiko Bank.
2. Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan Tole­
ransi Risiko (Risk Tolerance)
a. Tingkat Risiko yang akan diambil merupakan tingkat dan
jenis Risiko yang bersedia diambil oleh Bank dalam rang­
ka mencapai sasaran Bank. Tingkat Risiko yang akan di­
ambil tercermin dalam strategi dan sasaran bisnis Bank.
b. Toleransi Risiko merupakan tingkat dan jenis Risiko yang
secara maksimum ditetapkan oleh Bank. Toleransi Risiko
merupakan penjabaran dari tingkat Risiko yang akan di­
ambil.
c. Dalam menyusun kebijakan Manajemen Risiko, Direksi
harus memberikan arahan yang jelas mengenai tingkat
Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko Bank.
d. Tingkat Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko ha­
rus diperhatikan dalam penyusunan kebijakan Manaje­
men Risiko, termasuk dalam penetapan limit.
e. Dalam menetapkan toleransi Risiko, Bank perlu memper­
timbangkan strategi dan tujuan bisnis Bank serta kemam­
puan Bank dalam mengambil Risiko (risk bearing capa-
city).
3. Kebijakan dan Prosedur
a. Kebijakan Manajemen Risiko merupakan arahan tertulis
www.facebook.com/indonesiapustaka

dalam menerapkan Manajemen Risiko dan harus sejalan


dengan visi, misi, strategi bisnis Bank dan dalam penyu­
sunannya harus dikoordinasikan dengan fungsi atau unit
kerja terkait.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
206

b. Kebijakan dan prosedur harus didesain dan diimplementa­


sikan dengan memperhatikan karakteristik dan komplek­
sitas kegiatan usaha, tingkat Risiko yang akan diambil dan
toleransi Risiko, profil Risiko serta peraturan yang ditetap­
kan otoritas dan/atau praktek perbankan yang sehat.
c. Bank harus memiliki prosedur dan proses untuk mene­
rapkan kebijakan Manajemen Risiko. Prosedur dan proses
tersebut dituangkan dalam pedoman pelaksanaan yang
harus direview dan dikinikan secara berkala untuk menga­
komodasi perubahan yang terjadi.
d. Kebijakan Manajemen Risiko paling kurang memuat:
1) penetapan Risiko yang terkait dengan produk dan
transaksi perbankan yang didasarkan atas hasil ana­
lisis Bank terhadap Risiko yang melekat pada setiap
produk dan transaksi perbankan yang telah dan akan
dilakukan sesuai dengan karakteristik dan komplek­
sitas kegiatan usaha Bank;
2) penetapan metode dalam melakukan identifikasi,
pengukuran, pemantauan dan pengendalian Risiko
serta sistem informasi Manajemen Risiko dalam rang­
ka menilai secara tepat eksposur Risiko pada setiap
produk dan transaksi perbankan serta aktivitas bisnis
Bank;
3) penetapan data yang harus dilaporkan, format lapor­
an, dan jenis informasi yang harus dimasukkan dalam
laporan Manajemen Risiko sehingga mencerminkan
eksposur Risiko yang menjadi pertimbangan dalam
rangka pengambilan keputusan bisnis dengan tetap
memperhatikan prinsip kehati­hatian;
www.facebook.com/indonesiapustaka

4) penetapan kewenangan dan besaran limit secara ber­


jenjang termasuk batasan transaksi yang memerlukan
persetujuan Direksi, serta penetapan toleransi Risiko
yang merupakan batasan potensi kerugian yang mam­
MANAJEMEN RISIKO 1
207 Lampiran

pu diserap oleh kemampuan permodalan Bank, dan


sarana pemantauan terhadap perkembangan ekspo­
sur Risiko Bank;
5) penetapan peringkat profil Risiko sebagai dasar bagi
Bank untuk menentukan langkah­langkah perbaikan
terhadap produk, transaksi perbankan, dan area aktivi­
tas bisnis Bank tertentu dan mengevaluasi hasil pelak­
sanaan kebijakan dan strategi Manajemen Risiko;
6) struktur organisasi yang secara jelas merumuskan
peran dan tanggung jawab Dewan Komisaris, Direksi,
komite­komite, Satuan Kerja Manajemen Risiko, sa­
tuan kerja operasional, Satuan Kerja Audit Intern, dan
satuan kerja pendukung lainnya;
7) penetapan sistem pengendalian intern dalam pene­
rapan Manajemen Risiko guna memastikan kepatuhan
terhadap ketentuan ekstern dan intern yang berlaku,
efektivitas dan efisiensi kegiatan operasional Bank,
efektivitas budaya Risiko pada setiap jenjang organi­
sasi Bank, serta tersedianya informasi manajemen
dan keuangan yang akurat, lengkap, tepat guna, dan
tepat waktu;
8) kebijakan rencana kelangsungan usaha (business
continuity plan atau business continuity manage-
ment) atas kemungkinan kondisi eksternal dan in­
ternal terburuk, sehingga kelangsungan usaha Bank
dapat dipertahankan termasuk rencana pemulihan
bencana (disaster recovery plan) dan rencana kontin­
jensi (contingency plan). Penyusunan kebijakan ren­
cana kelangsungan usaha memenuhi hal­hal antara
www.facebook.com/indonesiapustaka

lain sebagai berikut:


a) Melibatkan berbagai satuan kerja terkait;
b) Bersifat fleksibel untuk dapat merespon berbagai
skenario gangguan yang sifatnya tidak terduga dan
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
208

spesifik, yaitu gambaran kondisi­kondisi tertentu


dan tindakan yang dibutuhkan segera;
c) Pengujian dan evaluasi rencana kelangsungan usa­
ha secara berkala;
d) Direksi wajib menguji, mereview, dan mengkinikan
rencana kelangsungan usaha secara berkala un­
tuk memastikan efektivitas rencana kelangsungan
usaha yang telah disusun.
e. Kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko wajib didoku­
mentasikan secara memadai dan dikomunikasikan kepa­
da seluruh pegawai.
4. Limit
a. Bank harus memiliki limit Risiko yang sesuai dengan ting­
kat Risiko yang akan diambil, toleransi Risiko, dan stra­
tegi Bank secara keseluruhan dengan memperhatikan
kemampuan modal Bank untuk dapat menyerap eksposur
Risiko atau kerugian yang timbul, pengalaman kerugian di
masa lalu, kemampuan sumberdaya manusia, dan kepa­
tuhan terhadap ketentuan eksternal yang berlaku.
b. Prosedur dan penetapan limit Risiko paling kurang men­
cakup:
1) akuntabilitas dan jenjang delegasi wewenang yang je­
las;
2) dokumentasi prosedur dan penetapan limit secara me­
madai untuk memudahkan pelaksanaan kaji ulang dan
jejak audit;
3) pelaksanaan kaji ulang terhadap prosedur dan pe­
netapan limit secara berkala paling kurang satu kali da­
lam setahun atau frekuensi yang lebih sering, sesuai
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan jenis Risiko, kebutuhan dan perkembangan


Bank; dan
4) penetapan limit dilakukan secara komprehensif atas
seluruh aspek yang terkait dengan Risiko, yang men­
MANAJEMEN RISIKO 1
209 Lampiran

cakup limit secara keseluruhan, limit per Risiko, dan


limit per aktivitas bisnis Bank yang memiliki eksposur
Risiko.
c. Limit harus dipahami oleh setiap pihak yang terkait dan
dikomunikasikan dengan baik termasuk apabila terjadi
perubahan.
d. Dalam rangka pengendalian Risiko, limit digunakan se­
bagai ambang batas untuk menentukan tingkat intensitas
mitigasi Risiko yang akan dilaksanakan manajemen.
e. Bank harus memiliki mekanisme persetujuan apabila ter­
jadi pelampauan limit.
f. Besaran limit diusulkan oleh satuan kerja operasional ter­
kait, yang selanjutnya direkomendasikan kepada Satuan
Kerja Manajemen Risiko untuk mendapat persetujuan Di­
reksi atau Dewan Komisaris melalui Komite Manajemen
Risiko, atau Direksi sesuai dengan kewenangannya ma­
sing­masing yang diatur dalam kebijakan internal Bank.
g. Limit tersebut harus direview secara berkala oleh Direksi
dan/atau Satuan Kerja Manajemen Risiko untuk menye­
suaikan terhadap perubahan kondisi yang terjadi.
C. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pengendalian
Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen Risiko
Identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian Risiko
merupakan bagian utama dari proses penerapan Manajemen Ri­
siko.
Identifikasi Risiko bersifat proaktif, mencakup seluruh aktivitas
bisnis Bank dan dilakukan dalam rangka menganalisa sumber
dan kemungkinan timbulnya Risiko serta dampaknya. Selanjut­
nya, Bank perlu melakukan pengukuran Risiko sesuai dengan ka­
www.facebook.com/indonesiapustaka

rakteristik dan kompleksitas kegiatan usaha. Dalam pemantauan


terhadap hasil pengukuran Risiko, Bank perlu menetapkan unit
yang independen dari pihak yang melakukan transaksi untuk
memantau tingkat dan tren serta menganalisis arah Risiko. Se­
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
210

lain itu, efektivitas penerapan Manajemen Risiko perlu didukung


oleh pengendalian Risiko dengan mempertimbangkan hasil
pengukuran dan pemantauan Risiko. Dalam rangka mendukung
proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian
Risiko, Bank juga perlu mengembangkan sistem informasi mana­
jemen yang disesuaikan dengan karakteristik, kegiatan dan kom­
pleksitas kegiatan usaha Bank.
Hal­hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proses iden­
tifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian, dan sistem in­
formasi manajemen antara lain adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi Risiko
a. Bank wajib melakukan identifikasi seluruh Risiko secara
berkala.
b. Bank wajib memiliki metode atau sistem untuk melakukan
identifikasi Risiko pada seluruh produk dan aktivitas bis­
nis Bank.
c. Proses identifikasi Risiko dilakukan dengan menganali­
sis seluruh sumber Risiko yang paling kurang dilakukan
terhadap Risiko dari produk dan aktivitas Bank serta me­
mastikan bahwa Risiko dari produk dan aktivitas baru te­
lah melalui proses Manajemen Risiko yang layak sebelum
diperkenalkan atau dijalankan.
2. Pengukuran Risiko
a. Sistem pengukuran Risiko digunakan untuk mengukur
eksposur Risiko Bank sebagai acuan untuk melakukan
pengendalian. Pengukuran Risiko wajib dilakukan secara
berkala baik untuk produk dan portofolio maupun seluruh
aktivitas bisnis Bank.
b. Sistem tersebut paling kurang harus dapat mengukur:
www.facebook.com/indonesiapustaka

1) sensitivitas produk/aktivitas terhadap perubahan fak­


tor­faktor yang mempengaruhinya, baik dalam kondisi
normal maupun tidak normal;
MANAJEMEN RISIKO 1
211 Lampiran

2) kecenderungan perubahan faktor­faktor dimaksud


berdasarkan fluktuasi yang terjadi di masa lalu dan ko­
relasinya;
3) faktor Risiko secara individual;
4) eksposur Risiko secara keseluruhan maupun per Ri­
siko, dengan mempertimbangkan keterkaitan antar
Risiko ;
5) seluruh Risiko yang melekat pada seluruh transaksi
serta produk perbankan, termasuk produk dan aktivi­
tas baru, dan dapat diintegrasikan dalam sistem infor­
masi manajemen Bank.
c. Metode pengukuran Risiko dapat dilakukan secara kuan­
titatif dan/atau kualitatif. Metode pengukuran tersebut da­
pat berupa metode yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
dalam rangka penilaian Risiko dan perhitungan modal
maupun metode yang dikembangkan sendiri oleh Bank.
d. Pemilihan metode pengukuran disesuaikan dengan ka­
rakteristik dan kompleksitas kegiatan usaha.
e. Bagi Bank yang menggunakan metode alternatif dengan
model internal dalam pengukuran Risiko Kredit, Risiko
Pasar, dan Risiko Operasional paling kurang mempertim­
bangkan hal­hal sebagai berikut:
1) Persyaratan penggunaan model internal:
a) isi dan kualitas data yang dibuat atau dipelihara ha­
rus sesuai dengan standar umum yang berlaku se­
hingga memungkinkan hasil statistik yang handal;
b) tersedianya sistem informasi manajemen yang
memungkinkan sistem tersebut mengambil data
dan informasi yang layak dan akurat pada saat
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang tepat;
c) tersedianya sistem yang dapat menghasilkan data
Risiko pada seluruh posisi Bank;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
212

d) tersedianya dokumentasi dari sumber data yang


digunakan untuk keperluan proses pengukuran Ri­
siko;
e) basis data dan proses penyimpanan data harus
merupakan bagian dari rancangan sistem guna
mencegah terputusnya serangkaian data statistik.
2) Apabila Bank melakukan back-testing terhadap mo­
del internal seperti Credit Scoring Tools, Value at
Risk (VaR), dan stress testing untuk eksposur yang
mengandung Risiko tertentu, Bank harus mengguna­
kan data historis/serangkaian parameter dan asumsi
yang disusun oleh Bank sendiri dan/atau asumsi yang
diminta oleh Bank Indonesia.
3) Dalam hal model internal tersebut diaplikasikan maka
keperluan data terkait harus disesuaikan pula dengan
sistem pelaporan data yang diwajibkan oleh Bank In­
donesia.
4) Dalam rangka mengatasi kelemahan yang dapat timbul
atas penggunaan model pengukuran Risiko tertentu
maka Bank harus melakukan validasi model tersebut
yang dilakukan oleh pihak internal yang independen
terhadap satuan kerja yang mengaplikasikan model
tersebut. Apabila diperlukan, validasi tersebut dilaku­
kan atau dilengkapi dengan hasil review yang dilaku­
kan pihak eksternal yang memiliki kompetensi dan
keahlian teknis dalam pengembangan model pengu­
kuran Risiko.
5) Validasi model merupakan suatu proses:
a) evaluasi terhadap logika internal suatu model ter­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tentu dengan cara verifikasi keakurasian matema­


tikal;
MANAJEMEN RISIKO 1
213 Lampiran

b) membandingkan prediksi model dengan peris­


tiwa setelah tanggal posisi tertentu (subsequent
events);
c) membandingkan model satu dengan model lain
yang ada, baik internal maupun eksternal, apabila
tersedia.
6) Validasi juga harus dilakukan terhadap model baru,
baik yang dikembangkan sendiri oleh Bank maupun
yang dibeli dari vendor. Model yang digunakan oleh
Bank harus dievaluasi secara berkala maupun se­
waktu­waktu terutama dalam hal terjadi perubahan
kondisi pasar yang signifikan.
7) Proses pengukuran Risiko harus secara jelas memuat
proses validasi, frekuensi validasi, persyaratan doku­
mentasi data dan informasi, persyaratan evaluasi ter­
hadap asumsi­asumsi yang digunakan, sebelum suatu
model diaplikasikan oleh Bank.
8) Metode pengukuran Risiko harus dipahami secara je­
las oleh pegawai yang terkait dalam pengendalian Ri­
siko, antara lain manajer tresuri, chief dealer, Komite
Manajemen Risiko, Satuan Kerja Manajemen Risiko,
dan Direktur bidang terkait.
f. Sistem pengukuran Risiko harus dievaluasi dan disem­
purnakan secara berkala atau sewaktu­waktu apabila di­
perlukan untuk memastikan kesesuaian asumsi, akurasi,
kewajaran dan integritas data, serta prosedur yang digu­
nakan untuk mengukur Risiko.
g. Stress test dilakukan untuk melengkapi sistem peng­
ukuran Risiko dengan cara mengestimasi potensi keru­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gian Bank pada kondisi pasar yang tidak normal dengan


menggunakan skenario tertentu guna melihat sensitivitas
kinerja Bank terhadap perubahan faktor Risiko dan meng­
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
214

identifikasi pengaruh yang berdampak signifikan terha­


dap portofolio Bank.
h. Bank perlu melakukan stress testing secara berkala dan
mereview hasil stress testing tersebut serta mengambil
langkah­langkah yang tepat apabila perkiraan kondisi
yang akan terjadi melebihi tingkat toleransi yang dapat di­
terima. Hasil tersebut digunakan sebagai masukan pada
saat penetapan atau perubahan kebijakan dan limit.
3. Pemantauan Risiko
a. Bank harus memiliki sistem dan prosedur pemantauan
yang antara lain mencakup pemantauan terhadap besar­
nya eksposur Risiko, toleransi Risiko, kepatuhan limit in­
ternal, dan hasil stress testing maupun konsistensi pelak­
sanaan dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan.
b. Pemantauan dilakukan baik oleh unit pelaksana maupun
oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko.
c. Hasil pemantauan disajikan dalam laporan berkala yang
disampaikan kepada Manajemen dalam rangka mitigasi
Risiko dan tindakan yang diperlukan.
d. Bank harus menyiapkan suatu sistem back-up dan pro­
sedur yang efektif untuk mencegah terjadinya gangguan
dalam proses pemantauan Risiko, dan melakukan penge­
cekan serta penilaian kembali secara berkala terhadap
sistem back-up tersebut.
4. Pengendalian Risiko
a. Bank harus memiliki sistem pengendalian Risiko yang
memadai dengan mengacu pada kebijakan dan prosedur
yang telah ditetapkan.
b. Proses pengendalian Risiko yang diterapkan Bank harus
www.facebook.com/indonesiapustaka

disesuaikan dengan eksposur Risiko maupun tingkat Ri­


siko yang akan diambil dan toleransi Risiko. Pengendalian
Risiko dapat dilakukan oleh Bank, antara lain dengan cara
mekanisme lindung nilai, dan metode mitigasi Risiko la­
MANAJEMEN RISIKO 1
215 Lampiran

innya seperti penerbitan garansi, sekuritisasi aset, dan


credit derivatives, serta penambahan modal Bank untuk
menyerap potensi kerugian.
5. Sistem Informasi Manajemen Risiko
a. Sistem informasi Manajemen Risiko merupakan bagian
dari sistem informasi manajemen yang harus dimiliki dan
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan Bank dalam
rangka penerapan Manajemen Risiko yang efektif.
b. Sebagai bagian dari proses Manajemen Risiko, sistem
informasi Manajemen Risiko Bank digunakan untuk men­
dukung pelaksanaan proses identifikasi, pengukuran, pe­
mantauan, dan pengendalian Risiko.
c. Sistem informasi Manajemen Risiko harus dapat memasti­
kan:
1) tersedianya informasi yang akurat, lengkap, informatif,
tepat waktu, dan dapat diandalkan agar dapat diguna­
kan Dewan Komisaris, Direksi, dan satuan kerja yang
terkait dalam penerapan Manajemen Risiko untuk me­
nilai, memantau, dan memitigasi Risiko yang dihadapi
Bank baik Risiko keseluruhan/komposit maupun per
Risiko dan/atau dalam rangka proses pengambilan ke­
putusan oleh Direksi;
2) efektivitas penerapan Manajemen Risiko mencakup
kebijakan, prosedur, dan penetapan limit Risiko;
3) tersedianya informasi tentang hasil (realisasi) pene­
rapan Manajemen Risiko dibandingkan dengan target
yang ditetapkan oleh Bank sesuai dengan kebijakan
dan strategi penerapan Manajemen Risiko.
d. Sistem informasi Manajemen Risiko dan informasi yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

dihasilkan harus disesuaikan dengan karakteristik dan


kompleksitas kegiatan usaha Bank serta adaptif terhadap
perubahan.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
216

e. Kecukupan cakupan informasi yang dihasilkan dari sis­


tem informasi Manajemen Risiko harus direview secara
berkala untuk memastikan bahwa cakupan tersebut telah
memadai sesuai perkembangan tingkat kompleksitas ke­
giatan usaha.
f. Sebagai bagian dari sistem informasi Manajemen Risiko,
laporan profil Risiko disusun secara berkala oleh Satuan
Kerja Manajemen Risiko yang independen terhadap unit
kerja yang melakukan kegiatan bisnis. Frekuensi pe­
nyampaian laporan kepada Direksi terkait dan Komite Ma­
najemen Risiko harus ditingkatkan sesuai kebutuhan ter­
utama apabila kondisi pasar berubah dengan cepat.
g. Sistem informasi Manajemen Risiko harus mendukung pe­
laksanaan pelaporan kepada Bank Indonesia.
h. Dalam mengembangkan teknologi sistem informasi dan
perangkat lunak baru, Bank harus memastikan bahwa pe­
nerapan sistem informasi dan teknologi baru tersebut ti­
dak akan mengganggu kesinambungan sistem informasi
Bank.
i. Apabila Bank memutuskan untuk menugaskan tenaga
kerja alih daya (outsourcing) dalam pengembangan pe­
rangkat lunak dan penyempurnaan sistem, Bank harus
memastikan bahwa keputusan penunjukan pihak ketiga
tersebut dilakukan secara obyektif dan independen. Da­
lam perjanjian/kontrak alih daya harus dicantumkan klau­
sul mengenai pemeliharaan dan pengkinian serta langkah
antisipasi guna mencegah gangguan yang mungkin ter­
jadi dalam pengoperasiannya.
j. Sebelum menerapkan sistem informasi manajemen yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

baru, Bank harus melakukan pengujian untuk memastikan


bahwa proses dan keluaran (output) yang dihasilkan telah
melalui proses pengembangan, pengujian dan penilaian
MANAJEMEN RISIKO 1
217 Lampiran

kembali secara efektif dan akurat, serta Bank harus me­


mastikan bahwa data historis akuntansi dan manajemen
dapat diakses oleh sistem/perangkat lunak baru tersebut
dengan baik.
k. Bank harus menatausahakan dan mengkinikan dokumen­
tasi sistem, yang memuat perangkat keras, perangkat lu­
nak, basis data (database), parameter, tahapan proses,
asumsi yang digunakan, sumber data, dan keluaran yang
dihasilkan sehingga memudahkan pengendalian melekat
dan pelaksanaan jejak audit.
D. Sistem Pengendalian intern
Proses penerapan Manajemen Risiko yang efektif harus dileng­
kapi dengan sistem pengendalian intern yang handal. Penerapan
sistem pengendalian intern secara efektif dapat membantu peng­
urus Bank menjaga aset Bank, menjamin tersedianya pelaporan
keuangan dan manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan
kepatuhan Bank terhadap ketentuan dan peraturan perundang­
undangan yang berlaku, serta mengurangi Risiko terjadinya ke­
rugian, penyimpangan dan pelanggaran aspek kehati­hatian.
Terselenggaranya sistem pengendalian intern Bank yang handal
dan efektif menjadi tanggung jawab dari seluruh satuan kerja
operasional dan satuan kerja pendukung serta Satuan Kerja Au­
dit Intern.
Hal­hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan sistem
pengendalian intern antara lain adalah sebagai berikut :
1. Bank wajib melaksanakan sistem pengendalian intern secara
efektif dalam penerapan Manajemen Risiko Bank dengan
mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.
Penerapan prinsip pemisahan fungsi (four eyes principle) ha­
www.facebook.com/indonesiapustaka

rus memadai dan dilaksanakan secara konsisten.


2. Sistem pengendalian intern dalam penerapan Manajemen Ri­
siko paling kurang mencakup:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
218

a. kesesuaian antara sistem pengendalian intern dengan je­


nis dan tingkat Risiko yang melekat pada kegiatan usaha
Bank;
b. penetapan wewenang dan tanggung jawab untuk peman­
tauan kepatuhan kebijakan, prosedur dan limit;
c. penetapan jalur pelaporan dan pemisahan fungsi yang
jelas dari satuan kerja operasional kepada satuan kerja
yang melaksanakan fungsi pengendalian;
d. struktur organisasi yang menggambarkan secara jelas tu­
gas dan tanggung jawab masing­masing unit dan individu;
e. pelaporan keuangan dan kegiatan operasional yang aku­
rat dan tepat waktu;
f. kecukupan prosedur untuk memastikan kepatuhan Bank
terhadap ketentuan dan perundang­undangan yang berla­
ku;
g. kaji ulang yang efektif, independen, dan obyektif terhadap
kebijakan, kerangka dan prosedur operasional Bank;
h. pengujian dan kaji ulang yang memadai terhadap sistem
informasi manajemen;
i. dokumentasi secara lengkap dan memadai terhadap ca­
kupan, prosedurprosedur operasional, temuan audit, serta
tanggapan pengurus Bank berdasarkan hasil audit;
j. verifikasi dan kaji ulang secara berkala dan berkesinam­
bungan terhadap penanganan kelemahan­kelemahan
Bank yang bersifat material dan tindakan pengurus Bank
untuk memperbaiki penyimpanganpenyimpangan yang
terjadi.
3. Pelaksanaan kaji ulang terhadap penerapan Manajemen Ri­
siko paling kurang sebagai berikut :
www.facebook.com/indonesiapustaka

a. Kaji ulang dan evaluasi dilakukan secara berkala, paling


kurang setiap tahun oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko
(SKMR) dan Satuan Kerja Audit Intern (SKAI);
MANAJEMEN RISIKO 1
219 Lampiran

b. cakupan kaji ulang dan evaluasi dapat ditingkatkan freku­


ensi/intensitasnya, berdasarkan perkembangan ekspo­
sur Risiko Bank, perubahan pasar, metode pengukuran,
dan pengelolaan Risiko;
c. khusus untuk kaji ulang dan evaluasi terhadap pengukur­
an Risiko oleh SKMR, paling kurang mencakup:
1) kesesuaian kerangka Manajemen Risiko, yang meli­
puti kebijakan, struktur organisasi, alokasi sumber
daya, desain proses Manajemen Risiko, sistem infor­
masi, dan pelaporan Risiko Bank dengan kebutuhan
bisnis Bank, serta perkembangan peraturan dan prak­
tek terbaik (best practice) terkait Manajemen Risiko;
2) metode, asumsi, dan variabel yang digunakan untuk
mengukur Risiko dan menetapkan limit eksposur Ri­
siko;
3) perbandingan antara hasil dari metode pengukuran
Risiko yang menggunakan simulasi atau proyeksi di
masa datang dengan hasil aktual;
4) perbandingan antara asumsi yang digunakan dalam
metode dimaksud dengan kondisi yang sebenarnya/
aktual;
5) perbandingan antara limit yang ditetapkan dengan
eksposur yang sebenarnya/aktual;
6) penentuan kesesuaian antara pengukuran dan limit
eksposur Risiko dengan kinerja di masa lalu dan posisi
permodalan Bank saat ini.
d. kaji ulang oleh pihak independen baik SKAI antara lain
mencakup:
1) keandalan kerangka Manajemen Risiko, yang menca­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kup kebijakan, struktur organisasi, alokasi sumber


daya, desain proses Manajemen Risiko, sistem infor­
masi, dan pelaporan Risiko Bank;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
220

2) penerapan Manajemen Risiko oleh unit bisnis/aktivi­


tas pendukung, termasuk kaji ulang terhadap pelak­
sanaan pemantauan oleh SKMR.
4. Hasil penilaian kaji ulang oleh SKMR disampaikan kepada
Dewan Komisaris, Satuan Kerja Audit Intern (SKAI), Direktur
Kepatuhan, Komite Audit (apabila ada), dan Direksi terkait
lainnya sebagai masukan dalam rangka penyempurnaan ke­
rangka dan proses Manajemen Risiko.
5. Perbaikan atas hasil temuan audit intern maupun ekstern ha­
rus dipantau oleh SKAI. Temuan audit yang belum ditindak­
lanjuti harus diinformasikan oleh SKAI kepada Direksi untuk
diambil langkah­langkah yang diperlukan.
6. Tingkat responsif Bank terhadap kelemahan dan/atau pe­
nyimpangan yang terjadi terhadap ketentuan internal dan
eksternal yang berlaku.

II. PEDOMAN PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO UNTUK MASING­MASING


RISIKO
A. RISIKO KREDIT
1. Definisi
a. Risiko Kredit adalah Risiko akibat kegagalan debitur dan/
atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank.
b. Risiko Kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas bis­
nis Bank. Pada sebagian besar Bank, pemberian kredit me­
rupakan sumber Risiko Kredit yang terbesar. Selain kredit,
Bank menghadapi Risiko Kredit dari berbagai instrumen
keuangan seperti surat berharga, akseptasi, transaksi an­
tar Bank, transaksi pembiayaan perdagangan, transaksi
nilai tukar dan derivatif, serta kewajiban komitmen dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kontinjensi.
c. Risiko Kredit dapat meningkat karena terkonsentrasinya
penyediaan dana, antara lain pada debitur, wilayah geo­
MANAJEMEN RISIKO 1
221 Lampiran

grafis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha


tertentu. Risiko ini lazim disebut Risiko Konsentrasi Kredit.
2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Kredit adalah
untuk memastikan bahwa aktivitas penyediaan dana Bank
tidak terekspos pada Risiko Kredit yang dapat menimbulkan
kerugian pada Bank. Secara umum eksposur Risiko Kredit me­
rupakan salah satu eksposur Risiko utama sehingga kemam­
puan Bank untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau,
dan mengendalikan Risiko Kredit serta menyediakan modal
yang cukup bagi Risiko tersebut sangat penting.
3. Penerapan Manajemen Risiko
Manajemen Risiko untuk Risiko Kredit, termasuk pengelolaan
Risiko Konsentrasi Kredit (credit concentration risk), bagi
Bank secara individual maupun bagi Bank secara konsolidasi
dengan Perusahaan Anak paling kurang mencakup:
a. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam penerapan Manajemen Risiko melalui pengawasan
aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk Risiko Kredit,
maka selain melaksanakan pengawasan aktif sebagai­
mana dimaksud dalam butir I.A, Bank perlu menerapkan
beberapa hal dalam tiap aspek pengawasan aktif Dewan
Komisaris dan Direksi, sebagai berikut:
1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
dan Direksi
a) Dewan Komisaris memantau penyediaan dana ter­
masuk mereview penyediaan dana dengan jumlah
besar atau yang diberikan kepada pihak terkait.
b) Direksi bertanggungjawab agar seluruh aktivitas
www.facebook.com/indonesiapustaka

penyediaan dana dilakukan sesuai dengan strategi


dan kebijakan Risiko Kredit yang disetujui oleh De­
wan Komisaris.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
222

c) Direksi harus memastikan bahwa penerapan Mana­


jemen Risiko dilakukan secara efektif pada pelak­
sanaan aktivitas penyediaan dana, dengan antara
lain memantau perkembangan dan permasalahan
dalam aktivitas bisnis Bank terkait Risiko Kredit,
termasuk penyelesaian kredit bermasalah.
2) Sumber Daya Manusia
Kecukupan sumber daya manusia untuk Risiko Kredit
mengacu pada cakupan penerapan secara umum se­
bagaimana dimaksud dalam butir I. A. 2.
3) Organisasi Manajemen Risiko Kredit Dalam rangka pe­
nerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Kredit, ter­
dapat beberapa unit terkait sebagai berikut: (i) unit
bisnis yang melaksanakan aktivitas pemberian kredit
atau penyediaan dana; (ii) unit pemulihan kredit yang
melakukan penanganan kredit bermasalah; (iii) unit
Manajemen Risiko, khususnya yang menilai dan me­
mantau Risiko Kredit. Disamping itu, juga dibentuk Ko­
mite Kredit yang bertanggung jawab khususnya untuk
memutuskan pemberian kredit dalam jumlah tertentu
sesuai kebijakan masing­masing Bank.
Keanggotaan Komite Kredit tidak hanya terbatas dari
Unit Bisnis tetapi juga dari unit­unit lain yang terkait
dengan pengelolaan Risiko Kredit, seperti unit pemu­
lihan kredit.
b. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit Dalam melak­
sanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk
Risiko Kredit, maka selain melaksanakan kebijakan, pro­
sedur, dan penetapan limit sebagaimana dimaksud dalam
www.facebook.com/indonesiapustaka

butir I.B, Bank perlu menambahkan penerapan beberapa


hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan penetapan
limit, sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
223 Lampiran

1) Strategi Manajemen Risiko


a) Strategi Manajemen Risiko untuk Risiko Kredit ha­
rus mencakup strategi untuk seluruh aktivitas yang
memiliki eksposur Risiko Kredit yang signifikan.
Strategi tersebut harus memuat secara jelas arah
penyediaan dana yang akan dilakukan, antara lain
berdasarkan jenis kredit, lapangan usaha, wilayah
geografis, mata uang, jangka waktu, dan sasaran
pasar.
b) Strategi Manajemen Risiko untuk Risiko Kredit ha­
rus sejalan dengan tujuan Bank untuk menjaga
kualitas kredit, laba, dan pertumbuhan usaha.
2) Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan
Toleransi Risiko (Risk Tolerance)
Penetapan tingkat Risiko yang akan diambil dan tole­
ransi Risiko untuk Risiko Kredit mengacu pada cakupan
penerapan secara umum sebagaimana dimaksud da­
lam butir I. B. 2.
3) Kebijakan dan Prosedur
a) Dalam kebijakan Risiko Kredit yang mencakup pe­
nerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Kredit un­
tuk seluruh aktivitas bisnis Bank, perlu ditetapkan
kerangka penyediaan dana dan kebijakan penyedi­
aan dana yang sehat termasuk kebijakan dan pro­
sedur dalam rangka pengendalian Risiko Konsen­
trasi Kredit. Bank harus memiliki prosedur yang
ditetapkan secara jelas untuk persetujuan penye­
diaan dana, termasuk perubahan, pembaruan, dan
pembiayaan kembali.
www.facebook.com/indonesiapustaka

b) Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk


memastikan bahwa seluruh penyediaan dana dila­
kukan secara terkendali (arm’s length basis). Apa­
bila Bank mempunyai kebijakan yang memungkin­
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
224

kan dalam kondisi tertentu untuk melakukan


penyediaan dana diluar kebijakan normal, maka
kebijakan tersebut harus memuat secara jelas kri­
teria, persyaratan, dan prosedur termasuk langkah­
langkah untuk mengendalikan atau memitigasi Ri­
siko dari penyediaan dana dimaksud.
c) Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk
mengidentifikasi adanya Risiko Konsentrasi Kredit.
d) Bank harus mengembangkan dan mengimplemen­
tasikan kebijakan dan prosedur secara tepat se­
hingga dapat:
(1) mendukung penyediaan dana yang sehat;
(2) memantau dan mengendalikan Risiko Kredit,
termasuk Risiko Konsentrasi Kredit;
(3) melakukan evaluasi secara benar dalam me­
manfaatkan peluang usaha yang baru; dan
(4) mengidentifikasi dan menangani kredit ber­
masalah.
e) Kebijakan Bank harus memuat informasi yang dibu­
tuhkan dalam pemberian kredit yang sehat, antara
lain meliputi: tujuan kredit dan sumber pembayar­
an, profil Risiko debitur dan mitigasinya serta ting­
kat sensitivitas terhadap perkembangan kondisi
ekonomi dan pasar, kemampuan untuk membayar
kembali, kemampuan bisnis dan kondisi lapangan
usaha debitur serta posisi debitur dalam industri
tertentu, persyaratan kredit yang diajukan terma­
suk perjanjian yang dirancang untuk mengantisipa­
si perubahan eksposur Risiko debitur di waktu yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

akan datang.
f) Kebijakan Bank memuat pula faktor yang perlu di­
perhatikan dalam proses persetujuan kredit, antara
lain:
MANAJEMEN RISIKO 1
225 Lampiran

(1) tingkat profitabilitas, antara lain dengan me­


lakukan analisa perkiraan biaya dan penda­
patan secara komprehensif, termasuk biaya
estimasi apabila terjadi gagal bayar, serta per­
hitungan kebutuhan modal.
(2) konsistensi penetapan harga, yang dilakukan
dengan memperhitungkan tingkat Risiko, khu­
susnya kondisi debitur secara keseluruhan
serta kualitas dan tingkat kemudahan pen­
cairan agunan yang dijadikan jaminan.
g) Bank harus memiliki prosedur untuk melakukan
analisis, persetujuan, dan administrasi kredit, yang
antara lain memuat:
(1) Pendelegasian wewenang dalam prosedur
pengambilan keputusan penyediaan dana
yang harus diformalkan secara jelas.
(2) Pemisahan fungsi antara yang melakukan
analisis, persetujuan, dan administrasi kredit
dalam kerangka kerja atau mekanisme prose­
dur pendelegasian pengambilan keputusan
penyediaan dana.
(3) Satuan kerja yang melakukan review secara
berkala guna menetapkan atau mengkinikan
kualitas penyediaan dana yang terekspos Ri­
siko Kredit.
(4) Pengembangan sistem administrasi kredit,
yang meliputi:
(a) efisiensi dan efektivitas operasional ad­
ministrasi kredit, termasuk pemantauan
www.facebook.com/indonesiapustaka

dokumentasi, persyaratan kontrak, per­


janjian kredit, dan pengikatan agunan;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
226

(b) akurasi dan ketepatan waktu informasi


yang diberikan untuk sistem informasi
manajemen;
(c) pemisahan fungsi/tugas secara mema­
dai;
(d) kelayakan pengendalian seluruh prose­
dur back office, dan
(e) kepatuhan terhadap kebijakan dan pro­
sedur intern tertulis serta ketentuan yang
berlaku.
(5) Bank harus menatausahakan, mendokumen­
tasikan, dan mengkinikan seluruh informasi
kuantitatif dan kualitatif serta bukti­bukti ma­
terial dalam arsip kredit yang digunakan dalam
melakukan penilaian dan kaji ulang.
4) Limit
a) Bank harus menetapkan limit penyediaan dana
secara keseluruhan untuk seluruh aktivitas bisnis
Bank yang mengandung Risiko Kredit, baik untuk
pihak terkait maupun tidak terkait, serta untuk indi­
vidual maupun kelompok debitur.
b) Bank perlu menerapkan toleransi Risiko untuk Ri­
siko Kredit.
c) Limit untuk Risiko Kredit digunakan untuk mengu­
rangi Risiko yang ditimbulkan, termasuk karena
adanya konsentrasi penyaluran kredit.
d) Penetapan limit Risiko Kredit harus didokumentasi­
kan secara tertulis dan lengkap yang memudahkan
penetapan jejak audit untuk kepentingan auditor
www.facebook.com/indonesiapustaka

intern maupun ekstern.


c. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pe­
ngendalian Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen
Risiko Kredit Dalam menerapkan Manajemen Risiko me­
MANAJEMEN RISIKO 1
227 Lampiran

lalui proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan


pengendalian Risiko, serta sistem informasi Manajemen
Risiko untuk Risiko Kredit, maka selain melaksanakan
proses sebagaimana dimaksud dalam butir I.C, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap pro­
ses dimaksud, sebagai berikut:
1) Identifikasi Risiko Kredit
a) Sistem untuk melakukan identifikasi Risiko Kredit,
termasuk identifikasi terhadap Risiko Konsentrasi
Kredit, harus mampu menyediakan informasi yang
memadai, antara lain mengenai komposisi porto­
folio kredit.
b) Dalam melakukan identifikasi Risiko Kredit, baik se­
cara individual maupun portofolio, perlu dipertim­
bangkan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat
Risiko Kredit di waktu yang akan datang, seperti
kemungkinan perubahan kondisi ekonomi serta
penilaian eksposur Risiko Kredit dalam kondisi ter­
tekan.
c) Dalam mengidentifikasi Risiko Kredit perlu diper­
timbangkan hasil penilaian kualitas kredit berda­
sarkan analisa terhadap prospek usaha, kinerja
keuangan, dan kemampuan membayar debitur.
d) Dalam mengidentifikasi Risiko Kredit untuk ke­
giatan tresuri dan investasi, penilaian Risiko Kredit
juga harus memperhatikan jenis transaksi, karak­
teristik instrumen, dan likuiditas pasar serta faktor­
faktor lain yang dapat mempengaruhi Risiko Kredit.
e) Khusus untuk Risiko Konsentrasi Kredit, Bank juga
www.facebook.com/indonesiapustaka

harus mengidentifikasi penyebab Risiko Konsen­


trasi Kredit akibat faktor idiosinkratik (faktor yang
secara spesifik terkait pada masing­masing debi­
tur) dan faktor sistematik (faktor­faktor ekonomi
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
228

makro dan faktor keuangan yang dapat mempenga­


ruhi kinerja dan atau kondisi pasar).
2) Pengukuran Risiko Kredit
a) Bank harus memiliki sistem dan prosedur tertulis
untuk melakukan pengukuran Risiko yang me­
mungkinkan untuk:
(1) sentralisasi eksposur neraca dan rekening
administratif yang mengandung Risiko Kredit
dari setiap debitur atau per kelompok debitur
dan/atau pihak lawan transaksi (counterparty)
tertentu mengacu pada konsep single obligor;
(2) penilaian perbedaan kategori tingkat Risiko
Kredit antar debitur/pihak lawan transaksi de­
ngan menggunakan kombinasi aspek kualita­
tif dan kuantitatif serta pemilihan kriteria ter­
tentu;
(3) distribusi informasi hasil pengukuran Risiko
secara lengkap untuk tujuan pemantauan oleh
satuan kerja terkait.
b) Sistem pengukuran Risiko Kredit paling kurang
mempertimbangkan:
(1) karakteristik setiap jenis transaksi yang ter­
ekspos Risiko Kredit;
(2) kondisi keuangan debitur/pihak lawan trans­
aksi serta persyaratan dalam perjanjian kredit
seperti tingkat bunga;
(3) jangka waktu kredit dikaitkan dengan peruba­
han potensial yang terjadi di pasar;
(4) aspek jaminan, agunan, dan/atau garansi;
www.facebook.com/indonesiapustaka

(5) potensi terjadinya gagal bayar, baik berdasar­


kan hasil penilaian pendekatan standar mau­
pun hasil penilaian pendekatan yang menggu­
MANAJEMEN RISIKO 1
229 Lampiran

nakan proses pemeringkatan yang dilakukan


secara intern;
(6) kemampuan Bank untuk menyerap potensi
kegagalan.
c) Bank yang menggunakan teknik pengukuran Risiko
dengan pendekatan pemeringkatan internal (in-
ternal rating) harus melakukan pengkinian data se­
cara berkala.
d) Alat pengukuran harus dapat mengukur eksposur
Risiko inheren yang dapat dikuantifikasikan, antara
lain komposisi portofolio aset yang meliputi jenis
dan fitur eksposur dan tingkat konsentrasi, dan
kualitas penyediaan dana yang meliputi tingkat
aset bermasalah dan aset yang diambil alih.
e) Untuk mengukur Risiko Kredit terkait dengan kega­
galan pihak lawan (counterparty credit risk) seperti
transaksi derivatif over the counter/OTC, Bank harus
menggunakan nilai pasar yang dilakukan secara
berkala.
f) Bank yang mengembangkan dan mengunakan sis­
tem pemeringkatan internal dalam pengelolaan
Risiko Kreditnya, harus menyesuaikan sistem ter­
sebut dengan karakteristik portofolio, besaran, dan
kompleksitas dari aktivitas bisnis Bank.
g) Prinsip pokok dalam penggunaan pemeringkatan
internal adalah sebagai berikut:
(1) Prosedur penggunaan sistem pemeringkatan
internal harus diformalkan dan didokumen­
tasikan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

(2) Sistem pemeringkatan internal harus dapat


mengidentifikasi secara dini perubahan pro­
fil Risiko yang disebabkan oleh penurunan
potensial maupun aktual dari Risiko Kredit.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
230

(3) Sistem pemeringkatan internal harus dievalu­


asi secara berkala oleh satuan kerja yang inde­
penden terhadap satuan kerja yang mengapli­
kasikan pemeringkatan internal tersebut.
(4) Apabila Bank menggunakan pemeringkatan
internal untuk menentukan kualitas aset dan
besarnya cadangan, harus terdapat prosedur
formal yang memastikan bahwa penetapan
kualitas aset dan cadangan dengan pemering­
katan internal adalah lebih prudent atau sama
dengan ketentuan terkait yang berlaku.
(5) Laporan yang dihasilkan oleh pemeringkatan
internal, seperti laporan kondisi portofolio kre­
dit harus disampaikan secara berkala kepada
Direksi.
h) Salah satu model yang dapat digunakan Bank ada­
lah metodologi statistik/probabilistik untuk meng­
ukur Risiko yang berkaitan dengan jenis tertentu
dari transaksi Risiko Kredit, seperti credit scoring
tools.
i) Dalam penggunaan sistem tersebut maka Bank ha­
rus:
(1) melakukan kaji ulang secara berkala terhadap
akurasi model dan asumsi yang digunakan un­
tuk memproyeksikan kegagalan.
(2) menyesuaikan asumsi dengan perubahan
yang terjadi pada kondisi internal dan ekster­
nal.
j) Apabila terdapat eksposur Risiko yang besar atau
www.facebook.com/indonesiapustaka

transaksi yang relatif kompleks maka proses peng­


ambilan keputusan transaksi Risiko Kredit tidak
hanya didasarkan pada sistem tersebut sehingga
MANAJEMEN RISIKO 1
231 Lampiran

harus didukung sarana pengukuran Risiko Kredit


lainnya.
k) Bank harus mendokumentasikan asumsi, data, dan
informasi lainnya yang digunakan pada sistem ter­
sebut, termasuk perubahannya, serta dokumentasi
tersebut selanjutnya dikinikan secara berkala.
l) Penerapan sistem ini harus:
(1) mendukung proses pengambilan keputusan
dan memastikan kepatuhan terhadap ketentu­
an pendelegasian wewenang;
(2) independen terhadap kemungkinan rekayasa
yang akan mempengaruhi hasil melalui prose­
dur pengamanan yang layak dan efektif;
(3) dikaji ulang oleh satuan kerja atau pihak yang
independen terhadap satuan kerja yang meng­
aplikasikan sistem tersebut.
3) Pemantauan Risiko Kredit
a) Bank harus mengembangkan dan menerapkan sis­
tem informasi dan prosedur yang komprehensif
untuk memantau komposisi dan kondisi setiap de­
bitur atau pihak lawan transaksi terhadap seluruh
portofolio kredit Bank. Sistem tersebut harus seja­
lan dengan karakteristik, ukuran, dan kompleksitas
portofolio Bank.
b) Prosedur pemantauan harus mampu untuk meng­
identifikasi aset bermasalah ataupun transaksi lain­
nya untuk menjamin bahwa aset yang bermasalah
tersebut mendapat perhatian yang lebih, terma­
suk tindakan penyelamatan serta pembentukan
www.facebook.com/indonesiapustaka

cadangan yang cukup.


c) Sistem pemantauan kredit yang efektif akan me­
mungkinkan Bank untuk:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
232

(1) Memahami eksposur Risiko Kredit secara total


maupun per aspek tertentu untuk mengan­
tisipasi terjadinya Risiko Konsentrasi Kredit,
antara lain per jenis pihak lawan transaksi,
lapangan usaha, sektor industri, atau per wila­
yah geografis.
(2) Memahami kondisi keuangan terkini dari debi­
tur atau pihak lawan termasuk memperoleh in­
formasi mengenai komposisi aset debitur dan
tren pertumbuhan.
(3) Memantau kepatuhan terhadap persyaratan
yang ditetapkan dalam perjanjian kredit atau
kontrak transaksi lainnya.
(4) Menilai kecukupan agunan secara berkala di­
bandingkan dengan kewajiban debitur atau pi­
hak lawan transaksi.
(5) Mengidentifikasi permasalahan secara tepat
termasuk ketidaktepatan pembayaran dan
mengklasifikasikan potensi kredit bermasalah
secara tepat waktu untuk tindakan perbaikan.
(6) Menangani dengan cepat kredit bermasalah.
(7) Mengidentifikasi tingkat Risiko Kredit secara
keseluruhan maupun per jenis aset tertentu.
(8) Kepatuhan terhadap limit dan ketentuan lain­
nya terkait penyediaan dana, termasuk limit
Risiko Konsentrasi Kredit.
(9) Pengecualian yang diambil terhadap penyedi­
aan dana tertentu.
d) Dalam pelaksanaan pemantauan eksposur Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

Kredit, Satuan Kerja Manajemen Risiko harus me­


nyusun laporan mengenai perkembangan Risiko
Kredit secara berkala, termasuk faktor­faktor pe­
MANAJEMEN RISIKO 1
233 Lampiran

nyebabnya dan menyampaikannya kepada Komite


Manajemen Risiko dan Direksi.
4) Pengendalian Risiko Kredit
a) Dalam rangka pengendalian Risiko Kredit, Bank ha­
rus memastikan bahwa satuan kerja perkreditan
dan satuan kerja lainnya yang melakukan trans­
aksi yang terekspos Risiko Kredit telah berfungsi
secara memadai dan eksposur Risiko Kredit dijaga
tetap konsisten dengan limit yang ditetapkan serta
memenuhi standard kehati­hatian.
b) Pengendalian Risiko Kredit dapat dilakukan melalui
beberapa cara, antara lain mitigasi Risiko, penge­
lolaan posisi dan Risiko portofolio secara aktif, pe­
netapan target batasan Risiko konsentrasi dalam
rencana tahunan Bank, penetapan tingkat kewe­
nangan dalam proses persetujuan penyediaan
dana, dan analisis konsentrasi secara berkala pa­
ling kurang 1 (satu) kali dalam setahun.
c) Bank harus memiliki sistem yang efektif untuk
mendeteksi kredit bermasalah. Selain itu, Bank
harus memisahkan fungsi penyelesaian kredit ber­
masalah tersebut dengan fungsi yang memutus­
kan penyaluran kredit. Setiap strategi dan hasil pe­
nanganan kredit bermasalah ditatausahakan yang
selanjutnya digunakan sebagai input untuk kepen­
tingan satuan kerja yang berfungsi menyalurkan
atau merestrukturisasi kredit.
5) Sistem Informasi Manajemen Risiko Kredit
a) Sistem informasi Manajemen Risiko untuk Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

Kredit harus mampu menyediakan data secara


akurat, lengkap, informatif, tepat waktu, dan dapat
diandalkan mengenai jumlah seluruh eksposur kre­
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
234

dit peminjam individual dan pihak lawan transaksi,


portofolio kredit serta laporan pengecualian limit
Risiko Kredit agar dapat digunakan Direksi untuk
mengidentifikasi adanya Risiko Konsentrasi Kredit.
b) Sistem informasi yang dimiliki harus mampu meng­
akomodasi strategi mitigasi Risiko Kredit melalui
berbagai macam metode atau kebijakan, misalnya
penetapan limit, lindung nilai, sekuritisasi aset,
asuransi, agunan, perjanjian on-balance-sheet net-
ting, dan lain­lain.
d. Sistem Pengendalian Intern Dalam melakukan penerapan
Manajemen Risiko melalui pelaksanaan sistem pengen­
dalian intern untuk Risiko Kredit, maka selain melaksana­
kan pengendalian intern sebagaimana dimaksud dalam
butir I.D, Bank juga perlu menerapkan hal­hal sebagai ber­
ikut:
1) Sistem kaji ulang yang independen dan berkelanjutan
terhadap efektivitas penerapan proses Manajemen Ri­
siko untuk Risiko Kredit yang paling kurang memuat
evaluasi proses administrasi perkreditan, penilaian
akurasi penerapan pemeringkatan internal atau peng­
gunaan alat pemantauan lainnya, dan efektivitas pe­
laksanaan satuan kerja atau petugas yang melakukan
pemantauan kualitas kredit.
2) Sistem review internal oleh individu yang independen
dari unit bisnis untuk membantu evaluasi proses kredit
secara keseluruhan, menentukan akurasi peringkat in­
ternal, dan menilai apakah account officer memonitor
kredit secara individual dengan tepat.
www.facebook.com/indonesiapustaka

3) Sistem pelaporan yang efisien dan efektif untuk me­


nyediakan informasi yang memadai kepada Dewan
Komisaris, Direksi, dan komite audit.
MANAJEMEN RISIKO 1
235 Lampiran

4) Audit internal atas proses Risiko Kredit dilakukan se­


cara periodik, yang antara lain mencakup identifikasi
apakah:
a) aktivitas penyediaan dana telah sejalan dengan ke­
bijakan dan prosedur yang ditetapkan.
b) seluruh otorisasi dilakukan dalam batas panduan
yang diberikan.
c) kualitas individual kredit dan komposisi portofolio
telah dilaporkan secara akurat kepada Direksi.
d) terdapat kelemahan dalam proses Manajemen Ri­
siko untuk Risiko Kredit, kebijakan dan prosedur,
termasuk setiap pengecualian terhadap kebijakan,
prosedur, dan limit.

B. RISIKO PASAR
1. Definisi
a. Risiko Pasar adalah Risiko pada posisi neraca dan reke­
ning administratif termasuk transaksi derivatif, akibat pe­
rubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk
Risiko perubahan harga option.
b. Risiko Pasar meliputi antara lain Risiko suku bunga, Ri­
siko nilai tukar, Risiko ekuitas, dan Risiko komoditas. Ri­
siko suku bunga, Risiko nilai tukar, dan Risiko komoditas
dapat berasal baik dari posisi trading book maupun posisi
banking book. Sedangkan Risiko ekuitas berasal dari po­
sisi trading book.
c. Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko ekuitas dan ko­
moditas hanya wajib diterapkan oleh Bank yang melaku­
kan konsolidasi dengan Perusahaan Anak.
www.facebook.com/indonesiapustaka

d. Cakupan posisi banking book dan posisi trading book


mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai ke­
wajiban penyediaan modal minimum.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
236

2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar adalah
untuk meminimalkan kemungkinan dampak negatif akibat
perubahan kondisi pasar terhadap aset dan permodalan
Bank.
3. Penerapan Manajemen Risiko
Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar bagi Bank
secara individual maupun bagi Bank secara konsolidasi de­
ngan Perusahaan Anak paling kurang mencakup:
a. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk Ri­
siko Pasar, maka selain melaksanakan pengawasan aktif
sebagaimana dimaksud dalam butir I.A, Bank perlu me­
nambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, sebagai
berikut:
1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
dan Direksi
a) Wewenang dan tanggung jawab Direksi, paling ku­
rang meliputi:
(1) memastikan bahwa dalam kebijakan dan pro­
sedur mengenai Manajemen Risiko untuk Ri­
siko Pasar telah mencakup untuk aktivitas tra-
ding baik harian, jangka menengah, maupun
jangka panjang. Tanggung jawab ini termasuk
memastikan kejelasan wewenang dan tang­
gung jawab pengelolaan Risiko Pasar, kecu­
kupan sistem untuk mengukur Risiko Pasar,
www.facebook.com/indonesiapustaka

struktur limit yang memadai untuk pengambil­


an Risiko, pengendalian internal yang efektif,
dan sistem pelaporan yang komprehensif, ber­
kala, dan tepat waktu.
MANAJEMEN RISIKO 1
237 Lampiran

(2) memastikan bahwa kebijakan dan prosedur


mengenai Manajemen Risiko untuk posisi
banking book menjadi bagian yang tidak terpi­
sahkan dalam kebijakan manajemen aset dan
kewajiban Bank secara keseluruhan (Assets
and Liabilities Management) sesuai dengan
pilihan bisnis yang diambil Bank.
2) Sumber Daya Manusia
a) Kualitas pegawai pelaksana aktivitas yang terkait
dengan Risiko Pasar harus memadai yang paling
kurang memahami :
(1) filosofi pengambilan Risiko;
(2) faktor­faktor yang mempengaruhi Risiko Pa­
sar.
b) Kualitas pegawai pelaksana unit Manajemen Risiko
harus seimbang dengan kualitas pegawai pelak­
sana aktivitas yang terkait dengan Risiko Pasar.
Dalam hal Bank akan menjual produk terstruktur
atau memiliki karakteristik yang lebih kompleks, di­
butuhkan pegawai pelaksana yang lebih spesialis
dan berpengalaman serta pegawai pemantau Risi­
ko yang memahami model pengukuran Risiko yang
lebih kompleks sesuai produk dimaksud.
3) Organisasi Manajemen Risiko Pasar
a) Penetapan struktur organisasi, perangkat dan ke­
lengkapan unit/fungsi yang terkait dengan pene­
rapan Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar harus
disesuaikan dengan karakteristik dan kompleksi­
tas kegiatan usaha Bank.
www.facebook.com/indonesiapustaka

b) Dalam rangka melengkapi Komite Manajemen Ri­


siko khususnya terkait pengelolaan Risiko Pasar,
Bank dapat memiliki Komite Manajemen Aset dan
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
238

Kewajiban atau Assets and Liabilities Management


Committee (ALCO) yang juga melakukan penge­
lolaan likuiditas Bank.
b. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit
Dalam melaksanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan
limit untuk Risiko Pasar, maka selain melaksanakan kebi­
jakan, prosedur, dan penetapan limit sebagaimana dimak­
sud dalam butir I.B, Bank perlu menambahkan penerapan
beberapa hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan
penetapan limit, sebagai berikut:
1) Strategi Manajemen Risiko Dalam menetapkan strategi
Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar juga harus mem­
pertimbangkan hal­hal sebagai berikut: strategi trading
Bank, posisi pasar Bank, komposisi instrumen/produk
Bank, dan kategori nasabah Bank.
2) Tingkat Risiko yang akan diambil (Risk Appetite) dan
Toleransi Risiko (Risk Tolerance) Penetapan tingkat Ri­
siko yang akan diambil dan toleransi Risiko untuk Ri­
siko Pasar mengacu pada cakupan penerapan secara
umum sebagaimana dimaksud dalam butir I.B. 2.
3) Kebijakan dan Prosedur
a) Kebijakan tersebut harus memuat dengan jelas:
(1) kriteria instrumen keuangan yang dapat dite­
tapkan sebagai trading book dan banking book
serta mekanisme untuk memastikan bahwa
kriteria tersebut diterapkan secara konsisten;
(2) tujuan memiliki posisi trading book dan bank-
ing book;
(3) kebijakan pengelolaan portofolio trading book
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan banking book;


(4) penetapan metodologi valuasi terhadap ins­
trumen keuangan dalam trading book, dengan
menggunakan nilai wajar secara harian berda­
MANAJEMEN RISIKO 1
239 Lampiran

sarkan harga pasar atau model/teknik peni­


laian;
(5) metode pengukuran Risiko Pasar yang diguna­
kan Bank baik untuk keperluan pemantauan
Risiko secara periodik maupun perhitungan
kecukupan modal seperti: sensitivity analysis,
earnings at risk, value at risk dan economic va-
lue of equity;
(6) penetapan pihak yang independen untuk me­
lakukan pengujian dan validasi model peng­
ukuran Risiko dan pricing model secara ber­
kala;
(7) mekanisme penetapan dan pendokumenta­
sian setiap strategi perdagangan atas posisi
atau portofolio trading book;
(8) Khusus untuk pengelolaan Risiko suku bunga
dalam banking book, kebijakan juga harus
mencakup kebijakan perlakuan untuk non ma-
turity instrument, yaitu instrumen keuangan
yang tidak memiliki jangka waktu jatuh tempo
maupun penyesuaian suku bunga secara kon­
traktual.
b) Kebijakan dan proses penetapan selisih antara
suku bunga referensi atau suku bunga pasar untuk
menetapkan pricing transaksi dilakukan dengan
mempertimbangkan kondisi keuangan secara ke­
seluruhan dan prinsip kehati­hatian.
c) Prosedur yang diterapkan oleh Bank harus mampu
untuk melakukan konsolidasi terhadap open posi-
www.facebook.com/indonesiapustaka

tion pada setiap posisi yang dimiliki dan harus me­


mungkinkan untuk melakukan perhitungan secara
akurat mengenai open position setiap saat maupun
harian.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
240

4) Limit
a) Bank harus memastikan konsistensi antara ber­
bagai jenis limit yang berbeda.
b) Penetapan limit dapat ditetapkan secara berjenjang
atas setiap level organisasi Bank, misalnya limit se­
cara keseluruhan, limit portofolio, dan limit dealer.
c) Bank dapat menetapkan limit sebagai trigger inter­
nal untuk antisipasi pencapaian maksimum limit,
seperti menetapkan limit internal Posisi Devisa
Neto (PDN) dalam rangka mencegah terjadinya pe­
lampauan batasan yang ditetapkan oleh ketentuan
yang berlaku terutama dalam hal seluruh limit in­
ternal yang ditetapkan telah digunakan.
c. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pe­
ngendalian Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen Ri­
siko Pasar
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pe­
ngendalian Risiko, serta sistem informasi Manajemen Ri­
siko untuk Risiko Pasar, maka selain melaksanakan pro­
ses sebagaimana dimaksud dalam butir I.C, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap pro­
ses dimaksud, sebagai berikut:
1) Identifikasi Risiko Pasar
Bank harus memiliki proses identifikasi Risiko yang
disesuaikan dengan Risiko Pasar yang melekat pada
aktivitas bisnis Bank yang meliputi Risiko suku bunga,
nilai tukar, ekuitas, dan komoditas. Khusus untuk Risi­
ko suku bunga pada banking book (Interest Rate Risk
www.facebook.com/indonesiapustaka

in Banking Book/IRRBB), proses identifikasi menca­


kup identifikasi terhadap sumber Risiko IRRBB seperti
repricing risk, yield curve risk, basis risk maupun op-
tionality risk yang dapat mempengaruhi pendapatan
MANAJEMEN RISIKO 1
241 Lampiran

bunga Bank dan nilai ekonomis dari posisi keuangan


Bank, serta modal Bank.
2) Pengukuran Risiko Pasar
a) Bank wajib memiliki sistem atau model pengukuran
Risiko Pasar untuk mengukur posisi dan sensitivi­
tas yang terkait Risiko Pasar baik pada kondisi nor­
mal maupun stress.
b) Sistem pengukuran Risiko Pasar antara lain harus:
(1) menyediakan informasi mengenai posisi out-
standing dan potensi keuntungan atau keru­
gian secara harian, termasuk informasi me­
ngenai posisi setiap nasabah;
(2) mencakup seluruh eksposur Risiko Pasar baik
saat ini maupun potensi di masa depan, dan
mampu melakukan marked to market;
(3) dapat mengakomodasi peningkatan volume
eksposur, perubahan teknik penilaian nilai wa­
jar, perubahan metodologi, dan produk baru;
(4) memperhitungkan eksposur Risiko Pasar yang
dikaitkan dengan opsi, baik opsi yang eksplisit
maupun opsi yang melekat;
(5) memiliki asumsi dan parameter yang terdoku­
mentasi dan dievaluasi secara berkala;
(6) didukung oleh sistem pengumpulan data yang
memadai;
(7) dilengkapi dengan analisis skenario dan stress
testing;
(8) terintegrasi dengan proses Manajemen Risiko
secara rutin baik dari aspek pengambilan ke­
www.facebook.com/indonesiapustaka

putusan, struktur governance maupun proses


alokasi modal internal.
c) Alat pengukuran harus dapat mengukur eksposur
Risiko inheren yang dapat dikuantifikasikan antara
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
242

lain volume dan komposisi portofolio yang meliputi


eksposur Risiko Pasar pada trading book, Fair Value
Option (FVO), dan banking book khususnya keren­
tanan Bank pada Risiko suku bunga pada banking
book.
d) Terkait dengan pengukuran Risiko suku bunga pada
posisi banking book, Bank sekurangnya:
(1) Memiliki sistem pengukuran Risiko suku bu­
nga pada banking book yang paling kurang
menggunakan model pengukuran gap report.
Gap report menyajikan pos­pos aset, kewajib­
an, dan rekening administratif yang bersifat
interest rate sensitive untuk dipetakan ke da­
lam skala waktu tertentu. Pemetaan dilakukan
berdasarkan sisa waktu jatuh tempo untuk ins­
trumen dengan suku bunga tetap dan berda­
sarkan sisa waktu hingga penyesuaian suku
bunga berikutnya untuk instrumen dengan
tingkat suku bunga mengambang.
(2) memahami kelemahan dari metode yang di­
gunakan, memperhitungkan dan memitigasi
dampak dari kelemahan metode tersebut.
e) Data yang digunakan harus sesuai dengan tujuan
pengukuran (misalnya untuk aktivitas trading ha­
rus digunakan data marked to market), merefleksi­
kan kondisi Bank, akurat, lengkap (mencakup data
pada neraca dan transaksi rekening administratif),
terkini, dan diperoleh secara independen dari unit
pelaksana/operasional serta digunakan secara
www.facebook.com/indonesiapustaka

konsisten.
f) Bank harus mendokumentasikan data dengan baik
dan terinformasi mengenai permasalahan terkait
dengan data, antara lain data tidak lengkap, infor­
MANAJEMEN RISIKO 1
243 Lampiran

masi yang tidak memadai mengenai posisi pada


transaksi rekening administratif dan opsi yang me­
lekat.
g) Untuk instrumen yang sulit diperoleh nilai pasar
atau proksinya, Bank harus menggunakan model
penilaian yang telah divalidasi oleh unit indepen­
den secara berkala dan bila terdapat permasalahan
pada model maka penyesuaian model penilaian
wajib dilaporkan dan disetujui oleh manajemen.
h) Proses review atau validasi atas model pengukuran
Risiko Pasar dilakukan secara berkala oleh pihak
independen antara lain melalui back testing, ter­
masuk melakukan penyempurnaan apabila diper­
lukan.
i) Dalam pengukuran Risiko di tingkat portofolio, Bank
harus memperhitungkan korelasi antar pasar dan
antar kategori Risiko pada saat mengevaluasi po­
sisi Risiko Pasar secara komprehensif, misalnya
dengan memasukkan korelasi tersebut sebagai sa­
lah satu skenario stress testing.
j) Dalam analisis skenario dan stress testing, dapat
digunakan skenario dengan menggunakan analisis
data historis, menggunakan asumsi hipotetis atau
menggunakan skenario yang ditetapkan Bank In­
donesia.
3) Pemantauan Risiko Pasar
a) Bank harus melakukan pemantauan terhadap ke­
patuhan limit secara harian, dan tindak lanjut un­
tuk mengatasi apabila terjadi pelampauan, yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

selanjutnya dilaporkan secara harian kepada pihak


yang berkepentingan sebagaimana diatur dalam
kebijakan internal Bank.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
244

b) Untuk pemantauan Risiko suku bunga pada bank-


ing book, laporan pemantauan Risiko IRRBB yang
digunakan paling kurang mencakup asumsi pen­
ting yang digunakan seperti perilaku non maturity
deposit dan informasi prepayment maupun data­
data ekonomi.
4) Pengendalian Risiko Pasar
a) Manajemen harus mengambil langkah­langkah da­
lam rangka pengendalian Risiko termasuk pence­
gahan terjadinya kerugian Risiko Pasar yang lebih
besar.
b) Tanggung jawab dalam rangka pengendalian Risiko
Pasar dalam unit pelaksana antara lain meliputi:
(1) rekonsiliasi posisi yang dikelola dan dicatat
dalam sistem informasi manajemen;
(2) pengendalian terhadap akurasi laba dan rugi
dan kepatuhan pada ketentuan termasuk
standar akuntansi yang berlaku.
c) Bank yang memiliki surat berharga dan obligasi wa­
jib melakukan review secara berkala terhadap kon­
disi, kredibilitas dan kemampuan membayar kem­
bali penerbit surat berharga dan obligasi. Review
tersebut harus didokumentasikan dan dilakukan
paling kurang setiap 6 (enam) bulan.
d) Dalam hal Bank memiliki surat berharga dan obli­
gasi yang terdaftar atau diperdagangkan di pasar
modal dan berdasarkan hasil review terdapat ke­
mungkinan peningkatan kegagalan penerbit, maka
Bank harus melakukan pengendalian antara lain
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan memantau secara ketat credit spread surat


berharga dan obligasi tersebut serta mengambil tin­
dakan yang diperlukan untuk mengurangi kerugian
misalnya dengan membentuk cadangan.
MANAJEMEN RISIKO 1
245 Lampiran

e) Untuk transaksi yang dilakukan dalam rangka lin­


dung nilai, Bank harus menetapkan tanggung ja­
wab yang jelas dalam rangka melakukan pengen­
dalian Risiko yang bertujuan:
(1) memastikan bahwa pencatatan yang dilaku­
kan tidak menyimpang dari standar akuntansi
dan/atau menimbulkan penyimpangan pada
pengakuan pendapatan;
(2) memastikan bahwa transaksi tersebut telah
dilaksanakan sesuai dengan instruksi atau
rekomendasi manajemen/ALCO dan transaksi
tersebut dapat memitigasi eksposur Risiko Pa­
sar;
(3) menilai kembali secara berkala bahwa lin­
dung nilai telah efektif khususnya dalam per­
hitungan rasio lindung nilai dan perbandingan
rasio tersebut dari waktu ke waktu;
(4) memastikan bahwa kontrak transaksi tersebut
tetap dikelola hingga jatuh waktu dan tidak
akan dialihkan ke posisi trading;
(5) menilai kembali kredibilitas pihak lawan trans­
aksi dan mencegah penempatan yang terkon­
sentrasi.
5) Sistem Informasi Manajemen Risiko Pasar
a) Sistem informasi Manajemen Risiko Pasar paling
kurang harus dapat mengkuantifikasikan ekspo­
sur Risiko dan memantau perubahan faktor pasar
(suku bunga, nilai tukar, harga ekuitas dan harga
komoditas) secara harian dan real time basis, da­
www.facebook.com/indonesiapustaka

pat digunakan untuk memperkirakan potensi ke­


rugian di masa depan. Untuk Risiko suku bunga
pada banking book, proses kuantifikasi eksposur
Risiko paling kurang dilakukan secara bulanan.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
246

b) Sistem informasi Manajemen Risiko harus dapat


memfasilitasi stress testing terutama untuk meng­
indentifikasi Risiko secara cepat sehingga dapat
segera melakukan tindakan perbaikan termasuk
sebagai respon perubahan faktor pasar yang da­
pat berdampak negatif pada rentabilitas dan modal
Bank.
d. Sistem Pengendalian Intern
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pelaksanaan sistem pengendalian intern untuk Risiko Pa­
sar, maka selain melaksanakan pengendalian intern se­
bagaimana dimaksud dalam butir I.D, Bank perlu menam­
bahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek sistem
pengendalian intern, sebagai berikut:
1) Bank harus memiliki sistem pengendalian intern yang
memadai untuk memastikan transaksi dan proses
terkait dengan market risk taking dilakukan dengan
mengacu pada kebijakan, prosedur, dan limit yang te­
lah ditetapkan.
2) Penerapan prinsip pemisahan fungsi harus memadai
dan dilaksanakan secara konsisten.
3) Bank harus memiliki fungsi/unit yang melakukan va­
luasi posisi trading dan fungsi/unit yang melakukan
validasi terhadap model pengukuran Risiko Pasar.
4) Fungsi atau unit yang melakukan valuasi harus inde­
penden terhadap fungsi atau unit pengambil Risiko
dan fungsi/unit yang melakukan validasi model inde­
penden dari yang melakukan pengembangan model
pengukuran Risiko Pasar.
www.facebook.com/indonesiapustaka
MANAJEMEN RISIKO 1
247 Lampiran

C. RISIKO LIKUIDITAS
1. Definisi
a. Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat ketidakmampuan
Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari
sumber pendanaan arus kas dan/ atau dari aset likuid ber­
kualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu
aktivitas dan kondisi keuangan Bank.
b. Ketidakmampuan memperoleh sumber pendanaan arus
kas sehingga menimbulkan Risiko Likuiditas dapat dise­
babkan antara lain oleh:
1) ketidakmampuan menghasilkan arus kas yang berasal
dari aset produktif maupun yang berasal dari penjual­
an aset termasuk aset likuid; dan/atau
2) ketidakmampuan menghasilkan arus kas yang berasal
dari penghimpunan dana, transaksi antar Bank, dan
pinjaman yang diterima.
2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas ada­
lah untuk meminimalkan kemungkinan ketidakmampuan
Bank dalam memperoleh sumber pendanaan arus kas.
3. Penerapan Manajemen Risiko
Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas bagi
Bank secara individual maupun bagi Bank secara konsolidasi
dengan Perusahaan Anak paling kurang mencakup:
a. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk Ri­
siko Likuiditas, maka selain melaksanakan pengawasan
aktif sebagaimana dimaksud dalam butir I.A, perlu me­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek


pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, sebagai
berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
248

1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris


dan Direksi
a) Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab
untuk memastikan bahwa penerapan Manajemen
Risiko untuk Risiko Likuiditas telah sesuai dengan
tujuan strategis, skala, karakteristik bisnis, dan pro­
fil Risiko Likuiditas Bank, termasuk memastikan in­
tegrasi penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko
Likuiditas dengan Risiko­Risiko lainnya yang dapat
berdampak pada posisi likuiditas Bank.
b) Wewenang dan tanggung jawab Dewan Komisaris
dalam penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko
Likuiditas antara lain adalah melakukan persetu­
juan dan evaluasi berkala mengenai kebijakan dan
strategi Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas
termasuk rencana pendanaan darurat. Evaluasi
berkala dilakukan paling kurang 1 (satu) kali da­
lam 1 (satu) tahun atau dalam frekuensi yang lebih
tinggi dalam hal terdapat perubahan faktor­faktor
yang mempengaruhi kegiatan usaha Bank secara
signifikan.
c) Wewenang dan tanggung jawab Direksi, paling ku­
rang meliputi:
(1) memantau posisi dan Risiko Likuiditas secara
berkala baik pada situasi normal maupun pada
situasi pasar yang tidak menguntungkan;
(2) melakukan evaluasi terhadap posisi dan Risi­
ko Likuiditas Bank paling kurang 1 (satu) bu­
lan sekali;
www.facebook.com/indonesiapustaka

(3) melakukan evaluasi segera terhadap posisi li­


kuiditas dan profil Risiko Bank apabila terjadi
perubahan yang signifikan antara lain pening­
MANAJEMEN RISIKO 1
249 Lampiran

katan biaya penghimpunan dana dan/atau pe­


ningkatan liquidity gap;
(4) melakukan penyesuaian kebijakan dan stra­
tegi Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas
yang diperlukan berdasarkan hasil evaluasi
terhadap posisi dan Risiko Likuiditas;
(5) menyampaikan laporan kepada Dewan Komi­
saris mengenai posisi dan profil Risiko Liku­
iditas serta penerapan kebijakan dan prose­
dur Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas
yang antara lain mencakup evaluasi atas ke­
bijakan, strategi, dan prosedur, kondisi likui­
ditas secara berkala maupun pada saat terjadi
perubahan yang signifikan.
2) Sumber Daya Manusia Direksi harus memastikan bah­
wa setiap fungsi/unit yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan Risiko Likuiditas memiliki sumber daya
manusia dengan kompetensi yang memadai, antara
lain pada ALCO, tresuri, dan dealing room.
3) Organisasi Manajemen Risiko Likuiditas Bank wajib
memiliki komite pengelolaan likuiditas yang bertang­
gung jawab untuk melakukan pengelolaan likuiditas
Bank, antara lain seperti ALCO.
b. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit Dalam melaksa­
nakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk Ri­
siko Likuiditas, maka selain melaksanakan kebijakan, pro­
sedur, dan penetapan limit sebagaimana dimaksud dalam
butir I.B, Bank perlu menambahkan penerapan beberapa
hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan penetapan
www.facebook.com/indonesiapustaka

limit, sebagai berikut:


MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
250

1) Strategi Manajemen Risiko


Penyusunan strategi untuk Risiko Likuiditas mengacu
pada cakupan sebagaimana dimaksud dalam butir
I.B.1.
2) Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan
Toleransi Risiko (Risk Tolerance)
a) Tingkat Risiko yang akan diambil Bank tercermin
dari komposisi aset dan kewajiban serta strategi
gapping yang dilakukan oleh Bank.
b) Toleransi Risiko untuk Risiko Likuiditas harus
menggambarkan tingkat Risiko Likuiditas yang
akan diambil Bank, yang antara lain ditentukan
oleh komposisi alat likuid dan sumber pendanaan
yang dimiliki Bank untuk menunjang strategi Bank
saat ini maupun ke depan.
3) Kebijakan dan Prosedur
a) Kebijakan mengenai Manajemen Risiko untuk Ri­
siko Likuiditas termasuk penetapan strategi dan
limit Manajemen Risiko harus sejalan dan sesuai
dengan visi, misi, strategi bisnis, dan tingkat Risiko
yang akan diambil. Selain itu, kebijakan tersebut
harus didukung oleh kecukupan permodalan dan
kemampuan sumber daya manusia, serta harus
memperhatikan kapasitas pendanaan Bank secara
keseluruhan dengan mempertimbangkan peruba­
han eksternal dan internal.
b) Kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko untuk
Risiko Likuiditas selain memuat hal­hal sebagai­
mana dimaksud dalam butir I.B.3.d juga antara lain
www.facebook.com/indonesiapustaka

memuat hal­hal sebagai berikut:


(1) organisasi Manajemen Risiko untuk Risiko Li­
kuiditas termasuk tugas, wewenang, dan tang­
gung jawab masing­masing unit atau fungsi
MANAJEMEN RISIKO 1
251 Lampiran

yang terlibat, antara lain Dewan Komisaris,


Direksi, Audit Intern, Satuan Kerja Manajemen
Risiko, ALCO, treasury/dealing room, dan se­
bagainya.
(2) kebijakan mengenai ALCO, termasuk keanggo­
taan, kualifikasi anggota, tugas dan tanggung
jawab, dan frekuensi pertemuan.
(3) kebijakan dan prosedur pengelolaan likuiditas,
yang paling kurang meliputi:
(a) komposisi aset dan kewajiban;
(b) tingkat aset likuid yang harus dipelihara
Bank;
(c) penetapan jenis dan alokasi aset yang
diklasifikasikan sebagai aset likuid berku­
alitas tinggi;
(d) diversifikasi dan stabilitas sumber penda­
naan;
(e) manajemen likuiditas pada berbagai sum­
ber pendanaan (menurut pasar, pihak la­
wan transaksi, lokasi, jenis valuta, dan se­
bagainya);
(f) manajemen likuiditas harian termasuk
intrahari dan manajemen likuiditas intra
grup (likuiditas kelompok usaha);
(g) limit Risiko Likuiditas.
(4) penetapan indikator yang merupakan indikator
peringatan dini untuk Risiko Likuiditas sebagai
alat identifikasi permasalahan dan penentuan
mitigasi Risiko Likuiditas. Indikator peringatan
www.facebook.com/indonesiapustaka

dini dimaksud meliputi indikator internal dan


indikator eksternal. Indikator internal antara
lain meliputi kualitas aset yang memburuk,
peningkatan konsentrasi pada beberapa aset
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
252

dan sumber pendanaan tertentu, peningkatan


currency mismatches, pengulangan terjadi­
nya pelampauan limit, peningkatan biaya dana
secara keseluruhan, dan/atau posisi arus kas
yang semakin buruk sebagai akibat maturity
mismatch yang besar terutama pada skala
waktu jangka pendek. Indikator eksternal an­
tara lain meliputi informasi publik yang negatif
terhadap Bank, penurunan hasil peringkat oleh
lembaga pemeringkat, penurunan harga sa­
ham Bank secara terus menerus, penurunan
fasilitas credit line yang diberikan oleh Bank
koresponden, peningkatan penarikan depo­
sito sebelum jatuh tempo, dan/atau keterba­
tasan akses untuk memperoleh pendanaan
jangka panjang.
(5) metode pengukuran Risiko Likuiditas dan
stress testing Risiko Likuiditas harus disesuai­
kan dengan strategi pengelolaan dana Bank
sehingga dapat menggambarkan dengan baik
profil Risiko Likuiditas Bank.
(6) sistem informasi Manajemen Risiko dan sis­
tem lain yang secara memadai diperlukan
untuk identifikasi, pengukuran, pemantauan,
dan pengendalian Risiko Likuiditas termasuk
pelaporan likuiditas.
(7) rencana pendanaan darurat, antara lain yang
menjelaskan mengenai pendekatan dan stra­
tegi dalam menghadapi kondisi krisis yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

berdampak pada posisi likuiditas Bank. Kebi­


jakan mengenai rencana pendanaan darurat
setidaknya mencakup rencana tindak mana­
jemen Bank pada situasi krisis likuiditas dan
MANAJEMEN RISIKO 1
253 Lampiran

metode yang digunakan untuk memperoleh


pendanaan pada situasi krisis tersebut. Direksi
dan/atau ALCO wajib mereview dan mengkini­
kan rencana pendanaan darurat secara ber­
kala untuk memastikan efektivitas rencana
pendanaan darurat tersebut.
4) Limit
a) Limit Risiko Likuiditas harus konsisten dan relevan
dengan bisnis Bank, kompleksitas kegiatan usaha,
toleransi Risiko, karakteristik produk, valuta, pasar
di mana Bank tersebut aktif melakukan transaksi,
data historis, tingkat profitabilitas, dan modal yang
tersedia.
b) Kebijakan mengenai limit harus diterapkan secara
konsisten untuk mengelola Risiko Likuiditas, an­
tara lain untuk membatasi gap pendanaan pada
berbagai jangka waktu dan/atau membatasi kon­
sentrasi sumber pendanaan, instrumen, atau seg­
men pasar tertentu.
c) Limit Risiko Likuiditas dapat meliputi antara lain li­
mit mismatch arus kas baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang termasuk arus kas yang
berasal dari posisi rekening administratif, limit kon­
sentrasi pada aset dan kewajiban, pinjaman over-
night, dan rasio­rasio likuiditas lainnya. Penetapan
limit tidak hanya digunakan untuk mengelola likui­
ditas harian pada kondisi normal namun juga harus
meliputi limit agar Bank dapat beroperasi pada kon­
disi krisis.
www.facebook.com/indonesiapustaka

c. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pe­


ngendalian Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen Ri­
siko Likuiditas Dalam melakukan penerapan Manajemen
Risiko melalui proses identifikasi, pengukuran, pemantau­
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
254

an, dan pengendalian Risiko, serta sistem informasi Mana­


jemen Risiko untuk Risiko Likuiditas, maka selain melak­
sanakan proses sebagaimana dimaksud dalam butir I.C,
Bank perlu menambahkan penerapan beberapa hal dalam
tiap proses dimaksud, sebagai berikut:
1) Identifikasi Risiko Likuiditas
a) Dalam rangka melakukan identifikasi Risiko Liku­
iditas, Bank harus melakukan analisis terhadap
seluruh sumber Risiko Likuiditas. Sumber Risiko
Likuiditas meliputi:
(1) Produk dan aktivitas perbankan yang dapat
mempengaruhi sumber dan penggunaan
dana, baik pada posisi aset dan kewajiban
maupun rekening administratif; dan
(2) Risiko­Risiko lain yang dapat meningkatkan Ri­
siko Likuiditas, misalnya Risiko Kredit, Risiko
Pasar, dan Risiko Operasional.
b) Analisis dilakukan untuk mengetahui jumlah dan
tren kebutuhan likuiditas serta sumber pendanaan
yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan terse­
but.
c) Bank harus melakukan analisis terhadap eksposur
Risiko lainnya yang dapat meningkatkan Risiko Li­
kuiditas, antara lain Risiko suku bunga, Risiko Kre­
dit, Risiko Operasional, dan Risiko Hukum. Pada
umumnya, Risiko Likuiditas seringkali ditimbulkan
oleh kelemahan atau permasalahan yang ditimbul­
kan oleh Risiko lain, sehingga identifikasi Risiko ha­
rus mencakup pula kaitan antara Risiko Likuiditas
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan Risiko lainnya.


2) Pengukuran Risiko Likuiditas
MANAJEMEN RISIKO 1
255 Lampiran

a) Bank wajib memiliki alat pengukuran yang dapat


mengkuantifikasi Risiko Likuiditas secara tepat
waktu dan komprehensif.
b) Alat pengukuran sebagaimana dimaksud pada hu­
ruf a) harus dapat digunakan untuk mengukur Ri­
siko Likuiditas yang ditimbulkan oleh aset, kewajib­
an, dan rekening administratif.
c) Alat pengukuran harus dapat mengukur eksposur
Risiko inheren, antara lain komposisi aset, kewa­
jiban, dan transaksi rekening administratif; konsen­
trasi aset dan kewajiban; dan kerentanan pada ke­
butuhan pendanaan.
d) Alat pengukuran tersebut paling kurang meliputi:
(1) Rasio likuiditas, yaitu rasio keuangan yang
menggambarkan indikator likuiditas dan/atau
mengukur kemampuan Bank untuk memenuhi
kewajiban jangka pendek;
(2) Profil maturitas, yaitu pemetaan posisi aset,
kewajiban, dan rekening administratif ke da­
lam skala waktu tertentu berdasarkan sisa
jangka waktu sampai dengan jatuh tempo;
(3) Proyeksi arus kas, yaitu proyeksi seluruh arus
kas masuk dan arus kas keluar, termasuk ke­
butuhan pendanaan untuk memenuhi komit­
men dan kontinjensi pada transaksi rekening
administratif; dan
(4) Stress testing, yaitu pengujian terhadap ke­
mampuan Bank untuk memenuhi kebutuhan
likuiditas pada kondisi krisis dengan meng­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gunakan skenario stress secara spesifik pada


Bank maupun stress pada pasar.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
256

e) Kompleksitas pendekatan pengukuran Risiko Li­


kuiditas yang digunakan Bank harus disesuaikan
dengan komposisi aset, kewajiban, dan rekening
administratif Bank. Dalam hal Bank memiliki aktivi­
tas bisnis yang lebih kompleks, Bank harus meng­
gunakan pendekatan pengukuran yang lebih maju
antara lain pengukuran yang bersifat simulasi dan
lebih dinamis serta didukung oleh berbagai asumsi
yang relevan.
f) Rasio likuiditas yang digunakan dalam pengukuran
Risiko Likuiditas harus disesuaikan dengan strategi
bisnis, toleransi Risiko, dan kinerja masa lalu. Hasil
pengukuran dengan menggunakan rasio perlu dia­
nalisis dengan memperhatikan informasi kualitatif
yang relevan.
g) Profil maturitas menyajikan pos­pos aset, kewajib­
an, dan rekening administratif yang dipetakan ke
dalam skala waktu berdasarkan sisa waktu sampai
dengan jatuh tempo sesuai kontrak dan/atau ber­
dasarkan asumsi, khususnya untuk pos neraca
dan rekening administratif yang tidak memiliki ja­
tuh tempo kontraktual. Faktor­faktor yang dipertim­
bangkan dalam menentukan asumsi untuk meng­
estimasi pos neraca dan rekening administratif
yang tidak memiliki jatuh tempo kontraktual, antara
lain karakteristik produk, perilaku pihak lawan dan/
atau nasabah, dan kondisi pasar serta pengalaman
historis. Penyusunan profil maturitas bertujuan un­
tuk mengidentifikasi terjadinya gap likuiditas da­
www.facebook.com/indonesiapustaka

lam skala waktu tertentu. Profil maturitas harus di­


susun paling kurang setiap bulan baik dalam rupiah
maupun valuta asing. Apabila Bank memiliki posisi
likuiditas dalam berbagai valuta asing dengan jum­
MANAJEMEN RISIKO 1
257 Lampiran

lah yang signifikan, Bank dapat menyusun profil


maturitas dalam masing­masing valuta asing di­
maksud untuk keperluan internal.
h) Proyeksi arus kas menyajikan arus kas yang ber­
asal dari aset, kewajiban, dan rekening adminisitra­
tif serta kegiatan usaha lainnya yang dipetakan ke
dalam skala waktu tertentu. Penyusunan proyeksi
arus kas tidak hanya mendasarkan pada maturitas
kontraktual, tetapi juga pada asumsi perilaku nasa­
bah yang relevan dengan kondisi likuiditas Bank.
Asumsi yang digunakan Bank harus dapat diterima
kewajarannya, didokumentasikan dengan baik, dan
direview secara berkala untuk menilai kesesuaian­
nya dengan kondisi likuiditas Bank. Proyeksi arus
kas harus disusun paling kurang setiap bulan de­
ngan jangka waktu proyeksi disesuaikan dengan
kebutuhan Bank dengan memperhatikan struktur
aset, kewajiban, dan rekening administratif.
i) Pengukuran dengan menggunakan stress test se­
bagaimana dimaksud dalam butir d). (4) dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Stress test harus dapat menggambarkan ke­
mampuan Bank untuk memenuhi kebutuhan
likuiditas dalam kondisi krisis, yang didasar­
kan pada berbagai skenario.
(2) Cakupan dan frekuensi stress test harus dise­
suaikan dengan skala, kompleksitas kegiatan
usaha, dan eksposur Risiko Likuiditas Bank
dengan ketentuan sebagai berikut:
www.facebook.com/indonesiapustaka

(a) Stress test harus dilakukan dengan meng­


gunakan skenario stress secara spesifik
pada Bank maupun skenario stress pada
pasar.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
258

(b) Stress test dengan skenario spesifik pa­


ling kurang dilakukan 1 (satu) kali dalam
3 (tiga) bulan, sedangkan stress test de­
ngan skenario pasar paling kurang dila­
kukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
Jangka waktu pelaksanaan stress test
dapat dilakukan dalam rentang waktu
yang lebih pendek jika Bank menganggap
bahwa kondisi krisis yang terjadi dapat
menyebabkan Bank terekspos pada Ri­
siko Likuiditas yang tidak dapat ditolerir
dan/atau atas permintaan Bank Indo­
nesia.
(c) Skenario stress secara spesifik pada
Bank, yang dapat digunakan antara lain:
penurunan peringkat Bank oleh lembaga
pemeringkat; penarikan dana besar­be­
saran; gangguan/kegagalan sistem yang
mendukung operasional Bank.
(d) Skenario stress pada pasar yang dapat di­
gunakan antara lain: perubahan indikator
ekonomi dan perubahan kondisi pasar,
baik lokal maupun global.
(e) Dalam melakukan stress test, Bank meng­
gunakan skenario yang bersifat historis
dan/atau hipotesis serta skenario lainnya
dengan mempertimbangkan aktivitas bis­
nis dan kerentanan Bank.
(f) Stress test harus memperhitungkan impli­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kasi skenario pada berbagai jangka waktu


yang berbeda, termasuk secara harian.
MANAJEMEN RISIKO 1
259 Lampiran

j) Bank harus mengembangkan asumsi­asumsi


stress test untuk skenario spesifik pada Bank mau­
pun skenario pasar, antara lain:
(1) asumsi mengenai perilaku pihak lawan trans­
aksi dan/atau nasabah dalam kondisi krisis
yang dapat mempengaruhi arus kas; dan
(2) asumsi mengenai perilaku pelaku pasar lain­
nya sebagai respon terhadap kondisi krisis di
pasar.
k) Asumsi­asumsi yang digunakan dalam pengukur­
an Risiko Likuiditas Bank harus dapat diterima ke­
wajarannya dan disesuaikan dengan karakteristik
likuiditas aset, likuiditas kewajiban, dan likuiditas
transaksi rekening administratif Bank, serta dikini­
kan sesuai dengan kondisi dan volatilitas pasar.
l) Dalam melakukan stress test untuk Risiko Likuidi­
tas, Bank harus mempertimbangkan hasil penilaian
yang dilakukan terhadap jenis Risiko lainnya (an­
tara lain Risiko Pasar, Risiko Kredit, Risiko Repu­
tasi) dan menganalisis kemungkinan interaksi de­
ngan berbagai jenis Risiko tersebut.
m) Bank harus melakukan tindak lanjut atas hasil
stress test, antara lain: (i) menyesuaikan kebijakan
dan strategi Manajemen Risiko untuk Risiko Li­
kuiditas, (ii) menyesuaikan komposisi likuiditas
aset, kewajiban dan/atau rekening administratif,
(iii) mengembangkan atau menyempurnakan ren­
cana pendanaan darurat, dan/atau (iv) meninjau
penetapan limit. Hasil stress test dan tindak lanjut
www.facebook.com/indonesiapustaka

atas stress test tersebut harus dilaporkan kepada


dan dievaluasi oleh Direksi.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
260

3) Pemantauan Risiko Likuiditas


a) Pemantauan Risiko Likuiditas yang dilakukan Bank
harus memperhatikan indikator peringatan dini un­
tuk mengetahui potensi peningkatan Risiko Likuidi­
tas Bank.
b) Indikator peringatan dini terdiri atas indikator inter­
nal dan indikator eksternal.
(1) Indikator Internal, antara lain meliputi: pen­
danaan Bank dan strategi pertumbuhan aset,
peningkatan konsentrasi baik pada sisi aset
maupun kewajiban Bank, peningkatan mis-
match valuta asing, posisi yang mendekati
atau melanggar limit internal maupun limit
regulator secara berulang­ulang, dan pening­
katan biaya dana Bank.
(2) Indikator Eksternal, dapat berasal dari pihak
ketiga, analis, maupun peserta pasar. Umum­
nya indikator­indikator tersebut berkaitan de­
ngan kapasitas kredit Bank yang bersangkut­
an. Contoh indikator yang berasal dari pihak
ketiga antara lain meliputi: rumor di pasar me­
ngenai permasalahan pada Bank, penurunan
peringkat kredit (credit rating) oleh lembaga
pemeringkat, penurunan harga saham Bank,
penurunan volume transaksi atau penurunan
line of credit.
4) Pengendalian Risiko Likuiditas
a) Pengendalian Risiko Likuiditas dilakukan melalui
strategi pendanaan, pengelolaan posisi likuiditas
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan Risiko Likuiditas harian, pengelolaan posisi li­


kuiditas dan Risiko Likuiditas intragroup, pengelo­
laan aset likuid yang berkualitas tinggi, dan ren­
cana pendanaan darurat.
MANAJEMEN RISIKO 1
261 Lampiran

b) Strategi Pendanaan
(1) Strategi pendanaan mencakup strategi diver­
sifikasi sumber dan jangka waktu pendanaan
yang dikaitkan dengan karakteristik dan ren­
cana bisnis Bank.
(2) Bank harus mengidentifikasi dan memantau
faktor­faktor utama yang mempengaruhi ke­
mampuannya untuk memperoleh dana, ter­
masuk mengidentifikasi dan memantau alter­
natif sumber pendanaan serta akses pasar
yang dapat memperkuat kapasitasnya untuk
bertahan pada kondisi krisis.
c) Pengelolaan Posisi Likuiditas dan Risiko Likuditas
Harian
(1) Pengelolaan secara aktif atas posisi likuiditas
dan Risiko Likuiditas harian bertujuan untuk
memenuhi kewajiban setiap saat sepanjang
hari (intrahari) secara tepat waktu baik pada
kondisi normal maupun kondisi krisis dengan
memprioritaskan kewajiban yang kritikal.
(2) Bank harus menganalisis perubahan posisi li­
kuiditas yang terjadi akibat pembayaran dan/
atau penerimaan dana sepanjang hari. Analisis
perubahan posisi likuiditas dilakukan antara
lain berdasarkan proyeksi arus kas yang harus
disusun setiap hari baik dalam rupiah maupun
valuta asing yang paling kurang mencakup
proyeksi untuk jangka waktu satu minggu
yang akan datang dan disajikan secara hari­
www.facebook.com/indonesiapustaka

an. Penyusunan proyeksi arus kas tersebut


disusun oleh unit yang melakukan kegiatan
tresuri.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
262

d) Pengelolaan Posisi Likuiditas dan Risiko Likuiditas


Intragroup Dalam pengelolaan posisi likuiditas dan
Risiko Likuiditas intragroup, Bank harus memperhi­
tungkan dan menganalisis:
(1) kebutuhan pendanaan perusahaan dalam ke­
lompok usaha Bank yang dapat mempenga­
ruhi kondisi likuiditas Bank; dan
(2) kendala/hambatan untuk mengakses likuidi­
tas intragroup, serta memastikan dampaknya
telah diperhitungkan dalam pengukuran Risiko
Likuiditas.
e) Pengelolaan Aset Likuid Berkualitas Tinggi
(1) Bank harus memiliki aset likuid berkualitas
tinggi dengan jumlah yang cukup dan kom­
posisi yang disesuaikan dengan karakterisitik
bisnis dan profil Risiko Likuiditas dalam rang­
ka memenuhi kebutuhan likuiditas intrahari,
jangka pendek, dan jangka panjang.
(2) Bank harus melakukan evaluasi dan meman­
tau seluruh posisi dan komposisi aset likuid
berkualitas tinggi termasuk aset yang telah
diikat dan/atau yang tersedia sebagai agunan.
(3) ketersediaan pasar aktif, serta waktu yang di­
butuhkan untuk proses pengagunan.
f) Rencana Pendanaan Darurat
(1) Bank harus memiliki rencana pendanaan daru­
rat untuk menangani permasalahan likuiditas
dalam berbagai kondisi krisis yang disesuai­
kan dengan tingkat profil Risiko, hasil stress
www.facebook.com/indonesiapustaka

test, kompleksitas kegiatan usaha, cakupan


bisnis dan struktur organisasi, serta peran
Bank dalam sistem keuangan.
MANAJEMEN RISIKO 1
263 Lampiran

(2) Rencana pendanaan darurat meliputi kebi­


jakan, strategi, prosedur, dan rencana tindak
(action plan) untuk memastikan kemampuan
Bank dalam memperoleh sumber pendana­
an yang diperlukan secara tepat waktu dan
dengan biaya yang wajar yang paling kurang
mencakup:
(a) penetapan indikator dan/atau peristiwa
yang digunakan untuk mengidentifikasi
terjadinya kondisi krisis;
(b) mekanisme pemantauan dan pelaporan
internal Bank mengenai indikator seba­
gaimana dimaksud pada huruf (a) secara
berkala;
(c) strategi dalam menghadapi berbagai kon­
disi krisis dan prosedur pengambilan ke­
putusan untuk melakukan tindakan atas
perubahan perilaku dan pola arus kas
yang menyebabkan defisit arus kas;
(d) strategi untuk memperoleh dukungan
pendanaan dalam kondisi krisis dengan
mempertimbangkan biaya serta dampak­
nya terhadap modal serta berbagai aspek
penting lainnya.
(e) koordinasi manajerial yang paling kurang
mencakup:
i. penetapan pihak yang berwenang dan
bertanggung jawab untuk melakukan
identifikasi, melaksanakan rencana
www.facebook.com/indonesiapustaka

pendanaan darurat, dan pembentukan


tim khusus pada saat terjadinya kon­
disi krisis; dan
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
264

ii. penetapan strategi dan prosedur ko­


munikasi baik kepada pihak internal;
(f) prosedur pelaporan internal dalam rang­
ka pengambilan keputusan oleh manaje­
men; dan
(g) prosedur untuk menetapkan prioritas
hubungan dengan nasabah untuk meng­
atasi permasalahan likuiditas dalam kon­
disi krisis.
(3) Rencana pendanaan darurat harus didoku­
mentasikan, dievaluasi, dikinikan, dan diuji
secara berkala untuk memastikan tingkat ke­
andalan.
5) Sistem Informasi Manajemen Risiko Likuiditas
a) Bank harus memiliki sistem informasi Manajemen
Risiko yang memadai dan andal untuk mendukung
pelaksanaan proses identifikasi, pengukuran, pe­
mantauan, dan pengendalian, serta pelaporan Ri­
siko Likuiditas dalam kondisi normal dan kondisi
krisis secara lengkap, akurat, kini, utuh, dan berke­
sinambungan.
b) Sistem informasi Manajemen Risiko harus dapat
menyediakan informasi paling kurang mengenai:
(1) arus kas dan profil maturitas dari aset, kewa­
jiban, dan rekening administratif;
(2) kepatuhan terhadap kebijakan, strategi, dan
prosedur Manajemen Risiko untuk Risiko Liku­
iditas termasuk limit dan rasio likuiditas;
(3) laporan profil Risiko dan trend likuiditas untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

kepentingan manajemen secara tepat waktu;


(4) informasi yang dapat digunakan untuk keper­
luan stress testing; dan
MANAJEMEN RISIKO 1
265 Lampiran

(5) informasi lain yang terkait dengan Risiko Likui­


ditas seperti: posisi dan valuasi portofolio aset
likuid berkualitas tinggi, konsentrasi sumber
pendanaan, aset dan kewajiban serta tagihan
dan kewajiban pada rekening administratif,
yang bersifat tidak stabil.
d. Sistem Pengendalian Intern
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pelaksanaan sistem pengendalian intern untuk Risiko
Likuiditas, maka selain melaksanakan pengendalian in­
tern sebagaimana dimaksud dalam butir I.D, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
sistem pengendalian intern, sebagai berikut:
1) Bank harus menerapkan pengendalian intern dan kaji
ulang independen yang memadai terhadap penerapan
Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas yang dilak­
sanakan oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) atau
oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR).
2) Pengendalian intern terhadap proses penerapan Mana­
jemen Risiko untuk Risiko Likuiditas yang dilakukan
oleh SKAI antara lain mencakup:
a) kecukupan tata kelola Risiko Likuiditas, termasuk
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi;
b) kecukupan kerangka Manajemen Risiko untuk Risi­
ko Likuiditas;
c) kecukupan limit Risiko Likuiditas;
d) kecukupan proses dan sistem Manajemen Risiko
serta sumber daya manusia pada fungsi atau unit
yang menerapkan Manajemen Risiko untuk Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

Likuiditas.
3) Kaji ulang independen yang dilakukan oleh SKMR an­
tara lain mencakup:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
266

a) Kepatuhan pada kebijakan dan prosedur Manaje­


men Risiko untuk Risiko Likuiditas termasuk dalam
pengelolaan posisi likuiditas dan Risiko Likuiditas,
komposisi aset dan kewajiban, aset likuid berkuali­
tas tinggi, dan kepatuhan pada limit;
b) Kecukupan metode, asumsi, dan indikator pengu­
kuran Risiko Likuiditas termasuk stress testing;
c) Kinerja model pengukuran Risiko Likuiditas, antara
lain berdasarkan perbandingan antara hasil pengu­
kuran Risiko Likuditas dengan nilai aktual.
4) Kelemahan yang teridentifikasi dalam pengendalian in­
tern dan kaji ulang independen harus dilaporkan kepa­
da pihak­pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti.

D. RISIKO OPERASIONAL
1. Definisi
a. Risiko Operasional adalah Risiko akibat ketidakcukupan
dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan
manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian­
kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.
b. Risiko Operasional dapat bersumber antara lain dari Sum­
ber Daya Manusia (SDM), proses internal, sistem dan in­
frastruktur, serta kejadian eksternal.
c. Sumber­sumber Risiko tersebut di atas dapat menye­
babkan kejadiankejadian yang berdampak negatif pada
operasional Bank sehingga kemunculan dari jenis­jenis
kejadian Risiko Operasional merupakan salah satu ukuran
keberhasilan atau kegagalan Manajemen Risiko untuk
Risiko Operasional. Adapun jenis­jenis kejadian Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

Operasional dapat digolongkan menjadi beberapa tipe


kejadian seperti fraud internal, fraud eksternal, praktek
ketenagakerjaan dan keselamatan lingkungan kerja, na­
sabah, produk dan praktek bisnis, kerusakan aset fisik,
MANAJEMEN RISIKO 1
267 Lampiran

gangguan aktivitas bisnis dan kegagalan sistem, dan ke­


salahan proses dan eksekusi.
2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional
adalah untuk meminimalkan kemungkinan dampak negatif
dari tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia,
kegagalan sistem, dan/atau kejadian­kejadian eksternal.
3. Penerapan Manajemen Risiko
Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional bagi
Bank secara individual maupun bagi Bank secara konsolidasi
dengan Perusahaan Anak paling kurang mencakup:
a. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk Ri­
siko Operasional, maka selain melaksanakan pengawas­
an aktif sebagaimana dimaksud dalam butir I.A, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, sebagai
berikut:
1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
dan Direksi
a) Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab
mengembangkan budaya organisasi yang sadar
terhadap Risiko Operasional dan menumbuhkan
komitmen dalam mengelola Risiko Operasional se­
suai dengan strategi bisnis Bank.
b) Dewan Komisaris memastikan bahwa kebijakan re­
munerasi Bank sesuai dengan Strategi Manajemen
Risiko Bank.
www.facebook.com/indonesiapustaka

c) Direksi Bank menciptakan kultur pengungkapan


secara objektif atas Risiko Operasional pada selu­
ruh elemen organisasi sehingga Risiko Operasional
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
268

dapat diidentifikasi dengan cepat dan dimitigasi


dengan tepat.
d) Direksi menetapkan kebijakan reward termasuk
remunerasi dan punishment yang efektif yang
terintegrasi dalam sistem penilaian kinerja dalam
rangka mendukung pelaksanaan Manajemen Ri­
siko yang optimal.
2) Sumber Daya Manusia
a) Bank harus memiliki kode etik yang diberlakukan
kepada seluruh pegawai pada setiap jenjang orga­
nisasi.
b) Bank harus menerapkan sanksi secara konsisten
kepada pejabat dan pegawai yang terbukti melaku­
kan penyimpangan dan pelanggaran.
3) Organisasi Manajemen Risiko Operasional
a) Manajemen unit bisnis atau unit pendukung meru­
pakan risk owner yang bertanggung jawab terhadap
proses Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional
sehari­hari serta melaporkan permasalahan dan
Risiko Operasional secara spesifik dalam unitnya
sesuai jenjang pelaporan yang berlaku.
b) Dalam Satuan Kerja Manajemen Risiko, Bank dapat
membentuk unit independen atau menunjuk peja­
bat yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi
Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional secara
menyeluruh. Unit atau pejabat ini bertugas untuk
membantu Direksi dalam mengelola Risiko Opera­
sional serta memastikan kebijakan Manajemen
Risiko untuk Risiko Operasional berjalan pada selu­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ruh tingkat organisasi, yang antara lain meliputi:


(1) Membantu Direksi dalam menyusun kebijakan
Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional
secara menyeluruh;
MANAJEMEN RISIKO 1
269 Lampiran

(2) Mendesain dan menerapkan perangkat untuk


menilai Risiko Operasional dan pelaporan;
(3) Melakukan koordinasi aktivitas Manajemen
Risiko untuk Risiko Operasional pada seluruh
lintas unit kerja;
(4) Menyusun laporan profil Risiko Operasional
yang akan disampaikan kepada Direktur Uta­
ma atau Direktur yang ditugaskan secara khu­
sus dan Komite Manajemen Risiko;
(5) Melakukan pendampingan kepada unit bisnis
mengenai isu Manajemen Risiko untuk Risiko
Operasional dan pelatihan Manajemen Risiko
untuk Risiko Operasional.
c) Untuk memfasilitasi proses Manajemen Risiko un­
tuk Risiko Operasional dalam unit bisnis atau unit
pendukung dan memastikan konsistensi penerap­
an kebijakan Manajemen Risiko untuk Risiko Ope­
rasional, dapat ditunjuk dedicated operational risk
officer yang memiliki jalur pelaporan ganda yaitu
secara langsung kepada pimpinan unit bisnis atau
pendukung serta kepada Satuan Kerja Manajemen
Risiko. Tanggung jawab dedicated operational risk
officer meliputi pengembangan indikator Risiko
spesifik unit bisnis atau unit pendukung, menen­
tukan batasan eskalasi serta menyusun laporan
Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional.
b. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit Dalam melak­
sanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk
Risiko Operasional, maka selain melaksanakan kebijakan,
www.facebook.com/indonesiapustaka

prosedur, dan penetapan limit sebagaimana dimaksud


dalam butir I.B, Bank perlu menambahkan penerapan be­
berapa hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan pe­
netapan limit, sebagai berikut:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
270

1) Strategi Manajemen Risiko


Penyusunan strategi untuk Risiko Operasional meng­
acu pada cakupan penerapan secara umum sebagai­
mana dimaksud dalam butir I.B.1.
2) Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan
Toleransi Risiko (Risk Tolerance) Penetapan tingkat
Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko untuk
Risiko Operasional mengacu pada cakupan penerapan
secara umum dalam butir I.B.2.
3) Kebijakan dan Prosedur
a) Bank harus menetapkan kebijakan Manajemen Ri­
siko untuk Risiko Operasional yang harus diinter­
nalisasikan ke dalam proses bisnis seluruh lini
bisnis dan aktivitas pendukung Bank, termasuk
kebijakan Risiko Operasional yang bersifat unik
sesuai dengan kebutuhan lini bisnis dan aktivitas
pendukung.
b) Bank harus memiliki prosedur­prosedur yang me­
rupakan turunan dari Kebijakan Manajemen Risiko
untuk Risiko Operasional. Prosedur tersebut dapat
berupa:
(1) pengendalian umum, yaitu pengendalian ope­
rasional yang bersifat umum pada seluruh lini
bisnis dan aktivitas pendukung Bank, misal­
nya pemisahan fungsi atau keharusan meng­
ambil cuti, dan
(2) pengendalian spesifik, yaitu pengendalian
operasional yang bersifat spesifik pada ma­
sing­masing lini bisnis dan aktivitas pendu­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kung Bank, misalnya rekonsiliasi transaksi di


aktivitas trading atau penatausahaan doku­
men kredit debitur.
MANAJEMEN RISIKO 1
271 Lampiran

c) Bank harus memiliki Business Continuity Mana-


gement (BCM) yaitu proses manajemen (proto­
kol) terpadu dan menyeluruh untuk memastikan
kelangsungan operasional Bank dalam menjalan­
kan bisnis dan melayani nasabah. Di dalam BCM,
Bank wajib memiliki kebijakan yang paling kurang
mencakup :
(1) Business Impact Analysis (BIA);
(2) Penilaian Risiko Operasional yang dapat terja­
di akibat gangguan­gangguan dalam operasio­
nal Bank;
(3) Strategi pemulihan yang dijalankan Bank un­
tuk tiap­tiap bentuk gangguan yang terjadi;
(4) Dokumentasi, antara lain rencana pemulihan
bencana dan rencana kontijensi;
(5) Pengujian secara berkala untuk meyakini
bahwa pendekatan BCM yang digunakan dapat
dioperasikan dengan efektif pada saat terjadi
gangguan.
d) Untuk memitigasi Risiko Operasional yang berasal
dari kompleksitas proses internal, Bank wajib me­
miliki kebijakan yang paling kurang mencakup:
(1) Pengendalian untuk mencegah terjadinya Ri­
siko Operasional baik untuk seluruh proses
internal maupun yang berhubungan langsung
dengan nasabah;
(2) Prosedur penyelesaian transaksi dari proses
internal antara lain untuk memastikan efekti­
vitas proses penyelesaian transaksi;
www.facebook.com/indonesiapustaka

(3) Prosedur pelaksanaan akuntansi untuk me­


mastikan pencatatan akuntansi yang akurat,
antara lain berupa kesesuaian metode akun­
tansi yang digunakan, proses akuntansi yang
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
272

dilaksanakan, dan penatausahaan dokumen


pendukung;
(4) Prosedur penyimpanan aset dan kustodian,
antara lain dokumentasi aset dan kustodian,
pengendalian yang dibutuhkan untuk ke­
amanan fisik aset, dan pengecekan secara
berkala mengenai kondisi aset;
(5) Prosedur pelaksanaan penyediaan produk dan
aktivitas lainnya yang dilakukan oleh Bank,
seperti alih daya, private banking/wealth ma-
nagement;
(6) Prosedur pencegahan dan penyelesaian fraud.
e) Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya Risiko
Operasional yang berasal dari Sumber Daya Ma­
nusia, kebijakan Manajemen Risiko Bank paling
kurang memuat kebijakan tentang rekrutmen dan
penempatan sesuai dengan kebutuhan organisasi,
remunerasi dan struktur insentif yang kompetitif,
pelatihan dan pengembangan, rotasi berkala, ke­
bijakan perencanaan karir dan suksesi, serta pena­
nganan isu PHK dan serikat pekerja.
f) Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya Risiko
Operasional yang berasal dari sistem dan infra­
struktur, kebijakan Manajemen Risiko Bank harus
didukung oleh prosedur akses terhadap sistem in­
formasi manajemen, sistem informasi akuntansi,
sistem pengelolaan Risiko, pengamanan di dealing
room, dan ruang pemrosesan data.
g) Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya Risiko
www.facebook.com/indonesiapustaka

Operasional yang berasal dari kejadian eksternal,


kebijakan Manajemen Risiko Bank harus didukung
antara lain dengan perlindungan asuransi terhadap
aset fisik Bank, back up system, dan jaminan kese­
MANAJEMEN RISIKO 1
273 Lampiran

lamatan kerja untuk bidang pekerjaan tertentu


yang berisiko tinggi.
h) Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya Risiko
Operasional yang berasal dari profil nasabah dan
calon nasabah, dalam kebijakan Manajemen Risiko
harus dimuat kewajiban Bank melakukan Customer
Due Dilligence (CDD) atau Enhanced Due Dilligence
(EDD) secara berkala dan konsisten sesuai dengan
eksposur Risiko Operasional. Penerapan CDD/EDD
wajib mengacu pada seluruh persyaratan dan pe­
doman sebagaimana yang diatur dalam ketentuan
yang berlaku mengenai Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme. CDD/EDD harus
didukung oleh sistem pengendalian intern yang
efektif, khususnya upaya pencegahan Bank ter­
hadap kejahatan internal (internal fraud).
4) Limit
Penetapan limit untuk Risiko Operasional mengacu
pada cakupan penerapan secara umum dalam butir
I.B.4.
c. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan
Pengendalian Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen
Risiko Operasional Dalam melakukan penerapan Manaje­
men Risiko melalui proses identifikasi, pengukuran, pe­
mantauan, dan pengendalian Risiko, serta sistem infor­
masi Manajemen Risiko untuk Risiko Operasional, maka
selain melaksanakan proses sebagaimana dimaksud da­
lam butir I.C, Bank perlu menambahkan penerapan bebe­
rapa hal dalam tiap proses dimaksud, sebagai berikut:
www.facebook.com/indonesiapustaka

1) Identifikasi dan Pengukuran Risiko Operasional


a) Bank harus melakukan identifikasi dan pengukuran
terhadap parameter yang mempengaruhi eksposur
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
274

Risiko Operasional, antara lain frekuensi dan dam­


pak dari:
(1) kegagalan dan kesalahan sistem;
(2) kelemahan sistem administrasi;
(3) kegagalan hubungan dengan nasabah;
(4) kesalahan akunting;
(5) penundaan dan kesalahan penyelesaian pem­
bayaran;
(6) fraud;
(7) rekayasa akunting.
b) Bank mengembangkan suatu basis data mengenai:
(1) jenis dan dampak kerugian, yang ditimbulkan
oleh Risiko Operasional berdasarkan hasil
identifikasi Risiko, berupa data kerugian yang
kemungkinan terjadinya dapat diprediksi mau­
pun yang sulit diprediksi;
(2) pelanggaran sistem pengendalian; dan/atau
(3) isu­isu operasional lainnya yang dapat me­
nyebabkan kerugian di masa yang akan da­
tang.
c) Bank wajib mempertimbangkan berbagai faktor in­
ternal dan eksternal dalam melakukan identifikasi
dan pengukuran Risiko Operasional yaitu antara
lain:
(1) Struktur organisasi Bank, budaya Risiko, ma­
najemen sumber daya manusia, perubahan
organisasi, dan turnover pegawai;
(2) Karakteristik nasabah Bank, produk dan akti­
vitas, serta kompleksitas kegiatan usaha dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

volume transaksi;
(3) Desain dan implementasi dari sistem dan pro­
ses yang digunakan;
MANAJEMEN RISIKO 1
275 Lampiran

(4) Lingkungan eksternal, tren industri, struktur


pasar termasuk kondisi sosial dan politik.
d) Metode yang dapat digunakan Bank untuk me­
lakukan identifikasi dan pengukuran Risiko Ope­
rasional, antara lain: Risk Control Self Assessment
(RCSA), risk mapping, Key Risk Indicators (KRI),
scorecards, event analysis, matriks frekuensi, me­
todologi kuantitatif dan metodologi kualitatif.
e) Bagi Bank yang belum mengembangkan metode
khusus untuk melakukan identifikasi dan pengu­
kuran Risiko Operasional, sumber informasi Risiko
Operasional yang utama adalah temuan Audit Inter­
nal yang terkait dengan Risiko Operasional.
2) Pemantauan Risiko Operasional
a) Bank harus melakukan pemantauan Risiko Opera­
sional secara berkelanjutan terhadap seluruh eks­
posur Risiko Operasional serta kerugian yang dapat
ditimbulkan oleh aktivitas utama Bank, antara lain
dengan cara menerapkan sistem pengendalian in­
tern dan menyediakan laporan berkala mengenai
kerugian yang ditimbulkan oleh Risiko Operasional.
b) Bank harus melakukan review secara berkala ter­
hadap faktorfaktor penyebab timbulnya Risiko Ope­
rasional serta dampak kerugiannya.
3) Pengendalian Risiko Operasional
a) Pengendalian Risiko dilakukan secara konsisten
sesuai dengan tingkat Risiko yang akan diambil,
hasil identifikasi dan pengukuran Risiko Operasio­
nal.
www.facebook.com/indonesiapustaka

b) Dalam penerapan pengendalian Risiko Operasional,


Bank dapat mengembangkan program untuk me­
mitigasi Risiko Operasional antara lain pengaman­
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
276

an proses teknologi informasi, asuransi, dan alih


daya pada sebagian kegiatan operasional Bank.
c) Dalam hal Bank mengembangkan pengamanan
proses teknologi informasi, Bank harus memasti­
kan tingkat keamanan dari pemrosesan data elek­
tronik.
d) Pengendalian terhadap sistem informasi harus me­
mastikan:
(1) adanya penilaian berkala terhadap pengaman­
an sistem informasi, yang disertai dengan tin­
dakan korektif apabila diperlukan;
(2) tersedianya prosedur back-up dan rencana
darurat untuk menjamin berjalannya kegiatan
operasional Bank dan mencegah terjadinya
gangguan yang signifikan, yang diuji secara
berkala;
(3) adanya penyampaian informasi kepada Di­
reksi mengenai permasalahan pada angka (1)
dan (2);
(4) tersedianya penyimpanan informasi dan do­
kumen yang berkaitan dengan analisa, pemro­
graman, dan pelaksanaan pemrosesan data.
e) Bank harus memiliki sistem pendukung, yang pa­
ling kurang mencakup:
(1) identifikasi kesalahan secara dini;
(2) pemrosesan dan penyelesaian seluruh trans­
aksi secara efisien, akurat, dan tepat waktu;
dan
(3) kerahasiaan, kebenaran, serta keamanan
www.facebook.com/indonesiapustaka

transaksi.
f) Bank harus melakukan kaji ulang secara berkala
terhadap prosedur, dokumentasi, sistem pemrose­
san data, rencana kontijensi, dan praktek operasio­
MANAJEMEN RISIKO 1
277 Lampiran

nal lainnya guna mengurangi kemungkinan terjadi­


nya kesalahan manusia.
4) Sistem Informasi Manajemen Risiko Operasional
a) Sistem informasi manajemen harus dapat meng­
hasilkan laporan yang lengkap dan akurat dalam
rangka mendeteksi dan mengkoreksi penyimpang­
an secara tepat waktu.
b) Bank harus memiliki mekanisme pelaporan ter­
hadap Risiko Operasional yang antara lain harus
dapat memberikan informasi­informasi sesuai ke­
butuhan pengguna, sebagai berikut:
(1) Profil Risiko Operasional dan kerugian yang di­
sebabkan oleh Risiko Operasional;
(2) Hasil dari berbagai metode pengukuran Risiko
Operasional dan tren, dan/atau ringkasan dari
temuan audit internal;
(3) Laporan status dan efektivitas pelaksanaan
rencana tindak dari operational risk issues;
(4) Laporan penyimpangan prosedur;
(5) Laporan kejadian fraud;
(6) Rekomendasi satuan kerja Manajemen Risiko
untuk Risiko Operasional, surat pembinaan
auditor eksternal (khususnya aspek pengen­
dalian operasional Bank), dan surat pembina­
an Bank Indonesia.
d. Sistem Pengendalian Intern
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pelaksanaan sistem pengendalian intern untuk Risiko
Operasional, maka selain melaksanakan pengendalian
www.facebook.com/indonesiapustaka

intern sebagaimana dimaksud dalam butir I.D, Bank per­


lu memiliki sistem rotasi rutin untuk menghindari potensi
self-dealing, persekongkolan atau penyembunyian suatu
dokumentasi atau transaksi yang tidak wajar.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
278

E. RISIKO HUKUM
1. Definisi
a. Risiko Hukum adalah Risiko akibat tuntutan hukum dan/
atau kelemahan aspek yuridis.
b. Risiko Hukum dapat bersumber antara lain dari kelemah­
an aspek yuridis yang disebabkan oleh lemahnya perikat­
an yang dilakukan oleh Bank, ketiadaan dan/atau peruba­
han peraturan perundang­undangan yang menyebabkan
suatu transaksi yang telah dilakukan Bank menjadi tidak
sesuai dengan ketentuan yang akan ada, dan proses liti­
gasi baik yang timbul dari gugatan pihak ketiga terhadap
Bank maupun Bank terhadap pihak ketiga.
2. Tujuan Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Hukum
adalah untuk memastikan bahwa proses Manajemen Risiko
dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari ke­
lemahan aspek yuridis, ketiadaan dan/atau perubahan per­
aturan perundang­undangan, dan proses litigasi.
3. Penerapan Manajemen Risiko Penerapan Manajemen Risiko
untuk Risiko Hukum bagi Bank secara individual maupun bagi
Bank secara konsolidasi dengan Perusahaan Anak paling ku­
rang mencakup:
a. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko mela­
lui pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk
Risiko Hukum, maka selain melaksanakan pengawasan
aktif sebagaimana dimaksud dalam butir I.A, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, sebagai
berikut:
www.facebook.com/indonesiapustaka

1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris


dan Direksi
a) Direksi harus menetapkan mekanisme komunikasi
yang efektif, termasuk dengan melibatkan pejabat
MANAJEMEN RISIKO 1
279 Lampiran

dan karyawan Bank, atas permasalahan hukum


yang dihadapi dengan bagian hukum atau satuan
kerja terkait agar Risiko Hukum dapat segera dice­
gah dan dikendalikan.
b) Dewan Komisaris dan Direksi wajib menerapkan le-
gal governance yaitu suatu tata kelola untuk mem­
bentuk, mengeksekusi, dan menginterprestasikan
ketentuan peraturan perundang­undangan dan ke­
tentuan internal termasuk standar perjanjian yang
digunakan.
c) Direksi wajib memastikan terdapat legal consis-
tency pada setiap kegiatan usahanya yakni adanya
keselarasan antara kegiatan atau aktivitas usaha
yang dilakukan dengan ketentuan peraturan yang
berlaku dan tidak menimbulkan suatu ambiguitas
dalam suatu perjanjian yang dibuat oleh Bank.
d) Direksi wajib memastikan adanya legal complete-
ness, agar seluruh hal yang diatur oleh perundang­
undangan baik yang bersifat nasional maupun in­
ternasional dapat diimplementasikan dengan baik
oleh Bank, termasuk larangan dalam peraturan dan
ketentuan perundang­undangan yang berlaku dia­
tur secara jelas dalam ketentuan internal Bank.
2) Sumber Daya Manusia Bank harus menerapkan sank­
si secara konsisten kepada pejabat dan pegawai yang
terbukti melakukan penyimpangan dan pelanggaran
terhadap ketentuan ekstern dan intern serta kode etik
internal Bank.
3) Organisasi Manajemen Risiko Hukum
www.facebook.com/indonesiapustaka

a) Bank harus memiliki satuan kerja atau fungsi yang


berperan sebagai ‘legal watch’ yang menyediakan
analisis/advis hukum kepada seluruh pegawai
pada setiap jenjang organisasi.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
280

b) Bank wajib memiliki satuan kerja/fungsi indepen­


den yang menilai dan memantau secara kontinyu
implementasi Manajemen Risiko untuk Risiko Hu­
kum. Pada umumnya hal ini dilakukan oleh satuan
kerja Manajemen Risiko atau satuan kerja/fungsi
yang membawahi bidang hukum yang bertang­
gung jawab secara langsung kepada Direktur Uta­
ma Bank. Selain itu, satuan kerja/fungsi tersebut
juga bertanggung jawab untuk mengembangkan
dan mengevaluasi strategi, kebijakan, dan prose­
dur Manajemen Risiko untuk Risiko Hukum serta
memberikan masukan kepada Dewan Komisaris
dan Direksi. Keterlibatan satuan kerja/fungsi yang
membawahi bidang hukum juga sangat penting da­
lam setiap aktivitas bisnis Bank yang terekspos Ri­
siko Hukum termasuk diantaranya dalam hal Bank
akan mengeluarkan aktivitas dan produk baru.
c) Satuan kerja/fungsi yang membawahi bidang hu­
kum, Satuan Kerja Manajemen Risiko dan satuan
kerja operasional harus secara bersama­sama me­
nilai dampak perubahan ketentuan atau peraturan
tertentu terhadap eksposur Risiko Hukum.
b. Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit Dalam melak­
sanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk
Risiko Hukum, maka selain melaksanakan kebijakan, pro­
sedur, dan penetapan limit sebagaimana dimaksud dalam
butir I.B, Bank perlu menambahkan penerapan beberapa
hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan penetapan
limit, sebagai berikut:
www.facebook.com/indonesiapustaka

1) Strategi Manajemen Risiko


Strategi Manajemen Risiko untuk Risiko Hukum meru­
pakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari stra­
MANAJEMEN RISIKO 1
281 Lampiran

tegi Manajemen Risiko Bank secara keseluruhan seba­


gaimana dimaksud dalam butir I.B.1.
2) Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan
Toleransi Risiko (Risk Tolerance)
Penetapan tingkat Risiko yang akan diambil dan tole­
ransi Risiko untuk Risiko Hukum mengacu pada ca­
kupan penerapan secara umum sebagaimana dimak­
sud dalam butir I.B.2.
3) Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit
a) Bank harus memiliki dan melaksanakan prosedur
analisis aspek hukum terhadap produk dan aktivi­
tas baru.
b) Bank harus melakukan evaluasi dan pengkinian ke­
bijakan dan prosedur pengendalian Risiko Hukum
secara berkala, sesuai dengan perkembangan eks­
ternal dan internal Bank, seperti perubahan keten­
tuan dan perundang­undangan yang berlaku.
c. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Penge­
ndalian Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen Risiko
Hukum
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko mela­
lui proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan
pengendalian Risiko, serta sistem informasi Manajemen
Risiko untuk Risiko Hukum, maka selain melaksanakan
proses sebagaimana dimaksud dalam butir I.C, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap pro­
ses dimaksud, sebagai berikut:
1) Identifikasi Risiko Hukum
Pelaksanaan identifikasi untuk Risiko Hukum meng­
www.facebook.com/indonesiapustaka

acu pada cakupan penerapan secara umum sebagai­


mana dimaksud dalam butir I.C.1.
2) Pengukuran Risiko Hukum
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
282

a) Bank wajib memiliki metode pengukuran Risiko


untuk Risiko Hukum yang memadai dan terintegra­
si dengan kerangka Manajemen Risiko Bank, baik
menggunakan pendekatan secara kuantitatif mau­
pun kualitatif.
b) Dalam mengukur Risiko Hukum, antara lain dapat
menggunakan indikator/parameter berupa potensi
kerugian akibat tuntutan litigasi, pembatalan per­
janjian yang disebabkan oleh kelemahan perikat­
an, terjadinya perubahan peraturan perundang­un­
dangan yang menyebabkan produk Bank menjadi
tidak sejalan dengan ketentuan yang ada.
3) Pemantauan Risiko Hukum
Pelaksanaan pemantauan untuk Risiko Hukum meng­
acu pada cakupan penerapan secara umum dalam bu­
tir I.C.3.
4) Pengendalian Risiko Hukum
a) Satuan kerja/fungsi yang membawahi bidang hu­
kum harus melakukan review secara berkala ter­
hadap kontrak dan perjanjian antara Bank dengan
pihak lain, antara lain dengan cara melakukan peni­
laian kembali terhadap efektivitas proses enforce-
ability guna mengecek validitas hak dalam kontrak
dan perjanjian tersebut.
b) Dalam hal Bank menerbitkan garansi seperti net-
ting agreement, collateral pledges, dan margin
calls maka hal tersebut harus didukung dengan do­
kumen hukum yang efektif dan enforceable.
5) Sistem Informasi Manajemen Risiko Hukum
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bank harus mencatat dan menatausahakan setiap ke­


jadian, termasuk proses litigasi yang terkait dengan Ri­
siko Hukum beserta jumlah potensi kerugian yang dia­
kibatkan kejadian dimaksud, dalam suatu administrasi
MANAJEMEN RISIKO 1
283 Lampiran

data. Pencatatan dan penatausahaan data tersebut di­


susun dalam suatu data stastistik yang dapat diguna­
kan untuk memproyeksikan potensi kerugian aktivitas
bisnis Bank pada periode tertentu.
d. Sistem Pengendalian Intern Pelaksanaan Sistem Pengen­
dalian Intern untuk Risiko Hukum mengacu pada cakupan
penerapan secara umum sebagaimana dimaksud dalam
butir I.D.

F. RISIKO STRATEJIK
1. Definisi
a. Risiko Stratejik adalah Risiko akibat ketidaktepatan da­
lam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan
stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubah­
an lingkungan bisnis.
b. Risiko Stratejik dapat bersumber antara lain dari kelemah­
an dalam proses formulasi strategi dan ketidaktepatan
dalam perumusan strategi, sistem informasi manajemen
yang kurang memadai, hasil analisa lingkungan internal
dan eksternal yang kurang memadai, penetapan tujuan
stratejik yang terlalu agresif, ketidaktepatan dalam imple­
mentasi stategi, dan kegagalan mengantisipasi peruba­
han lingkungan bisnis.
2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Stratejik adalah
untuk memastikan bahwa proses Manajemen Risiko dapat
meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari ketidak­
tepatan pengambilan keputusan stratejik dan kegagalan da­
lam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
www.facebook.com/indonesiapustaka

3. Penerapan Manajemen Risiko


Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Stratejik bagi Bank
secara individual maupun bagi Bank secara konsolidasi de­
ngan Perusahaan Anak paling kurang mencakup:
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
284

a. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi


Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko mela­
lui pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk
Risiko Stratejik, maka selain melaksanakan pengawasan
aktif sebagaimana dimaksud dalam butir I.A, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, sebagai
berikut:
1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
dan Direksi
a) Dewan Komisaris dan Direksi harus menyusun dan
menyetujui rencana stratejik dan rencana bisnis
yang mencakup hal­hal sebagaimana diatur dalam
ketentuan yang berlaku dan mengkomunikasikan
kepada pejabat dan/atau pegawai Bank pada setiap
jenjang organisasi.
b) Direksi bertanggungjawab dalam penerapan Ma­
najemen Risiko untuk Risiko Stratejik yang menca­
kup:
(1) menjamin bahwa sasaran strategis yang dite­
tapkan telah sejalan dengan misi dan visi, kul­
tur, arah bisnis, dan toleransi Risiko Bank.
(2) memberikan persetujuan terhadap rencana
stratejik dan setiap perubahannya, serta me­
lakukan review berkala (minimal 1 tahun se­
kali) terhadap rencana stratejik dalam rangka
memastikan kesesuaiannya.
(3) memastikan bahwa struktur, kultur, infrastruk­
tur, kondisi keuangan, tenaga dan kompetensi
www.facebook.com/indonesiapustaka

manajerial termasuk Pejabat Eksekutif, serta


sistem dan pengendalian yang ada di Bank
telah sesuai dan memadai untuk mendukung
implementasi strategi yang ditetapkan.
MANAJEMEN RISIKO 1
285 Lampiran

c) Direksi harus memantau kondisi internal (kele­


mahan dan kekuatan Bank) dan perkembangan
faktor/kondisi eksternal yang secara langsung atau
tidak langsung mempengaruhi strategi usaha Bank
yang telah ditetapkan.
d) Direksi harus menetapkan satuan kerja/fungsi
yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab
yang mendukung perumusan dan pemantauan pe­
laksanaan strategi, termasuk rencana stratejik dan
rencana bisnis.
e) Direksi bertanggung jawab untuk memastikan
bahwa Manajemen Risiko untuk Risiko Stratejik
telah diterapkan secara efektif dan konsisten pada
seluruh level operasional terkait di bawahnya.
Dalam hal Direksi mendelegasikan sebagian dari
tanggung jawabnya kepada pejabat eksekutif dan
manajemen dibawahnya, pendelegasian tersebut
tidak menghilangkan kewajiban Direksi sebagai pi­
hak utama yang harus bertanggung jawab.
2) Sumber Daya Manusia Kecukupan SDM untuk Risiko
Stratejik mengacu pada cakupan penerapan secara
umum sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.
3) Organisasi Manajemen Risiko Stratejik
a) Seluruh unit bisnis dan unit pendukung bertang­
gung jawab membantu Direksi menyusun peren­
canaan stratejik, dan mengimplementasikan stra­
tegi secara efektif.
b) Unit bisnis dan unit pendukung bertanggung jawab
memastikan bahwa:
www.facebook.com/indonesiapustaka

(1) praktek Manajemen Risiko untuk Risiko Strate­


jik dan pengendalian di unit bisnis telah kon­
sisten dengan kerangka Manajemen Risiko
untuk Risiko Stratejik secara keseluruhan;
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
286

(2) unit bisnis dan unit pendukung telah memiliki


kebijakan, prosedur dan sumber daya untuk
mendukung efektivitas kerangka Manajemen
Risiko untuk Risiko Stratejik.
c) Direksi memimpin program perubahan yang diper­
lukan dalam rangka implementasi strategi yang te­
lah ditetapkan.
d) Satuan Kerja Perencanaan Stratejik bertanggung
jawab membantu Direksi dalam mengelola Risiko
Stratejik dan memfasilitasi manajemen perubahan
dalam rangka pengembangan perusahaan secara
berkelanjutan.
e) Selain itu, Satuan Kerja Manajemen Risiko juga
bertanggung jawab dalam proses Manajemen Ri­
siko untuk Risiko Stratejik khususnya pada aspek­
aspek berikut:
(1) berkoordinasi dengan seluruh unit bisnis da­
lam proses penyusunan rencana stratejik.
(2) memantau dan mengevaluasi perkembangan
implementasi rencana stratejik, serta membe­
rikan masukan mengenai peluang dan pilihan
yang tersedia untuk pengembangan dan per­
baikan strategi secara berkelanjutan.
(3) memastikan bahwa seluruh isu stratejik dan
pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan
stratejik telah ditindaklanjuti secara tepat
waktu.
b. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit Dalam melaksa­
nakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk Ri­
www.facebook.com/indonesiapustaka

siko Stratejik, maka selain melaksanakan kebijakan, pro­


sedur, dan penetapan limit sebagaimana dimaksud dalam
butir I.B, Bank perlu menambahkan penerapan beberapa
MANAJEMEN RISIKO 1
287 Lampiran

hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan penetapan


limit, sebagai berikut:
1) Strategi Manajemen Risiko
a) Dalam penyusunan strategi, Bank wajib meng­
evaluasi posisi kompetitif Bank di industri. Dalam
hal ini Bank perlu untuk:
(1) memahami kondisi lingkungan bisnis, eko­
nomi, dan industri perbankan dimana Bank
beroperasi, termasuk bagaimana dampak per­
ubahan lingkungan terhadap bisnis, produk,
teknologi, dan jaringan kantor Bank.
(2) mengukur kekuatan dan kelemahan Bank
terkait posisi daya saing, posisi bisnis Bank
di industri perbankan, dan kinerja keuangan,
struktur organisasi dan Manajemen Risiko, in­
frastruktur untuk kebutuhan bisnis saat ini dan
masa mendatang, kemampuan manajerial,
serta ketersediaan dan keterbatasan sumber
daya Bank.
(3) menganalisa seluruh alternatif strategi yang
tersedia setelah mempertimbangkan tujuan
stratejik serta toleransi Risiko Bank. Kedalam­
an dan cakupan analisa harus sejalan dengan
skala dan kompleksitas kegiatan usaha Bank.
b) Bank harus menetapkan rencana stratejik dan ren­
cana bisnis secara tertulis dan melaksanakan ke­
bijakan tersebut.
c) Rencana strategik dan rencana bisnis tersebut ha­
rus dievaluasi dan dapat disesuaikan apabila ter­
www.facebook.com/indonesiapustaka

dapat penyimpangan dari target yang akan dicapai


akibat perubahan eksternal dan internal yang sig­
nifikan.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
288

d) Dalam hal Bank berencana menerapkan strategi


yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan,
Bank wajib memiliki kecukupan rencana suksesi
manajerial untuk mendukung efektivitas imple­
mentasi strategi secara berkelanjutan.
e) Bank wajib memiliki sumber pendanaan yang men­
cukupi untuk mendukung penerapan rencana stra­
tejik.
2) Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan
Toleransi Risiko (Risk Tolerance)
Penetapan tingkat Risiko yang akan diambil dan to­
leransi Risiko untuk Risiko Stratejik mengacu pada
cakupan penerapan secara umum sebagaimana di­
maksud dalam butir I.B. 2.
3) Kebijakan dan Prosedur
a) Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk
menyusun dan menyetujui rencana stratejik.
b) Bank harus memiliki kecukupan prosedur untuk
dapat mengidentifikasi dan merespon perubahan
lingkungan bisnis.
c) Bank harus memiliki prosedur untuk mengukur ke­
majuan yang dicapai dari realisasi rencana bisnis
dan kinerja sesuai jadwal yang ditetapkan.
4) Limit
Limit Risiko Stratejik secara umum antara lain terkait
dengan batasan penyimpangan dari rencana strategis
yang telah ditetapkan, seperti limit deviasi anggaran
dan limit deviasi target waktu penyelesaian.
c. Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

Pengendalian Risiko, serta Sistem Informasi untuk Risiko


Stratejik Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko
melalui proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan
pengendalian Risiko, serta sistem informasi Manajemen
MANAJEMEN RISIKO 1
289 Lampiran

Risiko untuk Risiko Stratejik, maka selain melaksanakan


proses sebagaimana dimaksud dalam butir I.C, Bank perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1) Identifikasi Risiko Stratejik
a) Bank harus mengidentifikasi dan menatausahakan
deviasi atau penyimpangan sebagai akibat tidak
terealisasinya atau tidak efektifnya pelaksanaan
strategi usaha maupun rencana bisnis yang telah
ditetapkan terutama yang berdampak signifikan
terhadap permodalan Bank.
b) Bank harus melakukan analisa Risiko terutama ter­
hadap strategi yang membutuhkan banyak sumber
daya dan/atau berisiko tinggi, seperti strategi ma­
suk ke pangsa pasar yang baru, strategi akuisisi,
atau strategi diversifikasi dalam bentuk produk dan
jasa.
2) Pengukuran Risiko Stratejik
a) Dalam mengukur Risiko Stratejik, antara lain dapat
menggunakan indikator/parameter berupa tingkat
kompleksitas strategi bisnis Bank, posisi bisnis
Bank di industri perbankan, dan pencapaian ren­
cana bisnis.
b) Bank dapat melakukan stress test terhadap imple­
mentasi strategi dalam rangka (i) mengidentifikasi
setiap peristiwa atau perubahan lingkungan bisnis
yang yang dapat berdampak negatif terhadap pe­
menuhan asumsi awal dari rencana stratejik, dan
(ii) mengukur potensi dampak negatif peristiwa di­
maksud terhadap kinerja bisnis Bank, baik secara
www.facebook.com/indonesiapustaka

keuangan maupun non keuangan.


c) Hasil stress testing harus memberikan umpan balik
terhadap proses perencanaan strategi.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
290

d) Dalam hal hasil stress testing menghasilkan tingkat


Risiko yang lebih tinggi dari kemampuan Bank me­
nyerap Risiko dimaksud (toleransi Risiko), maka
Bank wajib mengembangkan rencana kontijensi
atau strategi untuk memitigasi Risiko dimaksud.
3) Pemantauan Risiko Stratejik
a) Bank wajib memiliki proses untuk memantau dan
mengendalikan pengembangan implementasi stra­
tegi secara berkala. Pemantauan dilakukan antara
lain dengan memperhatikan pengalaman kerugian
di masa lalu yang disebabkan oleh Risiko Strategik
atau penyimpangan pelaksanaan rencana strategi.
b) Isu­isu stratejik yang timbul akibat perubahan ope­
rasional dan lingkungan bisnis yang memiliki dam­
pak negatif terhadap kondisi bisnis atau kondisi
keuangan Bank wajib dilaporkan kepada Direksi se­
cara tepat waktu disertai analisa dampak terhadap
Risiko Stratejik dan tindakan perbaikan yang diper­
lukan.
4) Pengendalian Risiko Stratejik Bank harus memiliki sis­
tem dan pengendalian untuk memantau kinerja ter­
masuk kinerja keuangan dengan cara membanding­
kan ‘hasil aktual’ dengan ‘hasil yang diharapkan’ untuk
memastikan bahwa Risiko yang diambil masih dalam
batas toleransi dan melaporkan deviasi yang signifi­
kan kepada Direksi. Sistem pengendalian Risiko terse­
but harus disetujui dan direview secara berkala oleh
Direksi untuk memastikan kesesuaiannya secara ber­
kelanjutan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

5) Sistem Informasi Manajemen Risiko Stratejik


a) Bank harus memastikan bahwa sistem informasi
manajemen yang dimiliki telah memadai dalam
rangka mendukung proses perencanaan dan peng­
MANAJEMEN RISIKO 1
291 Lampiran

ambilan keputusan stratejik dan direview secara


berkala.
b) Satuan kerja/fungsi yang melaksanakan Manaje­
men Risiko untuk Risiko Stratejik bertanggung ja­
wab memastikan bahwa seluruh Risiko material
yang timbul dari perubahan lingkungan bisnis dan
implementasi strategi dilaporkan kepada Direksi
secara tepat waktu.
d. Sistem Pengendalian Intern
Kecukupan sistem pengendalian intern dalam penerapan
Manajemen Risiko untuk Risiko Stratejik mengacu pada
cakupan penerapan secara umum dalam butir I.D.

G. RISIKO KEPATUHAN
1. Definisi
a. Risiko Kepatuhan adalah Risiko akibat Bank tidak mema­
tuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang­
undangan dan ketentuan yang berlaku.
b. Risiko Kepatuhan dapat bersumber antara lain dari peri­
laku hukum yakni perilaku/aktivitas Bank yang menyim­
pang atau melanggar dari ketentuan atau peraturan per­
undang­undangan yang berlaku dan perilaku organisasi
yakni perilaku/aktivitas Bank yang menyimpang atau ber­
tentangan dari standar yang berlaku secara umum.
2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Kepatuhan
adalah untuk memastikan bahwa proses Manajemen Risiko
dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari pe­
rilaku Bank yang menyimpang atau melanggar standar yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

berlaku secara umum, ketentuan dan/atau peraturan perun­


dang­undangan yang berlaku.
3. Penerapan Manajemen Risiko Penerapan Manajemen Risiko
untuk Risiko Kepatuhan bagi Bank secara individual maupun
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
292

bagi Bank secara konsolidasi dengan Perusahaan Anak paling


kurang mencakup:
a. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko melalui
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi untuk Ri­
siko Kepatuhan, maka selain melaksanakan pengawasan
aktif sebagaimana dimaksud dalam butir I.A, Bank perlu
menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, sebagai
berikut:
1) Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
dan Direksi
a) Dewan Komisaris dan Direksi harus memastikan
bahwa Manajemen Risiko untuk Risiko Kepatuhan
dilakukan secara terintegrasi dengan Manajemen
Risiko lainnya yang dapat berdampak pada profil
Risiko Kepatuhan Bank.
b) Dewan Komisaris dan Direksi harus memastikan
bahwa setiap permasalahan kepatuhan yang tim­
bul dapat diselesaikan secara efektif oleh satuan
kerja terkait dan dilakukan monitoring atas tin­
dakan perbaikan oleh satuan kerja kepatuhan.
c) Direktur yang membawahkan Fungsi Kepatuhan
memiliki peranan penting dalam Manajemen Risiko
untuk Risiko Kepatuhan dengan tanggung jawab
paling kurang sebagaimana diatur dalam ketentuan
yang berlaku mengenai pelaksanaan fungsi kepa­
tuhan Bank umum, antara lain:
(1) merumuskan strategi guna mendorong tercip­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tanya budaya kepatuhan;


(2) mengusulkan kebijakan kepatuhan atau prin­
sip­prinsip kepatuhan yang akan ditetapkan
oleh Direksi;
MANAJEMEN RISIKO 1
293 Lampiran

(3) menetapkan sistem dan prosedur kepatuhan


yang akan digunakan untuk menyusun keten­
tuan dan pedoman internal Bank;
(4) memastikan bahwa seluruh kebijakan, keten­
tuan, sistem, dan prosedur, serta kegiatan usa­
ha yang dilakukan Bank telah sesuai dengan
peraturan perundang­undangan yang berlaku;
(5) meminimalkan Risiko Kepatuhan Bank;
(6) melakukan tindakan pencegahan agar kebi­
jakan dan/atau keputusan yang diambil Di­
reksi Bank atau pimpinan Kantor Cabang Bank
Asing tidak menyimpang dari ketentuan Bank
Indonesia dan peraturan perundangundangan
yang berlaku;
(7) melakukan tugas­tugas lainnya yang terkait
dengan Fungsi Kepatuhan.
d) Direktur yang membawahkan Fungsi Kepatuhan
harus independen dan menyampaikan laporan pe­
laksanaan tugasnya kepada Bank Indonesia sesuai
dengan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
mengenai Pelaksanaan Fungsi Kepatuhan Bank
Umum dan ketentuan terkait lainnya.
2) Sumber Daya Manusia
Pejabat dan staf di satuan kerja Kepatuhan dilarang
ditempatkan pada posisi menghadapi konflik kepen­
tingan dalam melaksanakan tanggung jawab Fungsi
Kepatuhan.
3) Organisasi Manajemen Risiko Kepatuhan
a) Bank harus memiliki fungsi Manajemen Risiko un­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tuk Risiko Kepatuhan yang memadai dengan we­


wenang dan tanggung jawab yang jelas untuk ma­
sing­masing satuan/unit kerja yang melaksanakan
fungsi Manajemen Risiko untuk Risiko Kepatuhan.
MANAJEMEN RISIKO 1
Lampiran
294

b) Bank harus memiliki satuan kerja kepatuhan yang


independen yang memiliki tugas, kewenangan dan
tanggung jawab paling kurang sebagaimana diatur
dalam ketentuan yang berlaku mengenai pelaksa­
nan fungsi kepatuhan Bank Umum, antara lain:
(1) Membuat langkah­langkah dalam rangka men­
dukung terciptanya budaya kepatuhan pada